Anda di halaman 1dari 151

USTEK

SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN


IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN

A.
DATA ORGANISASI
PERUSAHAAN

A.1. DATA ORGANISASI PERUSAHAAN


A.1.1. Latar Berlakang Perusahaan
Sejak didirikan pada tahun 1994, PT. Grand Cipta Consulting telah mampu berpartisipasi dan
berprestasi dalam pembangunan nasional, sehingga menjadi sebuah perusahaan konsultan yang bergerak
dalam bidang kontruksi dan non-konstruksi dengan sederet macam layanan jasa konsultansi yang sarat
pengalaman dengan mengerahkan segala kemampuan dan keahlian secara profesional dalam menangani
setiap pekerjaan di bidangnya, untuk mencari solusi teknik terbaik dengan pendekatan faktor ekonomis
dan efisiensi guna mendukung kelancaran dalam pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pada saat
ini PT. Grand Cipta Consulting mempunyai 45 (empat puluh lima) tenaga organik dari berbagai
disiplin ilmu, dengan pengalaman profesional di bidangnya rata-rata lebih dari 10 (sepuluh) tahun.
Dengan ditunjang oleh peralatan kerja yang memadai, seperti studio, perangkat keras dan perangkat lunak
sesuai dengan kebutuhan, maka peningkatan profesionalitas tenaga ahli diharapkan semakin meningkat.

A.1.2. Data Administrasi Perusahaan

Data data administrasi yang akan kami presentasikan adalah bertujuan untuk memudah
bagi owner yang akan mempercayakan kepada kami untuk melaksanakan pekerjaan.
NAMA PERUSAHAAN : PT. Grand Cipta Consulting
ALAMAT KANTOR/STUDIO : JL. Taman Sulfat XV No.02 Malang.
AKTE NOTARIS : Notaris Darma Sanjata Sudagung, SH
No. 95 Tanggal 17 Maret 1994
AKTE PERUBAHAN : Notaris Dr. Benediktus Bosu, SH
No. 62 Tanggal 10 Februari 2007

1
: Notaris R.A. Sri Wahjoeti Andajani, SH
No. 16 Tanggal 13 September 2008
: Notaris R.A Sri Wahjoeti Andajani, SH
No. 33 Tanggal 25 September 2008
NPWP PERUSAHAAN : 01.605.165.8-000
SIUJK : 602.01/93/35.73.121/2006
INKINDO : Anggota Penuh No. 8238/P/0411.JTM

A.2. STRUKTUR ORGANISASI


Struktur Organisasi Perusahaan PT. Grand Cipta Consultingseperti tergambar pada
diagram berikut.
KOMISARIS

DIREKTUR

SPI

MANAJER TEKNIK MANAJER ADM/KEU

Dukungan Teknis
Dukungan Manajemen
Dukungan Finansial
Personalia
PROYEK-PROYEK Administrasi Umum
BIRO SDM Administrasi Proyek
Administrasi Kontrak
Invoice/Penagihan
Pengendalian
Bidang Sipil Kerjasama
Bidang Pengairan Akuntansi
Mekanikal dan Elektrikal Keuangan
Bidang Survey-Investigasi Perpajakan
Bidang Lingkungan Proposal
Pengembangan Masyarakat Pemasaran
Bidang Ekonomi dan Manajemen Rumah Tangga

Bidang Layanan Arsitektur dan Tata Lingkungan


Bidang Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan
B.
DAFTAR
PENGALAMAN KERJA

B.1. LINGKUP LAYANAN

Bidang layanan yang mampu diberikan PT. Grand Cipta Consultingdalam eksistensinya
di bidang jasa konsultansi meliputi:

BIDANG CIPTA KARYA & TATA LINGKUNGAN

Tata Ruang Wilayah


Master Plan Drainase
Sarana dan Prasarana Permukiman
Bangunan Gedung
Arsitektural Gedung
Jaringan Perpipaan
Drainase, Sanitasi Lingkungan & IPAL
Persampahan dan Pengelolaannya
Analisis dan Teknik Lingkungan

BIDANG BINA MARGA & TRANSPORTASI

Jalan
Jembatan
Fasilitas Penyeberangan
Jalan Layang
Rambu Lalulintas & Marka Jalan
Terminal & Pelabuhan
Rest Area

BIDANG KEAIRAN

Bendungan Serba Guna


Embung
Bendung
Saluran Irigasi dan Pelengkapnya
Saluran Drainase dan Pelengkapnya
Pengendalian Banjir
Perbaikan dan Normalisasi Sungai
Bangunan Pengelak
Bangunan Penahan Gelombang Pantai
Konservasi Lahan dan Air
Master Plan Tata Irigasi
Pengembangan Air Tanah
Sistem Suplesi
Sistem Keamanan Bendungan

BIDANG KETENAGA LISTRIKAN

PLTA
PLTU
Geothermal
Jaringan Transmisi

BIDANG INDUSTRI

Pengembangan Industrial Estate


Bangunan Pabrik/Pergudangan
Instalasi Mekanikal/Elektrikal
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
Sarana Prasarana Pabrik

BIDANG PARIWISATA

Sarana Prasarana Wisata


Perhotelan
Taman

BIDANG PRASARANA KOMUNIKASI

Menara Relay dan Gardu Komunikasi


Jaringan Transmisi
Telematika

BIDANG PENGEMBANGAN MASYARAKAT

Sistem Kelembagaan Swadaya


Pemberdayaan Masyarakat
Kesehatan
Pendidikan
Pembiayaan Skala Kecil
Manajemen Pengelolaan Usaha Kecil
Prasarana Desa Tertinggal

B.2. DAFTAR PENGALAMAN PERUSAHAAN

Dalam perkembangan dunia usaha khususnya dalam bidang jasa konsultan perencana dan
pengawasan bersama ini pula kami prsentasikan jenis pekerjaan sejenis yang pernah ditangani.
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
Tabel 1.1 Daftar Pengalaman Perusahaan selama 10 tahun terakhir
No. Na ma Pa ke t Pe ke rja a n

1 2
1
SID Pengendalian Banjir di Kabupaten
Kotawaringin Timur

Supervisi Lanjutan Pembangunan Jaringan Irigasi


DI. Amandit W ilayah Kiri

3
SI DD Pengamanan dan Penataan Mata Air
Menyebar di Propinsi Bali

4
Reinventarisasi Jaringan Irigasi W ilayah UPTD Cukir

5 Studi Analisa, Geologi dan Topografi W ilayah II Kab. Balangan

6 Supervisi Jaringan Irigasi DI. Amandit

7 Reinventarisasi Jaringan Irigasi W ilayah UPTD Peterongan

8 Supervisi Rehab Saluran Sekunder Se Kab. Gresik

9 Supervisi Rehab Saluran Sekunder Se Kab. Banyuwangi

10 Supervisi Revitalisasi TPA Temesi

11 Premliminari Studi PS Air Limbah Kawasan Kuta


Selatan

12 Detai Desai Pengendalian Banjir Tukad Ayung di


Kota Denpasar

13 Detai Desan Penanganan Longsoran Tanggul


Sungai Bodri

14 Penyusunan SOP Untuk Penyusunan RTD Bendungan Bili - Bili

15 DED Optimalisasi IPLT Buleleng

6
16 Study Larap Bendungan Surga di Kabupaten
Buleleng

17 Perencanaan Teknis Konservasi Sub DAS Galeh


Paket P-6

18 Supervisi Pekerjaan TPA Bengkala, Bali

19 Perencanaan Desa Rawan Air Wilayah Lekok dan


Nguling Kabupaten Pasuruan

20 Pemetaan Batas Kabupaten Banyuwangi - Bondowoso

Banyuwangi
21 Supervisi Revitalisasi TPA Regional Sarbagita

22 Konservasi DAS Cokroyasan Paket P.10

23 Paket VI Perencanaan Teknis Drainasi Primer / Sekunder Kab. Tojo Una-una TA. 2009

24 Pengawasan Pembangunan Jaringan Irigasi


Kegiatan DAK

25 Penyusunan SOP Penanggulangan Bencana Banjir


Sungai Mahakam

26 Perencanaan Pembangunan Jaringan Irigasi


Kegiatan DAK

27 Penyusunan Studi UKL dan UPL Pengerukan alun sungai mahakam

28 SOP Pengeboran Air Tanah

29 Pengawasan Pembangunan Jaringan Irigasi Kota


Batu

30 Pengawasan Teknis Kegiatan Pembangunan


Jaringan Irigasi Saluran Sungai
31 Pemetaan Batas Banyuwangi - Jember S

32 Supervisi Konstruksi Pelaksanaan Embung S


Kabupaten Tulungagung

33 Perencanaan Teknis Pengembangan Irigasi S


Pedesaan

34 Perencanaan Pembangunan Jaringan Irigasi Kota S


Batu

35 Survey dan Ivestigasi Kondisi Sungai di Kabupaten J


Blitar

36 SOP Operasional dan Pemeliharaan Jaringan S


Irigasi

37 Pengembangan Air Tanah S


USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN

C.
URAIAN
PENGALAMAN KERJA

C.1. URAIAN PENGALAMAN KERJA


Tabel-tabel berikut ini merupakan uraian pengalaman kerja dariPT. Grand Cipta
Consultinguntuk pekerjaan sejenis selama periode 10 (sepuluh) tahun terakhir.

9
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
URAIAN PEKERJAAN

PT. GRAND CIPTA CONSULTING

URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS


SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Geologi
c. TA. Hidrologi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS


SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. Ahli Irigasi
c. Ahli Cost Estimator
d. Surveyor
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS


SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. Ahli Irigasi
c. Ahli Cost Estimator
d. Surveyor
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS


SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. Ahli Irigasi
c. Ahli Cost Estimator
d. Surveyor
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS


SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. Contruction Engineering
c. Inspector
d. Quantity Surveyor
e. Surveyor
f. Chief Soil Technicial
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

1
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Persampahan dan sanitasi
c. TA. Geodesi
d. TA. Kontruksi
e. TA. Quality Control
f. TA. Mekanika Tanah
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

2
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Lingkungan
c. TA. Pengolahan Limbah
d. TA. Planologi
e. TA. Geodesi
f. TA. Struktur
g. TA. Mekanika Tanah
h. TA. Estimasi Biaya
i. TA. Sosial Kemasyarakatan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

3
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Pengairan
c. TA. Hidrologi
d. TA. Geoteknik
e. TA. Geodesi
f. TA. Sosek
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
URAIAN PEKERJAAN

PT. GRAND CIPTA CONSULTING

4
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Bangunan Air
c. TA. Hidrologi
d. TA. OP
e. TA. Geodesi
f. TA. Geologi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

5
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Sosek
c. TA. K3
d. TA. Hidrostructure
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

6
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Kontruksi
c. TA. Estimasi Biaya
d. Ass Lingkungan
e. Ass Keuangan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

7
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Bendungan
c. TA. Hirologi
d. TA. Hirolika
e. TA. Geodesi
f. TA. Sosial Ekonomi
g. Assisten Sosial ekonomi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

8
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Bangunan Air
c. TA. Geodesi
d. TA. Hidrologi
e. TA. Geologi
f. TA.Sosial ekonomi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

9
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Geodesi
c. TA. Sipil
d. TA. Sosek
e. TA. Hukum
f. Ass Geodesi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

10
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan

3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Hirologi
c. TA. Hirolika
d. TA. Geodesi
e. TA. Sosial Ekonomi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

11
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Geodesi
c. TA. Hidrologi
d. TA. Geologi
e. TA.Sosial ekonomi
f. TA. Lingkungan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

12
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Bangunan Air
c. TA. Geodesi
d. TA. Hidrologi
e. TA. Geologi
f. TA.Sosial ekonomi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

13
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan

3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Pengairan
c. TA.Hidrolika
d. TA.Geodesi
e. TA. Sosek
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

14
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Irigasi
c. TA. Struktur
e. TA. Sosek
f. TA. Lingkungan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

15
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA.Ekonomi Wilayah
c. TA.Transportasi
d. TA.Teknik Lingkungan
e. TA.Geologi
f. TA.Hidrologi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

16
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Irigasi
c. TA. Struktur
e. TA. Sosek
f. TA. Lingkungan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

17
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Hirologi
c. TA. Hirolika
d. TA. Geodesi
e. TA. Sosial Ekonomi
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

18
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Irigasi
c. TA. Struktur
e. TA. Sosek
f. TA. Lingkungan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

19
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan

3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Irigasi
c. TA. Struktur
e. TA. Sosek
f. TA. Lingkungan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

20
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA.Pengairan
c. TA. Struktur
d.. TA. Geodesi
e. TA. Sosek
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

21
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Irigasi
c. TA. Struktur
e. TA. Sosek
f. TA. Lingkungan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

22
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Irigasi
c. TA. Struktur
e. TA. Sosek
f. TA. Lingkungan
PT. GRAND CIPTA CONSULTING

23
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan
3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Hidrologi
c. TA.Geodesi
d. TA. Lingkungan
e. TA.Sos.Ekonomi Pertanian
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
URAIAN PEKERJAAN

PT. GRAND CIPTA CONSULTING

24
URAIAN PENGALAMAN KERJA SEJENIS
SEPULUH TAHUN TERAKHIR

1 . Pengguna Jasa
2 Nama Paket Pekerjaan

3 Lingkup Produk

4 . Lokasi Proyek
5 . Nilai Kontrak
6 . No. Kontrak
7 . Waktu Pelaksanaan
8 Nama Pemimpin Kemitraan (jika ada)
Alamat
Negara Asal
9 . Jumlah Tenaga Ahli

10 . Perusahaan Mitra Kerja

a.
b.
c.
d.

Tenaga ahli tetap yang terlibat

Posisi

a. Team Leader
b. TA. Sungai
d. TA. Bangunan Air
e. TA. Irigasi
f. TA. Hidrolika
D. TANGGAPAN DAN
SARAN
TERHADAP KAK

D.1. UMUM
Setelah melalui proses pemahaman dan penelaahan terhadap Kerangka Acuan Kerja
(KAK) Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan yang dikeluarkan
maka berikut ini akan disampaikan beberapa hal mengenai tanggapan terhadap Kerangka Acuan
Kerja oleh Konsultan dengan maksud untuk menyamakan persepsi untuk kesempurnaan dan
menjadikan preseden baik atau nilai tambah bagi konsultan.

D.2. TANGGAPAN TERHADAP KAK


D.2.1. TANGGAPAN DAN SARAN SECARA UMUM TERHADAP KAK
Dalam rangka untuk menjamin mutu dan kualitas bangunan maka diperlukan
pengawasan, pemantauan dan pengendalian yang ketat, terukur dan pengujian bahan di
laboratorium serta penggunaan alat yang memadai sehingga diperlukan kerjasama dengan pihak
ketiga atau penyedia jasa konsultansi. Hal tersebut perlu dilakukan guna menjamin kualitas,
mutu bangunan yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) di dalam pelaksanaan
pekerjaan konstruksi. Diperlukan kerjasama dengan pihak ketiga dalam rangka membantu
pengawasan teknis dan supervisi dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Diharapkan dengan
kerjasama dari semua pihak, maka mutu, kualitas dan fungsi bangunan bisa optimal sesuai
perencanaan.
Hal-hal yang melatarbelakangi dilaksanakannya kegiatan supervisi secara umum yaitu
agar tersusunnya suatu organisasi pengawasan konstruksi dengan beban tugas pengawasan
pelaksanaan pekerjaan dan secara periodik memberikan masukan kepada pemimpin kegiatan,
baik yang bersifat rutin dan teknis maupun usulan-usulan lainnya yang sifatnya menunjang
pelaksanaan fisik.
Sedangkan tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan
sehingga dicapai hasil kerja yang sesuai dengan dokumen kontrak baik dari segi kualitas,
kuantitas serta dapat diselesaikan dengan waktu dan biaya yang telah ditentukan, sehingga
sasarannya adalah agar prasarana dan sarana irigasi nantinya dapat berfungsi secara optimal
untuk mengatasi permasalahan penyediaan air bersih di Kabupaten Tabanan.
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, konsultan akan tetap berpedoman pada lingkup
pekerjaan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja/Term Of Reference (KAK) pekerjaan tersebut.
Secara umum lingkup kegiatan yang diuraikan dalam KAK telah diuraikan dan sesuai dengan
tahapan kegiatan.
Namun ada beberapa hal yang menurut pihak konsultan yang belum tertuang dalam KAK
yaitu informasi hasil studi terkait dan hal ini akan menjadi kewajiban pihak konsultan untuk
mendapatkan informasi lebih lanjut termasuk juga dalam hal mengenai data-data penunjang yang
diperlukan. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan dalam pelaksanaannya akan ada beberapa
aspek serta permasalahan yang harus disesuaikan dengan kondisi lokasi dan keinginan dari
masyarakat setempat serta kajian dari aspek lingkungan perlu dijadikan bahan pertimbangan.
Oleh karena setiap pembangunan sekarang ini harus mengedepankan aspek lingkungan terutama
aspek sosial masyarakat agar tidak menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Sehingga
keberhasilan pelaksanaan pekerjaan ini akan dapat tercapai jika konsultan memahami dengan
seksama terhadap apa yang dimaksud di dalam Kerangka Acuan Kerja (Term of
Reference/TOR).

D.2.2. TANGGAPAN TERHADAP LATAR BELAKANG PEKERJAAN


Keberhasilan pengembangan potensi wilayah dalam kenyataannya akan diikuti oleh
peningkatan kebutuhan penyediaan baku (air bersih, air irigasi, industri dll). Sementara itu
perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan pengembangan sumber-sumber air
menyebabkan perubahan pada karakter hidrologi yang pada akhirnya akan mengakibatkan
penurunan kapasitas persediaan air di daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu perlu dijaga
suatu kondisi dimana minimal terjadi kesetimbangan air antara kebutuhan dan ketersediaan air.
Untuk menghadapi permasalahan tersebut, Pemerintah dan DPR-RI telah menerbitkan Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pada Pasal 14 UU Nomor 7 tahun 2004
tersebut mengamanatkan Pemerintah berwenang menetapkan Kebijakan Nasional Sumber Daya
Air. Dengan tersusunnya Kebijakan Nasional Sumber Daya Air diharapkan pengembangan dan
pengelolaan sumber daya air tetap mengarah kepada keterpaduan yang harmonis, dan kelestarian
kemanfaatannya. Kebijakan Nasioanl ini berisi garis besar prioritas-prioritas pengembangan
sumber daya air di masing-masing wilayah di Indonesia, dan maka menjadi dasar untuk
penyusunan kebijakan dan program di daerah dalam pengelolaan sumber daya airnya secara
lebih terinci.
Pengembangan dan pengelolaan sumber air di wilayah Propinsi Bali masih kurang
optimal sehingga masih banyak lahan pertanian yang kekurangan air yang berdampak pada
penurunan produksi pertanian, kesulitan air bersih, semakin luasnya lahan kritis. Disatu sisi
masih banyak potensi sumber air (air permukaan, mata air dan air tanah) yang belum
dimanfaatkan secara optimal untuk penyediaan (air irigasi). Upaya pemenuhan kebutuhan telah
memunculkan persoalan dalam kaitannya dengan penyediaan prasarana dan sarana
pengembangan dan pengelolaan sumber air yang memadai. Namun karena ketersediaan air
lambat laun tidak seimbang lagi dengan tingkat kebutuhannya, maka permasalahan ini harus
diupayakan jalan keluarnya. Agar pengelolaan air irigasi bisa menjadi efektif, maka debit harus
diukur dan diatur sedemikian rupa agar sumber air yang ada bisa terjaga kuantitas dan
kontinuitasnya. Untuk itu diperlukan suatu bangunan utama (headworks) seperti bendung,
embung, waduk/bendungan, jaringan irigasi beserta bangunan-bangunan perlengkapannya.
Terkait dengan penyediaan prasarana pengelolaan sumber air yang memadai maka oleh
Balai Wilayah Sungai Bali-Penida akan melaksanakan kegiatan peningkatan jaringan Irigasi
secara berkelajutan yang tersebar di wilayah Provinsi Bali. Untuk menjamin pelaksanaan
kegiatan konstruksi agar sesuai dengan waktu, mutu dan biaya yang ditetapkan serta dapat
memberikan manfaat yang optimal bagi para petani, maka diperlukan adanya kegiatan
pengawasan terhadap kegiatan konstruksi tersebut.
D.2.3. TANGGAPAN TERHADAP MAKSUD DAN TUJUAN PEKERJAAN
Maksud dari pekerjaan ini adalah tersusunnya suatu organisasi pengawasan proyek
dengan beban tugas pengawasan pelaksanaan pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi secara
periodik memberikan masukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi dan Rawa, baik yang
bersifat rutin dan teknis maupun usulan-usulan yang sifatnya menunjang pelaksanaan fisik.
Menurut pemahaman, konsultan menanggapi bahwakegiatan supervisi/pengawasan
dilakukan dengan suatu organisasi pengawasan dengan beban tugas pengawasan konstruksi dan
memberikan masukan secara periodik kepada Pemilik Proyek, baik yang bersifat rutin dan teknis
maupun usulan-usulan yang sifatnya menunjang pelaksanaan konstruksi. Sedangkan tujuan dari
pelaksanaan kegiatan pengawasan adalah untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan sehingga
dicapai hasil kerja yang sesuai dengan Dokumen Kontrak baik dari segi kualitas, kuantitas serta
dapat diselesaikan sesuai dengan waktu dan dengan biaya yang telah ditentukan.

Konsultan pengawas akan melaksanakan tugas-tugas pengawasan konstruksi secara


keseluruhan dan memberikan bantuan teknis maupun non teknis dalam pelaksanaannya, yaitu :

a. Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction) dengan kegiatan meliputi mobilisasi tim


konsultan, evaluasi organisasi pelaksanaan di lapangan dan koordinasi dengan pihak
Pengguna Jasa.

b. Saat Awal Proyek (At-Project Starting) meliputi koordinasi awal dengan pihak Pengguna
Jasa dan kontraktor, pengecekan bersama terkait dengan item-item pekerjaan dan jadwal
pelaksanaan konstruksi, sistem kerja dll.

c. Pelaksanaan Proyek (Project Construction) dengan kegiatan meliputi (1)


Pengendalian/kontrol pemakaian mutu bahan/material dan pengujian bahan/material yang
digunakan, (2) Pengawasan/pengendalian teknis pelaksanaan pekerjaan, (3) Pengendalian
dan pengecekan volume pekerjaan dan pembayarannya, (4) Melakukan kontrol terhadap
kualitas hasil pekerjaan, (5) Monitoring dan pelaporan pelaksanaan pekerjaan, (6)
Pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan dan dokumentasi.

d. Saat Proyek Selesai (Project Completion) dengan kegiatan meliputi masa pemeliharaan,
pemeriksaan bersama, serah terima pekerjaan, pembayaran akhir dan evaluasi dan penilaian
pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.
Hal ini sesuai dengan tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk mengendalikan pelaksanaan
pekerjaan sehingga dicapai hasil kerja yang sesuai dengan dokumen kontrak baik dari segi
kualitas, kuantitas serta dapat diselesaikan dengan waktu dan biaya yang telah ditentukan.

