Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisika adalah sains atau ilmu alam dalam arti seluas-luasnya. Fisika
mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan
waktu. Para fisikawan atau ahli fisika mempelajari perilaku dan sifat materi dalam
bidang yang sangat berbeda, mulai dari submikroskopis partikel yang membentuk
semua materi (fisika partikel) hingga perilaku materi di alam semesta secara
keseluruhan kosmos.
Mata pelajaran Fisika di Sekolah Menengah Atas merupakan mata
pelajaran pokok untuk jurusan IPA. Selama ini, alokasi waktu pembelajaran Fisika
SMA dalam satu minggu adalah 5 jam pelajaran. Proses pembelajaran fisika di
sekolah biasanya diakukan sebanyak 1 2 kali pertemuan dalam satu minggu
dengan berbagi model dan metode pembelajaran. Dalam proses pembelajaran
tersebut siswa disarankan menggunakan berbagai buku / sumber yang berkaitan
dengan pembelajaran Fisika. Selain itu pada awal pembelajaran guru telah
menyiapkan modul ataupun lembar diskusi bagi siswa yang berguna sebagai buku
pelengkap karena modul ini tersusun dari sebagian bahan yang akan dibahas dalam
pembelajaran. Modul dan lembar diskusi ini tidak hanya berguna sebagai buku
pelengkap saja, tetapi bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil
belajar yang ingin dicapai. Dengan adanya bahan ajar ini, mahasiswa diharapkan
tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep fisika dan dapat menggunakan
waktu seefisien mungkin.
Namun, meski demikian pemahaman siswa terhadap materi dan konsep
konsep Fisika masih tergolong minim. Masih banyak siswa yang gagal atau tidak
mencapai hasil belajar yang maksimal. Siswa yang tidak berhasil dalam belajar
dipengaruhi beberapa faktor intern dan ekstern. Faktor intern meliputi kemampuan,
minat, sikap, motivasi dan malas. Sedangkan faktor ekstern meliputi guru, materi,
buku atau sumber, model pembelajaran, metode belajar dan media belajar.

Selain itu, Fisika seringkali dikaitkan sebagai salah satu mata pelajaran
yang sukar dan membosankan serta menakutkan bagi kebanyakan pelajar. Walau
bagaimanapun berbagai pendekatan telah digunakan di dalam proses pengajaran
dan pembelajaran Fisika oleh guru-guru demi menarik minat dan perhatian serta
mengubah tanggapan pelajar tehadap mata pelajaran tersebut.
Dalam proses pembelajaran yang konvensional ada beberapa masalah yang
ditemui yaitu aktifitas belajar yang kurang aktif dan hasil belajar yang kurang baik
serta sikap ilmiah yang masih rendah. Melihat dan meninjau fakta yang terjadi di
lapangan maka adanya kesenjangan yang tidak sesuai dengan teori yang ada
sehingga menimbulkan permasalahan didalam kelas. Sehingga perlu dilakukan
penelitian mengenai Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Dan Meningkatkan
Rasa Tanggung Jawab Serta Daya Ingat Siswa Pada Pembelajaran Fisika Materi
Fluida Dinamik Melalui Model Cooperative Tipe Jigsaw Di Kelas X7 SMAN 1
Lubuk Sikaping

B. Rumusan Masalah Penelitian


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah
penelitian ini adalah :
1. Apakah Model Cooperative Tipe Jigsaw dapat mengatasi kesulitan belajar
FISIKA siswa di kelas X7 SMAN 1 Lubuk Sikaping pada materi fluida
dinamik ?
2. Bagaimanakah motivasi serta minat belajar siswa pada pembelajaran fisika
materi fluida dinamik di kelas X7 SMAN 1 Lubuk Sikaping
3. Apakah model cooperative tipe jigsaw dapat mengatasi kesulitan belajar
dan menumbuhkan motivasi minat belajar siswa pada pembelajaran fisika
materi fluida dinamik di kelas X7 SMAN 1 Lubuk Sikaping?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengatasi kesulitan belajar siswa pada pembelajaran fisika materi
fluida dinamik di kelas X7 SMAN 1 Lubuk Sikaping melalui penerapan
Model Cooperative Tipe Jigsaw.
2. Untuk mendeskripsikan rasa tanggung jawab dan daya ingat siswa pada
pembelajaran fisika materi fluida dinamik di kelas X7 SMAN 1 Lubuk
Sikaping.
3. untuk mengatasi kesulitan belajar dan rasa tanggung jawab serta daya ingat
pada pembelajaran fisika materi fluida dinamik di kelas X7 SMAN 1 Lubuk
Sikaping dengan penerapan Model Cooperative Tipe Jigsaw.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :
1. Bagi siswa
Membantu siswa mengatasi kesulitan belajar dan meningkatkan rasa
tangung jawab serta daya ingat siswa pada pembelajaran fisika
khusunya materi fluida dinamik melalui penerapan model coopertive
tipe jigsaw di kelas X7 Sman 1 lubuk sikaping.
2. Bagi Guru
Dapat memberikan alternatif pilihan bagi guru bidang studi untuk
menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa
tanggung jawab dan daya ingat siswa.
3. Bagi Sekolah
Dapat memberikan manfaat bagi sekolah untuk meningkatkan mutu dan
kualitas hasil belajar, serta memberikan konstribusi yang baik dalam
peningkatan proses pembelajaran.
4. Bagi Mahasiswa
Dapat memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian dan dapat
menambah wahana pengetahuan dalam melakukan sebuah penelitian.

