Anda di halaman 1dari 51

I.

JUDUL PERCOBAAN : RAKSI-REAKSI ION LOGAM TRANSISI


II. TANGGAL PERCOBAAN : Selasa, 18 April 2017 pukul 07.00 WIB
III. SELESAI PERCOBAAN : Selasa, 18 April 2017 pukul 10.00 WIB
IV. TUJUAN PERCOBAAN : 1. Mempelajari reaksi-reaksi garam logam transis
2. Mengenal pembentukan ion kompleks logam
transisi.
3. Mengamati perubahan warna karena perubahan
bilangan oksidasi dari senyawa logam transisi.

V. TINJAUAN PUSTAKA
Logam transisi adalah sesuatu yang dapat membentuk satu atau lebih ion stabil
yang memiliki orbidal d yang tidak terisi (incompletely filled d orbitals). Logam-logam
transisi seri pertama (3d), kedua (4d), dan ketiga (5d), menunjukkan sifat-sifat kimiawi
yang sangat berdekatan dalam periodenya, dan kemiripan maupun perbedaan yang khas
ditunjukkan oleh kelompok golongannya.
Unsur-unsur deret peralihan utama mengandung atom - atom atau ion-ion dengan
orbital d yang belum terisi penuh. Sedangkan unsur-unsur peralihan dalam mengandung
atom-atom dengan orbital f yang belum penuh. Sifat kimia unsur-unsur ini penting secara
teoritis maupun secara praktis. Satu sifat penting unsur peralihan ialah kemampuannya
untuk membentuk ion kompleks. Sifat-sifat unsur peralihan deret pertama, misalnya
memiliki titik cair yang tinggi, daya hantar listrik yang baik, dan kekerasan sedang
sampai tinggi adalah akibat dari cepat tersedianya elektron dan orbital untuk elektron dan
orbital untuk membentuk ikatan logam. Potensial elektroda baku meningkat sesuai
dengan meningkatnya nomor atom sepanjang deret peralihan. (Petrucci, 1987)
Logam-logam golongan transisi sifatnya berbeda dengan logam-logam golongan
utama. Sifat kimia unsur-unsur ini penting secara teoritis maupun secara praktis. Salah
satu sifat penting unsur peralihan ialah ialah kemampuannya untuk membentuk ion
kompleks. Sifat-sifat unsur peralihan deret pertama, misalnya memiliki titik cair yang
tinggi, daya hantar listrik yang baik, dan kekerasan sedang sampai tinggi adalah akibat
dari cepat tersedianya elektron dan orbital untuk membentuk ikatan logam. Potensial
elektroda baku meningkat sesuai dengan meningkatnya nomor atom sepanjang deret
peralihan (Amaria, dkk., 2016)
Salah satu yang paling menarik pada logam transisi adalah kemampuannya
membentuk ikatan koordinasi. Teori medan kristal (Bahasa Inggris: Crystal Field
Theory), disingkat CFT, adalah sebuah model yang menjelaskan struktur elektronik dari
senyawa logam transisi yang semuanya dikategorikan sebagai kompleks koordinasi.
Teori ini dikembangkan menurut perubahan energi dari lima degenerat orbital-d ketika
dikelilingi oleh ligan-ligan. Ketika ligan mendekati ion logam, elektron dari ligan akan
berdekatan dengan beberapa orbital-d logam dan menjauhi yang lainnya, menyebabkan
hilangnya kedegeneratan (degeneracy). Elektron dari orbital-d dan dari ligan akan saling
tolak menolak. Oleh karena itu, elektron-d yang berdekatan dengan ligan akan memiliki
energi yang lebih besar dari yang berjauhan dengan ligan, menyebabkan pemisahan
energi orbital-d.
Pemisahan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: sifat-sifat ion
logam, keadaaan oksidasi logam. Keadaan oksidasi yang lebih besar menyebabkan
pemisahan yang lebih besar. Susunan ligan disekitar ion logam. sifat-sifat ligan yang
mengelilingi ion logam. Efek ligan yang lebih kuat akan menyebabkan perbedaan energi
yang lebih besar antara orbital 3d yang berenergi tinggi dengan yang berenergi rendah.
Besarnya perbedaan energi antara dua kelompok orbital tergantung pada beberapa
faktor, seperti sifat-sifat ligan dan struktur geometri kompleks. Beberapa ligan
selalu menghasilkan nilai yang kecil, sedangkan beberapa lainnya akan selalu
menghasilkan nilai yang lebih besar. Keadaan oksidasi logam juga memengaruhi
besarnya antara energi (energy level) yang tinggi dan rendah.
Dalam senyawa, unsur transisi selalu mempunya bilangan oksidasi positif dan
nilainya dapat bervatiasi dari +1 sampai +8. Ada beberapa hal penting, yang pertama
kebanyakan unsur transisi mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi. Kedua,
kestabilan unsur tansisi cenderung yang memiliki bilangan oksidasi tinggi, umumnya
bilangan oksidasi tertinggi unsur ini mempunyai sama dengan golongannya. Ketiga,
unsur transisi bagian bawah cenderung mempunyai lebih dari satu bilangan oksidasi
yang stabil. (Syukri, 1999).
Senyawa-senyawa koordinasi terbentuk antara atom logam atau ion logam dan
molekul dengan satu atom atau lebih pasangan elektron bebas yang disebut ligan. Ligan-
ligan dapat diklasifikasikan menurut jumlah pasangan atom donor yang dimilikinya.
Menurut Cotton (1989), macam-macam ligan adalah sebagai berikut:
a. Ligan monodentat, menyumbangkan sepasang elektron kepada sebuah atom ligan
umumnya, contoh: Cl-.
b. Ligan bidentat, mengandung 2 atom yang masing-masing secara serempak
membentuk 2 donor elektron kepada ion logam yang sama, contoh: damin.
c. Ligan polidentat, mengandung lebih dari 2 atom yang membentuk ikatan kepada ion
logam yang sama,biasanya khelat. contoh: EDTA

Ligan monodentat mendonorkan satu pasng elektron bebasnya kepada logam atau
ion logam. Contoh ligan-ligan monodentat adalah NH3, H2O, NO2- , dan CN-. Ligan
bidentat mendonorkan dua pasang elektronnya kepada logam atau ion logam.
Contohnya: ethylendiamine, NH2CH2CH2NH2.
Molekul netral (H2O, NH3) dan anion (F-, Cl-, Br-, CN-) dapat bertindak sebagai
ligan. Jika satu atau lebih molekul netral berkoordinasi dengan ion logam, menghasilkan
spesies ion logam transisi yang bermuatan disebut ion kompleks. Misalnya, ion-ion
logam transisi sebagian besar membentuk ion kompleks dengan moleku-molekul air
ketika di dalam larutan air. Contohnya [Co(H2O)6]3+ dan [Ni(H2O)6]2+. Jika satu atau lebih
anion berkoordinasi dengan ion loga, dihasilkan ion kompleks yang bermuatan negatif.
Contohnya: [Co(NO2)6]3- dan [Fe(CN)6]4-.
Sebagian besar ion logam transisi membentuk ion kompleks dengan molekul-
molekul air, bila dilarutkan dalam air. Senyawa-senyawa demikian ini mudah terbentuk
karena air ada dalam jumlah yang berlebih. Namun air buka ligan yang kuat. Kompleks
ini berlangsung dalam reaksi substitusi, yaitu molekul air digantikan oleh ligan lain
secara berurutan. Reaksi demikian ini sering disertai perubahan warna larutan. Misalnya,
jika garam nikel(II) dilarutkan di dalam air akan membentuk ion kompleks [Ni(H 2O)6]2+
yang berwarna hijau. Pada penambahan NH3 pekat, warna larutan berubah menjadi biru
karena terbentuk ion kompleks [Ni(NH3)6]2+
Kompleks dapat diklasifikasikan sebagai inert atau labil, bergantung pada
kecepatan reaksi substitusi yang terjadi. Kompleks yang labil mengalami reaksi
substitusi secara cepat, sedangkan kompleks inert mengalami reaksi substitusi secara
lambat (Amaria, dkk., 2016).

