Anda di halaman 1dari 6

Beban belajar paket C

Pada standar proses Program Paket A, B dan C (Permendiknas Nomor 03 Tahun 2008)
diamanatkan bahwa pembelajaran pendidikan kesetaraan menggunakan tatap muka minimal
20%, tutorial minimal 30%, dan kegiatan belajar mandiri maksimal 50%. Implementasi hal
tersebut dilakukan dengan memetakan satuan kredit kompetensi (SKK) pada bobot SKK
setiap mapel dengan menetapkan apakah menggunakan tatap muka, tutorial atau mendiri atau
kombinasi.

Jika jadwal pembelajaran Paket C yang dilaksanakan seminggu tiga kali dihitung berdasarkan
pemetaan SKK maka hal tersebut akan sah dan memenuhi standar proses pendidikan
kesetaraan.

Berdasarkan pemetaan SKK, penghitungan beban belajar di kelompok belajar/kelas


pertemuan dalam seminggu bisa berbeda antara penyelenggara Paket C yang satu dan
lainnya. Perbedaan beban belajar tersebut akan sangat dipengaruhi penyelenggara dalam
memetakan SKK untuk setiap mata pelajarannya. Kita ambil contoh saja penghitungan beban
belajar pada tingkatan 5 setara kelas X.

Pemetaan SKK pada Mata pelajaran Paket C Tingkat 5 setara kelas X per semester
Berdasarkan hasil pemetaan SKK tersebut di atas, dapat dikonversi jumlah jam pelajaran
(JPL) setiap mata pelajaran setiap minggu untuk setiap mapel. Ketentuan konversi adalah:
satu SKK tatap muka setara dengan satu jam pelajaran (1 X 45 menit); satu SKK tutorial
setara dengan dua jam pelajaran (2 X 45 menit); dan satu SKK mandiri setara dengan tiga
jam pelajaran (3 X 45 menit). Berdasarkan ketentuan dalam standar proses pendidikan
kesetaraan (Permendiknas nomor 03 Tahun 2008), hanya pembelajaran tatap muka dan
tutorial yang dilaksanakan terjadwal di kelas. Sedangkan pembelajaran mandiri dilakukan
peserta didik di rumah atau tempat lain yang didahului adanya kontrak belajar antara tutor
dan warga belajar.

Setelah dikonversi maka diperoleh beban belajar tatap muka seminggu adalah 4 X 1 JPL= 4
JPL, dan beban belajar tutorial seminggu adalah 6 X 2 JPL= 12 JPL. Sehingga total
pertemuan di kelas yang harus dijadwalkan adalah 16 JPL.

Pemetaan SKK pada di atas merupakan memenuhi ketentuan tatap muka minimal 20%,
tutorial minimal 30%, dan kegiatan belajar mandiri maksimal 50%. Pada pembelajaran
dengan bobot 20 SKK, hasil pemetaan di atas merupakan batas minimal. Artinya jika ternyata
pembelajaran dilakukan di bawah 16 JPL pada tingkatan 5 setara Kelas X, maka dianggap
tidak memenuhi standar proses.

Jika dibuatkan jadwal pembelajaran berdasarkan pemetaan di atas maka diperoleh jadwal
pembelajaran sebagai berikut.

Jadwal Pembelajaran Paket C IPS Semester 1 Tingkat 5, setara kelas X

Penerapan SKK juga dipandang merupakan bentuk fleksibilitas pendidikan nonformal,


karena jika dipetakan berbeda sesuai dengan kebutuhan akan menghasilkan beban belajar per
minggu yang berbeda. Sepanjang hasil pemetaan memenuhi kriteria minimal.
Seri Bimbingan Akreditasi PKBM Program Pendidikan Kesetaraan

Jakarta (19/03/2017) PKBM diwajibkan


memiliki struktur kurikulum untuk setiap jenis program utama yang diajukan akreditasi.
Butir 2.2.1 ini termasuk berstatus major, artinya adalah kriteria yang harus dipenuhi karena
sangat signifikan mempengaruhi pencapaian 8 (delapan) standar nasional pendidikan.
Bagaimana cara memenuhi ketentuan butir ini? Berikut penjelasannya.

Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh
peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Dalam konteks kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) struktur kurikulum dicantumkan dalam naskah KTSP. Dokumen KTSP
terdiri dari dokumen 1 dan dokumen 2. Dokumen 1 KTSP pendidikan kesetaraan berisi
tentang acuan pengembangan KTSP yang memuat latar belakang, tujuan dan prinsip
pengembangan, tujuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan.
Dokumen 2 KTSP pendidikan kesetaraan terdiri dari silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas struktur kurikulum termasuk dalam dokumen 1
KTSP.
Sebelumnya perlu dipahami bahwa Paket A, Paket B dan Paket C masih menggunakan
kurikulum berdasarkan standar isi sebagaimana diatur dalam Permendiknas Nomor 14 Tahun
2007. Atau dalam bahasa awamnya masih menggunakan kurikulum KTSP 2006. Pendidikan
kesetaraan sampai tulisan ini diturunkan belum menerapkan kurikulum 2013. Mengapa
pendidikan kesetaraan saat ini belum menggunakan kurikulum 2013, karena kerangka dasar
dan struktur kurikulum belum ditetapkan alias masih menggunakan kurikulum lama.

Struktur kurikulum merupakan pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban


belajar dan kompetensi dasar. Sedangkan berdasarkan instrumen akreditasi bukti fisik yang
dinilai adalah (a) daftar mata pelajaran; (b) bobot/jumlah jam belajar per mata pelajaran; (c)
alokasi waktu pembelajaran; (d) lama studi.

Namun demikian penyajian bukti fisik akreditasi tidak harus terpisah-pisah, karena pada
hakekatnya keempat indikator di atas termuat dalam dokumen satu KTSP. Oleh karenanya
asesor akan memeriksa indikator-indikator struktur kurikulum dalam dokumen satu KSTP.
Sudah barang tentu setiap indikator di atas diberi tanda (post id) agar memudahkan asesor
menemukan keempat indikator dimaksud.

Untuk menyajikan indikator (a) dan (b) dapat disajikan tabel pemetaan mata pelajaran
berdasarkan bobot satuan kredit kompetensi yang kemudian dikonversi ke dalam jam
pelajaran.

Seperti kita ketahui bahwa menu struktur kurikulum pendidikan kesetaraan sebagaimana
tertuang dalam Permendiknas Nomor 14 Tahun 2007 masih berupa bobot kompetensi pada
setiap tingkatan, belum didistribusikan ke dalam semester dan belum dikonversi ke dalam
jam pelajaran atau beban belajar. Sehingga untuk membuktikan indikator (b) perlu dilakukan
konversi bobot satuan kredit kompetensi ke dalam jam pelajaran terlebih dahulu.

Konversi bobot satuan kredit kompetensi ke dalam jam pelajaran dilakukan melalui tahapan
pemetaan satuan kredit kompetensi sebagaimana dapat diperiksa pada tabel berikut ini.
Contoh pada tabel berikut ini adalah pemetaan satuan kredit kompetensi Paket C IPA/IPS
pada tingkatan 5 setara kelas X semester I.

Semester I
Bobot
No. Matapelajaran Tatap Muka Tutorial Mandiri Jumlah
SKK
SKK JPL SKK JPL SKK JPL SKK JPL
1 Pendidikan Agama 2 0 0 1 3 1 3
2 Pendidikan Kewarganegaraan 2 1 1 0 0 1 1
3 Bahasa Indonesia 4 1 1 1 2 0 2 3
4 Bahasa Inggris 4 1 1 1 2 0 2 3
5 Matematika 4 1 1 1 2 0 2 3
6 Fisika 2 0 0 1 3 1 3
7 Kimia 2 0 0 1 3 1 3
8 Biologi 2 0 0 1 3 1 3
9 Sejarah 1 0 0,5 1 0 0,5 1
10 Geografi 1 0 0,5 1 0 0,5 1
11 Ekonomi 2 0 1 2 0 1 2
12 Sosiologi 2 0 1 2 0 1 2
13 Seni Budaya 2 0 0 1 3 1 3
Pendidikan Jasmani,
14 2 0 0 1 3 1 3
Olahraga dan Kesehatan
15 Keterampilan Fungsional*) 4 0 0 2 6 2 6
16 Muatan Lokal**) 2 0 0 1 3 1 3
Pengembangan Kepribadian
17 2 0 0 1 3 1 3
Profesional
40 4 6 10 20 46
Persentase (%) 20,00 30,00 50,00
20%- 30%- <=
Kriteria
70% 80% 50%

Berdasarkan standar isi pendidikan kesetaraan, satu bobot satuan kredit kompetensi (1 SKK)
pembelajaran tatap muka dikonversi menjadi satu jam pelajaran (1 SKK tatap muka= 1 jpl);
sedangkan satu bobot satuan kredit kompetensi (1 SKK) pembelajaran tutorial dikonversi
menjadi dua jam pelajaran (1 SKK tatap muka= 2 jpl); dan satu bobot satuan kredit
kompetensi (1 SKK) pembelajaran mandiri dikonversi menjadi tiga jam pelajaran (1 SKK
mandiri= 3 jpl).

