Anda di halaman 1dari 40

REFERAT

HERNIA

Disusun Oleh :
NIDYA ANNISA PUTRI
1102013211

Pembimbing :
dr. SYAHARUDDIN, Sp.B

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
RSUD PASAR REBO
PERIODE 7 AGUSTUS 14 OKTEBER 2017
BAB I
PENDAHULUAN

Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian yang lemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Sebagian besar hernia
timbul dalam regio inguinalis, sekitar 50% merupakan hernia inguinalis lateral
(indirek) dan 25% sebagai hernia inguinalis medialis (direk).1
Menurut sifatnya, hernia disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar-
masuk. Usus keluar saat berdiri atau mengedan, dan masuk lagi ketika berbaring
atau bila didorong masuk perut. Selama hernia masih reponibel, tidak ada keluhan
nyeri atau gejala obstruksi usus. Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke
dalam rongga perut, hernia disebut hernia ireponibel.2
Setelah appendisitis, hernia inguinalis merupakan kasus bedah terbanyak.1
Lebih dari 1 juta hernia abdominalis di Amerika Serikat menjalani perbaikan,
diantaranya terhadap hernia inguinalis sebanyak 770.000 kasus. Sebanyak 25 %
laki-laki dan 2% wanita mengalami hernia inguinalis, sekitar 75 % dari hernia
inguinal merupakan hernia inguinal lateralis dan 25% merupakan hernia inguinalis
medialis. Pada anak-anak insiden hernia inguinalis berkisar 4,4%. Insiden hernia
inkarserata pada pasien pediatrik 10-20 %, 50% terjadi pada bayi kurang dari 6
bulan.3
Tingginya angka kejadian hernia serta penanganan yang memakan waktu yang
cukup lama, seorang dokter harus memiliki pengetahuan mengenai hernia mencakup
faktor resiko, manifestasi klinis, gambaran fisik dan penatalaksaan hernia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. Anatomi
1. Anatomi Anterolateral Abdominal Wall4

Pada dinding anterolateral abdomen terdapat lima (pasang) otot. Terdiri atas
tiga flat muscles dan dua vertical muscles.
Tiga flat muscle yaitu :
External oblique/ Musculus obliquus externus abdominis. Otot ini terdiri dari
2 lapisan yaitu superfisial dan profunda yang menjadi aponeurosis obliqus
externus. Aponeurosis otot obliqus externus, internus dan transversus
abdominis akan membentuk sarung rektus dan akhirnya linea alba. Serabut
ototnya melalui inferomedially otot seratus anterior. Batas inferior
mengalami penebalan yang berjalan dari spina iliaca anterior superior hingga
tuberkulum pubicum yang dikenal sebagai ligamentum inguinal.

Internal oblique/ Muskulus obliquus internus abdominis/ otot intermediate.



Merupakan lembaran otot yang lebar dan tipis yang terletak di profunda
muskulus obliquus externus abdominis. Serabut tendon yang terbawah
bergabung dengan serabut-serabut yang sama dari muskulus transversus
abdominis membentuk conjoined tendon.

Transverse abdominal/ Muskulus Transversus abdominis, otot yang lebih


dalam. Merupakan lembaran otot yang tipis dan terletak di profunda muskulus
obliquus internus abdominis dan serabut-serabutnya berjalan horizontal ke
depan. Serabut tendo yang terbawah bersatu dengan serabut tendo yang sama
dari muskulus obliquus internus abdominis membentuk conjoined tendon.

Fascia transversalis
Merupakan lapisan fascia tipis yang membatasi muskulus transversus
abdominis. Fascia transversalis digambarkan oleh Cooper memiliki 2 lapisan:
Fascia transversalis dapat dibagi menjadi dua bagian, bagian dalam lebih tipis
dari bagian luar; keluar dari tendon otot transversalis pada bagian dalam dari
spermatic cord dan berikatan ke linea semulunaris. Ligamentum Cooper
terletak pada bagian belakang ramus pubis dan dibentuk oleh ramus pubis dan
fascia. Ligamentum Cooper adalah titik fiksasi yang penting dalam metode
perbaikan laparoscopic sebagaimana pada titik McVay.

Gambar 1. Dinding anterolateral abdomen4

Dua otot vertical yaitu:


Rectus abdominis
Pyramidalis

Gambar 2 Aspek posterior dan dinding anterolateral abdomen4


Lapisan dinding abdomen lainnya:
1. Kulit
Garis-garis lipatan kulit alami berjalan konstan dan hampir horizontal di sekitar
tubuh. Secara klinis hal ini penting karena insisi sepanjang garis lipatan ini akan
sembuh dengan sedikit jaringan parut sedangkan insisi yang menyilang garis-
garis ini akan sembuh dengan jaringan parut yang menonjol.
2. Fascia superficialis:
a. Lapisan luar (fascia camperi): berhubungan dengan lemak superficial yang
meliputi bagian tubuh lain dan mungkin sangat tebal pada pasien obesitas.
b. Lapisan dalam (fascia scarpae): stratum membranosum tipis dan
menghilang di sisi lateral dan atas. Di bagian inferior, stratum
membranosum berjalan di depan paha dan di sini bersatu dengan fascia
profunda pada satu jari di bawah ligamentum inguinale.

