Anda di halaman 1dari 23

61

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Lokasi

PTPN VII Unit Padang Pelawi adalah perusahaan Swasta Nasional

Non PMA/PMDN yang terletak di atas tanah seluas 9,3 Ha berlokasi di

Desa Taba Terunjam, Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu

Tengah. Dengan Akte Notaris JACINTA SUSANTI Nomor 5, perusahaan

ini telah resmi berdiri menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PTPN VII

Unit Padang Pelawi yang bergerak di bidangIndustri Crumb Rubber.

PTPN VII Unit Padang Pelawi memproduksi SIR 10 dan SIR 20

dengan bahan olah karet yang digunaka nmemenuhi ketentuan SNI Bokar

(06-2047) dan Permendag RI Nomor 53/M-DAG/PER/10/2009 yang

berlaku. Hasil produksi sebagian besar di Ekspor langsung kepada pembeli

lua rnegeri yang sebagian besar adalah pabrik ban dan non ban.

Untuk menjamin mutu produksi PTPN VII Unit Padang Pelawi

menggunakan system manajemen mutu pedoman BSN 10 Tahun 1999

sehingga pada 24 Januari 2003 memperoleh Sertifikat Produk Penggunaan

Tanda SNI denganNo. 0004/LSPro-PSA/SNI-W/I/2003.

Dengan kapasitas mesinter pasang 18.000 ton per tahun, perusahaan

ini mampu berproduksi secara optimal. Hal ini di ikuti pula dengan kinerja

61
62

karyawan yang berjumlah 381 orang yang terdiri dari 340 orang laki-laki

dan 41 orang perempuan. Tingkat pendidikan karyawan terdiri atas 15 orang

Perguruan Tinggi (S1), 3 orang DIII, 1 orang DI, 205 orang SLTA, 72 orang

SLTP dan85 orang SD.

Tenaga Kerja umumnya hampir 90% yaitu tenaga lokal. Sistem

pengupahan yang diterima oleh tenaga kerja yaitu, 1 kali dalam sebulan atau

1 kali dalam 15 hari, sistem ini dilakukan untuk mempermudah administrasi

dalam membayar gaji tenaga kerja karena dalam gaji tersebut juga terdapat

gaji lembur para karyawan, sehingga dengan sistem seperti ini

mempermudah dan tidak ada yang belum menerima gaji.

2. Jalannya Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk memperlajari faktor-faktor yang

berhubungan dengan dermatitis kontak pada pekerja Pabrik pengolahan

karet PTPN VII Unit Padang Pelawi. Penelitian ini dilakukaan di Pabrik

pengolahan karet PTPN VII Unit Padang Pelawi

Pengumpulan data penelitian dilakukan pada tanggal 2 Juni 2017

sampai dengan 12 Juni 2017. Pada atahap awal penelitian ini, peneliti

mengajukan izin melakukn penelitiaan. Selanjutnya peneliti mendatangi

PTPN VII Unit Padang Pelawi untuk mengumpulkan data penelitiian.

Peneliti memberikaan informasi tentang tujuan penelitian dan keikutsertaan

dalaam penelitiian ini kepada calon responden, bagi yang setuju


63

berpartisipasi dalam penelitiana ini diminta untuk mendatangi lembar

persetujuan penelitian (informed consent).

Peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan panduan

pertanyaan yang ada di dalam kuesioner, sehinggaa seluruh pertanyaan yang

disediakan dalam kuesioner dapat terisi/terjawab. Peneliti menanyakan

tentang identitas responden, usia pekerja dan masa bekerja. Kemudian

peneliti melakukan observasi sesuai dengan daftar ceklist yang ada di dalam

kuesioner, yaitu melakukan observasi tentang tanda-tanda dermatitis kontak

pada pekerja, observasi tentang tindakan personal hygiene yang dilakukan

pekerja, dan observasai tentang penggunaan APD.

Selanjutnya data yang diperoleh tersebut di cek kelengkapannyaa dan

diberi kode, kemudian data dimasukkan kedalam master table dan dilakukan

analisis, baik secara univariat maupun aanalisis bivariat.

