Anda di halaman 1dari 11

LANDASAN AKSIOLOGIS SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA

DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN

Sri Soeprapto
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada
email: ssoeprapto@yahoo.com

Abstrak: Perumusan sistem pendidikan nasional membutuhkan pemikiran yang mendalam, yaitu
sampai ke pertimbangan landasan-landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Landasan aksio-
logis sistem pendidikan nasional penting sebagai dasar untuk menganalisis penerapan teori pendidikan
yang berkaitan dengan tujuan pendidikan, terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila.
Fungsi pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir rasional dan mem-
bentuk akhlak mulia dalam kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai-nilai religius, kemanu-
siaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan
potensi siswa agar dapat berpikir secara rasional, dan berakhlak mulia dalam kaitannya dengan nilai-
nilai Pancasila, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan religius, serta
konstruktif dan kreatif agar mampu bertanggung jawab untuk memajukan bangsa Indonesia dalam
menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat modern didasarkan pada demokrasi dan keadilan.

Kata Kunci: landasan aksiologis, nilai-nilai Pancasila, tujuan pendidikan nasional

AN AXIOLOGICAL FOUNDATION OF THE INDONESIAN NATIONAL


EDUCATION SYSTEM IN THE PERSPECTIVE OF PHILOSOPHY OF EDUCATION

Abstract: The formulation of a national education system requires deep thinking about ontological,
epistemological, and axiological foundations. The axiological foundation of a national education sys-
tem is important as a basis for analyzing the application of educational theories related to the educa-
tion goal, particularly in relation to the values of Pancasila. The functions of national education are to
develop the ability to think rationally and form a noble character in relation to the values of Pancasila,
namely the values of the divinity, humanity, unity, democracy, and justice. The national education
goals are to develop the students potential to be able to think rationally, and to have a noble character
in relation to the values of Pancasila, which upholds the values of truth, goodness, beauty, and divini-
ty, as well as constructively and creatively to be able to be responsible for advancing the Indonesian
nation in adjusting with the demands of the modern society based on democracy and justice.

Keywords: axiological foundation, values of Pancasila, national education goals

PENDAHULUAN didik yang mampu membawa kemajuan sesuai


Pendidikan, terutama pendidikan formal cita-cita masyarakat dan bangsanya.
merupakan salah satu proses dalam hidup ber- Kemajuan hidup yang dapat disamakan
masyarakat dan berbangsa yang penting. Sum- dengan modernisasi tentunya bukan perubahan
ber daya manusia terdidik sebagai hasil pendi- yang hanya terbatas untuk meniru gaya hidup
dikan akan besar pengaruhnya pada perkem- Barat yang rasional pragmatis. Meskipun mo-
bangan hidup bermasyarakat dan berbangsa. Ni- dernisasi lahir di Barat, tetapi modernisasi bu-
lai-nilai dan norma-norma moral yang dijun- kan merupakan perubahan yang hanya terbatas
jung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan pada menirukan gaya hidup orang Barat. Rasio-
berbangsa perlu diperhatikan agar kegiatan pen- nalitas dan kebebasan di Indonesia tidak harus
didikan dapat menghasilkan sumber daya ter- sama dengan di Barat (Koentjaraningrat, 1997:
135). Ilmu pengetahuan jaman Modern yang

266
267

berkembang di Barat hanya mengenal kebenar- donesia dapat berfungsi ganda, yaitu menang-
an empiris dan cenderung menempatkan nilai- gulangi dampak negatif modernisasi sekaligus
nilai kebendaan di atas nilai-nilai hidup yang hambatan dari ikatan-ikatan dan loyalitas pri-
lain, sehingga dapat menjungkirbalikkan hierar- mordial. Sistem pendidikan nasional berfungsi
khi nilai yang sebenarnya. Kecenderungan ter- untuk mendukung eksistensi bangsa Indonesia
sebut menyebabkan diabaikannya nilai-nilai dan dan sekaligus meningkatkan kualitasnya dalam
norma-norma moral (Hadiwardojo, 1993:50). menyesuaikan diri pada tata pergaulan dunia
Pendidikan dalam pandangan yang luas modern (Kartodirdjo, 1994:49).
adalah proses pembentukan pribadi dalam se- Undang-undang Republik Indonesia No-
mua aspeknya, yaitu pembentukan aspek jasma- mor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
ni, akal, dan hati. Tujuan pendidikan adalah ke- Nasional pada Bab X pasal 37 berisi ketentuan
giatan memberikan pengetahuan agar kebuda- bahwa kurikulum pendidikan dasar dan mene-
yaan dapat diteruskan dari generasi ke generasi ngah wajib memuat pendidikan agama, pendi-
berikutnya (Djumberansyah, 1994:19). Proses dikan kewarganegaraan, bahasa, matematika,
pendidikan terutama pendidikan di sekolah per- ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan so-
lu disesuaikan dengan perkembangan pemikiran sial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan
rasional yang ditandai kemajuan ilmu dan tek- olahraga, keterampilan/kejuruan, dan muatan
nologi, tetapi teori-teori ilmu dan teknologi lokal. Kurikulum pendidikan tinggi wajib me-
yang akan disampaikan perlu mempertimbang- muat pendidikan agama, pendidikan kewarga-
kan peningkatan dan martabat manusia. Perma- negaraan, dan bahasa. Kurikulum pendidikan
salahan utama yang dihadapi dalam proses pen- dasar dan menengah serta perguruan tinggi ter-
didikan ialah pemilihan nilai-nilai yang harus sebut tidak mewajibkan pendidikan Pancasila,
dikembangkan dalam diri anak didik (Arifin, sehingga terkesan mengabaikan nilai-nilai hi-
2000:75). dup berbangsa dan bernegara.
Pendidikan seharusnya tetap terpadu den- Undang-Undang Republik Indonesia No-
gan keseluruhan sistem nilai dan norma moral mor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Sikap il- Nasional penting dievaluasi. Perumusan sistem
miah yang menjunjung kebenaran rasional dan pendidikan nasional memerlukan berbagai per-
pengabdian kepada kehidupan bermasyarakat timbangan sampai ke landasan-landasan filsa-
merupakan faktor yang penting dalam pembina- fatinya, yaitu landasan-landasan ontologis, epis-
an karakter bangsa. Seorang ilmuwan harus le- temologis, dan aksiologisnya.
bih menitikberatkan penerapan teori yang ber-
guna untuk kepentingan hidup bermasyarakat LANDASAN FILSAFATI PENDIDIKAN
dan berbangsa dibandingkan kepentingan prag- Filsafat Pendidikan adalah cabang filsafat
matis. Nilai-nilai dan norma-norma moral Pan- yang objek sasarannya bidang pendidikan. Fil-
casila berfungsi sebagai landasan dan pengarah safat Pendidikan sesuai pemikiran filsafati yang
bagi perumusan sistem pendidikan nasional un- kritis dan mendalam akan membahas pendidik-
tuk meningkatkan kecerdasan yang memadai an sampai ke hakikatnya. Filsafat Pendidikan
(Tilaar, 2001:4). secara khusus akan membahas landasan-landas-
Sistem pendidikan nasional Indonesia di an ontologis, epistemologis, dan aksiologis pen-
masa sekarang dan untuk masa depan tentunya didikan. Landasan ontologis pendidikan akan
akan bercirikan rasionalitas, tetapi tetap mem- menganalisis hakikat keberadaan pendidikan
pertimbangkan landasan nilai-nilai hidup yang yang terkait dengan hakikat keberadaan ma-
bersumber dari budaya Indonesia sendiri. Nilai- nusia. Landasan epistemologis pendidikan akan
nilai hidup berbangsa dan bernegara perlu men- menganalisis hakikat kebenaran yang terkait
jadi pertimbangan utama dalam merumuskan dengan kebenaran teori-teori pendidikan. Lan-
sistem pendidikan nasional. Nilai-nilai dan nor- dasan aksiologis pendidikan akan menganalisis
ma moral Pancasila yang dijunjung tinggi di In- tentang penerapan teori-teori pendidikan yang

