Anda di halaman 1dari 24

Ketetapan Sebagai Bentuk Perbuatan

Hukum Tata Pemerintahan Otonom


Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Hukum Tata Pemerintahan

Dosen : Suhermanudin,.SH.,M.Si

Tugas Kelompok 5

Deni : 41153010160071

Deriel Pahlevi : 41153010160041

Eli Lestari : 41153010160123

IP B II

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Universitas Langlangbuana Bandung
1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah
tentang Ketetapan Sebagai Bentuk Perbuatan Hukum Tata Pemerintahan Otonom.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ilmiah ini.

Bandung, 10 April 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Ketetapan Sebagai Bentuk Perbuatan Hukum Tata Pemerintahan Otonom


KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... 3
BAB I ........................................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 4
Latar Belakang Masalah ...................................................................................................................... 4
Rumusan Masalah ............................................................................................................................... 5
Tujuan Penulisan ................................................................................................................................. 5
BAB II ....................................................................................................................................................... 6
LANDASAN TEORI .................................................................................................................................... 6
Hukum Tata Pemerintahan Otonom................................................................................................... 6
Perbuatan / Tindakan Pemerintah...................................................................................................... 7
Ketetapan Pemerintah ........................................................................................................................ 7
BAB III .................................................................................................................................................... 11
PEMBAHASAN ....................................................................................................................................... 11
Macam Macam Perbuatan pemerintah ......................................................................................... 11
Golongan Ketetapan Pemerintah ..................................................................................................... 12
Akibat Kebebasan Aparatur Pemerintah .......................................................................................... 14
Syarat-Syarat Ketetapan Pemerintah dan Pelaksanaan ................................................................... 18
Tahapan Pelaksanaan ketetapan ...................................................................................................... 20
BAB IV.................................................................................................................................................... 23
PENUTUP ............................................................................................................................................... 23
Kesimpulan........................................................................................................................................ 23
Saran ................................................................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 24

3
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah


Dalam konteks yang luas, maka hukum tata pemerintahan adalah hukum yang mengatur hubungan
hak dan kewajiban pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dengan pihak yang diperintah dalam
rangka terselenggaranya kekuasaan pemerintahan maupun terselenggaranya kerjasama di dalam
pencapaian tujuan negara sebagimana diisyaratkan oleh konstitusi negara.

Sedangkan dalam konteks yang sempit , hukum tata pemerintahan dapat didefinisikan sebagai
aturan hukum yang diberlakukan oleh pemerintah karena otoritas yang dimilikinya secara sepihak
dan di dalam hal-hal tertentu yang sifatnya konkret, seperti ketetapan yang dibuat dan diberlakukan
oleh pemerintah.

Hubungan pemerintah dengan rakyat di dalam berbagi peran dan statusnya baik dalam konteks
kekuasaan maupun dalam konteks pengaturan kerjasama, akan selalu berada dalam hubungan
hukum, akan selalu dipandang sebagai perbuatan hukum akan tetapi dapat pula terjadi dalam
perbuatan biasa atau perbuatan yang tidak berakibat hukum seperti perbuatan perencanaan,
pelaksanaan termasuk pemeliharaan hubungan dan pengawasan atas berbagai kegiatan pemerintah.

Spesifikasi yang dimiliki oleh hukum tata pemerintahan, ketika hubungan yang terjadi secara sepihak
tetapi dalam rangka pembebanan dan perbolehan atas hak dan kewajiban oleh pemerintah kepada
rakyat melalui perintah, larangan, perizinan dan dispensasi diberlakukan secara positif. Pembebanan
dan pembolehan secara sepihak itu dilakukan oleh Pemerintah karena kekuasaan yang dimiliki dan
penempatkan pemerintah sebagai penguasa yang menghegomoni rakyat.

Hukum Tata Pemerintahan Otonom adalah hukum yang dibuat dan atau diciptakan oleh aparatur
pemerintah dalam rangka pelaksanaan tugas seperti : Keputusan Presiden, Keputusan Menteri,
Keputusan gubernur, Kepala Daerah, Keputusan Bupati/Walikotamadya/Keputusan Camat,
keputusan Kepala Desa/Lurah; Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, dan Peraturan
Gubernur/Bupati/Waliotamadya/Camat/ dan oleh Kepala Desa atau Lurah.

Isi Hukum Tata Pemerintahan dalam konteks yang otonom adalah aturan-aturan hukum yang dibuat
oleh aparatur pemerintah baik itu bersifat pengaturan sepihak sebagaimana ketetapan maupun
pengaturan dua pihak. Semua aturan yang dimaksud adalah bersifat istimewa atau bersifat khusus.

4
Dikatakan istimewa oleh karena yang terlibat dalam hubungan itu adalah aparatur pemerintah yang
karena kedudukannya sebagai penyelenggara kesejahteraan umum memiliki wewenang istimewa
yang dapat digunakan di dalam hubungannya dengan orang/rakyat/pihak swasta sekalipun.

Pemerintah dalam ruang lingkup otonom memiliki wewenang istimewa untuk membuat ketetapan
dalam pelaksanaan pemerintahan yang bersifat positif bagi kesejahteraan bersama antara
pemerintah dengan rakyat. Ketetapan inilah yang termasuk kedalam perbuatan hukum tata
pemerintahan otonom.

Dan melalui makalah ini penulis ingin mengupas secara detail mengenai ketetapan dan perbuatan
didalam hukum tata pemerintahan otonom.

II. Rumusan Masalah


1. Apa macam-macam perbuatan pemerintah?
2. Apa saja golongan ketetapan pemerintah ?
3. Apa akibat dari kebebasan aparatur pemerintah ?
4. Apa syarat-syarat ketetapan pemerintah dan pelaksanaan ?
5. Apa tahapan pelaksanaan ketetapan pemerintah ?

III. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui macam-macam perbuatan pemerintah.
2. Untuk mengetahui golongan ketetapan pemerintah.
3. Untuk mengetahui kebebasan aparaturpemerintah.
4. Untuk mengetahui syarat-syarat ketetapan pemerintah dan pelaksanaan.
5. Untuk mengetahui tahapan pelaksanaan ketetapan pemerintah.

5
BAB II
LANDASAN TEORI

I. Hukum Tata Pemerintahan Otonom


Hukum Tata Pemerintahan Otonom adalah hukum yang dibuat dan atau diciptakan oleh aparatur
pemerintah dalam rangka pelaksanaan tugas seperti : Keputusan Presiden, Keputusan Menteri,
Keputusan gubernur, Kepala Daerah, Keputusan Bupati/Walikotamadya/Keputusan Camat,
keputusan Kepala Desa/Lurah; Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, dan Peraturan
Gubernur/Bupati/Waliotamadya/Camat/ dan oleh Kepala Desa atau Lurah.

Dalam konteks yang otonom, isi Hukum Tata Pemrintahan adalah aturan-aturan hukum yang dibuat
oleh aparatur pemerintah baik itu bersifat pengaturan sepihak sebagaimana ketetapan maupun
pengaturan dua pihak. Semua aturan yang dimaksud adalah bersifat istimewa atau bersifat khusus.

Hubungan hukum yang berlangsung antara orang dengan negara yang dalam hal ini kepentingannya
diwakili pemerintah maka hubungan itu adalah hubungan yang berlangsung dalam lapangan hukum
publik. Hubungan hukum demikian itu dalam lapangan hukum pemerintahan, disebut hubungan
istimewa (E. Utercht, 1960).

Dikatakan istimewa oleh karena yang terlibat dalam hubungan itu adalah aparatur pemerintah yang
karena kedudukannya sebagai penyelenggara kesejahteraan umum memiliki wewenang istimewa
yang dapat digunakan di dalam hubungannya dengan orang/rakyat/pihak swasta sekalipun.

Aparatur pemerintah dalam hal ini melakukan hubungan hukum atas dasar hak istimewa adalah
melaksanakan tugasnya yang khusus.

Dan tugas yang khusus inilah yang dimaksudkan oleh Lemaire sebagai tugas bestuurzorg yaitu
penyelenggara kesejahteraan umum.

Akan tetapi di dalam negara kesejahteraan sebetulnya tugas bestuurzorg tidak saja menjadi
monopoli aparatur pemerintah akan tetapi juga kepada swasta diberi kesempatan
melaksanakannya. Pelimpahan wewenang oleh aparatur pemerintah kepada pihak swasta dalam hal
ini bestuurzorg dilakukan melalui lembaga delegasi kekuasaan dan dapat juga lewat pemeberian izin.
Delegasi kekuasaan dan izin adalah perbuatan aparartur pemerintah yang dapat menimbulkan hak
dan kewajiban bagi swasta atau orang lain, sehingga perbuatan itu adalah perbuatan Hukum Tata
Pemerintahan.

6
II. Perbuatan / Tindakan Pemerintah
Pada dasarnya Dalam suatu Negara hukum setiap tindakan hukum pemerintahan selalu harus
didasarkan pada asas legalitas atau harus berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mengenai pengertian perbuatan permerintah Menurut Van Vollenhoven yang dimaksud dengan
tindakan pemerintahan (bustuurhandeling) adalah pemeliaharaan kepentingan Negera dan rakyat
secara spontan dan tersendiri oleh penguasa tinggi dan rendahan.

Sedangkan menurut Komisi Van Poelje dalam laporannya Tahun 1972 yang dimaksudkan dengan
Puliek Rechtelijke Handeling atau tindakan dalam hukum publik adalah tindakan-tindakan hukum
yang dilakukan oleh penguasa dalam menjalankan fungsi pemerintahan.

Jadi dari keterangan diatas dapat disimpulkan tindakan pemerintahan adalah suatu perbuatan yang
dilakukan oleh organ pemerintah demi memelihara kepentingan Negara dan rakyat.

III. Ketetapan Pemerintah


Ditemukan banyak pandangan para pakar di bidang Hukum Tata Pemerintahan yang
mengetengahkan rumusan tentang ketetapan pemerintah, dapat disebut antara lain :

Prins (1976) merumuskan sebagai tindakan hukum sepihak dalam lapangan bestuur dilakukan
oleh overhead berdasarkan wewenangnya yang istimewa. Sepanjang tindakan hukum itu
dilakukan sepihak mana oleh beliau dinamakan keputusan.
Van Der Pot dan Van Vollenhoven sebagaimana diungkapkan oleh Prins (1976) memberi batasan
arti keputusan sebagai tindakan hukum bersifat sepihak dalam bidang pemerintahan, dilakukan
oleh suatu badan pemerintah berdasarkan wewenangnya yang luar biasa.
Van Der Well sebagimana diungkapkan oleh E. Utrecht (1960) merumuskan sebagai perbuatan
publik yang bersegi satu (yang dilakukan oleh alat-alat pemerintahan berdasarkan sesuatu
kekeuasaan istimewa) diberi nama beschikking yang dalam bahasa Indonesia telah dipakai
umum dengan istilah ketetapan.

Dikatakan demikian sebab perbuatan pemerintah mengandung konotasi yang luas, yang dalam
lapangan hukum publik saja terkandung perbuatan dua pihak dan sepihak. Perbuatan dua pihak
masih dalam pengaturan yang dilakukan oleh aparatur pemerintah sedangkan yang sepihak sudah
dalam bentuk tindakan nyata. Tentunya ia harus menunjukan hal yang bersifat kauistis dan
individualistis seperti apa yang dimaksudkan Van Vollenhoven seperti apa yang telah dibicarakan
diatas.