3. Karakteristik responden

Populasi dalam penelitian VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma

Provinsi Bengkulu sebanyak 196 orang sedangkan teknik pengambilan sampel

menggunakan Consecutive Sampling dan besar sampel dalam penelitian ini

sejumlah 66 orang. Karakteristik responden Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit

Padang Pelawi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu yang menjadi sampel

peneltian ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


64

Tabel 5.1. Karakteristik responden

No Karakteristik N (Jumlah) Persentase (%)


Jenis Kelamin
1 Laki-Laki 66 100
2 Perempuan 0 0
Usia
1 22-34 11 16,5
2 35-41 29 44,1
3 42-48 19 28,8
4 49-56 7 10,5
Masa Kerja
1 21-34 5 7,5
2 40-55 21 31,8
3 59-70 7 10,6
4 77-97 33 49,9

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa semua responden

pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi 66 orang berjenis

kelamin laki-laki

Lama kerja diketahui dari lamanya bekerja sebagai pekerja pabrik

sejak awal bekerja sampai penelitian berlangsung dalam hitungan bulan.

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa masa kerja terendah

pekerja pabrik kontak dengan bahan kimia adalah 21-34 bulan dengan

jumlah responden 5 orang (7.5%) sedangkan masa kerja tertinggi

yaitu 77-97 bulan dengan jumlah responden 33 orang (49,9%)

Usia merupakan lama hidup pekerja terhitung sejak lahir sampai

penelitian berlangsung. Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa

usia terendah pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi
65

Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu adalah 22-34 tahun dengan

jumlah responden 11 orang (16.5%) sedangkan usia pekerja tertinggi

yaitu 49-56 tahun dengan jumlah responden 7 orang (10.5%).

4. Analisis Univariat

1. Distribusi Frekuensi Kejadian Dermatitis Kontak

Hasil penelitian yang diperoleh mengenai kejadian dermatitis

kontak pada Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten

Seluma Provinsi Bengkulu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Kejadian Dermatitis Kontak pada


Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi
Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu

No Kejadian Dermatitis N (Jumlah) Persentase (%)


Kontak
1 Tidak 16 24.2
2 Ya 50 75.8
Jumlah 66 100.0

Berdasarkan tabel 5.2dapat diketahui bahwa pekerja pabrik karet

PTPN VII Unit Padang Pelawi, mengalami kejadian dermatitis kontak

sebesar 50 (75.8%) atau 16 (24.2%) pekerja tidak mengalami dermatitis

kontak.

2. Distribusi Frekuensi Penggunaan Alat Pelindung Diri Pada pekerja

pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi


66

Hasil penelitian yang diperoleh mengenai gambaran Penggunaan

Alat Pelindung Diri pada Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang

Pelawi Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah tahun

2017 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Penggunaan Alat Pelindung Diri


pada Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi
Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah

No Riwayat Atopi N (Jumlah) Persentase (%)


1 Tidak Lengkap 48 72
2 Lengkap 18 28
Jumlah 66 100.0

Pada Tabel 5.3 terlihat bahwa dari 66 orang pekerja PTPN VII Unit

Padang Pelawi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu, sebagian besar

Responden 48 (72%) dengan penggunaan APD tidak lengkap sedangkan

hanya 18 orang (28%) yang menggunakan Alat pelindung diri dengan

lengkat.

3. Distribusi Frekuensi Lama Kontak yang Mempengaruhi Kejadian


Dermatitis Kontak

Hasil penelitian yang diperoleh mengenai gambaran Faktor

Lama Kontak kejadian dermatitis kontak pada Pekerja pabrik karet

PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu

dapat dilihat pada tabel dibawah ini :


67

Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Lama Kontak pada Pekerja pabrik


karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma
Provinsi Bengkulu

No Lama Kontak N (Jumlah) Persentase (%)


1 2 1 1.5
2 4 3 4.5
3 5 9 13.6
4 6 1 1.5
5 7 1 1.5
6 8 44 66.7
7 9 7 10.6
Jumlah 66 100.0

