Anda di halaman 1dari 16

STUDI LITERATUR SHELTER PADA

KAWASAN PESISIR HUTAN MANGROVE PERCUT SEI TUAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting dan produktif serta
ditemukan di sepanjang pesisir dan garis pantai (Hong & San, 1993). Ekosistem
mangrove banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari deburan ombak
dan daerah yang landai. Mangrove tumbuh optimal di wilayah pesisir yang memiliki
muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur.
Sedangkan di wilayah pesisir yang tidak terdapat muara sungai, pertumbuhan
mangrove tidak optimal. Mangrove sulit tumbuh di wilayah pesisir yang terjal dan
berombak besar dengan arus pasang surut kuat, karena kondisi ini tidak
memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur, substrat yang diperlukan untuk
pertumbuhannya (Nontji, 2005). Hal ini terbukti dari daerah penyebaran mangrove di
Indonesia, yang umumnya terdapat di Pantai Timur Sumatera, Kalimantan, Pantai
Utara Jawa dan Papua. Penyebaran ekosistem mangrove juga dibatasi oleh letak
lintang karena mangrove sangat sensitif terhadap suhu dingin.

Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem yang memiliki peranan


penting dalam pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Luas mangrove di pulau
Sumatera 657.000 Ha, dari total ini sekitar 30% (200.000 Ha) dijumpai di Propinsi
Sumatera Utara. Berdasarkan penafsiran Citra Landscape, diketahui luasan mangrove
di Propinsi Sumatera Utara mengalami penurunan yang sangat cepat dari waktu ke
waktu. Dari luas 200.000 Ha pada tahun 1987, tinggal 15% atau 31.885 Ha yang
berfungsi baik pada tahun 2001. Hal ini memberikan gambaran bahwa kondisi
mangrove di Propinsi Sumatera Utara sedang mengalami tekanan yang sangat hebat
oleh berbagai bentuk kegiatan sehingga mengakibatkan hilangnya kawasan mangrove
sekitar 85% (168.145 Ha) dalam kurun waktu 14 tahun. Sebagian besar ekosistem
mangrove di Sumatera Utara telah berubah statusnya menjadi lahan-lahan yang
kurang atau bahkan tidak memperhatikan aspek lingkungan sama sekali (Fernando
Susilo, 2007).

Berdasarkan hasil identifikasi isu pengelolaan wilayah pesisir tingkat


Kabupaten/Kota maupun tingkat Propinsi Sumatera Utara, kerusakan ekosistem
mangrove merupakan salah satu isu yang menjadi prioritas untuk kawasan pesisir
Timur dan Barat Sumatera Utara, termasuk didalamnya Kabupaten Deli Serdang
selain isu-isu penting lainnya seperti: (1) rendahnya kualitas sumberdaya manusia, (2)
rendahnya penataan dan penegakan hukum, (3) belum adanya penataan ruang wilayah
pesisir, (4) pencemaran wilayah pesisir, (5) potensi dan objek wisata bahari belum
dikembangkan secara optimal, (6) belum optimalnya pengelolaan perikanan tangkap
dan budidaya, (7) ancaman intrusi air laut, dan (8) rendahnya tingkat kehidupan
masyarakat pesisir/ nelayan (Fernando Susilo, 2007).

Penurunan kualitas dan kuantitas ekosistem mangrove di Kecamatan Percut


Sei Tuan akibat berbagai aktivitas pemanfaatan seperti konversi lahan untuk
pemukiman, pertambakan, pertanian, perkebunan, dan pengambilan kayu/
penebangan liar, memerlukan perhatian khusus dari semua pihak. Tanggung jawab
dalam pengelolaan kawasan ini tidak hanya terletak pada pemerintah saja, melainkan
juga harus didukung peran serta (partisipasi) semua lapisan masyarakat khususnya
masyarakat yang berada di sekitar ekosistem mangrove yang secara aktif terlibat
dalam pengelolaan dan pemanfataan mangrove, sehingga pada akhirnya kelestarian
ekosistem mangrove dapat terjaga dan pemanfaatan dapat berkesinambungan.