7
Dari rumusan-rumusan yang diketengahkan ini tampak arah pemikiran para pakar tersebut di atas
bahwa apa yang dimaksudkan dengan ketetapan pemerintah adalah perbuatan pemerintah yang
berakibat hukum bersegi satu, walaupun rumusan E. Utrecht (1960) masih memperlihatkan hal-hal
yang luas. Perbuatan pemerintah melakukan suatu ketetapan adalah disebut perbuatan penetapan,
dan penetapan itu dapat saja dibuat untuk kepentingan intern yaitu untuk penyelenggaraan
hubungan dalam lingkungan pemerintah dan untuk kepentingan ekstern yaitu antara aparatur
pemerintah dengan pihak lain, apakah pihak swasta atau seseorang warga masyarakat.

Penetapan tentang kepentingan intern disebutlah keteapan intern. Sedangkan untuk kepentingan
ekstern disebut sebagai ketetapan ekstern. Hal ini dapat dicontohkan seperti keputusan pemberian
izin cuti bagi seorang pegawai oleh kepala kantor sebagai ketetapan intern pemberian izin
permohonan sebagai ketetapan ekstern.

Ketetapan pemerintah yang dalam sifatnya terdiri dari ketetapan yang bersifat reguler, yang di
dalamnya masih berisikan ketentuan-ketentuan umum atau yang sifatnya konkret, sifat yang
terakhir inilah dapat kita katakan sebagai suatu beschikking.

Bagi ketetapan ekstern dapat sajadilihat sebagai suatu perbuatan pemerintah bersegi satu bila
ketetapan itu dilihat sebagau suatu tindakan hukum antara aparatur pemerintah dengan
swasta/pihak lain non aparatur pemerintah, dan dapat pula dilihat sebagai perbuatan pemerintah
sebagai suatu bentuk kerja sama pemerintah dengan pihak lainnya.

Lain lagi ketetapan pemerintah yang ditetapkan dengan tegas dalam aturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan peraturan Hukum Tata Pemerintahan yang berlaku dalam suatu negara.
Seperti, menurut Undang-Undang Banding Ketetapan Pemerintah 1963 yang disebut sebagai Wet
Beroep Administrative Beschikking yang diganti oleh Undang-Undang AROB 1975 (Wet
Administrative Recchtspraak Overheidsbeschikkinggen) tercantum pengertian ketetapan dalam dua
artikel yang berbunyi sebagai berikut :

Yang dimaksud dengan ketetapan dalam undnag-undang ini ialah : pernyataan kehendak tertulis
suatu badan administrasi pemerintah pusat, yang ditujukan keluar secara sepihak, yang diberikan
berdasarkan kewajiban atau wewenang yang tercantum dalam satu atau lain aturan hukum tata
pemerintahan negara, yang diarahkan kepada ketentuan, penghapusan maupun pengakhiran suatu
hubungan hukum yang sudah ada atau untuk penciptaan hubungan hukum yang juga berisikan
penolakan sehingga terjadilah penetapan, perubahan, penghapusan dan penciptaan.

8
Dari pengertian berdasarkan aturan perundang-undangan ini, A.D. Belinfante dan H. Boerhanuddin
Soetan Batoeah (1983) merumuskan ketetapan sebagai suatu tertulis badan administrasi yang
ditujukan pada suatu akibat hukum.

Ketetapan pemerintah sebagai bentuk Hukum Tata Pemerintahan dapat dilihat jenisnya sebagai
berikut:

a. Ketetapan pemerintah sebagai bentuk tindakan pemerintah


Pengertian ketetapan pemerintah sebagai tindakan pemerintah, adalah bukan saja
ketetapan yang dibuat oleh pemerintah dalam artian sempit (Bestuur), tetapi juga dapat saja
terjadi dan dibuat oleh pemerintah yang berada dalam lapangan perundang-undangan dan
lapangan peradilan.
b. Ketetapan sebagai tindakan hukum
Yang dimaksud dengan tindakan hukum adalah setiap perbuatan yang
mempunyai/menimbulkan akibat hukum, sehingga perbuatan itu disebut aktivitas yuridis.
Berbeda halnya dengan aktivitas non yuridis, yang berarti perbuatan yang tidak mempunyai
akibat hukum. Aktivitas yuridis dapat dimisalkan dengan ketetapan, advies ataupun sumpah.
c. Ketetapan sebagai akibat suatu permohonan atau usul yang juga disebut sebagai ketetapan
negatif.
Ketetapan negatif adalah ketetapan yang hanya mungkin terjadi sebagai reaksi terhadap
suatu permohonan atau usul.
d. Ketetapan sebagai tindakan dari pemerintah dalam artian luas yang disebut ketetapan
Overheidsorgaan.
Kedudukan ketetapan ini merupakan tindakan hukum yang dalam lapangan bestuur tetapi
dilakukan oleh pemerintah dalam artian yang luas, dalam hal ini oleh kekuasaan perundang-
undangan.
Ketetapan ini walaupun bukan merupakan tindakan dalam lapangan bestuur tetapi
ketetapan ini adalah merupakan tindakan dalam lapangan bestuur, tetapi ketetapan itu
adalah merupakan tindakan yang legal.
e. Ketetapan Sebagai Tindakan Hukum politik
Oleh karena menjadi sifat hukum publik didalam ketetapan selalu mendasarkan pada
wewenang yang khusus (yang istimewa) maka ketetapan aparatur pemerintahan adalah
sebagai tindakan hukum publik.
f. Ketetapan Sebagai Tindakan Sepihak

9
Tindakan sepihak yang merupakan ciri dari suatu ketetapan, berhadapan dengan pengertian
overeenskomst (persetujuan): baik ketetapan maupun persetujuan, dalam hubungan dengan
overheid keduanya adalah perhubungan hukum sepihak tetapi dititikberatkan
kepentingannya pada overheid.

