Anda di halaman 1dari 44

BAB I DATA PROYEK

Pasal 1 : Nama pekerjaan dari proyek ditentukan oleh Owner seperti berikut ini:
PEMBANGUNAN TATA RUANG (LANDSCAPE) PUSKESMAS IBOIH

Pasal 2 : Tempat dan lokasi pekerjaan ditentukan oleh Owner seperti berikut ini:
KOTA SABANG.

Pasal 3 : Item-Itemn Pekerjaan yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh


Kontraktor Pelaksana ditentukan oleh Owner dalam :
KONTRAK KERJA DAN BILL of QIANTITY

SPESIFIKASI TEKNIS 1
BAB II KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN

Pasal 1 : Penanggung Jawab Pelaksanaan ( Kontraktor Pelaksana )

1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Owner dengan


Penyedia Jasa Pelaksana Konstruksi, maka Kontraktor Pelaksana
untuk proyek seperti yang disebutkan dalam BAB I diatas adalah
Perusahaan seperti yang disebutkan dalam Kontrak Kerja Fisik.

2. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan secara


seluruhnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam Dokumen
Kontrak.

3. Tugas dan kegiatan Kontraktor Pelaksana adalah seperti yang


disebutkan dalam Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana
Wilayah Nomor : 332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus 2002
Tentang Penyedia Jasa Pelaksana Konstruksi atau menurut
perubahannya jika ada kecuali ditentukan lain oleh Owner dalam
Kontrak Kerja Fisik.

4. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan struktur organisasi


pelaksana lapangan proyek kepada Owner yang didalamnya
tercantum beberapa tenaga ahli Kontraktor Pelaksana dengan
posisi minimal seperti berikut atau sesuai yang diajukan:
1. Project manager;
2. Site Manager;
3. Quality Engineer;
4. Arsitek;
5. Supervisor Lapangan;
6. Surveyor;
7. Drafman;
8. Administrasi Proyek; dan
9. Operator Computer.
5. Jumlah personil atau tenaga ahli yang ditempatkan harus sesuai
dengan bobot pekerjaan yang ditangani dan disetujui oleh Owner
dan Konsultant Pengawas.

6. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur


organisasi lapangan proyek yang diajukan oleh Kontraktor
Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan minimal selama jam
kerja.
SPESIFIKASI TEKNIS 2
7. Pengantian tenaga ahli oleh Kontraktor Pelaksana selama proses
pelaksanaan pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh
Konsultan Pengawas dan owner.

8. Project Manager harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner dan


diketahui oleh Konsultan Pengawas jika hendak meninggalkan lokasi
pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3 hari.

9. Konsultan Supervisi berhak mengajukan kepada Owner dan


Konsultan Pengawas untuk pengantian tenaga ahli Kontraktor
Pelaksana yang berada dilokasi pekerjaan jika tenaga ahli tersebut
dinilai menghambat pekerjaan dan tidak mampu menjalankan
tugasnya dengan baik.

10. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Kontraktor


Pelaksana harus mampu memberikan keputusan yang bersifat
teknis dan administratif di lokasi pekerjaan.

Pasal 2 : Sub Pelaksana Pekerjaan / Sub Kontraktor

1. Penunjukan Sub Pelaksana pekerjaan / Sub Kontraktor hanyalah


dapat dilakukan dengan sepengatahuan dan rekomendasi tertulis
dari Konsultan Pengawas serta mendapat persetujuan dari Owner.

2. Apabila hasil pekerjaan Sub Pelaksana tidak memenuhi semua


persyaratan di dalam kontrak Kerja ataupun tidak memenuhi
target prestasi yang harus dicapai pada suatu tahap pekerjaan,
maka Konsultan Pengawas berhak menginstruksikan kepada
Kontraktor Pelaksana untuk menganti Sub Pelaksana pekerjaan
tersebut dengan yang lain, dan yang disetujui oleh Owner dan
Kontraktor Pelaksana harus menjalankan instruksi tersebut.

3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan untuk meninggalkan


kewajibannya dengan cara menyerahkan Kontrak Kerja sebagian
atau seluruhnya kepada pihak lain (Sub Pelaksana Pekerjaan) tanpa
seijin atau persetujuan Owner.

4. Apabila tidak disebutkan dalam Kontrak Kerja, maka Kontraktor


Pelaksana tidak dibenarkan untuk men-sub-kan sebagian pekerjaan

SPESIFIKASI TEKNIS 3
yang menjadi kewajibanya tanpa persetujuan Owner dan Konsultan
Pengawas.

5. Dalam hal sudah mendapat persetujuan Owner dan Konsultan


Pengawas, maka Kontraktor Pelaksana tetap bertanggung jawab
penuh atas segala kelalaian dan kesalahan-kesalahan yang dibuat
oleh Sub Kontraktor, sehingga kesalahan dan kelalaian tersebut
merupakan kesalahan dan kelalaian Kontraktor Pelaksana sendiri.

6. Sub Kontraktor adalah pihak-pihak yang mempunyai Kontrak Kerja


langsung dengan Kontraktor Pelaksana, yaitu dalam menyediakan
dan mengerjakan bagian-bagian pekerjaan khusus sesuai dengan
keahliannya.

7. Kontraktor Pelaksana tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas


hasil pekerjaan Sub Kontraktor.

Pasal 3 : Gambar Pelaksanaan ( Shop Drawing )

1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar


Pelaksanaan (Shop Drawing) untuk pekerjaan-pekerjaan yang
memerlukannya, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan yang
Gambar Detailnya tidak dijelaskan dalam Gambar Bestek.

2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan Shop Drawing ditentukan


oleh Konsultan Pengawas dalam masa konstruksi.

3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan


sebelum Shop Drawing yang menjadi kewajibannya di setujui oleh
Konsultan Pengawas.

4. Shop Drawing tidak boleh merubah/merevisi Gambar Bestek


kecuali atas persetujuan Konsultan Perencana.

5. Shop Drawing tidak boleh merubah, memperbesar dan


memperkecil kuantitas maupun kualitas pekerjaan.

Pasal 4 : Gambar Lapangan Dan Dokumen Lapangan

SPESIFIKASI TEKNIS 4
1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan satu set Gambar Bestek
/Gambar Revisi dalam format kertas A2, kertas A3 (sementara),
satu set Shop Drawing, satu set Spesifikasi Teknis dan satu set
Bill of Quantity dilokasi pekerjaan pada setiap kantor lapangan.

2. Gambar Bestek, Gambar Revisi, Shop Drawing, Spesifikasi Teknis,


dan Bill of Quantity ditempatkan pada tempat yang baik dan dalam
kedaan yang rapi.

Pasal 5 : Gambar Hasil Pelaksanaan ( Asbuilt Drawing )

1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Hasil


Pelaksanaan (Asbuilt Drawing) yang sesuai dengan hasil
pelaksanaan pekerjaan dilapangan sebelum serah terima tahap
pertama dilakukan.

2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan As Built Drawing adalah


pekerjaan Mekanikal, Elektrikal, Site Plan, Landscaping dan
pekerjaan pekerjaan lain yang ditentukan oleh Konsultan
Pengawas.

2. As Built Drawing yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana dan
Owner.

3. Kontraktor Pelaksana diwajibkan menyerahkan 5 set As Built


Drawing yang telah disetujui kepada Konsultan Pengawas, Owner
dan Konsultan Perencana kepada Owner.

4. Satu set As Built Drawing yang telah disetujui harus disimpan di


tempat yang baik pada bangunan oleh Owner atau pengguna
bangunan.

Pasal 7 : Rencana Waktu Pelaksanaan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana waktu


penyelesaian pekerjaan (time schedule) keseluruhan kepada
Konsultan Pengawas dan Owner sebelum dimulainya pelaksanaan
pekerjaan kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.

SPESIFIKASI TEKNIS 5
2. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaiankan pekerjaan sesuai
dengan rencana waktu penyelesaian pekerjaan keseluruhan yang
telah disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Owner kecuali
ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.

3. Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan rencana waktu


penyelesaian pekerjaan keseluruhan yang telah disetujui oleh
Owner kepada Konsultan Pengawas.

4. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan rencana waktu


penyelesaian pekerjaan mingguan pada tahap pelaksanaan
pekerjaan kepada Owner dan diketahui oleh Konsultan Pengawas.

5. Owner berhak untuk tidak menyetujui rencana penyelesaian


pekerjaan mingguan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana
dengan memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggung
jawabkan secara teknis.

1. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan


pekerjaan karena kesalahan dalam menyusun waktu pemnyelesaian
pekerjaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana.

2. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan


pekerjaan karena factor cuaca seperti hujan yang lebih dari 1 hari
kerja dan dibuktikan dengan catatan cuaca dalam Laporan Harian
yang disetujui oleh Konsultan Pengawas harus diperhitungkan
untuk penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.

3. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan


pekerjaan karena factor-factor non teknis yang lebih dari 3 hari
kerja dan diketahui oleh Konsultan Pengawas seperti permasalahan
dengan tanah/lahan pekerjaan sehingga Kontraktor pelaksanan
tidak bisa memasuki dan memulai pekerjaan, ganguan keamanan
dari masyarakat setempat harus diperhitungkan untuk
penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.

4. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan


pekerjaan karena permasalahan yang berhubungan dengan
Spesifikasi Teknis, Gambar Disain, Bill of Quantity dan Kontrak
Kerja dimana tidak ada keputusan yang pasti dari Owner,
Konsultan Pengawas dan Konsultan Perencana lebih dari 3 hari

SPESIFIKASI TEKNIS 6
kerja harus diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan
pekerjaan.

5. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan


pekerjaan yang disebabkan oleh hal-hal selain seperti yang
disebutkan dalam point 6, point 7 dan point 8 tidak boleh
diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan kecuali
ditentukan lain dalam Kontrak Kerja dengan persetujuan Owner.

6. Lamanya penambahan waktu atau jumlah hari kerja tambahan yang


diberikan kepada Kontraktor Pelaksana karena alasan-alasan
seperti yang disebutkan pada point 6, point 7 dan point 8 adalah
menurut keputusan Owner.

Pasal 6 : Request Material Dan Request Pekerjaan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan permohonan penggunaan


semua material bangunan (request material) sebelum material
bangunan tersebut dipakai dan dimasukan kelokasi pekerjaan.

2. Request Material yang diajukan Kontraktor Pelaksana harus


disertai dengan contoh material dan disetujui oleh Konsultan
Pengawas dan Owner.

3. Persetujuan Request Material yang diajukan oleh Kontraktor


Pelaksana dianggap sah dan diakui apabila disetujui minimal oleh
Konsultan Pengawas.

4. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan dan menyerahkan satu


set contoh material yang telah disetujui kepada Konsultan
Pengawas.

5. Material bangunan yang tidak disetujui oleh Konsultan Pengawas,


Konsultan Perencana, dan Owner tidak boleh dipakai sebagai
material bangunan dan harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.

6. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan permohonan (request


pekerjaan) untuk pekerjaan yang akan dikerjakan.

7. Request Pekerjaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas.

SPESIFIKASI TEKNIS 7
8. Kontraktor pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan tanpa
Request Material atau jika Request Pekerjaan yang diajukan belum
disetujui oleh Konsultan Pengawas.

8. Item-item pekerjaan yang memerlukan Request Pekerjaan


ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 7 : Metode Pelaksanaan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Metode Pelaksanaan


terhadap pekerjaan Pembesian Plat Lantai, Pengecoran Plat Lantai,
Erection Konstruksi Baja dan Erection Konstruksi Kuda-Kuda serta
pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukanya.

2. Metode Pelaksanaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana


harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan jika


Metode Pelaksanaan yang diajukan belum disetujui oleh Konsultan
Pengawas.

4. Item-item pekerjaan yang memerlukan Metode Pelaksanaan


ditentukan oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 8 : Rencana Material Dan Peralatan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana material dan


peralatan mingguan yang akan digunakan untuk penyelesaian
pekerjaan setiap minggu kepada Konsultan Pengawas.

2. Semua material dan peralatan sesuai dengan rencana material dan


peralatan mingguan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus
berada dilokasi pekerjaan.

3. Konsultan Pengawas berhak untuk tidak menyetujui rencana


material dan peralatan mingguan yang diajukan oleh Kontraktor
Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang dapat
dipertanggung jawabkan secara teknis.

SPESIFIKASI TEKNIS 8
Pasal 9 : Rencana Tenaga Kerja

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana pengunaan tenaga


kerja mingguan yang akan digunakan untuk penyelesaian pekerjaan
setiap minggu kepada Konsultan Pengawas.

2. Semua tenaga kerja sesuai dengan rencana tenaga kerja mingguan


yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi
pekerjaan.

3. Konsultan Pengawas berhak untuk tidak menyetujui rencana


penggunaan tenaga kerja mingguan yang diajukan oleh Kontraktor
Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang dapat
dipertanggung jawabkan secara teknis.

Pasal 10 : Pekerjaan Diluar Jam Kerja

1. Pekerjaan-pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh


Kontraktor Pelaksana dengan alasan mempercepat proses
penyelesaian pekerjaan harus diketahui oleh Konsultan Pengawas.

2. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh personil Konsultan


Pengawas untuk pengawasan pekerjaan diluar jam kerja normal
yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana sepenuhnya menjadi
tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

3. Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap kualitas


pekerjaan yang dilakukan diluar jam kerja normal atau pada malam
hari.

Pasal 11 : Laporan Pelaksanaan

1. Kontraktor Pelaksana wajib membuat laporan harian, laporan


mingguan, dan laporan bulanan kepada Owner dan diketahui serta
diperiksa oleh Konsultan Pengawas tentang kemajuan pelaksanaan
pekerjaan.

2. Format laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan yang


dibuat oleh Kontraktor pelaksana harus disetujui oleh Owner.

SPESIFIKASI TEKNIS 9
3. Konsultan Pengawas berhak untuk melakukan pemeriksaan langsung
kelapangan akan kebenaran data yang ada dalam laporan harian,
laporan minguan, dan laporan bulanan yang dibuat oleh Kontraktor
Pelaksana.

4. Laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan dibuat


dalam rangkap 4 (empat). Salah satu tembusan laporan harian,
laporan mingguan, dan laporan bulanan harus berada pada lokasi
pekerjaan. Masing-masing Laporan harian, laporan mingguan dan
bulanan harus diserahkan kepada Owner dan Konsultan Pengawas.

Pasal 12 : Surat Menyurat Dan Komunikasi

1. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana


yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya
administratif harus melalui dan ditujukan kepada Owner juga
diketahui oleh Konsultan Pengawas.

2. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana


yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya
teknis harus melalui dan ditujukan kepada Konsultan Pengawas juga
diketahui oleh Owner.

3. Surat menyurat atau perizinan yang berhubungan dengan Instansi


lain di luar proyek tidak perlu melalui dan diketahui oleh Owner.
Kontraktor Pelaksana tetap wajib memberikan informasi tentang
hal tersebut kepada Owner.

Pasal 13 : Rapat Koordinasi Dan Rapat Lapangan (Site Meeting)

1. Rapat koordinasi diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali


setiap minggu, dipimpin oleh Owner atau Konsultan Pengawas.

2. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat koordinasi dengan


diwakili minimal oleh Site Manager atau Supervisor Lapangan.

3. Kosumsi rapat koordinasi tersebut disiapkan oleh Kontraktor


Pelaksana kecuali ditentukan lain oleh Owner.

SPESIFIKASI TEKNIS 10
4. Rapat lapangan (site meeting) diselenggarakan sekurang-kurangnya
1 (satu) kali setiap minggu, dipimpin oleh Owner atau Konsultan
Pengawas.

5. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat lapangan dengan


diwakili minimal oleh Supervisor lapangan.

6. Kosumsi rapat lapangan tersebut disiapkan oleh Kontraktor


Pelaksana kecuali ditentukan lain oleh Owner.

Pasal 14 : Wewenang Owner (Pemberi Tugas) Memasuki Lokasi Pekerjaan

1. Owner (Pemberi Tugas) dan para wakilnya mempunyai wewenang


untuk memasuki lokasi pekerjaan dan bengkel kerja atau tempat-
tempat lain dimana Kontraktor Pelaksana melaksanakan pekerjaan
untuk Kontrak.

2. Jika pekerjaan dilakukan pada tempat-tempat lain yang dilakukan


oleh Sub Kontraktor Pelaksana menurut ketentuan dalam Sub
Pelaksanaan, maka Kontraktor Pelaksana harus memberikan
jaminan agar supaya Owner dan para wakilnya mempunyai
wewenang untuk memasuki bengkel kerja dan tempat-tempat lain
kepunyaan Sub Pelaksana pekerjaan.

3. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memberikan instruksi


langsung dilapangan kepada Kontraktor Pelaksana dan Konsultan
Supervisi untuk suatu perbaikan atau perubahan jika dalam proses
pelaksanaan pekerjaan ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan
Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis, Bill of Quantity dan Kontrak
Kerja.

4. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memerintahkan


Konsultan Pengawas secara tertulis untuk menghentikan proses
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana
sementara waktu jika ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan
Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis, Bill of Quantity dan Kontrak
Kerja.

5. Kontraktor Pelaksana harus menjamin dan bertangung jawab penuh


akan keselamatan Owner dan para wakilnya selama berada dilokasi
pekerjaan.

SPESIFIKASI TEKNIS 11
Pasal 15 : Progress Payment

1. Jika tidak ditentukan lain dalam Kontrak Kerja maka Hasil


Pekerjaan Kontraktor Pelaksana di bayar berdasarkan metode
Progress Payment. Artinya Tagihan Kontraktor Pelaksana dibayar
berdasarkan Progress Realisasi Pekerjaan yang telah diselesaikan
dilapangan.

