Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRATIKUM LAPANGAN

KUNJUNGAN LAPANGAN KE STASIUN KLIMATOLOGI

KELAS II SICINCIN

OLEH

NAMA : HARVI HAMDIKA

NO. BP : 1410222001

KELAS :I

PENJAB : Ir INDRA DWIPA, MS.

ASISTEN : WIRA MUTIA WAHYU

(1110212027)

CAESAR KHAIRULLAH SIREGAR

(1110211010)

JURUSAN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2015

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia hidup di bumi pasti tidak akan terpisah dengan lingkungan.


Dalam lingkungan itu sendiri terdapat unsur yang penting yaitu iklim atau cuaca.
Cuaca adalah keadaan atau kelakuan atmosfer pada suatu waktu tertentu yang
sifatnya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Sedangkan iklim adalah rata-rata
keadaan cuaca dalam jangka waktu lama, minimal 30 tahun yang sifatnya tetap.
Manusia hidup di dasar atmosfer yaitu pada pertemuan antara permukan bumi dan
atmosfer. Iklim akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dan
organisme lain yang hidup di muka bumi. Dalam kehidupan sehari-hari, iklim
akan menjadi bahan pertimbangan dalam rancangan bangunan hunian atau
kontruksi bangunan fisik lainnya, bahan dan desain pakaian, jenis dan porsi
pangan yang dikonsumsi, dan ragam aktivitas sosial budaya yang dilakukan
penduduk. Karena cuaca dan iklim merupakan salah satu unsur lingkungan hidup
yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Berbeda dengan
unsur-unsur lingkungan hidup lainnya.
Cuaca dan iklim adalah faktor lingkungan yang besar pengaruhnya
terhadap kehidupan. Oleh sebab itu, informasi berupa data atau keterangan
tentang cuaca dan iklim akan sangat diperlukan. Data yang benar dan lengkap,
melalui analisis meteorologi dan klimatologi akan membuka kejelasan tentang
gejala dan perilaku cuaca maupun keadaan iklim setempat serta dapat membuat
manusia melakukan usaha optimasi bidang kegiatannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, iklim akan mempengaruhi jenis tanaman yang
sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan, dan teknik budidaya yang
dilakukan petani. Dengan demikian pengetahuan iklim sangat penting artinya
dalam sektor pertanian. Hal ini tercermin dengan berkembangnya cabang
klimatologi dan meteorologi yang khusus dikaitkan dengan kegiatan pertanian
yang disebut klimatologi pertanian.

2
Iklim akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dan
organisme lain yang hidup di muka bumi. Jenis dan sifat Iklim juga akan
mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu
kawasan serta produksinya, penjadwalan budidaya pertanian, dan teknik budidaya
yang dilakukan petani. Pengetahuan tentang iklim sangat penting artinya dalam
sektor pertanian.
Klimatologi merupakan ilmu tentang atmosfer. Mirip dengan meteorologi,
tapi berbeda dalam kajiannya, meteorologi lebih mengkaji proses di atmosfer
sedangkan klimatologi pada hasil akhir dari proses proses atmosfer. Klimatologi
berasal dari bahasa Yunani Klima dan Logos yang masing masing berarti
kemiringan (slope) yg di arahkan ke Lintang tempat sedangkan Logos sendiri
berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan
penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda, dan
bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi
memerlukan interpretasi dari data2 yang banyak dehingga memerlukan statistik
dalam pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan klimatologi sebagai
meteorologi statistik (Tjasyono, 2004)
Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan
dan produksi tanaman. Jenis-jenis dan sifat-sifat iklim bisa menentukan jenis-jenis
tanaman yg tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian
klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan.
Seiring dengan dengan semakin berkembangnya isu pemanasan global dan
akibatnya pada perubahan iklim, membuatsektor pertanian begitu terpukul. Tidak
teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti
musim kemarau dan musim hujan membuat para petani begitu susah untuk
merencanakan masa tanam dan masa panen.
Untuk daerah tropis Indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting
dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian. Selain hujan, unsur iklim
lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah suhu, angin, kelembaban
dan sinar matahari.
Setiap tanaman pasti memerlukan air dalam siklus hidupnya, sedangkan
hujan merupakan sumber air utama bagi tanaman. Berubahnya pasokan air bagi

3
tanaman yg disebabkan oleh berubahnya kondisi hujan tentu saja akan
mempengaruhi siklus pertumbuhan tanaman, Inu merupakan contoh global
pengaruh ikliim terhadap tanaman.
Di indonesia sendiri akibat dari perubahan iklim, yaitu timbulnya
fenomena El Nino dan La Nina. Fenomena perubahan iklim ini menyebabkan
menurunnya produksi kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit bila tidak mendapatkan
hujan dalam 3 bulan berturut-turut akan menyebabkan terhambatnya proses
pembungaan sehingga produksi kelapa sawit untuk jangka 6 sampai 18 bulan
kemudian menurun. Selain itu produksi padi juga menurun akibat dari kekeringan
yangberkepanjangan atau terendam banjir. Akan tetapi pada saat fenomea La Nina
produksi padi malah meningkat untuk masa tanam musim ke dua.Selain hujan,
ternyata suhu juga bisa menentukkan jenis2 tanaman yg hidup di daerah2 tertentu.
Misalnya perbedaantanaman yang tumbuh di daerah tropis, gurun dan kutub.
Indonesia merupakan daerah tropis, perbedaan suhu antara musim hujan dan
musim kemarau tidaklah seekstrim perbedaan suhu musim panas dan musim
kemarau di daerah2 sub tropis dan kutub. Oleh karena itu untuk daerah tropis,
klasifikasi suhu lebih di arahkan pada perbedaan suhu menurut ketinggian
tempat.
Perbedaan suhu akibat dari ketinggian tempat (elevasi) berpengaruh pada
pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebagai contoh, tanaman strowbery akan
berproduksi baik pada ketinggian di atas 1000 meter, karena pada ketinggian 1000
meter pebedaan suhu antara siang dan malam sangat kontras dan keadaan seperti
inilah yg dibutuhkan oleh tanaman strowbery.
Jadi erat hubungan antara klimatologi dengan ilmu pertanian tercermin
dengan berkembangnya cabang klimatologi , khusus dikaitkan dengan kegiatan
pertanian, yang disebut sebagai agroklimatologi. Agroklimatologi atau
klimatologi pertanian adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara
unsur-unsur iklim dengan proses kehidupan tanaman. Yang dipelajari dalam
agroklimatologi adalah bagaimana unsur-unsur iklim itu berperan di dalam
kehidupan tanaman. Unsur-unsur iklim yang langsung mempengaruhi
pertumbuhan tanaman meliputi, curah hujan, kelembaban udara, suhu udara,
angin, cahaya dan panjang hari.

4
Untuk menambah pengetahuan dan menjalani konsep yang selama ini di
dapat dari perkuliahan di dalam ruangaan kampus maka perlu dilakukan
praktek untuk memperdalam teori tersebut. Karena materi yang telah diperoleh
dalam ruang kuliah tidak hanya cukup pada pengetahun konsep saja, maka butuh
dibenarkan dalam bentuk pengkajian yakni dalam aplikasi dilapangan.
Maka pratikum mata kuliah Agroklimatologi perlu ditinjau langsung
kelapangan dan dipilih Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Kelas II Sicincin sebagai tempat study lapangan . Kemudian semua hasil study di
lapangan tersebut di susun dalam bentuk laporan.
Stasiun Klimatologi Kelas II Sicincin sebagai suatu stasiun cuaca yang
memberikan informasi keadaan atmosfer Bumi, khususnya Sumatera Barat dakam
setiap harinya. Sehingga penduduk Sumatera Barat dapat melakukan perencanaan
kegiatan yang harus dilakukan apabila terjadi perubahan keadaan atmosfer yang
signifikan sewaktu-waktu.
Di Sumatera Barat sendiri ada beberapa stasiun meteorologi dan
klimatologi dibawah naungan BMKG. Diantaranya, (I) Stasiun Pemantau
Atmosfer Global (GAW), Koto Tabang, Kab. Agam (II) Stasiun Meteorologi
Kelas II, Tabing, Padang (III) Stasiun Meteorologi Kelas IV Maritim, Teluk
Bayur, Padang (IV) Stasiun Klimatologi Kelas II Sicincin, Padang-Pariaman.
Semua stasiun meteorologi dan klimatologi ini sangat bermanfaat dalam
pemberian informasi cuaca setiap harinya.Memudahkan masyarakat dalam
mempersiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi keadaan atmosfer tersebut.