Lama kontak diketahui dari lamanya waktu pekerja kontak

dengan bahan kimia di tempat kerja dalam hitungan jam selama satu hari

kerja. Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa lama terendah

pekerja pabrik kontak dengan bahan kimia adalah 2 jam/hari dengan

jumlah responden 1 orang (1.5%) sedangkan lama kontak tertinggi yaitu

9 jam/hari dengan jumlah responden 7 orang (10.6%)

4. Distribusi Frekuensi kontak yang Mempengaruhi Kejadian

Dermatitis Kontak

Hasil penelitian yang diperoleh mengenai gambaran Faktor

faktor frekuensi kontak yang mempengaruhi kejadian dermatitis kontak

pada Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten

Seluma Provinsi Bengkulu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Kontak pada Pekerja pabrik karet


PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma
Provinsi Bengkulu
68

No Frekuensi Kontak N (Jumlah) Persentase (%)


1 2 18 27.3
2 3 3 4.5
3 4 14 21.2
4 5 10 15.2
5 6 6 9.1
6 8 5 7.6
7 9 4 6.1
8 10 6 9.1
Jumlah 66 100.0

Frekuensi kontak diketahui dari jumlah kontak pekerja pabrik

dengan bahan kimia di tempat kerja selama satu hari kerja. Berdasarkan

tabel di atas, dapat diketahui bahwa frekuensi terendah pekerja pabrik

kontak dengan bahan kimia adalah 2 kali/hari dengan jumlah responden

18 orang (27.3%) sedangkan frekuensi kontak tertinggi yaitu 10

kali/hari dengan jumlah responden 6 orang (9.1%)

5. Distribusi Frekuensi Masa Kerja yang Mempengaruhi Kejadian

Dermatitis Kontak

Hasil penelitian yang diperoleh mengenai gambaran Faktor

faktor masa kerja yang mempengaruhi kejadian dermatitis kontak

pada Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten

Seluma Provinsi Bengkulu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Masa Kerja pada Pekerja pabrik


karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma
Provinsi Bengkulu
69

No Masa Kerja N (Jumlah) Persentase (%)


1 21-34 5 7,5
2 40-55 21 31,8
3 59-70 7 10,6
4 77-97 33 49,9
Jumlah 66 100.0

Lama kerja diketahui dari lamanya bekerja sebagai pekerja pabrik

sejak awal bekerja sampai penelitian berlangsung dalam hitungan bulan.

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa masa kerja terendah

pekerja pabrik kontak dengan bahan kimia adalah 21-34 bulan dengan

jumlah responden 5 orang (7.5%) sedangkan masa kerja tertinggi

yaitu 77-97 bulan dengan jumlah responden 33 orang (49,9%)

6. Distribusi Frekuensi Usia Pada Pekerja pabrik karet PTPN VII

Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu

Hasil penelitian yang diperoleh mengenai gambaran Faktor

faktor usia yang mempengaruhi kejadian dermatitis kontak pada

Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma

Provinsi Bengkulu dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.7 Distribusi Usia pada Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit
Padang Pelawi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu

No Usia N (Jumlah) Persentase (%)


1 22-34 11 16,5
2 35-41 29 44,1
3 42-48 19 28,8
4 49-56 7 10,5
70

Jumlah 66 100.0

Usia merupakan lama hidup pekerja terhitung sejak lahir sampai

penelitian berlangsung. Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa usia

terendah pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten

Seluma Provinsi Bengkulu adalah 22-34 tahun dengan jumlah responden 11

orang (16.5%) sedangkan usia pekerja tertinggi yaitu 49-56 tahun dengan

jumlah responden 7 orang (10.5%)

5. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel

independen yaitu Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang mempengaruhi

kejadian dermatitis kontak. Uji yang digunakan untuk menganalisis variabel

yang berdata numerik seperti Penggunaan Alat Pelindung Diri yaitu dengan

menggunakan uji T-independent. Namun sebelum diuji, keempat variabel

dilakukan uji normalitas.