Tabel 1. Tabel lapisan Abdomen


No. Lapisan abdomen

1. Cutis (kulit)

2. Fascia superfialis
a. Fascia camperi = Lapisan superficial yang mengandung lemak
b. Fascia scarpae = Lapisan membranosa subkutan
3. M. Obliquus externus abdominis

4. M. Obliquus internus abdominis

5. Fascia Transversalis

6. Peritoneum Parietal
Gambar 3. Lapisan-lapisan abdomen

Kanalis Inguinalis
Kanalis inguinalis terbentuk pada saat terjadinya penurunan gonad (testis atau
ovarium) selama perkembangan fetus. Kanalis inguinalis pada dewasa sekitar 4 cm,
terbentang antara superficial dan deep inguinal rings pada inferior dinding anterior
abdomen. Kanalis inguinalis terletak parallel dan superior dari medial ligamentum
inguinal. Kanalis inguinal dilalui oleh spermatic cord pada laki-laki dan ligamentum
rotundum pada wanita. Pada kanalis inguinalis juga terdapat pembuluh darah, kelenjar
limfa dan saraf ilioinguinal pada laki-laki dan perempuan. Internal inguinal ring
merupakan evaginasi fasia transversalis superior pada pertengahan ligamentum
inguinal dan lateral dari pembuluh darah epigastrika inferior. Superficial inguinal
rings terletak antara serabut diagonal dari aponeurosis external oblique.4
Gambar 4. Regio inguinal4

Gambar 5. Canalis Inguinalis


Anulus femoralis, ialah lubang yang dibatasi oleh:
Terletak di paha anterior, di dalam segitiga femoralis
Dibatasi oleh:
o Cranial : lig. inguinale
o Caudal : pecten ossis pubis
o Medial : lig. lacunare
o Lateral : V. femoralis
Berisi:
o Pembuluh limfatik
o Lymph. Node
o Ruang kosong distensi vena femoralis agar bisa mengatasi aliran
vena balik yang meningkat atau peningkatan tekanan intra abdomen.
o Jar. ikat longgar

Gambar 6. Annuslus Femoralis

Gambar 7. Annuslus Femoralis


Anulus umbilicalis
Di linea alba yang, tepinya dibentuk oleh serabut-serabut linea alba yang
merapat dan ditutup oleh jaringan ikat (apeneurosis mm. obliquus abdominis dan m.
transversus abdominis) yang menggantung di tiga tempat membentuk segitiga.
Ligamentum vesicoumbilicales di sebelah caudal, ligamentum teres hepatis di cranial.
Disebelah ligamentum teres hepatis lebih lemah.

Saraf-saraf dinding anterior abdomen5 :


1. Rami anteriores enam nervi thoracici bagian bawah. Berjalan di dalam celah
antara muskulus obliquus internus abdominis dan muskulus transversus
abdominis. Saraf tersebut menyarafi kulit dinding anterior abdomen, otot-otot
(termasuk muskulus rectus abdominis dan muskulus pyramidalis), dan
peritoneum parietale. Saraf-saraf ini berakhir dengan menembus dinding
anterior vagina muskuli recti abdominis.
2. Nervus lumbalis I. Punya perjalanan yang sama namun tidak masuk ke vagina
muskuli recti abdominis. Saraf ini berbentuk sebagai nervus iliohypogastricus
yang menembus aponeurosis muskulus obliquus externus abdominis di atas
anulus inguinalis superficialis dan nervus ilioinguinalis yang keluar dari anulus
ini. Saraf-saraf ini berakhir dengan menyarafi kulit tepat di atas ligamentum
inguinale dan symphisis pubica.

Arterial dinding anterior abdomen5 :


1. Arteri epigastrika superior: merupakan salah satu cabang terminal arteri
thoracica interna. Mendarahi bagian tengah atas dinding anterior abdomen dan
beranastomosis dengan arteria epigastrika inferior
2. Arteri epigastrika inferior: merupakan cabang arteria iliaca externa tepat diatas
ligamentum inguinale. Mendarahi bagian tengah bawah dinding abdomen
anterior dan beranastomosis dengan arteria epigastika superior.
3. Arteri circumflexa profunda: merupakan cabang arteria iliaca externa tepat
diatas ligamentum inguinale. Mendarahi bagian lateral bawah dinding abdomen.
4. Dua arteri intercostales posterior bagian bawah merupakan cabang aorta
descendens dan empat arteri lumbales yang berasal dari aorta abdominalis.
Mendarahi bagian lateral dinding abdomen.
Vena dinding anterior abdomen:5
1. Vena epigastrika superior
2. Vena epigastrika inferior
3. Vena circumflexa ilium profunda interna dan vena iliaca externa
4. Vena intercostales posterior mengalirkan darah ke vena azygos
5. Vena lumbales mengalirkan darah ke vena cava inferior

II. Hernia
1. Definisi
Hernia adalah suatu keadaan keluarnya jaringan organ tubuh dari suatu
ruangan melalui suatu celah atau lubang keluar di bawah kulit atau menuju ke
rongga lain, dapat kongenital ataupun aquisita (didapat). Pada hernia, terdapat
bagian bagian yang penting yaitu6 :

1. Kantung hernia : Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak


semua hernia memiliki kantong, misalnya : hernia incisional, hernia adipose
dan hernia intertitialis.
2. Isi hernia : Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia.
Pada hernia abdominalis berupa usus.
3. Pintu hernia : Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui kantong
hernia.
4. Leher hernia/cincin hernia : Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai
dengan kantong hernia.
5. Locus minoris resistence (LMR) : Merupakan defek/bagian yang lemah dari
dinding rongga.
Gambar 8. Bagian-bagian Hernia

2. Epidemiologi
Tujuh puluh lima persen dari seluruh hernia abdominal terjadi di inguinal (lipat
paha). Yang lainnya dapat terjadi di umbilikus (pusar) atau daerah perut lainnya.
Hernia inguinalis dibagi menjadi 2, yaitu hernia inguinalis medialis dan hernia
inguinalis lateralis. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum
(buah zakar), hernia disebut hernia skrotalis. Hernia inguinalis lateralis terjadi
lebih sering dari hernia inguinalis medialis dengan perbandingan 2:1, dan diantara
itu ternyata pria lebih sering 7 kali lipat terkena dibandingkan dengan wanita.
Semakin bertambahnya usia kita, kemungkinan terjadinya hernia semakin besar.
Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan otot-otot perut yang sudah mulai melemah.1

Insidens hernia inguinalis pada bayi dan anak antara 1 dan 2%. Kemungkinan
terjadi hernia pada sisi kanan 60%, sisi kiri 20-25% dan bilateral 15%. Kejadian
hernia bilateral pada anak perempuan dibanding laki-laki kira-kira sama (10%)
walalupun frekuensi prosesus vaginalis yang tetap terbuka lebih tinggi pada
perempuan. Anak yang pernah menjalani operasi hernia pada waktu bayi,
mempunyai kemungkinan 16 % mendapat hernia kontralateral pada usia dewasa.
Insiden hernia inguinalis pada orang dewasa kira-kira 2%. Kemungkinan kejadian
hernia bilateral dari insidens tersebut mendekati 10%.2

