Anda di halaman 1dari 75

GERAK PADA DUA DAN TIGA DIMENSI

(Menurut Arya, 1990)


2.1 Pendahuluan

Satu cara yang umum dilakukan menentukan posisi sebuah partikel (atau

objek seperti partikel) adalah dengan menggunakan vektor posisi yaitu sebuah
vektor yang merupakan perpanjangan dari sebuah titik referensi (biasanya adalah
titik asal dari sebuah sistem koordinat) menuju partikel. Dalam notasi vektor
satuan kita dapat menuliskan sebagai berikut :

dimana xi , yj, dan zk adalah komponen vektor dan


koefisien x, y, dan z adalah komponen skalarnya. Koefisien x, y, dan z
memberikan lokasi partikel di sepanjang sumbu-sumbu koordinatnya dan relatif
terhadap titik asal. Dengan kata lain, partikel tersebut mempunyai koordinat (x, y,
z) yaitu koordinat 3 dimensi.

2.2 Koordinat Kartesius


Untuk memulai sistem koordinat i, kita memilih dua sistem koordinat
persegi panjang dua dimensi, terdiri dari dua saling tegak lurus sumbu koodinat di
titik asal O, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.1. seperti yang ditunjukkan,
X dan Y yang berada pada bidang yang terbuat dari kertas dan pada 900 satu sama
lain. Posisi titik P adalah

Gambar 2.1. Koordinat dua dimensi

dijelaskan oleh koodinat (x,y) yang diperoleh dengan menggambar tegak lurus
dari P ke X dan Y sumbu, sehingga OA=OB=x dan y. sehingga kita dapat
menulis:

OP 2 OA2 OB 2 x 2 y 2 (2.1)

1
Gambar 2.2 menunjukkan satu set dari tiga dimensi persegi panjang
sumbu koordinat, lagi X dan Y sumbu pada bidang yang sama di 90 satu sama
lain, sedangkan Z sumbu tega lurus terhadap bidang ini sekali lagi posisi titik P
digambarkan oleh koordinat (x,y,z) dan kita mungkin

OP 2 OM 2 OC 2 OA 2 OB 2 OC 2
OP 2 x 2 y 2 z 2 (2.2)
Tiga sumbu yang saling tegak lurus yang ditunjukkan pada gambar 2.2
membentuk sistem kaidah tangan kanan.

Gambar 2.2 Sistem koordinat 3 Dimensi


2.3 Koordinat Polar

Sistem koordinat yang berbentuk persegi panjang yang cukup berguna


dalam menggambarkan erak suatu obek yang bergerak dalam garis, bidang
koordinat polar. Mengacu pada koordinat segi empat dari pont P pada bidang XY
adalah (x,y). Titik P terletak pada jarak r dari titik asal, dan OP garis membentuk
sudut 0 dengan sumbu X adalah sama diterima untuk menggambarkan posisi titik
P dengan koordinat r, disebut bidang koordinat polar, hubungan antara (x,y)

dan r, adalah

x r cos y r sin (2.3)


kita dapat mengekspresentasikan r dan dalam hal x dan y dengan prosedur
sederhana. Dengan mengkuadratkan dan kita mendapatkan

x 2 y 2 r 2 cos 2 sin 2 r 2
Maka menghasilkan :
x r sin
tan
y r sin

2
Yaitu :
y
r x 2 y 2 dan tan (2.4)
x
Dengan demikian, dalam dua dimensi sistem (x,y) koordinat atau r, benar-
benar menentukan posisi suatu titik dalam pesawat, r dapat memiliki nilai antara 0
dan , sedangkan dapat
memiliki nilai antara 0 dan 2 radian, dengan meningkat berlawanan.
Perbandingan lebih lanjut dan kontras anatara persegi panjang dan bidang
koordinat ditunjukkan pada Gambar 2.3. menunjukkan plot X dan Y konstan.

Gambar 2.3. Sistem koordinat polar 2 dimensi

2.4 Koordinat silinder


Mari kita mempertimbangkan titik P yang terletak pada jarak r dari asal O.
Titik P dapat ditemukan dengan menggunakan satu set koordinat persegi panjang
(x, y, z) atau koodinat silinder ,, Z seperti yang ditunjukkan dalam
persamaan dan terkait dengan (x,y,z) dengan persamaan
x cos (2.5a)

Gambar 2.5 Sistem koordinat Polar 3 Dimensi

3
y sin (2.5b)
zz (2.5c)
Sedangkan hubungan terbalik dapat diperoleh dari Pers. (2.5a) dan (2.5b) dengan
prosedur yang digunakan untuk bidang koordinat polar, yaitu,

x2 y 2 (2.5d)

y
tan 1
x
zz
Perhatikan bahwa dalam silinder koordinat p telah menggantikan r dan telah
menggantikan bidang koodinat polar.

2.5 Koordinat Polar berbentuk bola


Selagi lagi mempertimbangkan titik P dalam ruang yang terletak pada jarak jarak r
dari tiga asal O, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6. koordinat persegi
panjang dari titik P adalah (x, y, z), sedangkan koordinat polar bulatnya adalah (r).
Untuk menemukan hubungan anatara dua set koordinat, pertama kita
menyelesaikan OP=r menjadi dua komponen PM dan OM, dimana
PM OC OP cos atau z r cos
PC OP sin atau OM r sin

Gambar 2.6. Koordinat polar 3 Dimensi

kita lanjut menyelesaikan OM menjadi dua komponen, OA dan OB, sehingga


OA OM cos atau x r sin cos (2.6a)

4
OB OM cos atau y r sin cos (2.6b)
sehingga memiliki relasi
x r sin cos (2.7a)
y r sin cos (2.7b)
z r cos (2.7c)
Hubungan terbalik, yaitu r, , dalam hal x, y, z dapat diperoleh dari Gambar
2.7. sebagai berikut:

r OP OM 2 OC 2 OA OB OC
2 2 2

x2 y 2 z 2

PC OM OA2 OB 2 x2 y 2
tan
OC OC OC z
OB y
tan
OA x
yaitu, kita memiliki relasi

r x2 y2 z 2

x2 y2
tan
z
y
tan (2.8)
x
Ini koordinat bola akan sangat berguna dalam membahas gerak dalam membahas
gerak dalam tiga dimensi.

2.6 Perbedaan Sistem Koordinat Pada Kinematika


Posisi sebuah partikel P pada bidang XY dapat dijelaskan oleh koodinat
(x,y) atau titik P dapat digambarkan dengan menggunakan vektor posisi r = x, y,
dimana r adalah jarak dari titik tertentu yang disebut asal. Gerakan titik P pada
bidang XY dapat diberikan dengan menggambarkan y sebagai fungsi dari x, atau
sebaliknya, yaitu
y y ( x), x x(y) (2.9)
atau diberikan hubungan fungsional anatara x dan y seperti
f ( x, y ) 0

5
misalnya, sebuah partikel bergerak dalam lintasan melingkar dapat dijelaskan oleh
x2 y 2 a2 (2.10)
dimana a adalah jari-jari lingkaran.
Suatu cara paling mudah untuk mempresentasikan lintasan partikel adalah
dalam hal beberapa parameter s, sepeti
x x( s ), y y(s) (2.11)
atau
r r (s )
dalam situasi sepert ini, partikel bergerak dalam lintasan melingkar akan
dijelaskan oleh
x a cos , y a sin (2.12)
dimana adalah parameter.
Secara umum, jika partikel dalam bidang XY, gerakannya digambarkan oleh
x x(t ), y y(t)
atau
r r (t ) (2.13)
dimana waktu t adalah parameter dalam kasus ini, kita dapat menulis vektor posisi
r, dalam hal vektor satuan, seperti
r i x j y (2.14)
kecepatan dan percepatan partikel dan komponen mereka
dr dx dy
v i j i vx jv y
dt dt dt
(2.15)
dv d 2 r d 2 x d 2 y
a i 2 j 2 i ax ja y
dt dt 2 dt dt
Gerakan tiga dimensi dipresentasikan sebagai

r ix jy kz
dr dx dy dz
v i j k i vx jv y kvz
dt dt dt dt
dv d 2 r d 2 x d 2 y d 2 z
a i 2 j 2 k 2 i ax ja y kaz
dt dt 2 dt dt dt

6
Gambar 2.6 Koodinat Rektangguler

2.7 Bidang Koordinat Polar


Dalam banyak situasi akan lebih mudah untuk menggunakan pesawat
koordinat polar r, bukan koordinat persegi panjang (x,y) untuk
menggambarkan gerak partikel. Hubungan antara sua set koordinat Gambar 2.6
adalah
x r cos , y r sin (2.16)
sedangkan hubungan sebaliknya adalah


r x y2
1/ 2

y x y
tan 1 cos 1 sin 1
x x2 y 2 x2 y 2

Jarak r diukur dari titik asal, sedangkan sudut polar 0 diukur berlawanan dari
sumbu X, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6. Sekarang kita
mendefenisikan dua vektor satuan dalam koordinat polar yang tegak lurus satu

sama lain. Dua vektor satuan ini adalah r dan dan berada dalam arah
peningkatan r dan 0, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.7. Demikian poin r

ke arah P sepanjang meningkatkan jarak radial r, sedangkan nilai .

Gambar 2.7. Bidang Polar

7
Gambar 2.8 Hubungan antara Unit Vektor
Arah yang P akan bergerak sebagai sudut 0 meningkat. Selanjutnya, kedua vektor
satuan adalah fungsi dari sudut 0. Vektor satuan r dan 0 bentuk sistem koordinat
baru yang disebut bidang koordinat polar atau koodinat hanya polar. Seperti
ditunjukan dalam Gambar 2.8 vektor satuan r dan 0 yang terkait dengan i dan j
dengan relasi.
r i cos j sin (2.17a)

-i cos j sin (2.17b)


Mari kita membedakan ini sehubungan dengan , yaitu
dr
i cos j sin (2.18)
d

d
i cos j sin r (2.19)
d
sehingga kita memiliki
dr d
dan r
d d
hasilnya dapat diperoleh secara langsung dengan mengacu pada Gambar 2.9 (a)

dan (b). Angka-angka ini menunjukkan posisi r dan untuk sudut tertentu

dan d . Sebagai sudut meningkat sebesar d , radikal vektor satuan


perubahan dari r ( ) ke r( d ) dengan jumlah yang dr sama, yang sudut

vektor satuan berubah dari ( ) ke ( d ) dengan jumlah yang d seperti

yang ditunjukkan. Perhatikan bahwa titik dr arah , sedangkan titik d dalam


arah yang berlawanan dengan r yaitu arah r seperti yang ditunjukkan.
Vektor posisi r dalam hal koordinat polar diberikan oleh

8
r rr rr

Gambar 2.9 Bentuk Polar


perhatikan bahwa r r (2.20)
maka ekspresi (2.20) tidak mengandung eksplisit. Gerakan partikel ditentukan
oleh r(t) dan (t ) dalam koodinat polar. Dengan demikian kecepatan v adalah
dr
r r
dr d dr
v r r (2.21)
dt dt dt dt
karena r r menggunakan persamaan (2.21) kita harus menulis
dr dr d
r
dt d dt
yaitu

v rr r (2.22)
kita dapat mengidentifikasi
v r r dan v r (2.23)
dimana v, adalah komponen kecepatan sepanjang r dan disebut kecepatan radial,

sedangkan vb adalah komponen sepanjang dan disebut kecepatan sudut.

Percepatan sistem menjadi

a
dv d
dt dt

rr r
dr
dt
r r
dr d dr
r
d dt dt
d d
d dt

rr r r r r r
yaitu
a (r r 2 )r (r 2r) (2.24)

9
Jika dua komponen percepatan a adalah percepatan radial, dan percepatan sudut
yang diberikan oleh
ar r r2
a r 2r
b

Maka istilah berikut ini, disebut kecepatan angguler

v 2
2
v
r 2 r
r r

2.8 Koordinat Polar Silinder

Dengan menambahkan komponen Z ke bidang koordinat kita


mendapatkan koordinat silinder untuk menggambarkan gerakan dalam tiga
dimensi. Tiga unit vektor p , , dan z dalam arah peningkatan p, , dan z, yang
disajikan di gambar 2.10 penting untuk dicatat bahwa Z adalah konstan,
sementara unit vektor p , adalah fungsi seperti dalam kasus bidang koordinat
polar.
x = p cos (2.25a)
y = p sin (2.25b)
z=z (2.25c)

Gambar 2.10 koordinat polar silinder

Sementara hubungan invers adalah

P=(x2+y2)1/2 (2.26)

sin 1 cos 1
y x y
tan 1
x x2 y2 x2 y2

10
menggantikan (r,) oleh (p, ) dan dengan Z komponen tambahan, kita dapat
menulis hubungan:
p i cos j sin (2.27a)

i sin jcos (2.27b)


Serta dengan sebelumnya
r pp zz (2.28)
dimana p memberikan jarak P dari Z-axis dan 4, memberikan rotasi sudutnya dari
sumbu X, sementara z memberikan elevasi di atas bidang XY. Dengan demikian
kita dapat menulis vektor kecepatan, mengingat bahwa p p sebagai :
dr d dp dp d dz dz
v ( pp zz ) p p z z
dt dt dt d dt dt dt (2.29)
p p p( ) zz z (0)
dz
Dimana 0 , sehingga
dt

v p p p zz
dv d (2.30)
a ( p p p zz)
dt dt
Dengan menggunakan persamaan maka dihasilkan :
a (p - p 2 ) p ( p 2 p ) zz (2.31)
Sekarang kita dapat mengekspresikan setiap vektor A dalam tiga komponen
Ap,Aq, dan Az di arah dari tiga vektor satuan saling tegak lurus p , , z sehingga,
A A p p A A z z (2.32)

dA dA p dp d dA d d dAz dz
p A p A z Az
dt dt d dt dt d dt dt dt

dA dAp dA dA dA
( A ) p ( AP ) p ( Ap ) z z (2.33)
dt dt dt dt dt
Sedangkan hubungan terbaik yang
1
p (x y )
2 2 2

y y x
tan 1 sin 1 cos 1 (2.34)
x x2 y2 x2 y2

11
Mengganti (r,) dengan (p,) dan dengan Z komponen tambahan, kita dapat
menuliskan relasi
p i cos jsin

i sin j cos (2.35)


Dan, seperti sebelumnya:
dp

d

d
p
d
r vektor posisi menggambarkan letak di titik P dalam koordinat silinder,
ditunjukkan pada gambar 2.12 adalah :
r pp zz
Dimana p memberikan jarak P dari Z-axis dan 4, memberikan rotasi sudutnya dari
sumbu X, sementara z memberikan elevasi di atas bidang XY. Dengan demikian
kita dapat menulis vektor kecepatan, menjaga diingat bahwa p p () sebagai :
dr d dp dp d dz dz
v ( pp zz) p p z z p p p( ) zz zi
dt dt dt d dt dt dt

v p p p zz
Menjadi :
a ( p p 2 ) p ( p 2 p ) zz

2.9 Koordinat Polar Bola


Koordinat polar bola atau koordinat bola adalah koordinat yang paling umum
digunakan dalam situasi simetri bola misalnya, titik P dalam ruang terletak oleh
koordinat (r,,) seperti ditunjukkan pada gambar 2.11 r adalah jarak radial dari
titik asal o, () adalah sudut azimut menemukan pesawat yang angie rotasi diukur
dari sumbu X-, sedangkan sudut adalah sudut polar diukur turun dari sumbu Z-.