2. Progress Payment Kontraktor Pelaksana diajukan kepada Owner


dan diperiksa kebenaran realisasi pekerjaan dilapangannya oleh
Konsultan Pengawas.

3. Owner dapat menunda atau membatalkan Progress Payment


Kontraktor Pelaksana jika berdasarkan pengamatan sendiri atau
laporan/rekomendasi Konsultan Pengawas tentang adanya
pekerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai Gambar Bestek, Spesifikasi
Teknis dan Bill of Quantity.

4. Progress Payment Kontraktor Pelaksana baru dapat dibayar oleh


Owner jika telah diperiksa oleh Supervisi.

Pasal 16 : Kesalahan Pekerjaan Dan Pekerjaan Cacat

1. Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki dengan biaya sendiri


semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan baik pada tahap
pelaksanaan maupun pada saat sebelum Serah Terima Tahap
Pertama (PHO) dan pekerjaan dinyatakan selesai 100%.

2. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan adalah hasil pemeriksaan


bersama antara Kontraktor Pelaksana, Konsultan Pengawas dan
Owner sebelum Serah Terima Tahap Pertama (PHO) dan pekerjaan
dinyatakan selesai 100%.

3. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan dari hasil pemeriksaan


oleh Pelaksana, Konsultan Pengawas dan Owner dicantumkan dalam
sebuah Daftar Pekerjaan Cacat yang ditandatangani oleh ketiga
pihak tersebut.

SPESIFIKASI TEKNIS 12
4. Konsultan Manajemen atau Owner harus membuat Berita Acara
Hasil Pemeriksaan Pekerjaan untuk ditandatangani oleh Kontraktor
Pelaksana, Konsultan Pengawas dan Owner.

5. Semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan yang ada dalam


Daftar Pekerjaan Cacat menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana memperbaikinya dengan biaya sendiri.

6. Kesalahan-kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh


Kontraktor Pelaksana dikarenakan kurang memahami Gambar dan
kurangnya kontrol terhadap pekerja sepenuhnya menjadi tanggung
jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaiki dengan biaya
sendiri.

7. Kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor


Pelaksana karena lemahnya pengawasan dan kontrol oleh Konsultan
Pengawas dan bukan atas dasar perintah tertulis dari Konsultan
Pengawas tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana
untuk memperbaikinya.

8. Kerusakan dan cacat pada bangunan akibat pemakaian atau sebab-


sebab lain tanpa ada unsur-unsur kesengajaan yang dapat
dibuktikan dalam masa pemeliharaan bangunan tetap menjadi
tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaikinya
dengan biaya sendiri kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.

9. Konsultan Pengawas berhak setiap saat memerintahkan Kontraktor


Pelaksana untuk memperbaiki kesalahan pekerjaan atau pekerjaan
cacat pada masa pelaksanaan.

10. Hasil perbaikan terhadap kesalahan pekerjaan dan pekerjaan


cacat harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 17 : Penyelesaian Dan Serah Terima Pekerjaan

1. Setelah pekerjaan dianggap terlaksana 100% berdasarkan


Progress 100% yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dan telah
disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Owner , maka pihak
Konsultan Pengawas, Kontraktor Pelaksana dan Owner bersama-
sama menandatangani Berita Acara Serah Terima Pertama ( PHO )
kecuali ditentukan lain oleh Owner.

SPESIFIKASI TEKNIS 13
2. Sebelum Berita Acara Serah Terima Pertama ditandatangani
berdasarkan klaim progress 100% yang diajukan Kontraktor
Pelaksana, maka Konsultan Pengawas, Kontraktor Pelaksana dan
Owner bersama-sama melakukan Pemeriksaan Lapangan.

3. Pekerjaan-pekerjaan cacat, tidak sempurna dan tidak sesuai


kualitas maupun kuantitas terutama dari segi fungsi bangunan yang
ditemukan dalam Pemeriksaan Lapangan adalah menjadi kewajiban
Kontraktor Pelaksana memperbaikinya sebelum Serah Terima
Pertama ditandatangani dan hal ini harus dituangkan dalam Berita
Acara Pemeriksaan dalam bentuk Daftar Pekerjaan Cacat.

4. Kontraktor pelaksana juga harus menyerahkan Asbuilt Drawing


dan Buku Petunjuk Penggunaan Bangunan (Hand Book) yang telah
disetujui oleh Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi dan Owner
sebelum Berita Acara Serah Terima Pertama ditandatangani.

5. Konsultan Pengawas akan mengeluarkan rekomendasi tertulis akan


realisasi perbaikan dari semua item dalam Daftar Pekerjaan Cacat
dan Asbuilt Drawing yang telah selesai dilaksanakan oleh
Kontraktor Pelaksana untuk keperluan penandatanganan Berita
Acara Serah Terima Pertama (PHO).

6. Setelah masa pemeliharaan dilampaui dan sesudah semua


perbaikan-perbaikan dilaksanakan dengan baik, Konsultan
Pengawas akan mengeluarkan rekomendasi tertulis mengenai
selesainya pekerjaan dan perbaikan yang berarti Serah Terima
Kedua ( FHO ) kedua dari pihak Kontraktor Pelaksana kepada
Owner.

Pasal 18 : Pemamfaatan Bangunan Oleh Pemilik/Pengguna Bangunan

1. Pemafaatan dan penggunaan bangunan oleh Pemilik Bangunan hanya


boleh dilakukan setelah Berita Acara Serah Terima antara Owner
(Pemberi Tugas) dengan Pemilik/Bangunan ditanda tangani.

2. Pemilik Bangunan tidak boleh menempati, menggunakan bangunan


dan memamfaatkan semua fasilitas yang ada dalam bangunan
selama bangunan masih dalam proses Serah Terima antara
Kontraktor Pelaksana dengan Owner.

SPESIFIKASI TEKNIS 14
3. Pemamfaatan bangunan oleh siapapun sebelum Serah Terima
antara Owner dan Pemilik Bangunan ditandatangani harus dengan
persetujuan Owner dan Kontraktor Pelaksana.

4. Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap


perbaikan dengan biaya sendiri semua cacat dan kerusakan yang
timbul akibat penggunaan bangunan oleh Pemilik Bangunan yang
telah disetujuinya bersama dengan Owner.

Pasal 19 : Penanggung Jawab Pengawasan

1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Owner dengan


Penyedia Jasa Konsultansi, maka Konsultan Pengawas untuk proyek
seperti yang disebutkan dalam BAB I diatas adalah Perusahaan
seperti yang disebutkan dalam Kontrak Kerja Konsultan Pengawas.

2. Tugas dan kegiatan Konsultan Pengawas adalah seperti yang


disebutkan dalam Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana
Wilayah Nomor : 332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus 2002
Tentang Penyedia Jasa Pengawas Konstruksi atau menurut
perubahannya jika ada kecuali ditentukan lain oleh Owner dalam
Kontrak Kerja konsultan Pengawas.

3. Konsultan Pengawas harus mengajukan struktur organisasi


pengawasan lapangan proyek kepada Owner dimana didalamnya
tercantum beberapa tenaga ahli Konsultan Pengawas dengan posisi
minimal seperti berikut atau seperti yang diajukan :
1. Site Enggineer/Leader;
2. Chief Inspector;
3. Inspector;
4. Quantity Surveyor;
5. Quality Engineer;
6. Tenaga Administrasi; dan
7. Operator Computer.

4. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur


organisasi pengawasan lapangan proyek yang diajukan oleh
Konsultan Pengawas harus berada dilokasi pekerjaan minimal
selama jam kerja.

SPESIFIKASI TEKNIS 15
5. Konsultan Pengawas harus menyerahkan Struktur Organisasi
pengawasan lapangan proyek yang telah disetujui oleh Owner
kepada Kontraktor Pelaksana.

6. Pengantian tenaga ahli oleh Konsultan Pengawas selama proses


pelaksanaan pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh Owner.

7. Leader harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner jika hendak


meninggalkan lokasi pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3
hari.

8. Kontraktor Pelaksana berhak mengajukan kepada Owner untuk


pengantian tenaga ahli Konsultan Pengawas yang berada dilokasi
pekerjaan jika tenaga ahli tersebut dinilai menghambat pekerjaan
dan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

9. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Konsultan


Pengawas harus mampu memberikan keputusan yang bersifat
teknis di lokasi pekerjaan.

10. Konsultan Pengawas harus membuat laporan mingguan dan laporan


bulanan kepada Owner atas segala hal yang menyangkut
pelaksanaan pekerjaan oleh Kontraktor pelaksana.

11. Bentuk, format, dan isi laporan Konsultan Pengawas adalah


berdasarkan hasil diskusi dan konsultasi dengan Owner.

Pasal 20 : Instruksi Konsultan Supervisi

1. Kontraktor Pelaksana harus mematuhi dan melaksanakan semua


instruksi atau perintah yang dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas
yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.