Masih menjadi kontroversi mengenai apa yang sesungguhnya menjadi penyebab


timbulnya hernia inguinalis. Disepakai adanya 3 faktor yang mempengaruhi
terjadinya hernia inguinalis yaitu meliputi:
1. Prosessus vaginalis persisten

Hernia mungkin sudah tampak sejak bayi tetapi lebih banyak yang
baru terdiagnosis sebelum pasien mencapai usia 50 tahun. Analisis dari data
statistik otopsi dan pembedahan menunjukkan bahwa 20 % laki-laki yang
masih mempunyai prosesus vaginalis hingga saat dewasanya merupakan
predisposisi hernia inguinalis2.
Sebelum lahir, prosesus vaginalis normalnya akan mengalami
obliterasi sehingga menutup pintu masuk kanalis inguinalis dari kavum
abdomen. Penyebab obliterasi tersebut tidak diketahui dengan pasti, tetapi
beberapa penelitian menyatakan bahwa calcitonin gene related peptide
(CGRP) yang dikeluarkan oleh nervus genitofemoralis, berperan dalam proses
tersebut2.
2. Naiknya tekanan intraabdominal secara berulang

Naiknya tekanan intra abdominal biasa disebabkan karena batuk atau


tertawa terbahak-bahak, partus, prostate hipertrofi, vesikulolithiasis,
karsinoma kolon, sirosis dengan asites, splenomegali masif merupakan faktor
resiko terjadinya hernia inguinalis. Merokok lama bisa menjadi sebab direk
hernia inguinalis dengan mekanisme, terjadinya pelepasan serum elasytyolitik
yang menyebabkan terjadinya penipisan fascia transversalis. Pada asites,
keganasan hepar, kegagalan fungsi jantung, penderita yang menjalani
peritoneal dialisa menyebabkan peningkatan tekanan intra abdominal sehingga
membuka kembali prosesus vaginalis sehingga terjadi indirek hernia2.
3. Lemahnya otot-otot dinding abdomen

Akhir-akhir ini beberapa peneliti sepakat bahwa lemahnya otot-otot


dan fascia dinding perut pada usia lanjut, kurangnya olahraga, adanya
timbunan lemak, serta penurunan berat badan dan fitness memungkinkan
adanya angka kesakitan hernia. Abnormalitas struktur jaringan kolagen dan
berkurangnya konsentrasi hidroksi prolin berperan penting terhadap
berkurangnya daya ikat serabut kolagen dan ini ada hubungannya dengan
mekanisme rekurensi hernia ataupun adanya kecenderungan sifat-sifat familier
dari hernia. Hernia rekuren terjadi kurang dari 6 bulan hal tersebut disebabkan
oleh karena kesalahan teknik, tetapi bila terjadi setelah 6 bulan pasca operasi
maka hal tersebut disebabkan oleh penipisan dari fascia.2

3.Klasifikasi
Menurut sifatnya hernia dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Hernia reponibel
Yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan
dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri
atau
gejala obstruksi usus.
2. Hernia irreponibel / hernia akreta
Yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan kedalam rongga.
Biasanya disebabkan oleh perlengketan isi kantong pada peritoneum kantong
hernia. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus.

Menurut Keadaanya hernia terbagi menjadi 2, yaitu:

1. Hernia inkarserata
Yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, berarti isi kantong terperangkap,
tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai terjadinya gangguan pasase
usus. Hernia ini merupakan penyebab obstruksi nomor satu di Indonesia.

2. Hernia strangulata
Yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, isi kantong terperangkap dan
terjadi gangguan pasase usus serta gangguan vaskularisasi sehingga dapat
terjadi nekrosis. Jika yang mengalami strangulasi hanya sebagian dinding usus
disebut hernia Richter. Biasanya pasase usus masih ada, mungkin terganggu
karena usus terlipat sehingga disertai obstruksi usus.
Gambar 9. Hernia Menurut Sifatnya.

Hernia berdasarkan letaknya :


1. Hernia Inguinalis, yaitu hernia isi perut yang tampak di daerah sela paha (regio
inguinalis).
2. Hernia femoralis, yaitu hernia isi perut yang tampak di daerah fosa femoralis.
3. Hernia umbilikalis, yaitu hernia isi perut yang tampak di daerah isi perut.
4. Hernia diafragmatik, yaitu hernia yang masuk melalui lubang diafragma ke
dalam rongga dada.
Gambar 10. Lokasi Terjadinya Hernia
Menurut penyebabnya :
a. Hernia kongenital atau bawaan
b. Hernia traumatic
c. Hernia insisional adalah akibat pembedahan sebelumnya.

III. Hernia Inguinalis


1. Definisi
Hernia inguinalis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan
penonjolan jaringan lunak (biasanya usus) melalui bagian yang lemah atau robek
di bagian bawah dinding abdomen di lipatan paha. Tonjolan tersebut bisa terasa
nyeri, terutama saat sedang batuk, bungkuk, atau mengangkat benda berat.
Hernia inguinal tidak selalu berbahaya, namun tidak dapat membaik dengan
sendirinya. Bagaimanapun hernia inguinal dapat menyebabkan komplikasi yang
mengancam jiwa. Prosedur untuk memperbaiki hernia adalah dengan prosedur
bedah.

3. Patofisiologi
Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke 8 dari
kehamilan, terjadinya desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan
testis itu akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan
peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonea. Bila bayi lahir
umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak
dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup,
karena testis yang kiri turun terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis
inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang
terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. 1,2
Bila prosesus terbuka sebagian, maka akan timbul hidrokel. Bila kanal terbuka
terus, karena prosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis
lateralis kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi kerana usia
lanjut, karena pada umur tua otot dinding rongga perut melemah. Sejalan dengan
bertambahnya umur, organ dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi. Pada
orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena daerah ini merupakan
locus minoris resistance, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan
intraabdominal meningkat seperti batuk batuk kronik, bersin yang kuat dan
mengangkat barang barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat
terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu
jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan dinding
rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertropi protat, asites, kehamilan,
obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua. 2,3,4

2. Klasifikasi
a. Hernia Inguinalis Lateralis (indirek)
Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang keluarnya tidak langsung
menembus dinding abdomen. yang melalui anulus inguinalis internus yang
terletak di sebelah lateral vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis inguinalis
dan keluar ke rongga perut melalui anulus inguinalis eksternus.

