Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

BPH

Ungkas Herlambang
NIM. P1337420214060

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO

JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK

KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

2017
1. Pengertian

Pengertian Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan perbesaran


atau hipertrofi pada prostat. Banyak klien yang berusia diatas 50 tahun
mengalami perbesaran kelenjar prostat, memanjang ke atas ke dalam
kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi urifisium
uretra (Fillingham and Douglas, 2000). Selain itu, BPH juga merupakan
kondisi patologis yang paling umum untuk pria lansia.

2. Manifestasi klinis

Berdasarkan Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAIU), tanda dan gejala BPH
dibagi menjadi dua yang meliputi gejala obstruktif dan iritatif, yakni:

a. Gejala Obstruktif

Hesitansi yaitu memulai fase berkemih yang lama dan kadang


disertai mengejan
Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing saat BAK
Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir BAK
Pancaran lemah yakni kelemahan kekuaran dan kaliber pancaran
detrusor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di
uretra
Rasa tidak puas saat berkemih

b. Gejala iritasi

Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan
Frekuensi yaitu BAK lebih sering dari biasanya
Disuria yaitu nyeri pada saat BAK Kumpulan gejala tersebut dikenal
dengan istilah LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms)

3. Etiologi

Penyebab dari perbesaran kelenjar prostat tidak diketahui secara pasti.


Namun, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perbesaran kelenjar
prostat, diantaranya:
Dihydrotestosteron Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor
androgen yang dapat menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar
prostat mengalami pembesaran.
Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron Proses
penuaan pada pria menyebabkan peningkatan hormon estrogen
dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasia
stroma.
Interaksi stroma - epitel Peningkatan epidermal growth factor atau
fibroblast growth factor dan penurunan transforming growth factor
beta menyebabkan pembesaran atau hiperplasia pada stroma dan
epitel.
Berkurangnya sel yang mati Prostat berada dalam keadaan
seimbang antara sel yang tumbuh dan mati. Namun, peningkatan
estrogen yang menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan
epitel dari kelenjar prostat.
Teori sel stem Pada keadaan tertentu terjadi peningkatan sel stem
yang meningkatkan proliferasi sel transit.

4. Faktor resiko

Kadar hormon Kadar hormon testosteron yang meningkat


berhubungan dengan peningkatan kadar dihydrotestosteron
yang memegang peranan penting terjadinya BPH dan LUTS
(Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci, Edward., 2005)
Usia Benigna prostat hyperplasia memiliki prevalensi yang tinggi
pada lansia. Prevalensi BPH pada lansia Amerika usia 60
sampai 69 tahun diperkirakan lebih dari 70%. (Parsons, Kellogg
and Kashefi, Carol., 2008)
Obesitas Obesitas berhubungan dengan ukuran prostat dan
kecepatan pertumbuhan prostat. Sebuah studi yang dilakukan
pada 158 klien ditemukan pembesaran prostat lebih sering
ditemukan pada klien yang memiliki masalah obesitas,
hipertensi dan diabetes tipe 2. (Parsons, Kellogg and Kashefi,
Carol., 2008)
Pola diet Sebuah analisis data dari Health Profesional Follow-up
Study, lakilaki dengan total intake energi tinggi dan intake tinggi
protein memiliki peningkatan risiko BPH jika dibandingkan
dengan laki-laki dengan konsumsi energi dan protein yang
rendah. (Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci, Edward.,
2005)
Aktivitas seksual Saat kegiatan seksual, kelenjar prostat akan
mengalami peningkatan tekanan darah sebelum terjadi
ejakulasi. Suplai darah yang tinggi akan menyebabkan kelenjar
prostat menjadi bengkak. Penelitian yang dilakukan James
Meigs (2001) menunjukkan laki-laki yang menikah dan hidup
bersama istri memiliki risiko 60% peningkatan gejala klinis BPH.
Kebiasaan merokok Beberapa penelitian tidak menemukan
dampak yang signifikan antara aktivitas merokok dengan
peningkatan risiko BPH. Namun, ada sebuah studi yang
menunjukkan perokok berat lebih mudah terkena LUTS jika
dibandingkan dengan bukan perokok. Rokok sendiri
meningkatkan konsentrasi testosteron. Peningkatan testosteron
berhubungan dengan peningkatan konsentrasi
dihydrotestosteron yang berperan penting dalam perkembangan
BPH dan LUTS. (Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci,
Edward., 2005)
Kebiasaan minum-minuman beureuralkohol Minum-minuman
beralkohol dapat meningkatkan risiko terjadinya BPH
(Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci, Edward., 2005)
Olah raga Pada pria yang rutin melakukan aktivitas fisik
berpeluang lebih kecil untuk mengalami gangguan pembesaran
prostat (Parsons, Kellogg and Kashefi, Carol., 2008)
Penyakit diabetes melitus Sebuah studi yang dilakukan pada
158 klien ditemukan pembesaran prostat lebih sering ditemukan
pada klien yang memiliki masalah obesitas, hipertensi, dan
diabetes tipe 2 (Parsons, Kellogg and Kashefi, Carol., 2008)