Cakrawala Pendidikan, Juni 2013, Th. XXXII, No. 2


268

terkait dengan tujuan pendidikan, terutama da- yang lebih penting adalah melatih kemampuan
lam hubungannya dengan nilai-nilai dan norma- berpikir rasional. Berpikir adalah penerapan
norma moral (Suharto, 2011:29). cara-cara ilmiah seperti mengadakan analisis,
Landasan aksiologis pendidikan akan pertimbangan, dan memilih di antara beberapa
membekali para pendidik berpikir klarifikatif alternatif yang tersedia. Tujuan pendidikan di-
tentang hubungan antara tujuan-tujuan hidup artikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang
dan pendidikan sehingga akan mampu memberi terus-menerus, yaitu mengadakan penyesuaian
bimbingan dalam mengembangkan suatu pro- dan penyesuaian kembali sesuai dengan tuntut-
gram pendidikan yang berhubungan secara rea- an lingkungan (Brameld, 1999:91).
litas dengan konteks dunia global. Manfaat men- Kedua, esensialisme. Teori esensialisme
dalami landasan aksiologis pendidikan adalah didasarkan pada konsep pendidikan yang ber-
untuk secara konsisten merumuskan landasan sendikan atas nilai-nilai yang tinggi, yaitu yang
epistemologis pendidikan. Landasan epistemo- hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Nilai-
logis pendidikan akan membantu para pendidik nilai yang dijadikan dasar adalah nilai-nilai yang
untuk dapat mengevaluasi secara lebih baik me- telah teruji oleh waktu. Proses pendidikan me-
ngenai tawaran-tawaran teori-teori yang merupa- rupakan perantara atau pembawa nilai-nilai bu-
kan solusi bagi persoalan-persoalan utama pen- daya untuk dibawa masuk ke jiwa anak didik
didikan (Suharto, 2011:43). (Brameld, 1999:204).
Filsafat Pendidikan memiliki empat fung- Ketiga, perenialisme. Teori perenialisme
si, yaitu fungsi spekulatif, normatif, kritis, dan didasarkan pada konsep agar pendidikan kem-
teoritis. Fungsi spekulatif menekankan bahwa bali kepada jiwa pencerahan yang menguasai
Filsafat Pendidikan berusaha memahami berba- abad pertengahan. Jiwa pencerahan abad per-
gai persoalan pendidikan, merumuskannya dan tengahan yang rasional telah menuntun manusia
mencarikan hubungannya dengan faktor-faktor hingga dapat mengerti adanya tata kehidupan
yang mempengaruhi pendidikan. Fungsi norma- yang telah ditentukan secara rasional untuk me-
tif Filsafat Pendidikan adalah sebagai penentu nemukan evidensi-evidensi diri sendiri (Brameld,
arah dan pedoman pendidikan. Fungsi normatif 1999:288).
tersebut meliputi tujuan pendidikan apa yang Keempat, rekonstruksianisme. Teori re-
akan ditentukan, manusia model apa yang ingin konstruksianisme didasarkan pada konsep agar
dicetak dan norma-norma atau nilai-nilai apa anak didik dapat dibangkitkan kemampuannya
yang hendak dibina. Filsafat Pendidikan mela- untuk secara konstruktif menyesuaikan diri de-
kukan fungsi kritis artinya memberi dasar bagi ngan tuntutan perubahan dan perkembangan
pengertian kristis-rasional dalam mempertim- masyarakat modern sebagai akibat pengaruh il-
bangkan dan menafsirkan data-data ilmiah pen- mu pengetahuan dan teknologi. Penyesuaian se-
didikan. Filsafat Pendidikan juga berfungsi teo- perti ini akan membuat anak didik tetap berada
retis, karena senantiasa memberikan ide, kon- dalam suasana aman dan bebas (Brameld, 1999:
sepsi, analisis, dan berbagai teori bagi upaya 296).
pelaksanaan pendidikan. Filsafat Pendidikan me-
nentukan prinsip-prinsip umum bagi suatu prak- AKSIOLOGI DAN HAKIKAT NILAI
tek pendidikan (Suharto, 2011:46). Aksiologi sebagai Cabang Filsafat
Brameld mengelompokkan berbagai pan- Nilai-nilai kebenaran, keindahan, kebaik-
dangan untuk memenuhi fungsi-fungsi Filsafat an, dan religius adalah nilai-nilai keluhuran hi-
Pendidikan berdasarkan teori-teori sebagai beri- dup manusia. Nilai-nilai keluhuran hidup ma-
kut. nusia dibahas oleh cabang filsafat yang disebut
Pertama, progresivisme. Teori progresi- aksiologi. Aksiologi membahas tentang nilai se-
visme didasarkan pada konsep pendidikan yang cara teoretis yang mendasar dan filsafati, yaitu
pada hakikatnya progresif. Pendidikan bukan membahas nilai sampai pada hakikatnya. Kare-
hanya menyampaikan pengetahuan, melainkan na aksiologi membahas tentang nilai secara