Hernia inguinalis indirekta congenital.

Terjadi bila processus vaginalis peritonei pada waktu bayi dilahirkan sama sekali
tidak menutup. Sehingga kavum peritonei tetap berhubungan dengan rongga tunika
vaginalis propria testis. Dengan demikian isi perut dengan mudah masuk ke dalam
kantong peritoneum tersebut. 1,2,3,4,5

Hernia inguinalis indirekta akuisita.

Terjadi bila penutupan processus vaginalis peritonei hanya pada suatu bagian saja.
Sehingga masih ada kantong peritoneum yang berasal dari processus vaginalis yang
tidak menutup pada waktu bayi dilahirkan. Sewaktu-waktu kentung peritonei ini dapat
terisi dalaman perut, tetapi isi hernia tidak berhubungan dengan tunika vaginalis
propria testis. 1,2,3

Gambar 6. Hernia inguinalis indirect

b. Hernia Inguinalis Medialis (direk)


Hernia inguinalis direk adalah hernia yang kantongnya menonjol langsung ke
anterior melalui dinding posterior canalis inguinalis medial terhadap arteri vena
epigastrika inferior. Hernia ini sering ditemukan pada laki-laki terutama laki-
laki yang sudah lanjut usia dan tidak pernah ditemukan pada wanita.
Hernia direk sangat jarang bahkan tidak pernah mengalami strangulasi atau
inkaserata. Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan hernia inguinalis direk
adalah peninggian tekanan intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di
trigonom Hasselbach, batuk yang kronik, kerja berat dan pada umumnya sering
ditemukan pada perokok berat yang sudah mengalami kelemahan atau
gangguan jaringan-jaringan penyokong atau penyangga dan kerusakan dari saraf
ilioinguinalis biasanya pada pasien denga riwayat apendektomi.

Tabel 2. perbedaan HIL dan HIM

3. Manifestasi
Hernia Inguinalis Lateralis (HIL)
Umumnya pasien mengatakan adanya benjolan diselangkangan atau
kemaluan. Benjolan tersebut dapat mengecil atau menghilang pada waktu
tidur, dan bila menangis, mengejan, atau mengangkat benda berat atau bila
posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Bila telah terjadi komplikasi dapat
timbul nyeri.7
Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak,
pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri.
Bila terdapat hernia maka akan tampak benjolan. Bila memang sudah tampak
benjolan, harus diperiksa apakah benjolan tersebut dapat dimasukkan kembali.
Pasien diminta berbaring, bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan
intraabdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis pasti hernia
pada umumnya sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti.
Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari telunjuk
dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus
spermatikus sampai ke annulus inguinalis internus. Pada keadaan normal jari
tangan tidak dapat masuk. Pasien diminta mengejan dan merasakan apakah
ada massa yang menyentuh jari tangan. Bila massa tersebut menyentuh ujung
jari maka itu adalah hernia inguinalis lateralis, sedang bila menyentuh sisi jari
maka diagnosisnya adalah hernia inguinalis medialis.7

Hernia Inguinalis Medialis (HIM)


Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada annulus inguinalis
eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada
dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi irreponibilis. Hernia
ini disebut direk karena langsung menuju annulus inguinalis eksterna sehingga
meskipun annulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan,
tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya
sampai kebagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus
dapat dipisahkan dari massa hernia. 7
Bila jari dimasukkan dalam annulus inguinalis eksterna, tidak akan
ditemukan dinding belakang. Bila pasien disuruh mengejan tidak akan terasa
tekanan dan ujung jari dengan mudah dapat meraba ligamentum cooper pada
ramus superior tulang pubis. Pada pasien kadang-kadang ditemukan gejala
mudah kecing karena buli-buli ikut membentuk dinding medial hernia.7

4. Diagnosis
a. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Hernia reponibel terdapat benjolan dilipat paha yang muncul pada
waktu berdiri, batuk, bersin atau mengedan dan menghilang setelah berbaring.
Pada hernia inguinal lateralis muncul benjolan di regio inguinalis yang
berjalan dari lateral ke medial, tonjolan berbentuk lonjong. Hernia skrotalis
yaitu benjolan yang terlihat sampai skrotum yang merupakan tonjolan lanjutan
dari hernia inguinalis lateralis. Pada hernia inguinalis medialis tonjolan
biasanya terjadi bilateral, berbentuk bulat.

Palpasi
Dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia, bila tidak tampak benjolan
penderita diminta mengejan atau melakukan manuver valsava.
Tentukan konsistensinya
Lakukan reposisi (bisa masuk atau tidak)
Kompresable umumnya (+)
Untuk membedakan antara hernia inguinalis lateralis dan medialis
dapat dilakukan beberapa macam test (provokasi test)

Perkusi. Bila didapatkan perkusi perut kembung maka harus dipikirkan kemungkinan
hernia strangulata.

Auskultasi. Hiperperistaltis didapatkan pada auskultasi abdomen pada hernia yang


mengalami obstruksi usus (hernia inkarserata).

Pemeriksaan lain
- Tiga teknik pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan Tumb
test.

Cara pemeriksaannya sebagai berikut


Pemeriksaan Finger Test, menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5. Dimasukkan
lewat skrotum melalui anulus eksternus ke kanal inguinal. Penderita disuruh
batuk: Bila impuls diujung jari berarti Hernia Inguinalis Lateralis. Bila impuls
disamping jari Hernia Inguinnalis Medialis.
Gambar 11. Finger Test
Pemeriksaan Ziemen Test, posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan
dulu (biasanya oleh penderita). Hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan.
Penderita disuruh batuk bila rangsangan pada jari ke 2 merupakan hernia
inguinalis lateralis, jari ke 3 merupakan hernia ingunalis medialis, jari ke 4
merupakan hernia femoralis.

