Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Ny. S, umur 39 tahun, jenis kelamin perempuan, pendidikan terakhir SD,

tidak bekerja, agama islam, suku Lampung, alamat Terbanggi Besar, sudah

menikah, nomor rekam medis 03XXXX, pasien rawat inap ruang Melati,

dilakukan pemeriksaan pada tanggal pemeriksaan 29 Mei 2017 pukul 11:00

WIB

II. PEMERIKSAAN PSIKIATRI

Diperoleh data pada tanggal 29 Mei 2017 melalui autoanamnesis pada pasien

dan alloanamnesis pada suami pasien, Tn. S, usia 44 tahun, laki-laki,

pendidikan terakhir SLTA, pekerjaan petani, suku Jawa, alamat Terbanggi

Besar. Sumber alloanamnesis bertempat tinggal bersama pasien.

A. Keluhan Utama

Mengamuk tanpa alasan yang jelas.

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien diantar oleh suaminya ke poliklinik Rumah Sakit Jiwa (RSJ)

Lampung. Pasien dibawa ke RSJ dikarenakan pasien seringkali bengong,

marah-marah, bicara sendiri dan sulit tidur. Kejadian ini memberat sejak

lima hari SMRS. Suami pasien mengatakan keluhan mulai terasa sejak dua

tahun terakhir namun suami pasien tidak pernah memeriksakan pasien ke

dokter karena suami pasien tidak menyadari bahwa terdapat gangguan

pada diri pasien.

Keluhan dirasa semakin bertambah berat hingga mencapai puncaknya pada

bulan November tahun Dua Ribu Enam Belas atau sekitar lima bulan

SMRS. Saat itu pasien juga menjalani rawat inap di RSJ dikarenakan

pasien merasa gelisah, mudah marah, dan memukuli siapa saja. Pasien

mengatakan bahwa pasien mendengar suara-suara aneh yang menyuruh

pasien untuk melukai orang lain dan merasa tetangganya iri melihat

kelebihan yang pasien punya. Selain itu, pasien merasa dapat melihat

sosok yang tidak dapat dilihat orang dan mengakui dapat melihat apa yang

dikerjakan orang di tempat lain. Pasien juga merasa ada sesuatu yang

memasuki tubuhnya dan keluar kembali. Pasien merasa hanya dirinya yang

diberi kelebihan berupa wahyu untuk disebarkan ke orang lain.

Menurut suami pasien, pasien sempat dirawat inap kurang lebih selama

satu bulan pada tahun dua ribu enam belas, lalu dipulangkan atas indikasi

sudah mengalami perbaikan. Namun, setelah rawat inap pasien tidak rutin

dan terkadang menolak meminum obat dikarenakan pasien merasakan


dirinya tidak sakit. Pasien juga jarang kontrol ke RSJ sehingga keluhan

muncul kembali lima hari SMRS.

C. Riwayat Penyakit Sebelumnya

1. Riwayat Penyakit Psikiatri

Pasien memiliki riwayat penyakit psikiatri pada tahun 2016, dan

pernah menjalani rawat inap di RSJD Provinsi Lampung pada bulan

November tahun 2016.

2. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif

Pasien mengatakan tidak pernah menggunakan zat psikoaktif,

narkotika, maupun zat adiktif, maupun minuman beralkohol.

3. Riwayat Penyakit Medis Umum

Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat hipertensi, asma, dan

diabetes mellitus. Selain itu, Pasien tidak ada riwayat trauma kepala

atau sakit berat atau penurunan kesadaran, kejang dan menderita

tumor.

D. Riwayat Tumbuh Kembang

1. Periode Prenatal dan Perinatal

Seingat pasien, pasien lahir normal, cukup bulan, dibantu oleh dukun

dan tidak ada kelainan saat kehamilan maupun saat lahir. Pasien

diasuh oleh kedua orangtuanya dan mendapat asupan ASI hingga usia

3 bulan.
2. Periode Bayi dan Balita (1-5 tahun)

Seingat pasien, pasien diberi ASI oleh ibu pasien. Dalam pengasuhan

dan perawatan sepenuhnya dilakukan oleh ibu dan keluarga. Pasien

tidak ingat kapan pertama kali bisa berbicara dan berjalan, namun

menurut pasien perkembangan dari tumbuh kembang pasien sesuai

dengan umurnya

3. Periode usia Kanak-Kanak (6-12 tahun)

Masa kanak-kanak pasien sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya

namun masih sewajarnya. Pasien tidak mengikuti pendidikan di TK

tetapi langsung mengikuti pendidikan di SD. Selama sekolah pasien

dikenal anak yang pintar dan cerdas.

4. Periode Usia Remaja (12-18 tahun)

Hubungan interaksi eksternal (teman-teman) dan internal (keluarga)

pasien sedikit buruk. Pasien merupakan anak bungsu dan sering

bertengkar dengan anggota keluarga lainnya.

5. Periode Saat Ini

Awalnya pasien merupakan seseorang yang cenderung pendiam dan

memiliki hubungan yang tidak baik dengan saudara-saudaranya.

Semenjak 2 tahun terakhir pasien menunjukkan perubahan perilaku

tidak seperti biasanya.


