Anda di halaman 1dari 65

PENGEMBANGAN LKS (LEMBAR KERJA SISWA)

BERBASIS KARAKTER MATERI EKOSISTEM


UNTUK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 KERTEK

Skripsi
disusun sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

oleh
Darning Rakhmawati
4401408036

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013

i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi saya yang berjudul


Pengembangan LKS (Lembar Kerja Siswa) Berbasis Karakter Materi Ekosistem
untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kertek disusun berdasarkan hasil
penelitian saya dengan arahan dosen pembimbing. Sumber informasi atau kutipan
yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Skripsi ini
belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar dalam program sejenis di
perguruan tinggi manapun.

Semarang, Mei 2013

Darning Rakhmawati
NIM. 4401408036

ii
PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul :


PENGEMBANGAN LKS (LEMBAR KERJA SISWA) BERBASIS KARAKTER
MATERI EKOSISTEM UNTUK SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 KERTEK

disusun oleh
nama : Darning Rakhmawati
NIM : 4401408036
telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi FMIPA Unnes pada
tanggal Mei 2013.

Panitia:
Ketua Sekretaris

Prof. Dr. Wiyanto, M. Si. Andin Irsadi, S.Pd, M. Si.


NIP. 19631012 198803 1001 NIP. 19740310 200003 1001

Ketua Penguji

Dr. Niken Subekti, M. Si.


NIP. 19730214 199903 2001

Anggota Penguji/ Anggota Penguji/


Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Dr. Andreas Priyono Budi P., M. Ed. Dr. Margareta Rahayuningsih, M. Si.
NIP. 19581104 198703 1004 NIP. 19700122 199703 2003

iii
ABSTRAK

Rakhmawati, Darning. 2012. Pengembangan LKS (Lembar Kerja Siswa)


Berbasis Karakter Materi Ekosistem untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 1
Kertek. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing: Dr. Andreas Priyono Budi Prasetyo, M. Ed. dan Dr. Margareta
Rahayuningsih, M. Si.

Lembar kerja siswa (LKS) dalam pembelajaran biologi merupakan bagian


integral dari model pembelajaran yang dipilih guru. LKS mencerminkan mutu
proses pembelajaran, tetapi selama ini tugas pada LKS belum mendorong siswa
terlibat dalam tugas-tugas inkuiri yang mampu mendorong penanaman karakter.
Sementara itu, obyek dan fenomena ekosistem berpotensi untuk penanaman
karakter. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji pengaruh LKS
berbasis karakter terhadap hasil belajar siswa.
Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development dengan pola
Pre-test Post-test Nonequivalent Control Group Design yang diterapkan pada
kelas VIIC dan VIID. Populasi merupakan seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1
Kertek tahun ajaran 2012/2013. Pengambilan sampel menggunakan teknik
convenience sampling. Sampel yang diperoleh sebanyak 58 siswa dari dua kelas,
yaitu kelas VII C sebagai kelompok eksperimen dan VII D sebagai kelompok
kontrol. Data yang dikumpulkan berupa skor aktivitas diperoleh melalui angket
keterlaksanaan. Data hasil belajar berupa aspek kognitif diperoleh melalui post-
test dan aspek afektif diperoleh melalui skala psikologis. Data-data tersebut
dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah, LKS berbasis karakter
materi Ekosistem berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. Hasil uji
regresi menunjukkan penerapan LKS berbasis karakter memberikan pengaruh
sebesar 72% terhadap skor post-test siswa dan 62% terhadap skor afektif siswa.

Kata kunci : Ekosistem; hasil belajar; LKS berbasis karakter

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang
berjudul Pengembangan LKS (Lembar Kerja Siswa) Berbasis Karakter Materi
Ekosistem untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kertek.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat disusun dengan baik karena
adanya bantuan dari berbagai pihak yang dengan ikhlas telah merelakan sebagian
waktu, tenaga, dan pikiran demi membantu penulis dalam menyusun skripsi ini.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang
mendalam kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan


kepada penulis untuk menyelesaikan studi di UNNES.
2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin untuk
melaksanakan penelitian.
3. Ketua Jurusan Biologi FMIPA UNNES yang telah memberikan kemudahan
dan kelancaran dalam penyusunan skripsi.
4. Dr. Andreas Priyono Budi Prasetyo, M.Ed. dosen pembimbing I yang penuh
kesabaran dalam membimbing, memberi arahan, motivasi, dan nasihat yang
luar biasa kepada penulis.
5. Dr. Margareta Rahayuningsih, M.Si. dosen pembimbing II yang penuh
kesabaran dalam membimbing dan memberi arahan serta saran.
6. Dr. Niken Subekti, M.Si. dosen penguji yang telah memberikan masukan dan
saran dalam penyusunan skripsi ini.
7. Dra. Endah Peniati, M. Si. dosen wali yang telah memberi motivasi kepada
penulis.
8. Bapak/Ibu dosen dan karyawan FMIPA khususnya jurusan Biologi atas segala
bantuan yang diberikan.
9. Bapak, Ludiyatno S.Pd. kepala SMP Negeri 1 Kertek yang telah memberikan
ijin dan kemudahan kepada penulis selama melakukan penelitian.

v
10. Dian Puji Lestari S.Pt. guru Biologi SMP Negeri 1 Kertek yang telah berkenan
membantu dan bekerjasama dengan penulis dalam melaksanakan penelitian.
11. Siswa-siswa SMP Negeri 1 Kertek Tahun Ajaran 2012/2013 atas
kesediaannya menjadi responden dalam penelitian ini.
12. Bapak Sudarto dan Ibu Sri Purwaningrum, selaku kedua orang tua penulis
yang telah memberikan dukungan, motivasi dan doa tiada henti selama ini.
13. Teman-teman angkatan 2008 Biologi FMIPA UNNES terutama rombel 1
Biovirtuoso, Himabio 2009 - 2010, Guslat MIPA, dan teman-teman kos An-
najma terima kasih untuk dukungan dan semangatnya.
14. Semua pihak yang telah berkenan membantu penulis selama penelitian dan
penyusunan skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis
harapkan. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang, Mei 2013

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ......................................................... ii
PENGESAHAN .............................................................................................. iii
ABSTRAK ...................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................... v
DAFTAR ISI ................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ........................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 3
C. Penegasan Istilah .............................................................................. 4
D. Tujuan Penelitian ............................................................................. 5
E. Manfaat Penelitian ........................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Lembar Kerja Siswa Berbasis Karakter ........................................... 6
B. Kajian Keterkaitan LKS Berbasis Karakter dengan Hasil Belajar .. 9
C. Materi Ekosistem ............................................................................. 9
D. Kerangka Berpikir ............................................................................ 10

BAB III METODE PENELITIAN


A. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................... 11
B. Populasi dan Sampel ........................................................................ 11
C. Variabel Penelitian. .......................................................................... 12
D. Rancangan Penelitian ....................................................................... 12
E. Prosedur Penelitian........................................................................... 15
F. Data dan Metode Pengumpulan Data ............................................... 17

vii
G. Metode Analisis Data ...................................................................... 23

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian ............................................................................... 28
B. Pembahasan ...................................................................................... 42

BAB V SIMPULAN DAN SARAN


A. Simpulan .......................................................................................... 50
B. Saran ................................................................................................. 50

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 51


LAMPIRAN ..................................................................................................... 54

viii
DAFTAR TABEL

Halaman
1. Contoh nilai yang terdefinisi Kemendikbud ............................................... 8
2. Waktu pelaksanaan penelitian ..................................................................... 11
3. Desain penelitian pre-test post-test non-equivalent control group design . 15
4. Hasil analisis validitas butir soal uji coba materi Ekosistem ....................... 19
5. Kriteria tingkat kesukaran instrumen soal uji coba ..................................... 21
6. Hasil analisis tingkat kesukaran uji coba materi Ekosistem ........................ 21
7. Kriteria daya pembeda instrumen soal uji coba .......................................... 22
8. Hasil analisis daya pembeda soal uji coba materi Ekosistem ...................... 22
9. Validitas dan reliabilitas instrument ........................................................... 23
10. Hasil uji normalitas skor pre-test kelompok eksperimen dan kelompok
Kontrol ......................................................................................................... 25
11. Hasil uji homogenitas skor pre-test kelas eksperimen dan kelompok
kontrol ......................................................................................................... 26
12. Data dan teknik analisis data ....................................................................... 27
13. Model LKS yang digunakan guru dalam pembelajaran materi Ekosistem . 28
14. Rincian penilaian kelayakan LKS berbasis karakter ................................. 30
15. Rincian penilaian tingkat keterbacaan LKS berbasis karakter .................... 37
16. Skor tes siswa pada materi Ekosistem ........................................................ 38
17. Skor afektif karakter peduli lingkungan ...................................................... 39
18. Uji regresi pengaruh modul LKS berbasis karakter terhadap skor post-test 39
19. Uji regresi pengaruh LKS berbasis karakter terhadap skor afektif ............. 40
20. Uji beda dua sampel independen dari post-test kelas kontrol dan kelompok
eksperimen ....................................................................................................41

ix
DAFTAR GAMBAR

Halaman
1. Kerangka berpikir .......................................................................................... 10
2. Langkah langkah penelitian R & D .......................................................... 13
3. Skor penilaian LKS berbasis karakter oleh pakar ......................................... 29
4. Revisi LKS berbasis karakter bagian 1 .......................................................... 32
5. Revisi LKS berbasis karakter bagian 2 .......................................................... 33
6. Revisi LKS berbasis karakter bagian 3 .......................................................... 34
7. Revisi LKS berbasis karakter bagian 4 .......................................................... 35
8. Perolehan skor keterbacaan LKS berbasis karakter ....................................... 36
9. Skor aktivitas siswa pada LKS berbasis karakter ........................................... 38

x
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Silabus ........................................................................................................... 54
2. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) ................................................. 58
3. Kisi-kisi soal uji coba .................................................................................... 65
4. Soal uji coba .................................................................................................. 67
5. Lembar jawab soal post-test .......................................................................... 84
6. Analisis soal uji coba materi Ekosistem........................................................ 85
7. Kisi-kisi angket kebutuhan pengembangan LKS berbasis karakter materi
Ekosistem SMP Negeri 1 Kertek ................................................................. 91
8. Lembar angket kebutuhan pengembangan LKS berbasis karakter materi
Ekosistem SMP Negeri 1 Kertek .................................................................. 93
9. Kisi-kisi lembar validasi lembar kerja siswa berbasis karakter materi
Ekosistem kelas VII SMP Negeri 1 Kertek ................................................. 97
10. Lembar validasi Lembar kerja siswa berbasis karakter materi Ekosistem
kelas VII SMP Negeri 1 Kertek .................................................................... 98
11. Kisi-kisi angket keterbacaan LKS berbasis karakter .................................... 107
12. Angket keterbacaan LKS berbasis karakter siswa SMP Negeri 1 Kertek .... 108
13. Kisi-kisi angket keterlaksanaan aktivitas siswa dalam pembelajaran LKS
berbasis karakter............................................................................................ 110
14. Angket keterlaksanaan aktivitas siswa dalam pembelajaran LKS berbasis
karakter ......................................................................................................... 111
15. Kisi-kisi skala psikologis siswa (peduli lingkungan) .................................... 114
16. Lembar skala psikologis LKS berbasis karakter materi Ekosistem
untuk siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kertek ................................................ 115
17. Rekapitulasi skor keterlaksanaan dan skor afektif siswa .............................. 118
18. Kisi-kisi soal post-test ................................................................................... 119
19. Soal post-test ................................................................................................. 121
20. Lembar jawab soal post-test .......................................................................... 133
21. Rekapitulasi skor pre-test dan post-test kelas eksperimen dan kontrol ........ 134
22. Analisis uji normalitas pre-test ..................................................................... 135
23. Analisis uji homogenitas pre-test .................................................................. 137

xi
24. Perhitungan kriteria kelayakan LKS berbasis karakter ................................ 138
25. Perhitungan kriteria keterbacaan LKS berbasis karakter ............................. 139
26. Perhitungan kriteria aktivitas LKS berbasis karakter.................................... 140
27. Perhitungan kriteria karakter peduli lingkungan ......................................... 141
28. Uji regresi pengaruh skor aktivitas terhadap hasil belajar kognitif siswa .... 142
29. Uji regresi pengaruh skor aktivitas terhadap hasil belajar afektif siswa ...... 147
30. Uji beda dua sampel independen hasil post-test kelas kontrol dan kelas
eksperimen .................................................................................................. 153
31. Dokumentasi penelitian ................................................................................ 157
32. Surat ijin penelitian ...................................................................................... 159
33. Surat keterangan telah melaksanakan penelitian .......................................... 160
34. Lembar kerja siswa berbasis karakter ........................................................... 161
35. Peta lokasi penelitian..................................................................................... 201

xii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lembar kerja siswa (LKS) dalam pembelajaran biologi merupakan bagian
integral dari model pembelajaran yang dipilih guru. LKS adalah media
pembelajaran berupa lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan siswa dalam
kajian dan tujuan tertentu untuk mendukung proses pembelajaran (Yildirim et al.
2011; Prastowo 2011). LKS mencerminkan mutu proses pembelajaran, tetapi
selama ini beberapa LKS cenderung didominasi oleh tugas-tugas kognitif tingkat
rendah. Tugas tersebut ternyata belum mendorong siswa terlibat dalam tugas-
tugas inkuiri yang mampu mendorong penanaman karakter. Sementara itu, obyek
dan fenomena ekosistem berpotensi untuk penanaman karakter. Persoalan nyata di
sekolah adalah bagaimana mengembangkan LKS pada materi Ekosistem yang
menciptakan kesempatan bagi siswa untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan
inkuiri dan penanaman karakter.
Karakter adalah sifat desposisi seseorang yang terbentuk dari hasil
internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini serta digunakan sebagai landasan
cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak (Kemendikbud 2011; Stedje
2010). Menurut Berkowitz & Bier (2006) karakter adalah sebuah konsep
psikologis. Pendapat lain menyatakan bahwa karakter adalah kumpulan sifat
seseorang dan bisa disebut sebagai watak yang relatif stabil untuk berpikir,
merasakan, dan bertindak dalam situasi tertentu (Webber 2006). Jadi dapat
disimpulkan bahwa karakter merupakan konsep psikologis yang terbentuk dari
sifat desposisi seseorang yang relatif stabil sehingga diyakini serta digunakan
sebagai landasan cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.
Lembar kerja siswa berbasis karakter merupakan LKS yang didesain untuk
mendukung pengembangan karakter siswa dengan cara memunculkan nilai-nilai
hidup yang diinginkan, sehingga daya pikir dan karakter siswa berkembang.
Selama ini belum ada LKS yang mendukung perkembangan daya pikir dan
karakter siswa secara terintegrasi. Oleh karena itu, LKS berbasis karakter perlu
dikembangkan sehingga siswa mampu mengkoordinasikan seluruh aspek belajar
untuk mengembangkan daya pikir dan karakter siswa. Park et al. (2006)

1
2

menyatakan bahwa karakter tidak dapat diperlihatkan dalam setiap situasi dan
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat tertentu. Nilai-nilai karakter yang
dikembangkan dalam LKS karakter disesuaikan dengan karakteristik materi yang
akan digunakan. Nilai karakter yang kemungkinan besar akan muncul pada materi
Ekosistem adalah peduli lingkungan. Berdasarkan observasi di beberapa SMP,
LKS yang digunakan masih terfokus pada penguasaan materi dan konsep. Materi
Ekosistem dalam LKS tersebut, peran lingkungan kurang dioptimalkan. Kondisi
ini tentu disayangkan karena pada materi Ekosistem lingkungan merupakan
sumber belajar yang representatif.
Penanaman pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai macam
cara. Salah satunya dengan integrasi pendidikan karakter dalam kehidupan
sekolah sehingga menjadi kultur dan budaya di sekolah (Sewell & College 2003).
Pendidikan karakter yang efektif harus disesuaikan dengan karakter siswa yang
beragam dan guru harus bisa mengatasi hal tersebut dengan tujuan untuk
implementasi karakter dalam kurikulum (Stallions & Yeatts 2003). Guru
merupakan pihak yang paling sering bersentuhan langsung dengan siswa. Oleh
karena itu, guru seharusnya mampu menghadirkan dan menanamkan karakter
pada siswa, baik ketika pembelajaran berlangsung ataupun di luar pembelajaran
sehingga perkembangan kemampuan intelektual dan karakter siswa dapat berjalan
beriringan. Guru memerlukan perangkat pembelajaran yang mendukung
implementasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran. LKS berbasis
karakter dapat membantu guru untuk mendukung pelaksanaan implementasi
pendidikan karakter didalam proses pembelajaran.
Penggunaan LKS berbasis karakter menunjukkan bahwa implementasi
pendidikan karakter melalui integrasi pada mata pelajaran dapat dilakukan dengan
cara merancang kegiatan pembelajaran sedemikian rupa sehingga peserta didik
memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai
yang diharapkan. Dari semua nilai karakter yang bersumber dari agama,
Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional yang diidentifikasi
Kemendikbud, karakter yang dikembangkan dalam LKS berbasis karakter ini
adalah peduli lingkungan.
3

Berdasarkan kebijakan-kebijakan pemerintah tentang pendidikan karakter


dengan kenyataan yang ada di lapangan perlu dikembangkan LKS (Lembar
Kerja Siswa) Berbasis Karakter Materi Ekosistem untuk Siswa Kelas VII SMP
Negeri 1 Kertek. LKS berbasis karakter membimbing siswa untuk mengamati
lingkungan dengan instruksi yang ada pada LKS berkarakter. LKS ini juga
dilengkapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun siswa untuk memahami
konsep materi Ekosistem.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan LKS efektif untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian Ozmen & Yildirim (2005)
menyimpulkan bahwa secara statistik ada perbedaan signifikan antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol mengenai efektivitas LKS. Celikler (2010)
menyimpulkan bahwa LKS meningkatkan partisipasi dan prestasi belajar secara
signifikan. Penelitian (Yildirim et al. 2011) menunjukkan bahwa penggunaan
LKS lebih efektif dibandingkan dengan proses pembelajaran biasa karena
penggunaan LKS menyebabkan siswa berpartisipasi aktif dalam aktivitas
pembelajaran. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa siswa di sekolah yang
telah menerapkan pendidikan karakter memiliki skor akademik yang lebih tinggi
(Benninga et al. 2003).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana model LKS yang digunakan sebelumnya di SMP Negeri 1 Kertek
pada materi Ekosistem?
2. Apakah LKS berbasis karakter penting dikembangkan sebagai salah satu bahan
ajar pada materi Ekosistem?
3. Bagaimana mengembangkan LKS berbasis karakter?
4. Apakah penerapan LKS berbasis karakter materi Ekosistem berpengaruh
signifikan terhadap hasil belajar siswa?
4

C. Penegasan Istilah
Penegasan istilah bermanfaat untuk menjelaskan pengertian-pengertian yang
ada dalam penelitian ini. Penegasan istilah dimaksudkan supaya tidak terjadi
miskonsepsi.
1. Lembar kerja siswa berbasis karakter
Lembar kerja siswa berbasis karakter merupakan LKS yang didesain untuk
mendukung pengembangan karakter siswa dengan cara memunculkan nilai-nilai
hidup yang diinginkan, sehingga daya pikir dan karakter siswa berkembang. LKS
berbasis karakter pada penelitian ini didefinisikan secara operasional sebagai skor
aktivitas pada pembelajaran LKS berbasis karakter.
2. Hasil belajar
Teori kontruktivistik menyatakan bahwa hasil belajar bersumber pada hasil
proses kontruksi pengetahuan dengan cara mengabstraksi pengalaman sebagai
hasil dari interaksi antara siswa dan realitas (James 2006). Jadi pada penelitian ini
hasil belajar secara operasional didefinisikan sebagai skor post-test dan skor
afektif (Singarimbun 2008).
3. Materi Ekosistem
Materi Ekosistem yang dimaksud penelitian ini merupakan materi yang
diajarkan SMP kelas VII semester dua dengan standar kompetensi tujuh yaitu
memahami saling ketergantungan dalam ekosistem yang terdiri dari empat
kompetensi dasar sebagai berikut.
a. Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem.
b. Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian
ekosistem.
c. Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan.
d. Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk
mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.
5

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi LKS yang digunakan di SMP Negeri 1 Kertek pada materi
Ekosistem.
2. Menganalisis pentingnya pengembangan LKS berbasis karakter materi
Ekosistem di SMP Negeri 1 Kertek.
3. Mengembangkan LKS berbasis karakter materi Ekosistem.
4. Menguji pengaruh penerapan LKS berbasis karakter materi Ekosistem
terhadap hasil belajar siswa.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain:
1. Tersedia model LKS yang dapat digunakan untuk penerapan keterampilan
berfikir tingkat tinggi di sekolah.
2. Sekolah dapat mendorong integrasi penanaman karakter dalam pembelajaran.
3. Sekolah dapat menyosialisasikan penggunaan LKS berbasis karakter sebagai
salah satu bahan ajar untuk kelas VII.
4. Sekolah dapat menggandakan dan guru dapat menggunakan LKS berbasis
karakter sebagai salah satu bahan ajar di tahun berikutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Lembar Kerja Siswa Berbasis Karakter


Lembar kerja siswa dalam pembelajaran biologi sering merupakan bagian
integral dari model pembelajaran yang dipilih guru. LKS adalah lembaran-
lembaran berisi tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa (Prastowo 2011).
Definisi lain menyebutkan bahwa LKS adalah media yang di dalamnya terdapat
langkah-langkah yang harus dikerjakan siswa untuk mendukung proses
pembelajaran (Yildirim & Ozmen 2011). Jadi LKS adalah media pembelajaran
berupa lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan siswa dalam kajian dan tujuan
tertentu.
Menurut Prastowo (2011) ada empat poin tujuan penyusunan LKS, yaitu:
a. Menyajikan salah satu bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk
berinteraksi dengan materi yang diberikan.
b. Menyajikan tugas-tugas yang meningkatkan penguasaan peserta didik
terhadap materi yang diberikan.
c. Melatih kemandirian belajar peserta didik.
d. Memudahkan pendidik dalam memberikan tugas kepada peserta didik.
Pengembangan LKS yang baik harus memenuhi tiga aspek (Darmojo &
Kaligis 1992), yaitu:
a. Aspek Didaktik
Lembar kerja siswa sebagai sarana berlangsungnya proses belajar mengajar
harus memenuhi persyaratan didaktik yang berarti harus mengikuti asas-asas
belajar mengajar yang efektif, yaitu:
1. Memperhatikan adanya perbedaan individual, sehingga LKS yang baik adalah
LKS yang dapat digunakan oleh semua siswa.
2. Menekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep, sehingga LKS
berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi siswa untuk mencari tahu suatu konsep.
3. Memiliki variasi stimulus melalui melalui berbagai media dan kegiatan siswa
yang ada dalam LKS.
4. Dapat mengembangkan komunikasi sosial, moral, dan estetika pada siswa.

6
7

b. Aspek Konstruksi
Aspek konstruksi yaitu aspek yang berhubungan dengan penggunaan
bahasa, susunan kalimat, kosa kata, dan tingkat kesukaran. Aspek-aspek tersebut
harus dapat dimengerti oleh siswa. Aspek didaktik menuntut LKS untuk
memenuhi kriteria sebagai berikut: (1) Menggunakan bahasa yang sesuai dengan
tingkat kedewasaan siswa, (2) Menggunakan struktur kalimat yang jelas, (3)
Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, (4)
Menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka, (5) Tidak mengacu pada buku
sumber di luar keterbacaan siswa, (6) Menyediakan ruangan yang cukup untuk
memberi keleluasaan pada siswa untuk menulis maupun menggambar pada LKS,
(7) Menggunakan kalimat sederhana dan pendek, (8) Menggunakan lebih banyak
ilustrasi daripada kata-kata, (9) Memiliki tujuan belajar yang jelas dan manfaat
dari pelajaran tersebut sebagai sumber motivasi.
c. Aspek teknik
1. Tulisan dengan menggunakan huruf cetak, huruf tebal yang agak besar untuk
topik, dan perbandingan besar huruf dengan gambar harus serasi dan
seimbang.
2. Gambar yang digunakan dapat menyampaikan pesan secara efektif kepada
siswa.
3. Proporsi gambar dan tulisan seimbang.
Berdasarkan hal tersebut, LKS yang digunakan siswa harus disusun
sedemikian rupa sehingga dapat dikerjakan siswa dengan baik dan dapat
memotivasi belajar siswa. Hal lain yang perlu diperhatikan selain kriteria LKS
yang baik dari tiga aspek di atas, adalah:
1. Lembar kerja siswa tersebut harus sesuai kurikulum yang berlaku.
2. Mengutamakan materi-materi yang penting.
3. Menyesuaikan tingkat kematangan berpikir siswa.
4. Lembar kerja siswa tersebut harus dapat memotivasi siswa untuk belajar
mandiri.
Karakter adalah sifat desposisi seseorang yang terbentuk dari hasil
internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini serta digunakan sebagai landasan
cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak (Kemendikbud 2011; Stedje
8

2011). Menurut Berkowitz & Bier (2006) karakter adalah sebuah konsep
psikologis. Pendapat lain mengemukakan bahwa karakter adalah kumpulan sifat
seseorang dan bisa disebut sebagai watak yang relatif stabil untuk berpikir,
merasakan, dan bertindak dalam situasi tertentu (Webber 2006). Sementara itu,
menurut Ovadia & Steger (2010) karakter mengandung pengertian yang serupa
dengan kepribadian stabil yang ditunjukkan dalam pikiran, perasaan, dan sikap
pada setiap manusia. Jadi dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan konsep
psikologis yang terbentuk dari sifat desposisi seseorang yang relatif stabil
sehingga diyakini serta digunakan sebagai landasan cara pandang, berpikir,
bersikap, dan bertindak.
Karakter merupakan modal penting suatu bangsa untuk berkembang. Oleh
karena itu, pemerintah menginstruksikan dilaksanakannya implementasi karakter
di sekolah. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada
nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang
lain. Kemendikbud telah mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang bisa
dikembangkan di sekolah. Berikut ini merupakan beberapa karakter yang dapat
dikembangkan di satuan pendidikan.
Tabel 1 Contoh nilai yang terdefinisi Kemendikbud
No Nilai Deskripsi
1 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

2 Peduli Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah


Lingkungan kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki
kerusakan alam yang sudah terjadi.

3 Tanggungjawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas


dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap
diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan
budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber : Kemendikbud (2010a)

Lembar kerja siswa berbasis karakter merupakan LKS yang didesain untuk
mendukung pengembangan karakter siswa dengan cara memunculkan nilai-nilai
hidup yang diinginkan, sehingga daya pikir dan karakter siswa berkembang. LKS
9

berbasis karakter pada dasarnya sama dengan LKS yang lain, baik struktur
maupun komponen di dalamnya. Oleh karena itu, dalam penyusunannya tetap
mengikuti panduan pembuatan LKS secara umum kemudian dimodifikasi
sehingga sesuai dengan tujuan pembuatan LKS berbasis karakter.

B. Kajian Keterkaitan LKS Berbasis Karakter dengan Hasil Belajar


Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan LKS efektif untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. Pada penelitian Ozmen & Yildirim (2005)
menyatakan bahwa ada perbedaan signifikan antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol mengenai efektivitas LKS yang dikembangkan menurut teori
kontruktivisme sebesar (sig. 7,67 > 0,05). Menurut hasil penelitian Celikler (2010)
penggunaan LKS meningkatkan hasil belajar secara signifikan (sig. 27,5 > 0,05 )
sehingga pada penelitian ini disimpulkan bahwa LKS dapat meningkatkan
partisipasi dan prestasi belajar. Penelitian lain (Yildirim et al. 2011) menunjukkan
bahwa penggunaan LKS lebih efektif dibandingkan dengan proses pembelajaran
biasa karena penggunaan LKS menyebabkan siswa berpartisipasi aktif dalam
aktivitas pembelajaran. Hasil penelitian (Benninga et al. 2003) menunjukkan
bahwa siswa di sekolah yang telah menerapkan pendidikan karakter memiliki skor
akademik yang lebih tinggi. Selain itu, penggunaan LKS dalam jangka waktu
yang lama dalam berbagai materi, efektif mempengaruhi aspek afektif siswa.

C. Materi Ekosistem
Materi Ekosistem merupakan materi yang diajarkan SMP kelas VII semester
dua dengan standar kompetensi memahami saling ketergantungan dalam
ekosistem. Kompetensi dasar yang harus dicapai yaitu:
1. Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem.
2. Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian
ekosistem.
3. Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan.
4. Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk
mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.
10

D. Kerangka Berpikir
Penelitian ini disusun berdasarkan kerangka berpikir yang dituliskan dalam
Gambar 1.

Penelitian Ozmen & Yildirim (2005) terdapat perbedaan signifikan antara


kelas eksperimen dan kelas kontrol mengenai efektivitas LKS

LKS pada kelas eksperimen meningkat signifikan dibandingkan dengan kelas


kontrol, sehingga disimpulkan bahwa LKS dapat meningkatkan partisipasi
dan prestasi belajar (Celikler 2010)

Penelitian Yildirim et al. (2011) menunjukkan bahwa penggunaan LKS lebih


efektif dibandingkan dengan proses pembelajaran biasa karena penggunaan
LKS menyebabkan siswa berpartisipasi aktif dalam aktivitas pembelajaran.

Hasil penelitian Benninga et al. (2003) menunjukkan bahwa siswa di sekolah


yang telah menerapkan pendidikan karakter memiliki skor akademik yang
lebih tinggi.

Potensi dan masalah


1. Lingkungan sekolah mendukung materi
Ekosistem
2. Guru menggunakan LKS sebagai salah satu
bahan ajar
3. Guru belum menggunakan LKS berbasis
karakter

Pengembangan LKS berbasis karakter


sebagai salah satu bahan ajar

Validasi pakar
Uji coba skala terbatas
Uji coba pemakaian

Berpengaruh signifikan
terhadap hasil belajar

Gambar 1 Kerangka berpikir penelitian


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian


Uji coba produk dilakukan di SMP Negeri 1 Kertek yang terletak di desa
Karangluhur, kecamatan Kertek, kabupaten Wonosobo kodepos 56371 telepon
(0286) 329157. Sekolah tersebut memiliki fasilitas yang menunjang pembelajaran
biologi, seperti halaman dan lingkungan sekolah yang memadai untuk
mengembangkan karakter peduli lingkungan. Penelitian pengembangan LKS
berbasis karakter materi Ekosistem untuk siswa kelas VII dilaksanakan pada
semester genap tahun ajaran 2012/2013. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan
pada bulan Januari 2012 Januari 2013 (Tabel 2).
Tabel 2 Waktu pelaksanaan penelitian

No Waktu Penelitian Pelaksanaan Penelitian


1. Januari 2012 Observasi (identifikasi masalah) di SMP Negeri 1
Kertek
2. Januari-Juli 2012 Pembuatan proposal penelitian
3. Februari-April 2012 Pembuatan rancangan LKS
4. Mei-Juli 2012 Pelaksanaan validasi LKS berbasis karakter
5. September 2012 Pemberian angket kepada guru
Pelaksanaan uji coba skala terbatas
6. September-Oktober Pelaksanaan uji coba pemakaian dan pemberian
2012 angket pada siswa
7. Oktober-November Pengolahan data penelitian
2012
8. November 2012 Penyusunan laporan penelitian
Januari 2013

B. Populasi dan Sampel


Populasi tahap uji coba produk adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri
1 Kertek yang berjumlah 202 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan
teknik convenience sampling. Penggunaan teknik ini dikarenakan peneliti tidak
mempunyai kewenangan untuk menentukan sampel, dengan asumsi bahwa kedua
kelas yang akan digunakan dalam penelitian merupakan kelas yang homogen.
Faktor-faktor luar yang tidak dikendalikan dalam penelitian dianggap tidak
mempengaruhi hasil penelitian (Ary 2006). Langkah penarikan sampel dalam
penelitian ini dipilih berdasarkan rekomendasi guru IPA Biologi kelas VII SMP

11
12

Negeri 1 Kertek yaitu 30 siswa kelas VII C sebagai kelompok eksperimen dan 28
siswa kelas VII D sebagai kelompok kontrol.

C. Variabel Penelitian
Variabel pada penelitian ini adalah:
1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah skor aktivitas siswa pada LKS
berbasis karakter.
2. Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar. Hasil belajar terdiri
dari aspek kognitif berupa skor post-test dan aspek afektif berupa perolehan skor
afektif.

D. Rancangan Penelitian
Uji coba produk dilakukan melalui dua tahap, yaitu uji coba skala terbatas
(tahap pertama) dan uji coba produk pemakaian (tahap kedua). Kedua tahap uji
coba tersebut, dilakukan diluar kelas eksperimen dan kontrol yang diampu oleh
guru yang sama. Guru sebagai variabel luar pada penelitian ini tidak
mempengaruhi hasil uji coba produk.
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and
Development). Penelitian pengembangan merupakan metode penelitian yang
digunakan untuk menghasilkan dan menguji keefektifan produk (Sugiyono 2010).
Model pengembangan dalam penelitian ini merupakan model prosedural yaitu
menyebutkan langkah-langkah untuk menghasilkan produk.
Penelitian pengembangan (R&D) dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu, tahap
research, development, dan field-testing. Tahap research yaitu tahap melakukan
analisis kebutuhan yang digunakan untuk melihat kebutuhan produk yang
dibutuhkan. Tahap development merupakan tahap pembuatan produk yang
dibutuhkan berdasarkan research di lapangan. Tahap field-testing menggunakan
desain penelitian eksperimen yang digunakan untuk menguji pengaruh produk
terhadap sasaran penelitian.
13

Tahap penelitian awal (research) merupakan tahap identifikasi potensi dan


masalah yang diperoleh dari hasil observasi. Observasi dilaksanakan di SMP
Negeri 1 Kertek pada Januari 2012. Potensi dan masalah yang terdapat di SMP
Negeri 1 Kertek adalah guru belum pernah menggunakan LKS berbasis karakter
dalam proses pembelajaran. Gambar berikut ini adalah langkah-langkah penelitian
yang digunakan dalam pengembangan LKS berbasis karakter (Sugiyono 2010).

Potensi dan Pengumpulan Data Desain LKS


Masalah berbasis karakter

Uji coba skala kecil Revisi LKS Validasi LKS


berbasis karakter berbasis karakter

Revisi LKS Uji coba skala Revisi LKS


berbasis karakter besar LKS berbasis karakter
berbasis karakter

LKS berbasis karakter

Gambar 2 Langkah-langkah penelitian R&D

Tahap pengembangan dilakukan pengembangan LKS berbasis karakter dan


pengembangan instrumen. Tahap pengembangan LKS berbasis karakter adalah
sebagai berikut:
1. Pengumpulan data
Tahap ini dilakukan dengan menganalisis standar kompetensi, kompetensi
dasar, dan indikator pencapaian materi Ekosistem. Penyusunan LKS berbasis
karakter disesuaikan dengan SK dan KD sehingga mendukung pengembangan
karakter siswa.
14

2. Desain produk
Tahap ini produk berupa LKS berbasis karakter, dirancang dan disesuaikan
dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, serta indikator pencapaian materi
Ekosistem. Komponen LKS mencakup enam bagian, sebagai berikut: (1) Halaman
judul LKS, (2) Karakteristik LKS, (3) KD, (4) Indikator, (5) Tujuan pembelajaran,
(6) Rincian Tugas. LKS berbasis karakter dalam penelitian ini mempunyai
delapan tugas (kegiatan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8) yang mengarahkan siswa
menganalisis, menemukan konsep, dan menanamkan karakter peduli lingkungan.
Setiap kegiatan pada LKS berbasis karakter mengacu pada empat tingkatan
pencapaian pendidikan lingkungan (Dimopoulos et al. 2009). Tingkatan tersebut
yaitu:
1. Ecological Foundation Level (pengetahuan dasar mengenai lingkungan).
2. Conceptual Awareness Level (menganalisis isu-isu di lingkungan).
3. Investigation and Evaluation (menelusuri dan mengevaluasi masalah
lingkungan, serta menganalisis solusi untuk mengatasi masalah tersebut).
4. Environmental Action Skills Level (mengaplikasikan pengetahuan untuk
mengatasi permasalahan lingkungan).

3. Validasi desain oleh pakar dan guru


LKS berbasis karakter yang telah dibuat oleh peneliti divalidasi oleh pakar.
Pakar dalam penelitian ini adalah Drs. Bambang Priyono, M.Si. selaku pakar
materi, Ir. Tyas Agung Pribadi, M.Sc.St. selaku pakar media yang keduanya
merupakan dosen jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang dan Dian
Puji Lestari, S.Pt. selaku guru IPA Biologi SMP Negeri 1 Kertek. Komponen
yang dinilai dalam LKS berbasis karakter meliputi komponen aspek didaktik,
aspek konstruktif, dan aspek teknik. Hasil penilaian validator untuk memperbaiki
kekurangan LKS berbasis karakter yang dihasilkan layak digunakan dalam
pembelajaran materi Ekosistem.
15

4. Revisi desain
Revisi desain dilakukan berdasarkan hasil validasi desain oleh pakar. Hasil
validasi berupa saran-saran dari pakar pada proses validasi produk. Hasil validasi
menunjukkan bahwa LKS berbasis karakter perlu diperbaiki supaya menjadi lebih
baik. Langkah selanjutnya yaitu penyusunan instrumen pembelajaran meliputi
silabus dan Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan materi
Ekosistem pada kelas VII semester genap. Penelitian ini mengambil standar
kompetensi 7 yaitu memahami saling ketergantungan dalam ekosistem. Peneliti
membuat silabus dan RPP untuk kelompok eksperimen dengan beberapa tahap:
1) Menentukan KD yang digunakan yaitu KD 7.1 Menentukan ekosistem dan
saling hubungan antara komponen ekosistem, KD 7.2 Mengidentifikasi
pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem, 7.3
Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan, 7.4
Mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk
mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.
2) Menggunakan berbagai buku sebagai sumber materi pelajaran biologi dan
LKS berbasis karakter.
3) Merancang silabus menggunakan LKS berbasis karakter.
4) Menyusun RPP yang disesuaikan dengan silabus tersebut.
Tahap selanjutnya LKS diujicobakan melalui eksperimen. Tahap eksperimen
dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh LKS berbasis karakter terhadap hasil
belajar.
E. Prosedur Penelitian
Uji coba produk untuk mengetahui kelayakan LKS berbasis karakter
dilakukan dalam dua tahap yaitu uji coba skala terbatas dan uji coba pemakaian.
Pengujian pemakaian produk menggunakan desain penelitian quasi experimental
design dengan bentuk pre-test post-test nonequivalent control group design
(Tabel 3).
Tabel 3 Desain penelitian pre-test post-test nonequivalent control group design
Pre-test (Y1 ) No treatment Post-test (Y2)
Select Control Group
Select Experimental Group Pre-test (Y1 ) Treatment Post-test (Y2)
Sumber: Creswell 2008
16

Tahap uji coba skala terbatas, pengambilan sampel menggunakan teknik


convenience sampling. Guru merekomendasikan 10 siswa kelas VII untuk
menjadi sampel. Tahap ini dilakukan uji coba keterbacaan LKS berbasis karakter
yang dikembangkan Responden diberi kesempatan untuk membaca dan
mengamati LKS berbasis karakter. Responden diminta untuk mengisi instrumen
keterbacaan LKS berbasis karakter. Uji coba keterbacaan bertujuan
mengidentifikasi tingkat keterbacaaan kalimat dalam LKS tersebut.
Uji coba pemakaian terdapat subyek uji coba. Subyek uji coba merupakan
sampel yang diambil dari populasi untuk diteliti. Populasi adalah seluruh siswa
kelas VII SMP Negeri 1 Kertek. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas VII yang berjumlah 202 siswa. Jumlah sampel dalam penelitian ini
adalah 58 siswa yang terbagi dalam dua kelas.
Uji coba pemakaian dilakukan di SMP Negeri 1 Kertek dengan
pengambilan sampel menggunakan teknik convenience sampling. Tahap ini
dilakukan uji coba pemakaian LKS berbasis karakter yang dikembangkan dan
seluruh instrumen penelitian. Tahap ini bertujuan mengumpulkan data penelitian.
Uji coba pemakaian menggunakan dua kelas (kelas kontrol dan kelas eksperimen).
Langkah uji coba sebagai berikut:
a. Melaksanakan pre-test untuk mengidentifikasi kemampuan awal siswa.
b. Melaksanakan kegiatan pembelajaran.
c. Melakukan post-test untuk mengevaluasi hasil belajar siswa.
d. Mengambil data skala psikologis dan keterlaksanaan LKS berbasis karakter.
Hipotesis dalam penelitian ini muncul karena adanya uji coba produk yang
menggunakan penelitian kuantitatif. Hipotesis pada penelitian ini adalah skor
aktivitas siswa pada LKS berbasis karakter berpengaruh signifikan terhadap skor
post-test dan skor afektif.
17

F. Data dan Metode Pengumpulan Data


1. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Sumber data : pakar, guru, dan siswa
Jenis data : data kuantitatif dan data kualitatif
Data utama :
a. Model LKS yang selama ini telah digunakan.
b. Kualitas LKS berbasis karakter oleh pakar dan guru.
c. Keterbacaan LKS berbasis karakter oleh siswa.
d. Skor aktivitas siswa pada LKS berbasis karakter.
e. Hasil belajar berupa skor post-test dan skor afektif.
Cara pengambilan data :
1. Data mengenai model LKS yang digunakan didapat melalui angket yang diisi
oleh guru.
2. Data mengenai kualitas LKS oleh pakar diambil menggunakan lembar
validasi yang diisi oleh pakar dan guru.
3. Data mengenai keterbacaan LKS diambil menggunakan angket keterbacaan
yang diisi siswa.
4. Skor aktivitas siswa pada LKS berbasis karakter dari angket keterlaksanaan
yang diisi siswa.
5. Data mengenai hasil belajar diperoleh dari skor tes yang diambil dari skor
post-test pada materi Ekosistem.
6. Data mengenai hasil belajar diperoleh dari skor afektif yang diambil dari
skala psikologis pada materi Ekosistem.
2. Instrumen Pengumpulan Data
Teknik pengambilan data diperlukan untuk menjawab dan membuktikan
hipotesis yang telah ditetapkan dalam penelitian. Teknik pengambilan data ini
menggunakan instrumen penelitian. Instrumen penelitian merupakan sejumlah alat
yang digunakan untuk menjawab permasalahan dan hipotesis penelitian. Cara
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a. Data mengenai model bahan ajar yang diambil menggunakan angket kebutuhan
pengembangan LKS berbasis karakter dan diisi oleh guru. Angket tersebut
menggunakan teknik validasi muka oleh dosen pembimbing sebagai validator.
18

Angket berisi 30 item pertanyaan dengan bentuk jawaban semi terbuka. Urutan
penyusunan penulisan angket yaitu judul angket, pernyataan dari peneliti,
identitas responden, petunjuk pengisian, butir pertanyaan, dan jawaban.
Instrumen tersebut telah divalidasi secara benar oleh dosen pembimbing sesuai
dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Hasil validasi menunjukkan item-item
dalam angket tersebut valid dan mampu mengukur data mengenai model LKS
materi Ekosistem di SMP Negeri 1 Kertek.
b. Data mengenai kualitas LKS berbasis karakter oleh pakar diambil
menggunakan lembar validasi yang diisi oleh pakar dan guru. Instrumen
penilaian kelayakan LKS berbasis karakter menggunakan teknik validasi
konten oleh pakar desain, dan materi. Ketiga aspek tersebut, dikembangkan
menjadi 18 item pertanyaan dengan skala 1- 4 skor. Skor yang diperoleh dibuat
menjadi empat kriteria yaitu tidak setuju, kurang setuju, setuju, dan sangat
setuju. Urutan penyusunan penulisan instrumen tersebut yaitu judul instrumen,
pernyataan dari peneliti, identitas responden, petunjuk pengisian, kolom butir
pertanyaan dan jawaban, catatan tambahan, dan tanda tangan responden.
Instrumen tersebut telah divalidasi secara benar oleh dosen pembimbing sesuai
dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Hasil validasi menunjukkan bahwa item-
item dalam angket tersebut valid dan mampu mengukur data mengenai kualitas
LKS berbasis karakter.
c. Data mengenai keterbacaan LKS berbasis karakter oleh siswa diambil
menggunakan angket dan diisi oleh siswa. Instrumen penilaian keterbacaan
LKS berbasis karakter ini menggunakan teknik validasi muka oleh dosen
pembimbing sebagai validator. Instrumen berisi 13 item pertanyaan dengan
jawaban ya dan tidak. Urutan penyusunan penulisan instrumen tersebut yaitu
judul instrumen, pernyataan dari peneliti, identitas responden, petunjuk
pengisian, kolom butir pertanyaan dan jawaban, serta tanda tangan dan nama
terang responden. Instrumen tersebut telah divalidasi secara benar oleh dosen
pembimbing sesuai dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Hasil validasi
menunjukkan bahwa item-item dalam angket tersebut valid dan mampu
mengukur data mengenai keterbacaan LKS berbasis karakter.
19

d. Data mengenai skor aktivitas pada LKS berbasis karakter yang diselesaikan
oleh diperoleh menggunakan angket yang diisi oleh siswa. Lembar angket ini
menggunakan teknik validasi muka oleh dosen pembimbing sebagai validator.
Urutan penyusunan dimulai dari judul, pernyataan dari peneliti, identitas
responden, petunjuk pengisian, pernyataan sampai tanda tangan responden.
Instrumen tersebut telah divalidasi secara benar oleh dosen pembimbing
dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Hasil validasi menunjukkan bahwa item-
item dalam angket tersebut valid dan mampu mengukur data mengenai skor
aktivitas siswa pada pembelajaran menggunakan LKS berbasis karakter.
e. Data mengenai hasil belajar siswa pada materi Ekosistem diperoleh dari skor
post-test.
Uji coba soal dilaksanakan di kelas VII B dengan siswa sebanyak 28 orang.
Uji coba soal ini digunakan untuk menghitung validitas, reliabilitas, tingkat
kesukaran, dan daya pembeda pada soal.
1) Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan
suatu instumen. Validitas tes pilihan ganda didapatkan dengan menggunakan
rumus korelasi product moment (Arikunto 2006):
N XY ( X )(Y )
rxy
N X 2

( X 2 N Y 2 Y
2

Keterangan:
rxy : koefisien antara variabel X dan variabel Y
X : skor butir
Y : skor total
N : jumlah subjek
Perolehan harga rxy kemudian dikonsultasikan dengan r product moment
dengan taraf = 5 %, jika rxy > r tabel maka soal dikatakan valid. Tabel berikut
ini merupakan hasil analisis validitas soal ujicoba.
Tabel 4 Hasil analisis validitas butir soal uji coba materi Ekosistem*
Kriteria
Jumlah Nomor soal
validitas soal
2,3,4,5,7,8,9,12,13,16,18,19,20,22,24,25,26,29,30,31,33,34,
Valid 35
35,37,38,39,40,41,42,44,46,47,49,50
Tidak valid 15 1,6,10,11,14,15,21,23,27,28,32,36,43,45,48
*Data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 6 halaman 85
20

2) Reliabilitas
Reliabilitas adalah ukuran yang menunjukkan konsistensi suatu instrumen
(Ary 2006). Penghitungan reliabilitas skor tes bertujuan untuk mengetahui tingkat
ketepatan dan keajegan skor tes (Arikunto 2009). Penelitian ini reliabilitas diukur
dengan menggunakan rumus K-R 21.
Rumus tersebut adalah (Arikunto 2006):

k M (k M )
r11 = 1
k 1 kVt
Keterangan:
r11 : reliabilitas instrument
k : banyaknya butir soal
M : skor rata-rata
Vt = S2 : varians total
Kriteria reliabilitas soal adalah sebagai berikut.
0,800 1,000 = sangat tinggi
0,600 0,799 = tinggi
0,400 0,599 = cukup
0,200 0,399 = rendah
< 0,200 = sangat rendah (Arikunto 2009)
Perolehan r11 dibandingkan dengan harga r tabel. Apabila r11 > rtabel maka
instrumen tersebut dikatakan reliabel. Perhitungan dilakukan menggunakan
bantuan Microsoft excel 2007. Data yang dihasilkan sebesar r = 0,807 dengan rtabel
= 0,304. Hasil analisis reliabilitas soal menunjukkan bahwa soal tes bentuk pilihan
ganda bersifat reliabel.
3) Tingkat Kesukaran
Soal yang baik merupakan soal yang tidak terlalu sukar atau tidak terlalu
mudah. Indeks kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau
mudahnya suatu soal. Indeks kesukaran diberi simbol P (proporsi). Besar indeks
kesukaran antara 0,00 sampai 1,00. Indeks ini menunjukkan taraf kesukaran soal.
21

Kriteria tingkat kesukaran instrument uji coba soal sebagai berikut:


Tabel 5 Kriteria tingkat kesukaran instrumen soal uji coba

Interval Indeks Kesukaran Kriteria


0,00 0,30 Sukar
0,31 0,70 Sedang
0,71 1,00 Mudah
Sumber: Arikunto 2009

Rumus mencari P yaitu:


B
P
JS
Keterangan:
P = tingkat kesukaran
B = jumlah siswa menjawab benar butir soal
JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
Perhitungan dilakukan menggunakan bantuan Microsoft excel 2007. Tabel
berikut ini merupakan hasil analisis tingkat kesukaran soal uji coba materi
Ekosistem.
Tabel 6 Hasil analisis tingkat kesukaran uji coba materi Ekosistem*

Kriteria tingkat Jumlah Nomor Soal


kesukaran soal
Sukar 11 2,7,8,12,20,30,37,38,39,42,46
23 3,4,5,10,11,14,15,16,21,23,26,27,28,29,31,33,35,36,41,4
Sedang
5,47,48
Mudah 16 1,6,9,13,17,18,19,22,24,32,34,40,43,44,49,50
*Data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 6 halaman 85

4) Daya Pembeda
Daya pembeda soal merupakan kemampuan butir soal dalam
mengidentifikasi siswa yang telah menguasai materi dan belum menguasai materi.
Angka yang menunjukkan besar daya pembeda adalah indeks diskriminasi (DP).
22

Tabel berikut ini merupakan kriteria daya pembeda soal.


Tabel 7 Kriteria daya pembeda instrumen soal uji coba

Interval Daya Pembeda Kriteria


0,00 0,20 Jelek
0,21 0,40 Cukup
0,41 0,70 Baik
0,71 1,00 Sangat baik
Sumber: Arikunto 2009
Rumus mencari indeks diskriminasi (DP) yaitu:
BA BB
DP
JA JB
(Arikunto 2009)
Keterangan:
DP = daya pembeda soal
BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar
BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar
JA = banyaknya peserta kelas atas
JB = banyaknya peserta kelas bawah
Perhitungan daya pembeda soal uji coba dilakukan dengan bantuan Microsoft
excel 2007. Tabel berikut ini merupakan hasil analisis daya pembeda soal uji
coba.
Tabel 8 Hasil analisis daya pembeda soal uji coba materi Ekosistem*

Kriteria tingkat Jumlah Nomor Soal


kesukaran soal
Jelek 1, 6, 9, 10, 11, 14, 15, 21, 22, 23, 27, 28, 32, 36, 43,
16
45, 48
Cukup 18 2, 3, 8, 13,17, 18, 19, 20, 24, 25, 26, 31, 33, 34, 35,
37, 39, 40, 44, 46, 50
Baik 11 4, 5, 7, 12, 16, 29, 30, 38, 41, 42, 47, 49
Sangat baik - -
*Data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 6 halaman 85

f. Data mengenai karakter siswa diambil menggunakan kuesioner yang diisi oleh
siswa. Kuesioner ini menggunakan teknik validasi muka oleh dosen pembimbing
sebagai validator. Kuesioner berupa skala psikologis peduli lingkungan. Skala
psikologis berisi 30 butir pertanyaan dengan bentuk jawaban TP (Tidak Pernah),
JR (Jarang), KD (Kadang-kadang), SR (Sering), dan SL (Selalu). Urutan
23

penyusunan angket tersebut yaitu judul angket, pernyataan dari peneliti, identitas
responden, petunjuk pengisian, butir pertanyaan dan jawaban serta lembar saran
responden. Instrumen tersebut telah divalidasi secara benar oleh dosen
pembimbing dengan kisi-kisi yang telah dibuat. Hasil validasi menunjukkan
bahwa item-item dalam kuesioner tersebut valid dan mampu mengukur data
mengenai karakter peduli lingkungan siswa. Tabel berikut ini merupakan data
mengenai instrumen penelitian yang digunakan.
Tabel 9 Validitas dan reliabilitas instrumen

No Tahap Informasi yang Instrumen Teknik validasi


diambil
1 Research Kebutuhan LKS Angket Face validity oleh
berbasis karakter di validator
SMP Negeri 1 Kertek
2 Development Kualitas media Angket Content validity oleh
Pembelajaran oleh pakar desain dan materi
pakar dan guru
3 Keterlaksanaan Angket Face validity oleh
Experiment
aktivitas siswa validator
4 Hasil belajar siswa Soal post-test Validasi melalui uji
coba:
Validitas (Product
moment oleh Pearson)
Reliabilitas (Kuder-
Richardson 21)
Daya Beda
Tingkat Kesukaran
Skala Face validity oleh
psikologis validator

G. Metode Analisis Data


Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
a. Data mengenai model bahan ajar materi Ekosistem kelas VII SMP Negeri 1
Kertek.
Data mengenai model bahan ajar materi Ekosistem kelas VII SMP Negeri 1
Kertek diambil menggunakan angket kebutuhan pengembangan LKS berbasis
karakter materi Ekosistem dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Penelitian ini angket yang menggunakan berisi 30 butir pertanyaan dengan bentuk
jawaban semiterbuka. Data yang diperoleh akan dibuat dalam bentuk tabel dan
dianalisis secara deskriptif.
24

b. Data mengenai kualitas LKS berbasis karakter oleh pakar


Data mengenai kualitas LKS berbasis karakter oleh pakar dianalisis
menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Penelitian ini instrumen validasi pakar
yang digunakan berisi jawaban dengan empat skor jawaban yaitu 1, 2, 3, dan 4.
Jumlah butir pertanyaan sebanyak 18 butir. Rentang skor yang diperoleh yaitu 18
72 dengan skor minimal 18 dan skor maksimal 72. Penentuan panjang interval
dengan skor maksimal (72) dikurangi skor minimal (18) didapatkan 54. Skor 54
dibagi dalam tiga kategori, dikonversi dan disajikan sebagai berikut (Azwar
2012):
X < 36 = Tidak Layak
36 X < 54 = Cukup Layak
54 X = Layak
c. Data mengenai keterbacaan LKS berbasis karakter oleh siswa
Data mengenai keterbacaan LKS berbasis karakter oleh siswa dianalisis
dengan teknik deskriptif kuantitatif. Penelitian menggunakan angket berbentuk
kuesioner yang berisi 13 item pernyataan dengan alternatif jawaban ya dan tidak.
Jawaban ya memiliki skor 1 dan jawaban tidak memiliki skor 0. Data yang
diperoleh dibuat dalam bentuk tabel yang diisi secara klasikal. Skor maksimal
yang dapat diperoleh yaitu 13 item jawaban ya (skor 1) dikali 10 siswa didapatkan
skor 130. Skor minimal yang dapat diperoleh yaitu 13 item jawaban tidak (skor 0)
dikali 10 siswa didapatkan skor 0. Secara klasikal skor yang diperoleh memiliki
rentang 0-130 dengan skor minimal 0 dan skor maksimal 130. Penentuan panjang
interval dengan skor maksimal (100) dibagi dalam tiga kategori sehingga
diperoleh kriteria sebagai berikut (Azwar 2012):
X < 43 = Rendah
43 X < 87 = Sedang
87 X = Tinggi
d. Data mengenai skor aktivitas pada LKS berbasis karakter.
Data mengenai skor aktivitas pada LKS berbasis karakter diisi oleh siswa
dan dianalisis dengan teknik deskriptif kuantitatif. Kuesioner mempunyai
alternatif jawaban yaitu jawaban ya (skor 1) dan jawaban tidak (skor 0).
25

Rentangan skor yang diperoleh yaitu 0-40 dengan skor minimal 0 dan skor
maksimal 40.
Penentuan skor dengan tiga kriteria sebagai berikut (Azwar 2012):
X < 13 = Rendah
13 X < 27 = Sedang
27 X = Tinggi
e. Data mengenai skor pre-test pada materi Ekosistem
Data mengenai skor pre-test diperoleh dari 35 soal pilihan pada materi
Ekosistem. Data dianalisis menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas.
1) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui data hasil belajar pada kelas
eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis yang diuji
adalah:
H0 : data berasal dari populasi yang berdistribusi normal
Ha : data tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal
Uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai Sig. adalah 0,059 = 5,9% > 5%
(Tabel 10). Hasil tersebut menunjukkan bahwa H0 diterima, Ha ditolak. Jadi skor
pre-test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal.

Tabel 10 Hasil uji normalitas skor pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol*

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.


Pre-test .114 58 .059 .949 58 .016
a. Lilliefors Significance Correction
*Data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 22 halaman 135

2) Uji Homogenitas (Uji Kesamaan Dua Varian)


Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol mempunyai varians yang homogen atau tidak. Hasil analisis uji
homogenitas menggunakan aplikasi SPSS. Hipotesis yang diuji yaitu:
H0 : Variansi pada tiap kelompok sama (homogen)
Ha : Variansi pada tiap kelompok tidak sama (tidak homogen)
26

Uji homogenitas menunjukkan nilai Sig. adalah 0,079 = 7,9% > 5% (Tabel
11). Hasil tersebut menunjukkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak. Jadi skor pre-
test pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol homogen.
Tabel 11 Hasil uji homogenitas skor pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol*

Levene Statistic df1 df2 Sig.


3.198 1 56 .079
*Data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 23 halaman 137
f. Data mengenai skor afektif siswa
Data mengenai skor afektif siswa diambil menggunakan kuesioner yang diisi
oleh siswa. Kuesioner berupa skala psikologis peduli lingkungan. Skala psikologis
berisi 30 butir pertanyaan dengan bentuk jawaban TP (Tidak Pernah), JR (Jarang),
KD (Kadang-kadang), SR (Sering), dan SL (Selalu). Rentang skor berkisar antara
30-150, sehingga kriteria skor afektif sebagai berikut:
X < 70 = rendah
70 X < 110 = sedang
110 X = tinggi
g. Uji Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah skor aktivitas siswa dalam pembelajaran
menggunakan LKS berbasis karakter berpengaruh signifikan terhadap skor post-
test dan skor afektif siswa. Data yang didapat berupa data dari variabel bebas
mengenai skor aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan LKS berbasis
karakter. Jenis data ini merupakan jenis data nominal. Data dari variabel terikat
mengenai hasil balajar berupa skor post-test yang merupakan jenis data rasio dan
skor afektif merupakan jenis data ordinal. Data variabel bebas pada penelitian ini
merupakan jenis data interval dan variabel terikat merupakan jenis data rasio dan
data ordinal. Oleh karena itu, untuk menguji pengaruh dari variabel bebas
terhadap variabel terikat dan membandingkan antara kelas kontrol dan kelas
eksperimen digunakan analisis data dengan uji regresi.
27

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dengan teknik analisis yang
berbeda. Teknik analisis data disesuaikan dengan jenis data yang diperoleh dan
tujuannya (Tabel 12).
Tabel 12 Data dan teknik analisis data

No Data Jenis Data Teknik Analisis


1 Model Lembar Kerja Siswa yang Nominal Deskriptif kualitatif
digunakan di SMP Negeri 1 Kertek
2 Kualitas media pembelajaran oleh Interval Deskriptif kuantitatif
pakar dan guru
3 Skor Pre-test Ratio Uji normalitas
Uji homogenitas
4 Penilaian Afektif Interval Deskriptif kuantitatif

5 Penilaian aktivitas siswa Nominal Deskriptif kuantitatif

7 Uji hipotesis Ratio Uji Regresi


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Model LKS yang digunakan di SMP Negeri 1 Kertek pada materi
Ekosistem
Data mengenai model LKS di SMP Negeri 1 Kertek diambil menggunakan
angket kebutuhan pengembangan yang telah diisi guru. Hasil pengisian angket
menunjukkan bahwa guru belum pernah mengetahui, membuat, dan menerapkan
LKS berbasis karakter (Lampiran 8).

Tabel 13 Model LKS yang digunakan guru dalam pembelajaran materi


Ekosistem*

No Komponen Kesesuaian dengan LKS Keterangan Berbasis


berbasis karakter karakter
1 Uraian materi Tidak Digunakan Tidak
2 Pertanyaan Sesuai Digunakan Tidak
3 Tugas Sesuai Digunakan Tidak
4 Pengamatan Sesuai Digunakan Tidak
*Hasil selengkapnya terdapat pada Lampiran 8 Halaman 93
Keterangan:
Responden = Dian Puji Lestari , S. Pt.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model LKS yang digunakan
mempunyai komponen berupa uraian materi, pertanyaan, penugasan, dan
pengamatan. Komponen tersebut menuntun siswa untuk memahami konsep, tetapi
komponen penyusun LKS tersebut belum mengarah pada penanaman karakter
(Tabel 13).
2. Analisis kebutuhan pengembangan LKS berbasis karakter
Hasil penelitian mengenai perlunya pengembangan LKS berbasis karakter
diperoleh melalui angket kebutuhan pengembangan kepada guru mata pelajaran
IPA biologi kelas VII. Hasil pengisian angket menunjukkan bahwa guru IPA
biologi memberikan tanggapan yang positif mengenai adanya LKS berbasis
karakter (Lampiran 8). Guru tertarik dengan tugas-tugas dalam LKS berbasis
karakter. Selama ini belum pernah dilakukan pembelajaran ekosistem
menggunakan LKS berbasis karakter. Menurut guru, tugas dalam LKS berbasis
karakter dapat menarik karena terdapat berbagai tugas yang melibatkan rasa ingin

28
29

tahu dan kreativitas siswa. LKS berbasis karakter merupakan LKS yang menarik
dan dapat diterapkan dalam pembelajaran materi Ekosistem. LKS berbasis
karakter melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dalam
mengerjakan tugas yang ada dalam LKS tersebut. Keterlibatan tersebut
dikarenakan tugas dalam LKS berbasis karakter menuntun siswa untuk berpikir
kritis, kreatif, rasa ingin tahu, gemar membaca, dan mengamati lingkungan
sekitar, sehingga muncul rasa peduli terhadap lingkungan.

3. Pengembangan dan pembuatan LKS berbasis karakter


Lembar kerja siswa adalah media pembelajaran berupa lembaran yang berisi
tugas yang harus dikerjakan siswa dalam kajian dan tujuan tertentu untuk
mendukung proses pembelajaran. Pengembangan LKS berbasis karakter dibuat
dan dikembangkan pada bulan Maret-Agustus 2012.
Rancangan LKS berbasis karakter kemudian mendapatkan validasi, kritik
serta saran dari pakar media, materi, dan guru IPA biologi. Validator menilai dari
3 aspek, yaitu aspek didaktik, aspek kontruksi, dan aspek teknik . Hasil validasi
menunjukkan bahwa validator memberikan skor 57, 65, dan 68 dengan kriteria
layak (Gambar 3).

70 68
65

60
57

50
V1 V2 V3

Gambar 3 Skor penilaian LKS berbasis karakter oleh pakar


Keterangan:
V1 : Drs. Bambang Priyono, M. Si.
V2 : Ir. Tyas Agung Pribadi, M. Sc.St.
V3 : Dian Puji Lestari, S. Pt.
30

Tabel berikut merupakan rincian skor penilaian kelayakan LKS berbasis


karakter oleh ketiga pakar yang diambil menggunakan angket validasi LKS
berbasis karakter.
Tabel 14 Rincian penilaian kelayakan LKS berbasis karakter oleh pakar*

No Kriteria Skor Jumlah


V1 V2 V3
Aspek Didaktik
1 Menerapkan proses inkuiri 3 3 4 10
2 Menerapkan proses berpikir ilmiah 3 4 4 11
3 Memiliki variasi stimulus melalui kegiatan 3 4 4 11
siswa
4 Memungkinkan siswa untuk memunculkan 3 4 4 11
karakter sesuai dengan tujuan pembelajaran
5 Menuntun siswa gemar membaca 4 4 4 12
6 Menuntun siswa untuk berkreasi 3 4 4 10
64
Aspek Konstruksi
7 Menggunakan struktur kalimat yang jelas 3 3 3 9
8 Menggunaan bahasa yang mudah dipahami 3 3 3 9
siswa
9 Susunan materi tersaji secara urut 3 3 3 9
10 Menggunaan ilustrasi/gambar yang sesuai 3 4 4 11
dengan materi
11 Pertanyaan yang ditampilkan tidak terlalu 3 4 4 11
terbuka
12 Terdapat ruangan yang cukup untuk memberi 3 4 3 11
keleluasaan pada siswa untuk menulis ataupun
menggambar
13 Memiliki tujuan belajar yang jelas 3 3 4 10
71
Aspek Teknik
14 Proporsi antara tulisan dan gambar seimbang 3 3 4 10
15 Gambar yang digunakan dapat menyampaikan 3 4 4 11
pesan secara efektif
16 Menggunakan komposisi ukuran dan jenis 3 4 4 11
huruf yang seimbang
17 Menggunakan kombinasi warna yang 3 4 4 11
seimbang
18 Menggunakan tata letak yang seimbang 3 3 4 10
53
Total 57 65 68 188
Keterangan Layak Layak Layak
*Hasil selengkapnya terdapat pada Lampiran 10 Halaman 98
31

Perolehan skor validitas menunjukkan bahwa LKS berbasis karakter layak


digunakan. Aspek didaktik, aspek konstruksi, dan aspek teknik mendapat poin
masing-masing 64, 71, dan 53. Jumlah keseluruhan perolehan skor mencapai 188.
Proses validasi ada beberapa bagian LKS berbasis karakter yang perlu direvisi.
Revisi terletak pada susunan komponen LKS berbasis karakter dan istilah yang
digunakan.
Revisi LKS berbasis karakter bagian satu terletak pada susunan LKS
berbasis karakter. Sebelum revisi susunan sebagai berikut: judul tugas, indikator,
gambar pendukung, keterangan gambar, pengantar, bagian: pikirkanlah, tugas
level I: pengetahuan. Sesudah direvisi susunan berubah menjadi judul tugas,
pengantar, tujuan, indikator, gambar pendukung, keterangan gambar, bagian:
Ayo kita pikirkan, tugas level I: Ayo kita mempelajari (Gambar 4). Susunan
berubah untuk memudahkan siswa dalam menggunakan LKS berbasis karakter.
Kata Pikirkanlah berubah menjadi frase Ayo kita pikirkan. Kata
Pengetahuan juga diubah menjadi frase Ayo kita mempelajari. Perubahan ini
terkait dengan pengunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Revisi LKS berbasis karakter bagian dua terletak pada penggunaan kata
kepedulian pada tugas level II. Kata kepedulian berubah menjadi frase Ayo kita
peduli (Gambar 5). Perubahan ini terkait dengan pengunaan Bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Perubahan pada LKS berbasis karakter bagian tiga terletak
pada penggunaan kata Investigasi pada tugas level III yang berubah menjadi
Ayo kita cari tahu (Gambar 6). Perubahan ini berdasarkan pengunaan Bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Revisi pada LKS berbasis karakter bagian empat
mengenai penggunaan kata Aksi menjadi Ayo kita lakukan (Gambar 7).
Perubahan ini terkait dengan pengunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
32

Berikut ini adalah gambar bagian LKS berbasis karakter yang direvisi:
Sebelum Revisi
Judul tugas
Indikator
Gambar
Pendukung
Keterangan
Gambar
Pengantar

Bagian:
Pikirkanlah

Level 1:
Pengetahuan

Setelah Revisi
Judul tugas

Pengantar

Tujuan

Indikator

Gambar
Pendukung

Keterangan
Gambar
Bagian:
Ayo Kita
Pikirkan

Gambar 4 Revisi LKS berbasis karakter bagian satu


33
Sebelum Revisi

Level II:
Kepedulian

Setelah Revisi

Level I:
Ayo Kita
Mempelajari

Gambar 5 Revisi LKS berbasis karakter bagian dua


Sebelum Revisi 34

Level III:
Investigasi

Setelah Revisi

Level II:
Ayo Kita Peduli

Level III:
Ayo Kita
Menyelidiki

Gambar 6 Revisi LKS berbasis karakter bagian tiga


Sebelum Revisi
35

Level IV:
Aksi

Setelah Revisi

Level IV:
Ayo Kita
Lakukan

Gambar 7 Revisi LKS berbasis karakter bagian empat


36

Lembar kerja siswa berbasis karakter yang telah direvisi kemudian


diujicobakan dengan skala yang kecil. Uji coba dilaksanakan pada 10 orang siswa
diluar kelas kontrol dan eksperimen sebagai responden, yaitu 10 orang dari siswa
kelas VII B. Uji coba dilakukan pada jam diluar jam pelajaran materi Ekosistem.
Penilaian diambil menggunakan angket dengan jumlah item sebanyak 13 butir,
dengan masing-masing butir memiliki skor 10. Hasil penilaian menunjukkan
bahwa secara klasikal rata-rata jawaban responden mencapai skor 105 dari skor
maksimal 130 (Gambar 8).
140
120 120
120 110 110 110 110
100 100 100
90
100
80
60
40
20
0
R01 R02 R03 R04 R05 R06 R07 R08 R09 R10

Gambar 8 Perolehan skor keterbacaan LKS berbasis karakter

Keterangan:
R = Responden
Hasil uji coba menunjukkan bahwa dua responden memberikan penilaian
yang positif terhadap keterbacaan LKS berbasis karakter dengan skor tertinggi
120 dan skor terendah adalah 90. Rata-rata skor perolehan hasil uji coba
keterbacaan LKS sebesar 107 dengan kategori tinggi.
Tingkat keterbacaan LKS berbasis karakter diambil melalui angket
keterbacaan. Angket tersebut dikembangkan berdasarkan kemudahan siswa dalam
membaca dan memahami LKS berbasis karakter. Data yang diperoleh
menunjukkan setiap item pernyataan memiliki skor yang tinggi (Tabel 15).
Perolehan skor yang tinggi menunjukkan LKS berbasis karakter mudah dibaca
dan dipahami oleh siswa.
37

Tabel 15 Rincian penilaian tingkat keterbacaan LKS berbasis karakter


No Item Skor
1 Pertanyaan dalam LKS berbasis karakter mudah dibaca 10
2 Pertanyaan dalam LKS berbasis karakter mudah dipahami 7
3 Petunjuk mengerjakan dapat dipahami dengan jelas 7
4 Keterangan gambar dapat dibaca dengan jelas 8
5 Keterangan gambar dapat dipahami dengan jelas 7
6 Langkah kerja pada kegiatan 1 jelas dan mudah dipahami 8
7 Langkah kerja pada kegiatan 2 jelas dan mudah dipahami 10
8 Langkah kerja pada kegiatan 3 jelas dan mudah dipahami 10
9 Langkah kerja pada kegiatan 4 jelas dan mudah dipahami 8
10 Langkah kerja pada kegiatan 5 jelas dan mudah dipahami 8
11 Langkah kerja pada kegiatan 6 jelas dan mudah dipahami 8
12 Langkah kerja pada kegiatan 7 jelas dan mudah dipahami 9
13 Langkah kerja pada kegiatan 8 jelas dan mudah dipahami 7
Total skor 107

4. Pengaruh LKS berbasis karakter terhadap hasil belajar


Lembar kerja siswa berbasis karakter yang telah direvisi berdasarkan uji
coba skala kecil. LKS berbasis karakter kemudian diuji pengaruhnya terhadap
hasil belajar. Pengujian dilakukan dengan metode quasi experiment di kelas VII C
sebagai kelas eksperimen. Tahap uji pemakaian LKS berbasis karakter
dilaksanakan pada 28 siswa sebagai kelompok kontrol dan 30 siswa sebagai
kelompok eksperimen di SMP Negeri 1 Kertek. Data yang diperoleh yaitu data
jumlah skor aktivitas dalam LKS berbasis karakter yang diselesaikan siswa dan
data hasil belajar siswa.
a. Hasil deskriptif
1) Jumlah skor aktivitas pada LKS berbasis karakter siswa dalam pembelajaran
Data ini diambil menggunakan angket skor aktivitas pada LKS berbasis
karakter terdiri dari 40 item yang mempunyai 2 kategori jawaban yaitu jawaban
ya (skor 1) dan tidak (skor 0). Rentang skor yang merupakan jenis data interval
kemudian dikonversikan menjadi jenis data ordinal dengan kriteria rendah,
sedang, dan tinggi.
Data jumlah skor aktivitas pada LKS berbasis karakter siswa diambil dari
angket yang diisi oleh siswa kelas eksperimen. Sebanyak 29 siswa aktivitas tinggi,
seorang siswa dalam kategori sedang, dan tidak ada siswa yang masuk dalam
kategori rendah. Gambar berikut ini merupakan skor aktivitas yang diperoleh
siswa selama menggunakan LKS berbasis karakter.
38

35
29
30
25
20
15
10
5 1 0
0
tinggi (27 X ) sedang (13X< 27) rendah (X<13)

Gambar 9 Skor aktivitas siswa pada LKS berbasis karakter

2) Hasil belajar siswa


a. Skor post-test
Hasil belajar siswa diambil dari skor post-test materi Ekosistem. Skor
maksimal post-test adalah 35. Hasil post-test antara kelas kontrol dan kelas
eksperimen menunjukkan adanya perbedaan (Tabel 16).

Tabel 16 Skor tes siswa pada materi Ekosistem


Nilai hasil belajar Nilai hasil belajar Delta hasil belajar awal-
Komponen awal akhir akhir
Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen
Rata-rata 20,21 20,46 23,85 27,53 7,07 3,64
Skor tertinggi 25 25 31 30 - -
Skor terendah 13 15 - -
*Data selengkapnya disajikan dalam Lampiran 21 halaman 134

Hasil skor tes siswa menunjukkan bahwa secara umum siswa kelas
eksperimen mempunyai hasil belajar yang tinggi dibandingkan kelas kontrol.
Hasil tersebut dapat diketahui dari tabel bahwa secara klasikal rata-rata nilai hasil
belajar kelas eksperimen mencapai 27,53 dan kelas kontrol mencapai 23,85 (Tabel
16).
b. Hasil skor afektif
Hasil skor afektif diambil menggunakan skala psikologi (peduli lingkungan)
siswa yang diambil pada akhir pertemuan. Data diambil terhadap 30 siswa di
kelas VII C sebagai kelas eksperimen.
39

Tabel 17 Skor afektif karakter peduli lingkungan*

No Skor skala psikologis Kategori Jumlah Siswa


1 110 X Tinggi 18
2 70 X < 110 Sedang 12
3 X < 70 Rendah -
Total 3468 30
Rata-rata 115.6 Tinggi
*Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 16 halaman 115

Hasil pengisian skala psikologis menunjukkan bahwa secara umum siswa


kelas eksperimen mempunyai karakter peduli lingkungan yang tinggi. Hasil ini
dapat diketahui dari tabel bahwa secara klasikal skor yang diperoleh mencapai
115,6 (Tabel 17).

b. Uji hipotesis pengaruh skor aktivitas siswa pada pembelajaran LKS


berbasis karakter terhadap hasil belajar

1) Hasil Uji Hipotesis: Pengaruh LKS berbasis karakter terhadap skor post-test
Uji hipotesis digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan LKS
berbasis karakter terhadap skor post-test siswa digunakan analisis uji regresi.
Hipotesis yang diajukan pada analisis uji regresi ini adalah:
H0 : data nilai skor post-test berdistribusi normal
Ha : data nilai skor post-test tidak berdistribusi normal
Pengujian hipotesis uji regresi harus memenuhi persyaratan data homogen
dan normal. Kondisi homogenitas dapat dilihat dari nilai kurtosis pada uji
kenormalan sebesar -1,1 dan kondisi normalitas ditunjukkan dari nilai skewness
sebesar -0,7. Nilai tersebut tidak jauh dari nol, sehingga diasumsikan bahwa data
cenderung homogen dan normal.
Tabel 18 Uji regresi pengaruh LKS berbasis karakter terhadap skor post-test*

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate


1 .848a .720 .710 1.508
*Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 28 halaman 142

Hasil R Square (R2) menunjukkan nilai sebesar 0,72 = 72%. Besarnya nilai
R Square menunjukkan bahwa penerapan LKS berbasis karakter dapat dijelaskan
40

oleh variabel hasil post-test sebesar 72%. Dengan kata lain penerapan LKS
berbasis karakter mempengaruhi hasil skor post-test sebesar 72% (Tabel 18).
2) Hasil Uji Hipotesis: Pengaruh LKS berbasis karakter terhadap skor afektif
Uji hipotesis digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan LKS
berbasis karakter terhadap skor afektif siswa digunakan analisis uji regresi.
Hipotesis yang diajukan pada analisis uji regresi ini adalah:
H0 : data skor afektif berdistribusi normal
Ha : data skor afektif tidak berdistribusi normal
Pengujian hipotesis uji regresi harus memenuhi persyaratan data homogen
dan normal. Kondisi homogenitas dapat dilihat dari nilai kurtosis pada uji
kenormalan sebesar -1,3 dan kondisi normalitas ditunjukkan dari nilai skewness
sebesar -0,072. Nilai tersebut tidak jauh dari nol, sehingga diasumsikan bahwa
data cenderung homogen dan normal.
Tabel 19 Uji regresi pengaruh LKS berbasis karakter terhadap skor afektif*

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate


1 .787a .620 .606 13.299
*Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 29 halaman 147

Hasil R Square (R2) menunjukkan nilai sebesar 0,620 = 62%. Besarnya nilai
R Square menunjukkan bahwa variabel penerapan LKS berbasis karakter dapat
dijelaskan oleh variabel afektif siswa sebesar 62% atau dengan kata lain
penerapan LKS berbasis karakter mempengaruhi karakter peduli lingkungan siswa
sebesar 62% (Tabel 19).
Hasil hipotesis diatas didukung oleh uji t untuk mengetahui perbedaan hasil
belajar siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan secara
signifikan. Hipotesis yang diajukan pada analisis uji beda ini adalah:
: Rata-rata nilai post-test tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada
kelompok kelas
: Rata-rata nilai post-test menunjukkan perbedaan yang signifikan pada
kelompok kelas
41