1.2 Tujuan

Pratikum ini bertujuan untuk mengamati alat-alat yang digunakan dalam


menentukan iklim dan cuaca, serta memahami fungsi alat, cara kerja dan bagian-
bagiannya

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Secara luas meteorologi didefinisikan sebagai ilmu yang


mempelajari atmosfer yang m e n ya n g k u t keadaan fisis dan
d i n a m i s n ya serta i n t e r a k s i n ya dengan permukaan bumi
d i bawahnya (Wisnubroto, 1999). Dalam pelaksanaan pengamatannya
menggunakan hukum dan teknik matematik. Pengamatan cuaca atau
pengukuran unsur cuaca dilakukan pada lokasi yang d i n a m a k a n
stasiun cuaca atau ya n g lebih dikenal dengan stasiun
meteorologi.
Maksud d a r i stasiun meteorologi ini ialah menghasilkan
serempak data meteorologis dan data biologis dan atau data-data yang
lain yang dapat menyumbangkan hubungan antara cuaca dan
pertumbuhan atau hidup tanaman dan hewan. Lokasi stasiun ini harus
dapat mewakili keadaan pertanian dan keadaan alami daerah tempat stasiun
itu berada. Informasi meteorogis yang secara rutin diamatiantara lain ialah
keadaan lapisan atmosfer yang paling bawah, suhu dan kelengasan
tanah pada berbagai kedalaman, curah hujan, dan curahan lainnya,
durasi penyinaran dan reaksi matahari(Prawirowardoyo, 1996).
Dalam bidang pertanian, menurut Wisnubroto (1999) ilmu prakiraan
penentuan kondisi iklim atmosfer ini adalah untuk menentukan wilayah
pengembangan tanaman.Iklim mempengaruhi dunia pertanian. Presipitasi,
evaporasi, suhu, angin, dankelembaban nisbi udara adalah unsur iklim
yang penting. Dalam dunia pertanian, air,udara, dan temperatur
menjadi faktor yang penting. Kemampuan menyimpan air oleh tanah itu
terbatas. Sebagian air meninggalkan tanah dengan cara transpirasi, evaporasi,dan
drainase.
Prakiraan cuaca baik harian maupun prakiraan musim,
mempunyai arti pentingd a n b a n ya k d i m a n f a a t k a n d a l a m b i d a n g
p e r t a n i a n . P r a k i r a a n c u a c a 2 4 j a m y a n g dilakukan oleh BMKG,

6
mempunyai arti dalam kegiatan harian misalnya untuk pelaksanaan pemupukan
dan pemberantasan hama. Misalnya pemupukan dan penyemprotan hama perlu
dilakukan pada pagi hari atau ditunda jika menurut prakiraan sore hari akan
hujan lebat. Prakiraan permulaan musim hujan mempunyai arti
pentingdalam menentukan saat tanam di suatu wilayah. Jadi, bidang pertanian
inim e m a n f a a t k a n i n f o r m a s i t e n t a n g c u a c a d a n i k l i m m u l a i d a r i
p e r e n c a n a a n s a m p a i dengan pelaksanaannya (Setiawan, 2003).
Pada proses pengamatan keadaan amosfer kita ini, digunakan
beberapa alat.Sebelum ditemukan satelit meteorologi, satu-satunya cara untuk
mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai keadaan atmosfer adalah
dengan memasukkan keadaan yangdiamati pada stasiun cuaca di
seluruh dunia ke dalam peta cuaca (Neiburger, 1982).
Pada pengamatan keadaan atmosfer kita di s tasiun cuaca
a t a u s t a s i u n m e t e o r o l o g i digunakan beberapa alat yang mempunyai sifat-
sifat yang hampir sama dengan alat-alat l m i a h l a i n n ya y a n g d i g u n a k a n
u n t u k p e n e l i t i a n d i d a l a m l a b o r a t o r i u m , m i s a l n ya bersifat peka
dan teliti. Perbedaannya terletak pada pen empatannya
dan para pemakainya. Alat-alat laboratorium umumnya dipakai pada ruang
tertutup,terlindung dari hujan dan debu-debu, angin dan lain sebagainya
serta digunakan oleh o b s e r v e r . Dengan demikian sifat alat -
a l a t m e t e o r o l o g i d i s e s u a i k a n d e n g a n t e m p a t pemasangannya dan
para petugas yang menggunakan (Anonim, 2008).
Adapun alat-alat meteorologi ya n g ada di Stasiun
M e t e o r o l o g i P e r t a n i a n diantaranya alat pengukur curah hujan (Ombrometer
tipe Observatorium dan Ombrograf), Alat pengukur kelembaban relatif udara
(Psikometer Assman, Psikometer Sangkar, Higrograf, Higrometer, Sling
Psikometer), alat pengukur suhu udara(Termometer Biasa, Termometer
Maksimum, Termometer Minimum, dan Termometer Maximum-Minimum Six
Bellani), alat pengukur suhu air (Termometer Maksimum -Minimum
Permukaan Air), alat pengukur panjang penyinaran matahari
(Solarimeter tipe Jordan, Solarimeter tipe Combell Stokes), alat
pengukur suhu tanah (Termometer Permukaan Tanah, Termometer

7
Selubung Kayu, Termometer Bengkok, Termometer Maksimum-
Minimum tanah, Termometer Simons, Stick Termometer), alat
pengukur intensitas penyinaran matahari (Aktinograf), alat pengukur evaporasi
(Panci EvaporasiKelas A, Piche Evaporimeter) dan alat pengukur
kecepatan angin (Cup Anemometer,Hand Anemometer, Biram Anemometer)
(Prawirowardoyo, 1996).
Stasiun meteorologi mengadakan contoh penginderaan
s e t i a p 3 0 d e t i k d a n mengirimkan kutipan statistik (sebagai contoh,
rata-rata dan maksimum). Untuk yangkeras menyimpan modul -modul
setiap 15 menit. Hal ini dapat menghasilkan kira -kira20 nilai dari hasil
rekaman untuk penyimpanan akhir disetiap interval keluaran. Ukuranutama dibuat
di stasiun meteorologi danau vida, pemakaian alat untuk temperatur
udara,kelembaban relatif, temperatur tanah (Fontain, 2002).
Hasil yang didapat setelah dilakukannya suatu pengamatan di stasiun
cuaca atau stasiun meteorologi yakni data-data mengenai iklim. Di indonesia,
berdasarkan ketersediaan data iklim yang ada di sistem database
Balitklimat, hanya ada 166 dari2.679 stasiun yang menangani data iklim.
Umumnya hanya data curah hujan dan suhu udara, sehingga walaupun
metode Penman merupakan yang terbaik, metode Blaney Criddle akan
lebih banyak dipilih karena hanya memerlukan data suhu udara
yangrelatif mudah didapatkan (Runtunuwuet.al. , 2008).
Klimatologi berasal dari bahasa Yunani Klima dan Logos yang masing-
masing berarti kemiringan (slope) yg di arahkan ke Lintang tempat sedangkan
Logos sendiri berarti Ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari
gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi
berbeda , dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia.
Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data2 yang banyak dehingga
memerlukan statistik dalam pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan
klimatologi sebagai meteorologi statistik (Tjasyono, 2004)
Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan
dan produksi tanaman. Jenis2 dan sifat2 iklim bisa menentukkan jenis2 tanaman
yg tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian

8
klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Seiring dengan dengan
semakin berkembangnya isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan
iklim, membuat sektor pertanian begitu terpukul. Tidak teraturnya perilaku iklim
dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti musim kemarau dan musim
hujan membuat para petani begitu susah untuk merencanakan masa tanam dan
masa panen. Untuk daerah tropis seperti indonesia, hujan merupakan faktor
pembatas penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian.
Berikut ini adalah unsur-unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan
tanaman:
1. Radiasi Surya
Permukaan matahari bersuhu 6000K meskipun bagian dalamnya bersuhu
jutaan derajat Kelvin. Dengan suhu permukaan tersebut, radiasi yang dipancarkan
berupa gelombang elektromagnetik sebesar 43,5 juta Watt tiap m2 permukaan
matahari. Dengan jarak rata-rata matahari-bumi sejauh 150 juta km (Triwartha
dan Horn, 1980).
Radiasi surya terdiri dari spectra ultraviolet (panjang gelombang kurang
dari 0.38 mikron) yang berpengaruh merusak karena daya bakarnya sangat tinggi,
spectra photosynthetically Active Radiation (PAR) yang berperan membangkitan
proses fotosintesis dan spectra inframerah (lebih dari 0.74 mikron) yang
merupakan pengatur suhu udara . spectra radiasi PAR dapat dirinci lebih lanjut
menjadi pita-pita spectrum yang masing-masing memiliki karakteristik tertentu.
Ternyata spectrum biru memberikan sumbangan yang paling potensial dalam
fotosintesis (Koesmaryono, 1999).
Untuk memanfaatkan potensi energi surya, ada 2 (dua) macam teknologi
yang sudah diterapkan, yaitu energi surya termal dan energi surya fotovoltaik.
Energi surya termal pada umumnya digunakan untuk memasak (kompor surya),
mengeringkan hasil pertanian (perkebunan, perikanan, kehutanan, tanaman
pangan) dan memanaskan air. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk
memenuhi kebutuhan listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari
pendingin di Puskesmas dengan kapasitas total + 6 MW (Anonim, 2008).
Umumnya di nusantara sinar matahari terdapat dalam jumlah yang cukup.
Penyinaran yang terlalu kuat dapat merangsang kembang dan buahnya terlalu

9
lebat dan karenanya hanya dapat memberi hasil yang baik untuk beberapa tahun
saja. Terlalu banyak matahari juga dapat mengakibatkan terlalu cepat merosotnya
keadaan tanah. Penghancuran humus di daerah-daerah tropis yang lebih rendah
juga sudah berjalan dengan sangat cepat (Vink, 1984).
2. Tekanan Udara
Tekanan udara adalah tekanan yang diberikan oleh udara karena beratnya
tiap-tiap 1 cm2 bidang mendatar di permukaan bumi sampai batas atmosfer. Jika
kita naik maka tekanan makin rendah karena kerapatan udara makin kecil kolom
udaranya makin pendek (Wisnubroto, 1999).
Berat udara di atas permukaan tanah menghasilkan daya tekan ke bumi.
Inilah yang disebut tekanan udara. Udara yang mengembang menghasilkan
tekanan udara yang lebih rendah. Sebaliknya, udara yang berat menghasilkan
tekanan yang lebih tinggi. Untuk keperluan ilmu pengetahuan, khususnya
mengenai Meteorologi dan Geofisika diperlukan suatu alat yang dapat mengukur
kecepatan angin dan mengukur tekanan udara. Alat tersebut sudah ada. Alat untuk
mengukur kecepatan angin disebut Anemometer dan alat untuk mengukur
tekanan udara disebut Barometer (Anonim, 2007).
Tekanan atmosfer tidaklah seragam di semua tempat. Tidak semata terjadi
permukaan yang cepat dengan naiknya ketinggian, tetapi pada suatu ketinggian
tertentupun ada varian dari suatu tempat ke tempat yang lain serta dari waktu ke
waktu yang lainnya, meskipun tidak sebesar variasi yang disebabkan oleh
ketinggian yang berbeda (Anonim,2008).
Tekanan udara disembarang titik pada atmosfer, semata-mata karena berat
gas atmosfer di atas titik tersebut. Dikenal juga sebagai tekanan barometer. Satu
atmosfer adlah besar tekanan yang dapat menahan kolom air raksa setinggi 76 cm
di dalam suatu barometer pada 0 derajat C. Tekanan tersebut setara dengan 14,7
pound per inci persegi (psi) (Anonim, 2008).
Tekanan udara antara lokasi yang satu dengan lokasi yang lain dan pada
lokasi tertentu dapat berubah secara dinamis dari waktu ke waktu. Perbedaan atau
perubahan tekanan uadara ini terutama disebabkan oleh pergeseran garis edar
matahari, keberadaan bentang laut dan ketinggian tempat (Kartasapoetra, 1987).

10
3. Suhu (Suhu Udara dan Tanah)
Pembangunan membawa kesan ke atas sistem iklim mikro. Pembangunan
mengubah iklim mikro suatu kawasan; kesan utama adalah terhadap imbangan
sinaran tenaga dan gangguan terhadap kitaran hidrologi. Penebangan pokok
mengakibatkan kuantiti sinaran tenaga yang diserap oleh tanah lapang meningkat.
Ini menyebabkan peningkatan suhu permukaan tanah dan suhu udara. Pembalikan
sinar tenaga bertambah hingga menyebabkan suhu udara meningkat (Anonim,
2008).
Suhu dan kelembaban udara ini sangat erat hubungannya, karena jika
kelembaban udara berubah, maka suhu juga akan berubah. Di musim penghujan
suhu udara rendah, kelembaban tinggi, memungkinkan tumbuhnya jamur pada
kertas, atau kertas menjadi bergelombang karena naik turunnya suhu udara
(Anonim, 2008).
Intensitas cahaya tinggi di siang hari berakibat meningkatkan hasil
fotosintesis bruto. Bila siang hari cahaya surya terik kemudian diikuti oleh suhu
udara rendah di malam hari, hal tersebut menguntungkan bagi tanaman karena
akan meningkatkan produk fotosintesis netto. Pengurangan produk fotosintesis
oleh respirasi sangat ditentukan oleh suhu udara. Suhu udara yang terus menerus
tinggi akan mengurangi produk fotosintesis netto (Koesmaryono, 1999).
Suhu tanah beraneka ragam dengan cara yang khas pada perhitungan
harian dan musiman. Fluktuasi terbesar terdapat di permukaan tanah dan akan
berkurang dengan bertambahnya kedalaman tanah. Suhu tanah sebagai sifat tanah
yang penting, digunakan untuk mengklasifikasikan tanah. Penggunaan tanah
untuk pertanian dan kehutanan berhubungan penting dengan suhu tanah karena
kebutuhan tumbuhan terhadap suhu yang khas (Foth, 1994).
Temperatur tanah beragam dalam suatu pola yang khas yang didasari
harian atau dasar musim. Kedua fluktuasi terbesar pada permukaan tanah dan
menurun dengan bertambahnya kedalaman tanah. Di bawah kedalaman sekitar 3
m temperatur sedikit tetap (Foth, 1991)

