Anda di halaman 1dari 23

PERAN APOTEKER DI ERA JAMINAN KESEHATAN

NASIONAL
( TUGAS KARYA ILMIAH BAHASA INDONESIA )

DI SUSUN OLEH :
KHOERUL ANNAH
2016210132
KELAS D

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah
tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya
untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Jakarta, Juni 2017

Penyusun
ABSTRAK

Jaminan kesehatan Nasional (JKN) merupakan babak baru dalam sistem


kesehatan nasional Indonesia. Puskesmas sebagai unit pelayanan teknis penyelenggara
jaminan kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam membangun
kesehatan masyarakat. Pengelolaan obat merupakan kegiatan yang sangat
mempengaruhi mutu layanan kesehatan, apoteker dalam peraturan menteri kesehatan
No.30 Tahun 2014 tentang pelayanan kefarmasian di Puskesmas merupakan tenaga
kesehatan yang diamanatkan dalam mengelola obat di Puskesmas. Penelitian ini
bertujuan untuk melihat peran dan fungsi apoteker sebagai tenaga kesehatan di
Puskesmas dalam era JKN. Penelitian ini merupakan poenelitian deskriptif dengan
pengumpulan data secara observasi dan pengamatan langsung pada Puskesmas yang
memiliki apoteker dan Puskesmas yang tidak memiliki apoteker. Dari hasil
pengamatan didapatkan pengelolaan obat di Puskesmas se Kota Solok dikategorikan
baik. Puskesmas yang memiliki apoteker memiliki indeks skor pengelolaan lebih baik
( Nan Balimo 80,64 %; Tanah Garam
85,48 %) dibandingkan dengan Puskesmas tanpa apoteker ( KTK 77,42 %; Tanjung
Paku 70,97 %).
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta


memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar
iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. BPJS kesehatan merupakan badan
penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mulai
b
beroperasional pada 1 Januari 2014 (BPJS Kesehatan, 2014 ). Pelayanan

kesehatan kepada peserta JKN meliputi beberapa tingkat fasilitas kesehatan.


Puskesmas merupakan salah satu fasilitas kesehatan tingkat pertama yang
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan yang berfungsi menyelenggarakan
b
pelayanan kesehatan bagi peserta JKN (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2013 ).
Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama terdistribusi lebih

besar dibandingkan dengan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan sehingga akses


masyarakat terhadap pelayanan kesehatan lebih tinggi. Hal ini menjadikan peran
puskesmas sangat krusial yaitu sebagai kontak pertama kepada masyarakat untuk
memberikan pelayanan kesehatan dasar. Puskesmas yang berfungsi optimal dalam
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar kompetensinya akan
meningkatkan kualitas kesehatan peserta, mampu menurunkan angka kesakitan
dan mengurangi kunjungan peserta ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (BPJS
a
Kesehatan, 2014 ).
Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama menerima dana
kapitasi dari BPJS kesehatan untuk dimanfaatkan seluruhnya sebagai pembayaran
jasa pelayanan kesehatan dan dukungan biaya operasional pelayanan kesehatan.
Pembayaran jasa pelayanan kesehatan yang termasuk dalam dana kapitasi dapat
diberikan kepada tenaga kesehatan yang merupakan sumber daya manusia (SDM)
yang melakukan pelayanan kesehatan di puskesmas (Peraturan Menteri Kesehatan
a
RI, 2014 ).

Sumber daya manusia (SDM) sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi


untuk sebuah kemajuan organisasi tersebut. SDM memiliki peran vital bagi
pencapaian-pencapaian tujuan organisasi berdasarkan sistem yang berlaku.
Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian merupakan SDM yang melakukan
pelayanan kefarmasian di puskesmas. Pelayanan kefarmasian yang
diselenggarakan di puskesmas meliputi pengelolaan obat dan bahan medis habis
pakai serta pelayanan farmasi klinik yang didukung oleh sarana dan prasarana
b
serta SDM (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2014 ).

