Anda di halaman 1dari 42

Rintangan Berat

Saya berkata, Hati manusia itu melesat, kadang-kadang melesat hingga titik ekstrim,
sehingga menimbulkan keserakahan, serakah harta dan rupa; seketika, hanya satu
kalimat sederhana saja, langsung menimbulkan kemarahan, serta banyak kebodohan.

Saya berkata, Pikiran sulit sekali tenang, sekalipun kita telah memasang postur duduk
meditasi. Hati juga bisa berada di angkasa, di sepuluh penjuru, masa lalu, sekarang,
masa depan. Hati membayangkan Adinata, malah muncul wajah kekasih

Rintangan sebagian orang lebih menakutkan lagi!

Kereta api telah datang!

Malah ada suara yang menyuruhnya untuk loncat!

Saat sedang berkendara!

Malah ada suara yang menyuruhnya untuk menabrakkan diri!

Saat sedang berbicara dengan orang lain!

Malah ada suara yang menyuruhnya untuk membunuhnya!

.......
Saat saya sedang memberikan persembahan pada Garuda, saya malah pernah
membayangkan memanah Garuda dengan sebatang anak panah tajam.

Saat saya sedang mempersembahkan makanan lezat, saya malah pernah


membayangkan seonggok kotoran.

Ketika saya memohon pertolongan Guru saya.

Guru menjawab, Amati hati Anda sendiri, atau jangan hiraukan sama sekali, atau
alihkan, Anda atasi sendiri.

Kemudian, saya menggunakan metode mengalihkan:

Anak panah yang memanah Garuda, dicengkeram oleh Garuda.

Seonggok kotoran berubah menjadi es krim.

Sehingga, saya pun terbebaskan!

Saya melihat manusia yang mengalami rintangan hantu adalah sekawanan manusia
yang sangat memprihatinkan.

Hantu berbisik:

Loncatlah ke dalam jurang!


Loncatlah ke rel kereta api!

Tabraklah tiang listrik!

Tabraklah trotoar!

Masuk hutan, malah tidak bisa keluar lagi!

Naik ke atap gedung tinggi, malah loncat!

Memegang pisau, memegang pistol, malah membunuh secara acak!

Kebanyakan dari mereka adalah rintangan roh (rintangan hantu), juga ada hantu yang
mencari pengganti.

Tentu saja, hantu-hantu ini adalah hantu ganas, hantu jahat.

Kadang-kadang, saya tidak ingin memperlihatkan 3 cahaya di ubun-ubun kepala saya,


juga tidak ingin duta Mahabala di ibu jari saya menampakkan diri.

Saya berubah menjadi sorang awam tulen.

Dalam sekejap.

Sesosok hantu wanita yang cantik berdiri di samping ranjang saya.

Ia melemparkan sorotan mata yang menggoda.


Menggunakan gerakan tangan, bahasa tubuh, memperlihatkan gaya-gaya yang
menggoda.

Dadanya terlihat menyembul separuh.

Bagian bawah tubuh sebentar muncul sebentar hilang.

Sekujur tubuh menebarkan keharuman yang menggoda.

Namun

Saya berpikir, saya telah bertekad untuk mencapai Samyaksambodhi, saya tidak
boleh tergoda, saya sendiri telah meninggalkan enam alam tumimbal lahir, saya harus
mempertahankan terang di dalam hati saya sendiri.

Maka, saya pun memadamkan api nafsu. Barulah melepaskan beban berat, sepenuh
hati tidak galau dengan mantap.

Sehingga hantu wanita yang cantik tersebut tidak berhasil mencapai tujuannya.

Setelah saya mengalami semua ini, perilaku saya lebih baik daripada perilaku makhluk
hidup pada umumnya. Saya malah merasa bahagia, lebih menghormati diri saya
sendiri.
Saya menjadi manusia yang dapat mengendalikan diri!
Hantu Anak Perempuan di dalam Saku
Saat awal melatih diri, Bhiksu Liaoming menghendaki saya agar sepenuh hati dan
sepenuh tenaga terjun ke dalam usaha menyingkirkan kerisauan dan pengembangan
hati dan pikiran.

Bhiksu Liaoming berkata, Kerisauan itu selalu ada, hanya dapat disingkirkan dan
diuraikan dengan mata prajna.

Saya mengerti, Kerisauan laksana ombak, satu ombak belum reda, datang lagi ombak
lain. Satu-satunya cara menghentikan kerisauan adalah menguraikan dan
menyingkirkannya.

Sementara, Buddha Sakyamuni menyingkirkan seluruh kerisauan dengan sunya.

Pangan persembahan.

Sandang simabandhana.

Papan tidur bersinar.