11
4. Kelembaban Tanah dan Udara
Udara dengan mudah menyerap kelengasan dalam bentuk uap air.
Banyaknya bergantung pada suhu udara dan suhu air. Makin tinggi suhu udara,
makin banyak uap air yang dapat dikandungnya (Wilson, 1993).
Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentrasi ini
dapat diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau
kelembapan relatif. Alat untuk megukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah
humidistat digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah
bangunan dengan sebuah pengawalembap (dehumidifier). Dapat dianalogikan
dengan sebuah thermometer dan thermostat untuk suhu udara. Konsentrasi air di
udara pada tingkat permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30 oC (86 oF), dan
tidak melebihi 0,5% pada 0 oC (32 oF) (Anonim, 2007).
Kelembaban nisbi suatu tempat tergantung pada suhu yang menentukan
kapasitas udara untuk menampung uap air serta kandungan uap air aktual di
tempat tersebut. Kandungan uap air aktual ini ditentukan oleh ketersediaan air
ditempat tersebut serta energi untuk menguapkannya (Handoko, 1993).
Kelembaban udara dinyatakan oleh tekanan uap air oleh koefisien
hygrometrik/kelembaban relatif atau temperatur titik embun sebab sesungguhnya
tekanan uap tidaklah cukup mencirikan kelembaban sebenarnya (Martha, 1993).
5. Curah Hujan
Hujan merupakan susunan kimia yang cukup kompleks dan bervariasi dari
tempat yang satu ke tempat yang lain, dari musim ke musim pada tempat yang
sama dan dari waktu hujan berbeda. Air hujan terdiri atas: ion-ion natrium,
kalium, kalsium, khlor, karbonat dan sulfat yang merupakan jumlah yang besar
bersama-sama (Wisnubroto, 1999)
Hujan merupakan suatu bentuk presipitasi, atau turunan cairan dari
angkasa, seperti salju, hujan es, embun, dan kabut. Hujan terbentuk apabila titik
air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke
permukaan bumi, sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering, sejenis
presipitasi yang dikenali sebagai virga (Anonim, 2008).
Curah hujan adalah jumlah air hujan yang jatuh dipermukaan tanah selama
periode tertentu yang diukur dalam satuan tinggi diatas permukaan horizontal

12
apabila tidak terjadi penghilangan oleh proses evaporasi, pengaliran dan
peresapan. Dinyatakan sebagai tebal lapisan air yang jatuh diatas permukaan tanah
rata seandaiya tidak ada infiltrasi dan evaporasi. Satuannya adalah mm. curah
hujan 1mm berarti banyaknya hujan yang jatuh diatas sebidang tanah seluas 1m2
= 1mm x 1m2 = 0,01dm x 100dm2 = 1dm3 = 1liter. Hari hujan adalah suatu hari
dimana terkumpul curah hujan 0,5mm atau lebih (Buckman, 1982).
Hujan jatuh ke bumi baik langsung maupun melalui media misalnya
,melalui tanaman (vegetasi). Di bumi air mengalir dan bergerak dengan berbagai
cara. Pada retensi (tempat penyimpanan) air akan menetap untuk beberapa waktu.
Retensi dapat berupa retensi alam seperti daerah-daerah cekungan,danau tempat-
tempat yang rendah,dll. Maupun retensi buatan seperti tampungan, sumur,
embung, waduk,dll (Anonim,2011).
Secara gravitasi (alami) air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah
yang rendah, sampai ke daerah pantai dan akhirnya akan bermuara ke laut. Aliran
ini disebut aliran permukaan tanah karena bergerak di atas permukaan tanah.
Aliran ini biasanya akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju
ke system jaringan sungai, system danau atau waduk. Dalam sistem sungai aliran
mengalir mulai dari sistem sungai kecil ke system sungai besar dan akhirnya
menuju mulut sungai atau sering disebut estuary yaitu tempat bertemunya sungai
dengan laut. (Anonim,2011)
Penguapan berasal dari laut dan uap air diserap dalam arus udara yang
bergerak melintasi permukaan laut. Udara bermuatan embun terus menyerap uap
air tersebut hingga menjadi dingin mencapai temperatur di bawah temperatur titik
embun, sehingga terjadilah presipitasi (hujan). Jika temperaturnya rendah,
terbentuklah hujan es atau salju. Menurunnya temperatur massa udara disebabkan
oleh konveksi, yaitu udara yang mengandung embun panas yang temperaturnya
bertambah kemudian berkurang lagi sehingga membentuk awan dan selanjutnya
dengan cepat menimbulkan hujan. Hal ini disebut presipitasi konvektif. Presipitasi
orografis berasal dari arus udara di atas lautan yang bergerak melintasi daratan
dan membelok ke atas karena adanya pegunungan sepanjang pantai, dan akhirnya
berubah menjadi dingin di bawah temperatur jenuh dan menjadi embun (Wilson,
1993)

13
Sifat Hujan
Sifat hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi
selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu
tempat. Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
a. Atas normal (A) : Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata lebih besar
dari 115%.
b. Normal (N) :Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata antara 85%-115%.
c. Bawah normal (BN) :Jika nilai perbandingan terhadap rata-rata kurang
dari 85%.(Anonim,2011)
Normal Curah Hujan
a. Rata-rata Curah Hujan Bulanan : adalah nilai rata-rata curah hujan masing-
masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
b. Normal Curah Hujan Bulanan : adalah nilai rata-rata curah hujan masing-
masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah
hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun
1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990 dan seterusnya.
Curah hujan di hitung harian, mingguan, hingga tahunan, sesuai dengan
kebutuhan. Pembangunan saluran drainase, selokan, irigasi, serta pengendalian
banjir selalu menggunakan data curah hujan ini, untuk mengetahui berapa jumlah
hujan yang pernah terjadi di suatu tempat, sebagai perkiraan pembuatan besarnya
saluran atau sarana pendukung lainnya saat hujan sebesar itu akan datang lagi
dimasa mendatang(Bocah,2008).
Alat pengukur curah hujan merupakan alat untuk mengukur curah hujan
yang terjadi pada suatu daerah baik pedesaan, kecamatan, atau provinsi mengacu
pada WMO (World Meterological Organization). Dengan adanya alat pengukur
curah hujan dapat diketahui banyaknya curah hujan yang terjadi setiap waktu.
Data curah hujan dihasilkan otomatis dari alat pengukur curah hujan disimpan
secara real-time dengan menggunakan aplikasi berbasis open-source seperti java
dan system operasi IGOS (Edi Tanoe,2011)

14
6. Angin
Angin adalah udara yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.
Angin berhembus dikarenakan beberapa bagian bumi mendapat lebih banyak
panas matahari dibandingkan tempat yang lain. Permukaan tanah yang panas
membuat suhu udara di atasnya naik. Akibatnya udara mengembang dan menjadi
lebih ringan (Anonim, 2007).
Angin mengakibatkan meningkatnya penguapan, yang dengan kelembaban
yang cukup mungkin dapat menguntungkan. Namun di daerah-daerah kering,
banyak angin berpengaruh sangat buruk, karena mengakibatkan pengeringan yang
kuat. Angin mempunyai pengaruh mekanis, yang kadang-kadang besar artinya
(Vink, 1984).
Angin adalah gerak udara yang sejajar dengan permukaan bumi. Udara
bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Angin diberi
nama sesuai dengan arah mana angin datang, misalnya angin laut adalah angin
yang bertiup dari laut ke darat (Tyasyono, 2004).
Mata angin merupakan panduan yang digunakan untuk menentukan arah.
Umum digunakan dalam navigasi, kompas, dan peta. Berpandukan pada pusat
mata angin, maka kita akan melihat 8 arah yaitu dengan urutan sebagai berikut
(mengikuti arah jarum jam): 1.Utara (0o), 2. Timur Laut (45o), 3. Timur (90o), 4.
Tenggara (135o), 5. Selatan (180o), 6. Barat Daya (225o), 7. Barat (270o), 8.
Barat Laut (315o) (Anonim, 2008).
Kecepatan dan arah angin masing-masing diukur dengan anemometer dan
penunjuk arah angin. Anemometer yang lazim adalah anemometer cawan yang
terbentuk dari lingkaran kecil sebanyak tiga (kadang-kadang empat) cawan yang
berputar mengitari sumbu tegak. Kecepatan putaran mengukur kecepatan angin
dan jumlah seluruh perputaran mengitari sumbu itu memberi ukuran berapa
jangkau angin, jarak tempuh kantung tertentu udara dalam waktu yang ditetapkan
(Foth, 1991).
7. Evapotranspirasi
Evaporasi adalah perubahan air menjadi uap air. Yang merupakan suatu
proses yang berlangsung hampir tanpa gangguan selama berjam-jam pada siang
hari dan sering juga selama malam hari. Air akan menguap dari permukaan baik

