Anda di halaman 1dari 19

REFLEKSI KASUS Agustus 2017

KEJANG DEMAM KOMPLEKS

Nama : Nur Safriyanti


Stambuk : N 111 16 037
Pembimbing : dr. Amsyar Praja, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2016

1
PENDAHULUAN

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu

tubuh (suhu rectal > 380C) yang disebabkan oleh proses estrakranium. Menurut

Konsensus Penatalaksanaan kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau

anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan

demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu.(1)

Kejang demam terdiri dari kejang demam sederhana dan kejang demam

kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung

singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang

bersifat umum, tonik atau klonik, tanpa gerakan fokal dan tidak berulang dalam
(1)
waktu 24 jam . Kejang demam kompleks ialah kejang demam yang lebih lama

dari 15 menit, fokal, multipel (lebih dari 1 kali kejang per episode demam).(1)

Kejang demam kompleks terjadi rata-rata 25 50 % dari seluruh kasus

kejang demam. Kejang demam kompleks berhubungan dengan peningkatan risiko

kejang demam berulang, kejang demam dengan status epileptikus dan epilepsi.

Kejang demam kompleks berhubungan dengan banyak faktor, seperti gejala

klinisnya, infeksi virus, faktor genetik dan metabolik, serta kemungkinan adanya

abnormalitas struktur otak. Gurner et al baru-baru ini berhasil memetakan suatu

lokus genetik di kromosom 12 yang berhubungan dengan peningkatan risiko

kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks juga memiliki kemungkinan

untuk menjadi salah satu gejala adanya infeksi meningitis bakterial akut. (2)

2
Sekitar 30% pasien kejang demam hanya mengalami 1 kali episode

kejang, sementara sisanya mengalami lebih dari 1 kali episode kejang.

Tatalaksana kejang demam terbagi atas 3 hal, yaitu pengobatan fase akut, mencari

dan mengobati penyebab, dan pengobatan profilaksis terhadap berulangnya

kejang demam.(3)

Prognosis kejang demam kompleks lebih buruk jika dibandingkan dengan

kejang demam sederhana. Suatu penelitian menunjukkan adanya gangguan

memori pada anak berumur kurang dari 1 tahun. Risiko menjadi epilepsi

meningkat 7% atau 2-10 kali lipat lebih sering dibandingkan populasi umum. (4)

Pada laporan kasus ini, akan dibahas mengenai kejang demam kompleks pada

pasien anak yang dirawat di ruang Kaswari RS Wirabuana.

3
KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : An. C

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 2 tahun 1 bulan

Tanggal pemeriksaan : 5 Agustus 2017

Keluhan Utama : Kejang

Riwayat penyakit sekarang:

Pasien anak perempuan masuk rumah sakit dengan keluhan kejang. Kejang

dialami dirumah sebanyak 2 kali pada seluruh tubuh. Kejang pertama dialami 15

menit, kemudian kejang kedua terjadi di rumah sakit dengan durasi <5 menit. Saat

kejang pasien tidak sadar, posisi kaki dan tangan kaku, mata melihat keatas.

Setelah kejang pasien langsung menangis. Saat kejang pasien mengalami demam

sejak 2 hari sebelumnya. Serta ibu pasien mengeluhkan anaknya batuk berlendir

sejak 5 hari yang lalu disertai dengan pilek. Sesak (-). Muntah (-). BAB kesan

biasa dan BAK lancar.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien pernah mengalami kejang sebelumnya pada usia 1 tahun 6 bulan.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat kejang oleh ibu pasien saat kecil dan tante pasien 1 tahun yang lalu.

4
Kemampuan dan Kepandaian anak:

Pasien sudah bisa menaiki tangga sendiri dan menendang bola kecil. Pasien juga

sudah bisa menulis dengan pensil di kertas. Dapat berbicara dengan baik dengan

kata-kata, menunjuk bagian tubuhnya yang diminta.

Anamnesis Makanan:

ASI eksklusif diberikan dari lahir sampai 1 tahun. Diberikan bubur dari umur 6

bulan sampai 1 tahun, makan nasi sejak 1 tahun sampai sekarang.

Riwayat kehamilan dan persalinan :

Ibu rutin kunjungan ANC 4 kali, selama hamil ibu tidak pernah sakit.

Persalinan secara normal dirumah ditolong oleh bidan. Bayi langsung menangis.

BBL : 3.100 gram dan PBL: 43 cm.