Pelayanan kefarmasian di puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak


terpisahkan dari pelaksanaan pelayanan kesehatan menyeluruh, yang berperan
penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Apoteker di puskesmas harus mampu bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain
dan berperan aktif dalam meningkatkan pelayanan kefarmasian sehingga dapat
menjamin efektivitas, keamanan, efisiensi obat, dan meningkatkan penggunaan
obat yang rasional kepada pasien.
Perkembangan pekerjaan kefarmasian dan adanya pembayaran jasa
pelayananan kesehatan kepada apoteker dalam melakukan pelayanan kefarmasian
di puskesmas pada era JKN, akan mempengaruhi kinerja apoteker dalam
memberikan pelayanan kefarmasian. Penilaian kinerja apoteker dalam melakukan
pelayanan kefarmasian dapat dilakukan dengan melihat harapan dan persepsi
tenaga kesehatan lain yang bekerjasama dengan apoteker tersebut di puskesmas.
Penelitian mengenai harapan dan persepsi tenaga kesehatan ini dilakukan di
puskesmas daerah Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan. Puskesmas di daerah
ini lebih mudah untuk diakses oleh masyarakat karena berada di kota-kota besar
dan beberapa puskesmas di daerah ini juga telah memiliki tenaga kesehatan
seperti dokter, perawat, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya. Hal ini
memungkinkan puskesmas tersebut untuk mampu meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan.
Harapan dan persepsi tenaga kesehatan mampu mengukur 7 aspek pelayanan
kefarmasian (pelayanan umum, sarana pelayanan resep, pengkajian resep,
dispensing, konseling, monitoring dan Pelayanan Informasi Obat (PIO) serta mutu
pelayanan kefarmasian (reliability (kehandalan), responsiveness (daya tanggap),
tangible (bukti langsung), assurance (jaminan), dan emphaty (empati).
1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana harapan tenaga kesehatan di puskesmas daerah Denpasar,

Badung, Gianyar, dan Tabanan terhadap pelayanan kefarmasian oleh

apoteker pada era JKN?

1.2.2 Bagaimana persepsi tenaga kesehatan di puskesmas daerah Denpasar,

Badung, Gianyar, dan Tabanan terhadap pelayanan kefarmasian oleh

apoteker pada era JKN?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mengetahui harapan tenaga kesehatan di puskesmas daerah Denpasar,

Badung, Gianyar, dan Tabanan terhadap pelayanan kefarmasian oleh

apoteker pada era JKN.

1.3.2 Mengetahui persepsi tenaga kesehatan di puskesmas daerah Denpasar,

Badung, Gianyar, dan Tabanan terhadap pelayanan kefarmasian oleh

apoteker pada era JKN.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat bagi BPJS Kesehatan adalah hasil penelitian ini dapat dijadikan

sebagai masukan dalam evaluasi pelayanan kefarmasian oleh apoteker di

puskesmas sehingga dapat dijadikan dasar edukasi oleh BPJS Kesehatan.

1.4.2 Manfaat bagi Puskesmas adalah hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai

masukan dalam evaluasi pelayanan kefarmasian oleh apoteker di

puskesmas.
1.4.3 Manfaat bagi tenaga kesehatan dan masyarakat adalah dapat melihat peran serta

profesi apoteker dalam pelaksanaan sistem JKN.

1.4.4 Manfaat bagi penulis dengan dilakukannya penelitian ini adalah dapat

memperoleh pengalaman belajar dalam merencanakan, melaksanakan,

menyusun, mengkomunikasikan karya ilmiah secara lisan maupun tertulis, dan

dapat juga mempersiapkan diri untuk bekerja dalam pelayanan kefarmasian

yang merupakan bagian dari sistem JKN.


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Apoteker

Menurut Kepmenkes No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar


Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus
pendidikan profesi dan telah mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan
yangberlaku dan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia
sebagai Apoteker. Setiap profesi harus disertifikasi secara resmi oleh lembaga keprofesian
untuk tujuan diakuinya keahlian pekerjaan keprofesiannya dan proses ini sering
dikenal dengankompetensi Apoteker. Kompetensi Apoteker menurut International
Pharmaceutical Federation (IPF) adalah kemauan individu farmasis untuk
melakukan praktek kefarmasian sesuai syarat legal minimum yang berlaku serta
mematuhi standar profesi dan etik kefarmasian.

2.2 Peranan Apoteker

Apoteker di apotek memiliki 3 (tiga) peranan, terutama yang berkaitan langsung


dengan pasien, yaitu sebagai profesional, manager, dan retailer.

2.2.1 Peranan Apoteker Sebagai Profesional


Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004, terutama pada BAB III, bahwa
pelayanan kefarmasian meliputi:
a. Pelayanan Resep
Pelayanan resep meliputi : Skrining Resep, Penyiapan obat
b. Promosi dan Edukasi
Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain
dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, penyuluhan, dan lain-lain.
c. Pelayanan Residensial (Home Care)
Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan
pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk
kelompok lanjut usia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis
lainnya. Untuk aktivitas ini Apoteker harus membuat catatan berupa
catatan pengobatan (medication record).