15
tanah gundul maupun tanah yang ditumbuhi tanaman, dan juga dari pepohonan
permukaan kedap air atap dan jalan raya air, air terbuka dan sungai yang mengalir
(Wilson, 1993).
Pengukuran langsung evapotranspirasi dengan penginderaan jauh masih
belum masih belum dimungkinkan. Pendekatan penginderaan jauh terhadap
penentuan evapotranspirasi terletak pada pengukuran jumlah dan lamanya gerakan
air dari tanah ke atmosfer. Untuk peliputan kawasan yang luas alat yang paling
tepat bagi penelitian evaporasi adalah radiometer inframerah dan pancatat citra
dari udara (Ersin Seyhan, 1990).
Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air
memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan
kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di
atmosfir. Sekitar 95.000 mil kubik air menguap ke angkasa setiap tahunnya.
Hampir 80.000 mil kubik menguapnya dari lautan. Hanya 15.000 mil kubik
berasal dari daratan, danau, sungai, dan lahan yang basah, dan yang paling penting
juga berasal dari transpirasi oleh daun tanaman yang hidup. Proses semuanya itu
disebut Evapotranspirasi (Anonim, 2007).
8. Awan
Awan dapat terdiri dari butir-butir air, kristal-kristal es atau kombinasi
keduanya. Bila awan demikian tipisnya hingga sinar matahari atau bulan
menembusnya, awan tersebut sering melahirkan pengaruh-pengaruh optik yang
memungkinkan dapat dibedakan antara awan kristal es dan awan butir air
(Masson, 1962).
Awan mencegah radiasi penuh matahari mencapai permukaan bumi, akan
mengurangi masukan energi dan dengan demikian memperlambat proses
evaporasi. (Wilson, 1993).
Awan adalah gumpalan uap air yang terapung di atmosfir. Ia kelihatan
seperti asap berwarna putih atau kelabu di langit. Udara selalu mengandung uap
air. Apabila uap air ini meluap menjadi titik-titik air, maka terbentuklah awan.
Penguapan ini bisa bisa terjadi dengan dua cara :
Apabila udara panas, lebih banyak uap terkandung di dalam udara karena
air lebih cepat menyejat. Udara panas yang sarat dengan air ini akan naik tinggi,

16
hingga tiba di satu lapisan dengan suhu yang lebih rendah, uap itu akan mencair
dan terbentuklah awan, molekul-molekul titik air yang tak terhingga banyaknya.
Suhu udara tidak berubah, tetapi keadaan atmosfir lembap. Udara makin lama
akan menjadi semakin tepu dengan uap air (Anonim, 2008).
Pada umumnya awan terdiri dari butir-butir air cair yang berukuran
sedemikian kecil sehingga tidak jatuh. Namun apabila awan tersebut mencapai
suatu ketinggian dimana temperatur udaranya jauh dibawah 0 C maka butir-butir
air tersebut menjadi butir-butir es (kristal). Awan adalah penolong berharga dalam
ramalan cuaca karena memperlihatkan, perubahan apa yang sedang terjadi dalam
atmosfer. Awan itu sendiri tidak memberitahu kita terlalu banyak. Ahli cuaca
harus mengetahui bagaimana ia telah berkembang dengan berubah atau
pecah pada umumnya, kemungkinan ada hujan lebih besar kalau awan tinggi
yang terpisah menjadi tambah tebal, bertambah jumlahnya dan dasar awan lebih
rendah (Wisnubroto, 1981).
Awan terbagi dalam 4 golongan yaitu awan tinggi, awan menangah, awan
rendah, dan awan yang membumbung keatas. Tiap golongan awan ini terbagi lagi
dalam beberapa jenis menurut ketinggian dan bentuk awan tersebut
misalnya cirrus, alto cumulus, nimbo stratus, cumulus nimbus, dan lain
sebagainya. Awan merupakan salah satu jenis hydrometer, jenis hydrometer yang
lain adalah kabut, hujan lembut, hujan merata, hujan setempat, dan salju. Jenis-
jenis hujan tergantung dari jenis-jenis awan yang merupakan sumbernya
(Handoko, 1995)
Menurut Wisnubroto (1981), cuaca penuh sinar matahari mungkin
menjadi biasa jika kabut jadi bersih sebelum tengah hari dan kalau dasar awan
menjadi lebih tinggi. Di sini kita memperlihatkan sepuluh jenis awan yang penting
dikelompokkan secara internasional, menjadi tiga golongan menurut ukuran
tinggi, yaitu : rendah, menengah (sedang), dan tinggi.
1. Awan Tinggi terdapat pada ketinggian 6.000 meter ke atas.
a) Cirrus (Ci) adalah sejenis awan tinggi yang terbentuk seperti mata pancing
atau seperti bulu ayam dengan struktur berserat (fibrous).
Awan cirrus tersebut nampak putih bersih.

17
b) Cirro cumulus (Cc) adalah sejenis awan tinggi yang terbentuk seperti sisik
ikan. Awan cirro cumulus nampak putih bersih, gumpalan-gumpalan
awannya adalah kecil-kecil, dan bundar tanpa bayang-bayang. umumnya
awan ini tersusun dalam kelompok, garis/riak yang dihasilkan dari getaran
lembaran awan. Ini disebabkan karena awan cirro cumulus itu terletak
jauh dari mata penilik.
c) Cirro stratus (Cs) adalah sejenis awan tinggi yang tidak mempunyai
gambar, melainkan merupakan suatu layar awan yang rata. Awan tipis
menyerupai lembaran yang putih menutupi seluruh langit dan
menampilkan gambaran seperti susu. Awan ini seringkali menghasilkan
halo disekitar matahari/bulan. Pada siang hari kalau langit diliputi awan
cirro stratus, maka langit nampak putih silau.
2. Awan Menengah terdapat pada ketinggian antara 2.000meter dan 6.000 meter.
a) Alto cumulus (Ac) adalah jenis awan menengah yang terbentuk serupa
dengan awan cirro cumulus, seperti bulu domba atau seperti sisik ikan.
Akan tetapi gumpalan-gumpalan awannya nampak lebih besar, massa
awan yang pipih dan globular tersusun dalam bentuk garis / gelombang.
karena awan alto cumulus terletak lebih dekat pada mata penilik.
b) Alto stratus (As) adalah jenis awan menengah, dan pada prinsipnya, awan
yang berupa lembaran yang seragam bentuknya dengan warna putih kotor
/ abu-abu. Kadang-kadang corona terbentuk, alto stratusumumnya diikuti
oleh presipitasi yang meluas dan lama.
3. Awan Rendah terdapat pada ketinggian 2.000 meter kebawah
a) Nimbo stratus (Ns), pada prinsipnya terbentuk serupa dengan alto stratus,
akan tetapi amat tebal sehingga sinar matahari sulit untuk menembus
lapisan awan ini. Dengan demikian maka bagian bawah awan nimbo
stratus berwarna abu-abu gelap sampai hitam. Awan nimbo stratus bisa
menimbulkan hujan lebat.
b) Strato cumulus (Sc) adalah jenis awan rendah yang pada prinsipnya
berbentuk serupa dengan awan alto cumulus, seperti bulu domba akan
tetapi gumpalan-gumpalan awannya nampak lebih besar, karena
awanstrato cumulus terletak lebih dekat pada mata penilik. Awan strato