Gambar 12. Ziement Test

Pemeriksaan Thumb Test, anulus internus ditekan dengan ibu jari dan
penderita disuruh mengejan, bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis
medialis. Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis.
Gambar 13. Thumb Test
Pemeriksaan Penunjang

Untuk mendukung ke arah adanya strangulasi, sebagai berikut:


Leukocytosis dengan shift to the left yang menandakan strangulasi. Elektrolit,
BUN, kadar kreatinin yang tinggi akibat muntah-muntah dan menjadi
dehidrasi. Tes Urinalisis untuk menyingkirkan adanya masalah dari traktus
genitourinarius yang menyebabkan nyeri lipat paha.3

Radiologis

Pemeriksaan radiologis tidak diperlukan pada pemeriksaan rutin


hernia.Ultrasonografi dapat digunakan untuk membedakan adanya massa pada
lipat paha atau dinding abdomen dan juga membedakan penyebab
pembengkakan testis.3 Pemeriksaan Ultrasound pada daerah inguinal dengan
pasien dalam posisi supine dan posisi berdiri dengan manuver valsafa
dilaporkan memiliki sensitifitas dan spesifisitas diagnosis mendekati 90%.
Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk membedakan hernia
inkarserata dari suatu nodus limfatikus patologis atau penyebab lain dari suatu
massa yang teraba di inguinal. Pada pasien yang sangat jarang dengan nyeri
inguinal tetapi tak ada bukti fisik atau sonografi yang menunjukkan hernia
inguinalis. CT scan dapat digunakan untuk mengevaluasi pelvis untuk mencari
adanya hernia obturator. 13

Diagnosa Banding
Penatalaksanaan
Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi. Karena potensinya menimbulkan
komplikasi inkarserasii atau strangulasi lebih berat dibandingkan resiko yang minimal
dari operasi hernia (khususnya bila menggunakan anastesi local). Khusus pada hernia
femoralis, tepi kanalis femoralis yang kaku meningkatkan resiko terjadinya
inkarserasi.

Konservatif

Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian


penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.

a. Reposisi

Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada pasien anak-
anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia
membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia
dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak
inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih
sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan
dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis
dibandingkan dengan orang dewasa. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak
dengan pemberian sedative dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini
berhasil anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak
berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera.
b. Bantalan penyangga

Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi
dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harusdipakai seumur hidup. Namun cara
yang berumur lebih dari 4000 tahun ini masih saja dipakai sampai sekarang.

Sebaiknya cara ini tidak dianjurkan karena mempunyai komplikasi, antara lain
merusak kulit dan tonus otot dinding perut didaerah yang tertekan sedangkan
strangulasi tetap mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofitestis
karena tekanan pada tangki sperma yang mengandung pembuluh darah testis.

Operatif

Indikasi:
c. Hernia inguinalis dengan komplikasi inkarserata ataupun stangulata.
d. Hernia inguinalis lateralis pada anak maupun dewasa (reponibilis atau
irreponibilis)
e. Hernia inguinalis medialis yang cukup besar dan mengganggu.

Teknik operasi

Herniotomy : membuang kantong hernia seproximal mungkin, terutama pada


anak-anak karena dasarnya adalah congenital tanpa adanya kelemahan dinding
perut.
Gambar 14 Langkah-langkah Herniotomi pada hernia inguinalis
Ket: A,B : Insisi hernia dapat berupa transverse atau oblik. C : Buka aponeurosis m.
Obliquus abdominis externus. D : Identifikasi funikulus spermatikus. E,F : Identifikasi dan
bebaskan kantong hernia. G,H : Ligasi kantong hernia

Berdasarkan pendekatan operasi, banyak teknik herniorraphy (herniotomy disertai


tindakan bedah untuk memperkuat dinding perut bagian bawah di belakang
kanalis inguinalis (hernioplasty).
dapat dikelompokkan dalam 4 kategori utama :

Kelompok 1: Open Anterior Repair


Kelompok 1 operasi hernia (teknik Bassini, McVay dan Shouldice) melibatkan
pembukaan aponeurosis otot obliquus abdomins ekternus dan membebaskan
funikulus spermatikus. fascia transversalis kemudian dibuka, dilakukan inspeksi
kanalis spinalis, celah direct dan indirect. Kantung hernia biasanya diligasi dan dasar
kanalis spinalis di rekonstruksi.

Teknik Bassini

Komponen utama dari teknik bassini adalah

v Membelah aponeurosis otot obliquus abdominis eksternus dikanalis


ingunalis hingga ke cincin ekternal.

v Memisahkan otot kremaster dengan cara reseksi untuk mencari hernia


indirect sekaligus menginspeksi dasar dari kanalis inguinal untuk mencari
hernia direct.

v Memisahkan bagian dasar atau dinding posterior kanalis inguinalis


(fascia transversalis)

v Melakukan ligasi kantung hernia seproksimal mungkin.

v Rekonstuksi didinding posterior dengan menjahit fascia tranfersalis, otot


transversalis abdominis dan otot abdominis internus ke ligamentum inguinalis
lateral. Teknik kelompok ini berbeda dalam pendekatan mereka dalam
rekontruksi, tetapi semuanya menggunakan jahitan permanen untuk mengikat
fascia disekitarnya dan memperbaiki dasar dari kanalis inguinalis,
kelemahannya yaitu tegangan yang tejadi akibat jahitan tersebut, selain dapat
menimbulkan nyeri juga dapat terjadi neckosis otot yang akan menyebakan
jahitan terlepas dan mengakibatkan kekambuhan.
Gambar 15. McVay open anterior repair.

Kelompok 2: Open Posterior Repair

Posterior repair (iliopubic tract repair dan teknik Nyhus) dilakukan dengan membelah
lapisan dinding abdomen superior hingga ke cincin luar dan masuk ke properitoneal
space. Diseksi kemudian diperdalam kesemua bagian kanalis inguinalis. Perbedaan
utama antara teknik ini dan teknik open anterior adakah rekonrtuksi dilakukan dari
bagian dalam. Posterior repair sering digunakan pada hernia dengan kekambuhan
karena menghindari jaringan parut dari operasi sebelumnya. Operasi ini biasanya
dilakukan dengan anastesi regional atau anastesi umum.