Terbatasnya informasi tentang potensi dan kondisi ekosistem mangrove di


Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan salah satu faktor kelemahan dalam
pengelolaan ekosistem mangrove di wilayah ini. Oleh karena itu dalam rangka
pengelolaan ekosistem perlu dibangun pos jaga untuk secara menyeluruh mengawasi
dan sekaligus ikut dalam pengelolaan ekosistem ini.

B. Perumusan Masalah
Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten
Deli Serdang, Sumatera Utara yang memiliki potensi hutan mangrove yang besar
dengan luas sekitar 3.817 ha dengan peruntukan/status Hutan Suaka Alam (HSA)
seluas 2580.60 ha dan Hutan Penggunaan Lain (HPL) seluas 1236.40 ha (BPS
Kabupaten Deli Serdang, 2005). Namun sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang
makin meningkat menyebabkan makin terbatasnya lahan. Perombakan hutan
mangrove untuk tujuan lain seperti usaha perikanan (tambak), perkebunan, dan
pemukiman serta penebangan liar untuk tujuan memperoleh kayu dan kayu bakar
memungkinkan berubahnya fungsi ekosistem mangrove yang pada akhirnya
mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitar pada umumnya dan biota khususnya.

Hal ini tidak terlepas dari faktor bahwa masyarakat pesisir memiliki
karakteristik sosial ekonomi yang berbeda dengan beberapa kelompok masyarakat
lainnya. Menurut Fahrudin (1996), perbedaan ini dikarenakan eratnya keterkaitan
terhadap karakteristik ekonomi pesisir, ketersediaan sarana dan prasarana sosial
ekonomi maupun latar belakang budaya. Masyarakat pesisir dapat dipandang sebagai
suatu sistem sosial yang kehidupan segenap anggota-anggotanya tergantung sebagian
atau sepenuhnya pada kelimpahan sumberdaya pesisir dan lautan. Pada umumnya
masyarakat pesisir mempunyai nilai budaya yang berorientasi hidup selaras dengan
alam, sehingga teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya alam
adalah adaptif dengan kondisi ekologi wilayah pesisir. Menurut Fahrudin (1996),
ketertinggalan kelompok masyarakat pesisir dibandingkan dengan kelompok
masyarakat lain salah satunya adalah disebabkan oleh kurangnya proyek
pembangunan yang menjangkau masyarakat pesisir, seperti terlihat terbatasnya
prasarana maupun sarana pendidikan, kesehatan, jalan dan lain sebagainya. Pada
wilayah pesisir keadaan tersebut berakibat pada kurang berkembangnya kegiatan
perekonomian dan rendahnya tingkat kesejahteraan. Rumah tangga masyarakat pesisir
pada umumnya memiliki prilaku ekonomi yang sama dengan masyarakat pedesaan
lainnya, yaitu bertujuan untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan anggotanya
(subsisten), sehingga pengambilan keputusan dalam usaha atau produksi sangat
dipengaruhi oleh tujuan tersebut. Adanya introduksi atau inovasi teknologi pada
masyarakat pesisir dapat mempengaruhi persepsi terhadap perubahan, resiko, maupun
investasi dalam berusaha, sehingga perlu dicapai alternatif teknologi yang sesuai.

Menurut Fernando Susilo (2007) masih terdapat anggapan (persepsi)


masyarakat bahwa hutan mangrove adalah milik bersama yang dapat dimanfaatkan
kapan saja dan oleh siapa saja. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem
mangrove sangat penting mengingat masyarakat yang tinggal disekitar ekosistem
mangrove secara langsung memanfaatkan hutan mangrove dalam pemenuhan
kebutuhan hidupnya. Kurang jelasnya perwilayahan terhadap daerah lindung dan
pemanfaatan ekosistem sehingga terjadi pemanfaatan yang tidak terbatas dan
pemahaman yang kurang oleh masyarakat. Karena itu rasanya kebutuhan akan pos
jaga merupakan hal yang tidak terelakkan lagi, dimana pos jaga disini nantinya akan
terletak pada daerah strategis hutan mangrove.