SIFAT FISIS DAN KIMIA YANG DIMILIKI OLEH UNSUR TRANSISI


1. Sifat logam
Semua unsur transisi periode keempat bersifat logam, baik dalam sifat kimia
maupun dalam sifat fisis. Harga energy ionisasi yang relative rendah (kecuali seng
yang agak tinggi), sehingga, mudah membentuk ion positif. Demikian pula, harga titik
didih dan titik lelehnya relative tinggi (kecuali Zn yang membentuk TD dan TL
relative rendah). Hal ini disebabkan orbital subkulit d pada unsure transisi banyak
orbital yang kosong atau tersisi tidak penuh. Adanya orbital yang kosong
memungkinkan atom-atom membentuk ikatan kovalen (tidak permanen) disamping
ikatan logam. Orbital subkulit 3d pada seng terisi penuh sehingga titik lelehnya
rendah. Bandingkan dengan unsure utama yang titik didih dan titik lelehnya juga
relative rendah.
Tabel 1.1 sifat fisis unsur transisi
Unsur Sc Ti V Cr Mn Fe Co Ni Cu Zn
Jari-jari
atom 0,16 0,15 0,14 0,13 0,14 0,13 0,13 0,13 0,13 0,13
(nm)
Titik leleh 154 168 190 189 124 154 145
1500 1080 420
(0C) 0 0 0 0 0 0 0
Titik 237 326 340 248 210 300 273
2900 2600 910
didih (0 C) 0 0 0 0 0 0 0
Kerapatan
3,0 4,5 6,1 7,2 7,4 7,9 8,9 8,9 8,9 7,1
(g/cm3)
E ionisasi 650
6,30 660 650 720 760 760 740 750 910
I (kJ/mol) 0
E ionisasi
124 131 141 159 151 156 175 170
II 1640 1960
0 0 0 0 0 0 0 0
(kJ/mol)
E ionisasi
239 265 287 299 326 296 339 380
III 3230 3560
0 0 0 0 0 0 0 0
(kJ/mol)
E0 red - - - - +0,3
- - -1,2 -0,28 0,76
M2+ (aq) 0,91 1,19 0,44 0,25 4
E0 red -0,- - - - +0,4
-2,1 -1,2 - - -
M3+ (aq) 86 0,74 0,28 0,04 4
Kekerasa
n ( skala - - - 9,0 5,0 4,5 - - 3,0 2,5
mohs)

2. Sifat Magnet
Adanya electron-elektron yang tidak berpasangan pada sub kulit d
menyebabkan unsur-unsur transisi bersifat paramagnetic (sedikit ditarik ke dalam
medan magnet). Makin banyak electron yang tidak berpasangan, maka makin kuat
pula sifat paramagnetknya. Pada seng dimana orbital pada sub kulit d terisi penuh,
maka bersifat diamagnetic (sedikit ditolak keluar medan magnet).
3. Membentuk Senyawa-Senyawa Berwarna
Senyawa unsure transisi (kecuali scandium dan seng), memberikan bermacam
warna baik padatan maupun larutannya. Warna senyawa dari unsure transisi juga
berkaitan dengan adanya orbital sub kulit d yang terisi tidak penuh. Peralihan electron
yang terjadi pada pengisian subkulit d (sehingga terjadi perubahan bilangan oksidasi)
menyebabkan terjadinya warna pada senyaa logam transisi.
Senyawa dari Sc3+ dan Ti4+ tidak berwarna karena subkulit 3d-nya kosong,
serta senyawa dari Zn2+ tidak berwarna karena subkulit 3d-nya terisi penuh, sehingga
tidak terjadi peralihan electron.

Tabel 1.2 warna senyawa logam transisi dengan berbagai bilangan oksidasi
Unsure +1 +2 +3 +4 +5 +6 +7
Sc - - Tb - - - -
Ti - - Ungu Tb - - -
V - Ungu Hijau biru Merah - -
Cr - Biru Hijau - - Jingga -
Mn - Merah Coklat Coklat Biru Hijau Ungu
muda tua
Fe - Hijau Kuning - - - -
Co - Merah Ungu - - - -
muda
Ni - Hijau - - - - -
Cu Tb Biru - - - - -
Zn - Tb - - -

4. Mempunyai Beberapa Tingkat Oksidasi


Kecuali Sc dan Zn, unsur-unsur transisi periode keempat mempunyai beberapa
tingkat oksidasi. Bilangan oksidasi yang mungkin bergantung pada bilangan oksidasi
yang dapat dicapai kestabilannya.
Kestabilan senyawa logam transisi diantaranya bergantung pada jenis atom
yang mengikat logam transisi, senyawa berbentuk kristal atau larutan, PH dalam air.
Kestabilan bilangan oksidasi yang tinggi dapat dicapai melalui pembentukan senyawa
dengan oksoaniaon, fluoride, dan oksofluorida.

5. Banyak Di Antaranya Dapat Membentuk Ion Kompleks


Ion kompleks adalah ion yang terdiri atas atom pusat dan ligan. Biasanya atom
pusat merupakan logam transisi yang bersifat elektropositif dan dapat menyediakan
orbital kosong sebagai tempat masuknya ligan. Contohnya ion besi (III) membentuk
ion kompleks [Fe(CN)6]. Ion kompleks unsur transisi terdiri dari ion pusat Ligand,
yaitu :
1. Ion pusat : ion dari unsur-unsur transisi dan bermuatan positif
2. Ligand : molekul atau ion yang mempunya pasangan elektron bebas. (Cl, CN, NH 3,
H2O)
3. Bilangan koordinasi adalah jumlah ligand dalam suatu ion kompleks. Antara ion
pusat dan ligan terdapat ikatan koordinasi.

6. Beberapa Diantaranya Dapat Digunakan Sebagai Katalisator


Salah satu sifat penting unsur transisi dan senyawanya, yaitu kemampuannya
untuk menjadi katalis-katalis reaksi-reaksi dalam tubuh. Katalis adalah zat yang dapat
mempercepat reaksi. Di dalam tubuh, terdapat enzim sitokrom oksidase yang berperan
dalam mengoksidasi makanan. Enzim ini dapat bekerja bila terdapat ion Cu 2+.
Beberapa logam transisi atau senyawanya telah digunakan secara komersial sebagai
katalis pada proses industry seperti TiCl 3 (Polimerasasi alkena pada pembuatan
plastic), V2O5(proses kontak pada pembuatan margarine), dan Cu atau CuO (oksidasi
alcohol pada pembuatan formalin).

VI. ALAT DAN BAHAN


A. Alat-alat
- Tabung reaksi 47 buah
- pembakar spirtus 1 buah
- pengaduk kaca 1 buah
- rak tabung 1 buah
- pipet tetes 11 buah
- kaca arloji 2 buah
- gelas kimia 4 buah

B. Bahan
- aquades - FeCl3 (s) 0,1 M
- ZnCl2 0,1 M - FeSO4 (s) 0,1 M
- ammonia pekat dan 2 M - Fe(NH3)2SO4 0,1 M
- CoCl2 0,1 M - Fe(NO)3 0,1 M
- CrCl3.6H2O (s) 0,1 M - HCl 2 M, pekat
- CuSO4.5H2O (s) 0,1 M - HNO3 2 M, pekat
- CuCl2.2H2O (s) - NaOH 0,5 M, 1 M, 2 M, 6 M
- NiCl2 0,1 M - FeSO4 (s) 0,1 M
- MnSO4 0,1 M - larutan Na2C2O4
- dimethylglioxime - larutan Na2EDTA
- Ethylenediamine - NaNO2 jenuh
- K4[Fe(CN)6] 0,1 M - NH4CNS 0,1 M
- 1,10-phenantroline - Etanol
- Butiran/serbuk Zn - K2Cr2O7 (s) 0,1 M
- KSCN jenuh - Ni(NO3)2

Larutan
CrCL3
VII. Alur Kerja

a. Reaksi dengan NaOH di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan hijau
Cr(OH)3

Ditambahkan NaOH berlebih


Larutan hijau
[Cr(OH)6]3-
Reaksi : CrCl3 (aq) + 3 NaOH (aq) Cr(OH)3 (s) +3 NaCl (aq)

Cr(OH)3 (s) + 3 NaOH (aq) Na3[Cr(OH)6] (aq)

Larutan
MnSO4

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan hijau
Mn(OH)2

Ditambahkan NaOH berlebih


Endapan tak jenuh

Reaksi :MnSO4 (aq) + 2 NaOH (aq) Mn(OH)2 (s) +Na2SO4


Larutan
Fe(NH2)2SO4

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan hijau
Tua Fe(NH3)2(OH)2

Ditambahkan NaOH berlebih


Endapan larut
Reaksi :Fe(NH3)2SO4 (aq) +2 NaOH(aq) Fe(NH3)2 (OH)2 (s) + Na2SO4 (aq)

Larutan
FeCl3

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan coklat
Fe(OH)3

Ditambahkan NaOH berlebih


Endapan Tak larut

Reaksi : FeCl3 (aq) + 3 NaOH (aq) Fe(OH)3 (s) +3 NaCl (aq)

Larutan
CoCl2

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan coklat
Ca(OH)2

Ditambahkan NaOH berlebih


Reaksi : CoCl2 (aq) + 2 NaOH (aq) Ca(OH)2 (s) + 2NaCl (aq)
Endapan Tak larut

Larutan
NiCl2

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan hijau
Ni(OH)2

Ditambahkan NaOH berlebih


Endapan Tak larut
Reaksi :NiCl2 (aq) + 2NaOH (aq) Ni(OH)2 (s) + 2NaCl (aq)

Larutan
CuSO4

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan coklat
Cu(OH)2

Ditambahkan NaOH berlebih


Endapan sedikit
larut

Reaksi :CuSO4 (aq) + 2 NaOH (aq) Cu(OH)2 (s) + Na2SO4 (aq)

Larutan
ZnCl2

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes NaOH 1 M
Endapan coklat
Zn(OH)2

Ditambahkan NaOH berlebih


Larutan tak
berwarna
[Zn(OH)4]2-
Reaksi :ZnCl2 (aq) + 2 NaOH (aq) Zn(OH)2 (s) + 2 NaCl (aq)

b. Reaksi dengan Ammonia

Larutan
CrCl3

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan hijau
Cr(OH)3

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Larutan hijau
[Cr(NH3)6]3+

Reaksi : CrCl3 (aq) + 3 NH4OH (aq) Cr(OH)3 (s) + 3 NH4Cl (aq)

