Anda di halaman 1dari 71

PRAKTIKUM FISIKA MODERN

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS SEPEKTROSKOPI

MENGENAL DAN KALIBRASI ALAT SPEKTROFOTOMETER IR DAN


FOURIER TRANSFORM INFRA RED (FTIR)

NAMA : FERNANDUS HASIANDO

KELAS : FISIKA DIK B 2015

NIM :4153121021

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGTAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2016
I. JUDUL PERCOBAAN : ANALISIS SEPEKTROSKOPI MENGENALI DAN
KALIBRASI ALAT SPEKTROFOTOMETER FOURIER
TRANSFORM INFRA RED (FTIR)

II. TUJUAN PERCOBAAN :

1. Mengetahui prinsip kerja spektrofotometer FTIR


2. Mengetahui tujuan kalibrasi alat FTIR sebagai dasar untuk menjamin keakuratan
pembacaan frekuensi/panjang gelombang yang diukur atau dihasilkan.

III. TINJUAN TEORITIS

Spektroskopi inframerah merupakan salah satu alat yang banyak dipakai untuk
mengidentifikasi senyawa, baik alami maupun buatan. Dalam bidang fisika bahan, seperti bahan-
bahan polimer, inframerah juga dipakai untuk mengkarakterisasi sampel. Suatu kendala yang
menyulitkan dalam mengidentifikasi senyawa dengan inframerah adalah tidak adanya aturan
yang baku untuk melakukan interpretasi spectrum. Karena kompleksnya interaksi dalam vibrasi
molekul dalam suatu senyawa dan efek-efek eksternal yang sulit dikontrol seringkali prediksi
teoritik tidak lagi sesuai. Pengetahuan dalam hal ini sebagian besar diperoleh secara empiris dan
pengalaman (Basset. 1994)

Inframerah merupakan radiasi elektromagnetik dari radiasi panjang gelombang yang


lebih panjang dari gelombang tampak tetapi lebih panjang dari gelombang mikro. Spektroskopi
inframerah merupakan salah satu teknik spektroskopi yang didasarkan pada penyerapan
inframerah oleh senyawa (Fessenden,1982).

Gambaran antara persen absorbansi atau persen transmitansi lawan frekuentasi akan
menghasilkan spektrum infra merah. Transisi yang terjadi di dalam serapan inframerah berkaitan
dengan perubahan perubahan vibrasi dalam molekul. Daerah radiasi spektroskop iinframerah
berkisar pada bilangangelombang 1280-10-1 atau pada panjang gelombang 0,78 -1000 nm.

Dilihat dari segi aplikasi dan instrumentasi spektroskopi inframerah dibagi dalam tiga
jenis radiasi yaitu inframerah dekat, infra merah pertengahan, dan inframerah jauh.Sinar
inframerah (infra red = IR) mempunyai panjang gelombang yang lebih panjang dibandingkan
dengan UV-VIS, sehingga energinya lebih rendah dengan bilangan gelombang antara 600-4000
cm-1 atau sekitar (1,7 x10-3 cm) sampai dengan (2,5 x 10-4 cm ). Sinar inframerah hanya dapat
menyebabkan vibrasi ( getaran) pada ikatan baik berupa rentangan (streaching = str) maupun
berupa bengkokan (bending = bend). Energi vibrasi untuk molekul adalah spesifik. Namun,
pada prakteknya spektroskopi IR lebih diperuntukkan untuk menentukkan adanyagugus-gugus
fungsional utama dalam suatu sampel yang diperoleh berdasarkan bilangan yang dibutuhkan
untukvibrasi tersebut (Sitorus. 2009)

Komponen dasar spektrofotometer IR samadengan UV tampak, tetapisumber, detektor,


dan kemampuan optiknya sedikit berbeda. Mula- mula sinar inframerah dilewatkan melalui
sampel dan larutan pembanding. Kemudian dilewatkan pada monokromator untuk
menghilangkan sinar yang tidak diinginkan. Berkas ini kemudian di dispersikan melaui prisma
atau grafiting. Dengan melewatkannya melaui shit, sinar tersebut dapat di fokuskanpadadetektor.
Alat Ini umumnya dapat merekam sendiri absorbansinya secara tepat. Temperatur dan
kelembapan ruang harus di kontrol. Perubahan suhuakan berpengaruh pada ketaatan dan
kalibrasi panjang gelombang (Khopkar,1990).

Secaraumumbaikspektroskopi IR maupun FTIR mempunyaikomponen-komponen


sebagai berikut:

a. Sumbercahaya IR

Sumber cahaya yang umumnya digunakan adalah batang yang di panaskan oleh listrik berupa
nerst glower, globar, dan berbagai bahan keramik.

b. Monokromator

Bentuk prisma seperti pada spektroskopi uv-vis dan grating yang terbentuk danNaCl murni yang
transparan.

c. Detektor

Kebanyakan merupakan thermofil, yaitu dua kawat logam yang dihubungkan antara kepala
danekor yang menyebabkan arus listrik yang sebanding dengan radiasi yang mengenai themofil.
Detektor dihubungkan ke recorder yang terintegrasi dengan printer (Sitorus.2009)
Pada dasarnya Spektrofotometer FTIR (Fourier Trasform Infra Red) adalah sama dengan
Spektrofotometer IR dispersi, yang membedakannya adalah pengembangan pada sistim optiknya
sebelum berkas sinar infra merah melewati contoh. Dasar pemikiran dari Spektrofotometer FTIR
adalah dari persamaan gelombang yang dirumuskan oleh Jean Baptiste Joseph Fourier (1768-
1830) seorang ahli matematika dari Perancis (Giwangkara,2006)

IV. ALAT DAN BAHAN

A. Alat
Spektrofometer FTIR
Komputer

Gambar : Spektrofotometer FTIR


Lumpang dan alu
Sel KBr
Handy press
B. Bahan
Akuades
Minuman kuku bima energy rsa anggur

V. PROSEDUR KERJA

A. Kalibrasi Alat Spektrofotometer Infra Merah

1. Dibuat spectrum dari baku pembanding fil polistirena untuk kisaran panjang gelombang
4000/cm sampai 650/cm

2. Membaca frekuensi dari puncak ke puncak yang diperoleh dan bandingkan dengan frekuensi
table

3. Membuat kurva kalibrasi antara kesalahan frekuensi dengan frekuensi eksperimental.

B. Pengukuran Spektra Zat Cair Sukar Menguap

1. Diteteskan 1 tetes paraffin liquid pada permukaan sel KBr.


2. Ditangkupkan sel yang satu lagi di atas sel tersebut sehinnga zat cair membentuk lapisan
film kapiler.
3. Diletakkan sel pada cell holder.
4. Direkam spectrum dari paraffin cair dengan resolusi 4 cm-1.
5. Diidentifikasi gugus fungsional yang ada.
6. Dibuatkan tabel yang menjelaskan spesifitas gugus kromofor dengan panjang gelombang
yang dihasilkan.

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Hasil Spektrofotometer FTIR dari Sampel Kuku Bima Energi


Jenis Molekul Frekuensi cm-1 Hasil

C-H Alkana 3000-2850 Ada

-CH3 1450-1375 Tidak ada

-CH2- 1465 Tidak Ada

Alkena (stretch) 3100-3000 Tidak Ada

Alkena (bidang) 1000-650 Tidak Ada

Aromatik (stretch) 3150-3050 Tidak Ada

Aromatik (bidang) 900-690 Tidak Ada

Alkuna + 3300 Ada B. Pembahasa


n
Aldehida 2900-2700 Ada

C = C Alkena 1680-1600 Tidak Ada

Aromatik 1600-1475 Tidak Ada

Alkuna 2250-2100 Ada

C = O Aldehida 1740-1720 Tidak Ada

Keton 1725-1705 Tidak Ada

Asam Karboksilat 1725-1700 Tidak Ada

Ester 1750-1730 Tidak Ada

Amida 1670-1640 Tidak Ada

Anhidra 1810-1760 Tidak Ada

Asam klorida 1800 Tidak Ada

CO Alkohol, ester, ester, 1300-1000 Tidak Ada


asam karboksilat, anhidrida

C-H Alkohol, fenol 3650-3600 Tidak Ada

Asam karboksilat 3400-2400 Ada

N H Amida primer dan 3500-3100 Ada


sekunder

C = N Amina 1690-1640 Tidak Ada

C = N Nitril 2260-2240 Tidak Ada

N = O Nitro (R-NO2) 1550 dan 1350 Tidak Ada

S H Merkaptan 2550 Tidak Ada

S = O Sulfat,sulfonamid 1200-1140 Tidak Ada

C X Florida 1400-1000 Tidak Ada


Praktikum kali ini membahas tentang analisis senyawa apasaja yang terdapat dalam
miinuman berenergi (Kuku Bima) dengan Spektrofotometer Fourier Transform Infra
Red (FTIR). Tujuan dari percobaan ini adalah mahasiswa mampu memahami prinsip kerja
spektrofotometer FTIR dan mahasiswa mengetahui tujuan kalibrasi alat FTIR sebagai dasar
untuk menjamin keakuratan pembacaan frekuensi/panjang gelombang yang diukur atau
dihasilkan..

Prinsip kerja spektroskopi FTIR adalah adanya interaksi energi dengan materi atau secra
umum dapat di gambarkan sebagai berikut : sampel di scan, yang berarti sinar infra merah akan
dilewatkan ke sampel. Gelombang yang diteruskan oleh smpel akan ditangkap oleh detektor
yang terhubung ke komputer yang akan memberikan gambaran spektrum sampel yang diuji.
Misalkan dalam suatu percobaan berupa molekul senyawa kompleks yang ditembak dengan
energi dari sumber sinar yang akan menyebabkan molekul tersebut mengalami vibrasi. Sumber
sinar yang digunakan adalah keramik, yang apabila dialiri arus listrik maka keramik ini dapat
memancarkan infrared. Vibrasi dapat terjadi karena energi yang berasal dari sinar infrared tidak
cukup kuat untuk menyebabkan terjadinya atomisasi ataupun eksitasi elektron pada molekul
senyawa yang ditembak dimana besarnya energi vibrasi tiap atom atau molekul berbeda
tergantung pada atom-atom dan kekuatan ikatan yang menghubungkannya sehingga dihasilkan
frekuaensi yang berbeda pula.