Sudut polar dapat memiliki nilai antara o dan , sementara sudut azimuth dan
2
dapat memiliki nilai antara o dan .

12
Gambar 2.11 Koordinat Polar Bola
Rectanguler koordinat (x,y,z) terkait dengan koordinat polar bola (r,,) berikut
hubungan oleh :
x= r sin cos
y = r sin sin
z = rcos (2.39)
perhatikan bahwa r sin = p hubungan reverse
r = (x2+y2+z2)1/2
x2 y2
= tan-1 z
y
=tan-1 x (2.40)

Vektor satuan yang digunakan dalam koordinat kutub bola yang (r,,) dan seperti
yang ditunjukkan dalam gambar 2.11 (a) dan (b). Juga ditampilkan adalah vektor
unit i, j, k, z(= k) dan p. Vektor satuan terletak pada bidang XY, sementara r,,
dan z semuanya terletak pada satu bidang vertikal untuk r tetap dan variasi
dalam , sesuai dengan rotasi tentang Z-axis, sedangkan untuk variasi sesuai
dengan rotasi dalam bidang mengandung dari r,, dan z. Gambar koordinat bola
sebelumnya kita dapat menulis hubungan berikut antara vektor satuan
r p sin z cos i sin cos jsin sin k cos

13
pcos zsin i cososc jcososs kcos

i sin j cos
Membedakan persamaan, kita memperoleh hubungan berikut :
r r
sin


r, cos


0 p r sin cos (2.42)

Dalam koordinat bola, posisi titik P dalam ruang yang diberikan oleh
vektor posisi r. Kita sekarang dapat menemukan ekspresi untuk kecepatan dan
percepatan dengan memanfaatkan hubungan sebelumnya. Demikian :
r rr rr(, ) (2.43)
dr d dr dr dr
v r [rr(, )] r r rr r (2.44)
dt dt dt dt dt
Menggunakan persamaan :
dr dr d dr d
(, ) sin
dt d dt d dt
Oleh karena itu kita memperoleh :
v rr r (r sin ) (2.45)
Demikian pula :
dv d
a r [rr r (r sin ) ]
dt dt
Yang pada hasil penyederhanaan
a (r r 2 r sin 2 2 )r (r 2r r sin cos 2 ) (r sin 2r sin
2r cos ) (2.47)

Sejak r, , dan membentuk satu set saling tegak lurus vektor unit, kita dapat
menulis vektor A dalam bentuk komponen sebagai
A A r r A A (2.48)

14
Dimana komponen tergantung pada tidak hanya pada vektor A, tetapi juga pada
lokasi di ruang angkasa. Jika A fungsi satuan parameter, yaitu fungsi waktu kita
dapat menulis,

dA dAr dr dAr d dAr d


r Ar Ar Ar (4.49)
dt dt dt dt dt ft dt
Sebelumnya dengan menggunakan pers. Kita dapat menulis :
dr dr d dr d
sin
dt d dt d dt
d d d
r
dt d dt
d d d
p (r sin cos )
dt d dt (2.50)
Dalam hasil ini dalam persamaan di atas, kita memperoleh :
dA dA dA
( r A A cos )r ( Ar A cos )
dt dt dt
dA
( Ar sin A cos )
dt
2.10 Operator Del Dalam Bentuk Silinder Dan Koordinat Bola.

Sekarang menggunakan operator del dalam koordinat silinder serta bola


dengan menggunakan defenisi gradien. Di koordinat silinder, fungsi skalar u
adalah
u= u (p, , z) (2.51)
sebelumnya diketahui
u u u
du = du dp d dz (2.52)
p z
Dan
r pp zz (2.53)
Maka dapat di tulis
p
dr dpp p d dzz (2.54)

15
Menggunakan relasi

p
dan p (2.55)

Sehingga diperoleh :
dr p dp p d z dz (2.56)
Defenisi gradien u adalah
du u.dr dr.u (2.57)
Untuk hubungan ini untuk menghasilkan persamaan, kita harus mendefenisikan
1
p z (2.58)
p p z
Seperti dalam kasus satu dimensi, kita dapat memperkenalkan fungsi energi
potensial V(r)= V(x,y,z) sebagai kerja yang dilakukan oleh gaya ketika gaya
bergerak partikel dari titik r beberapa standar acuan rs artinya :
r1 r
V(r) F(r) dr F (r ) dr
r r1
(2.59)
Mengetahui bahwa V(r) harus menjadi fungsi dari posisi saja, defenisi ini
hanya mungkin jika integral sebelumnya tidak tergantung pada jalan integrasi,
yaitu hanya jika F(r) adalah kekuatan konservativ sehingga pekerjaan yang
dilakukan akan independen dari jalan, maka fungsi energi potensial dapat
diperkenalkan.
F(r) untuk menjadi konservativ, dan karenanya menekankan bagi
keberadaan fungsi V potensial (r). Mari kita katakan bahwa pekerjaan yang
dilakukan untuk pergi dari titik P ke Q independen dari lintasan. Ini berarti bahwa
bahwa kerja yang dilakukan dalam lintasan tertutup untuk pergi dari P ke Q dan
kembali ke P adalah nol.
WPQP closed path F dr 0 (2.60)

Menurut stokes teorema kita dapat menulis hasil ini sebagai :


WPQP closed path F dr surface n ( F)dS 0 (2.61)

Hal ini bisa benar hanya jika integran sendiri F adalah nol, yaitu :
F curl F 0 (2.62)

16
Ini adalah kondisi yang diperlukan dan cukup untuk gaya konservatif, maka
fungsi energi potensial yang diberikan menyatakan syarat perlu dan cukup untuk
adanya fungsi potensial. Sebuah gaya F yang curl F adalah nol disebut gaya
konservatif.

2.11 Fungsi Energi Potensial


Dalam menentukan gerakan partikel dalam satu dimensi, kita
mendefenisikan fungsi energi potensial sebagai :
xs x
V(x) F ( x)dx F ( x)dx (2.63)
x xs

Dan gaya yang sesuai F9x) adalah


dV ( x)
F ( x) (2.64)
dx
Kita sekarang dapat memperpanjang ide ide untuk gerakan partikel
dalam tiga dimensi. Mari kita mempertimbangkan partikel di r(x,y,z) yang di
bawah aksi gaya F bergerak dari r1 ke r2. Kerja yang dilakukan diberikan oleh
r2
W F (r )dr (2.65)
r1

Dan untuk mengevaluasi bagian integral ini kita harus menentukan sebuah
lintasan. Seperti dalam kasus satu dimensi, kita dapat memperkenalkan fungsi
energi potensial v(r) = V(x,y,z) sebagai kerja yang dilakukan oleh gaya ketika
gaya menggerakkan partikel dari titik r ke beberapa acuan rs, artinya :
rs r
V (r ) F (r )dr F (r )dr (2.66)
r rs

Mengetahui bahwa V (r) harus menjadi fungsi dari posisi saja, defenisi ini
hanya mungkin jika integral sebelumnya tidak tergantung pada jalan integrasi.
Dimana untuk menemukan kondisi yang diperlukan F(r) untuk menjadi
konservatif, maka keberadaan fungsi potensial V(r). Maka usaha yang dilakukan
untuk bergerak dari titik P ke Q tidak bergantung pada lintasan. Ini berarti bahwa
usaha yang dilakukan dalam lintasan tertutup (lihat gambar 2.12) untuk bergerak
dari P ke Q dan kembali ke P adalah nol. Artinya, kita menemukan
WPQP F dr 0 (2.67)

17
WPQP F dr n ( F )dS 0 (2.68)

Hal ini dapat berlaku hanya jika integran F adalah nol, yaitu
F curl F 0 (2.69)
Ini adalah kondisi yang diperlukan untuk gaya kenservatif, maka fungsi energi
potensial yang sebuah gaya F yang curl F adalah nol disebut gaya konservatif.

Gambar 2.12. Kerja yang dilakukan dalam medan gaya konservatif untuk lintasan
tertutup untuk bergerak dari P ke Q dan kembali ke P adalah nol.
Kita sekarang dapat menunjukkan bahwa keberadaan fungsi potensial
mengarah ke konservasi energi total jika medan gaya bersifat konservatif. Usaha
yang dilakukan oleh F dalam bertindak melalui r1 ke r2 dapat ditulis sebagai
r2 rs r2
W12 F (r )dr F (r )dr F (r )dr V1 (r ) V2 (r ) (2.70)
r1 r1 rs

Tapi usaha yang dilakukan juga sama dengan perubahan energi kinetik
r2
W12 F (r )dr K 2 K1 (2.71)
r1

Menggabungkan persamaan
K1 V1 (r ) K 2 V2 (r ) (2.72)
Artinya, jika E adalah energi total, kita memperoleh
1
K V m( x 2 y 2 z 2 ) V ( x, y , z ) E (2.73)
2
Yang merupakan bagian integral energi untuk gerakan dalam tiga dimensi. Mari
kita mempertimbangkan F= F (r,t) dan mengatakan pada setiap waktu t yang

18
F (r , t ) 0 (2.74)
Dan kita dapat mendefenisikan fungsi potensial
rs
V (r , t ) F (r , t )dr (2.75)
r

Sehingga
F (r , t ) V (r , t ) (2.76)
Namun dalam kasus seperti ini jumlah dari energi kinetik dan potensial tidak
konstan, maka F (r,t) bukan merupakan gaya konservatif.
Jika F diberikan dan kitaingin mengevaluasi V (r), kita dapat melanjutkan secara
langsung dengan mengevaluasi integral garis,
r
V (r ) F (r )dr (2.77)
rs

Atau kita dapat mengevaluasi tiga integral biasa dengan memulai dengan
V V V
Fx , Fy , Fz (2.78)
x y z
Untuk mendaapatkan :
V F x dx C1 ( y, z ) (2.79)

V - Fy dy C 2 ( x, y )
V Fz dz C 3 ( x, y )

2.12 Contoh Soal

Contoh 1.
Tunjukkan bahwa berikut ini merupakan gaya konservatif dan cari
potensial yang sesuai.
a) F axi byj czk

b) Fx 3ayz 3 20bx 3 y 2 , Fy 3axz3 10bx 4 y, Fz 9axz2 y

Solusi
a) Untuk membuktikan bahwa gaya merupakan medan gaya konservatif, kita
harus membuktikan bahwa garis lengkung dari vektor gaya adalah nol.

19
misalnya i, j, dan k menjadi vektor satuan. A, B dan C merupakan operator
diferensial seperti yang ditunjukkan. Misalnya Sa = garis lengkung F, yang
ditampilakan dalam bentuk matriks. Setelah menghitung nilai absolut dari
Sa dan kemudian mengganti operator diferensial untuk A, B dan C, kita
menyederhanakan dan menemukan bahwa Sa=0. Dengan demikin F dalam
hal ini adalah medan gaya konservatif.
i 1 j 1 k 1
d d d
A B C
dx dy dz

i j k

Sa A B C (i)
ax by cz

Sa i B cz i C by A j cz A k by ax j C ax k B

Sa i
d
cz i d j cz d k by d ax j d ax k
dy dz dx dz dy
Sa 0
Menggunakan persamaan kita dapat menghitung potensi Va sesuai dengan
gaya konservatif ini seperti yang ditunjukkan.

Va ax dx bydy czdz
1 1 1
Va ax 2 by 2 cz 2
2 2 2
1 1 1
Va ax 2 by 2 cz 2 tetap (ii)
2 2 2
Tetap adalah sama dengan jumlah dari tiga konstanta C a C x C y C z

Tiga konstanta C x , C y , dan C z sesuai dengan tiga komponen gaya, dihitung

dari kondisi awal.

b) Kita ikuti prosedur yang sama seperti pada sebelumnya dan membuktikan
bahwa gaya adalah konservatif.

i j k

Sa A B C (iii)
3ayz bx 3 y 2
3
3axz 3 10bx 4 y 9axz 2 y

20
Sa i B 9axz 2 i C 3ayz 3 i C bx 4 y A j 9axz 2 A k 3ayz 3
A k 10bx 4 y 3ayz 3 j C 3ayz 3 k B bx 3 y 2 k B
Sa 0

Vx 3ayz 3 20bx 3 y 2 dx
Vx 3ayz 3 x 5bx 4 y 2 Cx

Vy 3axz 3 10bx 4 y dy
Vy 3ayz 3 x 5bx 4 y 2 Cy
Vz 3ayz 3 x Cz
Untuk medan gaya konservatif, jika kita asumsian Cx Cy 0, Vz adalah
singkatan dari istilah dari Cz harus seperti yang ditunjukkan.

