Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

KONJNGTIVITIS BAKTERIALIS

DISUSUN OLEH:
Nurin Pascarini Jusaim
1102012205

PEMBIMBING:
dr. Agah Gadjali, SpM
dr. Gartati Ismail, SpM
dr. Henry A. Wibowo, SpM
dr. H. Hermansyah, SpM
dr. Mustafa K Shahab, SpM

KEPANITERAAN KLINIK ILMU MATA


RS BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 7 AGUSTUS 8 SEPTEMBER 2017
BAB I
STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 39 tahun
Status Pernikahan : Kawin
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : S1
Pekerjaan : Polisi
Alamat : Gading raya C1/23 RT 09 RW10, Kelapa Gading
Tanggal Masuk RS : 14 Agustus 2017
Tanggal Pemeriksaan : 14 Agustus 2017

B. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis
Keluhan Utama : Kedua mata merah sejak 1 hari sebelum masuk
rumah sakit
Keluhan Tambahan : Mata kiri bengkak, mata kiri lengket saat
bangun tidur pada pagi hari, terasa ada yang
mengganjal di mata kiri
Riwayat Penyakit Sekarang : Os datang ke poli mata RS POLRI dengan
keluhan kedua mata merah sejak 1 hari sebelum
masuk RS. Awalnya mata kiri pasien hanya
bengkak pada pagi hari dan susah dibuka karena
terasa lengket, banyak kotoran (belek) berwarna
kuning saat bangun tidur. Menjelang sore mata
kiri mulai merah diikuti mata kanan selang 4
jam kemudian. Pasien juga merasakan ada
sesuatu yang mengganjal di mata kirinya.
Pasien menyangkal adanya gangguan

1
penglihatan, rasa silau, berair terus menerus,
gatal dan perih pada kedua mata. Demam dan
sakit tenggorokan disangkal. Riwayat trauma,
terkena serangga, dan bahan kimia disangkal
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat gejala penyakit seperti ini disangkal
- Riwayat hipertensi (+)
- Riwayat diabetes melitus disangkal
- Riwayat asma disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat gejala penyakit seperti ini disangkal
- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat diabetes melitus (+)
- Riwayat asma disangkal
Riwayat Alergi : Disangkal
Riwayat Pengobatan : Captopril 3x25 mg

C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran Umum : Compos mentis
Tekanan Darah : 140/90 mmHg
Nadi : 96 x/menit
Pernafasan : Spontan, 20 x/menit
Suhu : 36,6oC

Status Oftalmologi
OD OS
Visus 6/6 6/6
Gerakan bola mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah

2
Kedudukan bola mata Ortoforia
Lapangan pandang Dalam batas normal Dalam batas normal
Supercillia Madarosis (-) Madarosis (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Palpebra
o Superior Edema (-) Edema (+)
Benjolan (-) Benjolan (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Entropion (-) Entropion (-)
Ektropion (-) Ektropion (-)

o Inferior Edema (-) Edema (+)


Benjolan (-) Benjolan (-)
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Entropion (-) Entropion (-)
Ektropion (-) Ektropion (-)
Konjungtiva Tarsal
o Superior Hiperemis (-) Hiperemis (+)
Papil (-) Papil (-)
Folikel (-) Folikel (-)
Edema (-) Edema (-)
Membran (-) Membran (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Sekret (-) Sekret (+)

o Inferior Hiperemis (-) Hiperemis (+)

3
Papil (-) Papil (-)
Folikel (-) Folikel (-)
Membran (-) Membran (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Sekret (-) Sekret (+)
Edema (-) Edema (-)
Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva (+) Injeksi konjungtiva (+)
Injeksi silliar (-) Injeksi sillier (-)
Perdarahan (-) Perdarahan (-)
Kornea Jernih, infiltrat (-), Jernih, infiltrat (-),
Ulkus (-) Ulkus (-)
Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Bilik Mata Depan / COA Jernih, dalam Jernih, dalam
Pupil Bentuk bulat Bentuk bulat
Berada di sentral, Berada di sentral,
Reguler, Reguler,
Refleks cahaya langsung Refleks cahaya langsung /
/ cahaya tidak langsung cahaya tidak langsung
(+)/(+) (+)/(+)
Diameter 3 mm Diameter 3 mm
Iris Warna cokelat, Kripti(+) Warna cokelat, Kripti (+)
Sinekia anterior dan Sinekia anterior dan
posterior (-) / (-) posterior (-) / (-)
Lensa Jernih Jernih
Shadow test (-) Shadow test (-)

Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tekanan intra okular Tidak dilakukan Tidak dilakukan


(Tonometri Schiotz)

4
D. RESUME
Tn. M, 39 tahun datang ke poli mata RS POLRI dengan keluhan
utama kedua mata merah sejak 1 hari sebelum masuk RS. Keluhan lainnya
antara lain mata kiri bengkak, mata kiri terdapat kotoran terutama pada pagi
hari saat bangun tidur, dan terasa ada benda asing pada mata kiri. Os
menyangkal adanya gangguan penglihatan, rasa silau, berair terus menerus,
gatal dan perih pada kedua mata. Demam dan sakit tenggorokan disangkal.
Riwayat trauma, terkena serangga, dan bahan kimia disangkal.
Pada pemeriksaan oftalmologis didapatkan adanya edema palpebra
okuli sinistra, hiperemis dan terdapat sekret pada konjungtiva tarsal okuli
sinistra, dan injeksi konjungtiva pada konjungtiva bulbi okuli dextra sinistra.
Pemeriksaan visus pasien normal 6/6 ODS.

E. DIAGNOSIS KERJA
Konjungtivitis Bakterialis Akut

F. DIAGNOSIS BANDING
Konjungtivitis Virus
Konjungtivitis Alergika
Pterigium
Skleritis
Hematoma subkonjungtiva

5
G. PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
- Cendo Floxa MD (Ofloxacin 3 mg) 4 dd gtt 1
- Cendo Lyteers MD 3 dd gtt 1
- Cendo Xitrol salep s.u.e
Edukasi
- Pemakaian obat yang teratur.
- Tidak menggosok-gosok mata atau menekan mata.
- Mencuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan mata.
- Anjuran untuk mengurangi interaksi dengan orang sekitar karena
penyakit ini mudah menular
- Anjuran untuk memakai kacamata jika beraktivitas di luar ruangan

H. PROGNOSIS
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad fungsionam : Bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Konjungtivitis

Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi

vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi, atau Radang pada selaput lendir yang

menutupi belakang kelopak dan bola mata.1, 3

Konjungtivitis di bedakan menjadi akut dan kronis yang disebabkan oleh

mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan

kimia.2

2.2 Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva merupakan lapisan terluar dari mata yang terdiri dari

membran mukosa tipis yang melapisi kelopak mata, kemudian melengkung

melapisi permukaan bola mata dan berakhir pada daerah transparan pada mata

yaitu kornea. Secara anatomi, konjungtiva dibagi atas 2 bagian yaitu konjungtiva

palpebra dan konjungtiva bulbaris. Namun, secara letak areanya, konjungtiva

7
ibagi menjadi 6 area yaitu area marginal, tarsal, orbital, forniks, bulbar dan limbal.

Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak

(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea pada limbus.Pada

konjungtiva palpebra, terdapat dua lapisan epithelium dan menebal secara

bertahap dari forniks ke limbus dengan membentuk epithelium berlapis tanpa

keratinisasi pada daerah marginal kornea. Konjungtiva palpebralis terdiri dari

epitel berlapis tanpa keratinisasi yang lebih tipis. Dibawah epitel tersebut terdapat

lapisan adenoid yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdiri dari leukosit.