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan literatur ini adalah untuk memberikan ide pembangunan
pos jaga yang nantinya akan ditempatkan di hutan mangrove, Percut Sei Tuan.
Dimana nantinya desain pos jaga ini akan merepresentasikan nilai nilai budaya
melayu dan juga akan berdampingan dengan fungsinya sebagai pos jaga.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Shelter

Shelter adalah struktur atau bangunan kecil sederhana yang bisa melindungi penghuninya
dari pengaruh iklim lingkungan di sekitarnya. Syarat bangunan shelter adalah bangunan
satu lantai atau tingkat yang tahan gempa,tahan cuaca, dan bisa menampung banyak
orang (Wikipedia. (2017, 11 Agustus). Shelter . Diperoleh 6 September 2017), dari
https://wikipedia/shelter/). Dalam hal ini shelter juga berarti sebuah bangunan sederhana
seperti pos jaga, dll yang terlepas dari fungsi utama sebagai shelter untuk hunian dalam
keadaan darurat.

B. Definisi dan Karateristik Hutan Mangrove.

Beberapa ahli mengemukakan definisi hutan mangrove, seperti Soerianegara dan


Indrawan (1982) menyatakan bahwa hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di
daerah pantai, biasanya terdapat di daerah teluk dan di muara sungai yang dicirikan oleh:
(1) tidak terpengaruh iklim;
(2) dipengaruhi pasang surut;
(3) tanah tergenang air laut;
(4) tanah rendah pantai;
(5) hutan tidak mempunyai struktur tajuk;
(6) jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri atas api-api (Avicenia Sp), pedada (Sonneratia),
bakau (Rhizophora Sp), lacang (Bruguiera Sp), nyirih (Xylocarpus Sp), nipah (Nypa Sp)
dan lain-lain.

Nybakken (1988), menyatakan hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan
untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa
species pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh
dalam perairan asin. Hutan mangrove disebut juga Coastal Woodland (hutan pantai)
atau Tidal Forest (hutan surut)/hutan bakau, yang merupakan formasi tumbuhan litoral
yang karakteristiknya terdapat di daerah tropika (Saenger,1983) (dominique122. (2016,
30 Juni). definisi-hutan-mangrove-menurut-para Diperoleh 6 September 2017), dari
http://dominique122.blogspot.co.id/2015/05/definisi-hutan-mangrove-menurut-para.html)

Sehingga pada dasarnya mangrove adalah sebuah komunitas tanaman yang hanya terdiri
dari satu jenis dan berkembang di tanah yang tergenang air asin.

C. Pendekatan Arsitektur Ekologis

Arsitektur yang ekologis akan tercipta apabila dalam proses berarsitektur menggunakan
pendekatan desain yang ekologis (alam sebagai basis desain). Proses pendekatan desain
arsitektur yang menggabungkan alam dengan teknologi, menggunakan alam sebagai basis
design, strategi konservasi, perbaikan lingkungan, dan bisa diterapkan pada semua
tingkatan dan skala untuk menghasilkan suatu bentuk bangunan, lansekap, permukiman
dan kota yang revolusioner dengan menerapkan teknologi dalam perancangannya.
Perwujudan dari desain ekologi arsitektur adalah bangunan yang berwawasan lingkungan
yang sering disebut dengan green building. (archpopspot.2015, 23 Oktober). Ekologi
arsitektur Diperoleh 6 September 2017),
http://archpopspot.blogspot.co.id/2015/10/ekologi-arsitektur.html).

