Anda di halaman 1dari 16

Summary

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TENTANG


PENCEGAHAN HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI
TAHUN 2013

Syahrul Aminuddin Hamid


NIM 841409021
Program Studi Ilmu Keperawatan , Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu
Kesehatan Dan Keolahragaan, Universitas Negeri Gorontalo

ABSTRAK

Syahrul Aminuddin Hamid. 2013.Hubungan Pengetahuan Dan Sikap


Keluarga Tentang Pencegahan Hipertensi Dengan Kejadian Hipertensi Di Poliklinik
Penyakit Dalam RSUD.Prof.DR. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Skripsi, Program Studi
Ilmu Kepereawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Dan Keolahragaan, Universitas
Negeri Gorontalo, Dengan Pembimbing I Suwarly Mobiliu S.Kp,M.Kep dan
Pembimbing II Lia Amalia SKM,M.Kes.
Di dunia, hampir 1 milyar orang menderita hipertensi. Di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD prof.Dr. Aloei saboe tahun 2012 sebanyak 1.013 kasus hipertensi. Hal
ini disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan tekanan darah
secara dini. Sehingga pengetahuan serta sikap merupakan suatu hal yang sangat
penting untuk dimiliki, agar keluarga bisa mencegah, serta mengendalikan penyakit
hipertensi didalam keluarga itu sendiri.
Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap
keluarga tentang pencegahan hipertensi dengan kejadian hipertensi di poliklinik
penyakit dalam RSUD Prof.DR. Aloei Saboe Kota Gorontalo.Desain Penelitian
merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study.
populasinya seluruh keluarga pasien yang datang berobat di poliklinik penyakit dalam
dengan teknik accidental sampling sebanyak 67 responden. Analisa data dilakukan
dengan SPSS.
Hasil penelitian menunjukan dengan uji Chi square adanya hubungan antara
pengetahuan keluarga tentang pencegahan hipertensi dengan kejadian hipertensi
dengan hasil p value 0,011 (>0,05). Sedangkan sikap menunjukkan adanya hubungan
antara sikap keluarga tentang pencegahan hipertensi dengan kejadian hipertensi
dengan hasil p value 0,014 (>0,05). Untuk itu diharapkan keluarga selalu memberikan
dukungan dan perhatian dalam hal pencegahan hipertensi sehingga akan
meningkatkan derajat kesehatan penderita hipertensi.

Kata Kunci : Pengetahuan Keluarga, Sikap Keluarga, Pencegahan Hipertensi,


Kejadian Hipertensi
I. PENDAHULUAN tahun 2025 tingkat terjadinya tekanan
Penyakit degeneratif merupakan darah tinggi akan bertambah 60%, dan
penyakit kronik menahun yang banyak akan mempengaruhi 1,56 milyar
mempengaruhi kualitas hidup serta penduduk di seluruh dunia (Depkes RI,
produktivitas seseorang. Penyakit 2007).
penyakit degeneratif tersebut antara Setiap tahunnya di amerika,
lain penyakit kardiovaskuler (jantung hipertensi merupakan faktor penyebab
dan pembuluh darah) termasuk yang terpenting pada 500.000 kasus
hipertensi, diabetes mellitus dan stroke, dan 150.000 diantaranya
kanker (Brunner & Suddarth, 2002). berakhir dengan kematian. 40 %
Salah satu penyakit degeneratif diantara mereka yang sembuh
yang banyak terjadi dan yang memerlukan perawatan khusus
mempunyai tingkat mortilitas yang sepanjang sisa hidupnya dan 10%
cukup tinggi serta mempengaruhi harus dirawat secara permanen di
kuatitas hidup dan produktivitas rumah sakit. Kira kira 2.000.000
seseorang salah satunya adalah korban stroke di Amerika Serikat
penyakit hipertensi. Yang dimaksud terganggu kemampuannya disebabkan
hipertensi adalah sesuatu keadaan kelumpuhan salah satu akibat tekanan
dimana dijumpai tekanan darah lebih darah tinggi yang sangat merugikan
dari 140/90 MmHg atau lebih untuk (Diehl, 2007).
usia 13 -50 tahun dan tekanan darah Hasil Riset Kesehatan Dasar
mencapai 160/95 mmHg untuk usia (Riskesdas) 2007 menunjukkan,
diatas 50 tahun. Dan harus dilakukan sebagian besar kasus hipertensi di
pengukuran tekanan darah minimal masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini
sebanyak dua kali untuk lebih terlihat dari hasil pengukuran tekanan
memastikan keadaan tersebut (WHO, darah pada usia 18 tahun ke atas
2001 dalam Wijaya, 2009). ditemukan prevalensi hipertensi di
Di dunia, hampir 1 milyar orang Indonesia sebesar 31,7%, dimana
atau 1 dari 4 orang dewasa menderita hanya 7,2% penduduk yang sudah
hipertensi. Tekanan darah tinggi mengetahui memiliki hipertensi dan
merupakan penyakit kronis yang bisa hanya 0,4% kasus yang minum obat
merusak organ tubuh manusia. Setiap hipertensi. (www.depkes.go.id : 2012 )
tahun darah tinggi menjadi penyebab 1 Keluarga merupakan support
dari 7 kematian (7 juta pertahun) di system utama bagi pasien hipertensi
samping menyebabkan kerusakan dalam mempertahankan kesehatan.
jantung, mata, otak dan ginjal. Keluaga memegang peranan penting
Berdasarkan data World Health dalam perawatan maupun pencegahan
Organization (WHO) dari 70% kesehatan pada anggota keluarga
penderita hipertensi yang di ketahui lainnya. Oleh sebab itu, keluarga harus
hanya 25% yang mendapat memiliki pengetahuan tentang hal
pengobatan, dan hanya 12,5% yang tersebut.
diobati dengan baik (adequately Pengetahuan merupakan hasil dari
treated cases) diperkirakan sampai tahu yang terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap 3.646 jiwa (Dinkes Kota Gorontalo,
suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2013).
