Anda di halaman 1dari 4

Muhammad Fauzan Al Asyiq

Leadership and Organizational Behavior | 170087 | 70 A

Assignment 1
Case Study: (Re)Building a Global Team: Tariq Khan at Tek

A. Case Summary
Tariq Khan memulai karirnya sebagai insinyur di Pakistan, dimana ia bekerja dalam
bidang pengembangan bisnis, penjualan, dan manajemen proyek senilai $20 juta. Empat
tahun kemudian, Tariq berpindah ke Tek. Karena prestasi di tempat sebelumnya, ia
termasuk dalam daftar potensial yang memungkinkan dirinya mendapat promosi dalam
kurun waktu 18-24 bulan.
Beberapa tugas kerja Tariq di SPK Pakistan sebelumnya meliputi kunjungan kerja tim-
tim perusahaan yang terletak di berbagai negara untuk mengobservasi metoda, peluang,
tantangan, dan motivasi para karyawan. Prestasi Tariq tampaknya belum padam. Ia
memimpin penetrasi Tek ke Iraq dan Bangladesh, dimana pada saat itu ia bekerja dalam
lingkungan yang berbeda secara bahasa dan budaya untuk yang pertama kalinya.
Setelah hampir 4 tahun, senior Tariq di Singapura memberitahu bahwa kesempatan
promosi kembali terbuka, kali ini untuk posisi General Manager (GM) Pemasaran dan
Penjualan. Pejabat sebelumnya, yang diketahui cukup berpotensi dan berpengalaman,
telah meninggalkan perusahaan. Pada awalnya, Tariq khawatir lantaran usianya jauh lebih
muda dan ekspektasi perusahaan terlalu tinggi. Namun, sang senior berhasil
meyakinkannya untuk menerima kesempatan tersebut.
Sebagai langkah awal, Tariq berhasil menemui Ali Amlak, pejabat posisi GM
sebelumnya. Dari hasil pertemuan tersebut, diketahui bahwa situasi sangat tidak terkontrol,
Amlak merasa kesulitan menangani perbedaan budaya dan bahasa yang terjadi pada
timnya. Miskomunikasi tersebut merambat hingga ke berbagai pos strategis hingga
menyebabkan birokrasi berantakan. Tariq terperanjat. Akan tetapi, informasi tersebut tidak
sia-siakan. Ia segera mempertimbangkan beberapa alternatif langkah untuk memulihkan
kondisi tersebut.
Adapun beberapa masalah krusial yang dihadapi Tariq dapat dikategorikan menjadi
beberapa poin sebagai berikut:
a. Bahasa
Hampir setiap anggota tim yang dibawahi Tariq berkomunikasi dengan beberapa
Bahasa; Inggris, Rusia, Arab, dan lainnya. Ini menyebabkan tim terbagi menjadi
beberapa grup sesuai bahasa yang digunakan. Tingkat penguasaan Bahasa
Inggris tiap anggota juga berbeda sehingga menyulitkan komunikasi.

1
b. Zona Waktu
Tim bekerja dalam zona waktu, hari kerja, dan libur yang berbeda. Saat mayoritas
tim di Eropa bekerja pada Kamis dan Jumat, mereka yang bertugas di Arab Saudi
justru tengah menikmati hari libur.
c. Budaya dan Usia
Tidak banyak anggota tim yang sadar akan perbedaan kewarganegaraan serta
rentang usia mereka.

Ketiga masalah tersebut membuat kinerja perusahaan menurun selama kurun waktu
dua tahun terakhir. Tingkat kepuasan karyawan juga berkurang hampir 50%. Langkah awal
Tariq dimulai dengan bertemu 3 eksekutif senior; Lars, Sunil, dan Ramazan. Menggali
informasi dari ketiganya tidak mudah. Setelah 12 jam rapat, barulah Tariq dapat
menyimpulkan bahwa ada insensitifitas budaya pada top management Tek. Selanjutnya, ia
Bersama ketiga eksekutif senior tersebut melakukan kunjungan kerja ke sejumlah tim
diberbagai negara dan mencoba menggali lebih dalam tentang performa yang perlu dibenahi
serta masalah yang harus ditindaklanjuti.

