Anda di halaman 1dari 15

KELOMPOK 4

Nama Anggota :

1. Alqoyyum Jihan A (151001051)


2. Dias Praheswari (151001059)
3. Ernawati (151001060)
4. Fahrur Riza (151001061)
5. Fitri Munfaridjatul M (151001065)
6. Sinta Meidiasari (151001084)
7. Tina Oktafiana (151001086)
8. Yustria Puji R (151001095)

HORDEOLUM

STEP 1

1. Pengertian hordeolum
2. Penyebab hordeolum
3. Macam-macam hordeolum
4. Tanda dan Gejala hordeolum
5. Penatalaksanaan hordeolum
6. Pencegahan hordeolum
7. Komplikasi hordeolum

STEP 2

1. Apa pengertian hordeolum ?


2. Apa penyebab hordeolum ?
3. Apa saja macam-macam hordeolum ?
4. Apa tanda dan gejala hordeolum ?
5. Bagaimana pentalaksanaan hordeolum ?
6. Bagaimana pencegahan hordeolum ?
7. Apa komplikasi hordeolum ?
STEP 3

1. Pengertian hordeolum :
Bintilan merah pada mata
Benjolan akibat infeksi debu
Benjolan kecil atau besar pada mata
Benjolan kecil berwarna merah terdapat pada bagian atas mata
Benjolan yang diakibatkan karena alergi makanan
2. Penyebab hordeolum :
Karena infeksi
Alergi
Gigitan serangga
3. Macam-macam hordeolum :
Hordeolum luar
Hordeolum dalam
4. Tanda dan Gejala hordeolum :
Adanya benjolan
Gatal
Merah
Panas
Nyeri
5. Penatalaksanaan hordeolum :
Kompres air hangat
Pemberian antibiotic
Beri bawang putih
6. Pencegahan hordeolum :
Menghindari makanan pencetus alergi
Mengurangi kontak langsung antara tangan dan mata
Menjaga kebersihan
Selalu cuci tangan untuk meminimalkan terjadi infeksi mata jika
tangan menyentuh mata
7. Komplikasi hordeolum :
Bengkak di area mata
Penglihatan terganggu karena adanya benjolan

STEP 4

Sudah Jelas Belum Jelas


1. Pengertian hordeolum 1. Penyebab hordeolum
2. Tanda dan Gejala hordeolum
3. Macam-macam hordeolum
4. Penatalaksanaan hordeolum
5. Pencegahan hordeolum
6. Komplikasi hordeolum
7. Macam-macam hordeolum

STEP 5

Tujuan dari pembeajaran ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian dari hordeolum


2. Untuk mengetahui penyebab dari hordeolum
3. Untuk mengetahui macam-macam dari hordeolum
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari hordeolum
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari hordeolum
6. Untuk mengetahui pencegahan dari hordeolum
7. Untuk mengetahui komplikasi dari hordeolum
STEP 7

