Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

TOKSIKOLOGI DAN HIGYENE

STUDI KASUS CEMARAN LOGAM BERAT

MERKURI DI SUNGAI MUSI, PALEMBANG,

SUMATERA SELATAN

Disusun oleh
Kemlopok 12
Sholihin (1350803011110)
Ain Nun Fakhrur Hary (135080307111005)
Adeyan Al Fikri (135080307111006)
T06

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2016
1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan Ilmu dan teknologi dizaman sekarang ini
sangatlah pesat, dimana berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi
diseluruh negara, tidak dipungkiri adanya dampak negatif bagi
kelangsungan hidup manusia yaitu berupa pencemaran lingkungan.
Diantaranya pencemaran logam berat yang ditimbulkan dari limbah pabrik
yang dibuang di perairan atau sungai sekitar pabrik. Salah satunya di
sungai Musi, sungai yang dulunya kebanggaan dari masyarakat
Sumatera Selatan kini sudah mengalami berbagai pencemaran
lingkungan khususnya zat kimia merkuri (Hg).
Berbagai limbah baik dari aktifitas penambangan, industri,
pertanian, perkebunan maupun limbah dari rumah tangga yang
kebanyakan dibuang disungai Musi. Salah satu logam berat yang sangat
beresiko tinggi mengancam kesehatan manusia yaitu Merkusi (Hg). Dan
ditahun 2013 kadar merkuri (Hg) di sungai Musi sudah berkisar antara
17,250 21,750 ppb yang sudah melewati ambang batas.
Pada pengukuran kandungan merkuri total di perairan sungai Musi
Kota Palembang didapatkan bahwa kandungan merkuri di wilayah hilir
relatif lebih besar dari tengah dan hulu masing-masing 21,750 ppb;
19,250 ppb dan 17,250 ppb. Tingginya kandungan Hg diwilayah hilir ini
disebabkan air dari wilayah hulu mengalir menuju ke hilir, sehingga bahan
pencemar tersebut terakumulasi wilayah hilir. Selain itu juga
dimungkinkan kandungan merkuri yang ada di wilayah hilir dipengaruhi
oleh kandungan merkuri yang ada di laut, sehingga pada saat pasang
kandungan merkuri yang terlarut dalam air laut tersebut masuk kedalam
wilayah hilir sungai, sehingga ikut meningkatkan banyaknya merkuri yang
ada di wilayah hilir (Setiawan, et al., 2013).
Inilah yang berakibat fatal bagi kelangsungan hidup hewan yang
ada disekitar perairan sungai Musi untuk bisa bertahan hidup khusunya
ikan. Ikan merupakan biota air yang dapat dijadikan sebagai indikator
tingkat pencemaran yang terjadi di dalam perairan. Disungai Musi
terdapat berbagai jenis ikan contonya ikan baung, juaro, ikan lais dan ikan
patin. Ikan tersebut diasumsikan memiliki kandungan merkuri tertinggi
dibandingkan jenis ikan lainnya, dikarenakan ikan tersebut termasuk
kedalam jenis ikan predator yang mana ikan tersebut telah
mengkonsumsi ikan yang lebih kecil yang sudah mengandung merkuri
(Hg).
Namun, jenis ikan air tawar tersebut juga merupakan jenis ikan
konsumsi yang disukai oleh masyarakat Sumatera Selatan. Zat merkuri
yang terakumulasi dalam tubuh ikan dapat berpindah kedalam tubuh
orang yang mengkonsumsinya. Lama-kelamaan zat merkuri yang
menumpuk dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit
yang secara kronis (menahun). Oleh sebab itu dalam makalah ini kami
akan membahas tentang dampak cemaran merkuri (Hg) dan cara
mereduksinya.