2. Semua instruksi yang dikeluarkan oleh Konsultan Pengawas harus


dalam bentuk tulisan.
3. Instruksi Konsultan Pengawas dalam bentuk lisan dibenarkan dan
harus diikuti oleh Kontraktor Pelaksana selama disertai oleh
alasan-alasan yang jelas dan sesuai dengan Spesifikasi Teknis.

4. Instruksi dari Konsultan Supervisi dapat berupa hal-hal seperti


disebutkan dibawah ini :

SPESIFIKASI TEKNIS 16
1. Teguran atas sesuatu cara pelaksanaan yang salah sehingga
membahayakan bagi konstruksi, atau pekerjaan finishing yang
kurang baik atau hal-hal lain yang menyimpang dari Spesifikasi
Teknis dan Gambar Bestek.

2. Perintah untuk menyingkirkan material/bahan bangunan yang


tidak sesuai dengan Spesifikasi Teknis.

3. Perintah untuk mengantikan Pelaksana lapangan dari


Kontraktor Pelaksana yang dianggap kurang mampu.

4. Perintah untuk melakukan penambahan tenaga kerja dengan


alasan untuk mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan.

5. Perintah untuk melakukan perubahan-perubahan pada metode


pelaksanaan Kontraktor Pelaksana yang dianggap tidak tepat
sehingga dapat mengurangi kualitas dan memperlambat proses
penyelesaian pekerjaan.
Pasal 21 : Perubahan-Perubahan Disain Dan Perbedaan-Perbedaan

1. Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas dengan persetujuan


Owner berhak mengadakan perubahan-perubahan pada Gambar
Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity yang wajib
dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana.

2. Kontraktor Pelaksana dengan alasan apapun tidak boleh melakukan


perubahan pada Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of
Quantity tanpa persetujuan Konsultan Pengawas atau Konsultan
Perencana.

3. Perubahan-perubahan akan Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis


harus disampaikan secara tertulis kepada Kontraktor Pelaksana
untuk dilaksanakan.

4. Perubahan-perubahan pada Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis


yang dilakukan oleh Konsultan Pengawas, Konsultan Perencana, dan
Owner secara lisan atau tidak tertulis tidak wajib untuk
dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana. Resiko karena
melaksanakan Instruksi tidak tertulis sepenuhnya menjadi
tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

SPESIFIKASI TEKNIS 17
5. Perubahan-perubahan akan Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis
tidak boleh menambah biaya pelaksanaan pekerjaan secara
keseluruhan dari biaya pelaksanaan yang ada dalam Kontrak Kerja
kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja atau oleh Owner.

5. Perhitungan kuantitas/volume pekerjaan dan biaya karena


perubahan Gambar Bestek dan Spesifikasi Teknis dilakukan oleh
Konsultan Perencana diketahui dan disetujui oleh Owner.

6. Kontraktor berhak memeriksa hasil perhitungan akan


kuantitas/volume pekerjaan dan biaya yang dilakukan oleh
Konsultan Perencana.

7. Jika dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan ketidak sesuaian


antara Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis, dan Bill of Quantity
Konsultan Pengawas tidak dibenarkan mengambil keputusan secara
sepihak tetapi harus melaporkannya kepada Owner untuk tindakan
selanjutnya.

8. Konsultan Perencana dan Owner berhak menentukan acuan mana


yang harus dipegang bila terjadi perbedaan antara Gambar Bestek,
Spesifikasi Teknis, dan bill of Quantity kecuali ditentukan lain
dalam Kontrak Kerja.

9. Kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja atau oleh Owner, jika
terjadi perbedaan antara Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan
Bill of Quantity maka urutan acuan yang harus dipegang
ditentukan seperti berikut :
1. Kontrak Kerja;
2. Bill of Quantity;
3. Gambar Bestek serta Gambar Revisi; dan
4. Spesifikasi Teknis.

Pasal 22 : Struktur Organisasi Proyek

1. Struktur Organisasi Proyek dibuat Owner.

2. Struktur Organisasi Proyek harus dapat menjelaskan secara umum


hubungan antara semua pihak yang terlibat dalam proyek.

SPESIFIKASI TEKNIS 18
3. Struktur Organisasi Proyek adalah pedoman administratif yang
harus diikuti oleh semua pihak yang terlibat dalam proyek.

4. Perubahan-perubahan pada Struktur Organisasi Proyek harus


segera diberitahukan secara tertulis kepada semua pihak yang
terlibat dalam proyek.

5. Struktur Organisai Proyek dibuat dalam format kertas A3 dan


diletakan pada posisi yang mudah dilihat dan dibaca pada Direksi
Keet ( Kantor Konsultan Pengawas ) dan Kantor Kontraktor
Pelaksana.

Pasal 23 : Ketentuan Lain

1. Spesifikasi Teknis ini adalah ketentuan yang mengikat bagi


Kontraktor Pelaksana dan merupakan bagian dari Kontrak Kerja
yang harus dipatuhi dan dilaksanakan.

2. Semua aturan dan persyaratan yang terdapat dalam Spesifikasi


Teknis harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana
walaupun hal tersebut tidak disebutkan dalam Gambar Bestek dan
Bill of Quantity kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja atau
oleh Owner.

3. Jika terjadi perbedaan antara aturan yang terdapat dalam


Spesifikasi Teknis dan aturan dalam Kontrak Kerja maka aturan
yang menjadi acuan adalah aturan yang terdapat dalam Kontrak
Kerja.

4. Hal-hal yang belum ditentukan dalam Spesifikasi Teknis ini akan


ditentukan kemudian oleh Owner bersama dengan Konsultan
Perencana dalam proses pelaksanaan pekerjaan dan menjadi satu
ketentuan yang mengikat serta wajib diikuti oleh Kontraktor
Pelaksana.

5. Hal-hal yang ditentukan kemudian oleh Owner tersebut harus


tetap mengacu pada Kontrak Kerja yang telah ada.

6. Owner bersama Konsultan Perencana dapat mengubah sebagian


besar atau sebagian kecil aturan yang terdapat dalam Spesifikasi
Teknis dan Kontraktor Pelaksana wajib mengikuti aturan
perubahan tersebut.

SPESIFIKASI TEKNIS 19
BAB III PEKERJAAN PERSIAPAN

Pasal 1 : Papan Nama Proyek

1. Kontraktor harus membuat dan memasang Papan Nama Proyek


yang memuat tentang identitas proyek.

2. Papan nama proyek mengunakan ukuran minimal 75 cm x 150 cm


kecuali ditentukan lain oleh Owner.

3. Papan nama proyek rangka dan kakinya terbuat dari kayu dengan
kualitas terbaik sehingga sanggup bertahan minimal sampai
selesainya pengerjaan proyek. Latar papan nama dapat berupa
papan kayu tebal minimal 2 cm atau multiplek dengan tebal minimal
12 mm. Penggunaan bahan dan material lain harus dengan
persetujuan Konsultan Pengawas.

4. Papan nama proyek belatar belakang putih dengan tulisan warna


hitam, kecuali untuk logo atau simbul dapat dipakai warna yang
bervariasi.

5. Papan nama proyek harus mencantumkan Instansi Penyandang


Dana, Instansi Pemilik Bangunan, Kontraktor Pelaksana, Konsultan
Perencana dan Konsultan Pengawas.

6. Papan juga harus mencantumkan besar anggaran pelaksanaan


proyek, waktu mulai proyek, dan waktu penyelesaian proyek.

Pasal 2 : Perlengkapan Keamanan Kerja Dan P3K

1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan perlengkapan keamanan


kerja untuk semua pekerja yang berada dalam lokasi pekerjaan
dan tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan.

2. Perlengkapan keamanan kerja dapat berupa alat-alat seperti


berikut ini :
1. Helm Pelindung Kepala;

SPESIFIKASI TEKNIS 20
2. Sepatu untuk melindungi kaki;
3. Pemadam Kebakaran; dan
4. Kotak P3K untuk pertolongan pertama pada kecelakaan kerja.

3. Jika terjadi kecelakaan kerja di lokasi pekerjaan yang


berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan maka Kontraktor
Pelaksana diwajibkan mengambil segala tindakan guna kepentingan
si korban.

4. Semua biaya yang diperlukan untuk perawatan dan pengobatan


korban kecelakaan dilokasi pekerjaan menjadi tanggungan
Kontraktor Pelaksana.

5. Yang dimaksud dengan korban dilokasi pekerjaan yang menjadi


tanggung jawab Kontraktor pelaksana adalah :
a. Personil atau semua tenaga kerja Kontraktor Pelaksana;
c. Personil Konsultan Perencana;
d. Personil Konsultan Pengawas;
e. Owner dan para wakilnya;
f. Tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan; dan
g. Orang yang berada dalam lokasi pekerjaan dengan ijin dan
sepengetahuan Kontraktor Pelaksana.