E. Riwayat Pendidikan

Pasien menempuh pendidikan SD, tetapi hanya sampai kelas 3 SD saja

dikarenakan tidak adanya biaya untuk melanjutkan sekolah.

F. Riwayat Pekerjaan

Pasien tidak bekerja.

G. Riwayat Hukum

Menurut keluarga dan pasien, pasien tidak pernah terkait atau bermasalah

dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

H. Riwayat Perkawinan

Pasien sudah menikah

I. Riwayat Kehidupan Beragama

Pasien pemeluk agama islam, dan tekun beribadah. Pendidikan agamanya

didapat dari keluarga dan lingkungan sekitar. Pasien merupakan orang

yang menjalankan nilai agamanya sesuai keyakinan yang dianut.

J. Riwayat Keluarga

Pasien merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara. Pasien memiliki

lima kakak laki-laki dan satu kakak perempuan. Saat ini pasien tinggal

bersama suami dan dua anaknya. Orang tua pasien telah meninggal.

Dikeluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat sakit jiwa.


Gambar 1. Skema Genogram

Keterangan:
: Laki-laki : Laki-laki telah meninggal
: Wanita : Wanita telah meninggal:
: Pasien
: tinggal dalam satu rumah

K. Riwayat Sosial Ekonomi Keluarga

Pasien tinggal bersama suaminya. Dalam kehidupan ekonomi di dalam

keluarganya pasien bukan tulang punggung keluarganya. Pasien memiliki

tingkat ekonomi cukup.

L. Riwayat sosial

Sebelum sakit, pasien merupakan orang yang senang bergaul dan banyak

teman. Ia memiliki hubungan yang cukup baik dengan tetangganya.

Namun semenjak dirinya sakit, pasien menjadi jarang bergaul dan lebih

sering melamun.

M. Situasi Kehidupan Sekarang

Pasien tinggal bersama suaminya. Pasien tidak bekerja. Hubungan dalam

rumah tangga menurut suami cukup harmonis.


N. Persepsi pasien tentang dirinya

Pasien merasakan dirinya tidak sakit dan memiliki titipan wahyu dari

malaikat untuk menebarkan kebaikan dan membuat orang lain untuk harus

taat agama. Serta memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

III. STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum

1. Penampilan

Seorang perempuan sesuai dengan usianya, memakai kaos pasien

RSJ dan celana pendek, perawatan diri baik, perawakan sedang,

berambut panjang, kulit sawo matang, kuku rapih.

2. Sikap Terhadap Pemeriksa

Kooperatif

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor

Selama wawancara, pasien dalam keadaan tenang. Pasien dapat

duduk tenang. Kontak mata dengan pemeriksa cukup baik. Gerakan

involunter tidak ada.

B. Keadaan Afektif

Mood : Eutimia

Afek : Terbatas

Keserasian : Appropriate
C. Pembicaraan

Selama wawancara, pembicaraan pasien spontan, artikulasi jelas, intonasi

sedang, volume cukup, kualitas cukup, kuantitas cukup.

D. Gangguan Persepsi :

1. Halusinasi

Halusinasi auditori (pasien mendengar suara bisikan) dan halusinasi

visual (pasien melihat sosok malaikat).

2. Ilusi

Tidak ditemukan ilusi pada pasien ini.

3. Derealisasi

Tidak ditemukan derealisasi pada pasien ini

4. Depersonalisasi

Tidak ditemukan depersonalisasi pada pasien ini

E. Proses Berpikir :

1. Proses dan Bentuk Pikir

Cukup, pasien dapat menjawab cukup spontan bila diajukan

pertanyaan.

2. Arus Pikiran

Produktivitas : cukup

Kontinuitas : koheren

Hendaya berbahasa : tidak ditemukan


3. Isi pikiran

Pasien memiliki:

Waham kebesaran (pasien memiliki titipan dari wahyu untuk

menebarkan kebaikan yang orang lain tidak bias)

Waham curiga (tetangga pasien tidak senang melihat pasien

memiliki kelebihan)

Wahan bizar (pasien memiliki indra ke enam dan dapat melihat

orang lain)

Thought of insersion (pasien merasa ada sesuatu yang memasuki

pikiran pasien)

Thought of withdrawal (pasien merasa ada sesuatu yang keluar

dari pikiran pasien)

Obsesi dan kompulsi tidak ditemukan pada pasien.

F. Sensorium dan Kognisi

Kesadaran : Compos mentis.

disorientasi tempat tidak ada, orientasi orang baik dan disorientasi

waktu ada.

Daya ingat segera, daya ingat jangka pendek dan jangka menengah

baik, daya ingat jangka panjang sedikit terganggu.

Konsentrasi dan perhatian : baik

Kemampuan visuospasial : baik

Abstraksi : buruk

Intelegensi : cukup
G. Pengendalian Impuls

Pengontrolan impuls agresif saat ini baik dan potensi membahayakan diri

sendiri maupun orang lain saat ini kurang.

H. Daya Nilai

Nilai sosial : baik

Uji daya nilai : baik

Penilaian realitas : terganggu

I. Tilikan

Tilikan derajat 1. Menyangkal secara total terhadap penyakitnya.