Landasan Aksiologis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dalam Persepktif Filsafat Pendidikan
269

filsafati, maka juga disebut philosophy of value yang suci. Nilai kerohanian ini terdiri dari nilai-
(filsafat nilai). Aksiologi adalah cabang Filsafat nilai pribadi, terutama dalam hubungannya de-
yang menganalisis tentang hakikat nilai yang ngan Tuhan sebagai pribadi paling tinggi dan
meliputi nilai-nilai kebenaran, keindahan, ke- suci. Contoh : keimanan dan ketakwaan.
baikan, dan religius (Kattsoff, 1996:327).
Hakikat nilai adalah kualitas yang mele- Norma Moral
kat dan menjadi ciri segala sesuatu yang ada di Nilai kebaikan manusia secara khusus di-
alam semesta dihubungkan dengan kehidupan bahas dalam etika sehingga nilai kebaikan se-
manusia. Nilai bukanlah murni pandangan pri- ring disebut nilai etis. Nilai etis menjadi sumber
badi terbatas pada lingkungan manusia. Nilai nilai bagi penilaian baik atau buruknya manusia
merupakan bagian dari keseluruhan situasi me- sebagai manusia, bukan dalam hubungan de-
tafisis di alam semesta seluruhnya. Pengertian ngan peran tertentu, misalnya sebagai ilmuwan,
nilai apabila dibahas secara filsafati adalah per- seniman, atau pedagang. Etika yang secara khu-
soalan tentang hubungan antara manusia seba- sus membahas nilai kebaikan manusia dalam
gai subjek dengan kemampuan akalnya untuk perkembangannya dapat dibedakan dua macam,
menangkap pengetahuan tentang kualitas objek- yaitu sebagai berikut.
objek di sekitarnya. Kemampuan manusia me- Pertama, etika dipahami dalam pengerti-
nangkap nilai didasari adanya penghargaan yang an yang sama dengan moralitas. Etika berkaitan
dihubungkan dengan kehidupan manusia. Fakta dengan kebiasaan hidup yang baik, tata cara
yang meliputi keseluruhan alam semesta ber- hidup yang baik, baik pada diri seseorang atau
sama manusia menciptakan situasi yang berni- masyarakat. Kebiasaan hidup yang baik tersebut
lai. Pernyataan tentang nilai tidak dapat dikata- dianut dan diwariskan dari satu generasi ke ge-
kan hanya berasal dari dalam diri manusia sen- nerasi berikutnya. Kebiasaan hidup yang baik
diri, tetapi kesadaran manusia menangkap se- ini lalu dibakukan dalam bentuk kaidah aturan
suatu yang berharga di alam semesta (Brennan, atau norma yang disebarluaskan, dipahami, dan
1996:215). diajarkan secara lisan dalam masyarakat. Ka-
idah aturan atau norma ini pada dasarnya me-
Hararkhi Nilai nyangkut baik atau buruknya perilaku manusia
Nilai-nilai dalam kenyataannya ada yang (Keraf, 2002:2).
lebih tinggi dan ada yang lebih rendah. Hirarkhi Kedua, etika dipahami dalam pengertian
nilai dikelompokkan ke dalam empat tingkatan yang berbeda dengan moralitas. Etika dime-
(Deeken, 1995:44-47) seperti berikut. Pertama, ngerti sebagai refleksi kritis tentang bagaimana
nilai-nilai kenikmatan. Tingkatan nilai ini me- manusia harus hidup dan bertindak dalam situa-
liputi nilai-nilai kebendaan yang mengenakkan si konkret, situasi khusus tertentu. Etika adalah
secara jasmaniah dan menyebabkan orang se- filsafat moral yang membahas dan mengkaji se-
nang. Contoh: rasa enak setalah makan, atau ka- cara kritis persoalan baik dan buruk secara mo-
rena memunyai uang yang banyak. Kedua, ni- ral, tentang bagaimana harus bertindak dalam
lai-nilai kehidupan. Tingkatan nilai kehidupan situasi konkret. Manusia melakukan refleksi kri-
meliputi nilai-nilai yang penting bagi kehidupan tis untuk menentukan pilihan, sikap, dan bertin-
pribadi dan bermasyarakat. Contoh: keterampil- dak secara benar secara moral sebagai manusia.
an, kesehatan, kesejahteraan perorangan sampai Refleksi kritis ini menyangkut tiga hal. (1) Re-
dengan keadilan bermasyarakat. Ketiga, nilai- fleksi kritis tentang norma moral yang diberi-
nilai spiritual. Tingkatan nilai spiritual meliputi kan oleh etika dan moralitas dalam pengertian
macam-macam nilai kejiwaan yang sama sekali pertama, yaitu tentang norma moral yang dianut
tidak tergantung pada keadaan jasmani. Nilai ke- selama ini. (2) Refleksi kritis tentang situasi
jiwaan ini meliputi kebenaran, keindahan, dan khusus yang dihadapi dengan segala keunikan
kebaikan. Keempat, nilai-nilai kerohanian. Ting- dan kompleksitasnya. (3) Refleksi kritis tentang
katan nilai kerohanian meliputi modalitas nilai berbagai paham yang dianut oleh manusia atau