D.2.4. TANGGAPAN TERHADAP SASARAN PEKERJAAN


Sasaran pekerjaan ini meliputi :
Upaya pengendalian pelaksanaan konstruksi pembangunan jaringan irigasi agar tepat
waktu, mutu, dan biaya yang sesuai dengan Dokumen Kontrak.
Agar prasarana dan sarana irigasi nantinya dapat berfungsi secara optimal untuk
mengatasi permassalahan penyediaan air bersih di Kabupaten Badung.
Konsultan menanggapi bahwa untuk menjamin agar pelaksanaan konstruksi tersebut
dapat terlaksana dengan baik maka harus melibatkan organisasi pengawasan untuk
mengendalikan pelaksanaan konstruksinya. Konsultan pengawas akan melaksanakan tugas-tugas
pengawasan konstruksi secara keseluruhan dan memberikan bantuan teknis maupun non teknis
yang sifatnya menunjang pelaksanaan konstruksi. Pemahaman konsultan terhadap sasaran yang
ingin dicapai dari kegiatan pengawasan adalah (1) Upaya pengendalian pelaksanaan
pembangunan agar tepat waktu, mutu, dan biaya yang sesuai dengan Dokumen Kontrak, (2)
Agar sarana dan prasarana yang terbangun nantinya dapat berfungsi secara optimal dan
memberikan manfaat bagi masyarakat.

D.2.5. TANGGAPAN TERHADAP LINGKUP PEKERJAAN


Konsultan menyadari bahwa keberhasilan pelaksanaan pekerjaan Supervisi dan
Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabananini akan tercapai jika memahami dengan
seksama terhadap apa yang dimaksud di dalam Kerangka Acuan Kerja. Dengan demikian
keseluruhan lingkup pekerjaan yang masuk didalamnya bisa terlaksana sepenuhnya dengan baik,
dan sasaran dari pekerjaan yang diharapkan bisa tercapai dengan tepat waktu. Konsultan cukup
memahami apa yang disajikan dalam KAK, maupun penjelasan-penjelasan yang disampaikan
dalam rapat penjelasan yang telah dilakukan.
Jenis-jenis kegiatan yang harus dilaksanakan dalam studi ini telah dijabarkan secara rinci
dalam KAK. Setelah mempelajari, maka Konsultan menanggapi bahwa sebenarnya item
pekerjaan yang tercantum dalam KAK cukup banyak dan cukup luas, sehingga dalam
pelaksanaan pekerjaan nantinya konsultan akan lebih cermat dalam menentukan metode
pelaksanaan agar semua item kegiatan yang harus terlaksana tidak ada yang terlewatkan atau
item pekerjaan yang tumpang tindih. Dengan demikian keluaran yang diharapkan dari
pelaksanaan studi ini dapat tercapai sesuai dengan alokasi waktu, biaya dan mutu pekerjaan.

D.2.6. TANGGAPAN TERHADAP WAKTU


Dalam Kerangka Acuan Kerja telah ditetapkan bahwa jangka waktu pelaksanaan
pekerjaan Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan ini adalah 7 (tujuh)
bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari kalender memang terlihat cukup pendek apalagi melihat
volume pekerjaan yang meliputi kajian semua aspek baik teknis, lingkungan dan ekonomi. Akan
tetapi dengan pengalaman konsultan dengan dalam penanganan dan dukungan Tenaga Ahli yang
cukup berpengalaman dalam bidangnya, maka konsultan dalam hal ini akan menerapkan strategi
penanganan pekerjaan secara terperogram dan terkoordinasi.
Untuk mengantisipasi padatnya kegiatan yang harus dilakukan oleh konsultan, maka
dalam penyusunan Bagan Alir dan Jadwal Pelaksanaan, Jadwal Personil dan Jadwal Penggunaan
Alat harus sangat hati-hati dan harus konsekuen dengan Jadwal masing-masing, agar tidak
terdapat kegiatan yang mundur. Apabila ada kegiatan yang mundur maka semua kegiatan yang
telah disusun tidak akan berjalan sesuai dengan kehendak.
Agar pelaksanaankonstruksi dapat terlaksana dengan tepat waktu, tepat biaya dan tepat
mutu sehingga hasil pembangunan yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat yang optimal,
maka harus dilakukan melalui pengendalian/pengawasan secara bersama-sama antara Pengguna
Jasa, Konsultan dan Masyarakat. Konsultan pengawas akan melaksanakan tugas-tugas
pengawasan konstruksi secara keseluruhan dan memberikan bantuan teknis maupun non teknis
dalam pelaksanaannya, yaitu Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction), Saat Awal
Proyek (At-Project Starting), Pelaksanaan Proyek (Project Construction)danSaat Proyek Selesai
(Project Completion).
Konsultan akan berusaha memanfaatkan sebaik mungkin waktu yang disediakan untuk
menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas seperti yang diharapkan, dengan dukungan dari
berbagai pihak yang terkait dengan pekerjaan ini.
2.2.7 TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP PERSONIL / FASILITAS
PENDUKUNG DARI PPK
Uraian mengenai Tenaga Ahli seperti yang disyaratkan dalam KAK, baik mengenai jenis
keahlian, maupun kualifikasi pendidikan, serta pengalaman personil, menurut Konsultan telah
sesuai dengan lingkup kegiatan yang dituntut dalam studi ini. Dalam hal ini konsultan akan
mengusulkan Tenaga Ahli dengan pendidikan (S1) sesuai bidang keahliannya, bersetifikat
sebagai Tenaga Ahli yang dikeluarkan Asosiasi Keahlian atau Badan/Lembaga yang berwenang
serta memiliki pengalaman sesuai bidang keahlian untuk menangani pekerjaan sejenis.
Pengendalian mutu memegang peranan yang sangat penting karena berkaitan dengan
personil dan cara kerja kontraktor dan konsultan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari
pelaksanaan di lapangan diterapkan sistem kendali mutu yang diterapkan dari awal dengan
penjelasan yang detil mengenai sistem ini pada saat pre-construction meeting. Sistem kendali
mutu ini akan disiapkan oleh konsultan secara sistematis dengan form-form yang telah dibuat
sebelumnya. Form tersebut akan dibahas pada saat awal konstruksi sehingga dapat dievaluasi
dengan baik dan dilakukan perubahan-perubahan seperlunya oleh konsultan apabila ada hal-hal
yang perlu disesuaikan dengan keadaan masing-masing proyek.
Dengan diterapkannya secara khusus sistem ini maka akan semakin mudah untuk
melakukan kontroling dalam bidang mutu dan diharapkan pelaksanaan pekerjaan juga dapat
dilaksanakan dengan lebih cepat dan bermutu.
Melalui Field Team dilakukan standarisasi prosedur, tata cara kerja, pelaporan, dan hal
lainnya yang terlibat dengan pengawasan di lapangan. Standarisasi kami anggap sangat
penting dalam menyamakan presepsi dalam pelaksanaan di lapangan, menghindari perbedaan-
perbedaan antara konsultan dan kontraktor dalam pemahaman Management proyek secara
umum dan secara khusus. Penerapan ini secara langsung dapat mendukung tertib administrasi
dari sejak awal hingga akhir proyek sehingga pada saat PHO segala hal yang menyangkut
administrasi dapat dipenuhi dengan baik dan benar. Standarisasi ini saling mendukung antara
sistem kendali mutu yang diterapkan sehingga dapat menciptakan iklim pelaksanaan yang
kondusif dan persoalan-persoalan rutin yang sering dijumpai dapat diselesaikan dengan cepat.
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan ini, pihak proyek telah menyediakan
fasilitas meliputi:
Pemberian surat pengantar untuk operasional maupun koordinasi dan dukungan dengan
instansi terkait.
Peminjaman referensi yang ada pada proyek.
Pemberian informasi mengenai ketentuan yang berkaitan dengan pekerjaan Kewajiban
Consultan.
Menyediakan tenaga ahli sesuai dengan keperluan studi/pekerjaan
Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan KAK, serta peraturan lain yang akan disepakati
bersama
Menyediakan fasilitas transportasi sesuai keperluan
Menyediakan biaya mobilisasi dan demobilisasi tenaga dari dan ke lokasi pekerjaan.
Konsultan menanggapi bahwa kebutuhan akan fasilitas dan peralatan yang disediakan
oleh pihak pemrakarsa pekerjaan sangat erat hubungannya dengan kelancaran pekerjaan,
sehingga tidak ada kendala peralatan dan fasilitas yang dihadapi oleh pelaksana pekerjaan pada
saat pelaksanaan nantinya.

2.2.8 SARAN TAMBAHAN DARI KONSULTAN


Setelah mempelajari dokumen pelelangan dan mengikuti rapat penjelasan untuk
pekerjaan ini, maka konsultan berkesimpulan bahwa seluruh isi materi yang terkandung di dalam
kerangka acuan kerja secara jelas telah mencakup semua aspek kegiatan untuk mencapai sasaran
proyek dan sepenuhnya dapat dipahami. Dalam hal ini konsultan dengan jelas memahami
sepenuhnya segala ketentuan, persyaratan dan tugas yang dimaksud, sehingga Konsultan
berkesimpulan dapat melaksanakan pekerjaan ini sesuai dengan persyaratan yang dimaksud
dalam kerangka acuan kerja.
Namun demikian, unutuk lebih memperjelas pandangan Konsultan terhadap kerangka
acuan kerja tersebut, maka ada beberapa hal yang perlu disampaikan sebagai tanggapan untuk
memperkaya dan menyempurnakan tata cara pengawasan teknis jalan yaitu :
1. Pada Standar Teknis, menurut konsultan perlu dipertegas lagi mengenai standarisasi teknis
yang dipergunakan sebagai pedoman tata cara prosedur kegiatan.
2. Seluruh tim pengawas lapangan harus mengikuti rapat koordinasi sejak awal hingga akhir
masa pengawasan dengan jadwal yang teratur. Dengan demikian tercipta homogenitas
pengetahuan dan kemampuan tenaga pengawas di seluruh tim, sehingga masing-masing field
team dapat bekerja secara harmonis.
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN

E. PENDEKATAN
METODOLOGI
DAN PROGRAM KERJA

E. 1 UMUM
E.1. 1 Abstraksi

Perkembangan pembangunan di Kabupaten Tabanan, telah memberikan konsekuensi


tersendiri bagi perkembangan sektor-sektor lain di daerah tersebut, dan juga penyediaan
sarana dan prasaran penunjangnya.

Keberhasilan pengembangan potensi wilayah dalam kenyataannya akan diikuti oleh


peningkatan kebutuhan penyediaan baku (air bersih, air irigasi, industri dll). Sementara itu
perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan pengembangan sumber-sumber air
menyebabkan perubahan pada karakter hidrologi yang pada akhirnya akan mengakibatkan
penurunan kapasitas persediaan air di daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu perlu dijaga
suatu kondisi dimana minimal terjadi kesetimbangan air antara kebutuhan dan ketersediaan
air. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, Pemerintah dan DPR-RI telah menerbitkan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pada Pasal 14 UU Nomor
7 tahun 2004 tersebut mengamanatkan Pemerintah berwenang menetapkan Kebijakan
Nasional Sumber Daya Air. Dengan tersusunnya Kebijakan Nasional Sumber Daya Air
diharapkan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air tetap mengarah kepada
keterpaduan yang harmonis, dan kelestarian kemanfaatannya. Kebijakan Nasioanl ini berisi
garis besar prioritas-prioritas pengembangan sumber daya air di masing-masing wilayah di
Indonesia, dan maka menjadi dasar untuk penyusunan kebijakan dan program di daerah
dalam pengelolaan sumber daya airnya secara lebih terinci.

Pengembangan dan pengelolaan sumber air di wilayah Propinsi Bali masih kurang
optimal sehingga masih banyak lahan pertanian yang kekurangan air yang berdampak pada
penurunan produksi pertanian, kesulitan air bersih, semakin luasnya lahan kritis. Disatu sisi

48
masih banyak potensi sumber air (air permukaan, mata air dan air tanah) yang belum
dimanfaatkan secara optimal untuk penyediaan (air irigasi). Upaya pemenuhan kebutuhan
telah memunculkan persoalan dalam kaitannya dengan penyediaan prasarana dan sarana
pengembangan dan pengelolaan sumber air yang memadai. Namun karena ketersediaan air
lambat laun tidak seimbang lagi dengan tingkat kebutuhannya, maka permasalahan ini harus
diupayakan jalan keluarnya. Agar pengelolaan air irigasi bisa menjadi efektif, maka debit
harus diukur dan diatur sedemikian rupa agar sumber air yang ada bisa terjaga kuantitas dan
kontinuitasnya. Untuk itu diperlukan suatu bangunan perlengkapannya. Upaya peningkatan
jaringan irigasi dan pemeliharaannya terus dilakukan untuk tetap menjamin kuantitas dan
kontinuitas penyediaan air irigasi.

Terkait dengan penyediaan prasarana irigasi yang memadai maka oleh Balai Wilayah
Sungai Bali-Penida akan melaksanakan kegiatan Perbaikan dan Peningkatan Jaringan Irigasi
secara berkelajutan yang tersebar di wilayah Provinsi Bali. Untuk menjamin pelaksanaan
kegiatan konstruksi agar sesuai dengan waktu, mutu dan biaya yang ditetapkan serta dapat
memberikan manfaat yang optimal bagi para petani, maka diperlukan adanya kegiatan
pengawasan terhadap kegiatan konstruksi tersebut.

E.1. 2 Nama Pekerjaan


Nama pekerjaan ini adalah Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten
Tabanan

E.1. 3 Lokasi Pekerjaan


Lokasi dari kegiatan Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan ini
berada di Kabupaten Tabanan.
E.1. 4 Apresiasi Dan Inovasi
1) APRESIASI KUALITAS POTENSI SUMBER DAYA AIR (SDA) PROVINSI
BALI

Dari sisi kualitas, potensi SDA di Bali mempunyai beban untuk mendukung
penyediaan air pada kualitas yang setara dengan persyaratan masing-masing sektor, dimana
secara umum kelompok domestik mempunyai kriteria kualitas yang paling peka (kualifikasi
A dan B) selanjutnya sektor pertanian (kualifikasi C) dan industri (kualifikasi C dan D,
kecuali industri makanan dan minuman).
Kondisi kualitas sumber-sumber air yang ada di Bali memang telah banyak mendapat
penyelidikan laboratorium melalui berbagai studi yang dilaksanakan baik oleh Dinas
Pekerjaan Umum maupun instansi lainnya. Beberapa yang dapat dikutip sebagai gambaran
umum atas kualitas air baku tersebut ditampilkan pada Tabel berikut.

Tabel E.1 Kualitas Air pada Sub-Sub SWS di Provinsi Bali


No Sub SWS

1 03.01.01

2 03.01.02

3 03.01.03

4 03.01.04

6 03.01.06
No Sub SWS

7 03.01.07
11 03.01.11

15 03.01.15

16 03.01.16
17 03.01.17

18 03.01.18
20 03.01.20
Sumber : Proyek Pengembangan dan Konservasi Sumberdaya Air Provinsi Bali, 2004

Dari Tabel di atas dapat diketahui bahwa kualitas air dari sumber-sumber air yang ada
di Provinsi Bali pada umumnya masih termasuk kategori baik. Hampir keseluruhan sumber-
sumber mata air yang ada menunjukkan kualifikasi A sehingga dapat dikonsumsi untuk
kebutuhan rumah tangga (domestik). Setelah menjadi aliran permukaan, sebagian besar air
sungai mulai mengalami pencemaran, terutama yang disebabkan oleh faktor-faktor erosi
kawasan, pestisida pertanian, maupun drainase rumahtangga. Pada jenis kualitas air seperti
ini, dalam batas-batas tertentu masih dapat dimanfaatkan kembali oleh sektor pertanian tanpa
memerlukan teknologi perlakuan khusus. Namun beberapa air permukaan yang terdapat di
bagian hilir kota, terutama kota Denpasar dan Singaraja, telah menunjukkan kondisi yang
buruk sebagai akibat fungsi sungai sebagai saluran drainase utama yang menggelontor
berbagai limbah industri yang mengandung bahan-bahan logam berat (BOD, COD).

2) APRESIASI LOKASI PEKERJAAN

1. Wilayah Administrasi
Kabupaten Tabanan terletak di bagian selatan pulau Bali yang secara geografis
berada pada posisi 8 14 30- 8 30 07 Lintang Selatan, 114 54 52 - 115 12
57 Bujur Timur. Wilayah ini cukup strategis karena berdekatan dengan ibukota
Propinsi Bali yang berjarak 25 Km dengan waktu tempuh 45 menit dan dilalui oleh
jalur arteri yaitu jalur antar propinsi.
Batas-batas wilayah Kabupaten Tabanan secara lengkap adalah :

Utara : Kabupaten Buleleng


Timur : Kabupaten Badung
Barat : Kabupaten Jembrana
Selatan : Samudera Indonesia
2
Luas Kabupaten Tabanan sebesar 839.33 Km atau 14,90 persen dari luas Propinsi
Bali. Berdasarkan besarnya wilayah, maka Kabupaten Tabanan termasuk Kabupaten
terbesar kedua di Propinsi Bali setelah Kabupaten Buleleng.

Tabel E.2 Luas Wilayah Kabupaten Tabanan Per Kecamatan

No Kecamatan

1 Selemadeg
2 Kerambitan
3 Tabanan
4 Kediri
5 Marga
6 Baturiti
7 Penebel
8 Pupuan
9 Selemd. Barat
10 Selemd. Timur
Sumber: Kabupaten Tabanan dalam Angka, 2010
Gambar E.1 Peta Kabupaten Tabanan

2. Kondisi Fisik Daerah


a. Topografi dan Morfologi
Kabupaten Tabanan terletak pada ketinggian 0 - 2.276 m di atas permukaan
laut (dpl), di mana lahan tertinggi di puncak Gunung Batukaru. Topografi wilayah
Kabupaten Tabanan memiliki tiga karakteristik yang berbeda. Bagian selatan
berbatasan dengan Samudera Indonesia merupakan dataran rendah dengan topografi
yang relatif datar, di bagian tengah bergelombang, dan di bagian utara merupakan
daerah perbukitan dan pegunungan di mana terdapat beberapa gunung yaitu Gunung
Batukaru (2.276 m), Gunung Sangiyang (2.097 m), Gunung Pohen (2.055 m) dan
Gunung Adeng (1.811 m).
Tabel E.3 Luas Wilayah dan Ketinggian Tiap Kecamatan di Kabupaten Tabanan
Tahun 2007
No. Kecamatan

1. Selemadeg
2. Kerambitan
3. Tabanan
4. Kediri
5. Marga
6. Baturiti
7. Penebel
8. Pupuan
9. Selemadeg
Barat
10. Selemadeg
Timur
Kabupaten
Tabanan
Sumber: Tabanan dalam Angka, 2008
11500 '
11510 ' 11520 '

D . Be r at a n
$
G. P o h e n > 1000 m
(20 5 5 m)
$ Luas : 76,17 km sq (9,08%)
G. S a n g iya n
g
$
G. A d e n g
(20 9 7 m)
(1 8 1 1 m)

8 20'
G. B a t u ka ru KEC . BATURIT
(2 2 7 6 m) I

500 - 1 000 m
8 20'

K EC . P U P UA N

Luas : 265,29 k m sq (31,61%)

KEC . PENEBEL

KEC . SELEMADE G B ARAT


8 30'
8 30'

100 - 5 00 m
Luas : 373,58 k m sq (44,81%)

25 - 10 0 m
Luas : 107,90 k m sq (12,86%)

N
0 - 25 m
W E
Luas : 16,39 km sq (1,95%)
S

5 0 5

Kilomet er
11510 ' 11520 '

11500 '

Gambar E.2 Peta Topografi Kabupaten Tabanan


Ditinjau dari kemiringan lahan, sebagian besar lahan Kabupaten Tabanan
2
berada pada kemiringan lereng 15 - 40% yaitu luasnya 365,67 km (43,57%), tersebar
luas terutama di wilayah bagian barat. Lahan dengan kemiringan lereng 2 - 15%
2
dengan luas 249,61 km (29,74%) tersebar luas terutama di wilayah bagian timur.
2
Lahan dengan kemiringan di atas 40% seluas 136,53 km (16,27%) terdapat di daerah
pegunungan bagian utara dan sebagian di sisi barat perbatasan dengan Kabupaten
2
Jembrana. Sedangkan lahan dengan kemiringan 0 - 2% seluas 10,43 km (10,43%)
mendominasi daerah pantai.
Sebagai salah satu syarat untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan, maka
lahan dengan kemiringan di bawah 40% pada umumnya dapat diusahakan asalkan
persyaratan lain untuk penentuan kesesuaian lahan terpenuhi. Sedangkan lahan
dengan kemiringan di atas 40% perlu mendapatkan perhatian bila akan difungsikan
sebagai usaha budidaya.

b. Geologi dan Jenis Tanah


Wilayah permukaan Kabupaten Tabanan tersusun oleh formasi geologi
yangberagam. Batuan tua yang ditemukan adalah batuan hasil muntahan Gunung Api
Membrana seperti Gunung Klatakan, Gunung Merbuk dan Gunung Patas yang terdiri
dari lava, breksi dan tufa. Batuan ini menyelimuti daerah sekitar Kaliukir, Munduk
Tiinggading hingga Suraberata. Juga ditemui di dekat Desa Kerambitan. Batuan ini
terbentuk pada era kuarter bawah sekitar 6 juta tahun lalu. Batuan yang lebih muda
adalah tufa dan endapan lahar Buyan-Bratan dan Batur yang terbentuk pada era
kuarter. Batuan ini menutupi sekitar setengah Kabupaten Tabanan, terutama daerah
bagian selatan. Sementara pada daerah pegunungan terdapat dua formasi batuan yaitu
batuan hasil ekstrusi Gunung Batukaru dan batuan gunung api dari kerucut-kerucut
sebresen Gunung Pohen, Gunung Sangiyang dan Gunung Lesong.
Jenis-jenis batuan menurut luasnya di wilayah Kabupaten Tabanan adalah
sebagai berikut :
2
a. Batuan Gunung Berapi Batukaru, luasnya 120,79 km / (14,39%).
2
b. Tufa endapan lahar Buyan, Beratan dan Batur, luasnya 453,57 km / (54,04%).
2
c. Batuan Gunung Pohen dan Gunung Sangiyang, luasnya 136,50 km / (16,26%).
d. Batuan Gunung Api Jembrana, Breksi, Tufa dari Gunung Klatakan dan Batuan
2
tergabung, luasnya 118,42 km / (14,11%).
2
e. Endapan Alluvial pada Danau Beratan, luasnya 0,38 km / (0,05%). Formasi
2
Palasari, luasnya 9,67 km / (1,15%).
11500 '
11510 ' 11520 '