Pengujian uji beda dua sampel independen harus didahului dengan adanya
asumsi bahwa data kedua varian homogen. Hipotesis yang diuji adalah:
: Variansi pada tiap kelompok homogen
: Variansi pada tiap kelompok tidak homogen
Uji homogenitas dilihat dari hasil uji Levene menunjukkan bahwa harga F =
3.397 dengan signifikansi (P-value) 0.071 (Tabel 20). P-value lebih besar dari =
0,05 sehingga diterima dan ditolak yang berarti asumsi kedua varian
homogen diterima.
Tabel 20 Uji beda dua sampel independen dari hasil belajar kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen*

Std. 95% Confidence


Mean Error Interval of the
Sig. (2- Differen Differen Difference
F Sig. t Df tailed) ce ce Lower Upper
skor post- Equal
test variances 3.397 .071 4.030 56 .000 3.676 .912 1.849 5.504
assumed
Equal
variances not 3.980 47.495 .000 3.676 .924 1.818 5.534
assumed

*Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 30 halaman 153

Hasil Levenes test menunjukkan bahwa asumsi kedua varian sama besar,
maka hasil uji beda dua sampel independen menggunakan t = 4.030 dengan
derajat kebebasan +2 -2 = 30+28-2=56 dan P-value (2-tailed) = 0.000.
Penelitian ini menggunakan uji hipotesis 1-tailed, nilai P-value harus dibagi
0.000
menjadi dua, yaitu = 0.000. P-value = 0.000 lebih kecil dari =0.05 maka
2

ditolak dan diterima. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang


signifikan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
42

B. Pembahasan
1. Model LKS yang digunakan di SMP Negeri 1 Kertek pada materi
Ekosistem
Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKS yang digunakan di SMP Negeri 1
Kertek belum berbasis karakter (Tabel 13). Ada beberapa hal yang menyebabkan
komponen LKS yang digunakan guru belum berbasis karakter. Pertama,
banyaknya materi yang harus disampaikan guru dengan keterbatasan waktu yang
dimiliki. Kondisi ini menuntut guru fokus pada penyampaian materi, sehingga
guru tidak mempunyai waktu untuk mengeksplorasi kreativitasnya untuk
membuat LKS berbasis karakter. Kegiatan siswa sebatas membaca buku,
menghafal dan latihan berulang. Kegiatan tersebut menyebabkan siswa belum
mampu berfikir analitis, kritis, kreatif, serta belum mempunyai motivasi dan
usaha besar untuk mencapai tujuan belajar (Megawangi 2012). Pembelajaran
tersebut menggali pengetahuan yang bersifat hafalan yang akan mudah dilupakan
dalam jangka pendek. Sementara itu, LKS berbasis karakter menyajikan berbagai
tugas yang melibatkan peran aktif siswa untuk melakukan science process skills
sehingga menuntun siswa berpikir kritis dan kreatif, serta menumbuhkan
kepedulian terhadap lingkungan.
Kedua, tuntutan ujian nasional menjadi beban tersendiri bagi guru. Beban ini
dikarenakan ujian nasional lebih menonjolkan kemampuan kognitif siswa.
Tuntutan ujian nasional yang kelulusan siswanya ditentukan oleh penguasaan
siswa terhadap materi pelajaran (Koesoema 2010) memaksa guru cenderung
menekankan penguasaan materi pada aspek kognitif siswa. Penekanan
penguasaan materi pada aspek kognitif menyebabkan aspek afektif dan
psikomotorik siswa kurang terasah. Hasilnya siswa mengandalkan ingatannya saja
dalam menghadapi berbagai macam soal. Guru lebih menekankan aspek kognitif
merasa khawatir jika tidak fokus terhadap aspek kognitif, siswa tidak siap dalam
menghadapi ujian. Jadi, untuk mengatasinya guru menggunakan LKS biasa dan
buku-buku untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam menghadapi ujian nasional.
Ketiga, terdapat kendala dalam mengimplementasikan pendidikan karakter
pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kendala tersebut adalah cara
konkret untuk mengintegrasikan karakter pada pembelajaran biologi di dalam
43

KTSP. Sementara itu, KTSP dan pendidikan karakter menganjurkan guru agar
mengembangkan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa
agar dapat mendukung implementasi pendidikan karakter yang efektif dalam
kelas. Pendidikan karakter yang efektif harus menyesuaikan dengan karakteristik
siswa yang beragam tersebut dengan tujuan untuk implementasi karakter dalam
kurikulum (Stallions & Yeatts 2003), sehingga guru belum siap untuk
mengembangkan LKS berbasis karakter.
2. Analisis kebutuhan pengembangan LKS berbasis karakter
Lembar kerja siswa berbasis karakter merupakan LKS yang didesain untuk
mendukung pengembangan karakter siswa dengan cara memunculkan nilai-nilai
hidup yang diinginkan, sehingga daya pikir dan karakter siswa berkembang.
Pengembangan LKS berbasis karakter sejalan dengan Undang-undang No. 20
tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan
nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak.
Salah satu usaha untuk membentuk watak dan kemampuan melalui pendidikan
karakter. Penanaman karakter di sekolah merupakan langkah strategis untuk
membentuk karakter siswa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKS yang digunakan pada materi
Ekosistem belum berbasis karakter (Tabel 13). Selain itu, kondisi geografis
Kecamatan Kertek juga merupakan faktor pendukung dibuatnya LKS berbasis
karakter. Kecamatan Kertek terletak pada ketinggian 750-1.150 m dpl dengan
kemiringan 8-40 % dan curah hujan yang relatif tinggi (BPS 2012). Kondisi
tersebut membuat wilayah ini rawan bencana alam. Pendidikan karakter untuk
mengembangkan rasa peduli lingkungan siswa diperlukan supaya siswa lebih
memperhatikan lingkungan sekitar. LKS berbasis karakter dapat dijadikan salah
satu alat untuk membantu menanamkan karakter peduli lingkungan pada siswa.
Berdasarkan uraian diatas, guru disarankan agar dapat menanamkan karakter
peduli lingkungan di dalam pembelajaran biologi. Sementara itu, materi
Ekosistem memiliki peluang yang besar untuk mendekatkan siswa dengan
lingkungan sekitar. Oleh karena itu, perlu dibuat LKS berbasis karakter pada
materi Ekosistem.
44

3. Pengembangan dan pembuatan LKS berbasis karakter


Lembar kerja siswa berbasis karakter merupakan LKS yang didesain untuk
mendukung pengembangan karakter siswa dengan cara memunculkan nilai-nilai
hidup yang diinginkan, sehingga daya pikir dan karakter siswa berkembang. LKS
karakter memiliki kelebihan pada empat komponen pendidikan lingkungan pada 8
(delapan) tugas yang disajikan. Berdasarkan komponen tersebut, siswa diasah
dalam mempelajari materi Ekosistem secara bertahap dimulai dari pengetahuan,
kepedulian, rasa ingin tahu, dan aksi sederhana untuk lingkungan.
Desain LKS berbasis karakter kemudian divalidasi oleh ketiga validator.
Hasil validasi menunjukkan bahwa LKS berbasis karakter layak digunakan
(Gambar 3). LKS berbasis karakter layak digunakan karena sudah memenuhi
kriteria LKS yang berbasis karakter. Kriteria tersebut meliputi aspek didaktik,
aspek kontruksi, dan aspek teknik. Skor pada aspek didaktik 63 dari skor
maksimal 72 menunjukkan bahwa LKS berbasis karakter mempunyai aspek
didaktik yang baik. Skor pada aspek kontruksi 74 dari skor maksimal 84. Skor
aspek teknik 53 dari skor maksimal 60 (Tabel 14).
Kekurangan LKS berbasis karakter terletak pada struktur yang belum jelas.
Keterangan dan gambar pendukung yang kurang jelas. Kekurangan tersebut telah
diperbaiki dengan menata ulang struktur LKS yang diperjelas dengan tingkatan
pendidikan lingkungan. Gambar pendukung beserta keterangan telah diperbaiki.
Perbaikan dilakukan untuk memudahkan siswa dalam menggunakan LKS
berbasis karakter.
Lembar kerja siswa berbasis karakter diujicobakan setelah melalui revisi,.
Hasil uji coba skala kecil ini menunjukkan keterbacaan LKS berbasis karakter
tinggi (Gambar 8). Tingkat keterbacaan tinggi disebabkan karena pertanyaan,
petunjuk, keterangan gambar dan langkah kerja pada LKS berbasis karakter
mudah dibaca dan mudah dipahami oleh siswa. Kemudahan ini terletak pada font
yang digunakan jelas. LKS berbasis karakter juga menggunakan kalimat pendek
yang mudah dipahami siswa.
Kelebihan LKS berbasis karakter terletak pada tugas-tugas inkuiri yang
mendorong siswa dalam penanaman karakter. Tugas inkuiri terlihat dalam setiap
tugas yang terdiri dari Ecological Foundation Level, Conceptual Awareness
45

Level, Investigation and Evaluation dan Environmental Action Skills Level. Tugas
pada level 1 berisi tugas yang disusun untuk menggali pengetahuan dasar siswa
mengenai materi Ekosistem, misalnya melakukan pengamatan untuk menjawab
pertanyaan mengenai konsep dasar ekosistem, misalnya perngertian komponen
biotik, menyebutkan komponen ekosistem, membuat tabel berdasarkan`
pengamatan, dll.
Tugas pada level II berisi tugas agar siswa mengetahui mengenai isu-isu
lingkungan. Misalnya, tugas untuk mencari informasi mengenai peristiwa di
lingkungan yang berkaitan dengan materi Ekosistem, sehingga siswa mengetahui
pengaruh Ekosistem pada kehidupan sehari-hari. Tugas tersebut dimaksudkan
untuk menggugah rasa kepedulian siswa terhadap lingkungannya.
Tugas pada level III berisi tugas untuk mendorong siswa agar mencari tahu
penyebab dari suatu masalah yang berkaitan dengan materi Ekosistem. Tugas
tersebut menuntun siswa untuk mengetahui penyebab masalah yang berkaitan
dengan materi Ekosistem sehingga siswa dapat menganalisis solusi yang mungkin
dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.
Tugas pada Level IV mengajak siswa untuk melakukan aksi sederhana yang
merupakan penerapan pengetahuan dasar siswa pada materi Ekosistem. Tugas 4
antara lain, menggambar, merawat tanaman, merancang poster, membuat
semboyan, dan menganalisis lirik lagu. Tugas-tugas tersebut menuntun siswa
untuk aktif mencari sumber belajar, mengamati lingkungan, dan mengembangkan
kreativitasnya. Kreativitas siswa tampak pada kemampuan siswa untuk
berimajinasi, originalitas, menghasilkan ide-ide baru, dapat mengaplikasikan
pengetahuan untuk mengatasi suatu masalah (Vigostky 2004).
Lembar kerja siswa berbasis karakter disusun dengan komponen yang sesuai
Permendiknas nomor 23 tahun 2006. Kemendikbud (2010b) juga menganjurkan
supaya pendidikan karakter juga diimplementasikan kedalam proses
pembelajaran. Pada penelitian lain Sewell & College (2003) mengemukakan
bahwa penanaman karakter dapat diintegrasikan dalam kehidupan sekolah
sehingga menjadi kultur dan budaya di sekolah, salah satunya dengan cara
menerapkan pendidikan karakter pada proses pembelajaran. Sebagai pihak yang
berhubungan langsung dengan siswa, guru dapat menemukan strategi pendekatan
46

manajemen kelas untuk menyertakan pendidikan karakter di dalamnya (Hough


2011). LKS berbasis karakter dapat membantu guru dalam menerapkan
pendidikan karakter pada proses pembelajaran.
4. Pengaruh LKS berbasis karakter terhadap hasil belajar
Siswa mempelajari materi Ekosistem dengan panduan LKS berbasis
karakter. Siswa mempelajari materi Ekosistem melalui tugas-tugas yang terdapat
pada LKS berbasis karakter. Pertemuan pertama, siswa mengamati komponen dan
interaksi komponen ekosistem, serta mendiskusikan hasil pengamatan, membuat
jaring-jaring makanan berdasarkan lingkungan yang diamati, mencari informasi
mengenai fenomena akibat ketidakseimbangan ekosistem di lingkungan dan pola
interaksi organisme, membuat semboyan mengenai kelestarian lingkungan,
menceritakan gambar mengenai interaksi organisme yang ada di dalam LKS, dan
membuat cerita mengenai pola interaksi.
Pertemuan selanjutnya siswa menceritakan gambar mengenai pelestarian
keanekaragaman hayati dan upaya pelestarianya, mencari informasi mengenai
keanekaragaman hayati dan upaya pelestarian, dan menganalisis lirik lagu dengan
tema kelestarian lingkungan, kemudian mendiskripsikan grafik perkiraan populasi
penduduk, mencari informasi mengenai dampak peningkatan populasi penduduk
dan pencemaran lingkungan, mendiskripsikan gambar mengenai pencemaran
lingkungan dan cara mengatasinya, mengamati pencemaran lingkungan yang
terjadi lingkungan sekitar, dan membuat poster tentang lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas siswa dalam
mengerjakan LKS berbasis karakter tergolong tinggi (Gambar 9). Hasil tersebut
mengindikasikan bahwa siswa tertarik untuk mengerjakan LKS berbasis karakter.
Ketertarikan siswa dapat dilihat dari siswa yang antusias dalam mengerjakan LKS
berbasis karakter. Siswa mengerjakan LKS berbasis karakter dengan cara diskusi
antar teman. Aktivitas diskusi siswa dapat mewujudkan learning community
dalam kegiatan belajar. Siswa mendiskusikan hal yang belum mengerti dengan
temannya. Proses diskusi tersebut menyebabkan hasil belajar siswa menjadi lebih
baik.
Siswa mengerjakan LKS berkarakter berarti melakukan aktivitas yang
mengasah science process skills. Science process skills dapat dilihat dari aktivitas
47