1.2 Rumusan Masalah


o Bagaimana sifat dari logam berat merkuri (Hg)?
o Bagaimana mekanisme cemaran logam berat merkuri (Hg) dapat
masuk kedalam tubuh?
o Apakah efek logam berat merkuri (Hg) terhadap kesehatan?
o Bagaima cara mereduksi cemaran logam berat merkuri (Hg) pada
perairan dan tubuh manusia?
1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu
tugas terstruktur dari mata kuliah Toksikologi dan Higiene sebagai salah
satu syarat kelulusan.
2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Karakteristik Merkuri (Hg)


Merkuri merupakan salah satu logam berat yang berbahaya dan
dapat terjadi aecara alamiah dilingkungan, sebgai hasil dari perombakan
mineral dialam melaui proses cuaca/ iklim, dari angin dan air. Senyawa
merkuri dapat ditemukan di udara, tanah, dan air dekat tempat tempat
kotor dan berbahaya. Merkuri dapat berikatan dengan senyawa lain
seperti klorin, sulfur atau senyawa membentuk senyawa atau garam
merkuri anorganik. Kebnyakan senyawa merkuri anorganik berupa serbuk
atau larutan berwarna putih kecuali untuk merkuri sulfida (dikenal sebagai
sinabar) yang berwarna merah dan berubah menjadi hitam apabila terken
cahaya. Umunya merkuri ditemukan diaam dalam bentuk merkuri metali,
merkuri sulfida, merkuri klorida dan metil merkuri (BSN, 2009).
Menurut Azevedo, et al. (2012), merkuri merupakan suatu logam
berbentuk cairan yang sangat mudah dibentuk disuhu dan ditekanan
nomal. Merkuri berasal dari bahasa latin hydragyrum yang berarti logam
yang menyerupai perak cair. Merkuri dapat diklasifikasikan menjadi 3
kelmopok utama : merkuri elemental, merkuri anorganik dan merkuri
organik. Merkuri ada dalam bentuk : merkuri anorganik, diantaranya ada
merkuri metalik dan uap merkuri (Hg0) dan merkuri mercurous (Hg) atau
merkuri (Hg++). Merkuri anorganik atau disebut organologammerupakan
hasil dari ikatan kovalen antara merkuri dengan atom karbon dari gugus
fungsional organik seperti mertil, etil atau kelompok fenil.
Sedangkan menurut Alfian (2006), menyatakan bahsanya secara
umum ada tiga (3) bentuk merkuri yaitu :
1. Unsur Merkuri (Hg0)
Mempunyai tekanan uap yang tinggi dan sukar larut dalam air.
Pada suhu kamar kelarutannya kira0kira 60 mg/I dan diantara
5-50 mg/I dalam lipida. Bila ada oksigen, merkuri diasamkan
langsung kedalam bentuk ionik. Upa merkuri wujud (hadir )
dalam bentuk monoatom yang apabila terserap kedalam tubuh
akan dibebaskan ke dasar alveolar.
2. Merkuri Anorganik (Hg2+ dan Hg 22+)
Diantara dua tahapan pengoksidaan, Hg2+ adalah lebih reaktif.
Ia dapat membentuk kompleks dengan ligan organik, terutama
golongan sulfurhidril. Contohnya HgCl2 sangat larut dalam air
dan sangat toksik, sebaiknya HgCl tidak larut dan kurang
toksik.
3. Merkuri Organik
Senyawa merkuri yang terikan oleh satu logam karbon,
contohnya metil merkuri. Saluran pernapasan merupakan jalan
utama penyerapan raks dalam bentuk unsur. Persen
pengendapan dan akumulasinya adlah tinggi, lebih kurang
80%, karena sifatnya yang karut didalam lipida. Didalam bentuk
penyerapannya dari saluran gastrointestin sangat
sedikit,mungkin kurang dari 0.01%, karena merkuri berbentuk
pertikel globular yang besar. Oleh karena itu sukar untuk
melintas selaput mukosa. Merkuri mungkin dapat melintasi kulit
tetapi belum dapat dibuktikan.