$ D . Be r at a n
G. P o h e
n Ba tuan G. Pohen,
(20 5 5 m)
G. Sangiyan g, & G. Les ung
$ $
G. S a n g iya n g G. A d e n
g
Luas : 136,50 k m sq (16,26%)
(20 9 7 m)
(1 8 1 1 m)

8 20'
G. B a t u ka ru KEC. BATURI
(2 2 7 6 m) TI
8 20'

KEC. PUPUAN

Bat uan gunungapi G. Batukaru


KEC. PENEBEL Luas : 120,79 km sq (14,39%)

Bat uan g.a Jembrana, Breksi,


Tuf a dari G. K latakan &
Bat uan Tergabung
KEC. SELEMADEG BARAT
Luas : 118,42 km sq (14,11%)

8 30'
8 30'

Tuf a Endapan Lahar Buyan,


Formasi P alasari Ber atan & Batur
Luas : 9,67 km sq (1,15%) Luas : 453,57 km sq (54,04%)

W E

5 0 5

Kilomet er
11510 ' 11520 '

11500 '

Gambar E.3 Peta Geologi Kabupaten Tabanan


(Sumber: Purbo-Hadiwidjojo, 1971) 11510 ' 11520 '

11500 '

$ D . Be r at a n Re gosol
G. P o h e n
(20 5 5 m)
$ $
G. S a n g iya n g G. A d e n g
(20 9 7 m) (1 8 1 1 m)

$
Andosol

8 20'
G. B a t u ka ru
(2 2 7 6 m) KEC . B AT U R IT I
8 20'

KEC . P U PU A N

KEC . P EN E BE L

Latosol

KEC . S ELE M AD E G B AR A T
8 30'

8 30'

Alluvial

W E

5 0 5

Kilomet er
11510 ' 11520 '

11500 '

Gambar E.4. Peta Jenis Tanah di Wilayah Kabupaten Tabanan


(Sumber : Bappeda Provinsi Bali, 2004)

Jenis tanah secara umum yang terdapat di Kabupaten Tabanan berdasarkan


Uraian Tanah Tinjau (Bappeda Provinsi Bali, 2007) terdiri dari tanah alluvial, regosol,
andosol dan latosol. Tanah alluvial berasal dari bahan induk endapan laut dan
endapan sungai dengan fisiografi daratan pantai dan bentuk wilayah datar terdapat di
daerah pantai Kecamatan Selemadeg Barat dan Selemadeg. Tanah jenis regosol
berasal dari bahan induk abu vulkan dengan fisiografi vulkan, lembah dan kerucut
vulkan dan bentuk wilayah melandai sampai bergunung, terdapat di Kecamatan
Selemadeg, Pupuan, Penebel dan Baturiti. Tanah jenis andosol berasal dari bahan
induk abu dan tufa vulkan dengan fisiografi lungur vulkan kerucut dan lungur dan
bentuk wilayah berbukit sampai bergunung, terdapat di Kecamatan Pupuan, Penebel
dan Baturiti. Sedangkan jenis tanah latosol yang merupakan sebagian besar dari jenis
tanah di Kabupaten Tabanan tersebar di seluruh kecamatan.

c. Hidrogeologi
Kabupaten Tabanan mempunyai karakteristik hidrologi yang beragam
sehingga secara relatif memiliki sumber daya air yang kaya dibandingkan wilayah
lainnya di Bali. Karakteristik hidrologi tersebut meliputi sungai, danau, mata air dan
air tanah. Secara umum jenis sumber mata air dapat dikatagorikan sebagai air
permukaan dan air tanah.

Air permukaan dapat berasal dari : (1) air hujan yang mengalir di permukaan
bumi dan berkumpul pada suatu tempat yang relatif rendah, seperti sungai, danau, laut
dan sebagainya; (2) air tanah yang mengalir keluar permukaan bumi, misalnya air dari
mata air yang mengalir ke permukaan bumi; dan (3) air buangan bekas aktivitas
manusia. Sedangkan air tanah adalah air permukaan yang meresap ke dalam tanah dan
bergabung membentuk lapisan air tanah yang disebut aquifer. Jenis-jenis air tanah
adalah (1) air tanah dangkal, yaitu bila air hujan/air permukaan hanya meresap sampai
muka air tanah yang berada di atas lapisan rapat air, umumnya mempunyai kedalaman
kurang dari 50 m; (2) air tanah dalam, yaitu air tanah yang terletak di antara dua
lapisan kedap air, letaknya biasanya cukup jauh dari permukaan tanah; dan (3) mata
air, yaitu air di dalam tanah mengalir pada lapisan tanah berpasir atau berkerikil, atau
mengalir melalui celah pada lapisan kedap air. Tempat keluarnya air di permukaan
tanah ini disebut mata air.
1) Sungai
Di wilayah Kabupaten Tabanan terdapat beberapa sungai yang memiliki aliran
sepanjang tahun. Beberapa sungai tersebut memiliki daerah pengaliran sungai yang
cukup luas dan membentuk suatu daerah aliran sungai (DAS), yaitu:

2
Daerah aliran sungai Tukad Yeh Empas luasnya 100,82 km . Daerah aliran sungai
ini sepenuhnya berada di Kabupaten Tabanan dan bermuara di perbatasan Desa
Sudimara dan Pangkung Tibah.
2
Daerah Aliran Tukad Yeh Ho luasnya 135,76 km . Semua daerah aliran sungai ini
terletak di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di perbatasan Kecamatan
Selemadeg Timur dan Kerambitan.
2
Daerah aliran sungai Tukad Balian luasnya 152,9 km . Semua daerah aliran
sungai terletak di Kabupaten Tabanan. Muara sungai ini berada di Suraberata,
Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat.
Sungai-sungai besar lainnya yang bermuara di wilayah Kabupaten Tabanan
yaitu Tukad Yeh Sungi (panjang 40,5 km) bermuara di Desa Beraban (Kecamatan
Kediri), Tukad Yeh Abe (panjang 9,3 km) bermuara di perbatasan Kabupaten
Tabanan dan Tabanan.Tukad Yeh Matan (panjang 13,5 km) bermuara di perbatasan
Desa Berembeng dan Tegalmengkeb, dan Tukad Yeh Otan (panjang 24,0 km)
bermuara di Desa Antap.
Dari sekian sungai yang ada di Kabupaten Tabanan baru tiga sungai yang telah
diinventarisasi memiliki potensi untuk dikembangkan melalui program penyadapan
sungai yaitu Tukad Balian, Tukad Yeh Empas dan Tukad Sungi. Tukad Balian
mempunyai debit aliran andal sebesar 380 lt/detik, Tukad Yeh Empas 200 lt/detik dan
Tukad Sungi 430 lt/detik sehingga total hasil penyadapan air sungai dari tiga sungai
3
tersebut adalah 1.010 lt/detik atau 31,85 juta m /tahun (Rencana Induk Penyediaan
Air Bersih Bali, 2000).
Berdasarkan data curah hujan bulanan yang tercatat melalui alat pengukur
curah hujan yaitu penakar hujan dan pencatat hujan di seluruh stasiun yang ada di
Kabupaten Tabanan (Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III) dilakukan
simulasi dan diperoleh curah hujan dalam bentuk Isohyet bulanan selama tahun 2004.
Berdasarkan catchment area (CA) masing-masing sub SWS, maka dapat dihitung
potensi air permukaan di Kabupaten Tabanan sebagaimana disajikan pada Tabel 3.4.
Total ketersediaan air permukaan yang masuk ke dalam sistem sungai di
3
Kabupaten Tabanan mencapai 2.400.501 juta m /tahun.

Gambar E.5 Kondisi Sungai di Kabupaten Tabanan

Tabel E.4 Ketersediaan Air Permukaan Per sub Satuan Wilayah Sungai
Kabupaten Tabanan Tahun 2005

Bulan

Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
Jumlah
2) Danau
Kabupaten Tabanan memiliki sebuah danau dari empat buah danau yang ada
di Provinsi Bali, yaitu Danau Beratan. Danau Beratan terletak di kawasan Bedugul
2
pada ketinggian sekitar 200 m dpl, memiliki luas permukaan air 3,85 km dan luas
2
daerah tangkapan air 13,4 km . Danau ini memiliki kedalaman rata-rata 12,8 m dan
3
kedalaman maksimum 20 m, dengan volume airnya 49,22 juta m .

Gambar E.6 Kondisi Danau Beratan di kawasan Bedugul di Kabupaten Tabanan

3) Waduk
Kabupaten Tabanan memiliki sebuah waduk yang baru saja dibangun pada
tahun 2008 yaitu Waduk Telaga Tunjung. Waduk Telaga Tunjung terletak di
Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan dengan luas daerah tangkapan waduk
2 3
81,50 km , volume tampungan efektif 1.159.640 m , dan luas genangan waduk 16,50
2
km . Waduk ini dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan air irigasi di Kecamatan
Kerambitan dan sekitarnya serta sebagai sumber air bersih.
4) Mata Air dan Sumur Gali

Berdasarkan data dari laporan Rencana Induk Penyediaan Air Bersih Bali
(2000), sumber mata air yang terdapat di Kabupaten Tabanan adalah 118 buah dan
yang telah dimanfaatkan airnya oleh masyarakat berjumlah 82 titik mata air, dengan
3 3
debit 3,26 m /dt atau 102,81 juta m /tahun. Sedangkan jumlah sumur gali sebanyak 22
3
buah dengan debit 14,3 lt/detik atau 450.965 m /tahun.

5) Potensi Air Tanah


Potensi air tanah sangat tergantung dari formasi batuan dan struktur geologi
yang ada di bawah permukaan tanah. Formasi batuan dan struktur geologi akan
mempengaruhi aquifer yang ada di bawah permukaan tanah. Sebagian besar wilayah
Kabupaten Tabanan struktur hidrologinya tergolong memiliki aquifer tidak produktif,
yaitu debit kurang dari 2 lt/detik sehingga tidak memungkinkan dikembangkan
sebagai sumber air bersih. Daerah yang hidrologinya sebagai aquifer produktif tinggi
dengan debit lebih dari 10 lt/detik, penyebarannya di Kecamatan Selemadeg Timur,
Kerambitan, Tabanan dan Kediri. Di wilayah pesisir potensi air tanah secara kualitas
tidak sesuai untuk kebutuhan air bersih.

E.1. 5 Maksud , Tujuan dan Sasaran


a. Maksud Pekerjaan :
Maksud dari pekerjaan ini adalah tersusunnya suatu organisasi pengawasan proyek
dengan beban tugas pengawasan pelaksanaan pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi
secara periodik memberikan masukan kepada Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi dan
Rawa, baik yang bersifat rutin dan teknis maupun usulan-usulan yang sifatnya
menunjang pelaksanaan fisik.

b. Tujuan Pekerjaan :
Tujuan pelaksanaan pekerjaan adalah untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan
sehingga dicapai hasil kerja yang sesuai dengan Dokumen Kontrak baik dari segi
kualitas, kuantitas serta dapat diselesaikan dalam waktu dan dengan biaya yang telah
ditentukan.
c. Sasaran :
Sasaran yang ingin dicapai dari pelaksanaan kegiatan supervisi ini adalah :
Upaya pengendalian pelaksanaan konstruksi pembangunan jaringan irigasi agar
tepat waktu, mutu, dan biaya yang sesuai dengan Dokumen Kontrak.
Agar prasarana dan sarana irigasi nantinya dapat berfungsi secara optimal untuk
mengatasi permasalahan penyediaan air bersih di Kabupaten Badung.

E.1. 6 Waktu Pelaksanaan Pekerjaan

Untuk pelaksanaan pekerjaan Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten


Tabanan disediakan waktu tidak lebih dari 7 (tujuh) bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari
termasuk mobilisasi terhitung setelah ditetapkan Surat Perintah Mulai Kerja oleh Kepala
Satuan Kerja.
E.1. 7 Nama Dan Organisasi Pengguna Jasa

Pemrakarsa dari pekerjaan ini adalah Kementerian Pekerjaan Umum Balai Wilayah
Sungai Bali-Penida.

E.1. 8 Keluaran

Tersedianya dokumen Laporan Hasil Pengawasan Pelaksanaan pekerjaan fisik


Perbaikan dan Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan, mulai dari Laporan
Pendahuluan sampai Laporan Akhir lengkap dengan laporan kemajuan pekerjaan/bulanan,
laporan pengawasan mutu dan laporan pengawasan konstruksi.

E. 2 PENDEKATAN UMUM PEKERJAAN


E.2. 1 Pendekatan Perundangan
Referensi hukum yang mendasari penyusunan perencanaan detail ini adalah :

a. Undang-Undang No.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air


b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber daya Air
c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesi Nomor : 20 Tahun 2006 tentang Irigasi
d. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor : 12 Tahun 2008 tentang Dewan
sumber Daya Air.
e. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 2/PRT/M/2008 tentang Pedoman
Pelaksanaan Kegiatan Departemen Pekerjaan Umum Yang Merupakan
Kewenangan Pemerintah Dan Dilaksanakan Sendiri
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 2/PRT/M/2010 tantang Rencana
Strategis Nasional Kementrian Pekerjaan Umum Tahun 2010-2014
g. keputusan Mentri Pekerjaan Umum Nomor : 390/KPTS/M/2007 tentang
Penetapan Status Daerah Irigasi Yang Pengelolaannya Menjadi Wewenang dan
Tanggung Jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah
Kabupaten/Kota
h. Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor : 1/PRT/M/2008 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum
i. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 11/PRT/M/2008 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Sumber Daya Air
j. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 12/PRT/M/2006 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai
k. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 13/PRT/M/2006 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Balai Wilayah Sungai
l. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 26/PRT/M/2006 tentang Perubahan
atas Permen Nomor : 12/PRT/M/2006 dan Nomor : 13/PRT/M 2006
m. Peraturan Menteri Keungan Nomor : 94/PMK.02/2013 tentang Petunjuk
Penyusuanan dan Penelahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara /
Lembaga
n. Instruksi Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/IN/M/2013 tentang Penyusuanan
dan Penelitian Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara / Lembaga
(RKA-KL) di Kementerian Pekerjaan Umum

E.2. 2 Pendekatan Operasional


Konsultan diharapkan mampu memberikan jasa-jasa teknis secara efesien dan efektif
dalam pelaksanaan pekerjaan pengawasan ini, dan beberapa langkah yang dilakukan
meliputi :
Organisasi dan Staffing yaitu konsultan wajib mengajukan tim yang merupakan
tenaga ahli yang berkualitas sesuai spesialisasi yang diperlukan.
Modulus Kerja yaitu semua pekerjaan pengawasan akan ditangani oleh konsultan
dan secara proaktif melakukan konsultasi dan koordinasi dengan direksi pekerjaan
dan instansi terkait untuk memberikan hasil yang maksimal.
Sistem Komunikasi yaitu Team Leader bertanggung jawab terhadap aktivitas
pengawasan dan hasil pekerjaan secara keseluruhan serta dalam melaksanakan
tugas tetap mengacu pada standar kerja jasa konsultasi.

E.2. 3 Pendekatan Teknis

Dalam pendekatan teknis ini beberapa langkah yang harus dilakukan oleh
konsultan supervisi yaitu :

1. Standar yang Digunakan


Dalam pengawasan pekerjaan dan pengujian material yang digunakan untuk semua jenis
pekerjaan mengacu pada standar antara lain Standar ASTM, Peraturan Beton Bertulang
Indonesia (PBBI 1971).
2. Sistem Manajemen Proyek
Konsultan harus melaksanakan suatu sistem manajemen proyek yang diperlukan dalam
rangka pelaksanaan proyek yang meliputi pengendalian jadwal, kualitas dan biaya
pelaksanaan konstruksi.
3. Engineering Desain Selama Masa Konstruksi
Dalam pelaksanaan kegiatannya konsultan konsultan melakukan perubahan atau
pembuatan desain apabila terjadi perubahan desain sesuai dengan kondisi lapangan
setelah melalui suatu kajian teknis, memberikan persetujuan terhadap gambar konstruksi
(Shop Drawing) yang diajukan kontraktor.
4. Inspeksi dan Pengujian Selama Pabrikasi dan Instalasi
Konsultan melakukan monitoring pelaksanaan pabrikasi, pengujian dan pengiriman
barang untuk menjamin tepat waktu melalui inspeksi secara periodic, melakukan kajian
dan persetujuan atas prosudur pengujian yang dibuat kontraktor.
5. Supervisi Konstruksi
Konsultan dalam melaksanakan pengawasan konstruksi dilakukan melalui kegiatan
sebagai berikut :
Pengawasan pengujian material yang akan digunakan di lokasi pekerjaan
Pengawasan terhadap mutu pekerjaan
Melakukan kontrol terhadap kemajuan pelaksanaan pekerjaan.
Melakukan kontrol terhadap kualitas pekerjaan
Pengawasan keamanan dan keselamatan kerja
Melakukan pengecekan dan memberikan persetujuan terhadap Gambar Kerja (Shop
Drawing), Sertifikat dan As-Built Drawing.
Inspeksi dan pekerjaan commissioning.
E. 3 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN
E.3.1 Umum

Dengan didasari atas konsistensi pemahaman dan penyampaian tanggapan Kerangka


Acuan Kerja, selanjutnya konsultan membuat usulan inovasi terhadap penyempurnaan dari
KAK serta menyusun pendekatan dan metode pelaksanaan yang sesuai. Untuk mendapatkan
hasil pekerjaan yang sesuai dengan harapan dan untuk kelancaran serta terkoordinasinya
pelaksanaan pekerjaan, maka kegiatan yang paling pokok adalah dengan pendekatan
operasional, pendekatan teknis dan penyusunan metodologi pelaksanaan pekerjaan. Uraian
teknis pelaksanaan pekerjaan ini menyangkut urutan dan jenis kegiatan yang akan
dilaksanakan.

Pendekatan teknis merupakan merupakan pendekatan yang berkaitan dengan


pelaksanaan pekerjaan. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka harus
disusun Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan. Dimana bagan ini berisikan tahapan-tahapan
pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga dalam penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan
harus perpatokan pada Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan tersebut.

Untuk pelaksanaan Pekerjaan akan melibatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu
yang berkaitan dengan proyek dan sesuai dengan ketetapan personil pada Kerangka Acuan
Kerja. Untuk memperlancar tugas, pelaksanaan pekerjaan akan didukung oleh fasilitas
penunjang berupa peralatan yang memadai dan sistem kerja yang seefisien mungkin.

E.3.2 Lingkup Pekerjaan Secara Umum

Lingkup pekerjaan yang harus dilakukan oleh Konsultan secara umum diuraikan sebagai
berikut:

A. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap aspek lokasi dan kedudukan bangunan/


saluran sesuai dengan rencana.
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kebenaran kontraktor dalam
menempatkan lokasi bangunan dan saluran.
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kebenaran kontraktor dalam
menempatkan kedudukan / skop pekerjaan sesuai rencana.
Menginventarisasi persoalan-persoalan lokasi dan kedudukan bangunan/ saluran
yang terjadi, serta mencarikan solusi pemecahan.

B. Pemeriksaan dan pengawasan disain dan volume


Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap ketepatan dimensi-dimensi
disain pembangunan yang dilakukan kontraktor.
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap ketepatan volume
pembangunan yang dilakukan kontraktor.
Menginventarisasi persoalan-persoalan disain dan volume bangunan dan saluran
yang terjadi serta mengkaji dan mencarikan solusi pemecahannya .

C. Pemeriksaan dan pengawasan kualitas dan spesifikasi material


Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap jenis dan spesifikasi material.
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kualitas material yang
datang/dipakai kontraktor serta monolak material yang tidak sesuai spesifikasi

D. Membuat berita acara dan pelaporan atas seluruh kegiatan pemeriksaan dan
pengawasan yang dilakukan

E. 4 TAHAPAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN

E.4.1 Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Secara Umum


Pelaksanaan proyek dapat dibagi dalam beberapa tahapan :

1. Tahap I : Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction)


Penentuan dan penetapan anggota tim konsultan di lapangan
Mempelajari dokumen kontrak
Penetapan organisasi proyek
Pengadaan material pendahuluan/peralatan pendukung
Koordinasi dengan pihak-pihak berwenang (direksi pekerjaan dan instansi terkait)

Sosialisasi kepada instansi terkait dan Dinas Pekerjaan Umum mengenai


pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan. Sosialisasi ini meliputi lingkup, metode
dan dampak yang akan timbul dilapangan akibat pelaksanaan pekerjaan

2. Tahap II : Saat Awal Proyek (At Project Starting)


Rapat dengan pihak kontraktor mengenai organisasi proyek, dokumen kontrak,
program kerja, sub kontraktor (apabila ada), material dan pengaturan lain yang
diperlukan.
Pengecekan bersama sebelum pekerjaan dimulai.
Penetapan item-item pekerjaan.
Rapat periodik yang terdiri dari rapat mingguan (weekly meeting) dan atau rapat
koordinasi bulanan (monthly meting) sesuai kesepakatan dalam pre bid meeting.
Pengecekan peralatan keselamatan kerja (safety life) di lapangan.
Pengaturan khusus antara lain alur koordinasi lapangan dan pengamanan terhadap
sistem kerja.