2003). Sedangkan sikap adalah Di Poliklinik Penyakit Dalam
merupakan kesiapan atau kesediaan RSUD prof. Dr. Aloei saboe bahwa
untuk bertindak dan bukan merupakan kasus hipertensi selama tahun 2011
pelaksanaan motif tertentu sebanyak 992 jiwa dan pada tahun
(Notoatmodjo, 2007). 2012 kasus hipertensi sebanyak 1.013
Apabila pengetahuan seseorang jiwa.
semakin baik maka perilakunya pun Hipertensi bersifat diturunkan
akan semakin baik. Akan tetapi atau bersifat genetik. Individu dengan
pengetahuan yang baik tidak disertai keluarga hipertensi mempunyai risiko
dengan sikap maka pengetahuan itu dua kali lebih besar untuk menderita
tidak akan berarti (Notoatmodjo, hipertensi daripada individu yang tidak
2003). mempunyai keluarga dengan riwayat
Kurangnya pengetahuan akan hipertensi, sehingga pengetahuan serta
mempengaruhi pasien hipertensi untuk sikap dari keluarga tentang hipertensi
dapat mengatasi kekambuhan atau merupakan suatu hal yang sangat
melakukan pencegahan agar tidak penting untuk dimiliki, agar keluarga
terjadi komplikasi. Upaya pencegahan bisa menanggulangi penyakit
terhadap pasien hipertensi bisa hipertensi didalam keluarga itu sendiri.
dilakukan melalui mempertahankan Peningkatan kasus ini disebabkan
berat badan, menurunkan kadar antara lain karena rendahnya
kolesterol, mengurangi konsumsi kesadaran keluarga maupun
garam, diet tinggi serat, masyarakat untuk memeriksakan
mengkonsumsi buah-buahan dan tekanan darahnya secara dini tanpa
sayuran serta menjalankan hidup harus menunggu adanya gejala. Dari
secara sehat. (ridwan, 2009). salah satu penderita hipertensi yang
Berdasarkan data Dinas Kesehatan diwawancarai didapatkan bahwa
Provinsi Gorontalo kasus hipertensi hipertensi yang didapat dikarenakan
pada tahun 2011 laki laki 2154 jiwa oleh pola makan yang tidak sehat
dan wanita 3279 jiwa, tahun 2012 ataupun sembarangan dan kurangnya
penderita hipertensi laki-laki 5676 jiwa olahraga juga merupakan pemicu
dan wanita 8581 jiwa. Pada tahun terjadi peningkatan terhadap kasus ini.
2012 juga angka kematian yang
disebabkan oleh hipertensi laki 199 II. METODE PENELITIAN
jiwa dan wanita 112 jiwa (Dinkes Penelitian ini merupakan
Provinsi Gorontalo, 2013 ). penelitian deskriptif analitik dengan
Sedangkan kasus hipertensi di pendekatan cross sectional study
Dinas kesehatan Kota Gorontalo pada tentang hubungan pengetahuan dan
tahun 2011 berjumlah 5.370 jiwa, sikap keluarga tentang pencegahan
tahun 2012 kasus hipertensi naik hipertensi dengan kejadian hipertensi
berjumlah 5.681 jiwa, dari laki-laki di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
berjumlah 2.035 jiwa dan perempuan
Prof.DR. H. Aloei Saboe Kota Jenis Frekuen Persenta
Gorontalo. Kelamin si se (%)
Populasi dalam penelitian ini Laki-laki 32 47.8
adalah seluruh pasien yang datang di Perempuan 35 52.2
Poliklinik Penyakit Dalam RSUD Total 67 100.0
Prof.DR. H. Aloei Saboe Kota
Gorontalo. Sementara jumlah sampel Berdasarkan tabel 3.1 menunjukan
yang didapatkan sebanyak 67 sampel bahwa dari 67 responden yang datang
tetapi yang menjadi respondennya di poliklinik penyakit dalam untuk
yaitu salah satu anggota keluarga yang jenis kelamin laki-laki sebanyak 32
datang bersama pasien, dengan responden (47.8%) dan responden
menggunakan tehnik Accidental berjenis kelamin perempuan yaitu
Sampling. Tehnik analisis yang sebanyak 35 responden (52.2%).
digunakan dalam penelitian ini adalah b. Gambaran Responden Menurut
analisis univariat dan analisis bivariat. Kelompok Umur
Analisis Univariat dilakukan untuk Tabel 3.2 Distribusi frekuensi
mendeskripsikan masing-masing Responden berdasarkan Kelompok
variabel yaitu (variabel independen) Umur di Poliklinik Penyakit Dalam
pengetahuan keluarga tentang RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe
pencegahan hipertensi, sikap keluarga Kota Gorontalo
tentang pencegahan hipertensi dan
(variabel dependen ) kejadian Kelompok
hipertensi. Sedangkan analisis bivariat Frekuen Persenta
Umur
untuk melihat hubungan pengetahuan si se (%)
(Tahun)
keluarga tentang pencegahan
21 40 41 61.2
hipertensi dan kejadian hipertensi dan
41 60 26 38.8
melihat hubungan sikap keluarga
Total 67 100.0
tentang pencegahan hipertensi dengan
kejadian hipertensi
Berdasarkan tabel 3.2 diatas
III. HASIL PENELITIAN DAN menunjukan bahwa dari 67 responden
PEMBAHASAN yang datang di poliklinik penyakit
3.1 Hasil Penelitian dalam untuk kelompok Umur
3.1.1 Analisa Univariat responden 21-40 Tahun merupakan
a. Gambaran Responden Menurut responden yang paling banyak yaitu 41
Jenis Kelamin responden (61.2%) dan paling sedikit
Tabel 3.1Distribusi frekuensi kelompok umur 40-60 tahun yaitu 26
Responden berdasarkan jenis responden (38.8%).