5. Pemeriksaan penunjang
Berdasarkan Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI), terdapat beberapa cara
untuk penegakkan diagnostik BPH, antara lain:

a. Pemeriksaan fisik Digital rectal examination atau colok dubur


merupakan salah satu pemeriksaan fisik yang penting pada klien BPH.
Pemeriksaan colok dubur digunakan untuk memperkirakan adanya
pembesaran prostat, konsistensi prostat, dan adanya nodul yang
merupakan salah satu tanda dari keganasan prostat.

b. Urinalisis Pemeriksaan urinalisis dapat menunjukkan adanya


leukosituria dan hematuria. Benigna prostate hyperplasia (BPH) yang
sudah menimbulkan komplikasi seperti infeksi saluran kemih, batu buli-buli
yang menimbulkan keluhan miksi akan menunjukkan adanya kelainan
pada pemeriksaan urinalisis. Oleh karena itu, jika dicurigai adanya infeksi
saluran kemih perlu dilakukan pemeriksaan kultur urine.

c. Pemeriksaan fungsi ginjal Pemeriksaan faal ginjal dilakukan untuk


menentukan perlu atau tidaknya dilakukan pemeriksaan pencitraan pada
saluran kemih bagian atas.

d. Pemeriksaan PSA (Prostate Spesific Antigen) Pertumbuhan volume


kelenjar prostat dapat diprediksikan berdasarkan kadar PSA. Kadar PSA
di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada peradangan, setelah
manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urin
akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin tua. Serum
PSA meningkat pada saat terjadi retensi urin akut dan kadarnya perlahan-
lahan menurun terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi. Rentang
kadar PSA yang dianggap normal berdasarkan usia adalah:

40-49 tahun : 0-2,5 ng/ml

50-59 tahun : 0-3,5 ng/ml

60-69 tahun : 0-4,5 ng/ml

70-79 tahun : 0-6,5 ng/ml


e. Catatan harian miksi (voiding diaries) Catatan harian miksi dipakai
untuk menilai fungsi traktus urinarius bagian bawah dengan reliabilitas dan
validitas yang baik. Pencatatan miksi berguna pada klien yang mengeluh
nokturia sebagai keluhan utama yang menonjol.

f. Uroflowmetri Uroflowmetri merupakan pencatatan pancaran urine


selama proses miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mengetahui adanya gejala obstruktif saluran kemih bagian bawah yang
tidak invasif.

g. Pemeriksaan residual urin Residual urin merupakan sisa urin yang


tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi. Jumlah residual urine pada
orang normal adalah 0,09- 2,24 ml dengan rata-rata 0,53 ml. Sebanyak
78% pria normal memiliki residual urine kurang dari 5 ml dan semua pria
normal mempunyai residual urin tidak lebih dari 12 ml.

h. Pencitraan traktur urinarius Pencitraan traktur urinarius pada BPH


meliputi pemeriksaan traktur urinarius bagian atas maupun bawah dan
pemeriksaan prostat. Pemeriksaan USG prostat bertujuan untuk menilai
bentuk, besar prostat, dan mencari kemungkinan adanya karsinoma
prostat.

i. Uretrosistoskopi Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui


keadaaan uretra prostatika dan buli-buli. Uretrosistoskopi dilakukan pada
saat akan dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan tindakan
yang akan diambil yakni TUIP, TURP atau prostatektomi terbuka.