3. Tahap III : Pelaksanaan Proyek (Project Construction)


Pengaturan pengecekan yang dibuat kontraktor untuk tahap sebelumnya
didalamnya terdapat revisi schedule.
Pengujian material dan spesifikasi bahan yang digunakan di lapangan.
Pengendalian kualitas untuk pelaksanaan pekerjaan utama
Pekerjaan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan
Kemungkinan perubahan desain selama masa pelaksanaan
Kaji ulang desain rinci (review of detailed design) dan persetujuan gambar kerja
(shop drawing)
Pengukuran tahap pelaksanaan pekerjaan dan pembayarannyMonitoring dan pelaporan
pelaksanaan pekerjaan
Pelaksanaan pekerjaan yang sistematis dan praktis sehingga mudah diterima
Pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan
Dokumentasi dan lain-lain

4. Tahap IV : Saat Project Selesai (Project Completion)


Masa pemeliharaan (Maintenance Period)
Melakukan pengecekan bersama volume pekerjaan total (final quatity) yang menjadi
dasar kontraktor melakukan klaim akhir pembayaran
Pemeriksaan bersama setelah pekerjaan selesai (final request for joint inspection)
dengan kontraktor, direksi dan konsultan
Serah terima pekerjaan yang telah selesai
Commisioning pekerjaan yang telah selesai
Pembayaran akhir dan pengembalian uang jaminan
Evaluasi dan cara penilaian pekerjaan yang telah dilaksanakan
Penyusunan laporan penyelesain akhir proyek (Project Completion Report)

E.4.2 Metodologi Pelaksanaan Pekerjaan


Metode pelaksanaan diuraikan sebagai dasar dan tata cara pelaksanaan pekerjaan,
sehingga dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesalahan dan seluruh kegiatan dapat
dikoordinir dan dipantau dengan mudah. Dalam metode pelaksanaan ini seluruh kegiatan
dapat diringkas sebagai berikut :

Berdasarkan rencana Aktifitas seperti pada Gambar E.7, maka konsultan akan
merinci pelaksanaan pengawasan berdasarkan tahapan pekerjaan karena suatu kegiatan
mempunyai ketergantungan kepada kegiatan lainnya.
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN TABANAN

Koordinasi proyek

Survey, verifikasi data, Inspeksi lapangan


pengendalian kerja
Memeriksa dan menyetujui
metode dan jadwal pelaksanaan
konstruksi kontraktor Memeriksa staking out/ Pengujian laboratorium Pemeriksaan penyerahan
pengukuran
pekerjaan
Kelengakapan kontraktor

Tinjauan dokumen lelang Rekomendasi usulan pelaksanaan Memeriksa dan menyetujui Record kondisi cuaca
dan collecting data daftar peralatan, fasilitas camp,
lokasi Memeriksa dan Laporan Akhir
AMP, stokyard menyetujui metode
konstruksi Memeriksa dan menyetujui As
builit drawing yang dibuat
pengukuran kuantitas kontraktor

Persiapan keseluruhan yang


Proses perubahan rencana jika diperlukan, gambar tambahan
diperlukan penyesuaian dan untuk
revisi rencana

kerja kontraktor yang disetujui oleh


employer Memeriksa dan rekomendasi Contact change order
personil utama kontraktor Memeriksa dan Pekerjaan masa pemeliharaan
menyetujui quarry/ bila ada
material yang
disiapkan kontraktor

Addendum kontraktor
Memeriksa dan menata bila ada
Membantu employer untuk metodologi kualitas dan
memeriksa dan menyelesaikan kuantitas
problem utama untuk mencegah
yang tidak perlu dari kontraktor

Rekomendasi lain jika


ada

Responding

Mendapatkan dan memelihara segala jaminan yang diperlukan : material, peralatan.

Pembayaran Sertifikat Bualanan (Monthly Certificate)

Catatan kondisi yang tidak pasti di lapangan dan mencegah kelambatan

Pengawasan kemajuan

Mengarahkan kepada kontraktor

Menghindari / memeriksa claim kontraktor

Gambar E.7 Rencana Aktifitas

69
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
MASA PRA PELAKSANAAN

1. Persiapan dan Mobilisasi Konsultan

Dalam hal ini Konsultan akan Menyiapkan :

1. Personil/tenaga ahli dan tenaga pendukung. Apabila ada penggantian personil terlebih
dahulu mendapat persetujuan dari Satuan Kerja sebagai Pengguna Jasa.

2. Kantor berikut perlengakapannya, kendaraan dan fasilitas penunjang lainnya.

3. Peralatan/alat-alat ukut dan laboratorium dalam hal ini bukan alat laboratorium yang
lengkap tetapi hanya peralatan pendukung pelaksanaan kerja karena yang menyiapkan
lebih lengkap Kontraktor.

4. Peta, data dan peralatan penunjang.

5. Fasilitas akomodasi dan transportasi untuk kebutuhan Proyek.

6. Mobilisasi tim supervisi dan penyusunan rencana kerja.

7. Melakukan koordinasi dengan komponen terkait (pengguna jasa dan pelaksana


konstruksi)

Keluaran :

Tersusunnya rencana kerja (jadwal pelaksanaan, jadwal penugasan, rencana mutu


kontrak dan metode pelaksanaan pengawasan)
Terlaksana koordinasi kerja

2. Orientasi Lapangan Awal dan Sosialisasi


Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi :

1. Melaksanakan orientasi terhadap kondisi lokasi kegiatan.

2. Mengumpulkan data-data dan informasi sebagai bahan evaluasi dan kajian terhadap
penerapan rencana kegiatan.

3. Memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan rencana kegiatan konstruksi

Keluaran :

70
Teridentifikasinya kondisi awal lokasi kegiatan
Teridentifikasinya permasalahan-permasalahan sebagai bahan untuk kajian dan
evaluasi dari perencanaan awal
Terinformasinya jenis kegiatan yang dilakukan kepada masyarakat di lokasi
kegiatan
Terinformasinya persepsi masyarakat terhadap kegiatan yang akan
dilakukan.
Adanya dukungan dari masyarakat selama baik pada tahap pra konstruksi, tahap
konstruksi dan pasca konstruksi.
Sebagai bahan dalam penyusunan program kerja dan metode pelaksanaan

3. Rapat Pra Konstruksi

Secara umum walaupun hanya berbentuk suatu rapat, Rapat Pra Konstruksi adalah
tahapan penting untuk melaksanakan pekerjaan supaya sesuai dokumen kontrak karena
merupakan koordinasi awal yang dihadiri oleh semua pihak pelaksana pekerjaan meliputi
Satker/SNVT Perencanaan dan Pengawasan, Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Proyek
Fisik, Dinas-Dinas Terkait, Kontraktor dan konsultan. Dengan demikian semua pihak akan
memberikan tanggapan tata cara melaksanakan dan apresiasi terhadap dokumen kontrak.

Didalam acara ini dijelaskan materi-materi berikut :

1) Materi
Organisasi Kerja.

Tata cara pengaturan pelaksanaan.

Review dan penyempurnaan terhadap schedule dikaitkan dengan target volume,


mutu dan waktu.

Jadwal pengadaan bahan, alat dan mobilitas personil.

Menyusun rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan (mutual check),


koordinasi dengan tim perencana.

Menentukan lokasi bahan material (quarry), estimate quantity dan rencana quality
control bahan yang akan digunakan.

Pendekatan terhadap masyarakat dan Pemda setempat.


Penyusunan rencana kendali mutu proyek.

Penentuan titik Sta. 0+00 bersama tim perencana.

Menyusun acara Rekayasa Lapangan/Field Engineering guna penyesuaian


gambar rencana terhadap kebutuhan lapangan.

Pemahaman mengenai keselamatan kerja, keselamatan bangunan, keselamatan


pengguna jalan beserta penanganannya berupa asuaransi-asuransi, peralatan-
peralatan keselamatan kerja dan pengaturan lalu lintasnya.

Penjelasan dan pembahasan mengenai rencana Base camp, lokasi AMP,


penentuan instansi penguji independent.

Pembahasan mengenai kebutuhan uang muka untuk kebutuhan pelaksanaan fisik.

Pembahasan mengenai prosedur pelaporan, jenis-jenis laporan yang harus dibuat


oleh masing-masing pihak.

Penjelasan mengenai prosedur penilaian pekerjaan terlaksana dan prosedur


pembayaran.

2) Kesamaan pengertian terhadap pasal-pasal dokumen kontrak

Pekerjaan tambah/kurang

Termination atau force majeure.

Maintenance & protection of traffic.

Sub letting.

Asuransi.

Lainnya yang dianggap perlu.

3) Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur

Request, approval & examination of works.

Shop Drawing, As Buil Drawing.


Monthly Certificate (MC).

PHO & FHO.

Change Order, Addendum.

4) Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan utama (major
items).

Rigid pavement.

Flexible pavement.

Struktur
Berdasarkan rapat ini semua pihak terutama instansi-instansi pelaksana pekerjaan akan
mempunyai pandangan yang sama terhadap sasaran, tata cara dan detail-detail pelaksanaan
sehingga semua pihak bisa mendukung kelancaran pekerjaan.

MASA PELAKSANAAN

1. Mobilisasi Kontraktor

Pada tahap ini Konsultan Pengawasan Teknik akan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan


antara lain :

Menyiapkan formulir-formulir yang diperlukan dalam pengawasan pekerjaan.

Memeriksa dan melengkapi data survai yang akan digunakan, serta menentukan titik-
titik lokasi survai di lapangan sesuai dengan data tersebut.

Memberikan rekomendasi bagi Pemberi Tugas didalam tahapan kegiatan


pelaksanaan.

Memeriksa dan merekomendasikan bagi Pemberi Tugas, polis dan batas lingkup
asuransi dan Kontraktor.

Memeriksa dan menyetujui daftar material, peralatan dan personil yang akan
didatangakan, fasilitas Base Camp dan lokasi penempatan peralatan.
Memeriksa dan mempersiapkan cara perhitungan kuantitas dan prosedur
pemeriksaan mutu (quality control).

Memeriksa dan menyetujui segi keamanan dari pengaturan lalu lintas didalam
proyek.

Memeriksa dan menyetujui jumlah kuantitas dan mutu material yang disediakan oleh
kontraktor.

Memeriksa pemasangan patok garis tengah jalan dan damija (ROW).

Membantu Pemberi Tugas untuk memeriksa dan memecahkan masalah yang


mungkin akan muncul, serta bertindak untuk menghindari timbulnya klaim dari
kontraktor.

2. Review Design

Metodologi pelaksanaan Review Design, akan dibagi dalam beberapa tahapan proses.
Untuk lingkup kegiatan ini, konsultan juga ditugaskan untuk mengadakan review desain
dengan lingkup sebagai berikut :
Melakukan pembuatan/perbaikan desain terhadap penambahan ataupun perubahan
konstruksi yang signifikan dari rencana yang ada dalam Dokumen Kontrak
pelaksanaan konstruksi tahun 2012.
Melakukan evaluasi dan review terhadap jaringan yang sudah ada.

Kegiatan yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan review desain ini adalah sebagai
berikut :

1) Evaluasi dan Survei Pengukuran.


Survei topografi dilakukan untuk mendapatkan gambaran situasi terhadap perubahan rencana
bangunan penunjang dan utama.

Pelaksanaan pembuatan peta situasi saluran irigasi skala 1: 1.000, peta situasi bangunan
utama dan penunjang skala 1 : 500.
Pengukuran cross section dan long section dengan jarak interval 50 m dan 25 m untuk
belokan/tikungan.
Penggambaran cross section bangunan dan profil memanjang, lokasi bangunan penunjang
yang diukur.
Memasang patok BM dan CP.
Metode Pelaksanaan :
1) Persiapan, meliputi
a) Koordinasi dengan direksi pekerjaan.
b) Pengumpulan data awal berupa: data sekunder, buku-buku referensi,
peraturan/ketentuan/standard teknis yang berhubungan dengan pekerjaan ini.
c) Pembuatan dan penyusunan program kerja, jadwal penugasan dan
persiapan/penyusunan instrumen survey.

2) Survey meliputi
Survey Lapangan untuk mengetahui kondisi eksisting, melakukan identifikasi dan
inventory data untuk rencana pengembangan meliputi kegiatan pengukuran dan pemetaan
untuk bangunan utama dan bangunan penunjang lainnya.

1) Kegiatan Pengukuran

A.Pemasangan Patok
Pemasangan patok meliputi patok Bench Mark (BM), Kontrol Point (CP) dan patok
kayu sebagai patok bantu dengan rincian sebagai berikut:

a. Bench Mark ( BM )

Bench Mark yang terbuat dari beton menggunakan tulangan dengan ukuran 20 cm
x 20 x cm x 100 cm untuk BM. BM dilengkapi dengan baud yang diberi tanda
silang pada bagian atasnya sebagai titik centering, serta diberi penamaan pada
bagian samping menggunakan tegel. BM ini dipasang sedemikian rupa sehingga
bagian yang muncul di atas tanah lebih kurang 20 cm.

b. Kontrol Point ( CP )
Kontrol Point dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 80 cm terbuat dari cor semen,
dipasang dengan tujuan untuk memberikan acuan arah azimuth dari BM terpasang.
Kontrol point ini dipasang dengan posisi saling terlihat dengan BM terpasang.

Pemasangan Bench Mark ini diikuti dengan pemasangan Kontrol Point (CP )
sebagai arahan untuk menentukan azimuth titik tersebut. BM dan CP dipasang
pada tempat yang stabil, aman dan mudah dalam pencariannya.

c. Patok Bantu

Patok bantu dipasang pada setiap tempat berdiri alat pengukuran poligon, situasi,
cross section dan diantara tempat berdiri alat waterpas. Patok ini dibuat dari kayu
dengan ukuran 3 cm x 5 cm x 40 cm. Patok kayu ini pada bagian atasnya dipasang
paku payung sebagai penanda centeringtitik tempat berdiri alat atau titik berdiri
rambu pada pengukuran waterpass. Untuk memudahkan penentuan patok, perlu
juga diberikan peng-kodean atau penamaan masing-masing patok kayu tersebut
dengan nama, huruf atau nomer.

B. Pengukuran Poligon Utama


Dalam pengukuran dan pemetaan suatu areal digunakan kerangka dasar pengukuran
yang disebut poligon. Poligon merupakan rangkaian segi banyak yang digunakan
untuk menentukan posisi horisontal dengan melakukan pengukuran sudut, asimuth
dan jarak (sisi) yang dilakukan dari titik awal sampai titik akhir pada rangkaian yang
dikehendaki.

Tahapan pengukuran poligon yang dilakukan adalah :

a. Poligon diukur dengan cara poligon tertutup (closed traverse).


b. Setiap BM eksisting maupun BM dan CP baru, dilalui pengukuran poligon.
c. Poligon diukur menggunakan Theodolite T2 untuk poligon utama.
d. Sudut diukur minimal dalam 2 seri, yaitu bacaan Biasa dan bacaan Luar Biasa,
dengan ketelitian bacaan sudut terkecil 5.
e. Pengukuran sudut dilakukan dengan cara mengeset sudut pada Awal Pengukuran,
o o o
contoh 0 , 45 , 90 dan seterusnya, untuk mempermudah Perhitungan.
f. Untuk Pengukuran Jarak pada Poligon Utama menggunakan alat digital untuk
mengurangi paktor kesalahan Bacaan seperti DT 1000.
g. Jarak mendatar diukur minimal 3 (tiga) kali ke muka dan 3 (tiga) kali ke
belakang.
h. Kesalahan penutup sudut harus lebih Besar dari 10 n, dimana n adalah jumlah
setasiun berdiri alat.
i. Pengamatan Matahari dilakukan dengan cara ditadah, pada pagi hari Jam 07 s/d
Jam 08 dan Sore hari pada Jam 15 s/d 16, dimana pengamatan dilakukan dipatok
BM dengan memakai Acuan dipatok Cp atau dipatok Poligon yang lain.
j. Kesalahan linier untuk Poligon Utama yang dicapai harus lebih besar dari 1 :
10.000.
k. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan sistematis, jika
ada kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali didekatnya, serta tidak
diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan tinta koreksi.
l. Pekerjaan hitungan Poligon Utama harus diselesaikan di lapangan, agar bila
terjadi kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran kembali
hingga benar.
m. Perataan hitungan poligon dilakukan dengan perataan metode
Bouwditch.

C. Pengukuran Poligon Cabang


Pengukuran Poligon Cabang dilakukan karena terlalu luasnya areal pengukuran atau
banyaknya pepohonan yang menghalangi sehingga tidak dapat terkaper situasi dari
poligon utama, kalau dilakukan terlalu banyak titik-titik bantu yang menimbulkan
kesalahan data-data pengukuran yang akhirnya menimbulkan kesalahan patal. Maka
dilakukan pengukuran poligon cabang supaya hasil pengukuran lebih akurat, dan
mempunyai satu sistem dengan poligon utama. Pengukuran poligon cabang dilakukan
sebagai berikut :

a. Poligon harus diukur dengan awalan pada titik poligon utama dan diakhiri pada
titik poligon utama pula.
b. Setiap BM eksisting maupun BM dan CP baru dilalui pengukuran poligon.
c. Poligon harus diukur menggunakan alat Theodolite T2.
d. Sudut diukur minimal dalam 1 seri, yaitu bacaan Biasa dan bacaan Luar Biasa,
dengan ketelitian bacaan sudut 20.
e. Untuk Pengukuran Jarak pada Poligon Cabang menggunakan alat digital untuk
mengurangi faktor kesalahan menggunakan peta ukur dan dicek dengan jarak
optis.
f. Jarak mendatar diukur minimal 2 (dua) kali ke muka dan ke belakang.
g. Kesalahan penutup sudut harus lebih Besar dari 20 n, dimana n adalah jumlah
setasiun berdiri alat.
h. Kesalahan linier yang dicapai harus lebih Besarl dari 1 : 7.000.
i. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan sistematis, jika
ada kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali didekatnya, serta tidak
diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan tinta koreksi.
j. Pekerjaan hitungan poligon cabang harus diselesaikan di lapangan, agar bila
terjadi kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran kembali
hingga benar.
k. Perataan hitungan poligon dilakukan dengan perataan metode Bouwditch.

D. Pengukuran Sipat Datar


Rute pengukuran waterpass mengikuti rute pengukuran poligon utama dengan
pembagian loop seperti pengukuran poligon. Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal
atau waterpass ini, harus diukur dengan spesifikasi sebagai berikut :

a. Kerangka Kontrol Vertikal harus diukur dengan cara loop, dengan menggunakan
alat waterpass Wild Nak-2.
b. Jarak antara tempat berdiri alat dengan rambu tidak boleh lebih besar dari 50
meter.
c. Baud-baud tripod (statip) tidak boleh longgar, sambungan rambu harus lurus betul
serta perpindahan skala rambu pada sambungan harus tepat, serta rambu harus
menggunakan nivo rambu.
d. Sepatu rambu digunakan untuk peletakan rambu ukur pada saat pengukuran.
e. Jangkauan bacaan rambu berkisar antara minimal 0500 sampai dengan maksimal
2750.
f. Data yang dicatat adalah bacaan ketiga benang yaitu benang atas, benang tengah
dan benang bawah.
g. Pengukuran sipat datar dilakukan setelah BM dipasang, serta semua BM
eksisiting dan BM baru terpasang harus dilalui pengukuran waterpass.
h. Slaag per seksi diusahakan genap dan jumlah jarak muka diusahakan sama
dengan jarak belakang.
i. Pada jalur terikat, pengukuran dilakukan pergi-pulang dan pada jalur terbuka
pengukuran dilakukan pergi-pulang dan double stand.
j. Kesalahan beda tinggi yang dicapai harus lebih kecil dari 7 mmD, dimana D
adalah jumlah panjang jalur pengukuran dalam kilometer.
k. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan sistematis, jika
ada kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali didekatnya, serta tidak
diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan tinta koreksi.
l. Pekerjaan hitungan waterpass harus diselesaikan di lapangan, agar bila terjadi
kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran kembali hingga
benar.

E. Pengukuran Sipat Datar Memanjang

Tujuan dari pengukuran ini adalah mengetahui Tinggi ( Elevasi ) titik-titik potok dari
permukaan tanah yang dilewati poligon utama. dan berguna untuk penggambaran
garis kontur. hasil dari pengukuran ini adalah berupa data Elevasi dari titik-titik
(patok) atau Ketinggian dari permukaan tanah.

Ketentuan atau kaidah yang harus dipenuhi dalam melaksanakan pengukuran sipat
datar profil memanjang sama dengan kaidah dalam pengukuran sipat datar melintang.
Alat ukur yang akan digunakan dalam pekerjaaan ini adalah alat ukur waterpass tipe
WILD NAK. Detail yang diukur adalah ketinggian patok-patok kayu yang telah
dipasang sebelumnya dan ketinggian permukaan tanah pada patok tersebut.

F. Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang


Pengukuran sifat datar profil melintang dilakukan untuk mengetahui bentuk irisan
melintang dari alur sungai Palaran. Pengambilan titik-titik detail penampang harus
serapat mungkin dan diikatkan pada titik poligon. Jarak pengukuran profil melintang
dari as embung Kurang lebih 50 meter kanan dan kiri atau sampai mencapai elevasi
10 meter dari as rencana. Jarak selang maksimum 50 meter sedangkan kalau ada
belokan jarak harus disesuaikan sehingga belokan yang ada dapat tergambarkan.

Tujuan pengukuran sifat datar profil adalah mengetahui profil atau tampang tubuh
tanah dari suatu trace, sungai, jalan, Sistem pipa,alur bangunan dan lain-lain. Sifat
datar profil dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1. Sifat datar profil memanjang


Sifat datar profil memanjang adalah pekerjaan sifat datar sepanjang sumbu yang
ditentukan untuk memperoleh gambaran tinggi titik-titik pada sumbu tersebut.

2. Sipat datar profil melintang


Sipat datar profil melintang adalah pengukuran sipat datar yang tegak lurus pada
sipat datar profil memanjang.

G. Pengukuran Detil Situasi


Pengukuran detail situasi dilakukan dari patok poligon utama, poligon cabang dan
titik bantu, guna mendapatkan titik-titik koordinat, ketentuan yang harus disituasi
diantaranya,rumah, jalan, alur,goronggorong, jembatan, tiang listrik, tiang telpon
jalan setapak dan sebagainya.

Pengukuran situasi harus serapat mungkin guna mendapatkan garis kontur yang sesuai
dengan geometrik areal pengukuran, untuk mendapatkan gambaran secara detail
kondisi tampungan, sehingga nantinya diperoleh informasi besarnya tampungan dari
peta yang dibuat, cocok dengan kondisi lapangan. Alat yang digunakan untuk
pengukuran situasi umumnya yang biasa dipakai adalah Theodolit dan satu set bak
ukur.untuk ketentuan yang harus disituasi sampai mencapai elevasi 10 meter dari as
saluran sehingga hasilnya situasinya tidak terbuang. detail situasi dapat dihitung
dengan Metode Sudut Kutub.

dimana :

P1,P2,P3 = titik poligon, P2 sebagai titik berdiri alat


USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN TABANAN

A,B,C = titik detil

1,2,3 = sudut ikatan detil A,B dan C terhadap sisi P2- P1

Sedangkan untuk beda tinggi titik detil didapat dengan menggunakan persamaan
Metode Tachymetri seperti gambar berikut :

A
Slope Distance (Ds)
Dtg.h Bt
h
Horizontal Distance (Dh) B
h

Gambar 3.8Pengukuran dengan Metode Tachymetri

Dimana :

D = jarak horisontal dari tempat berdiri alat ke titik detil

Tg.h = tangent helling

Ti = tinggi alat

Bt = benang tengah

h = beda tinggi antara tempat berdiri alat ke titik detil

H. Pengukuran Cross Section

Pengukuran cross section, dilakukan dengan spesifikasi sebagai berikut :


a. Cross section diukur dengan interval 25 m sepanjang pantai.
b. Penampang melintang diukur dengan mengambil detil yang mewakili dan sesuai
dengan skala yang digunakan.
c. Lebar pengukuran cross section adalah sampai pada elevasi walkway .
d. Pada setiap titik cross section dipasang patok kayu ukuran 3 cm x 5 cm x 40 cm
dan di atasnya diberi paku sebagai titik acuan pengukuran.