A. Prinsip-prinsip ekologi sering berpengaruh terhadap arsitektur (Batel Dinur,


Interweaving Architecture and Ecology A theoritical Perspective). Adapun prinsip-
prinsip ekologi tersebut antara lain:

a. Flutuation
Prinsip fluktuasi menyatakan bahwa bangunan didisain dan dirasakan sebagai tempat
membedakan budaya dan hubungan proses alami. Bangunan seharusnya mencerminkan
hubungan proses alami yang terjadi di lokasi dan lebih dari pada itu membiarkan suatu
proses dianggap sebagai proses dan bukan sebagai penyajian dari proses, lebihnya lagi
akan berhasil dalam menghubungkan orang-orang dengan kenyataan pada lokasi tersebut.

b. Stratification
Prinsip stratifikasi menyatakan bahwa organisasi bangunan seharusnya muncul keluar
dari interaksi perbedaan bagian-bagian dan tingkat-tingkat. Semacam organisasi yang
membiarkan kompleksitas untuk diatur secara terpadu.

c. Interdependence (saling ketergantungan)

Menyatakan bahwa hubungan antara bangunan dengan bagiannya adalah hubungan


timbal balik. Peninjau (perancang dan pemakai) seperti halnya lokasi tidak dapat
dipisahkan dari bagian bangunan, saling ketergantungan antara bangunan dan bagian-
bagiannya berkelanjutan sepanjang umur bangunan.

Pola Perencanaan Eko-Arsitektur selalu memnfaatkan alam sebagai berikut :

Dinding, atap sebuah gedung sesuai dengan tugasnya, harus melidungi sinar panas, angin
dan hujan.
Intensitas energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan yang digunakan saat
pembangunan harus seminal mungkin.
Bangunan sedapat mungkin diarahkan menurut orientasi Timur-Barat dengan bagian
Utara-Selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan
Dinding suatu bangunan harus dapat memberi perlindungan terhadap panas. Daya serap
panas dan tebalnya dinding sesuai dengan kebutuhan iklim/ suhu ruang di dalamnya.
Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat banyak
energi. (wikipedia. (2017, 23 Januari). Arsitektur_ekologi Diperoleh 6 September 2017),
dari https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_ekologi)

B. Dasar Dasar Ekologi Arsitektur


Dalam eko-arsitektur terdapat dasar-dasar pemikiran yang perlu diketahui, antara lain:

1. Holistik
Dasar eko-arsitektur yang berhubungan dengan sistem keseluruhan, sebagai satu kesatuan
yang lebih penting dari pada sekedar kumpulan bagian.
2. Memanfaatkan pengalaman manusia
Hal ini merupakan tradisi dalam membangun dan merupakan pengalaman lingkungan
alam terhadap manusia.
3. Pembangunan sebagai proses dan bukan sebagai kenyataan tertentu yang statis.
4. Kerja sama antara manusia dengan alam sekitarnya demi keselamatan kedua belah
pihak. (archpopspot.2015, 23 Oktober). Ekologi arsitektur Diperoleh 6 September
2017), http://archpopspot.blogspot.co.id/2015/10/ekologi-arsitektur.html)

Sehingga pada dasarnya Arsitektur Ekologi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
tidak hanya bentuk masa bangunan, material, tata ruang ataupun nilai kearifan lokal yang ada,
namun juga kepedulian kita sendiri terhadap bangunan tersebut, bagaimana kita mengartikan
fungsi dari pada bangunan tersebut,bagaimana kita mengelolanya, dan bagaimana kita
merawatnya.
BAB III
ANALISA PROYEK

http://www.blh-deliserdangkab.com http://pilarindonesia.or.id

A. Analisa Kawasan
Kawasan pada kasus ini adalah kawasan hutan mangrove di Percut Sei
Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Konsep arsitektur ekologis tepat
untuk diterapkan bagi bangunan pos jaga yang hemat energi dan ramah
lingkungan menjadi simbol kemajuan teknologi. Diharapkan dengan adanya
bangunan pos jaga ini kebutuhan penghuni dapat terwadahi dan terfasilitasi
dengan baik.