Prosedur kerja pada percobaan ini terdapat dua prosedur yaitu kalibrasi alat
spektrofotometer infra merah dan pengukuran spectra zat cair sukar larut. Untuk kalibrasi alat
sepektrofotometer infra merah langkah kerja sebagai berikut langkah pertama dibuat spectrum
dari baku pembanding film polistirena untuk kisaran panjang gelombang 4000 cm-1 sampai 650
cm-1. Langkah kedua dibaca frekuensi dari puncak-puncak yang diperoleh dan bandingkan
dengan frekuensi table. Langkah ketiga dibuat kurva kalibrasi antara kesalahan frekuensi dengan
frekuensi eksperimental. Untuk pengukuran spectra zat cair sukar larut langkah kerja sebagai
berikut langkah pertama diteteskan 1 tetes paraffin liquid pada permukaan sel KBr. Langkah
kedua ditangkupkan sel yang satu lagi di atas sel tersebut sehinnga zat cair membentuk lapisan
film kapiler. Langkah ketiga diletakkan sel pada cell holder. Langkah keempat direkam
spectrum dari paraffin cair dengan resolusi 4 cm-1. Langkah kelima diidentifikasi gugus
fungsional yang ada. Langkah keenam dibuatkan tabel yang menjelaskan spesifitas gugus
kromofor dengan panjang gelombang yang dihasilkan.

Salah satu tujuan utama dari kalibrasi alat adalah untuk menjamin hasil analisa agar
diperoleh data dengan presisi dan akurasi yang tinggi. Dalam analisa spektroskopi FTIR terdapat
berbagai macam factor yang memberikan kontribusi terhadap kesalahan pembacaan panjang
gelombang. Cara paling sederhana untuk membuat kurva ini adalah dengan menggunakan
spectrum baku pembanding. Spektrum yang biasanya digunakan yaitu spectrum dari film plastic
polistirena. Dengan mengetahui frekuensi dari baku pembanding maka dapat dibuat kurva
kalibrasi yang merupakan grafik hubungan antara frekuensi dengan kesalahan frekuensi.

Prosedur kerja dari percobaan ini adalah mula-mula sampel (kuku bima energi) ditimbang
sebanyak 0,5 gram, dilarutkan dengan methanol secukupnya di dalam gelas beker. Kemudian
larutan sampel (kuku bima energi) di encerkan ad 25 ml di dalam labu ukur, lalu kocok. Setelah
itu sampel di baca pada alat spektrofotometer FTIR dengan bilangan gelombang 2000 sampai
4000 cm-1dengan membandingkan sampel (kuku bima energi) dengan larutan baku atau larutan
standar kafein. Terakhir amati hasil yang didapat dengan membaca puncak gelombang yang
didapat.

Dari hasil praktikum kali ini didapatkan hasil bahwa terdapat beberapa senyawa yang
terdapat pada frekuensi tertentu dalam sampel serbuk kuku bima. Senyawa tersebut ialah : C-H
Alkana pada frekuensi 3000-2850 cm-1, Alkuna pada Frekuensi 3300 cm-1, Aldehida pada
Frekuensi 2900-2700 cm-1, Alkuna pada frekuensi 2250-2100 cm-1, Asam Karboksilat pada
frekuensi 3400-2400 cm-1, dan N-H Amida Primer dan Sekunder pada frekuensi 3500-3100 cm-
1.
Tetapi ada pula senyawa yang tidak terbaca dalam frekuensi tertentu, seperti : -CH3 pada
frekuensi 1450-1537 cm-1, -CH2- Pada Frekuensi 1465 cm-1, Alkena (strech) dan Alkena
(bidang) pada frekuensi 3100-3000 cm-1 dan 1000-650 cm-1, Senyawa Aromatik (strech) dan
Senyawa aromati (bidang) pada frekuensi 3150-3050 cm-1 dan 900690 cm-1, C=C Alkena
pada frekuensi 1680-1600 cm-1, Senyawa Aromatik pada frekuensi 1600-1475 cm-1, C=O
Aldehida pada frekuensi 1740-1720 cm-1, Keton pada frekuensi 1725-1705 cm-1, Asam
Karboksilat pada frekuensi 1725-1700 cm-1, Ester pada frekuensi 1750-1730 cm-1, Amida pada
frekuensi 1670-1640 cm-1, Anhidra pada frekuensi 1810-1760 cm-1, Asam Klorida pada
frekuensi 1800 cm-1, CO(Alkohol, ester, ester, asam karboksilat, anhidrida) pada frekuensi
1300-1000cm-1, C-H Alkohol Fenol pada frekuensi 3650-3600 cm-1, C=N Amina pada
frekuensi 1690-1640 cm-1, C=N Nitril pada frekuensi 2260-2240 cm-1, N=O Nitro (R-NO2)
pada frekuensi 1550 cm-1dan 1350 cm-1, S-H Merkaptan pada frekuensi 2550 cm-1, S=O Sulfat
Sulfonamid 1200-1140 cm-1, C-X florida pada frekuensi 1400-1000 cm-1, Klorida pada
frekuensi 800-600 cm-1, dan Bromida pada frekuensi 667 cm-1.

Dari hasil yang didapat untuk gambar spectra dari sampel (kuku bima energi) pada hasil
FTIR, larutan standar kafein hampir sama karena pada puncak gelombang, bilangan gelombang
sampel dengan larutan standar kafein tidak terlalu jauh sehingga dapat disimpulkan bahwa
sampel mengandung senyawa kafein

VI. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah :

1. Prinsip kerja spektroskopi FTIR adalah adanya interaksi energi dengan materi atau secra
umum dapat di gambarkan sebagai berikut : sampel di scan, yang berarti sinar infra merah
akan dilewatkan ke sampel. Gelombang yang diteruskan oleh smpel akan ditangkap oleh
detektor yang terhubung ke komputer yang akan memberikan gambaran spektrum sampel
yang diuji.
2. Sampel yang diuji pada percobaan ini adalah minuman berenergi dengan merek kuku bima
energi.
3. Dari hasil praktikum kali ini didapatkan hasil bahwa terdapat beberapa senyawa yang
terdapat pada frekuensi tertentu dalam sampel serbuk kuku bima. Senyawa tersebut ialah : C-
H Alkana pada frekuensi 3000-2850 cm-1, Alkuna pada Frekuensi 3300 cm-1, Aldehida
pada Frekuensi 2900-2700 cm-1, Alkuna pada frekuensi 2250-2100 cm-1, Asam Karboksilat
pada frekuensi 3400-2400 cm-1, dan N-H Amida Primer dan Sekunder pada frekuensi 3500-
3100 cm-1.
4. Dari hasil yang didapat untuk gambar spectra dari sampel (kuku bima energi) pada hasil
FTIR, larutan standar kafein hampir sama karena pada puncak gelombang, bilangan
gelombang sampel dengan larutan standar kafein tidak terlalu jauh sehingga dapat
disimpulkan bahwa sampel mengandung senyawa kafein.

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Giwangkara S, EG., 2006, Aplikasi Logika Syaraf Fuzzy Pada Analisis Sidik Jari Minyak Bumi
Menggunakan Spetrofotometer Infra Merah Transformasi Fourier (FT-IR). Jawa Tengah:
Sekolah Tinggi Energi dan Mineral.

Khopkar,SM, 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta : Universitas Indonesia.

Sitorus,M, 2009,Spektroskopi edisi elusidasi struktur molekul organi. Yogyakarta : Graha Ilmu.
PRAKTIKUM FISIKA MODERN

LAPORAN PRAKTIKUM EFEK FOTOLISTRIK


NAMA : FERNANDUS HASIANDO

KELAS : FISIKA DIK B 2015

NIM :4153121021

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGTAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2016

I. JUDUL PERCOBAAN: EFEK FOTOLISTRIK

II.TUJUAN :

1. Mempelajari efek atau gejala fotolistrik secara eksperimen


2. Menentukan fungsi kerja sel foto
3. Menentukan nilai tetapan planck dan tenaga kinetic maksimum foto electron

III. TINJAUAN TEORITIS :

Efek fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya electron dari permukaan suatu zat (logam),
bila permukaan logam tersebut disinari cahaya (foton) yang memiliki energy lebih besar dari
energy ambang (fungsi kerja) logam.

Untuk melepaskan elektorn diperulkan sejumlah tenaga minimal yang besarnya


bergantung pada jenis atau sifat logam tersebut. Tenaga minimal ini disebut work funcation atau
fungsi kerja dari logam, dan dilambangkan oleh . Keperluan tenaga tersebut disebabkan

electron terikat oleh logamnya.

Tenaga gelombang elektromagnetik atau foton yang terkuantisasi, besarna adalah

Ef =Hv

Dimana v adalah frekuensi gelombang elektromagnetik dan h dalah tetapan planck. Bila

dikenakan pada suatu logam dengan fungsi kerja tetapan , dimana hv > , maka electron
dapat terlepas dari logam. Bila tenaga foto tepat sama dengan fungsi kerja logam yang
dikenainya, frekuensi sebesar frekuensi foton tersebut disebut frekuensi ambang dari logam,
yaitu :


v0
h

Sehingga dapat dikatakan bila frekuensi foton lebih kecil dari pada frekuensi ambang logam,
maka tidak akan terjadi pelepasan electron dan jika lebih besar frekuensi foton terhadap
frekuensi ambang ambang logamnya maka akan terjadi pelepasan electron, yang biasa disebut
efek fotolistrk.