Cr(OH)3 (s) + 6 NH4OH (aq) [Cr(NH3)6]3+ (aq) + 3 OH- (aq) + 6 H2O (l)

Larutan
MnSO4

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan putih
Mn(OH)2

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Endapan tak larut


Reaksi :MnSO4 (aq) + 2NH4OH (aq) Mn(OH)2 (aq)+ (NH4)2SO4 (aq)

Mn(OH)2 (s) + NH4OH berlebih

Larutan
Fe(NH3)2SO4

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan hijau
Tua Fe(NH3)2(OH)2

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Endapan tak larut

Larutan
FeCl3

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan coklat
Fe(OH)3

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Endapan tak larut


Larutan
CoCl2

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan merah jambu
Co(OH)2

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Larutan coklat jenuh


[Co(NH3)6]2+

Larutan
NiCl2

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan hijau
Ni(OH)2

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Larutan biru
[Ni(NH3)6]2+
Larutan
CuSO4

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan biru
Cu(OH)2

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Larutan Biru
[Cu(NH3)4]

Reaksi :CuSO4 (aq) +2NH4OH (aq) Cu(OH)2 (s) + (NH4)2SO4 (aq)

Cu(OH)2 (s) + 4 NH4OH (aq) [Cu(NH3)4 (H2O)2]2+ (aq)+2 OH- (aq) + 2H2O
(l)

Larutan
ZnCl2

di masukkan kedalam tabung reaksi


sebanyak 1 mL
Ditambahkan tetes demi tetes larutan amonia 2M
Endapan putih
Zn(OH)2

Ditambahkan larutan amonia 2M berlebih

Larutan tak
berwarna
[Zn(NH3)4]2+
Reaksi : ZnCl2(aq) + 2 NH4OH(aq) Zn(OH)2 (s)

Zn (OH)2 (s) + 4NH4OH (aq) [Zn(NH3)4 (H2O)2]2+

c. Reaksi dengan NH4CNS

CrCl3 Mn(SO4) Fe(NH3)2SO4 FeCl3 CoCl2 CuSO4 NiCl2 ZnCl2

Masing masing di masukkan kedalam tabung reaksi yang berbeda sebanyak 1 mL


Ditambahkan larutan NH4CNS 0,1M dengan volume yang sama

Perubahan warna larutan

Dibandingkan dengan larutan blanko


Dicatat perubahan warnanya
Hasil

Larutan Blanko

1 mL Larutan logam transisi

Ditambah aquades 1 mL

Larutan blanko

Reaksi : CrCl3 (aq)+ NH4CNS


MnSO4 (aq) +NH4CNS

Fe(NH3)2SO4 (aq) + 4NH4CNS (aq) [Fe(NH3) (CNS)4]2- (aq) + 4NH4+ (aq)


+ SO42- (aq)

FeCl3 (aq) + 6 NH4CNS (aq) [Fe(CNS)6]3- (aq) + 3 NH4 (s) + 3 NH4+ (aq)

CoCl2 (aq) + NH4CNS

NiCl2 (aq) + NH4CNS

CuSO4 (aq)+ NH4CNS

ZnCl2(aq)+ NH4CNS

Percobaan II : Pembentukan Ion Kompleks Oleh Ion Logam Transisi

a. Kompleks Cr(III)

2 ml CrCl3 encer

- Dimasukkan ke tabung reaksi


- Ditambahkan sedikit tetes demi tetes larutan Na 2C2O4 0,1
M
- Dikocok
- Dicatat perubahan warna
- Ditulis reaksi dan struktur kompleks yang terbentuk

Perubahan warna larutan

Reaksi : CrCl3 + Na2C2O4 [Cr(C2O4)3]3-.+ 2Na+ + 3Cl-

O O 3-

-O O-

-
O O
Cr

-
O O- -O O

O O
[Cr(C2O4) 3]3-
b. Kompleks Fe(II) dan Fe(III)
1.

1 mL larutan Fe(II)

Dimasukkan ke tabung reaksi


Dicatat warnanya
Ditambahkan 2-3 tetes fenantrolin
Diamati dan dicatat ion kompleks yang terbentuk

Perubahan warna larutan

2+

N N N

Fe
N
N N

Reaksi : Fe2+ (aq) + 3 (aq) [Fe (1,10 phenanthroline)3]2+

2.
2 mL larutan FeCl3 encer

Dimasukkan ke tabung reaksi


Ditambahkan 2 tetes larutan NH4CNS
Ditambahkan sedikit larutan Na2C2O4
Dikocok
Dicatat warna larutan terakhir

Perubahan warna larutan


Reaksi : FeCl3 (aq) + NH4CNS (aq) Fe(CNS)2+ (aq) + 2 Cl- (aq) + NH4+ (aq)

Fe(CNS)2+ (aq) +3 Na2C2O4 (aq) [Fe(CNS)6]3- (aq) +6 Na (aq) + CNS- (aq)

[Fe(C2O4)3]3- (aq) + 6 NH4CNS (aq) [Fe(CNS)6]3- (aq) + 6NH4+ (aq) +3


C2O42- (aq)

c. Kompleks Kobalt(II)

1 mL larutan CoCl2 0,1 M 1 mL larutan CoCl2 0,1 M

Dimasukkan ke tabung reaksi I - Dimasukkan ke tabung reaksi II


Ditambahkan beberapa tetes etilendiamin - Ditambahkan beberapa tetes larutan
Diamati perubahan warnanya
Na2EDTA
- Dikocok
- Diamati perubahan warnanya
Perubahan warna larutan

Perubahan warna larutan


NH2
H2 N 2+
H 2N

Co
NH2

H 2N
NH 2

Reaksi : CoCl2(aq) + 3NH2-CH2-CH2-NH2(aq) [Co(en)3]2+

CoCl2(aq) + Na2EDTA (aq) Co-EDTA (aq) + 2NaCl (aq)

d. Kompleks Nikel (II)

1 mL larutan Ni(II) 1 mL larutan Ni(II)

Dimasukkan ke tabung reaksi I Dimasukkan ke tabung reaksi II


Ditambah beberapa tetes etilendiamin Ditambah beberapa tetes DMG
Dikocok Dikocok
Dicatat hasil pengamatan Dicatat hasil pengamatan

Perubahan warna larutan Perubahan warna larutan


1 mL larutan Ni(II)

- Dimasukkan ke tabung reaksi IIII


- Ditambah beberapa tetes Na2EDTA
- Dikocok
- Dicatat hasil pengamatan

Perubahan warna larutan

Reaksi :

Dan

O OH 2-

HO N
O
N O

O
O
Ni

O
O
N

O
N OH

HO
O

[Ni(EDTA)2] 2-

e. spatula
Seujung Kompleks Cu(II)
kecil CuSO4.5H2O Seujung spatula kecil CuCl2.2H2O

Ditempatkan di kaca arloji Ditempatkan di kaca arloji

Diamati keadaan fisiknya


Diamati perbedaan warna kedua senyawa

Keadaan Fisik Senyawa


1 mL CuSO4 1 mL CuSO4
Dimasukkan ke tabung reaksi I Dimasukkan ke tabung reaksi II
Diperhatikan warna larutan Diperhatikan warna larutan
Ditambah beberapa tetes etilendiamin Ditambah beberapa tetes Na2EDTA
Dikocok Dikocok
Diamati perubahannya Diamati perubahannya
Dicatat hasil pengamatan Dicatat hasil pengamatan

Hasil Pengamatan Hasil Pengamatan

Percobaan III

a. Perubahan Fe2+ menjadi Fe3+

1 ml FeSO4

- Ditambahkan 2-3 tetes HNO3 pekat


- Dipanaskan 1-2 menit
- Dibiarkan dingin
- Ditambahkan NaOH 2M sedikit demi sedikit sampai
endapan permanen

Hasil
Reaksi : 3 Fe2+ (aq) + HNO3 (aq) + 3 H+ 3 Fe3+ (aq) + NO (g) + 2 H2O (l)
Fe3+ (aq) +3 NaOH (aq) Fe(OH)3 (s) + 3Na+ (aq)

b. Perubhan Cr6+ menjadi Cr3+


2 ml K2Cr2O7

- Dimasukan tabung reaksi


- Dipanaskan
- Ditambahkan 1-2 tetes butir seng
- Ditambhkan 1,5 ml HCl pekat
- Dipanaskan perlahan sampai mengalami sedikit reduksi
- Diamati warnanya
- Dituangkan 1 ml larutan ke dalam tabung reaksi lain
- Ditambhakan tetes demi tetes HNO3 pekat sambil
dikocok

Reaksi :
Hasil
K2Cr2O7 (aq) + 14 HCl (aq) + 3 ZnCl (s) 2 Cr3+ (aq) + 3 Zn2+ (aq) +2K+ (aq) + 14
Cl- (aq) + 7 H2O (l)

2 Cr3+ + 2HNO3 (aq) +2H+ 2Cr2+ + 2NO2 + 2 H2O

IX. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Percobaan 1: Reaksi beberapa Ion Logam Transisi

