Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH FILSAFAT ILMU

PENGANTAR FILSAFAT ILMU DAN DASAR-DASAR


PENGETAHUAN

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. yang telah senantiasa memberikan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kita semua, umat manusia. Shalawat serta salam tak lupa kita
ucapkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.
Atas berkat rahmat Allah SWT. penulis dapat menyelesaikan makalah yang
membahas tentang pengantar filsafat ilmu dan dasar-dasar pengetahuan. Makalah ini
merupakan tugas mata kuliah Filsafat Ilmu. Di dalamnya akan dibahas mengenai
pengertian dan ruang lingkup ilmu filsafat.
Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi diri penulis maupun
para pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca agar makalah menjadi lebih baik dan sempurna untuk kedepannya.

Sungailiat, 8 November 2016

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Konsep dasar filsafat ilmu adalah kedudukan, fokus, cakupan, tujuan dan fungsi
serta kaitannya dengan implementasi kehidupan sehari-hari. Berikutnya dibahas pula
tentang karakteristik filsafat, ilmu dan pendidikan serta jalinan fungsional antara
ilmu, filsafat dan agama. Pembahasan filsafat ilmu juga mencakup sistematika,
permasalahan, keragaman pendekatan dan paradigma (pola pikir) dalam pengkajian
dan pengembangan ilmu dan dimensi ontologis, epistomologis dan aksiologis.
Selanjutnya dikaji mengenai makna, implikasi dan implementasi filsafat ilmu sebagai
landasan dalam rangka pengembangan keilmuan dan kependidikan dengan
penggunaan alternatif metodologi penelitian, baik pendekatan kuantitatif dan
kualitatif, maupun perpaduan kedua-duanya.

Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara
substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat.
Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari
pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut membawa
perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-
teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang
berkaitan dengan makro kosmos maupun mikrokosmos. Dari sinilah lahir ilmu-ilmu
pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk
yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya. Filsafat
sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga
dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu menurut
Jujun Suriasumantri merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu pengetahuan
yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Dalam pokok
bahasan ini akan diuraika pengertian filsafat ilmu, dan obyek yang menjadi
cakupannya.

II. Tujuan
1. mengetahui pengertian dari filsafat ilmu
2. mengetahui contoh objek filsafat
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Ilmu Filsafat

Istilah filsafat bisa ditinjau dari dua segi, semantic dan praktis. Segi semantic
perkataan filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani,
philosophia yang berarti philos = cinta, suka (loving) dan Sophia = pengetahuan,
hikmah (wisdom). Jadi philosopia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta
kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafah akan menjadi bijaksana.
Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher dalam bahasa Arab disebut
failasuf. Dari segi praktis filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat
artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat maknanya
berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. (Mustofa, 2004)

Ilmu pada perinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan


mensistematiskan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman
dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu merupakan suatu metode berfikir
secara objektif (objective thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi
makna terhadap dunia faktual.pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh
dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih
menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Pengetahuan
mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan
tuhan, yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan
dengan sesama manusia,yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal.

Dari uraian di atas akan diperoleh suatu gambaran bahwa filsafat ilmu
merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat
ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan
kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan)
yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu
Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan,tetapi sudah


menjadi sektoral. Contohnya, filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah
bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam
satu bidang tertentu. Di sisi lain, perkembangan ilmu yang sangat cepat tidak saja
membuat ilmu semakin jauh dari induknya,tetapi juga mendorong munculnay
arogansi dan bahkan kompartementalisasi yang tidak sehat antara satu bidang ilmu
dengan yang lain. Tugas filsafat di antaranya adalah menyatukan visi keilmuan itu
sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagi kepentingan. Falsafat sepatutnya
mengikuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radikal,
menyeluruh dan rasional dan begitu juga sifat pendekatan spekulatif dalm filsafat
sepatutnya merupakan bagian dari ilmu. Ruang lingkup filsafat ilmu dilandaskan atas
tiga hal yaitu:

ontology, yaitu suatu pemikiran tentang asal usul kejadian alam semesta, dari
mana ke arah mana proses kejadiannya.
epistimologi, yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan
manusia diperoleh; apakah dari akal pikiran atau dari pengalaman pancaindra
atau dari ide-ide atau dari Tuhan.
Aksiologi, yaitu suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai
tinggi dari Tuhan. Misalnya nilai moral nilai agama, nilai keindahan.

Dasar-dasar Pengetahuan

Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang
berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berpikir,
merasa, bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakan yang bersumber pada
pengetahuan yang didapat melalui kegiatan merasa atau berpikir. Penalaran
menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan
dengan perasaan. Penalaran mempunyai ciri, yaitu:
merupakan suatu proses berpikir logis, dimana berpikir logis diartikan sebagai
kegiatan berpikir menurut suatu pola tertentu atau menurut logika tertentu.
logika penalaran yang bersangkutan, artinya kegiatan berpikir analisis adalah
berdasarkan langkah-langka tertentu. Tidak semua kegiatan berpikir
mendasarkan pada penalaran seperti perasaan dan intuisi.

Ditinjau dari hakikat usahanya, maka dalam rangka menemukan kebenaran, kita
dapat bedakan jenis pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang didapatkan melalui
usaha aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran, baik secara nalar maupun
lewat kegiatan lain seperti perasaan dan intusi. Kedua, pengetahuan yang didapat
tidak dari kegiatan aktif menusia melainkan ditawarkan atau diberikan seperti ajaran
agama. Untuk melakukan kagiatan analisis maka kegiatan penalaran tersebut harus
diisi dengan materi pengetahuan yang berasal dari sumber kebenaran yaitu dari rasio
(paham rasionalisme) dan fakta (paham empirisme). Penalaran ilmiah pada
hakikatnya merupakan gabungan penalaran deduktif (terkait dengan rasionalisme)
dan induktif (terkait dengan empirisme). Penalaran merupakan proses berpikir yang
membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan dari penalaran itu
mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu harus dilakukan dengan suatu
cara tertentu. Penarikan kesimpulan dianggap benar jika penarikan kseimpulan
dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut
dengan logika.

