Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan
Kuasanya Saya dapat menyelesaikan Laporan Penelitian Mini yang berjudul Analisis Dampak
Kawasan Industri Medan Terhadap Lingkungan yang diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah Geografi Industri.

Saya sadar masih banyak kekurangan dalam penulisan Laporan Penelitian ini, kiranya
pembaca sekalian dapat memberikan kritik dan saran yang membangun.

Kiranya Laporan Penelitian ini dapat bermanfaat untuk pembaca agar lebih mengetahui
bagaimana Dampak Positif dan Dampak Negatif Kawasan Industri Medan terhadap Lingkungan.

Sekian dan Terima Kasih.

Medan, 26 Mei 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2. Rumusan Masalah 1
1.3. Tujuan Penelitian . 2
1.4. Manfaat Penelitian ... 2

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Variabel Penelitian .. 5
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 5
3.3. Populasi Dan Sampel . 5
3.4. Alat Dan Bahan Penelitian .... 5
3.5. Jenis Data .. 5
3.6. Teknik Pengumpulan Data ..... 6
3.7. Teknik Analisis Data ..... 6

BAB IV. DESKRIPSI WILAYAH


4.1. Kondisi Fisik 7

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1. Sejarah terbentuknya Kawasan Industri Medan (KIM) ... 10
5.1.1. Sengketa Lahan . 12
5.2. Dampak Positif Keberadaan KIM ... 12
5.3. Dampak Negatif Keberadaan KIM .. 13

BAB VI. PENUTUP


6.1. Kesimpulan 15

ii
6.2. Saran .. 15

LAMPIRAN

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 : Peta Pengembangan Kawasan Industri Medan ... 7


Gambar 5.1 : Logo KIM ... 10

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Perusahaan di Kawasan Industri Medan (KIM) 8

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Untuk meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan masyarakat yang kuta cita-citakan
berupa masyarakat yang adil dan makmur baik moril maupun materil, maka berbagai usaha telah
dilaksanakan oelh pemerintah. Salah satu usaha yang sedang digalakkan sesuai dengan Garis-
Garis Besar Haluan Negara adalah ditingkatkannya sektor industri baik yang berupa industri
berat maupun yang berupa industri ringan. Industri berat yang dimaksudkan adalah industri yang
memproduksi mesin-mesin industri serta pengadaan bahan baku maupun industri untuk
pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak. Tumbuhnya berbagai industri ini seperti ini
menunjukkan bahwa negara kita sedang mengalami pergeseran dari negara agraris menjadi
negara industri.
Medan sebagai salah stau kota terbesar di Indonesia juga telah mengalokasikan suatu
kawasan khusus utnuk kawasan industrinya. Kawasan industri ini disebut Kawasan Industri
Medan yang disingkat dengan KIM. Dalam menjalankan operasional manajemennya, KIM
berpedoman kepada aturan baku yang berlaku di Indonesia terhadap sebuah kawasan industri.
Dalam konteks legal framework, KIM juga mengacu kepada aturan yang telah berlaku termasuk
dalam pengendalian damapk lingkungannya. Selain itu beroperasinya industri yang ada di KIM
pastilah membawa dampak bagi masyarakat khusunya bagi masyarakat disekitarnya baik
dampak negatif maupun positif.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Sesuai denagn laatr belakang diatas, maka beberapa hal yang menjadi pokok
permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut.
Bagaimana sejarah didirikannya KIM?
Apa dampak positif dari keberadaan KIM bagi masyarakat khusunya masyarakat sekitar
KIM?

1
Apa dampak negatif dari keberadaan KIM bagi masyarakat khusunya masyarakat sekitar
KIM?
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan yang ingin
dicapai dalam penelitian ini adalah tentang :
1) Untuk mengetahui dampak positif dari keberadaan KIM bagi masyarakat khusunya masyarakat
disekitar KIM
2) Untuk mengetahui dampak negatif dari keberadaan KIM bagi masyarakat khusunya masyarakat
disekitar KIM