Pasal 9 : Penjaga Keamanan Lokasi Pekerjaan

1. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus menyediakan


tempat/pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan beserta minimal 2
orang penjaga keamanan yang bekerja selama 24 jam.

2. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan bentuk dan


dimensinya ditentukan oleh Kontraktor Pelaksana.

1. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan tidak boleh


berada di dalam lokasi pekerjaan.

SPESIFIKASI TEKNIS 21
BAB IV PEKERJAAN AWAL

Pasal 1 : Pembersihan Lapangan

1. Kontraktor Pelaksana harus membersihkan lokasi pekerjaan dari


segala sesuatu yang dapat menggangu pelaksanaan pekerjaan
seperti bangunan lama, hasil bongkaran bangunan lama, pepohonan,
semak belukar, dan tanah humus.

2. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pengupasan terhadap tanah


humus setebal minimal 30 cm sebelum dilakukan pekerjaan
konstruksi.

3. Yang dimaksud dengan Muka Tanah Dasar pada Gambar Bestek


adalah muka tanah yang telah bersih dari pepohonan, semak
belukar, dan lapisan tanah humus atau muka tanah timbun yang
telah dipadatkan kecuali diitentukan lain dalam Gambar Bestek.

4. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengupasan tanah humus tidak


boleh dipakai sebagai material timbunan atau diolah kembali untuk
dipakai sebagai material bangunan.

5. Material yang dihasilkan dari bongkaran bangunan lama dan


pengupasan lapisan humus harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan
dan dibuang sejauh mungkin dari lokasi pekerjaan atau ketempat
yang tidak menggangu lingkungan hidup.

6. Hasil bongkaran bangunan lama dan pengelupasan lapisan humus


tidak boleh berada dilokasi pekerjaan lebih dari 3 (tiga) hari.

Pasal 2 : Penentuan Letak Bangunan ( Setting Out )

1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan Seetting Out atau


pengukuran kembali akan kebenaran posisi bangunan yang akan
dibangun seperti yang telah ada dalam Lay Out bangunan pada
Gambar Bestek.

SPESIFIKASI TEKNIS 22
2. Pekerjaan Setting Out yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana
harus diketahui dan didampinggi oleh Konsultan Pengawas,
Konsultan Perencana, Owner dan Pemilik Bangunan.

3. Pekerjaan Setting Out tidak boleh dilakukan secara manual tetapi


harus menggunakan alat ukur seperti Theodolit dan Waterpas.

4. Hasil pekerjaan Setting Out harus menghasilkan satu ketetapan


bersama yang pasti akan elevasi tanah, elevasi bangunan, posisi
penempatan bangunan dan batas-batas lahan kerja. Ketetapan
akan elevasi dan posisi bangunan harus direalisasikan dilapangan
dengan memasang patok-patok sementara dari kayu ukuran 5/7 cm
yang ditanam minimal 30 cm dalam tanah dan ujungnya ditandai
dengan cat minyak.

5. Hasil pekerjaan Seetting Out tidak boleh berbeda dengan Lay Out
bangunan yang ada dalam Gambar Bestek kecuali dengan alasan-
alasan kondisi lahan existing yang berubah dan alasan-alasan
teknis yang disetujui oleh Konsultan Perencana atau Konsultan
Pengawas.

7. Perubahan-perubahan posisi bangunan karena alasan keterbatasan


lahan atau berubahanya kondisi existing lahan harus disetujui oleh
Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Owner.

8. Kontraktor Pelaksana harus membuat gambar hasil pekerjaan


Seeting Out dan disetujui oleh Konsultan Perencana, Konsultan
Pengawasa dan Owner.

Pasal 4 : Pemasangan Bouwplank

1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pemasangan Bouwplank


sebagai acuan tetap pada semua bangunan yang akan dikerjakan
termasuk septictank dan Ground Resevoir.

2. Jarak pemasangan bouwplank dari struktur terluar bangunan yang


akan dibangun minimal 1 m dan maksimal 2 m.

3. Bouwplank dibuat dari tiang-tiang kayu ukuran 5/7 cm yang


ditanam dalam tanah minimal 40 cm dan dengan jarak maksimal
setiap tiang adalah 2 meter. Untuk keperluan acuan elevasi dipakai

SPESIFIKASI TEKNIS 23
papan kayu 2,5/25 cm atau kayu ukuran 2,5/7 cm yang dipaku pada
tiang-tiang kayu 5/7 cm.

4. Bouwplank harus mempunyai posisi dan elevasi yang tetap terhadap


bangunan yang akan dibangun dan tidak boleh berubah posisi dan
elevasinya sebelum struktur bangunan yang paling rendah seperti
kansteen dan sloof selesai dikerjakan.

5. Posisi penempatan bouwplank harus sesuai dengan hasil pekerjaan


Seeting Out.

6. Hasil pekerjaan pemasangan bouwplank harus disetujui oleh


Konsultan Pengawas.

SPESIFIKASI TEKNIS 24
BAB V ISU ISU LINGKUNGAN

Pasal 1 : Sanitasi

1. Kontraktor Pelaksana Wajib menyediakan toilet sementara untuk


para pekerjanya di lapangan.

2. Kontraktor Pelaksana bertangung jawab terhadap pengosongan dan


pembersihan toilet dan lumpurnya yang diindetifikasikan dan
diusulkan oleh Dinas Kebersihan Dan Pertamanan Kota/Kabupaten.

3. Kontraktor Pelaksana harus membongkar toilet sementara


tersebut setelah proses pembangunan dan konstruksi selesai dan
membersihkan lahannya sesuai kebutuhan.

Pasal 2 : Limbah

1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan lokasi yang aman untuk


menyimpan limbah padat (solid waste).

2. Kontraktor Pelaksana harus membersihkan lokasi kerja dan


sekitarnya dari bahan buangan yang ditinggalkan selama proses
konstruksi, termasuk membersihkan kertas plastic, kertas bekas
semen, plastic pengikat dan kayu bekas pelindung barang, minimal
sekali dalam 2 minggu dan sebelum serah terima ke pemilik rumah
ke lokasi pembuangan resmi yang terdekat.

3. Kontraktor Pelaksana harus membersihkan lokasi kerja dan


sekitarnya dari bahan buangan lain yang ditinggalkan oleh staf
Kontraktor selama proses konstruksi.

4. Kontraktor Pelaksana harus bertangung jawab dalam mengatur


pengangkutan dan buangan akhir dari limbah padat tidak beracun
pada tempat pembuangan akhir yang sudah ditunjuk oleh
pemerintah kota/kabupaten.

10. Kontraktor Pelaksana harus bertanggung jawab untuk menyimpan


limbah berbahaya pada tempat yang aman, pada lokasi kerja.
11. Kontraktor Pelaksana harus bertanggung jawab terhadap
pembuangan akhir limbah berbahaya, terutama berhubungan

SPESIFIKASI TEKNIS 25
dengan pemerintah kota/kabupaten, Dinas Kebersihan dan
Pertamanan.

12. Kontraktor Pelaksana harus bertanggung jawab atas pemisahan


benda-benda tak berguna dari lokasi kerja, setelah pekerjaan
selesai.

Pasal 3 : Air Bersih

1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan kebutuhan air bersih


untuk proses konstruksi.

2. Kontraktor Pelaksana harus menjamin bahwa penyedian air untuk


kebutuhan sanitasi tersedia dalam jumlah yang mencukupi dalam
gedung kerja.

3. Kontraktor Pelaksana harus bertangung jawab untuk menjamin


bahwa aliran air dari lokasi pekerjaan konstruksi tidak mencemari
lingkungan sekitar.

Pasal 4 : Polusi Udara

1. Kontraktor Pelaksana harus melakukan langkah pengukuran yang


memadai, seperti penyemprotan air ke lokasi kerja dan jalan,
minimasi pencemaran dari debu.

2. Kontraktor Pelaksana harus menjamin bahwa kenderaan dan


peralatan proyek dipelihara dengan baik, mengikuti standard emisi.

Pasal 5 : Polusi Suara

1. Kontraktor Pelaksana harus mengatur jam kerja sehingga


kemungkinan bising yang ditimbulkan tidak menggangu masyarakat
setempat, antara jam 5 sore s/d 8 pagi.

2. Kontraktor Pelaksana harus melakukan koordinasi dengan Geuchik


setempat bilamana ada perubahan waktu kerja.

SPESIFIKASI TEKNIS 26
BAB VI PEKERJAAN QUALITY KONTROL

Pasal 1 : Ruang Lingkup

1. Pekerjaan Quality Kontrol atau Pemeriksaan Kualitas meliputi


semua percobaan-percobaan dan pengujian-pengujian terhadap
material bangunan serta pemeriksaan-pemeriksaan terhadap hasil
kerja Kontraktor Pelaksana.