Logika Inferensi

Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika dibangun
oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau hukum
pemikiran, yaitu : Principium Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium
Countradictionis (Qanun Ghairiyah), dan Principium Exclutii Tertii ((Qanun Imtina).
Logika ini sering juga disebut dengan logika Inferensi karena kontribusi utama logika
Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi. Dalam
perkembangan selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan logika
tradisional. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerapkan ilmu pengetahuan
mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi aktual dan deskriptif yang sangat perlu
dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filsuf. Para filosof terlatih
dalam metode ilmiah dan sering pula menuntut minat khusus dalam beberapa disiplin
ilmu.

Sumber Pengetahuan

Pengalaman Indra
Nalar
Intuisi
Wahyu

Kriteria Kebenaran Dalam Filsafat

Positivisme, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu dengan
empiri sensual. Kebenaran pisitivistik didasarkan pada diketemukannya frekwensi
tinggi atau variansi besar. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada
korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain phenomenology,
kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial, pilah dari yang non
esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema moral tertentu. Rumusan substantif
tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada lima teori
kebenaran, yaitu,:

Kebenaran Preposisi, yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran


proposisinya baik proposisi formal maupun proposisi materialnya.
Kebenaran Korespondensi, teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran
pada adanya korespondensi antara pernyataan dengan kenyataan (fakta yang satu
dengan fakta yang lain).
Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, yaitu teori kebenaran yang medasarkan
suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-
pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui
kebenarannya.
Kebenaran Performatif, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu
dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.
Kebenaran Pragmatik, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu
benar apabila mempunyai kegunaan praktis. Dengan kata lain sesuatu itu
dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak
mendatangkan manfaat.

Objek Filsafat Ilmu

Pada dasarnya , setiap ilmu memiliki dua macam objek , yaitu objek material dan
objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran
penyelidikan,seperti tubuh manusia adalah objek material ilmu kedokteran. Filsafat
sebagai proses berpikir yang sistematis. (Mustofa H. A., 2004) Objek material filsafat
adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang
tidak tampak. Objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam
empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. adapun, objek
formal,dan rasional adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan rasional
tentang segala yang ada. Setelah berjalan beberapa lama kajian yang terkait dengan
hal yang empiris semakain bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan
spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang peraktis.inilah peroses terbentuknya
ilmu secara bersenambungan. Objek Formal Filsafat Ilmu adalah sudut pandang dari
mana sang subjek menelaah objek materialnya. Objek formal filsafat ilmu adalah
hakikat (esensi) ilmu pengetahuan artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian
terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu pengetahuan,
bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah dan apa fingsi ilmu itu bagi manusia.
Problem inilah yang di bicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan
yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Obyek formal adalah pendekatan-pendekatan secara cermat dan bertahap menurut
segi-segi yang dimiliki obyek materi dan menurut kemampuan seseorang. Obyek
formal diartikan juga sebagai sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari
penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut pandang darimana obyek
material itu disorot. Obyek formal suatu ilmu tidak hanya memberikan keutuhan
ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Suatu
obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan
ilmu yang berbeda-beda. Oleh karena itu, akan tergambar lingkup suatu pengetahuan
mengenai sesuatu hal menurut segi tertentu. Dengan kata lain, tujuan pengetahuan
sudah ditentukan.

Misalnya, obyek materialnya adalah manusia, kemudian, manusia ini ditinjau


dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari
manusia, diantaranya: psikologi, antropologi, sosiologi dan sebagainya.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada [realita]
sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris.
Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan
terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu

Obyek ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang merupakan bahan dari penelitian
atau pembentukan pengetahuan. Inti pembahasan atau pokok persoalan dan sasaran
material dalam ilmu pengetahuan sering disebut sebagai obyek material ilmu
pengetahuan. Sedangkan cara pandang atau pendekatan-pendekatan terhadap obyek
material ilmu pengetahuan biasa disebut sebagai obyek formal.
DAFTAR PUSTAKA

Mustofa, H. A. (2004). Filsafat Islam. 14.

Mustofa, H. (2004). Filsafat Islam. Retrieved from http://filsafat-ilmu.blogspot.com

Arifin, Muzayyin. 2012. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:Bumi Aksara.

Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu Edisi Rivisi. Jakarta:Grafindo Persada.

Djamaris, Martini. 2011. Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta:Kencana.

Fautanu, Idzam. 2012. Filsafat Ilmu Teori dan Aplikasi. Jakarta:Referensi.

Hasan, Erliana. 2011. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian Ilmu Pemerintahan.
Bogor:Ghalia Indonesia.

Muslim, Muhammad. 2005. Filsafat Ilmu Dalam Pemahaman Praktis.


Jakarta:Belukar.

Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta:Sinar


Grafika Offset.

Wangsa, Teguh. 2011. Filsafat Pendidikan. Malang:Ar-Ruzz Media.

Wiharto, Mulyo. 2005. Kebenaran Ilmu, Filsafat, dan Agama. Forum Ilmiah
Indonusa. Vol 2 No 3 September.

Anda mungkin juga menyukai