Anda di halaman 1dari 5

TUGAS TERSTRUKTUR KEWIRAUSAHAAN

KISAH ORANG SUKSES

KISAH SUKSES TIRTO UTOMO DAN SEJARAH AQUA

Nama : RAHMI KANIA SORAYA

NIM : G1F011035

Kelas : A

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2013
KISAH SUKSES TIRTO UTOMO DAN SEJARAH AQUA

Orang Indonesia pasti mengenal merk Aqua, Merk ini sangat dikenal masyarakat di
seluruh daerah dari perkotaan sampai dengan pedesaan. Aqua menjadi pelopor air minum dalam
kemasan di Indonesia, yang merupakan ide dari Tirto Utomo yang tidak lain adalah Pendiri
Aqua. Tirto Utomo atau Kwa Sien Biauw dilahirkan di Wonosobo, Jawa Tengah 8 Maret 1930.
Karena di Wonosobo tidak ada SMP maka Tirto Utomo harus bersekolah di Magelang yang
berjarak sekitar 60 kilometer, perjalanan itu ditempuh dengan sepeda. Kehidupannya tergolong
lumayan karena orangtuanya pengusaha susu sapi dan pedagang ternak. Lulus SMP Tirto Utomo
melanjutkan sekolah ke HBS (sekolah setingkat SMA di zaman Hindia Belanda) di Semarang
dan kemudian di Malang. Masa remaja Tirto Utomo dihabiskan di Malang dan di situlah dia
bertemu dengan Lisa / Kienke (Kwee Gwat Kien). Seperti lazimnya sekolah Katholik pada
waktu itu maka sekolah untuk murid laki-laki dan murid perempuan dipisah. Mereka berdua
hanya sempat bertemu di lapangan sekolah.

Selama dua tahun kuliah di Universitas Gajah Mada yang ada di Surabaya, dia mengisi
waktu luang dengan menjadi wartawan Jawa Pos dengan tugas khusus meliput berita-berita
pengadilan. Namun, karena kuliah tidak menentu, akhirnya Tirto pindah ke Fakultas Hukum
Universitas Indonesia. Di Jakarta sambil kuliah ia bekerja sebagai Pimpinan Redaksi harian Sin
Po dan majalah Pantja Warna. Pada tahun 1954 selepas SMA di Malang, Lisa masuk Fakultas
Sastra Universitas Indonesia. Sambil kuliah, Lisa bekerja di British American Tobacco (BAT
Indonesia). Maret 1955 Lisa gagal mengikuti ujian kenaikan tingkat dan kemudian memutuskan
berhenti kuliah. Saat Lisa mengajar bahasa Inggris di Batu Ceper, menjadi guru SD Regina
Pacis, dan menerima jasa penerjemahan dan pengetikan, Lisa dilamar Tirto dan mereka menikah
pada 21 Desember 1957 di Malang.

Musibah datang pada tahun 1959. Tirto diberhentikan sebagai pemimpin redaksi Sin Po.
Akibatnya sumber keuangan keluarga menjadi tidak jelas. Namun, akibat peristiwa itulah Tirto
Utomo memiliki kemauan yang bulat untuk menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum UI.
Sementara Lisa berperan sebagai pencari nafkah yaitu dengan mengajar dan membuka usaha
catering, Tirto belajar dan juga ikut membantu istrinya. Pada Oktober 1960 Tirto Utomo berhak
menyandang gelar Sarjana Hukum. Setelah lulus, Tirto Utomo melamar ke Permina (Perusahaan
Minyak Nasional) yang merupakan cikal bakal Pertamina. Setelah diterima, ia ditempatkan di
Pangkalan Brandan. Di sana, keperluan mandi masih menggunakan air sungai. Berkat
ketekunannya, Tirto Utomo akhirnya menanjak karirnya sehingga diberi kepercayaan sebagai
ujung tombak pemasaran minyak.

