Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN

DISPEPSIA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. PENGERTIAN
Dispepsia adalah perasaan tidak nyaman pada abdomen bagian atas atau
dada bagian bawah salah cerna (indigestion) mungkin digunakan oleh pasien
untuk menggambarkan dispepsia, gejala regurgitasi atau flatus. ( Grace. A.P &
Borley. R.N. 2006. At a glance ilmu bedah edisi ketiga. Jakarta : Erlangga).
Dispepsia adalah kumpulan gejala berupa rasa nyeri pada ulu hati atau rasa
tidak nyaman diperut bagian atas. Rasa tidak nyaman ini bisa dirasakan seseorang
dalam bentuk rasa penuh diperut bagian atas, rasa cepat kenyang, rasa terbakar,
kembung, bersendawa, mual dan muntah, yang bersifat akut, berulang ataupun
kronis. Meskipun jarang terjadi, dispepsia dapat dijadikan sebagai tanda adanya
masalah serius misalnya penyakit radang yang parah pada lambung ataupun
kanker lambung, sehingga harus ditangani dengan serius. (Davey, P. 2003. At a
glance medicine. Jakarta : Erlangga).
Dispepsia merupakan istilah yang menunjukan rasa nyeri atau tidak
menyenangkan pada bagian atas perut. (Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip dasar
ilmu gizi. P.T. Gramedia Pustaka Umum: Jakarta).

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Gaster terletak dibagian atas abdomen, terbentang dari permukaan bawah
arcus costalis sinistra sampai regio epigastrica an umbilicalis. Sebagian besar
gaster terletak dibawah costae bagian bawah. Secara kasar gaster berbentuk huruf
J dan mempunyai dua lubang, ostium cardiacum dan ostium pyloricum; dua
curvatura, curvatura mayor dan curvatura minor; dan dua dinding, paries anterior
dan paries posterior.
Secara umum lambung dibagi menjadi 3 bagian:
1. Kardia/kelenjar jantung ditemukan diregio mulut jantung. Ini hanya
mensekresi mucus.
2. Fundus/gastrik terletak hampir diseluruh corpus, yang mana kelenjar
ini memiliki tiga utama sel. Yaitu:
1) Sel zigmogenik/chief cell, mensekresi pepsinogen. Pepsinoge ini
diubah menjadi pepsin dalam suasana asam. Kelenjar ini
mensekresi lipase dan renin lambung yang kurang penting.
2) Sel parietal, mensekresi asam hidroklorida dan faktor intrinsik.
Faktor intrinsik diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 dalam usus
halus
3) Sel leher mukosa ditemukan pada bagian leher semua kelenjar
lambung. Sel ini mensekresi barier mukus setebal 1 mm dan
melindungi lapisan lambung terhadap kerusakan oleh hcl atau
autodigesti.
3. Pilorus terletak pada regio antrum. Pilorus kelenjar ini mensekresi
gastrin dan mukus, hormon peptida dalam proses sekresi lambung.
Lapisan lapisan lambung:
1) Lapisan peritoneal luar atau lapisan serosa yang merupakan bagian
dari peritoneum viselaris.
Dua lapisan peritoneum visceral menyatu pada kurvatura minor
lambung dan duodenum, memanjang ke arah hati membentuk
omentum minus. Lipatan peritoneum yang keluar dari organ satu
menuju organ lain disebut ligamentum. Pada kurvatura mayor
peritoneum terus kebawah membentuk omentum mayus.
2) Lapisan berotot yang terdiri atas tiga lapis:
Serabut longitudinal, yang tidak dalam dan bersambung dengan
otot esofagus.
Serabut sirkuler yang paling tebal dan terletak dipilorus serta
membentuk otot sfingter, dan berada di bawah lapisan pertama,
dan
Serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambung
dan berjalan dari orifisium kardiak, kemudian membelok ke
bawah melalui kurvatura minor (lengkung kecil).
3) Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi
pembuluh darah dan saluran limfe. Lapisan mukosa yang terletak
disebelah dalam, tebal, dan terdiri atas banyak kerutan atau rugue,
yang hilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan.
4) Membran mukosa dilapisi epitelium silindris dan berisi banyak
saluran limfe. Semua sel-sel itu mengeluarkan sekret mukus.
Permukaan mukosa ini dilintasi saluran-saluran kecil dari kelenjar-
kelenjar lambung. Semua ini berjalan dari kelenjar lambung tubuler
yang bercabang-cabang dan lubang-lubang salurannya dilapisi oleh
epithelium silinder. Epithelium ini bersambung dengan permukaan
mukosa dari lambung. Epithelium dari bagian kelenjar yang
mengeluarkan sekret berubah-ubah dan berbeda-beda dibeberapa
daerah lambung.