81
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
e. Setiap center line titik cross section dipakai juga sebagai pengukuran long section.
f. Pengukuran cross section dilakukan dengan menggunakan alat Theodolite T1.

2) Evaluasi Hasil Analisa


Dalam tahapan ini konsultan akan melaksanakan analisa kembali (review) terhadap jaringan
yang ada berdasarkan hasil evaluasi terhadap perubahan yang ada. Kegiatan yang dilakukan
dalam tahapan ini meliputi:

A. Evaluasi analisa dan perhitungan terhadap kebutuhan air irigasi, bangunan utama dan
penunjang serta struktur.
B. Evaluasi Analisa Hidrolika
Evaluasi analisa dan perhitungan hidrolika dilakukan untuk mendapatkan kapasitas saluran
dan kebutuhan dimensi saluran yang telah direncanakan.

MASA KONSTRUKSI

Dalam masa konstruksi, Konsultan akan melaksanakan pengawasan dan pemantauan


terhadap pencapaian program fisik proyek secara menerus dilapangan dan pengendalian proyek
secara sistematis dengan menggunakan metode-metode yang sudah baku, adalah sebagai berikut
:

Membuat analisa, prediksi dan rekomendasi terhadap kendala-kendala yang


berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan proyek.

Memberikan nasihat kepada Pemberi Tugas didalam menyusun kebijakan dan


langkah untuk mencegah dan mengurangi klaim.

Menyediakan bantuan dan arahan yang tepat bagi Kontraktor pada saat
ditemukannya masalah yang ada hubungannya dengan dokumen kontrak,
pemeriksaan terhadap survai tanah dasar, test pengawasan mutu, dan masalah lain
yang berhubungan dengan dipenuhinya kontrak dan kemajuan pekerjaan.

Menyediakan informasi yang diperlukan oleh Pemberi Tugas, menghadiri dan


mencatat semua rapat/pertemuan dengan Kontraktor, Pemimpin Proyek, dan instansi
terkait lainnya serta menyediakan bantuan teknis apabila diperlukan didalam
kaitannya dengan pelaksanaan proyek dan masalah-masalah kontrak.

82
Sedangkan tugas Konsultan Pengawas dalam hal kontrak terhadap Kontraktor secara garis besar
akan meliputi :

Pengendalian teknis : aspek mutu, volume, waktu dan biaya.

Pengendalian atas proses koordinasi terkait.

Pengendalian administrasi proyek.

Evaluasi rencana proyek.

Pelaporan.

PENGENDALIAN PELAKSANA

Bertindak untuk dan atas nama Pemberi Tugas mengendalikan pelaksanaan fisik
pembangunan yang dilakukan oleh Pelaksana Kegiatan dengan rentang meliputi Preaudit,
Monitoring, dan Post-audit.

Lingkup pengendalian antara lain meliputi :

Aspek mutu hasil pekerjaan.

Aspek volume pekerjaan.

Aspek waktu penyelesaian pekerjaan.

Aspek biaya keseluruhan pekerjaan.

Segala sesuatunya merujuk kepada ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam
kontrak pemborongan.

1. Rentang Kendali Pre-audit

Kegiatan konsultan dalam rangka pengendalian teknis dalam rentang pre-audit


adalah seluruh kegiatan Konsultan sebelum melakukan pengawasan, yang terdiri dari :

Pengumpulan dan analisa terhadap data.

Pengecekan hasil perencanaan dengan membandingkan terhadap kondisi lapangan.

Pemeriksaan terhadap kesipan Pelaksana Kegiatan, yang meliputi material,


peralatan, tenaga dan jadwal pelaksanaan.
a. Pengumpulan dan analisa data, informasi dan hasil perencanaan akan menghasilkan
catatan mengenai seluruh kegiatan antara lain :

- Jenis Pekerjaan.

- Kuantitas Pekerjaan.

- Kualitas yang dipersyaratkan.

- Schedule pelaksanaan

- Schedule pembayaran.

b. Review Design

Pengecekan hasil perencanaan dilakukan dengan cara membawa hasil perencanaan


ke lokasi untuk menentukan apakah hasil perencanaan tersebut telah sesuai dengan
kondisi yang ada.

Apabila ternyata dari hasil pengecekan design tidak sesuai dengan kondisi
lapangan, Konsultan Coordination tim akan membuat alternatif lain yang sesuai
untuk diajukan kepada Pemberi Tugas.

c. Persiapan Konstruksi

Material dan peralatan yang didatangkan Pelaksana Kegiatan akan diperiksa


terlebih dahulu oleh Konsultan sehingga benar-benar memenuhi spesifikasi yang
telah ditetapkan.

Jadwal waktu yang dibuat oleh Pelaksana Kegiatan akan diteliti terlebih dahulu
apakah sudah memadai terhadap volume pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan
perkiraan tenaga kerja/tukang yang akan mengerjakannya serta alat yang akan
digunakan. Apabila menurut analisa tidak seimbang antara volume dengan tenaga
kerja dan peralatan terhadap waktu yang tersedia maka Konsultan akan
menyarankan kepada Pelaksana Kegiatan untuk menyiapkan tenaga kerja dan
peralatan yang memadai agar bias selesai tepat pada waktunya.

Penyimpangan biaya keseluruhan biasanya disebabkan oleh adanya pekerjaan


tambahan sebagai akibat dari perubahan design dan pertambahan volume pekerjaan.
Agar tidak terjadi perubahan biaya terlalu besar, Konsultan akan mengusulkan
menggantikan nilai pekerjaan tambah itu dengan pengurangan pekerjaan lainnya
sehingga terjadi kompensasi dan tidak memerlukan biaya tambah sepanjang hal
tersebut memungkinkan dan mendapat persetujuan dari Kepala SNVT / Pemimpin
Bagian Pelaksana Kegiatan Fisik.

Dalam hal ini, Konsultan berupaya menghindari pekerjaan tambah, justru


mengupayakan pekerjaan kurang jika memang dari evaluasi teknis dan biaya
memungkinkan untuk dilakukan pekerjaan kurang.

d. Pre Construction Meeting (PCM)

Dalam waktu kurang dari 14 hari sejak SPMK, diadakan Pre ConstructionMeeting
(PCM) dengan meteri seperti telah dijelaskan dimuka.

2. Rentang Kendali Monitoring

Kegiatan pengendalian teknis rentang monitoring adalah kegiatan-kegiatan yang


dilakukan selama masa pelaksanaan pekerjaan. Meskipun Konsultan Pengawas telah
melakukan pre-audit namun setiap langkah pelaksanaan pekerjaan akan terus
dimonitor agar kalau terjadi penyimpangan segera diketahui dan dapat diluruskan
kembali sesuai petunjuk yang benar. Selama periode ini Konsultan akan selalu
melakukan evaluasi terhadap progress dan kualitas pekerjaan yang dilaksanakan oleh
Pelaksana Kegiatan.

Dalam melakukan monitoring, kerjasama antara anggota tim akan kita jaga sebaik-
baiknya sehingga informasi dan pelaporan bisa berjalan dengan cepat, sehingga
kerugian yang menyangkut aspek mutu, volume, waktu, dan biaya keseluruhan hasil
pekerjaan dapat dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya. Selain mengawasi pekerjaan
fisik Konsultan Pengawas juga memonitor aspek lingkungan sekitar proyek, agar
jangan sampai pelaksana lapangan berikut tukang-tukangnya mengganggu, mematikan
serta merusak flora dan fauna yang ada.
Faktor keselamatan kerja juga akan dimonitor secara rutin dengan memperhatikan
peraturan-peraturan yang berlaku.

3. Rentang Kendali Post-audit

Setiap kemajuan penyelesaian pekerjaan akan merupakan prestasi kerja bagi Pelaksana
Kegiatan. Kemajuan fisik ini akan dipakai untuk pengajuan pembayaran senilai hasil
kerjanya. Namun Pelaksana Kegiatan tidak akan bisa mengajukan permintaan
pembayaran sebelum mendapat rekomendasi dari Konsultan Pengawas bahwa hasil
pekerjaannya sudah memenuhi persyaratan teknis atau tidak.

KOORDINASI DENGAN INSTANSI TERKAIT

Konsultan Pengawas dalam rangka melaksanakan tugas pengendalian teknis tersebut


diatas berkewajiban mengendalikan proses koordinasi yang perlu dilakukan oleh pihak lain
(khususnya oleh Pemberi Tugas).

Koordinasi dengan instansi terkait, antara lain dilakukan dengan :

Dinas PU Provinsi setempat

Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik.

Konsultan lain yang terkait.

Instansi terkait lainnya.

PENGENDALIAN ADMINISTRASI PROYEK

Dalam hal ini Konsultan Pengawas akan merancang, memberlakukan serta


mengendalikan pelaksanaan keseluruhan sistem administrasi proyek yang diawasinya, yaitu
mencakup antara lain : surat, memoramdum, risalah, laporan, contoh barang, foto, berita acara,
gambar, sketsa, brosur, kontrak dan addendum dan lain-lain yang dianggap perlu.

Langkah-langkah dan tindakan yang akan dilakukan Konsultan Pengawas untuk maksud diatas
adalah :

Mempelajari, menanggapi, memecahkan dan menyelesaikan sampai tuntas maksud dari


surat masuk maupun keluar.
Memperhatikan memorandum dan risalah untuk pedoman dalam pelaksanaan tugas
konsultan.

Mempersiapkan dan mengecek contoh barang agar memenuhi persyaratan yang


ditetapkan baik kualitas dan kuantitas.

Membuat foto-foto dokumentasi pada setiap paket pekerjaan.

Mempelajari dan mengecek gambar-gambar/sketsa pelaksanaan agar sebelum maupun


sesudah pekerjaan selesai tidak terjadi penyimpangan.

Membantu/menyiapkan addendum serta lain-lain yang dianggap perlu.

EVALUASI RENCANA

Konsultan Pengawas terus-menerus melakukan evaluasi atas rencana proyek yang akan
dilaksanakan serta menyarankan perubahan / penyempurnaan / penyesuaian rencana yang perlu
dilakukan (bila ada) guna menjamin tercapainya maksud dan tujuan proyek dengan sebaik-
baiknya.

VERIFIKASI HASIL PEKERJAAN PELAKSANA KEGIATAN

Konsultan Pengawas berwenang dan pada saatnya berkewajiban menyatakan bahwa


hasil pekerjaan Pelaksana Kegiatan telah memenuhi segala persyaratan untuk proses selanjutnya
yaitu persetujuan Pemberi Tugas. Verifikasi ini berupa sertifikasi pada saat Pelaksana Kegiatan
mengajukan pembayaran. Rekomendasi-rekomendasi persetujuan, penundaan ataupun penolakan
hasil kerja dilakukan saat tersebut berdasarkan hasil penelitian mutu dan volume yang
diproduksi.

KONTROL SISTEMATIK TERHADAP KEGIATAN LAPANGAN

Dalam konteks lebih luas, pekerjaan supervisi mengemban juga fungsi kontrol
manajemen proyek konstruksi. Sebelum memeriksa hasil pekerjaan, perlu diperiksa dahulu
persiapan kerjanya. Persiapan pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah atau dengan cara
perencanaan yang mendadak akan mengakibatkan hasil kerja yang tidak memuaskan. Untuk
menanggulangi masalah ini, diperlukan suatu kontrol yang sistematik. Pengawas lapangan perlu
menerapkan sistem kontrol yang baik di lapangan.
Kontrol yang sistematik terhadap kegiatan di lapangan memiliki 3 tujuan yaitu :

Meninjau secara periodik hasil dan kemajuan pekerjaan pada beberapa bidang kegiatan
pokok. Bila mana terdapat kekurangan yang terjadi, maka harus dikembangkan sasaran
jangka pendek dan program kerja untuk mengantisipasinya.

Memastikan bahwa pekerjaan pengawasan berjalan secara benar sehingga peringatan


secara dini dapat diberikan apabila terjadi sesuatu kesalahan.

Mengamankan bahwa biaya yang sudah dianggarkan oleh proyek tidak dilampaui bila
tidak terjadi perubahan kontrak.

Bidang-bidang sasaran kegiatan pokok yang perlu dikontrol pada waktu peninjauan dilapangan
yaitu :

Pencapaian target kemajuan fisik.

Pencapaian target keuangan.

Pengadaan dan pembelian barang, bahan dan peralatan.

Pemakaian tenaga kerja dan peralatan untuk menjamin efektifitas dan efisiensi kerja
lapangan.

Pemantapan kerja sama pekerja proyek dari seluruh bagian / divisi.

Hubungan dengan pihak pemilik.

Tiap bidang tersebut diatas ditinjau apakah situasinya mantap, kurang memadai atau
menunjukkan tendensi yang tidak menggembirakan.
Dengan mengetahui keadaan dan situasi masalah dengan benar, maka langkah-langkah yang
diambil untuk mengatasinya akan lebih cepat dan efektif.

KUNJUNGAN LAPANGAN/SITE VISIT

Frekuensi kunjungan ke lapangan tergantung dari pentingnya keadaan lapangan,


sifatnya dapat secara harian atau mingguan. Frekuensi kunjungan juga dapat tergantung pada
tahapan dari Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik yang mengelolanya beserta para timnya sesuai
urgensinya.
PENGENDALIAN WAKTU

Merencanakan dan membangun adalah suatu aktifitas yang dinamis, dan yang
dipengaruhi oleh bermacam-macam factor. Karena itu network / s-curve chart yang telah
disetujui sebagai pegangan untuk pelaksanaan harus secara periodik atau sesuai kondisi dicheck
kembali :

Apakah waktu yang direncanakan telah ditepati.

Akan ditepati dalam jangka panjang atau segera dan / atau.

Nantinya akan ditepati (jangka panjang).

Bila perlu dapat diadakan perubahan baru untuk mengendalikan jalannya proyek seperti
yang dikehendaki.

1. Jarak Waktu Kontrol

Jarak waktu kontrol dapat dibedakan menjadi 2 macam rentang waktu yaitu :

1 2 minggu untuk aktifitas yang kritis atau bisa kurang dari 1 minggu.

2 4 minggu untuk aktifitas-aktifitas yang tidak kritis.

2. Cara Mengontrol

Dibedakan 3 cara mengontrol, sebagai berikut :

Untuk sebuah aktifitas yang akan dimulai : disajikan langkah-langkah cara mengontrol
seperti flow chart Gambar 3.9.

Untuk menguji pekerjaan yang seharusnya sudah dimulai : disajikan langkah-langkah


cara mengontrol seperti flow chart Gambar 3.10.

Uji pekerjaan yang seharusnya sudah selesai : disajikan langkah-langkah cara


mengontrol seperti flow chart Gambar 3.11.
Ya
Dapatkah Pekerjaan
Dimulai?

Alasannya?
Ada keterlambatan?

Tidak

Alasannya?
Ada keterlambatan?

OK Diperlukan
Penanganan

GAMBAR : E.9.
FLOWCHART LANGKAH-LANGKAH CARA MENGONTROL
UNTUK AKTIVITAS YANG AKAN DIMULAI
Pekerjaan yang
seharusnya sudah dimulai

Apakah pekerjaan ini Kenapa tdak dimulai ? Berapa lama ditangguhkan ?


sesuai Tidak apa penangguhannya Tidak apa ada foat
schedul mulanya ? dapat dikejar ?

Ya Ya
OK
OK Tangani

Berapa lama terlambat ?


Kenapa ? Tidak
Apa prestasinya sampai
waktu control tercapai ?

Ya
OK
Apa prestasinya
bisa dikejar ? Tidak

Ya

Berapa lama ditangguhkan ?


OK
apa ada foat

Tangani

GAMBAR E.10
FLOWCHART LANGKAH-LANGKAH CARA MENGONTROL
PEKERJAAN YANG SEHARUSNYA SUDAH DIMULAI
Pekerjaan yang seharusnya
selesai Tidak

Ya Sisa waktu sampai selesai ?


Alasan keterlambatan

Diperlukan penanganan
OK

GAMBAR E.11
FLOWCHART LANGKAH-LANGKAH CARA MENGONTROL
UNTUK AKTIVITAS SUDAH SELESAI

Untuk monitoring dan pengontrolan proyek ini akan digunakan sistem informasi
pengendalian proyek yang dilaksanakan dengan suatu aplikasi berbasis komputer.
Monitoring dan pengendalian proyek dilakukan pada aspek-aspek berikut :

Planning dan scheduling pekerjaan yang meliputi quantity, duration, dates, network
planning atau precedence Diagram Methode.
Progress Performance.
Schedule Control.
Project cost control yang meliputi pelaporan status nilai kontrak vs aktual, perhitungan
pembayaran progress pekerjaan.

Unsur-unsur tersebut merupakan informasi dasar untuk memonitoring, pengendalian,


analisis dan manajemen proyek.

Pekerjaan pengendalian proyek ini diawali dengan pemasukan data-data proyek (project
data entry) yang akan menjadi acuan (baseline) dalam monitoring dan pengendalian
pelaksanaan proyek selanjutnya. Data-data tersebut disimpan didalam database di kantor
proyek, dan selalu di up-date untuk keperluan pelaporan dan analisa secara periodik.
Berdasarkan target-target pengendalian yang ditentukan sebelumnya maka dapat dilakukan
analisa terhadap permasalahan yang timbul dalam aspek skedul, progress dan pembiayaan
proyek. Dari analisa masalah tersebut dilakukan upaya perbaikan untuk membawa program
proyek kembali ke rencana semula. Gambar 3.12. Skematika aliran kerjanya adalah
sebagai berikut :
PELAPORAN
MONITORING SKEDUL, PERIODIK
PROGRES DAN BIAYA RINGKASAN
KONSTRUKSI PROGRES
PEKERJAAN

PELAPORAN PELAPORAN
PELAKSANAAN PERIODIK
ANALISA KOMPUTER PEKERJAAN MANAJEMEN
SKEDUL PROYEK
PROGRES
PEMBIAYAAN

PELAPORAN
ANALISA KOMPUTER
PERIODIK
RINGKASAN
PEMBIAYAAN

GAMBAR E.12. SKEMA PENGENDALIAN PROYEK


Informasi yang di peroleh dari pelaporan tersebut dapat di analisa dan di jadikan bahan
dalam pengambilan keputusan menajemen kegiatan. Pelaporan kegiatan dibuat dengan
format dan prosedur yang standar untuk memperoleh peningkatan efisiensi, efektifitas dan
optimalisasi sinergi kerja, sehingga Dinas Pekerjaan Umum setempat dapat mencapai
performansi dan kualitas akhir manajemen pembangunan yang lebih baik. Manfaat utama
lainnya dari sistem ini antara lain adalah :

a. Satuan Kerja/Pejabat membuat Komitmen dapat memonitor dan mengendalikan


kegiatan secara terintegrasi dengan sistem yang ada di Dinas Pekerjaan Umum.
b. Memberikan tambahan kapasitas kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas pelayanan kepada pengguna jalan melalui penyelesaian
pembangunan jalan beserta falisilitas pendukung lainnya yang sesuai jadwal dan alokasi
biaya.

Metodologi Pengontrolan Proyek

Untuk menerapkan metodologi pengendalian proyek secara baik dan sistematis, maka
Konsultan membaginya ke dalam beberapa tahap :

Tahapan Initialisasi

Tahap initialisasi dilakukan untuk menjabarkan aktifitas-aktifitas proyek (workBreakdown


Structurel WBS) sampai ke level yang terendah yang mencerminkan keterkaitan antar
aktifitas. Tahapan ini dimulai dari pendeskripsian dan penggolongan aktifitas proyek yang
ada, menentukan volume dan bobot dari masing-masing aktifitas, pengurutan pekaksanaan
aktifitas (network planning predecessor dan successor dari setiap aktifitas detail) dan tipe
dari relasi-relasi antar aktifitas, yaitu SS-Start to Start, SF Start to finish, FS finish to
Start atau FF Finish to Finish.

Juga dideskripsikan mengenai penjadwalan pekerjaan, resources atau sumber daya yang
terlibat dalam pelaksanaan proyek, seperti tenaga ahli, konsultan, tenaga pekerja,
administrator, serta bahan dan alat penunjang pelaksanaan proyek.

Setiap aktuifitas dilengkapi dengan volume pekerjaan, bobot (persentase perbandingan


antar volume pekerjaan dengan nilai nominal rupiah). Hasil dari tahap ini akan
digunakan sebagai base line/dasar untuk pemgendalian proyek pada saat pelaksanaan.

Tahapan Pelaksanaan

Tahap ini dipergunakan untuk memonitor dan mengawasi jalannya pelaksanaan proyek.
Termasuk didalam tahapan ini adalah proses update data kemajuan hasil pelaksanaan
proyek, yang diperinci dari prestasi detail sampai ke prestasi secara umum, mengawasi
aktifitas-aktifitas kritis yang ditampilkan pada barchart dan pengawasan terhadap resource
yang terlibat dengan menambah atau mengurangi jumlah resource (tenaga, bahan dan alat)
apabila perlu.

Pengisian hasil kemajuan proyek dapat dilihat dari hasil pencapaian kemajuan proyek pada
minggu sebelumnya, sehingga project control dapat memperlihatkan aktifitas yang tidak
memperlihatkan kemajuan yang berarti atau justru berada pada kondisi kritis yaitu aktifitas
yang memiliki total Float sama dengan nol. Pelaksanaan aktifitas tersebut tidak boleh
mengalami penundaan lebih dari satu hari kerja. Keberadaan kondisi kritis dari suatu
aktifitas digambarkan dalam garis yang berbeda warna pada tampilan barchart, yaitu
sebagai berikut :

Total Float = 0, digambarkan dengan warna merah;


1 < Total float < 5, digambarkan dengan warna kuning;
Sedangkan total Float >=6, digambarkan dengan warna hijau.

Hal tersebut perlu menjadi perhatian bagi project control dan menjadi salah satu acuan bagi
analisa kemajuan pelaksanaan proyek yang menjadi tanggung jawabnya. Selanjutnya dapat
dilakukan beberapa tindakan untuk meningkatkan kinerja proyek, seperti penambahan
tenaga ahli, tenaga pekerja, bahan dan alat penunjang, atau merubah metode
pelaksanaannya.

Tahap Pelaporan

Tahap pelaporan ini ditujukan untuk menyampaikan kemajuan pelaksanaan proyek actual
di lapangan kepada pihak Pemberi Tugas / pemilik proyek untuk mendapatkan gambaran
kemajuan proyek di lapangan, dengan ikut memperhatikan hal-hal kritis yang di peroleh
dari analisa pelaksanaan proyek. Bentuk laporan ini disesuaikan dengan kebutuhan
pelaporan, dan terbagi menjadi pelaporan kemajuan proyek secara tabular, pelaporan
kemajuan proyek secara barchart, serta dalam bentuk S-Curve; yang membandingkan
pencapaian actual dengan baseline proyek.