Transportasi ketekunan.

Sesungguhnya, setiap sendi kehidupan tidak dapat luput dari kerisauan, namun,
sadhaka justru memperbaiki dan melatih diri dengan tekun lewat memfokuskan
pikiran.
Misalnya:

Menulis buku, saya menulis satu artikel setiap hari untuk mengatasi kemalasan.

Bersadhana, saya bersadhana sehari sekali untuk mengatasi kekesalan.

Jika lelah, saya istirahat sebentar, begitu bangun, saya bermeditasi.

Saya mengenakan 3 jubah (pakaian dalam, baju atasan, dan rompi).

Suatu kali.

Saya membentuk mudra di baju atasan saya, di dalam saku baju atasan tak disangka
mengeluarkan suara, Mahaguru Lu, pelan-pelan.

Saya bertanya, Siapa? Saya keheranan.

Ia menjawab, Jangan tanya dulu siapa saya, mohon Anda jangan terlalu kuat saat
membentuk mudra, atau, saya tidak mampu sembunyi di dalam saku baju atasan
Anda.

Saya bertanya, Anda dari mana?

Ia menjawab, Mahaguru Lu berjalan di rumah abu Shifang Dajue, saat saya melihat
Anda, saya tahu bahwa Anda dapat melindungi saya, sehingga saya masuk ke dalam
saku baju Anda.

Saya akhirnya ingat, saya pergi ke Vihara Shifang Dajue, saat patroli ke rumah abu,
saya melihat sebuah guci abu, di atas guci ditempel foto seorang mendiang, mendiang
adalah seorang siswi SD yang cantik jelita dan wajahnya sangat imut.

Begitu hatiku bergerak, saya sempat mendesah, Aduh! Kasihan!

Tak disangka, hanya satu pikiran ini, si hantu anak perempuan pun sembunyi di dalam
saku baju saya.

Saya bertanya, Mengapa kamu masuk ke dalam saku baju saya?

Hantu anak perempuan menjawab, Menjelajahi sepuluh alam Dharma, belajar cara
melatih diri Anda.

Saya tertegun begitu mendengarnya. Ternyata begitu pikiran seseorang bergerak,


makhluk halus pun tahu. Dalam hati saya berpikir, apakah hantu siswi SD ini
mempengaruhi pembinaan diri saya?

Hantu anak perempuan berkata, Mahaguru, tenang saja, saya hanya menumpang di
dalam saku Anda, tidak berpengaruh sedikit pun pada Anda. Anda boleh anggap saya
tidak ada, juga tidak perlu menghiraukan saya. Saya hanya sesosok hantu anak
perempuan, tidak akan mempengaruhi Anda, saku Anda hanya hotel untuk saya
menumpang sementara, saat saya mau pergi, saya akan pergi dengan sendirinya.
Tak disangka, ia langsung mengetahui pikiran saya.

Belakangan, saya malah lebih memperhatikannya, saya melindunginya, ia takut


guntur, ia takut cahaya matahari pada siang hari, ia takut pisau yang runcing, saya
selalu melindunginya.

Belakangan, saat ia pergi, ia sempat berkata, Anda terlalu welas asih, Anda sangat
baik hati, saya ingin sekali mencintai Anda!

Ha! Ia benar-benar sesosok hantu anak perempuan yang polos dan lugu!
Lima Jenis Daya yang Membebaskan Kita dari
Godaan
Sang Buddha mengajarkan siswa lima jenis daya agar dibebaskan dari jalan sesat dan
godaan:

1. Daya keyakinan.

2. Daya ketekunan.

3. Daya pikiran.

4. Daya samadhi.

5. Daya prajna.

Saya membimbing siswa:

Siswa yang memiliki keyakinan kuat selalu visualisasi Mulacarya menetap di atas
kepala, memiliki keyakinan kuat terhadap Buddha, Dharma, Sangha, dan silsilah,
inilah penghormatan yang tulus.

Dengan adanya daya keyakinan, pasti memiliki daya ketekunan, daya ketekunan
hanya akan membuat kita maju dan berkembang, penekunan yang serius dan antusias,
diri sendiri pasti akan terbebaskan dan membantu orang lain terbebaskan.

Yang terpenting adalah daya pikiran, pikiran benar sangat penting, jika seseorang
kehilangan pikiran benar, pasti akan menuju jalan sesat, semakin melatih diri
semakin tersesat, semakin melatih diri semakin banyak kerisauan.
Pikiran benar adalah kebajikan.

Pikiran sesat adalah kejahatan.

Mementingkan kepentingan umum adalah kebajikan.

Mementingkan kepentingan pribadi adalah kejahatan.