E. Batasan masalah
Berdasarkan judul dan luasnya masalah dalam penelitian ini, maka penulis
membatasi masalah yang akan diteliti. Batasan masalah tersebut yaitu sebagai
berikut :
1. Model yang akan digunakan yaitu model pembelajaran cooperative tipe
Jigsaw.
2. Hal - hal yang dikaji pada penelitian ini yaitu kesulitan yang dialami siswa
dalam pembelajaran, rasa tanggung jawab serta daya ingat siswa dalam
menguasai materi.
3. Hasil belajar yang dikaji pada penelitian ini yaitu berupa aspek sikap religius
dan Sosial, Keterampilan, dan aspek pengetahuan.
4. Materi pelajaran pada penelitian ini dibatasi pada sub konsep Fluida Dinamik.
5. Penelitian ini dilakukan pada siswa SMAN 1 Lubuk Sikaping di kelas X7
semester genap TA. 2017/2018.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Tinjauan Pustaka
1. Belajar dan Pembelajaran
Pembelajaran adalah kegiatan guru yang terprogram dalam desain
intruksional untuk membuat siswa belajar secara efektif yang menekankan kepada
penyediaan sumber belajar ( Moedjiono, 1999).
Setiap individu pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mencapai
keberhasilan dalam belajar, tetapi pada kenyataannya terdapat banyak perbedaan
antara satu individu dengan yang lain. Perbedaan inilah yang menyebabkan tinkah
laku dan pola belajar mereka berbeda pula.Belajar adalah suatuproses yang rumit
yang menimbulkan kesulitan bagi orang muda maupun orang dewasa. Dalam proses
belajar setiap orang pasti akan menemukan kesulitan dan hambatan, terutama pada
pelajaran yang memerlukan kemampuan berfikir (penalaran) yang memadai
(Surjadi,1983: 1).
2. Kesulitan dan Hambatan Belajar
Untuk Mengetahui bahwa anaka tersebut mengalami kesulitan dapat dilihat
dari geja;a atau ciri cirinya. Ciri ciri kesulitan belajar yang dialami oleh siswa
dapat diidentifikasi atau ditetapkan apabila menunjukkan gejala sebagai berikut :
menunjukkan prestasi yang rendah atau dibawah rata rata yang dicapai kelompok
kelas, hasil belajar yang tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan ,lambat
dalam melakukan tugas tugas belajar, menunjukkan sikap yang kurang wajar,
menunjukkan tingkah laku yang berlainan Ahmadi (2004: 94). Jadi dengan
mengamati ciri ciri tersebut kita bisa menemukan penyebab kesulitan belajar
dengan cepat.
Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan dimanifestasikan
dalam bentuk kesulitan yang nyata, dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan
mendengarkan, bercakap- cakap, membaca, menulis, menalar ataukemampuan
dalam bidang studi matematika (Abdurrahman, 2003: 6 7). Salah satu mata
pelajaran yang menginginkan manifestasi seperti yang telah dijabarka diatas adalah
fisika.
Ahmadi dan sapriyono (2004 : 77) menyatakan bahwa kesulitan belajar
adalah keadaan dimana anak didik atau siswa tidak dapat belajar sebagaimana
mestinya. Sedangkan menurut Sulisyanti (1997 : 16), hambatan belajar adalah
penghalang atau hal hal yang adapat mempengaruhi kelancaran pembelajaran.
3. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah suatu sikap dimana seseorang tersebut mempunyai
kesediaan menanggung segala akibat atau sanksi yang telah dituntutkan (oleh kata
hati, oleh masyarakat, oleh norma-norma agama) melalui latihan kebiasaan yang
bersifat rutin dan diterima dengan penuh kesadaran, kerelaan, dan berkomitmen.
Segala sikap dan perilaku harus bisa dipertanggungjawabkan kepada diri sendiri,
kehidupan bermasyarakat, lingkungan, negara, dan kepada Tuhan YME. Belajar
dikatakan sebagai suatu 5 proses usaha dimana seseorang berinteraksi langsung
dengan menggunakan semua alat inderanya terhadap objek belajar dan lingkungan