2.2.2 Peranan Apoteker Sebagai Manager


Manajemen secara formal diartikan sebagai perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian, terhadap penggunaan sumber
daya untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen adalah untuk mencapai
tujuan, menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang
saling bertentangan, mencapai efisiensi dan efektivitas.

Dua konsepsi utama untuk mengukur prestasi


kerja (performance) manajemen adalah efisiensi dan efektivitas.
Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
dengan benar, merupakan konsep matematika,atau merupakan
perhitungan ratio antara keluaran (output) dan masukan (input). Seorang
manajer dikatakan efisien adalah seseorang yang mencapai keluaran yang
lebih tinggi (hasil, produktivitas, performance) dibanding masukan-
masukan(tenaga kerja, bahan, uang, mesin dan waktu) yang digunakan.

Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat


atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Manajer yang efektif adalah manajer yang dapat memilih pekerjaan yang
harus dilakukan atau metode (cara) yang tepat untuk mencapai tujuan.

2.2.3 Peranan Apoteker Sebagai Retailer


Apotek sebagai badan usaha retail, bertujuan untuk menjual
komoditinya, dalam hal ini obat dan alat kesehatan, sebanyak-banyaknya
untuk mendapatkan profit. Profit memang bukanlah tujuan utama dan satu-
satunya dari tugas keprofesian apoteker, tetapi tanpa profit apotek sebagai
badan usaha retail tidak dapat bertahan.

Oleh karena itu, segala usaha untuk meningkatkan profit perlu


dilaksanakan, di antaranya mencapai kepuasan pelanggan. Pelanggan
merupakan sumber profit. Oleh karena itu, sebagai
seorang retailer berkewajiban mengidentifikasi apa yang menjadi kebutuhan
pelanggan, menstimulasi kebutuhan pelanggan agar menjadi permintaan, dan
memenuhi permintaan tersebut sesuai bahkan melebihi harapan pelanggan.

BAB III

PERAN APOTEKER DI ERA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL


.

Konsep profit pada sarana kefarmasian secara otomatis mengikuti konsep


profit pada fasilitas pelayanan kesehatan pada era JKN ini. Konsep profit pada sarana
kefarmasian saat ini tidak lagi tergantung pada volume penjualan obat dan bahan
habis pakai untuk pasien peserta JKN, melainkan tergantung kepada kemampuan
manajemen farmasi, farmakoekonomi dan farmakoterapi apoteker dalam melakukan
pelayanan kefarmasian baik dalam proses manajemen sarana kefarmasian ataupun
pelayanan farmasi klinik kepada pasien.

Berdasarkan beberapa hal diatas, menurut saya peran Apoteker dan Apotek
pada masa JKN ini menjadi sangat strategis dalam system pelayanan kesehatan
maupun system adminitrasi kesehatan. Pada era JKN ini paling tidak ada 2
kompetensi Apoteker yang tidak dapat tergantikan dalam menjalankan praktek
kefarmasian di Apotek yaitu kompetensi apoteker dalam pengendalian persediaan
( perencanaan, pengadaan dan pengelolaan ) obat serta kemampuan apoteker dalam
pengendalian biaya obat peresep dimana apoteker berperan sebagi verifikator resep
dengan dasar farmakoekonomi dan farmakoterapi yang baik. Oleh karena itu,
Apoteker diharapkan dapat mengubah maindsetnya dari seorang pekerja menjadi
seorang Apoteker professional. Perubahan maindset Apoteker tersebut harus dimulai
dengan tidak lagi berorientasi pada gaji dan tambahan uang R/ yang dihitung dari
bersaran omset apotek. Era JKN ini adalah momentum bagi para Apoteker untuk
berubah.

Berdasarkan kebijakan yang telah dikeluakan oleh kementerian kesehatan,


posisi atau kedudukan Apoteker dalam system JKN adalah sebagai berikut:

Merupakan bagian dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan


kerjasama dengan BPJS Kesehatan. Disini Apoteker berkedudukan sebagai
penanggungjawab ruang farmasi atau apoteker pendamping pada PUSKESMAS
maupun Klinik pertama atau yang setara, dan juga sebagai penaggung jawab instalasi
farmasi atau Apoteker pendamping pada Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang
setara.