1. Pengertian
Hordeolum adalah infeksi akut kelenjar di palpebra yang berisi
material purulen yang menyebabkan nyeri tajam yang tumpul. ( Indriana
Istiqomah, 2004: 91).
Hordeolum eksternum atau yang dikenal dengan nama bintitan
merupakan infeksi superficial kelenjar kelopak mata Zeis atau Moll, dan
hordeolum internum atau kalazion merupakan inflamasi granulomatus
kronik kelenjar meibom ditandai dengan pembengkakan tak nyeri
terlokalisasi yang terbentuk dalam beberapa minggu (Brunner & Suddarth,
2002).
Hordeolum atau timbil adalah suatu infeksi pada satu atau beberapa
kelenjar di tepi atau bawah kelopak mata. Bisa terbentuk lebih dari satu
hordeolum pada saat yang bersamaan. Hordeolum biasanya timbul dalam
beberapa hari dan bisa sembuh secara spontan (Prakoso, 2009).
2. Penyebab
Hordeolum biasanya disebabkan oleh :
1. Infeksi dari Staphylococcus ( biasanya staphilococcus aureus) atau
streptococcus pada kelenjar sebasea kelopak mata.
Karena infeksi bakteri Staphylococcus aureus menyerang pada
kelenjar yang sempit dan kecil biasanya menyerang kelenjar minyak
(Meibomian) dan akan menyebabkan pembentukan abses (kantung
nanah). Pembentukan nanah terdapat pada lumen kelenjar bisa
mengeni kelenjar Meibom, Zeis dan Moll. Sehingga akan terjadi
pembengkakan yang agak besar dan terjadilah hordeolum.
Kelopak mata merupakan lipatan kulit tipis yang melindungi mata.
Kelopak mata secara refleks segera menutup untuk melindungi mata
dari benda asing, angin, debu dan cahaya yang sangat terang. Ketika
berkedip, kelopak mata membantu menyebarkan cairan ke seluruh
permukaan mata dan ketika tertutup, kelopak mata mempertahankan
kelembaban permukaan mata. Tanpa kelembaban tersebut, kornea bisa
menjadi kering, terluka dan tidak tembus cahaya. Bagian dalam
kelopak mata adalah selaput tipis (konjungtiva) yang juga
membungkus permukaan mata.
Kelopak mata, kelopak mata ada 2, yaitu atas dan bawah. Kelopak
mata atas lebih banyak bergerak dari kelopak yang bawah dan
mengandung musculus levator palpebrae untuk menarik kelopak mata
ke atas (membuka mata). Ketika terjadinya membuka mata hal ini akan
berpengaruh besar terhadap terjadinya infeksi dari bakteri luar
khususnya bakteri staphylococcus ( biasanya staphilococcus auresus)
atau streptococcus akan masuk ke dalam mata sehingga bakteri ini
akan berkembang dan membuat mata terinfeksi menimbulkan
peradangan dan pembengkakan sehingga terjadi hordeolum.
Sedangkan pada saat menutup mata dilakukan oleh otot otot yang lain
yang melingkari kelopak mata atas dan bawah yaitu musculus
orbicularis oculi. Ruang antara ke-2 kelopak disebut celah mata
(fissura pelpebrae), celah ini menentukan melotot atau sipit nya
seseorang.
Kejadian ini bisa menyebabkan bakteri luar akan masuk
menginfeksi mata terutama saat mata melotot karena saat melotot akan
membukakan celah-celah pada mata untuk semakin melebar sehingga
memudahkan bakteri staphylococcus menginfeksi mata. Pada sudut
dalam mata terdapat tonjolan disebut caruncula lakrimalis yang
mengandung kelenjar sebacea (minyak) dan sudorifera (keringat).
2. Peradangan akibat alergi
Karena ketika kita mempunyai riwayat alergi kita akan mengalami
gatal ataupun gangguan kenyamanan pada anggota tubuh kita salah
satunya pada mata. Akibat peradangan yang terjadi pada mata maka
tangan kita akan merespon untuk mengucek mata kita yang bisa
berakibat pada infeksi. Peradangan akibat alergi yang mengenai
kelopak mata, akan terjadi pengecilan lumen dan statis hasil sekresi
kelenjar. Statis ini akan mencetuskan infeksi sekunder oleh bakteri
Staphylococcus aureus. Setelah itu akan terjadi pembentukan pus atau
nanah dalam lumen kelenjar kelopak mata atau bisa juga terjadi
penyumbatan yang menyebabkan minyak yang diproduksi tidak bisa
dialirkan sempurna, sehingga terjadi pembengkakan.

Faktor Predisposisi
1. Usia : anak-anak dan remaja
Usia ini cenderung terkena hordeolum bila dibandingkan dengan
orang dewasa. Hal ini disebabkan karena anak pada usia tersebut suka
bermain kesana kemari tanpa memperhatikan factor kebersihan dan
kesehatan. Anak mungkin saja bermain di tempat kotor dan kemudian
mengucek matanya yang gatal tanpa mencuci tangan terlebih dahulu
sehingga menyebabkan infeksi pada mata
2. Genetik
Genetik yang dimaksudkan adalah bagi mereka yang mewarisi
bakat alergi dari orang tuanya, sehingga mereka lebih rentan terkena
hordeolum. Biasanya karena makan makanan pemicu alergi atau ada
pemicu yang menyebabkan alerginya kambuh sehingga memunculkan
peradangan di kelopak mata, baik di kelenjar minyak maupun kelenjar
lainnya.
3. Patofisiologi
Hordeolum disebabkan oleh adanya infeksi dari
bakteri Staphylococcus aureus yang akan menyebabkan proses inflamasi
pada kelenjar kelopak mata. Infeksi bakteri Staphylococcus aureus pada
kelenjar yang sempit dan kecil, biasanya menyerang kelenjar minyak
(meibomian) dan akan mengakibatkan pembentukan abses (kantong
nanah) kearah kulit kelopak mata dan konjungtiva biasanya disebut
hordeolum internum. Apabila infeksi pada kelenjar Meibom mengalami
infeksi sekunder dan inflamasi supuratif dapat menyebabkan komplikasi
konjungtiva.