Pada percobaan pertama ini bertujuan untuk mengetahui senyawa


kompleks yang terbentuk apabila larutan berair dari garam transisi direaksikan
dengan NaOH dan NaOH berlebih, larutan ammonia dan ammonia berlebih, dan
direaksikan dengan NH4CNS atau ammonium tiosianat. Dalam reaksi ion logam
transisi dengan ligan juga disebut sebagai reaksi asam basa Lewis karena ion
pusat berperan sebagai aseptor pasangan elektron bebas (asam lewis) dan ligan
sebagai donor pasangan elektron bebas (basa lewis).
Mn+(aq) + xB- --> [M(B)x](n-x)+
Asam lewis basa lewis
Penambahan NaOH akan membentuk endapan dan saat berlebih
membentuk kompleks hidrokso [M(OH-)x]n-(bersifat amfoter), jika dengan larutan
ammonia akan membentuk endapan pada penambahan berlebih akan membentuk
kompleks ammina [M(NH3)x]n+, jika dengan ammonium tiosianat akan
membentuk kompleks tiosianato [M(CNS)x]n-. Larutan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah CrCl3 (larutan berwarna biru kehitaman), MnSO4 (larutan
tidak berwarna), Fe(NH3)2SO4 (larutan berwarna kuning keruh), FeCl3 (larutan
berwarna kuning(++)), CoCl2 (larutan berwarna merah muda jernih), NiCl2
(larutan berwarna hijau muda jernih), CuSO4 (larutan berwarna biru jernih), dan
ZnCl2 (larutan tidak berwarna). Semua larutan tersebut memiliki konsentrasi 0,1
M.

a. Reaksi dengan NaOH


Pada reaksi logam transisi dengan NaOH terjadi peristiwa penggantian
ligan akuo (H2O) karena logam transisi dalam larutan berair dengan ligan
hidrokso (OH-) karena ada penambahan NaOH sebagai basa dan terbentuknya
endapan, jika penambahan NaOH berlebih endapan larut menghasilkan
larutan maka logam tersebut bersifat amfoter.
[M(H2O)6]2+(aq) + OH-(aq) --> [M(H2O)5OH]+(aq) + H2O(l)
[M(H2O)5]+(aq) + OH-(aq) --> [M(H2O)4(OH)2](s) + H2O(l)
endapan
[M(H2O)4(OH)2]+(aq) + OH-(aq) --> [M(H2O)3(OH)3]-(aq) + H2O(l)
endapan mulai larut
[M(H2O)3(OH)3] (aq) + 3OH (aq) --> [M(OH)6]4-(aq) + 3H2O(l)
- -

endapan larut

Larutan garam CrCl3


Dalam larutan CrCl3 akan membentuk kompleks dengan air sebagai
heksaakuokrom(III) klorida yakni [Cr(H2O)6]Cl3.
Pada tabung pertama dimasukkan 1 mL larutan CrCl 3 0,1 M dan
ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes. Pada
penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna hijau kebiruan karena 3 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 3
ligan hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi
berikut:

[Cr(H2O)6]3+(aq) + 3NaOH(aq) --> Cr(H2O)3(OH)3(s) + 3Na+(aq)

Asam Basa

Biru kehitaman endapan hijau kebiruan

Penambahan berlebih NaOH sebanyak 251 tetes menyebabkan


endapan larut dan terbentuk larutan berwarna hijau keruh, menunjukkan
bahwa hidroksida kromium merupakan amfoter karena dapat bereaksi
dengan basa dalam jumlah berlebih menghasilkan larutan sehingga
kromium berperan sebagai basa dan NaOH berperan sebagai asam,
menurut reaksi berikut:

[Cr(H2O)3(OH)3](aq) + 3NaOH(aq) --> [Cr(OH)6]3-(aq) + 3Na+(aq)

basa asam

endapan hijau kebiruan larutan berwarna hijau keruh

Bentuk kompleks dari [Cr(OH)6]3- adalah oktahedral.

Larutan garam MnSO4


Dalam larutan garam MnSO4 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuomangan(II) sulfat yakni Mn(H2O)6SO4.
Pada tabung kedua dimasukkan 1 mL larutan garam MnSO4 0,1 M dan
ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes. Pada
penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya hablur berwarna
kuning karena 2 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 2 ligan
hidroksi(OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Mn(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) --> Mn(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Asam Basa

Tidak berwarna hablur kuning

Namun seketika berubah menjadi berwarna kuning endapannya karena


oksidasi Mn2+ berlanjut, menurut reaksi:
Mn(OH)2(s) Mn2O3(s) MnO2(s)

Hablur kuning kuning(+) coklat

Penambahan berlebih NaOH sebanyak 10 tetes hablur tidak larut dan


terbentuk hablur berwarna kuning yang lebih banyak, menunjukkan
bahwa hidroksida mangan bersifat tidak amfoter karena tidak dapat
bereaksi dengan basa dalam jumlah berlebih.

Larutan garam Fe(NH3)2SO4


Dalam larutan garam Fe(NH3)2SO4 akan membentuk kompleks dengan
air sebagai diamminatetraakuoferro(II) sulfat yakni Fe(H2O)4(NH3)2SO4.
Pada tabung ketiga dimasukkan 1 mL larutan garam Fe(NH 3)2SO4 0,1
M dan ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5
tetes. Pada penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya
endapan berwarna hijau diatas larutan karena 2 ligan akuo (H 2O) telah
digantikan oleh 2 ligan hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa
berdasarkan reaksi berikut:

[Fe(H2O)4(NH3)2]2+(aq) + 2NaOH(aq) --> Fe(H2O)2(NH3)2(OH)2(s) +

2Na+(aq)

Asam Basa

Kuning keruh endapan hijau

Penambahan berlebih NaOH sebanyak 10 tetes endapan tidak larut dan


terbentuk endapan berwarna hijau yang lebih banyak diatas larutan,
menunjukkan bahwa hidroksida Ferro(II) bersifat tidak amfoter karena
tidak dapat bereaksi dengan basa dalam jumlah berlebih.

Larutan garam FeCl3


Dalam larutan garam FeCl3 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuoferri(III) klorida yakni Fe(H2O)6Cl3.
Pada tabung keempat dimasukkan 1 mL larutan garam FeCl3 0,1 M
dan ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes.
Pada penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna kuning (+) karena 3 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 3
ligan hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi
berikut:

[Fe(H2O)6]3+(aq) + 3NaOH(aq) --> Fe(H2O)3(OH)3(s) + 3Na+(aq)

Asam Basa

Kuning (++) endapan coklat kemerahan

Penambahan berlebih NaOH sebanyak 10 tetes endapan tidak larut


terbentuk endapan berwarna coklat kemerahan dan larutan berwarana
jingga, menunjukkan bahwa hidroksida Ferri(III) bersifat tidak amfoter
karena tidak dapat bereaksi dengan basa dalam jumlah berlebih.

Larutan garam CoCl2


Dalam larutan garam CoCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuokobalt(II) klorida yakni [Co(H2O)6]Cl2.
Pada tabung kelima dimasukkan 1 mL larutan garam CoCl 2 0,1 M dan
ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes. Pada
penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya hablur berwarna
biru karena 2 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 2 ligan hidroksi
(OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Co(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) --> Co(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Asam Basa

Merah muda jernih hablur biru

Penambahan berlebih NaOH sebanyak 10 tetes menyebabkan endapan


larut dan terbentuk larutan berwarna biru, menunjukkan bahwa hidroksida
kobalt merupakan amfoter karena dapat bereaksi dengan basa dalam
jumlah berlebih menghasilkan larutan sehingga kobalt berperan sebagai
basa dan NaOH berperan sebagai asam, menurut reaksi berikut:

[Co(H2O)4(OH)2](aq) + 4NaOH(aq) --> [Co(OH)6]4-(aq) + 4Na+(aq)

basa asam

endapan biru larutan berwarna biru

Bentuk kompleks dari [Co(OH)6]3- adalah oktahedral.

Larutan garam NiCl2


Dalam larutan garam NiCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuonikel(II) klorida yakni [Ni(H2O)6]Cl2.
Pada tabung keenam dimasukkan 1 mL larutan garam NiCl 2 0,1 M dan
ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes. Pada
penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya hablur berwarna
putih karena 2 ligan akuo (H 2O) telah digantikan oleh 2 ligan hidroksi
(OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Ni(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) --> Ni(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Asam Basa

Hijau muda jernih hablur putih

Penambahan berlebih NaOH sebanyak 10 tetes menyebabkan endapan


tidak larut terbentuk endapan putih yang lebih banyak dan larutan
berwarna hijau keruh, menunjukkan bahwa hidroksida nikel bersifat tidak
amfoter karena tidak dapat bereaksi dengan basa dalam jumlah berlebih.
Larutan garam CuSO4
Dalam larutan garam CuSO4 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakukuprat(II) sulfat yakni [Cu(H2O)6]SO4.
Pada tabung ketujuh dimasukkan 1 mL larutan garam CuSO 4 0,1 M
dan ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes.
Pada penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna biru dan larutan berwarna biru keruh karena 2 ligan akuo (H 2O)
telah digantikan oleh 2 ligan hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa
berdasarkan reaksi berikut:

[Cu(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) --> Cu(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Asam Basa

Biru jernih endapan biru

Penambahan berlebih NaOH sebanyak 10 tetes menyebabkan endapan


tidak larut terbentuk endapan biru yang lebih banyak dan larutan berwarna
biru keruh, menunjukkan bahwa hidroksida tembaga bersifat tidak amfoter
karena tidak dapat bereaksi dengan basa dalam jumlah berlebih.