J. Taraf Dapat Dipercaya

Kesan dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT

A. Status Internus

Keadaan umum baik. Fungsi pernafasan, kardiovaskular, dan

gastrointerstinal dalam batas normal.

B. Tanda-tanda vital

Tekanan darah : 120/80 mmHg, nadi :84x/menit, RR: 20x/menit, suhu:

36,7C

C. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan mata, hidung, telinga, paru, jantung, abdomen, dan

ekstremitas tidak ditemukan kelainan.


D. Status Neurologis

Sistem sensorik, motorik dan fungsi luhur dalam batas normal.

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Pasien Ny. S, Empat Puluh Satu tahun, tamat SD, islam, suku Jawa, beralamat

di Terbanggi Besar, sudah menikah, telah dilakukan auto-alloanamnesa pada

tanggal Dua Puluh Sembilan Mei tahun Dua Ribu Tujuh Belas pukul 11:00

WIB.

Pasien dibawa dengan keluhan mengamuk dan memukuli suaminya tanpa

alasan yang jelas. Keluhan ini mulai terjadi kembali sekitar lima hari SMRS.

Sebelumnya pasien pernah mengalami keadaan serupa sekitar lima bulan

SMRS dan sempat dirawat inap kurang lebih satu bulan.

Pasien mengaku mendengar suara-suara aneh yang menyuruh pasien untuk

melukai orang lain dan merasa tetangganya iri melihat kelebihan yang pasien

punya. Selain itu, pasien merasa dapat melihat sosok yang tidak dapat dilihat

orang dan mengakui dapat melihat apa yang dikerjakan orang di tempat lain.

Pasien juga merasa ada sesuatu yang memasuki tubuhnya dan keluar kembali.

Pasien merasa hanya dirinya yang diberi kelebihan berupa wahyu untuk

disebarkan ke orang lain.

Pada pasien ditemukan gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik dan

halusinasi visual. Pada arus pikir ditemukan kontinuitas yang koheren dan isi
pikiran berupa waham kebesaran, waham curiga, waham bizzare, thought of

insersion dan thought of withdrawal.

VI. FORMULASI DIAGNOSIS

Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan persepsi dan isi pikir yang

bermakna serta menimbulkan suatu distress (penderitaan) dan disability

(hendaya) dalam pekerjaan dan kehidupan sosial pasien, sehingga dapat

disimpulkan bahwa pasien ini mengalami gangguan jiwa.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan

berarti yang dapat menyebabkan sistem saraf dan diagnosis gangguan mental

organik dapat disingkirkan, tidak ditemukan riwayat trauma kepala, demam

tinggi atau kejang sebelumnya ataupun kelainan organik. Tidak pernah ada

riwayat penggunaan zat psikoaktif. Hal ini dapat menjadi dasar untuk

menyingkirkan diagnosis gangguan mental organik (F.0) dan penggunaan zat

psikoaktif (F.1).

Pada pasien ditemukan adanya gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik

dan visual, berupa suara seorang yang menyuruhnya untuk membunuh

suaminya, dan pasien juga terkadang melihat bayangan seperti 2 malaikat,

mailaikat baik dan jahat. Pada pasien didapatkan pula waham yang menetap

berupa waham kebesaran, waham curiga dan waham bizzare. Pasien merasa

mendapatkan kelebihan yang orang lain tidak dapatkan, pasien merasa orang

di sekeliling pasien membenci pasien karena pasien memiliki kelebihan


tersebut, dan pasien memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang

berada di tempat lain. Hal ini mendukung diagnosis skizofrenia (F20) karena

memenuhi kriteria diagnostik. Waham dan halusinasi yang menonjol pada

pasien ini, mengarahkan diagnosis Aksis I ke skizofrenia paranoid (F20.0).

Pada pasien tidak ditemukan tanda-tanda retardasi mental (F.70) sehingga

diagnosis ini dapat disingkirkan. Selain itu pada pasien belum memiliki

tanda-tanda gangguan kepribadian yang dapat memeuhi kriteria diagnosis

sehingga sampai saat ini belum ada diagnosis pada Aksis II. Pada anamnesis

dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya kelainan. Oleh karena itu

Aksis III sampai saat ini belum ada diagnosis.

Sebelum sakit, pasien merupakan orang yang senang bergaul dan banyak

teman. Ia memiliki hubungan yang cukup baik dengan tetangganya. Namun

semenjak dirinya sakit, pasien menjadi jarang bergaul dan lebih sering

melamun. Pasien juga memiliki masalah dengan keluarganya terutama

saudara kandungnya dimana pasien sering dikucilkan. Suami pasien

mengatakan pasien sulit disuruh untuk meminum obat. Sehingga pada Aksis

IV dituliskan masalah pemahaman keluarga dan psikososial.