kelamin di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe
Kota Gorontalo
c. Gambaran Responden Menurut Berdasarkan tabel 3.4 diatas
Status Keluarga menunjukan bahwa dari 67 responden
Tabel 3.3 Distribusi frekuensi yang datang di poliklinik penyakit
Responden berdasarkan Status dalam diperoleh hasil bahwa
Keluargadi Poliklinik Penyakit responden yang memiliki tingkat
Dalam RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe pendidikan tertinggi yaitu SMA
Kota Gorontalo sebanyak 25 responden (37.3%),
sedangkan responden yang memiliki
Status Frekuensi Persentase tingkat pendidikan terendah yaitu
Keluarga (%) Perguruan Tinggi sebanyak 12
Anak 15 22.4 responden (17.9%).
Istri 29 43.3 e. Gambaran Responden Menurut
Suami 14 20.9 Pekerjaan
Ibu 4 6.0 Tabel 3.5 Distribusi frekuensi
Ayah 3 4.5 Responden berdasarkan Pekerjaan
Saudara 2 3.0 di Poliklinik Penyakit Dalam
Total 67 100.0 RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe
Kota Gorontalo
Berdasarkan tabel 3.3 diatas
Pekerjaan Frekuens Persentas
menunjukan bahwa dari 67 responden
i e (%)
yang datang di poliklinik penyakit
IRT 24 35.8
dalam diperoleh hasil bahwa
responden yang paling banyak yaitu PNS 9 13.4
Istri sebanyak 29 responden (43.3%), Petani 7 10.4
sedangkan responden yang paling Wiraswasta 14 20.9
sedikit yaitu saudara kandung Pedagang 2 3.0
sebanyak 2 responden (3.0%). POLRI 1 1.5
d. Gambaran Responden Menurut Mahasiswa 5 7.5
Tingkat Pendidikan Tidak Ada 5 7.5
Tabel 3.4 Distribusi frekuensi Total 67 100.0
Responden berdasarkan Tingkat
Pendidikan di Poliklinik Penyakit Berdasarkan tabel 3.5 diatas
Dalam RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe menunjukan bahwa dari 67 responden
Kota Gorontalo yang datang di poliklinik penyakit
dalam, responden berdasarkan
Tingkat Freku Persenta pekerjaan yang paling banyak yaitu
Pendidikan ensi se (%) responden yang bekerja sebagai IRT
SD 17 25.4 yakni 24 responden (35.8%),
SMP 13 19.4 sedangkan yang paling sedikit yakni
SMA 25 37.3 anggota POLRI sebanyak 1 responden
Perguruan Tinggi 12 17.9 (1.5%).
Total 67 100.0
f. Gambaran Responden Menurut Berdasarkan tabel 3.7 menunjukan
Pengetahuan bahwa responden pada anggota
Tabel 3.6 Distribusi frekuensi keluarga pasien di poliklinik penyakit
Responden berdasarkan Tingkat dalam RSUD Prof.Dr Aloei saboe,
Pengetahuan di Poliklinik Penyakit didapatkan bahwa responden yang
Dalam RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe mempunyai sikap yang baik terhadap
Kota Gorontalo pencegahan hipertensi sebanyak 23
responden (34.3%), reponden yang
Tingkat Persentase mempunyai sikap yang cukup
Frekuensi
Pengetahuan (%) sebanyak 33 responden (49.3%), dan
Baik 40 59.7 responden yang mempunyai sikap
Cukup 18 26.9 yang kurang sebanyak 11 responden
Kurang 9 13.4 (16.4%).
Total 67 100.0 h. Gambaran Responden Menurut
Kejadian Hipertensi
Berdasarkan tabel 3.6 Tabel 3.8 Distribusi frekuensi
menunjukan bahwa dari 67 reponden pasien berdasarkan Kejadian
di poliklinik penyakit dalam RSUD Hipertensi di Poliklinik Penyakit
Prof.Dr Aloei Saboe didapatkan bahwa Dalam RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe
responden dengan pengetahuan baik Kota Gorontalo
sebanyak 40 responden (59.7%),
responden dengan pengetahuan cukup Kejadian Persentase
Frekuensi
sebanyak 18 responden (26.9%), dan Hipertensi (%)
sisanya responden dengan Tidak 38 56.7
pengetahuan kurang sebanyak 9 Hipertensi
responden (13.4%). Hipertensi 29 43.3
g. Gambaran Responden Menurut Total 67 100.0
Sikap
Tabel 3.7 Berdasarkan tabel 3.8 menunjukan
Distribusi frekuensi Responden bahwa responden berdasarkan kejadian
berdasarkan Sikap di Poliklinik hipertensi pada pasien di poliklinik
Penyakit Dalam RSUD Prof. Dr. penyakit dalam RSUD Prof.Dr Aloei
Aloei Saboe Kota Gorontalo Saboe, dari 67 responden didapatkan
responden anggota keluarganya yang
Sikap Frekuen Persentas tidak ada riwayat hipertensi sebanyak
Responden si e (%) 38 responden (56.7%), sedangkan
Baik 23 34.3 responden yang anggota keluarganya
Cukup 33 49.3 mempunyai riwayat hipertensi
Kurang 11 16.4 sebanyak 29 responden (43.3%).