j. Pemeriksaan urodinamika Berbeda dengan pemeriksaan uroflowmetri


yang hanya dapat menilai pancaran urin, pemeriksaan urodinamika dapat
membedakan pancaran urin yang lemah disebabkan karena obstruksi
leher buli-bulu dan uretra atau kelemahan kontraksi otot detrusor.
Pemeriksaan ini cocok untuk klien yang akan menjalani prosedur
pembedahan

6. Penatalaksanaan medis
Berdasarkan Ikatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI), terdapat beberapa cara
untuk penanganan BPH, antara lain:

a. Watchful waiting Watchful waiting artinya klien tidak mendapatkan terapi


apapun namun perkembangan penyakitnya selalu di pantau oleh dokter.
Pada watchful waiting ini, klien diberikan penjelasan mengenai hal yang
dapat memperburuk keluhannya, misalnya mengkonsumsi kopi atau
alkohol setelah makan malam, membatasi konsumsi obat-obatan
influenza yang mengandung fenilpropanolamin, makan makanan pedas
dan asin, dan menahan kencing yang terlalu lama. Setiap 6 bulan, klien
diminta untuk memeriksakan diri dan memberitahukan mengenai
perubahan keluhan yang dirasakannya. Watchful waiting dilakukan jika
klien belum bermasalah dengan pembesaran prostat yang dialami

b. Medikamentosa Terapi medikasi dilakukan jika BPH mulai bergejala dan


mencapai tahap tertensu. Dalam pengobatan, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan diantaranya jenis obat yang digunakan, pemilihan obat,
dasar pertimbangan terapi, dan evaluasi selama pemberian obat.
Beberapa obat yang biasa digunakan adalah antagonis adregenik yang
bertujuan menghambat kontraksi otot polos prostat sehingga mengurangi
resistensi tonus leher buli-buli dan uretra. Beberapa obat dari golongan
antagonis adregenik diantaranya pirazosin, terazosin, doksazosin, dan
tamsulosin. Selain itu ada obat dari golongan inhibitor 5 -reduktase yang
bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron
(DHT).

c. Pembedahan Pembedahan sampai saat ini menjadi solusi terbaik


pengobatan BPH yakni dengan mengangkat bagian kelenjar prostat yang
menyebabkan obstruksi. Terdapat tiga macam teknik pembedahan yang
direkomendaikan diantaranya Prostatektomi terbuka, insisi prostat terbuka
(TUIP), dan reseksi prostat transuretra (TURP).

d. Continuous bladder irrigation adalah sebuah prosedur yang dirancang


untuk mencegah formasi dan retensi clot sehubungan dengan
dilakukannya TURP (Christine, Ng, 2001). Afrainin, Syah (2010)
menjelaskan Continuous Bladder Irrigation (CBI) merupakan tindakan
membilas atau mengalirkan cairan secara berkelanjutan pada bladder
untuk mencegah pembentukan dan retensi clot darah yang terjadi setelah
operasi transurethral resection of the prostate (TURP).

7. Keperawatan pre dan post operasi

Perawatan pre operatif dan post operatif sangat penting untuk


diperhatikan oleh perawat. Berikut ini akan dibahas tentang hal-hal yang
harus diperhatikan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pre
operatif dan post operatif pada klien BPH (Fillingham and Douglas, 2000),
yakni:

1. Perawatan Pre Operatif

Penjelasan mengenai perawatan pre operatif dan post operatif


penting untuk dijelaskan kepada klien. Banyak laki-laki yang tidak
peduli bahwa laki-laki memiliki kelenjar prostat sampai suatu saat
timbul masalah pada prostat tersebut dan sebagian besar tidak
memahami mengapa hal tersebut dapat terjadi. Perawat harus
memberikan edukasi tentang dimana kelenjar prostat berada dan
mengapa dapat menimbulkan masalah. Penjelasan dengan
menggunakan gambar mungkin dapat membantu. Selain edukasi,
perawat juga harus mempersiapkan perawatan pre operatif lainnya
yang meliputi:

a) Chest X-ray jika klien memiliki masalah respirasi atau


jantung
b) Spesimen darah
c) Persediaan dua unit kantong darah
d) Pemeriksaan EKG
e) Pemeriksaan urin midstream