Merupakan bagian dari sarana penunjang fasilitas kesehatan tingkat pertama Jaminan
Kesehatan Nasional ( JKN ) adalah program nasional yang telah diresmikan oleh
pemerintah sejak tanggal 1 Januari 2014 yang lalu. Jaminan kesehatan berdasarkan
Peraturan mentreri kesehatan (PMK) nomor 71 tahun 2013 didefinisikan sebagai
jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat
pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau
iurannya dibayar oleh pemerintah. Pada era JKN ini untuk pelayanan kesehatan
diselenggarakan oleh semua Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS
Kesehatan berupa Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dan Fasilitas Kesehatan
rujukan tingkat lanjutan.

Fasilitas Kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk


menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik promotif, preventif,
kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah,
dan/atau Masyarakat. Fasilitas kesehatan terdiri dari Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama dan Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan.

Fasilitas Kesehatan tingkat pertama melakukan pelayanan kesehatan tingkat


pertama yang berupa pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat non spesialistik
(primer) meliputi pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama menurut PMK no. 71/2013 dapat berupa: puskesmas atau yang
setara, praktik dokter, praktik dokter gigi, klinik pratama atau yang setara; dan Rumah
Sakit Kelas D Pratama atau yang setara. Fasilitas Kesehatan tingkat pertama yang
bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus menyelenggarakan pelayanan kesehatan
komprehensif berupa pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif,
pelayanan kebidanan, dan Pelayanan Kesehatan Darurat Medis, termasuk pelayanan
penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium sederhana dan pelayanan
kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan komprehensif tersebut, bagi Fasilitas
Kesehatan yang tidak memiliki sarana penunjang wajib membangun jejaring dengan
sarana penunjang. Dalam hal ini, menurut permenkes ini sarana kefarmasian seperti
Apotek maupun UPT. Instalasi Sediaan Farmasi atau lebih dikenal sebagai UPT.
Gudang Farmasi di posisikan sebagai jaringan dari Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, hal ini diatur dalam PMK
No.71/2013 pasal 6 ayat 1 huruf a angka 4, huruf b angka 3, huruf c angka 5 dan huruf
c angka 4. Fasilitas kesehatan tingkat pertama yang tidak memiliki sarana kefarmasian
dan juga tidak dapat menunjukkan bukti kerjasama dengan sarana kefarmasian tidak
akan dapat bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Pelayanan kefarmasian yang dapat dilakukan oleh sarana kefarmasian dalam


rangka menunjang Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama digolongkan kedalam
kategori pelayanan obat dan bahan medis habis pakai. Pelayanan obat, Alat
Kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang diberikan kepada Peserta berpedoman
pada daftar obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang ditetapkan oleh
Menteri yang dituangkan dalam Formularium Nasional dan Kompendium Alat
Kesehatan.

Fasilitas kesehatan tingkat pertama memperoleh imbalan dari BPJS Kesehatan


sebagai konsekwensi dari perjanjian kerjasama yang telah di tandatangani kedua pihak
dalam bentuk pembayaran berupa tarif kapitasi dengan besaran tertentu yang akan
ditransfer langsung ke rekening Fasilitas Kesehatan. Dalam PMK no. 59/2014, Tarif
Kapitasi di definisikan sebagai besaran pembayaran per-bulan yang dibayar dimuka
oleh BPJS Kesehatan kepada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama berdasarkan jumlah
peserta yang terdaftar tanpa memperhitungkan jenis dan jumlah pelayanan kesehatan
yang diberikan.

Konsep pembelian jasa pelayanan kesehatan oleh BPJS Kesehatan dari


Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan menggunakan tarif kapitasi menyebabkan
fasilitas kesehatan tingkat pertama menyesuaikan pola manajemennya sehingga
operasional fasilitas kesehatan tersebut dapat lebih efektif dan efisien tanpa
mengenyampingkan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien.
Konsep kapitasi ini sangat mempengaruhi konsep manajemen pada fasilitas kesehatan,
salah satunya adalah konsep laba/profit.

Terdapat konsep yang sangat berbeda terkait laba/profit pada saat sebelum dan
sesudah dilaksanakannya jaminan kesehatan nasinal pada tanggal 1 januari 2014 yang
lalu. Sebelum era JKN profit yang diperoleh oleh fasilitas kesehatan di tingkat
pertama untuk pelayanan kesehatan rawat jalan akan berbanding lurus dengan jumlah
kunjungan pasien, lamanya pasien dirawat, volume penjualan obat dan bahan habis
pakai dan beberapa faktor lainnya. Sedangkan pada pasca JKN, konsep profit diatas
berubah terbalik. Dimana pada era JKN diharapkan fasilitas kesehatan dapat merawat
pasien dengan baik akan tetapi menggunakan sumberdaya yang seefisien mungkin.
Jumlah kunjungan pasienpun diharapkan dapat dikurangi, dengan cara meningkatkan
upaya pelayanan kesehatan promotif dan prefentif oleh fasilitas kesehatan.