Vb 3ayz 3 x 5bx 4 y 2 Cx 3ayz 3 5bx 4 y 2 Cy 3ayz 3 x Cz
Vb 5bx 4 y 2 3axyz3
atau
Vb 9ayz 3 x 10bx 4 y 2 Cx Cy Cz

Contoh 2.
Sebuah partikel bermassa dari titik A ke B sekitar jalur setengah lingkaran
dengan jari-jari R, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2. Hal ini, dimana titik
awal A dengan gaya sebanding dengan jarak dari A. Ketika mencapai B, gaya
terhadap A adalah F0. Hitung usaha yang dilakukan terhadap gaya ini ketika
partikel bergerak dari A ke B dalam jalur setengah lingkaran ini seperti yang
ditunjukkan.
Solusi:
Usaha yang dilakukan diberikan oleh
B
W F ds (i)
A

dan F kr (ii)
dimana k adalah konstanta. Tapi ketika r = 2R di B (lihat Gambar 2).
FO
FB FO k (2R) atau k (iii)
2R

21
FO
oleh karena itu, F r (iv)
2R
Untuk menyatakan r dalam hal R dan O, kita menggunakan hukum cosinus:
r 2 R 2 R 2 2 R 2 cos 2 R 2 1 cos
F
F kr O R 21 cos
2R

Gambar 2

Dari gambar 2, kita mendapatkan hubungan


F ds F ds cos ds R d

cos cos180 cos cos
2
Kerja yang dilakukan W bergerak dari A ke B adalah
B
W F ds
A

Perhatikan bahwa
F
F ds F r cos d F r cos dan F O R 21 cos
2 2R
Menggantikan F, ds, dan cos , kerja yang dilakukan WF dapat dihitung seperti
yang ditunjukkan.

FO
WF R 21 cos R cos
0
2R 2
WF FO R

22
Contoh 3
Sebuah partikel bergerak dalam bidang XY seperti ditunjukkan pada Gambar 3
k
akan tertarik ke arah ke asal oleh gaya F . Hitung kerja yang dilakukan ketika
y
bergerak partikel.
a) Dari A ke B dan kemudian ke C dan
b) Dari A ke C panjang jalur elips yang diberikan oleh persamaan
x 2a sin dan y a cos .
Solusi
k
Dari A ke B dan ke C, gaya adalah F , dan kerja yang dilakukan diberikan
y
oleh
C B C B C
W F ds F ds F ds F dr cos 1 F dr cos 2 (i)
A A B A B

untuk jalan dari A(0,a) ke B(2a,a).


x
y a, dr dx, cos 1 (ii)
x a2
2

untuk jalan dari B(2a, a) ke C(2a,0)


x
x 2a, dr dx, cos 2 (iii)
2a 2
y 2

untuk kedua jalur


k
F (iv)
y
a) Tanda minus juga dapat dibenarkan oleh fakta bahwa gaya adalah
melawan arah perpindahan.

23
Gambar 3.
Mensubsitusikan Persamaan (ii), (iii) dan (iv) dalam (i) kerja Wa
dilakukan dari A ke B dan kemudian ke C adalah seperti yang ditunjukkan.
k
2a 0
x
Wa k dx dy
0 a x a 2 2
a 2a 2 y 2
Wa k
5 1 ln( 2) ln( 5 1)
b) Kita sekarang menghitung kerja yang dilakukan disepanjang jalur elips.
Persamaan elips adalah
x2 y2
1
2a 2 a2

dan r 2 x 2 y 2
Dalam hal lingkaran yang tertulis dan dibatasi dan sudut pusat 0
x 2a sin dan y a cos (vii)
Usaha yang dilakukan dimulai dari A ke C di sepanjang jalur elips ini.
W F dr Fx dx Fy dy (viii)

dimana dari Persamaan (vii)


dx 2a cos d , dy -a sin d (ix)
x k x k 2a sin
Fx F cos F (x)
r yr a cos 2a sin 2 a cos 2
y k y k
Fy F sin F (xi)
r yr 2a sin 2 a cos 2

Mensubsitusikan dalam Pers. (viii), pekerjaan dilakukan Wb dari A ke C


dengan lintasan melingkar seperti yang ditunjukkan

k a sin
2 2
2a sin 2a cos
Wb k d a 2a a cos d
a 2a sin a
2 2 2 2
0 0

Sama seperti bagian (a)


Wb k
5 1 ln( 2) ln 5 1

24
Latihan Soal

1. Turunkan persamaan untuk percepatan dalam koordinat silinder.

Penyelesaian :

Persamaan
a ( p p 2 ) p ( p 2 p )
zz
Maka untuk percepatan dalam koordinat silinder adalah, Pertama diambil dari
persamaan :
p i cos j sin

i sin j cos
Dan sebelumnya :
dp

d
d
p
d
Vektor posisi r menggambarkan lokasi titip P dalam koordinat silinder yaitu :
r pp zz
Dimana p memberikan jarak P dari Z-axis dan , memberikan rotasi sudutnya
dari sumbu X,
Sementara z memberikan elevasi di atas bidang XY. Dengan demikian kita dapat
menulis vektor kecepatan, menjaga di ingat bahwa p p menjadi :
dr d dp dp d dz dz
v ( pp zz) p p z z p p p ( ) zz z (0)
dt dt dt d dt dt dt
dz
Dimana 0 karena
dt
v = p p p zz
sehingga percepatan pada koordinat silindernya adalah
dv d
a ( p p p zz )
dt dt
2. Turunkan hubungan yang diberikan pada persamaan polar bola dari
pertimbangan geometris.

25
Penyelesaian :
Dari persamaan dapat diturunkan dengan menghasilkan kecepatan percepatan
seperti di bawah ini di jelaskan:
r r
sin


r cos


0 p r sin cos

Sehingga diturunkan menjadi
dr d dr dr dr
v r [rr(, )] r r rr r
dt dt dt dt dt
Dengan menggunakan persamaan maka kecepatannya dapat dihasilkan :
dr dr d dr d
(, ) sin
dt d dt d dt

Sehingga menghasilkan kecepatan : v rr r (r sin ) percepatan :


dv d
a r [rr r (r sin )]
dt dt
Dengan menggunakan persamaan maka percepatan dapat dihasilkan menjadi :

a (r - r 2 r sin 2 2 )r (r 2r r sin cos 2 ) (r sin 2 sin


2r cos )

GERAK PADA DUA DAN TIGA DIMENSI

26
(Menurut Simon, 1971)
3.11 PROYEKTIL

Sebuah masalah penting dalam sejarah ilmu pengetahuan mekanika adalah


menentukan gerak proyektil. proyektil bergerak di bawah pengaruh grafitasi
bergerak didekat permukaan bumi, jika hambatan udara diabaikan, menurut
persamaan:

2
2 = (3.154)

dimana sumbu-z diambil dalam arah vertikal, dalam bentuk komponen:

2
2 = 0 (3.155)

2
2 = 0 (3.156)

2
2 = (3.157)

solusi dari persamaan ini adalah

= 0 + 0 (3.158)

= 0 + 0 (3.159)

1
= 0 + 0 2 2 (3.160)

atau dalam bentuk vektor

1
= 0 + 0 2 2 (3.161)

Kita asumsikan proyektil dimulai dari asal (0,0,0), dengan kecepatan awal dalam
xz, sehingga vyo = 0. Terdapat batasan pada gerak proyektil, tetapi hanya

27
disesuaikan dengan pilihan yang tepat dari sistem koordinat. persamaan (3,158),
(3,159), (3.160) maka menjadi

= 0 (3.162)

=0 (3.163)

1
= 0 2 2 (3.164)

Persamaan ini memberikan gambaran lengkap dari gerak proyektil. memecahkan


persamaan pertama untuk t menggantikan ketiga persamaan, kita memiliki
persamaan untuk lintasan di xz:

1
= 0 2 2 2 (3.165)
0 0

Ini dapat ditulis dalam bentuk

0 0 2 20 20
( ) = 2 ( ) (3.166)
2

Ini adalah koordinat parabola, cekung ke bawah, yang ketinggian maksimum


terjadi pada

20
= (3.167)
2

Dan yang melintasi bidang horisontal z = 0 di titik asal dan pada titik

0 0
= 2 (3.168)

Jika permukaan bumi adalah horixontal, xm adalah rentang proyektil .Sekarang


mari kita tinjau dari hambatan udara dengan permisalan gaya gesekan sebanding
dengan kecepatan:

28
2
2 = (3.169)

Dalam notasi komponen, jika kita menganggap bahwa gerakan berlangsung di xz

2
2 =

2
2 = (3.170)

Hal itu harus menunjukkan sebenarnya partikel bergerak dari udara terhadap
lintasan proyektil adalah fungsi yang rumit dari kecepatan, sehingga solusi yang
kita memperoleh akan hanya appoximate, meskipun mereka menunjukkan sifat
umum dari gerakan. Jika proyektil dimulai dari asal di t = 0, solusi dari persamaan
(3.170) yaitu


= 0 (3.171)

0
= (1 ) (3.172)



= ( + 0 ) (3.173)


2 0
= ( + ) (1 ) (3.174)
0

Pemecahan Pers. (3,172) untuk t dan mengganti di Pers (3,174) kita memperoleh
persamaan untuk lintasan:

2 0
= ( + 0 ) ln ( ) (3.175)
0 0 2 0

Untuk hambatan udara rendah, atau jarak pendek, ketika (bx) / (mvx0) << 1, kita
dapat memperluas dalam kekuatan dari (bx) / (mvx0) untuk mendapatkan

0 1 1 bg
= 2 2 x 2 3 3 3 (3.176)
0 0 0

29
Sehingga lintasan mulai keluar sebagai parabola, tetapi untuk nilai yang lebih
besar dari x (mengambil 0 positif), z jatuh lebih cepat daripada parabola. fakta
bahwa dua yang pertama cek cukup bagus pada aljabar yang mengarah ke Pers.
(3,176); expainsion dalam serangkaian listrik di parameter kecil adalah cara yang
sederhana dan berguna memeriksa hasilnya, dan di samping itu sering
memberikan rumus perkiraan sederhana yang mudah untuk menafsirkan.
Menurut Pers. (3,175), dimana x mendekati nilai (0 )/, z mendekati minus
tak terhingga, yaitu, lintasan berakhir sebagai vertikal drop pada x = (0 )/.
Dari pers. (3,173), kita melihat bahwa verticzl jatuh pada akhir lintasan
berlangsung di terminal kecepatan -mg / b.

Jika kita menetapkan z = 0 di Pers. (3,176), memiliki, selain solusi yang jelas x =
0, solusi untuk xm range, yang kita dapat menemukan dengan aproksimasi. kami
pertama kali menulis ulang persamaan dengan cara berikut:

20 0 2 2
= 3 (3.177)
0

Jika kita mengabaikan istilah kedua, kita mendapatkan sebagai pendekatan


pertama

20 0
= ,

yang setuju dengan Pers. (3,168). Mari kita mengganti solusi ini dalam jangka
kedua Pers. (3,177), untuk mendapatkan pendekatan kedua

20 0 8 20 0
= 3 (3.178)
2

Istilah kedua memberikan koreksi orde pertama ke kisaran karena hambatan


udara, dan dua istilah pertama akan memberikan pendekatan yang baik ketika efek
hambatan udara kecil. istilah tingkat tinggi dapat dihitung dengan mengulangi

30
proccess of mengganti solusi perkiraan kembali Pers. (3,177). Dengan demikian
kita mendapatkan hal berturut untuk xm sebagai rangkaian listrik di b. kasus
sebaliknya ekstrim, ketika hambatan udara yang dominan dalam menentukan
kisaran (Fig.3.29), terjadi ketika penurunan vertikal di x = (mvx0) / b dimulai di
atas horizontal pesawat z = 0. kisaran kemudian, kira-kira,

0
= , ( 0 1) (3.179)

Kami dapat mengobati (kurang-lebih) masalah pengaruh angin pada proyektil


dengan mengasumsikan kekuatan hambatan udara menjadi sebanding dengan
kecepatan relatif dari proyektil sehubungan dengan udara:

2
2 = ( ), (3.180)

Mana adalah kecepatan angin. Jika vw konstan, istilah dalam


pers. (3,180) berperilaku sebagai gaya konstan ditambahkan ke , dan
masalah ini mudah diselesaikan dengan metode di atas, satu-satunya perbedaan
adalah bahwa mungkin ada kekuatan konstan selain gaya gesek di ketiga
dirrection x, y, z.

Hambatan udara ke proyektil menurun dengan ketinggian, sehingga bentuk yang


lebih baik untuk persamaan gerak proyektil yang naik ke ketinggian yang cukup
akan


2
2 = (3.181)

Di mana h adalah tinggi (katakanlah sekitar lima mil) di mana udara tahan jatuh
ke 1 / e dari nilai di permukaan bumi. dalam bentuk komponen

= / , = / , = /
(3.182)

31
Persamaan ini jauh lebih sulit untuk dipecahkan. sejak z muncul di persamaan x
dan y, pertama kita harus memecahkan persamaan z untuk z (t) dan mengganti
dalam dua persamaan lainnya. persamaan z tidak dari salah satu jenis sederhana
yang dibahas dalam bab 2. Pentingnya masalah ini dibawa keluar selama Perang
Dunia Pertama, ketika ditemukan tidak sengaja yang bertujuan terdapat pada
ketinggian yang lebih tinggi daripada yang sebelumnya telah diyakini
memberikan jangkauan maksimum mengakibatkan hambatan udara, di ketinggian
beberapa mil, lebih dari membuat untuk kerugian dalam komponen horizontal dari
kecepatan awal yang dihasilkan dari bertujuan pistol yang lebih tinggi.