Hubungan penggunaan APD dengan dermatitis kontak pada pekerja

pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma Provinsi

Bengkulu dapat dilihat paada table di bawah ini :

Table 5.6 Hubungan Penggunaaan APD dengan Dermatitis Kontak pada Pekerja
pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma
Provinsi Bengkulu

Dermatitis Kontak
71

Penggunaan Dermatitis Tidak Total OR


APD Kontak Dermatitis p (CII
Kontak 95%)
f % f % n %
Tidak Lengkap 39 85,7 9 14,3 48 72
Lengkap 10 17,6 8 82,4 18 28 25,6 0,000 28,0
Total 49 69,9 17 30,1 66 100

Pada Tabel 5.6 di atas terlihat bahwa dari 56 orang pekerja pabrik dengan

penggunaan APD yang tidak lengkap, ada 39 Orang pekerja (85,7%) yang

mengalami dermatitis kontak dan 10 Orang pekerja (14,3%) yang mengalami

dermatitis kontak. Dari 17 orang pekerja pabrik dengaan penggunaan APD yang

lengkap, ada 9 orang pekerja (14.3%) yang mengalami dermatitis kontak dan 8

orang pekerjaa (82,4%) yang tidaka mengalami dermatitis kontak. Hasil analisis

Chi Square (Continuity Correction) didapatkan nilai = 25,6 dengan p = 0,000

< = 0,05, artinya ada hubungan yang signifikan antara penggunaan APD degan

dermatitis kontak pada pekerja pabrik di PTPN VII Unit Padang Pelawi

Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu


Hasil analisis resiko didapatkan nilaai OR = 28,0, aartinya pekerja pabrik

dengan penggunaan APD yang tidak lengkaap mempunyai resiko 28,0 kal untuk

mengaalami dermatitis kontak dibandingkan dengan pekerja pabrik dengan

penggunaan APD yang lengkap.

B. Pembahasan
72

1. Kejadian Dermatitis Kontak

Hasil penelitian dermatitis kontak pada Pekerja pabrik karet PTPN VII

Unit Padang Pelawi tahun 2017 menunjukkan pekerja pabrik 38 (57,5%)

pekerja mengalami dermatitis kontak sedangkan 28 (42,4%) pekerja tidak

mengalami dermatitis kontak. Dari pekerja yang mengalami dermatitis

kontak terdapat beberapa gejala-gejala awal seperti kulit terasa gatal dan

kemerahan, hingga timbulnya kelainan kulit berupa papula, vesikel, kulit

pecah-pecah (fissura), likenifikasi dan kulit mengelupas. Smeltzer & Bare

(2001) juga mengatakan reaksi pertama dari dermatitis kontak mencakup rasa

gatal, terbakar, eritema yang segera diikuti oleh gejala edema, papula, vesikel

serta perembasan cairan atau secret. Sedangkan pada fase subakut, perubahan

vesikuler ini tidak begitu mencolok lagi dan berubah menjadi pembentukan

krusta, pengeringan, pembentukan fisura serta pengelupasan kulit. Jika terjadi

reaksi yang berulang-ulang atau bila pasien terus- menerus menggaruk

kulitnya, penebalan kulit (likenifikasi) dan pigmentasi (perubahan warna)

akan terjadi.

Penyakit kulit akibat kerja adalah proses patologis kulit yang timbul pada

waktu melakukan pekerjaan serta pengaruh-pengaruh yang terdapat di dalam

lingkungan kerja (Siregar, 1996). Dermatitis kontak merupakan salah satu jenis

dari penyakit kulit akibat kerja. Dermatitis kontak akibat kerja menyumbang

90% dari semua kasus gangguan kulit yang berhubungan dengan pekerjaan

(Sasseville, 2008). Dermatitis kontak ialah reaksi inflamasi kulit terhadap


73

unsur-unsur fisik, kimia, atau biologi. Epidermis mengalami kerusakan akibat

iritasi fisik dan kimia yang berulang-ulang. Dermatitis kontak bisa berupa tipe

iritan-primer dimana reaksi non- alergik terjadi akibat pajanan terhadap

substansi iritatif, atau tipe alergi (dermatitis kontak alergik) yang disebabkan

oleh pajanan orang yang sensitive terhadap allergen kontak (Smeltzer & Bare,

2001).