Umumnya orang yang sangat egois itu mudah sekali kerasukan Mara, melekat pada
popularitas, melekat pada keuntungan, diskriminasi, melekat pada ego justru langsung
menjadi Mara, orang semacam ini akan menindas Guru, membinasakan sesepuh,
melanggar sila, memecahbelah Sangha, inilah tanda-tanda masuk ke jalan sesat.

Kelak, orang semacam ini selalu:

Berada dalam kerisauan.

Berada dalam daya karma.

Berada dalam pembalasan karma.

Berada dalam tumimbal lahir.

Sepenuhnya terlibat dalam hubungan yang tidak jelas.

Kita sebagai sadhaka sejati mesti mempertahankan pikiran benar, jangan kehilangan
pikiran benar, tergoda oleh orang yang memelihara hantu, dan kehilangan daya
keyakinan.

Setelah saya bertemu Kasus Nenek Hantu, saya menekankan pada orang-orang yang
mengikuti saya dan siswa mulia saya, pikiran benar itu mutlak, yakin terhadap
Mulacarya, yakin terhadap Dharma Mulacarya, mengabdi pada Mulacarya,
melindungi diri sendiri dengan pikiran benar, menjalankan metode penekunannya,
menunaikan kewajiban sendiri, jangan tergoda oleh Nenek Hantu yang gara-gara tidak
memiliki pikiran benar, sehingga kehilangan silsilah, bahkan bersekutu dengan
hantu.

Dengan adanya daya keyakinan, dengan adanya daya ketekunan, dengan adanya
daya pikiran, dengan menggabungkan ketiga daya tersebut, barulah memiliki daya
samadhi.

Lewat daya samadhi kemudian menghasilkan daya prajna'.

Saya menyatakan bahwa inilah titik berat ceramah saya.

Target kita adalah:

Pembebasan.

Parinirvana.

Lamdrey.

Sedangkan target Si Nenek Hantu adalah:

Membangun kelenteng hantu.

Membangun popularitas.

Menipu harta kekayaan.

Kebohongan massal.

Kesaktian palsu.
Kita adalah kebenaran suci, sedangkan Si Nenek Hantu adalah kebenaran duniawi,
tidak hanya kebenaran duniawi, bahkan jatuh ke tiga alam rendah.

Sadhaka kita harus memiliki daya samadhi dan daya prajna.

Saya berkata, Kelompok penyembah hantu yang tidak memiliki Sila sama halnya
dengan kelompok penipu.
Perubahan Pasca Memelihara Hantu
Umat Buddha sejati, tentu tidak boleh memelihara hantu, sebab memelihara hantu
bukan Dharma yang Sang Buddha wariskan.

Di Thailand dan negara-negara Asia Tenggara, banyak dukun memelihara hantu,


mereka memelihara hantu untuk keuntungan duniawi.

Mereka memelihara hantu juga untuk membantu orang mengirim guna-guna, semua
ini adalah ilmu sesat.

Oleh karena itu:

Umat Buddha dilarang memelihara hantu.

Di dalam ajaran Sang Buddha terdapat Dharma yang sangat penting:

1. Mengabaikan tubuh.

2. Mengabaikan pikiran.

Yang pertama adalah anatman.

Yang kedua adalah acitta.

Selain itu:
Ada kelahiran pasti ada kematian.

Yang kuat pasti akan melemah.

Yang muda pasti akan menua.

Ada orang kaya pasti ada orang miskin.

Ini tidak mungkin ditentang, menentang berarti melanggar hukum alam, dengan kata
lain hukum anitya.

Dukha itu pasti. Misalnya, berpisah dengan orang yang dicintai, bertemu dengan
orang yang dibenci, penderitaan sakit.

Dharma Buddha adalah:

Dukha, sunya, anitya, anatman.

Sebagai seorang umat Buddha, setelah memahami Dharma, mengembangkan


tingkatan alam samadhi, maka akan memperoleh prajna, kemudian menyaksikan
kehebatan Dharma, dan cahaya batin pun menyala.

Sebaliknya:

Orang yang memelihara hantu itu fokus pada manfaat duniawi, orang yang
memelihara hantu akan:

1. Memperebutkan kedudukan.

2. Memperebutkan daerah kekuasaan.


3. Memperebutkan massa.

4. Memperebutkan harta kekayaan.

5. Bertarung.

Pokoknya akan menambah kerisauan pribadi, takluk di bawah kekuatan hantu, batin
akan semakin terjerumus, buta dan bodoh terhadap konsep kebaikan dan kejahatan.

Karena didukung daya hantu, maka akan mengira diri sendiri telah mencapai
keberhasilan dan mencapai kebuddhaan yang tertinggi.

