Anda di halaman 1dari 20

7

femoris dan caput fibula. Tibia memiliki ujung atas yang melebar dan

ujung bawah yang lebih kecil, serta sebuah korpus.9

4. Tulang Fibula

Merupakan tulang pipa yang terbesar sesudah tulang paha yang

membentuk persendian lutut dengan os femur pada bagian ujungnya.

Terdapat tonjolan yang disebut os maleolus lateralis atau mata kaki luar.9

Gambar 2.1 Anatomi lutut normal (R.Putz dan R.Pabst,2007)

Tulang-tulang yang membentuk sendi lutut difikasikan oleh dua

ligamentum secara garis besar yaitu ligamentum ekstracapsular dan

ligamentum intracapsuler. Ligamentum ekstracapsular terdiri dari ligamen

patella, ligamentum collaterale fibulare, ligamentum collaterale tibiae,

ligamentum obliquum dan ligamentum tranversum genu, sedangkan


8

ligamentum intracapsular terdiri dari ligamentum cruciatum anterior dan

ligamentum cruciatumposterior.9

Selain ligamentum, sendi lutut juga dibentuk oleh kartilago

semilunaris atau meniscus. Kartilago semilunaris ini adalah lamella

fobrocartilago berentuk huruf C, yang pada potongan melintang

berbentuk segitiga. Fungsi meniscus ini adalah memperdalam fascies

articularis condylus tubialis untuk menerima condylus femoris yang

cekung.9

Sendi lutut termasuk dalam jenis sendi engsel, yaitu pergerakan dua

condylus femoris diatas condylus tibia. Gerakan yang dapat dilakukan

sendi ini yaitu gerakan fleksi, ekstensi, dan sedikit rotasi. Jika terjadi

gerakan yang melebihi kapasitas sendi maka akan dapat menimbulkan

cedera yang akan menyebabkan robekan pada kapsul atau ligamentum

disekitar sendi.9

2.2 Osteoartritis Lutut

2.2.1 Definisi

Osteoartritis genu adalah gangguan sendi pada sendi lutut yang

bersifat kronis disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi

dan perlunakan progresif, diikuti dengan pertambahan tulang rawan sendi

yang disebut osteofit serta terjadinya fibrosis pada kapsul sendi.10


9

Osteoartritis sering terjadi pada usia pertengahan sampai usia lanjut.

Saat ini diketahui bahwa OA adalah penyakit yang melibatkan seluruh

komponen sendi, termasuk kartilago, ligamen dan tulang.4

2.2.2 Klasifikasi

Berdasarkan penyebabnya, osteoartritis dibedakan menjadi dua jenis

yaitu OA primer dan OA sekunder. Osteoartritis primer adalah jenis OA

yang tidak diketahui secara pasti penyebabnya atau biasanya disebut

idiopatik. Osteoartritis primer atau idiopatik dapat dibedakan lagi

berdasarkan tempatnya, yaitu lokal dan menyeluruh (generalized

osteoarthritis). Osteoartritis primer lokal biasanya terjadi di beberapa

tempat, yaitu:

1. Tangan : Benjolan Herbenden dan Bouchard, osteoarthritis erosif.

2. Kaki : Halux Valgus, Halux Rigidus

3. Lutut : Kompartemen Medial, kompartemen lateral, dan kompartemen

patelofemoralis.

4. Pinggul : eksentrik, konsentrik, dan difus.

5. Tulang Belakang : sendi intervertebrata, spondilosis dan sendi

apophyseal.

6. Bagian tunggal lainya : glenuhumeral, tibiotalar, sakroiliak.1

Berbada dengan OA primer, OA sekunder adalah jenis OA yang

didasari oleh kelainan tertentu seperti : kelaian endokrin, inflamasi,

metabolik, trauma dan herditer.11


10

Secara radiologis, OA genu klasifikasikan menjadi 5 grade yaitu 0-4

menurut Kallgren-Lawrence yang dibedakan berdasarkan gambaran

osteofit, jarak antara sendi, sklerosis subkondral dan kista yang

terbentuk.11 Hal ini seperti tercantum pada tabel 2.1

Grade Klasifikasi Deskeripsi

0 Normal tidak ada gambaran osteoartritis


1 Meragukan gambaran sendi normal, tetapi terdapat
osteofit minimal
2 Ringan ostefit kecil, kemungkinan penyempitan
sendi
3 Sedang osteofit sedang, deformitas ujung tulang, dan
celah sendi sempit
4 Berat osteoartritis berat dengan osteofit besar,
deformitas ujung tulang, celah sendi hilang,
serta adanya sklerosis dan kista subkondral
Tabel 2.1 Klasifikasi derajat OA lutut berdasarkan Kellgren-Lawrence.11

2.2.3 Etiologi

Secara garis besar faktor resiko untuk timbulnya OA (perimer)

seperti dibawah ini:

a. Umur

Dari semua faktor resiko untuk timbulnya OA, faktor ketuaan

adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya OA semakin meningkat

dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-

anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60
11

tahun. Akan tetapi harus diingat bahwa OA bukan akibat ketuaan saja.