Cakrawala Pendidikan, Juni 2013, Th. XXXII, No. 2


270

kelompok masyarakat tentang segala sesuatu suci-dosa. Nilai sebagai hasil konsep ukuran
yang ada di dunia. Misalnya, paham tentang yang diyakini seseorang atau kelompok masya-
manusia, Tuhan, alam, masyarakat, sistem so- rakat merupakan bagian dari kebudayaan. Kon-
sial politik, dan sistem ekonomi (Keraf, 2002: sep ukuran tersebut tidaklah bebas dari penilai-
5). an. Konsep ukuran nilai sekaligus juga merupa-
Moralitas (karakter) seseorang dan ke- kan objek bernilai yang potensial untuk dinilai.
lompok masyarakat dapat dinilai tinggi atau Hal ini membawa konsekuensi bahwa penilaian
rendah ditinjau dari sudut pandang nilai kebaik- seseorang pada dasarnya merupakan penilaian
an. Norma-norma moral adalah pedoman-pedo- yang bersifat sementara. Suatu ketika seseorang
man untuk hidup luhur sesuai dengan nilai ke- dapat memutuskan hasil penilaian atas dasar
baikan. Norma-norma moral bersumber dari ke- konsep ukuran yang telah diyakininya, namun
biasaan hidup yang baik dan tata cara hidup hasil penilaian itu akan berubah seiring dengan
yang baik. Norma-norma moral merupakan to- berubah atau berkembangnya konsep ukuran
lok ukur untuk menentukan benar atau salah si- yang diyakininya.
kap dan tindakan manusia ditinjau dari segi Hasil penilaian seseorang memang dapat
baik atau buruk sebagai manusia dan bukan se- berubah, tetapi tidak berarti bahwa seseorang ti-
bagai pelaku peran tertentu dan terbatas (Mag- dak memunyai pendirian. Sangat berbahaya jus-
nis-Suseno, 2008:19). tru apabila seseorang tetap mempertahankan kon-
Nilai kebaikan sebagai sumber norma- sep ukuran lama yang telah diyakini, sedangkan
norma moral memunyai ciri-ciri sebagai beri- konsep ukuran baru yang lebih baik telah hadir.
kut. Pertama, absolut dan objektif karena mora- Kenyataan demikian justru harus disadari agar
litas pada manusia seharusnya bebas dari sifat- seseorang mau terbuka, mau terus-menerus me-
sifat mementingkan diri sendiri yang terdapat ngadakan dialog dengan lingkungan masyarakat
pada kehendak-kehendak relatif. Kedua, primer, dalam arti luas, yaitu dengan sistem keyakinan
karena moralitas pada manusia melibatkan yang dianut, dengan hasil penilaian yang telah
suatu komitmen untuk bertindak dan merupa- dibuat, dengan budaya baru yang hadir. Dialog
kan landasan hasrat yang paling utama. Ketiga, dengan lingkungan masyarakat akan memun-
real atau nyata karena moralitas merupakan ke- culkan suatu pemahaman yang lebih kaya atas
nyataan bukan sekedar angan-angan atau semu objek-objek bernilai sehingga konsep ukuran
belaka. Keempat, universal dan terbuka, karena yang diyakini juga akan menjadi lebih kaya
moralitas mengharuskan lingkup yang terbuka (Brameld, 1999:12).
sepanjang waktu. Kelima, bersifat positif dan Benoit (1996:85) menekankan bahwa pe-
bukan yang negatif, karena norma moral dapat milihan nilai-nilai budaya ditentukan dalam
berwujud anjuran-anjuran maupun larangan- konteks sosial, yaitu sebagai berikut.
larangan. Keenam, hierarkhi tinggi, karena nilai Pertama, dari sudut pandang sejarah, ni-
kebaikan memiliki ciri intrinsik yang menjadi lai-nilai budaya merupakan hasil dari gerakan
sumber nilai bagi norma-norma moral (Moe- sejarah yang konkret. Meskipun nilai-nilai bu-
kijat, 1995:72). daya dari sudut pandang filsafat merupakan ni-
lai mutlak, mendasar, dan universal, namun ni-
LANDASAN AKSIOLOGIS SISTEM PEN- lai-nilai itu dinyatakan (diajarkan, disajikan, di-
DIDIKAN NASIONAL garisbawahi) dan dipelajari. Pernyataan dan pen-
Nilai-nilai Budaya jelasan mengenai nilai-nilai tersebut merupakan
Nilai sesungguhnya merupakan bagian produk sosial, hasil kerja manusia, atau hasil
yang tak terpisahkan dari kebudayaan. Para ahli dari gerakan sejarah yang konkret.
kebudayaan berpandangan bahwa membahas Kedua, dari sudut pandang sosiologi, ada
tentang kebudayaan harus didasarkan pada pe- gunanya dibedakan beberapa kelompok nilai
tunjuk keyakinan tentang nilai-nilai kejiwaan, budaya. Nilai-nilai ada yang mengungkapkan
yaitu baik-buruk, benar-salah, indah-jelek, dan perintah secara umum abstrak. Nilai-nilai yang

Landasan Aksiologis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dalam Persepktif Filsafat Pendidikan
271