Penilaian terhadap kemampuan pasien untuk berfungsi dalam kehidupannya

menggunakan skala GAF (Global Assessment of Functioning). Pada pasien

ini didapatkan Aksis V, pada saat dilakukan wawancara, skor GAF 60-51

(beberapa gejala sedang dan menetap, disabilitas sedang dalam fungsi, secara
umum masih baik). Hal ini ditandai dengan pasien mampu melakukan

aktivitas sehari-hari secara mandiri disertai gejala psikotik yang sedang. GAF

tertinggi selama lima bulan terakhir adalah 70-61 (beberapa gejala ringan dan

menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik). Hal ini

ditandai dengan pasien melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri namun

terdapat beberapa disabilitas yang ringan dalam fungsi.

VII.EVALUASI MULTIAKSIAL

Aksis I : F 20.0 Skizofrenia Paranoid

Aksis II : Sampai saat ini belum ada diagnosis

Aksis III : Sampai saat ini belum ada diagnosis

Aksis IV : masalah pemahaman keluarga dan psikososial

Aksis V : Current GAF 60-51 (gejala sedang, disabiliti sedang)

HLPY GAF 50-41 (gejala berat, disabiliti berat)

VIII. DAFTAR MASALAH

Organobiologik : Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang

bermakna tetapi diduga terdapat ketidakseimbangan neurotransmiter.

Psikologik : Pada pasien ditemukan hendaya dalam menilai

realita berupa halusinasi auditori, halusinasi visual, waham kebesaran,

wahum curiga, wahan bizzare, thought of insersion, thought of

withdrawal, arus pikir koheren sehingga pasien membutuhkan

psikoterapi.
Sosiologik : Ditemukan adanya hendaya dalam bidang social

sehingga pasien membutuhkan psikoedukasi.

IX. PROGNOSIS

Kondisi yang memberatkan:

a. Faktor pencetus kurang jelas, kemungkinan disebabkan masalah keluarga

dimana pasien memiliki hubungan tidak baik terhadap saudara-saudara

kandungnya.

b. Putus obat selama 5 bulan.

c. Perjalanan penyakit pasien sudah berulang sebanyak 1 kali.

d. Pasien belum sadar akan penyakit yang dideritanya

Kondisi yang meringankan:

Tidak adanya faktor genetik

Masih terdapat anggota keluarga yang peduli akan keadaan pasien.

Sehingga pada pasien ini didapatkan prognosis:

1. Quo ad vitam : Dubia ad bonam

2. Quo ad functionam : Dubia ad bonam

3. Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

X. RENCANA TERAPI

1. Psikofarmaka

Antipsikosis Generasi II (APG II) : Risperidone 2x 1 mg (dosis yang

biasa digunakan 2-6 mg per hari) selama 5 hari


Jika timbul efek samping berupa gejala extrapiramidal dapat

diberikan Trihexypenidyl 2x1 mg (dosis awal 1-2 mg per hari dan

ditingkatkan menjadi 2 mg per hari dengan selang waktu 3-5 hari )

selama 5 hari

Chlorpromazine 1 x 25 mg (malam hari K/P) selama 5 hari

2. Psikoterapi

Ventilasi: Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan

keluhan dan isi hati sehingga pasien menjadi lega.

Konseling: Memberikan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya

dan memahami kondisinya lebih baik serta menganjurkan untuk

minum obat teratur dan rajin kontrol setelah perawatan.

Psikoedukasi: Memberikan penjelasan pada pasien dan orang sekitar

pasien untuk memberikan dorongan dan menciptakan lingkungan yang

kondusif.

XI. DISKUSI

Pada pasien ini perlu dijadikan case report dalam pembelajaran, karena

memiliki gejala sangat khas sehingga bisa menjadi pembelajaran mengenai

episode skizofrenia dan juga mengetahui perkembangan pengobatan selama

di rawat di RSJ. Skizofrenia secara etimologi berasal dari kata dalam bahasa

Yunani yaitu schizo yang berarti terpotong atau terpecah dan phren yang

berarti jiwa atau pikiran. Terjadi pecahnya atau ketidakserasian antara afek,

kognitif, dan perilaku. Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom

dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit yang luas, serta sejumlah
akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial

budaya. Umumnya ditandai dengan penyimpangan yang fundamental dan

karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar

(inappriopriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran jernih dan kemampuan

intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif dapat

berkembang kemudian. Simptom skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga yaitu

simptom positif, simptom negatif, dan gangguan hubungan interpersonal.1,2

A. Apakah diagnosis multiaksial sudah tepat?

Diagnosis pada kasus ini sudah tepat karena:

Pada pasien ditemukan adanya gangguan persepsi berupa halusinasi

auditorik dan visual, berupa suara seorang yang menyuruhnya untuk

membunuh suaminya, dan pasien juga terkadang melihat bayangan

seperti 2 malaikat, mailaikat baik dan jahat. Pada pasien didapatkan pula

waham yang menetap berupa waham kebesaran, waham curiga dan

waham bizzare. Pasien merasa mendapatkan kelebihan yang orang lain

tidak dapatkan, pasien merasa orang di sekeliling pasien membenci

pasien karena pasien memiliki kelebihan tersebut, dan pasien memiliki

kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang berada di tempat lain. Pada

pasien juga didapatkan Thought of insersion dan thought of withdrawal

dimana pasien merasa ada yang memasuki dirinya dan keluar kembali.