B. Analisa Site
Site nantinya akan berada di pinggir jalan setapak yang mengelingi
kawasan hutan mangrove, bangunan nantinya kan ditempatkan di posisi strategis
yang dapat mengcover secara maksimal daerah kawasan hutan mangrove. Site
merupakan area kawasan hutan mangrove yang hanya bisa dicapai dengan
berjalan kaki ataupun menggunakan perahu. Sehingga mobilitas pada kawasan ini
tergolong rendah mengingat akses dan sirkulasinya yang hanya diperuntukkan
bagi pejalan kaki dan perahu.

C. Analisa Tapak
Batasan tapak
1. Utara : Berbatasan langsung dengan selat malaka
2. Timur, barat, dan selatan : Hutan mangrove

Potensi dan permasalahan akses pada tapak


1. Potensi : Kawasan merupakan area konservasi hutan mangrove yang sedang
gencar gencarnya dipromosikan pemerintah melalui konsep ekowisata.
Kedepannya kawasan ini akan menjadi daerah wisata terpadu sehingga akan
banyak aktivitas disini.
2. Kendala : Kurangnya papan petunjuk arah pada kawasan sehingga bisa
berpotensi menyebabkan pengunjung tersesat ataupun kehilangan arah. Dan
juga masih kurangnya jalan setapak didalam area hutan yang bisa berguna
bagi jalur service untuk mengover secara maksimal area kawasan ataupun
untuk pemeliharaan kawasan.
3. Solusi : Harus dilakukan pembenahan jalan setapak didalam area hutan bakau
agar terciptanya akses yang baik serta tertata rapi.
D. Analisa Sirkulasi dan Pencapaian
Sirkulasi pada daerah ini terbagi menjadi 3, yaitu sirkulasi pejalan kaki,
mobil dan perahu.

https://www.google.co.id/maps/place/Rumah+Baca+Bakau/
Keterangan :
Biru = Sirkulasi Perahu
Orange = Sirkulasi Mobil
Hijau = Sirkulasi Pejalan Kaki (besar kemungkinan sirkulasi pejalan kaki
masih ada yang belum tercover, mengingat kurang jelasnya gambar bila
melihat dari citra satelit)

E. Kondisi Iklim
Kondisi iklim yang terdapat di Kecamatan Percut Sei Tuan adalah iklim
tropis dan memiliki musim hujan dan musim kemarau, cuaca suhu udara
kecamatan Percut Sei Tuan pada umumnya panas dan sedang. Sedangkan untuk
curah hujan 2330 mm/thn dengan bulan kering kurang dari 3 bulan dan
digolongkan Tipe D1 Oldeman, dan mengenai suhu udara adalah 27C hingga 33 C
dan kelembaban udara 75 %-80 %.
(https://percutseituan.wordpress.com/2016/08/31/gambaran-umum-kecamatan-
percut-sei-tuan/)
F. Orientasi Terhadap Matahari dan Angin

https://www.google.co.id/maps/place/Rumah+Baca+Bakau/
Keterangan :
Panah putih Peletakan site bangunan
Panah kuning Arah matahari dari timur ke barat
Panah biru muda Arah angin laut (09.00 16.00)
Panah biru tua Arah angin darat (20.00 06.00)

Dalam orientasi arah matahari, bagian timur akan menerima bagian cahaya
matahari yang banyak sehingga nantinya bangunan akan menggunakan pintu yang
dapat berotasi ditempat agar matahari dapat masuk secara maksimal. Untuk
merespon matahari siang maka atap dibuat dengan jenis atap sandar agar cahaya
alami dapat masuk. Dan untuk matahari sore yang masih cukup panas maka
nantinya bangunan akan menggunakan vertical garden agar dapat menurunkan
suhu didalam pos jaga.