seperti ini kerapkali menunjukkan kebutuhan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai
(hak, keweajiban) yang dipandang mutlak dan pengarah dan pendorong kelakuan manusia. Ni-
universal, misalnya keadilan, cinta kasih, ke- lai-nilai budaya sebagai sistem hanya merupa-
jujuran. Nilai-nilai juga dapat menunjukkan ke- kan konsep-konsep yang abstrak tanpa perumus-
butuhan umum tetapi kurang mendasar, misal- an yang tegas, sehingga memerlukan suatu pe-
nya keramahan, ketekunan, kesopanan dan se- doman yang nyata berupa norma-norma, hukum
bagainya. Nilai-nilai yang bersifat umum dan dan aturan, yang bersifat tegas dan konkret.
abstrak, yang tidak mengacu pada keadaan ter- Norma-norma dan aturan-aturan tersebut harus
tentu, terkadang dikatakan bahwa nilai-nilai ter- tetap bersumber pada sistem nilai budaya dan
sebut tidak berkaitan dengan konteks sosial. merupakan pemerincian dari konsep-konsep ab-
Pemilihan nilai-nilai oleh suatu masyarakat, strak dalam sistem nilai tersebut (Koentjara-
cara merumuskan, memahami dan mempelajari- ningrat, 1997:388).
nya dalam kenyataannya menununjukkan bah-
wa nilai-nilai tersebut betapapun abstrak dan Nilai-nilai Pancasila sebagai Landasan Ak-
universal memunyai kaitan dengan konteks so- siologis
sial tertentu. Sistem Pendidikan Nasional merupakan
Nilai-nilai budaya adalah jiwa kebudaya- suatu subsistem dari sistem kehidupan nasional,
an dan menjadi dasar dari segenap wujud ke- yang berarti bahwa sistem pendidikan nasional
budayaan. Tata hidup merupakan pencerminan merupakan subsistem dari kehidupan berbangsa
yang konkret dari nilai budaya yang bersifat dan bernegara. Sistem pendidikan nasional bu-
abstrak. Kegiatan manusia dapat ditangkap oleh kanlah sesuatu yang bebas nilai dan bebas bu-
pancaindera, sedangkan nilai budaya hanya da- daya karena merupakan bagian dari sistem ko-
pat ditangkap oleh budi manusia. Nilai budaya munitas nasional dan global. Sistem pendidikan
dan tata hidup manusia ditopang oleh perwu- harus selalu bersifat dinamis, kontekstual, dan
judan kebudayaan yang berupa sarana kebuda- selalu terbuka kepada tuntutan relevansi di se-
yaan. Sarana kebudayaan pada dasarnya me- mua bidang kehidupan. Sistem pendidikan na-
rupakan perwujudan kebudayaan yang bersifat sional tidak perlu berisi aturan pelaksanaan ter-
fisik yang merupakan produk dari kebudayaan perinci karena yang penting memunyai kejelas-
atau alat yang memberikan kemudahan dalam an konsep dasar dan nilai-nilai budaya yang
berkehidupan (Suriasumantri, 1994:262). menjadi landasan di setiap pelaksanaan jenjang
Setiap kebudayaan memunyai skala hi- pendidikan (Tilaar, 2001:10).
rarkhi mengenai nilai yang dipandang lebih pen- Landasan aksiologis sistem pendidikan
ting dan yang dipandang kurang penting. Pen- nasional Indonesia adalah Pancasila, karena ni-
didikan sebagai usaha yang sadar dan sistematis lai-nilai budaya Indonesia adalah nilai-nilai
dalam membantu anak didik untuk mengem- Pancasila. Nilai-nilai Pancasila sebagai landas-
bangkan pikiran, kepribadian, dan kemampuan an aksiologis sistem pendidikan nasional Indo-
fisiknya, memunyai tugas untuk mengkaji terus nesia merupakan konsistensi landasan ontologis-
nilai-nilai kebudayaan. Hal yang perlu diper- nya. Landasan ontologis sistem pendidikan na-
hatikan dalam pendidikan adalah pengembang- sional Indonesia adalah pandangan bangsa In-
an nilai budaya yang telah tertanam dalam diri donesia tentang hakikat keberadaan manusia.
anak didik agar tetap relevan dengan perkem- Hakikat pribadi kebangsaan Indonesia terdiri
bangan jaman. atas nilai-nilai hakikat kemanusiaan dan nilai-
Nilai-nilai budaya sebagai suatu sistem nilai tetap yang khusus sebagai ciri khas bangsa
merupakan suatu rangkaian konsep abstrak Indonesia. Nilai-nilai hakikat kemanusiaaan me-
yang hidup dalam alam pikiran warga masya- nyebabkan bangsa Indonesia dan orang Indone-
rakat, yaitu mengenai apa yang harus dianggap sia sama dengan bangsa lain dan orang bangsa
penting dan berharga dalam hidupnya. Nilai- lain. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, per-
nilai budaya sebagai suatu sistem merupakan satuan, kerakyatan, dan keadilan dapat menjadi

Cakrawala Pendidikan, Juni 2013, Th. XXXII, No. 2


272

ciri khas bangsa-bangsa lain, tetapi kesatuan ru- REFLEKSI KRITIS SISTEM PENDIDIK-
musannya secara lengkap sebagai Pancasila ha- AN NASIONAL
nya dimiliki dan menjadi ciri khas bangsa Indo- Landasan aksiologis sistem pendidikan
nesia (Notonagoro, 1980:93). nasional bermanfaat untuk menganalisis tentang
Nilai-nilai keluhuran hidup manusia yang penerapan teori-teori pendidikan yang terkait
terkandung dalam sila kedua Pancasila dirumus- dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan
kan dari pengertian hakikat manusia sehingga nasional dirumuskan terutama dalam hubungan-
landasan aksiologis sistem pendidikan nasional nya dengan nilai-nilai keluhuran hidup. Landas-
Indonesia merupakan implementasi landasan an aksiologis sistem pendidikan nasional Indo-
ontologisnya. Landasan ontologis sistem pendi- nesia adalah nilai-nilai Pancasila. Undang-Un-
dikan nasional Indonesia adalah hakikat keber- dang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
adaan manusia, yaitu sebagai makhluk maje- 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab
muk tunggal atau monopluralis. Susunan ko- I Pasal 1 Ayat 3 berisi ketentuan bahwa sistem
dratnya terdiri atas unsur-unsur tubuh dan jiwa pendidikan nasional adalah keseluruhan kom-
(akal-rasa-kehendak) dalam kesatuan ketung- ponen pendidikan yang saling terkait secara ter-
galan; sifat kodratnya adalah sifat makhluk per- padu untuk mencapai tujuan pendidikan nasio-
seorangan dan makhluk sosial dalam kesatuan nal. Ketentuan ini menempatkan tujuan pen-
ketunggalan, serta kedudukan kodratnya seba- didikan nasional menjadi penting, yaitu sebagai
gai pribadi berdiri sendiri dan makhluk Tuhan pertimbangan utama untuk merumuskan kom-
dalam kesatuan ketunggalan. ponen-komponen pendidikan yang lain teruta-
Nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia ma untuk mengevaluasi secara lebih baik me-
bukan hanya nilai-nilai kebenaran, keindahan, ngenai tawaran-tawaran teori-teori yang merupa-
dan kebaikan, tetapi masih ditambah ciri khas kan solusi bagi persoalan-persoalan utama pen-
adil dan beradab. Kemanusiaan yang beradab ti- didikan.
dak memisahkan kemampuan akal dari rasa dan Bab II Pasal 3 menyebutkan bahwa pen-
kehendak, tetapi menyatukannya dalam kerja- didikan nasional berfungsi mengembangkan ke-
sama. Kerjasama akal, rasa, dan kehendak dise- mampuan dan membentuk watak serta peradab-
but budi atau kepercayaan-keyakinan. Budi da- an bangsa yang bermartabat dalam rangka men-
pat mengenal dan memahami nilai religius se- cerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
bagai kenyataan mutlak. Nilai religius meliputi berkembangnya potensi peserta didik agar men-
nilai-nilai keabadian dan kesempurnaan yang jadi manusia yang beriman dan bertakwa ke-
memunyai sifat mutlak dan tetap atau tidak ber- pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
ubah. Kemanusiaan yang adil meliputi hubung- sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
an keadilan selengkapnya, yaitu adil pada diri menjadi warga negara yang demokratis serta
sendiri, masyarakat dan negara, serta pada Tu- bertanggung jawab. Rumusan tentang tujuan
han sebagai asal mula manusia (Notonagoro, pendidikan nasional ini sebagai kesatuan ka-
1980:91). limat tidak menunjukkan konsep yang jelas. Su-
Negara Indonesia bukan lembaga agama, sunan kata-katanya terlalu rinci dan tidak jelas
tetapi memiliki tertib negara dan tertib hukum hubungannya dengan nilai-nilai Pancasila. Ru-
yang mengenal hukum Tuhan, hukum kodrat, musan tentang tujuan pendidikan nasional ini
dan hukum susila (etis). Hukum-hukum tidak perlu diperbaiki dengan memperhatikan pan-
tertulis tersebut menjadi sumber bahan dan dangan bangsa Indonesia tentang hakikat ma-
sumber nilai bagi negara dan hukum positif In- nusia sebagai landasan ontologisnya dan nilai-
donesia. Peraturan perundang-undangan dan nilai utama landasan aksiologisnya, yaitu nilai-
putusan-putusan penguasa wajib menghormati nilai Pancasila. Tujuan pendidikan nasional ten-
dan memperhatikan nilai-nilai religius yang te- tunya tetap bercirikan rasionalitas, tetapi rasio-
lah diwahyukan oleh Tuhan dan nilai-nilai ke- nalitas yang berkeadaban. Berpikir rasional
manusiaan (Notonagoro, 1980:74). yang berkeadaban adalah kemampuan berpikir