Total 67 100.0
i. Gambaran kejadian hipertensi j. Gambaran kejadian hipertensi
berdasarkan kelompok umur berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3.9 Gambaran Kejadian Tabel 3.10Gambaran Kejadian
Hipertensi Berdasarkan Kelompok Hipertensi Berdasarkan Tingkat
Umur di Poliklinik Penyakit Dalam Pendidikandi Poliklinik Penyakit
RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe Dalam RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe
Kota Gorontalo Kota Gorontalo

Kejadian Kejadian
Kelomp
Hipertensi Hipertensi
ok Tingkat
Hiperte Tidak Jumlah Hiperte Tidak Jumlah
Umur Pendidi
nsi Hiperte nsi Hiperte
(Tahun kan
nsi nsi
)
n % n % n % n % n % n %
21- 40 18 43. 23 56. 41 100 SD 5 29. 12 70. 17 100
9 1 .0 4 6 .0
41- 60 11 42. 15 57. 26 100 SMP 5 38. 8 61. 13 100
3 7 .0 5 5 .0
Total 29 43. 38 56. 67 100 SMA 14 56. 11 44. 25 100
3 7 .0 0 0 .0
PT 5 41. 7 58. 12 100
Berdasarkan Tabel 3.9 , 5 3 .0
menunjukan bahwa dari 41 responden Total 29 43. 38 56. 67 100
yang kelompok umur 21-40 tahun 3 7 .0
terdapat 18 (43.9%) responden yang
anggota keluarga hipertensi dan 23 Berdasarkan Tabel 3.10 ,
(56.1%) tidak hipertensi. Untuk 25 menunjukan bahwa dari 12 responden
responden yang kelompok umur 41-60 yang berpendidikan perguruan tinggi
tahun yaitu 11 responden yang anggota terdapat 5 (41.3%) responden yang
keluarganya terdapat hipertensi anggota keluarga hipertensi dan 7
(42.3%), dan 15 tidak hipertensi (58.3%) tidak hipertensi. Untuk 25
(57.7%). responden yang berpendidikan SMA
yaitu 14 responden yang anggota
keluarganya terdapat hipertensi
(56.0%), dan 11 tidak hipertensi
(44.0%). Untuk 13 responden
berpendidikan SMP yaitu 5 responden
yang anggota keluarganya hipertensi
(38.5%) dan tidak hipertensi sebanyak
8 responden (61.5%). sedangkan untuk
17 responden yang berpendidikan SD
terdapat 5 responden yang anggota
keluarganya hipertensi (29.4%), dan
tidak hipertensi 12 responden (70.6%).
k. Gambaran Kejadian hipertensi responden yang anggota keluarganya
berdasarkan Pekerjaan hipertensi (42.9%) dan yang anggota
Tabel 3.11Gambaran Kejadian keluarganya tidak hipertensi sebanyak
Hipertensi Berdasarkan Tingkat 4 responden (57.1%). Untuk 14
Pekerjaan di Poliklinik Penyakit responden bekerja sebagai wiraswasta
Dalam RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe yaitu 7 responden yang anggota
Kota Gorontalo keluarganya hipertensi (50.0%) dan
responden yang anggota keluarganya
Kejadian Hipertensi tidak hipertensi sebanyak 7 responden
Hipertens Tidak (50.0%). Untuk 2 responden yang
Pekerjaa Jumlah
i Hiperten bekerja sebagai pedagang terdapat 2
n
si responden yang anggota keluarganya
n % n % n % hipertensi (100.%), dan tidak
IRT 7 29. 17 70. 24 100. ditemukan responden yang anggota
2 8 0
keluarganya tidak hipertensi. untuk
PNS 5 55. 4 44. 9 100.
anggota POLRI ditemukan 1
6 4 0
Petani 3 42. 4 57. 7 100.
responden yang anggota keluarganya
9 1 0 tidak hipertensi (100%). untuk 5
Wiraswas 7 50. 7 50. 14 100. responden ditemukan 2 orang
ta 0 0 0 mahasiswa yang anggota keluarganya
Pedagang 2 100 0 0.0 2 100. hipertensi (40%), dan 3 responden
.0 0 yang anggota keluarganya tidak
POLRI 0 0.0 1 0.0 1 100. hipertensi (60%). Sedangkan 5
0 responden bekerja sebagai wiraswasta
Mahasis 2 40. 3 60. 5 100. yaitu 3 responden yang anggota
wa 0 0 0 keluarganya hipertensi (60.0%) dan
Tidak 3 60. 2 40. 5 100. responden yang anggota keluarganya
Ada 0 0 0 tidak hipertensi sebanyak 2 responden
Total 29 43. 38 56. 67 100. (40.0%).
3 7 0
3.1.2 Analisis Bivariat
Berdasarkan Tabel 3.11 ,
1. Hubungan pengetahuan keluarga
menunjukan bahwa dari 24 responden
tentang pencegahan dengan
yang bekerja sebagai IRT terdapat 7
kejadian hipertensi
(29.2%) responden yang angggota
Tabel 3.12 Hubungan Pengetahuan
keluarga hipertensi dan 17 (70.8%)
Keluarga tentang Pencegahan
tidak hipertensi. Untuk 9 responden
dengan Kejadian Hipertensi di
yang bekerja sebagai PNS yaitu 14
Poliklinik Penyakit Dalam
responden yang anggota keluarganya
RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe
hipertensi (55.6%), dan 4 responden
Kota Gorontalo
yang anggota keluarganya tidak
hipertensi (44.4%). Untuk 7 responden
bekerja sebagai Petani yaitu 3
Kejadian Square hitung lebih besar dari Chi
Peng
Hipertensi p Square tabel. Sedangkan untuk nilai p
etahu Juml
Hiper Tidak V X value diperoleh sebesar 0.011 dimana
an ah 2
tensi Hiper al nilai p value lebih kecil dari nilai alpa
respo
tensi ue 0.05. Hal ini menyatakan bahwa H0
nden
n % n % n % ditolak yang artinya ada hubungan
Kuran 4 44 5 55 9 10
antara pengetahuan keluarga tentang
g .4 .6 0.