10
BAB III
PEMBAHASAN
I. Macam Macam Perbuatan pemerintah
Dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan kepentingan-kepentingan umum, pemerintah banyak
melakukan kegiatan atau perbuatan-perbuatan. Aktivitas atau perbuatan itu pada garis besarnya
dibedakan ke dalam dua golongan, yaitu:

1. Rechthandelingen (golongan perbuatan hukum)

2. Feitelijk handelingen (golongan yang bukan perbuatan hukum)

Dari kedua golongan perbuatan tersebut yang penting bagi hukum administrasi negara adalah
golongan perbuatan hukum (rechthendelingen), sebab perbuatan tersebut langsung menimbulkan
akibat hukum tertentu bagi Hukum Administrasi Negara, oleh karena perbuatan hukum ini
membawa akibat pada hubungan hukum atau keadaan hukum yang ada, maka perbuatan tersebut
tudak boleh mengandung cacat, seperti kehilafan (dwaling), penipuan (bedrog), paksaan (dwang).

Disamping itu tindakan hukum tersebut harus didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Maka dengan sendirinya tindakan tersebut tidak boleh menyimpang atau bertentangan
dengan peraturan-peraturan yang bersangkutan. Sedangkan golongan perbuatan yang bukan
perbuatan hukum tidak relevan (tidak penting).

Perbuatan pemerintah yang termasuk golongan perbuatan hukum dapat berupa:

Perbuatan hukum menurut hukum privat


Perbuatan hukum menurut hukum publik

a. Perbuatan hukum menurut hukum privat

Administrasi negara sering juga mengadakan hubungan hukum dengan subyek hukum-subyek
hukum lain atas dasar kebebasan kehendak atau diperlukan persetujuan dari pihak yang dikenai
tindakan hukum, hal ini karena hubungan hukum perdata itu bersifat sejajar. Seperti sewa-
menyewa, jual-beli, dan sebagainya.

b. Perbuatan hukum menurut hukum publik

Perbuatan hukum menurut hukum publik ada dua macam

1) Hukum publik bersegi satu

11
Artinya hukum publik itu lebih merupakan kehendak satu pihak saja yaitu pemerintah. Jadi
didalamnya tidak ada perjanjian, jadi hubungan hukum yang diatur oleh hukum peblik hanya bersal
dari satu pihak saja yakni pemerintah dengan cara menentukan kehendaknya sendiri.

2) Hubungan publik yang bersegi dua

Menurut Van Der Por. Kranenberg-Vegting. Wiarda dan Donner mengakui adanya hukum publik
yang bersegi dua atau adanya perjanjian menurut hukum publik. Mereka memberi contoh tentang
adanya Kortverband Contract (perjanjian kerja jangka pendek) yang diadakan seorang swasta
sebagai perkerja dengan pihak pemerintah sebagai pihak pemberi pekerjaan.

Pada kortverband contract ada persesuaian kehendak antara pekerja dengan pemberi pekrjaan, dan
perbuatan hukum itu diatur oleh hukum istimewa yaitu peraturan hukum publik sehingga tidak di
temui pengaturanya didalam hukum privat.

II. Golongan Ketetapan Pemerintah


Ketetapan administrasi negara yang bersifat positif dapat dilihat dari segi akibat hukum dan dari
kebebasan aparatur pemerintahan, sebagai berikut:

a. Dari segi akibat-akibat hukum ini dapa dibagi atas:


1. Ketetapan yang pada umumnya melahirkan keadaan hukum baru. Pada ketetapan
ini haruslah diikuti dengan pernyataan penerapan dalam hal-hal:
Pengluasan berikutnya secara tertorial (Ordonasi dalam Stbl 1875:119a).
Pengluasan berlakunya secara personil (Isi pasal 163 ayat 3).
Pengluasan berlakunya hal-hal yang tertentu seperti: Potrelium
Voerordenantie 1927.
b. Ketetapan yang melahirkan keadaan hukum baru bagi obyek tertentu, misalnya menyangkut
hal-hal sebagai berikut:
Penunjukan terhadap suatu hal.
Pendaftaran suatu hal.
c. Ketetapan yang melahirkan suatu badan hukum atau membatalkannya misalnya: ketetapan
pemerintah menyangkut beroleh pengakuan terhadap sesuatu badan hukum, seperti
koperasi, perseroan terbatas.
d. Ketetapan-ketetapan yang membebankan kewajiban baru kepada seseorang atau lebih yang
yang bersifat/isi pemerintah. Oleh Prins (1976) dimaksudkan pernyataan kehendak dari
overheid yang ditujukan kepada seorang atau lebih, yang secara tegas disebut siapa-siapa

12
dan bagaimana orang-orang tersebut, perintah itu menimbulkan suatu kewajiban yang
sebelumnya bukanlah kewajiban mereka. Misalnya warga negara untuk menjadi saksi,
menghadap atas panggilan.
e. Ketetapan-ketetapan yang memberikan hak-hak baru kepada seseorang atau lebih
(ketetapan yang menguntungkan).

Kemudian jika dilihat dari segi macamnya kata ketetapan dibagi atas empat gologan yaitu:

1. Ketetapan yang menguntungkan dan tidak menguntungkan


Ketetapan yang menguntungkan adalah ketetapan yang mengabulkan suatu permohonan.
Sedangkan yang tidak menguntungkan adalah ketetapan yang menolak/mencabut suatu
permohonan.
2. Ketetapan Konstitutif dan Deklaratoir
Konstitutif adalah yang menciptakan suasana hukum baru, seperti: ketetapan reorganisasi,
penunjukan sesuatu daerah permainan, sedangkan yang Deklaratoir adalah sifatnya
pernyataan berlaku seperti: pernyataan tanah sengketa.
3. Ketetapan Sementara dan Tetap
Sementara (Vlugtig) adalah yang begitu dikeluarkan begitu habis kekeuatannya, seperti ralat
suatu keputusan, sedangkan Tetap adalah yang mempunyai jangka waktu yang tentu
seperti: Surat Izin Mengemudi (SIM).
4. Izin, Lisensi, Dispensasi dan konsesi (Prins, 1976).