Posisi Apoteker dalam sistem JKN

Terlepas dari hal diatas, pertanyaan kemudian bagaimana nasib sarana


kefarmasian atau tenaga kefarmasian pada era JKN ini? Sarana kefarmasian tidak
berhubungan secara langsung dengan BPJS Kesehatan. Besar kecilnya penerimaan
sarana kefarmasian sangat tergantung dengan perjanjian antara sarana kefarmasian
dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang telah bekerjasama dengan BPJS
Kesehatanyang melaksanakan kerjasama dengan BPJS Kesehatan. Disini Apoteker
berkedudukan sebagai penanggungjawab Apotek atau Apoteker pendamping pada
Apotek yang bekerjasama dengan praktik dokter atau praktik dokter gigi maupun
PUSKESMAS atau Klinik pertama yang tidak memiliki Apoteker.

Pelayanan kefarmasian dalam system JKN

Dalam PMK no. 59/2014 pemerintah tidak secara eksplisit mengatur


komponen penyusun kapitasi yang dibayarkan kepada fasilitas kesehatan tingkat
pertama selain PUSKESMAS, sehingga membuka peluang bagi setiap professional
kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kesehatan kepada peserta JKN mendapatkan
jasa pelayanan secara proporsional sesuai dengan jenis dan besarnya tanggung jawab
yang diterima karena melaksakan Pelayanan professional sebagai resiko pekerjaan
yang disesuaikan dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/Menkes/Per/II/2011


tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta PT Askes (Persero) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 029 Tahun 2012, komponen
kapitasi secara garis besar tebagi menjadi 2 komponen utama, yaitu komponen jasa
pelayanan kesehatan dan komponen sarana prasarana.

Jasa pelayanan kesehatan adalah jasa atau imbalan yang diperoleh tenaga
kesehatan yang terkait dengan proses pelaksanaan pelayanan kesehatan yang telah
diberikan oleh tenaga kesehatan tersebut kepada pasien baik secara langsung maupun
tak langsung selama proses terapi. Berdasarkan Peraturan pemerintah no. 32/1996
tentang tenaga kesehatan, Apoteker bersama Asisten Apoteker dalam kelompok tenaga
kefarmasian diakui sebagai salah satu dari tenaga kesehatan yang diakui pemerintah
bersama dengan tenaga medis ( dokter dan dokter gigi), tenaga keperawatan ( perawat
dan bidan ), tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik dan
tenaga keteknisian medik. Sehingga sangatlah wajar jika Apoteker dapat memperoleh
haknya berupa bagian dari komponen kapitasi dari unsur jasa pelayanan kesehatan.

Untuk jasa pelayanan kefarmasian oleh Apoteker dihitung berdasarkan posisi


atau kedudukan apoteker dalam system JKN seperti yang saya jelaskan diatas yaitu
apoteker sebagai bagian dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan
kerjasama dengan BPJS Kesehatan atau apoteker sebagai bagian dari sarana
penunjang fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan kerjasama dengan
BPJS Kesehatan.

Komponen sarana dan prasarana dalam tarif kapitasi termasuk obat, bahan
habis pakai dan reagen untuk pemeriksaan laboratorium sederhana. Begitu juga
komponen untuk sewa ruangan ataupun alat kesehatan yang digunakan selama proses
terapi pasien di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Besaran unit cost dari dua
komponen ini bervariasi, tergantung pada kebijakan tiap fasilitas kesehatan dan posisi
fasilitas kesehatan dalam system JKN.

Penghitungan Besaran Jasa Pelayanan Apoteker

Besaran angka kapitasi untuk jasa pelayanan dipengaruhi oleh persentase


angka morbiditas dan besaran standar jasa pelayanan oleh tenaga kesehatan. Untuk
jasa pelayanan kefarmasian besaran persentase angka morbiditas dihitung berdasarkan
estimasi persentase jumlah peserta yang akan menebus resep disarana kefarmasian
tempat Apoteker berpraktek dibagi dengan seluruh jumlah peserta JKN yang terdaftar
sebagai member dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi mitra sarana
kefarmasian tempat Apoteker berpraktek.