dengan membaca, mengamati, mendengarkan, dan meniru sehingga menghasilkan
suatu tingkah laku yang mengalami perubahan seperti dalam pengertian, cara
berpikir, kebiasaan, ketrampilan, kecakapan, ataupun sikap yang bertujuan untuk
penguasaan materi ilmu pengetahuan. Sehingga dapat didefinisikan bahwa
tanggung jawab belajar merupakan suatu proses dimana seseorang berinteraksi
langsung menggunakan semua alat inderanya terhadap objek belajar dan
lingkungan melalui pendidikan di sekolah yang menghasilkan perubahan tingkah
laku seperti pengetahuan, cara berpikir, ketrampilan, sikap, nilai dan kesediaan
menanggung segala akibat dari kegiatan belajar dengan penuh kesadaran dan
kerelaan yang bertujuan untuk menguasai materi ilmu pengetahuan.
Seseorang yang dilandasi dengan rasa tanggung jawab, maka ia dapat
meningkatkan perkembangan potensinya melalui belajar sesuai dengan harapan dan
keinginan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar. Sikap tanggung jawab belajar
tersebut dapat dicirikan seperti: (1) melakukan tugas belajar dengan rutin tanpa
harus diberi tahu, (2) dapat menjelaskan alasan atas belajar yang dilakukannya, (3)
tidak menyalahkan orang lain dalam belajar, (4) mampu menentukan pilihan
kegiatan belajar dari beberapa alternatif, (5) melakukan tugas sendiri dengan senang
hati, (6) bisa membuat keputusan yang berbeda dari keputusan orang lain dalam
kelompoknya, (7) mempunyai minat yang kuat untuk menekuni belajar, (8)
menghormati dan menghargai aturan di sekolah, (9) dapat 6 berkonsentrasi dalam
belajar, dan (10) memiliki rasa bertanggung jawab erat kaitannya dengan prestasi
di sekolah.
4. Daya Ingat
Daya ingat merupakan alih bahasa dari memory. Pada umumnya para ahli
memandang daya ingat sebagai hubungan antara pengalaman dengan masa lalu
(Walgito, 2004). Seseorang dapat mengingat sesuatu pengalaman yang telah terjadi
atau pengetahuan yang telah dipelajari pada masa lalu (Afiatin, 2001). Drever
(dalam Walgito, 2004) menjelaskan memori adalah salah satu karakter yang
dimiliki oleh makhluk hidup, pengalaman berguna apa yang kita lupakan yang
mana mempengaruhi perilaku dan pengalaman yang akan datang, yang mana
ingatan itu bukan hanya meliputi recall (mengingat) dan recognition (mengenali)
atau apa yang disebut dengan menimbulkan kembali ingatan. Santrock menjelaskan
bahwa daya ingat adalah unsur perkembangan kognitif, yang memuat seluruh
situasi yang di dalamnya individu menyimpan informasi yang diterima sepajang
waktu (Atkinson, 2000).
Daya ingat (memory) merujuk pada kemampuan individu memiliki dan
mengambil kembali suatu informasi dan juga struktur yang mendukungnya serta
suatu bentuk kompetensi, memori juga memungkinkan individu memiliki identitas
diri (Wade, 2008).
Sebelum seseorang mengingat suatu informasi atau sebuah kejadian dimasa
lalu, ada beberapa tahapan yang harus dilalui ingatan tersebut untuk dapat muncul
kembali. Atkinson (2000) berpendapat bahwa, para ahli psikologi membagi tiga
tahapan ingatan, yaitu:
a. Memasukan pesan dalam ingatan (encoding). Mengacu pada cara individu
mentransformasikan input fisik indrawi menjadi sejenis representasi mental
dalam memori. b. Penyimpanan ingatan (storage). Mengacu pada cara individu
menahan informasi yang sudah disimpan dalam memori.
b. Mengingat kembali (retrieval). Mengacu pada bagaiman individu memperoleh
akses menuju informasi yang sudah disimpan dalam memori.
c. Pengkodean, penyimpanan, dan pengeluaran sering kali dilihat sebagai tahapan
proses memori yang berurutan. Proses ini tidak berdiri sendiri atau terpisah-
pisah, melainkan saling berkaitan dan bergantung satu sama lain. Tiga tahapan
dalam memori di atas sebagai berikut:

Gambar 1 Tahapan dalam memori Sumber: Atkinson & Atkinson. Pengantar Psikologi Edisi
Kedelapan Jilid I. Jakarta: Erlangga.

5. Model Pembelajaran cooperatve tipe Jigsaw


Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan interaksi aktif antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru maupun
siswa dengan lingkungan belajarnya. Siswa belajar bersama-sama dan memastikan
bahwa setiap anggota kelompok telah benar-benar menguasai materi yang sedang
dipelajari. Keuntungan yang bisa diperoleh dari penerapan pembelajaran kooperatif
ini yaitu siswa dapat mencapai hasil belajar yang bagus karena pembelajaran
kooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yangmerupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi hasil belajar.
Siswa juga dapat menerima dengan senang hati pembelajaran yang
digunakan karena adanya kontak fisik antar siswa. Terdapat banyak tipe dalam
pembelajaran kooperatif salah satunya adalah Jigsaw. Pembelajaran
kooperatif jigsaw adalah model pembelajaran yang dikembangkan agar dapat
membangun kelas sebagai komunitas belajar yang menghargai semua kemampuan
siswa.
Pembelajaran dengan kooperatif jigsaw siswa secara individual dapat
mengembangkan keahliannya dalam satu aspek dari materi yang sedang dipelajari
serta menjelaskan konsep dan keahliannya itu pada kelompoknya. Setiap anggota
kelompok dalam pembelajaran kooperatif jigsaw mempelajari materi yang berbeda
dan bertanggung jawab untuk mempelajari bagiannya masing-masing.
Pembelajaran dengan kooperatif jigsaw diharapkan dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa.
Pembelajaran kooperatif Jigsaw menjadikan siswa termotivasi untuk
belajar karena skor-skor yang dikontribusikan para siswa kepada tim didasarkan
pada sistem skor perkembangan individual, dan para siswa yang skor timnya
meraih skor tertinggi akan menerima sertifikat atau bentuk-
bentuk penghargaan(rekognisi) tim lainnya sehingga para siswa termotivasi untuk
mempelajari materi dengan baik dan untuk bekerja keras dalam kelompok ahli
mereka supaya mereka dapat membantu timnya melakukan tugas dengan
baik (Slavin, 2006:5).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya
mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan
mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain . Dengan
demikian siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama
secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Para anggota dari tim-
tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling
membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran yang di tugaskan kepada
mereka. Kemudian siswa siswa itu kembali pada tim atau kelompok asal untuk
menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka
pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan
kelompok ahli. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan
siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang
beragam Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli,
yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang
ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan
tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan
kepada anggota kelompok asal.
Para anggota dari kelompok asal yang berbeda, bertemu dengan topik
anggota sama dalam kelompok ahli untuk berdiskusi dan membahas materi yang
ditugaskan pada masing-masing anggota kelompok serta membantu satu sama lain
untuk mempelajari topik mereka tersebut. Setelah pembahasan selesai, kelompok
kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman
sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan dikelompok
ahli. Jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara
mandiri juga akan dituntut saling ketergangtungan yang positif (saling memberi
tahu ) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya diakhir pembelajaran siswa
diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah dibahas. Kunci
tipe jigsaw ini adalah interdependensi setiap siswa terhadap anggota tim yang
memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis
dengan baik.

a. Langkah langkah model pembelajaan cooperative tipe jigsaw


strategi jigsaw dilaksanakan dengan suatu urutan langkah-langkah khusus.
Adapun langkah-langkah tersebut adalah :
Langkah 1 : Materi pelajaran dibagi ke dalam beberapa bagian. Sebagai contoh
suatu materi dibagi menjadi 4 bagian.
Langkah 2 : Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Banyak kelompok adalah
hasil bagi jumlah siswa dengan banyak bagian materi. Misalnya
dalam kelas ada 20 siswa, maka banyak kelompok adalah 5, karena
materinya 4 bagian. Selanjutnya kepada setiap anggota dalam satu
kelompok diberikan satu bagian materi.
Langkah 3 : Anggota dari setiap kelompok yang mendapatkan materi yang sama
membentuk kelompok. Kelompok ini disebut kelompok ahli (expert
group). Banyaknya kelompok ahli ini sama dengan banyaknya
bagian materi. Pada kelompok ahli inilah siswa melakukan diskusi
untuk membahas materi yang menjadi tanggung jawabnya.
Langkah 4 : Setelah materi didiskusikan dan dibahas pada kelompok ahli, masing
anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asalnya (home teams)
untuk mengajarkan kepada anggota kawan-kawannya. Karena ada 4
bagian materi, maka ada 4 orang yang mengajar secara bergantian.
Langkah 5 : Guru melakukan evaluasi secara individual mengenai bahan yang
telah dipelajari.
Langkah 6 : Penutup, yaitu menutup pelajaran sebagaimana biasanya.
Bila langkah-langkah di atas dihubungkan dengan penggunaan
indera dan ingatan siswa, maka tidak dapat diragukan bahwa strategi
jigsaw dapat meningkatkan dan memaksimalkan ingatan siswa. Hal
ini disebabkan dalam serangkaian langkah-langkah pelaksanaannya,
strategi jigsaw menuntut siswa untuk aktif. Sangat banyak indera
yang dilibatkan dalam belajar, yaitu mulai dari membaca dan
menelaah materi, mendengar pendapat teman, menyanggah
pendapat, mempertahankan pendapat dan mengajarkan kawan serta
dievaluasi secara individual oleh guru.
b. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, model
pembelajaran Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu:
a. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok
ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya
b. Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat
c. Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara
dan berpendapat.
d. Siswa yang lemah dapat terbantu dalam menyelesaikan masalah, menerapkan
bimbingan sesama teman, rasa harga diri siswa yang lebih
tinggi dan memperbaiki kehadiran
e. Pemahaman materi lebih mendalam, meningkatkan motivasi belajar
f. Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif
g. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan
kelompok lain
h. Setiap siswa saling mengisi satu sama lain (Arends, 2001:23).
Dalam penerapannya sering dijumpai beberapa permasalahan dan
kelemahannya yaitu :
a. Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol
jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar
memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota
kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru
mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti.
b. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfikir rendah akan mengalami
kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk
mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian
memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat
tersampaikan secara akurat.
c. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
d. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas
yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti
jalannya diskusi.
e. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses
pembelajaran.
f. Membutuhkan waktu yang lebih lama apalagi bila ada penataan ruang belum
terkondiki dengan baik, sehingga perlu waktu merubah posisi yang dapat juga
menimbulkan gaduh serta butuh waktu dan persiapan (Arends, 2001:25)