Dibawah ini adalah bagaimana pengendalian waktu perlu mendapat perhatian agar tidak
terjadi perpanjangan waktu yang tidak perlu yang akan memboroskan waktu, tenaga dan
biaya.

1. Schedule Pelaksanaan Kegiatan


Sebelum pekerjaan dimulai konsultan akan mengecek schedule pelaksanaan yang
dibuat Pelaksana Kegiatan.
Apakah rencana kerja Prosress pekerjaan yang di targetkan sudah layak dan realistis.
Misalnya dalam musim hujan, target pekerjaan lebih kecil bila dibandingkan pada
musim kemarau untuk pekerjaan pengaspalan misalnya untuk kondisi kerja yang sama.
Kemudian juga construction method, urutan Kerja Pelaksanan Kegiatan apakah sudah
sistematis, konsepsional dan benar.
Selanjutnya berdasarkan schedule Pelaksana Kegiatan yang sudah disetujui, Konsultan
Pengawas akan mengendalikan waktu pelaksanaan tersebut.
Dari time schedule tersebut bisa dijabarkan ke dalam target harian, sehingga setiap hari
apakah target volume tersebut bisa tercapai atau tidak, bila target volume tersebut tidak
tercapai maka selisih volume harus diprogramkan/dikejar untuk schedule hari
berikutnya.
Dengan time schedule yang dibuat dan disetujui itu bila dilaksanakan dengan
sebagaimana mestinya dan dikendalikan dengan baik maka diharapkan proyek bisa
diselesaikan on schedule.
2. Peralatan
Untuk mengerjakan pekerjaan jalan, diperlukan peralatan dengan kombinasi/beberapa
jenis alat dan jumlah alat yang mencukupi. Sedemikian hingga volume pekerjaan yang
direncanakan bisa diselesaikan dalam waktu yang ditentukan.
3. Tenaga Kerja
Demukian juga untuk tenaga kerja, untuk suatu pekerjaan diperlukan tenaga kerja yang
mencukupi, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan oleh tenaga kerja sesuai dengan
jadwal/waktu yang ditentukan. Bila kondisi pekerjaan diperkirakan tidak bisa
diselesaikan, maka tenaga kerja perlu ditambah atau kerja dua shift atau kerja
lembur/overtime.
4. Jumlah Jam Kerja
Untuk penyelesaian suatu pekerjaan, tergantung juga pada jam kerja per hari. Jumlah
jam kerja yang sedikit akan menghasilkan produk yang lebih kecil dari pada bila per
hari jam kerjanya lebih banyak.
Jam kerja perlu disesuaikan dengan kapasitas alat, tenaga kerja, sedemikian hingga
volume pekerjaan yang ditargetkan bisa diselesaikan. Kalau suatu pekerjaan tidak bisa
diselesaikan dalam satu hari siang, maka perlu untuk kerja malam/overtime.
Untuk administrasi pengendalian waktu, agar pengendalian dapat dicapai secara
optimal maka Konsultan memahami secara sungguh-sungguh Network Planning
yang umumnya telah dibuat oleh Pelaksana Kegiatan dengan metode lintas kritis
(Critical Path Method/CPM).
Mengingat sangat pentingnya time schedule ini didalam suatu pekerjaan pengawasan,
maka Konsultan akan menganalisa secara rutin time schedule dari Pelaksana Kegiatan
dan akan membantu Pelaksana Kegiatan dalam mereview dan menyusun kembali time
schedule tersebut bila memang diperlukan.

Pengendalian schedule pelaksanaan lainnya dapat menggunakan Barchart/S-Curve


yang biasa dan juga dapat digunakan Vector Diagram yang baik/cocok untuk
pekerjaan jalan karena dapat mengetahui/menunjukkan lokasi dan waktu. Schedule ini,
pada arah absis menunjukkan lokasi atau STA, sedangkan arah ordinat
menggambarkan waktu

PENGENDALIAN MUTU

Selama periode konstruksi, Konsultan akan senantiasa memberikan pengawasan,


arahan, bimbingan dan instruksi yang diperlukan kepada Pelaksana Kegiatan guna menjamin
bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat kualias untuk semua jenis pekerjaan
baik untuk konstruksi-konstruksi pokok maupun perlengkapan jembatan, untuk itu akan di
uraikan disini.
Aspek-aspek pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan konstruksi antara
lain sebagai berikut dibawah ini namun tidak terbatas pada :
Peralatan laboratorium.
Penyimpanan bahan/material
Cara pengakutan material / campuran ke lokasi kerja.
Pengujian material yang akan diginakan
Penyiapan job mix formula campuran.
Pengujian rutin laboratorium selama pelaksanaan.
Test lapangan.
Administrasi dan formulir-formulir.

Pengendalian kualitas tersebut di atas seperti di uraikan berikut ini :

1. Peralatan Laboratorium dan Personil


Peralatan laboratorium yang perlu dipergunakan untuk pekerjaan utama (major work).

Personil/tenaga yang terkait untuk maksud pengujian harus cukup berpengalaman dan
mengenal dengan baik tentang testing laboratorium maupun lapangan.

2. Penyimpanan Bahan/Material
Bahan-bahan harus disimpan dengan suatu cara yang sedemikian rupa untuk
menjamin perlindungan kualitas.
Bahan-bahan yang disimpan harus ditempatkan sedemikian rupa yang mudah dapat
diperiksa oleh Konsultan.
Tempat penyimpanan harus bebas dari tumbu-tumbuhan dan puing, harus
mempunyai drainase yang lancar.
Bahan-bahan yang diletakkan langsung diatas tanah tidak boleh digunakan dalam
pekerjaan kecuali tempat kerja tersebut telag dipersiapkan dan diberi lapisan atas
dengan suatu lapisan pasir atau kerikil setebal 10 cm.
Bahan-bahan harus disimpan dengan cara yang sedemikian rupa untuk mencegah
segregasi dan untuk menjamin gradasi yang sesuai serta mengontrol kadar air. Tinggi
maksimum tumpukan 5 m.
Penumpukan berbagai ragam agregat untuk hotmix, beton, harus dipisahkan dengan
papan pembatas guna mencegah pencampuran bahan-bahan.
Tumpukan agregat harus dilindungi dari hujan untuk mencegah kejenuhan agregat
yang akan mengakibatkan penurunan kualitas.
3. Cara Pengukuran Material / Campuran
Konsultan dapat mengenakan pembatasan bobot pengangkutan untuk perlindungan
terhadap setiap jalan atau struktur yang ada disekitar proyek.
Pengangkutan hotmix perlu ditutup dengan bahan tebal guna mempertahankan suhu
campuran. Walaupun pekerjaan ini kelak bukan pekerjaan utama tetapi perlu
ditekankan karena akan mempengaruhi kinerja jembatan nantinya.
Bilamana terjadi gangguan diantara operasi berbagai pekerjaan, Konsultan akan
mempunyai wewenang untuk memerintahkan Pelaksana Kegiatan dan untuk
menentukan urutan pekerjaan yang diperlukan guna mempercepat penyelesaian
seluruh proyek.
4. Pengujian Material Yang Akan Digunakan
Semua material dari setiap bagian pekerjaan akan di inspeksi oleh Konsultan.
Setiap saat Konsultan akan menginspeksikan material yang akan digunakan
berdasarkan atas jadwal Kerja Pelaksana Kegiatan.
Walaupun bahan yang disimpan telah disetujui sebelum penyimpanan, namun dapat
diperiksa ulang dan ditest kembali oleh Konsultan.
Material yang akan digunakan harus ditest di laboratorium untuk mendapat
persetujuan dari Konsultan, jenis dan jumlah test seperti yang disebutkan dalam
spesifikasi.
5. Job Mix Formula
Agar mendapatkan campuran yang baik dan memenuhi persyaratan spesifikasi,
sebelum pekerjaan dimulai perlu dibuatkan dahulu suatu job Mix Formula yang
disetujui Konsultan, antara lain untuk pekerjaan Beton.
6. Pengujian Rutin Laboratorium
Selama pelaksanaan seperti yang disebutkan dalam spesifikasi, bahan-bahan atau
campuran-campuran perlu dilakukan pengujian rutin harian atau selama pekerjaan
berlangsung guna menjamin kualitas sesuai dengan persyaratan.
Jenis dan frekuensi/jumlah test rutin ini seperti yang disebutkan dalam spesifikasi.
7. Pengujian Hasil Kerja / Test Lapangan (Uji Terima)
Sertelah pekerjaan selesai dilaksanakan, produk tersebut perlu diadakan pengujian/test
lapangan guna memastikan kwalitas pekerjaan sesuai dengan yang direncanakan.

Tahap demi tahap pekerjaan ini sebagaimana yang didiagramkan pada Gambar
3.13.
Flowchart Pengendalian Mutu.
PENGAWAS / PROYEK KONTRAKTOR

Survey lokasi sumber bahan

Penentuan sumber bahan

Permohonanpemakaian bahan

Pemeriksaan mutu bahan

Pemeriksaan mutu bahan Proses pengelolaan material

Proses penyiapan rumusan kerja

JMF

Pelaksanaan pekerjaan

Pengujian mutu

Penanganan perbaikan
Mutu sesuai Spec.

Persetujuan mutu hasil


pekerjaan

Dokumentasi mutu hasil pekerjaan

GAMBAR E.13. FLOWCHART PENGENDALIAN MUTU

100
1001
ADMINISTRASI DAN FORMULIR-FORMULIR

Gambar E.14 menunjukkan kelengkapan administrasi proyek yang umum digunakan.


Dokumen kontrol diperlukan proyek anatara lain sebagai berikut dibawah ini:
Buku direksi

Time schedule

MCA (Mutual Check Awal)

Request & shop drawing

Laporan harian

Laporan mingguan

Risalah Rapat

Berita acara opname pekerjaan

Record cuaca

Photo dokumentasi

Change order

Addendum

Monthly certificate (MC)

PHO (Provinsial Hand Over) / FHO (Final Hand Over)

Dan lain-lain disesuaikan dengan kebutuhan proyek.


TAHAP AWAL TAHAP PELAKSANAAN TAHAP PEBAYARAN PHO PHO

1. Dokumen Kontrak
2. Gambar Rencana Berita
3. Struktur Organisasi Acara PHO
4. Buku Direksi

7. Risalah Rapat
8. BA. Opname Pekerjaan
9. Record Cuaca
10. Photo dokumentasi
11. Change Order
12. Addendum
13. Quality Control
14. As Built Drawing

GAMBAR E.14. ADMINISTRASI PROYEK PERIODE PELAKSANAAN FISIK

PENGENDALIAN KUALITAS
Pengawasan kuantitas, akan mengecek bahan-bahan/campuran yang ditempatkan
atau dipindahkan oleh Pelaksana Kegiatan atau yang terpasang. Secara umum terdapat 2 jenis
pemeriksaan kuantitas yaitu :
Pemeriksaan terhadap bahan-bahan yang bisa dibayarkan sebagai material saja.
Pemeriksaan terhadap hasil kerja.
Untuk pemeriksaan hasil kerja Konsultan akan memproses bahan-bahan/campuran berdasarkan
atas :
Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.
Metode Perhitungan
Lokasi kerja.
Jenis Pekerjaan
Tanggal diselesaikannya pekerjaan.
Setelah produk pekerjaan memenuhi persyaratan baik kualitas maupun elevasi dan persyaratan
lainnya, maka pengukuran kuantitas dapat dilakukan agar volume pekerjaan dengan teliti/akurat
yang disetujui oleh Konsultan sehingga kuantitas dalam kontrak adalah benar di ukur dan di
rekomendasikan untuk dibayar oleh Konsultan dan mendapat persetujuan Pemberi Tugas.
Rekomendasi hasil pengukutan kuantitas ini

Harus dalam suatu Berita Acara yang disetujui bersama oleh tiga pihak pelaksana proyek.

Formulir untuk perhitungan kuantitas tersebut untuk semua item pekerjaan dalam kontrak berupa
Quantity Sheet dapat disiapkan semuanya oleh Konsultan.

PENGENDALIAN BIAYA PELAKSANAAN PROYEK


Didalam kontrak pelaksanaan pekerjaan tercantum :
Biaya proyek.
Estimated quantity /volume pekerjaan.
Harga satuan pekerjaan
Guna pengendalian biaya pelaksanaan proyek, hal-hal pokok yang perlu diperhatikan antara lain
sebagai berikut :
Pengukuran hasil pekerjaan, harus dilakukan dengan akurat dan benar-benar
sehingga kuantitas yang dibayar sesuai dengan gambar rencana. Dengan demikian
volume dalam kontrak tidak dilampaui yang pada akhirnya biaya yang dikeluarkan
sudah sesuai dengan yang dianggarkan.

Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang sudah diterima dari segi
pengukuran/kuantitas dan kualitas, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah benar-
benar untuk pekerjaan yang sudah memenuhi spesifikasi.

Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang tercantum dalam kontark dan
harga satuan pekerjaan yang sudah ada dalam kontrak pelaksanaan, sehingga biaya
proyek dibayarkan sesuai dengan item pekerjaan yang ada dalam kontrak.

PEMERIKSAAN MONTHLY CERTIFICATE (MC)

Pelaksanaan kegiatan harus menyerahkan suatu nilai estimasi dari pekerjaan yang
dilaksanakan kepada Site Engineer pada setiap akhir bulan yang berjalan, yang selanjutnya
disebut sebagai Sertifikat bulanan (Monthly Certificate MC). Format sertifikat bulanan harus
sesuai dengan standar atau di usulkan oleh Konsultan dan disetujui oleh Pemberi Tugas.
Site Engineer akan memeriksa/memverifikasi kemajuan pekerjaan yang diajukan pada
sertifikat bulanan berdasarkan hasil pemeriksaan volume (Chief Inspector) dan hasil pemeriksaan
mutu (Quality Engineer). Apabila telah dianggap sesuai dengan sebenarnya yang telah terjadi di
lapangan, selanjutnya dapat disetujui untuk menandatangani bersama oleh wakil Pelaksana
Kegiatan, Konsultan, dan Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik.

PEMERIKSAAN PEMBAYARAN AKHIR

Tim Pengawas Teknis akan memeriksa kembali seluruh pembayaran yang telah lalu.
Pembayaran terdahulu yang sudah disetujui apabila terdapat kesalahan masih dapat dikoreksi
pada pembayaran berikutnya.

Dalam tahap pembayaran akhir, perlu diperiksa dan dievaluasi kuantitas yang telah
dibayar sebelumnya, sehingga kuantitas/volume yang dibayar dalam pembayaran akhir
merupakan final quantity yang benar.

PROSEDUR PERUBAHAN (CONTRACT CHANGE ORDER)

Perubahan terhadap pekerjaan dapat dimulai oleh Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik
atau Pelaksana Kegiatan dan harus disetujui dengan suatu Perintah perubahan yang ditanda
tangani oleh kedua belah pihak. Jika dasar pembayaran yang ditetapkan dalam suatu Perintah
Perubahan tersebut menyajikan suatu perubahan dalam struktur Harga Satuan Jenis Pembayaran
atau suatu perubahan yang diperkirakan dalam Jumlah Kontrak, Maka Perintah Perubahan harus
dirundingkan dan dirumuskan dalam suatu Addendum.

SERTIFIKAT PENYELESAIAN AKHIR

Bila Pelaksanaan Kegiatan menganggap pekerjaan akan selesai, termasuk semua


kewajiban dalam Periode Jaminan, maka Pelaksana Kegiatan harus membuat permohonan untuk
serah terima pertama.

Setelah penyelesaian dari setiap pekerjaan perbaikan yang diminta oleh Panitia Serah
Terima, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan akhir terhadap pekerjaan tersebut, maka Konsultan
membantu mempersiapkan Sertifikat Penyelesaian Akhir.
PERNYATAAN PERHITUNGAN AKHIR

Pelaksana Kegiatan harus membuat permohonan untuk pembayaran perhitungan akhir,


bersama-sama dengan semua rincian pendukung sebagaimana diperlukan oleh Satuan Kerja Non
Vertikal Tertentu Proyek Fisik.

Setelah peninjauan kembali oleh Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Proyek Fisik dan
jika diperlukan, amandemen oleh Pelaksana Kegiatan, Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik akan
mengeluarkan suatu pernyataan Perhitungan Akhir yang disetujui untuk pembayaran oleh
Pemberi Tugas.

ADDENDUM PENUTUP

Berdasarkan pada rincian Pernyataan Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik mengenal
Perhitungan Akhir, setelah disetujui dan ditanda tangani Pelaksana Kegiatan, Kepala Satuan
Kerja Proyek Fisik akan menyampaikan addendum penutupan tersebut kepada Pemberi Tugas
untuk ditanda tangani bersama-sama dengan Pernyataan Perhitungan Akhir yang disetujui.

DOKUMEN CATATAN PROYEK

Pelaksana Kegiatan harus memelihara suatu catatan yang cermat tentang semua
perubahan dalam Dokumen Kontrak dan Dokumen Catatan Proyek selama pelaksanaan
pekerjaan.
E. 5 PROGRAM KERJA

E.5.1 UMUM

Rencana kerja merupakan gambaran menyeluruh dan komprehensif usulan dari konsultan
dalam melaksanakan pekerjaan yang akan ditangani sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja
(KAK) yang telah diberikan. Dalam rencana kerja ini akan diuraikan urutan urutan pekerjaan,
konsep penanganan masalah, tanggung jawab dan personil yang terlibat, pengerahan sarana
maupun personil pendukung, schedule pelaksanaan pekerjaan serta schedule personil. Untuk
memudahkan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka harus disusun Bagan Alir Pelaksanaan
Pekerjaan. Bagan Alir ini berisikan tahapan-tahapan pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga
dalam penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan harus berpatokkan pada Bagan Alir
Pelaksanaan Pekerjaan tersebut.

E.5.2 RENCANA KERJA

Rencana kerja ini disusun berdasarkan tahapan kegiatan sesuai dengan lingkup pekerjaan
sesuai dengan KAK. Secara garis besar rencana kerja pelaksanaan pekerjaan diuraikan sebagai
berikut :

1. Persiapan dan Orientasi Awal Lapangan


a. Lingkup Kegiatan :
Melaksanakan orientasi lapangan awal terhadap rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan.
Melaksanakan kajian terhadap hasil perencanaan setelah dilakukan peninjauan awal
lapangan.
Melaksanakan sosialisasi.
b. Personil Yang Bertugas :
Team Leader
Ahli Irigasi
c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Minggu Ke-1 dan Ke-2 pada Bulan Ke-1
2. Penyusunan Review Desain
Untuk lingkup kegiatan Supervisi Pembangunan Tahun Anggaran 2014 ini, konsultan juga
ditugaskan untuk mengadakan review terhadap desain yang sudah ada sesuai dengan hasil
evaluasi. Rencana kerja untuk penyusunan review desain sesuai dengan lingkup kegiatan dapat
diuraikan sebagai berikut :
1) Pengumpulan Data dan Evaluasi Hasil Studi Yang Ada
a. Lingkup Kegiatan :
Pengumpulan data sekunder dan primer
Evaluasi hasil studi yang ada.
b. Personil Yang Bertugas :
Team Leader
Ahli Irigasi
c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-1 hingga Bulan ke-4
2) Evaluasi Hasil Survei Pengukuran dan Mekanika Tanah

a. Lingkup Kegiatan :
Evaluasi jaringan irigasi dan site bangunan
Evaluasi hasil survei pengukuran dan penggambaran
Evaluasi hasil penyelidikan mekanika tanah dan laboratorium

b. Personil Yang Bertugas :


Team Leader (Koordinator)
Ahli Irigasi

c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-1 sampai dengan Bulan Ke-4 (termasuk penggambaran
jika diperlukan)
3) Evaluasi Hasil Analisa dan Perencanaan Detail

a. Lingkup Kegiatan :
Evaluasi hasil analisa kebutuhan air irigasi, daerah layanan irigasi, analisa hidrolika
Evaluasi hasil penggambaran dan RAB
Pelaporan
b. Personil Yang Bertugas :
Team Leader (Koordinator)
Ahli Irigasi
Quantity Engineer

c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-1 sampai dengan Bulan Ke-6
3. Supervisi Konstruksi
Konsultan supervisi akan melaksanakan tugas-tugas pengawasan konstruksi secara
keseluruhan dan memberikan bantuan teknis maupun non teknis dalam pelaksanaannya, dengan
rencana kerja sebagai berikut :
1) Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction).
a. Lingkup Kegiatan :
Meliputi mobilisasi tim konsultan, evaluasi organisasi pelaksanaan di lapangan dan
koordinasi dengan pihak terkait.

b. Personil Yang Bertugas :


Team Leader (Koordinator)
Ahli Irigasi
Quantity Engineer
Pengawas Lapangan/Inspector
c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada minggu ke-1 pada Bulan Ke-I
2) Saat Awal Proyek (AT-Project Starting)
a. Lingkup Kegiatan :
Meliputi koordinasi awal dengan pihak proyek dan kontraktor, pengecekan bersama
terkait dengan item-item pekerjaan dan jadwal pelaksanaan konstruksi, sistem kerja dll.
b. Personil Yang Bertugas :
Team Leader (Koordinator)
Ahli Irigasi
Quantity Engineer
Pengawas Lapangan/Inspector
c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada minggu ke-1 dan ke-2 pada Bulan Ke-I

3) Pelaksanaan Proyek (Project Construction).


a. Lingkup Kegiatan :
Meliputi pengendalian kualitas pelaksanaan pekerjaan, pengukuran tahap pelaksanaan
pekerjaan dan pembayarannya, monitoring dan pelaporan pelaksanaan pekerjaan,
pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan dan dokumentasi.
b. Personil Yang Bertugas :
Team Leader (Koordinator)
Ahli Irigasi
Quantity Engineer
Pengawas Lapangan
c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada minggu ke-1 pada Bulan Ke-I sampai dengan Bulan Ke-7
4) Saat Proyek Selesai (Project Completion)
a. Lingkup Kegiatan :
Meliputi masa pemeliharaan, pemeriksaan bersama, serah terima pekerjaan, pembayaran
akhir dan evaluasi dan penilaian pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.
b. Personil Yang Bertugas :
Team Leader (Koordinator)
Ahli Irigasi
Quantity Engineer
Pengawas Lapangan
c. Waktu Kegiatan :
Dilaksanakan pada Bulan Ke-7
E.5.3 PELAPORAN
A. Jenis Laporan

Konsultan memahami bahwa produk dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah beberapa jenis
laporan yang disusun dan diserahkan selama masa kontrak. Sesuai dengan KAK maka Konsultan
harus menyerahkan beberapa jenis laporan dan jumlah sesuai dengan tertuang di KAK ke Satuan
Kerja, meliputi :

1) Laporan Pendahuluan ( Inception report )


Laporan Pendahuluanberisi susunan tim pengawas, program kerja, jadwal pelaksanaan, hasil
pengecekan lapangan awal dan metode pelaksanaan pekerjaan, Laporan ini diserahkan
selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kalender sejak SPMK diterbitkan, sebanyak 4
(Empat)rangkap.