RiwayatImunisasi :

Imunisasi pasien lengkap

PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan umum : Sakit sedang

Kesadaran : Kompos mentis

2. Pengukuran

Tandavital Nadi : 112 kali/menit, reguler, kuat angkat

Suhu : 36,6C

Respirasi : 34 kali/menit

Berat badan : 12 kg

Tinggi badan : 82 cm

Status gizi : Z Score (+1) (+2) Gizi baik

5
3. Kulit : Warna : Sawomatang

Efloresensi : tidak ada

Pigmentasi : tidak ada

Sianosis : tidak ada

Turgor : cepat kembali

Kepala: Bentuk : Normocephal

Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut, tebal,

alopesia (-)

Mata : Palpebra : edema (-/-)

Konjungtiva : pucat (-/-)

Sklera : ikterik (-/-)

Refleks cahaya : (+/+)

Refleks kornea : (+/+)

Cekung : (-/-)

Telinga : Sekret : Tidak ada

Serumen : Minimal

Nyeri : Ttidak ada

Hidung :Pernapasan cuping hidung : tidak ada

Epistaksis : Tidak ada

Sekret : Tidak ada

Mulut : Bibir : Sianosis (-), kering (-)

Lidah : Tidak kotor

6
4. Leher

Pembesaran kelenjar leher : -/-

Kaku kuduk : -

Faring : Tidak hiperemis

Tonsil : T1/T1 tidak hiperemis

5. Toraks

a. Dinding dada/paru :

Inspeksi : Bentuk : Simetris

Dispnea : Tidak ada

Retraksi : Tidak ada

Palpasi : Vokal fremitus: Simetris

Perkusi : Sonor kiri = kanan

Auskultasi : Suara Napas Dasar : Bronchovesikuler (+/+)

Suara Napas Tambahan : Rhonchi (-/-) Wheezing (-/-)

b. Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicula

sinistra

Perkusi : Pekak, Dalam batas normal

Auskultasi : Suara dasar : S1 dan S2 murni, regular

Bising :-

7
6. Abdomen

Inspeksi : Bentuk : cembung

Auskultasi : bising usus (+) kesan normal

Perkusi : Bunyi : timpani

Palpasi : Nyeri tekan : (-)

Ekstremitas : Akral hangat, edem tidak ada, Rumple leede test (-)

7. Genitalia : Fimosis (-)

8. Otot-otot : Hipotrofi (-)

Pemeriksaan Tambahan:

Brudzinki (-), kaku kuduk (-).

Pemeriksaan Laboratorium

WBC : 14 x103/uL (H)

RBC : 3,39 x 106uL (N)

HGB : 12,0 g/dl ( N )

HCT : 26,8 % (N)

PLT : 202 x103/uL (N)

RESUME

Pasien anak perempuan masuk rumah sakit dengan keluhan kejang.

Kejang dialami dirumah sebanyak 2 kali pada seluruh tubuh. Kejang pertama

dialami 15 menit, kemudian kejang kedua terjadi < 5 menit. Saat kejang pasien

tidak sadar, posisi kaki dan tangan kaku, mata melihat keatas. Setelah kejang

8
pasien langsung menangis. Saat kejang pasien mengalami demam sejak 2 hari

sebelumnya. Serta ibu pasien mengeluhkan anaknya batuk berlendir sejak 5 hari

yang lalu disertai dengan pilek BAB kesan biasa dan BAK lancar. Serta ibu

pasien mengeluhkan anaknya menangis setiap kali berkemih. BAB kesan biasa

dan BAK lancar.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum compos mentis, tampak

sakit sedang, gizi baik. Pemeriksaan tanda vital didapatkan nadi 112x/menit,

reguler, kuat angkat, respirasi 34 kali/menit, suhu 36,6 oC.

Pada pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan : WBC: 14 x103/uL

(N), RBC: 3,39 x 106uL (N), HGB : 12,0 g/dl ( N ), PLT: 202 x103/uL (N), HCT :

26,8% (N)

DIAGNOSA

Kejang demam kompleks ec. ISPA

TERAPI

IVFD Ringer laktat 14 tetes per menit

Paracetamol syrup 120 mg/ 5 ml, 4 x 120 mg (1 cth)

Diazepam rektal 5 mg (kalau kejang)

Inj. Ceftriaxone 200 mg/12 jam/iv

GG 12 mg

CTM 1 mg

Puyer 3 x 1

9
ANJURAN PEMERIKSAAN

1. EEG

2. Pungsi lumbal

FOLLOW UP

Tanggal 6/08/2017

S : Panas (-), kejang (-), Batuk (+) berlendir berkurang

O: Tanda vital :