Landasan Aksiologis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dalam Persepktif Filsafat Pendidikan
273

rasional yang mempertimbangkan nilai-nilai ke- jib memuat pendidikan agama, pendidikan ke-
benaran, kebaikan, keindahan, dan religius. Pe- warganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pe-
rumusan tujuan pendidikan nasional supaya ngetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, seni
bersifat konseptual, maka penting memperhati- dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga,
kan berbagai teori-teori pendidikan yang ada keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal. Kuri-
agar dapat dilakukan perumusan yang kompre- kulum pendidikan tinggi wajib memuat pendi-
hensif. Berbagai teori-teori pendidikan yang di- dikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan
jadikan pertimbangan merumuskan tujuan pen- bahasa. Kurikulum pendidikan dasar dan me-
didikan adalah Esensialisme, tetapi tidak me- nengah serta perguruan tinggi tersebut telah di-
ninggalkan ranah tujuan menurut teori-teori pro- implementasikan berdasarkan Peraturan Mente-
gresivisme perenialisme, dan rekonstruksianis- ri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006.
me. Struktur kurikulum pendidikan dasar dan me-
Tujuan pendidikan berdasar teori esensia- nengah serta perguruan tinggi tidak mewajibkan
lisme adalah internalisasi nilai-nilai budaya ke matapelajaran dan matakuliah Pendidikan Pan-
jiwa anak didik. Tujuan pendidikan berdasar casila dengan pertimbangan digabungkan pada
teori progresivisme adalah agar anak didik mam- Pendidikan Kewarganegaraan.
pu berbuat sesuatu dengan pemikiran kreatif un- Kurikulum pendidikan dasar dan mene-
tuk mengadakan penyesuaian terus-menerus se- ngah serta perguruan tinggi tahun 2006 oleh
suai dengan tuntutan lingkungan. Tujuan pendi- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di-
dikan berdasar teori perenialisme adalah per- pertimbangkan untuk dikembangkan dalam arti
tumbuhan jiwa yang rasional agar anak didik disesuaikan dengan tantangan dan kompetensi
dapat menemukan evidensi-evidensi diri sen- masa depan. Rancangan kurikulum pendidikan
diri. Tujuan pendidikan berdasar teori rekon- dasar dan menengah serta perguruan tinggi
struksianisme adalah tumbuhnya kemampuan yang baru telah disosialisasikan pada bulan 29
untuk secara konstruktif menyesuaikan diri de- Nopember sampai 23 Desember tahun 2012.
ngan tuntutan perubahan dan perkembangan Rancangan kurikulum baru akan diimplemen-
masyarakat modern. tasikan tahun 2013 dengan dimulai untuk kelas
Rumusan tentang fungsi dan tujuan pen- I, IV, VII, dan X di seluruh sekolah. Pelatihan
didikan nasional seperti ketentuan Bab II Pasal guru dan tenaga kependidikan akan diselengga-
3 dapat diperbaiki dengan meliputi unsur-unsur rakan pada Maret 2013. Implementasi kuriku-
utama sebagai berikut. Fungsi pendidikan na- lum baru dikembangkan untuk kelas I, II, IV,
sional adalah mengembangkan kemampuan ber- V, VII, VIII, X, dan XI di seluruh sekolah pada
pikir rasional dan membentuk watak yang luhur tahun 2014. Implementasi secara menyeluruh
sesuai nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai-nilai ke- untuk kelas I sampai XII pada tahun 2015. Ran-
tuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, cangan kurikulum baru akan dievaluasi secara
dan keadilan. Tujuan pendidikan nasional ada- formatif pada Juni 2013 dan evaluasi summatif
lah mengembangkan potensi peserta didik agar pada tahun 2016.
menjadi manusia yang mampu berpikir rasional Struktur kurikulum baru tahun 2013 un-
dan berwatak luhur, yaitu menjunjung tinggi ni- tuk Sekolah Dasar akan meminimumkan jumlah
lai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan matapelajaran dari 10 menjadi 6 matapelajaran.
religius, serta secara konstruktif dan demokratis Matapelajaran Ilmu Pengetahuan Alam diinte-
menjadi warga negara yang kreatif dan bertang- grasikan menjadi materi pembahasan tematik di
gung jawab untuk memajukan bangsa Indonesia pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan per- Matapelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial diinte-
kembangan masyarakat modern yang berkeadil- grasikan menjadi materi pembahasan tematik di
an. pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewargane-
Bab X Pasal 37 berisi ketentuan bahwa garaan, serta Bahasa Indonesia. Matapelajaran
kurikulum pendidikan dasar dan menengah wa- Muatan Lokal menjadi materi pembahasan di

