Anda di halaman 1dari 23

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang


mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah.
Dari berbagai kajian terungkap bahwa kondisi sanitasi di Indonesia masih relatif
buruk dan jauh tertinggal dari sektor-sektor pembangunan lainnya. Buruknya
kondisi sanitasi ini berdampak negatif di banyak aspek kehidupan, mulai dari
turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum
bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya penyakit
pada balita, turunnya daya saing maupun citra kabupaten, hingga menurunnya
perekonomian kabupaten. Hingga saat ini akses masyarakat terhadap layanan
sanitasi permukiman (air limbah domestik, sampah rumah tangga dan drainase
lingkungan) di Indonesia masih relatif rendah. Banyak hal yang menjadi
penyebab rendahnya akses sanitasi ini, mulai dari kurangnya perhatian
pemerintah setempat yang sering mengakibatkan pembangunan sanitasi belum
menjadi salah satu prioritas pembangunan dari pemerintah setempat, hingga
rendahnya kebutuhan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang sehat.
Jika dilihat lebih jauh, buruknya kondisi sanitasi membawa efek domino yang
sangat luas, seperti penurunan kualitas lingkungan hidup termasuk pencemaran
sumber air bersih, meningkatnya angka penyakit yang ditimbulkan oleh sanitasi
buruk, hingga menurunnya citra kabupaten/kota, baik sebagai daerah tujuan
wisata maupun tujuan investasi, serta menurunnya kesejahteraan masyarakat
secara umum.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah untuk meningkatkan


kapasitas dan kualitas pengelolaan sanitasi di daerah, terutama untuk
menghindari dampak dari kondisi buruknya sanitasi di Indonesia. Beberapa
upaya yang telah dilakukan pemerintah termasuk:

(i) Konferensi Sanitasi Nasional yang dilaksanakan bulan November


tahun 2007, yang menghasilkan kesepakatan mengenai langkah-
langkah penting bagi pembangunan sanitasi ke depan yang juga
sejalan dengan pencapaian sasaran MDGs;

1
(ii) Pertemuan International Year of Sanitation (IYOS) pada tahun
2008, yang menghasilkan komitmen pemerintah dalam
pengarusutamaan pembangunan sanitasi; dan

(iii) Konvensi Strategi Sanitasi Perkotaan yang dilaksanakan bulan


April tahun 2009. Pada event ini telah pula diidentifikasikan
permasalahan dan sasaran pembangunan sanitasi ke depan serta
menyepakati pendekatan Strategi Sanitasi Kota (SSK) sebagai
dasar pembangunan sanitasi di daerah.

Upaya-upaya di atas menjadi cikal bakal lahirnya komitmen nasional


untuk pembangunan sanitasi permukiman dalam rangka pencapaian target
pembangunan nasional yang secara jelas disebutkan dalam RPJMN baru tahun
2015-2019 yang menetapkan target baru yaitu 100% (universal access) akses
sanitasi layak di akhir tahun 2019. Sebagai tindak lanjutnya masih diperlukan
upaya keras yang terintegrasi dan komprehensif, serta lintas sektor yang sama
sekali berbeda sebagaimana pendekatan business as usual. Upaya ini dilakukan
secara paralel dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Untuk
mengakomodasikan upaya ini, telah dibentuk suatu program pembangunan
sanitasi permukiman yang juga disebut sebagai program Percepatan
Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) yang dimulai sejak tahun 2010 hingga
2015, namun Memasuki tahun 2015, Pemerintah Indonesia akan memasuki
periode RPJMN baru 2015-2019 yang menetapkan target baru yaitu 100%
(universal access) akses sanitasi layak di akhir tahun 2019.

Persoalan pada sektor sanitasi hampir dihadapi oleh semua Kabupaten/


Kota di Indonesia, termasuk Kabupaten Jayawijaya. Lemahnya perencanaan
pembangunan sanitasi yang tidak terpadu, salah sasaran, tidak sesuai kebutuhan,
tidak berkelanjutan dan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sarana
sanitasi yang baik dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kurangnya
dukungan infrastruktur sanitasi yang memadai menjadi penyebab rendahnya
kualitas dan kuantitas pelayanan sanitasi. Untuk itu perlu dilakukan suatu
strategi untuk memperbaiki kondisi sanitasi khususnya di Kabupaten Jayawijaya,
melalui Strategi Sanitasi Kota (SSK) berskala daerah dengan data aktual. Untuk
menyusun SSK, diperlukan penyusunan Buku Putih Sanitasi yang merupakan
potret sanitasi kabupaten yang disusun sendiri oleh Pokja kabupaten, berdasarkan
data empiris dapat diperoleh melalui studi Environmental Health Risk Assesment
(EHRA) yang merupakan studi risiko kesehatan lingkungan, Data sekunder
berdasarkan persepsi SKPD yang dapat menentukan area berisiko sanitasi.