Nadi : 102 kali/menit, reguler, kuat angkat

Suhu : 37,2C

Respirasi : 32 kali/menit

Kulit : Tidak ada kelainan

Kepala : Tidak ada kelainan

Leher : Tonsil T1/T1 tidak hiperemis

Dada : dalam batas normal

Abdomen : dalam batas normal

Genitalia : dalam batas normal

Otot : dalam batas normal

A: kejang demam kompleks

P:

IVFD Ringer laktat 14 tetes per menit

Paracetamol syrup 120 mg/ 5 ml, 4 x 120 mg (1 cth) jika demam

Diazepam rektal 5 mg (kalau kejang)

Inj. Ceftriaxone 200 mg/12 jam/iv

10
GG 12 mg

CTM 1 mg

Puyer 3 x 1

Tanggal 7/08/2017

S :Panas (-), kejang (-), batuk (+) berlendir berkurang

O: Tanda vital :

Nadi : 98 kali/menit, reguler, kuatangkat

Suhu : 37,2C

Respirasi : 28 kali/menit

Kulit : Tidak ada kelainan

Kepala : Tidak ada kelainan

Leher : Tonsil T1/T1 tidak hiperemis

Dada : dalam batas normal

Abdomen : dalam batas normal

Genitalia : dalam batas normal

Otot : dalam batas normal

A: Kejang demam kompleks

P:

IVFD Ringer laktat 14 tetes per menit

Paracetamol syrup 120 mg/ 5 ml, 4 x 120 mg (1 cth) jika demam

Diazepam rektal 5 mg (kalau kejang)

Inj. Ceftriaxone 200 mg/12 jam/iv

GG 12 mg

11
CTM 1 mg

Puyer 3 x 1

Tanggal 8/12/2016

S :Panas (-), kejang (-), batuk (+) berlendir berkurang

O: Tanda vital :

Nadi : 105 kali/menit, reguler, kuatangkat

Suhu : 36,8C

Respirasi : 30 kali/menit

Kulit : tidak ada kelainan

Kepala : tidak ada kelainan

Leher : Tonsil T1/T1 tidak hiperemis

Dada : dalam batas normal

Abdomen : dalam batas normal

Genitalia : dalam batas normal

Otot : dalam batas normal

A:-

P: Pasien pulang dan melakukan rawat jalan

12
DISKUSI

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu

tubuh (suhurektal di atas 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium

tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut dan tidak

ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya. Kejang demam terjadi pada 2-4%

anak berumur 6 bulan 5 tahun.(1)(3)

Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. Selain itu

terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung,

perkembangan terlambat, problem masa neonatus, anak dalam perawatan khusus,

dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama, kira-kira 33% anak

akan mengalami satu kali rekurensi atau lebih dan kira-kira 9% anak mengalami 3

kali rekurensi atau lebih, resikorekurensi meningkat dengan usia dini, usia

dibawah 18 bulan, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul,

temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam dan riwayat

keluarga epilepsi. Kejang demam dapat diturunkan secara autosom dominan

melalui kromosom 19p dan 8q 12-21, sehingga penting untuk dilakukan

anamnesis riwayat kejang demam pada keluarga.(1)(3)

Kejang demam tidak menunjukkan adanya abnormalitas pada

elektroensefalografi (EEG) serta biasanya dapat sembuh secara sempurna.

Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya

kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang

13
demam. Oleh karenanya tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat

dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya: kejang demam

kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.[1]

Selain adanya faktor genetika, kejang demam jarang berkembang menjadi

epilepsi (Kejang demam yang disebabkan keadaan ekstrakranial harus dipisahkan

dari keadaan intrakranial, sehingga perlu dilakukan pungsi lumbal pada pasien

yang mengalami demam, khususnya pada pasien berusia di bawah 18 bulan

dengan kejang demam pertama kali meskipun tidak ada tanda spesifik meningitis
(2) (4)

Kejang demam kompleks adalah kejang demam dengan salah satu ciri

berikut:

1. Kejang lama > 15 menit

2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial

3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko

berulangnya kejang demam adalah :

1. Riwayat kejang demam dalam keluarga

2. Usia kurang dari 12 bulan

3. Temperatur yang rendah saat kejang

4. Cepatnya kejang setelah demam

Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam

adalah 80%, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan

14
berulangnya kejang demam hanya 10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang

demam paling besar pada tahun pertama.[1]

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, didapatkan bahwa kejang demam yang

dialami pasien pada kasus ini adalah kejang demam kompleks karena kejang yang

berulang pada satu periode (24 jam). Pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan

laboratorium.