18
cumulus nampak berwarna abu-abu dan bentuk tiga dimensi sudah
nampak. Massa globular besar atau massa awan bergulung-gulung lembut
berwarna abu-abu. Pada umumnya tersusun dalam satu pola yang tetap.
c) (Low) Stratus (St) adalah jenis awan rendah yang tidak mempunyai
gambar apa-apa melainkan merupakan suatu layar awan yang rata. Kalau
awan (low) stratus mencapai permukaan tanah, maka hal ini disebut
kabut.Stratus yang tipis menghasikan corona.
4. Awan yang membung keatas
a) Cumulus humilis (Ch) merupakan fase pertama pembentukan awan
golongan IV ini terjadi karena adanya aliran udara vertikal. Pada tempat-
tempat dimana udara mengalir ke atas maka terbentuk awan, dan di
tempat-tempat diman udara mengalir ke bawah, mak awan yang ada akan
dilenyapkan. Awan cumulus humilisini juga dikenal dengan
sebutan cumulus kecil atau juga dengan sebutan fair weather cumuli.
Awan yang tebal dan rapat dengan perkembangan vertikal. permukaan
bagian atas berbentuk kubah dengan struktur seperti kubis, sedangkan
bagian dasarnya hampir horisontal.
b) Cumulus congestus, merupakan fase kedua pembentukan awan golongan
IV. Kalau hari makin panas, maka aliran udara vertikal mendapat
kesempatan untuk mencapai ketinggian yang lebih besar, dan hal ini
menyebabkan awan cumulus humilis bertumbuh ke atas. Bagian
bawah cumulus congestus ini mulai memperoleh warna abu-abu, karena
sudah bertambah tebal, sehingga sinar mata hari mengalami kesulitan
untuk menembus awan ini. Puncak awan cumulus congestus belum
melebar, melainkan masih berbentuk runcing.
c) Cumulo nimbus, merupakan fase terakhir pembentuka awan golongan IV.
Bagian atas cumulo nimbus sudah melebar. Bagian bawah cumulo
nimbus nampak berwarna abu-abu gelap sampai hitam. Cumulo
nimbusmenimbulkan hujan setempat (showers). Selain itu, petir, kilat, dan
guntur ditimbulakan oleh cumulo nimbus.

19
BAB III
BAHAN DAN METODA

3.1 Waktu dan Tempat

Pratikum agroklimatologi ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 17


Oktober 2015 di Stasiun Klimatologi Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman,
Provinsi Sumatera Barat

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah semua alat alat yang terdapat pada Stasiun
Klimatologi Sicincin, seperti pengukur suhu udara minimum dan maksimum,
pengukur suhu tanah, pengukur kelembaban udara, termometer bola basah dan
kering, pengukur arah hujan tipe observasium, otomatis, pengukur lama
penyinaran matahari, Cambell Stokes (kertas pias), pengukur kecepatan dan arah
angin. Sedangkan bahan yang digunakan adalah boring pengamatan dan ballpoint

3.3 Cara Kerja

Pada pratikum lapangan yang berlokasi di Stasiun Klimatologi Sicincin


ini, pratikan dibagi menjadi beberapa kelompok dan dibagi menjadi dua shift.
Untuk shift pertama mendapat materi dari para petugas yang bekerja di Stasiun
tersebut di dalam ruangan, materi yaang diberikan oleh para petugas dalam bentuk
powerpoint tentang Cuaca dan Iklim di Sumatera Barat. Untuk shift kedua,
pratikan mendapat giliran untuk melihat langsung alat-alat yang ada di Stasiun
Klimatologi tersebut. Dengan dipandu oleh instruktur yang ada, para peserta
diberi penjelasan tentang bentuk, fungsi serta prinsip kerja alat yang ada
dilapangan Stasiun Klimatologi tersebut.

20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Radiasi Surya
a. Cambell Stokes

Fungsi
Untuk mengetahui lamanya penyinaran matahari dalam satuan jam/persen,
lamanya penyinaran yaitu 12 jam. Sinar matahari yang ditangkap oleh bola kaca
yang sifatnya mengumpulkan sinar ketitik api yang tepat pada kertas pias.
Prinsip Kerja
Prinsip alat adalah pembakaran pias dengan pemfokusan sinar matahari.
Panjang pias yang terbakar dinyatakan dalam jam. Alat ini mengukur lama
penyinaran surya. Sinar ditangkap oleh lensa dan di fokuskan ke atas kertas pias
hingga terbakar. Hanya pada keadaan matahari terang saja pias terbakar, sehingga
yang terukur adalah lama penyinaran surya terang.Pias ditaruh pada titik api bola
lensa. Pembakaran pias terlihat seperti garis lurus di bawah bola lensa. Kertas pias
adalah kertas khusus yang tak mudah terbakar. Alat dipasang di tempat terbuka,
tak ada halangan ke arah Timur matahari terbit dan ke barat matahari terbenam.
Kemiringan sumbu bola lensa disesuaikan dengan letak lintang setempat. Posisi
alat tak berubah sepanjang waktu hanya pemakaian pias dapat diganti-ganti setiap
hari

21
b. Aktinograf

Fungsi
Untuk mencatat intesitas cahaya matahari dalam satuan Joule (J).
Prinsip Kerja
Alat ini terdiri dari Karbon , karbon yang terbakar akan menggarikan
pena. Sehingga menunjukan data tentang panas intensitas cahaya matahari. Jika
karbonnya terbakar hal ini menunjukan panas atau radiasi matahari pada saat itu
bagus untuk fotosintesis tanaman. Piasnya diganti tiap minggu. Berperekam atau
otomatis mengukur setiap saat pada siang hari radiasi surya yang jatuh ke alat.
Sensor atau yang peka bila kena sinar surya terdiri atas bimetal (dwilogam)
berwarna hitam mudah menyerap radiasi surya. Panas karena radiasi yang diserap
ini membuat bimetal melengkung. Besarnya lengkungan sebanding radiasi yang
diterima sensor. Lengkungan ini disampaikan secara mekanis ke jarum penulis di
atas pias yang berputar menurut waktu. Hasil rekaman sehari ini berbentuk grafik.
Luas grafik/integral dari grafik sebanding dengan jumlah radiasi surya yang
ditangkap oleh sensor selama sehari.

c. Gun Bellani

22
Fungsi
Untuk mengukur intensitas matahari secara komulatif pada suatu periode
(harian) yang dinyatakan dalan suatu kalori.
Prinsip Kerja
Cara kerja alat ini adalah sinar matahari pada pagi hari pertama kali tiba
pada permukaan kuba kaca, kemudian diteruskan lewat ruang hampa dalam
bentuk panas dan tiba pada permukaan berwarna hitam. Warna hitam pada
tembaga dimaksudkan agar semua radiasi tiba dipermukaan bola tembaga dan
dirubah dalam bentuk energi kalor. Sehingga keadaan suhu dalam tabung
bertambah. Suhu yang tinggi itu digunakan untuk menguapkan air dalam bola
hitam. Makin tinggi intensitas radiasi matahari makain banyak pula air yang
menguap, uap ini selanjutnya akan masuk kedalam tabung buret. Sehingga uap air
tadi dirubah dalam bentuk cair.
Untuk mengetahui intensitas yaitu dengan melihat jumlah air yang
tertampung dalam tabung skala, kemudian langsung dibalik sampai air dalam pipa
terserap kedalam bola hitam (kemudian dibaca sebagai pembacaan pertama)
setelah itu alat dimasukkan kembali kedalam tanah. Besarnya penambahan
volume air yang terkondensasi dapat diketahui dengan cara, yaitu : Jumlah
pembacaan hari ini dikurangi dengan skala awal hari sebelumnya, Waktu
pengamatan dilakukan setiap pagi jam 07.00 Wib.
2. Suhu (Tanah dan Udara)
a. Termometer Maksimum dan Termometer Minimum