Electron yang lepas dari logam karena dikenai foton, akibat fotolistrik ini disebut fotoelektron
yang mempunyai tenaga kinetik.
energi kinetik rata rata elektron foto tidak bergantung pada intensitas cahaya. Jika intensitas
diperbesar hanya menyebabkan makin banyaknya elektron foto yang dihasilkan atau arus
yang diukur oleh amperemeter makin besar.
energi kinetik elektron foto akan makin besar bila frekuensi cahaya yang digunakan untuk
menyinari permukaan logam bertambah besar.
IV. ALAT DAN BAHAN

NO NAMA ALAT DAN BAHAN GAMBAR

1 Sel photo

2 Lampu sumber cahaya

3 diafragma
4 Multimeter dan galvanometer

V. PROSEDUR PERCOBAAN :

Gambar rangkaian:

Sumber cahaya

Elektroda memancar (

Elektroda penerima

Lensa

NO PROSEDUR KERJA
1 Merangkai alat seperti pada gambar
2 Mengatur lensa sehingga nampak spektrum warna (lampu yang digunakan adalah
lampu gas mercury).
3 Mengatur sel foto sehinggaspectrum warna jatuh pada sel foto (pengukuran dilakukan
hanya pada orde satu)
4 Mengukur tegangantengan menggunakan multiometer untuk setiap warna yang jatuh
pada sel foto
5 Megulangi langkah ketiga hanya saja pada sel foto diberi filter kemudian mengukur
tegangan setiap warna untuk absorbsi yang berbeda
6 Mengulangi pengukuran minimal tiga kali pengukuran

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Tanpa menggunakan Filter

Warna Tegangan (V)


Kuning 0,008
Hijau 0,01
Ungu 0,006

2. Dengan menggunakan Filter

Intensitas Tegangan (V)


Kuning Hijau Ungu
100% 0,006 0,008 0,004
80% 0,006 0,008 0,004
60% 0,004 0,006 0,004
40% 0,002 0,004 0,002
20% 0,002 0,004 0,002

PENGOLAHAN DATA

1. Tanpa menggunakan Filter


Dik :
V p Kuning=0, 008 V
V p Hijau=0, 01 V
V p Ungu=0, 006 V
kuning=5789 , 71010 m
10
hijau=5460 ,610 m
ungu=4046 , 61010 m
h=6,6251034 m
m
c=3108
s
19
e=1,610 C
Dit :
(a) Tentukan energi kinetik untuk setiap warna
(b) Tentukan energi foton untuk setiap warna
(c) Tentukan fungsi kerja untuk setiap warna
(d) Tentukan frekuensi ambang untuk setiap warna
(e) Ujilah tetapan planck berdasarkan pada persamaan potensial penghenti yaitu :
E
V p= k
e

Jawab :

(a) Menentukan energi kinetik (Ek)


Ek =eV p
Ek Kuning = ( 1,61019) ( 0, 008 )
22
= 12,810 J
Ek Hijau = ( 1,610 ) ( 0, 01 )
19

22
= 1610 J
Ek Ungu = ( 1,61019) ( 0,006 )
22
= 9,610 J
(b) Menentukan Energi Foton (Ef)
hc
E=hf =

6, 6251034 Js ( 310 8 m/s )
=
E Kuning 5789 , 71010 m
=0,003421016 J
6, 6251034 Js ( 310 8 m/s )
=
E Hijau 5460 , 61010 m
16
=0,0036310 J
6, 62510 Js ( 310 8 m/s )
34
=
E Ungu 4046 , 61010 m
16
=0,0049110 J
(c) Menentukan Fungsi Kerja ( ) :
Ek =E
=EE k
Kuning =0,003421016 J0,00001281016 J
=0,00340721016 J=3, 40721019 J
16
Hijau =0,0036310 J0,0000161016 J

=0,0036141016 J=3,6141019 J
16
Ungu =0, 0049110 J0,00000961016 J
16 19
=0,004900410 J=4,900410 J

(d) Menentukan Frekuensi ambang (f o) :



f 0=
h
19
3, 407210 J
= 34
=0,5141015 Hz
f0 Kuning 6, 62510 Js
19
3, 61410 J
= 34
=0, 54610 15 Hz
f0 Hijau 6, 62510 Js
4, 90041019 J
= 34
=0,7401015 Hz
f0 Ungu 6,62510 Js

(e) Menentukan Tetapan Planck (h) :


E k hf
V p= =
e e e

V p+
e
e=h
f
V p +
=h
f
0, 008+3, 40721019 J
=
h Kuning 0, 5161015 Hz
34
=6,61910 Js
19
0, 01+3,61410 J
=
h Hijau 0, 5471015 Hz
34
=6,62510 Js
0, 006+4, 90041019 J
=
h Ungu 0, 7411015 Hz
34
=6,62110 Js
2. Dengan menggunakan Filter
Dik :

Intensitas Tegangan (V)


Kuning Hijau Ungu
100% 0,006 0,008 0,004
80% 0,006 0,008 0,004
60% 0,004 0,006 0,004
40% 0,002 0,004 0,002
20% 0,002 0,004 0,002
kuning=5789 , 71010 m
hijau=5460 ,61010 m
ungu=4046 , 61010 m
h=6,6251034 m
8m
c=310
s
19
e=1,610 C
Dit :
(a) Tentukan energi kinetik untuk setiap warna
(b) Tentukan energi foton untuk setiap warna
(c) Tentukan fungsi kerja untuk setiap warna
(d) Tentukan frekuensi ambang untuk setiap warna
(e) Ujilah tetapan planck berdasarkan pada persamaan potensial penghenti yaitu :
Ek
V p=
e

Jawab :
(a) Menentukan energi kinetik (Ek)
Ek =eV p
Untuk absorbsi 100% = 80%
Ek Kuning = ( 1,61019) ( 0, 006 )
= 9,61022 J
Ek Hijau = ( 1,61019) ( 0, 008 )
= 12,81022 J
Ek Ungu = ( 1,61019) ( 0, 004 )
22
= 6,410 J
Untuk absorbsi 60%
Ek Kuning = ( 1,61019) ( 0, 004 )
= 6,41022 J
Ek Hijau = ( 1,61019) ( 0, 006 )
= 12,81022 J
Ek Ungu = ( 1,61019) ( 0, 004 )
22
= 6,410 J
Untuk absorbsi 40% = 20%
Ek Kuning = ( 1,61019) ( 0, 002 )
22
= 3,210 J
Ek Hijau = ( 1,61019) ( 0, 004 )
= 6,41022 J
Ek Ungu = ( 1,61019) ( 0, 002 )
= 3,21022 J

(b) Menentukan Energi Foton (Ef)


hc
E=hf =

6, 6251034 Js ( 310 8 m/s )
=
E Kuning 5789 , 71010 m
16
=0,0034210 J
6, 6251034 Js ( 310 8 m/s )
=
E Hijau 5460 , 61010 m
16
=0,0036310 J
6, 62510 Js ( 310 8 m/s )
34
=
E Ungu 4046 , 61010 m
16
=0,0049110 J

(c) Menentukan Fungsi Kerja () :


Ek =E
=EE k
Untuk absorbsi 100% = 80 %
Kuning =0,003421016 J0,00000961016 J
=0, 003411041016 J=3, 41101019 J
16
Hijau =0,0036310 J0,00001281016 J

=0, 00361721016 J=3, 61721019 J


16
Ungu =0,0049110 J0,00000641016 J

=0,00490361016 J=4,90361019 J
Untuk absorbsi 60 %
Kuning =0,003421016 J0,00000641016 J
=0,00341361016 J=3, 41361019 J
16 16
Hijau =0,0036310 J0,000009610 J
16 19
=0,003620410 J=3,620410 J

16 16
Ungu =0,0049110 J0,000006410 J

=0,00490361016 J=4,90361019 J
Untuk absorbsi 40% = 20 %
16 16
Kuning =0, 0034210 J0,000003210 J
=0,00490361016 J=4,90361019 J
16
Hijau =0,0036310 J0,0000321016 J

=0,00341681016 J=3,41681019 J
16
Ungu =0,0049110 J0,00000321016 J

=0, 00490681016 J=4,90681019 J

(d) Menentukan Frekuensi ambang (f o) :



f 0=
h
Untuk absorbsi 100% = 80% :
3, 41101019 J
= 34
=0, 5141015 Hz
f0 Kuning 6, 62510 Js
19
3, 642810 J
= 34
=0,5491015 Hz
f0 Hijau 6, 62510 Js
19
4, 903610 J
= 34
=0, 74010 15 Hz
f0 Ungu 6,62510 Js
Untuk absorbsi 60% :
19
3, 413610 J
= 34
=0, 5151015 Hz
f0 Kuning 6, 62510 Js
3, 62041019 J
= 34
=0, 5461015 Hz
f0 Hijau 6, 62510 Js
4, 90361019 J
= 34
=0, 74010 15 Hz
f0 Ungu 6,62510 Js
Untuk absorbsi 40% = 20% :
19
3, 416810 J
= 34
=0, 5151015 Hz
f0 Kuning 6, 62510 Js
3, 62361019 J
= 34
=0,5461015 Hz
f0 Hijau 6, 62510 Js
4, 90681019 J
= 34
=0, 7401015 Hz
f0 Ungu 6, 62510 Js

(e) Menentukan Tetapan Planck (h) :