Dari data ini menjadi dasar diagnosis bahwa pasien menderita skizofrenia

sekaligus menyingkirkan diagnosis psikotik akut (F.20). Dari anamnesis

yang dilakukan didapatkan juga adanya halusinasi dan terdapatnya


waham kebesaran, curiga, bizzare, thought of insertion dan thought of

withdrawal sehingga dapat disimpulkan pasien menderita skizofrenia

paranoid (F20.0).2

Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis bervariasi, namun sangat

mengganggu, psikopatologi yang mencakup kognisi, emosi, persepsi, dan

aspek lain dari perilaku. Ekspresi dari manifestasi ini bervariasi pada

semua pasien dan dari waktu ke waktu, tetapi efek dari penyakit ini selalu

berat dan biasanya berlangsung lama.3 Untuk diagnosis Skizofrenia

menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa

(PPDGJ)-III sebagai berikut1,4

Persyaratan yang normal untuk diagnosis skizofrenia ialah harus

ada sedikitnya satu gejala tersebut di bawah yang amat jelas (dan

biasanya dua gejala atau lebih apabila gejala-gejala itu kurang

tajam atau kurang jelas) dari gejala yang termasuk salah satu dari

kelompok gejala (a) sampai (d) tersebut di bawah, atau paling

sedikit dua gejala dari kelompok (e) sampai (h), yang harus selalu

ada secara jelas selama kurun waktu 1 bulan atau lebih.


(a) thought echo, thought insertion atau withdrawal, dan thought

broadcasting
(b) Waham dikendalikan (delusion of control), waham dipengaruhi

(delusion of influence), atau passivity yang jelas merujuk kepada

pergerakan tubuh atau pergerakan anggota gerak, atau pikiran,

perbuatan atau perasaan (sensations) khusus : persepsi delusional


(c) Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap

perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien di antara


mereka sendiri, atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari

salah satu bagian tubuh


(d) Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya

dianggap tidak wajar serta sama sekali mustahil, seperti misalnya

mengenai identitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan

kemampuan manusia super (misalnya mampu mengendalikan

cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain)


(e) Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apabila disertai

baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang

setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun

oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau

apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau

berbulan-bulan terus menerus


(f) Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan

(interpolasi) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang

tidak relevan, atau neologisme


(g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement),

sikap tubuh tertentu (posturing), atu fleksibilitas serea,

negativisme, mutisme dan stupor


(h) Gejala-gejala negatif seperti sikap sangat masa bodoh (apatis),

pembicaraan yang terhenti, dan respons emosional yang menumpul

atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri dari

pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas

bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau

medikasi neuroleptika
(i) Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan dari beberapa aspek perilaku perorangan,


bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas,

sikap berdiam diri (self absorbed attitude) dan penarikan diri

secara sosial

Skizofrenia paranoid adalah jenis skizofrenia yang paling sering dijumpai

di negara manapun. Simptom utama dari skizofrenia paranoid adalah

delusi persecusion dan grandeur, dimana individu merasa dikejar-kejar.

Gambaran klinis di dominasi oleh waham-waham yang secara relatif

stabil, sering kali bersifat paranoid, biasanya disertai oleh halusinasi-

halusinasi, terutama halusinasi pendengaran, dan gangguan-gangguan

persepsi. Gangguan afektif, dorongan kehendak (volition) dan

pembicaraan serta gejala-gejala katatonik tidak menonjol.4

Berdasarkan PPDGJ III, maka kasus ini dtitikberatkan pada: 2,4

Gangguan Skizofrenia Paranoid (F20.0)


Pedoman diagnostik :
Memenuhi kriteria umum skiofrenia.
Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol;
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi

perintah, atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa

bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau bunyi

tawa (laughing);
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat

seksual, atu lain-lain perasaan tubuh; halusinasi visual

mungkin ada tapi jarang menonjol;


c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham

dikendalikan (delusion of control), dipengaruhi (delusion of


influence), atau passivity (delusion of passivity), dan

keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, dalah yang

paling khas;
o Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, sert

gejala katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol.

Gangguan afektif pada dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala

katatonik secara relatif tidak menonjol. Pasien skizofrenik paranoid

biasanya lebih tua daripada pasien skizofrenik katatonik jika mereka

mengalami episode pertama penyakitnya. Pasien skizofrenik paranoid

menunjukkan regresi yang lambat dari kemampuan mentalnya, respon

emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe lain pasien skizofrenik.1

B. Apakah rencana terapi sudah tepat?

Pada pasien ini diberikan pengobatan berupa kombinasi Risperidone.

Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole. Risperidone

merupakan antagonis monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi

terhadap reseptor serotonergik 5-HT2 dan dopaminergik D2. Risperidone

berikatan dengan reseptor 1-adrenergik. Risperidone tidak memiliki

afinitas terhadap reseptor kolinergik. Meskipun risperidone merupakan

antagonis D2 kuat, dimana dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia,

hal tersebut menyebabkan berkurangnya depresi aktivitas motorik dan

induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik. Antagonisme serotonin

dan dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi kecenderungan

timbulnya efek samping ekstrapiramidal, dia memperluas aktivitas

terapeutik terhadap gejala negatif dan afektif dari skizofrenia.1,3,4


Farmakokinetik

Risperidone diabsorpsi sempurna setelah pemberian oral, konsentrasi

plasma puncak dicapai setelah 1-2 jam. Absorpsi risperidone tidak

dipengaruhi oleh makanan. Hidroksilasi merupakan jalur metabolisme

terpenting yang mengubah risperidone menjadi 9-hidroxylrisperidone

yang aktif.1,3,4,5

Waktu paruh eliminasi dari fraksi antipsikotik yang aktif adalah 24 jam.