2. Yang dimaksud dengan Pekerjaan Quality Kontrol atau


Pemeriksaan Kualitas dalam Proyek ini adalah beberapa hal yang
harus dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana berikut ini :
a. Pemeriksaan dan Pembuatan Job Mix Disain Beton;
b. Pemeriksaan Kualitas Material Beton;
c. Pemriksaan Dan Uji Job Mix Formula;
d. Pemeriksaan Mutu Beton;
e. Pemeriksaan Kuat Tekan Batu Bata;
f. Pemeriksaan Sifat-Sifat Fisik Material Timbunan;
g. Pemeriksaaan-Pemeriksaan Lain yang disyaratkan dan diminta
oleh Konsultan Perencana, Kosultan Pengawas dan Owner.

3. Semua material bangunan harus diperiksa dan dibuktikan


kualitasnya dengan biaya sendiri oleh Kontarktor Pelaksana dengan
cara-cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.

4. Semua pekerjaan Quality Kontrol yang dilakukan oleh Kontraktor


Pelaksana harus diketahui, dihadiri dan disetujui oleh Konsultan
Pengawas, Konsultan Perencana serta Owner.

5. Komponen-Komponen bangunan/struktur yang gagal dalam


pemeriksaan kualitas bedasarkan laporan Laboratorium dan
Konsultan Pengawas, maka komponen-komponen bangunan/struktur
tersebut dengan biaya sendiri harus dibongkar oleh Kontraktor
Pelaksana dan digantikan dengan yang baru.

SPESIFIKASI TEKNIS 27
Pasal 2 : Biaya Quality Kontrol

1. Semua biaya yang harus dikeluarkan untuk pekerjaan Quality


Kontrol seperti yang disebutkan dalam Pasal 1 adalah menjadi
tanggungan dan dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana walaupun
tidak disebutkan dalam Bill of Quantity.

2. Biaya Penginapan, Transportasi dan Kosumsi Konsultan


Pengawas, Konsultan Perencana dan Owner yang turut hadir
dalam Pekerjaan Quality Kontrol menjadi tanggungan dan
dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana.

BAB VII PEKERJAAN TANAH DAN PASIR

Pasal 1 : Pasir Urug

1. Pasir Urug hanya dipergunakan untuk urugan bawah paving block,


timbunan , pasir alas kansteen batu gunung serta alas pekerjaan
lantai kerja beton ( Line Concrete ) Kansteen Plat Lantai Beton.

2. Pasir Urug tidak untuk digunakan pada pekerjaan beton struktural


dan beton non struktural.

3. Pasir Urug terdiri dari butiran-butiran yang keras dan bersifat


kekal.

4. Pasir urug harus berasal dari pasir sungai dan bukan pasir laut.

5. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 10 % dari berat


keringnya.

6. Pasir urug harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper hingga


mencapai kepadatan yang disetujui oleh Konsultan Pengawas atau
jenuh air sebelum dilakukan pekerjaan lain diatasnya.

7. Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

SPESIFIKASI TEKNIS 28
Pasal 2 : Galian Kansteen

1. Sebelum dilakukan pekerjaan galian Kansteen Kontraktor


Pelaksana harus memastikan lokasi disekitar pengalian bersih dari
pepohonan, semak belukar, dan tanah humus.

2. Posisi galian kansteen harus tepat benar dengan posisi perletakan


bangunan menurut hasil Setting Out atau Lay Out daerah galian
kansteen yang ada dalam Gambar Bestek.

3. Bentuk galian dan kedalaman galian kansteen sesuai dengan


Gambar Bestek.

4. Pengalian kansteen dilakukan secara manual oleh para pekerja.

5. Kesalahan pengalian sehingga kedalaman galian melebihi dari


kedalaman yang diperlukan, maka kelebihi kedalaman tersebut
harus diurug kembali dengan biaya sendiri dari Kontraktor
Pelaksana.

6. Dasar galian yang telah selesai digali harus dipadatkan kembali


dengan alat pemadat sehingga mencapai kepadatan yang cukup
menurut Konsultan Pengawas.

7. Jika pada saat pengalian ditemukan akar-akar tumbuhan lama atau


puing-puing bangunan lama maka akar dan puing tersebut harus
diangkat serta diurug kembali denga pasir urug hingga mencapai
elevasi kedalaman yang diperlukan.

8. Hasil galian kansteen yang akan dipakai kembali untuk urugan


kansteen harus ditempatkan dengan jarak tertentu sehingga tidak
masuk kembali kedalam lubang galian dan tidak menggangu
pekerjaan konstruksi kansteen.

9. Dimensi, ukuran, dan kedalaman galian harus tetap dan tidak


berubah sebelum pekerjaan konstruksi kansteen plat lantai selesai
dikerjakan.

10. Kontraktor Pelaksana harus membuat dinding penahan tanah


sementara jika tanah disekitar galian adalah tanah agresif, labil,
dan mudah runtuh sehingga membahayakan pekerjaan pengalian.

SPESIFIKASI TEKNIS 29
2. Hasil pekerjaan galian kansteen harus disetujui oleh Konsultan
Pengawas.

Pasal 4 : Urugan Galian Kansteen

1. Urugan galian kansteen dikerjakan setelah pekerjaan konstruksi


kansteen selesai dikerjakan 100%.

2. Untuk urugan kansteen dapat digunakan tanah hasil galian


kansteen atau material lain yang disetujui oleh Konsultan
Pengawas.

3. Jika untuk urugan kansteen dipakai tanah lain dan bukan tanah
hasil galian kansteen maka tanah tersebut harus melalui proses
pemeriksaan di Laboratorium Tanah sebelum dipakai sebagai
material urugan kansteen dan hal ini harus diketahui serta
disetujui oleh Konsultan Pengawas. Semua biaya yang dikeluarkan
untuk pengadaan material tanah dan proses pemeriksaan di
Laboratorium Tanah dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana.

4. Tanah Humus atau tanah hasil pembersihan lapangan setebal 30


cm dari muka tanah dasar tidak boleh digunakan sebagai urugan
kansteen.

5. Tanah urugan kansteen harus dipadatkan dengan alat pemadat


Stemper atau alat lain yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.

6. Pemadatan dilakukan lapis berlapis dengan ketebalan minimal


setiap lapisanya adalah 30 cm.

7. Hasil pekerjaan urugan kansteen harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

SPESIFIKASI TEKNIS 30
BAB VIII PEKERJAAN BETON

Pasal 1 : Pasir Beton

1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari berat kering,


apabila lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum
dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan


dengan penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas


matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai


untuk campuran material beton.

6. Ukuran maksimal pasir beton adalah 6 mm dan ukuran minimal


pasir beton adalah butiran yang tertahan pada saringan nomor 100.

7. Pasir beton tidak mengandung zat alkali atau zat-za lain yang
dapat merusak beton.

8. Pasir yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui


proses penyelidikan di Laboratorium Beton.

SPESIFIKASI TEKNIS 31
9. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Pasir Beton
dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada
Spesifikasi Teknis ini.

Pasal 2 : Kerikil Beton

1. Terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tajam serta bersifat


kekal.

2. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% dari berat kering,


apabila lebih dari 1% maka kerikil tersebut harus dicuci sebelum
dipergunakan.

3. Ada tidaknya kandungan lumpur dalam pasir harus dibuktikan


dengan penelitian di Laboratorium Beton.

4. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas


matahari.

5. Mempunyai gradasi atau susunan butiran yang baik dan sesuai


untuk campuran material beton.

6. Ukuran maksimal kerikil beton adalah 30 mm dan ukuran minimal


adalah 6 mm.

7. Tidak mengandung zat alkali atau zat-zat lain yang dapat merusak
beton.

8. Kerikil yang akan digunakan untuk campuran beton harus melalui


proses penyelidikan di Laboratorium Beton.

9. Kerikil Beton hanya dipakai pada pekerjaan-pekerjaan beton Non


Struktural atau beton dengan mutu dibawah K-175.

10. Semua Peraturan dan Standar yang disyaratkan untuk Kerikil


Beton dalam Peraturan Beton Indonesia (PBI) berlaku juga pada
Spesifikasi Teknis ini.

SPESIFIKASI TEKNIS 32
Pasal 3 : Batu Pecah

1. Batu pecah adalah hasil produksi mesin pemecah batu (Stone


Cruser) dan bukan hasil pekerjaan manual (manusia).

2. Batu pecah berasal dari batuan kali.

3. Terdiri dari butiran yang keras dan bersifat kekal.

4. Tingkat ketahanan terhadap keausan butiran minimal 95%.

5. Jumlah butiran Lonjong dan Pipih minimal 5%.

6. Tidak boleh mengandung lumpur dan zat-zat yang dapat merusak


beton seperti zat alkali.

7. Ukuran butiran terkecil minimal 1 cm dan ukuran butiran terbesar


maksimal 3 cm.

8. Butiran batu pecah dalam setiap meter kubiknya tidak boleh


seragam tetapi merupakan campuran antara butiran 1 cm sampai
butiran 3 cm.

9. Batu pecah yang akan dipakai untuk material campuran beton


harus melalui proses pemeriksaan di Laboratorium beton.