1.4. MANFAAT PENELITIAN

Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat yaitu baik secara teoritis
maupun secara praktis, yakni tentang :
1) Secara teoritis
Hasil penelitian ini dapat dijaidkan bahan kajian lebih lanjut dan mempunyai arti penting bagi
Kawasan Industri Medan dalam kaitannya dengan dampak positif dan negatif dari keberadaan
KIM. Dan diharapkan dapat memberi manfaat bagi bidang ilmu perindustrian
2) Secara praktis
a. Sebagai pedoman dan masukkan bagi pemerintah maupun pihak KIM dalam upaay
pembangunan industri yang berwawasan lingkungan untuk meminimalisir limbah sisa produksi.
b. Sebagai bahan kajian bagi mahasiswa maupun pembaca untuk menambah wawasan ilmu
mengenai industri khususnya mengenai dampak positif maupun negatif dari Kawasan Industri
Medan.

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. PENGERTIAN INDUSTRI

Kata industri berasal dari bahasa latin, yaitu industria yang artinya buruh atau tenaga
kerja. Dewasa ini, istilah industri sering digunakan secara umum dan luas, yaitu semua kegiatan
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam rangka mencapai kesejahteraan.
Dalam pengertian yang sempit, industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah
bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi menjadi barang dengan nilai
yang lebih tinggi penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri.
Pengertian Definisi Industri menurut Sukirno adalah perusahaan yang menjalankan
kegiatan ekonomi yang tergolong dalam sektor sekunder. Kegiatan itu antara lain adalah pabrik
tekstil, pabrik perakitan dan pabrik pembuatan rokok.Industri merupakan suatu kegiatan ekonomi
yang mengolah barang mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi untuk
dijadikan barang yang lebih tinggi kegunaannya.
Menurut UU No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian industri adalah kegiatan ekonomi
yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi
barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun
dan perekayasaan industri. Bahan mentah adalah semua bahan yang didapat dari sumber daya
alam dan/atau yang diperoleh dari usaha manusia untuk dimanfaatkan lebih lanjut, misalnya
kapas untuk inddustri tekstil, batu kapur untuk industri semen, biji besi untuk industri besi dan
baja. Bahan baku industri adalah bahan mentah yang diolah atau tidak diolah yang dapat
dimanfaatkan sebagai sarana produksi dalam industri, misalnya lembaran besi atau baja untuk
industri pipa, kawat, konstruksi jembatan, seng, tiang telpon, benang adalah kapas yang telah
dipintal untuk industri garmen (tekstil), minyak kelapa, bahan baku industri margarine.
Barang setengah jadi adalah bahan mentah atau bahan baku yang telah mengalami satu
atau beberapa tahap proses industri yang dapat diproses lebih lanjut menjadi barang jadi,
misalnya kain dibuat untuk industri pakaian, kayu olahan untuk industri mebel dan kertas untuk
barang-barang cetakan. Sedangkan barang jadi adalah barang hasil industri yang sudah siap

3
pakai untuk konsumsi akhir ataupun siap pakai sebagai alat produksi, misalnya industri pakaian,
mebel, semen, dan bahan bakar.

4
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Variabel Penelitian

Variabel yang ada dalam LaporanPenelitian ini terbagi menjadi 2 variabel, yaitu :

1. Variabel Bebas : Kawasan Industri Medan Terhadap Lingkungan

2. Variabel Terikat : Analisis Dampak Positif dan Dampak Negatif

3.2. Waktu Dan Tempat Penelitian

1. Waktu : 26 Mei 2016 s/d Selesai

2. Tempat : Deli Serdang

3.3. Populasi Dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang bekerja di Kawasan Industri
Medan. Sedangkan, teknik pengambilan sampel yang saya gunakan yaitu Simple Random
Sampling . Simple Random Sampling adalah suatu cara pengambilan sampel dimana tiap unsur
yang membentuk populasi diberi kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Sampel
yang saya gunakan berjumlah 5 orang.