Apabila bakteri Staphylococcus aureus menyerang kelenjar Zeis atau


moll maka akan membentuk abses kearah kulit palbebra yang biasanya
disebut hordeolum eksternum. Setelah itu terjadi pembentukan chalazion
yakni benjolan di kelopak mata yang disebabkan peradangan di kelenjar
minyak (meibom), baik karena infeksi maupun reaksi peradangan akibat
alergi.

4. Macam-macam hordeolum
a. Hordeolum eksternum
Merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll, tempat keluarnya
bulu mata ( pada batas palpebra dan bulu mata). Area infeksi berbatas
tegas, merah, bengkak dan nyeri tekan pada permukaan kulit daerah
batas. Ukuran lebih kecil dan lebih superficial daripada hordeolum
internum. Lesi ikut bergerak saat kulit bergerak. Jika mengalami
supurasi dapat pecah sendiri kearah kulit. ( Indriana Istiqomah, 2004 ).
b. Hordeolum internum
Merupakan infeksi pada kelenjar Meibom sebasea yang terletak
didalam tarsus. Area kecil seperti manic dan edematous terdapat pada
konjugtiva palpebra pada perbatasan palpebra dan bulu mata. Lesi tidak
ikut bergerak dengan pergerakan kulit. Dapat pecah kearah kulit atau
permukaan konjungtiva. Namun, karena letaknya dalam tarsus, jarang
mengalami pecah sendiri.
5. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala hordeolum antara lain :
a. Kelopak yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan
nyeri bila ditekan.
Hal ini disebabkan karena proses peradangan akibat infeksi dari
bakteri Staphylococcus aureus yang membentuk pus atau nanah dalam
lumen kelenjar kelopak mata atau bisa juga terjadi penyumbatan yang
menyebabkan minyak yang diproduksi tidak bisa dialirkan sempurna
sehingga menimbulkan bengkak, sakit dan mengganjal, merah dan nyeri
bila ditekan.
b. Adanya pseudoptosis atau ptosis yang mengakibatkan kelopak sukar
diangkat.
Karena kelopak mata atau palpebra yang berfungsi untuk menutupi
dan melindungi mata sudah terinfeksi oleh bakteri Staphylococcus
aureus yang mengakibatkan peradangan dan pembengkakan pada
palpebra. Dimana pembengkakan ini disebabkan karena pembentukan
pus atau nanah dalam lumen kelenjar kelopak mata sehingga
pembengkakan yang semakin membesar akan sulit kelopak mata untuk
diangakat atau membuka.
c. Terjadi pembesaran pada kelenjar preaurikel
Hal ini terjadi karena terdapat pembengkakan pada palpebra
d. Kadang mata berair dan peka terhadap sinar