Menurut Sismanto (2007), merkuri memiliki sifat sebgai berikut :


a. Berwujud cair pada temperatur kamar. Zat cair tidak sangat
mudan menguap (tekanan gas/uapnya adalah 0,0018 mm Hg
pada suhu 25 0C).
b. Terjadi pemuaian secara menyeluruh pada temperatur 396 0C
c. Merupakan logam yang paling mudah menguap
d. Logam yang sangat baik untuk menghantarkan listrik
e. Dapat melarutkan berbagai logam untuk membentuk alloy yang
disebut juga amalgam
f. Merupakan unsur yang sangat beracun bagi hewan dan manusia

2.2 Mekanisme Cemaran Logam Berat Merkuri (Hg)


Merkuri bersifat neutrotoksin, masuk ke ekosistem akuatik melalui
deposisi atmosferik maupun bersumber dari eksternalisasi limbah industri.
Bioakumulasi bahan-bahan kimia pada organisme perairan merupakan
suatu kriteria yang penting terhadap dampak yang ditimbulkan.
Khususnya terhadap manusia yang terpapar malalui makanan misalnya
ikan. Organisme perairan dapat mengakumulasi merkuri dari air,
sedimen, dan makanan yang dikonsumsi (Setiawan, et al., 2013).
Sedangkan menurut Ratmini (2005), menyatakan bahwa sumber merkuri
diperkirakan 80% disebabkan oleh aktivitas manusia, elemen merkuri
dilepaskan ke udara terutama hasil pembakaran bensin, 15% dilepaskan
kedalam tanah akibat pemupukan dan fungsida, sampah baterai,
thermometer dan skalar listrik, dan 5% adalah terlepas dari limbah
industri kedalam lingkungan air.
Mekanisme toksisitas Hg dalam tubuh ikan terutama melaui jalur
insang, dimana air memasuki insang dan memfasilitasi pertukaran gas
dan mempertahankan proses osmosis. Senyawa Hg yang terkandung
dalam air masuk ke jaringan internal ikan melalui epitel insang selama
berlangsungnya respirasi. Selanjutnya Hg terakumulasi sementara di
dalam insang untuk masuk ke dalam jaringan tubuh lainnya, pada insang
mengalami gangguan-gangguan pengaturan ion sehingga menyebabkan
kematian pada ikan (Suseno et al, 2010).
Selain itu juga terdapat Enzim pendetoksifikasi racun yang
berpengaruh terhadap banyaknya zat racun yang ada padai kan tersebut.
Adanya cytocrom P450 yang berperan mengaktifkan enzim glutation
transferase, dimana enzim glutation bekerja mendetoksifikasi racun
(termasuk logam berat). Ikan yang terpapar senyawa beracun namun
tidak menyebabkan kematian ikan, tetapi dalam organ tubuhnya dapat
mengalami kerusakan jaringan. Resiko yang dapat terjadi antara lain ikan
tidak menghasilkan keturunan dan walaupun menghasilkan keturunan
akan mengalami cacat fisik, misalnya pergerakannya tidak
normal/disorientasi (Setiawan, et al., 2013).
Faktor pendukung adanya kandungan Merkuri diperairan adalah
lokasi penangkapan. Jika lokasi penangkapan itu tercemar maka otomatis
ikan yang hidup diperairan tersebut terkontaminasi oleh Hg (merkuri).
Saat ini perairan sungai Musi tergolong dalam pencemaran logam berat
diantara zat besi, cadmium, merkuri,arsen dal lain-lain. Menyebabkan
ikan terpapar oleh zat tersebut dengan masuk kedalam tubuh ikan
tersebut melalui mekanisme yang sudah dijelaskan diatas.
Mekanisme toksisitas Hg dalam tubuh manusia dapat melalui
makanan, pernapasan dan permukaan kulit. Menurut Palar (2008) pada
saat terpapar Hg melalui pernapasan, Hg akan terserap oleh alveoli paru-
paru dan jalur-jalur pernapasan untuk kemudian ditrasfer ke dalam darah.
Dalam darah akan mengalami proses oksidasi, yang dilakukan oleh
enzim hidrokarbon peroksida katalese sehingga berubah menjadi Hg 2+.
Ion merkuri ini selanjutnya dibawa ke seluruh tubuh bersama dengan
peredaran darah. Efek toksisitas Hg pada manusia dapat menyebabkan
neurologis berupa rasa sakit pada bibir dan lidah, halusinasi, gangguan
tidur, hilang ingatan, kemunduran cara berpikir, pendengaran rusak,
emosi labil bahkan sampai pada kematian.
Kemudian untuk mekanisme efek toksik merkuri pada system
kardiovaskuler tidak sepenuhnya dijelaskan, tetapi mekanisme ini
dipercaya dapat meningkatkan proses oksidatif: stress. Paparan merkuri
dapat berpotensial meningkatkan produksi radikal bebas, karena merkuri
dapat menghambat aktivitas enzim antioksidan, seperti glutathione
peroxidase. Reaksi MeHg dengan glutathione peroxidase dapat terjadi
melalui thiol (-SH) dan / atau selenol (-SeH) kelompok dari molekul
endogen (Azevedo, 2012).