5
3.4. Alat Dan Bahan Penelitian

A. Alat

1. Kamera, Untuk memfoto kegiatan penelitian.

2. Tape Recorder, untuk merekam pembicaraan.

B. Bahan

1. Notes dan Pulpen, Untuk mencatat hasil penelitian.

3.5. Jenis Data

1. Data Primer : Data dari Lapangan

2. Data Sekunder : Data dari Internet

3.6. Teknik Pengumpulan Data

Metode atau Teknik yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Metode Observasi
Yaitu dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktifitas di
lapangan. Dan mengumpulkan data melalui wawancara terhadap 5 orang yakni 1 orang
karyawan di KIM 4 orang yang tinggal di pinggiran KIM.
2. Metode Study Pustaka
Yaitu berupa kajian literature yang sesuai dengan penelitian baik berupa buku maupun dari
sumber internet.

3.7. Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang kami gunakan adalah Deskripsi. Dimana pada pembahasan nantinya saya
akan mendeskripsikan hasil dari penelitian ini.

6
BAB IV
DESKRIPSI WILAYAH

4.1. Kondisi Fisik

Gambar 4.1 : Peta Rencana Pengembangan Kawasan Industri Medan

Industri Medan terus melakukan pengembangan lahan. Hingga saat ini telah memiliki
luas areal 780 ha dan akan terus dikembangkan dengan usaha sendiri maupun bekerjasama
dengan pihak swasta yang berpengalaman.

Areal Kawasan Industri Medan ( Tahap I), dengan luas + 200 Ha, terletak disebelah
barat jalan tol, dan areal di sebelah timur jalan tol disebut dengan Kawasan Industri Medan
(Tahap II) dengan luas + 325 Ha.Tata ruang tahap II sangat terencana dan asri, dengan jalan
utama keluar dan masuk terbuat dari beton seluas 2 x 17,5 meter, dan jalan sekunder selebar 12
meter

7
Kawasan PT KIM I yang meliputi Medan, kawasan KIM II yang meliputi Deli serdang, dan
kawasan PT KIM III meliputi Deli serdang semuanya masih mencari lokasi untuk dijadikan
kawasan baru KIM.

Tabel 4.1. Perusahaan di Kawasan Industri Medan (KIM)

Keterangan Jumlah
Perusahaan Asing 17
Perusahaan Swasta Nasional 86
Fasilitas Kawasan Industri Medan:
Listrik 120 MW
Air 300 lt/second
Telepon 3000 line
GAS Alam 12.000 Cal/M3
Oksigen/Nitrogen 1.350-1.500 M3/Hrs
Unit Pengolah Limbah 4.500 M3/hari

Perusahaan asal India, VCF Pte. Ltd, mulai Juli 2011 merealisasikan kegiatan
investasinya dengan membangun pabrik minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di
Kawasan Industri Medan (KIM,)Sumatra Utara. Perusahaan ini membangun pabrik pengolahan
CPO di atas lahan seluas 7,9 hektare di KIM II. Perusahaan terkemuka dari India itu memilih
KIM sebagai lokasi untuk pembangunan pabrik CPO dan beberapa jenis produk turunannya,
karena kawasan industri itu hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pelabuhan ekspor impor
Belawan Medan itu dilengkapi beragam fasilitas dan sarana infrastruktur. Selain itu, pabrik
tersebut bila kelak beroperasi diyakini relatif mudah dalam memperoleh bahan baku, karena
Sumatra Utara (Sumut) selama ini termasuk sentra produksi kelapa sawit terbesar di Indonesia.

Sekitar 60 persen dari 350 hektar lebih total luas areal KIM II yang berlokasi di
Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, kini sudah habis terjual. Harga lahan di
KIM II untuk lokasi pabrik maupun untuk keperluan lain, seperti gudang dan perkantoran

8
dipastikan relatif lebih kompetitif dibanding harga lahan di sejumlah kawasan industri lain di
Indonesia.
Kawasan Industri Medan selama hampir lima tahun terakhir masih mengalami krisis
energi listrik, akibat pasokan dari PT Perusahaan Listrik Negara relatif terbatas. Bahkan sejak
dua tahun terakhir aliran listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga sering padam pada
malam hari. Kekurangan pasokan energi listrik menurunkan kinerja produksi dan menambah
biaya operasional sejumlah pabrik di kawasan industri terbesar di luar Pulau Jawa itu.