Konjungtiva palpebralis melekat kuat pada tarsus, sedangkan bagian

bulbar bergerak secara bebas pada sklera kecuali yang dekat pada daerah kornea.3

Berikut adalah gambaran anatomi dari konjungtiva 5,6

Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri

palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan banyak

vena konjungtiva yang umumnya mengikut i pola arterinya membentuk

jaringjaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe

konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan

8
bersambung dengan pembuluh limfe palpebra hingga membentuk pleksus

limfatikus yang banyak. 1

Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama (oftalmik)

nervus trigeminus. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri. 1,3

Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, menyediakan kebutuhan

oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi mata, dengan

mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barier epitel, akt ivitas lakrimasi,

dan menyuplai darah. Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupa ekanisme

imunologis seperti sel mast, leukosit, adanya jaringan limfoid pada mukosa

tersebut dan antibodi dalam bentuk IgA 1,2

Pada konjungtiva terdapat beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi

dua grup besar yaitu 3,4

1. Penghasil musin

a. Sel goblet; terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan pada daerah

inferonasal.

b. Crypts of Henle; terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva tarsalis

superior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva tarsalis inferior.

c. Kelenjar Manz; mengelilingi daerah limbus.

2. Kelenjar asesoris lakrimalis.

Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar Krause dan kelenjar Wolfring. Kedua

kelenjar ini terletak dalam dibawah substansi propria. Pada sakus konjungtiva

tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun karena suhunya yang cukup

rendah, evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai darah yang rendah menyebabkan

bakteri kurang mampu berkembang biak.

9
2.3 Etiologi Konjungtivitis

Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat:

Infeksi olah virus atau bakteri

Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang

Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet dari

las listrik atau sinar matahari. 3

2.4 Klasifikasi Konjungtivitis

Konjungtivitis, terdiri dari:

1. Konjungtivitis bakterial Akut

2. Konjungtivitis virus Akut

3. Konjungtivitis alergi

4. Konjungtivitis iritasi atau kimia 1 3

2.4.1 Konjungtivitis Bakterial Akut

Definisi

Peradangan pada konjungtiva yang disebabkan Oleh Streptokokus,

Corynebacterium diptherica, Pseudomonas, neisseria, dan hemophilus. 3

Terdapat dua bentuk konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan menahun.

10
Penyebab konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus,

Pneumococcus, dan Haemophilus. Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh

sendiri bila disebabkan mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. Lamanya

penyakit dapat mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan memadai. 3

Konjungtivitis akut dapat menjadi menahun. Pengobatan dengan salah satu dari

sekian antibacterial yang tersedia biasanya mengenai keadaan ini dalam beberapa

hari. Konjungtivitis purulen yang disebabkan Neisseria gonorroeae atau Neisseria

meningitides dapat menimbulkan komplikasi berat bila tidak diobati secara dini, 4

Pemeriksaan Fisik didapatkan

Hiperemi Konjungtiva

Edema kelopak dengan kornea yang jernih

Kemosis : pembengkakan konjungtiva

Mukopurulen atau Purulen4

Infeksi biasanya mulai pada satu mata dan menular ke sebelah oleh tangan.

Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui bahan yang dapat menyebarkan

kuman seperti seprei, kain, dll.1,5

Pemeriksaan Laboratorium

Pada kebanyakan kasus konjungtivitis bacterial, organism dapat diketahui dengan

pemeriksaan mikroskopik terhadap kerokan konjungtiva yang dipulas dengan

pulasan Gram atau Giemsa; pemeriksaan ini mengungkapkan banyak neutrofil

polimorfonuklear.1,2,3 Kerokan konjungtiva untuk pemeriksaan mikroskopik dan

biakan disarankan untuk semua kasus dan diharuskan jika penyakit itu purulen,

bermembran atau berpseudomembran. Studi sensitivitas antibiotika juga baik,

namun sebaiknya harus dimulai terapi antibiotika empiric. Bila hasil sensitifitas