Perubahan tulang rawan sendi pada ketuaan berbeda perubahan pada OA.12

b. Jenis kelamin

Wanita lebih sering terkenak OA lutut dan OA banyak sendi, dan

lelaki lebih sering terkena OA paha, pergelangan tangan dan leher. Secara

keseluruhan, dibawah 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama pada laki-

laki dan wanita, tetapi diatas 50 tahun (setelah menopause) frekuensi OA

lebih banyak pada wanita dari pada pada pria. Hal ini menunjukan adanya

peran hormonal pada patogenesis OA.12

c. Suku bangsa

Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada OA nampaknya terdapat

perbedaan diantara masing-masing suku bangsa. Misalnya, OA lebih

jarang diantara orang-orang kulit hitam dan Asia dari pada Kaukasia. OA

lebih sering dijumpai pada orang-orang Amerika asli (indian) dari pada

orang-orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara

hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan

pertumbuhan.12

d. Genetik

Faktor herediter juga berperan pada timbulnya OA minsalnya, pada

ibu dari seorang wanita dengan OA pada sendi-sendi interfalang distal

(nodus herberden) terdapat dua kali lebih sering OA pada sendi-sendi

tersebut, dan anak-anak nya perempuan cenderung mempunyai tiga kali

lebih sering. Dari pada ibu dan anak perempuan-perempuan dari wanita
12

tanpa OA tersebut. Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen

struktural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe

IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan diakatakan berperan dalam

timbulnya kecendrungan familial pada OA tertentu (terutama OA banyak

sendi).12

e. Kegemukan dan penyakit metabolik

Berat badan yang berlebih nyata berkaitan dengan meningkatnya

risiko untuk timbulnya OA baik pada wanita maupun pada pria.

Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan OA pada sendi yang

menanggung beban, tapi juga dengan OA sendi lain (tangan atau

sternoklavikula). Oleh karna itu disamping faktor mekanis yang berperan

(karena meningkatnya beban mekanis), diduga terdapat faktor lain

(metabolik) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut.12

f. Cedera sendi, pekerjaan dan olah raga

Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus

menerus (minsalnya tukang pahat, pemetik kapas) berkaitan dengan

peningkatan resiko OA tertentu. Demikian juga cidera sendi dan olahraga

yang sering menimbulkan cidera sendi risiko OA yang lebih tinggi. Peran

beban benturan yang berulang pada timbulnya OA masi menjadi

pertentangan. Aktivitas-aktivitas tertentu dapat menjadi predisposisi OA

cidera traumatik (minsalnya robeknya meniscus, ketidak stabilan ligamen)