B. Penelitian yang Relevan


Sepengetahuan peneliti, belum ada penelitian yang relevan dengan
permasalahan yang diungkapkan dalam penelitian ini.
C. Kerangka Berpikir

PROSES

Sintaks Model cooperative tipe jigsaw

Langkah 1 : Materi pelajaran


dibagi ke dalam beberapa bagian.
Langkah 2 : Siswa dibagi menjadi
beberapa kelompok. Banyak
kelompok adalah hasil bagi jumlah
siswa dengan banyak bagian materi.
Langkah 3 : Anggota dari setiap
kelompok yang mendapatkan materi
yang sama membentuk kelompok.
Kelompok ini disebut kelompok ahli
(expert group). Banyaknya
kelompok ahli ini sama dengan
banyaknya bagian materi. Pada
kelompok ahli inilah siswa
melakukan diskusi untuk membahas Output
Input (Siswa)
materi yang menjadi tanggung 1.Peningkatan
1.siswa jawabnya. hasil belajar
mengalami
kesulitan Langkah 4 : Setelah materi 2.Peningkatan
belajar rasa tanggung
didiskusikan dan dibahas pada jawab siswa
2. tanggung
jawab kurang 3.Peningkatan
kelompok ahli, masing anggota
daya ingat
3. daya ingat siswa
kelompok ahli kembali ke kelompok
kurang
asalnya (home teams) untuk

mengajarkan kepada anggota

kawan-kawannya. Karena ada 4

bagian materi, maka ada 4 orang

yang mengajar secara bergantian.

Langkah 5 : Guru melakukan

evaluasi secara individual

Langkah 6 : Penutup,

Gambar 2.1 Bagan kerangka pemikiran penerapan


pendekatan saintifik melalui model cooperative tipe jigsaw
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action
Research). Menurut Kunandar (2011 : 45) penelitian tindakan kelas dapat
didefenisikan sebagai suatu penelitian tindakan (action research) yang dilakukan
guru yang sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang
lain (kolaborasi) dengan jalan merancang, melaksanakan dan merefleksikan
tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau
meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu
tindakan (treatment) tertentu dalam suatu kelas. Pada penelitian ini akan dilakukan
proses pembelajaran fisika dengan model pembelajaran cooperative tipe jigsaw.

B. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian


1. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa XI IPA 3 ( kelas pembanding)
SMAN 1 Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat dengan
jumlah 34 orang.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Lubuk Sikaping , Lubuk Sikaping,
Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat.
3. Waktu Penelitian
Waktu penelitian diperkirakan selama 3 bulan yaitu bulan Agustus
Oktober, sedangkan waktu perencanaan sampai penulisan laporan hasil akhir
penelitian dilakukan selama semester ganjil tahun pelajaran 2017 / 2018.

C. Definisi Operasional
1. Pembelajaran adalah kegiatan guru yang terprogram dalam desain
intruksional untuk membuat siswa belajar secara efektif yang menekankan
kepada penyediaan sumber belajar ( Moedjiono, 1999).
2. Ahmadi dan sapriyono (2004 : 77) menyatakan bahwa kesulitan belajar
adalah keadaan dimana anak didik atau siswa tidak dapat belajar
sebagaimana mestinya. Sedangkan menurut Sulisyanti (1997 : 16),
hambatan belajar adalah penghalang atau hal hal yang adapat
mempengaruhi kelancaran pembelajaran.
3. Tanggung jawab adalah suatu sikap dimana seseorang tersebut mempunyai
kesediaan menanggung segala akibat atau sanksi yang telah dituntutkan
(oleh kata hati, oleh masyarakat, oleh norma-norma agama) melalui latihan
kebiasaan yang bersifat rutin dan diterima dengan penuh kesadaran,
kerelaan, dan berkomitmen
4. Pada umumnya para ahli memandang daya ingat sebagai hubungan antara
pengalaman dengan masa lalu (Walgito, 2004).