Sehingga:

Bertindak semena-mena, merajalela, membuang jauh-jauh motto Padmasambhava:


Menghormati Guru, Menghargai Dharma, dan Bersadhana Sungguh-sungguh.

Ego merajalela.

Meraup kekayaan lewat intimidasi.

Kehilangan Dharma.

Membenarkan diri sendiri.

Tinggi hati.

Akumulasi daya hantu.

Arogan.

Akhirnya mengira diri sendiri paling agung dan menganggap diri sendiri telah
melampaui Buddha, Bodhisattva, Vajra, Dharmapala tanpa merasa bersalah, bahkan
menindas Guru dan membinasakan sesepuh. Hantu berdusta, orang yang memelihara
hantu dengan sendirinya juga pintar berdusta, semua perkataannya adalah perkataan
hantu.

Orang-orang yang memelihara hantu ini, di bawah Dharma Sang Buddha,


sesungguhnya sama sekali tidak berharga, sama sekali tidak memiliki fungsi
memperbaiki diri dan menyucikan diri, begitu jatuh ke alam hantu, maka hilanglah
nilai diri, serta sama sekali tidak ada kemajuan dalam melatih diri.

Melekat pada kesaktian hantu, mengira itu kesaktian hantu. Tidak mungkin
melepaskan hantu yang kotor.

Orang bijak berulang kali menasihati.

Orang yang memelihara hantu tetap tidak mengindahkan.

Apa boleh buat?


Kunjungan Raja Hantu
Tanya: Guru Lu! Anda sering mengatakan bahwa hantu mengunjungi Anda,
benarkah itu?

Jawab: Memang benar, terutama selama di Taiwan, di Taiwan Utara ada sesosok
Raja Hantu yang sering berkunjung dengan membawa serta sekawanan tuyul.

Tanya: Apa tujuan kedatangan mereka?

Jawab: Mendengar ceramah saya, mereka berkunjung sebulan sekali, kadang-kadang


berkunjung secara tiba-tiba, mereka akan berkunjung lebih sering pada saat diadakan
upacara penyeberangan.

Tanya: Guru Lu, apakah mereka mengganggu Anda?

Jawab: Tidak, kunjungan mereka itu pada pukul 1 tengah malam, waktu berkunjung
mereka juga tidak lama. Sekitar setengah jam lebih.

Tanya: Dari mana mereka berasal?

Jawab: Konon berasal dari Gunung Guanyin.


Tanya: Apa tujuan kunjungan mereka?

Jawab: Tidak tentu. Kadang-kadang tidak bicara, hanya sebagian hantu saja datang
memohon Sadhana, ada sebagian hantu berkonsultasi, kapan bisa bereinkarnasi?
Bereinkarnasi ke mana? Lebih baik bereinkarnasi atau menjadi hantu? Saya
menjawab: apabila Anda ingin bereinkarnasi, maka ikutlah saya belajar Dharma, jika
tidak ingin bereinkarnasi, maka teruskanlah berbuat kebajikan dan mengumpulkan
pahala, kelak akan lebih sempurna.

Tanya: Apakah mereka jelek?

Saya jawab: Tidak juga. Mereka terbentuk dengan mengumpulkan hawa, ada
beberapa hantu wanita juga sangat cantik.

Tanya: Apakah hantu-hantu ini pendiam?

Saya menjawab: Boleh dibilang pendiam.

Tanya: Apakah hantu dari Pasukan XX datang mencari Anda?

Jawab: Hantu yang berkunjung adalah hantu dari Pasukan XX.

Tanya: Apakah mereka membenci Guru Lu?


Jawab: Sebenarnya sebagian besar hantu Pasukan XX adalah hantu jahat, hantu baik
hanya sedikit saja, hantu yang mengunjungi saya justru hantu-hantu yang ramah.

Tanya: Apa yang mereka katakan?

Jawab: Mereka memberitahu saya Sila yang dilanggar oleh Nenek Hantu, sebagian
besar adalah Sila Berdusta!

Tanya: Mereka mengkhianati tuan mereka?

Jawab: Sekawanan hantu baik, justru membantu Si Nenek Hantu, namun, tidak
mempan bagi Si Nenek Hantu. Sebab Si Nenek Hantu pernah mengatakan bahwa
apabila kita bersalah, selama kita tidak mengaku salah, maka kita tidak pernah
bersalah.

Tanya: Si Nenek Hantu bahkan lebih rendah daripada hantu!

Saya menjawab, Memang!


Kiat Membimbing Sadhaka Pemula
Tanya: Bagaimana Guru membimbing pemula?

Jawab: Bimbingan diberikan berdasarkan bakat dari si pemula, bakat yang berbeda,
cara membimbingnya juga berbeda.