11
antibiotika telah ada, tetapi antibiotika spesifik dapat diteruskan. 6

Terapi

Prinsip terapi dengan obat topical spectrum luas. Pada 24 jam pertama obat

diteteskan tiap 2 jam kemudian pada hari berikutnya diberikan 4 kali sehari

selama 1 minggu. Pada malam harinya diberikan salep mata untuk mencegah

belekan di pagi hari dan mempercepat penyembuhan1, 3

Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen

mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium, dokter dapat mulai

dengan terapi topical antimikroba. Pada setiap konjungtivitis purulen, harus

dipilih antibiotika yang cocok untuk mengobati infeksi N gonorroeae, dan N

meningitides. Terapi topical dan sistemik harus segera dilkasanakan setelah materi

untuk pemeriksaan laboratorium telah diperoleh. 4,6

Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen akut, saccus konjungtiva harus

dibilas dengan larutan garam agar dapat menghilangkan secret konjungtiva. Untuk

mencegah penyebaran penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan

secara khusus hygiene perorangan. 1,4

Perjalanan dan Prognosis

Konjungtivitis bakteri akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat

berlangsung selama 10-14 hari; jika diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali

konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut menjadi blefarokonjungtivitis

dan memasuki tahap mnehun) dan konjungtivitis gonokokus (yang bila tidak

diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena konjungtiva

dapat menjadi gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan meninges,

hasil akhir konjungtivitis meningokokus adalah septicemia dan meningitis.1,4

12
Konjungtivitis bacterial menahun mungkin tidak dapat sembuh sendiri dan

menjadi masalah pengobatan yang menyulitkan.

Pencegahan

Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah

membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya

bersih-bersih.

Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata

yang sakit.

Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah

lainnya.8

2.4.2 Konjungtivitis Virus Akut

a). Demam Faringokonjungtival

Tanda dan gejala

Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-40 C, sakit tenggorokan,

dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. Folikuler sering sangat

mencolok pada kedua konjungtiva dan pada mukosa faring. Mata merah dan

berair mata sering terjadi, dan kadang-kadang sedikit kekeruhan daerah subepitel.

Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).1

b). Keratokonjungtivitis Epidemika

Tanda dan gejala

Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada satu

mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya pasien merasa

13
ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam 5-14

hari oleh fotofobia, keratitis epitel, dan kekeruhan subepitel bulat. Sensai kornea

normal. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Edema palpebra,

kemosis, dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut. Folikel dan perdarahan

konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. Dapat membentuk pseudomembran dan

mungkin diikuti parut datar atau pembentukan symblepharon. 1,3,4

Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel

terutama terdapat di pusat kornea, bukan di tepian, dan menetap berbulan-bulan

namun menyembuh tanpa meninggalkan parut. 1

Keratokonjungtiva epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata.

Namun, pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti

demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare. 1, 3

Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37

(subgroub D dari adenovirus manusia). Virus-virus ini dapat diisolasi dalam

biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Kerokan konjungtiva

menampakkan reaksi radang mononuclear primer; bila terbentuk pseudomembran,

juga terdapat banyak neutrofil. 1

c). Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks

Tanda dan gejala

Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit anak kecil,

adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah

unilateral, iritasi, bertahi mata mukoid, sakit, dan fotofobia ringan. Pada kornea

tampak lesi-lesi epithelial tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu

ulkus atau ulkus-ulkus epithelial yang bercabang banyak (dendritik).

14
Konjungtivitisnya folikuler. Vesikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra

dan tepian palpebra, disertai edema hebat pada palpebra. Khas terdapat sebuah

nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan. 1,3

2.4.3 Konjungtivitis Imunologik (Alergik)

Reaksi Hipersensitivitas Humoral Langsung

2.4.4 Konjungtivitis Pekerjaan oleh Bahan Kimia dan Iritans

Asam, alkali, asap, angin, dan hamper setiap substansi iritan yangmasuk

ke saccus conjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis. Beberapa iritan umum

adalah pupuk, sabun, deodorant, spray rambut, tembakau, bahan-bahan make-up,

dan berbagai asam dan alkali. Di daerah tertentu,asbut (campuran asap dan kabut)