E k hf
V p= =
e e e

V p+
e
e=h
f
V p +
=h
f
Untuk absorbsi 100%= 80% :
0, 006+3, 41101019 J
=
h Kuning 0, 51610 15 Hz
=6,6221034 Js
0, 008+3, 61721019 J
=
h Hijau 0, 5471015 Hz
=6,6271034 Js
0, 004+4, 90361019 J
=
h Ungu 0, 7411015 Hz
=6,6231034 Js
Untuk absorbsi 100%= 80% :
0, 004+3, 41361019 J
=
h Kuning 0,5161015 Hz
=6,6231034 Js
19
0, 006+3, 620410 J
=
h Hijau 0, 5471015 Hz
=6,6291034 Js
19
0, 004+4, 903610 J
=
h Ungu 0, 7411015 Hz
34
=6,62310 Js
Untuk absorbsi 40%= 20% :
0, 002+3, 41681019 J
=
h Kuning 0, 5161015 Hz
34
=6,62610 Js
19
0, 004+3, 623610 J
=
h Hijau 0, 5471015 Hz
34
=6,63110 Js
0, 002+4, 90361019 J
=
h Ungu 0,7411015 Hz
=6,6251034 Js
VII. KESIMPULAN

1. Pada saat suatu sel foto menerima cahaya maka arus listrik akan mengalir
2. Teganganyang muncul pada multimeter saat melakukan percobaan efek fotolistrik,
merupakan tegangan penghenti yang dapat menghentikan proses efek fotolistrik.
DAFTAR PUSTAKA

Beiser, A. 1982. Konsep Fisika Modren. Jakarta : Penerbit Erlangga

Bueche, F.J dan Eugene H. 2006. Fisika Universitas. Jakarta : Penerbit Erlangga

Nurdin dan Jubaidah. 2016. Pokok-Pokok Materi Fisika Modren. Medan : FMIPA UNIMED

Kanginan, M. 2007. Fisika SMA. Jakarta : Penerbit Erlangga

Tim Penyusun. 2015. Penuntun Praktikum Fisika Modren. Medan : FMIPA UNIMED
PRAKTIKUM FISIKA MODERN

LAPORAN PRAKTIKUM SPEKTRUM ATOM HYDROGEN

NAMA : FERNANDUS HASIANDO

KELAS : FISIKA DIK B 2015

NIM :4153120121

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGTAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2016
I.JUDUL PRAKTIKUM : SPEKTRUM ATOM HIDROGEN

II.TUJUAN

a. Untuk menunjukkan adanya spektrum diskret atom hidrogen

b. Untuk menggunakan rumus Balmer dalam menentukan konstanta- Rydberg

c. Untuk menentukan konstanta Plansk dari spektrum atom hidrogen

III.TINJAUAN TEORI

Fisika mengalami perubahan yang sangat pesat semenjak tahun 1900. Demikian juga
teori tentang atom. Istilah atom pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli filsafat Yunani
bernama Demokritus (460 370 SM ). Setiap zat dapat dibagi atas bagian-bagian yang lebih
kecil, sampai mencapai bagian yang paling kecil yang tidak dapat dibagi lagi. Bagian yang tak
dapat dibagi itu oleh Demokritus disebut atom , dari kata Yunani atomos yang artinya tak
dapat dibagi.

Selanjutnya , para filsuf yang muncul kemudian , seperti Plato dan Aristoteles
merumuskan sebuah pemikiran bahwa bisa jadi tidak ada partikel yang tidak dapat dibagi.
Berarti, menurut dugaan mereka atom pun masih dapat dibagi lagi. Bersamaan dengan itu
,pandangan mengenai atom berdasarkan pemikiran Demokritus mulai tersingkir.
Sejak ditemukannya partikel-partikel dasar atom, teori atom banyak mengalami perubahan . hal
ini menggoyahkan teori atom Dalton yang menyatakan bahwa atom tidak dapat dibagi-bagi .
Diantara yang menggoyahkan teori atom ini ialah hasil percobaan yang dilakukan oleh Thomson
pada tahun 1897.

Atom dalam suatu unsur dapat menghasilkkan spektrum emisi (spektrum diskret)
dengan menggunakan alat spectrometer, sebagai contoh spectrum hidrogen. Atom hidrogen
memiliki struktur paling sederhana. Spektrum yang dihasilkan adalah atom hidrogen yang
merupakan spektum yang paling sedehana. Spektrum garis atom hydrogen berhasil dijelaskan
oleh Niels Bohr pada tahun 1913.
Atom hidrogen merupakan atom yang paling sederhana karena hanya memiliki satu
proton dan satu elektron sehingga sering digunakan sebagai model idealisasi dalam menjelaskan
berbagai aspek mengenai gejala atomik. Thomson menemukan bahwa ada bagian dari zat yang
lebih kecil dari atom yaitu elektron. Dengan hasil percobaannya ini akhirnya Thomson menyusun
model atom, yaitu sebagai berikut.

1. Atom bukan merupaklan bagian terkecil dari zat

2. Atom berbentuk bulat dengan muatan positif dan muatan negatif tersebar merata di
seluruh bagian atom

3. Jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatif sehingga atom bersifat netral

4. Massa elektron jauh lebih kecil dari massa atom.

Model atom Thomson ini tidak bertahan lama karena adanya percobaan yang
dilakukan oleh Ernest Rutherford pada tahun 1911, yang membuktikan bahwa ternyata muatan
positif atom tidak tersebar merata di seluruh bagian atom, tetapi terkonsentrsi di bagian tengah
(pusat) atom yang kemudian disebut inti atom.

Atom hidrogen memiliki struktur paling sederhana dan spektrum yang dihasilkan
oleh atom hidrogen merupakan spektrum paling sederhana . Oleh karena itu, spektrum hidrogen
dijadikan prototipe untuk mempelajari spektrum atom yang lebih rumit.
Untuk menghasilkan spektrum atom hidrogen digunakan gas hidrogen yang disimpan dalam
tabung dengan tekanan yang sangat rendah. Beda potensial diberikan kepada ujung-ujung tabung
tersebut. Molekul-molekul gas hidrogen terurai menjadi atom-atom hidrogen dan memancarkan
energi foton atau cahaya. Cahaya tersebut dilewatkan ke dalam celah sempit dan diteruskan
melewati prisma, cahaya yang keluar dari prisma ditangkap oleh layar. Dilayar akan tampak
spektrum cahaya atom hidrogen tersebut.

Garis spektrum atom hidrogen dalam daerah ultraviolet dan inframerah patuh oada
deret yang lain. Secara lengkap dapat dilihat pada tabel.1
Tabel 1. Spektrum garis untuk Hidrogen

No Deret Daerah Spektrum Persamaan Batas Deret


1 Lyman Ultraviolet 911,27
1
[
1 1
=R 2 2
1 n ]
n = 2,3,4, . . .
2 Balmer Spektrum tampak 1
[1 1
=R 2 2
2 n ] 3645,1

n = 3, 4, 5, . . .
3 Paschen Inframerah 8201,4
1
[ 1 1
=R 2 2
3 n ]
n = 4, 5, 6, . . .
4 Brackett Inframerah 1
[ 1 1
=R 2 2
4 n ] 14,580

n = 5, 6, 7, . . .
5 Pfund Inframerah 22,782
1
[ 1 1
=R 2 2
5 n ]
n = 6, 7, 8, . . .
Spektrum atom hidrogen terdiri atas:
Keterangan :

1) Deret Lyman (berpindah ke kulit n = 1)

2) Deret Balmer (berpindah ke kulit n = 2)

3) Deret Paschen (berpindah ke kulit n = 3)

4) Deret Brackett (berpindah ke kulit n = 4)

5) Deret Pfund (berpindah ke kulit n = 5)

Secara matematis rumusan empiris yang diperoleh Balmer untuk spektrum atom
Hidrogen dinyatakan sebagai :

1
[1 1
=R 2 2
1 n ] dengan : n = 2, 3, 4, . . . .

= panjang gelombang garis spektrum


R = konstanta Rydberg

Sedangkan radiasi elektromagnetik yang dipancarkan memenuhi syarat frekuensi Bohr-Enstein


:

E 1E 2 hc
f= =
h atau
E 1E 2

dengan : f = frekuensi radiasi elektromagnctik

= panjang gelombang radiasi elektromagnetik

h = konstanta Pladck

c = cepat rarnbat cahaya di udara

E1 = keadaan energi awal

E2 = keadaan energi akhir

Jika radiasi dapat diukur, maka kita dapat menghitung harga E 1 E2. Jika selisih
antara dua keadaan energi diperoleh diperoleh gambaran adanya keadaan-keadaan energi
elektron dalam atom. Sebagian besar emisi atom terletak di daerah cahaya (sinar tampak)
sehingga pengukuran panjang gelombang secara optik dapat dilakukan dengan mudah. Tetapi
untuk alat ukur yang daya pisahnya kurang baik tidak bisa membedakan dua panjang gelombang
yang berdekatan.

IV.ALAT DAN BAHAN

No Nama alat dan bahan Gambar

1 Spektrometer optik
2 Lampu senter

3 Tabung lampu hidrogen

V.PROSEDUR PERCOBAAN

Pasang tabung lampu yang diinginkan dan nyalakan lampu tersebut!

Amati spektrumnya dengan menggunakan spektrometer!

Dengan bantuan cahaya lampu senter, baca skala panjang gelombang untuk setiap
spektrum.

Hitung harga E1-E2 untuk masing-masing sumber dan bandingkan dengan perhitungan
secara teori. Tentukan pula konstanta Rydberg (R) hasil percobaan!

VI.PEMBAHASAN

Orde 1 ( n = 1 ) dan d = m

a. Panjang Gelombang
Spektrum warna yang mulai dari ungu sampai merah , panjang gelombang nya akan semakin
besar yaitu ungu=3,84 m sampai merah = 6,59 m dan rata rata yaitu 2,90 m.

b. Konstanta Rydberg (R)

Spektrum warna yang mulai dari ungu sampai merah rata rata R yaitu 1,094 . Dan R dalam
daftar (teori) yaitu 1,097 .

c. Konstanta Planck
Spektrum warna yang mulai dari ungu sampai merah rata rata h yaitu 6,63 Js .Dan h dalam
daftar (teori) yaitu 6,63 Js , ini sesuai dengan teori.