Tanya: Bagaimana membimbing pada umumnya?

Jawab: Saya biasanya membimbing dari Dharma silsilah, ajaran Tantra paling
mengutamakan silsilah, mesti membimbing siswa mulia menghormati silsilah, dengan
menghormati silsilah, barulah dapat menghormati Guru yang mentransmisikan
sadhana, terutama Mulacarya.

Tanya: Antara Mulacarya dan Acarya yang mentransmisikan sadhana, mana paling
penting?

Jawab: Mulacarya tentu saja penting, Mulacarya mengamanatkan Acarya keluar


babar Dharma. Sehingga, keduanya sama-sama penting, tetapi sumbernya tetap
Mulacarya.

Tanya: Ada sebagian orang ikut Acarya Pembabar Dharma, lalu mengabaikan
Mulacarya, benarkah itu?

Jawab: Tidak benar. Siswa mulia mesti ingat dengan sumbernya, jika ikut Acarya
Pembabar Dharma, lalu meninggalkan Mulacarya, berarti pengkhianat!

Tanya: Bagaimana dengan umat-umat yang ikut Si Nenek Hantu?

Jawab: Mengabaikan Mulacarya, telah memutuskan silsilah, dan melanggar Sila,


jelas sekali bahwa bimbingan silsilah tidak cukup.

Tanya: Guru Lu, selain silsilah, apa lagi yang mesti dibimbing?

Jawab: Sila sangat penting, seharusnya mulai dibimbing dari Sila.

Tanya: Mengapa Agama Buddha mengimbau umatnya menaati Sila?

Jawab: Negara mempunyai hukum, keluarga mempunyai aturan, Agama Buddha itu
melarang umatnya berbuat kejahatan, mengimbau umatnya banyak berbuat kebajikan,
dan menyucikan pikiran sendiri.

Tanya: Bagaimana mengamalkannya?

Jawab: Tidak berbuat kejahatan adalah Sila, banyak berbuat kebajikan adalah Sila,
menyucikan pikiran sendiri adalah Sila. Sehingga, siswa mulia itu menaati Sila,
barangsiapa yang tidak menaati Sila, mereka bukan lagi umat Buddha, misalnya Si
Nenek Hantu, sama sekali tidak ada Sila dan disiplin, apakah itu namanya umat
Buddha?
Tanya: Sila dalam Agama Buddha sedemikian pentingnya, mengapa Si Nenek Hantu
berulang kali melanggar Sila?

Jawab: Karena memelihara hantu, dari awal telah menyimpang, tidak hanya tidak
mengerti Sila, bahkan melanggar berbagai jenis Sila. Misalnya 14 Sila Dasar
Tantrayana, Pancasika Abdi Guru, Si Nenek Hantu bahkan merajalela.

Tanya: Setiap Acarya keluar membimbing umat, apakah harus lebih dulu
menjelaskan Sila?

Jawab: Tentu saja! Sila, Samadhi, Prajna (Tiga Dharma Suci), Sila justru menempati
urutan pertama!

Tanya: Selain Sila, apa lagi yang mesti dibimbing?

Jawab: Berdana, bersabar, tekun, meditasi, prajna, ditambah menaati Sila, itulah
Sadparamita. Itulah Prajnaparamita.
The Exorcist Versi Baru
Waktu: 18 Februari 2017 sore.

Tempat: Taiwan Lei Tsang Temple lantai 6.

Ada seorang gadis berusia 21 tahun yang cantik dan bertubuh mungil, mengundang
saya membantunya.

Begitu saya lihat:

Lagi-lagi kerasukan hantu.

Saya meramalkan ada dua sosok hantu yang selalu merasuk badannya.

1. Roh hewan: macan.

2. Roh bayi: roh janin.

Berdasarkan pengalaman saya, saya lebih dulu memercikkan air suci menyucikan
dirinya.

Saya belum sempat memercikkan air suci. Tak disangka, gadis cantik ini telah dirasuk
oleh roh macan.

Wajahnya tiba-tiba berubah.

Sorot matanya beringas.


Menyeringai.

Melompat keluar.

Mengaum.

Sekeliling saya ada dua orang sekuriti, dan seorang Acarya Lianya, langsung maju dan
menghentikannya. (Selain itu, pacarnya juga maju dan menghentikannya)

Tetapi, ia kuat sekali, melompat sembarangan.

Empat orang pria menarik tangan dan kakinya.

Saya membentuk Mudra Lima Petir, melempar Mudra Lima Petir ke arahnya. Roh
macan mengelak ke kiri dan ke kanan, ia makin marah.

Saya mengulum air suci di mulut, lalu semburkan ke wajahnya 3 kali.