Izin (Vergunning) menurut Prins (1976) adalah suatu perbuatan yang pada hakikatnya harus dilarang,
tetapi soal tersebut mengenai suatu perbuatan yang sifatnya tidak dapat merugikan dan perbuatan
itu dapat diadakan asal saja dibawah pengawasan aparatur pemerintah . Jadi izin adalah keputusan
aparatur pemerintah yang memperkenankan sesuatu perbuatan.

Konsensi menurut Prins (1976) hanya berbeda secara relatif dengan izin. Pada hakikatnya tidak
terdapat perbedaan yang bersifat yuridis. Misalnya: izin membuka tanah/usaha pertambangan
kepada penduduk. Jadi konsensi adalah izin yang mengenai hal-hal yang penting bagi umum, seperti
izin penggarapan kehutanan yang biasa disebut konsensi berupa hak pengelolaan hutan (HPH).

Terhadap dua ketetapan )izin dan konsensi) terdapat perbedaan pendapat antara Kranenburg
dengan Van Der Pot sebagaimana diungkapkan oleh Prins (1976). Perbedaan tersebut adalah sebagai
berikut:

13
Menurut Kranenburg, izin adalah suatu perbuatan hukum bersegi satu sebangkan konsensi adalah
perbuatan hukum bersegi dua.

Akan tetapi menurut Van Der Pot, izin tidak memungkinkan diadakannya perjanjian, sedangkan
dalah hal konsensi biasanya diadakan perjanjian namun pernyataan Van Der Pot ini dikeritik oleh
Kranenburg yang mengatakan bahwa sifat berkontak selalu terdapat pada kedua hal itu. Hanya saja
hal ini terjadi pada lapangan privat. Hubungan hukum yang ditimbulkan oleh izin dan konsensi
adalah bersifat istimewa jadi berada dalam lapangan hukum publik.

Dispensasi menurut Prins (1976) adalah suatu perbuatan pemerintah yang meniadakan berlakunya
suatu peraturan perundang-undangan guna suatu soal yang istimewa seperti hal kedewasaan dalam
menikah sebagaimana diisyaratkan oleh pasal 129 KUH Perdata. Berdasarkan padal ini maka jika
suatu sebab maka aturan perundang-undangan dapat dilewati. Jika dalam Hukum Tata
Pemerintahan, maka dispensasi adalah kepurusan pemerintah yang membebaskan suatu perbuatan
dari wewenang suatu peraturan yang menolak perbuatan itu.

Lisensi menurut Prins (1976) adalah ketetapan yang digunakan untuk menyatakan suatu izin yang
memperkenankan seseorang menjalankan suatu perusahaan, seperti izin tempat usaha.

III. Akibat Kebebasan Aparatur Pemerintah


Bertolak pada wewenang yang istimewa yang dimiliki oleh pemerintah, maka para aparatur
pemerintah mempunyai kebebasan untuk menetapkan ketetapan-ketetapan sebagai berikut:

a. Ketetapan-ketetapan yang pada umumnya melahirkan hukum baru.

Pembentuk UU tidak selamanya menghendaki sesuatu aturan hukum itu segera berlaku untuk
semua orang dan wilayah. Memperlakukan sesuatu aturan hukum itu diserahkan kepada wewenang
bestuur. Sehingga bestuur menetapkan sendiri masa berlakunya sesuatu aturan. Di sinilah tampak
adanya kebebasan aparatur pemerintahan dalam menggunakan wewenang. Kebebasan itu dilihat
pada wewenangnya dalam ketetapan yang berisi :

1. Menangguhkan berlakunya untuk daerah-daerah tertentu atau untuk beberapa saat


tertentu.
2. Perlakuan untuk suatu daerah atau waktu tertentu.
3. Perlakuan secara menyeluruh. Ketetapan yang berisi (tiga) hal disebutkan di atas, dalam
penerapannya melahirkan keadaan hukum baru.

14
b. Ketetapan-ketetapan yang berkenaan dengan sutau obyek tertentu, melahirkan keadaan
hukum baru. Di dalam ketetapan-ketetapan yang berlaku didapati berbagai macam tujuan
jika diklarifikasi tujuan-tujuan ketetapan yang berkenaan dengan obyek tertentu yang
melahirkan keadaan hukum baru, maka didapatilah ketetapan menyangkut.

1. Penunjukan sebagai pelabuhan kota. (Scheevaart Wet 1936:Scheepvaarveroed 1936)


2. Penunjukan yang mengakibatkan larangan umum.
3. Penunjukan suatu lapangan tertentu.
4. Penunjukan suatu rayon tertentu.
5. Pendaftaran sesuatu barang dalam daftar monumen pusat.

Ketetapan-ketetapan dalam hal tersebut di atas, menimbulkan kemerdekaan sepenuhnya oleh


overheid.

c. Ketetapan-ketetapan yang melahirkan atau membubarkan badan-badan hukum.


d. Perintah.
e. Ketetapan yang menguntungkan.
f. Penarikan kembali ketetapan-ketetapan yang menguntungkan karena :
1. Tipuan.
2. Ketetapan yang tidak diumumkan.
3. Ketetapan bersyarat.
4. Kekuatan hukum yang lemah sekali.
5. Kekuatan hukum yang besar sekali.
6. Tidak memenuhi syarat.

Keenam ketetapan disebutkan di atas adalah ketetapan yang lahir atas dasar kebebasan aparatur
pemerintah. Kebebasan demikian itulah yang disebut freies ermesson.

Freies ermesson ini didasarkan pada kepentingan aparatur pemerintah yang Memerlukan
Kemerdekaan sebagaimana dikemukakan oleh Prins (1976) agar aparatur pemerintah dapat
menjalankan tugas-tugas dan segala aspek kehidupan sosial.