Estimasi persentase jumlah resep yang akan


diterima yang berasal dari peserta JKN yang
terdaftar sebagai member dari fasilitas
kesehatan tingkat pertama yang menjadi mitra
sarana kefarmasian tempat Apoteker berpraktek
Persentase angka morbiditas = ------------------------------------------------------------

Seluruh jumlah peserta JKN yang terdaftar


sebagai member dari fasilitas kesehatan tingkat
pertama yang menjadi mitra sarana kefarmasian
tempat Apoteker berpraktek.
Sedangkan besaran standar jasa pelayanan kefarmasian oleh apoteker yang

diberikan kepada setiap pasien untuk tiap resep yang dilayani, sebaiknya
ditentukan oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia ( PP IAI) yang berlaku
secara nasional. Dalam penentuan besaran jasa pelayanan kefarmasian oleh Apoteker
ini saya harapkan agar PP IAI dapat memperhitungkan komponen gaji untuk
membayar Apoteker pendamping atau Asisten Apoteker/Tenaga teknis kefarmasian
yang oleh beberapa orang sejawat Apoteker kemungkinan dibutuhkan untuk
membantunya menjalankan praktek kefarmasian, yang dalam konsep saya ini gaji
mereka menjadi tanggungan dari sejawat Apoteker yang berpraktek.

Besaran angka kapitasi untuk jasa pelayanan kefarmasian yang diperoleh


seorang Apoteker selama beliau berpraktek tiap bulannya dihitung dengan cara
mengalikan besaran real jasa pelayanan apoteker dengan estimasi besaran persentase
angka morbiditas dengan seluruh jumlah peserta JKN yang terdaftar sebagai member
dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi mitra sarana kefarmasian tempat
Apoteker berpraktek.

Besaran angka kapitasi Besaran standar jasa Persentase angka


untuk jasa pelayanan = pelayanan apoteker X morbiditas
kefarmasian untuk tiap pasien

Maka jumlah total jasa pelayanan kefarmasian yang diperoleh oleh seorang
apoteker pada tiap bulannya adalah merupakan perkalian antara Besaran angka
kapitasi untuk jasa pelayanan kefarmasian dengan seluruh jumlah peserta JKN yang
terdaftar sebagai member dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi mitra
sarana kefarmasian tempat Apoteker berpraktek.
Untuk pendapatan atau take home pay per-bulan yang dapat diperoleh
seorang apoteker yang berpraktek adalah besaran jasa pelayanan kefarmasian yang
diperoleh oleh seorang apoteker setelah dikurangi dengan komponen gaji berikut
tunjangan lainnya untuk membayar Apoteker pendamping atau Asisten
Apoteker/Tenaga teknis kefarmasian yang oleh beberapa orang sejawat Apoteker
kemungkinan dibutuhkan untuk membantunya menjalankan praktek kefarmasian. Jika
sarana untuk sarana kefarmasiannya bekerja sama dengan pemilik sarana maka
pendapatan apoteker diatas masih akan dikurangi dengan jumlah nominal obat yang
hilang atau kadaluarsa sebagai tanggungjawab professional seorang apoteker kepada
pemilik sarana dan juga dikurangi dengan komponen biaya lainnya yang harus
dibayarkan kepada pemilik sarana apotek sesuai dengan yang telah disepakati oleh
apoteker dan PSA dalam perjanjian tertulis yang dibuat didepan notaris pada saat akan
mendirikan apotek atau berpraktek bersama pada fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Sehingga dengan konsep seperti ini maka setiap apoteker akan memperoleh
pendapatan yang berbeda sesuai dengan kemampuan atau kompetensi yang
dimiliknya dan jumlah peserta JKN yang terdaftar sebagai penerima pelayanan
kefarmasian diapoteknya, sehingga konsep standar gaji untuk seorang apoteker
disuatu tempat menjadi tidak relevan lagi.

Penghitungan besaran angka kapitasi untuk obat dan bahan habis pakai

Untuk sarana kefarmasian yang merupakan bagian dari sarana penunjang


fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan kerjasama dengan BPJS
Kesehatan seperti Apotek yang bekerjasama dengan praktik dokter atau praktik dokter
gigi maupun PUSKESMAS atau Klinik pertama yang tidak memiliki Apoteker. Maka
dalam melakukan kesepakatan dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang
melaksanakan kerjasama dengan BPJS Kesehatan, seorang Apoteker dalam
menentukan besaran angka kapitasi pelayanan kefarmasian harus memasukkan
komponen besaran angka kapitasi untuk perbekalan farmasi ( obat dan BHP ) selain
jasa pelayanan kefarmasian oleh Apoteker.