Ia mulai siuman, lalu kebingungan lagi.

Selanjutnya, saya sadar, seekor macan ganas, selama kita tidak menghiraukannya, ia
pun akan tenang.

Saat itu, di lantai enam terdapat banyak umat yang berasal dari tempat Si Nenek
Hantu datang memohon purifikasi, wajah mereka semua berwarna hijau memar
(wajah kesambet), saya lebih dulu melakukan purifikasi untuk mereka.

Saya putar badan lagi.

Ia lebih ganas lagi.

Acarya Lianya tidak disengaja dicakar hingga terluka, tetapi tidak parah.

Para Arya memberikan petunjuk:

Jangan bertarung dengan roh macan, meminta saya Mahaguru Lu untuk meninggalkan
tempat, roh macan akan tenang dengan sendirinya jika lawannya telah pergi!

Kemudian, saya pun turun!

Menyerahkan Fu dan stiker simabandhana kepada si gadis.

Saya berpesan satu hal yang paling penting.

Saya berkata, Gadis ini menderita insomnia selama satu setengah tahun, kini jalan
satu-satunya adalah membuatnya tertidur pulas, agar semangatnya pulih kembali,
barulah ia dapat melawan kedua roh tersebut merasuk badannya!

Saya juga memberikannya Fu Penenang.


Begitu saya meninggalkan tempat.

Ia pun menjadi tenang!

Saya dengan tulus memberkatinya, berharap gadis yang berpenampilan kalem dan
cantik ini dapat benar-benar sembuh!

Inti saya menulis kisah sejati ini: kestabilan jiwa adalah obat paling mujarab untuk
melawan kerasukan hantu.

Apabila jiwa seorang sadhaka tidak stabil, begitu mengunjungi hantu Pasukan XX,
atau mengikuti segala jenis aktivitas Si Nenek Hantu. Maka akan kesambet!

Terlalu banyak umat mengalami fenomena demikian, mereka mengeluh, baru sekali
mengikuti upacara; atau pergi ke tempat Pasukan XX, atau minum Fu pemberian Si
Nenek Hantu, bernamaskara pada rupang yang diinisiasi oleh Si Nenek Hantu,
langsung kesambet.

Awalnya juga mengalami insomnia.

Selanjutnya wajah hijau memar.

Selanjutnya kerasukan hantu, kelainan jiwa, yang lebih parah akan meninggal dunia
mendadak.
Saya berkata, Tidur sangat penting, ditambah lagi melatih kestabilan hati adalah
obat yang paling mujarab.
Bagaimana Menghadapi Hantu?
Pada umumnya, orang awam kerasukan hantu, jika tidak bertemu guru bijak sejati,
sulit sekali menghadapinya.

Contoh nyata pertama:

Ayahanda Acarya Liandong () adalah seorang pengrajin kayu dekorasi,


diundang untuk mendekorasi Pasukan XX.

Selesai dekorasi, ia pergi lagi ke Puli, mengundang rupang lima kepala hantu untuk
disemayamkan di altar mandala Pasukan XX.

Setelah segalanya selesai.

Ia kerasukan hantu.

1. Emosi meledak-ledak.

2. Insomnia.

3. Mendengar bisikan hantu, Matilah!

4. Tingkah laku aneh, hantu menyuruhnya mencukur rambutnya menjadi model


rambut Samurai Jepang, ia pun mencukur rambutnya menjadi model rambut Samurai
Jepang.
Acarya Liandong mengundang ayahanda ke Taiwan Lei Tsang Temple untuk
menemui saya, saya mengusir hantu di badannya.

Barulah ayahnya sembuh!

Contoh nyata kedua:

Putra Lianhua Joseph, Lianhua Zhizhao mengalami kerasukan hantu di tempat kursus.

1. Tiba-tiba memukul meja.

2. Satu tangan menunjuk langit.

3. Wajah menghitam.

4. Lidah dijulurkan, gigit lidah.

5. Pingsan.

Bergegas dibawa ke rumah sakit, dilakukan pemeriksaan darurat, tidak ditemukan


penyebabnya.

Bergegas mengirim fax kepada Mahaguru Lu untuk memohon pemberkatan. (Saya


memberikan hawa memberkati)

Lianhua Zhizhao di atas ranjang rumah sakit, pada pukul 3 dini hari, bermimpi
Mahaguru Lu datang, mengenakan rompi naga berwarna biru, menjamah kepala
memberkati, dapat dirasakan kekuatan pemberkatan yang sangat kuat dari Mahaguru
Lu.

Keesokan harinya, sembuh!