Cakrawala Pendidikan, Juni 2013, Th. XXXII, No. 2


274

pelajaran Seni Budaya, Prakarya, serta Pendi- Kelompok C, yaitu matapelajaran Peminatan
dikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. Mata- Akademis dibedakan 3 peminatan. Pertama, Pe-
pelajaran Pengembangan Diri diintegrasikan ke minatan Matematika dan sains meliputi mata-
semua matapelajaran. Struktur kurikulum baru pelajaran Matematika, Biologi, Fisika, dan Ki-
tahun 2013 untuk kelompok A meliputi mata- mia. Kedua, Peminatan Sosial meliputi mata-
pelajaran Agama, Pendidikan Pancasila dan Ke- pelajaran Geografi, Sejarah, Sosiologi dan An-
warganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Mate- tropologi, serta Ekonomi. Ketiga, Peminatan
matika. Kelompok B meliputi matapelajaran Bahasa meliputi metapelajaran Bahasa dan Sas-
Seni Budaya dan Prakarya, serta Pendidikan tra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Ba-
Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. hasa dan Sastra Arab, serta Bahasa dan Sastra
Struktur kurikulum baru tahun 2013 un- Mandarin. Kelompok matapelajaran pilihan me-
tuk Sekolah Menengah Pertama akan memini- liputi matapelajaran Literasi Media, Teknologi
mumkan jumlah matapelajaran dari 12 menjadi Terapan, dan Pilihan Pendalaman Minat atau
10 matapelajaran. Matapelajaran Muatan Lokal Lintas Minat.
menjadi materi pembahasan di pelajaran Seni Struktur kurikulum Sekolah Menengah
Budaya, Prakarya, serta Pendidikan Jasmani, Kejuruan meliputi matapelajaran kelompok A
Olahraga, dan Kesehatan. Matapelajaran Pen- dan B sebagai matapelajaran wajib. Kelompok
gembangan Diri diintegrasikan ke semua mata- C sebagai kelompok matapelajaran Peminatan
pelajaran. Struktur kurikulum baru tahun 2013 Akademis dan Vokasi meliputi metapelajaran
untuk kelompok A meliputi matapelajaran Aga- Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris vo-
ma, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegara- kasi, dan keterampilan/kejuruan.
an, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Penge- Permasalahan kurikulum baru tahun 2013
tahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan yang perlu mendapat tanggapan adalah diinte-
Bahasa Inggris. Kelompok B meliputi matape- grasikannya matapelajaran Ilmu Pengetahuan
lajaran Seni Budaya dan Prakarya, serta Pen- Alam menjadi materi pembahasan tematik di
didikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan. pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika un-
Struktur kurikulum baru tahun 2013 un- tuk kelas V dan VI. Matapelajaran Ilmu Penge-
tuk Sekolah Pendidikan Menengah akan menia- tahuan Sosial diintegrasikan menjadi materi
dakan jurusan untuk Sekolah Menengan Atas. pembahasan tematik di pelajaran Pendidikan
Matapelajaran jurusan akan dijadikan Matape- Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Bahasa
lajaran Peminatan Akademis. Struktur kuriku- Indonesia. Permasalahan lain yang perlu men-
lum baru Sekolah Pendidikan Menengah me- dapat perhatian adalah dihapusnya jurusan di
liputi 3 kelompok. Kelompok A meliputi mata- Sekolah Menengah Atas dan dikembalikannya
pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Pan- matapelajaran Pendidikan Pancasila dalam ke-
casila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, satuan dengan matapelajaran Pendidikan Ke-
Matematika, Sejarah Indonesia, dan Bahasa warganegaraan.
Inggris. Kelompok B meliputi matapelajaran Pengintegrasian matapelajaran Ilmu Pe-
Seni Budaya, Prakarya, serta Pendidikan Jasma- ngetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial
ni, Olahraga, dan Kesehatan. Kelompok C me- apabila diartikan bukan penghapusan, maka da-
liputi matapelajaran peminatan akademis untuk pat dibenarkan. Peminiman dalam arti pengu-
Sekolah Menengah Atas dan matapelajaran pe- rangan jumlah jam untuk pelajaran kognitif me-
minatan akademis dan vokasi untuk Sekolah mang diperlukan agar tersedia waktu yang cu-
Menengah Kejuruan. kup untuk membentuk pribadi yang berkemam-
Struktur kurikulum Sekolah Menengah puan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif.
Atas meliputi matapelajaran kelompok A dan B Konsekuensinya adalah perlu penyusunan sila-
sebagai matapelajaran wajib. Kelompok C se- bus, buku ajar, dan dokumen kurikulum (struk-
bagai kelompok matapelajaran Peminatan Aka- tur kurikulum, standar kompetensi lulusan, kom-
demis, dan kelompok matapelajaran pilihan. petensi inti, kompetensi dasar, dan pedoman)

Landasan Aksiologis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dalam Persepktif Filsafat Pendidikan
275