D. Prosedur Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
akan dilaksanakan dalam empat siklus. Setiap siklus pada penelitian tindakan kelas
terdiri dari empat tahap, yaitu 1) Tahap perencanaa (planing), 2) Tahap pelaksanaan
tindakan (Acting), 3) Tahap pengamatan (Observating), 4) Tahap refleksi
(Reflection). Alur dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut :
1. Siklus I
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan tindakan siklus I
adalah :
a. Perencanaan
1. Menyusun dan merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
untuk siklus I berdasarkan silabus, buku guru dan buku siswa
2. Mempersiapkan bahan ajar yang menarik
3. Membuat lembar observasi aktivitas siswa dan guru
4. Merancang angket untuk menilai sikap ilmiah siswa.
5. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) dan kunci jawabannya.
6. Membuat lembar observasi sikap religius dan sosial siswa beserta rubrik
dan skor penilaian.
7. Merancang tes pengetahuan siklus I dan kunci jawabannya
8. Membuat lembar observasi hasil belajar beserta rubrik dan skor
penilaian.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan ini mengacu pada RPP pembelajaran siklus I melalui
penerapan pendekatan saintifik melalui model cooperative tipe jigsaw. Proses
pembelajaran dengan ini terdiri dari beberapa tahapan kegiatan yaitu tahap
kegiatan pendahuluan, tahap kegiatan inti dan tahap kegiatan penutup. Pada
tahap-tahap kegiatan tersebut memuat langkah-langkah pembelajaran sesuai
dengan sintaks model cooperative tipe jigsaw.
c. Pengamatan
Proses observasi dilakukan oleh pengamat terhadap pelaksanaan tindakan
pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa, guru melakukan pengamatan
sikap religius dan sosial siswa dengan menggunakan lembar observasi serta
melakukan pengamatan akitifas belajar. Selain itu mengamati kesulitan
kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar da rasa tanggung jawab serta daya
ingat siswa.
d. Refleksi
Menganalisa dan mengulas data meliputi hasil tes pengetahuan, hasil
observasi sikap (religius & sosial), aspek keterampilan, rasa tanggung jawab
dan daya ingat untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan dapat
meningkatkan tanggung jawab dan daya ingat siswa. Kemudian direfleksi untuk
melihat kekurangan yang ada, mengkaji apa yang telah dan belum terjadi,
mengapa hal tersebut dapat terjadi dan langkah apa saja yang perlu dilakukan
untuk perbaikan. Hasil refleksi ini akan digunakan untuk menetapkan langkah
selanjutnya atau merencanakan tindakan untuk siklus II.

2. Siklus II
Siklus II dilaksanakan dengan melakukan perubahan pada bagian-bagian
tertentu yang didasarkan pada refleksi siklus I. Langkah-langkah yang dilakukan
dalam pelaksanaan tindakan siklus II adalah :
a. Perencanaan
1. Menyusun dan merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
untuk siklus II berdasarkan silabus, buku guru dan buku siswa
2. Mempersiapkan bahan ajar yang menarik
3. Membuat lembar observasi aktivitas siswa dan guru
4. Merancang angket untuk menilai sikap ilmiah siswa.
5. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) dan kunci jawabannya
6. Membuat lembar observasi sikap religius dan sosial siswa beserta rubrik
dan skor penilaian.
7. Merancang tes pengetahuan siklus II dan kunci jawabannya
8. Membuat lembar observasi hasil belajar beserta rubrik dan skor
penilaian.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan ini mengacu pada RPP pembelajaran siklus II
melalui penerapan model pembelajaran cooperative tipe jigsaw. Proses
pembelajaran dengan ini terdiri dari beberapa tahapan kegiatan yaitu tahap
kegiatan pendahuluan, tahap kegiatan inti dan tahap kegiatan penutup. Pada
tahap-tahap kegiatan tersebut memuat langkah-langkah pembelajaran sesuai
dengan sintaks model cooperative tipe jigsaw.
c. Pengamatan
Proses observasi dilakukan oleh pengamat terhadap pelaksanaan
tindakan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa, guru melakukan
pengamatan sikap religius dan sosial siswa dengan menggunakan lembar
observasi serta melakukan pengamatan akitifas belajar. Selain itu
mengamati kesulitan kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar da rasa
tanggung jawab serta daya ingat siswa.

d. Refleksi
Menganalisa dan mengulas data meliputi hasil tes pengetahuan,
hasil observasi sikap (religius & sosial), aspek keterampilan, rasa tanggung
jawab dan daya ingat untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan
dapat meningkatkan tanggung jawab dan daya ingat siswa. Kemudian
direfleksi untuk melihat kekurangan yang ada, mengkaji apa yang telah dan
belum terjadi, mengapa hal tersebut dapat terjadi dan langkah apa saja yang
perlu dilakukan untuk perbaikan. Hasil refleksi ini akan digunakan untuk
menetapkan langkah selanjutnya atau merencanakan tindakan untuk siklus
III.