Sepengetahuan saya, hantu ini adalah hantu gantung diri, juga hantu dari Pasukan XX,
setelah diusir, ia pun sembuh!

Maksud saya menunjukkan dua contoh ini adalah:

1. Mohon Mahaguru Lu turun tangan mengusir hantu.

2. Mohon Mahaguru Lu turun tangan memberkati surat.

Banyak cara untuk menghadapi kerasukan hantu-hantu ini.

1. Jangan takut.

2. Berpegang kuat pada semboyan kita dalam bersadhana.

3. Memiliki keberanian yang besar.

4. Memiliki ketenangan batin yang dalam.

5. Cukup tidur.

6. Tidak terhipnosis.

7. Jangan berpikir Hantu datang! Hantu datang!

8. Jangan dekati orang-orang dan Bhiksu/ni Lama (Fashi), buku dan Fu Si Nenek
Hantu.
9. Melatih Cakra Pelindung.

10. Pikiran positif.

11. Selalu menjapa Mantra Mahabala, Mantra Mahabala Menghentikan Hantu.

12. Simabandhana.

Yang paling paling penting adalah, hati dan pikiran jangan meninggalkan Mulacarya
Mahaguru Lu dan Triratna (Buddha, Dharma, Sangha).

Sadhaka yang lebih tinggi harus:

Menjaga nadi angin selalu terang.

Sadhaka yang tertinggi harus:

Memfokuskan pikiran.

Sadhaka yang mahatinggi harus:

Anatman.

Karena telah mencapai Dharma Anatman, Acitta, hantu tidak dapat menempel,
juga tidak dapat merasuk, sepenuhnya tidak terganggu oleh pengaruh luar, sama
halnya dengan kebijaksanaan (prajna) Tathagata.
Keyakinan Umat Buddha Justru Menggantikan
Keyakinan Hantu
Sang Buddha memberitahu kita, Triratna kita adalah Buddha, Dharma, dan Sangha.
Bukan makhluk halus. Umat Buddha tidak seharusnya meyakini makhluk halus.

Kita harus memahami kalimat ini. Sebab:

Makhluk halus itu cempreng.

Makhluk halus itu arogan.

Makhluk halus itu sombong.

Makhluk halus itu kurang bijaksana.

Makhluk halus itu kurang menghormati.

Makhluk halus itu kurang melatih diri.

Makhluk halus itu kurang meditasi.

Makhluk halus itu sering mencelakai manusia.

Makhluk halus itu sering menyesatkan.

Makhluk halus itu sering menyimpang.

Orang yang belajar Buddha, asalkan memberikan sesaji kepada patung hantu,
mendekati hantu, menggunakan hantu, berarti telah menyimpang.

Begitu masuk ke dalam alam hantu, sedikit sekali manusia dapat terbebaskan.
Hantu memiliki lima jenis daya gaib, sehingga orang-orang menyebutnya Lima Daya
Gaib, justru tidak ada Kemampuan Mengakhiri Segala Kerisauan. Kekuatan hantu
sedikit lebih tinggi daripada manusia, orang yang melatih daya gaib hantu, dengan
sendirinya akan menyesatkan sebagian orang yang mengejar daya gaib hantu,
mereka telah percaya hantu, kontak yoga dengan hantu, bahkan dianggap percaya
Buddha.

Buddha tentu berwelas asih pada hantu. Misalnya:

Dpng jn ch nio. (Garuda)

Kungy gushn zhng. (Makhluk halus di padang belantara)

Lu sh gu z m. (Raksasa dan Hariti)

Gnl x chngmn. (Amrta meliputi)

Inilah gatha memberikan persembahan pada makhluk halus, sebab makhluk halus juga
merupakan objek untuk dikasihi.

Tetapi bukan objek untuk diyakini.

Jangan dikecohkan.

Lagipula, memberikan persembahan itu di luar vihara, bukan di dalam vihara. Jika
diilustrasikan dalam kehidupan nyata:

Istana presiden adalah istana presiden.


Tidak mungkin karena hendak membantu tunawisma, lalu semua tunawisma
diundang ke dalam istana presiden.

Buddhadharma juga melakukan hal-hal dalam melatih diri untuk membantu hantu,
namun, hantu bukanlah kepercayaan. Jika percaya pada hantu. Maka menjadi terbalik,
tidak percaya Buddha, Dharma, dan Sangha, melainkan, hanya percaya makhluk halus
sehingga menjadi kepercayaan makhluk halus, inilah ajaran sesat, hantu dan mara
merasuk ke dalam badan, menjadi pemberontak yang bertentangan dengan
Buddhadharma.

Orang-orang yang mengundang hantu masuk ke dalam rumah akan seperti penyakit
menular, berkelompok di dalam kepercayaan makhluk halus. Mencelakai banyak
orang, dirasuk oleh makhluk halus.