Pemerintah Kabupaten Jayawijaya terus melakukan berbagai upaya


perbaikan kondisi sanitasi salah satunya melalui pernyataan minat untuk

2
tergabung dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP)
2015. Pernyataan minat di tanda-tangani oleh Bupati dan Ketua DPRD tersebut
ditindaklanjuti oleh surat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Provinsi Papua kepada Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas (selaku
ketua Pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Nasional) perihal
pernyataan minat Kabupaten di Provinsi Papua untuk kepesertaan program PPSP
Tahun 2015. Dengan diterbitkannnya Kepesertaan program Percepatan
Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) tahun 2015 melalui Surat Keputusan
Menteri Dalam Negeri Nomor 648-565/Kep/Bangda/2014 pada tanggal 17
Desember 2014 tentang Penetapan Kabupaten atau Kota Sebagai Pelaksana
Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman Tahun 2015, maka
Kabupaten Jayawijaya resmi tergabung dalam Program PPSP Tahun 2015.

Program PPSP pada dasarnya merupakan program perbaikan sanitasi


permukiman yang dilakukan dengan menggunakan prinsip berdasarkan data
aktual, berskala kabupaten, disusun sendiri oleh kabupaten (dari, oleh dan untuk
kabupaten) serta menggunakan pendekatan bottom-up dan top-down.
Pemerintah Kabupaten Jayawijaya membentuk kelompok kerja sanitasi yang
berperan sebagai koordinator, advisor dan fasilitator pada Program PPSP
Kabupaten Jayawijaya tahun 2015. Sebagai koordinator kelompok kerja berperan
dalam mengkoordinasikan perencanaan pembangunan sanitasi di Kabupaten
Jayawijaya. Sebagai advisor, kelompok kerja berperan dalam menyusun Buku
Putih Sanitasi (BPS) dan Strategis Sanitasi Kota (SSK), serta memberikan input
strategis pada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dalam rangka meningkatkan
kinerja pembangunan sanitasi. Sedangkan sebagai fasilitator, kelompok kerja
berperan dalam memfasilitasi peningkatan kesadaran dan komitmen dari
berbagai stakeholder utama sanitasi di tingkat kabupaten untuk terlibat dalam
pembangunan sanitasi, serta memfasilitasi pengembangan sistem pemantauan
dan evaluasi sanitasi di Kabupaten Jayawijaya. Keputusan Bupati Jayawijaya
Nomor 246 Tahun 2014 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Program
Percepatan Sanitasi Perkotaan Kabupaten Jayawijaya yang ditetapkan pada
tanggal 03 September 2014, kemudian di tindaklanjuti dengan merevisi anggota
pokja didalam Surat Keputusan Bupati Jayawijaya Nomor .... Tahun 2015, sesuai
ketentuan dalam Perpres No.185 Tahun 2014 Tentang Percepatan Air Minum dan
Sanitasi serta Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor: 660/4919/SJ Tahun
2012 tentang Pedoman Pengelolaan Program PPSP di Daerah.

Hasil pemetaan berbagai kondisi eksisting sanitasi yang telah dilakukan,


kelompok kerja tuangkan ke dalam dokumen Buku Putih Sanitasi ( Sanitation
White Book ) Kabupaten Jayawijaya. Tujuannya yaitu terbentuk satu basis data
sanitasi Kabupaten Jayawijaya yang komprehensif sehingga dapat menjadi dasar

3
bagi penyusunan strategi dan kebijakan sanitasi kedepan. Dengan selesainya
penyusunan dokumen Buku Putih Sanitasi Kabupaten Jayawijaya, kiranya dapat
membawa kondisi sanitasi Kabupaten Jayawijaya ke arah yang lebih baik dalam
segi kuantitas maupun kualitas.

1.2. Landasan Gerak

Sanitasi dapat dipahami sebagai usaha pembuangan dan atau pengelolaan


tinja, endapan air limbah (sullage) dan limbah padat dengan cara yang
memperhatikan kesehatan untuk membuat lingkungan hidup di rumah dan
lingkungan menjadi bersih dan sehat.

Pengertian dasar Penanganan Sanitasi di Kabupaten Jayawijaya adalah


sebagai berikut:

1. Grey water adalah limbah rumah tangga non kakus yaitu buangan yang
berasal dari kamar mandi, dapur (sisa makanan) dan tempat cuci.
Penanganan Air Limbah Rumah Tangga yaitu pengolahan air limbah
rumah tangga (domestik) dengan sistem :

a. Pengolahan On Site menggunakan sistem septik-tank dengan


peresapan ke tanah dalam penanganan limbah rumah tangga.

b. Pengelolaan Off Site adalah pengolahan limbah rumah tangga yang


dilakukan secara terpusat.

2. Black water (air tinja/limbah padat) yaitu air tinja yang tercemar tinja,
umumnya berasal dari WC. Volumenya dapat cair atau padat,
umumnya orang dewasa menghasilkan 1.5 liter air tinja/hari. Air ini
mengandung bakteri coli yang berbahaya bagi kesehatan, oleh sebab itu
harus disalurkan melalui saluran tertutup ke arah
pengolahan/penampungan. Air tinja bersama tinjanya disalurkan ke
dalam septic tank. Septic tank dapat berupa 2 atau 3 ruangan yang
dibentuk oleh beton bertulang sederhana. Air yang sudah bersih dari
pengolahan ini barulah dapat disalurkan ke saluran kota, atau lebih
baik lagi dapat diresapkan ke dalam tanah sebagai bahan cadangan air
tanah.