Proses/unit kerja pada pekerja pabrik seperti dalam melakukan

pengolahan karet, para pekerja biasanya terpapar dengan bahan kimia seperti

minyak pelumas, bensin, oli, serta gemuk. Peralatan pabrik yang digunakan

untuk servis terletak pada suatu wadah dan direndam dengan cairan bahan

kimia tersebut. Dari peralatan dan cairan pada wadah tersebutlah bahan kimia

dapat memapar pekerja pabrik. Selain itu pada saat pengisian air accu ataupun

penggantian bahan, akibat adanya cipratan atau tetesan bahan kimia tersebut

saat pengolahan karet dapat memapar tangan pekerja pabrik, karena pekerja

tidak memakai sarung tangan.

Kejadian dermatitis kontak pada pekerja pabrik terdapat pada bagian

tangan yaitu di telapak tangan dan punggung tangan. Hal tersebut dikarenakan

tangan merupakan bagian tubuh yang selalu berkontak dengan bahan kimia di

pabrik karet selama mengolah karet. Sama halnya dengan yang dikatakan oleh

Waldron & Edling (2004), bahwa sekitar 90% dari semua bentuk penyakit kulit

akibat kerja terbatas pada tangan dan lengan bawah, terkadang juga terdapat

pada wajah, serta bagian tubuh lain juga kadang- kadang dapat mengalaminya.
74

Dermatitis kontak yang terjadi pada pekerja pabrik diakibatkan karena adanya

kontak langsung dengan bahan kimia. Jenis paparan bahan kimia yang ada di

pabrik karet yaitu air aki (asam sulfat), serta produk-produk minyak bumi

seperti minyak pelumas, pelumas, minyak/oli, bensin, serta cairan pendingin

(Frosh & John, 2011).

Berdasarkan hasil observasi, hampir semua pemilik pabrik tidak

menyediakan tempat cuci tangan yang baik, seperti terdapat keran air sehingga

ada air bersih yang mengalir, sabun cuci tangan, hingga lap khusus tangan.

Namun yang tersedia hanya berupa wadah berisi air untuk mencuci tangan, dan

mungkin jika dilihat air tersebut telah keruh oleh bahan-bahan kimia yang

terdapat dipabrik setelah pekerja mencuci tangan, kemudian air dalam wadah

tersebut tidak langsung kembali diganti dengan air bersih. Nuraga (2006)

mengatakan bahwa kebiasaan mencuci tangan merupakan salah satu usaha

pencegahan yang bermakna, namun perlu dilihat kualitas mencuci tangan serta

fasilitas mencuci tangan yang baik seperti mudah terjangkau dan adanya sabun,

dan lain-lain.

Pekerja mencuci tangan hanya ketika istirahat dan makan, setelah

melakukan reparasi tidak semua pekerja langsung mencuci tangan. Pekerja

mencuci tangannya tidak menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun cuci

tangan, namun terlebih dahulu mereka mencuci tangan dengan bensin untuk

menghilangkan noda-noda, dan terkadang menggunakan sabun lalu dibilas

dengan air. Hal-hal tersebut dimungkinkan dapat mempermudah terjadinya


75

dermatitis kontak pada pabrik karet. Menurut Cohen (1999), kebiasaan

mencuci tangan yang tidak sesuai prosedur akan menyebabkan kontak bahan

kimia terhadap kulit menjadi lebih lama sehingga dapat lebih merugikan kulit.