Dengan posisi atau kedudukan sarana kefarmasian (apotek) dalam system JKN
seperti ini, maka pendapatan Apoteker akan lebih besar jika dibandingkan dengan
apoteker yang berpraktek pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan
kerjasama dengan BPJS Kesehatan karena adanya tambahan komponen sisa besaran
angka kapitasi untuk sarana (obat) yang mampu dihemat sebagai akses dari praktek
kefarmasian yang baik oleh apoteker. Sekali lagi untuk besarannya sangat tergantung
pada kompetensi dan kemampuan tiap apoteker yang berpraktek.

Untuk perhitungannya secara umum hampir sama dengan perhitungan jasa


pelayanan kefarmasian oleh apoteker. Hanya saja untuk besaran komponen sarana
seorang apoteker harus menetukan atau bersepakat dengan fasilitas kesehatan tingkat
pertama yang melaksanakan kerjasama dengan BPJS Kesehatan terkait dengan harga
dasar obat peresep yang menjadi acuan maksimal besaran nominal atau besaran unit
cost dari tiap resep ( prescription cost ) yang akan dilayani oleh apoteker di apotek.

Besaran angka kapitasi untuk sarana ( obat dan BHP ) dihitung dengan
mengalikan estimasi angka persentase morbiditas dengan besaran nilai prescription
cost yang telah disepakati oleh apoteker dan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang
melaksanakan kerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Maka besaran dana yang akan diperoleh apotek untuk dikelola apoteker dalam
rangka menjamin ketersediaan obat bagi seluruh jumlah peserta JKN yang terdaftar
sebagai member dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi mitra sarana
kefarmasian tempat Apoteker berpraktek adalah sebesar Besaran angka kapitasi untuk
sarana ( obat dan BHP) yang diperoleh dari perhitungan diatas dengan seluruh jumlah
peserta JKN yang terdaftar sebagai member dari fasilitas kesehatan tingkat pertama
yang menjadi mitra sarana kefarmasian tempat Apoteker berpraktek.
BAB IV

KESIMPULAN

Tenaga apoteker sangat dibutuhkan untuk mendukung program pelayanan


kesehatan di era JKN Indonesia. Sebagai seorang tenaga profesional di bidang
kesehatan, sayangnya profesi ini sering kalah pamor di masyarakat dibandingkan
profesi tenaga kesehatan lainnya. Padahal, apoteker memiliki peran yang sangat
penting dalam kesehatan masyarakat karena yang paling kompeten dan mengetahui
tentang obat-obatan adalah orang bidang farmasi. Dari kenyataan yang ada pada
pelayanan kesehatan, peran apoteker sering tidak hadir di masyarakat. Dari
pengalaman yang ada, sering kita jumpai apoteker hanya sebagai nama pelengkap saja
di apotek. Hal tersebut sangat disayangkan, mengingat pentingnya peran apoteker
dalam memberikan penyuluhan mengenai kefarmasian pada masyarakat dan menurut
PP No. 51 tahun 2009 pasal 24 tentang pekerjaan kefarmasian, dijelaskan pula bahwa
yang harus menyerahkan obat yang harus ditebus dengan resep kepada pasien adalah
apoteker sesuai dengan prinsip TATAP (Tanpa Apoteker, Tidak Ada Pelayanan) Hal
mengenai pelayanan kefarmasian dapat dilihat di UU No. 36 tahun 2009, Pasal 108
Ayat 1 tentang tenaga kesehatan yang menyatakan bahwa praktik kefarmasiaan
meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
Pernyataan yang sejenis juga tertuang pada PP No. 51 tahun 2009, pasal 1 yang
menegaskan bahwa pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian
mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian
atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Sebenarnya
bidang farmasi klinik hanyalah salah satu dari beberapa bidang yang menjadi
tanggung jawab apoteker di Indonesia. Namun karena famasi klinik atau pelayanan
sangat berhubungan langsung dengan masyarakat maka bidang tersebutlah yang
paling terekspos. Dari diskusi yang penulis lakukan bersama seorang apoteker,
terungkap bahwa hal-hal seperti jasa pelayanan kefarmasian dinilai sangat kurang
merupakan hal utama yang menyebabkan ketidakhadiran seorang apoteker di
pelayanan. Imbalan jasa apoteker di bidang pelayanan dinilai belum
mempertimbangkan dengan baik betapa pentingnya apoteker dibidang pelayanan.
Pengawasan yang lemah dari ikatan keprofesian dan tidak tegasnya hukum di negeri
ini juga memberikan andil. Kadang, kurangnya kepercayaan diri dari seorang apoteker
jika langsung berhadapan ke masyarakat juga ikut andil dalam beberapa kasus. Stigma
yang sangat disayangkan adalah masyarakat mengenal apotek sebagai tempat
membeli obat, bukan sebagai tempat untuk mempercepat usaha dari penyembuhan
penyakitnya. Seharusnya apoteker sadar juga akan fenomena tersebut. Hendaknya
apoteker memiliki tanggung jawab seperti tenaga pelayanan kesehatan pada umumnya
yaitu memberikan pelayanan terhadap resep yang dibawa oleh pasien, KIE kepada
masyarakat serta Pelayanan Residensial (Home Care) seperti dikutip dari Surat
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004
BAB III tentang kefarmasian di apotek.