3. Penanganan persampahan atau limbah padat yaitu penanganan sampah


yang dihasilkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari rumah tangga,
pasar, restoran dan lain sebagainya yang ditampung melalui TPS atau
transfer depo ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

4
4. Penanganan drainase kabupaten adalah memfungsikan saluran
drainase sebagai penggelontor air kota dan mematuskan air
permukaan.

5. Penyediaan air bersih adalah upaya pemerintah Kabupaten Jayawijaya


untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat baik melalui jaringan
PDAM maupun non PDAM yang bersumber dari air permukaan
maupun sumur dalam.

Pengertian sanitasi dari beberapa sumber adalah sebagai berikut :

Sanitasi adalah usaha pengawasan terhadap semua faktor


lingkungan fisik manusia yang mempengaruhi atau mungkin
mempengaruhi sehingga merugikan pertumbuhan fisik, kesehatan
dan kelangsungn hidupnya (WHO)

Sedangkan pengertian Sanitasi menurut panduan TTPS Sanitasi juga


diartikan sebagai usaha untuk memastikan pembuangan kotoran
manusia, cairan limbah, dan sampah secara higienis yang akan
berkontribusi pada kebersihan dan lingkungan hidup yang sehat
baik di rumah maupun lingkungan sekitarnya.

Ruang lingkup penanganan Sanitasi dalam program PPSP adalah sebagai


berikut:

1. Pengolahan On Site menggunakan sistem septik-tank dengan


peresapan ke tanah dalam penanganan limbah rumah tangga.
2. Pengelolaan Off Site adalah pengolahan limbah rumah tangga yang
dilakukan secara terpusat.
3. Penanganan persampahan atau limbah padat yaitu penanganan
sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari rumah
tangga, pasar, restoran dan lain sebagainya yang ditampung melalui
TPS atau transfer depo ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
4. Penanganan drainase kota adalah memfungsikan saluran drainase
sebagai penggelontor air kota dan memutuskan air permukaan.
5. Penyediaan air bersih adalah upaya pemerintah untuk menyediakan
air bersih bagi masyarakat baik melalui jaringan PDAM maupun non
PDAM yang bersumber dari air permukaan maupun air tanah.

Untuk mengetahui gambaran kondisi terkini terhadap sanitasi yang ada,


maka dilakukanlah proses kluster wilayah oleh Pokja PPSP Kabupaten Jayawijaya
berdasarkan empat (4) indikator penentuan kluster wilayah study EHRA dan
telah disepakati mengenai wilayah kajian berdasarkan kluster area yang telah

5
dibuat dengan jumlah responden sebanyak empat ratus (400) responden pada
wilayah kajian di Kabupaten Jayawijaya.

1.2.1. Pengertian Sanitasi

Sanitasi didefinisikan sebagai suatu proses multi-langkah, Dimana


berbagai jenis limbah dikelola dari titik timbulan/sumber limbah, ke titik
pemanfaatan kembali atau pemrosesan akhir (Buku Referensi Opsi Sistem
dan Teknologi Sanitasi: 2015). Sedangkan menurut World Health
Organization (WHO)* dijelaskan bahwa :

Sanitation generally refers to the provision of facilities and services for the safe
disposal of human urine and faeces. Inadequate sanitation is a major cause of disease
world-wide and improving sanitation is known to have a significant beneficial
impact on health both in households and across communities. The word 'sanitation'
also refers to the maintenance of hygienic conditions, through services such as
garbage collection and wastewater disposal.

Yang artinya Sanitasi secara umum mengacu pada penyediaan fasilitas


dan layanan untuk pembuangan urin dan tinja yang aman. Sanitasi yang
tidak memadai adalah penyebab utama penyakit di seluruh dunia dan
sanitasi diketahui memiliki dampak positif bagi kesehatan baik di
lingkungan rumah tangga dan di masyarakat pada umumnya. Kata 'Sanitasi
juga mengacu pada kemampuan menjaga kondisi higienis, melalui layanan
pengumpulan sampah dan pembuangan air limbah.

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup


sanitasi meliputi 3 sektor, yaitu: sistem pengelolaan air limbah rumah
tangga, pengelolaan persampahan dan drainase lingkungan. Dan jika
berbicara tentang sanitasi tentunya sektor air bersih menjadi penting dan
harus diperhatikan juga.

A. Sistem pengelolaan air limbah

Pengertian sanitasi yang lebih teknis adalah upaya pencegahan


terjangkitnya dan penularan penyakit melalui penyediaan sarana sanitasi
dasar (jamban), pengelolaan air limbah rumah tangga (termasuk sistem
jaringan perpipaan air limbah), drainase dan sampah (Bappenas, 2003). Air
limbah rumah tangga adalah air sisa proses dari kegiatan rumah tangga.
Berkaitan dengan pengelolaan air limbah rumah tangga, maka limbah yang
muncul dari rumah tangga dikelompokkan dalam dua bagian, antara lain :

6
a. Air limbah yang berasal dari metabolisme tubuh manusia (excreta)
berupa air kencing (urine) dan tinja. Air limbah ini biasa disebut sebagai
blackwater.

b. Air limbah yang berasal selain dari metabolisme tubuh manusia, antara
lain berasal dari sisa pencucian pakaian, dapur, dan sisa air mandi. Air
Limbah ini dikenal sebagai greywater.

Sistem pengelolaan air limbah dapat dikelompokkan ke dalam tiga


kategori sebagai berikut:

1. Sistem setempat, dalam sistem setempat limbah black water dan grey
water diolah langsung secara setempat.

2. Sistem Terpusat, dalam sistem terpusat, limbah dialirkan melalui


perpipaan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

3. Sistem Hibrida, sistem ini merupakan gabungan antara sistem


pengelolaan air limbah setempat dan sistem pengelolaan air limbah
terpusat. Pada sistem ini, terdapat beberapa instalasi pengolahan air
limbah bersifat komunal yang melayani beberapa rumah. Produk air
limbah yang di tampung di instalasi pengolahan air limbah komunal,
untuk selanjutnya dialurkan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) pusat.

B. Sistem Pengelolaan Persampahan

Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam


yang berbentuk padat. Aktivitas utama dalam pengelolaan sampah yaitu
aktivitas pengumpulan dan pemrosesan akhir. Sistem Pelayanan Minimal
Pekerjaan Umum mengklasifikasikan bentuk pengumpulan sampah
kedalam tiga kategori yaitu pengumpulan langsung pintu ke pintu,
pengumpulan tidak langsung serta pengumpulan secara hibrida yang
merupakan kombinasi dari pengumpulan langsung pintu ke pintu dengan
pengumpulan tidak langsung. Berdasarkan Undang-Undang No.18 tahun
2008 tentang Pengelolaan Sampah, ditetapkan bahwa sejak 2012 Tempat
Pemrosesan Akhir dengan sistem open dumping sudah tidak diperbolehkan
lagi. Bentuk pemrosesan akhir sampah sudah harus mulai bergeser ke
bentuk controlled landfill dan sanitary landfill. Sampah yang dikelola adalah
sampah rumah tangga, sampah sejenis sampah rumah tangga, dan sampah
spesifik. Sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan
sehari-hari dalam rumah tangga. Sampah sejenis rumah tangga adalah
sampah yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan

7
khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. Sampah
spesifik adalah:

a. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun;

b. Sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya beracun;

c. Sampah yang timbul akibat bencana;

d. Puing bongkaran bangunan;

e. Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah;

f. Sampah yang timbul secara tidak periodik.

C. Sistem Drainase

Sistem drainase terdiri dari dua kategori yaitu drainase mikro dan
drainase sekunder. Drainase mikro yaitu drainase yang terdiri dari drainase
primer dan sekunder yang umumnya dioperasikan oleh Provinsi atau Balai.
Sedangkan drainase makro atau biasa disebut juga drainase tersier yaitu
drainase yang direncanakan, dibangun dan di rawat oleh Pemerintah
Kabupaten. Berdasarkan sistemnya, drainase dikelompokkan menjadi tiga
kategori sebagai berikut:

1. Sistem Gravitasi, yaitu sistem drainase yang mengalir mengikuti gaya


gravitasi

2. Sistem Pemompaan, yaitu sistem drainase yang dilengkapi dengan


pompa. Biasanya digunakan di daerah yang berelevasi rendah sebagai
bentuk pencegahan terhadap banjir.

3. Sistem Polder, yaitu sistem drainase yang biasa di gunakan di daerah


yang berelevasi rendah atau dapat pula di bawah permukaan laut
dengan luas permukaan cukup luas. Perbedaan dengan sistem
pemompaan, pada sistem polder, pemompaan dilakukan sepanjang
tahun.

Drainase lingkungan adalah suatu sistem penanganan atau pengaliran


air hujan. Secara konvensional, hujan yang turun pada suatu wilayah
diusahakan secepat mungkin mengalir melalui saluran-saluran air hujan
menuju badan air penerima. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya
genangan di permukiman atau jalan. Sistem ini sebagian besar berhasil
digunakan untuk mengendalikan terjadinya genangan, tetapi menjadi tidak
terkait dengan konservasi air. Konsep penanganan air hujan dengan

8
memperhatikan konservasi air tanah biasa disebut sebagai konsep drainase
berwawasan lingkungan atau ecodrainage. Dengan konsep ini maka air
hujan yang turun diusahakan untuk semaksimal mungkin meresap ke dalam
tanah atau ditampung untuk dimanfaatkan, sedangkan kelebihannya baru
dialirkan melalui saluran air hujan. Peresapan air hujan dapat dilakukan
dengan menggunakan kolam retensi atau embung, sumur resapan air hujan
dan biopori. Sektor air bersih dan atau air minum tidak termasuk di dalam
sektor-sektor yang terkait dengan sanitasi, tetapi sektor ini dianggap sangat
mempengaruhi kondisi sanitasi. Oleh karena itu seringkali beriringan
dengan sistem sanitasi.

1.2.2. Wilayah Sasaran Kajian

Wilayah sasaran kajian dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi


Kabupaten Jayawijaya ini mencakup seluruh wilayah administratif
Kabupaten Jayawijaya yang meliputi 40 (empat puluh) district yang terdiri
dari 328 (tiga ratus dua puluh delapan) kampung dan 4 (empat) kelurahan,
dengan system random, sampel berdasarkan keterwakilan wilayah sasaran
kajian dari desa/ kelurahan dalam satu kecamatan di Kabupaten Jayawijaya.

1.2.3. Visi dan Misi Kabupaten Jayawijaya

RPJMD Kabupaten Jayawijaya Tahun 2013-2018 memuat visi, misi dan


program prioritas Bupati/Wakil Bupati Jayawijaya masa bakti tahun 2013-
2018, juga berpedoman pada visi, misi dan arah kebijakan yang termuat
dalam RPJPD Kabupaten Jayawijaya. Berdasarkan permasalahan dan
perspektif diatas, maka pemerintah daerah merumuskan Visi Kabupaten
Jayawijaya tahun 2013-2018 yaitu :

I. Visi

Terwujudnya Masyarakat Jayawijaya Yang Berkualitas, Sehat,


Berbudaya Dan Mandiri.

Dengan visi ini terkandung maksud:

BERKUALITAS, dimaksudkan bahwa rakya memiliki kemampuan


intelektual, kemampuan fisik jasmani yang baik, rohani yang baik, memiliki
potensi dalam dirinya untuk bersaing dalam segala aspek kehidupannya,
percaya dirim bertanggungjawab, dan mengetahui hak dan kewajibannya
sebagai anak bangsa, anak daerah dan anak Tuhan.

SEHAT, dimaksudkan bahwa setiap orang di Kabupaten Jayawijaya,


haruslah sehat jasmani dan rohaninya, dapat menikmati gizi yang cukup dan

9
seimbang sesuai standard kesehatan yang perlu untuk kehidupannya, dapat
membangun lingkunngan yang asri, nyaman dan damai, sebagai kebutuhan
hakiki dalam kehidupannya.

BERBUDAYA, dimaksudkan bahwa rakyat Jayawijaya senantiasa akan


bertumbung dalam norma-norma kehidupan yang baik, yang ditimba dari
budaya leluhurnya yang meiliki cinta dan kasih sayang, menghargai
sesamanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, memiliki tenggang rasa,
mengedepankan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, serta
senantiasa menyadari pentingnya keharmonisan hubungan dengan sesama,
lingkungan dan Tuhan sebagai penciptanya.

MANDIRI, dimaksudkan bahwa rakyat Kabupaten Jayawijaya, mampu


bertumbuh dan berkembang di atas potensi dirinya dan alam lingkungannya
sendiri sebagai rahmat Tuhan yang harus dimanfaatkan dengan bijaksana,
dipelihara dan dijaka demi kelestariannya. Rakyat yang mandiri sekaligus
akan menggambarkan adanya produktifitas, keuletan, kebanggaan, berdaya
saing dan dihormati oleh orang lain di sekitarnya.

II. Misi

1. Meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia Jayawijaya


melalui bidang pendidikan dan kesehatan

2. Memberdayakan seluruh potensi masyarakat Jayawijaya sebagai


keutuhan ciptaan Tuhan, untuk menciptakan keharmonisan,
kedamaian bagi semua komponen bangsa.

3. Meningkatkan perlindungan terhadap citra dan hak-hak dasar


masyarakat asli Jayawijaya, perempuan, adat/budaya, dan agama.

4. Meningkatkan pemberdayaan untuk mendorong partisipasi,


kemandirian, dan produktifitas.

1.3 Maksud dan Tujuan

Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Jayawijaya dimaksudkan untuk


menggambarkan profil sanitasi (sanitation mapping) Kabupaten Jayawijaya
dengan cara melakukan beberapa studi termasuk Studi Penilaian Resiko
Kesehatan Lingkungan (Environmental Health Risk Assesment) atau EHRA di 4
(empat) Distrik/Kecamatan yang merupakan hasil olah Indeks Resiko Sanitasi
dan kesepakatan anggota pokja sebagai daerah potensi resiko kesehatan
lingkungan (priority setting).

10
Tujuan dari penyusunan Buku Putih ini adalah:

1. Menyediakan informasi faktual mengenai kondisi eksisting sarana


prasarana sanitasi beserta cakupan pelayanannya;

2. Memberikan informasi mengenai isu strategis, indikasi permasalahan


dan potensi sektor sanitasi Kabupaten Jayawijaya;

3. Menyediakan informasi tentang pendanaan dan pembiayaan sektor


sanitasi serta partisipasi dunia usaha saat ini dalam bidang sanitasi di
Kabupaten Jayawijaya;.

4. Memberikan informasi mengenai program pengembangan sanitasi saat


ini beserta rencana kedepan dan

5. Menyediakan basis informasi untuk menentukan kebijakan dan strategi


sanitasi Kabupaten Jayawijaya.

1.4 Metodologi

Proses seleksi dan kompilasi data sekunder berada dalam tahap ini.
Teknik kajian dokumen dipergunakan tim untuk mengkaji data. Banyak dokumen
kegiatan program yang mampu memberikan informasi mengenai apa yang terjadi
di masa lampau yang erat kaitannya dengan kondisi yang terjadi pada masa kini.

11
Gambar 1.1
Proses Penyusunan Buku Putih Sanitasi

Untuk lebih memahami proses dan kegiatan penyusunan Buku Putih ini
secara menyeluruh, akan disajikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan
aspek metodologi yang digunakan dalam penulisan ini yang secara singkat dapat
dijelaskan sebagai berikut :

1.4.1. Metode pengumpulan data

a. Survey Data Primer

Survey data primer dilakukan untuk mengumpulkan data primer.


Teknik yang digunakan dalam survey data primer ini meliputi penyebaran
kuesioner, observasi/ pengamatan lapangan, wawancara mendalam (depth
interview).

b. Survey Data Sekunder

Survey data sekunder dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder


yang telah ada sebelumnya. Teknik yang digunakan dalam survey data
sekunder meliputi desk study (studi literatur), survey data instansi dan rapat
rutin dengan para pemangku kepentingan dalam sektor sanitasi di
Kabupaten Jayawijaya.

1.4.2. Metode Analisis Data

12
Metode analisis data yang digunakan dalam penyusunan Buku Putih
Sanitasi ini adalah sebagai berikut:

a. Analisis Statistik

Analisis statistik yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan


analisis statistic skalogram. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk
menggambarkan dan menginterpretasikan kondisi sanitasi eksisting di
Kabupaten Jayawijaya. Sedangkan analissis statistic skalogram digunakan
untuk menentukan hirarki dari kecamatan dan desa/ kelurahan berdasarkan
kelengkapan sarana, prasarana dan utilitasnya.

b. Analisis Kebijakan

Analisis kebijakan digunakan untuk mengidentifikasi kebijakan dan


strategi sanitasi Kabupaten Jayawijaya. Teknik analisis yang dipergunakan
selain melalui tahap identifikasi strength, weakness, opportunity and
weakness (SWOT), juga digunakan teknik analisis isi (content analysis) yang
didasarkan pada dokumen resmi pemerintah atapun dokumen yang tidak
resmi tetapi dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

c. Analisis Proyeksi

Analisis proyeksi digunakan untuk mengidentifikasi kondisi


kependudukan di masa yang akan datang. Nilai tersebut akan digunakan
untuk menentukan keperluan sarana prasarana sanitasi pendukung yang
dapat mengakomodir pertumbuhan penduduk.

1.4.3. Tahapan Penyusunan Buku Putih Sanitasi

Langkah-langkah penulisan/dokumentasi Buku Putih Sanitasi meliputi


hal-hal sebagai berikut:

1. Internalisasi dan Penyamaan Persepsi, menyangkut :

a. Tercapainya kesepahaman dan kesamaan persepsi mengenai manfaat


adanya Buku Putih Sanitasi bagi Kabupaten Jayawijaya;

b. Tercapainya kesepakatan mengenai langkah penyusunan, jadwal


kerja, pembagian tugas dan tanggungjawab setiap anggota pokja;

2. Penyiapan Profil Wilayah, meliputi kegiatan :

a. Dipahaminya ruang lingkup sanitasi dan tercapainya kesepakatan


cakupan wilayah sasaran / kajian;

13
b. Tersedianya data sekunder untuk menggambarkan profil wilayah,
profil sanitasi dan penetapan area beresiko;

c. Tergambarkannya profil wilayah Kabupaten Jayawijaya.

3. Penilaian Profil Sanitasi, meliputi kegiatan :

a. Tersusunnya peta system sanitasi untuk masing-masing komponen


dan lokasinya yang spesifik;

b. Tersedianya hasil survey/studi/kajian yang disyaratkan untuk


penyusunan Buku Putih Sanitasi;

c. Teridentifikasinya rencana program dan kegiatan pengembangan


sanitasi serta kegiatan sanitasi yang sedang berjalan.

4. Penetapan area beresiko sanitasi, meliputi kegiatan :

a. Menentukan awal area berisiko;

b. Menilai kemajuan pelaksanaan studi EHRA;

c. Menentukan Area Berisiko;

d. Menetapan awal Prioritas Pengembangan;

e. Memverifikasi hasil penetapan awal dengan melakukan kunjungan


lapangan;

f. Melakukan konsultasi dengan OPD terkait untuk menetapkan


Prioritas Pengembangan;

5. Finalisasi Buku Putih Sanitasi, dengan tahapan sebagai berikut :

a. Adanya persetujuan dari ketua pokja atas draft Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Jayawijaya;

b. Diterimanya masukan untuk draft Buku Putih Sanitasi dari seluruh


pemangku kepentingan di Kabupaten Jayawijaya;

c. Mengadakan Konsultasi Publik Buku Putih;

d. Melakukan finalisasi Buku Putih Kabupaten;

e. Disahkannya Buku Putih Sanitasi oleh Kepala Daerah.

14
1.5 Posisi Buku Putih Sanitasi

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Jayawijaya Tahun 2015 ini menyediakan


data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi dan kebutuhan sanitasi yang
diposisikan sebagai acuan perencanaan strategis bagi penyusunan strategi sanitasi
(SSK) tingkat kota/kabupaten. Rencana pembangunan sanitasi kota
dikembangkan atas dasar permasalahan yang dipaparkan dalam Buku Putih
Sanitasi. Setiap tahun data yang ada akan dibuat Laporan Sanitasi Tahunan
yang merupakan gabungan antara laporan Tahunan SKPD dan status proyek
sanitasi. Laporan Sanitasi Tahunan menjadi Lampiran Buku Putih Sanitasi 2015
dan setelah 3 tahun, semua informasi tersebut dirangkum dalam Revisi Buku
Putih Sanitasi. Adapun posisi Buku Putih dapat dilihat pada gamba 1.2.

Gambar 1.2
Posisi Buku Putih dalam PPSP

15
1.6 Dasar Hukum dan Kaitannya dengan Dokumen Perencanaan Lain

Buku Putih Sanitasi menyediakan data dasar yang esensial mengenai


struktur, situasi, dan kondisi sanitasi Kabupaten Jayawijaya. Buku Putih Sanitasi
Kabupaten Jayawijaya Tahun 2015 ini, diposisikan sebagai salah satu acuan
referensi perencanaan strategis sanitasi tingkat Kabupaten lainnya. Rencana
pembangunan sanitasi Kabupaten dikembangkan atas dasar permasalahan yang
dipaparkan dalam Buku Putih Sanitasi beserta Rencana Induk sektoral tingkat
Kabupaten Lainnya seperti Rencana Pembangunan Investasi Jangka Menengah
(RPIJM), Rencana Induk (Master Plan) Sanitasi, Rencana Induk Drainase, Rencana
Induk Persampahan dan sejumlah dokumen perencanaan tingkat Kabupaten
lainnya.

Setiap tahun data yang ada akan dibuat Laporan Sanitasi Tahunan yang
merupakan gabungan antara Laporan Tahunan SKPD dan status proyek sanitasi.
Laporan Sanitasi Tahunan menjadi Lampiran Buku Putih Sanitasi 2015 dan setelah
3 tahun, semua informasi tersebut dirangkum dalam Revisi Buku Putih Sanitasi.
Buku putih ini merupakan materi dasar dalam penyusunan strategi sanitasi kota
dan juga acuan dasar evaluasi kinerja pembangunan bidang sanitasi.

Peraturan Perundangan

Implementasi perencanaan dan pembangunan sanitasi di Kabupaten


Jayawijaya berlandaskan kepada berbagai peraturan baik yang menjadi kebijakan
di tingkat pusat seperti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan dan
Peraturan Presiden, Keputusan dan Peraturan Menteri hingga kebijakan di tingkat
daerah seperti Peraturan Daerah Provinsi Papua, Peraturan Gubernur, Peraturan
Daerah Kabupaten Jayawijaya, Peraturan Bupati Jayawijaya. Peraturan dan
regulasi ini menjadi bagian dari landasan perencanaan dan pembangunan sektor
sanitasi di Kabupaten Jayawijaya baik yang bersifat mutlak maupun yang bersifat
normatif.

Penyusunan Buku Putih Sanitasi di Kabupaten Jayawijaya didasarkan


pada peraturan yang menjadi kebijakan dan acuan tersebut adalah sebagai
berikut :

A. Undang - Undang

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang


Hygiene;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1984 tentang


Perindustrian;

16
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang
Perumahan dan Permukiman;

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1992 tentang


Rumah Susun;

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang


Pengelolaan Lingkungan Hidup;

6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang


Bangunan Gedung;

7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang


Keuangan Negara;

8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang


Sumber Daya Air;

9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang


Sistem Perencanaan Nasional;

10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang


Pemerintah Daerah;

11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang


Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah;

12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang


Jalan;

13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 Tentang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025;

14. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan Ruang;

15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang


Pengelolaan Sampah;

16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2009 Tentang


Pengesahan Stockholm Convention on Persisten Organic Pollutants;

18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan;

17
19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawasan Permukiman.

B. Peraturan Pemerintah

1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982


tentang Pengaturan Air;

2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990


tentang Pengendalian Pencemaran Air;

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991


tentang Sungai;

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 69 Thn 1996 Tentang


Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta bentuk dan Tata Cara Peran
serta Masyarakat dalam Penataan Ruang;

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999


tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;

6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001


tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;

7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001


tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;

8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004


tentang Pengembangan Sistim Penyediaan Air Minum;

9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005


tentang Pengembangan SPAM;

10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005


tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2005


tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah;

12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005


tentang Standar Pelayanan Minimum;

13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2007


tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,

18
Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota;

14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008


tentang Pengelolaan Sumber Daya Air;

15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008


tentang Air Tanah;

16. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012


tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis
Sampah Rumah Tangga.

C. Keputusan Presiden

1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000


tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan;

2. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 62 Tahun 2000 Tentang


Koordinasi Penataan Ruang;

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001


tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air;

4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002


tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber
Daya Air;

5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007


tentang Pembagian Usaha Pemerintahan;

6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012


tentang Pengelolaan Sampah RT dan Sampah Sejenis;

7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 185 Tahun 2014


tentang Air Minum dan Sanitasi;

8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014


tentang Kesehatan Lingkungan;

9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional
(RPJMN) Tahun 2015-2019.

19
D. Peraturan Menteri Republik Indonesia

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416 Tahun


1992 tentang Persyaratan dan Pengawasan Kualitas Air;

2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


69/PRT/1995 tentang Pedoman Teknis Mengenai Dampak
Lingkungan Proyek Bidang Pekerjaan Umum;

3. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor


35/MENLH/7/1995 Tentang Program Kali Bersih;

4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


269/1996 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL dan UPL
Departemen Pekerjaan Umum;

5. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


296/1996 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan UKL UPL Proyek
Bidang Pekerjaan Umum;

6. Keputusan Menteri Negara lingkungan Hidup Republik Indonesia No


337/1996 tentang Petunjuk Tata Laksana UKL dan UPL Departemen
Pekerjaan Umum;

7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


829/Menkes/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan;

8. Keputusan Menteri Kimpraswil Republik Indonesia nomor 534/2000


tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Permukiman;

9. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17


Tahun 2001 Tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib
dilengkapi degan AMDAL;

10. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor


112 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik;

11. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1205/Menkes/Per/X/2004 Tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan
Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA);

12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


294/PRT/M/2005 tentang Badan Pendukung Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum;

20
13. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor
45/KPTS/M/2005 tentang Pedoman Pemberdayaan Penanggung
Jawab Teknik Badan Usaha Jasa Konstruksi Kualifikasi Kecil;

14. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 11


Tahun 2006 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi
dengan AMDAL dalam Sampah;

15. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan;

16. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia


Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Dokumen Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan atau Kegiatan yang
Tidak Memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup;

17. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18/PRT/M/2007


tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Penyediaan Air
Minum;

18. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM);

19. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


14/PRT/M/2010 tentang Standar Pelayanan Minimal bidang
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;

20. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13


Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse dan Recycle
melalui Bank Sampah;

21. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor


21/PRT/M/2012 tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Sekitar
Tempat Pemrosesan Akhir Sampah;

22. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 3


Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Sarana dan Prasarana
Persampahan dalam Penanganan sampah Rumah Tangga dan
Sampah Sejenis Rumah Tangga;

23. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia No 1 Tahun


2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum
dan Penata Ruang.

21
E. Petunjuk Teknis

1. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis MCK

2. Petunjuk Teknis Nomor KDT 307.14 Man P judul Manual Teknis


Saluran Irigasi.

3. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis


Penerapan Pompa Hidran Dalam Penyediaan Air Bersih.

4. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis


Pengomposan Sampah Organik Skala Lingkungan.

5. Petunjuk Teknis Nomor KDT 361.728 Pet I judul Petunjuk Teknis


Spesifikasi Instalasi Pengolahan Air Sistem Berpindah pindah
(Mobile) Kapasitas 0.5 Liter/detik.

6. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.72 Pet B judul Petunjuk Teknis


Pembuatan Sumur Resapan.

7. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Pedoman Teknis


Tata Cara Sistem Penyediaan Air Bersih Komersil Untuk
Permukiman.

8. Petunjuk Teknis Nomor KDT 363.728 Pet D judul Petunjuk Teknis


Tata Cara Pengoperasian Dan Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air
Limbah Rumah Tangga Non Kakus.

9. Petunjuk Teknis Nomor KDT 616.98 Ped I judul Pedoman Teknis


Penyehatan Perumahan.

10. Petunjuk Teknis Nomor KDT 627.54 Pan I judul Panduan Dan
Petunjuk Praktis Pengelolaan Drainase Perkotaan.

11. Petunjuk Teknis Nomor KDT 636.728 Pet. I judul Petunjuk Teknis
Spesifikasi Kompos Rumah Tangga, Tata cara Pengelolaan Sampah
Dengan Sistem Daur Ulang Pada Lingkungan, Spesifikasi Area
Penimbunan Sampah Dengan Sistem Lahan Urug Terkendali Di TPA
Sampah.

F. Peraturan Daerah

1. Peraturan Daerah Kabupaten Jayawijaya Nomor 11 tahun 2011,


tentang Penyelenggaraan Tertib Jalan dan Fasilitas Umum,
Kebersihan dan Keindahan;

22
2. Peraturan Bupati Jayawijaya Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi
Persampahan.

4. Keputusan Bupati Jayawijaya Nomor 142 Tahun 2014 tentang


Pembentukan Kelompok Kerja Percepatan Pembangunan Sanitasi
Permukiman (PPSP) Kabupaten Jayawijaya.

1.6 Keterkaitan Buku Putih Sanitasi (BPS) dengan Dokumen Perencanaan


Lainnya

Dokumen perencanaan pembangunan Kabupaten Jayawijaya yang saat ini


menjadi landasan dalam pelaksanaan pembangunan tahunan meliputi dokumen
perencanaan jangka panjang yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) Kabupaten Jayawijaya 2013-2018 dan dokumen perencanaan jangka
menengah dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kabupaten Jayawijaya 2013-2018. Buku Putih Sanitasi akan menjadi
salah satu dasar dalam perumusan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
yang dilaksanakan setiap tahun. Dalam perumusan RKPD ke depan selain
didasarkan atas RPJPD dan RPJMD Kabupaten Jayawijaya, isu-isu strategis dan
BPS pun akan menjadi landasan dalam perumusan rencana kerja tahunan. Buku
Putih Sanitasi menyediakan data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi
dan kebutuhan sanitasi Kabupaten Jayawijaya. Buku Putih Sanitasi Kabupaten
Jayawijaya Tahun 2015 ini, diposisikan sebagai salah satu acuan perencanaan
strategis sanitasi tingkat kabupaten. Rencana pembangunan sanitasi
dikembangkan atas dasar permasalahan yang dipaparkan dalam Buku Putih
Sanitasi.

23

Anda mungkin juga menyukai