3. Siklus III
Siklus III dilaksanakan dengan melakukan perubahan pada bagian-bagian
tertentu yang didasarkan pada refleksi siklus II. Langkah-langkah yang dilakukan
dalam pelaksanaan tindakan siklus III adalah :
a. Perencanaan
1. Menyusun dan merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
untuk siklus II berdasarkan silabus, buku guru dan buku siswa
2. Mempersiapkan bahan ajar yang menarik
3. Membuat lembar observasi aktivitas siswa dan guru
4. Merancang angket untuk menilai sikap ilmiah siswa.
5. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) dan kunci jawabannya
6. Membuat lembar observasi sikap religius dan sosial siswa beserta rubrik
dan skor penilaian.
7. Merancang tes pengetahuan siklus II dan kunci jawabannya
8. Membuat lembar observasi hasil belajar beserta rubrik dan skor
penilaian.
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses observasi dilakukan oleh pengamat terhadap pelaksanaan
tindakan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa, guru melakukan
pengamatan sikap religius dan sosial siswa dengan menggunakan lembar
observasi serta melakukan pengamatan akitifas belajar. Selain itu
mengamati kesulitan kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar da rasa
tanggung jawab serta daya ingat siswa
c. Pengamatan
Proses observasi dilakukan oleh pengamat terhadap pelaksanaan
tindakan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa, guru melakukan
pengamatan sikap religius dan sosial siswa dengan menggunakan lembar
observasiserta observasi aktifitas belajar. Selain itu mengamati bagaimana
keterampilan siswa dengan lembar observasi unjuk kerja. Sikap ilmiah
siswa akan dilihat/diamat pada hasil pengisian angket yang dilakukan siswa.
d. Refleksi
Menganalisa dan mengulas data meliputi hasil tes pengetahuan,
hasil observasi sikap (religius & sosial), aspek keterampilan, rasa tanggung
jawab dan daya ingat untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan
dapat meningkatkan tanggung jawab dan daya ingat siswa. Kemudian
direfleksi untuk melihat kekurangan yang ada, mengkaji apa yang telah dan
belum terjadi, mengapa hal tersebut dapat terjadi dan langkah apa saja yang
perlu dilakukan untuk perbaikan. Hasil refleksi ini akan digunakan untuk
menetapkan langkah selanjutnya atau merencanakan tindakan untuk
siklus.IV.

4. Siklus IV
Siklus IV dilaksanakan dengan melakukan perubahan pada bagian-bagian
tertentu yang didasarkan pada refleksi siklus III. Langkah-langkah yang dilakukan
dalam pelaksanaan tindakan siklus IV adalah :
a. Perencanaan
1. Menyusun dan merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
untuk siklus II berdasarkan silabus, buku guru dan buku siswa
2. Mempersiapkan bahan ajar yang menarik
3. Membuat lembar observasi aktivitas siswa dan guru
4. Merancang angket untuk menilai sikap ilmiah siswa.
5. Menyiapkan lembar kerja siswa (LKS) dan kunci jawabannya
6. Membuat lembar observasi sikap religius dan sosial siswa beserta rubrik
dan skor penilaian.
7. Merancang tes pengetahuan siklus II dan kunci jawabannya
8. Membuat lembar observasi hasil belajar beserta rubrik dan skor
penilaian.
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses observasi dilakukan oleh pengamat terhadap pelaksanaan
tindakan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa, guru melakukan
pengamatan sikap religius dan sosial siswa dengan menggunakan lembar
observasi serta melakukan pengamatan akitifas belajar. Selain itu
mengamati kesulitan kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar da rasa
tanggung jawab serta daya ingat siswa
c. Pengamatan
Proses observasi dilakukan oleh pengamat terhadap pelaksanaan
tindakan pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa, guru melakukan
pengamatan sikap religius dan sosial siswa dengan menggunakan lembar
observasiserta observasi aktifitas belajar. Selain itu mengamati bagaimana
keterampilan siswa dengan lembar observasi unjuk kerja. Sikap ilmiah
siswa akan dilihat/diamat pada hasil pengisian angket yang dilakukan siswa.

d. Refleksi
Menganalisa dan mengulas data meliputi hasil tes pengetahuan,
hasil observasi sikap (religius & sosial), aspek keterampilan dan lembar
aktifitas untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan dapat
meningkatkan sikap rasa tanggung jawab dan daya ingat siswa. Kemudian
hasil siklus ini akan digunakan dalam hasil dan pembahasan.