Orde 2 ( n = 2 ) dan d = m

a. Panjang Gelombang

Spektrum warna yang mulai dari ungu sampai merah , panjang gelombang nya akan semakin
besar yaitu ungu=3,84 m sampai merah = 6,59 m.

b. Konstanta Rydberg (R)

Spektrum warna yang mulai dari ungu sampai merah rata rata R yaitu 1,095 . Dan R dalam
daftar (teori) yaitu 1,097 .
c. Konstanta Planck (h)

Spektrum warna yang mulai dari ungu sampai merah rata rata h yaitu 6,63 Js .Dan h dalam
daftar (teori) yaitu 6,63 Js.

VII.KESIMPULAN

Dari hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :

Panjang gelombang orde 2 lebih besar dan panjang gelombang orde 1

Konstanta Rydberg (R) untuk orde 1 rata-rata = 1,094 . dan orde 2 rata-rata = 1,095.

Konstanta Planck (h) untuk orde 1 rata-rata = 6,64 . Js dan orde 2 rata-rata = 6,63 Js

Terdapat spektrum diskrit atom hidrogen yaitu spektrum warna-warnanya dapat


dibedakan.
DAFTAR PUSTAKA

Sukardiyono, Yusman Wiyatmo. 2012. Percobaan Spektroskopi Atom Hidrogen. Purworejo:


Laboratorium Fisika SMA Kabupaten Kebumen dan Purworejo.

https://abengblog.files.wordpress.com/2012/12/spektroskopi-atom-hidrogen.pdf
PRAKTIKUM FISIKA MODERN

LAPORAN PRAKTIKUM UV-VIS

NAMA : FERNANDUS HASIANDO

KELAS : FISIKA DIK B 2015

NIM :4153121021

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGTAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Analisis Spektroskopi didasarkan pada interaksi radiasi dengan spesies kimia. Berprinsip
pada penggunaan cahaya/tenaga magnek atau listrik untuk mempengaruhi senyawa kimia
sehingga menimbulkan tanggapan.Tanggapan tersebut dapat diukur untuk menetukan jumlah
atau jenis senyawa. Cara interaksi dengan suatu sampel dapat dengan absorpsi, pemendaran
(luminenscence) emisi, dan penghamburan (scattering) tergantung pada sifat materi.Teknik
spektroskopi meliputi spektroskopi UV-Vis, spektroskopi serapan atom, spektroskopi infra
merah, spektroskopi fluorensi, spektroskopi NMR, spektroskopi massa.

Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari materi dan atributnya berdasarkan cahaya,
suara atau partikel yang dipancarkan, diserap atau dipantulkan oleh materi tersebut. Spektroskopi
juga dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi antara cahaya dan materi.
Dalam catatan sejarah, spektroskopi mengacu kepada cabang ilmu dimana "cahaya tampak"
digunakan dalam teori-teori struktur materi serta analisa kualitatif dan kuantitatif. Dalam masa
modern, definisi spektroskopi berkembang seiring teknik-teknik baru yang dikembangkan untuk
memanfaatkan tidak hanya cahaya tampak, tetapi juga bentuk lain dari
radiasi elektromagnetik dan non-elektromagnetik sepertigelombang mikro, gelombang
radio, elektron, fonon, gelombang suara, sinar xdan lain sebagainya..

Spektrofotometer Uv-Vis adalah alat yang digunakan untuk mengukur transmitansi,


reflektansi dan absorbsi dari cuplikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometer
sesuai dengan namanya merupakan alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa itu spektrofotometer UV vis?

2. Bagaimana prinsip kerja spektrofotometer UV vis?

3. Bagaimana menentukan konsentrasi nikel dan cobal dalam sampel dengan menggunakan
alat spektrofotometer UV-vis?

4. Bagaimana mengoperasikan alat spektrofotometer UV-vis?


1.3 Tujuan

1. Mengetahui apa itu spektrofotometer UV vis

2. Mengetahui prinsip kerja spektrofotometer UV - vis

3. Menentukan konsentrasi nikel dan cobal dalam sampel dengan menggunakan alat
spektrofotometer UV-vis

4. Dapat mengoperasikan alat spektrofotometer UV-vis.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Spektrofotometer UV - VIS

Spektrofotometer Uv-Vis adalah alat yang digunakan untuk mengukur transmitansi,


reflektansi dan absorbsi dari cuplikan sebagai fungsi dari panjang gelombang serta untuk
pengukuran didaerah ultra violet dan didaerah tampak. Semua metode spektrofotometri
berdasarkan pada serapan sinar oleh senyawa yang ditentukan, sinar yang digunakan adalah sinar
yang semonokromatis mungkin.Spektrofotometer sesuai dengan namanya merupakan alat yang
terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan
panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang
ditransmisikan atau yang diabsorbsi.

Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi cahaya secara relatif jika energi
tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum sinar tampak yang sinambung dan
monokromatis. Sel pengabsorbsi untuk mengukur perbedaan absorbsi antara cuplikan dengan
blanko ataupun pembanding.

Spektrofotometer UV-Vis (Ultra Violet-Visible) adalah salah satu dari sekian banyak
instrumen yang biasa digunakan dalam menganalisa suatu senyawa kimia. Spektrofotometer
umum digunakan karena kemampuannya dalam menganalisa begitu banyak senyawa kimia serta
kepraktisannya dalam hal preparasi sampel apabila dibandingkan dengan beberapa metode
analisa. Spektrofotometri UV/Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul
yang dianalisis, sehingga spetrofotometer UV/Vis lebih banyak dpakai ntuk analisis kuantitatif
dibanding kualitatif.

2.2 Prinsip Kerja Spektrofotometer Uv-Vis

Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis adalah interaksi yang terjadi antara energy yang berupa
sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Besar energy yang
diserap tertentu dan menyebabkan electron tereksitasi dari ground state ke keadaan tereksitasi
yang memiliki energy lebih tinggi. Serapan tidak terjadi seketika pada daerah ultraviolet-visible
untuk semua struktur elektronik tetapi hanya pada system-sistem terkonjugasi, struktur
elektronik dengan adanya ikatan p dan non bonding electron.

Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik (Io)
melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia), sebagian dipantulkan
(Ir), dan sebagian lagi dipancarkan (It).

Berdasarkan teori tersebut, pinsip kerja dari alat ini adalah suatau cahaya monokromatik akan
melalui suatu media yang memiliki suatu konsentrasi tertentu, maka sakan membentuk spectrum
cahaya, namun ketika melewati monokromator, cahaya yang keluar hanya akan terdapat satu
cahaya yaitu yang sesuai dengan setting awal, misalnya warna hijau. Setelah keluar dari
monokromator, cahaya akan menembus sampel atau larutan yang kemudian menuju detector
dimana cahaya yang di hasilkan dari sampel akan di ubah menjadi listrik yang kemudian akan
terbaca hasil pada read out (monitor).

Spectrum cahaya yang dapat terlihat oleh mata terentang antara 400 nm sampai 800 nm. Pada
tekhnik sptrofotometri, cahaya dari sumber cahaya diuraikan menggunakan prisma sehingga di
peroleh cahaya monokromatis yang diserap oleh zat yang akan diperiksa. Cahaya monokromatis
merupakan cahaya satu warna dengan satu panjang gelombang, sehingga cahaya yang diserap
oleh larutan berwarna dapat diukur.

Warna yang diserap oleh suatu senyawa merupakan warna komplementer dari warna yang
teramati. Beberapa warna yang diamati dan warna komplementernya terdapat pada tabel berikut
ini :

PANJANG WARNA WARNA


GELOMBANG TERLIHAT KOMPLEMENTER

<400 Ultraviolet -

400-450 Violet Kuning

450-490 Biru Jingga

490-550 Hijau Merah

550-580 Kuning Ungu

580-650 Jingga Biru

650-700 Merah Hijau

>700 Inframerah
Sinar dari sumber cahaya akan dibagi menjadi dua berkas oleh cermin yang berputar pada bagian
dalam spektrofotometer. Berkas pertama akan melewati kuvet berisi blanko, sementara berkas
kedua akan melewati kuvet berisi sampel. Blanko dan sampel akan diperiksa secara bersamaan.
Adanya blanko, berguna untuk menstabilkan absorbsi akibat perubahan voltase dari sumber
cahaya.

2.3 Cara Kerja Spektrofotometer Uv-Vis

Spektroskopi UV-Vis digunakan untuk cairan berwarna. Sehingga sampel yang akan
diidentifikasi harus diubah dalam senyawa kompleks. Analisis unsur berasal dari jaringan
tanaman, hewan, manusia harus diubah dalam bentuk larutan, misalnya destruksi campuran asam
(H2SO4+ HNO3 + HClO4) pada suhu tinggi. Larutan sample diperoleh dilakukan preparasi
tahap berikutnya dengan pereaksi tertentu untuk memisahkan unsur satu dengan lainya, misal
analisis Pb dengan ekstraksi dithizon pada pH tertentu. Sampel Pb direaksikan dengan amonium
sitrat dan natriun fosfit, pH disesuaikan dengan penambahan amonium hidroksida kemudian
ditambah KCN dan NH2OH.HCl dan ekstraksi dengan dithizon.

Spectra elektronik senyawaan dalam fasa uap kadang-kadang menunjukkan struktur halus
vibrasi yang dapat teramati, namun dalam fasa-fasa mampat, tingkat energy molekul demikian
terganggu oleh tetanggga-tetangga dekatnya, sehingga sering kali hanya tampak pita lebar.
Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-tampak karena mereka mengandung
electron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasikan ke tingkat energy yang lebih
tinggi. Panjang gelombang pada absorpsi akan terjadi bergantung pada betapa kuatnya electron
itu terikat dalam molekul.