2. Perawatan Post Operatif

a. Perdarahan post operasi


Kelenjar prostat mengandung banyak pembuluh darah, oleh
karena itu pemantauan perdarahan harus dilakukan dengan
seksama. Pemantauan tekanan darah dan nadi dilakukan setiap
15 sampai 60 menit sampai stabil. Jika terjadi penurunan
tekanan darah dan peningkatan nadi dengan ekstremitas dingin,
maka perlu dicurigai klien mengalami hipovolemik. Jika terjadi
perdarahan, maka irigasi dipercepat dengan tujuan mencegah
terjadinya clot dan tersumbatnya kateter. Kateter yang tersumbat
akan menyebabkan klien mengeluh ingin BAB. Jika hal ini terjadi,
irigasi kandung kemih harus Kateter yang tersumbat akan
menyebabkan klien mengeluh ingin BAB. Jika hal ini terjadi,
irigasi kandung kemih harus dihentikan untuk mencegah distensi
kandung kemih dan ketidaknyamanan pada klien.

b. Pemantauan hidrasi dan output

Klien umumnya terpasang infus untuk memastikan klien tidak


mengalami dehidrasi dan memiliki urin output yang baik. Hal ini
dipantau selama 24 jam sampai klien dapat minum tanpa
keluhan mual dan muntah. Jika tidak ada komtraindikasi, klien
dianjurkan untuk minum kurang lebih tiga liter air per hari untuk
mencapai urin output yang baik dan mengurangi risiko terjadinya
hematuria. Jumlah irigasi harus dipantau dengan seksama dan
dipastikan bahwa total output sesuai dengan input. Jika irigasi
diabsorbsi ke dalam pembuluh darah, maka TUR sindrom dapat
terjadi. Hal ini bukan merupakan hal yang umum terjadi namun
sangat berbahaya. Jika cairan diserap ke dalam pembuluh
darah, maka akan menyebabkan dilusi dan overload cairan.
Klien akan menjadi bingung dan tidak sadar. Perawat harus
segera memberitahukan pada dokter jika terjadi sindrom TURP.

c. Infeksi selama operasi dan kateter indweling


Pemantauan suhu dilakukan selama empat jam pertama. Setiap
kenaikan suhu yang terjadi, segera diberitahukan pada dokter.
Jika klien diketahui mengalami infeksi saluran kemih, maka
antibiotik harus segera diberikan. Untuk mencegah infeksi, area
insersi kateter dibersihkan dan dijaga agar tetap bersih dan
kering.

d. Nyeri akibat pemasangan kateter

Nyeri selama pelaksanaan operasi merupakan hal yang wajar.


Spasme kandung kemih yang dimanifestasikan dengan nyeri
akut, nyeri abdomen bagian bawah disebabkan karena iritasi
balon kateter yang menjaga agar kateter tetap berada dalam
posisi yang tepat. Fiksasi kateter pada bagian paha mungkin
dapat mengurangi pergerakan kateter dan akan mengurangi
nyeri. Jika spasme sudah sangat mengganggu, dokter dapat
memberikan obat antispasmodik seperti oxybutynin atau
propantheline bromide.

e. Konstipasi akibat pembatasan mobilisasi

Klien sudah mulai beraktivitas secara bertahap sehari setelah


operasi. Namum, konstipasi dapat menjadi masalah karena klien
takut untuk beraktivitas karena kateter yang masih terpasang.
Oleh karena itu, diet tinggi serat harus diberikan atau jika intake
klien sulit mungkin obat supositouria dapat diberikan.

f. Pelepasan kateter

Ketika kateter dilepas, klien akan mengalami kesulitasn untuk


mengosongkan kandung kemih dan menyebabkan terjadinya
retensi urin. Sebagian besar klien mengalami peningkatan
berkemih dan keinginan berkemih yang mendesak saat kateter
dilepaskan. Perawat harus menjelaskan pada klien bahwa
volume saat berkemih mungkin hanya 50-75 ml setiap berkemih.
Akan tetapi, jumlahnya akan semakin meningkat setiap harinya.

Diagnosa Pre operasi

1. Retensi urine (akut/kronik) berhubungan dengan Obstruksi


mekanik; pembesaran prostat.

Tujuan : Berkemih dengan jumlah adekuat tanpa distensi


kandung kemih.

Kriteria evaluasi : 1). Berkemih dengan jumlah yang cukup tak


teraba distensi kandung kemih. 2).Menunjukkan residu pasca-
berkemih kurang dari 50 ml, dengan tak adanya tetesan/kelebihan
aliran.