10. Batu pecah hanya dan harus dipakai pada campuran beton
struktural atau beton dengan mutu K-250 sampai mutu K-275.

Pasal 4 : Semen Portland

1. Terdaftar dalam merk dagang.

2. Merk Semen Portland yang dipakai harus seragam untuk semua


pekerjaan beton structural maupun beton non struktural.

3. Mempunyai butiran yang halus dan seragam.

4. Tidak berbungkah-bungkah/tidak keras.


5. Semen yang dipakai untuk semua pekerjaan struktur beton adalah
Semen Portland Type I.

SPESIFIKASI TEKNIS 33
6. Semua peraturan tentang pengunaan semen portland di Indonesia
untuk bangunan gedung berlaku juga pada spesifikasi teknis ini.

Pasal 5 : Air

1. Secara visual air harus bersih dan bening, tidak berwarna dan
tidak berasa.

4. Tidak mengandung minyak, asam alkali, garam dan zat organic yang
dapat merusak beton.

5. Air setempat dari sumur dangkal atau sumur bor serta yang
didatangkan dari tempat lain kelokasi pekerjaan harus mendapat
persetujuan Konsultan Supervisi sebelum digunakan.

Pasal 6 : Zat Additive

1. Pemakaian zat additive pada campuran beton untuk segala alasan


yang berhubungan kemudahan dalam pengerjaan beton atau
Workability harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

2. Penggunaan zat additive dalam campuran beton harus melalui


proses penelitian dan percobaan dilaboratorium beton dengan
biaya sendiri dari Kontraktor Pelaksana.

3. Kontraktor Pelaksana harus menunjukan standar, aturan, dan


syarat yang berlaku secara umum mengenai zat additive yang akan
dipakai.

4. Kerusakan dan kegagalan struktur akibat penggunaan zat additive


yang dapat dibuktikan secara teknis sepenuhnya menjadi tanggung
jawab Kontraktor Pelaksana.

Pasal 7 : Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain)

1. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton struktural


dengan mutu K-175 sampai mutu K-275 Kontraktor Pelaksana
harus membuat Rancangan Campuran Beton (Job Mix Disain).

SPESIFIKASI TEKNIS 34
2. Yang dimaksud dengan Mutu Beton adalah Kuat Tekan
Karakteristik yang diperoleh dari pengujian benda uji kubus umur
28 hari minimal 20 benda uji.

3. Mutu beton untuk masing-masing komponen struktur adalah


seperti yang dijelaskan dalam Gambar Bestek dan Bill of Quantity.

4. Job Mix Disain adalah hasil pekerjaan ahli beton pada


Laboratorium Beton yang diakui oleh Pemerintah.

5. Material Pasir dan Batu Pecah yang dipakai untuk Job Mix Disain
haruslah material yang akan dipakai nantinya pada pelaksanaan
dilapangan dan material tersebut tersedia dalam jumlah yang
cukup dilokasi pekerjaan sampai volume pekerjaan beton selesai
dikerjakan.

6. Pengantian material dengan material selain material dalam Laporan


Job Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton tidak
dibenarkan.

7. Pengantian material dengan material selain material dalam Laporan


Job Mix Disain pada tahap pelaksanaan pekerjaan beton
mengharuskan Kontraktor Pelaksana untuk membuat Job Mix
Disain baru.

8. Laporan Job Mix Disain untuk masing-masing mutu beton minimal


harus mencantumkan :
1. Laporan hasil penelitian Pasir Beton;
2. Laporan hasil penelitian Batu Pecah;
3. Komposisi Pasir Beton;
4. Komposisi Batu Pecah;.
5. Komposisi Air Beton;
6. Komposisi Zat Additive jika digunakan;
7. Nilai Slump Rencana; dan
8. Nilai Faktor Air semen.

9. Job Mix Disain yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum dilaksanakan.

SPESIFIKASI TEKNIS 35
10. Semua aturan yang disyaratkan dalam Job Mix Disain dan telah
disetujui oleh Konsultan Pengawas harus diikuti dan dilaksanakan
oleh Kontraktor Pelaksana.

Pasal 8 : Rencana Campuran Lapangan (Job Mix Formula)

1. Berdasarkan Job Mix Disain yang telah disetujui oleh Konsultan


Pengawas, Kontraktor Pelaksana harus membuat Rencana
Campuran Lapangan (Job Mix Formula) beton struktural dengan
mutu K-175 sampai mutu K-275.

2. Job Mix Formula tidak boleh berbeda dengan Job Mix Disain
terutama dari segi komposisi material beton.

3. Hasil perhitungan Job Mix Formula harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

4. Kontraktor Pelaksana harus membuat media standar berupa bak-


bak dari kayu atau timba-timba plastik yang dipakai untuk
mentakar komposisi material berdasarkan perhitungan Job Mix
Formula.

6. Pentakaran komposisi material campuran beton dengan bak-bak


standar dilokasi pekerjaan tidak boleh mengurangi dan berbeda
dengan komposisi material beton yang ada dalam Job Mix Disain.

7. Kontraktor Pelaksana harus melakukan pengujian hasil perhitungan


Job Mix Formula dengan media benda uji kubus beton ukuran
20x20x20 cm minimal 5 benda uji.

7. Hasil pengujian Job Mix Formula di Laboratorium Beton yang


menghasilkan mutu beton yang tidak sesuai dengan mutu beton
pada Job Mix Disain mengharuskan Kontraktor Pelaksana
melakukan perhitungan ulang akan Job Mix formula atau merubah
Job Mix Disain.

8. Tidak tercapainya mutu beton seperti yang diinginkan karena


kesalahan dalam perhitungan Job Mix Formula sepenuhnya menjadi
tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

SPESIFIKASI TEKNIS 36
Pasal 9 : Lantai Kerja Beton ( Line Concrete )

1. Untuk komponen struktur beton yang berhubungan langsung


dengan tanah atau pasir urug, pada lapisan dasarnya harus
memakai Lantai Kerja Beton ( Line Concrete ) dengan tebal minimal
5 cm atau sesuai Gambar Bestek.

2. Lantai Kerja Beton dibuat dari beton mutu K-175.

3. Hasil pekerjaan Lantai Kerja Beton harus benar-benar elevasi , hal


ini harus dibuktikan dengan pekerjaan Waterpassing.

Pasal 10 : Beton Ready Mix ( Beton Siap Curah )

1. Penggunaan beton Ready Mix oleh Kontraktor Pelaksana harus


disetujui oleh Konsultan Pengawas.

2. Kontraktor Pelaksana tetap diwajibkan untuk menyerahkan Job


Mix Disain kepada Konsultan Pengawas terhadap semua mutu
beton structural yang menggunakan Beton Ready Mix.

3. Job Mix Disain harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sebelum


digunakan.

4. Kualitas beton yang dihasilkan oleh Batching Plant tetap menjadi


tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.

Pasal 11 : Lain - Lain

1. Persyaratan pekerjaan beton dari Pasal 1 sampai dengan Pasal 22


berlaku untuk semua item pekerjaan beton structural ( K-175
sampai K-275 ) yang ada dalam Proyek ini.

2. Hal-hal yang belum ditentukan dan diperlukan penjelasannya


dalam proses pelaksanaan pekerjaan ditentukan kemudian oleh
Konsultan Perencana bersama dengan Konsultan Pengawas dalam
proses pelaksanaan pekerjaan dengan persetujuan Owner.

SPESIFIKASI TEKNIS 37
2. Hal-hal yang ditentukan kemudian tersebut menjadi satu
ketentuan yang mengikat dan wajib untuk dilaksanakan oleh
Kontraktor Pelaksana.

BAB XI PEKERJAAN POT BUNGA

Pasal 1 : Batu Bata

1. Batu bata harus mempunyai dimensi dan ukuran yang standar


sesuai Peraturan Bahan Bangunan yang berlaku.

2. Batu bata mempunyai dimensi seperti berikut : lebar 5 cm, panjang


20 cm, dan tebal 5 cm kecuali ditentukan lain dalam Peraturan
Bahan Bangunan.

3. Batu bata adalah dari hasil pembakaran yang sempurna dari pabrik
batu bata dimana kondisinya tidak rapuh dan tidak mudah hancur
ketika diangkut dan diturunkan pada lokasi pekerjaan.

4. Batu bata bentuknya harus sempurna tidak melengkung dan


permukaanya benar-benar rata untuk semua sisinya.

5. Batu bata mempunyai Kuat Tekan minimal 30 kg/cm2.

6. Perubahan-perubahan pada dimensi dan ukuran batu bata karena


mengikuti dimensi dan ukuran yang berlaku pada daerah tertentu
harus disetujui oleh Konsultan supervise.

7. Toleransi hanya diperbolehkan untuk dimensi dan bukan untuk


kualitas.