3.12 ENERGI POTENSIAL

Jika F gaya yang bekerja pada sebuah partikel merupakan fungsi dari yang posisi r
= (x, y, z), maka kerja yang dilakukan oleh gaya ketika partikel bergerak dari r1
ke r2 diberikan oleh integral garis


2
. .
1

Hal ini menyarankan bahwa kita mencoba untuk menentukan energi potensial V
(r) = V (x, y, z) di analogi dengan pers. (2.41) untuk gerak satu dimensi, sebagai
pekerjaan yang dilakukan oleh gaya pada partikel ketika bergerak dari r beberapa
memilih rs titik standart:


() = (). . (3.183)

Definisi yang demikian menyiratkan, bagaimanapun, bahwa fuction V (r) akan


menjadi fungsi hanya dari koordinat (x, y, z) dari titik r (dan titik rs standart yang
kita anggap sebagai tetap), sedangkan pada umumnya integral di sebelah kanan
tergantung pada jalan integrasi dari rs ke r. hanya jika integral di sebelah kanan
adalah independen dari jalan integrasi akan definisi sah.

Mari kita asumsikan bahwa kita memiliki fungsi gaya F (x, y, z0 sehingga garis
integral dalam pers. (3,183) adalah independen dari jalan integrasi dari rs ke setiap
titik r. Nilai integral kemudian hanya bergantung pada r (dan rs) dan pers. (3,183)

32
mendefinisikan fungsi energi potensial V9R). perubahan V ketika partikel
bergerak dari r ke r + dr adalah negatif dari pekerjaan yang dilakukan oleh gaya F:

= . . (3.184)

Membandingkan pers. (3.184) dengan definisi geometris [pers (3,107)] gradien,


kita melihat bahwa
=

= . (3.185)
Persamaan (3.185) dapat regared sebagai solusi dari pers. (3,183) untuk F dalam
hal V. Dalam bentuk komponen,


= , = , = , (3.186)

Dalam mencari suatu kondisi yang harus dipenuhi oleh fungsi F9r) agar di tegral
di Pers. (3,183) independen dari jalan, kami mencatat bahwa, sejak Pers (3.28)
dapat dibuktikan dari aljabar definisi produk silang, harus terus juga untuk simbol
vektor:

= 0 (3.187)

Menerapkan ( dengan fucntion V, kita memiliki

V = ( ) = 0 (3.188)

Persamaan (3,188) dapat dengan mudah diverifikasi dengan perhitungan


langsung. Dari Pers. (3,188) dan (3,185), kita memiliki

= = 0 (3.189)

Sejak pers. (3,189) telah deducated pada asumsi bahwa fungsi potensial ada, itu
merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh fungsi gaya F (x, y, z)
sebelum fungsi potensial dapat didefinisikan. Kita dapat menunjukkan bahwa
pers. (3,189) juga merupakan kondisi yang cukup untuk keberadaan potensi
dengan memanfaatkan Stokes 'teorema [Pers. (3,117)]. Dengan Stokes'theorem,

33
jika kita mempertimbangkan jalan C tertutup di ruang angkasa, pekerjaan yang
dilakukan oleh gaya F (r) ketika partikel perjalanan di sekitar jalan ini

. = . (), (3.190)

di mana S adalah permukaan dalam ruang yang dibatasi oleh kurva tertutup C.
Jika sekarang Pers (3,189) diasumsikan untuk memegang, integral di sebelah
kanan adalah nol, dan kita memiliki, untuk setiap lintasan tertutup C

. = 0 (3.191)

Tetapi jika usaha yang dilakukan oleh F kekuatan sekitar jalan yang ditutup
adalah nol, maka kerja yang dilakukan di pergi dari r1 ke r2 akan bergantung dari
jalan diikuti. mempertimbangkan dua jalur antara r1 dan r2, dan membiarkan jalan
C tertutup terbentuk pergi dari r1 ke r2 oleh satu jalur dan kembali ke r1 dengan
lainnya (Gambar 3.30). Karena kerja yang dilakukan sekitar C adalah nol, bekerja
di pergi dari r1 ke r2 harus sama dan berlawanan dengan yang pada perjalanan
pulang, maka pekerjaan untuk pergi dari r1 ke r2 dengan jalan baik adalah sama.
Applyng argumen ini dengan integral di sebelah kanan dalam Pers (3,183), kita
melihat bahwa hasilnya adalah independen dari jalan integrasi dari r1 ke 2, dan
karena itu tetap. Jadi Pers. (3,189) adalah penting dan cukup untuk eksistensi dari
fungsi potensial V (r) ketika gaya diberikan sebagai fungsi dari posisi F (r)

Ketika lengkungn F adalah nol, kita bisa mengekspresikan usaha yang dilakukan
oleh gaya ketika partikel bergerak dari r1 ke r2 sebagai berbeda antara nilai dari
energi potensial di titik-titik ini:


2 2 2
. = . + .
1 1 1

34
= (1 ) (2 ) (3.192)

Penggabungan Pers (3,192) dengan teorema (3,135), kita memiliki untuk setiap
dua kali t1 dan t2:

1+ (1 ) = 2 + (2 ) (3.193)

Maka total energi (T + V) lagi konstan, dan kita memiliki energi yang tidak
terpisahkan untuk gerakan dalam tiga dimensi:

1
+ = 2 ( 2 + 2 + 2 ) + (, , ) = (3.194)

Sebuah gaya yang merupakan fungsi dari posisi saja, dan yang ikal lenyap,
dikatakan konservatif, karena itu mengarah ke teorema conservastion energi
kinetik ditambah potensi [Pers. (3,194)

Dalam beberapa kasus, kekuatan mungkin fungsi dari posisi bith dan waktu F (r,
t). Jika kapan saja t curl dari F (r, t) lenyap maka fungsi energi potensial V (r, t)
dapat didefinisikan sebagai

(, )
(, ) = (3.195)
.

dan kita akan memiliki, untuk waktu t sehingga (, ) = 0

(, ) = (, ) (3.196)

Namun, hukum kekekalan energi tidak bisa lagi dibuktikan, untuk Pers (3,192)
tidak lagi memegang. Hal ini tidak lagi benar bahwa perubahan energi potensial
sama dengan negatif dari pekerjaan yang dilakukan pada partikel, untuk integral
yang mendefinisikan energi potensial pada waktu t dihitung dari fungsi yang
berlaku pada saat itu, sedangkan integral yang mendefinisikan pekerjaan dihitung
dengan menggunakan pada setiap titik fungsi berlaku pada saat partikel melewati
titik itu. Akibatnya, energi T + V tidak konstan ketika F dan V adalah fungsi dari
waktu, dan tenaga seperti itu tidak disebut kekuatan konservatif.

35
Ketika gaya yang bekerja pada partikel yang konservatif, Pers.(3,194)
memungkinkan kita untuk menghitung kecepatan sebagai fungsi dari posisinya.
Energi E ditetapkan oleh kondisi awal gerak. Persamaan (3,194), seperti
Persamaan. (2.44), tidak memberikan informasi mengenai arah gerakan.
Kurangnya pengetahuan tentang arah jauh lebih serius dalam dua dan tiga
dimensi, di mana ada yang tak terbatas kemungkinan arah, daripada di satu
dimensi, di mana hanya ada dua arah yang berlawanan di mana partikel dapat
bergerak. Dalam satu dimensi, hanya ada satu jalan sepanjang yang partikel dapat
bergerak. Dalam dua atau tiga dimensi, ada banyak jalan, dan kecuali kita tahu
jalur partikel, Eq. (3,194) saja memungkinkan kita untuk mengatakan sedikit
tentang gerak kecuali bahwa itu dapat terjadi hanya di daerah di mana V (x, y, z)
<E. Sebagai contoh, energi potensial elektron dalam medan listrik yang menarik
dari dua proton (terionisasi hidrogen molekul 2+ ) adalah

2 2
= , () (3.197)
1 2

Dimana r 1, r 2 adalah jarak elektron dari dua proton. Fungsi V (x, y) (untuk gerak
di bidang xy saja) diplot pada Gambar. 3.31 sebagai peta kontur, di mana dua
proton 2 A terpisah pada titik-titik y = 0, x 1 A, dan tokoh-tokoh pada kontur
energi potensial konstan yang sesuai energi potensial dalam satuan 10- 12 erg.
Selama E < -46 X 10- 12 erg, elektron terbatas pada daerah sekitar satu proton
atau yang lain, dan kami berharap yang
gerak akan baik osilasi melalui pusat menarik atau orbit di sekitarnya, tergantung
pada kondisi awal. (Ini komentar dari yang diharapkan gerak membutuhkan
beberapa wawasan fisik atau pengalaman selain apa yang kita bisa. Mengatakan
dari energi terpisahkan saja) Untuk 0> E> - 46 x 10- 12 erg, elektron adalah
terbatas pada wilayah yang meliputi proton, dan berbagai gerakan yang mungkin.
Untuk E> 0, elektron tidak terbatas pada setiap wilayah yang terbatas di dalam
pesawat.

36
Untuk E -46 x 10- 12 erg, elektron terbatas pada daerah di mana oksalat yang
potensi yang lingkaran hampir sekitar satu proton, dan geraknya akan praktis
sama seperti jika proton lain tidak ada di sana. Untuk E <0, tapi Lei 46 x 10- 12
erg, elektron dapat lingkaran dalam orbit yang jauh dari pusat-pusat menarik, dan
yang
gerak maka akan menjadi sekitar bahwa elektron terikat satu menarik
pusat biaya 2e, sebagai equipotentiallines jauh dari pusat menarik adalah
lagi sangat hampir lingkaran.

Mengingat fungsi energi potensial V (x, y, z), Persamaan. (3,186) memungkinkan


kita untuk menghitung komponen yang sesuai gaya pada setiap titik. Sebaliknya,
diberikan kekuatan

37
F (x, y, z), kita dapat menghitung ikal untuk menentukan apakah fungsi energi
potensial
ada untuk itu. Jika semua komponen curl F adalah nol dalam setiap wilayah
ruang, maka
dalam wilayah itu F dapat diwakili dalam hal fungsi energi potensial sebagai -
VV. Energi potensial yang akan dihitung dari Persamaan. (3,183). Selanjutnya,
sejak keriting F = 0, hasilnya adalah independen dari jalan integrasi, dan kami
mungkin menghitung integral bersama setiap jalan yang mudah. Sebagai contoh,
perhatikan berikut dua fungsi gaya:
a) = , = 2 , = 2
b) = ( 2 3 2 ), = 3( 2 2 ) = 6,

di mana a adalah konstanta. Kami menghitung curl dalam setiap kasus:


a) = ( ) + ( ) + ( )

= (2) + (2) ()

b) = 0
Dalam kasus (a) tidak ada energi potensial ada. Dalam kasus (b) ada fungsi energi
potensial,
dan kami melanjutkan untuk menemukannya. Mari kita rs = 0, yaitu, mengambil
potensi sebagai nol diasal. Karena komponen kekuatan yang diberikan sebagai
fungsi dari x, y, z, yang
jalan paling sederhana integrasi dari (0, 0, 0) ke (xo, Yo, zo) bersama yang untuk
menghitung
integral dalam Pers. (3,183) adalah salah satu yang mengikuti garis sejajar dengan
koordinat
kapak, misalnya seperti yang ditunjukkan di Fig.3.32

(0 ,0, 0 )
(0 , 0, 0 ) = . = . . . .
(0,0,0) 1 2 3

Sekarang bersama C 1, kita memiliki

38
= = 0, = = = 0 , =

Demikian
0
. = = 0
1 0

Seiring C2,

= 0 , =0

= 3 , = 30 2 , = 0

dr=

Demikian

0
. = = 0 0 2
2 0

Seiring C 3,

= 0 , = 0

= 0 ( 02 3 2 , = 30 (02 2 , = 60 0

Demikian

0
. = = 30 0 02
3 0

Jadi energi potensial, jika subscript nol dijatuhkan, adalah

(, , ) = 3 + 3 2

Hal ini mudah diverifikasi bahwa gradien dari fungsi ini adalah gaya yang
diberikan oleh (b) di atas. Bahkan, salah satu cara untuk menemukan energi
potensial, yang sering lebih cepat dari prosedur di atas, hanya untuk mencoba
menebak fungsi yang gradien akan memberikan gaya yang dibutuhkan.
Kasus penting dari kekuatan konservatif adalah kekuatan pusat, kekuatan

39
diarahkan selalu menuju atau menjauh dari pusat tetap 0, dan yang besarnya
merupakan fungsi hanya dari jarak dari o. Dalam koordinat bola, dengan 0 sebagai
asal,

= () (3.198)

Komponen Cartesian dari kekuatan sentral (karena = / )



= (),

1

= (), [ = 2 + 2 + 2 )2 ] (3.199)


= (),

Lengkungan dari gaya ini dapat ditunjukkan dengan perhitungan langsung


menjadi nol, tidak peduli
apa fungsi F (r) mungkin. Sebagai contoh, kita menemukan
() ()
= ( ) = ( ) ,

() ()
= ( ) = ( )

Oleh karena itu z-komponen curl F lenyap, dan sebagainya, demikian pula,
apakah dua lainnya
komponen. Untuk menghitung energi potensial, kami memilih rs titik standar,
dan mengintegrasikan dari r s ke Yo sepanjang jalan (Gbr. 3.33) berikut radius (C
1) dari
Y s, yang koordinat adalah (rs, Os, qJs) 'ke titik (ro, es, qJs)' kemudian sepanjang

40
lingkaran (C z)
radius ro tentang asal ke titik (ro, eo, qJo).Seiring C 1,

=
0
. = ()
1

Seiring C2,
+
= sin ,

. = 0
2

Demikian
0
(0 ) = = . .
1 2
0
= ()

Energi potensial adalah fungsi dari r sendiri:



() = () = () (3.200)

3.13 GERAK DIBAWAH PUSAT GAYA


Sebuah kekuatan sentral adalah kekuatan dari bentuk yang diberikan oleh
Persamaan. (3,198). Secara fisik, kekuatan seperti itu merupakan daya tarik [jika
F (r) < 0 ] atau tolakan [jika F (r)> 0] dari titik tetap terletak pada asal r: =: O.
Dalam kebanyakan kasus di mana dua partikel berinteraksi satu sama lain ,
kekuatan di antara mereka adalah (setidaknya terutama) kekuatan sentral; yaitu,
jika salah satu partikel berada di titik asal, gaya pada yang lain diberikan oleh
Persamaan. (3,198).Contoh pasukan tengah yang menarik adalah gaya gravitasi
yang bekerja pada sebuah planet karena matahari? atau tarik listrik yang bekerja
pada elektron karena inti
atom. Gaya antara proton atau partikel alfa dan inti lain adalah kekuatan pusat
menjijikkan. Dalam kasus yang paling penting? gaya F (r) adalah berbanding
terbalik sebanding dengan r 2. Kasus ini akan dirawat di bagian berikutnya.