2) Laporan Bulanan
Laporan harus memuat keterangan mengenai mobilisasi dan demobilisasi, kemajuan
pelaksanaan pekerjaan, masalah teknis dan non teknis yang dihadapi dan rencana
pelaksanaan pekerjaan pada periode berikutnya, Laporan ini harus disampaikan pada setiap
akhir bulan dan dibuat dalam bahasa Indonesia rangkap 4 (Empat) setiap bulannya.

3) Laporan Utama
Laporan Utama berisikan tentang hasil kegiatan supervisi secara menyeluruh dan detail
termasuk pelaksanaan pembuatan desain yang dilakukan selama pelaksanaan konstruksi,
Laporan ini dibuat sebanyak 4 (Empat) rangkap dan diserahkan paling lambat akhir kontrak.

4) Laporan Monitoring Lingkungan


Laporan ini berisi tentang kajian-kajian mengenai seberapa jauh dampak lingkungan yang
dapat terjadi akibat pelaksanaan kegiatan. Laporan ini dibuat dalam rangkap 4 (Empat) dan
diserahkan paling lambat akhir kontrak.

110
1101
5) Laporan Pengawasan Mutu
Merupakan laporan yang berisi proses quality control berupa hasil test, selama pelaksanaan
konstruksi. Laporan Pengawasan Mutu dibuat dalam buku tersendiri, dibuat sebanyak 4
(empat) rangkap, dan diserahkan selambat-lambatnya akhir pelaksanaan.

6) Laporan Foto Dokumentasi


Menampilkan dokumentasi pelaksanaan pekerjaan dari awal sampai akhir pelaksanaan
pekerjaan dan menyerahkan. Laporan ini dibuat sebanyak 4 (empat) album.

7) File Video
Menampilkan video dokumentasi pelaksanaan pekerjaan dari awal sampai akhir pelaksanaan
pekerjaan. Video dibuat sebanyak 4 (empat) set.

8) Gambar Review / Review Disaign


Berisikan gambar hasil review disain terhadap rencana yang tertuang dalam Dokumen
Kontrak dibuat dalam ukuran A3 dibuat sebanyak 4 (empat) rangkap dan diserahkan paling
lambat akhir kontrak.

9) Soft Copy dalam eksternal Hardisk


Konsultan juga menyerahkan file-file laporan, dalam bentuk eksternal Hardisk. Selama
pelaksanaan kegiatan diperlukan dokumentasi terutama pada peristiwa penting yang terjadi.
Dokumentasi bukan hanya meliputi foto-foto pelaksanaan pekerjaan tapi termasuk juga live
documentation (video) tentang alur keseluruhan pekerjaan. Soft copy ini di masukkan dalam
eksternal Hardisk dibuat sebanyak 1 (satu) buah dan diserahkan paling lambat akhir kontrak
kepada pemilik pekerjaan.
E. 6 ORGANISASI DAN PERSONIL
E.6. 1 Umum
Dalam bab ini diuraikan bagan organisasi pengguna jasa, penyedia jasa, struktur
organisasi yang menggambarkan hubungan koordinasi antara pengguna jasa dan penyedia jasa
serta masing-masing Tim Konsultan. Dalam struktur organisasi pelaksana pekerjaan yang
melibatkan beberapa tenaga profesional, tenaga sub profesional dan tenaga penunjang dengan
tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya. Untuk
memperjelas alur koordinasi dalam pelaksanaan pekerjaan ini, maka dibuat bagan organisasi
pelaksana agar pelaksanaan pekerjaan berjalan sesuai KAK. Disamping itu konsultan juga
menyadari adanya mekanisme kontrol terhadap proses dan hasil dari pekerjaan konsultan.

E.6. 2 Bagan Organisasi dan Organisasi Pelaksana


Bagan organisasi untuk pelaksanaan pekerjaan dimaksudkan untuk membuat jalur
koordinasi untuk semua personil pelaksana. Spesifikasi tenaga ahli yang diperlukan adalah
sebagai berikut:

1) Profesional Staff
a. Ketua Tim (Team Leader)
Seorang Sarjana Teknik Sipil/Pengairan (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air
minimal ahli muda dengan pengalaman minimum 6 tahun dalam bidang planning,
perencanaan, supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk menangani pekerjaan
sejenis. Tugas dan tanggung jawab Team Leader yaitu melakukan pengendalian pelaksanaan
dan kualitas pekerjaan secara menyeluruh yang mencangkup aspek teknis, administrative
dan logistik. Perkiraan penugasan selama 7 bulan.
b. Ahli Irigasi
Seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam bidang planning, perencanaan,
supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk menangani pekerjaan bangunan air
atau sejenis. Tugas dan tanggung jawab yaitu melakukan kajian dan review desain,
pengawasan/pengendalian mutu dan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi sipil,
Perkiraan penugasan selama 6 bulan.

c. Quality Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan pengawasan
pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan tanggung jawabnya
yaitu mengevaluasi kualitas pekerjaan, melakukan pengawasan / mutu pekerjaan. Perkiraan
penugasan selama 5 bulan.

d. Quantity Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil yang memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan pengawasan
pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan tanggung jawabnya
yaitu mengevaluasi kuantitas pekerjaan, melakukan pengawasan dan pengendalian kuantitas
pekerjaan. Perkiraan penugasan selama 5 bulan

2) Sub Profesional Staff


Tenaga Sub professional staff yang diperlukan untuk membantu kelancaran pekerjaan adalah
Pengawas Konstruksi/Inspektor, yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan pengalaman
minimum 4 tahun dalam pengawasan/pengendalian pekerjaan struktur dan bangunan sipil,
dibutuhkan sebanyak 3 orang. Perkiraan penugasan selama 7 bulan, sedangkan surveyor
dibutuhkan 1 orang yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan pengalaman minimal 4
tahun. Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan, bertugas membantu pengukuran pada saat MC0,
termijn dan MC100 dengan alat yang disediakan oleh kontraktor dan menentukan titik letak
tapak konstruksi.

3) Supporting Staff
Selain personil-personil tersebut, dalam pelaksanaan pekerjaan konsultan juga menggunakan
Supporting staff untuk membantu kelancaran pekerjaan, seperti :
1. Draftman Autocad, Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan, tugasnya membantu tenaga
ahli dalam memeriksa dan menyempurnakan gambar shop Drawing dan Asbuilt Drawing.

2. Administrasi Keuangan, Perkiraan penugasan selama 7 bulan.

3.5 Apresiasi dan Inovasi Untuk Penilaian Kondisi Jaringan Irigasi Terkait dengan
Rencana Rehabilitasi Jaringan Irigasi

PENILAIAN KONDISI JARINGAN IRIGASI

Selain data kuantitas jaringan irigasi, data kualitas jaringan irigasi juga diperlukan, yakni
mengenai kondisi fisik jaringan irigasi, apakah jaringan irigasi tersebut dalam kondisi baik,
cukup baik atau sudah rusak. Hal ini penting untuk program penanganan jaringan irigasi.

Komponen yang Dinilai


Dalam penilaian, jaringan irigasi dibagi dalam beberapa komponen utama yang dinilai,
yaitu :
a. Bangunan Utama
b. Saluran Pembawa / Talang / Siphon / Terowongan
c. Bangunan Bagi / Bangunan Bagi Sadap / Bangunan Sadap
d. Saluran Pembuang
e. Bangunan pada Saluran Pembuang
Tiap komponen utama tersebut di atas dibagi lagi menjadi komponen yang lebih kecil,
dan masing-masing komponen akan dinilai kondisinya.

Bobot Kondisi tiap Komponen

Kontribusi nilai tiap komponen terhadap keseluruhan jaringan irigasi bobotnya tidak
sama, bobot tiap komponen disusun berdasarkan besarnya pengaruh komponen tersebut
terhadap pelayanan air irigasi.
Bobot tiap komponen utama telah dirumuskan sebagai berikut :
Komponen
1. Bangunan utama
2. Saluran pembawa
3. Bangunan bagi, bagi/sadap, sadap
4. Saluran pembuang
5. Bangunan pada saluran pembuang
Jumlah

Bobot komponen utama tersebut merupakan kontribusi dari bobot komponen yang lebih
kecil.

Apabila pada suatu jaringan irigasi tidak memerlukan komponen saluran pembuang atau
komponen bangunan pada saluran pembuang, atau kedua-duanya, maka penilaian untuk
komponen tersebut diambil maksimum.
Distribusi komponen dan bobotnya pada jaringan irigasi adalah sebagai berikut :

Pintu & Pintu Banjir 5%


Endapan/Lumpur 3%
Bang. Pengambilan 12%
Pengukur Debit 3%

Papan Eksploitasi 1%

Bang. Penguras 6% Pntu 4%

Endapan/Lumpur 2%

Mercu 5%
Tubuh Bendung 10%
Bangunan Utama 35% Ruang Olakan 4%

Papan Skala 1%
4% Sayap 2%
Sayap
Koperan 2%
Jembatan 1%

Bang. Pelegk. Rumah PPA/Gudang 1%


3%
Bendung
Gawar Banjir 1%

Erosi dan atau 5%


Sedimentasi

Jaringan 100% Saluran Pembawa 25% Profil Saluran 12%

Bocoran 8%

Pintu Bagi / Sadap 12%


dan Pengatur
Bngunan Pengukur 5%
Bang. Bagi / Bagi- 25% Debit
Sadap / Sadap

Tubuh Bngunan 8%
Erosi dan atau 3%
Saluran pembuang 10%
sedimentasi

Profil saluran 3%
Bangunan pada saluran Pintu Pengatur 3%
5%
pembuang

Tubuh Bangunan 3%
Distribusi Komponen dan Bobotnya pada Bangunan Utama (Selain bendung tetap/bendung
gerak) adalah sebagai berikut :

Pengambilan Bebas

Waduk

Pompa

Cara Penilaian Fisik Komponen Bangunan pada Jaringan Irigasi

Kriteria penilaian tiap komponen jaringan di lapangan dinilai secara visual berdasarkan 3
(tiga) skala penilaian, yaitu : Baik (B), Cukup (C), dan Rusak (R).

Sebagai pedoman dalam penilaian secara visual dipakai ketentuan penilaian sebagai berikut :

A. Bangunan Utama (Bendung Tetap)

1.1. Bangunan Pengambilan

Pintu Pengambilan (Intake)

Baik jika :

1.Terdapat atap pelindung pintu

2.Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan


hidrolis

3.Pengaman pintu dan tembok penahan banjir (banjir


skerm/skimming wall)
4.Semua daun pintu yang terpasang tidak bocor

5.Terdapat petunjuk (manual) operasi bendung

6.Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar

2. Atap pelindung dan pengaman pintu sebagian ada yang rusak

3. Daun pintu yang terpasang dijumpai kebocoran

4. Kondisi rata-rata aspek di atas 50% - 79%

Rusak jika : 1. Semua pintu tidak bias dioperasikan dengan lancar

2. Tidak terdapat atap pelindung dan pengaman pintu pengambilan


(intake)

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

1.2. Endapan/Lumpur

Baik jika : 1. Endapan di depan pintu tidak setinggi ambang pintu pengambilan
(intake)

2. Mudah/selalu dikuras secara berkala

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Endapan di depan pintu mencapai tinggi ambang pintu


pengambilan (intake)

2. Tidak selalu dikuras secara berkala

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Endapan sering melampaui ambang intake

2. Sulit / tidak pernah / jarang dikuras

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

1.3.Pengukur Debit
Baik jika : 1. Terdapat sarana pengukuran debit yang kondisi fisik dan
hidrolisnya berfungsi dengan baik

2. Dilengkapi dengan table pembaca debit

3. Dilengkapi dengan papan duga (peilschaal) pada posisi yang


benar

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Sarana pengukuran debit kurang akurat

2. Tidak terdapat papan duga (peilschaal)

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Sarana pengukuran debit tidak berfungsi

2. Kondisi fisik dalam keadaan rusak

3. Tidak terdapat sarana pengukur debit dan papan duga

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

1.4.Papan Operasi Bendung (Papan Eksploitasi)

Baik jika : 1. Terdapat papan operasi bendung yang masih baik

papan tersebut dapat diisi data

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Terdapat papan operasi bendung

2. Tidak tersebut tidak dapat diisi data

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Tidak terdapat papan operasi bendung

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2. Bangunan Penguras (Pembilas)

2.1. Pintu Penguras (Pembilas)


Baik jika : 1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan
hidrolis

2. Semua daun pintu yang terpasang tidak bocor

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan baik, secara
mekanis dan hidrolis

2. Terdapat kebocoran pada daun pintu terpasang

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Semua pintu tidak bias dioperasikan

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.2. Endapan/Lumpur

Baik jika : 1. Tidak ada endapan di hilir pintu

2. Kantong Lumpur dalam keadaan baik

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Terdapat endapan di hilir pintu yang akan mengganggu


pengurasan

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Di hilir pintu penuh dengan endapan lumpur

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

Mercu Bendung

Baik jika : 1. Mercu dalam keadaan baik

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Pada mercu terdapat lubang di beberapa tempat

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

120
1201
Rusak jika : 1. Mercu dalam keadaan rusak berat

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.3 Lantai Hilir (Ruang Olakan)

Baik jika : 1. Tidak terdapat gerusan di hilir yang terus menerus dan
membahayakan konstruksi

2. Tidak ada rembesan yang keluar di hilir

3. Ruang olakan berfungsi dengan baik untuk meredam energi

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Terdapat gerusan di hilir yang terus menerus dan gejala
rembesan yang menembus ruang olakan

2. Ruang olakan masih berfungsi untuk meredam energi

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Gerusan di hilir sudah membahayakan mercu/tubuh bendung

2. Ruang olakan sudah tidak berfungsi

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.4 Papan Duga (Peilschaal)

Baik jika : 1. Terdapat papan duga yang bias dibaca dengan baik

2. Terpasang pada posisi elevasi yang benar untuk kondisi muka air
normal dan banjir

3. Terdapat table pembaca debit aliran yang melimpas di atas mercu

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Papan duga sudah tidak dapat dibaca

2. Papan duga terpasang pad elevasi yang salah

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%


Rusak jika : 1. Tidak terdapat papan duga

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.5 Sayap (di hilir dan di hulu tubuh bendung)

Baik jika : 1. Konstruksi sayap masih baik

2. Lubang rembesan (wheepholes) berfungsi baik

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Konstruksi sayap dalam keadaan utuh, tetapi terdapat beberapa
retakan

2. Lubang rembesan kurang berfungsi

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Terdapat banyak retakan/patahan

2. Lubang rembesan sudah tidak berfungsi

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.6 Koperan

Baik jika :

Cukup jika

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Terdapat gerusan pada koperan yang membahayakan sayap

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

3. Bangunan Pelengkap Bendung

Baik jika : 1. Terdapat jembatan di atas bendung (apabila bendung tersebut


mempunyai 2 intake/penguras kanan-kiri)
Cukup jika : 1.

Rusak jika : 1.

A. Bangunan Utama Lainnya

1. Bangunan Pengambilan

1.1.Gawar Banjir

Baik jika : 1. Sistem otomatis muka air dan sistem informasi banjir masih
berfungsi baik

2. Mempunyai sistem komunikasi dengan kantor dinas

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Sistem otomatis muka air dan sistem informasi banjir tidak
berfungsi baik

2. Kondisi rata-rata aspek di atas 50% - 79%

Rusak jika : 1. Sistem otomatis muka air dan sistem informasi banjir sudah tidak
berfungsi lagi
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2. Pengambilan Bebas (Free Intake)

2.1. Morfologi (regime) sungai

Baik jika : 1. Debit air baku relatif normal sepanjang musim

2. Aliran air yang masuk ke jaringan irigasi berjalan lancar tanpa


adanya bangunan pengarah

3. Morfologi sungai relatif stabil

4. Tidak terdapat banyak endapan di depan free intake

5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Diperlukan bangunan pengarah untuk memperlancar aliran air


yang masuk ke jaringan irigasi

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Debit air baku selalu kering pada musim kemarau

2. Diperlukan bangunan pengarah untuk memperlancar aliran air


yang masuk ke jaringan irigasi

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.2. Pintu Pengambilan (Free Intake)

Baik jika : 1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik secara mekanis dan
hidrolis

2. Semua daun pintu yang terpasang tidak dijumpai kebocoran

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar

2. Daun pintu yang terpasang dijumpai kebocoran

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Semua pintu tidak bias dioperasikan


2. Tidak terdapat pintu

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

3. Waduk

3.1 Endapan/Lumpur

Baik jika : 1. Laju pengendapan lebih kecil dari perkiraan desain

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Laju pengendapan sama dengan perkiraan desain

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Laju pengendapan lebih besar dari perkiraan desain

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

3.2. Pintu Pengambilan (Intake)

Baik jika : 1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan
hidup

2. Semua pintu yang terpasang tidak bocor

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Sebagian pintu tidak dapat dioperasikan dengan lancar

2. Daun pintu yang terpasang dijumpai kebocoran

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Semua pintu tidak bisa dioperasikan

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

3.3. Bangunan/Pintu Pelimpah (Spillway)

Baik jika : 1. Semua pintu dapat dioperasikan dengan baik, secara mekanis dan
hidrolis

2. Semua daun pintu yang terpasang tidak bocor


Rusak jika : 1.

4. Pompa

Kondisi Mekanis

Baik jika : 1.

Cukup jika : 1.

Rusak jika : 1.

B. Saluran Pembawa

1. Pengendapan dan/atau Erosi

Baik jika : 1. Tidak ada endapan dan atau yang berpengaruh terhadap kapasitas
rencana saluran, dan atau terhadap fungsi bangunan ukur

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Endapan dan/atau erosi sedikit berpengaruh terhadap kapasitas


rencana saluran dan atau terhadap fungsi bangunan ukur ( 30%)
2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Endapan dan/atau erosi berpengaruh besar terhadap kapasitas


rencana saluran dan/atau terhadap fungsi bangunan ukur (> 30%)

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.Tubuh Saluran

2.1. Profil Saluran

Baik jika : 1. Tanggul saluran mempunyai stabilitas yang baik

2. Tanggul mempunyai tinggi jagaan yang cukup untuk mencegah


air melimpah (over topping) selama masa operasi

3. Pada saluran pasangan (lining) keadaannya masih baik

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Stabilitas tanggul memenuhi syarat

2. Elevasi muka air maksimum selama operasi masih dalam batas


jagaan yang diijinkan

3. Pada saluran pasangan (lining) terdapat sedikit bagian yang


retak/pecah ( 30%)

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Stabilitas tanggul tidak memenuhi syarat

2. Tinggi tanggul tidak memenuhi syarat untuk elevasi air


maksimum selama operasi

3. Pada saluran pasangan keadaannya banyak yang retak atau pecah


(> 30%)

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.2.Talang

Baik jika : 1. Tidak terdapat bocoran atau bagian yang retak/pecah


2. Terdapat kisi-kisi penyaring sampah (trashrack)

3. Bila talang berfungsi ganda sebagai jalan (talang tertutup), ada


penguras yang berfungsi baik

4. Konstruksi aman terhadap muka air banjir (jika talang melintasi


sampai saluran pembuang)

5. Konstruksi aman terhadap lalu lintas kendaraan (jika talang


melintasi jalan)

6. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Tidak terdapat kebocoran atau bagian yang retak/pecah

2. Tidak ada penyaring sampah (trashrack)

3. Fasilitas penguras kurang berfungsi dengan baik

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Banyak terdapat bocoran/retak/pecah

2. Tidak ada penyaring sampah (trashrack)

3. Fasilitas penguras sudah tidak berfungsi

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.3.Siphon

Baik jika : 1. Tidak terdapat bocoran atau bagian yang retak

2. Terdapat kisi-kisi penyaring sampah (trashrack)

3. Terdapat saluran (pelimpah/spillway)

4. Fasilitas penguras berfungsi baik

5. Konstruksi aman terhadap gerusan yang terjadi pada dasar sungai

6. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Terdapat saluran pelimpah dan trashrack


2. Fasilitas penguras kurang berfungsi dengan baik

3. Tidak terdapat bocoran atau bagian yang retak

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Banyak terdapat kebocoran/retak

2. Tidak ada penyaring sampah (trashrack)

3. Fasilitas penguras tidak berfungsi

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2.4.Terowongan

Baik jika : 1. Dapat mengalirkan air sesuai dengan kapasitas rencana

2. Dinding terowongan diberi perkuatan sesuai dengan keadaan


setempat (beton, batu cadas, atau pasangan)

3. Dapat dilalui oleh petugas Operasi dan Pemeliharaan untuk


inspeksi

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Dapat mengalirkan air sesuai kapasitas rencana

2. Dinding terowongan tidak diberi perkuatan

3. Tidak dapat dilalui petugas operasi dan pemeliharaan untuk


inspeksi

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Sering terjadi tanah terban (longsor) pada dinding terowongan
sehingga terjadi pengumpulan endapan yang mengakibatkan
menurunnya kapasitas aliran menjadi lebih kecil dari kapasitas
rencana

2. Dinding terowongan tidak diberi perkuatan

3. Tidak dapat dilalui oleh petugas inspeksi


3. Bocoran

Baik jika : 1.

Cukup jika : 1.