Intervensi :1). Dorong klien untuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila
tiba-tiba dirasakan. 2). Tanyakan klien tentang inkontinensia stres.
3). Observasi aliran urine, perhatikan ukuran dan kekuatan. 4).
Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih. 5).
Perkusi/palpasi area suprapubik 6). Dorong masukan cairan
sampai 3000 ml sehari, dalam toleransi jantung, bila
diindikasikan. 7). Awasi tanda vital dengan ketat. 8). Kolaborasi
dengan pemberian obat Antiposmadik (menghilangkan spasme
kandung kemih sehubungan dengan iritasi oleh kateter) sesuai
indikasi.

2. Nyeri akut berhubungan dengan Iritasi mukosa; distensi


kandung kemih, kolik ginjal; infeksi urinaria; terapi radiasi.

Tujuan : nyeri berkurang atau hilang.

Kriteria evaluasi : 1). Melaporkan nyeri hilang atau


terkontrol. 2). Postur dan wajah rileks. 3). Mendemonstrasikan
keterampilan relaksasi, modifikasi perilaku untuk menghilangkan
nyeri. 4). Mengekspresikan perasaan nyaman.

Intervensi :

1). Kaji nyeri, perhatikan lokasi,intensitas ( skala (0-10 ), lamanya.


2). Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen.
3). Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. 4). Bantu klien
dalam melakukan posisi nyaman dan ajarkan teknik relaksasi
napas dalam. 5). kolaborasi dengan pemberian obat penghilang
rasa nyeri sesuai indikasi.

3. Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan


berhubungan dengan pasca obstuksi diuresis dari drainase
cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis.

Tujuan : Kebutuhan volume cairan klien terpenuhi.

Kriteria evaluasi : 1). Mempertahankan hidrasi adekuat


dibuktikan oleh tanda vital stabil. 2). Nadi perifer teraba. 3).
Pengisian kapiler baik. 4). Membran mukosa lembab.

Intervensi : 1). Awasi keluaran dengan hati-hati, tiap jam bila


diindikasikan. 2). Dorong peningkatan pemasukan oral. 3). Awasi
TD, nadi dengan sering. 4). Tingkatkan tirah baring dengan kepala
tinggi. 5). Awasi elektrolit, khususnya natrium. 6). Kolaborasi
dengan pemberian cairan IV sesuai kebutuhan.

4. Ketakutan/ansietas berhubungan dengan perubahan status


kesehatan: kemungkinan prosedur bedah/malignansi.

Tujuan : klien menunjukkan ekspresi rileks

Kriteria evaluasi : 1). Klien tampak rileks dan mengatakan


ansitas berkurang pada tingkat yang dapat diatasi. 2).
Mendemontrasikan keterampilan pemecahan masalah.
Intervensi : 1). Kaji tingkat ansietas klien. 2). Berikan
informasi yang akurat dan jawab dengan jujur. 3). Berikan
kesempatan klien untuk mengungkapkan masalah yang
dihadapi. 4). Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin
merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi
proses penyembuhannya.

5. Potensial terhadap infeksi berhubungan dengan


penggunaan kateter dan/atau retensi urine.

Tujuan : infeksi tidak terjadi

Kriteria evaluasi : 1). Suhu dalam rentang normal. 2). Urine


jernih, warna kuning, tanpa bau. 3). Tidak terjadi distensi kandung
kemih.

Intervensi : 1). Periksa suhu tiap 4 jam. 2) Tuliskan karakter urne;


laporkan bila keruh atau bau busuk. 3). Bila ada kateter uretral,
pertahankan sistem drainase gravitasi tertutup. 4). Gunakan teknik
steril untuk kateterisasi intermiten selama perawatan di rumah
sakit. 5). Pantau abdomen atau kandung kemih terhadap
distensi. 6). Pantau dan laporkan tanda dan gejala infeksi saluran
kemih. 7). Gunakan teknik cuci tangan yang baik.

6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan


kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang
informasi.

Tujuan : mengatakan pengertiannya tentang kondisi dan


tindakan medis yang dilakukan.