Terdapat beberapa pekerja yang setelah mencuci tangan tidak langsung

mengeringkan tangan, atau jika mengeringkan tangan tidak menggunakan lap

khusus tangan. WHO (2005) mengatakan bahwa, kebiasaan mengeringkan

tangan setelah mencuci tangan juga dapat berperan mencegah semakin

parahnya kondisi kulit karena tangan yg lembab. Kebiasaan mencuci tangan

juga seharusnya dapat mengurangi potensi penyebab dermatitis akibat bahan

kimia yang menempel setelah bekerja, namun pada kenyataanya potensi untuk

terkena dermatitis itu tetap ada. Kesalahan dalam melakukan cuci tangan dapat

menjadi salah satu penyebabnya. Misalnya kurang bersih dalam mencuci

tangan, sehingga masih terdapat sisa bahan kimia yang menempel pada

permukaan kulit pekerja.

Selain itu, semua pakaian pekerja tidak ada yang bersih dari noda-noda

minyak, pelumas, air aki, dan bahan kimia lainnya. Sebagian pekerja juga

mengatakan bahwa pakaian yang mereka gunakan biasanya baru akan dicuci

setelah 2 kali dipakai dalam 2 hari. Hipp dalam Utomo (2007) berpendapat

bahwa mencuci pakaian juga merupakan salah satu usaha untuk mencegah

terjadinya dermatitis kontak. Sebaiknya pakaian kerja yang telah terkontaminasi

bahan kimia tidak digunakan kembali sebelum dicuci. Akan lebih baik lagi jika

pencucian baju kerja dilakukan setiap hari setelah digunakan. Selain itu cara
76

pencucian perlu diperhatikan. Jangan mencampur/merendam baju kerja dengan

pakaian yang dikenakan sehari-hari. Usahakan mencuci pakaian kerja dengan

menggunakan mesin cuci, namun cara manual tidak menjadi masalah asalkan

setelah mencuci, tangan dibersihkan kembali dengan baik.

Pencegahan dermatitis kontak seharusnya dimulai dari diri sendiri. Baik

bagi pemilik pabrik maupun pekerjanya mungkin tidak mengetahui bagaimana

menjaga kebersihan diri dengan baik. Jika mereka tahu dan mengerti mungkin

mereka mengabaikan dan menyepelekannnya, sehingga kesadaran untuk

memperhatikan personal hygiene yang baik itu kurang. Seharusnya pekerja

memiliki kesadaran yang tinggi akan kebersihan dirinya. Kesadaran dari

pekerja untuk menjaga kebersihan dirinya sangatlah penting. Namun untuk

meningkatkan kesadaran para pekerja pabrik, dibutuhkan juga kerjasama yang

baik antara pemilik pabrik dengan para pekerjanya.

Maka dari itu, disarankan pemilik pabrik menyediakan tempat khusus

cuci tangan yang baik seperti wastafel atau keran air, kemudian sabun dan lap

kusus untuk cuci tangan. Penyediaan sarana mencuci tangan tersebut

diusahakan yang dekat dan terjangkau dari pekerja pabrik, dengan begitu

mungkin pekerja pabrik akan lebih rajin untuk mencuci tangan sebelum ataupun

setelah mengolah karet. Selain itu pemilik pabrik juga sebaiknya menyediakan

sarung tangan yang sesuai untuk digunakan para pekerja pabriknya saat

mengolah karet agar menghindari kontak langsung dengan bahan kimia. Namun

diikarenakan dalam penelitian di pabrik karet ini personal hygiene serta


77

pemakaian APD tidak dapat diteliti hubungannya, maka disarankan peneliti

selanjutnya untuk melakukan penelitian pada pabrik yang bersifat yang lain.

Dalam penelitian ini, peneliti tidak meneliti konsentrasi dari masing-

masing bahan kimia yang digunakan. Untuk itu bagi peneliti selanjutnya

disarankan agar meneliti konsentrasi dari bahan-bahan kimia yang digunakan

dalam pabrik karet. Selain itu diagnosa dermatitis kontak disarankan ditentukan

secara spesifik antara dermatitis kontak iritan atau dermatitis kontak alergi.