Larutan garam ZnCl2


Dalam larutan garam ZnCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuozinkat(II) klorida yakni [Zn(H2O)6]Cl2.
Pada tabung kedelapan dimasukkan 1 mL larutan garam ZnCl 2 0,1 M
dan ditambahkan dengan NaOH 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes.
Pada penambahan NaOH 0,1 M ini menyebabkan terbentuknya hablur
berwarna putih karena 2 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 2 ligan
hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Zn(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) --> Zn(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Asam Basa

Tidak berwarna hablur putih


Penambahan berlebih NaOH sebanyak 10 tetes menyebabkan
terbentuk endapan putih dan larutan keruh, hal ini menunjukkan bahwa
hidroksida zink bersifat amfoter karena dapat bereaksi dengan basa dalam
jumlah berlebih.

[Zn(H2O)4(OH)2](aq) + 4NaOH(aq) --> [Zn(OH)6]4-(aq) + 4Na+(aq)

basa asam

endapan putih larutan keruh

b. Reaksi dengan larutan Ammonia 2 M


Pada reaksi logam transisi dengan larutan ammonia 2 M (NH 4OH)
terjadi peristiwa penggantian ligan akuo (H 2O) karena logam transisi dalam
larutan berair dengan ligan hidrokso (OH-) karena ada penambahan NH4OH
sebagai basa dan terbentuknya endapan, jika berlebih endapan larut
menghasilkan larutan karena terjadi penggantian ligan bukan oleh OH- tapi
oleh NH3.
M(H2O)6 2+(aq) + 2NH4OH(aq) --> M(H2O)4(OH)2(s) + 2NH4+(aq)
Berlebih ammonia:
M(H2O)4(OH)2 + 6NH4OH(aq) --> M(NH3)62+(aq) + 2OH-(aq) +
10H2O(l)

Larutan garam CrCl3


Dalam larutan garam CrCl3 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuokrom(III) klorida yakni [Cr(H2O)6]Cl3.
Pada tabung pertama dimasukkan 1 mL larutan garam CrCl3 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4OH 2 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes. Pada
penambahan NH4OH 2 M ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna biru kehijauan dan larutan biru karena 3 ligan akuo (H 2O) telah
digantikan oleh 3 ligan hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa
berdasarkan reaksi berikut:

[Cr(H2O)6]3+(aq) + 3 NH4OH(aq) --> Cr(H2O)3(OH)3(s) + 3NH4+(aq) +

9H2O(l)

Asam Basa
Biru kehitaman endapan biru kehijauan

Penambahan berlebih NH4OH 2 M sebanyak 10 tetes menyebabkan


endapan larut dan terbentuk larutan berwarna hijau, menunjukkan bahwa
hidroksida kromium larut dalam larutan ammonia berlebih karena semua
ligannya telah diganti oleh NH3

[Cr(H2O)3(OH)3](aq) + 3NH4OH(aq) --> [Cr(NH3)6]3+aq) + 3NH4+(aq)

+ 6H2O(l)

basa asam

endapan biru kehijauan larutan berwarna hijau

Bentuk kompleks dari [Cr(NH3)6]3+ adalah oktahedral.

Larutan garam MnSO4


Dalam larutan garam MnSO4 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuomangan(II) sulfat yakni Mn(H2O)6SO4.
Pada tabung kedua dimasukkan 1 mL larutan garam MnSO4 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4OH 2 M tetes demi tetes sebanyak 3 tetes. Pada
penambahan NH4OH 2 M ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna putih dan larutan berwarna kuning karena 2 ligan akuo (H 2O)
telah digantikan oleh 2 ligan hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa
berdasarkan reaksi berikut:

[Mn(H2O)6]2+(aq) + 2NH4OH(aq) --> Mn(H2O)4(OH)2(s) + 3NH4+(aq)

Asam Basa

Tidak berwarna endapan putih

Namun seketika berubah menjadi berwarna kuning endapannya karena


oksidasi Mn2+ berlanjut, menurut reaksi:

Mn(OH)2(s) --> Mn2O3(s) --> MnO2(s)

Putih kuning coklat

Penambahan berlebih NH4OH sebanyak 10 tetes endapan tidak larut


terbentuk endapan berwarna hijau yang lebih banyak dan larutan berwarna
uning keruh, menunjukkan bahwa hidroksida mangan tidak ada proses
penggantian ligan NH3 karena tidak larut.

Larutan garam Fe(NH3)2SO4


Dalam larutan garam Fe(NH3)2SO4 akan membentuk kompleks dengan
air sebagai diamminatetraakuoferro(II) sulfat yakni Fe(H2O)4(NH3)2SO4.
Pada tabung ketiga dimasukkan 1 mL larutan garam Fe(NH 3)2SO4 0,1
M dan ditambahkan dengan NH4OH 2 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes.
Pada penambahan NH4OH ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna hijau kehitaman karena 2 ligan akuo (H 2O) telah digantikan oleh
2 ligan hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi
berikut:

[Fe(H2O)4(NH3)2]2+(aq) + 2NH4OH(aq) --> Fe(H2O)2(NH3)2(OH)2(s) +

2NH4+(aq) + 9H2O(l)
Asam Basa

Kuning keruh endapan hijau kehitaman

Penambahan berlebih NH4OH sebanyak 10 tetes endapan tidak larut


terbentuk endapan berwarna hijau kehitaman yang lebih banyak dan
laruatan berwarna hijau kehitaman, menunjukkan bahwa hidroksida
Ferro(II) terjadia proses penggantian ligan oleh NH3.

Larutan garam FeCl3


Dalam larutan garam FeCl3 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuoferri(III) klorida yakni Fe(H2O)6Cl3.
Pada tabung keempat dimasukkan 1 mL larutan garam FeCl3 0,1 M
dan ditambahkan dengan NH4OH 2 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes.
Pada penambahan NH4OH ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna jingga karena 3 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 3 ligan
hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Fe(H2O)6]3+(aq) + 3NH4OH(aq) --> Fe(H2O)3(OH)3(s) + 3NH4+(aq) +

9H2O(l)

Asam Basa

Kuning jernih endapan jingga

Penambahan berlebih NH4OH sebanyak 10 tetes endapan tidak larut


terbentuk endapan berwarna jingga (++) yang lebih banyak dan larutan
berwarna jingga keruh, hal ini menunjukkan bahwa hidroksida Ferri(III)
terjadi proses penggantian ligan oleh NH3.

Larutan garam CoCl2


Dalam larutan garam CoCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuokobalt(II) klorida yakni [Co(H2O)6]Cl2.
Pada tabung kelima dimasukkan 1 mL larutan garam CoCl 2 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4OH 2 M demi tetes sebanyak 5 tetes. Pada
penambahan NH4OH ini menyebabkan terbentuknya endapan berwarna
biru karena 2 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 2 ligan hidroksi
(OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Co(H2O)6]2+(aq) + 2NH4OH(aq) --> Co(H2O)4(OH)2(s) + 2NH4+(aq) +

8H2O(l)

Asam Basa

Merah muda jernih endapan biru

Penambahan berlebih NH4OH sebanyak 10 tetes menyebabkan


endapan larut dan terbentuk larutan berwarna biru keruh, menunjukkan
bahwa hidroksida kobalt terjadi proses penggantian ligan oleh NH3.

Larutan garam NiCl2


Dalam larutan garam NiCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuonikel(II) klorida yakni [Ni(H2O)6]Cl2.
Pada tabung keenam dimasukkan 1 mL larutan garam NiCl 2 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4OH 2 M tetes demi tetes sebanyak 3 tetes. Pada
penambahan NH4OH 2 M ini menyebabkan terbentuknya hablur berwarna
biru (-) karena 2 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 2 ligan hidroksi
(OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Ni(H2O)6]2+(aq) + 2NH4OH(aq) --> Ni(H2O)4(OH)2(s) + 2NH4+(aq) +

8H2O(l)

Asam Basa

Hijau muda jernih endapan biru (-)

Penambahan berlebih NH4OH sebanyak 10 tetes menyebabkan


endapan larut dan terbentuk larutan berwarna biru kehijauan keruh,
menunjukkan bahwa hidroksida nikel terjadi proses penggantian ligan
oleh NH3.

[Ni(H2O)4(OH)2](aq) + 6NH4OH(aq) --> [Ni(NH3)6]2+aq) + 10H2O(l) +

2OH-(aq)

basa asam

endapan biru (-) larutan berwarna biru kehijauan keruh

Kompleks Ni(NH3)62+ mempunyai struktur okta hedral.