yang konsisten dengan landasan filsafati pendi- kodratnya terdiri dari unsur-unsur tubuh dan
dikan. Permasalahan dihapusnya jurusan di Se- jiwa (akal-rasa-kehendak) dalam kesatuan ke-
kolah Menengah Atas juga dapat dibenarkan, tunggalan; sifat kodratnya adalah sifat makhluk
agar tidak terjadi kelompok strata atau kasta di perseorangan dan makhluk sosial dalam ke-
sekolah. Siswa yang satu akan berbeda dengan satuan ketunggalan, serta kedudukan kodratnya
siswa yang lain, karena perbedaan peminatan sebagai pribadi berdiri sendiri dan makhluk
akademis. Permasalahan dikembalikannya mata Tuhan dalam kesatuan ketunggalan.
pelajaran Pendidikan Pancasila dalam kesatuan Landasan aksiologis Sistem Pendidikan
dengan matapelajaran Pendidikan Kewargane- Nasional adalah nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai
garaan juga benar, karena nilai-nilai Pancasila religius yang menjadi dasar dan sumber nilai
adalah kepribadian bangsa Indonesia. Pendidik- bagi nilai kemanusiaan. Nilai-nilai religius dan
an Agama, Pendidikan Pancasila, Pendidikan kemanusiaan menjadi dasar dan sumber nilai
Kewarganegaraan merupakan unsur utama pen- bagi nilai persatuan kebangsaan, nilai demokra-
didikan karakter. si kerakyatan, dan nilai keadilan. Landasan ak-
Pendidikan karakter adalah upaya teren- siologis sistem pendidikan nasional merupakan
cana bukan hanya untuk mengenal melalui pem- landasan pertimbangan merumuskan tujuan pen-
belajaran kognitif, tetapi memerlukan kepeduli- didikan, terutama dalam hubungannya dengan
an dan internalisasi nilai-nilai (Haryanto, 2011: nilai-nilai dan norma-norma moral Pancasila.
17). Pendidikan nilai meliputi ranah kognitif, Rumusan tentang fungsi dan tujuan pen-
afektif, dan psiko motoris. Tujuan pendidikan didikan nasional seperti ketentuan bab II pasal 3
nilai bukan hanya untuk memunyai pengeta- Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20
huan tentang keluhuran nilai, tetapi juga untuk Tahun 2003 perlu diperbaiki. Fungsi pendidik-
menumbuhkan simpati dan empati. Pendidikan an nasional adalah mengembangkan kemam-
nilai memerlukan waktu yang cukup agar anak puan berpikir rasional dan membentuk watak
didik mampu berbudipekerti luhur (Jirzanah, yang luhur sesuai nilai-nilai Pancasila, yaitu
2008:109). nilai-nilai ke-Tuhanan, kemanusiaan, persatuan,
Permasalahan yang penting dan perlu di- kerakyatan, dan keadilan. Tujuan pendidikan
tindaklanjuti sebagai akibat rancangan kuriku- nasional adalah mengembangkan potensi peser-
lum baru tahun 2013 adalah perlunya penye- ta didik agar menjadi manusia yang mampu ber-
suaian beberapa ketentuan di dalam Undang- pikir rasional dan berwatak luhur, yaitu men-
undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun junjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kebaikan,
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab keindahan, dan religius, serta secara kreatif dan
X pasal 37 berisi ketentuan, bahwa kurikulum konstruktif menjadi warga negara yang bertang-
pendidikan dasar dan menengah serta perguruan gung jawab untuk memajukan bangsa Indonesia
tinggi tidak mewajibkan matapelajaran dan ma- dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan per-
takuliah Pendidikan Pancasila. Konskwensi le- kembangan masyarakat modern yang demokra-
bih lanjut adalah rumusan tentang fungsi dan tis dan berkeadilan.
tujuan pendidikan nasional pada bab II pasal 3 Kurikulum baru tahun 2013 yang men-
juga perlu diperbaiki agar jelas hubungannya gembalikan matapelajaran dan matakuliah Pen-
dengan nilai-nilai Pancasila. didikan Pancasila berdiri sendiri tidak dalam
kesatuan dengan Pendidikan Kewarganegaraan
PENUTUP sangat tepat. Nilai-nilai Pancasila adalah lan-
Landasan aksiologis Sistem Pendidikan dasan aksiologis Sistem Pendidikan Nasional
Nasional merupakan konsistensi landasan onto- Indonesia.
logisnya, yaitu pandangan bangsa Indonesia
tentang hakikat keberadaan manusia. Hakikat UCAPAN TERIMA KASIH
keberadaan manusia adalah sebagai makhluk Penulis mengucapkan terima kasih ke-
majemuk tunggal atau monopluralis. Susunan pada Redaktur dan seluruh anggota pengelola

Cakrawala Pendidikan, Juni 2013, Th. XXXII, No. 2


276

Jurnal Cakrawala Pendidikan yang telah mem- Jirzanah. 2008. Aktualisasi Pemahaman Nilai
berikan kesempatan mempublikasikan artikel Bagi Masa depan Bangsa Indonesia.
ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih ke- Jurnal Filsafat Wisdom. (1), XVIII, 93-
pada para pembaca ahli yang berkenan mem- 114.
berikan masukan agar artikel ini lebih berman-
faat bagi penyelenggaraan kegiatan pendidikan Kartodirdjo, Sartono. 1994. Pembangunan
di Indonesia. Bangsa. Yogyakarta: Aditya Media.

DAFTAR PUSTAKA Kattsoff Louis, O. 1996. Element of Philoso-


Arifin, H.M. 2000. Kapita Selekta Pendidikan. phy. terjemahan Soemargono. Pengantar
Jakarta: Bumi Aksara. Filsafat.Yogyakarta: Tiara Wacana.

Benoit, Andre. 1996. Sekolah dan Pendidikan Keraf, Sony. 2002. Etika Lingkungan. Jakarta:
Nilai, dalam Pendidikan Nilai Memasuki Kompas.
Tahun 2000. Jakarta: PT. Gramedia.
Koentjaraningrat. 1997. Manusia dan Kebuda-
Brameld, Theodore. 1999. Philosophies of Edu- yaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
cation in Culture Perspective. 4th edition.
New York: The Oryden Press. Magnis-Suseno, Van. 2008. Etika Dasar. Yog-
yakarta: Kanisius.
Brennan. 1996. The Meaning of Philosophy.
3rd Edition. New York: Harper & Bro- Moekiyat. 1995. Asas-Asas Etika. Bandung:
ther. Mandar Maju.

Deeken, Alfons. 1995. Process and Perma- Notonagoro. 1980. Pancasila Secara Ilmiah
nence in Ethics. New York: Paulist Press. Populer. Jakarta: Pantjuran Tudjuh.

Djumberansyah, Indar. 1994. Filsafat Pendidik- Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam.
an. Surabaya: Karya Abditama. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Hadiwardoyo, Purwo. 1993. Nilai Kemanusia- Suriasumantri, Jujun S. 1994. Filsafat Ilmu Se-
an Hikmat bagi Pendidikan. Pendidik- buah Pengantar Populer. Jakarta: Swa-
an Memasuki Tahun 2000. Jakarta: Gra- daya.
media Mediasarana Indonesia.
Tilaar. 2001. Manajemen Pendidikan Nasional.
Haryanto, 2011. Pendidikan Karakter Menu- Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
rut Ki Hadjar Dewantara. Cakrawala
Pendidikan. XXX (Edisi Khusus Dies
Natalis UNY), 15-27.

Landasan Aksiologis Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dalam Persepktif Filsafat Pendidikan