Pada negara kesejahteraan, aparatur pemerintah itu diserahi tugas besturzorg dan dijalankan dalam
suasana merdeka (Freies Ermesson). Akan tetapi di dalam negara hukum, maka suasana merdeka itu
haruslah berpegang pada asa legaslistif sehingga tidak terjadi kesewenangan yang dilakukan oleh
para aparatur pemerintah.

15
Dengan perkembangan turut sertanya pemerintah dala pelbagai aspek sosial maka oleh Wiarda
sebagaimana diungkapkan Prins (1976), Hukum Tata Pemerintahan itu mempelajari hanya sebagian
saja dari lapangan bestuur yaitu :

1. Bagian tentang Rechtsregels


2. Bagian tentang Rechtsvormen
3. Bagian tentang Rechtbeginselen

Di mana hal itu haruslah berdasarkan suatu sistem kaidah yang dapat membimbing pemerintah
dalam pergaulan sosial dan ekonomis.

Kaidah-kaidah tersebut mengatur hubungan antara alat-alat pemerintah dengan individu dalam
masyarakat dan hubungan alat-alat pemerintah yang satu dengan yang lain. Selanjutnya dikatakan
bahwa dengan hubunga hukum itu menyatakan Hukum Tata Pemerintahan merupakan bentuk
Yurudis yang menyangkut penyelenggaraan turut serta pemerintah dalam pergaulan sosial dan
ekonomi.

Oleh Logemann sebagaimana diungkapkan oleh Prins (1976) dalam hubungan ini mengatakan bahwa
Hukum Tata Pemerintahan adalah peraturan-peraturan istimewa yang mengenai cara organisasi
negara mengambil bagian turut serta dalam pergaulan sosial. Dengan pendapat logeman, dapatlah
ditarik kesimpulan bahwa istilah hukum ekonomi

(Economic Law) yang dipakai oleh para ahli di Indonesia adalah 80% termasuk Hukum Tata
Pemerintahan dan 20% HUKUM Privat.

Terhadap hukum perekonomian, menurut rumusan Pasaran Bersama Eropa adalah: keseluruhan
peraturan-peraturan hukum yang diadakan dalam rangka realisasi politik sosial negara.

Dengan kebebasan dan kemerdekaan aparatur pemerintah turut serta penyelenggaraan kehidupan
sosial ekonomi, maka peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan yang diistilahkan dengan
Detournament de Pouvoir akan ada.

Detournament de Pouvoir adalah menggunakan wewenang yang tidak sesuai dengan amanah dari
wewenang itu diktatorian ataupun anarkis dalam kehidupan pemerintahan.

Untuk mencegah hal ini, maka para aparatur di dalam melaksanakan tugasnya disamping
menerapkan asas opportunity (freies ermesson) juga harus diikat oleh asas legalitas. Segala sesuatu

16
harus diikat oleh UU. Dan pengertian bebas hanyalah ditujukan pada kebebasan memilih alternatif
yang ditentukan oleh undang-undang.

Di indonesia untuk mencegah serta mempertahankan aparatur pemerintah yang bertindak


sewenang-wenang dibentuklah operasi tertib yang dikenal dengan istilah Opstib dan pada saat
sekarang dilakukan pengawasan sosial melalui Kotak Pos 5000. Menurut Willy Voll (1985) Opstib
adalah penertiban khusus yang didasarkan atas fungsi khusus Presiden yang disertai dengan
wewenang khusus luar biasa dalam kualitas Presiden selaku Mandataris MPR. Oleh sebab itu fungsi
Opstib adalah :

1. Terus menertibkan dan mendayagunakan aparatur negara disegala bidang dan tingkatan.
2. Menata dan membina kehidupan masyarakat agar sesuai dengan Demokrasi Pancasila.

Selanjutnya oleh beliau dikatakan bahwa kelahiran Opstib ini ditinjau dari segi Hukum Tata
Pemerintahan adalah untuk memurnikan pengertian Freies Ermesson yang telah disalahtafsirkan
oleh para penguasa pemerintahan di mana orientasi para penguasa pemerintahan adalah
sebagaimana tafsiran negara kesejahteraan klasik yang berorientasi pada neara kekuasaan. Beliau
mengatakan pula bahwa indonesia adalah negara kesejahteraan modern yang yang berdasarkan
hukum, sehingga kebebasan yang dilahirkan oleh Freies Ermesson adalah kebebasan yang
didasarkan pada hukum. Jadi tidak dekehendaki adanya Detournament de Pouvoir, dalam arti bahwa
isi kebebasan Freies Ermesson adalah berarti aparatur pemerintah mempunyai kebebasan untuk
menentukan:

1. Apakah sesuatu wewenang tertentu akan digunakan atau tidak terhadap suatu peristiwa
tertentu yang terjadi atau akan terjadi pada daerah tertentu pada suatu waktu tertentu.
2. Kapan wewenang akan digunakan secara konkret terhadap peristiwa tersebut.
3. Bagaimana wewenang itu akan digunakan dalam peristiwa yang konkret tersebut.
4. Ukuran-ukuran mana yang akan digunakan dalam peristiwa itu.

Jadi oleh beliau, bukanlah sebagaimana yang digambarkan oleh Ultrecht (1960) Demi Doelmatiheid
maka Rechtmatigheid dapat dikorbankan. Sehngga sebelum Opstib terjadilah berbagai
Detournament de Pouvoir olelh para aparatur pemerintah seperti:

1. Korupsi.
2. Pandangan pihak yang diperintah terhadap penguasa sebagai pihak yang membebani
kewajiban dan bukan merupakan pelindung rakyat.

17
3. Legitimasi kewibawaan fungsional yang melekat pada penguasa sudah merupakan suatu
kekuatan yang luar biasa, sehingga terjadi perbuatan-perbuatan aparatur pemerintah yang
kurang layak.