Sejumlah pabrik yang selama ini mengalami kekurangan pasokan listrik, terpaksa
mengandalkan mesin genset untuk menjalankan aktivitas produksi. Perusahaan di kawasan
industri Medan yang menggunakan genset dipastikan membuat biaya operasional pabriknya
menjadi bertambah besar. Sebanyak 11 perusahaan yang berlokasi di Kawasan Industri Medan
(KIM) II terancam tidak bisa beroperasi.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

9
5.1. Sejarah Terbentuknya Kawasan Industri Medan (KIM)

Gambar 5.1 : Logo KIM

PT. (Persero) Kawasan Industri Medan, adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dengan bidang usaha jasa pengelolaan Kawasan Industri. Kawasan ini didirikan pada tanggal 7
Oktober 1988, dengan komposisi sahamnya terdiri dari Pemerintah RI (pusat) 60%, Pemerintah
Propinsi Sumatera Utara 30%, dan Pemerintah Kota Medan 10%.

PT. Kawasan Industri Medan (Persero) didirikan dengan status Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) melalui Akte Notaris Soeleman Ardjasasmiota, SH. No 9 Tanggal 7 Oktober
1988 di Jakarta, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Akte Notaris Ny. Asmara Noer
SH, No. 8 dan 9 tanggal 10 Maret 198 sebagai akibat dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham
Luar Biasa tanggal 14 Januari 1998 dan telah diubah dengan Akte Notaris Erita Wagewali
Sitohang, SH Nomor 12 tanggal 7 April 2005 dan terakhir telah diubah dengan Akte Notaris
Titiek Irawati S.S.H Nomor 42 tanggal 12 September 2008 sesuai dari hasil Keputusan Para
Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Kawasan Industri Medan Kep-
114S.MBU2008, No. Kep-23D2.MBU2008, No. 5752836K2008 dan No. 570106522008 tanggal
13 Agustus 2008.

10
Sejak didirikannya kawasan ini, seiring dengan tingginya minat investor untuk
menanamkan investasinya di Sumatera Utara PT. KAWASAN INDUSTRI MEDAN terus
melakukan pengembangan lahan. Hingga saat ini telah memiliki luas areal 780 ha dan akan terus
dikembangkan dengan usaha sendiri maupun bekerjasama dengan pihak-pihak swasta yang
berpengalaman dan professional dalam pembangunan kawasan industri.

Areal Kawasan Industri Medan ( Tahap I), dengan luas + 200 Ha, terletak disebelah barat
jalan tol, dan areal di sebelah timur jalan tol disebut dnegan Kawasan Industri Medan (Tahap II)
dengan luas + 325 Ha.

Tata ruang tahap II sangat terencana dan asri, dengan jalan utama keluar dan masuk
terbuat dari beton seluas 2 x 17,5 meter, dan jalan sekunder selebar 12 meter. Pada kiri dan
kanan jalan terdapat pipa air bersih, air limbah, hydran, pipa gas, kabel listrik dan telepon,
dengan konstruksi dibawah tanah.

Dengan menjunjung visi Menjadi Kawasan Industri yang Berwawasan Lingkungan dan
Penyediaan Sarana dan Prasarana Bisnis yang Dapat Meningkatkan Nilai Bagi Shareholder dan
Stakeholders lainnya.

PT. Kawasan Industri Medan akan terus meningkatkan berbagai sarana dan fasilitas yang
dibutuhkan dunia usaha maupun investor. Dalam kawasan yang terbesar di di Sumatera Utara ini
telah bergabung sebanyak 600 pengusaha mulai dari industri dengan skala UKM, menengah
hingga Industri-industri Multinasional dan Internasional.

Terdapat berbagai hasil industri yang diproduksi dengan mengandalkan potensi dan
sumber daya alam yang terdapat di Sumatera Utara antara lain : Industri Kelapa Sawit (CPO) dan
turunannya seperti Fatty Acid, Steric Acid, Palmitat Acid, Isopropil Palmiat, Gliserin dan jenis
oleochemical lainnya, karet, coklat, kopi, teh dan hasil-hasil pertanian dari dataran tinggi
Sumatera Utara berupa sayur mayur dan buah-buahan. Industri Hasil Laut, Goldstorage,
pengalengan ikan, makanan dan minuman, industri hasil hutan, furniture, rotan, meubel, industri
bangunan (baja) dan lain-lain.