Electron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat dengan kuat, dan diperlukan radiasi
berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek, untuk eksitasinya. Misalnya, alkana, yang
hanya mengandung ikatan tunggal C H dan C C tidak menunjukkan serapan di atas 160 nm.
Metana menunjukkan suatu puncak pada 122 nm yang ditandai sebagai *. Ini berarti bahwa suatu
electron dalam orbital ikatans-stransisi (bonding) sigma dieksitasikan ke orbital anti ikatan
(antibonding) sigma. Jika suatu molekul mengandung sebuah atom seperti klor yang
mempunyai pasangan electron menyendiri, sebuah electron tak terikat (nonbonding) dapat
dieksitasikan ketingkat energy yang lebih tinggi. Karena electron nonbonding tak terikat terlalu
kuat seperti electron bonding sigma, maka absorbsinya terjadi pada panjang gelimbang yang
lebih panjang.

Electron dalam ikatan rangkap dan ganda tiga agak mudah dieksitasikan ke orbital yang
lebih tinggi. Suatu transisi * bila sebuah electron pi ditingkatkan dari suatup-pdilambangkan
dengan orbital bonding-pi ke suatu orbital antibonding pi. Penyerapan energy dalam transisi
semacam itu biasanya lebih intensif daripada dalam *. Dalam molekul tergonjugasi (yakni
molekul yang memilikis-stransisi ikatan-ikatan rangkap berselang seling dengan ikatan rangkap)
absorbs bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang.
2.4 Bagian dan Fungsi dari Spektrofotometer Uv-Vis

Berikut Bagian-bagian dari alat Spektrofotometer UV-Vis :

1. Sumber cahaya

Sumber sinar polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan berbagai macam
rentang panjang gelombang. Untuk sepktrofotometer:

a. UV menggunakan lampu deuterium atau disebut juga heavi hydrogen (160-375 nm)

b. VIS menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram (lampu pijar)
menghasilkan spectrum kontiniu 320-2500 nm

c. UV-VIS menggunan photodiode yang telah dilengkapi monokromator

d. Infra merah, lampu pada panjang gelombang IR.

e. Lampu Tungsten (Wolfram) : Lampu ini digunakan untuk mengukur sampel pada daerah
tampak. Bentuk lampu ini mirip dengna bola lampu pijar biasa. Memiliki panjang gelombang
antara 350-2200 nm. Spektrum radiasianya berupa garis lengkung. Umumnya memiliki waktu
1000 jam pemakaian.

2. Monokromator, terdiri atas :

a. Prisma, berfungsi mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin supaya di


dapatkan resolusi yang baik dari radiasi polikromatis.

b. Kisi difraksi, berfungsi menghasilkan penyebaran dispersi sinar secara merata, dengan
pendispersi yang sama, hasil dispersi akan lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat digunakan
dalam seluruh jangkauan spektrum.

c. Celah optis, berfungsi untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diharapkan dari
sumber radiasi. Apabila celah berada pada posisi yang tepat, maka radiasi akan dirotasikan
melalui prisma, sehingga diperoleh panjang gelombang yang diharapkan.

d. Filter, berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang diteruskan
merupakan cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang gelombang yang dipilih.

Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu mengubah cahaya yang
berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya monaokromatis. Jenis monokromator
yang saat ini banyak digunakan adalan gratting atau lensa prisma dan filter optik. Jika digunakan
grating maka cahaya akan dirubah menjadi spektrum cahaya. Sedangkan filter optik berupa lensa
berwarna sehingga cahaya yang diteruskan sesuai dengan warnya lensa yang dikenai cahaya.
Ada banyak lensa warna dalam satu alat yang digunakan sesuai dengan jenis pemeriksaan.

3. Kompartemen sampel

Kompartemen ini digunakan sebagai tempat diletakkannya kuvet. Kuvet merupakan wadah yang
digunakan untuk menaruh sampel yang akan dianalisis.

Kuvet yang baik harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

a. Permukaannya harus sejajar secara optis

b. Tidak berwarna sehingga semua cahaya dapat di transmisikan

c. Tidak ikut bereaksi terhadap bahan-bahan kimia

d. Tidak rapuh

e. Bentuknya sederhana

UV, VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel. Kuvet biasanya terbuat
dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika memiliki kualitas yang
lebih baik. Hal ini disebabkan yang terbuat dari kaca dan plastik dapat menyerap UV sehingga
penggunaannya hanya pada spektrofotometer sinar tampak (VIS). Cuvet biasanya berbentuk
persegi panjang dengan lebar 1 cm.

4. Detektor

Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan mengubahnya menjadi
arus listrik. Syarat-syarat sebuah detektor :

a. Kepekaan yang tinggi

b. Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi

c. Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.

d. Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.


2.5. Prosedur Pemakaian Spektrofometer

1. Putar tombol on-off (disebelah kira) kekanan. Biarkan 15 menit untuk memanaskan alat.
Atur tombol sampai menunjuk angka nol pada petunjuk %T.

2. Putar tombol pengatur panjang gelombang (yang ada di sebelah atas alat) untuk memilah
panjang gelombang sesuai panjang gelombang yang diinginkan.

3. Masukkan kuvet yang berisi paling sedikit 3 ml aquadest kedalam tempat sampel (sebelum
memasukkan kuvet, pastikan kuvet dalam keadaan kering dengan mengeringkannya dengan
kertas tissue (tutup penutup sampel.

4. Putar tombol pengatur cahaya (tombol yang terletak disebelah kanan) sehingga %T
menunjuk angka 100 atau A menunjuk angka nol.

5. Angkat kuvet yang berisi aquadest deri tempat sampel dengan tutup. Ganti isi kuvet dengan
larutan lampu, baca serapannya.

6. Ganti larutan blanko dalam kuvet dengan larutan standar atau larutan uji, baca serapannya.

2.6. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Analisis Spektrofotmetri Uv-Vis

1. Pada tiap pemeriksaan jangan lupa menutup tempat kuvet.

2. Tabung kuvet yang akan dibaca harus dalam keadaan bersih.

3. Bila pada dinding tabung kuvet terdapat udara, hilangkan dengan menjentik-jentikkan
tabung dengan jari.

4. Jangan sampai menumpahakan cairan yang diperiksa kedalam lubang tempat kuvet atau
pada alat.

5. Pastikan bahwa larutan yang akan diperiksa sudah tercampur dengan baik sebelum
dilakukan pengukuran.

6. Pengukuran selalu di kerjakan dalam duplo.

7. Penetapan pada panjang gelombang yang berbeda pada tiap panjang gelombang alat harus
di tera dengan aquadest (A) harus menunjuk angka nol atau 100%T

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri Uv-Vis
terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan
spektrofotometri Visibel Karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa
yang berwarna. Berikut adalah tahapan-tahapan yang harus diperhatikan :

a) Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis hal ini perlu dilakukan jika
senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah
dengan merubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang
digunakan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu:

Reaksinya selektif dan sensitive

Reaksinya cepat, kuantitatif dan reprodusibel (ajeg)

Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama

Keselektifan dapat dinaikkan dengan mengatur pH, pemakaian masking agent, atau penggunaan
teknik ekstraksi.

2.7 Proses Absorbsi Cahaya pada Spektrofotometri

Ketika cahaya dengan panjang berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis)


mengenai suatu zat, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap. Di
dalam suatu molekul yang memegang peranan penting adalah elektron valensi dari setiap atom
yang ada hingga terbentuk suatu materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul
dapat berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai suatu energi.

Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron dari
keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini
disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah maka elektron
yang ada dalam atom atau elektron ikatan pada suatu molekul dapat hanya akan bergetar
(vibrasi). Sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi
misalnya pada gelombang radio.

Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk mengukur konsentrasi suatu suatu
yang ada dalam suatu sampel. Dimana zat yang ada dalam sel sampel disinari dengan cahaya
yang memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya mengenai sampel sebagian akan
diserap, sebagian akan dihamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan.

Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang mengenai
permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah
It/I0 atau I0/It (perbandingan cahaya datang dengan cahaya setelah melewati materi (sampel)).
Proses penyerapan cahaya oleh suatu zat dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel. dari gambar terlihat bahwa zat
sebelum melewati sel sampel lebih terang atau lebih banyak di banding cahaya setelah melewati
sel sampel

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan
diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert-beer atau Hukum Beer,
berbunyi:

Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau
ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal
larutan. Pengurangan intesitas cahaya monokromatis yang melalui suatu larutan berwarna
berlangsung secara ekspnensial dan bergantung pada panjang larutanyang dilalui cahaya dan
kadar zat dalam larutan.

Perbandingan I/I0 disebut sebagai transmisi sinar (T) dan dinyatakan dalam persen (%).
Serapan absorbance) = A atau disebut juga kerapatan optic (optical density) = OD, merupakan
istilah yang lebih sering digunakan dan berasal dari persamaan:

A = -log T
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

1. Alat:

Spektrofotometer UV-vis 1 set

Gelas kimia 100 ml1 buah

Botol semprot 1 buah

Spatula 1 buah

Batang pengaduk 1 buah

Pipet tetes 1 buah

Labu takar 100 ml 1 buah

Corong 1 buah

2. Bahan

Kristal Ni(CH3COO)2

Kristal Co(CH3COO)2

Aquades

Etanol
3.2 Cara Kerja

1. Pembuatan larutan standar

Buatlah 100 ml larutan standar Ni(CH3COO)2 4000 ppm dan Co(CH3COO)24000 ppm.

2. Penentuan max sertakonsentrasi Ni dan Co dalam sampel

Masing-masing larutan standar dimasukkan dalam kuvet sebanyak 20 ml.

Masukkan larutan blanko dalam kuvet.

100% kan transmitan dengan menggunakan blanko, bentuk spektrum lurus.

Tentukan absorbansi masing-masing larutan standar serta absorbansi sampel pada


panjang gelombang tertentu.

Tentukan panjang gelombang maximum masing-masing larutan standar nikel dan cobal
dengan mengamati absorbansi.