Kriteria evaluasi : 1). Klien mengungkapkan pemahaman


tentang kondisi, prognosis dan tindakan. 2). Melakukan kembali
perubahan gaya hidup.
Intervensi : 1). Jelaskan kembali proses penyakit dan
prognosis serta pembatasan kegiatan seperti menghindari
mengemudikan kendaraan dalam periode waktu yang cukup
lama. 2). Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri
untuk berdiri, mengangkat, dan menggunakan sepatu
penyokong. 3). Diskusikan mengenai pengobatan dan efek
sampingnya, seperti halnya beberapa obat yang menyebabkan
kantuk yang sangat berat ( analgetik, relaksan otot ). 4). Anjurkan
menggunakan papan/matras yang kuat, bantal kecil yang agak
datar dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari
posisi telungkup. 5). Diskusikan mengenai kebutuhan diit. 6).
Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama. 7). Anjurkan
untuk melakukan kontrol medis secara teratur.

Diagnosa Post operasi

1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah, spasme kandung


kemih, dan retensi urine.

Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang

Kriteria evaluasi : Nyeri berkurang atau hilang dan ekspresi


wajah tampak rileks

Intervensi : 1). Kaji nyeri, perhatikan lokasi,intensitas ( skala 0-


10 ), lamanya dan faktor pencetus. 2). Pertahankan tirah baring
bila diindikasikan. 3). Bantu klien dalam melakukan posisi nyaman
dan ajarkan teknik relaksasi napas dalam. 4) kolaborasi dengan
pemberian obat penghilang rasa nyeri sesuai indikasi.

2. Perubahan eliminasi perkemihan . berhubungan dengan


reseksi pembedahan dan irigasi kandung kemih.

Tujuan : Berkemih tanpa aliran berlebihan.


Kriteria evaluasi : keteter berada pada posisi yang tetap dan
tidak ada sumbatan.

Intervensi : 1). Kaji posisi kateter. 2). Kaji warna, karakter dan
aliran urine serta adanya bekuan melalui kateter tiap 2 jam. 3).
Catat jumlah irigan dan haluaran urine. 4). Kaji kandung kemih
terhadap retensi. 5). Kaji dengan sering lubang aliran keluar
urine. 6). Masukkan larutan irigasi melalui lubang terkecil dari
kateter.

3. Potensial terhadap infeksi yang berhubungan dengan


adanya kateter dikandung kemih dan insisi bedah.

Tujuan : infeksi tidak terjadi

Kriteria evaluasi : 1). Suhu dalam rentang normal. 2). Urine


jernih, warna kuning, tanpa bau. 3). Tidak terjadi distensi kandung
kemih.

Intervensi : 1). Periksa suhu tiap 4 jam. 2). Tuliskan karakter


urine; laporkan bila keruh atau bau busuk. 3). Bila ada kateter
uretral, pertahankan sistem drainase gravitasi tertutup. 4).
Gunakan teknik steril untuk kateterisasi intermiten selama
perawatan di rumah sakit. 5). Pantau abdomen atau kandung
kemih terhadap distensi. 6). Pantau dan laporkan tanda dan gejala
infeksi saluran kemih. 7). Gunakan teknik cuci tangan yang baik.

4. Potensial kekurangan volume cairan yang berhubungan


dengan kehilangan darah berlebihan.

Tujuan : Tidak ada tanda-tanda kemerahan, bengkak dan panas.

Kriteria evaluasi : TTV dalam batas normal, urine berwarna


jernih, tidak ada kemerahan, bengkak dan peningkatan suhu.

Intervensi : 1). Pantau tanda dan gejala hemorragi. 2). Pantau


uretra dan suprapubis terhadap pendarahan yang berlebihan. 3).
Pertahankan traksi pada kateter bila diprogramkan. 4). Pantau Hb
dan Ht.

5. Disfungsional seksual yang berhubungan dengan


perubahan pola seksual.

Tujuan : Klien dapat mengungkapkan perasaannya tentang


seksualitas.

Kriteria evaluasi : Klien dapat mengungkapkan perasaannya


tentang seksualitas

Intervensi : 1). Berikan kesempatan untuk diskusi tentang


seksualitas antara pasien dan orang terdekat. 2). Beri informasi
tentang harapan kembalinya fungsi seksual. 3). Berikan informasi
tentang konseling seksual.

6. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang


informasi tentang rutinitas pascaoperasi.

Tujuan : Klien mengerti tentang rutinitas pascaoperasi.