Kelompok 3: Tension-Free Repair With Mesh

Kelompok 3 operasi hernia (teknik Lichtenstein dan Rutkow ) menggunakan


pendekatan awal yang sama degan teknik open anterior. Akan tetapi tidak menjahit
lapisan fascia untuk memperbaiki defek , tetapi menempatkan sebuah prostesis, mesh
yang tidak diserap. Mesh ini dapat memperbaiki defek hernia tanpa menimbulkan
tegangan dan ditempatkan disekitar fascia. Hasil yang baik diperoleh dengan teknik
ini dan angka kekambuhan dilaporkan kurang dari 1 persen.

Open mesh repair

Beberapa ahli bedah meragukan keamanan jangka panjang penggunaan implant


prosthesis, khususnya kemungkinan infeksi atau penolakan. Akan tetapi pengalaman
yang luas dengan mesh hernia telah mulai menghilangkan anggapan ini, dan teknik ini
terus populer.Teknik ini dapat dilakukan dengan anastesi local, regional atau general.

Kelompok 4: Laparoscopic

Operasi hernia Laparoscopic makin populer dalam beberapa tahun terakhir, tetapi
juga menimbulkan kontroversi. Pada awal pengembangan teknik ini, hernia diperbaiki
dengan menempatkanpotongan mesh yang besar di region inguinal diatas peritoneum.
Teknik ini ditinggalkan karena potensi obstruksi usus halus dan pembentuka fistel
karena paparan usus terhadap mesh.

Saat ini kebanyakan teknik laparoscopic herniorrhaphies dilakukan menggunakan


salah satu pendekatan transabdominal preperitoneal (TAPP) atau total extraperitoneal
(TEP) . pendekatan TAPP dilakukan dengan meletakkan trokar laparoscopic dalam
cavum abdomendan memperbaiki region inguinal dari dalam. Ini memungkinkan
mesh diletakkan dan kemudian ditutupi dengan peritoneum.sedangkan pendekatan
TAPP adalah prosedur laparoskopic langsung yang mengharuskan masuk ke cavum
peritoneal untuk diseksi. Konsekuensinya, usus atau pembuluh darah bisa cidera
selama operasi.

Laparoscopic mesh repair


10. KOMPLIKASI

Komplikasi setelah operasi herniorraphy biasanya ringan dan dapat sembuh sendiri,
hematom dan infeksi luka adalah masalah yang paling sering terjadi. Komplikasi yang
lebih serius seperti perdarahan, osteitis atau atropy testis terjadi kurang dari 1
persenpada pasien yang menjalani herriorraphy. Perbandingan komplikasi berat dan
ringan dari teknik open dan laparoscopic herniorrhaphies.

Komplikasi dari Open dan Laparoscopic Hernia Repair

11. PROGNOSIS

Prognosis pada hernia tergantung pada keadaan umum dan penanganannya. Pada
umumnya, prognosisnya baik karena angka kekambuhan setelah operasi jarang
terjadi. Beberapa penelitian mengatakan bahwa, angka kekambuhan hernia pada
tempat yang sama ataupun ditempat lainnya sekitar 10%. Oleh karena itu, untuk
menghindarkan angka terjadinya kekambuhan, pentingnya untuk menghindarkan dari
faktor predisposisinya.
IV. Hernia Femoralis

Hernia femoralis merupakan benjolan di lipat paha melalui anulus femoralis.


Selanjutnya isi hernia masuk ke dalam kanalis femoralis yang berbentuk corong
sejajar dengan pembuluh darah balik paha (vena femoralis)

Gambar Letak Hernia Femoralis

Gambar letak macam macam hernia


a. Etiologi
Hernia femoralis disebabkan oleh peninggian tekanan intraabdominal yang
kemudian akan mendorong lemak preperitonial ke dalam kanalis femoralis yang akan
menjadi pembuka jalan terjadinya hernia. Faktor penyebab lainnya adalah kehamilan
multipara, obesitas dan degenerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Penderita dengan
hernia femoralis sering mengeluhkan nyeri tanpa pembengkakan yang dapat di palpasi
dalam lipat paha. Nyerinya bersifat nyeri tumpul dan jika telah terjadi obstruksi dapat
menimbulkan muntah dan gangguan konstipasi. Hernia femoralis sering terjadi
inkaserata dan biasanya terjadi dalam 3 bulan atau lebih. Apabila sudah terjadi
inkaserata maka penderita akan merasakan nyeri yang begitu hebat dan dapat terjadi
shok. Pembengkakan sering muncul di bawah ligamentum inguinal.

Gambar 4.2 Lokasi Hernia Femoralis

b. Patofisologi
Hernia femoralis berkembang dengan proses waktu, dengan berbagai aktivitas
yang meningkatkan tekanan intra abdomen akan meningkatkan progresifitas hernia.
Peningkatan tekanan intraabdomen akan mendorong lemak preperitoneal kedalam
kanalis femoralis yang akan menjadi pembuka jalan terjadinya hernia.
Kurangnya tonus otot abdominal, obesitas, dan kehamilan multipara juga
meningkatkan resiko pada wanita untuk mengalami hernia femoralis. Hernia
femoralis sekunder dapat terjadi sebagai komplikasi herniorafi pada hernia inguinalis,
terutama yang memakai teknik bassini atau soldice yang menyebabkan fasia
transversa dan ligamentum inguinale lebih bergeser keventrokranial sehingga kanalis
femoralis lebih luas. Sebagian besar hernia femoralis berkembang hanya pada satu
sisi, tetapi sekitar 15% dari hernia femoralis bersifat bilateral dan kondisi hernia
bilateral cenderung lebih tinggi untuk terjadi hernia strangulasi, serta sekitar 20%
hernia bisa berkembang menjadi hernia inclarserata.
Hernia femoralis sekunder dapat terjadi sebagai komplikasi herniorafi pada
hernia inguinallis yang menyebabkan fasia transversa dan ligamentum inguinale
tergeser ke ventrokranial sehingga kanalis femoralis lebih luas. Hernia femoralis
keluar di sebelah ligamentum inguinale pada fosa ovalis. Kadang-kadang hernia
femoralis tidak teraba dari luar.

c. Diagnosis

Anamnesis

Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang muncul terutama


pada waktu melakukan kegiatan menaikkan tekanan intraabdomen seperti
mengangkat barang dan batuk.Benjolan ini hilang pada waktu berbaring. Sering
penderita dating ke dokter atau ke rumah sakit dengan hernia strangulate.