41
Bentuk lain dari Fungsi F (r) kadang-kadang terjadi; misalnya, dalam beberapa
masalah yang melibatkan struktur dan interaksi inti, atom kompleks, dan molekul.
Di bagian ini, kami menyajikan metode umum serangan terhadap masalah partikel
bergerak
di bawah aksi dari kekuatan pusat.
Karena dalam semua contoh ini tak satu pun dari dua partikel berinteraksi
sebenarnya diikat ke posisi tetap, masalah kita memecahkan, seperti kebanyakan
masalah dalam fisika, merupakan idealisasi masalah yang sebenarnya, berlaku
ketika salah satu partikel dapat dianggap sebagai praktis saat istirahat pada titik
asal. Ini akan terjadi jika salah satu partikel yang jauh lebih berat dari yang lain.
Karena gaya yang bekerja pada dua partikel memiliki besarnya sama dengan
hukum ketiga Newton, percepatan yang berat akan jauh lebih kecil dari yang
ringan, dan gerakan partikel berat dapat diabaikan dibandingkan dengan gerakan
ringan satu. Kita akan menemukan kemudian, dalam Bagian 4.7, yang, dengan
sedikit modifikasi, solusi kami dapat dibuat untuk menghasilkan solusi yang tepat
untuk masalah gerakan dua partikel berinteraksi, bahkan ketika massa mereka
adalah sama. Kita dapat mencatat bahwa vektor momentum sudut dari partikel di
bawah aksi dari kekuatan pusat adalah konstan, karena torsi yang
= = ( )() = 0 (3.201)

Oleh karena itu, oleh Persamaan. (3,144),



=0 (3.202)

Akibatnya, momentum sudut mengenai sumbu melalui pusat kekuatan konstan.


Hal ini karena banyak kekuatan fisik adalah kekuatan sentral yang konsep
momentum sudut sangat penting.
Dalam pemecahan untuk gerakan partikel bertindak dengan kekuatan sentral,
pertama kita menunjukkan bahwa jalan dari partikel terletak pada satu pesawat
yang berisi pusat kekuatan. Untuk menunjukkan hal ini, biarkan posisi Y0 dan
kecepatan V0 diberikan setiap saat awal untuk, dan memilih sumbu x throq.gh

42
awal posisi Y0 partikel, dan z-sumbu tegak lurus terhadap kecepatan awal V0.
Maka kita harus awalnya:
0 = | |, 0 = 0 = 0 (3.203)
0 = 0 . , 0 = 0 . ,
0 = 0 (3.204)

Persamaan gerak di koordinat persegi panjang yang, oleh pers. (3,199),



= (), = (), = (), (3.205)

Sebuah solusi dari z-persamaan yang memenuhi kondisi awal pada 0 dan
adalah
() = 0 (3.206)

Oleh karena itu gerakan berlangsung sepenuhnya di bidang xy. Kita bisa melihat
secara fisik yang
jika gaya pada sebuah partikel selalu menuju asal, partikel tidak pernah dapat
memperoleh
komponen kecepatan keluar dari pesawat di mana ia awalnya bergerak. Kita dapat
juga menganggap resllit ini sebagai konsekuensi dari konservasi momentum
sudut.
Oleh Persamaan. (3,202), vektor L = m (r x v) adalah konstan; Oleh karena itu
kedua r dan v keharusan selalu berbohong dalam pesawat tetap tegak lurus L.
Kita sekarang telah mengurangi masalah untuk salah satu dari gerak dalam
pesawat dengan dua persamaan diferensial dan empat kondisi awal yang tersisa
untuk menjadi puas. Jika kita memilih koordinat polar r, pada bidang gerak,
persamaan gerak dalam rand FJ arah yang, oleh pers. (3.80) dan (3,198),
2 = () (3.207)
+ 2 = 0 (3.208)

Mengalikan Persamaan. (3,208) dengan r, seperti pada derivasi dari (pesawat)


momentum sudut
teorema, kita memiliki

43

( 2 ) = =0 (3.209)

Persamaan ini mengungkapkan konservasi momentum sudut tentang asal dan


merupakan konsekuensi juga dari Persamaan. (3,202) di atas. Ini mungkin
diintegrasikan untuk memberikan momentum sudut integral dari persamaan gerak:

( 2 ) = = (3.210)
Konstanta L adalah untuk dievaluasi dari kondisi awal. integral dari Pers. (3,207)
dan (3,208), karena gaya konservatif, adalah
1 1
+ = 2 2 + 2 2 2 + () = (3.211)

dimana V (r) diberikan oleh Persamaan. (3.200) dan E adalah energi yang
konstan, yang akan dievaluasi dari kondisi awal. Jika kita menggantikan dari
Persamaan. (3.210), energi
menjadi

1 2
2 + 2 2 + () = (3.212)
2

Kita dapat memecahkan r:


1
2 2
= ( () 2 2 ) 2 (3.213)

Karena itu
2
2 = (3.214)
0 (() )1/2
22

integral untuk dievaluasi dan persamaan yang dihasilkan diselesaikan untuk r (t).
Kami kemudian
mendapatkan (t) dari Persamaan. (3.210):

= 0 + 0 2 (3.215)

44
Dengan demikian kita mendapatkan solusi dari pers. (3,207) dan (3,208) dalam
hal empat konstanta , , 0 , 0 , yang dapat dievaluasi saat. posisi awal dan
kecepatan dalam
Pesawat diberikan.
Ini akan dicatat bahwa pengobatan kami berdasarkan Persamaan. (3,212) adalah
analog dengan kami pengobatan masalah satu dimensi berdasarkan energi
terpisahkan [Eq. (2.44)].
Koordinat r sini memainkan peran x, dan istilah dalam energi kinetik, ketika
dieliminasi oleh Persamaan. (3.210), memainkan peran seorang Selain potensi
energi. Kami dapat membawa keluar analogi ini lebih lanjut dengan
menggantikan dari Persamaan. (3.210) dalam Persamaan. (3,207):
2
3 = () (3.216)

Jika kita merefleksikan istilah - L 2 / mr 3 ke sisi kanan, kita memperoleh


2
= () + 3 (3.217)

Persamaan ini memiliki persis bentuk persamaan gerak dalam satu dimensi
untuk subjek partikel dengan kekuatan F aktual (r) ditambah "gaya sentrifugal"
2
. Itu
3

gaya sentrifugal tidak benar-benar berlaku pada semua tapi sebagian besar kali
massa percepatan,
dialihkan ke sisi kanan persamaan untuk mengurangi persamaan untuk r untuk
persamaan dari bentuk yang sama seperti untuk gerak satu dimensi. Kita mungkin
menyebutnya
"Gaya fiktif." Jika kita memperlakukan Persamaan. (3,217) sebagai masalah
dalam gerak satu dimensi, efektif "energi potensial" sesuai dengan "kekuatan" di
sebelah kanan adalah
2
() = ()
3
2
= () + 2 2 (3.218)

Istilah kedua di 'V' adalah "energi potensial" terkait dengan "gaya sentrifugal."
Integral energi yang dihasilkan hanya Pers. (3,212). Alasan mengapa kami telah

45
mampu untuk mendapatkan solusi lengkap untuk masalah kita berdasarkan hanya
dua integral, atau konstanta dari gerak (L dan E), adalah bahwa persamaan gerak
tidak mengandung koordinat FJ, sehingga keteguhan L cukup untuk
memungkinkan kita untuk menghilangkan FJ seluruhnya dari Persamaan. (3,207)
dan untuk mengurangi masalah ke masalah yang setara dalam gerakan satu
dimensi.
Integral dalam Pers. (3,214) kadang-kadang ternyata agak sulit untuk
mengevaluasi di
praktek, dan persamaan yang dihasilkan sulit untuk memecahkan r (t). Kadang-
kadang lebih mudah untuk menemukan jalan partikel dalam ruang daripada
menemukan gerak sebagai fungsi waktu .; Kita bisa menjelaskan jalur partikel
dengan memberikan r (FJ). Persamaan yang dihasilkan agak sederhana jika kita
membuat substitusi
1 1
= , = (3.219)

Kemudian kita memiliki, menggunakan Pers. (3.210),


1
= 2 = 2

= 2 (3.220)
2 2 2 2
= 2 = - 2 (3.221)
2


Menggantikan r dan di pers. (3,217), dan mengalikannya dengan 2 2 kita

memiliki
persamaan diferensial untuk jalur atau orbit dari segi ()
2 1
= 2 2 () (3.222)
2

Dalam kasus L = 0, persamaan. (3.222) meledak, tapi kita lihat dari Persamaan.
(3.210) yang dalam hal ini adalah konstan, dan jalan adalah garis lurus melalui
titik asal.
Bahkan dalam kasus-kasus di mana solusi eksplisit Pers. (3,214) dan (3,215), atau
Pers.
(3,222), sulit untuk melaksanakan, kita dapat memperoleh informasi kualitatif

46
tentang
r gerak dari efektif potensi 'V' yang diberikan oleh Pers. (3,218), seperti dalam
satu-
Kasus dimensi dibahas dalam Bagian 2.5. Dengan memplot 'V' (r), kita bisa
memutuskan untuk
energi total E apakah gerak dalam r adalah periodik atau aperiodic, kita dapat
menemukan
titik balik, dan kami dapat menjelaskan kira-kira berapa kecepatan r bervariasi
selama
gerakan. If'V '(r) memiliki minimum pada ro titik, maka untuk energi E sedikit
lebih besar dari
'V' (ro), r dapat melakukan kecil, sekitar harmonik osilasi tentang ro dengan
frekuensi sudut diberikan oleh
1 2
2 = ( 2 ) 0 (3.223)

Kita harus ingat, dari ourse, bahwa pada saat yang sama partikel yang berputar di
sekitar pusat kekuatan dengan kecepatan sudut


= 2 (3.224)

Tingkat revolusi menurun sebagai r meningkat. Dalam kasus di mana gerakan r


tidak periodik, maka 0 sebagai , dan walikota partikel mungkin tidak
melakukan satu atau revolusi yang lebih lengkap ketika bergerak menuju
tergantung pada seberapa cepat r meningkat. Ketika gerakan r adalah periodik,

47
periode gerak r tidak, di umum, sama dengan periode revolusi, sehingga orbit
mungkin tidak ditutup, meskipun terbatas pada wilayah terbatas ruang. (Lihat
Gambar. 3.34.) Jika rasio periode gerak r dengan periode revolusi adalah bilangan
rasional, orbit akan ditutup. Jika rasio ini adalah bilangan bulat, orbit adalah kurva
tertutup sederhana yang periode terkait dengan bidang orbit. Hal ini dapat dilihat
sebagai berikut. Daerah menyapu oleh jari-jari dari titik asal ke partikel ketika
partikel bergerak melalui sudut kecil de adalah sekitar
1
= 2 2 (3.225)

Oleh karena itu tingkat di mana daerah yang tersapu oleh jari-jari adalah, oleh
Persamaan. (3.210),
1
= 2 2 = 2 (3.226)

Hasil ini berlaku untuk setiap partikel bergerak di bawah aksi dari kekuatan pusat.
Jika
gerak yang periodik, maka, mengintegrasikan selama periode lengkap 1: gerak,
kita miliki untuk wilayah orbit

= 2 (3.227)

Jika orbit diketahui, periode revolusi dapat dihitung dari rumus ini.
3.14. PUSAT GAYA YANG BERBANDING TERBALIK DENGAN JARAK
Masalah yang paling penting dalam gerakan tiga dimensi adalah bahwa ofa
bergerak massal di bawah aksi dari kekuatan pusat berbanding terbalik dengan
kuadrat dari menjauhkan dari pusat:

= 2 (3.228)

Dimana energi potensial adalah

48

() = (3.229)

dimana rs radius standar diambil menjadi tak terbatas untuk menghindari


tambahan
Istilah konstan dalam V (r). Sebagai contoh, gaya gravitasi (Bagian 1.5) antara
dua massa m 1 dan m 2 jarak r terpisah diberikan oleh Persamaan. (3,228) dengan

= 1 2 , = 6,67108 2 2 (3.230)

di mana K adalah negatif, karena gaya gravitasi menarik. Contoh lain adalah gaya
elektrostatik antara dua muatan listrik q 1 dan q 2 r terpisah jarak, diberikan oleh
Persamaan. (3,228) dengan

= 1 2 , (3.231)
di mana tuduhan itu dalam satuan elektrostatik, dan gaya adalah dalam dyne.
elektro yang
gaya statis menjijikkan ketika 1 2 , memiliki tanda yang sama, jika tidak
menarik.
Secara historis, masalah pertama yang mekanik Newton diterapkan adalah
masalah yang melibatkan pergerakan planet di bawah tarik gravitasi matahari, dan