Sebagai tambahan, WHO memberikan konsep fungsi dan tugas Apoteker sesuai
dengan kompetensi Apoteker di Apotek yang dikenal dengan Nine Stars Pharmacist,
yaitu:

Care giver, artinya apoteker dapat memberi pelayanan kepada pasien, memberi
informasi obat kepada masyarakat dan kepada tenaga kesehatan lainnya.

Decision maker, artinya apoteker mampu mengambil keputusan, tidak hanya


mampu mengambil keputusan dalam hal manajerial namun harus mampu mengambil
keputusan terbaik terkait dengan pelayanan kepada pasien, sebagai contoh ketika
pasien tidak mampu membeli obat yang ada dalam resep maka apoteker dapat
berkonsultasi dengan dokter atau pasien untuk pemilihan obat dengan zat aktif yang
sama namun harga lebih terjangkau.

Communicator, artinya apoteker mampu berkomunikasi dengan baik dengan


pihak eksternal (pasien atau konsumen) dan pihak internal (tenaga profesional
kesehatan lainnya).
Leader, artinya apoteker mampu menjadi seorang pemimpin di apotek.
Sebagai seorang pemimpin, Apoteker merupakan orang yang terdepan di apotek,
bertanggung jawab dalam pengelolaan apotek mulai dari manajemen pengadaan,
pelayanan, administrasi, manajemen SDM serta bertanggung jawab penuh dalam
kelangsungan hidup apotek.

Manager, artinya apoteker mampu mengelola apotek dengan baik dalam hal
pelayanan, pengelolaan manajemen apotek, pengelolaan tenaga kerja dan administrasi
keuangan. Untuk itu Apoteker harus mempunyai kemampuan manajerial yang baik,
yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip ilmu manajemen.

Life long learner, artinya apoteker harus terus-menerus menggali ilmu


pengetahuan, senantiasa belajar, menambah pengetahuan dan keterampilannya serta
mampu mengembangkan kualitas diri.

Teacher, artinya apoteker harus mampu menjadi guru, pembimbing bagi


stafnya, harus mau meningkatkan kompetensinya, harus mau menekuni profesinya,
tidak hanya berperan sebagai orang yang tahu saja, tapi harus dapat melaksanakan
profesinya tersebut dengan baik.

Researcher, artinya apoteker berperan serta dalam berbagai penelitian guna


mengembangkan ilmu kefarmasiannya.

Enterpreneur, artinya apoteker diharapkan terjun menjadi wirausaha dalam


mengembangkan kemandirian serta membantu mensejahterakan masyarakat.

Dari poin di atas, dapat menjadi renungan bahwa sebenarnya Apoteker memiliki
peranan yang besar di kesehatan masyarakat. Apoteker bukan lah penjual obat di era
JKN ini, melainkan profesional yang tak kalah penting dari tenaga kesehatan lainnya
yang bertanggungjawab untuk meningkatkan kualitas hidup pasien juga masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.kompasiana.com/irmawidiastari/menguak-peranan-apoteker-di-
masyarakat_567c2bb362afbdf717109885

https://www.scribd.com/document/264148215/pelayanan-kefarmasian-era-
JKN

http://www.landasanteori.com/2015/10/pengertian-apoteker-definisi-hak.html

https://www.academia.edu/11244335/Konsep_Apotek_dan_Jasa_Pelayanan_A
poteker_Pada_Fasilitas_Kesehatan_Tingkat_Pertama_di_Era_Jaminan_Keseh
atan_Nasional_JKN_

Anda mungkin juga menyukai