Anda di halaman 1dari 3

unagi banyak dikonsumsi sebagai makanan mewah di Jepang, Hongkong, dan Korea

karena kandungan tinggi protein dan omega-3 yang berkhasiat untuk kesehatan
tubuh. Namun, benih ikan sidat yang banyak di perairan Indonesia belum banyak
dimanfaatkan di negeri sendiri.

Di Indonesia, paling sedikit ada enam jenis ikan sidat (Anguilla sp), yaitu Anguilla
marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla
bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.

Melihat peluang pasar yang besar, Syaiful Hanif (32) dan sepuluh rekannya yang
tergabung dalam Paguyuban Patra Gesit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mulai
menjajaki usaha budidaya ikan sidat pada akhir tahun 2008.

Teknik pembesaran ikan sidat awalnya dipelajari Syaiful di Balai Layanan Umum
Pandu Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segmentasi ikan sidat
bicolor dipilih dengan benih yang didapat dari hasil tangkapan alam.

Bermodal sedikit pengalaman, paguyuban yang dipimpin Syaiful itu lantas


mengajukan kredit lunak pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT
Pertamina Tbk Rp 1,2 miliar untuk jangka waktu 3 tahun.

Kemudian, dana sebesar itu digunakan untuk membeli lahan seluas 2 hektar di Desa
Lamaran Tarum, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.

Selain itu, dana itu untuk membangun 10 petak kolam ikan berukuran masing-masing
20 x 30 meter persegi, pembelian benih ikan sidat, serta persiapan sarana dan
prasarana produksi. Di antaranya peralatan diesel mengingat di wilayah itu belum ada
jaringan listrik yang memadai.

Setelah lahan disiapkan, Syaiful dan rekan-rekannya mencoba mempraktikkan


pembesaran ikan sidat bicolor di lahan mereka. Namun, usaha pembesaran ikan sidat
bicolor ternyata tidak mudah. Bicolor yang biasa hidup di arus pertemuan air sungai
dan air laut sulit beradaptasi di kolam air tawar.

Negara tujuan ekspor ikan sidat

Ikan sidat adalah jenis karnivora (pemakan ikan) yang memiliki sifat katadromos, yaitu
awalnya berkembang biak di laut dan selanjutnya mencari perairan umum (air tawar)
untuk membesarkan diri.

Sifat itu membuat ikan sidat sulit beradaptasi dan mengubah pola makan di habitat
baru kolam air tawar. Tingkat pertumbuhan ikan bicolor juga tidak merata karena
ukuran benih yang ditebar tidak seragam. Usaha mereka pun berada di ambang
kehancuran.

Namun, Syaiful tidak menyerah. Ia lantas menekuni riset pembesaran ikan sidat
selama hampir setahun. Proses aklimatisasi diterapkan berupa penyesuaian
lingkungan, temperatur, serta sortir benih ikan sebelum disimpan di kolam.
Dengan perlakuan khusus, ikan sidat bicolor yang biasanya makan ikan lain itu
berubah kebiasaan menjadi rakus makan pelet. Berpijak dari hasil riset tersebut,
Syaiful dan teman-temannya melanjutkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, mereka
langsung beralih dengan membidik segmentasi ikan sidat marmorata yang
permintaan dan harganya di pasar internasional jauh lebih tinggi.

Ikan sidat marmorata terbukti tumbuh subur dengan tingkat hidup (SR) 80 persen. Jika
dalam kurun 6 bulan pertumbuhan benih sidat hanya dari ukuran 0,2 gram menjadi 40
gram per ekor, dalam bulan ke-7 sampai ke-10 benih tumbuh pesat dari ukuran 40
gram ke 1 kilogram (kg) per ekor.

Pada panen perdana bulan Januari 2010, paguyuban itu menghasilkan panen sidat
sebanyak 500 kg dan seluruhnya diekspor. Ekspor ikan hidup dengan bobot lebih dari
500 gram per ekor, harga jualnya berkisar Rp 120.000-Rp 160.000 per kg. Harganya
akan semakin mahal jika bobot ikan lebih dari 1 kg per ekor, yakni Rp 120.000-Rp
180.000 per kg.

Pasar utama ekspor ikan sidat adalah Hongkong, China, dan Taiwan. Minat pasar
ekspor yang tinggi terhadap ikan sidat membuat hasil produksi selalu terserap pasar,
berapa pun jumlahnya, ungkap Syaiful.

Ia mengakui tidak sulit mencari benih ikan. Beberapa kawasan perairan yang banyak
terdapat benih ikan sidat di antaranya di pesisir Sumatera bagian barat, Sulawesi, dan
pantai selatan Jawa yang berbatasan dengan laut dalam. Harga benih sidat
marmorata Rp 120.000 per kg dengan ukuran benih 25 gram per ekor.

Sayangnya, seiring maraknya permintaan di pasar internasional, penyelundupan


benih ikan sidat ke negara lain terus terjadi, di antaranya ke Jepang.

Penyelundupan di beberapa tempat itu mendongkrak harga benih marmorata hingga


mencapai Rp 2,5 juta per kg.

Syaiful mengaku khawatir, dengan teknologi budidaya sidat di Tanah Air yang belum
berkembang luas, bukan tidak mungkin masyarakat Jepang kelak akan mencuri start
dalam pembudidayaan ikan sidat secara luas.

Indonesia adalah negeri produsen benih ikan yang besar dan kaya. Tetapi, jika
potensi itu tidak dimanfaatkan optimal, bisa dipastikan rakyat Indonesia sulit
memperoleh nilai tambah dari perikanan, ujar pria yang sebelumnya menekuni bisnis
penjualan pulsa itu.

Salah satu ambisinya dalam waktu dekat adalah memperluas pemasaran ikan sidat
ke pasar-pasar dalam negeri. Kalau pasar ekspor dengan mudah bisa ditembus,
kenapa pasar dalam negeri justru tidak melihat potensi ini, papar Syaiful.

Ia menargetkan produksi ikan sidat pada panen kedua bulan Juli 2010 bisa mencapai
1 ton. Ia pun berencana memberdayakan masyarakat sekitar dengan menularkan
teknik pembesaran ikan sidat ke warga Indramayu.
Caranya, melepas benih ikan sidat berukuran 100 gram kepada warga untuk
dibesarkan sampai ukuran 500 gram, kemudian ditampung kembali untuk dipasarkan.

Pria lulusan politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini berharap pemerintah
memiliki regulasi yang tegas untuk mengembangkan benih ikan sidat, memperluas
teknologi budidaya lewat pemberdayaan masyarakat, serta menekan penyelundupan
benih yang merugikan perikanan budidaya. (Kompas)