siswa dalam mengerjakan LKS berbasis karakter, seperti mengamati,


mengumpulkan data, membuat kesimpulan, menganalisis, memprediksi grafik,
dan menggambar. Science process skills siswa berkembang sejalan dengan
kegiatan inkuiri (Martin 2005). Proses inkuiri dalam LKS berbasis karakter dapat
menarik siswa untuk belajar dan mempelajari konsep. Siswa dituntun untuk bisa
mengamati lingkungan serta mencari tahu informasi berkaitan dengan tugas yang
ada pada LKS berbasis karakter. Aktivitas tersebut menjadikan siswa tidak hanya
paham materi Ekosistem, tetapi juga dapat menanamkan rasa peduli pada
lingkungan. Aktivitas yang beragam tersebut siswa mendapat banyak masukan
informasi yang dikonstruksi menjadi konsep. Siswa mendapatkan pengalaman
langsung untuk mengkonstruksi fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar
sekolah sehingga materi lebih mudah dipahami. Semakin banyak informasi yang
didapat siswa semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkan siswa (Suparno
2001). Oleh karena itu, keaktifan siswa sangat dibutuhkan pada penggunaan LKS
berbasis karakter.
Hasil belajar siswa di kelas eksperimen juga dipengaruhi oleh faktor selain
aktivitas. Faktor-faktor tersebut mencakup kondisi internal dan eksternal siswa
(Anni 2007). Kondisi internal yang mempengaruhi hasil belajar salah satunya
adalah motivasi. Motivasi merupakan proses dalam individu yang menggerakkan
siswa untuk bertindak ke arah tugas tertentu. Motivasi siswa untuk mengetahui
masalah di lingkungan berhubungan langsung dengan kehidupan siswa.
Sementara kondisi eksternal yang mempengaruhi hasil belajar siswa seperti
tempat belajar, iklim dan suasana lingkungan belajar siswa. Penelitian dilakukan
diluar jam pembelajaran sehingga siswa harus beradaptasi dengan cuaca yang
panas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif kelas eksperimen
lebih baik dari pada kelas kontrol (Tabel 19). Adanya perbedaan hasil belajar
kognitif kelas eksperimen dan kontrol disebabkan karena pada pembelajaran di
kelas eksperimen, siswa melakukan banyak aktivitas untuk mengerjakan LKS
berbasis karakter. Pembelajaran kelas kontrol tanpa perlakuan yaitu dengan
melakukan pembelajaran yang biasa dilakukan di SMP Negeri 1 Kertek yakni
pembelajaran tanpa disertai LKS berbasis karakter. Siswa kelas eksperimen
48

memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa kelas kontrol. Rata-rata hasil
belajar kognitif siswa kelas eksperimen 27,53 sedangkan siswa kelas kontrol
memperolah rata-rata 23,85. Secara statistik perbedaan ini dilihat dari hasil
analisis uji t (Tabel 20).
Kelas eksperimen siswa mengerjakan LKS berbasis karakter yang menuntut
siswa tidak hanya belajar di dalam kelas tetapi juga di lingkungan sekitar siswa.
Sumber belajar siswa menjadi luas tidak terbatas pada buku-buku saja tetapi juga
dari pengalaman siswa ketika melakukan aktivitas untuk mengerjakan LKS
berbasis karakter. Tugas-tugas tersebut menuntun siswa untuk aktif mencari
sumber belajar, mengamati lingkungan, dan mengembangkan kreativitasnya.
Kreativitas siswa tampak pada kemampuan siswa untuk berimajinasi, originalitas,
menghasilkan ide-ide baru, dapat mengaplikasikan pengetahuan untuk mengatasi
suatu masalah (Vigostky 2004).
Lembar kerja siswa berbasis karakter pada materi Ekosistem juga
memberikan pengaruh terhadap hasil belajar afektif siswa sebesar 62% (Tabel
18). Pengaruh ini dikarenakan aktivitas dalam mengerjakan LKS berbasis karakter
siswa mengamati lingkungan sekitarnya secara langsung. Siswa mengetahui
kondisi nyata di lingkungannya sehingga lebih dekat dan peduli terhadap
lingkungan.
Pembentukan karakter peduli lingkungan dimulai dari pengetahuan dasar
siswa mengenai lingkungan. Siswa mengetahui konsep dasar dalam materi
Ekosistem. Siswa dilatih pengetahuan dasarnya melalui tugas level satu pada LKS
berbasis karakter. Pengetahuan dasar siswa digunakan untuk melakukan pencarian
informasi mengenai masalah-masalah yang terjadi di lingkungan terkait materi
Ekosistem. Siswa mengetahui masalah-masalah yang terjadi di lingkungannya
melalui informasi tersebut. Pencarian informasi ini terdapat pada tugas level II.
Setelah siswa mengetahui masalah yang ada, timbul kepedulian pada siswa.
Kepedulian tersebut mengantarkan siswa untuk menganalisis dan mencari solusi
yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Tugas tersebut
merupakan tugas level III. Tahap akhir siswa melakukan aksi sederhana untuk
lingkungan. Tugas ini merupakan tugas level IV dalam LKS berbasis karakter.
49

LKS berbasis karakter menuntun siswa untuk memunculkan perilaku yang


mendorong penanaman karakter. LKS berbasis karakter melatih siswa untuk lebih
memperhatikan lingkungan. Menurut Teori Penguatan (Reinforcement Theory)
sebuah perilaku meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku itu akan
diulangi (Arends 2008). Semakin sering siswa melakukan aktivitas pada LKS
berbasis karakter, karakter siswa akan semakin terbentuk, karena karakter
merupakan sifat desposisi seseorang yang relatif stabil (Stedje 2010).
LKS berbasis karakter berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, baik hasil
dalam ranah kognitif maupun afektif. LKS berbasis karakter cocok diterapkan di
SMP Negeri 1 Kertek karena dapat menghilangkan kekhawatiran guru mengenai
penerapan karakter pada pembelajaran biologi, sehingga potensi lingkungan
sekitar dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. Hilangnya kekhawatiran tersebut
akan mempengaruhi hasil belajar siswa di sekolah tersebut menjadi lebih baik.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan sebagai berikut: (1) komponen LKS
pada materi ekosistem yang telah digunakan di kelas VII SMP Negeri 1 Kertek tetapi
belum berbasis karakter, (2) lembar kerja siswa berbasis karakter pada materi ekosistem
perlu dikembangkan sebagai bahan ajar, (3) pembuatan LKS berbasis karakter meliputi
tiga tahapan yaitu research, development, dan experiment. (4) LKS berbasis karakter
materi ekosistem berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. LKS berbasis
karakter materi ekosistem berpengaruh signifikan terhadap skor post-test sebesar 72% dan
ditunjukkan dengan nilai hasil belajar kelompok eksperimen lebih tinggi daripada
kelompok kontrol. LKS berbasis karakter materi ekosistem yang dikembangkan
berpengaruh signifikan terhadap skor afektif sebesar 62%.

B. SARAN
Penelitian ini terdapat keterbatasan sehingga untuk penelitian selanjutnya disarankan
agar guru memberikan bimbingan yang lebih dalam proses pembelajaran sehingga siswa
mengerjakan tugas pada LKS secara maksimal. Selain itu, dibutuhkan waktu yang lebih
dari 4x40 menit untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Penelitian selanjutnya dapat
menguji variabel yang belum terukur seperti psikomotorik dan aspek afektif yang lain.

50
DAFTAR PUSTAKA

Anni C T & R C Rifai. 2011. Psikologi Belajar. Semarang: Unnes Press. Hal: 35-45.

Arends R I. 2008. Learning to Teach: Belajar untuk Mengajar. Terjemahan Helly Prayitno
Soejipto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 142-146.

Arikunto S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Hal: 170-186.

__________. 2009. Dasar dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Hal: 70-
88.

Ary D, L C Jacobs, A Razavieh & C Sorensen. 2006. Introduction to Research in


Education. International Student Edition. Seventh Edition. USA: Belmont. Pp:
37- 40.

Azwar S. 2012. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 145-
150.

Benninga J S, M W Berkowich, P Kuehn & K Smith. 2003. The Relationship of


Character Education Implementation and Academic Achievement in Elementary
School. Journal of Reseacrh in Character Education, Vol.1 (1): 19-23 pp.

Berkowitz M W & M C Bier. 2006. A Research-Driven Guide for Educators: What


Works In Character Education. Character Education Partnership : USA. Pp: 1-
34.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Kecamatan Kertek dalam Angka Tahun 2012.
Wonosobo: Badan Pusat Statistik. Hal: x-xii.

Celikler D. 2010. The Effect of Worksheets Developed for the Subject of Chemical
Compounds on Student Achievement and Permanent Learning. Educational
Research Association the International Journal of Research in Teacher
Education 1(1):42-51 pp.

Creswell J. 2008. Educational Research: Planning, Conducting and Evaluating


Quantitative and Qualitative Research. New Jersey: Pearson Education Inc. Pp:
306 314.

Darmojo H & J R E Kaligis. 1992. Pendidikan IPA II. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta. Hal: 40-45.

Dimopoulos I D, P Pantis, S Paraskevopoulos. 2009. Planning Educational Activities and


Teaching Strategies on Constructing A Conservation Educational Modul.
International Journal of Environmenttal and Science Education Volume
4(4):351-364 pp.
51
52
Hough D L. 2011. Characteristic Of Effective Profesional Development: An Examination
of the Developmental Design Character Education Classroon Managenent
Approach in Middle Grades School. Middle Grades Reseacrh Journal Volume
6(3): 129-143 pp.

James M. 2006. Assesment, Teaching, and Theories of Learning. In : Gardner J.


Assesment and Learning. London: SAGE Publications Ltd. Pp: 47-60.

[KEMENDIKBUD] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2010a. Bahan Pelatihan:


Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya untuk
Membentuk Daya Sains dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemendikbud. Hal: 1-
10.

[KEMENDIKBUD] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2010b. Kerangka Acuan


Pendidikan Karakter Tahun Anggaran 2010. Jakarta: Kemendikbud. Hal: 5-16.

[KEMENDIKBUD] Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2011. Pedoman


Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kemendikbud. Hal: 1-4.

Koesoema D A. 2010. Pendidikan Karater: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global.


Jakarta: Grasindo. Hal 222-225.

Martin R, S Colleen, T Franklin & J Gerlovich. 2005. Teaching Science for All Children:
Inquiri Methods for Constructing Understanding. USA: Pearson. Pp: 12-21.

Megawangi R. 2012. Tantangan Besar Pedidikan Kita. Kompas. Jakarta 15 oktober on


line at http://www.edukasi.kompas.com/.

Ovadia, H L & M Steger. 2010. Character Strengths and Well-being Among Volunteers
and Employees: Toward An Integrative Model. The Journal of Positive
Psychology Vol. 5 (6): 419-430 pp.

Ozmen H & Yildirim N. 2005. Effect of Work Sheets on Students Success: Acids And
Bases Sample. Journal of Turkish Science Education Volume 2(2): 10-13 pp.

Park N, Peterson C & Seligman M E P. 2006. Character Strengths in Fifty-four Nations


and The Fifty US States. The Journal of Positive Psychology Vol. 1 (3): 118-129
pp.

Prastowo A. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Diva
Press. Hal: 203-226.

Sewell D T & A B College. 2003. Teachers Attitudes Toward Character Education and
Inclusion in Family and Consumer Science Education Curriculum. Journal of
Family and Cosumer Science Education Vol. 21(1):11-17 pp.

Singarimbun M. Unsur-Unsur Penelitian Survai. Dalam: Singarimbun M dan Effendi


(Eds). 2008. Metode Penelitian Survai Edisi Revisi. Jakarta: LP3ES. Hal: 31- 47.
53
Stallions M A & K Yeatts. 2003. Enhancing Character Education for Tomorrows
Teacher, Today: A Connected Learning Partnership Model. Florida Association of
Teacher Educator Journal Vol.1 (3): 250-260 pp.

Stedje L B. 2010. Nuts and Bolts Character Education. Literature Review. USA:
CharacterFirst. Pp :1-6 .

Sudjana N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda
Karya. Hal: 115-117.

Suparno P. 2001. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisisus. Hal:
44-46.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Hal: 408-426.

Vygotsky L V. 2004. Imagination and Creativity in Chilhood. Journal of Russian and East
Europe Psychology Volume 42(1): 7-97 pp.

Webber J. 2006. Sartres Theory of Character. European Journal of Philosophy Vol 14 (1):
94-116 pp.

Yildirim N, Sevil K & A Ayas. 2011. The Effect Of The Worksheet on Students
Achievement in Chemical Equilibrium. Journal of Turkish Science Education
Volume 8(3): 44-58 pp.