23
Termometer Maksimum

Prinsip Kerja
Apabila temperatur naik dan kolom air raksa tidak terputus, maka air raksa
terdesak melalui bagian yang sempit. Ujung kolom menunjukkan temperatur
udara. Apabila suhu turun, kolom air raksa terputus pada bagian yang sempit
setelah air raksa dalam bola temperatur menyusut. Ujung lain dari kolom air raksa
tetap pada tempatnya.
Untuk pengamatan suhu udara ujung kolom ini menunjukkan suhu udara
karena penyusutan air raksa kecil sekali dan dapat diabaikan. Jadi Thermometer
menunjukkan suhu udara tertinggi setelah terakhir dikembalikan. Thermometer
dikembalikan setelah dibaca. Termometer maksimum diletakkan pada posisi
hampir mendatar, agar mudah terjadi pemuaian . Pengamatan sekali dalam 24
jam, pada pukul 07.00 malam, karena suhu puncak terjadi pada siang hari
sehingga untuk mendaatkan hasil suhu maksimum pengamatan hasilnya dapat
dilihat pada malam hari waktu 00.00 GMT
Fungsi

Untuk mengukur suhu udara ekstrim tinggi. Pias atau indeks ukurnya
adalah air raksa yang terdapat dalam kapiler termometer.

Termometer Minimum

Fungsi

Berfungsi untuk mengukur suhu udara ekstrim rendah. Indeks atau Pias
ukurnya di dalam kapiler gelas adalah alkohol yang bening.

Prinsip Kerja

Pada bagian ujung atas alkohol yang memuai atau menyusut terdapat
indeks. Indeks ini hanya dapat didorong ke bawah pada suhu rendah oleh
tegangan permukaan bagian ujung kapiler alkohol. Bila suhu naik alkohol
memuai, indeks tetap menunjukkan posisi suhu terendah.

24
Setelah ujung indeks yang dekat miniskus alkohol dibaca dan dicatat,
dengan perlakuan khusus indeks dikembalikan mendekati miniskus alkohol.
Posisi termometer pada waktu mengukur hampir sama dengan termometer
maksimum yaitu agak mendatar. Perlu diperhatikan bahwa kapiler alkohol harus
dalam keadaan bersambung, tidak boleh terputus-putus. Bila kapiler alkohol
terputus, termometer tidak boleh lagi dipakai sebagai alat pengukur suhu, harus
dibetulkan terlebih dahulu, Pengamatan sekali dalam 24 jam, pada pukul 07.00
pagi karna suhu rendah piasanya terjadi pada malam hari sehingga hasil dapat
dilihat pada jam 07.00 pagi atau 00.00 GMT.

b. Temperature Tanah Berumput dan Temperatur Tanah Gundul

Fungsi

Untuk meneylidiki temperature/suhu tanah. Suhu tanah terkait dengan


perubahan lingkunan di mana tanah berada. Di samping itu pula, perubahan suhu
tanah dapat dipengaruhi oleh proses-proses; aktivitas mikroorganisme seperti
proses peguraian, fermentasi, pelapukan, perubahan kadar air, kadar udara, jenis
mineral, faktor biologi, dan lain-lain perubahan fisik biologi lainnya. Bagian-

25
bagian thermometer tanah terdiri atas pipa pelindung (mounting), ujungbesi
penusuk, penekan tusukan, thermometer tahap-1 dan thermometer tahap-2.

Prinsip Kerja

Prinsip kerja thermometer ini sama dengan thermometer air raksa yang
lain, hanya aplikasinya digunakan untuk mengukur suhu tanag dari kedalaman 0,
2, 5, 10, 20, 50 dan 100 cm. untuk kedalaman 50 dan 100 cm, harus tanam sebuah
tabung silinder untuk menempatkan thermometer agar mudah untuk melakukan
pembacaan. Untuk kedalaman 0-20cm, cukup dengan membenamkan bola tempat
air raksa sesuai dengan kedalaman yang diperlukan.

3. Kelembaban Udara
a. Termohigrograf atau Hygrometer

Fungsi
Hygrometer digunakan untuk mengukur kelembaban udara relative (RH).
Proses Pengukuran Higrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan
kelembaban yangsatumenunjukkan temperatur
Prinsip Kerja
Hygrometer mempunyai prinsip kerja yaitu dengan menggunakan dua
thermometer.Thermometer pertama dipergunakan untuk mengukur suhu udara
biasa dan yang kedua untuk mengukur suhu udara jenuh/lembab (bagian bawah
thermometer diliputi kain/kapas yang basah). Thermometer Bola Kering: tabung
air raksa dibiarkan kering sehingga akan mengukur suhu udara
sebenarnya.Thermometer Bola Basah: tabung air raksa dibasahi agar suhu yang
terukur adalahsuhusaturasi/ titik jenuh, yaitu; suhu yang diperlukan agar uap air
dapat berkondensasi.

26
4. Curah Hujan
a. Penakar Hujan Observatorium (OBS)

Fungsi
Untuk mengukur jumlah curah hujan yang jatuh pada permukaan tanah
dalam periode waktu 24 jam
Prinsip Kerja
Penakar hujan Observatorium mempunyai corong dengan luas tamping 100
cm2. Pada corong dipasang ring yang tepinya dibuat seruncing mungkin dengan
maksud untuk mendapatkan luas bidang tamping setepat mungkin. Air hujan
masuk ke selinder penampung air hujan melalui corong dengan sudut berbanding
curam lebih kurang 300, maksudnya adalah untuk menghindari percikan air
keluar. Bagian ujung corong disambung dengan pipa tembaga berukuran
dengan panjang lebih kurang 7 cm untuk menghindari terjadinya penguapan. Air
dikeluarkan melalui kran yang dihubungkan dengan pipa kesilinder penampung
air hujan.

27
b. Penakar Hujan Hellman

Fungsi
Untuk mengukur intensitas, jumlah, dan waktu terjadinya hujan,dipasang
dengan ketinggian 120 cm dari permukaan tanah sampai ke corong penakar dan
luas penampang corong 200 cm2. Penakar hujan hellman mempunyai luas bidang
corong penampung curah hujan 200 cm2 .
Prinsip Kerja
Air hujan masuk ke reservouir yang dihubungkan dengan pipa. Didalam
reservoir ditempatkan pelampung, pada saat air masuk kedalam reservoir,
pelampung akan terangkat dan pada pelampung dipasang tangkai pena yang
mencatat pada kertas pias yang ditempelkan pada silinder yang diputar oleh jam.
Bekerjanya penakar hujan ini apabila air yang tertampung dalam reservoir telah
mencapai setara dengan tinggi curah hujan 10 mm, maka air dalam reservoir akan
tumpah secara otomatis melalui pipa pindah (sifon) dipasang pada reservoir dan
pena akan kembali lagi ke angka nol. Air yang tumpah melaui pipa sifon
ditampung dalam sebuah bejana , untuk selanjutnya ditakar kembali sebagai
penteraan apakah yang tercatat pada pias sama dengan yang ditajar dengan gelas
ukur khusus hellman.

28
c. Penakar Hujan ARG (Automatic Rain Gauge)

Fungsi
Automatic Rain Gauge (Arg) berfungsi untuk pengukuran intensitas curah
hujan secara otomatis. Pada prinsipnya, alat ini sama seperti penangkar hujan
lainnya namun tidak memakai tabung penangkar.
Prinsip Kerja
Cara kerja alat ini adalah air hujan turun melewati corong dan data akan
terhitung otomatis, data akan langsung dikirim ke pusat. Hal ini sesuai dengan
pendapat agus et all (2007) yang menyatakan bahwa data curah hujan diperoleh
dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi
yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah.