Sumber : Azevedo, et al., (2012).


2.3 Efek logam berat merkuri (Hg) Terhadap Kesehatan
Menurut Burger dan Gochfeld (2011), metil merkuri pada ikan
akan terakumulasi dalam otot rangka, yang merupakan pelindung bagi
ikan itu sendiri karena paparan merkuri menuju saraf pusat dapat
berkurang. Pada ikan metil merkuri menyebabkan kurangnya koordinasi,
berkurangnya nafsu makan, ketidakmampuan untuk makan, tanggapan
rangsang berkurang, kelaparan, dan kematian. Pada manusia merkuri
juga memberikan efek toksik terutama pada ibu hamil yang dapat
menghambat perkembangan janin pada masa pertumbuhan kritis.
Ditambahkan oleh Bernhoft (2011), konsentrasi metil merkuri terjadi di
otak , hati, ginjal, plasenta, dan janin terutama pada otak janin, serta di
saraf perifer dan sumsum tulang.
Di antara senyawa merkuri , metil merkuri terutama bertanggung
jawab untuk perubahan neurologis ini pada manusia dan hewan
percobaan . Hal ini diyakini bahwa mekanisme terkait dengan
peningkatan beracun di reaktif spesies oksigen ( ROS ) . stres oksidatif
berhubungan dengan etiologi penyakit neurodegenerative seperti
amyotrophic Lateral Sclerosis , penyakit Parkinson , dan penyakit
Alzheimer , tetapi mekanisme ini masih belum diakui sepenuhnya.
Perubahan kardiovaskular yang disebabkan dari keracunan merkuri juga
dijelaskan pada model binatang. Namun mekanisme yang terlibat dalam
proyek efek merkuri pada system kardiovaskular tidak sepenuhnya
dipahami tetapi tampaknya menjadi tergantung pada dosis dan paparan
merkuri yang diberikan. Hasil penelitian menjelaskan bahwa dapat
menyebabkan gagal jantung dan hipertensi pulmonal. Selain itu, paparan
akut HgCl menyebabkan peningkatan tekanan darah, denyut jantung, dan
reaktivitas vascular untuk fenilefrin pada tikus, reaktivitas yang meningkat
ini tampaknya tergantung pada generasi peningkatan radikal bebas.
Perfusi hati dari hewan terkena HgCl akut menunjukkan penurunan
tekanan sistolik ventrkel kiri, denyut jantung, dan penghambatan konduksi
atrioventrikular (Azevedo, 2012).
2.4 Cara Mereduksi Cemaran Logam Berat Merkuri (Hg)
Menurut Lestari (2012), ada beberapa metode untuk mereduksi
logam merkuri dalam Limbah Cair COD yaitu presipitasi, adsorpsi,
pertukaran ion, pelindian (extraction), osmosis balik. Keuntungan metode
presipitasi yaitu : mudah pengoperasiannya, konsentrasi keluaran rendah
dan harga bahan kimia relatif lebih rendah. Penelitian ini menggunakan
Na2S sebagai pengendap karena memiliki kestabilan yang lebih baik.
Untuk mengurangi pencemaran limbah logam serta merkuri (Hg)
didaeran perairan sungai Musi dapat dialakukan dengan cara yang
sederhana yaitu; memilih teknik penggalian yang ramah lingkungan (
menerapkan sistem pertambangan tertutup sehingga mempersempit laju
dari keluarnya Hg dari dalam tanah), menggunakan bantuan
pemprosesan dengan bantuan bioteknologi ( proses pencucian dengan
menggunakan mikroba Thiobacillus feroxidans) dan mengurangi limbah
kelurga yang dibuang sembarangan seingga tidak tercemar ikut masuk ke
perairan yang ada disekitar sungai Musi (Limbah detergen).
Pada tubuh manusia merkuri akan diekresikan sebagian besar
melalui urin dan tinja, meskipun jumlahnya yang tidak signifikan juga
dapat melalui keringat, air mata, ASI, dan air liur. Setengah fase muncul
menjadi multiphase, seperti logam merkuri pada manusia menunjukkan
efektif selama 42 hari sebesar 80% dari dosis oral, 20% lainnya tidak
muncul untuk memiliki tingkat terukur ekskresi (Bernhoft, 2011 ).
3.PENUTUP

3.1 kesimpulan
3.2
DAFTAR PUSTAKA

Alfian, Z. 2006. Merkuri: Antara Manfaat dan Efek Pengguanaanya Bagi


Kesehatan Manusia dan Lingkungan. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara.
Azevedo, B. F., G. A. Wiggers, M. R. Simoes, M. Fioresi, M. J. Alonso, L. B.
Furieri,P. F. Vassallo, J. Fiorim,mL. Rossoni, F. M. Pecanha, Priscila
Rossi de Batista, I. Stefanon, M. Salaices, and D. V. Vassall. 2012.
Toxic Effects of Mercury on the Cardiovascular and Central Nervous
Systems. Journal of Biomedicine and Biotechnology Volume 2012.
Badan Standarisasi Nasional. 2009. Batas Maksimum Cemaran Logam Berat
dalam Pangan, No. SNI 7387:2009. BSN. Jakarta.
Bernhoft, R. A. 2011. Mercury Toxicity and Treatment: A Review of the Literature.
Journal of Environmental and Public Health. Los Angeles. USA.
Burger, J. dan M. Gochfeld. 2011. Mercury and Selenium Levels in 19 Species of
Saltwater Fish from New Jersey as a Function of Species, Size, and
Season. Journal of Science Total Environtmen, Vol. 409(8): 1418
1429.
Lestari, Asih Fitria. 2012. Pengolahan Limbah Cair Laboratorium KOK dengan
Metode Presipitasi. FMIPA. Skripsi Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Meyer, Robert A. 1998. Wiley Encyelopedia Series In Environmental Science.
Environmental Analysis and Remediation Volume 4, Canada : John
Wiley & Sons,Inc.
Palar, H. 1994. Pencemaran Air dan Toksikologi Logam Berat. PT. Rineka Cipta :
Jakarta.
Ratmini, N. A. 2009. Kandungan Logam Berat Timbal (Pb), Merkuri (Hg), dan
Cadmium (Cd) pada Daging Ikan Sapu-sapu (Hyposarcus Pandalis)
Disungai Ciliwung, Stasiun Srengseng, Condet dan Manggarai.
Jakarta.
Setiawan, A. A., i. Emilia, dan Suheryanto. 2013. Kandungan Merkuri Total pada
Berbagai Jenis Ikan Cat Fish di Perairan Sungai Musi Kota
Palembang. Seminar Nasional Sains dan Teknologi V. Lembaga
Penelitian Universitas Lampung.
Siswanto, D. 2010. Respon Pertumbuhan Kayu Apu (Pistia stratiotes L), Jagung
(Zea mays L), dan Kacang Tolo (Vigna sinensis L), terhadap
Pencemaran Timbal (Pb). SKRIPSI. Jurusan Biologi. Universitas
Brawijaya.
Suseno H, Hudiyono, Budiawan, Wisnubroto DS. 2010. Bioakumulasi Merkuri
Anorganik dan Metil Merkuri oleh Oreochromis Mossambicus:
Pengaruh Konsentrasi Merkuri Anorganik dan Metil Merkuri Dalam
Air. Jurnal Teknologi Pengelolaan, Vol. 13 (1).