Insomnia.

Sakit jiwa.

Meninggal dunia mendadak.

Banyak umat, dari Buddhadharma pindah ke kepercayaan makhluk halus, sehingga


kepercayaan Buddhadharma dihilangkan, inilah kendala dalam kepercayaan Buddha
dan melatih diri, sangat menakutkan.

Buddhadharma terdiri dari:

Tingkat atas.

Tingkat menengah.

Tingkat bawah.

(Inilah 3 tingkatan dalam melatih diri)

Sedangkan, makhluk halus itu tidak termasuk tingkatan bawah sekalipun, justru
berada di luar tiga tingkatan dalam melatih diri.

Makhluk halus itu beracun, bahkan berbahaya, umat Buddha sejati itu sukacita dan
suci, tidak boleh percaya kekuatan spiritual makhluk halus, sehingga tersesat di dalam
jalan setan.
Bagaimana Melatih Cakra Pelindung?
Banyak sadhaka menetap di:

Gua.

Bawah pohon.

Pemakaman.

(Inilah para yogi zaman dulu)

Sadhaka zaman sekarang menetap di vihara, sebagian kecil yogi masih tersebar di
pegunungan atau padang belantara.

Saya pribadi berpendapat:

Di mana pun Anda menetap dan melatih diri, mesti melatih Cakra Pelindung.

Sadhaka tentu saja mengerti:

Berbuat kebajikan dan tidak berbuat kejahatan.

Meninggalkan makhluk halus.

Menerima Triratna.

Menghormati ajaran dan bimbingan.

Berlindung pada Guru dan melatih diri sungguh-sungguh.

Taat menjalankan sila.

Namun, setiap sadhaka mesti melatih Cakra Pelindung, ini mutlak dibutuhkan.

Di alam manusia ini, makhluk halus bebas berkeliaran, tidak hanya gua, atau hutan,
atau pemakaman.

Sesungguhnya, bioskop, rumah sakit, rumah duka, rumah tinggal, vihara


Semuanya ada.

Jika makhluk halus merasuk ke dalam tubuh seorang medium, sementara, Anda dan si
medium adalah sahabat, maka Anda juga sulit sekali luput dari dirasuk dan
dikendalikan oleh hantu.

Hantu bisa pindah dari seorang medium ke medium lain, hampir sama seperti virus
menular, lebih berbahaya, bahkan sangat merusak.

Contoh nyata:

Ada dua orang bhiksu (Fashi) Si Nenek Hantu melakukan kaiguang (inisiasi pratima)
di altar umat.

Alhasil, ada lima sosok hantu mengambil alih altar mandala.

Penghuni rumah bermimpi aneh.

Insomnia.

Jatuh sakit.

Wajah penghuni rumah pucat pasi, auranya berubah menjadi hitam.

Kemudian, saya menemukan ada yang tidak beres, saya pergi ke rumah siswa saya ini,
lalu mengusir kelima hantu tersebut, dan kaiguang (inisiasi pratima) ulang.

Sekarang, akhirnya berangsur-angsur membaik!

Saya mengajarkan dan membimbing Anda semua melatih Cakra Pelindung sebagai
berikut:

1. Lebih dulu melakukan penyucian lingkungan.

(Menggunakan Air Mahakaruna Dharani)

2. Kemudian simabandhana (pembatasan lingkungan).

(Menggunakan Mantra dan Mudra Mahabala, dicap di pintu dan jendela.)


3. Selanjutnya memberikan persembahan.

(Mempersembahkan bunga, dupa, pelita, teh, buah-buahan. Jika lima Mahavajra, mesti
persembahkan arak dan daging)

4. Menjapa Sutra dan Mantra.

(Menjapa Sutra dan Mantra, mohon Dewa Vajra turun menerima persembahan)

5. Simabandhana diri dan pembatasan diri.

6. Mengalungi liontin pelindung.

7. Mengembangkan baju jirah kekuatan samadhi sadhaka yang kukuh, serta dapat
menaklukkan makhluk halus dengan tepat.

(Cakra Pelindung ini boleh dilatih oleh sadhaka perorangan atau kolektif)

Jika dirasuk oleh hantu (kesambet).

Maka terus memberontak dan menderita.

Tidak ada harapan hidup sama sekali.

Diliputi oleh kerisauan.

Manusia terus-menerus diganggu oleh hantu.

Kehilangan ketetapan pikiran.


Maka, mesti memohon Mulacarya untuk mengusir hantu, membangun kembali jaring
pelindung, melatih Cakra Pelindung, hingga mencapai ketenangan dan ketentraman.