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah


ligamentum inguinaloe di medial v.femoralis dan lateral tuberkulum pubikum.
Tidak jarang yang lebih jelas adalah tanda sumbatan usus, sedangkan benjolan
di lipat paha tidak ditemukan, karena kecilnya atau penderita gemuk.

Tabel 4.1 Pemeriksaan Fisik Hernia

Hernia Ing. Hernia Ing. Direk Hernia femoralis


Indirek

Usia Semua umur Orang tua Dewasa & tua

Jenis Terutama Pria Pria dan Wanita Terutama wanita


Kelamin

Lokasi Diatas Lig. Diatas Lig. Dibawah Lig.


Inguinale Inguinale Inguinale

Thumb Tidak keluar Keluar benjolan Keluar benjolan


Test benjolan

Finger Benjolan di ujung Benjolan di sisi jari -


Test jari

Zieman Dorong jari II Dorong jari III Dorong jari IV


Test

d. Tatalaksana
Terapi yang dilakukan pada penderita hernia femoralis adalah operasi. Pada
umumnya hernia femoralis cenderung untuk menjadi inkarserasi dan strangulasi.
Prinsip operasi hernia adalah sebagai berikut:
1. Herniotomi dengan eksisi komplit dari kantong hernia
2. Menggunakan benang yang tidak diserap
3. Hernioplasti dengan reparasi defek fasia tranversalis dengan ligamentum
Cooper atau mesh, dengan tujuan mempersempit annulus femoralis

Hernia femoralis didekati melalui krural, inguinal dan kombinasi. Pendekatan


krural sering dilakukan pada wanita tanpa membuka kanalis inguinalis. Teknik
pendekatan secara inguinali adalah dengan cara membuka kanalis inguinalis. Pada
hernia femoralis dengan inkaserata atau residif sering digunakan teknik pendekatan
kombinasi. Pada pendekatan krural, hernioplasti dapat dilakukan dengan
menjahitkan ligamentum inguinales ke ligamentum cooper, sedangkan pada teknik
Bassini melalui region inguinalism ligamentum inguinale dijahitkan ke ligamentum
lakunare Gimbernati.
Setiap hernia femoralis memerlukan tindakan operasi kecuali bila ada kelainan
lokal atau umum yang merupakan kontra indikasi operasi. Operasi terdiri dari
herniotomi disusul dengan hernioplasti dengan tujuan menjepit anulus femoralis.
Operasi dapat dilakukan dengan cara Lockwood, cara McEvedy, cara Lotheissen.

V. Hernia Umbilikalis

a. Definisi
Hernia umbilikalis merupakan penonjolan organ dalam perut keluar dari daerah
pusar akibat kelemahan jaringan penyambung dan otot perut. Hernia umbilikalis
sering terjadi pada anak-anak, namun dapat pula terjadi pada orang dewasa walaupun
jarang. Pada anak-anak, defek seringkali tertutup seiring bertambahnya usia dan tidak
membutuhkan tindakan pembedahan. Pada dewasa, hernia umbilikalis tidak dapat
sembuh sendiri dan hanya dapat diperbaiki dengan tindakan bedah.

b. Etiopatogenesis
Hernia umbilical terjadi disekitar pusar (umbilicus). Banyak bayi yang mengalami
hernia umbilical kecil karena lubang untuk pembuluh darah tidak tertutup secara sempurna.
Ada dua tipe hernia umbilikalis yaitu kongenital (terjadi saat bayi baru lahir) dan didapat.

Hernia umbilikalis yang didapat berkembang seiring bertambahnya usia atau


adanya cedera yang menyebabkan adanya defek pada otot di bawah atau di sekitar
pusar. Kondisi yang dapat meningkatkan tekanan pada perut dapat pula menyebabkan
terjadinya hernia karena tekanan tersebut dapat merenggangkan daerah tersebut.
Adanya kegiatan mengangkat beban berat juga dapat meningkatkan ukuran defek dan
dapat mendorong usus atau organ dalam perut lainnya ke defek tersebut. Hernia
umbilikalis bisa menonjol keluar secara tiba-tiba. Hal ini sering terjadi pada orang
dewasa yang berumur >60 tahun yang diakibatkan mulai melemahnya otot-otot
(American College of Surgeon, 2013).

Faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadinya hernia umbilikalis


(American College of Surgeon, 2013):
1. Usia tua
2. Overweight dan Obesitas
3. Mengangkat beban berat
4. Riwayat keluarga
5. Asites
6. Kehamilan atau kehamilan ganda

c. Diagnosis
Gejala hernia umbilikalis, antara lain (American College of Surgeon, 2013):
1. Tonjolan pada daerah perut yang sering bertambah keluar pada saat menangis, batuk
atau mengejan
2. Terasa nyeri dan tekanan pada perut
3. Rasa tidak nyaman pada perut

Hernia umbilikalis bisa didiagnosa saat melakukan pemeriksaan fisik.