Dalam orientasi terhadap arah angin, angin darat maupun angin laut lebih
mempengaruhi dibandingkan dengan angina muson mengingat lokasi site yang
berada di tepi laut. Pada saat siang hari angin akan berhembus tepat langsung ke
dalam bangunan sehingga nantinya bukaan pada pos jaga akan ditempatkan
bersebrangan agar angin dapat menjangkau seluruh ruang. Untuk angin darat di
malam hari pohon pohon mangrove nantinya akan mengcover gedung sehingga
angin tidak langsung melintasi gedung.
G. Aktifitas Penghuni dan Pengunjung Pos Jaga

Datang
Datang

Pulang Entrance

Pulang Berteduh
Istirahat Kerja

Aktivitas Penghuni Pos Jaga Aktivitas Pengunjung Pos Jaga

H. Analisa Pondasi

https://www.youtube.com/watch?v=1H3huzTMhDs

Mengingat lokasi site yang berada langsung di atas air laut maka semen
yang digunakan pastinya harus memiliki klasifikasi tahan air asin. Dalam hal ini
semen yang digunakan adalah semen Portland Pozolan (PPC). Sementara untuk
pondasi yang digunakan adalah pondasi telapak beton, sehingga setengah dari
pondasi berada dibawah air. Proses pengecoraan nantinya akan dilakukan dengan
pemompaan sehingga dapat menghemat Rancangan Anggaran Biaya (RAB)
proyek dan tenaga kerja yang dibutuhkan pun relatif kecil.

I. Analisa Struktur
J. Analisa Material

Kiri: http://www.archdaily.com/874030/casablancka-residence-budi-
pradono-architects
kanan: http://www.archdaily.com/431271/bb-home-h-and-p-
architects/524231abe8e44e67bf00001d-bb-home-h-and-p-architects-detail

Dengan menggunakan pendekatan arsitektur ekologi pada konsep


rancangan, maka material yang akan digunakan pada bangunan harus dapat
menekan penggunaan energi seminimal mungkin. Dalam hal ini material yang
akan dominan digunakan ialah bambu dan bata ringan (hebel). Bata ringan
nantinya akan menjadi penyusun dinding pos jaga, dipadukan dengan bambu
sebagai atap dan shading system terhadap matahari, dan kaca sebagai pelengkap
dalam memaksimalkan bukaan pada pos jaga.

K. Analisa Budaya

http://riauberbagi.blogspot.co.id
Budaya adat melayu dimasukkan melalui bentuk atap yang mengambil
bentuk dasar atap lontik, meskipun diubah jenisnya menjadi atap sandar namun
filosofi nya tetap sama. Sesuai dengan filosofi rumah adat melayu, atap lontik
yang kedua ujung perabungnya melentik ke atas melambangkan bahwa pada awal
dan akhir hidup manusia akan kembali kepada penciptanya. Sedangkan, lekukan
pada pertengahan perabungnya melambangkan Lembah keidupan yang kadang
kala penuh dengan cobaan. Budaya melayu juga sudah masuk dari awal pondasi
yang menjadikan sebuah struktur rumah panggung khas melayu. Di dalam pos
jaga juga ditambahkan loteng, yang bilamana di dalam filosofi rumah adat melayu
hal ini berarti menjaga kehormatan pemilik bangunan.

L. Analisa Aspek Keamanan, Kenyamanan, dan Keterjangkauan

Dalam aspek keamanan lokasi site bisa dikatakan terjamin, meskipun


berhadapan langsung dengan perairan terbuka namun karena berada dekat dengan
area hutan mangrove gelombang di sekitar lokasi site sangatlah tenang.
Kemungkinan terhadap terjadinya kebakaran kecil mengingat fungsi bangunan
yang hanya sebagai pos jaga.

Ditinjau dari aspek kenyamanan, pemilihan material dengan pendekatan


arsitektur hijau pastinya akan memberikan dampak yang maksimal terhadap
penghuninya. Lokasi site juga telah ditentukan berdasarkan orientasi angin dan
matahari yang akan banyak memberi manfaat positif pada bangunan dan
penghuninya.