IV. Syarat-Syarat Ketetapan Pemerintah dan Pelaksanaan


Syarat-syarat suatu ketetapan meliputi syarat materiil dan syarat formil. Syarat materiil adalah
merupakan unsur-unsur dari ketetapan itu, dengan kata lain bahwa yang menjadi unsur materiilnya
adalah sebagai berikut:

a. Tindakan hukum sepihak


b. Badan Administrasi
c. Bidang administrasi
d. Wewenang khusus (istimewa)

Selanjutnya syarat forumnya ditandai oleh unsur-unsur karena bentuknya, yang terdiri dari:

a. Jelas kepala suratnya, yang menunjukan dinas, jawatan, departemen mana surat itu keluar.
b. Memuat konsiderans, yang secara berturut-turut berisi alasan (mengapa) yang ditandai
dengan kata Menimbang, dasar hukumnya yang ditandai dengan kata Mengingat, hal-
hal yang memperkuat alasan yang ditandai dengan kata Mendengar.
c. Memuat diktum yang ditandai dengan kata Memutuskan dan Menetapkan.

Jika digambarkan bentuknya itu, maka tampaklah sebagai berikut:

Kepala Surat
Menimbang
Mengingat
Mendengar
Memutuskan/Menetapkan
Tempat/Tanggal Penetapan
Lembaga/Pejabat yang berwenang mengeluarkan ketetapan itu.

Bentuk inilah yang disebut Vaste Vonn dari sesuatu ketetapan. Terhadap keberlakuan suatu
ketetapan, Van Der Pot, mengatakan bilamana ketetapan itu memenuhi syarat-syarat yang meliputi:

a. Syarat Materiil, yaitu:


1. Alat negara yang membuat ketetapan harus berkuasa.

18
2. Dalam kehendak alat negara yang membuat ketetapan tidak boleh ada
kekuarangannya.
3. Harus berdasar pada suatu keadaan (situasi) tertentu.
4. Harus dapat dilakukan dan tanpa melanggar peraturan-peraturan lain menurut isi dan
tujuan sesuai dengan peraturan yang menjadi dasar ketetapan itu,
b. Syarat formil, yaitu:
1. Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan persiapan dibuatnya dan dengan cara
dibuatnya ketetapan harus dipenuhi.
2. Harus diberi bentuk yang ditentukan.
3. Syarat-syarat yang ditentukan berhubung dengan dilakukannya ketetapan harus
dipenuhi,.
4. Harus ada jangka waktu yang ditentukan.

Kalau salah satu syarat itu tidak dipenuhi maka ketetapan itu mengandung kekurangan. Oleh Utercht
(1960) kekurangan yang dikandung oleh sesuatu ketetapan menjadikan ketetapan itu tidak sah. Dan
ketetapan tidak sah berupa;

a) Ketetapan yang batal karena hukum.


b) Ketetapan yang batal. Ketetapan yang dapat dibatalkan.

Ketetapan yang batal karena hukum adalah ketetapan yang berakibat untuk sebagian/seluruhnya,
bagi hukum dianggap tidak ada (dihapuskan) tanpa diperlukan suatu keputusan hakim atau suatu
badan pemerintah lain yang berkompeten untuk menyatakan batalnya akibat itu. Ketetapan yang
batal demikian disebut ketetapan Ex Tune.

Ketetapan batal adalah ketetapan yang dimana oleh hukum akibat dari perbuatan itu dianggap
tidakk pernah ada. Ketetapan demikian disebut ketetapan Ab Ovo.

Ketetapan yang dapat dibatalkan adalah ketetapan yang bagi hukum terhadap ketentuan dan
akibatnya dianggap ada sampai waktu pembataklan oleh badan lain. Ketetapan demikian disebut
ketetapan Ex Nunc.

Oleh karena itu, Dorvner sebagaimana diungkapkan Prins (1976) mengemukakan bahwa
kekuarangan dalam ketetapan dapat mengakibatkab :

a. Ketetapan itu harus dianggap batal sama sekali.


b. Berlakunya ketetapan itu dapat digugat;
1. Dalam bandingan (Beroep).

19
2. Dalam pembatalan oleh jabatan karena bertentangan dengan UU.
3. Dalam penarikan kembali oleh kekuasaan yang berhakmengeluarkan ketetapan
tersebut.
c. Dalam hal ketetapan tersebut sebelum dapat berlaku memerukan persetujuan suatu badan
kenegaraan yang lebih tinggi.
d. Ketetapan itu diberi suatu tujuan lain daripada tujuan permulaannya.

Kekurangan-kekurangan yang menjadikan tidak sahnya sesuatu ketetapan adalah disebabkan karena
tiga hal, yaitu:

a. Salah kira (Dwang)


b. Paksaan (Dwaling)
c. Tipuan (Bedrog)

Yang dimaksud dengan salah kira (Dwang) adalah bayangan yang salah mengenai pokok maksud
pembuat, mengenai kedudukan atau kecakapan seseorang (subyek hukum) atau mengenai hak atau
peraturan dan sebaginya.

Sedangkan paksaan adalah sesuatu yang terjadi karena paksaan sesuatu yang terjadi karena keadaan
atau hal yang memaksakan. Hal ini dapatlah dilihat pada pasal 893, 1053, 1065, dan 1112
KUHPerdata. Tipuan adalah terjadi karena adanya muslihat. Hal ini dapat dilihat pada pasal 1398
KUH Perdata.

V. Tahapan Pelaksanaan ketetapan


Ketetapan pemerintah di dalampelaksanaanya atau pada keberlakuannya melalui tiga tahap yaitu:

a. Tahap mulai berlaku.


b. Tahap penerapan.
c. Tahap berkahirnya

Pada tahap berlakunya sesuatu ketetapan, maka sesuatu ketetapan harus dilihat dari dua segi yaitu:

1. Segi validitas (ditinjau dari segi yuridis) yaitu apakah ketetapan sudah valid sah) dimana
sudah ditandatangani oleh yang berwenang, dicap dan ditetapkan berlakunya.
2. Segi Oposabilitas ialah saat dimana ketetapan itu bisa dilawan. Suatu ketetapan dapat
dilawan setelah ketetapan itu diumumkan. Dan cara pengumuman ada dua macam sifatnya,
yaitu:
a. Cara umum melalui mass media.