FISIOLOGI LAMBUNG
1. Fungsi reservoir
Menyimpan makanan sampai makanan tersebut sedikit demi
sedikit dicernakan dan bergerak ke saluran pencernaan. Menyesuaikan
peningkatan volume tanpa menambah tekanan dengan relaksasi
reseptif otot polos yang diperantarai oleh saraf vagus dan dirangsang
oleh gastrin.
2. Fungsi mencampur
Memecahkan makanan menjadi partikel-partikel kecil dan
mencampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang
mengelilingi lambung.
3. Fungsi pengosongan lambung
Diatur olehpembukaan sfingter pylorus yang dipengaruhi oleh
viskositas, volume, keasaman, aktivitas osmotik, keadaan fisik, emosi,
obat-obatan dan kerja. Pengosongan lambung diatur oleh saraf dan
hormonal.
4. Fungsi pencernaan dan sekresi
Pencernaan protein oleh pepsin dan hcl
Sintesis dan pelepasan gastrin. Dipengaruhi oleh protein yang
dimakan, peregangan antrum, rangsangan vagus.
Sekresi faktor intrinsik. Memungkinkan absobsi vitamin B12 dari
usus halus bagian distal.
Sekresi mukus. Membentuk selubung yang melindungi lambung
serta berfungsi sebagai pelumas sehingga makanan lebih mudah
untuk diangkut.

3. ETIOLOGI
Penyebab dispepsia adalah:
1) Menelan udara (aerofagi)
2) Regurgitasi (alur balik, refluks) asam dari lambung
3) Iritasi lambung (gastritis)
4) Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis
5) Kanker lambung
6) Peradangan kandung empedu (kolesistitis)
7) Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya)
8) Kelainan gerakan usus
9) Kecemasan atau depresi

4. TANDA DAN GEJALA


Nyeri atau tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada, yang sering
dirasakan adanya gas, perasaan penuh atau rasa terbakar diperut. Disertai dengan
sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi).
Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri: pada penderita
yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya.Gejala lain meliputi nafsu makan
yang menurun, mual, sembelit, diare, dan flatulensi (perut kembung).

5. PATHWAY

Analgetik
Bahan Kimia
Alkohol
Stress fisik

Sekresi asam lambung berlebihan


Kerusakan barier mukosa lambung


Menurunnya kemampuan untuk
melindung mukosa lambung


Iritasai mukosa lambung

Nyeri Hematomisis Rasa Nausea (mual) dan Vomitus

Sumber : Silvia A Price, (1995:376)

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang harus bisa menyingkirkan kelainan serius,
terutama kanker lambung, sekaligus menegakkan diagnosis bila mungkin.
Sebagian pasien memiliki resiko kanker yang rendah dan dianjurkan untuk terapi
empiris tanpa endoskopi. Menurut Schwartz, M William (2004) dan wibawa
(2006) berikut merupakan pemeriksaan penunjang:
1. Tes darah
Hitung darah lengkap dan LED normal membantu menyingkirkan
kelainan serius. Hasil tes serologi positif untuk helicobacter pylori
menunjukan ulkus peptikum namun belum menyingkirkan keganasan saluran
pencernaan.
2. Endoskopi (esofago-gastro-duodenoskopi)
Endoskopi adalah tes definitive untuk esofagitis, penyakit epitellium
barret, dan ulkus peptikum. Biopsy antrum untuk tes ureumse untuk H.pylori
(tes CLO).
Endoskopi adalah pemeriksaan terbaik masa kini untuk menyingkirkan
kausa organic pada pasien dyspepsia. Namun, pemeriksaan H.pylori
merupakan pendekatan bermanfaat pada penanganan kasus dyspepsia baru.
Pemeriksaan endoskopi diindikasikan terutama pada pasien dengan
keluhanyang muncul pertama kali pada usia tua atau pasien dengan tanda
alarm seperti penurunan berat badan, muntah, disfagia, atau perdarahan yang
diduga sangat mungkin terdapat penyakit structural.
Pemeriksaan endoskopi adalah aman pada usia lanjut dengan
kemungkinan komplikasi serupa dengan pasien muda. Endoskopi
direkomendasikan sebagai investigasi pertama pada evaluasi penderita
dyspepsia dan sangat penting untuk dapat mengklasifikasikan keadaan pasien
apakah dyspepsia organic atau fungsional. Dengan endoskopi dapat dilakukan
biopsy mukosa untuk mengetahui keadaan patologis mukosa lambung.
3. DPL : Anemia mengarahkan keganasan
4. EGD : Tumor,PUD, penilaian esofagitis
5. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium termasuk hitung darah
lengkap, laju endap darah, amylase, lipase, profil, profil kimia, dan
pemeriksaan ovum dan parasit pada tinja. Jika terdapat emesis atau
pengeluaran darah lewat saluran cerna maka dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan pada saluran cerna bagian atas.