Larutan garam CuSO4


Dalam larutan garam CuSO4 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakukuprat(II) sulfat yakni [Cu(H2O)6]SO4.
Pada tabung ketujuh dimasukkan 1 mL larutan garam CuSO 4 0,1 M
dan ditambahkan dengan NH4OH 2M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes.
Pada penambahan NH4OH 2 M ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna biru karena 2 ligan akuo (H 2O) telah digantikan oleh 2 ligan
hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Cu(H2O)6]2+(aq) + 2NH4OH(aq) --> Cu(H2O)4(OH)2(s) + 2NH4+(aq) +

8H2O(l)
Asam Basa

biru endapan biru

Penambahan berlebih NH4OH sebanyak 10 tetes menyebabkan


endapan berwarna biru dan terbentuk larutan berwarna biru keruh,
menunjukkan bahwa hidroksida tembaga terjadi proses penggantian ligan
oleh NH3.

Kompleks Cu(NH3)42+ mempunyai struktur tetrahedral.

Larutan garam ZnCl2


Dalam larutan garam ZnCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuozinkat(II) klorida yakni [Zn(H2O)6]Cl2.
Pada tabung kedelapan dimasukkan 1 mL larutan garam ZnCl 2 0,1 M
dan ditambahkan dengan NH4OH 2 M tetes demi tetes sebanyak 5 tetes.
Pada penambahan NH4OH 2 M ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna putih karena 2 ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh 2 ligan
hidroksi (OH-) sehingga terbentuk senyawa berdasarkan reaksi berikut:

[Zn(H2O)6]2+(aq) + 2NH4OH(aq) --> Zn(H2O)4(OH)2(s) + 2NH4+(aq) +

8H2O(l)

Asam Basa

Tak berwarna endapan putih


Penambahan berlebih NH4OH sebanyak 10 tetes menyebabkan
endapan berwarna putih dan larutan berwarna putih keruh, hal ini
menunjukkan bahwa hidroksida zink terjadi proses penggantian ligan
NH3.

[Zn(H2O)4(OH)2](aq) + 6NH4OH(aq) --> [Zn(NH3)6]2+(aq) + 10 H2O(l)

+ 2OH-(aq)

basa asam

endapan putih larutan putih keruh

Kompleks Zn(NH3)42+ mempunyai struktur tetrahedral.

c. Reaksi dengan larutan Ammonium tiosianat 0,1 M


Pada reaksi logam transisi dengan larutan ammonium tiosianat 0,1 M
(NH4CNS) terjadi peristiwa penggantian ligan akuo (H2O) karena logam
transisi dalam larutan dengan ligan sianato (NCS-).
Larutan garam CrCl3
Dalam larutan garam CrCl3 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuokrom(III) klorida yakni [Cr(H2O)6]Cl3.
Pada tabung pertama dimasukkan 1 mL larutan garam CrCl3 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 10 tetes.
Pada penambahan NH4CNS 0,1 M tidak ada endapan yang dihasilkan dan
larutan berwarna biru kehitaman (-). Jika dibandingkan dengan larutan
blanko tidak ada perbedaan yang signifikan, hal ini dikarenakan tidak ada
reaksi antara Cr3+ dengan NCS-.

Larutan garam MnSO4


Dalam larutan garam MnSO4 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuomangan(II) sulfat yakni Mn(H2O)6SO4.
Pada tabung kedua dimasukkan 1 mL larutan garam MnSO4 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 10 tetes.
Pada penambahan NH4CNS 0,1 M tidak ada endapan yang dihasilkan dan
larutan tidak berwarna. Jika dibandingkan dengan larutan blanko tidak ada
perbedaan yang signifikan, hal ini dikarenakan tidak ada reaksi antara
Mn2+ dengan NCS-.

Larutan garam Fe(NH3)2SO4


Dalam larutan garam Fe(NH3)2SO4 akan membentuk kompleks dengan
air sebagai diamminatetraakuoferro(II) sulfat yakni Fe(H2O)4(NH3)2SO4.
Pada tabung ketiga dimasukkan 1 mL larutan garam Fe(NH 3)2SO4 0,1
M dan ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 10
tetes. Pada penambahan NH4CNS ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna jingga (++) karena ada reaksi antara Fe(NH 3)2+ dengan
NH4CNS. Jika dibandingkan dengan blanko ada perbedaan yang
signifikan. Reaksi:
Fe(H2O)4(NH3)2SO4(aq) + 6NH4CNS(aq) --> [Fe(NCS)6]4-(s) +
Endapan jingga (++)
+ 2-
2NH4OH(aq) + 6NH4 (aq) + 2H2O(l) + SO4 (aq)
Bentuk kompleks [Fe(NCS)6]4- adalah oktahedral

Larutan garam FeCl3


Dalam larutan garam FeCl3 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuoferri(III) klorida yakni Fe(H2O)6Cl3.
Pada tabung keempat dimasukkan 1 mL larutan garam FeCl3 0,1 M
dan ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 10
tetes. Pada penambahan NH4CNS ini menyebabkan terbentuknya endapan
berwarna coklat karena ligan akuo (H2O) telah digantikan oleh ligan
tiosianato (CNS-) sehingga terbentuk senyawa. Jika dibandingkan dengan
larutan blanko ada perbedaan yang signifikan berdasarkan reaksi berikut:

[Fe(H2O)6]3+(aq) + 6NH4CNS(aq) --> [Fe(CNS)6]3-(s) + 6NH4+(aq)


+ 6H2O(l)

Asam Basa

Kuning jernih endapan coklat

Bentuk kompleks [Fe(NCS)6]3- adalah oktahedral

Larutan garam CoCl2


Dalam larutan garam CoCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuokobalt(II) klorida yakni [Co(H2O)6]Cl2.
Pada tabung kelima dimasukkan 1 mL larutan garam CoCl 2 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M demi tetes sebanyak 10 tetes. Pada
penambahan NH4CNS ini menyebabkan terbentuknya larutan berwarna
merah muda (-). Jika dibandingkan dengan blanko ada perbedaan yang
signifikan. Berdasarkan reaksi berikut:

[Co(H2O)6]2+(aq) + 4NH4CNS(aq) --> [Co(CNS)4]2-(aq) + 4NH4+(aq) +

6H2O(l)

Asam Basa

Merah muda jernih larutan merah muda (-)

Bentuk kompleks Co(NCS)42- adalah tetrahedral


Larutan garam NiCl2
Dalam larutan garam NiCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuonikel(II) klorida yakni [Ni(H2O)6]Cl2.
Pada tabung keenam dimasukkan 1 mL larutan garam NiCl 2 0,1 M dan
ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M demi tetes sebanyak 10 tetes. Pada
penambahan NH4CNS ini menyebabkan terbentuknya larutan berwarna
hijau (---). Jika dibandingkan dengan blanko terdapat perbedaan yang
signifikan. Berdasarkan reaksi berikut:

[Ni(H2O)6]2+(aq) + 4NH4CNS(aq) --> [Ni(CNS)4]2-(aq) + 4NH4+(aq) +

6H2O(l)

Asam Basa

Hijau muda jernih larutan hijau muda (---)

Bentuk kompleks Ni(NCS)42- adalah tetrahedral

Larutan garam CuSO4


Dalam larutan garam CuSO4 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakukuprat(II) sulfat yakni [Cu(H2O)6]SO4.
Pada tabung ketujuh dimasukkan 1 mL larutan garam CuSO 4 0,1 M
dan ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M demi tetes sebanyak 10 tetes.
Pada penambahan NH4CNS ini menyebabkan terbentuknya larutan
berwarna hijau cerah. Jika dibandingkan dengan blanko terdapat
perbedaan yang signifikan berdasarkan reaksi berikut:

[Cu(H2O)6]2+(aq) + 4NH4CNS(aq) --> [Cu(CNS)4]2-(aq) + 4NH4+(aq) +

6H2O(l)

Asam Basa

Biru jenrih larutan berwarna hijau cerah

Kompleks Cu(CNS)42- mempunyai struktur tetrahedral.

Larutan garam ZnCl2


Dalam larutan garam ZnCl2 akan membentuk kompleks dengan air
sebagai heksaakuozinkat(II) klorida yakni [Zn(H2O)6]Cl2.
Pada tabung kedelapan dimasukkan 1 mL larutan garam ZnCl 2 0,1 M
dan ditambahkan dengan NH4CNS 0,1 M tetes demi tetes sebanyak 10
tetes. Pada penambahan NH4CNS 0,1 M tidak ada endapan yang
dihasilkan dan larutan tidak berwarna. Jika dibandingkan dengan larutan
blanko tidak ada perbedaan yang signifikan, hal ini dikarenakan tidak ada
reaksi antara Zn2+ dengan NCS-.