Dalam penelitian ini ada 7 faktor yang diteliti hubungannya dengan

kejadian dermatitis kontak pada Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang

Pelawi tahun 2017. Namun hanya ada 2 faktor yang memiliki hubungan

terhadap kejadian dermatitis kontak yaitu riwayat penyakit kulit dan riwayat

alergi. Hasil penelitian dari faktor-faktor tersebut akan dijelaskan pada sub bab

pembahasan selanjutnya.

2. Penggunaan alat pelindung diri Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit

Padang Pelawi tahun 2017

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 66 responden

Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi dimana 56 orang pekerja

pabrik dengan penggunaan APD yang tidak lengkap, ada 39 Orang pekerja

(85,7%) yang mengalami dermatitis kontak dan 10 Orang pekerja (14,3%) yang

mengalami dermatitis kontak. Dari 17 orang pekerja pabrik dengaan

penggunaan APD yang lengkap, ada 9 orang pekerja (14.3%) yang mengalami
78

dermatitis kontak dan 8 orang pekerjaa (82,4%) yang tidaka mengalami

dermatitis kontak.

Menurut sumamur (1996), alat pelindung diri merupakan suatu alat

yang dipakai untuk melindungi diri atau tubuh terhadap bahaya-bahaya

kecelakaan kerja. Jadi penggunaan alat pelindung diri adalah salah satu cara

untuk mencegah kecelakaan, dan secara teknis alat pelindung diri tidaklah

sempurna dapat melindungi diri atau tubuh akan tetapi dapat mengurangi

tingkat keparahan dari kecelakaan yang terjadi. Peralatan pelindung tidak

menghilangkan atau mengurangi bahaya yang ada. Peralatan ini hanya

mengurangi jumlah kontak dengan bahaya.

Alat pelindung diri (APD) adalah peralatan keselamatan yang harus

digunakan oleh pekerja apabila berada pada suaatu tempat kerja yang

berbahaya. Penggunaan APD merupakan salah satu cara tempat kerja yanag

terjadinya dermatitis kontak, karena dengan menggunakan APD dapat terhindar

dari cipratan bahan kimia dan menghindari kontak langsung dengan bahan

kimia. Penggunaan APD sangat penting untuk melindungi tubuh dari bahaya

pekerjaan yang dapat menimbulkan penyakit atau kecelakaan akibat kerja. Agar

terhindar dari cipratan bahan kimia, perlu menggunakan APD seperti pakaian

pelindung, sarung tangan, masker, dan safety shoes (Erliana, 2008)

3. Pengaruh Penggunaan alat pelindung diri terhadap Kejadian Dermatitis

Kontak Pekerja pabrik karet PTPN VII Unit Padang Pelawi tahun 2017
79

Hasil analisa bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

penggunaan alat pelindung diri dengan kelainan kulit pada Pekerja pabrik karet

PTPN VII Unit Padang Pelawi. Hasil analisis Chi Square (Continuity

Correction) didapatkan nilai = 25,6 dengan p = 0,000 < = 0,05, artinya ada

hubungan yang signifikan antara penggunaan APD degan dermatitis kontak

pada pekerja pabrik di PTPN VII Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma

Provinsi Bengkulu

Hal ini dipengaruhi karena rata-rata pekerja menyatakan bahwa

mereka tidak terbiasa untuk menggunakan alat pelindung diri berupa sarung

tangan ataupun sepatu kerja, responden atau pekerja lebih merasa nyaman

untuk tidak menggunakan sarung tangan pada saat bekerja. Pekerjaan yang

mereka tekuni merupakan pekerjaan yang dibutuhkan kenyamanan dan tingkat

ketelitian. Alat pelindung diri (APD) yang banyak digunakaan oleh PTPN VII

Unit Padang Pelawi Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu adalah sepatu boot,

hanya sebagian kecil pekerja yang menggunakan sarung tangan, sebagian kecil

pekerja yang menggunakan topi, dan hanya beberapa orang pekerja yang

menggunakan masker. Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan peneliti

didapatkan bahwa hanya sebagian kecil pekerja yang menggunakan alat

pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan, topi, masker dan baju

pelindung yang diigunakana secaara bersama-sama.