Studi risperidone dosis tunggal menunjukkan konsentrasi zat aktif dalam

plasma yang lebih tinggi dan eliminasi yang lebih lambat pada lanjut usia

dan pada pasien dengan gangguan ginjal. Konsentrasi plasma tetap

normal pada pasien dengan gangguan fungsi hati.1

Rencana terapi yang diberikan adalah risperidon 2 x 1 mg selama lima

hari, lalu dievaluasi setiap dua minggu mengenai kondisi pasien dan bila

perlu dinaikkan sampai dosis optimal. Alasan penggunaan risperidon

pada pasien ini adalah untuk mengobati gejala psikotik yang dialami oleh

pasien. Risperidon memiliki efek samping yang kecil untuk terjadinya

sindrom ekstrapiramidal dan efek sedatif, juga tidak membuat perubahan

fungsi kognitif pada pasien, serta obat ini mudah didapat.1

Berdasarkan buku ajar psikiatri FK UI, standar emas pengobatan

skizofrenia dengan menggunakan terapi APG II (antipsikotik atipikal)

yang bermanfaat baik untuk gejala positif dan gejala negatif dengan efek
samping yang lebih ringan serta dapat digunakan secara aman tanpa

memerlukan pemantauan jumlah sel darah putih setiap minggu.1

Jika selama pengobatan timbul efek samping berupa sindrom

ekstrapiramidal sebagai akibat dari pemberian obat antipsikotik walaupun

kemungkinannya kecil pada risperidon, maka dapat diberikan

antikolinergik misalnya Trihexyphenidil dengan dosis pemberian 2 x 2

mg. Trihexyphenidyl (THP) juga diberikan untuk mengurangi kegoyahan

dan gelisah yang dapat disebabkan oleh beberapa obat penenang.

Chlorpromazine adalah golongan obat APG I yang memiliki efek sedatif,

sehingga penggunaan dalam dosis kecil diharapkan dapat mengurangi

keluhan sulit tidur yang dialami pasien.

Pada pasien juga perlu diberikan psikoterapi, karena pada pasien

didapatkan kurangnya perhatian keluarga terhadap pasien. Menurut

penelitian pengobatan hanya dengan obat tidak cukup untuk kesembuhan

pasien, tetapi harus juga diiringi dengan lingkungan keluarga yang

mendukung dan sikap pasien yang menderita. Pada pasien ini diperlukan

dorongan dari keluarga dan lingkungan untuk mendukung kesembuhan

pasien. Kedua hal ini penting untuk kualitas hidup pasien selanjutnya jika

ingin hidupnya kembali baik.5


Pada pasien ini dilakukan psikoterapi berupa edukasi mengenai penyakit

pasien, obat, dan efek sampingnya serta motivasi. Selain itu, diberikan

psikoedukasi kepada keluarga pasien. Dimana diharapkan dengan terapi

tersebut tidak terjadi kekambuhan (relaps) dan akan memberikan

kepulihan total kepada pasien.5

C. Apakah prognosis sudah tepat?

Kondisi yang memberatkan:

Faktor pencetus kurang jelas, kemungkinan disebabkan masalah

hubungan yang tidak baik dengan saudar-saudaranya

Konsumsi obat yang sempat terputus selama 5 bulan

Perjalanan penyakit pasien sudah berulang sebanyak 1 kali

Pasien belum sadar akan penyakit yang dideritanya

Kondisi yang meringankan:

Tidak adanya faktor genetik

Masih terdapat anggota keluarga yang peduli akan keadaan pasien.


DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. 2011.

Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ. Jakarta : Bagian

Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya.

2. Hendarsyah F. 2016.

Diagnosis Dan Tatalaksana Skizofrenia Paranoid Dengan Gejala-Gejala

Positif Dan Negatif. J Medula Unila. Lampung : Fakultas Kedokteran,

Universitas Lampung;4(3); Hal 58-63.

3. Hirjak D, Hochlehnert

A, Thomann PA, Kubera KM, Knut S. 2016. Evidence For Distinguishable

Treatment Costs Among Paranoid Schizophrenia And Schizoaffective

Disorder. Germany : Center For Psychosocial Medicine, Department Of

General Psychiatry, University Of Heidelberg

4. Kusumawardhani A,

Husain AB, dkk. 2013. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia.

5. Lieberman JA. 2005.

Effectiveness ofantipsychotic drugs in patients withchronic schizophrenia. N

Engl J Med.; 353:1209-23.


6. Maslim R. 2007.

Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi III. Bagian Ilmu

Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. PT Nuh Jaya; Jakarta.