menjadi penyebab utama konjungtivitis kimia ringan. Iritan spesifik dalam asbut

belum dapat ditetapkan secara positif, dan pengobatannya non-spesifik. Tidak ada

efek pada mata yang permanen, namun mata yang terkena seringkali merah dan

terasa mengganggu secara menahun. 1

Pada luka karena asam, asam itu mengubah sifat protein jaringan dan

efek langsung. Alkali tidak mengubah sifat protein dan cenderung cepat

menyusup kedalam jaringan dan menetap di dalam jaringan konjungtiva. Disini

mereka terus menerus merusak selama berjam-jam atau berhari-hari lamanya,

tergantung konsentrasi molar alkali tersebut dan jumlah yang masuk. Perlekatan

antara konjungtiva bulbi dan palpebra dan leokoma kornea lebih besar

kemungkinan terjadi jika agen penyebabnya adalah alkali. Pada kejadian

manapun, gejala utama luka bahan kimia adalah sakit, pelebaran pembuluh darah,

15
fotofobia, dan blefarospasme. Riwayat kejadian pemicu biasanya dapat

diungkapkan. 5,6

Pembilasan segera dan menyeluruh saccus conjungtivae dengan air atau

larutan garam sangat penting, dan setiap materi padat harus disingkirkan secara

mekanik. Jangan memakai antidotum kimiawi. Tindakan simtomatik umum

adalah kompres dingin selama 20 menit setiap jam, teteskan atropine 1% dua kali

sehari, dan beri analgetika sistemik bila perlu. Konjungtivitis bacterial dapat

diobati dengan agen antibakteri yang cocok. Parut kornea mungkin memerlukan

transplantasi kornea, dan symblepharon mungkin memerlukan bedah plastic

terhadap konjungtiva. Luka bakar berat pada kojungtiva dan kornea prognosisnya

buruk meskipun dibedah. Namun jika pengobatan memadai dimulai segera, parut

yang terbentuk akan minim dan prognosisnya lebih baik. 4,6

2.5 Diagnosis Banding Konjungtivitis

16
17
BAB III

ANALISIS KASUS

Teori Kasus
Gejala klinis Mata merah Mata merah
Mata bengkak Mata bengkak
Kotoran mata berwarna kuning Mata lengket karena ada cairan
dan kental kental yang mengering terutama
Merasa seperti ada benda asing saat bangun tidur
Penglihatan normal Merasa seperti ada benda asing
Tidak gatal
Berair
Pemeriksaan Hiperemi Konjungtiva Edema palpebra
fisik
Edema kelopak dengan kornea Hiperemis konjungtiva tarsal
yang jernih Sekret purulen
Kemosis: pembengkakan Injeksi konjungtiva bulbi
konjungtiva
Mukopurulen atau Purulen4
Pemeriksaan Pemeriksaan mikroskopik terhadap Tidak dilakukan pemeriksaan
penunjang
kerokan konjungtiva yang dipulas penunjang

dengan pulasan Gram atau Giemsa.

Terapi Konservatif Medikamentosa


Cendo Floxa MD (Ofloxacin 3
Sebelum pemeriksaan mikrobiologi,
mg) 4 dd gtt 1
berikan antibiotik tunggal spektrum Cendo Lyteers MD 3 dd gtt 1
luas seperti neosporin, gentamisin, Cendo Xitrol salep s.u.e

kloramfenicol, dsb.
Jika pemeriksaan mikrobiologi telah
dilakukan, antibiotik disesuaikan
Prognosis Quo ad vitam : Bonam Quo ad vitam : Bonam
Quo ad fungtionam : Bonam Quo ad fungtionam : Bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad Quo ad sanationam : Dubia ad
bonam bonam

18
D A F TA R P U S TA K A

1. American Academy of Opthalmology. External Disease and Cornea. Section

11. San Fransisco: MD Association, 2005-2006

2. Ilyas DSM, Sidarta,. Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas

Indonesia. Jakarta. 1998

3. Ilyas, H. Sidarta Prof. dr. SpM. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI; 2003, hal

2, 134.

4. James, Brus, dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005

5. Putz, R. & Pabst R. Sobotta. Jilid 1. Edisi 21. Jakarta: EGC, 2000. hal 356.

6. PERDAMI,. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa

kedokteran. Jakarta. 2002

7. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000

8. Wijaya N. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 1983

19

Anda mungkin juga menyukai