29
5. Angin
a. Anemometer Cup Counter

Fungsi
Berfungsi untuk mengukur kecepatan angin selama periode waktu tertentu.
Prinsip Kerja
Alat ini dipasang disebelah selatan dekat pusat panci, dengan ketinggian
0,5 meter dari permukaan tanah. Alat ini terdiri dari 3 buah mangkok yang akan
berputar bila tertiup angin, dimana bagian bawah mangkok terdapat angka counter
yang mencatat perputaran mangkok tersebut. Untuk mengetahui kecepatan angin
pada periode waktu tertentu dilakukan dengan mengurangi hasil pembacaan pada
angka counter saat pengamatan dengan hasil pembacaan sebelumnya, kemudian
dibagi dengan periode waktu pengamatan.
6. Evapotranspirasi
a. Evaporimeter Pan

30
Fungsi

Evaporimeter panic terbuka digunakan untuk mengukur evaporasi. Semakin luas


permukaan panic, semakin representative atau makin mendekati penguapan yang
sebenarnya terjadi pada permukaan danau, waduk, sungai, dan lain-lain.

Prinsip Kerja

Pengukuran evaporasi menggunakan evaporimeter memerlukan perlengkapan


sebagai berikut :

1. Panic bundar besar


2. Hook Gauge, yaitu suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi
permukaan air dalam panic. Hook Gauge mempunyai bermacam-macam
bentuk sehingga cara pembacaannya berlainan.
3. Still well ialah bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk
silinder dan mempunyai 3 buah kaki.
4. Thermometer air dan thermometer maximum/minimum.
5. Cup counter anemometer.
6. Pondasi/alas pondasi atau alas yang digunakan yaitu papan. Hal ini
dikarenakan dengan menggunakan papan panic penguapan ini akan rata
dan tidak berhubungan langsung dengan panas bumi dari tanah.
7. Penakar hujajn biasa penguapan diukur 3x sehari, yaitu pada saat:
Pukul 7 pagi, alasan diukur pada pukul 7 pagi karena pada saat ini
belum terjadi penguapan. Untuk menghitung penguapan harian data
yang diambil adalah data pada saat pukul 7 pagi ini.

31
Pukul 2 siang, alasan diukur pada pukul 2 siang karena terjadinya
pemanasan maksimum adalah pada saat pukul 2 siang.
Pukul 6 sore, alasan diukur pada pukul 6 sore karena pada saat itu
waktu matahari terbenam.

Pada evaporimeter terdapat thermometer apung. Thermometer ini


merupakan bagian/kelengkapan dari alat evaporasi panic terbuka. Berfungsi untuk
mengetahui suhu permukaan air yang terjadi di permukaan bumi/tanah. Terdiri
dari thermometer maksimum (thermometer air raksa) dan thermometer minimum
(thermometer alcohol). Suhu rata-rata air didapat dengan menambahkan suhu
maksimum dan minimum, kemudian dibagi 2. Letak thermometer harus terapung
tepat di permukaan air, sehingga dilengkapi dengan pelampung di bagian depan
dan belakang yang terbuat dari bahan yang tahan air/karat (biasanya aluminium).
Setelah dilakukan pembacaan, posisi indeks pada thermometer minimum harus
dikembalikan ke suhu actual dengan memiringkannya. Sedangkan untuk
thermometer maksimum, tinggi air raksa juga dikembalikan pada suhu aktual
dengan menggunakan magnet.

32
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pada praktikum kali ini dapat di simpulkan bahwa iklim di suatu wilayah
tertentu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu radiasi surya, tekanan udara,
suhu, kelembaban, curah hujan, angin, evapotranspirasi, dan awan. Dari
kedelapan faktor tersebut dinamakan unsur-unsur cuaca. Unsur unsur cuaca
tersebut memiliki pengaruh yang besar terutama terhadap dunia pertanian. Oleh
sebab itu pengetahuan mengenai pengamatan iklim sangat dibutuhkan.
Selain itu cara untuk mengetahui cuaca dan iklim pada suatu daerah
menggunakan alat yang berbeda beda baik fungsi, bentuk dan cara kerjanya.
Keakuratan data yang dihasilkan pun berbanding lurus dengan tingkat keseriusan
pengamat, apabila pengamat membuat data dengan teliti maka kemungkinan besar
data akan akurat

5.2 Saran

Pada praktikum lapangan ke Stasiun Klimatologi Sicincin ini di harapkan


kepada praktikan agar dapat serius dalam mendengarkan penjelasan dari
narasumber dan dapat menyerap informasi yang di berikan oleh narasumber
sehingga dapat memahami cara kerja dan fungsi dari alat alat tersebut sesuai
dengan penjelasan dari narasumber.
Dalam melakukan pengamatan terhadap cuaca dan iklim membutuhkan
ketepatan dan keakuratan. Sehingga diharapkan kepada mahasiswa agar dapat
memahami unsur-unsur pembentukan cuaca dan iklim, juga dapat mengetahui
cara kerja alat-alat meteorologi dan klimatologi serta dapat mengumpulkan dan
mengolah datanya.

33
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Cuaca Iklim. www.wikipedia/cuacaiklim.menl.co.id. diakses


pada tanggal 18 Oktober 2015 pukul 15:00 WIB

Anonim,2011. Curah Hujan . www.wikipedia/hujan.menlh.go.id. Diakses pada


tanggal 18 Oktober 2015 pukul 15:00 WIB

A Pramudia, E Runtunuwu, dan P Setyanto. 2011. Antispasi Perubahan Iklim di


dalam Mengamankan Produksi Beras Nasional. Jurnal Pengembangan Inovasi
Pertanian. 2011 :76-86

Bocah,2008. Curah hujan Lokal. UGM Press: Yogyakarta

Buckman, 1982. Ilmu Tanah. Bhatara Karya Aksara, Jakarta.

Edi Tanoe,2011. Alat Pengukur Hujan-Laporan Klimatologi Dasar.Bogor.


FMIPA-IPB

Ersin Seyhan, 1990. Dasar-Dasar Hidrologi,. Yogyakarta. Gadjah Mada


University Press.

Fontain, A. 2002. Meteorology. (http://www.kompas.com). Diakses pada tanggal


18 Oktober 2015 pukul 15:00 WIB.

Foth D.H, 1991.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press

Foth D.H, 1994.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press

Handoko et a/. 1993. Klimotologi Dasar. Handoko,editor. Pustaka Jaya, Bogor.

Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. Pustaka Jaya. Bogor.

Kartasapoetra. 1987. Teknologi Penyuluhan Pertanian. Bina Aksara. Jakarta.

Koesmaryono, Y., Impron, Sugiarto, Y., 1999. Kapita Selekta Agroklimatologi:


Kumpulan Makalah dan Tulisan Ilmiah dalam Bidang Agroklimatologi. Jurusan
Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Martha W.J. 1993. Mengenal DasarDasar Hidrologi. Nova. Bandung.

Masson, B. J. & Cloud, 1962.Rain And Rain Making.Cambridge. London.

Neiburger, dkk.1982. Memahami Lingkungan Atmosfer Kita. Bandung: ITB.

34
Prawirowardoyo, S. 1996. Meteorologi. Institut Teknologi Bandung. Bandung

Setiawan, A. I. 2003. Penghijauan Lahan Kritis. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tjasyono, Bayong. 2004. Klimatologi Edisi ke -2. Penerbit ITB. Bandung

Wilson, E.M. 1993. Hidrologi Teknik. ITB. Bandung.

Triwartha, Glenn T.; Horn H. Lyle (1980). Introduction to Climate. McGrwaw


Hill International Book Company.

Vink, G.J 1984. Dasar-dasar Usahatani di Indonesia. Penerbit Yayasan Obor,


Jakarta.

Wisnubroto, Soekardi. 1986. Asas Meteorologi Pertanian Indonesia. Ghalia


Indonesia. Jakarta.

35