Ketentuan pemetaan SKK adalah pembelajaran tatap muka pada rentang 20%-70%,
pembelajaran tutorial antara 30%-80% dan pembelajaran mandiri maksimal 50%. Artinya
jumlah bobot SKK yang dipetakan pada setiap bentuk pembelajaran memenuhi ketentuan
prosentase bobot SKK pada semester tersebut. Misalnya pada semester I di atas jumlah bobot
SKK adalah 20 SKK, maka prosentase pembelajaran tatap, tutorial dan mandiri adalah dari
keseluruhan bobot 20 SKK tersebut. Berdasarkan perhitungan pemetaan SKK tabel di atas,
pembagian ketiga pembelajaran dipandang memenuhi kriteria.

Sesuai standar proses pendidikan kesetaraan bahwa pembelajaran mandiri tidak dilakukan di
kelas, dengan demikian pembelajaran yang terjadwal adalah pembelajaran tatap muka dan
pembelajaran tutorial. Dengan demikian jumlah jam pelajaran yang terjadwal sebagaimana
dalam tabel di atas adalah sejumlah empat jam pembelajaran tatap muka dan 12 jam pelajaran
pembelajaran tutorial atau total sejumlah 16 jam pelajaran.

Dari hasil pemetaan SKK di atas barulah bisa disusun jadwal pembelajaran. Sejumlah total 16
jam pelajaran (tatap muka dan tutorial) dapat dimasukkan ke dalam roster (jadwal
pembelajaran). Berdasarkan pemetaan inilah dapat dihasilkan jadwal pembelajaran yang
hanya tiga kali seminggu, atau empat kali seminggu.

Inilah pembuktian bahwa pembelajaran pendidikan kesetaraan tidak harus dilakukan setiap
hari. Hasil pemetaan bisa berbeda antara satu satuan pendidikan nonformal dengan satuan
pendidikan nonformal lainnya, hal mana membuktikan pula wujud fleksibiltas pendidikan
kesetaraan dari segi pelaksanaannya. Artinya jumlah jam pelajaran per mata pelajaran bisa
berbeda sesuai hasil pemetaan SKK, dan jadwalnya pun bisa berbeda-beda.
Untuk membuktikan alokasi waktu pembelajaran (indikator ketiga), maka hasil pemetaan di
atas dituangkan dalam bentuk jadwal pembelajaran mingguan. Satu jam pelajaran Paket C
sama dengan 45 menit. Sedangkan untuk Paket B sama dengan 40 menit dan Paket A sama
dengan 35 menit.

Pemetaan SKK dan jadwal pembelajaran disajikan untuk setiap rombongan belajar yang
sedang berjalan pada tahun pelajaran ketika dilakukan visitasi akreditasi. Jangan hanya
menyajikan salah satu contoh pemetaan SKK dan jadwal pembelajaran pada semester
tertentu.

Selanjutnya pada indikator keempat pada butir akreditasi ini adalah dapat menjelaskan lama
studi. Uraian lama studi dituangkan dalam dokumen satu KTSP. Ketentuan lama studi ini
dimasukkan dalam Bab III Struktur dan Muatan Kurikulum pada huruf B.9. (lihat contoh
KTSP). Adapun contoh uraian yang menunjukkan lama studi adalah sebagai berikut:

Lama studi Paket C (IPA/IPS) sesuai dengan struktur kurikulum dan standar proses adalah
sebagai berikut:

1. Paket C (IPA/IPS) Tingkatan 5/Mahir 1 (Setara Kelas X) mempunyai beban 40


SKK setara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 20 SKK per
Artinya tingkatan Tingkatan 5/Mahir 1 (Setara Kelas X) ditempuh dalam dua
semester atau satu tahun.
2. Paket C (IPA/IPS) Tingkatan 6/Mahir 2 (Setara Kelas XI XII) mempunyai beban 82
SKK setara dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan minimal 21 SKK per
Artinya tingkatan Tingkatan 6/Mahir 2 (Setara Kelas XI-XII) ditempuh dalam empat
semester atau dua tahun.
3. Keseluruhan program Paket C (IPA/IPS) ditempuh selama enam semester atau tiga
tahun.

Selanjutnya untuk mengetahui contoh KSTP dapat diklik tautan ini.