80

Menurut asumsi peneliti, pengaruh penggunaan alat pelindung diri

pada saat bekerja dengan kejadian kelainan kulit yaitu dikarenakan debu yang

berada di dalam ruangan kerja serta sisa-sisa dari proses penyerutan kayu cukup

banyak sehingga apabila seseorang atau pekerja yang melakukan aktifitas di

ruangan tersebut dalam waktu yang relatif lama ditambah lagi dengan tidak

digunakannya alat pelindung diri sehingga resiko untuk terkena atau mengalami

kelainan kulit dapat terjadi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Erliana (2008) tentang

hubungan karakteristik individu dan penggunaan alat pelindung diri dengan

kejadian dermatitis kontak pada pekerja Paving Block CV. F. Lhoksumawe.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

penggunaan alat pelindung diri saat bekerja dengan kejadian dermatitis kontak

dengan nilai P value = 0,001 dalam penelitian ini dikatehui bahwa pekerja yang

tidak menggunakan APD 87,5% menderita dermatitis kontak dibandingkan

dengan pekerja yang menggunakan APD hanya 19%.

Namun, hasil penelitian yang berbeda didapatkan pada penelitian

tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya dermatitis kontak

akibat kerja pada karyawan binatu oleh Adilah diperoleh hasil bahwa tidak

terdapat hubungan antara penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian

dermatitis kontak, dimana diperoleh nilai p=0,251.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan APD

merupakan faktor yang sangat penting terhadap terjadinya kelainan kulit. Akan
81

tetapi berdasarkan hasil menelitian ini diketahui bahwa seluruh pekerja tidak

menggunakan alat pelindung diri dalam bentuk apapun saat mereka melakukan

proses pekerjaan, padahal pihak pemilik pabrik karet PTPN VII Unit Padang

Pelawi telah mengupayakan berbagai cara untuk menjaga keselamatan dan

kesehatan kerja seperti menyediakan alat pelindung diri berupa sarung tangan

dan masker yang dapat digunakan pada saat bekerja. Namun, berdasarkan

penuturan dari sejumlah karyawan atau pekerja dimana mereka memang tidak

merasa nyaman apabila harus menggunakan masker dan sarung tangan pada

saat bekerja.
82

BAB VII

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada pekerja pabrik,

dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sebagian besar responden mengalami dermatitis kontak 57,5% sedangkan

42,4% responden tidak mengalami dermatitis kontak.

2. Sebagian besar responden 72% dengan penggunaan APD tidak lengkap

sedangkan hanya 28% yang menggunakan Alat pelindung diri dengan

lengkap.

3. Hasil analisa bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan

alat pelindung diri dengan kelainan kulit pada Pekerja pabrik karet PTPN

VII Unit Padang Pelawi, didapatkan nilai = 25,6 dengan p = 0,000 < =

0,05, artinya ada hubungan yang signifikan antara penggunaan APD degan

dermatitis kontak pada pekerja pabrik di PTPN VII Unit Padang Pelawi

Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu

B. Saran

1. Teoritis

a. Para pekerja memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan dirinya

selama bekerja dan menerapkan personal hygiene yang baik yaitu

81
83

seperti mencuci tangan dengan benar, pakaian terhindar dari noda-noda

dan pakaian selalu dicuci setiap kali selesai bekerja.

b. Selama mengolah karet, sebaiknya pekerja menggunakan sarung tangan

yang sesuai agar dapat menghindari paparan langsung dari bahan kimia.

2. Secara Praktis

a.

3. Pemilik pabrik sebaiknya menyediakan tempat mencuci tangan yang

memadai seperti wastafel atau keran air serta sabun dan lap khusus tangan,

agar pekerja pabrik dapat mencuci tangan dengan benar setelahmengolah

karet. Sarana mencuci tangan tersebut juga disediakan dengan jarak yang

terjangkau.

4. Tersedianya alat pelindung diri berupa sarung tangan yang sesuai dan

nyaman, serta baju kerja untuk digunakan para pekerja pabriknya selama

mengolah karet.