11
5.1.1 Sengketa Lahan KIM
Lokasi seluas 46,11 hektare (Ha) diancam penyitaan lahan oleh 70 kepala keluarga di
Deli Serdang. Menurut Direktur Utama KIM II Gandi Tambunan, penyitaan yang akan dilakukan
oleh Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam, Deli Serdang, tidak sesuai objek sita yang
seharusnya berada di luar areal KIM II meski sudah sesuai peninjauan kembali (PK). KIM
mempertanyakan pelaksanaan eksekusi karena terdapat kejanggalan dalam surat kuasa dari ahli
waris dari sekitar 50 lebih kepala keluarga. Tim pengacara penggugat sendiri mengajukan 70
saksi yang mengklaim sebagai pemilik tanah seluas 46 hektar tersebut

5.2. Dampak Positif Keberadaan KIM

a. Terserapnya tenaga kerja


Terdapat sekitar 15.000 karyawan pada 12 perusahaan di PT Kawasan Industri Medan
(KIM) II. Kemudian dengan direncanakannya pembangunan pabrik pengolahan minyak sawit
berorientasi ekspor di KIM dipastikan akan memberi kontribusi yang menggembirakan bagi
perekonomian Sumut. Pabrik CPO tersebut nantinya diperkirakan akan menyerap sekitar 1.000
tenaga kerja.
b. Adanya program CSR untuk meningkatkan perekonomian masyarakat
Presiden Direktur PT Kawasan Industri Medan (PT KIM) Gandi Tambunan pada tahun
2012 mendapat penganugerahan penghargaan oleh Pemerintah di Hotel Santika Premiere
Dyandra, sebagai badan usaah milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD) di
Sumatera Utara yang telah menunjukkan kepedulian untuk meningkatkan perekonomian
masyarakat melalui program CSR nya.

5.3. Dampak Negatif Keberadaan Kim

a. Limbah

12
Industri yang menggunakan bahan kimia baik yang berada di hulu Sungai Deli dan
Kawasan Industri Medan, masih terus saja membuang limbahnya ke sungai dan parit-parit
warga. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) PERINTIS yang khusus meneliti pabrik
melakukan pencemaran, mendesak pemerintah serius menuntaskan persoalan limbah dan polusi
udara dari ratusan pabrik yang beroperasi di daerah ini.
Pasalnya, ratusan perusahaan (pabrik) penghasil limbah dan polusi udara di Belawan dan
Kawasan Industri Medan (KIM) Mabar tersebut dinilai sangat mencemari lingkungan hidup.
Begitu juga parit-parit warga yang airnya terlihat hitam pekat, berbuih dan berbau tak sedap
akibat limbah kimia. Salah satu bukti limbah dan polusi udara, diduga dilakukan oleh perusahaan
UD Ayam Lestari Mas, pakan udang PT Medan Canning dan pakan ternak Pokphan.

LSM PERINTIS yang belakangan fokus mencermati kasus pencemaran lingkungan di


daerah ini, sampai sekarang belum mampu ditangani serius oleh pihak Pemprovsu, Pemko
Medan maupun Pemkab Deliserdang. Di KIM Mabar dan Kota Belawan, tambah Puja,
beroperasi ratusan perusahaan penghasil limbah padat, cair dan gas yang masuk golongan limbah
bahan berbahaya dan beracun (B3).

Limbah ratusan pabrik di KIM Mabar dan Belawan selama ini dinilai sangat meresahkan
warga masyarakat Kota Medan, khususnya warga yang berdomisili di seputaran pabrik. Namun
tekesan tidak ada tindakan sama sekali.

Direktur Utama KIM II Gandi Tambunan semua pabrik-pabrik penghasil limbah di


kawasan itu telah memiliki saluran pembuangan limbah tersendiri yang selanjutnya disalurkan ke
sumur penampungan milik KIM Mabar. Analisis juga dilakukan sebulan sekali. Sedangkan
permasalahan lainnya yang dihadapi KIM, katanya, karena kanal-kanal di KIM itu terhubung
dengan saluran parit warga, dan tidak tertutup kemungkinan ada limbah dari luar yang dibuang
ke kanal tersebut.