Dari dua panjang gelombang maximum yang didapatkan, tentukan absorbansi masing-
masing larutan standar dan sampel pada panjang gelombang tersebut.

Hitung konsentrasi nikel dan cobal dalam sampel.

3.3 Hasil Pengamatan

1. Absorbansi larutan standar nikel 4000 ppm

(nm) A= -log T
263 0,98701
301 0,8728
392 0,52498
510 0,13459
968 0,22496
970 0,22496
2. Absorbansi larutan standar cobal 4000 ppm

(nm) A= -log T
263 1,1256
301 1,7377
392 0,24909
510 0,42195
968 0,20409
970 0,20334

3. Absorbansi sampel

(nm) A= -log T
263 1,0149
301 1,2916
392 0,38079
510 0,28165
968 0,21328
970 0,21283

4. Absorbansi pada max

Zat A
263 301
Nikel (4000 ppm) 0,98701 0,8728
Cobal (4000 ppm) 1,1256 1,7377
Sampel 1,0419 1,2916

3.4 Pembahasan

Praktikum kali ini tentang penentuan konsentrasi nikel dan cobal dalam sampel dengan
menggunakan metode spektrofotometri UV-vis. Pada awal percobaan, terlebih dahulu dibuat
larutan standar nikel asetat dan cobal asetat dengan konsentrasi 4000 ppm. Blanko yang
digunakan pada percobaan ini adalah etanol. Untuk menentukan konsentrasi nikel dan cobal,
praktikan harus menentukan panjang gelombang maximum pada masing-masing standar, dengan
mengamati nilai absorbansi yang didapatkan pada panjang gelombang tertentu. Pada panjang
gelombang maximum, nilai absorbansi merupakan yang paling besar, yang berarti kapasitas sinar
radiasi yang diserap paling banyak pada panjang gelombang tersebut. Namun sebelum itu, nilai
transmitan di100%kan terlebih dahulu dengan menggunakan blanko etanol. Spektrum dari
blanko tersebut berbentuk garis lurus horizontal, yang menandakan blanko tersebut tidak
mengandung sampel, namun nyatanya spektrum dari blanko tidak berbentuk garis lurus
horizontal, ini disebabkan karena blanko telah terkontaminasi oleh zat lain.

Masing-masing larutan standar diukur absorbansinya pada panjang gelombang tertentu,


untuk menentukan panjang gelombang maximum dari masing-masing larutan standar tersebut.
Larutan standar nikel asetat menunjukkan penjang gelombang maximum 263 nm dengan
absorbansi 0,98701, sedangkan larutan standar cobal asetat menunjukkan panjang gelombang
maximum 301 nm dengan absorbansi 1,7377. Pada masing-masing panjang gelombang
maximum ini ditentukan absorbansi kedua larutan standar dan absorbansi larutan sampel.
Dimana pada panjang gelombang maximum 263 nm, absorbansi larutan standar nikel asetat
adalah 0,98701, larutan standar cobal asetat 1,1256 dan larutan sampel 1,0429. Pada panjang
gelombang maximum 301 nm, absorbansi larutan standar nikel asetat adalah 0,8728, larutan
standar cobal asetat 1,7377 dan larutan sampel 1,2916. Nilai absobansi pada masing-masing
panjang gelombang maximum ini digunakan untuk menentukan konsentrasi nikel dan cobal
melalui perhitungan. Pada hasil percobaan ini, konsentrasi nikel dalam sampel yang didapatkan
adalah 1947,886 ppm, dan konsentrasi cobal dalam sampel yaitu 1994,87 ppm.

Hasil percobaan ini mungkin saja kurang akurat, yang disebabkan karena terjadinya
kesalahan pada percobaan. Kesalahan yang mungkin terjadi pada percobaan ini yaitu
kekurangtelitian dalam pembuatan larutan serta pengenceran yang kurang sempurna, terjadinya
serapan radiasi oleh sidik jari pada kuvet, sensitivitas alat, kuvet yang kurang bersih, adanya
serapan oleh pelarut, kuvet tergores, adanya gelembung udara atau gas dalam lintasan radiasi
panjang gelombang, ataupun kekurangtelitian praktikan dalam pengamatan
BAB IV

KESIMPULAN

1. Spektrofotometri UV-vis adalah teknik analisis spektroskopi yang menggunakan sumber


radiasi elektromegnetik ultraviolet dan sinar tampak dengan menggunakan instrumen
spektrofotometer.

2. Prinsip kerja spektrofotometer UV-vis adalah interaksi yang terjadi antara energi yang
berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul

3. Pada percobaan, didapatkan panjang gelombang maksimum larutan standar nikel asetat
sebesar 263 nm, dan panjang gelombang maksimum larutan standar cobal asetat 301 nm.

4. Konsentrasi nikel dalam sampel yang didapatkan pada percobaan yaitu 1947,886 ppm,
dan konsentrasi cobal dalam sampel yaitu 1994,87 ppm.
DAFTAR PUSTAKA

Gandjar, Ibnu Gholib dan Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:Pustaka
Pelajar.

Fatimah, S, Yanlinastuti dan Yoskasih. 2005. Kualifikasi Alat Spektrometer UV-vis Untuk
Penentuan Uranium dan Besi dalam-U30. Hasil Penelitian

Harjadi. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: PT. Gramedia.

Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia.

Saputra, Y.E. 2009. Spektrofotometri. http://www.chem-is-try.org. diakses tanggal 13


Desember 2009.
LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA MODERN FISIKA DIK.B 2015

MICHELSON MORLEY

Oleh :

FERNANDUS HASIANDO

NIM : 4153121025
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2106

MICHELSON MORLEY

2.1. TUJUAN

1. Mengamati perubahan gambar interferensi

2. Mengukur panjang gelombang laser He-Ne dengan menggeser salah satu cermin dari
interferometer

2.2. TINJAUAN TEORITIS

Tahun 1881, A.A. Michelson membangun interferometer berdasarkan prinsip


percobaan young. Interferometer ini akan digunakan untuk menguji keberadaan eter yaitu
sebuah media hipotetik yang di anggap medium perambatan cahaya. Bersama morley, hasil
percobaan Michelson menunjukkan bahwa hipotesis eter tidak dapat diterima. Pengamatan gejala
interferensi pertama kali dilakukan oleh Thomas Young. Percobaan ini menegaskan sebuah bukti
penting bahwa cahaya pada hakikatnya merupakan sebuah gelombang (prinsip Huygens).
Michelson melihat bahwa interferometer dapat digunakan untuk menuntukan panjang
meter standar untuk panjang gelombang tertentu. Pada tahun 1960, standar itu dipilih sebagai
garis jingga tertentu pada spektrumkripton-86 (atom krypton dengan masa atom 86). Pengukuran
yang teliti dari meter Standar yang lama ( jarak antara dua tanda platinum-iridium yang disimpan
diparis) dilakukan untuk menentukan 1 meter sebesar 1.650.763,73 panjang gelombang cahaya
ini, yang didefinisikan sebagai meter. Pada tahun 1963, meter didefinisikan kembali dalam laju
cahaya.

Interferometer Michelson merupakan seperangkat peralatan yang memanfaatkan


gejala interferensi. Prinsip interferensi adalah kenyataan bahwa beda lintasan optik (d) akan
membentuk suatu frinji.

Pada interferensi, apabila dua gelombang yang berfrekuensi dan berpanjang


gelombang sama tapi berbeda fase bergabung, maka gelombang yang dihasilkan merupakan
gelombang yang amplitudonya tergantung pada perbedaan fase. Perbedaan fase antara dua
gelombang sering disebabkan oleh adanya perbedaan panjang lintasan yang ditempuh oleh kedua
gelombang. Perbedaan lintasan satu panjang gelombang menghasilkan perbedaan fase360, yang
ekivalen dengan tidak ada perbedaan fase 180.

Interferensi gelombang dari dua sumber tidak teramati kecuali sumbernya koheren,
atau perbedaan fase di antara gelombang konstan terhadap waktu. Karena berkas cahaya pada
umumnya adalah hasil dari jutaan atom yang memancar secara bebas, dua sumber cahaya
biasanya tidak koheren (Laud, 1988). Koherensi dalam optika sering dicapai dengan membagi
cahaya dari sumber tunggal menjadi dua berkasatau lebih, yang kemudian dapat digabungkan
untuk menghasilkan pola interferensi. Pembagian ini dapat dicapai dengan memantulkan
cahaya dari dua permukaan yang terpisah .

2.3. ALAT DAN BAHAN

No. Nama Alat Gambar


1 Landasan Dasar Inferometer

2 Layar

3 Laser He-Ne

4 Lensa

5 Beam Splitter
6 Cermin Datar

2.4. PROSEDUR KERJA

1. Menyusun peralatan sesuai dengan gambar

2. Menghidupkan laser dan memfokuskan pada layar menjadi satu bayangan(satu titik).

3. Meletakkan lensa di depan layar sehingga bayangan sinar laser menjadi sebuah pola
gelap terang pada layar.

4. Memutar tombol roda perlahan-lahan satu kali atau beberapa kali dengan meletakkan
jari-jari pada tuas yang tepat dan sekaligus menghitung intensitas maksimum atau
minimum yang muncul dan menghilang di tengah-tengah gambar interferensi.

2.5. PEMBAHASAN DAN HASIL


Pergeseran ke depan Jumlah pertukaran
No
per putaran(1/mm) intensitas (Z) (nm)

1 1 11 900

2 2 29 680

3 3 37 810

Pembahasan :

1. Diketahui : Z = 11 ; l = 1. 5x10-3mm

Ditanya : ?