Rusak jika : 1.

a. Bangunan Bagi / Bagi Sadap / Sadap

1. Pintu Bagi / Bagi Sadap / Sadap & Pengatur

Baik jika : 1. Semua pintu berfungsi dengan baik secara mekanis dan hidrolis

2. Tersedia petunjuk (manual) operasi pintu

3. Terdapat atap pelindung pintu untuk bangunan bagi/bagi


sadap/sadap yang besar

4. Tidak terdapat bocoran pada semua pintu terpasang

5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Semua pintu masih berfungsi dengan baik

2. Tidak tersedia petunjuk operasi pintu

130
1301
3. Bocoran pada pintu masih mempengaruhi operasi ( 30%)

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Semua pintu sudah tidak berfungsi

2. Tidak tersedia petunjuk operasi

3. Tingkat kebocoran pintu sudah merubah kapasitas rencana

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2. Bangunan Pengukur Debit

Baik jika : 1. Dapat difungsikan dan dapat mengukur debit dengan baik

2. Dapat diterima baik oleh petani

3. Terdapat papan duga (peilschaal)

4. Tersedia table pembaca debit

5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Dapat mengukur debit dengan baik

2. Petani belum menerima apa yang dihasilkan oleh pengukur debit

3. Terdapat papan duga (peilschaal)

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Bangunan ukur sudah tidak berfungsi lagi

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

3. Tubuh Bangunan

Baik jika : 1. Tubuh bangunan tidak retak/pecah yang membahayakan


konstruksi dan fungsi bangunan

2. Tidak ada gerusan di seluruh bangunan

3. Tidak ada penurunan (settlement) tubuh bangunan

4. Dilengkapi dengan papan duga muka air (peilschaal)


5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Terdapat retak/pecah pada tubuh bangunan, tetapi tidak


terpengaruh pada kapasitas rencana

2. Terdapat beberapa gerusan

3. Terjadi penurunan (settlement) pada tubuh bangunan

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Fungsi bangunan berubah karena tubuh bangunan retak atau
pecah

2. Banyak terdapat penurunan bangunan

3. Terjadi gerusan pasangan yang dalam waktu relatif lama dapat


menghanyutkan mercu bangunan

4. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

5. Saluran Pembuang

1. Erosi dan/atau sedimentasi

Baik jika : 1. Tidak terdapat erosi/sedimentasi yang menghambat aliran


pembuang

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Di beberapa tempat terjadi erosi/sedimentasi, tetapi tidak


menghambat aliran pembuang

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Banyak terdapat erosi/sedimentasi yang menghambat


aliran pembuang

2. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2. Profil Saluran

Baik jika : 1. Stabilitas tanggul baik dan memenuhi syarat


2. Profil saluran cukup untuk menampung debit pembuangan

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Stabilitas tanggul memnuhi syarat

2. Elevasi air maksimum masih dalam batas yang diijinkan

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Stabilitas tanggul sudah tidak memenuhi syarat

2. Tinggi tanggul tidak memenuhi syarat untuk elevasi maksimum

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

3 Bangunan pada Saluran Pembuang

1. Pintu

Baik jika : 1. Semua pintu keadaannya baik dan dapat berfungsi secara hidrolis

2. Kapasitas pintu cukup untuk mengalirkan debit pembuang

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 80% - 100%

Cukup jika : 1. Pintu-pintu dalam keadaan baik tetapi fungsi hidrolisnya kurang
lancar

2. Kapasitas pintu cukup untuk mengalirkan debit pembuangan

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Semua pintu sudah tidak berfungsi secara hidrolis

2. Kapasitas pintu tidak cukup untuk mengalirkan debit


pembuangan

3. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

2. Tubuh Bangunan Pengatur/Pelengkap

Baik jika : 1. Tubuh bangunan tidak retak/pecah yang dapat membahayakan


konstruksi serta fungsi bangunan
2. Tidak ada gerusan di seluruh bangunan

3. Tidak ada penurunan (settlement) tubuh bangunan

4. Kapasitas bangunan cukup untuk mengalirkan debit pembuangan

5. Kondisi rata-rata aspek di atas 80% - 100%

Cukup jika : 1. Di beberapa tempat terdapat retak/pecah

2. Terdapat gerusan pada tubuh bangunan

3. Terjadi penurunan pada tubuh bangunan, tetapi tidak membahayakan


posisi serta fungsi bangunan

4. Kapasitas bangunan cukup untuk mengalirkan debit

5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 50% - 79%

Rusak jika : 1. Fungsi bangunan berubah karena tubuh bangunan retak atau
pecah

2. Banyak terjadi penurunan bangunan

3. Banyak terjadi gerusan pasangan/koperan, yang dalam waktu


relatif singkat dapat merusak bangunan

4. Kapasitas bangunan tidak cukup mengalirkan debit pembuangan

5. Kondisi rata-rata aspek di atas : 0% - 49%

Formula Perhitungan Kondisi Jaringan Irigasi

Formula yang dipakai dalam menilai kondisi jaringan irigasi adalah sebagai berikut:

1. Perhitungan kondisi jaringan secara keseluruhan

konJAR = konBU + konBBS + konSAL + konSPG + konBPG

dimana :

konJAR = kondisi Jaringan (%)

konBU = kondisi bangunan utama jaringan (%)


konBBS = kondisi bangunan bagi sadap jaringan (%)

konSAL = kondisi saluran pembawa jaringan (%)

konSPG = kondisi Saluran pembuang jaringan (%)

konBPG = kondisi bangunan pada Saluran pembuang jaringan (%)

2. Perhitungan kondisi bangunan utama

KonBU = NBUB.konBUB + NBUC.konBUC + NBUR.konBUR

(NBUB + NBUC + NBUR)

dimana :

konBU = kondisi Bangunan Utama Jaringan (%)

NBUB = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Baik

konBUB = kondisi rata-rata bangunan utama yang Baik (%)

NBUC = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Cukup

konBUC = kondisi rata-rata bangunan utama yang Cukup (%)

NBUR = Jumlah bangunan utama yang berkondisi Rusak

konBUR = kondisi rata-rata bangunan utama yang Rusak (%)

3. Perhitungan kondisi bangunan bagi sadap jaringan

KonBBS = NBBSB.konBBSB + NBBSC.konBBSC + NBBSR.konBBSR

(NBBSB + NBBSC + NBBSR)

dimana :

konBBS = kondisi Bangunan Bagi Sadap Jaringan (%) NBBSB

= Jumlah bangunan bagi sadap yang berkondisi Baik konBBSB =

kondisi rata-rata bangunan bagi sadap yang Baik (%) NBBSC =

Jumlah bangunan bagi sadap yang berkondisi Cukup


konBBSC = kondisi rata-rata bangunan bagi sadap yang Cukup (%)

NBBSR = Jumlah bangunan bagi sadap yang berkondisi Rusak

konBBSR = kondisi rata-rata bangunan bagi sadap yang Rusak (%)

4. Perhitungan kondisi saluran pembawa jaringan

KonSAL = NSALB.konSALB + NSALC.konSALC + NSALR.konSALR

(NSALB + NSALC + NSALR)

dimana :

konSAL = kondisi Saluran pembawa Jaringan (%)

NSALB = Jumlah ruas saluran pembawa yang berkondisi Baik

konSALB = kondisi rata-rata ruas saluran pembawa yang Baik (%)

NSALC = Jumlah ruas saluran pembawa yang berkondisi Cukup

konSALC = kondisi rata-rata ruas saluran pembawa yang Cukup (%)

NSALR = Jumlah ruas saluran pembawa yang berkondisi Rusak

konSALR = kondisi rata-rata ruas saluran pembawa yang Rusak (%)

5. Perhitungan kondisi saluran pembuang jaringan

KonSPG = NSPGB.konSPGB + NSPGC.konSPGC + NSPGR.konSPGR

(NSPGB + NSPGC + NSPGR)

dimana :

konSPG = kondisi Saluran pembuang Jaringan (%)

NSPGB = Jumlah ruas saluran pembuang yang berkondisi Baik

konSPGB = kondisi rata-rata ruas saluran pembuang yang Baik (%)

NSPGC = Jumlah ruas saluran pembuang yang berkondisi Cukup


konSPGC = kondisi rata-rata ruas saluran pembuang yang Cukup (%)

NSPGR = Jumlah ruas saluran pembuang yang berkondisi Rusak

konSPGR = kondisi rata-rata ruas saluran pembuang yang Rusak (%)

6. Perhitungan kondisi bangunan pada saluran pembuang jaringan

KonBPG = NBPGB.konBPGB + NBPGC.konBPGC + NBPGR.konBPGR

(NBPGB + NBPGC + NBPGR)

dimana :

konBPG = kondisi Saluran pembuang Jaringan (%)

NBPGB = Jumlah bangunan pada saluran pembuang yang berkondisi Baik

konBPGB = kondisi rata-rata bangunan pada saluran pembuang yang Baik (%)

NBPGC = Jumlah bangunan pada saluran pembuang yang berkondisi Cukup

konBPGC = kondisi rata-rata bangunan pada saluran pembuang yang Cukup


(%)

NBPGR = Jumlah bangunan pada saluran pembuang yang berkondisi Rusak


konBPGR = kondisi rata-rata bangunan pada saluran pembuang yang Rusak
(%)
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN IRIGASI
DI KABUPATEN TABANAN

F. JANGKA
WAKTU
PELAKSANAAN

F. 1. UMUM

Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan konsultan akan menyusun jadwal


pelaksanaan pekerjaan berdasarkan lingkup pekerjaan dan waktu pelasanaan pekerjaan. Hal
ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang sesuai dengan mutu pekerjaan
yang diharapkan KAK dan dengan waktu yang tersedia serta kelancaran serta
terkoordinasinya pelaksanaan pekerjaan. Jadwal pelaksanaan pekerjaan menyangkut urutan
dan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan dengan alokasi waktu yang disediakan.

F. 2. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, alokasi waktu untuk pelaksanaan pekerjaan ini
adalah selama 7 (tujuh) bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari kalender. Agar pelaksanaan
pekerjaan ini tepat waktu maka dibutuhkan jadwal pelaksanaan yang disusun secara cermat.
Jadwal pelaksanaan pekerjaan merupakan jadwal yang mengatur kapan suatu kegiatan harus
dilaksanakan dan harus selesai sehingga waktu pelaksanaan yang diberikan dapat tercapai
dengan tidak mengurangi mutu teknisnya. Jadwal pelaksanaan pekerjaan ini harus sesuai
dengan bagan alir pelaksanaan pekerjaan dan item-item pekerjaan sesuai dengan yang
disyaratkan dalam KAK.

Jadwal pelaksanaan pekerjaan ini dibuat untuk menyesuaikan antara kegiatan yang
harus dilakukan dengan waktu pelaksanaan yang disediakan, sehingga pengalokasian waktu
untuk masing-masing kegiatan menjadi jelas.

138
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN TABANAN

Tabel F.1.
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Supervisi Peningkatan Jaringan Irigasi di Kabupaten Tabanan

Nama Perusahaan : PT. Grand Cipta Consulting

No Kegiatan

I. PERSIAPAN DAN ORIENTASI LAPANGAN AWAL


1 Mobilisasi Tim
2 Orientasi Lapangan Awal
3 Sosialisasi
II. SUPERVISI KONSTRUKSI
1 Pengawasan Pengujian Material
2 Pengujian/Pengetesan Hasil Pelaksanaan Pekerjaan
3 Pengendalian/Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi
4 Kontrol Kualitas Pekerjaan
5 Pengawasan Administrasi Proyek
6 Cek Shop Drawing, Sertifikat dan As Built Drawing
7 Inspeksi dan pekerjaan commisioning
III. PELAPORAN
1 Laporan Bulanan
2 Laporan Pendahuluan
3 Laporan Akhir
4 Laporan Pengawasan Mutu
5 Laporan Pengawasan Lingkungan
6 Review Design
7 Soft Copy CD

139
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN

G. KOMPOSISI
TIM
DAN PENUGASAN

G. 1. UMUM

Konsultan dalam peleksanaan pekerjaan ini akan menyediakan dan menugaskan beberapa
Tenaga Ahli sesuai dengan yang dibutuhkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK). Tenaga Ahli
yang akan ditugaskan tersebut dikoornidir oleh seorang Team Leader yang memiliki kemampuan
dalam koordinasi dan komunikasi dengan pihak pengguna jasa, instansi teknis terkait dan Tenaga
Ahli lainnya. Adapun Tenaga Ahli yang diusulkan dalam pelaksanaan studi ini telah memilki
kualifikasi pendidikan, pengalaman dibidang penanganan pekerjaan sejenis dalam
pengembangan sumber daya air. Masing-masing Tenaga Ahli tersebut memilki tugas dan
tanggung-jawab masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya.

Dalam bab ini akan diuraikan kualifikasi dan jumlah Tenaga Ahli yang disediakan oleh
penyedia jasa untuk menangani pekerjaan ini sesuai dengan KAK dengan tugas dan tanggung
jawab yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.

G. 2. PERSONIL

Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara kontraktual oleh konsultan dengan spesifikasi
tenaga ahli yang diperlukan adalah sebagai berikut:

1) Profesional Staff
a. Ketua Tim (Team Leader)
Seorang Sarjana Teknik Sipil/Pengairan (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air
minimal ahli muda dengan pengalaman minimum 6 tahun dalam bidang planning,

140
1401
perencanaan, supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk menangani pekerjaan
sejenis. Tugas dan tanggung jawab Team Leader yaitu melakukan pengendalian pelaksanaan
dan kualitas pekerjaan secara menyeluruh yang mencangkup aspek teknis, administrative
dan logistik. Perkiraan penugasan selama 7 bulan.
b. Ahli Irigasi
Seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam bidang planning, perencanaan,
supervisi konstruksi dan manajemen konstruksi untuk menangani pekerjaan bangunan air
atau sejenis. Tugas dan tanggung jawab yaitu melakukan kajian dan review desain,
pengawasan/pengendalian mutu dan teknis pelaksanaan pekerjaan konstruksi sipil,
Perkiraan penugasan selama 6 bulan.

c. Quality Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan pengawasan
pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan tanggung jawabnya
yaitu mengevaluasi kualitas pekerjaan, melakukan pengawasan / mutu pekerjaan. Perkiraan
penugasan selama 5 bulan.

d. Quantity Engineer
Seorang Sarjana Teknik Sipil yang memiliki sertifikat Ahli Sumber Daya Air minimal ahli
pratama dengan pengalaman minimum 4 tahun dalam menangani pekerjaan pengawasan
pekerjaan jaringan penyediaan atau pekerjaan sejenis. Adapun tugas dan tanggung jawabnya
yaitu mengevaluasi kuantitas pekerjaan, melakukan pengawasan dan pengendalian kuantitas
pekerjaan. Perkiraan penugasan selama 5 bulan
2) Sub Profesional Staff
Tenaga Sub professional staff yang diperlukan untuk membantu kelancaran pekerjaan adalah
Pengawas Konstruksi/Inspektor, yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan pengalaman
minimum 4 tahun dalam pengawasan/pengendalian pekerjaan struktur dan bangunan sipil,
dibutuhkan sebanyak 3 orang. Perkiraan penugasan selama 7 bulan, sedangkan surveyor
dibutuhkan 1 orang yaitu seorang Sarjana Teknik Sipil (S1) dengan pengalaman minimal 4
tahun. Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan, bertugas membantu pengukuran pada saat MC0,
termijn dan MC100 dengan alat yang disediakan oleh kontraktor dan menentukan titik letak
tapak konstruksi.

3) Supporting Staff
Selain personil-personil tersebut, dalam pelaksanaan pekerjaan konsultan juga menggunakan
Supporting staff untuk membantu kelancaran pekerjaan, seperti :

1. Draftman Autocad, di butuhkan 2 orang Perkiraan penugasan selama 3,5 bulan, tugasnya
membantu tenaga ahli dalam memeriksa dan menyempurnakan gambar shop Drawing dan
Asbuilt Drawing.

2. Administrasi Keuangan, Perkiraan penugasan selama 7 bulan.


PU Balai Wilayah
Sungai Bali-Penida

KONSULTAN
PPK

DIREKSI Team Leader


PEKERJAAN

TIM TEKNIS
PEKERJAAN

Sekretaris

Pengawas
lapangan/Inspector

G. 3. JADWAL PENUGASAN PERSONIL


G.3.1. UMUM

Sebagai acuan dalam pelaksanaan agar terkoordinasi dengan baik, maka konsultan akan
membuat Jadwal Penugasan Tenaga Ahli yang disusun berdasarkan tahapan-tahapan kegiatan
yang tertuang dalam Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan. Dalam jadwal tersebut akan ditentukan
waktu untuk mobilisasi personil sesuai dengan tahapan pelaksanaan yang dimulai sesuai dengan
urutan kegiatan yang terkait satu dengan yang lain, sehingga memperjelas dan memudahkan
dalam koordinasi pelaksanaan di kantor maupun pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

G.3.2. JADWAL PENUGASAN TENAGA AHLI

Sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, alokasi waktu untuk pelaksanaan pekerjaan ini
adalah selama 7 (tujuh) bulan atau 210 (dua ratus sepuluh) hari. Agar pelaksanaan pekerjaan ini
tepat waktu maka dibutuhkan jadwal penugasan personil yang disusun secara cermat berdasarkan
atas jadwal pelaksanaan pekerjaan yang telah disusun.
Jadwal penugasan personil merupakan jadwal yang mengatur kapan masing-masing
tenaga ahli harus dimobilisasi untuk menangani bidang tugas dan tanggung jawabnya masing-
masing sehingga waktu pelaksanaan yang diberikan dapat tercapai dengan tidak mengurangi
mutu teknisnya. Daftar personil dan Jadwal penugasan personil terdapat pada tabel G.1 dan G.2
berikut.
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
Tabel G.1. Komposisi Team Daftar Personil

NO NAMA PERSONIL

A. STAFF PROFESIONAL
1 Ir. I Made Hartajaya

2 I Ketut Parwata

3 Ir. I Gede Sujana

4 Ir. Wayan Mudita, ST


B. SUB PROFESIONAL STAFF

1 Hary Prakarsa, ST

2 Ketut Tony Asmara, ST

3 Nyoman Indra Warsadhi, ST

4 I Gust Ngurah Agung Widiaputra, ST


C. SUPPORTING STAFF

1 I Nova Rusyadana, ST

2 A.A Putu Ary Sudyatmika, ST

3 Rendy Kusuma

145
1451
Tabel G.2. Komposisi Team Jadwal Penugasan Personil

NO NAMA PERSONIL

A. STAFF PROFESIONAL
1 Ir. I Made Hartajaya
2 I Ketut Parwata
3 Ir. I Gede Sujana
4 Ir. Wayan Mudita, ST
B. SUB PROFESIONAL STAFF
1 Hary Prakarsa, ST
2 Ketut Tony Asmara, ST
3 Nyoman Indra Warsadhi, ST
4 I Gust Ngurah Agung Widiaputra, ST
C. SUPPORTING STAFF
1 I Nova Rusyadana, ST
2 A.A Putu Ary Sudyatmika, ST
3 Rendy Kusuma
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN

H. PERALATAN
DAN
FASILITAS PENUNJANG

H.1. UMUM

Kebutuhan fasilitas dan peralatan akan disiapkan Konsultan untuk menunjang


kegiatan baik di lapangan maupun di kantor. Mobilisasi peralatan disesuaikan dengan jadwal
peralatan yang telah disusun bersama dengan penyusunan rencana kerja, jadwal pelaksanaan
dan pengerahan personil. Penentuan kebutuhan akan fasilitas dan peralatan sangat erat
hubungannya dengan kelancaran pekerjaan, sehingga tidak ada kendala peralatan dan fasilitas
yang dihadapi oleh pelaksana pekerjaan pada saat pelaksanaan nantinya.

H.2. FASILITAS PEMRAKARSA PEKERJAAN

Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan ini, pihak proyek telah menyediakan


fasilitas meliputi:

Pemberian surat pengantar untuk operasional maupun koordinasi dan dukungan dengan
instansi terkait.
Peminjaman referensi yang ada pada proyek.
Pemberian informasi mengenai ketentuan yang berkaitan dengan pekerjaan Kewajiban
Consultan.

H.3. KANTOR KONSULTAN

Untuk kelancaran kegiatan pekerjaan pihak konsultan telah menyiapkan kantor yang
permanen di Denpasar sehingga memudahkan Team Konsultan berkoordinasi dengan
pemberi pekerjaan dan setiap saat dapat asistensi/diskusi dalam penyelesaian pekerjaan.
Disamping itu diharapkan nantinya setelah selesai pekerjaan pihak pemberi pekerjaan mudah
menghubungi konsultan.

147
1471
H.4. PERALATAN

Peralatan yang digunakan untuk setiap pekerjaan disesuaikan dengan kebutuhan


masing-masing kegiatan, tergantung dari volume dan kapasitas alat. Adapun volume dan
kapasitas alat dari masing-masing pekerjaan tersaji pada Tabel H.1. (Terlampir).

H.5. JADWAL PERALATAN

Jadwal peralatan untuk pekerjaan akan disesuaikan dengan waktu pemakaian, dan
jadwal peralatan ini berkaitan dengan schedule pelaksanaan dan personil untuk pelaksanaan
seluruh kegiatan. Jadwal peralatan dan volume serta waktu pemakaian tersaji pada Tabel H.2
(Terlampir).
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN
TABANAN
Tabel H.1
Data Peralatan Yang Digunakan Selama Pekerjaan Berlangsung

No. Jenis Peralatan / Perlengkapan

A. Peralatan Kantor
1 Meja kerja + kursi
2 OHP Media Stal
3 Laptop
4 Komputer
5 Printer
6 Scanner
7 Telepon + Fax
B. Peralatan Penunjang
1 Kamera
2 Meja Gambar
3 Kalkulator
C. Peralatan Lapangan
1 Alat Ukur Theodolithe
2 Alat Ukur Waterpass
D. Transportasi
1 Kendaraan roda 4 - 1
2 Kendaraan roda 4 - 2
3 Kendaraan roda 2

149
1491
Tabel H.2
Jadwal Penggunaan Peralatan Yang Digunakan Selama Pekerjaan Berlangsung

No Jenis Alat

A Peralatan Kantor
1 Meja kerja + Kursi
2 OHP Media Stal
3 Laptop
4 Komputer
5 Printer
6 Scanner
7 Telepon + Fax
B Peralatan Penunjang
1 Kamera
2 Meja Gambar
3 Kalkulator
C Peralatan Lapangan
1 Alat Ukur Theodolite
2 Alat Ukur Waterpass
D Transportasi
1 Kendaraan Roda 4-1
2 Kendaraan Roda 4-2
3 Kendaraan Roda 2

150
1501
USTEK
SUPERVISI PENINGKATAN JARINGAN
IRIGASI DI KABUPATEN TABANAN

I.
PENUTUP

Dokumen Usulan Teknis untuk pelaksanaan pekerjaan Supervisi Peningkatan Jaringan


Irigasi di Kabupaten Tabanan, sebagai bentuk penawaran teknis dari konsultan dalam upaya
penanganan pekerjaan tersebut diatas. Dalam hal ini konsultan apabila nantinya dipercaya untuk
menangani pekerjaan ini maka akan bekerja berdasarkan lingkup pekerjaan sesuai dengan
Kerangka Acuan Kerja (KAK) pekerjaan tersebut. Konsultan berkeyakinan sanggup dan
mampu untukmelaksanakanpekerjaan tersebut apabila diberi kepercayaan berdasarkan
dokumen usulan teknis yang kami tawarkan.

Dengan dukungan Tenaga Ahli yang kami usulkan dengan kualifikasi dan pengalaman
kerja di bidang perencanaan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air khususnya
pembangunan pengamanan sungai. Dengan berbekal keahlian masing-masing tenaga ahli yang
kami usulkan dan telah memiliki sertifikat keahlian, maka dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut
diatas dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan mutu pekerjaan sesuai dengan yang diminta
dalam KAK.

Semoga usulan teknis ini mendapatkan perhatian, dukungan serta kepercayaan dari
pengguna jasa.

Terima Kasih

151