Kanal tersebut adalah milik PT KIM, hanya saja masyarakat ikut menggunakannya juga,
dan pihak sekuriti pernah memergoki truk tangki membuang sesuatu di kanal tersebut, hanya saja
mereka langsung kabur saat didatangi.

13
b. Polusi udara
Khusus ratusan pabrik di KIM, belawan dan Medan Deli, yang terus-menerus membuang
asap hitam yang mengepul dari cerobong pabrik. Sementara dampak negatif yang ditimbulkan
akibat limbah dan polusi udara di lingkungan padat penduduk itu sangat dirasakan oleh
masyarakat sekitar. Setiap hari dipaksa menghirup bau busuk menyengat dari pabrik pengolahan
pakan ternak Ayam Lestari Mas.
Bau busuk yang menyengat dirasakan warga hingga radius 10 kilometer. Semestinya,
tegas aktivis PERINTIS, pabrik yang terang-terangan mencemari udara dan lingkungan segera
dihentikan operasional usahanya alias ditutup. Sebab, pencemaran melalui limbah cair, limbah
padat dan gas dari pabrik di KIM dan Belawan sangat membahayakan kesehatan masyarakat
yang ujungnya secara perlahan-lahan dapat menimbulkan penyakit dan menyebabkan kematian.
Hasil investigasi LSM PERINTIS, malah pabrik-pabrik yang menyebarkan bau busuk
dan mencamari lingkungan tersebut, meski telah beroperasi puluhan tahun disinyalir tidak
memiliki SIUP, HO, TDP serta persyaratan operasional lainnya.
Sejumlah pabrik tersebut juga diduga tidak memenuhi standarisasi atau persyaratan
AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), tidak memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan
Air Limbah) sebagai sarana atau lokasi pembuangan limbah, serta tidak memiliki kelayakan
UKL dan UPL yang memadai.

BAB VI

PENUTUP
14
6.1. Kesimpulan

Industri Medan terus melakukan pengembangan lahan. Hingga saat ini telah memiliki
luas areal 780 ha dan akan terus dikembangkan dengan usaha sendiri maupun bekerjasama
dengan pihak swasta yang berpengalaman.

Areal Kawasan Industri Medan ( Tahap I), dengan luas + 200 Ha, terletak disebelah
barat jalan tol, dan areal di sebelah timur jalan tol disebut dengan Kawasan Industri Medan
(Tahap II) dengan luas + 325 Ha.Tata ruang tahap II sangat terencana dan asri, dengan jalan
utama keluar dan masuk terbuat dari beton seluas 2 x 17,5 meter, dan jalan sekunder selebar 12
meter
Dengan adanya KIM ini dapat meningkatkan taraf perekonomian masyarakat karena
membuka lapangan pekerjaan baru. Sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di Kota
Medan. Namun KIM inipun berdampak Negatif pada Lingkungan yakni Polusi Udara dan
Pencemaran pada air parit di sekitaran KIM. Sehingga dibalik hadirnya industry ini masih masih
saja merupakan suatu kerugian bagi masyarakat sekitarnya.

6.2. Saran

Ada baiknya pembangunan Suatu industry tersebut harus berbasis Lingkungan. Rata-rata
Industri yang ada di Indonesia hanya menjaga Lingkungan Sekitar Ketika Pihak Penilai
Perizinan dari Pusat tiba di Industrinya. Setelah industry tersebut mendapatkan izin
pembangunan dan mendapatkan Sertifikat Lingkungan mereka tidak lagi mempedulikan daerah
sekitar mereka. Sehingga Polusi dan Limbah industry saat ini masihla menjadi persoalan yang
selalu saja yang ditimbulkan oleh industry-industri besar di Indonesia. Sehingga daerah-daerah
yang terletak di sekitar Industry tersebut mengalami pencemaran baik pencemaran udara dan
pencemaran air parit. Untuk itu sebaiknya Pihak dari Pemerintah meningkatkan Struktur dan
Pengawasan Industri agar Industri di Indonesia tidak berdampak pencemaran terhadap
lingkungan. Dan pihak pemilik Industri semakin memikirkan cara agar industry mereka tidak
mencemari lingkungan sekitarnya.

15