Pasal 2 : Pasir Pasang / Pasir Halus

1. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir dengan ukuran butiran halus


dan tidak lagi memerlukan proses penyaringan/ayakan jika hendak
digunakan.
SPESIFIKASI TEKNIS 38
2. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah apsir yang dipakai untuk keperluan
Pasangan Batu Gunung, Pasangan Batu Bata, Pasangan Keramik, dan
Plasteran Dinding.

3. Pasir Pasang tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% dari


berat kering, apabila pasir pasang tersebut mengandung Lumpur
lebih dari 5% maka pasir tersebut harus dicuci sebelum
dipergunakan.

4. Pasir Pasang/Pasir Halus harus mempunyai butiran yang tajam dan


keras.

5. Bersifat kekal dan tidak hancur oleh karena pengaruh panas


matahari

6. Pasir Pasang/Pasir Halus adalah pasir yang berasal dari Sungai dan
bukan Pasir yang berasal dari laut.

Pasal 3 : Pasangan Kansteen Dinding Batu Bata Bata Campuran 1 Pc :


2 Ps

1. Pasangan batu bata bata campuran 1 Pc : 2 Ps dikerjakan hanya


pada dinding-dinding yang langsung berhubungan dengan air.

2. Perekat atau spesi yang dipakai adalah dari campuran 1 Pc : 2 Ps


dengan ketebalan maksimal 1,5 cm dan minimal 1 cm.

3. Pasir yang dipakai adalah Pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Batu bata harus disiram terlebih dahulu dengan air sebelum


dipasang.

5. Batu bata harus dipasang dengan posisi lapis demi lapis saling
bersilangan dan tidak satu garis sambungan.

6. Untuk dinding selain kamar mandi dan tempat whuduk tinggi


pasangan batu bata bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps minimal 40
cm.

SPESIFIKASI TEKNIS 39
7. Pasangan batu bata bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps harus
kedap air (trasram).

8. Pasangan batu bata tidak boleh melengkung dalam arah vertikal


dan dalam arah horizontal.

9. Setiap tinggi 30 cm pemasangan bata harus disediakan benang-


benang untuk ketepatan elevasi dan kedataran permukaan.

11. Hasil pemasangan batu bata bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps


harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 6 : Plesteran Campuran 1 Pc : 2 Ps

1. Sebelum dilakukan plesteran terlebih dahulu permukaan hasil


pemasangan bata harus disiram dengan air dengan merata.

2. Plesteran dari campuran 1 Pc : 2 Ps .

3. Pasir yang dipakai adalah pasir Pasang/Pasir Halus.

4. Tebal plesteran dinding minimal 1,5 cm.

5. Plesteran campuran 1 Pc : 2 Ps dilakukan pada pasangan Hollow


block atau dinding bata dengan campuran 1 Pc : 2 Ps.

6. Plesteran harus menghasilkan permukaan yang rata untuk semua


bidang dinding yang diplester.

7. Plesteran tidak boleh meninggalkan sambungan-sambungan antara


plesteran lama dengan plesteran baru yang tidak rata.

8. Lama antara plesteran lama dengan plesteran baru tidak boleh


lebih dari satu hari kecuali ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas.

9. Hasil pekerjaan plesteran harus benar-benar halus permukaannya


sehingga ketika dilakukan pekerjaan cat dinding tidak menimbulkan
bekas.

SPESIFIKASI TEKNIS 40
10. Hasil pekerjaan plesteran harus disetujui oleh Konsultan
Pengawas.

BAB XI PEKERJAAN PAVING BLOCK

Pasal 1 : Bentuk, ukuran dan motif Paving Block dipasang sesuai dengan
gambar bestek yang dibuat oleh konsultan perencana.

Pasal 2 : Paving Block dipasang setelah kansteen dan urugan pasir sudah siap
dilaksanakan, perlu adanya pemadatan pasir urug agar tidak terjadi
penurunan paving block dikemudian hari

SPESIFIKASI TEKNIS 41
BAB XII PEKERJAAN TANAH DAN PASIR

Pasal 2 : Pasir Urug

1. Pasir Urug dipergunakan untuk urugan pondasi batu gunung.

2. Pasir Urug terdiri dari butiran-butiran yang keras dan bersifat


kekal.

3. Pasir urug harus berasal dari pasir sungai dan bukan pasir laut.

4. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 10 % dari berat


keringnya.

5. Pasir urug harus dipadatkan dengan alat pemadat Stemper hingga


mencapai kepadatan yang disetujui oleh Konsultan Pengawas atau
jenuh air sebelum dilakukan pekerjaan lain diatasnya.

6. Hasil pemadatan tanah harus disetujui oleh Konsultan Pengawas.

Pasal 4 : Galian Tanah

1. Sebelum dilakukan pekerjaan galian pondasi Kontraktor Pelaksana


harus memastikan lokasi disekitar pengalian bersih dari
pepohonan, semak belukar, dan tanah humus.

2. Posisi galian pondasi harus tepat benar dengan posisi perletakan


bangunan menurut hasil Setting Out atau Lay Out daerah galian
pondasi yang ada dalam Gambar Bestek.

3. Bentuk galian dan kedalaman galian sesuai dengan Gambar Bestek.

4. Pengalian dilakukan secara manual oleh para pekerja.

5. Kesalahan pengalian sehingga kedalaman galian melebihi dari


kedalaman yang diperlukan, maka kelebihi kedalaman tersebut

SPESIFIKASI TEKNIS 42
harus diurug kembali dengan biaya sendiri dari Kontraktor
Pelaksana.

6. Dasar galian yang telah selesai digali harus dipadatkan kembali


dengan alat pemadat sehingga mencapai kepadatan yang cukup
menurut Konsultan Pengawas.

7. Jika pada saat pengalian ditemukan akar-akar tumbuhan lama atau


puing-puing bangunan lama maka akar dan puing tersebut harus
diangkat serta diurug kembali denga pasir urug hingga mencapai
elevasi kedalaman yang diperlukan.

8. Hasil galian pondasi yang akan dipakai kembali untuk urugan


pondasi harus ditempatkan dengan jarak tertentu sehingga tidak
masuk kembali kedalam lubang galian dan tidak menggangu
pekerjaan konstruksi pondasi.

9. Dimensi, ukuran, dan kedalaman galian harus tetap dan tidak


berubah sebelum pekerjaan konstruksi pondasi plat lantai selesai
dikerjakan.

10. Kontraktor Pelaksana harus membuat dinding penahan tanah


sementara jika tanah disekitar galian adalah tanah agresif, labil,
dan mudah runtuh sehingga membahayakan pekerjaan pengalian.

3. Hasil pekerjaan galian pondasi harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

Pasal 5 : Urugan Galian Pondasi

1. Urugan galian pondasi dikerjakan setelah pekerjaan konstruksi


pondasi selesai dikerjakan 100%.

8. Untuk urugan pondasi dapat digunakan tanah hasil galian pondasi


atau material lain yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.

9. Jika untuk urugan pondasi dipakai tanah lain dan bukan tanah hasil
galian pondasi maka tanah tersebut harus melalui proses
pemeriksaan di Laboratorium Tanah sebelum dipakai sebagai
material urugan pondasi dan hal ini harus diketahui serta disetujui
oleh Konsultan Pengawas. Semua biaya yang dikeluarkan untuk

SPESIFIKASI TEKNIS 43
pengadaan material tanah dan proses pemeriksaan di Laboratorium
Tanah dibebankan kepada Kontraktor Pelaksana.

10. Tanah Humus atau tanah hasil pembersihan lapangan setebal 30


cm dari muka tanah dasar tidak boleh digunakan sebagai urugan
pondasi.

11. Tanah urugan pondasi harus dipadatkan dengan alat pemadat


Stemper atau alat lain yang disetujui oleh Konsultan Pengawas.

12. Pemadatan dilakukan lapis berlapis dengan ketebalan minimal


setiap lapisanya adalah 30 cm.

13. Hasil pekerjaan urugan pondasi harus disetujui oleh Konsultan


Pengawas.

BAB XIV KETENTUAN KHUSUS

Pasal 1 : Semua hal yang tidak ditentukan dalam spesifikasi ini akan ditentukan
kemudian oleh Konsultan Perencana bersama Owner dalam masa
pelaksanaan konstruksi dan menjadi suatu ketentuan yang mengikat
serta harus dilaksanakan oleh Kontraktor Pelaksana. Hal-hal yang
ditentukan kemudian tersebut harus tetap didasarkan pada Kontrak
Kerja.

Pasal 2 : Jika ada item-item pekerjaan dimana tidak ada penjelasan dalam
Gambar Bestek, Bill of Quantity dan Spesifikasi Teknis maka
penjelasan teknis terhadap item pekerjaan tersebut adalah
berdasarkan keputusan Owner atas masukan teknis dari Kolsultan
pengawas.

Pasal 3 : Maksud dan tujuan setiap aturan dalam Spesifikasi Teknis ini adalah
menurut penjelasan Konsultan Perencana dengan persetujuan Owner.

SPESIFIKASI TEKNIS 44