0
pencegahan dengan kejadian
Cuku 1 72 5 10 1 10 hipertensi.
p 3 .2 .2 8 0. 2. Hubungan sikap keluarga tentang
0. 9. pencegahan dengan kejadian
0
01 02 hipertensi
Baik 1 30 2 70 4 10
1 0
2 .0 8 .0 0 0. Tabel 3.13Hubungan Sikap
0 Keluarga tentang Pencegahan
Total 2 43 3 56 6 10 dengan Kejadian Hipertensi di
9 .3 8 .7 7 0. Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
0 Prof. Dr. Aloei Saboe
Kota Gorontalo
Berdasarkan tabel 3.12,
menunjukan bahwa dari 40 responden Kejadian
yang berpengetahuan baik tentang Sika Hipertensi
pencegahan yaitu yang anggota p Hipe Tida Jumla p
keluarganya tidak hipertensi 28 X2
Res rtensi k h Val
responden (70.0%), dan yang anggota pon Hipe ue
keluarganya hipertensi sebanyak 12 den rtensi
responden (30.0%). Untuk 18 n % n % n %
responden yang berpengetahuan cukup Kura 8 7 3 2 1 100
yaitu 5 responden yang anggota ng 2. 7. 1 .0
keluarganya tidak hipertensi (27.8%), 7 3
dan 13 responden yang anggota Cuk 1 4 1 5 3 100
keluarganya memiliki hipertensi up 6 8. 7 1. 3 .0
(72.2%). Sedangkan 9 responden 5 5 0.0 8.59
berpengetahuan kurang yaitu 5 Baik 5 2 1 7 2 100 14 7
responden yang anggota keluarganya 1. 8 8. 3 .0
tidak hipertensi (55.6%) dan 7 3
responden yang anggota keluarganya
Tota 2 4 3 5 6 100
menderita hipertensi sebanyak 4
l 9 3. 8 6. 7 .0
responden (44.4%).
3 7
Berdasarkan hasil analisis pada
tabel 4.12 diatas yang diperoleh nilai
Berdasarkan tabel 3.12,
Chi Square hitung (9.020) sedangkan
menunjukan bahwa 23 responden yang
nilai Chi Square tabel (5.991). pada
bersikap baik tentang pencegahan
penelitian ini diperoleh nilai Chi
terhadap anggota keluarga yang tidak yang datang di poliklinik penyakit
hipertensi 18 responden (78.3%) dalam untuk yang berjenis kelamin
dibandingkan dengan responden yang laki-laki sebanyak 32 responden
anggota keluaranya hipertensi yakni 5 (47.8%) dan responden berjenis
responden (21.7%). Untuk 33 kelamin perempuan yaitu sebanyak 35
responden yang bersikap cukup responden (52.2%). Hal ini
tentang pencegahan terhadap anggota dikarenakan responden yang datang
keluarga yang tidak hipertensi yakni bersama anggota keluarganya yang
17 responden (51.5%) dan yang sakit di poliklinik lebih banyak suami
anggota keluarganya hipertensi yakni istri.
16 responden (48.5%). sedangkan 11 Menurut Karyadi (2002),
responden yang bersikap kurang menyatakan bahwa dimana kejadian
tentang pencegahan pada anggota hipertensi biasanya lebih banyak pada
keluarga yang tidak hipertensi yakni 3 laki-laki dari pada perempuan,
responden (27.3%) dibandingkan dikarenakan laki-laki memiliki gaya
dengan responden yang anggota hidup yang cenderung meningkatkan
keluarganya hipertensi sebanyak 8 tekanan darah. Namun pada
responden (72.7%). perempuan dewasa mempunyai
Berdasarkan hasil analisis pada prevalensi hipertensi yang lebih tinggi
tabel 4.13 diatas yang diperoleh nilai dari pada laki-laki hal ini umumnya
Chi Square hitung (8.597) sedangkan disebabkan karena perempuan
nilai Chi Square tabel (5.991). pada mengalami kehamilan dan
penelitian ini diperoleh nilai Chi menggunakan alat kontrasepsi
Square hitung lebih besar dari Chi hormonal.
Square tabel. Sedangkan untuk nilai p Berdasarkan kelompok Umur
value diperoleh sebesar 0.014 dimana responden menunjukan bahwa dari 67
nilai p value lebih kecil dari nilai alpa responden yang datang di poliklinik
0.05. Hal ini menyatakan bahwa H0 penyakit dalam diperoleh hasil bahwa
ditolak yang artinya ada hubungan responden yang lebih banyak yaitu
antara sikap keluarga tentang responden kelompok umur 21-40
pencegahan dengan kejadian yakni 41 responden (61.2%),
hipertensi. sedangkan yang terkecil responden
yang kelompok umur 41-60 sebanyak
3.2 Pembahasan 26 responden (38.8%).
Berdasarkan hasil penelitian Menurut Notoatmodjo (2003),
tentang hubungan pengetahuan dan umur merupakan salah satu faktor
sikap keluarga tentang pencegahan yang mempengaruhi pembentukan
hipertensi dengan kejadian hipertensi di pengetahuan, makin tua umur
poliklinik penyakit dalam RSUD seseorang makin konstruktif dalam
Prof.Dr Aloei Saboe Kota Gorontalo. menggunakan koping terhadap
1. Karakteristik Responden masalah yang dihadapi.
Dari hasil penelitian menunjukan Dari segi pendidikan menunjukan
bahwa jenis kelamin dari 67 responden bahwa dari 67 responden yang datang
di poliklinik penyakit dalam diperoleh kepercayaan, nilai-nilai, tradisi. pada
hasil bahwa responden yang memiliki seseorang dengan pengetahuan rendah
tingkat pendidikan tertinggi yaitu dan berdampak pada perilaku
SMA sebanyak 25 responden (37.3%), pencegahan pada penderita hipertensi.