Terkadang, pemeriksaan penunjang, seperti ultrasonografi, foto sinar-X perut, CT-
Scan, Laboratorium darah, urinalisa dan EKG (untuk pasien usia >45 tahun) bisa
dilakukan untuk melihat apakah terjadi komplikasi.

d. Tatalaksana
Kebanyakan hernia umbilikalis pada bayi dapat menutup dengan sendirinya
pada usia 18 bulan. Menahan hernia dengan koin, pita, pembalut atau alat lain
kadang-kadang membuat pasien lebih nyaman tetapi tidak mengurangi resiko terjepit
atau menyebabkan lubang menutup dan malah akan menyebabkan terakumulasinya
mikroorganisme dibawah koin atau pita tersebut yang akan menyebabkan terjadinya
infeksi, oleh karena itu, hal itu tidak direkomendasikan (Mayo Clinic Staff, 2012).
Indikasi pembedahan hernia umbilikalis pada anak-anak dilakukan, apabila:
1. Hernia terasa nyeri
2. Diameter hernia lebih besar dari 1,5 cm
3. Hernia tidak berkurang ukurannya setelah usia 6-12 bulan
4. Hernia tidak menghilang setelah usia 3 tahun
5. Hernia terjepit cincin hernia (inkarserata) dan hernia strangulata

Sementara hernia pada orang dewasa, pembedahan dianjurkan untuk


menghindari kemungkinan komplikasi terutama jika hernia umbilikalis menjadi lebih
besar dan terasa sakit. Jenis pembedahan tergantung pada ukuran hernia dan lokasinya
serta jika termasuk hernia berulang (kambuh). Pembedahan hanya satu-satunya
pengobatan untuk memperbaiki hernia. Pembedahan dapat dilakukan dengan teknik
pembedahan perbaikan terbuka dan Laparoskopi. Perbaikan dapat dilakukan dengan
menggunakan jahitan saja atau dengan menambahkan jaringan.

1. Perbaikan terbuka pada hernia (Herniotomi)


Membuat sayatan pada lokasi hernia dan jaringan yang menggelembung di dorong
kembali dengan lembut kedalam perut. Jahitan dan penambahan jaringan (Mesh) digunakan
untuk menutup otot.

Perbaikan dengan jahitan: Kantong hernia dibuang. Kemudian jaringan disepanjang tepi otot
di jahit bersama-sama. Umbilikus kemudian diperbaiki kembali ke otot. Prosedur ini sering
digunakan untuk kecacatan yang kecil.

Perbaikan dengan penambahan jaringan (Mesh): Kantong hernia dibuang. Penambahan


jaringan diletakkan pada lokasi hernia. Mesh dipasang menggunakan jahitan yang lebih kuat
pada jaringan disekitar hernia. Mesh memanjang 3-4 cm di luar tepi hernia. Umbilikus
diperbaiki kembali ke otot. Mesh sering digunakan untuk perbaikan hernia yang besar dan
juga mengurangi risiko bahwa hernia akan kembali lagi.
Untuk semua jenis perbaikan terbuka, kulit bekas letak hernia ditutup menggunakan jahitan,
staples atau lem bedah.

2. Perbaikan hernia dengan Laparoskopi (Herniorafi)


Akan dibuat beberapa tusukan atau sayatan kecil pada perut. Ports atau Trocar
(tabung berongga) akan dimasukkan kedalam tusukan/sayatan. Alat-alat bedah dan kamera
yang menyala diletakkan pada Port. Perut akan mengembang oleh karena gas karbondioksida
yang memudahkan dokter bedah untuk melihat letak hernia. Mesh dapat dijahit atau
menggunakan staples pada otot sekitar hernia. Bekas Port dapat ditutup dengan jahitan,
stapler atau lem bedah.
e. Komplikasi
Untuk anak-anak, komplikasi hernia umbilikalis jarang terjadi. Komplikasi dapat
terjadi ketika jaringan perut yang menonjol terperangkap dan tidak dapat lagi didalam
ke rongga perut. Hal ini akan mengurangi suplai darah ke bagian usus yang terjebak
dan dapat menyebabkan rasa sakit pada umbilikalis dan kerusakan jaringan. Jika
bagian usus benar-benar terputus dari suplai darah (hernia strangulasi) akan
menyebabkan gangren/nekrosis (kematian jaringan). Infeksi dapat menyebar ke
seluruh rongga perut, menyebabkan situasi yang mengancam jiwa.
Orang dewasa dengan hernia umbilikalis lebih mungkin mengalami obstruksi
usus. Pembedahan darurat biasanya diperlukan untuk mengatasi komplikasi ini (Mayo
Clinic Staff, 2012). Selalu ada kemungkinan bahwa hernia bisa kembali, namun untuk
pasien yang sehat, risiko nya untuk hernia rekuren sangat rendah (Malangoni M A.,
Rosen M J., 2012).
I. Hernia Jenis Lainnya

Hernia Defek kongenital diafragma yang disebabkan oleh gangguan penutupan


Diafragmatika diafragma pada massa embrional. Terdapat dua tipe hernia
diafragmatika yaitu Bochdalek (posterolateral) dan Morgagni
(anteromedial).

Hernia Hernia yang keluar melalui defek di linea alba antara umbilikus dan
epigastrika processus xiphoideus.

Hernia Hernia yang keluar melalui luka operasi yang baru maupun lama.
insisional

Hernia Merupakan hernia inguinalis lateralis yang mencapai skrotum.


Scrotalis
Daftar Pustaka

1
Fkumyecase, 2010, Hernia Inguinalis Inkarserata, Available from:
http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Hernia+Inguinalis+
Lateralis+dengan+Inkarserasi. (Accessed : 20 Agustus, 2017)
2
De Jong. W, Sjamsuhidajat. R., 1998., Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3., EGC.,
Jakarta
3
Nicks, Bret A., 2010, Hernia, Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/775630-overview. (Accessed :
20 Agustus, 2017)
4
Moore, dkk, 2007, Essential Clinical Anatomy, 3rd Edition, University of
Toronto, Faculty of Medicine.

5
Gray Henry, 2000. grays anatomy of human body XII. Surface anatomy and
surface markings, Bartleby. Philadelphia.350-351

6
Fahmi N.M., 2010. Presus Bedah "Hernia Inguinalis Lateral" . Available
from
http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=presus+BEDAH+
%22HERNIA+INGUINALIS+LATERAL%22+Moch.Nizam+Fahmi
+20040310109 (Accessed : 20 Agustus, 2010).
7
A. Mansjoer, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III, Jilid II. Penerbit
Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2000. Hal 313-317.