Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FISIOLOGI TERNAK

Sistem Pencernaan

Oleh :
Kelompok 3

Satrio Adhiguna 200110110055


Fairuz Imtinan 200110110069
Wahyu Indra 200110110075
Ardian Hadi Pratama 200110110087
Wulan Restu Septiani 200110110091

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
Sumedang
2012
I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah


Sistem pencernaan merupakan salah satu sistem organ yang
sangat penting. Melalui sistem pencernaan, kita mengolah makanan
untuk diambil nutrisinya yang berguna bagi metabolisme tubuh kita.
Sistem pencernaan melewati berbagai organ sebagai alat pencernaannya
yakni mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus.
Latar belakang ditulisnya laporan akhir praktikum ini adalah agar
mahasiswa dapat mengetahui secara visual berbagai macam saluran
pencernaan ternak serta gambaran umum dari proses fisiologinya.

1.2 Maksud dan Tujuan


1. Untuk mengetahui apa itu sistem pencernaan.
2. Untuk mengetahui macam-macam sistem pencernaan.
3. Untuk mengetahui berbagai saluran pencernaan pada ternak serta
gambaran umumnya.

1.3 Waktu dan Tempat


Waktu : 22 Mei 2012 pukul 10.00 WIB.
Tempat : Lab. Fisiologi Ternak dan Biokimia Fapet Unpad.
II
Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Sistem Pencernaan


Sistem pencernaan (bahasa Inggris: digestive system) adalah sistem
organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya
menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut melalui
anus.
Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia
terjadi di sepanjang saluran pencernaan (bahasa Inggris: gastrointestinal
tract) dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu proses penghancuran makanan
yang terjadi dalam mulut hingga lambung. Selanjutnya adalah proses
penyerapan sari-sari makanan yang terjadi di dalam usus. Kemudian proses
pengeluaran sisa-sisa makanan melalui anus.
Sistem pencernaan antara satu hewan dengan yang lainnya bisa
sangat jauh berbeda, yaitu ada yang poligastrik (lambung banyak) dan
monogastrik (lambung tunggal).

2.2 Pengertian Poligastrik


Hewan Poligastrik (ruminansia) adalah hewan herbivora yang
mencerna makanannya dengan dua langkah, pertama dengan menelan
bahan makanan mentah, kemudian mengeluarkan makanan yang sudah
setengah dicerna dari perutnya dan mengunyahnya lagi. Lambung hewan
ruminansia tidak hanya memiliki satu ruang (monogastrik) tetapi memiliki
lebih dari satu ruang (poligastrik). Pada ruminansia dewasa, rumen adalah
bagian lambung yang paling besar.
Saluran pencernaan ruminansia terdiri dari rongga mulut (oral),
kerongkongan (oesophagus), proventrikulus (pars glandularis), yang terdiri
dari rumen, retikulum, dan omasum; ventrikulus (pars muscularis) yakni
abomasum, usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum crassum),
sekum (coecum), kolon, dan anus. Lambung mempunyai peranan penting
untuk menyimpan makanan sementara yang akan dikunyah kembali (kedua
kali).
Di antara saluran pencernaan ruminansia tersebut lambung sejatinya
adalah abomasum, dimana dalam abomasum terjadi proses pencernaan
sebagaimana lambung monogastrik lain, karena abomasum menghasilkan
cairan lambung (gastric juice). Saat lahir abomasum bayi ruminansia
berukuran 70% dari keseluruhan lambung majemuknya, sangat kontras
dengan kondisi saat dewasa dimana abomasum hanya 8% dari total volume
lambung majemuknya.
Struktur khusus sistem pencernaan hewan ruminansia :
1. Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa
tetumbuhan seperli rumput.
2. Geraham belakang (Molare) memiliki bentuk datar dan lebar.
3. Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.
4. Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen (fermentor),
Retikulum, Omasum dan Abomasum (lambung yang sebenarnya
sehingga terjadi pencernaan enzimatis).

2.3 Pengertian Monogastrik


Hewan monogastrik adalah hewan-hewan yang memiliki lambung
sederhana atau lambung tunggal seringkali disebut hewan non- ruminansia.
Monogastrik memiliki saluran pencernaan meliputi mulut, oesophagus,
stomach, small intestinum, large intestinum, rektum dan anus ataupun
kloaka.
Hewan non ruminansia (unggas) memiliki pencernaan monogastrik
(perut tunggal) yang berkapasitas kecil. Makanan ditampung di dalam crop
kemudian empedal/gizzard terjadi penggilingan sempurna hingga halus.
Makanan yang tidak tercerna akan keluar bersama ekskreta, oleh karena itu
sisa pencernaan pada unggas berbentuk cair (Girisenta, 1980).
Unggas tidak memerlukan peranan mikroorganisme secara maksimal,
karena makanan berupa serat sedikit dikonsumsi. Saluran pencernaan
unggas sangat berbeda dengan pencernaan pada mamalia. Perbedaan itu
terletak didaerah mulut dan perut, unggas tidak memiliki gigi untuk
mengunyah, namun memiliki lidah yang kaku untuk menelan makanannya.
Perut unggas memiliki keistimewaan yaitu terjadi pencernaan mekanik
dengan batu-batu kecil yang dimakan oleh unggas di gizzard (Swenson,
1997).
Hewan monogastrik dapat pula dibedakan berdasarkan makanan
utamanya, atau kebiasaan makan dan jenis makanan yang dikonsumsinya,
yaitu karnivora (hewan pemakan daging) contohnya anjing dan kucing ;
hewan omnivora (hewan pemakan tumbuhan dan hewan) contohnya babi
dan ayam ; dan hewan herbivora (hewan pemakan tumbuhan) contonya
kuda dan kelinci.Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba,
sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem
pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan kompleks. Makanan
hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada
umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem
pencernaan hewan lain.