7. KOMPLIKASI
Penderita sindroma dyspepsia selama bertahun-tahun dapat memicu
adanya komplikasi yang tidak ringan. Salah satunya komplikasi dyspepsia yaitu
luka di dinding lambung yang dalam atau melebar tergantung berapa lama
lambung terpapar oleh asam lambung. Bila keadaan dyspepsia ini terus terjadi
luka akan semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi perdarahan saluran
cerna yang ditandai dengan terjadinya muntah darah, dimana merupakan pertanda
yang itmbul belakangan. Awalnya penderita pasti akan mengalami buang air besar
berwarna hitam terlebih dahulu yang artinya sudah ada perdarahan awal. Tapi
komplikasi yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya kanker lambung yang
mengahruskan penderitanya melakukan operasi.

8. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dyspepsia dibagi atas dua yaitu non farmakologi dan
farmakologi:
1. Penatalaksanaan non farmakologi
Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
Menghindari factor resiko seperti alcohol, maka makanan yang pedas,
obat-obatan yang berlebihan, nikotin, rokok, dan stress
Atur pola makan
2. Penatalaksanaan farmakologi
Antacid (menetralkan asam lambung)
Golongan antikolinergi (menghambat pengeluaran asam lambung), dan
Prognetik ( mencegah terjadinya muntah )

9. PENCEGAHAN
Pola makan yang normal, dan teratur, pilih makanan yang seimbang
dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkonsumsi
makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alcohol, dan pantang rokok, bila harus
makan obat karena suatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara
wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.

B. DAMPAK PENYAKIT TERHADAP KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


1. KEBUTUHAN OKSIGENASI
2. KEBUTUHAN NUTRISI
3. KEBUTUHAN AKTIVITAS
4. KONSEP DIRI
5. KEBUTUHAN RASA AMAN
6. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

C. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas klien : nama. Umur, jenis kelamin, suku/bangsa,, agama, pekerjaan,
pendidikan, alamat.
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Nyeri/pedih pada epigastrum disamping atas dan bagian samping dada
depan epigastrum.
2) Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengatakan perut terasa kenyang dan terasa nyeri sejak 2 hari yang
lalu, nyerinya seperti terbakar dan ketika makan akan terasa nyeri,
nyerinya menyebar pada dada bagian depan, skala nyeri berat (7) dari 0-
10.

3) Riwayat kesehatan masa lalu


Sering nyeri pada daerah epigastrum, adanya stress psikologis, riwayat
minum-minuman beralkohol.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang lain juga pernah menderita penyakit
saluran pencernaan.
c. Pemeriksaan fisik
1. B1 (Breath) :takhipnea
2. B2 (Blood) :takikardi, hipotensi, disritmia nadi perifer lemah, pengisian
lambat, warna kulit pucat.
3. B3 (Brain) :sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat
terganggu,disorientasi, nyeri epigastrum
4. B4 (Bladder) :oliguri, gangguan keseimbangan cairan
5. B5 (Bowel) :anemia, anorexia, mual, muntah, nyeri ulu hati, tidak toleran
terhadap makanan pedas
6. B6 (Bone) :kelelahan, kelemahan
2. Diagnose keperawatan yang mungkin muncul
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah
makan, anoreksia