Percobaan 2: Pembentukan Ion Kompleks


Pembentukan ion kompleks oleh ion logam transisi dan Pembentukan
ion kompleks menggunakan ligan bidentat

Pada percobaan ini perubahan warna pada tiap-tiap larutan garam transisi
setelah ditambah reagen terlihat lebih signifikan. Hal ini disebabkan karena ligan
penggantinya bukan hanya monodentat seperti halnya percobaan 1 yang
merupakan ligan asam basa. Pada percobaan 2 ini ligan pengganti yang
digunakan lebih kompleks yang disebut dengan ligan polidentat.

a. Pembentukan ion kompleks Cr (III)


Langkah pertama yang dilakukan yaitu memasukkan 2 mL larutan CrCl 3
ke dalam tabung reaksi. Larutan CrCl3 merupakan larutan yang berwarna biru
kehitaman. Warna biru kehitaman tersebut merupakan warna dari ion Cr 3+.
Kemudian direaksikan dengan menambahkan Na2C2O4 yang merupakan reagen
yang berupa larutan tidak berwarna. Setelah ditambah reagen Na2C2O4 terjadi
perubahan warna pada larutan menjadi larutan biru kehitaman (-).
Fungsi dari penambahan reagen Na2C2O4 yaitu sebagai penyedia ligan.
Dimana ion 3Cl- digantikan oleh 3 molekul ion C2O42-. Sehingga terbentuk
kompleks [Cr(C2O4)3]3-. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
CrCl3 (aq) + Na2C2O4 (aq) [Cr(C2O4)3]3- (aq) + 2Na+ (aq) + 3Cl- (aq)

Biru kehitaman Biru Kehitaman (-)


Kompleks yang terbentuk memiliki bilangan koordinasi sebanyak 6 dan memiliki
bentuk koordinasi oktahedral. Dengan struktur ion kompleks sebagai berikut:

b. Pembentukan ion kompleks Fe (II)


Pada pembentukan ion kompleks Fe (II) prosedur yang pertama kali dilakukan
adalah dengan dimasukkan 1 mL larutan Fe (II) yang berwarna kuning ke dalam
tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 2 tetes 1,10 phenanthroline. Setelah
penambahan 2 tetes 1,10 phenanthroline terjadi perubahan warna yang awalnya
berwarna kuning menjadi larutan berwarna jingga. Dan menghasilkan rumus ion
kompleks yang terbentuk yaitu [Fe(H2O)6]2+ (aq).

Pembentukan ion kompleks Fe (III)


Prosedur percobaan untuk Fe(III) yang pertama kali dilakukan adalah
dengan memasukkan 2 mL larutan FeCl3 ke dalam tabung reaksi. Larutan FeCl3
ini berwarna kuning jernih.
Kemudian ditambahkan 2 tetes larutan NH4CNS yang berfungsi
memberikan warna gelap pada larutan yang mengandung Fe(CNS) 2+. Setelah
penambahan NH4CNS 2 tetes menghasilkan larutan merah kecoklatan dengan
rumus ion kompleks terbentuk yaitu [Fe(CNS)]2+. Selanjutnya ditambahkan
larutan Na2C2O4 beberapa tetes, kemudian dikocok dan larutan menjadi berwarna
jingga dengan rumus ion kompleks terbentuk yaitu [Fe(C2O4)3]3-. Perubahan
warna terjadi akibat ligan CNS- yang diganti oleh ligan C2O4. Setelah itu
ditambahkan NH4CNS berlebih menghasilkan larutan berwarna merah kecoklatan
(+). Hal ini dapat dilihat melalui persamaan berikut:
FeCl3 (aq) + 3 NH4CNS (aq) [Fe(CNS)]2+ (aq) + 3NH4Cl (aq)
Kuning jernih Merah Kecoklatan (+)
[Fe(CNS)]2+ (aq) + Na2C2O4 (aq) [Fe(C2O4)3]3- (aq) + CNS- (aq) + 2Na+
Merah kecoklatan (+) Jingga

c. Pembentukan ion kompleks Co (II)


Larutan CoCl2 merupakan larutan yang berwarna merah muda jernih.
Reagen yang digunakan adalah Na2EDTA. Na2EDTA merupakan reagen yang
tidak berwarna.
Penambahan reagen Na2EDTA ke dalam CoCl2 tidak terjadi perubahan
warna yang signifikan jadi warna larutan tetap berwarna merah muda jernih. Pada
percobaan ini membentuk senyawa kompleks dengan rumus struktur
[Co(EDTA)]2-.
Pada percobaan kobal (II) senyawa kompleks yang terbentuk setelah
penambahan larutan merah muda jernih seperti di bawah ini:
CoCl2 + Na2EDTA 2 NaCl + [CoEDTA]2-
Merah muda jernih Merah muda jernih

d. Pembentukan ion kompleks Ni (II)


Larutan Ni (II) merupakan larutan yang berwarna hijau jernih (-). Reagen
yang digunakan adalah Na2EDTA. Na2EDTA merupakan reagen yang tidak
berwarna. Selain itu juga menggunakan reagen dimethylgioksxime(DMG).
dimethylgioksxime(DMG) juga merupakan reagen yang tidak berwarna.
Kemudian 1 mL larutan Ni (II) dimasukkan ke dalam masing-masing tabung
reaksi, selanjutnya ditambahkan dengan Na2EDTA dan
dimethylgioksxime(DMG). Setelah penambahan reagen
dimethylgioksxime(DMG) dihasilkan warna larutan berupa merah muda. Dan
setelah penambahan reagen Na2EDTA dihasilkan larutan berupa warna hijau.
Adanya penambahan Na2EDTA membuat terbentuknya senyawa kompleks
[Ni(EDTA)2]3+. Dan adanya penambahan dimethylgioksxime(DMG) membuat
terbentuknya senyawa kompleks [Ni(DMG)]2+.
Struktur ion kompleks yang terbentuk pada percobaan Ni (II) dengan
dapat digambarkan seperti di bawah ini:

e. Pembentukan ion kompleks Cu (II)


Pada percobaan kompleks Cu(II) dilakukan dengan mengamati warna dengan
cara menempatkan padatan CuSO4.5H2O yang merupakan padatan berwarna biru
(+), dan CuCl2.2H2O , berwarna hijau pada kaca arloji. Setelah diamati warna dari
kedua senyawa tersebut semakin jelas, yaitu warna CuSO 4.5H2O berwarna biru
(+) dan CuCl2.2H2O berwarna hijau.
Kemudian 1 ml tembaga sulfat yang berwarna biru dimasukkan ke dalam tabung
reaksi. Selanjutnya, ditambahkan Na2EDTA menghasilkan larutan berwarna biru
jernih. Pada penambahan reagen Na2EDTA terbentuk senyawa kompleks
[Cu(EDTA)2]2+. Struktur ion kompleks yang terbentuk:

Percobaan 3 :Perubahan Tingkat Oksidasi

a. Perubahan Tingkat Oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+


Percobaan ini bertujuan untuk mengamati perubahan warna karena
perubahan bilangan oksidasi dari senyawa logam transisi.
Ferro sulfat merupakan larutan yang berwarna kuning. Prosedur yang
dilakukan adalah memasukkan 1mL larutan ferro sulfat kedalam tabung reaksi
dan ditambahkan dengan 3 tetes HNO3 pekat menghasilkan larutan berwarna
hijau kekuningan. Selanjutnya dipanaskan dengan menggunakan penangas air
selama kurang lebih 2 menit menghasilkan larutan berwarna kuning jernih.
Reaksi yang terjadi adalah
2 + NO2

2++ SO 4

FeSO 4 + HNO3 panas Fe

Setelah dingin larutan berwarna


Reduksii 1e kuning (-), kemudian ditambahkan
dengan larutan NaOH 2 M sedikit demi sedikit menghasilkan larutan berwarna
jingga dan terdapat endapan berwarna jingga. Reaksi yang terjadi adalah:
+

2++NaOH Fe ( OH )3 +Na
Fe

Oksidasi 1e
Dapat dilihat bahwa dengan perubahan biloks dari Fe2+ yang berwarna biru
berubah menjadi Fe3+ yang berwarna jingga. Perubahan bilangan oksidasi besi
berada pada kondisi basa.

b. Perubahan Tingkat Oksidasi Cr6+ menjadi Cr3+


Percobaan ini bertujuan untuk mengamati perubahan warna karena
perubahan bilangan oksidasi dari senyawa logam transisi.
Diketahui bahwa padatan kalium dikromat merupakan Kristal berwarna
orange. Sedangkan larutannya berwarna kuning (+). Prosedur yang dilakukan
adalah dimasukkan 2 mL larutan kalium dikromat encer yang berwarna kuning
(+) ke dalam tabung reaksi. Kemudian dipanaskan larutan yang sudah berisi
larutan kalium dikromat menghasilkan larutan berwarna kuning (++). Kemudian
ditambah 2 butir Zn menghasilkan larutan berwarna jingga. Reaksinya sebagai
berikut:
3Zn(s) + Cr2O72- + 14H+3Zn2+ + 2Cr3+ + 2H2O
Kemudian ditambah 1,5 mL HCl pekat menghasilkan larutan berwarna
hijau kecoklatan. Selanjutnya dipanaskan warna larutan menjadi berwarna coklat
kekuningan, dan tabung reaksi terasa panas. Diletakkan tabung reaksi dalam rak
dan diamati perubahan warna yang terjadi. Setelah perubahan warna akhir terjadi,
1 ml larutan diambil dan kemudian ditambah setetes demi setetes larutan HNO3
pekat sambil dikocok dan larutan berubah menjadi berwarna hijau kecoklatan.
Reaksinya sebagai berikut :
K2Cr2O7 (aq) + 14 HCl 2Cr3+ + 3Cl2 + 2K+ + Cl- + 7H2O
Kalium Dikromat (K2Cr2O7) digunakan hanya dalam larutan asam, dan
direduksi dengan cepat pada temperatur biasa menjadi garam Kromium (III) yang
hijau. Dalam larutan asam, reduksi Kalium Dikromat dapat dinyatakan sebagai :
Cr2O72- + 14H+ + 6e 2Cr3+ + 7H2O