2.4 Klasifikasi Hewan Menurut Daya Adaptasi


III
PROSEDUR KERJA
3.1 Sistem Pencernaan
3.1.1 Alat dan Bahan
1. Alat-alat operasi
2. Kloroform, kapas, nampan operasi
3. Aluran pencernaan poligastrik (domba,sapi), monogastrik (ayam),
monogastrik herbivore (kelinci)
3.1.2 Prosedur Kerja (Pencernaan Monogastrik Unggas)
1. Membius ayam dengan kapas berkloroform.
2. Setelah pingsan, kami menelentangkan, mencabuti bulu daerah perut
hingga dada dan tulang punggung.
3. Memisahkan kulit daerah perut dari otot bawahnya.
4. Membuka selaput perut didekat tulang costae (tulang rusuk) terakhir
mengikuti arah tulang tersebut hingga tulang punggung.
5. Memotong bagian dada dari persendian scapulanya, sehingga bagian
tersebut terpisah dari tubuh ayam.
6. Mempreparasi secara utuh mulai dari kepala sampai ke anus. Organ
pancreas dan hati tetap menempel pada alat pencernaan.
7. Memperhatikan dan mempelajari alat-alat pencernaan tersebut.
8. Menggambar alat pencernaan tersebut secara utuh mulai dari kepala
hingga anus.
9. Membuat sayatan mulai dari ruang mulut hingga anus.
10. Memperhatikan bagian-bagian isi saluran pencernaan tersebut yang
merupakan gambaran proses fisiologik yang terjadi
11. Menggambar bagian-bagian dalam tersebut.
12. Menulis fungsi dari setiap bagian yang saudara pelajari.

3.1.3 Prosedur Kerja (Pencernaan Ruminansia)


1. Memperhatikan dalam keadaan utuh, saluran pencernaan ruminansia
yang tersedia mulai dari mulut sampai anus beserta organ-organ
pelengkapnya
2. Menggambar saluran pencernaan tersebut secaralengkap dan utuh.
3. Membuat sayatan mulai dari mulut sampai anus.
4. Memperhatikan bahan-bahan makanan yang ada di dalam bagian-bagian
saluran pencernaan tersebut.
5. Memperhatikan anatomi permukaan bagian dalamdan luar dari saluran
pencernaan.
6. Membuat laporan mengenai pengamatan serta penjelasan dan
pembahasannya. Membandingkan dengan alat pencernaan unggas.
7. Menggambar bagian-bagian dalam hewan tersebut.
8. Menulis fungsi dari setiap bagian organ tersebut.

3.1.4 Prosedur Kerja (Pencernaan Monogastrik Ruminansia)


1. Membius kelinci dengan kapas berkloroform.
2. Setelah pingsan, menelentangkan dan mencabuti bulu daerah perut
hingga dada dan tulang punggung.
3. Memisahkan kulit daerah perut dari otot bawahnya.
4. Membuka selaput perut didekat tulang costae (tulang rusuk) berakhir
mengikuti arah tulang tersebut hingga tulang punggung.
5. Mempreparasi secara utuh mulai dari kepala sampai ke anus. Organ
pancreas dan hati tetap berada pada system pencernaan
6. Memperhatikan dan mempelajari alat-alat pencernaan tersebut.
7. Menggambar alat pencernaan secara utuh mulai dari kepala hingga anus.
8. Membuat sayatan mulai dari ruang mulut hingga anus.
9. Memperhatikan bagian-bagian isi saluran pencernaan tersebut yang
merupakan gambaran proses fisiologik yang terjadi.
10. Menggambar bagian-bagian dalam tersebut.
11. Menulis fungsi dari setiap bagian organ.
IV
HASIL PENGAMATAN
Sistem Pencernaan Poligastrik
Hasil Pengamatan Gambar Asli

Sistem Pencernaan Monogastrik


Hasil Pengamatan Gambar Asli
Sistem Pencernaan Monogastrik Herbivore
Hasil Pengamatan Gambar Asli
IV
Kesimpulan

Daftar Pustaka

Arora, S. P. 2005. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Yogyakarta: Gajah


Mada University Press
Darmadi Goenarso. 2005. Fisiologi Hewan. http://gurungeblog.wordpress.com.
Diakses pada tanggal 28 Mei 2012.