Sementara apabila dilihat dari segi keterjangkauan letak bangunan


memang cukup jauh dari lokasi pemukiman warga. Namun disinilah fungsi
bangunan sebagai pos jaga berperan, karena biasanya orang orang yang suka
menebang pohon mangrove memang beraksi di daerah yang jauh. Dan juga untuk
transportasi material pada saat pembangunan bangunan dapat dilakukan dengan
kapal kecil yang biayanya tidak terlalu besar ataupun berpengaruh ke RAB.
BAB V
KONSEP PERANCANGAN

A. Konsep Letak dan Orientasi Bangunan

1. Aspek Tapak
a. Orientasi Bangunan
Dalam menentukan desain pos jaga, bangunan ini berpijak pada
pemikiran pemikiran :
Menghindari orientasi bangunan ke arah matahari terbenam, karena
mempunyai efek yang buruk bagi penghuni pos jaga. Ini terlihat dengan
sedikitnya bukaan kea rah barat.
Orientasi bangunan untuk area private seperti kamar adalah ke arah
timur, karena sinar matahari pagi sehat untuk penghuni. Akan tetapi pada jam
11 ke atas maka akan terasa panas, oleh karena itu pada tembok di luar kamar
tidur di lapisi dengan vertical garden yang berperan sebagai penyejuk suhu.
Mengutamakan orientasi bangunan ke arah yang terbuka, agar tidak
menimbulkan kesan tertekan bagi penghuninya dan juga supaya mendapatkan
pandangan yang maksimal dari dalam bangunan.

b. Pencapaian dan Sirkulasi dalam Tapak


Dasar dasar desainnya adalah :
Dalam fungsi sebagai pos jaga, tentunya sirkulasi yang sama antara tamu dan
penghuni tak terelakkan lagi. Terlihat dari pintu masuk utama yang terletak di
bagian depan pos jaga, namun untuk sirkulasi service dan sirkulasi pelayanan
kepada tamu dibedakan. Hal ini bisa dilihat dari adanya pintu service yang
terletak pada sebelah kiri bangunan.
Sementara untuk bagian belakang (bagian yang menghadap ke laut)
merupakan zona privat penghuni, dengan bukaan maksimal yang menghadap
ke laut area ini cocok bagi penghuni untuk melakukan agenda diluar jadwal
kerja.

2. Aspek Bangunan
Bentuk Bangunan
Berusaha mengekspresikan citra bangunan sesuai dengan lingkungan,
fungsi, dan pendekatan arsitektur yang di lakukan. Sesuai dengan fungsinya :
Ruang privat, letaknya terletak di dalam pos jaga. Paling jauh
jangkauannya dari pintu masuk utama. Namun dengan ukuran
bangunan yang tidak terlalu besar tentunya tetap mudah bagi
penghuni dalam menjalankan tugasnya sebagai security
(bangun ketika diperlukan).
Ruang service terletak didepan, hanya terdapat satu kamar
mandi dan dapur mengingat fungsi bangunan yang hanya
sebagai pos jaga.
Ruang public, merupakan area untuk bertemu dengan tamu
yang mempunyai keperluan. Paling mudah dijangkau dari pintu
utama.
B. Konsep Sistem Penghawaan

Sistem penghawaan yang dimiliki bangunan adalah sistem


penghawaan alami. Sistem penghawaan alami berasal dari pemanfaatan angin
dan udara sekitar, angin dan udara dialirkan masuk melalui pintu dan kisi
kisi yang terletak dibelakang taman vertikal pada dinding luar rumah. Untuk
sistem penghawaan alami, dijelaskan sebagai berikut :
Optimalisasi vegetasi di sekitar bangunan, dimana hal ini sudah
dilakukan dengan meletakkan tanaman rambat pada tembok
sekeliling bangunan.
Bukaan sebagai jalur sirkulasi bangunan, dengan pintu yang
dapat berotasi di tempat maka sirkulasi udara menjadi sangat
maksimal. Untuk daerah yang tidak terdapat bukaan lebar
diletakkan ventilasi dengan sistem cross ventilation agar udara
dapat berputar didalam rumah.