49
gerak satelit di sekitar planet. Keberhasilan teori dalam akuntansi untuk gerakan
seperti bertanggung jawab untuk penerimaan awal.
Kami pertama kali menentukan sifat orbit yang diberikan oleh hukum kuadrat
terbalik dari
memaksa. Pada Gambar. 3.36 diplot potensi efektif

2
() = + 2 2 (3.232)

Untuk gaya tolak (K> 0), tidak ada gerakan periodik di r; total hanya energi
positif E yang mungkin, dan partikel datang dari = ke titik balik dan
perjalanan ke infinity lagi. Untuk energi yang diberikan dan momentum sudut,
titik balik terjadi pada nilai yang lebih besar dari r daripada K =0 (tidak ada
kekuatan), yang mengorbit akan menjadi garis lurus. Untuk kekuatan yang
menarik (K <0) dengan 0 , gerakan ini juga terbatas jika E> 0, tetapi dalam
kasus ini titik balik terjadi pada nilai yang lebih kecil dari r daripada K =0. Oleh
karena orbit yang seperti ditunjukkan pada Gambar. 3.37. Garis cahaya pada
Gambar. 3.37 mewakili radius titik balik atau perihelion jarak diukur dari titik
pendekatan terdekat dari partikel ke menarik atau tolak-menolak pusat. Untuk K
1 2
<0, 2 < < 0 koordinat r berosilasi antara dua titik balik. Untuk =
2
1 2 2
2 <, bergerak partikel dalam radius lingkaran 0 = . Perhitungan
2

menunjukkan (lihat Soal 44 pada akhir bab ini ) bahwa periode osilasi kecil di r
1 2
adalah sama dengan periode revolusi, sehingga untuk E dekat 2 , orbit
2

adalah kurva tertutup dengan asal sedikit dari pusat (setidaknya di perkiraan
osilasi kecil). Kami akan menunjukkan kemudian bahwa orbit ini, pada
kenyataannya, elips untuk semua nilai negatif dari E jika 0. Jika = 0,
masalah mengurangi untuk gerak satu dimensi dari tubuh jatuh,
dibahas dalam Bagian 2.6

50
Untuk mengevaluasi integral dalam pers. (3,214) dan (3,215) untuk hukum
kuadrat terbalik kekuatan agak melelahkan. Kita akan menemukan bahwa kita
dapat memperoleh semua informasi penting tentang gerakan lebih sederhana
dengan memulai dari Pers. (3.222) untuk orbit. Persamaan (3.222) untuk orbit
menjadi, dalam hal ini,
2
+ = (3.233)
2 2

Persamaan ini memiliki bentuk yang sama seperti yang dari osilator harmonik
(frekuensi Unit)
tunduk pada gaya konstan, di mana disini memainkan peran t. homogen
e qua tion dan solusi umum yang
2
+ =0 (3.234)
2

= cos( ) (3.235)
di mana A, 0 adalah konstanta sembarang. Sebuah solusi tertentu yang jelas dari
persamaan di-homogen (3,233) adalah solusi konstan

= (3.236)
2

Oleh karena itu solusi umum dari persamaan. (3,233) adalah


1
== + cos( ) (3.237)
2

51
Ini adalah persamaan irisan kerucut (elips, parabola, atau hiperbola) dengan fokus
pada r = 0, seperti yang akan kita saat ini menunjukkan. Konstan 0 menentukan
orientasi orbit dalam pesawat. Konstanta A, yang dapat diambil sebagai positif
(karena eo adalah sewenang-wenang), menentukan titik balik dari gerakan r, yang
diberikan oleh
1 1
= + , = (3.238)
1 2 2 2


Jika < (karena tentu adalah untuk K> 0), maka hanya ada satu titik balik, r
2

1, karena r tidak boleh negatif. Kita tidak bisa memiliki < , karena r bisa
2

kemudian tidak menjadi positif untuk setiap nilai . Untuk E diberikan, titik balik
solusi dari persamaan
2
() = + 2 2 = (3.239)

Solusi nya adalah


1 2 1
= + [( 2 )2 + ]2
1 2 2

1 2 1
= + [( 2 )2 + ]2 (3.240)
2 2 2

Membandingkan Persamaan. (3,238) dengan Persamaan. (3,240), kita melihat


bahwa nilai A dalam hal energi dan momentum sudut diberikan oleh orbit
sekarang bertekad dalam hal kondisi awal.

52
2 2 2
2 = + (3.241)
2 2

orbit kini ditentukan dalam hal kondisi awal.


Elips didefinisikan sebagai kurva ditelusuri oleh partikel bergerak sehingga
jumlah tersebut
dari jarak yang dari dua titik tetap F, F 'adalah konstan. * Poin F,F' disebut yang
fokus elips. Menggunakan notasi yang ditunjukkan pada Gambar. 3.38, kita
memiliki
+ = 2 (3.242)

di mana adalah setengah diameter terbesar (sumbu utama) elips. Dalam hal polar
berkoordinasi dengan pusat pada fokus F dan dengan negatif sumbu x melalui
fokus F ', hukum cosinus memberikan
2 = 2 + 42 2 + 4 (3.243)

di mana adalah jarak dari pusat elips untuk fokus; disebut eksentrisitas elips.
Jika =0, yang fokus bertepatan dan elips adalah lingkaran. Sebagai 1 , elips
merosot menjadi parabola atau segmen garis lurus, tergantung apakah fokus F
'surut hingga tak terbatas atau tetap jarak yang terbatas dari F.Menggantikan r
'dari Persamaan. (3,242) pada persamaan. (3,243), kita menemukan
(1 2 )
= 1+ cos (3.244)

53
Ini adalah persamaan elips di koordinat polar dengan asal pada satu fokus.
Jika b adalah setengah diameter terkecil (sumbu minor), kita memiliki, dari
Gambar. 3.38,

= (1 2 )1/2 (3.245)
Daerah elips dapat diperoleh dengan cara langsung oleh integrasi:
= (3.246)

Sebuah hiperbola didefinisikan sebagai kurva ditelusuri oleh partikel bergerak


sehingga
Perbedaan jarak yang dari dua fokus F tetap, F 'adalah konstan (Gambar. 3.39).
Sebuah hiper
bola memiliki dua cabang yang didefinisikan oleh
+ = 2 (+)
= 2 () (3.247)
Kami akan memanggil cabang yang mengelilingi F cabang + (kiri cabang di
gambar).,
dan cabang yang menghindari F - cabang (cabang kanan pada gambar). Equatlon
(3,243) berlaku juga bagi hiperbola, tapi eksentrisitas e sekarang lebih besar dari
satu.
Persamaan hiperbola menjadi dalam koordinat polar:

( 2 1)
= 1+ cos (3.248)

(Tanda + mengacu pada cabang +, yang - tanda ke -. Cabang) The asymptotes dari
hiperbola (. garis putus-putus pada Gambar 3.39) membuat sudut r: x dengan
sumbu melalui yang fokus, di mana r: x adalah nilai () yang t tak terbatas:
1
cos = (3.249)

Sebuah parabola adalah kurva ditelusuri oleh partikel bergerak sehingga jarak dari
garis tetap D (directrix yang) sama dengan jarak dari fokus tetap F. Dari Gambar.
3.40, kita memiliki

54
a
r = 1+cos (3.250)

di mana adalah jarak dari fokus F ke directrix D. Kita dapat menulis persamaan
untuk semua tiga bagian berbentuk kerucut dalam bentuk standar
1
= B + A cos (3.251)
r

di mana A adalah positif, dan B dan A diberikan sebagai berikut:

B > A, bulat
= 1/(1 2 ) , = /(1 2 ) (3.252)

B = A Parabola
1 1
= , = ; (3.253)

0 < B <A, hyperbola , +branch

1
= (2 1) , = (2 1) (3.254)

-A < B < 0, hyperbola , -branch


1
= (2 1) , = (2 1) (3.255)

Kasus B <- A bisa tidak terjadi, karena r akan kemudian tidak menjadi positif
untuk nilai apapun
dari (J. Jika kita membiarkan orientasi sewenang-wenang dari kurva terhadap
sumbu x,
kemudian Persamaan. (3,251) menjadi

1
= + ( ) (3.256)

mana adalah sudut antara sumbu x dan garis dari titik asal ke perihelion (Titik
pendekatan terdekat dari kurva ke asal). Ini akan dicatat bahwa dalam semua
kasus

55

= || (3.257)

F atau elips atau hiperbola,



= |2 2| (3.258)

Persamaan (3,237) untuk orbit partikel di bawah kekuatan hukum kuadrat terbalik
memiliki bentuk persamaan. (3,256) untuk irisan kerucut, dengan jika kita
menggunakan Persamaan. (3,241)

= | 2 |
2
= ( 2 ) 1/2
(3.259)
2

Eksentrisitas orbit, oleh Persamaan. (3,257), adalah

1
2
= (1 + 2E2 ) 2 (3.260)

Sebuah kekuatan yang menarik (K <0), orbit adalah elips, parabola, atau
hiperbola, tergantung pada apakah E <0, E = 0, atau E> 0; jika hiperbola, itu
adalah cabang +.Untuk gaya tolak (K> 0), kita harus memiliki E> 0, dan orbit
hanya dapat menjadi - Cabang hiperbola. Hasil ini setuju dengan kualitatif awal
kami diskusi. Untuk orbit elips dan hiperbolik, sumbu a semimajor diberikan oleh

= |2 | (3.261)

Aneh bahwa hubungan ini tidak melibatkan eksentrisitas atau sudut


momentum; energi E hanya bergantung pada sumbu a semimajor, dan sebaliknya.
Persamaan (3.260) dan (3,261) dapat diperoleh langsung dari Persamaan. (3,239)
untuk
titik balik dari gerakan r. Ifwe memecahkan persamaan ini untuk r, kita
memperoleh balik yang
poin

56
2 2 1/2
1,2 = 2 [(2) + 2 ] (3.262)

Maksimum dan jari-jari minimum untuk elips


1,2 = (1 ) (3.263)

dan jari-jari minimum untuk hiperbola adalah


1 = ( 1) (3.264)
di mana tanda atas adalah untuk cabang + dan tanda yang lebih rendah untuk -
cabang. Membandingkan pers. (3,263) dan (3,264) dengan Persamaan. (3,262),
kita bisa membacakan nilai-nilai dan 8. Jadi jika kita tahu bahwa jalan adalah
elips atau hiperbola, kita dapat menemukan ukuran \ dan bentuk dari Persamaan.
(3,239), yang mengikuti dari metode energi sederhana pengobatan, tanpa melalui
solusi yang tepat dari persamaan untuk orbit.
Ini adalah titik yang berguna untuk diingat.

3.15 PERMASALAHAN HUKUM KEPLER TENTANG ORBIT PLANET

Pada awal abad ketujuh belas, sebelum penemuan Newton hukum gerak, Kepler
mengumumkan tiga hukum berikut menggambarkan pergerakan planet,
disimpulkan dari pengamatan yang luas dan akurat dari gerakan planet oleh Tycho
Brahe:

1. Planet-planet bergerak di elips dengan matahari pada satu fokus.


2. Area menyapu oleh vektor radius dari matahari ke planet di kali sama
adalah sama.
3. Persegi periode revolusi sebanding dengan pangkat tiga dari
semimayor sumbu

Hukum kedua dinyatakan oleh Pers kami. (3,226) dan merupakan konsekuensi
dari konservasi momentum sudut; itu menunjukkan bahwa gaya yang bekerja
pada planet ini diarahkan ke arah matahari. Hukum pertama berikut, karena kami
telah menunjukkan, dari fakta bahwa gaya berbanding terbalik dengan kuadrat

57
jarak. Hukum ketiga mengikuti dari kenyataan bahwa gaya gravitasi sebanding
dengan massa planet, seperti sekarang kita menunjukkan.
seperti sekarang kita menunjukkan.
Dalam kasus orbit elips, kita dapat menemukan periode gerak dari Pers. (3,227)
dan (3,246):
2 2 2 2 1/2
= = 2 (1 2 )1/2 = ( ) (3.265)
2||3

atau, menggunakan Pers. (3,261),


2 = 4 2 3 | | (3.266)

Dalam kasus partikel kecil massa m bergerak di bawah tarik gravitasi [Pers.
(3,230) J dari tubuh besar massa M, ini menjadi
4 2
2 = 3 (3.267)

Koefisien dari 3 sekarang menjadi konstan untuk semua planet, dalam


perjanjian dengan hukum ketiga Kepler. Persamaan (3,267) memungkinkan kita
untuk "berat" matahari, jika kita tahu nilai G, dengan mengukur periode dan
sumbu utama dari setiap orbit planet. Ini memiliki sudah telah bekerja di Bab 1,
Soal 11, untuk orbit melingkar. Persamaan (3,267) sekarang menunjukkan bahwa
hasil berlaku juga untuk orbit elips jika sumbu semi-mayor diganti untuk jari-jari.
Kami telah menunjukkan bahwa hukum Kepler mengikuti dari hukum
Newton tentang gerak dan hukum gravitasi. Masalah berkomunikasi, untuk
menyimpulkan hukum gaya dari hukum Kepler dan hukum gerak, merupakan
masalah lebih mudah, dan sangat penting secara historis, untuk itu dengan cara ini
bahwa Newton menyimpulkan hukum gravitasi. Kami berharap bahwa gerakan
planet harus menunjukkan penyimpangan sedikit dari hukum Kepler, mengingat
fakta bahwa masalah kekuatan sentral yang diselesaikan di bagian terakhir
merupakan idealisasi masalah fisik yang sebenarnya. Di tempat pertama, seperti
yang ditunjukkan dalam Bagian 3.13, kita telah mengasumsikan bahwa matahari
adalah stasioner, sedangkan sebenarnya itu harus bergetar sedikit karena daya