E. LANGKAH DAN JADWAL PENELITIAN

Jenis kegiatan Bulan ke -


1 2 3 4 5 6
Identifikasi maslah yang ada
dilapangan

Perencanaan dan penyusunan proposal

Penyusunan draft bahan ajar

Penyusunan panduan kerja ( LKS )

Penyusunan pedoman pengamatan dan


instrumen lain yang diperlukan
Persiapan dan pembahasan penelitian

Penelitian siklus I

Observasi dasar
Latihan pelaksanaan tindakan
Melaksanakan tindakan
Refleksi dan evaluasi

Penelitian siklus II
Latihan pelaksanaan tindkan
Melaksanakan tindakan
Refleksi dan evaluasi

Penelitian siklus III

Latihan pelaksanaan tindkan


Melaksanakan tindakan
Refleksi dan evaluasi

Penyusunan draft laporan

Finishing laporan akhir seminar

Publikasi hasil penelitian

F. JUMLAH DAN RINCIAN BIAYA

Kegiatan Rincian Jumlah


1. Penyiapan bahan a. Penusunan draft
ajar bahan ajar (1 orang ,
7 hari)
Print out 40 lbr x 1 x
Rp.250
Uang konsumsi Rp.10.000,00
1 x 7 x Rp.15.000
b. Revisi bahan ajar
( 1orang ,7 hri)
Rp. 105.000,00
Print out 40 lbr x 1 x
Rp.250
Uang konsumsi
1 x 7 x Rp.15.000

Rp.10.000,00

Rp. 105.000,00

2. Persiapan Penyusunan
lapangan panduan kerja
Fotocopy
penggandaan 10 Rp.10.000,00
lb x 10 x
Rp.100,00
Penyusunan
proposal
Print out
proposal 20 x 1
x Rp.250 Rp.5000,00
Penggandaan
proposal 20 x 10
eks x Rp.100,00 Rp.20.000,00
Konsumsi
3 x 1x
Rp.15.000,00
Penyusunan
pedoman
pengamatan dan
Rp.45.000,00
instrumen yang
diperlukan
Print out 10 lbrx
1 x Rp.250,00
Fotocopy
penggandaan 10
lb x 10 x
Rp.100,00
Konsumsi
3 x 1x
Rp.15.000,00

3. Penelitian siklus a. Observasi dasar (1


I orang, 2 hari)
Transport 3 x1 x Rp.
10.000,00
Rp.30.000,00
b. Latihan pelaksanaan
tindakan (1 orang, 2
hari )
Transport 1 x 2 x
Rp. 10.000,00
c. Melaksanakan
tindakan siklus I (1
orang, 2 hari)
Transport
1x2xRp.10.000,00
d. Refleksi dan
evaluasi (1 orang, 1 Rp.20.000,00
hari)
Transport 1x 1x Rp.
10.000,00

Rp.20.000,00

Rp.10.000,00
Penelitian siklus II a. Latihan pelaksanaan
tindakan (1 orang, 2
hari )
Transport 1 x 2 x
Rp. 10.000,00
b. Melaksanakan Rp.20.000,00
tindakan siklus I (1
orang, 2 hari)
Transport
1x2xRp.10.000,00
c. Refleksi dan
evaluasi (1 orang, 1
hari)
Transport 1x 1x Rp.
10.000,00
Rp.20.000,00
Rp.10.000,00
Penelitian siklus III a. Latihan pelaksanaan
tindakan (1 orang, 2
hari )
Transport 1 x 2 x
Rp.20.000,00
Rp. 10.000,00
b. Melaksanakan
tindakan siklus I (1
orang, 2 hari)
Transport
Rp.20.000,00
1x2xRp.10.000,00
c. Refleksi dan
evaluasi (1 orang, 1
hari)

Transport 1x 1x Rp.
10.000,00
Rp.10.000,00

G. PERSONALIA PENELITIAN
1. Nama : Enna Marti Eka Putri
2. NPM : A1E014040
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Tempat tanggal lahir : Kp. Tengah, 23 Maret 1996
5. Jabatan fungsional : Mahasiswi
6. Unit kerja : UNIB
7. Pendidikan terakhir : SMAN 1 Lubuk Sikaping
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M.2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:
Rineka Cipta
Ahmadi, A. 2004. Psikologis. Jakarta: Rineka Cipta
Refina, Rika. 2007. Kesulitan dan Hambatan Belajar Fisika Kuantum pada
Mahasiswa Fisika Angkatan 2003/2004 FKIP UNIB. Skripsi UNIB (tidak
dipublikasikan)
Sulisyanti, D. 1997. Hambatan Belajar siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi
kelas I SLTP Negeri 1 Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara Tahun
Pelajaran 1997/ 1998. Skripsi UNIB (tidak dipublikasikan)
Surjadi, A. 1983. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Bina Cipta
Trianto. 2010. Panduan Lengkap Penelitin Tindakan Kelas. Surabaya: Prestasi
Pustaka
Utami, Eka Pratiwi. 2006. Studi Identifikasi Penggunaan Alat alat
Laboratorium Fisika dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) di SMA Negeri Kota Bengkulu. Skripsi UNIB (tidak
dipublikasikan)
Dwitagama, dkk. 2011. Mengenal Penelitian tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks