Anda di halaman 1dari 6

KOMPOSISI KIMIA MEMBRAN SEL DAN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMEABILITAS

WAHYU DWISA PUTRA(1610422056)


Kelompok 2 B (kelas A)
1)
Program Studi Biologi FMIPA Universitas Andalas Padang
Email: wahyudwisa06@gmail.com

ABSTRAK

Praktikum komposisi kimia membran sel dan faktor yang mempengaruhi permeabilitas ini
dilaksanakan pada hari Senin, 7 September 2015 pukul 08.00 WIB sampai selesai di
Laboratorium Pendidikan 4 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas Padang. Percobaan ini
bertujuan untuk melihat pengaruh berbagai perlakuan fisik dan kimia terhadap permeabilitas
membran sel. Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah mikroskop, gelas objek,
kaca objek dan cover, pisau silet, pipet tetes, tabung reaksi, mikropipet, alat pengebor gabus dan
pinset. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu Daucus carota, air destilat, metanol, aseton,
sukrosa, dan tertiary butyl alcohol. Dapat disimpulan bahwa suhu dan senyawa kimia dapat
mempengaruhi nilai absorban. Semakin tinggi suhu yang diberikan, maka nilai absorban akan
semakin besar. Aseton memiliki nilai absorban lebih besar dari pada methanol.

Kata kunci: Aseton, Daucus carota, Methanol, Permeabilitas

PENDAHULUAN mempunyai banyak pori merupakan


suatu proporsi penting dari sebuah
Sel adalah unit terkecil kehidupan yang terdiri struktur sel yang tidak hanya berupa
dari tiga komponen utama yaitu membran,
sebuah penghalang dari larutan yang
sitoplasma, dan inti.
akan masuk. Batasan ini merupakan
Membran atau plasmalemma menyelubingi sel jalur untuk keluar masuknya larutan ke
dengan fungsi mengatur keluar masuknya zat, dalam sel dan berupa dua lapisan
menyampaikan atau menerima rangsang, dan membran. Membran ini tipis untuk
strukturnya terdiri dari dua lapisan lipoprotein dilihat dan secara mikroskopis berbeda
yang diantara molekul terdapat pori. (Yatim, dari protoplasma. Membran ini dapat
2000). dikenali dengan mudah karena
Jaringan dewasa mengandung sebuah komponen selektif permeabelnya.
lapisan tipis protoplasma yang mengelilingi (Bonner, 1961).
vakuola inti yang terletak di dinding sel. Dinding
Peranan membran dalam
sel yang aktivitas seluler yaitu mengatur keluar
masuknya bahan antara sel dengan Perbedaan permeabilitas sangat
lingkungannya, antara sel dengan organel- bergantung pada besar kecilnya molekul
organelnya. Selain itu membran juga berperan yang lewat dan ditentukan dengan
dalam metabolisme sel. Berdasarkan dari besarnya pori-pori membran. Tapi pada
komposisi kimia membran plasma sel hidup besarnya
membran dan pemeabilitasnya terhadap solut molekul tidak berpengaruh, hal ini
maka dapat disimpulkan bahwa membran sel disebabkan adanya kaitan antara
terdiri atas lipid dan protein. Pada membran kelarutan zat dalam salah satu
terdapat lapisan ganda dan molekul-molekul komponen membran (Akkerman, 1998).
posfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa Selain itu, permeabilitas membran sel
sehingga ujung karbon yang hidropobik dipengaruhi oleh ukuran solut, kelarutan
terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lemak, derajat ionisasi, pH, dan
lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen temperatur. Ukuran solut yang
protein membran digambarkan sebagai suatu cenderung semakin besar, serta derajat
selaput yang menutupi kedua belah permukaan ionisasi yang semakin
dan lapisan biomolekul posfolipid. (Prawiranata, tinggi
1981). menyebabkan kemampuan permeabilitas
membran cenderung
Kemampuan sel untuk menurun, sedangkan pengaruh
membedakan pertukaran kimiawi dengan temperature dan pH yang tinggi
lingkungannya merupakan hal yang mendasar membuat membran sel menjadi lebih
bagi kehidupan, dan membran plasma inilah mudah mengalami denaturasi
yang membuat keselektifan ini bisa terjadi. (Dwijoseputro, 1994).
(Kimball, 2000)
Adanya sifat hidrofobik di bagian tengah Beberapa teori-teori klasik
lapisan lipid membran plasma menyebabkan tentang permeabilitas mempunyai
membran tersebut tidak mudah ditembus oleh kesulitan dalam menjelaskan gejala-
molekul polar, sehingga membran sel mencegah gejala yang teramati. Seperti peleburan
keluarnya komponen-komponen dalam sel yang zat terlarut pada membran oleh pelarut.
larut dalam air. Namun, sel juga memerlukan Semua perrcobaan permeabilitas
bahan-bahan nutrisi dan membuang limbahnya membran melibatkan sistem yang tidak
ke luar sel. Untuk memenuhi kebutuhan ini, sel seimbang yang berubah sepanjang
harus mengembangkan suatu system atau lintasan tidak baik apabila beberapa
mekanisme khusus untuk transpor melintasi molekul yang tidak dapat menemdus
membran sel (Subowo, 1995). Menurut Gelston lubang batas itu. Bermuatan pada
(1961), membran membran akan terjadi potensial, untuk
sangat beragam, tetapi permeabilitas dapat
terjadi tanpa menghiraukan bagaimana fungsi
membran selama pergerakan larutan lebih
dibatasi dibandingkan pergerakan air.
potensial ini dinamakan potensial dominan. Adapun bahan tanaman yang digunakan
Dalam hal ini konsentrasi keseimbangan ion dari yaitu Daucus carota. Serta bahan
dua belah sisi membran berbeda. Proses kimianya yaitu air destilat, metanol,
tercapainya keseimbangan dari berbagai keadaan aseton, sukrosa, dan tertiary butyl
tidak seimbang merupakan contoh alcohol.
termodinamika larutan balik yang terjadi
pada sistem biologi. Membran 3. Cara Kerja
mempunyai dua fungsi yaitu memberikan Pengaruh Suhu dan Senyawa Kimia
kerangka luar dari proses kehidupan dan Terhadap Permeabelitas Membran Sel
pemisahan sitoplasma
Dipilih salah satu Daucus carota yang
menjadi bahang. Membran memisahkan
besar, dicuci bersih dengan air kran dan
protoplasma menjadi bagian-bagian tetapi
kalau perlu disikat. Dengan bantuan bor
pemisahan itu selektif. (Lovelles, 1991).
yang bergaris tengah 1 cm (tengahnya
Percobaan ini bertujuan untuk melihat berlubang), dipotong 12 potongan yang
pengaruh berbagai perlakuan fisik dan kimia berbentuk silinder. Dipotong bentuk
terhadap permeabilitas membran sel. silinder dengan ketebalan potongan 1
cm. Kemudian dicuci semua potongan
umbi di bawah air mengalir (air kran)
PELAKSANAAN PRAKTIKUM selama 10-15 menit untuk
1. Waktu dan Tempat menghilangkan pigmen pada
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin permukaan.
tanggal 29 Agustus 2017, dari pukul 13.30 WIB
3.1 Perlakuan Panas
sampai selesai di Laboatorium Pendidikan 4
Jurusan Biologi Fakultas Matemtika dan Ilmu Disiapkan penangas air dengan mengisi
Pengetahuan Alam Universitas Andalas Padang. 2/3 bagian dari gelas piala yang
2. Alat dan Bahan berukuran 1000 mL dengan air, dan
2.1 Alat dipanaskan di atas api atau hot plate.
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini Dengan pinset atau jarum panjang,
adalah mikroskop, gelas objek, kaca objek dan dimasukkan potongan umbi ke dalam
cover, pisau silet, pipet tetes, tabung reaksi, gelas piala yang telah dipanaskan
mikropipet, alat pengebor gabus dan pinset. sampai suhu 700 C (diletakkan
termometer dalam gelas piala) selama 1
2.2 Bahan
menit. Kemudian dipindahkan potongan
umbi dari gelas piala ke dalam suatu
tabung reaksi yang berisi 15 ml air pada
suhu kamar. Setelah itu, air di dalam
gelas piala dibiarkan
berangsur-angsur dingin, lalu
dimasukkan potongan umbi masing-
HASIL DAN PEMBAHASAN
masing sepotong pada suhu 800 C, 700 C, 600 C,
500 C, 45C C selama 1 menit. Kemudian 1. Perlakuan Panas
dipindahkan potongan-potongan Daucus carota
yang direndam dalam air panas ke dalam tabung Tabel 1. Nilai absorban perlakuan panas
reaksi yang berisi air destilat pada suhu kamar. Nilai absorban
Sebagai kontrol, diletakkan satu potong ke dalam Suhu
tabung reaksi yang berisi 15 ml air destilat. (nm)
Setelah diinkubasi selama 1 jam, dikocok tabung
reaksi dan secara bergantian dituangkan 450 C 0,005
rendaman tadi ke dalam kuvet dan diukur 500 C 0,014
600 C 0,020
masing-masing absorbannya pada panjang
700 C 0,007
gelombang 540 nm pada spektrofotometer.
800 C 0,001
3.2 Perlakuan Dingin

Dimasukkan masing-masing 1 potongan Daucus


carota ke dalam freezer dengan dua suhu
berbeda yaitu 00 C dan 50 C. Potongan yang
sudah membeku kemudian dicuci dengan cepat
dengan air kran dan dimasukkan ke dalam
tabung reaksi yang berisi 15 ml air. Sebagai
Gambar 1. Inkubasi porongan Daucus
kontrol, diletakkan satu potong ubi jalar yang
carota dengan perlakuan panas
tidak didinginkan dalam tabung reaksi dengan 15
ml air. Setelah diinkubasi selama 1 jam, diukur Pada perlakuan panas, semakin tinggi
jumlah pigmen relatif dalam larutan perendam suhu yang diberikan maka nilai
dengan spektrofotometer. absorban akan semakin besar. Karena
semakin tinggi suhu, menyebabkan
3.3 Perlakuan dengan Senyawa Kimia membran semakin rusak akibatnya
Diletakkan satu potong silinder masing-masing semakin banyak pula isi sel yang ke
ke dalam 15 ml larutan Aseton dan methanol. luar. Menurut Lovelles (1991),
Diinkubasi selama 1 jam dan diukur komponen membran tersusun atas lipid
absorbannya. dan protein. Jika suhunya terlalu tinggi,
protein akan mengalami denaturasi
kemudian meyebabkan isi di dalam sel
ke luar karena protein penyusun
membran selnya rusak.
Akan tetapi, pada percobaan
didapatkan hasil yang tidak sesuai
dengan literatur. Bahkan pada suhu nilai
absorban tertinggi terdapat pada suhu
700 C sebesar 0,07. Hasil ini
Tabel 3. Nilai absorban perlakuan senyawa
menunjukkan bahwa larutan berdifusi ke dalam kimia
sel. Kemungkinan terjadi kesalahan dalam Suhu Nilai absorban
percobaan ini disebabkan oleh beberapa hal,
salah satunya jaringan yang dipotong tidak sama Aseton 0,89
besar.
Methanol -0,09

2. Perlakuan Dingin
Pada perlakuan kimia digunakan dua larutan
Tabel 2. Nilai absorban perlakuan dingin yaitu metanol (CH3OH) dan aseton (
Suhu Nilai absorban CH3COCH3). Dari tabel di atas dapat
diketahui nilai absorban yang paling besar
00C 0,016 yaitu pada perlakuan dengan senyawa kimia
50C 0,018
aseton sebesar 0,89 pada panjang
gelombang 540 nm pada suhu 60o C.
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai
sedangkan yang paling kecil adalah -0,09
absorban terbesar terdapat pada suhu 50 C yaitu
sebesar 0,018. Hal ini berarti pada suhu 50 C, pada perlakuan panas dengan suhu 50o C.
membran mengalami kerusakan yang lebih parah Menurut Dwijoseputro (1994),
dibandingkan dengan suhu 00 C. Suhu ini perbedaan permeabilitas sangat bergantung
mungkin terlalu ekstrim bagi ketahanan pada besar kecilnya molekul yang lewat dan
membran karena membran tidak tahan terhadap ditentukan dengan besarnya pori-pori
suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. membran. Tapi pada membran plasma sel
Hal ini disebabkan oleh air di sekitar hidup besarnya molekul tidak berpengaruh,
umbi yang berubah bentuk menjadi kristal-kristal hal ini disebabkan adanya kaitan antara
es sewaktu perendaman. Menurut Willking kelarutan zat dalam salah satu komponen
(1989), kristal-kristal es memiliki permukaan membran.
yang tajam, sehingga dapat merusak membran Pada perlakuan dengan aseton,
sel dan mengoyaknya, tidak hanya sekadar absorban yang didapat cukup besar karena
membuat membrane sel terdenaturasi seperti sel mengalami difusi ke luar sel. Terjadinya
pada perlakuan panas. Sehingga dapat difusi dari dalam ke luar sel ini disebabkan
menyebabkan pigmen pada tumbuhan keluar ke karena membran sel mengalami kerusakan
lingkungan. yang lebih parah dibandingkan dengan
perlakuan yang lain. Kerusakan ini
3. Perlakuan dengan Senyawa Kimia disebabkan karena membran sel tidak tahan
terhadap aseton.

Kesimpulan Dan Saran


Kesimpulan
1. Suhu mempengaruhi nilai absorban pada DAFTAR PUSTAKA
larutan. Semakin tinggi suhu yang diberikan,
maka nilai absorban akan semakin besar. Bonner, J. 1961. Priciples of
Plant
2. Nilai absorban dengan suhu 50 C lebih besar
dari pada 00 C. Physiology. Canada :
3. Nilai absorban dengan pemberian aseton Pasadena.
lebih besar dari pada dengan metanol
Lovelles. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi
Saran Tumbuhan Untuk
Daerah
Untuk praktikum kedepan disarankan untuk
Tropika. Bandung : Gramedia
memperhatikan ukuran potongan umbi dan
Pustaka Utama.
waktu umtuk pemanasan agar hasil yang
didapatkan lebih akurat. Kimball, J.W. 2000. Biologi
Jilid I.
Jakarta : Erlangga.

Gelston, A. 1961. The Life of Green


Plant. New Jessey : Prentice
Hall.

Prawinata, W. 1981. Dasar-


Dasar
Fisiologi Tumbuhan
Jilid I.
Bandung : ITB.

Willking. 1989. Fisiologi


Tanaman II.
Bandung : Bina Angkasa.
Yatim, W. 2000. Embriologi. Semarang :
CV. Tarsito.

Dwijoseputro, D. 1994. Pengantar


Fisiologi Tumbuhan. Jakarta:
Gramedia.

Akkerman, Eugene. 1998. Ilmu Biofisika.


Jakarta: Erlangga.

Subowo. 1995. Biologi Sel. Bandung :


Angkasa.