sedangkan responden yang memiliki Seseorang dengan pengetahuan yang
tingkat pendidikan terendah yaitu cukup tentang perilaku pencegahan
Perguruan Tinggi sebanyak 12 hipertensi maka secara langsung akan
responden (17.9%). dengan demikian bersikap positif.
pendidikan sangat penting bagi berkaitan dengan keluarga,
masyarakat, karena masyarakat yang Keluarga merupakan unit terkecil
berpendidikan akan mempunyai yang dapat mempengaruhi kelompok
pengetahuan yang baik dan bisa yang lebih besar termasuk masyarakat.
mencegah masalah kesehatan yang di Anggota keluarga yang memiliki
dapatkan. pengetahuan baik terhadap pencegahan
Berdasarkan Notoatmodjo (2003) hipertensi akan memberikan pengaruh
mengatakan bahwa tingkat pendidikan terhadap anggota keluarga yang lain.
menentukan mudah tidaknya Keluarga memiliki tugas dalam
menyerap dan memahami pengetahuan menunjang kesejahteraan dan
yang mereka peroleh dan pada kesehatan setiap anggota keluarganya
umumnya semakin tinggi pendidikan masing-masing. Seperti di jelaskan
seseorang semakin baik oleh Friedman dikutip oleh Wahit
pengetahuannya. (2006), dalam buku bahwa orang tua
Sebagian besar responden yang perlu mengenal keadaan kesehatan dan
datang di poliklinik penyakit dalam perubahan-perubahan yang dialami
bekerja sebagai IRT yakni 24 anggota keluarga. Selain itu, tugas dari
responden (35.8%), sedangkan yang keluarga adalah membuat keputusan
paling sedikit yakni anggota POLRI tindakan kesehatan yang tepat.
sebanyak 1 responden (1.5%), Berdasarkan hasil penelitian
Hal ini berarti bahwa sebagian menunjukan bahwa pengetahuan
besar responden yang datang di keluarga tentang pencegahan
poliklinik penyakit dalam adalah mempunyai hubungan dengan kejadian
responden yang sudah tidak bekerja hipertensi, dimana uji chi square yang
lagi, ini dikarenakan sebagian besar dilakukan terhadap pengetahuan
responden ini adalah ibu-ibu rumah responden dengan kejadian hipertensi
tangga. di dapat hasil analisis data yang di
2. Pengetahuan Keluarga tentang peroleh nilai Chi Square hitung
Pencegahan dengan Kejadian (9.020) sedangkan nilai Chi Square
Hipertensi tabel (5.991), maka dalam penelitian
Faktor predisposisi (predisposing ini diperoleh nilai Chi Square hitung
faktors) merupakan faktor yang sangat lebih besar dari Chi Square tabel.
mempermudah atau mempredisposisi Sedangkan untuk nilai p value
terjadinya perilaku seseorang, antara diperoleh sebesar 0.011 dimana nilai p
lain pengetahuan, sikap, keyakinan, value lebih kecil dari nilai alpa 0.05.
Hal ini menyatakan bahwa H0 ditolak enak, sehingga perlu kesadaran
dan Ha diterima yang artinya ada masyarakat terhadap hal-hal yang
hubungan yang signifikan antara harus dilakukan pada anggota
pengetahuan keluarga tentang keluarganya hipertensi. Seperti,
pencegahan dengan kejadian mengurangi asupan garam disetiap
hipertensi. makanan yang dimasak, mengurangi
Berdasarkan gambaran makanan yang bersantan, serta
pengetahuan keseluruhan didapatkan makanan-makanan dalam kemasan
ada 40 responden atau 59.7% yang yang dapat menaikan tekanan darah.
berpengetahuan baik dari 67 Selain itu juga responden kurang
responden. mengetahui bahwa untuk mengontrol
Sedangkan berdasarkan hubungan hipertensi harus dilakukan pengukuran
pengetahuan keluarga dengan kejadian tekanan darah minimal 1 minggu/bulan
hipertensi untuk 29 responden yang sekali, jadi hal ini memerlukan
pasien hipertensi sebagian besar pengawasan dari keluarga tersebut.
berpengetahuan cukup yakni 13 Tetapi sebagian besar yang peneliti
responden. dan 38 responden yang dapatkan ternyata responden
pasien tidak hipertensi sebagian besar mendampingi anggota keluarganya ke
berpengetahuan baik yakni 28 poliklinik pada saat timbul tanda dan
responden. gejala hipertensi.