yang dapat mengenai sendi. Akan tetapi selain cidera yang nyata, hasil-

hasil penelitian tidak menyokong pemakaian yang berlebihan sebagai


13

suatu faktor untuk timbulnya OA. Meskipun demikan, beban benturan

yang berulang dapat menjadi suatu faktor penentu lokasi pada orang-orang

yang mempunyai predisposisi OA dan dapat berkaitan dengan

perkembangan dan beratnya OA.12

g. Kalainan pertumbuhan

Kelianan kongenital dan pertumbuhan paha (minsalnya penyakit

perthes dan dislokasi kongenital paha) telah dikaitkan dengan timbulnya

OA paha pada usia muda. Mekanisme ini juga diduga berperan pada lebih

banyaknya OA paha pada laki-laki dan ras tertentu.12

2.2.4 Patogenesis

Proses menua sering dikaitkan dengan terjadinya OA dan menjadi

suatu hal yang tidak dapat dihindari. Saat ini diketahui, OA merupakan

gangguan hemoastasis dari metabolisme kartilago dengan kerusakan

struktur proteoglikan yang penyebabnya belum diketahui secara pasti.11

Kerusakan yang terjadi pada sendi lutut secara vokal adalah merupakan

karateristik OA lutut secara khas. Meskipun permulaan terjadi OA lutut

hanya terorganisir pada sendi lutut saja, proses patologi di seluruh sendi

termasuk tulang, ligamen, sinovium, dan jaringan adiposa juga harus

menjadi pertimbangan.13

Sendi sinovial atau sendi diartodial adalah suatu kompleks organ

yang memungkinkan suatu sendi dapat bergerak bebas. Sendi sinovial

terdiri atas kartilago sendi, sinovium, kapsul, cairan sinoval, tulang


14

subkondral, ligamen, meniskus, dan patella. Setiap dari komponen sendi

sinovial tersebut memiliki fungsi spesifik yang berkorelasi satu dan yang

lainnya membentuk suatu kompleks organ yang memungkinkan suatu

sendi dapat bergerak bebas.14

Peradangan pada OA adalah peradangan yang melibatkan jaringan

pada sendi sinovila atau peradangan yang terjadi pada kartilago sendi saat

dimana kondrosit memproduksi mediator radang seperti sitokin dan

kemokin. Walaupun OA merupakan suatu proses peradangan yang terjadi

pada sendi, OA berbeda dengan penyakit peradangan sendi lain seperti

radang sendi kronis dan rematoid artritis (RA). Hal ini dibuktikan dengan

kadar sitokoin lebih rendah pada OA dibandingkan radang sendi lain

seperti pada RA.1

Patogenesis OA tidak hanya melibatkan proses degeneratif saja,

namun melibatkan hasil kombinasi antara degredasi kartilago, romodelling

tulang dan inflamsi sendi. Osteoartritis dapat diakibatkan oleh proses

biokimiawi dan biomekanis. Jejas mekanis dan kimiawi pada sinovia sendi

terjadi karena disebabkan oleh berbagai faktor antara lain: faktor umur,

stres mekanik atau penggunaan sendi berlebihan, defek mekanik, obesitas,

genetik, humoral dan faktor kebudayaan. Jejas mekanik dan kimiawi ini

diduga merupakan faktor penting yang merangsang terbentuknya molekul

abnormal dan produk degradasi kartilago di dalam cairan sinovial sendi

yang mengakibatkan terjadinya inflamasi sendi, kerusakan kondrosit, dan

nyeri.12
15

Pada pasien OA khususnya OA lutut terjadi peningkatan aktivitas

fibrinogenik dan penurunan aktivitas fibrinolitik pada rawan sendinya.

Proses ini akan menyebabkan terjadinya penumpukan trombus dan

kompleks lipid pada pembuluh darah subkondral yang menyebabkan

terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan subkondral tersebut. Mediator

kimia seperti prostagladin interleukin akan terlepas akibat iskemia dan

nekrosisnya jaringan subkondral tersebut yang selanjutnya akan

menimbulkan nyeri tulang (bone angina) lewat subkondral yang diketahui

mengandung ujung saraf sensibel yang dapat menghantarkan rasa sakit

atau nyeri. Penyebab rasa sakit itu juga akibat dilepasnya mediator kimia

seperti kinin dan prostaglandin yang menyebabkan radang sendi,

peregangan tendon atau legamentum serta spasmus otot-otot eksterna

artikuler akibat kerja yang berlebihan. Adanya osteofit yang menekan

periosteum dan radiks saraf yang berasal dari medula spinalis serta

kenaikan tekanan vena intrameduler akibat stasis vena intrameduler yang

disebkan oleh proses remodeling pada trabekula dan subkondral juga dapat

menimbulkan nyeri pada sendi penderita OA.12

2.2.5 Manifestasi Klinis

Osteoartritis bukanlah suatu keadaan yang mengacam kehidupan,

namun keterbatasan fungsi untuk melakukan aktivitas sehari-hari

menimbulkan efek negatif yang dapat menurunkan kualiatas hidup


16

danproduktifitas penderita.15 Beberapa hal yang menjadi keluhan pasien

OA adalah:

1. Nyeri sendi

Nyeri sendi adalah gejala klinis utama pada osteoartritis khususnya

pada lutut serta merupakan faktor penting untuk menentukan terapi medis

yang akan dilakukan. Nyeri pada OA tidak hanya berhubungan dengan

penurunan kualitas hidup tetapi juga merupakan penyebabkan utama

gangguan pergerakan pada usia lanjut di Amerika.16 Studi terkini

membuktikan bahwa nyeri pada OA memburuk saat berjalan hingga 2 jam

setelahnya dan menjadi semakin buruk ketika sore hari atau awal malam,

kemudian akan berkurang saat malam hari. Nyeri ada OA bukan berasal

dari kartilago hialin sendi, namun berasal dari nosiseptor dan

mekanoreseptor yang tedapat pada kapsul, tulang subkondral, periosteum,

tendon dan legamen.17

2. Perubahan gaya berjalan

Hampir semua pasien OA mengalami perubahan gaya berjalan

akibat nyeri yang dirasakan. Pada usia tua, gangguan berjalan dan

gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman besar untuk

kemandirian pada penderita OA. Pasien OA pada pergelangan kaki, tumit,

lutut, atau panggul hampir semua akan berkembang menjadi pincang.12

3. Kaku pagi

Kekakuan adalah keluhan yang merupakan hal yang menjadi

masalah pada pasien OA. Kekakuan pada pasien OA bisanya timbul


17

setelah sendi tidak bergerak untuk beberapa waktu tertentu (imobilisasi).

Duduk dikursi atau mobil dalam waktu yang cukup lama atau setelah

bangun tidur adalah saat dimana paling sering terjadi kekakuan pada

sendi.12 Pasien OA sering mengalami kekakuan pada pagi hari biasanya

dibawa 30 menit dan kadangkala berlanjut hingga siang hari.17

4. Hambatan gerak sendi

Kesukaran bergerak pada sendi bisa disebabkan oleh berbagai

macam masalah seperti nyeri dan spasme otot. Hal ini adalah hal yang

sering timbul meskipun penyakitnya masih dini dan biasanya bertambah

berat dengan bertambah beratnya penyakit, sampai hanya bisa

digoyangkan dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak dapat kosentris

(seluruh arah gerak) maupun eksentris (salah satu arah gerak saja).12

5. Krepitasi

Bunyi gesekan yang timbul pada sendi yang sakit disebut krepitasi.

Pada pasien OA lutut, krepitasi merupakan gejala yang umum dijumpai.

Pada awalnya hanya perasaan akan adanya sesuatu yang patah atau remuk

oleh pasen atau dokter yang memeriksa. Krepitasi dapat terdengar hingga

jarak tertentu seiring dengan perkembangan penyakit. Gejala ini timbul

dikarenakan adanya gesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat

sendi digerakan atau secara pasif dimanipulasi.12


18

6. Deformitas sendi

Perubahan bentuk (deformitas) sendi yang permanen dapat timbul

akibat adanya perubahan pada tulang dan permukaan sendi, kontraktur

sendi, berbagai kecacatan dan gaya berdiri.12

7. Pembekakan sendi

Pembekakan sendi pada pasien OA dapat timbul karna terjadinya

efusi pada sendi yang biasanya tidak banyak (<100cc) atau adanya osteofit

sehingga terjadi perubahan bentuk permukaan sendi dan biasanya

membesar secara perlahan.12

2.2.6 Diagnosis

Diagnosis OA merupkan hal yang penting untuk menentukan

rencana terapi yang akan memungkinkan tatalaksana yang juga tepat.

Dalam penegakan diagnosa OA dapat dilakukan dengan menggunakan tiga

modalitas utama yakni: gambaran klinis, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan radiologi. Sebagai tambahan pada beberapa kasus dapat

dilakukan pemeriksaan laboratorium dan beberapa pertanyaan khusus.11

1. Gambaran klinis

Pada pasien OA, nyeri, kekakuan pada sendi, dan kesulitan dalam

berjalan adalah merupakan keluhan utama yang dirasakan.17 Biasanya

pasien mengeluh nyeri pada saat berjalan dan menghilang saat istirahat.

Nyeri pada OA secara khas terjadi saat awal pasien berjalan.11 Perjalanan
19

penyakit pada OA dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan berdasarkan

episode nyerinya, yakni:

- Tingkat 1 : nyeri tajam yang dapat diperkirakan lama terjadinya.

Biasanya dipicu oleh cedera mekanik yang segera akan menimbulkan

dampak besar terhadap aktifitas dengan efek yang relatif lebih buruk.

- Tingkat 2 : nyeri yang dirasakan lebih menetap dan akan menggangu

aktivitas. Nyeri dan kekakuan pada tingkat ini tidak dapat diperkirakan

episode berikutnya.

- Tingkat 3 : pada tingkatan ini nyeri akan menetap dan kualitas nyerinya

bertambah besar. Akibat nyeri yang menetap dan episode yang tidak

dapat diperkirakan, mengakibatkan keterbatasan fungsional yang berat.18

Pada kelompok umur yang beresiko, OA dapat di diagnosa

berdasarkan gambaran klinis saja tanpa adanya pemeriksaan tambahan

seperti radiologi atau laboratorium. OA dapat di diagnosa dengan alasan

klinis bila terdapat hal berikut yaitu:

a. Nyeri yang menetap pada satu atau beberapa sendi saat digunakan.

b. Umur 45 tahun

c. Kekakuan pada pagi hari < 30 menit

2. Pemeriksaan fisik

Pada OA lutut terdapat beberapa pemeriksaan fisik yang dapat

dilakukan dalam hal menegakan diagnosa, yakni:

- Inspeksi : melihat apakah terdapat pembengkakan pada sendi lutut dan

perubahan gaya berjalan.