Karena palpebra yang melindungi mata dari cedera dan cahaya


yang berlebihan sudah terganggu akibat proses infeksi oleh bakteri
sehingga kelopak mata tidak bisa melindungi dengan maksimal dari
pancaran sinar yang berlebih. Mata berair juga disebabkan karena
kelenjar lakrimalis yang terletak di puncak tepi luar dari mata kiri dan
kanan yang menghasilkan air mata sudah terinfeksi.
e. Adanya abses yang dapat pecah dengan sendirinya
Hal ini terjadi karena penimbunan nanah dalam lumen kelenjar
kelopak mata yang membengkak semakin besar sehingga ketika
kelopak mata sudah tidak mampu lagi untuk menahan bendungan pus
ini maka akan pecah dengan sendirinya.
6. Penatalaksanaan
a. Medis
1. Diberikan eritromisin 250 mg atau 125-250 mg dikloksasilin 4 kali
sehari, dapat juga diberi tetrasiklin. Bila terdapat infeksi stafilokokus
dibagian tubuh lain maka sebaiknya diobati juga bersama-sama.
2. Pengangkatan bulu mata dapat memberikan jalan untuk drainase
nanah
3. Pemberian salep antibiotic pada saccus conjunctivalis setiap 3 jam.
Antibiotic sistemik diindikasikan jika terjadi selulitis.
4. Antibiotik topikal (salep, tetes mata), misalnya: Gentamycin,
Neomycin, Polimyxin B, Chloramphenicol, Dibekacin, Fucidic acid,
dan lain-lain. Obat topikal digunakan selama 7-10 hari, sesuai
anjuran dokter, terutama pada fase peradangan.
5. Antibiotika oral (diminum), misalnya: Ampisilin, Amoksisilin,
Eritromisin, Doxycyclin. Antibiotik oral digunakan jika hordeolum
tidak menunjukkan perbaikan dengan antibiotika topikal. Obat ini
diberikan selama 7-10 hari. Penggunaan dan pemilihan jenis
antibiotika oral hanya atas rekomendasi dokter berdasarkan hasil
pemeriksaan.
6. Adapun dosis antibiotika pada anak ditentukan berdasarkan berat
badan sesuai dengan masing-masing jenis antibiotika dan berat
ringannya hordeolum.
7. Obat-obat simptomatis (mengurangi keluhan) dapat diberikan untuk
meredakan keluhan nyeri, misalnya: asetaminofen, asam mefenamat,
ibuprofen, dan sejenisnya.
8. Dilakukan insisi hordeolum untuk mengeluarkan nanah pada daerah
abses dengan fluktuasi terbesar, jika keadan tidak membaik selama
48 jam. Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anesthesia
topical dengan patokain tetes mata. Dilakukan anesthesia filtrasi
dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan
insisi bila:
Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus,
tegak lurus pada margo palpebra.
Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo
palpebra. Setelah dilakukan insisi dilakukan ekskohleasi atau
kuretase seluruh isi jaringan meradang didalam kantongnya dan
kemudian diberi salep antibiotic. (Sidarta Ilyas, 2004 )
b. Keperawatan
Kompres hangat selama 10 15 menit, 3 4 kali sehari.
Tindakan ini akan membantu mengurangi rasa nyeri dan
membantu menurunkan pembengkakan yang terjadi pada kelopak
mata dan jika dilakukan secara teratur akan memberikan
kenyamanan pada si penderita.
Antibiotika topikal (neomycin, polirnyxin B, gentamycin) selama
7 -10 hari, bila dipandang perlu dapat ditambahkan antibiotika
sistemik, misal Ampisillin 4 x 250 mg per-ora/hari.
Bila tidak terjadi resorbsi dengan pengobatan konservatif
dianjurkan insisi.
Perbaikan higiene dapat mencegah terjadinya infeksi kembali.
7. Pemeriksaan Penunjang

Eversi ( pembalikan ) palpebra untuk memeriksa permukaan bawah


palpebra superior dapat dilakukan bersama slitlamp atau tanpa bantuan alat
ini. Pemeriksaan ini harus selalu dilakukan bila diduga ada benda asing.
Setelah diberi anestesi local, pasien duduk didepan slitlamp dan diminta
melihat kebawah. Pemeriksaan dengan hati-hati memegang bulu mata atas
dengan jari telunjuk dan jempol sementara tangan yang lain meletakkan
tangkai aplikator tepat diatas tepi superior tarsus.

Palpebra dibalik dengan sedikit menekan aplikator kebawah, serentak


dengan pengangkatan tepian bulu mata. Pasien tetap melihat kebawah, dan
bulu mata ditahan dengan menekannya pada kulit diatas tepian orbita
superior saat aplikator ditarik kembali. Konjungtiva tarsal kemudian
diamati dengan pembesaran. Untuk mengembalikannya, tepian palpebra
dengan lembut diusap kebawah sementara pasien melihat keatas. ( Paul
Riordan & John Whitcher, 2009 )

8. Pencegahan
Pencegahan hordeolum antara lain :
1. Jaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum
menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.
2. Usap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat untuk
membersihkan ekskresi kelenjar lemak.
3. Jaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi oleh
kuman.
4. Gunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.
9. Komplikasi
Komplikasi dari hordeolum antara lain :
a. Selulitis preseptal
b. Konjungtivitis adenovirus
c. Granuloma pyogenik
10. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
a. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan
penurunan penglihatan akibat edema pada kelopak mata.
b. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan
edema pada kelopak mata dan kemerahan.
c. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan proses inflamasi
ditandai dengan edema pada kelopak mata.
d. Resiko injuri cedera berhubungan dengan pembengkakan kelopak
mata.