Menurut Soetomenggolo (1999) ada 3 (tiga) hal yang perlu dikerjakan pada

proses tata laksana kejang demam, yaitu:

1. Pengobatan Fase Akut

Pada waktu pasien sedang mengalami kejang, semua pakaian yang ketat

harus dibuka dan pasien dimiringkan apabila muntah untuk mencegah

terjadinya aspirasi. Jalan napas harus bebas agar oksigen terjamin. Pengisapan

lendir dilakukan secara teratur, diberikan oksigen, kalau perlu dilakukan

intubasi. Awasi keadaan vital seperti kesadaran, suhu, tekanan darah,

pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan

pemberian kompres dan antipiretik (asetaminofen oral 10 mg/kgBB 4 kali

sehari atau ibuprofen 20 mg/kgBB 4 kali sehari). Diazepam (0,3 mg/kgBB

IV, BB<10 kg dosis 5 mg rektal, BB>10 kg dosis 10 mg rektal) adalah pilihan

utama dengan pemberian secara intravena atau intrarektal karena memiliki

masa kerja yang singkat.

2. Profilaksis Intermitten

Pengobatan profilaksis intermitten dengan antikonvulsan segera diberikan

pada waktu pasien demam dengan suhu rektal lebih dari 38. Terapi

15
intermitten harus dapat masuk dan bekerja pada otak. Diazepam oral efektif

mencegah timbulnya kejang demam berulang dan bila diberikan intermitten

hasilnya lebih baik karena penyerapannya yang cepat. Diazepam intermittent

dapat diberikan per-oral maupun rektal. Dosis rektal tiap 8 jam adalah 5 mg

untuk pasien dengan berat badan kurang dari 10 kg, serta 10 mg untuk pasien

dengan berat lebih dari 10 kg. Diazepam oral dapat diberikan dengan dosis

0,5 mg/kgBB perhari dibagi dalam 3 dosis, diberikan bila pasien

menunjukkan suhu 38,5 atau lebih.(2)

3. Profilaksis Terus Menerus

Pemberian fenobarital 4-5 mg/kgBB/hari menunjukkan hasil yang

bermakna untuk mencegah berulangnya kejang demam. Obat lain yang dapat

digunakan untuk profilaksis kejang demam ialah asam valproat yang

memiliki efek sama bahkan lebih baik dibandingkan dengan fenobarbital,

meskipun memiliki efek samping hepatotoksik. Dosis asam valproat adalah

15-40 mg/kgBB. Profilaksis terus menerus dapat berguna untuk mencegah

berulangnya kejang demam berat yang dapat berpotensi menyebabkan

kerusakan otak di kemudian hari namun tidak dapat mencegah terjadinya

epilepsi. Indikasi profilaksis terus menerus adalah:

1) Sebelum kejang demam pertama sudah ada kelainan neurologis atau

perkembangan

2) Ada riwayat kejang tanpa demam pada orang tua atau saudara kandung

3) Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan

neurologis sementara atau menetap

16
4) Dapat dipertimbangkan pemberian profilaksis bila kejang demam terjadi

pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multipel

dalam satu episode demam.

Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah


kejang berakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.(2) (5)

Prognosis pada kasus kejang demam kompleks adalah adanya kemungkinan

gangguan memori bila kejang demam kompleks terjadi pada anak berumur kurang

dari 1 tahun. Pada penelitian juga didapatkan adanya gangguan pada hipokampus

pada kejang demam yang berlangsung lama. Mortalitas jangka panjang tidak

meningkat pada kejang demam, namun terdapat sedikit peningkatan mortalitas 2

tahun setelah kejang demam kompleks. Risiko menjadi epilepsy meningkat

17
sampai 7% atau 2-10 kali lipat lebih sering dibandingkan populasi umum. Faktor

risiko terjadinya epilepsy di kemudian hari adalah kejang demam kompleks,


(3)
ditambah riwayat keluarga dengan epilepsy, dan adanya kelainan neurologis.

Prognosis pada pasien ini adalah dubia dikarenakan kejang demam yang terjadi

adalah kejang demam kompleks yang berkaitan dengan risiko seperti diatas.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. UKK Neurologi IDAI. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. 2006.

2. Roberton DM, South M. Practical Paediatrics Sixth Edition. UK: Churchill

Livingstone, 2007.

3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Buku Ajar Neurologi. Jakarta : Badan Penerbit

IDAI, 2008.

4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Seminar Dokter Umum Peningkatan Kualitas

Pelayanan Kesehatan Anak Pada Tingkat Pelayanan Primer. Jakarta: 2013.

5. UKK Neurologi IDAI. 2006. Konsensus Penatalaksanaan Kejang


Demam.Badan Penerbit IDAI.

19