20

- Palpasi : menilai apakah terdapat nyeri tekan pada sendi lutut, melakukan

fleksi-ekstensi pasif untuk menilai kualiats nyeri, apakah terdapat

kelemahan pada otot quadriceps.

- Pemeriksaan khusus : uji jarak berjalan, stabilitas ligamen (Drawer test,

valgus and varus stress), meniscus tes, analisa gaya berjalan, zohlen test

3. Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menilai progresifitas dan

untuk menegakkan diagnosa OA. Beberapa pemeriksaan radiologi yang

digunakan untuk diagnosa OA adalah:

a. Foto polos

Foto polos merupakan pemeriksaan yang standar dan biasanya

dilakukan dalam 2 posisi, yaitu anterior-posterior (a-p) dan lateral. Dari

pemeriksaan foto polos ditemui beberapa kelinan pada sendi, yaitu:19

1. Celah sendi

Pada sendi normal tulang yang berhubungan tidak bertemu secara

langsung. Adanya tulang rawan dan cairan sinovial memberikan gambaran

adanya celah di rontgen (tulang rawan dan cairan tidak terlihat pada foto

polos). Adanya masalah didalam tulang rawan dan cairan sinovial berakibat

salah satunya hubungan antara tulang mendekat sehingga celah sendi

menyempit. Hal ini bisa diakibatkan degenerasi tulang rawan atau cairan

sinovial.19
21

2. Osteofit

Osteofit merupakan penulangan baru akibat kompensasi degenerasi tulang

rawan. Karena penulangan ini diluar kebiasaan, hasil dari penulangan ini

menjadi tidak teratur, osteofit ini bisa menyebabkan nyeri jika tumbuh dan

berinteraksi dengan tulang lain dalam bergerak.19

3. Sclerosis subchondral

Subchondral merupakan lapisan yang berada dibawah tulang rawan.

Kerena aliran darah yang meningkat menyebabkan penebalan lapisan ini

dan bisa membentuk kista subchondral dan meningkatkan tekanan pada

tulang dan menyebabkan nyeri.19

Gambar 2.2 Foto polos articulatio genu yang normal (ap dan

leteral) (R.Putz dan R.Pabst,2007)


22

Gambar 2.3 Foto polos dari gambaran penyempitan sendi,

ostiofit, dan sclerosis sobchondral.20

Gambar 2.4 Foto Polos Osteoartritis Genu


23

Gambar 2.5 Foto Polos Osteoartritis Genu Bilateral

gambar 2.6 Foto Polos osteoartritis genu


24

Gambar 2.7 Foto Polos Osteoartritis Genu

Gambar 2.8 Foto Polos Osteoartritis Genu


25

b. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Pada MRI dapat pula dilihat kelainan-kelaian yang terjadi pada

tulang rawan dan tulang dengan detail dari pada pemeriksaan rontgen

tulang dan juga untuk melihat kartilago hialin.20

Gambar 2.9 MRI sendi lutut yang normal(R.Putz dan

R.Pabst,2007)

Gambar 2.10 MRI: menunjukan focal grade 3 cartilage defect, dan

osteophytosis terlihat lebih jelas dan nyata dan terdapat intercondylar

osteophyte.20
26

99m
c. Tc bone scanning :
99m
Tc bone scanning untuk menilai aktivitas metabolik pada tulang

subkondral. Metode ini mungkin membantu dalam diagnosis awal

osteoarthritis tangan. Selain itu, metode ini juga membantu membedakan

osteoarthritis dari osteomyelitis dan metastase tulang.21

Gambar 2.11 Gambar osteoartritis genu dengan menggunakan bone

scanning

d. USG

USG digunakan utuk menilai jaringan lunak dan cairan yang mengisi

suatu ruangan.11

Metode ini tidak ada peran dalam penilaian klinis rutin bagi pasien

dengan osteoarthritis. Namun, metode ini sedang diselidiki sebagai alat

untuk pemantauan degenerasi tulang rawan, dan dapat digunakan untuk

suntikan pada sendi untuk dilihat tanpa di scan.21