Hal ini menunjukkan bahwa Hal ini sesuai dengan teori
semakin rendah pengetahuan keluarga Notoatmodjo (2003), pengetahuan
maka peluang untuk terkena hipertensi yang baik dan sikap yang tepat
semakin tinggi, begitupun sebaliknya, mendorong keluarga untuk berperilaku
ditunjang dengan kesadaran yang baik yang tepat dalam hal ini pencegahan
serta perspesi yang benar juga akan pada penderita hipertensi, dimana
berdampak terhadap upaya perilaku biasanya dipengaruhi oleh
pencegahan yang baik pula. Ini respon individu terhadap stimulus atau
terbukti dari hasil wawancara peneliti pengetahuan yang bersifat baik,
dengan responden didapatkan sedang, buruk, positif, negatif yang
pengetahuan responden tentang tergantung bagaimana reaksi individu
hipertensi ini hanya pada batas untuk merespon terhadap suatu
mengetahui saja. Namun belum stimulus yang ada pada suatu tindakan
memiliki kesadaran dalam hal atau perilaku.
pencegahan terhadap hipertensi. Hal Terlihat juga dari segi pendidikan
ini disebabkan sebagian besar bahwa sebagian besar yaitu 14
hipertensi masih dinggap penyakit responden mempunyai anggota
yang kurang berbahaya, mereka tidak keluarga hipertensi dari 25 responden
melihat dampak selanjutnya dari yang berpendidikan SMA, hal ini
hipertensi tersebut. hal ini terlihat dari berbanding terbalik dengan responden
sebagian responden yang mengatakan yang berpendidikan SD dimana ada 12
bahwa masakan yang tidak dibumbui responden yang keluarganya tidak
dengan garam masakan itu tidak hipertensi dari 17 responden, karena
banyak juga responden yang Peran serta keluarga serta tanda-tanda
berpendidikan SD mempunyai yang perlu diwaspadai. Dengan
pengetahuan yang baik. sehingga tidak pengetahuan tersebut diharapkan
selamanya pendidikan keluarga yang keluarga dapat bermotivasi untuk
tinggi bisa meminimalkan kejadian menjaga dengan baik.
hipertensi, begitupun sebaliknya pada Dengan demikian dapat
keluarga yang berpendidikan rendah. disimpulkan bahwa pengetahuan
Hal ini juga di sebabkan karena berhubungan dengan kejadian
ditinjau dari segi pekerjaan bahwa hipertensi. Semakin baik pengetahuan
yang berpendidikan SD sebagian besar keluarga maka akan semakin baik
bekerja sebagai IRT, sehingga perawatan yang diberikan kepada
informasi-informasi yang didapat dari pasien hipertensi, demikian pula
tetangga, masyarakst, dan petugas sebaliknya.
kesehatan tentang hipertensi lebih 3. Sikap Keluarga Tentang
banyak diketahui dibandingkan dengan Pencegahan dengan Kejadian
orang yang berpedndidikan SMA yang Hipertensi
sebagian besar terlalu banyak Sikap belum merupakan suatu
mengurusi pekerjaannya, sehingga tindakan atau aktifitas, akan tetapi
informasi yang didapat tetang merupakan predisposisi tindakan suatu
hipertensi lebih sedikit atau bahkan perilaku. suatu sikap pada diri individu
tidak ada karena kesibukannya untuk belum tentu terwujud dalam suatu
bekerja. tindakan nyata. sikap tidak dapat
Terbatasnya pengetahuan tetang langsung dilihat, tetapi hanya dapat
pencegahan hipertensi berpengaruh ditafsirkan terlebih dahulu dari
langsung pada perilaku sehari-hari perilaku tertutup (sunaryo, 2004).
yang bisa mengakibatkan tidak dengan demikian sikap salah satu
terkontrolnya tekanan darah dan dapat faktor yang sangat berpengaruh
menyebabkan hipertensi kembali. terhadap nilai kesehatan individu serta
Menghadapi hal tersebut maka perlu dapat menentukan cara pencegahan
dipikirkan upaya untuk meningkatkan yang tepat untuk penderita hipertensi.
pengetahuan keluarga maupun Berdasarkan hasil analisis
penderita hipertensi. misalnya petugas diperoleh nilai Chi Square hitung
kesehatan memberi penjelasan yang (8.597) sedangkan nilai Chi Square
mendetail tentang hal-hal yang tabel (5.991), maka diperoleh nilai Chi
berhubungan dengan hipertensi. Square hitung lebih besar dari Chi
Hal ini sinkron dengan pendapat Square tabel. Sedangkan untuk nilai p
yang dikemukakan oleh Watson value diperoleh sebesar 0.014 dimana
(2003), bahwa pengetahuan keluarga nilai p value lebih kecil dari nilai alpa
tentang perawatan maupun dalam 0.05. Hal ini menyatakan bahwa H0
pencegahan bagian terpenting dalam ditolak dan Ha diterima yang artinya
memperbaiki kesehatan tersebut yang ada hubungan antara sikap tentang
mencakup pengetahuan mengenai pencegahan dengan kejadian
perawatannya maupun pencegahannya. hipertensi. Dengan demikian untuk
meningkatkan kekuatan dalam hipertensi merupakan penyakit seumur
melakukan pencegahan pada penderita hidup dan perawatannya pun seumur
hipertensi salah satunya dengan hidup. Dengan demikian diperlukan
adanya keterlibatan, dimana keluarga pencegahan secara maksimal, salah
dapat melakukan pencegahan dengan satunya yang sangat berpengaruh yaitu
tujuan untuk meningkatkan kesehatan kebiasaan pola makan dimana semakin
pasien hipertensi sehari-harinya dan tidak sehat pola makan seseorang
tercipta status kesehatan yang optimal. maka peluang untuk terjadinya
Berdasarkan hasil tersebut kejadian hipertensi semakin tinggi.
peneliti berpendapat bahwa dari 29 Hal ini juga sesuai dengan teori
responden yang anggotanya hipertensi sunaryo(2004), mengungkapkan
ada sebagian besar mempunyai sikap bahwa sikap yang dimiliki baik
yang cukup dan kurang. Hal ini keluarga maupun penderita sendiri
dikarenakan sikap dari keluarga yang atau perilaku tersebut akan
kurang memperhatikan anggota memberikan dampak pada kesehatan
keluarga yang hipertensi. Hal itu penderita itu sendiri. pengalaman
dibuktikan dari pekerjaan responden pribadi menjadi dasar pembentukan
yaitu lebih banyak di luar rumah dari sikap seseorang yang akan
dibandingkan didalam rumah, itu membawa pengaru terhadap kesehatan.