Diagnosa Prioritas :

a. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan


penurunan penglihatan akibat edema pada kelopak mata.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

1. Pengkajian
A. Biodata Pasien, meliputi :
a. Nama pasien agar lebih mudah memanggil, mengenali klien antara yang
satu dengan yang lainnya, agar tidak keliru.
b. Umur : dapat menyerang semua usia akan tetapi lebih mudah
menyerang usia anak-anak
c. Jenis kelamin : semua jenis kelamin dapat mengalami hordeolum
d. Linkungan : berpengaruh erhadap timbulya penyakit hordeolum
berhubungan dengan kebersihan lingkungan
e. Pendidikan : mengetahui tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya
serta pemberian informasi yang tepat bagi klien.
f. Pekerjaan : mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonomi
klien. Untuk mengetahui juga lingkungan kerja klien apakah outdoor
atau indoor.
Pengkajian yang perlu ditanyakan kepada pasien hordeolum :
Apakah klien mengalami gangguan pada fungsi penglihatannya?
Apakah pandangan klien sering kabur?
Apakah klien merasa gatal pada matanya?
Apakah mata klien sering mengeluarkan air mata?
B. Riwayat Keperawatan
Keluhan Utama
Pasien hordeolum mengeluh mengalami gangguan penglihatan,
pandangan sering kabur, mata terasa gatal dan mata sering berair
C. Pemeriksaan Fisik Mata
1. Kelopak mata : bengkak
2. Palpebra : bengkak dan ptosis
3. Konjungtiva : merah
4. Sklera : putih
5. Pupil : isokor
6. Aparatus lakrimalis: air mata berlebih
D. Diagnosa Keperawatan Prioritas
Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan penurunan
penglihatan akibat edema pada kelopak mata.
E. Intervensi Keperawatan
NIC : Peningkatan Komunikasi : Defisit melihat

Defenisi: membantu dalam menerima dan mempelajari metode alternatif


untuk hidup dengan gangguan penglihatan.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam edema


pada kelopak mata pasien dapat teratasi

Kriteria Hasil :

Edema hilang
Mata tidak memerah

Action :

1. Kaji adanya kemerahan pada mata, cairan eksudat, atau ulserasi.


R : mengetahui adanya infeksi lanjut pada mata dan memudahkan untuk
menentukan tindakan keperawatan selanjutnya
2. Catat reaksi pasien terhadap rusaknya penglihatan (misal, depresi,
menarik diri, dan menolak kenyataan).
R : mengetahui seberapa besar kerusakan pada mata
3. Pindahkan kontak lensa apabila klien memakainya
R : menghindari terjadinya iritasi mata berlanjut
4. Bantu pasien dalam menetapkan tujuan yang baru untuk belajar
bagaimana melihat dengan indera yang lain.
R : membantu memudahkan pasien untuk melihat
5. Instruksikan klien untuk tidak menyentuh matanya.
R : mencegah terjadinya infeksi
6. Andalkan penglihatan pasien yang tersisa sebagaimana mestinya.
R : mengetahui kemampuan penglihatan mata yang tidak infeksi
Observation :

1. Observasi adanya tanda-tanda infeksi pada mata, mata berair dan mata
merah
R : mengetahui infeksi secara lanjut

Colaboration :

1. Kolaborasikan dengan tim medis lain untuk pemberian obat tetes mata.
R : mengurangi infeksi dan mencegah infeksi sekunder, dan
membersihkan mata.

NOC : Kompensasi Tingkahlaku Penglihatan


Defenisi: Kegiatan untuk mengimbangi lemahnya penglihatan
Indikator :
Pantau gejala dari semakin buruknya penglihatan
Gejala yang ditimbulkan berkurang (edema, mata berair, infeksi)
Posisikan diri untuk menguntungkan penglihatan
Ingatkan yang lain untuk menggunakan teknik yang menguntungkan
penglihatan
Gunakan pencahayaan yang cukup untuk aktivitas yang sedang
dilakukan
Memakai kacamata dengan benar
Memakai kontak lens dengan benar
Merawat kacamata dengan benar
Menggunakan alat bantu penglihatan yang lemah
Menggunakan layanan pendukung untuk penglihatan yang lemah
Menggunakan alat bantu komputer
Referensi :

Diyanesa. 2015. Laporan Pendahuluan Hordeolum.


http://diyanesa.blogspot.co.id/2015/05/v-behaviorurldefaultvmlo_18.html.
Diakses pada tanggal 27 Maret 2017. Pukul 14.55 WIB.

Elyssuartami. 2015. Laporan Pendahuluan Hordeolum.


https://elyssuartami.wordpress.com/2015/02/26/laporan-pendahuluan-hordeolum/.
Diakses pada tanggal 27 Maret 2017. Pukul 14.55 WIB.

Eva, Paul Riordan dan John P. Whitcher. 2009. Oftalmologi Umum Vaughan &
Asbury, Edisi 17. Jakarta: EGC.

Ilyas, Sidarta. 2010. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia.

Istiqomah, Indriana N. 2004. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata.


Jakarta: EGC.