20
b. Cara individual, yaitu disampakain kepada yang bersangkutan.

Jadi jika kedua segi ini telah dilakukan maka berlakulah ketetapannya.

Pada tahap penerapan maka pejabat pemerintah dalam bertindak haruslah berdasarkan diri pada
dua wewenang yang istimewa, yaitu:

1. Wewenang mendahului, dalam arti bahwa pejabat pemerintah dalam penerapan suatu
ketetapan mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan eksekutif terhadap para
warga masyarakat yang menentang tanpa minta izin terlebih dahulu pada hakim. Misalnya:
Terhadap barang penyeludupan.
Orang yang tidak mau membayar pajak. Tindakan: administrasi negara adalah
menyita dan merampas.
1. Hak Ex Offitio yaitu kekuasaan istimewa manakala pejabat pemerintah mengambil
keputusan executoir dapat menggunakan paksa, yaitu dengan menggunakan alat negara.
Akan tetapi penggunaan hak ex officio haruslah didasarkan pada batas-batas dan syarat-
syarat dimana:
Batas-batasnya ialah:
Harus ada ketentuan Undang-Undang
Tidak ada jalan hukum lain
Keadaan darurat
Syarat-syaratnya ialah:
Harus menyebut Undang-Undang yang menjadi dasarnya.
Orang-orang yang bersangkutan, benar-benar menentang.
Paksa dalam hal yang ditentukan dalam Undang-Undang, seperti penyeludupan
dan masalah pajak.

Didalam ketetapan penerapan ini, dapat menimbulkan penyalahgunaan wewenang/kekuasaan bagi


pejabat pemerintah. Dan jika hal ini terjadi maka pejabat akan beroleh sanksi berupa:

1. Dijatuhi hukuman pidana, jika melalui badan yudikatif.


2. Mengembalikan barang/uang dan sebagianya melalui peradilan perdata.
3. Dipecat melalui tindakan administrasi.

Dan pada tahap berakhirnya suatu ketetapan bilamana terjadi hal-hal sebagai berikut:

1. Ecxparisi yaitu berkahirnya kekuatan hukum karena ditentukan dalam ketetapan itu sendiri.
Misalnya dalam hal Surat Izin Mengemudi (SIM).

21
2. Amulasi karena pencabutan sebab ilegal.
3. Disparisi, karena berubahnya situasi yang menjadi dasar hukum daripada ketetapan.
4. Pencabutan, yaitu karena dicabut.

Pencabutan dapat dibagi atas:

a. Pencabutan Retroactief, yaitu yang meniadakan akibat hukum baik yang telah ada maupun
yang akan datang. Didalam pencabutan Retroactie, hal yang harus diperhatikan adalah
adanya dua asas dalam penerapannya, yaitu:
1. Asas kepastian hukum.
Asas inilah yang dimaksudkan dengan asas legalitas sebagai asas dalam Hukum Tata
Pemerintahan.
2. Asas ganti rugi.
Asas ini pula yang harus diterapkan sebagai salah satu asas dalam Hukum Tata
Pemerintahan.
b. Pencabutan Retroactief yaitu yang meniadakan akibat hukum yang akan datang.
c. Pencabutan Approgatief yaitu meniadakan akibat hukum yang akan datang dengan diganti
ketetapan baru.

22
BAB IV
PENUTUP

I. Kesimpulan
Ketetapan pemerintah termasuk ke dalam perbuatan Hukum Tata Pemerintahan Otonom. Karena
dalam hukum pemerintahan otonom, pemerintah mempunyai hak istimewa untuk membuat suatu
ketetapan.

Ketetapan pemerintah adalah perbuatan pemerintah yang berakibat hukum bersegi satu. Perbuatan
pemerintah melakukan suatu ketetapan adalah disebut perbuatan penetapan, dan penetapan itu
dibuat untuk penyelenggaraan hubungan dalam lingkungan pemerintahan dan untuk kepentingan
ekstern yaitu antara aparatur pemerintah dengan pihak lain, apakah pihak swasta atau seseorang
warga masyarakat. Penetapan tentang kepentingan intern disebutlah ketetapan intern. Sedangkan
untuk kepentingan ekstern disebut sebagai ketetapan ekstern.

II. Saran
Di dalam Hukum Tata Pemerintahan Otonom aparatur pemerintah mempunyai kebebasan untuk
menetapkan ketetapan-ketetapan tertentu dalam pelaksanaan pemerintahan. Dengan kebebasan
dan kemerdekaan tersebut aparatur pemerintah turut serta dalam penyelenggaraan kehidupan
sosial ekonomi, maka peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, yang diistilahkan
Detournament de Pouvoir maka akan ada. Untuk mencegah hal tersebut maka perlu ditegakannya
hukum untuk mengatur aparatur pemerintah dalam menetapkan suatu ketetapan. Apabila hukum
untuk mengatur kebebasan aparatur dalam menetapkan suatu ketetapan telah ada, maka harus
dijalankan sesuai dengan ketentuan yang telah ada. Selain perlunya hukum maka perlu juga
kesadaran dari tiap-tiap aparatur pemerintah untuk tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk
kepentingan sendiri.

23
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Farid. & Nurlina Muhidin. (2012). Hukum Tata Pemerintahan Heteronom dan Otonom, Bandung:
PT Refika Aditama

https://makalahkocan.blogspot.co.id/2016/11/perbuatan-pemerintah.html

http://www.lutfichakim.com/2011/08/perbuatan-pemerintah_26.html

24