terlihat dari tingginya pekerjaan PNS
maupun wiraswasta, sehingga pasien IV. SIMPULAN DAN SARAN
hipertensi jarang mendapat perhatian 4.1 Simpulan
lebih dari keluarga tersebut. Begitu Sesuai dengan pembahasan hasil
juga pada pola makan pasien penelitian terhadap 67 responden
hipertensi, keluarga kurang tetang hubungan pengetahuan dan
memperhatikan dan membiarkan sikap keluarga tentang pencegahan
pasien hipertensi mengkonsumsi hipertensi dengan kejadian hipertensi
makanan-makanan yang mengandung di poliklinik penyakit dalam RSUD
kolesterol atau berlemak, garam serta Prof.DR. Aloei Saboe Kota Gorontalo
makanan-makanan yang berkemasan, di dapatkan kesimpulan bahwa
sehingga pola makan dari pasien Terdapat hubungan yang signifikan
tersebut tidak sehat dan menyebabkan antara pengetahuan keluarga tentang
terjadinya hipertensi. pencegahan hipertensi dengan
Dengan demikian, Sikap keluarga kejadian hipertensi, dengan p value
yang perduli sangat diperlukan untuk 0.011, Terdapat hubungan yang
menghadapi yang membutuhkan signifikan antara sikap keluarga
perhatian. dalam dukungan emosional tentang pencegahan hipertensi dengan
yang meliputi rasa empati, kepedulian kejadian hipertensi, dengan p value
dan perhatian terhadap anggota 0.014.
keluarga yang sakit. Dengan perhatian 4.2 Saran
yang lebih maka penderita hipertensi Bagi Rumah Sakit diharapkan
merasa tidak sendiri dalam selalu meningkatkan pelayanan
menghadapi penyakit, karena penyakit terhadap masyarakat khususnya
penderita hipertensi, seperti melakukan Volume 1 Edisi 8. EGC :
penyuluhan tentang hipertensi Jakarta.
sehingga akan meningkatkan kualitas
asuhan keperawatan dan kualitas hidup Corwin, Elizabeth. 2005. Buku Saku
penderita di Rumah Sakit Umum Patofisiologi. EGC : Jakarta.
Daerah (RSUD) Prof. Dr. Hi. Aloe
Saboe. Diehl, Hans. 2007. Waspadai Diabetes
Bagi keluarga diharapakan selalu Kolesterol Hipertensi.
memberikan dukungan dan perhatian Indonesia Publishing house :
serta selalu memberikan informasi- Bandung.
informasi yang berkaitan dengan
hipertensi sehingga akan Gray, H,H, dkk. 2005. Lecture Notes
meningkatkan derajat kesehatan Kardiologi, edisi 4. Erlangga :
penderita. Jakarta.
Bagi pasien diharapkan selalu
mempertahankan dan meningkatkan Knight, John, F. 2006. Jantung Kuat
kesehatan serta menjalani pola makan Bernafas Lega, volume 3.
yang sehat dan seimbang agar tekanan Indonesia Publishing House :
darah tetap normal. Bandung.
Bagi peneliti selanjutnya Sebagai
masukan data dan sumbangan Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu
pemikiran perkembangan pengetahuan Perilaku Kesehatan. Rineka
untuk peneliti selanjutnya. Cipta : Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu


Kesehatan Masyarakat :
Alimul, Azis. 2011. Metode Penelitian prinsip-prinsip dasar. Rineka
Keperawatan dan Tehnik Cipta : Jakarta
Analisa Data. Salemba
Medika : Jakarta. Setiadi, 2013. Konsep Dan Praktik
Penulisan Riset Keperawatan
Andarmoyo, Sulistyo. 2012. Edisi 2. Graha Ilmu :
Keperawatan Keluarga Yogyakarta
Konsep Teori, Proses dan
Praktik Keperawatan. Graha Soeharto, Iman. 2004. Serangan
Ilmu : Yogyakarta. Jantung dan Stroke
Hubungannya dengan Lemak
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur dan Kolesterol, Edisi 2.
Penelitian. Edisi Revisi V. Gramedia Pustaka Utama :
rineka cipta : Yogyakarta. Jakarta.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Suprajitno. 2004. Asuhan keperawatan
Keperawatan Medikal Bedah. keluarga, aplikasi dalam
praktik. Monica ester. EGC : Diakses tanggal 23 maret
Jakarta. 2013.

Ginting, Firdayani. 2010. Hubungan Saputro, H,T. 2009. Hubungan tingkat


antara pengetahuan dengan pengetahuan tentang
cara pencegahan hipertensi hipertensi dengan sikap
pada lansia di kecamatan kepatuhan minum dalam
medan Johor. Diakses tanggal menjalankan diit hipertensi di
9 maret 2013. Wilayah Andong Kabupaten
Boyolali. Diakses tanggal 18
Kementrian Kesehatan Republik maret 2013.
Indonesia, 2012. Masalah
Hipertensi Di Indonesia. Wijaya,I.P.A. 2009. Hubungan gaya
Diakses : 23 maret 2013. hidup dengan kejadian
hipertensi pada pasien rawat
Poerwati, Ririn. 2008. Hubungan jalan di poli penyakit dalam
stress kerja terhadap rumah sakit kepolisian pusat
hipertensi pada pegai Dinas raden said sukanto. Diakses 9
Kesehatan Kota Pekanbaru. maret 2013.