7. Maramis WF. 2010.

Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi II. Surabaya: FK Unair.

8. Kaplan, H.I.,

Saddock, B.J., dan Grebb J.A., 2010. Kaplan-Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu

Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid 2. Jakarta: Binanupa Aksara


LAMPIRAN
AUTOANAMNESIS TANGGAL 29 MEI 2017

Keterangan:

Dokter Muda (D)

Pasien (P)

D: Selamat siang ibu, perkenalkan saya dokter muda balqis dan dokter muda

fanny, boleh ngobrol-ngobrol sebentar bu?

P: Iya boleh mba.

D: Namanya siapa bu?

P: Sulastri

D: Umurnya sekarang berapa?

P: 35 tahun

D: Ingat gak tanggal lahirnya bu?

P: 23 Maret

D: Tahun berapa bu?

P: 1978

D: Sekarang ingat gak tanggal berapa?

P: gak ingat

D: Oke gak papa, alamat rumah ibu dimana?

P: di lampung tengah.

D: Disana ibu tinggalnya sama siapa?

P: Sama suami, sama dua anak saya.

D: Orangtua ibu dimana?


P: Orangtua saya udah meninggal waktu saya kecil.

D: Ibu berapa bersadaura bu?

P: Tiga.

D: Ibu anak keberapa

P: anak terakhir mba.

D: Yang pertama?

P: Kak Nyoman itu lho. Kak Gede.. Agung. Agung Santoso. Sekarang kerja di

Rumah Sakit Abdul Muluk. Udah abis wisuda.

D: Oooo.. wisudanya kapan?

P: Kemarin itu. Tahun ini.

D: Kakak ibu tapi itu yang wisuda?

P: Iya itu bulan lima..

D: Ibu sekolah?

P: Iya.

D: Sekolah TK?

P: Engga langsung SD.

D: Langsung SD ya? Ibu aktif ga waktu SD? Pernah jadi juara kelas?

P: Iya. Juara pertama terus. Tapi.. belum nyampe lulus , sampe kelas 3 SD sudah

disuruh berenti sama ibu.

D: Kenapa katanya?

P: Gatau..

D: Ibu tau ini dimana?

P: Di Rumah sakit Jiwa.

D: Di daerah mana?
P: Di pesawaran.

D: ibu kalo liat dari cuaca di luar, sekarang jam brpa bu?

P: jam 11.10 menit.

D: Kira-kira itu pagi siang apa malem?

P: siang mbak.

D: Waktu itu yang ngebawa ibu ke sini siapa?

P: suami saya.

D: Kira-kira ibu tau ga kenapa ibu dibawa ke sini?

P: Ga tau. Tadinya udah pernah masuk sini kan sekitar 22 hari bulan November

tahun lalu. Tapi gak tau kenapa dibawa lagi saya nurut aja apa kata suami saya.

Padahal saya gak sakit gak apa.

D: Emangnya kata suami ibu kenapa ibu dibawa kesini lagi?

P: Katanya saya suka marah-marah. Padahal kan saya marah-marah karena nyuruh

shalat. Karena suami saya dan anak anak saya gak taat agama.

D: Ibu marahnya emang gimana?

P: Ya saya ngamuknya sama suami dan anak-anak saya itu kalau dia gamau shalat.

Makanya saya pukul biar dia sadar.

D: Ibu kenapa kok mukul suaminya?

P: Ya saya disuruh mbak buat mukul suaminya biar taat agama. Biar tekun

ibadahnya. Suruh nampar suaminya. Suruh nendang.. sama suruh bunuh.. kalau

ga mau patuh sama agama. Tapi ya saya pukul aja ga mungkin saya bunuh kan

mba.

D: Disuruhnya sama siapa bu?


P: Ya ada yang bisikin. Saya kan dapat wahyu dititipin untuk nyebarin kebaikan

ke seluruh dunia supaya orang-orang pada taat agama.

D: Dapat wahyu nya gimana bu?

P: Waktu malam lailatul qadar pertama.. aku.. apa itu.. ada yang masuk ke badan

aku.. dapet wahyu.. untuk nyampein kebaikan tadi.

D: Sampai sekarang ibu masih denger bisikan itu?

P: sekarang gak. Semenjak disini mba

D: Ooo.. sekarang udah engga ya. Jadi tadi kata ibu suaminya ga taat agama? Ga

taat nya gimana?

P: Ya kalau ada aku iya disuruh shalat mau kalau ga ada aku ga pernah shalat.

D: Ibu tau darimana kalau bapak gak pernah shalat?

P: Ya kan shalat atau ga shalat kan ya tau. Walaupun aku disini ayahnya disana.

D: Oooo ibu nya tau bapaknya udah shalat apa belom. Ibu taunya gimana? Ibu

ngeliat suaminya ga shalat atau gimana? Atau ada yang ngebisikan gitu kalau

bapaknya belom shalat?

P: Ngebisikan kalau ngebisikin ga ada. Indra ke enam itu indra ke enam saya bisa

kerja dari sini sampe 50 km.

D: Jadi sampai jangkauan 50 km ibu bisa tau ayahnya lagi ngapain?

P: Iya.

D: ooh begitu. Ibu tau sekarang bapak lagi ngapain?

P: Kalau sekarang dia masih kerja. Belum pulang. Nanti kalau mau berangkat mau
jenguk kesini aturan udah pulang dari kemaren kan. Bukannya aku pengen
meninggi kan atau lagi ditahan sama yang kerja-kerja disini enggak. Cuma
kan.. gimana ya menghargai satu sama lain lah..

D: Ibu pekerjaanya apa?

P: Dulu saya tani sekarang dirumah aja.


D: Kalau suami ibu?

P: Petani.

D: Oya ibu bilang ibu punya indra keenam. Berarti ibu punya kemampuan lebih

ya bu dibandingkan orang lain?

P: Iya, apalagi waktu malam lailatul qadar pertama aku. Yang aku bilang tadi aku

dapet wahyu.

D: Wahyu itu orang lain bisa dapet juga ga kayak ibu?

P: Bisa mba. Cuma mereka pada gamau. Jadi dapetnya ke saya yang taat agama.

D: Jadi cuma ibu yang taat agama? Orang lain engga?

P: Iya.

D: Kalo liat sesuatu yang gak diliat orang lain pernah?

P: Sering liat. Sekarang aja di mbaknya ada dua.

D: Sekarang ini? Dua apa bu?

P: Ada malaikat dua kanan kiri. Yang kanan kebaikan yang kiri keburukan.

D: Oooo.. Kalau ngerasa ada yang benci gitu ga suka sama ibu ada ga?

P: Banyak.. ada yang orang seneng aku ga seneng gitu. Ada yang iri.. benci..

D: Siapa?

P: Itu banyak tetanggaku disana. Di rumah.

D: Di rumah? Iri nya kenapa?

S: Ya aku kok bisa kayak gini kok dia engga. Padahal kan udah dibagiin ya lailatul

qadar nya itu ke seluruh dunia tapi dia gak nganggep katanya aku gila. Kalau

aku bisa kayak gini.. abis shalat kan baca Al-Quran.. Dia itu.. tutup telinga

semua.. Malah ada yang pergi.. Bukannya dengerin artinya apa malah pergi..

D: Oooo. Kalau nyium bau-bauan pernah?


P: Nggak pernah

D: Ibu pernah ga ngerasa ada yang megang atau ngeraba badan ibu tapi orang lain

ga liat?

P: Ga pernah.

D: oke ibu, ibu tau gak ini apa? (sambil memegang pena)

P: Pena

D: Tau ngga pak fungsinya untuk apa?

P: buat nulis

D: ibu ngerasa ngga kalo tiba tiba ruangan ini jadi asing, jadi kayak di surga gitu?

P: ngga, kecuali kalau mimpi.

D: Ibu ngerasa ngga kalau badan ibu ini ada yang berubah? Kayak tangannya

panjang sebelah gitu

P: ngga

D: Ibu agamnya apa bu?

P: Islam dong ma

D: Klao di agama ibu boleh gak mencuri?

P: Gak boleh lah mba dosa

D: Ibu sekolah SD kan ya bu dulunya. Kalau itung-itungan bisa?

P: bisaa mba dikit-dikit

D: 100-7?

P: Berarti 100 nya diambil 7 ya?

D: Iya

P: Masih 93

D: Dikurangan 7 lagi?
P: Masih 73

D: Kurangin 7 lagi?

P: 64

D: oke kalo gtuu. Ibu nama saya Balqis. Diinget ya bu..

P: Iya.. Balqis..

D: Jadi gini bu. Ada sepeda, motor, sama mobil. Persamaan dari ketiganya apa?

P: Ya gak ada lah persamaannya orang mobil naik, motor juga naik, sepeda juga

naik, cuma bedanya sepedah gak ada bensin nya. Kalau mobil sama motor kan

ada bensinnya. Kelajuannya kan juga lebih cepet mobil sama motor.

D: Terus kalau apel, pisang, sama pir? Persamaannya apa?

P: Gak ada

D: Ga ada juga?

P: Gak ada..

D: Ibu tau ga gubernur kita siapa?

P: Ga tau.

D: Kalau presiden?

P: Joko.. joko apa itu.. Jokowi.

D: Tadi.. namanya siapa itu ini?

P: Mbak Bilqis..

D: Ibu coba ya bu baca trus lakuin perintahnya (Tengok ke kiri)

P: Tengok ke kiri. Kayak gini? (pasien menoleh ke kiri)

D: Coba gambar ini bu sama seperti yang saya gambar barusan..

P: (Pasien menggambar sempurna)

D: Kalau tadi pagi makan apa?


P: Makan nasi sama sayur.. sama tempe.

D: Sayurnya apa?

P: Apa ya.. Ga doyan aku sih.. Toge kecil itu.. Gaenak.

D: Kenapa ga enak?

P: Mendingan sama bayem.

D: oke baik bu. Cukup sekian dulu ngobrol-ngobrolnya. Dari ibu ada yang mau

ditanyakan?

P: ngga ada dok

D: baik terimakasih banyak ya ibu. Jadi nanti jangan lupa obatnya diminum,

tidurnya dibanyakin jangan cuma setengah jam..

P: Iya..