Kedudukan Tirto Utomo sebagai Deputy Head Legal dan Foreign Marketing membuat
sebagian besar hidupnya berada di luar negeri. Pada usia 48 tahun, Tirto Utomo memilih pensiun
dini untuk menangani beberapa perusahaan pribadinya yakni AQUA, PT. Baja Putih, dan
restoran Oasis. Aqua didirikan dengan modal bersama adik iparnya Slamet Utomo sebesar Rp
150 juta. Mereka mendirikan pabrik di Bekasi tahun 1973 dengan nama PT. Golden Mississippi
dan merek produksi Aqua. Karyawan mula-mula berjumlah 38 orang. Mereka menggali sumur di
pabrik pertama yang dibangun di atas tanah seluas 7.110 meter persegi di Bekasi. Setelah bekerja
keras lebih dari setahun, produk pertama Aqua diluncurkan pada 1 Oktober 1974.
Bagaimana nama Aqua ini terbentuk? Desainer Singapura yang merancang logonya
mengusulkan nama Aqua. Kata Eulindra Lim, sang desainer tersebut, Aqua mudah diucapkan
dan mudah diingat selain bermakna air. Aqua sebenarnya bukan nama asing baginya. Dia
sendiri sering memakai nama samaran A Kwa yang bunyinya mirip dengan Aqua semasa
masih menjadi pemimpin redaksi harian Sin Po dan majalah Pantja Warna di akhir tahun 1950.
Nama A Kwa sendiri diambil dari nama aslinya yaitu Kwa Sien Biauw sedangkan nama Tirto
Utomo mulai dipakainya pertengahan tahun 1960-an yang tidak sengaja diambil yang berarti air
yang utama.
Dulu bukan main sulitnya. Dikasih saja orang tidak mau. Untuk apa minum air
mentah, itulah celaan yang tak jarang kami terima, ujar Willy Sidharta. Saat itu minuman
rignan berkabonasi seperti Cola Cola, Sprite, 7 Up, dan Green Spot sedang naik daun sehingga
gagasan menjual air putih tanpa warna dan rasa, bisa dianggap sebagai gagasan gila.
Hingga 1978 penjualan Aqua tersendat-sendat. Tidak heran bila Tirto Utomo sendiri
mengakui hampir menutup perusahaannya karena sekitar lima tahun berdiri tetapi titik impas
belum juga dapat diraih. Ia tidak tahan harus menombok terus menerus. Tetapi selalu ada rezeki
bagi orang yang ulet dan tabah. Tirto Utomo bersama manajemennya akhirnya mengeluarkan
jurus pamungkas dengan menaikkan harga jual hampir tiga kali lipat. Waktu itu ide ini bisa
dibilang juga bisa dibilang ide gila. Masa, ketika dalam kesulitan keuangan, bukannya
menurunkan harga agar para pelanggan berminat tapi malah menaikkan harga. Tirto sendiri
sudah menyiapkan antisipasi sekiranya upaya itu bakal menyebabkan penurunan omset. Namun,
pasar bicara lain. Omset bukannya menurun malahan terdongkrak naik. Agaknya orang menilai
harga tinggi sama dengan mutu tinggi. Aqua pun mulai melayani segmen yang tertarik untuk
berlangganan.
Pada tahun 1982, Aqua mengganti bahan baku (air) yang semula berasal dari sumur bor
ke mata air pegunungan yang mengalir sendiri (self-flowing spring) karena dianggap
mengandung komposisi mineral alami yang kaya nutrisi seperti kalsium, magnesium, potasium,
zat besi, dan sodium. Salah satu pelanggannya yaitu kontraktor pembangunan jalan tol Jagorawi,
Hyundai. Dari para insinyur Korea Selatan itu, kebiasaan minum air mineral pun menular kepada
rekan kerja pribumi mereka. Melalui penularan semacam itulah akhirnya air minum dalam
kemaasan diterima di masyarakat. Penampilan Tirto sehari-hari sangat sederhana, ramah, murah
senyum, namun cerdas berpikir. Dalam hubungannya dengan bawahan, ia menganut gaya
manajemen kekeluargaan dan mempercayai kemampuan karyawannya melalui sejumlah
pengembangan dan pelatihan manajemen. Pada waktu itu biaya pengemasan dapat mencapai
65% dari biaya produksi. Melihat itu, Tirto Utomo kemudian menyetujui ide Willy untuk
menggabungkan pabrik botol dengan bisnis air mineralnya yang bernama PT. Tirta Graha
Parama.

Saat ini, keluarga Tirto Utomo bukan lagi pemegang saham mayoritas karena sejak tahun
1996 perusahaan makanan asal Prancis Danone menguasai saham mayoritas, sedangkan saham
keluarga tinggal 26 persen. Meskipun demikian, Willy Sidharta, yang merupakan anak
kandung dari Tirto Utomo sendiri, memegang jabatan direktur dalam perusahaan tersebut.
Pilihan bergabung dengan perusahaan multinasional diakui membuat langkah Aqua semakin
lincah. Ketatnya persaingan industri air mineral menuntut upaya-upaya agresif. Sejak itu, terjadi
perubahan besar dalam manajemen Aqua. Dalam produksi, Aqua juga melonjak tajam, dari 1
miliar liter sekarang mencapai 3.5 miliar liter. Aqua menguasai 40% pangsa pasar air mineral di
dalam negeri.
Banyak orang mengira bahwa memproduksi air kemasan adalah hal yang mudah.
Mereka pikir yang dilakukan hanyalah memasukkan air kran ke dalam botol. Sebetulnya,
tantangannya adalah membuat air yang terbaik, mengemasnya dalam botol yang baik dan
menyampaikannya ke konsumen. Kata Tirto Utomo.
Tirto Utomo memang sudah wafat pada tahun 1994 namun prestasi Aqua sebagai
produsen air minum dengan merek tunggal terbesar di dunia tetap dipertahankan sampai
sekarang. Almarhum Tirto Utomo pun dinobatkan sebagai pencetus air minum dalam kemasan
dan masuk dalam Hall of Fame . Dan berdasarkan survey Zenith International, sebuah badan
survey Inggris, Aqua dinobatkan sebagai merk air minum dalam kemasan terbesar di Asia
Pasifik, dan air minum dalam kemasan nomor dua terbesar di dunia. Sebuah prestasi yang
mungkin tidak pernah dikira-kira.