C. Konsep Sistem Pencahayaan

Sesuai dengan konsep pendekatan arsitektur ekologis, maka bangunan


ini mengandalkan cahaya matahari yang sesuai dengan arah terbit dan
tenggelamnya. Pengoptimalan sistem pencahayaan alami pada bangunan ini
dijelaskan sebagai berikut :
Mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk dengan
mengatur ukuran bukaan, hal ini sudah dilakukan dengan pintu
yang dapat berotasi di tempat. Vertical garden juga berperan
dalam mengurangi suhu yang disebabkan oleh cahaya matahari.
Menggunakan sistem sistem alami yang dapat menyebabkan
cahaya alami masuk kedalam bangunan, penggunaan atap
sandar pada bangunan merupakan suatu strategi agar cahaya
matahari dapat masuk sepanjang hari kedalam bangunan.

D. Konsep Fasad dan Material

1. Fasad
Ungkapan penampilan yang mengakomodasi seluruh kebutuhan fungsi
didalamnya merupakan suatu usaha untuk menggambarkan tampilan
sederhana namun menarik sebagai pos jaga. Oleh karena itu hal hal yang
perlu diperhatikan dalam perencanaan pola fasadnya adalah sebagai berikut :
Komposisi sederhana namun menarik, dimana hal ini dilakukan
dengan mengambil bentuk dasar atap lontik pada rumah adat
melayu dan mengubahnya menjadi atap sandar tanpa mengubah
filosofi yang ada. Penempatan vertical garden di sebelah pintu
masuk juga menjadi point of interest pada fasad bangunan ini.
Kesan menerima pengunjung harus diutamakan, pintu yang
mempunyai jangkauan lebar ketika dibuka merepresentasikan
bahwa bangunan ini selalu siap menerima tamu.
2. Material

Sesuai dengan pendekatan arsitektur ekologis pada bangunan ini,


material yang digunakan diusahakan untuk menghemat sebanyak mungkin
energi. Oleh karena itu digunakan dua bahan utama pada bangunan, yaitu :
Bata ringan (hebel), dikenal dengan kepraktisan dan bentuknya
yang presisi sangat cocok untuk lokasi site yang membutuhkan
kecepatan dan kepraktisan yang tinggi.
Bambu, melengkapi dinding hebel sebagai atap. Selain faktor
harga yang murah dan ramah lingkungan bahan yang satu ini
juga sangat ringan dan kuat sehingga sangat cocok untuk
dijadikan atap. Tampilannya yang alami juga akan menjadi
point of interest pada bangunan. Namun dibutuhkan
pengetahuan yang banyak tentang bambu sebelum
menggunakannya, karena satu point yang kurang dari bambu
adalah detail sambungannya yang rumit.
DAFTAR PUSTAKA

Hong, P.N., and H.S. San. 1993. Mangrove of Vietnam. The IUCN Wetlands Programme.
Bangkok. Thailand.

Nontji, A. 2005. Laut Nusantara. Cet. IV. Djambatan. Jakarta.

Fahrudin, A. 1996. Analisis Ekonomi Pengelolaan Lahan Pesisir Kabupaten Subang, Jawa
Barat. (Tesis). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Badan Pusat Statistik Kabupaen Deli Serdang. 2005. Kecamatan Percut Sei Tuan Dalam
Angka 2004.

Susilo, F. 2007. Pengolaan Ekosistem Mangrove Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang Sumatera Utara, Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Soerianegara dan Indrawan. 2002. Ekosistem Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi Hutan.
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nyabakken. 1988. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: Gramedia

Saenger, P., E. J. Hegerl and J. D. S. Davie. 1983. Global Status Mangrove Ecosistem, IUCN
Commission on Ecology Paper , No 3.