58
tarik planet terjadi di sekitar itu. Efek ini sangat kecil, bahkan dalam kasus yang
terbesar planet, dan dapat diperbaiki oleh metode dijelaskan nanti dalam Bagian
4.7. Di tempat kedua, sebuah planet yang diberikan, mengatakan bumi, yang
bertindak oleh gravitasi tarik dari planet lain, serta oleh matahari. Karena massa
bahkan terberat planet hanya beberapa persen dari massa th? matahari, ini akan
menghasilkan kecil tapi penyimpangan terukur dari hukum Kepler. penyimpangan
tersebut diharapkan dapat calcu- lated, dan mereka setuju dengan pengamatan
astronomi sangat tepat. Bahkan, planet Neptunus dan Pluto ditemukan sebagai
akibat dari efek mereka pada orbit dari planet lain. Pengamatan dari planet Uranus
selama sekitar enam puluh tahun setelah penemuannya pada tahun 1781
menunjukkan penyimpangan dijelaskan dari orbit diprediksi,
bahkan setelah koreksi dibuat untuk efek gravitasi yang lain diketahui
planet. Dengan analisis matematika yang cermat dan rumit data, Adams dan
Leverrier mampu menunjukkan bahwa penyimpangan bisa
dipertanggungjawabkan dengan mengasumsikan sebuah planet yang tidak
diketahui di luar Uranus, dan mereka menghitung posisi
planet yang tidak diketahui. Planet Neptunus segera ditemukan di diprediksi
tempat.
Orbit komet, yang kadang-kadang terpantau bergerak pada sekitar
matahari dan keluar lagi, yang, setidaknya dalam beberapa kasus, elips sangat
memanjang. Bukan itu saat ini diketahui apakah salah satu komet berasal dari luar
tata surya, dalam hal ini mereka akan, paling tidak pada awalnya, memiliki orbit
parabola atau hiperbola. Bahkan mereka komet yang orbitnya diketahui elips
memiliki lebih teratur periode karena tarikan gravitasi perturbing dari planet-
planet yang lebih besar dekat yang mereka kadang-kadang lulus. Antara
pertemuan dekat dengan planet-planet yang lebih besar, komet
akan mengikuti cukup erat path yang diberikan oleh Persamaan. (3,256), tetapi
selama setiap pertemuan tersebut, gerakannya akan terganggu, sehingga setelah
konstanta A, B, dan eo akan memiliki nilai yang berbeda dari orang-orang
sebelum pertemuan itu.
Seperti tercantum dalam Bagian 3.13, kami berharap secara umum bahwa
orbit dibatasi timbul dari kekuatan sentral yang menarik F (r) tidak akan ditutup

59
(Gbr. 3.34). orbit tertutup (kecuali untuk orbit lingkaran) muncul hanya di mana
periode osilasi radial sama dengan, atau merupakan kelipatan rasional yang tepat
dari, masa revolusi. Hanya untuk bentuk-bentuk tertentu khusus dari fungsi F (r),
dimana hukum kuadrat terbalik adalah salah satu, akan orbit ditutup. Setiap
perubahan dalam hukum kuadrat terbalik, baik perubahan dalam eksponen r atau
tambahan F (r) dari istilah tidak berbanding terbalik dengan r 2, akan diharapkan
untuk menyebabkan orbit yang tidak ditutup. Namun, jika perubahan itu sangat
kecil, maka orbit seharusnya sekitar elips. Periode revolusi maka akan hanya
sedikit lebih besar atau sedikit kurang dari periode radial \ osilasi, dan orbit akan
sekitar elips yang sumbu utama berputar perlahan tentang pusat kekuatan. Sebagai
soal fakta, sebuah presesi lambat dari sumbu utama dari orbit planet Merkurius
telah diamati, dengan kecepatan sudut dari 41 detik busur per abad, atas dan di
atas gangguan dicatat dengan efek gravitasi yang lain planet. Hal ini pernah
berpikir bahwa ini bisa dipertanggungjawabkan oleh efek gravitasi dari debu di
tata surya, tetapi dapat menunjukkan bahwa jumlah debu terlalu kecil untuk
memperhitungkan efek. Sekarang cukup yakin bahwa efek ini disebabkan koreksi
sedikit teori Newton tentang gerak planet yang diperlukan oleh teori relativitas.
Masalah gerak elektron di sekitar inti atom akan sama seperti yang dari
gerak planet mengelilingi matahari, jika mekanika Newton yang berlaku.
Sebenarnya, gerakan elektron harus dihitung dari hukum mekanika kuantum.
Sebelum penemuan mekanika kuantum, Bohr mampu memberikan rekening wajar
perilaku atom dengan mengasumsikan bahwa elektron berputar di orbit tertentu
khusus yang dipilih dari antara mereka yang diberikan oleh mekanika Newton.
Teori Bohr masih berguna sebagai gambaran kasar tentang struktur atom.
3.16 ORBIT HIPERBOLIK.
Permasalahan Rutherford Pada Bagian Hamburan
Orbit hiperbolik yang menarik sehubungan dengan gerakan partikel di sekitar
matahari yang mungkin berasal dari atau melarikan diri ke luar angkasa, dan juga
di connection dengan tabrakan dua partikel bermuatan. Jika partikel cahaya biaya
q2 bertemu dengan partikel berat muatan q2 saat istirahat, partikel cahaya akan
mengikuti h) <lintasan perbolic masa lalu partikel berat, sesuai dengan hasil yang
diperoleh dalam Bagian 3.14. Dalam kasus tabrakan partikel atom, daerah di mana

60
lintasan tikungan dari satu asymptote ke yang lain sangat kecil (beberapa
angstrom unit atau kurang), dan apa yang diamati adalah sudut defleksi =
2
(Gambar 3.41) antara jalur dari partikel kejadian sebelum dan setelah tumbukan.
Angka 3.41 ditarik untuk kasus pusat memukul mundur kekuatan di F. Dengan
Pers. (3,249) dan (3.260),
1/2
2
tan = cot = ( 2 1)1/2 = ( )
2 22
Biarkan partikel memiliki kecepatan vo awal, dan biarkan melakukan
perjalanan ke arah tersebut bahwa, jika dibelokkan, itu akan melewati s jarak dari
pusat kekuatan (F). Itu jarak s disebut parameter dampak bagi tabrakan. Kita bisa
dengan mudah menghitung energi dan momentum sudut dalam hal kecepatan dan
dampak parameter:
1
= 02
2
= 0

Mengganti dalam Pers. (3,268), kita memiliki untuk sudut hamburan :



tan 2 = 2 (3.271)
0

Jika sebuah partikel cahaya positif muatan q1 bertabrakan dengan partikel berat
yang positif biaya q2 , ini, oleh Persamaan. (3,231),

61

1 2
tan 2 = 2 (3.272)
0

Dalam sebuah percobaan hamburan khas, aliran partikel bermuatan


mungkin ditembak dalam arah yang pasti melalui foil tipis. Banyak dari partikel
muncul dari foil dalam arah yang berbeda, setelah dibelokkan atau tersebar
melalui sudut oleh tabrakan dengan partikel dalam foil. Untuk menempatkan
Pers. (3,272) dalam bentuk di mana dapat dibandingkan dengan eksperimen, kita
harus menghilangkan parameter dampak s, yang tidak dapat ditentukan secara
eksperimental. Dalam percobaan, fraks partikel insiden tersebar melalui berbagai
sudut diamati. Ini adalah adat untuk mengekspresikan hasil dalam hal
penampang didefinisikan sebagai berikut. Jika insiden N, Partikel menyerang foil
tipis yang mengandung pusat n hamburan per satuan luas, rata-rata Jumlah dN
partikel tersebar melalui sudut antara dan + d adalah diberikan dalam hal
penampang d dengan rumus

= (3.273)

disebut penampang untuk hamburan melalui sudut antara dan + d, dan


dapat dianggap sebagai daerah yang efektif mengelilingi pusat hamburan yang
insiden partikel harus memukul agar dapat tersebar melalui sudut antara dan
+ d. Karena jika ada "target daerah" di sekitar masing-masing pusat
hamburan, maka area target total area unit n da. Jika n partikel menyerang satu
satuan luas, jumlah rata-rata mencolok daerah sasaran adalah , dan ini,

62
menurut Pers. (3,273), hanya dN, jumlah partikel tersebar melalui sudut antara
dan + d.
Sekarang perhatikan partikel insiden mendekati pusat hamburan F . Jika
parameter dampak adalah antara s dan s + ds, partikel akan tersebar melalui sudut
antara dan + d, di mana diberikan oleh Pers. (3,272), dan d diberikan
oleh diferensial dari Pers. (3,272):
1
= 12 22 (3.274)
22 ( ) 0
2

Wilayah cincin di sekitar F dari jari-jari s, jari-jari luar s + ds, di mana partikel
insiden harus ditujukan agar dapat tersebar melalui sudut antara dan + d,
adalah
= 2 `(3.275)
Menggantikan s dari Persamaan. (3,272), dan untuk ds dari Persamaan. (3,274)
(menghilangkan tanda negatif), kita memperoleh
2 2
1 2
= (2 2) (3.276)
0 4 ( )
2

Formula ini dapat dibandingkan dengan ditentukan secara eksperimental


seperti yang diberikan oleh Pers. (3,273). Formula (3,276) telah disimpulkan oleh
Rutherford dan digunakan dalam menafsirkan percobaan pada hamburan partikel
alpha oleh foil logam tipis. Dia mampu menunjukkan bahwa formula setuju
dengan eksperimen dengan q1= 2e (muatan pada partikel alfa), * dan q2 = Ze
(muatan pada inti atom), asalkan perihelion jarak ( + ) lebih besar dari sekitar
10- 12 cm, yang menunjukkan bahwa muatan positif pada atom harus
terkonsentrasi di suatu daerah dari radius kurang dari 10-12 cm. Ini adalah asal-
usul teori nuklir dari atom. Jarak perihelion dapat dihitung dari rumus (3,262) atau
dengan menggunakan undang-undang konservasi untuk energi dan momentum
sudut, dan diberikan oleh
1/2
1 2 22
1 = [1 + (1 + ) ] (3.277)
2 1 2

Perihelion jarak terkecil untuk partikel insiden dari energi yang diberikan terjadi
ketika L=0 (s=0) , dan memiliki nilai

63
1 2
1 = (3.278)

Oleh karena itu jika ada penyimpangan dari hukum Coulomb kekuatan ketika
partikel alpha merumput atau menembus inti, seharusnya muncul pertama sebagai
penyimpangan dari hukum Rutherford [Eq. (3,276) J pada sudut besar defleksi 8,
dan harus muncul ketika energi E cukup besar sehingga
1 2
> (3.279)
0

di mana 0 adalah jari-jari inti. Pengukuran awal jari-jari nuklir dibuat dengan cara
ini oleh Rutherford, dan berubah menjadi urutan 10-12 cm.
Perhitungan di atas dari penampang adalah sepenuhnya benar hanya ketika
partikel alpha impinges pada inti jauh lebih berat dari dirinya sendiri, karena pusat
hamburan diasumsikan tetap tetap. pembatasan ini bisa dihilangkan dengan
metode yang akan dibahas dalam Bagian 4.8. partikel alpha juga bertabrakan
dengan elektron, tetapi elektron sangat ringan sehingga tidak dapat lumayan
membelokkan partikel alpha. Tabrakan partikel alfa dengan inti harus benar-benar
diperlakukan dengan metode mekanika kuantum. Konsep lintasan yang pasti
dengan dampak yang pasti Parameter s berlaku dalam mekanika kuantum tidak
lagi. Konsep penampang masih berlaku dalam mekanika kuantum, namun,
sebagaimana mestinya, karena itu didefinisikan dalam hal jumlah eksperimen
ditentukan. Hasil akhir untuk bagian hamburan lintas ternyata sama dengan rumus
kita (3,276). * Ini adalah kejadian beruntung dalam sejarah fisika yang mekanika
klasik memberikan jawaban yang benar untuk masalah ini.
3.17 GERAK PARTIKEL DALAM BIDANG ELEKTROMAGNETIK
Hukum menentukan medan listrik dan magnet karena berbagai pengaturan
muatan listrik dan arus adalah subyek teori elektromagnetik. Asi determin dari
gerakan partikel bermuatan di bawah kekuatan listrik dan magnetik yang diberika
adalah masalah dalam mekanika. Gaya listrik pada partikel biaya q terletak pada
titik r adalah
= () (3.280)

dimana E (r) adalah intensitas medan listrik pada titik r. Intensitas medan listrik

64
mungkin merupakan fungsi dari waktu serta posisi dalam ruang. Gaya yang
diberikan oleh medan magnet pada partikel bermuatan pada titik r tergantung pada
v kecepatan dari partikel, dan diberikan dalam hal induksi magnetik B (r) dengan
persamaan

= () (3.281)

di mana c =3 X 1010 cm / detik adalah kecepatan cahaya, dan semua kuantitas


dalam satuan Gauss, yaitu, q adalah dalam satuan elektrostatik, B dalam satuan
elektromagnetik (Gauss), dan v dan F berada di unit cgs. Dalam unit mks,
persamaan berbunyi

= () (3.282)

Persamaan (3.280) berlaku untuk baik Gaussian atau mks unit. Kami akan
mendasarkan diskusi kita pada Persamaan. (3,281) (unit Gaussian), tetapi hasilnya
dapat segera ditranskripsi menjadi unit mks dengan menghilangkan c mana pun
itu terjadi. Gaya elektromagnetik Total yang bekerja pada sebuah partikel akibat
intensitas medan listrik E dan induksi magnetik B adalah

= + (3.283)