Kriteria evaluasi : Klien mengerti tentang rutinitas pascaoperasi,


gejala yang harus dilaporkan kedokter dan perawatan dirumah,
serta instruksi evaluasi dan dapat mendemostrasikan ulang latihan
perineum dan perawatan luka insisi.

Intervensi : 1). Instruksikan pada klien untuk menghindari duduk


terlalu lama 2). Lakukan latihan perineal 10 sampai 20 menit tiap
jam setelah kateter dilepas. 3). Pertahankan diet dan hindari
konsumsi kopi, teh dan cola serta alkohol. 4). Hindari latihan yang
membutuhkan kekuatan otot 5). Hindari aktivitas seksual selama 1
bulan. 6). Instruksikan klien untuk menghindari konstipasi. 7).
Ajarkan cara perawatan dan mengganti balutan.

8. Komplikasi
Beberapa komplikasi mungkin terjadi pada klien BPH yang telah menjalani
prosedur pembedahan, baik prostatektomi maupun TURP. Berikut
beberpa komplikasi yang mungkin terjadi (Fillingham and Douglas, 2000) :

a. Inkontinensia Satu persen klien yang menjalani operasi prostatektomi


mengalami inkontinensia dalam jangka waktu yang lama.

b. Striktur Striktur uretra dapat terjadi sepanjang prosedur operasi.

c. Impotensi TURP yang diikuti terjadinya impotensi dilaporkan terjadi


antara 4% dan 30% (Tanagho and McAnicnh, 1992).

d. Hemoragi Perdarahan post operatif terjadi hampir pada 4% klien post


operatif. Perdarahan berulang dapat saja terjadi yang menyebabkan klien
harus kembali ke rumah sakit.

e. Kematian Secara keseluruhan, kematian akibat TURP kurang dari1%


dan biasanya terjadi akibat permasalahan kardiovaskular atau komplikasi
pernafasan. Namun, risiko kematian juga dapat ditimbulkan jika terjadi
sindroma TUR dan tidak segera dilakukan penanganan secara tepat.

9. Patofisiologi
DAFTAR PUSTAKA
Doonges, Marilynn E. (1999). Nursing Care Plans ( I Made K,
penerjemah) Third Edition.Jakarta : EGC. (sumber asli diterbitkan
1993)
Fillingham and Douglas. (2000). Urological Nursing. 2 nd Ed. China:
Bailiere Tindall.
Ikatan Ahli Urologi Indonesia. (IAUI). Pedoman Penatalaksanaan BPH di
Indonesia. Style sheet. www.iaui.or.id/ast/file/bph.pdf diambil pada
26 Juni 2013
Kellogg, Parson., Sarma, Aruna., McVanry., Wei, John. (2007). Obesity
and Benign Prostatic Hyperplasia: Clinical Connections, Emerging
Etiological Paradigms and Future Directions. Style sheet.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S00225347120549
48 diambil pada 27 Juni 2013
Kellogg, Parsons and Kashefi, Carol. (2008). Physical Activity, Benigna
Prostate Hyperplasia and LUTS. Style sheet.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S03022838080019
17# diambil pada 27 Juni 2013
Meigs, James et al. (2001). Risk factors for clinical benign prostatic
hyperplasia in a community-based population of healthy aging
men. Style
sheet.http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S089543560
100351 1 diambil pada 27 Juni 2013
Ng, Christine. (2001). Assessment and intervention knowledge of nurses
in managing catheter patency in continuous bladder irrigation
following TURP. Urologic Nursing, 21(2), 97-8, 101-7, 110-1.
Retrieved from http://search.proquest.com/docview/220146614?
accountid=17242
Rohrmann, S., Platz, Elizabeth., Giovannuci, Edward. (2005). Lifestyle and
benign prostatic hyperplasia in older men: what do we know.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S15718913050006
10
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Brunner & Suddarths Textbook of Medical
Surgical Nursig. (dr. H. Y. Kuncara, Penerjemah) Volume II Eight
Edition. Philadelphia : Lippincott-Raven Publisher. (sumber asli
diterbitkan 1996)
Syah, Nur Afrainin, MD,M.Med Ed. (2010). Bladder irrigation, post
transurethral resection of the prostate 2010-02-20]. Adelaide:
Joanna Briggs Institute. Retrieved from
http://search.proquest.com/docview/921745575?accountid=17242