X. KESIMPULAN
1. Reaksi-reaksi ion logam transisi dapat dipelajari dengan cara mereaksikannya
dengan NaOH, NH3, dan NH4CNS dimana akan dihasilkan warna-warna
tertentu dan terbentuknya yang mengindikasikan adanya senyawa kompleks.
Seperti halnya [Cr(OH)6]3-, [Cu(NH3)4]2+, dan [Fe(CNS)6]3-. Ligan-ligan yang
berikatan sebelumnya dengan ion transisi seperti Cl- dan SO42- merupakan
ligan yang lemah sehingga dapat digantikan dengan ligan-ligan yang lebih
kuat seperti OH-, NH3, dan CNS-.
2. Pembentukan ion kompleks dapat dilakukan dengan menambahkan larutan
yang mengandung ligan-ligan dalam deret spektrokimia seperti ion oksalat,
H2O, CNS-, dan EDTA. Dalam praktikum ini beberapa ion logam transisi
yang digunakan seperti Cr(III), Fe(II), Fe(III), Co(II). Ni(II), dan Cu(II) yang
menghasilkan beberapa warna karena terbentuknya kompleks.
3. Perubahan warna akibat perubahan bilangan oksidasi dari senyawa logam
transisi dapat diperoleh dengan melakukan pemanasan, penambahan asam-
basa kuat. Seperti halnya perubahan Fe(II) menjadi Fe(III) dengan oksidator
kuat yakni HNO3. Untuk mendeteksi bahwa Fe(II) telah dioksidasi menjadi
Fe(III) dapat dilakukan dengan penambahan basa kuat seperti NaOH yang
akan mengendapkan sebagai Fe(OH)3. Pada ion transisi lainnya seperti Cr6+
yang direduksi menjadi Cr3+ dan Cr2+ dengan menambahkan padatan logam
transisi seperti Zn yang dilarutkan dalam asam klorida. Untuk mengoksidasi
kembali dilakukan dengan menambahkan oksidator kuat HNO 3 sehingga
menjadi Cr3+ yang berwarna hijau kecoklatan.

XI. JAWABAN PERTANYAAN

1. Tulislah seluruh reaksi yang ada pada percobaan I sampai III serta berikan perubahan
warnanya!
Jawaban :
Percobaan I: Reaksi dengan beberapa ion logam transisi
a. Reaksi dengan NaOH 0,1M
[Cr(H2O)6]3+(aq) + 3NaOH(aq) Cr(H2O)3(OH)3(s) + 3Na+(aq)

Biru kehitaman endapan hijau kebiruan

[Mn(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) Mn(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Tidak berwarna hablur kuning

[Fe(H2O)4(NH3)2]2+(aq) + 2NaOH(aq) Fe(H2O)2(NH3)2(OH)2(s) + 2Na+


(aq)

Kuning keruh endapan hijau

[Fe(H2O)6]3+(aq) + 3NaOH(aq) Fe(H2O)3(OH)3(s) + 3Na+(aq)

Kuning (++) endapan coklat kemerahan

[Co(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) Co(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Merah muda jernih hablur biru

[Ni(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) Ni(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Hijau muda jernih hablur putih

[Cu(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) Cu(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Biru jernih endapan biru

[Zn(H2O)6]2+(aq) + 2NaOH(aq) Zn(H2O)4(OH)2(s) + 2Na+(aq)

Tidak berwarna hablur putih

b. Reaksi dengan larutan Ammonium 2 M

[Cr(H2O)6]3+(aq) + 2NH4OH(aq) Cr(H2O)3(OH)3(s) + 3NH4+(aq)

Biru kehitaman endapan hijau kebiruan


[Mn(H2O)6]2+(aq) + 3NH4OH(aq) Mn(H2O)4(OH)2(s) + 3NH4+(aq)

Tidak berwarna endapan putih

[Fe(H2O)4(NH3)2]2+(aq) + 3NH4OH(aq) Fe(H2O)2(NH3)2(OH)2(s) +


3NH4+(aq)

Kuning keruh endapan hijau kehitaman

[Fe(H2O)6]3+(aq) + 3NH4OH(aq) Fe(H2O)3(OH)3(s) + 3NH4+(aq)

Kuning (++) endapan jingga

[Co(H2O)6]2+(aq) + 3NH4OH(aq) Co(H2O)4(OH)2(s) + 3NH4+(aq)

Merah muda jernih endapan biru

[Ni(H2O)6]2+(aq) + 3NH4OH(aq) Ni(H2O)4(OH)2(s) + 3NH4+(aq)

Hijau muda jernih endapan biru (-)

[Cu(H2O)6]2+(aq) + 3NH4OH(aq) Cu(H2O)4(OH)2(s) + 3NH4+(aq)

Biru jernih endapan biru

[Zn(H2O)6]2+(aq) + 3NH4OH(aq) Zn(H2O)4(OH)2(s) + 3NH4+(aq)

Tidak berwarna endapan putih

c. Reaksi dengan Ammonium tiosinat 0,1 M

[Cr(H2O)6]3+(aq) + 2NH4OH(aq)

Biru kehitaman

[Mn(H2O)6]2+(aq) + 3NH4OH(aq)

Tidak berwarna

Fe(H2O)4(NH3)2SO4(aq) + 6NH4CNS(aq) [Fe(NCS)6]4-(s) +


Larutan berwana jingga (++)
2NH4OH(aq) + 6NH4 (aq) + 2H2O(l) + SO42-(aq)
+

[Fe(H2O)6]3+(aq) + 6NH4CNS(aq) [Fe(CNS)6]3-(s) + 6NH4+(aq)

+ 6H2O(l)

Kuning jernih endapan coklat

[Co(H2O)6]2+(aq) + 4NH4CNS(aq) [Co(CNS)4]2-(aq) + 4NH4+(aq) +

6H2O(l

Merah muda jernih larutan merah muda (-)

[Ni(H2O)6]2+(aq) + 4NH4CNS(aq) [Ni(CNS)4]2-(aq) + 4NH4+(aq) +

6H2O(l)

Hijau muda jernih larutan hijau muda (---)

[Cu(H2O)6]2+(aq) + 4NH4CNS(aq) [Cu(CNS)4]2-(aq) + 4NH4+(aq) +

6H2O(l)

Biru jenrih larutan berwarna hijau cerah

[Zn(H2O)6]2+(aq) + 3NH4OH(aq)

Tidak berwarna

Percobaan II: Pembentukan ion kompleks


a. Kompleks Cr (III)
CrCl3 (aq) + Na2C2O4 (aq) [Cr(C2O4)3]3- (aq) + 2Na+ (aq) + 3Cl- (aq)

Biru kehitaman Biru Kehitaman (-)


b. Kompleks Fe (II) dan Fe (III)
FeCl3 (aq) + 3 NH4CNS (aq) [Fe(CNS)]2+ (aq) + 3NH4Cl (aq)
Kuning jernih Merah Kecoklatan (+)
c. Kompleks Co (II)
CoCl2 + Na2EDTA 2 NaCl + [CoEDTA]2-
Merah muda jernih Merah muda jernih

d. Kompleks Ni (II)

Percobaan III: Perubahan tingkat oksidasi


a. Perubahan Fe2+ menjadi Fe3+
2 + NO2

2++ SO 4

FeSO 4 + HNO 3 panas Fe

+
Fe ( OH )3 +Na
2++NaOH
Fe

b. Perubahan Cr6+ menjadi Cr3+


3Zn(s) + Cr2O72- + 14H+3Zn2+ + 2Cr3+ + 2H2O
K2Cr2O7 (aq) + 14 HCl 2Cr3+ + 3Cl2 + 2K+ + Cl- + 7H2O
Cr2O72- + 14H+ + 6e 2Cr3+ + 7H2O

2. Kompleks [Cr(H2O)4Cl2]+ memiliki isomer. Buatlah struktur molekulnya dan berilah


nama!
Jawaban :
Isomer NH3 Cl

Cl NH3 NH3 NH3

Cr Cr

Gambar 1. Isomer cis kompleks Gambar 2. Isomer trans kompleks


NH3 NH3 NH3 NH3
[Cr(NH3)4Cl2]+ [Cr(NH3)4Cl2]+
Cl Cl
Contoh dari isomer hidrasi misalnya :

[Cr(H2O)6]Cl3 (ungu, tiga mol ion Cl terendapkan)

[Cr(H2O)5Cl]Cl2.H2O (hijau, dua mol ion Cl terendapkan)

[Cr(H2O)4Cl2]Cl.2H2O (hijau tua, satu mol ion Cl terendapkan)

XII. DAFTAR PUSTAKA

Amaria, dkk. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik III: Unsur-unsur Golongan
Transisi. Surabaya: Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Surabaya.
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar Edisi Pertama. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
Petrucci, Ralph. H. 1985. Kimia Dasar: Prinsip dan Terapan Modern Jilid Ketiga. Jakarta:
Erlangga.
Svehla, G. 1990. Vogel I Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta:
Kalman Media Pusaka.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar 3. Jakarta: Institut Tekhnologi Bandung.