Jika muatan listrik bergerak dekat kutub utara magnet, magnet akan
mengerahkan gaya pada muatan yang diberikan oleh Persamaan. (3,281); dan oleh
hukum ketiga Newton muatan harus mengerahkan kekuatan yang sama dan
berlawanan pada magnet. Ini memang ditemukan kasus, setidaknya ketika
kecepatan partikel dibandingkan kecil dengan kecepatan cahaya, jika medan
magnet karena muatan bergerak dihitung dan gaya pada magnet dihitung. Namun,
karena induksi magnetik B diarahkan radial jauh dari tiang, dan gaya F tegak lurus
terhadap B, gaya pada muatan dan pada tiang tidak diarahkan sepanjang garis
bergabung dengan mereka, seperti dalam kasus kekuatan sentral .
` Hukum ketiga Newton kadang-kadang dinyatakan dalam bentuk "kuat" di
mana aksi dan reaksi tidak hanya sama dan berlawanan, tetapi diarahkan
sepanjang garis yang menghubungkan partikel berinteraksi. Untuk kekuatan
magnet, hukum hanya berlaku dalam bentuk "lemah" di mana tidak ada yang

65
dikatakan tentang arah dari dua kekuatan kecuali bahwa mereka berlawanan. Hal
ini berlaku tidak hanya dari kekuatan antara magnet dan biaya pindah, tetapi juga
dari kekuatan magnet yang diberikan oleh biaya pada satu sama lain bergerak.
Jika medan magnet konstan dalam waktu, maka intensitas medan listrik dapat
ditampilkan untuk memenuhi persamaan
= 0 (3.284)

Bukti pernyataan ini milik teori elektromagnetik dan tidak perlu perhatian
kita di sini. Kami mencatat, bagaimanapun, bahwa ini berarti bahwa untuk medan
listrik dan magnet statis, gaya listrik pada partikel bermuatan konservatif. Oleh
karena itu kita dapat menentukan potensial listrik

() = . (3.285)

seperti yang
= (3.286)
Karena E adalah gaya per satuan muatan, cp akan menjadi energi potensial
per satuan muatan yang terkait dengan kekuatan listrik:
() = () (3.287)
Selain itu, karena gaya magnet tegak lurus terhadap kecepatan, ia bisa
melakukan sesuatu pekerjaan pada partikel bermuatan. Akibatnya, hukum
kekekalan energi berlaku untuk partikel dalam medan elektromagnetik statis:
+ = (3.288)

di mana E adalah konstan. Berbagai macam masalah kepentingan praktis dan


teoritis timbul melibatkan gerakan partikel bermuatan di bidang listrik dan
magnet. Secara umum, metode khusus serangan harus dirancang untuk setiap jenis
masalah. Kita akan membahas dua masalah khusus yang menarik baik untuk hasil
yang diperoleh dan untuk metode untuk mendapatkan hasil tersebut.
Kami pertama mempertimbangkan gerak dari partikel massa m, biaya q,
dalam medan magnet konstan seragam. Biarkan z-sumbu dipilih ke arah lapangan,
sehingga
(, ) = (3.289)

66
dimana B adalah konstanta. Persamaan gerak kemudian, oleh Persamaan. (3,281),

= , = , = 0 (3.290)

Menurut persamaan terakhir, z-komponen kecepatan konstan, dan kami


akan mempertimbangkan kasus ketika Vz = 0 dan gerak adalah sepenuhnya di
bidang xy. Dua persamaan pertama tidak sulit untuk memecahkan, tetapi kita
dapat menghindari pemecahan langsung dengan memanfaatkan energi integral,
yang dalam hal ini berbunyi
1
2 = (3.391)
2

gaya diberikan oleh



= , (3.292)


= (3.293)

Kekuatan, dan akibatnya percepatan, karena besarnya konstan dan tegak lurus
dengan kecepatan. Sebuah partikel bergerak dengan kecepatan konstan v dan
percepatan konstan tegak lurus arahnya bergerak gerak melingkarjari-jari r yang
diberikan oleh Persamaan. (3.80):
2
= 2 = = (3.294)

Kami menggantikan F dari Persamaan. (3,293) dan memecahkan r:



= (3.295)

Produk Br Oleh karena itu sebanding dengan momentum dan terbalik


proporsional untuk biaya.
Hasil ini memiliki banyak aplikasi praktis. Jika ruang gelembung ditempatkan
dalam medan magnet seragam, seseorang dapat mengukur momentum dari
partikel bermuatan oleh mengukur jari-jari kelengkungan dari track. Prinsip yang
sama digunakan dalam beta-ray spektrometer untuk mengukur momentum dari
elektron cepat dengan curva- yang mendatang dari jalurnya dalam medan magnet.

67
Dalam spektrometer massa, partikel dipercepat melalui perbedaan dikenal
potensial listrik, sehingga, oleh Persamaan. (3,288), kinetiknya energi
1
2 = (1 2 ) (3.296)
2

Hal ini kemudian dilewatkan melalui seragam medan magnet B. Jika q


diketahui, dan r, B, (1 2 ) yang, kita dapat menghilangkan v antara Pers.
(3,295) dan (3,296), dan memecahkan massa:
2 2
= 2 2 ( (3.297)
1 2 )

Dalam siklotron, partikel bermuatan perjalanan di lingkaran dalam medan


magnet seragam, dan menerima kenaikan energi dua kali per revolusi dengan
melewati medan listrik bolak balik. Jari-jari r dari kalangan karenanya
meningkatkan, menurut Persamaan. (3,295), sampai radius maksimum tercapai, di
mana jari-jari partikel muncul dalam sinar energi yang pasti ditentukan oleh
Persamaan. (3,295). Frekuensi v dari medan listrik bolak-balik harus sama dengan
v frekuensi revolusi partikel, yang diberikan oleh
= 2 (3.298)

Menggabungkan persamaan ini dengan Persamaan. (3,295), kita memiliki


= 2 (3.299)

Jadi jika B adalah konstan, v adalah independen dari r, dan ini adalah prinsip
dasar di mana operasi siklotron didasarkan. Dalam betatron, elektron perjalanan
dalam lingkaran, dan medan magnet dalam lingkaran dibuat untuk meningkatkan.
Sejak B berubah dengan waktu, V x E tidak lagi nol; fluks magnet yang berubah
menginduksi tegangan di sekitar lingkaran sehingga jaring jumlah pekerjaan yang
dilakukan pada elektron oleh medan listrik saat mereka melakukan perjalanan
sekitar lingkaran. betatron ini begitu dirancang thttt peningkatan B di orbit
elektron sebanding dengan peningkatan mv, sehingga r tetap konstan.
Akhirnya, kami mempertimbangkan partikel massa m, biaya q, bergerak
dalam seragam konstan listrik intensitas medan E dan seragam konstan magnet

68
induksi B. Sekali lagi biarkan z-sumbu dipilih ke arah B, dan membiarkan y-axis
dipilih sehingga E sejajar dengan yz:
= , = + (3.300)
di mana B, Ey, Ez adalah konstanta. Persamaan gerak, oleh Persamaan. (3,283),
yang

= , (3.301)


= + (3.302)

= (3.304)

komponen z gerak yang seragam dipercepat:


1 2
= 0 + 0 + 2 (3.304)

Untuk mengatasi x dan y persamaan, kita membedakan Persamaan. (3,301) dan


pemain pengganti alam Pers. (3,302) untuk menghilangkan y.
2
= + (3.305)

Dengan membuat substitusi



= (3.306)

= (3.307)

Kita dapat menulis persamaan. (3,305) dalam bentuk

2
+ 2 = (3.308)
2

Persamaan ini memiliki bentukx ,yang sama seperti persamaan untuk


osilator harmonik dengan frekuensi sudut w dikenakan konstan diterapkan
"memaksa" aw, kecuali bahwa x muncul di tempat koordinat. Masalah osilator
yang sesuai dianggap dalam Bab 2, Masalah 45. Solusi dalam hal ini akan

= + cos( + ) (3.309)

di mana Ax dan Ox adalah konstanta sembarang ditentukan. Dengan


menghilangkan x dari

69
Pers. (3,301) dan (3,302), dengan cara yang sama, kita mendapatkan solusi untuk
y:
= cos( + ) (3.310)

Kami mendapatkan x dan y dengan mengintegrasikan Pers. (3,309) dan (3,310):



= + + sin( + ) (3.311)


= + sin( + ) (3.312)

Sekarang kesulitan muncul, karena kita memiliki enam konstanta


, , , , menjadi ditentukan, dan hanya empat nilai awal
0, 0 , 0 0 untuk menentukan mereka. Itu masalah adalah bahwa kita
memperoleh solusi (3,311) dan (3,312) dengan membedakan persamaan asli, dan
membedakan persamaan dapat memperkenalkan solusi baru yang tidak memenuhi
persamaan asli. Perhatikan, misalnya, sangat sederhana persamaan
=3
Membedakan, kita mendapatkan
= 0
solusi yang adalah
=
Sekarang hanya untuk satu nilai tertentu dari konstanta C akan ini
memuaskan asli persamaan. Mari kita mengganti pers. (3,311) dan (3,312) atau,
ekuivalen, Pers. (3,309) dan (3.310) ke dalam Persamaan asli. (3,301) dan (3,302),
dengan menggunakan Pers. (3,306) dan (3,307):


sin( + ) = , cos( + ) (3.314)


sin( + ) = , cos( + ) (3.314)

Kedua persamaan akan terus hanya jika Ax, Ay, Ox, dan 0 yare dipilih sehingga
= (3.315)

70
sin( + ) = cos( + ) (3.316)
cos( + ) = sin( + ) (3.317)

Yang terakhir dua persamaan puas jika



0 = 0 + 2 (3.319)

Mari kita atur


= = (3.320)
= (3.321)

= + (3.322)
2

Kemudian pers. (3,311) dan (3,312) menjadi



= + sin( + ) + (3.322)

= + cos( + ) (3.323)

Sekarang ada hanya empat konstanta, A, 0, cx, C Y 'yang akan ditentukan oleh
awal nilai Xa, Ya, .v sebuah, .va. Z-gerak, tentu saja, yang diberikan oleh
Persamaan. (3,304). Jika Er = 0, xy-gerak di dalam lingkaran dengan jari-jari A
dengan kecepatan sudut w tentang titik (C x, C y); ini adalah gerak
dipertimbangkan dalam contoh sebelumnya. Pengaruh Ey adalah untuk
menambah gerak melingkar seragam ini terjemahan seragam dalam arah x!
lintasan yang dihasilkan di-bidang xy akan menjadi memiliki loop, katup, atau
riak, tergantung pada kondisi awal dan pada besarnya Ey (Gambar. 3.43). Ini
masalah adalah kepentingan sehubungan dengan desain magnetron. Terjemahan


= =

71
memiliki kecepatan
= / 2 (3.324)

Ini kecepatan gerak partikel bermuatan di medan listrik dan magnet menyeberang
adalah dari pentingnya dalam teori plasma.

72
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU

Buku Mekanika Symon edisi ke tiga menawarkan cara yang "lebih


lengkap" untuk memahami konsep fisika. Sehingga pembacanya akan memahami
bahwa fisika bukan sekadar upaya menghafal sekumpulan rumus lalu menghitung
berdasarkan rumus - rumus itu. Melalui buku ini penulisnya seolah hendak
menunjukkan bahwa mempelajari fisika berarti upaya untuk memahami cara kerja
alam semesta. Kelebihan pertama pada buku symon adalah pemaparan tentang
konsep fisika yang lebih jelas menggunakan kosa kata yang umum digunakan
dalam matematika serta hubungan konsep fisika dengan aspek matematisnya
meskipun kurang lengkap tahapan penurunan rumusnya. Buku symon
memberikan teori pengntar tentang kosep vektor dan skalar sebelum memasuki
pembahasan tentang gerak dalam dua dan tida dimensi ruang. Karena dalam
penyelesaian matematis banyak dijumpai penggunaan operasi besaran vektor.

Kekurangan buku Symon adalah tidak ada contoh soal di sajikan dalam
pembahasan , setelah semua materi di sajikan pembaca ditunutut untuk latihan
menyelesaikan sola-soal yang tersedia menggunakann konsep dan persamaan
persamaan matematis yang sudah di jelaskan sebelumnya dalam satu sub-bab.

Buku Mekanika klasik dari Arya untuk sub-bab gerak partikel dalam dua
dan tiga dimensi dimulai dengan pembahasan tentang koordinat kartesian,
koordinat polar, koordinat silinder, koordinat polar berbentuk bola dan dilanjutkan
dengan pembahasan yang sangat sederhana mengenai fungsi energi potensial.
Sehingga buku ini tidak bisa cukup untuk menjelaskan tentang konsep, fenomena
fisika serta menunjukkan aspek matematis dari konsep fisika. Karena buku ini
tidak dilengkapi dengan pengantar mengenai besaran vektor dan skalar pembaca
diharsukan sudah memiliki pemahaman yang jelas tentang itu sebelumnya.
Karena aspek matematis yang lebih dijelaskan , maka untuk semua turunan rumus
secara matematis cukup jelas di jabarkan. Untuk implementasi terhadap
permasalahan fisika lebih kepada bahasan energi potensial, gaya konservatif,
usaha dan percepatan.

73
Buku ini juga memiliki kelebihan diantaranya penurunan fungsi untuk
menemukan asal mula persamaan matematis dalam fisika. Dan juga dilengkapi
dengan pembahasan contoh-contoh soal yang cukup banyak serta soal-soal latihan
untuk menguji pemahaman pembaca.

74
DAFTAR PUSTAKA

Atam, P. Arya. 1990. Introduction to Classical Mechanics. New jersey : Prentice


Hall

Bukit, Nurdin dan Eva Marlina Ginting. 2015. Mekanika. Universitas Negeri
Medan: Unimed Press

Symon, Keith R. 1980. Mechanics Third Edition. Amsterdam : Addison Wesley


Publishing Company reading Massachusetts Amsterdam

75

Anda mungkin juga menyukai