Anda di halaman 1dari 3

I.

Hasil dan Pembahasan


Pada praktikum rumput laut kali ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik
E. Cottonii kering menjadi karagenan dengan cara perebusan dengan larutan KOH dan
untuk mengetahui kadar air dan kadar abunya.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mendapatkan karagenan dari
rumput laut ini adalah rumput kering direbus dengan menggunakan larutan KOH 6%
dengan perbandingan (1:15) dan dipanaskan dengan suhu 85oC selama kurang lebih 3 jam
lamanya. Pada waktu perebusan menimbulkan busa yang banyak akibat reaksi KOH yang
dipanaskan sehingga muncul busa berwarna putuh dan beraoma pekat. Bsa akan terus
muncul saat mengalami pemanasan sehingga panic untuk merebus rumput laut tidak
mencukupi untuk menampung busa. Proses perebusan akhirnya menggunakan api yang
sangat kecil untuk menghindari suhu yang tinggi. Diduga suhu selama perebusan tetap
konstan karena busa yang terbentuk terus menerus akhirnya terhenti. Kemudian rumput
laut yang telah dipanaskan dicuci hingga bersih dan dilakukan penirisan. Pada saat
pencucian KOH sudah hilang dipermukaan rumput laut. Ukuran rumput laut menjadi
sangat kecil dan hancur sehingga tidak diperlukan melakukan pemotongan sebelum
dikeringkan. Rumput laut dikeringkan di oven dengan suhu 60 oC selama 12 jami,
dilanjutkan rumput laut diblender dan diayak menggunakan pengajak ukuran 60 mesh.
Tepung yang dihasilkan bberwarna coklat pucat kehijauan dan ada bagian berwarna putih
yang mudah menguap, diduga itu merupakan KOH yang keluar dari rumput laut sehingga
saat proses penepungan yang banyak didapatkan adalah KOH dalam bentuk bubuk bukan
karagenannya
Proses selanjutnya karagenan diuji kadar air dan kadar abunya:
Pengujian Kadar Air
KADAR AIR
Ulangan 3
Jenis Sampel Berat awal Ulangan 1 (gr) Ulangan 2 (gr)
(gr)
Karagenan
rumput laut (ATC 2,9992 2,5835 2,5772 2,5779
Panas)

Rata-rata ulangan=
Kadar air (%b/b) =

Kadar air (%b/k) =

Berdasarkan data hasil perhitungan didapatkan kadar air karagenan ATC panas
sebesar 13,99% untuk basis basah dan 16,2% untuk basis kering. Kadar air berbasis berat
basah digunakan untuk mengetahui kandungan air yang menguap dari suatu bahan yang
dibandingkan dengan berat mula-mula bahan, sehingga diketahui berapa air bebas yang
bisa keluar dari bahan. Pada kadar air berat kering jumlahnya hampir sama dengan basis
basah namun teori menyatakan bahwa berat kering bahan bisa mencapai lebih dari 100%.
Berat kering yang lebih dari 100% menandakan bahwa jumlah air yang menguap lebih
besar dari jumlah air yang tersisa dibahan setelah pengeringan. kadar air basis kering
yang kurang dari 100% menandakan bahwa jumlah air yang menguap jauh lebih kecil
dari jumlah air yang tersisa pada bahan.

Pengujian Kadar Abu


KADAR ABU
Jenis Sampel Berat cawan (gr) Berat awal + cawan (gr) Berat akhir + cawan (gr)
Karagenan
rumput laut (ATC 22,0432 25,0842 23,6903
Panas)

Kadar abu (%b/b) =

Kadar abu (%b/k) =

Keterangan :
(%b/b) = persentase berat basah
(%b/k) = persentase berat kering
a = berat awal
b = berat kering
Berdasarkan data hasil perhitungan didapatkan kadar abu karagenan ATC panas
sebesar 54,16% untuk basis basah dan 62,9% untuk basis kering. Kadar abu merupakan
campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan.
Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain untuk
menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan, mengetahui jenis bahan yang
digunakan, dan sebagai penentu parameter nilai gizi suatu bahan makanan. Semakin kecil
kadar abunya semakin baik pengolahannya. Kadar abu karagenan ATC Panas basis basah
nilainya cukup besar lebih dari 50%, ini berarti pengolahan rumput laut belum sempurna
sehinga diperlukan perbaikan-perbaikan agar proses pembuatan karagenan menghasilkan
kadar abu yang lebih kecil. Adanya KOH yang masuk kedalam rumput laut dapat
menyebabkan kadar abu basis basah menjadi tinggi nilainya. Pada basis kering, kadar abu
juga nilainya lebih dari 60% hal ini menandakan bahwa mineral dan zat anorganik yang
teringgal pada karagenan ATC panas masih tinggi. Residu zat anorganik dan minerak
tetap menempel pada karagenan yang telah dibuat. Diperlukan pengolahan lebih lanut
untuk menanggulangi kadar abu yang masih tinggi.