B. Analysis
Secara umum, berikut data dan perbedaan antar kultur yang dialami oleh tim Tariq:
a. 68 anggota tim yang terdiri dari;
b. 27 kewarganegaraan
c. Berusia antara 21-66 tahun
d. 18 bahasa lisan
Perbedaan tersebut menyebabkan setiap karyawan menghadapi permasalahan seperti:
a. Clique; terbentuknya grup-grup yang lebih kecil karena kesamaan hal
b. Hambatan bahasa; bahasa negara asal dan tingkat penguasaan bahasa Inggris
c. Perbedaan budaya dan aspek relijius
d. Keharmonisan tim dipertanyakan, serta kepuasan kerja tim menurun hampir 50%
dalam dua tahun terakhir
Dalam kesempatan yang lain, Tariq mendapati bahwa salah satu dari eksekutif senior
memiliki pembawaan diri yang kurang selaras dengan posisi yang dijabatnya. Lars
(Swedia) diketahui memiliki perangai negatif seperti kurang santun dan sering
merendahkan budaya lokal. Disisi lain, secara performa, Lars termasuk salah satu
manager dengan rekam jejak memuaskan. Lars bekerja dengan antusias dan menjabat
posisi yang strategis sehingga pemberhentiannya dapat mengakibatkan dampak signifikan
bagi perusahaan.

2
C. Recommendation
Berdasarkan informasi yang tersedia; Tariq dapat memulai peningkatan kinerja
dengan menyamakan persepsi antara dirinya dan ketiga eksekutif senior (Lars, Sunil, dan
Ramazan). Ia telah mengantongi amunisi yang cukup mengingat ketiga pejabat tersebut
bersedia terbuka dan mencoba memahami kebutuhan partnernya.
Lebih detailnya, Tariq dapat mengimplementasikan strateginya dalam 3 poin praktis:
a. Menciptakan budaya organisasi
Goodall (1993) menganggap bahwa budaya organisasi terbantuk dari
kesamaan norma dan nilai yang dianut para anggota. Budaya organisasi
diperlukan untuk menciptakan keselarasan pemahaman visi misi, kinerja, serta
norma-norma universal yang disepakati bersama. Budaya organisasi yang baik
dapat menumbuhkan rasa kepemilikan tim serta meminimalisir miskomunikasi
antar anggota.
b. Meningkatkan atmosfer positif di tempat kerja
Dengan mengadakan acara-acara yang dapat memperkuat bonding antar
anggota, kekompakan tim dapat ditingkatkan. Selain itu, mendukung kegiatan tim
sesuai dengan budaya masing-masing juga dapat mendorong anggota untuk
berpikir kreatif dalam menghasilkan program baru bagi perusahaan. Rekomendasi
ini sesuai dengan teori motivasi Y yang dikemukakan McGregor (1960) bahwa
karyawan telah memahami tugas dan tanggungjawabnya dalam perusahaan.
c. Menyepakati Bahasa Inggris sebagai media komunikasi tim
Karena tidak semua anggota menguasai bahasa yang sama, mereka
cenderung menggunakan bahasa natifnya untuk berkomunikasi. Perusahaan perlu
mengadakan kelas akselerasi bahasa Inggris bagi yang kurang serta menetapkan
standar umum penguasaan bagi anggota tim yang baru.
d. Merumuskan solusi untuk permasalahan individu (Lars)
Tariq dapat memulai dengan menentukan status Lars apakah termasuk asset
atau beban perusahaan dengan mempertimbangkan performa serta kontribusinya.
Untuk mengurangi sikap buruknya, Lars dapat mengikuti pelatihan sensitiftas
terhadap budaya lain. Bagaimana ia harus bersikap ketika berada dalam situasi
yang tidak sesuai dengan nilai serta norma yang dianutnya, serta cara menjaga
diri agar tidak menyakiti perasaan orang lain.
Berikan Lars pilihan antara peluangnya dalam promosi karir jika ia mau
memperbaiki sikap dengan efek bagi perusahaan jika ia tetap bertahan pada
perangainya. Pilihan ini dapat mendewasakan Lars dan memberinya kesempatan
untuk melihat masalah secara menyeluruh (seeing the whole picture).

3
4