Dijawab : Z. = 2. l

11. = 2 (1. 5X10-3)

11 = 10-2

= 9x10-4mm= 900 nm

2. Diketahui : Z = 29 ; l = 2. 5x10-3mm

Ditanya : ?
Dijawab : Z. = 2. l
29. = 2 (2. 5X10-3)
29 = 2x10-2
= 6,8x10-4mm= 680 nm

3. Diketahui : Z = 37 ; l = 3. 5x10-3mm

Ditanya : ?
Dijawab : Z. = 2. l
37. = 2 (3. 5X10-3)
37 = 3x10-2
= 8,1x10-4mm= 810 nm
2.6. KESIMPULAN

1. Interferensi adalah ketika dua pulsa saling berhadapan, ketika kedua pulsa bertemu di
titik-titik pertemuan, simpangan kedua pulsa saling menambah membentuk suatu
gelombang baru.

2. Panjang gelombang cahaya dapat dicari dengan menggunakan interferometer Michelson.

2.7. DAFTAR PUSTAKA

B. Arthur. (1991). Konsep Fisika Modern. Jakarta: Erlangga.

http://vlab.amrita.edu

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA MODERN FISIKA DIK.B 2015

ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETER


(AAS)

Oleh :

FERNANDUS HASIANDO

NIM : 4153121021
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2016

ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETER

3.1. TUJUAN

1. Mengetahui bagian-bagain dari spektrofotometri AAS

2. Mengetahui konsentrasi besi dalam air sungai Karang Mumus

3. Mengetahui konsentrasi besi dalam air sungai Mahakam

3.2. TINJAUAN TEORITIS

Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang didasarkan
pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar
(ground state). Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom ke
tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat labil, elektron akan kembali ke tingkat
energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk radiasi. Dalam AAS, atom bebas
berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas, energi elektromagnetik, energi
kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan proses-proses dalam atom bebas yang
menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas. Radiasi yang dipancarkan bersifat
khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas.

Hubungan kuantitatif antara intensitas radiasi yang diserap dan konsentrasi unsur
yang ada dalam larutan cuplikan menjadi dasar pemakaian SSA untuk analisis unsur-unsur
logam. Untuk membentuk uap atom netral dalam keadaan/tingkat energi dasar yang siap
menyerap radiasi dibutuhkan sejumlah energi. Energi ini biasanya berasal dari nyala hasil
pembakaran campuran gas asetilen-udara atau asetilen-N2O, tergantung suhu yang dibutuhkan
untuk membuat unsur analit menjadi uap atom bebas pada tingkat energi dasar (ground state).
Disini berlaku hubungan yang dikenal dengan hukum Lambert-Beer yang menjadi dasar dalam
analisis kuantitatif secara SSA. Hubungan tersebut dirumuskan dalam persamaan sebagai
berikut:

I
log =a . b . c
I0
I=I 0 . a . b . c atau A =a . b . c

Dengan :

A = absorbansi

a = koefisien serapan

b = panjang jejak sinar dalam medium berisi atom penyerap

c = konsentrasi

I0 = intensitas sinar mula-mula

I = intensitas sinar yang diteruskan

Bagian-bagian AAS adalah sebgai berikut :

a. Lampu katoda

Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda memiliki masa
pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji
berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji, seperti lampu katoda Cu, hanya bisa digunakan
untuk pengukuran unsur Cu. Lampu katoda terbagi menjadi dua macam, yaitu :

Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur.

Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa logam


sekaligus.

b. Tabung gas

Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas
asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu 20000 K, dan ada juga tabung gas yang
berisi gas N2O yang lebih panas dari gas asetilen, dengan kisaran suhu 30000 K. Regulator
pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan, dan
gas yang berada di dalam tabung. Spedometer pada bagian kanan regulator merupakan pengatur
tekanan yang berada di dalam tabung. Gas ini merupakan bahan bakar dalam Spektrofotometri
Serapan Atom.

c. Burner

Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena burner
berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen, dan aquabides, agar tercampur merata, dan
dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. Lobang yang berada pada burner,
merupakan lobang pemantik api.

d. Monokromator

Berkas cahaya dari lampu katoda berongga akan dilewatkan melalui celah sempit dan
difokuskan menggunakan cermin menuju monokromator. Monokromator dalam alat SSA akan
memisahkan, mengisolasi dan mengontrol intensitas energi yang diteruskan ke detektor.
Monokromator yang biasa digunakan ialah monokromator difraksi grating.

e. Detektor
Detektor merupakan alat yang mengubah energi cahaya menjadi energi listrik, yang
memberikan suatu isyarat listrik berhubungan dengan daya radiasi yang diserap oleh permukaan
yang peka. Fungsi detektor adalah mengubah energi sinar menjadi energi listrik, dimana energi
listrik yang dihasilkan digunakan untuk mendapatkan data.

f. Sistem pembacaan

Sistem pembacaan merupakan bagian yang menampilkan suatu angka atau gambar yang
dapat dibaca oleh mata.

g. Ducting

Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran
pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan,
agar asap yang dihasilkan oleh AAS, tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar.

3.3. ALAT DAN BAHAN

ALAT

No. Nama Alat Gambar

1 Pipet Tetes

2 Corong Kaca

3 Botol Semprot

4 Labu Erlenmeyer
5 Kuvet

6 Labu Takar

7 Gelas Ukur

8 Pipet Ukur

9 Spektrofotometri

BAHAN

No. Nama Bahan


1 Air sungai Mahakam
2 Air sungai Karangmumus
3 Tisu gulung
4 Aquadest
5 Larutan induk Fe 100 ppm
6 Kertas Saring

3.4. PROSEDUR KERJA

Pembuatan larutan standar

o Disiapakan bahan serta peralatan yang akan dipakai pada praktikum.

o Disaring sampel air sungai mahakam dan air sungai karang mumus menggunkan kertas
saring.

o Dibuat 5 seri larutan Fe dengan konsebtrasi berturut-turut 0, 1,2, 3, 4 ppm. Masing-masing


sebanyak 0 mL Fe, 0,5 mL Fe, 1 mL Fe, 1,5 mL Fe, 2 mL Fe, ke dalam masing-masing labu
takar 50 mL dan diencerkan dengan aquades hingga tanda batas, dihomogenkan.

o Dituangkan masing-masing larutan ke dalam masing masing cuvet hingga tanda terra.

o Diberi kertas label dan diletakkan di rak cuvet.

Pembuatan larutan pembanding

o Dituangkan sampel air sungai Karang Mumus dan air sungai Mahakam ke dalam masing-
masing gelas ukur menggunakan corong kaca yang telah dilapisi kertas saring.

o Ditungkan masing-masing sampel ke dalam cuvet berbeda hingga tanda terra.

o Di beri kertas label dan letakkan di rak tabung cuvet.

Pengukuran serapan atom

o Meletakkan semua sampel dalam cuvet ke alat yang bernama asc.

o Membari jarak antara larutan pembanding dnegan larutan standar.

o Membuka kran gas asitilena sedikit, ditutup.

o Membuka kran pembuka gas.


o Menyalakan komputer.

o Menyalakan instrumen AAS.

o Mengklik (Connect) pada kotak dialog yang muncul dan tunggu hingga instalasi selesai yang
ditandai dengan semua item berwarna hijau kemudian tekan (Ok).

o Memilih (Next) pada kotak dialog yang muncul.

o Mengisi kotak kosong dengan elemen yang akan dianalisis.

o Memilih ( Next ) dan program akan berjalan.

3.5. HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Hasil pengamatan

b. Perhitungan

Penentuan kadar Fe pada air sungai Karang Mumus

y = ax b

y = 0,013x 0,009

0,0146 = 0,013x 0,009


0,0146 + 0,009 = 0,013x

x = 0,0236/0,013

x = 1,8154 ppm

Jadi, konsentrasi kadar Fe pada air sungai Mahakam adalah 1,8154 ppm.

Penentuan kadar Fe pada air sungai Mahakam

y = ax b

y = 0,013x 0,009

-0,0018 = 0,013x 0,009

-0,0018 + 0,009 = 0,013x

x = 0,0072/0,013

x = 0,5538 ppm

Jadi konsebtrasi kadar Fe pada air sungai karang mumus adalah 0.5538 ppm.

c. Pembahasan

Dari hasil pengamatan pada pengukuran daya serap atom terhadap cahaya digunakan
atom Fe sebagai patokannya. Didapat nilai absorbansi semakin meningkat seiring kanaikan
konsentrasi larutan ion Fe. Hal ini dikarenakan pada konsentrasi yang tinggi, daya serap larutan
terahadap cahaya semakin tinggi pula. Lalu pada ion Fe 0 ppm nilai absorbansinya negatif, hal
ini dikarenakan tidak ditemukannya kandungan Fe di dalamnya.

Pada percobaan pengukuran konsentrasi terhadap sampel yaitu air sungai mahakam
dan air sungai karang mumus sebelum diukur konsentrasinya, keduanya sampel tersebut harus
disaring hal ini bertujuan untuk menghilangkan padatan kasar. Dari hasil pengukuran di dapat
nilai konsentrasi air sungai mahakam lebih tinggi dibandingkan air sungai karang mumus. Fakta
ini didukung dengan nyala api pada spektrofotometer yang lebih besar pada air sungai mahakam,
karena adanya pencemeran oleh batu bara yang setiap kali diangkut dengan kapal melewati
sungai mahakam.

3.6. Kesimpulan

- Spektrofotometri serapan atom terdiri dari beberapa bagian antara lain :

a. Lampu katoda

b. Tabung gas

c. Burner

d. Monokromator

e. Detektor

f. Sistem pembacaan

g. Ducting

- Dari hasil percobaan didapat kadar Fe dalam air sungai Mahakam adalah sebesar 1,8154
ppm.

- Dari hasil percobaan didapat kadar Fe dalam air sungai Karang Mumus adalah 0,5538 ppm.

3.7. DAFTAR PUSTAKA

Kanginan, M. 2007. Fisika SMA. Jakarta : Penerbit Erlangga

Tim Penyusun. 2015. Penuntun Praktikum Fisika Modren. Medan : FMIPA UNIMED