Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

Nyeri merupakan gejala dan masalah yang cukup sering ditemukan dalam
bidang neurologis. Nyeri dapat merupakan gejala pertama dari berbagai macam
penyakit syaraf. Nyeri dapat merupakan gejala pertama dari berbagai macam penyakit
saraf dan sering kali merupakan keluhan utama. Di antara keluhan nyeri yang sering
kali dijumpai di klinik adalah nyeri kepala.1
Nyeri kepala merupakan gejala umum yang pernah dialami hampir semua
orang dan lebih dari 90% populasi pernah mengalami satu jenis sakit kepala. Setidak-
tidaknya secara episodik selama hidupnya. Di Amerika Serikat lebih dari 23 juta
orang mengalami nyeri kepala, dimana 17,6% diderita oleh wanita dan 6% pada laki-
laki. 1,2
Nyeri kepala dapat merupakan bagian dari gejala sisa (sekuele) akibat
peningkatan tekanan intrakranial, cedera kepala, tumor otak, ketegangan mata,
sinusitis, perubahan atmosfir, alergi makanan, strees emosional, alkohol, makanan,
dan sebagainya. Daftar faktor-faktor etiologi yang mugkin menjadi penyebab nyeri
kepala tidak ada habisnya dan bersifat individual. Ada tiga jenis nyeri kepala,
berdasarkan klasifikasi Internasional Nyeri Kepala dari IHS (International Headache
Society) yang terbaru tahun 2004, terdiri atas Migraine, Tension Type Headache
(TTH), serta Cluster Headache dan cephalalgia lainnya dari nyeri kepala primer
lainnya.2,4
Tension headache atau nyeri kepala tipe tegang adalah manifestasi dari reaksi
tubuh terhadap stres, kecemasan, depresi, konflik emosional, kelelahan atau hostilitas
yang tertekan. Respon fisiologis yang terjadi meliputi refleks pelebaran pembuluh
darah ekstrakranial serta kontraksi otot-otot rangka kepala, leher dan wajah. Tension
type headache perlu mendapatkan perhatian khusus karena keluhan yang ada pada
penyakit ini dapat mengganggu aktivitas keseharian dari penderita.1,2

1
BAB II
STATUS PASIEN

IDENTIFIKASI
a. Nama : NN.AP
b. Umur : 22 tahun
c. Alamat : Jl. Kebun Bunga, Palembang
d. Suku : Palembang
e. Bangsa : Indonesia
f. Agama : Islam
g. Pendidikan : S1
h. Pekerjaan : Mahasiswa
i. Kunjungan : 8 September 2017
j. No. RM : 1007117

ANAMNESIS (Autoanamnesis tanggal 8 September 2017, Pukul 10.00 WIB)


Penderita datang ke poliklinik neurologi RSMH dengan keluhan sakit kepala
yang semakin memberat sejak 5 hari yang lalu.
+5 hari yang lalu penderita mengalami sakit kepala yang terasa seperti ditekan
dan diikat, nyeri dirasakan disemua bagian kepala dan terasa berat terutama didaerah
kepala belakang dan tengkuk. Nyeri dirasakan terus menerus kurang lebih selama 4
jam. Nyeri kepala mucul secara tiba tiba ketika pasien sedang tertidur yang membuat
pasien terbangun dari tidurnya, pasien tidak mengonsumsi obat apapun untuk
mengurangi nyerinya. Nyeri berkurang ketika pasien menekan nekan kepala. Nyeri
ini kemudian hilang dan dirasakan kembali keesokan harinya. Pasien mengaku dalam
satu minggu ini sudah 4 kali mengalami serangan.
Saat serangan mual ada, fotofobia ada, muntah tidak ada, tidak disertai keringat
dingin, telinga berdenging tidak ada, gangguan pendengaran tidak ada, pandangan

2
gelap tidak ada, penglihatan ganda tidak ada, kejang tidak ada, kelemahan sesisi
tubuh tidak ada, bicara pelo dan muka mengot tidak ada, gangguan sensibilitas tidak
ada, penderita dapat memahami isi pikiran orang lain dan dapat mengungkapkan isi
pikirannya baik secara lisan, tulisan, maupun isyarat. Pasien sedang tidak menstruasi
dan nyeri kepala tidak tergantung siklus menstruasi. Pasien mengaku akan
menghadapi ujian stase dan mengaku sudah 2 hari ini kurang tidur, dan juga sering
mengonsumsi coklat dan kopi akhir-akhir ini.
Riwayat sakit kepala seperti ini sudah ada sejak 5 tahun yang lalu dan selalu
hilang timbul. Nyeri kepala dapat dirasakan 4 kali dalam seminggu, pasien belom
pernah berobat dan tidak pernah mengonsumsi obat. Riwayat sakit telinga disertai
keluar cairan dari telinga tidak ada, riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat operasi
telinga tidak ada, riwayat demam tidk ada, riwayat hipertensi tidak ada, riwayat
diabetes mellitus tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK
STATUS PRESENS
Status Internus
Kesadaran : GCS = 15 (E: 4, M: 6, V: 5)
Gizi : Baik
Suhu Badan : 36,6C Jantung : HR 80x/m m(-) g(-)
Nadi : 72 x/menit Paru-paru : ves (+) N R(-) W(-)
Pernapasan : 18 x/menit Hepar : tidak teraba
Tekanan Darah : 110/70 mmHg Lien : tidak teraba
Berat Badan : 52 kg Anggota Gerak: tidak ada edema
Tinggi Badan : 156 cm Genitalia : tidak diperiksa

Status Psikiatrikus
Sikap : wajar, koperatif Ekspresi Muka : wajar
Perhatian : ada Kontak Psikik : ada

3
Status Neurologikus
KEPALA
Bentuk : normocephali Deformitas : tidak ada
Ukuran : normal Fraktur : tidak ada
Simetris : simetris Nyeri tekan : ada
Hematom : tidak ada Pembuluh darah : tidak ada pelebaran
Tumor : tidak ada Pulsasi : tidak ada kelainan

LEHER
Sikap : lurus Deformitas : tidak ada
Torticolis : tidak ada Tumor : tidak ada
Kaku kuduk : tidak ada Pembuluh darah : tidak ada kelainan

SYARAF-SYARAF OTAK
N. Olfaktorius Kanan Kiri
Penciuman tidak ada kelainan tidak ada kelainan
Anosmia tidak ada tidak ada
Hyposmia tidak ada tidak ada
Parosmia tidak ada tidak ada

N.Opticus Kanan Kiri


Visus tidakdiperiksa tidak diperiksa
Campus visi V.O.D V.O.S

- Anopsia tidak ada tidak ada

4
- Hemianopsia tidak ada tidak ada
Fundus Oculi
- Papil edema tidak diperiksa tidak diperiksa
- Papil atrofi tidak diperiksa tidak diperiksa
- Perdarahan retina tidak diperiksa tidak diperiksa

Nn. Occulomotorius, Trochlearis dan Abducens


Kanan Kiri
Diplopia tidak ada tidak ada
Celah mata simetris simetris
Ptosis tidak ada tidak ada
Sikap bola mata
- Strabismus tidak ada tidak ada
- Exophtalmus tidak ada tidak ada
- Enophtalmus tidak ada tidak ada
- Deviation conjugae tidak ada tidak ada
Gerakan bola mata ke segala arah ke segala arah
Pupil
- Bentuknya bulat bulat
- Besanya 3 mm 3 mm
- Isokor/anisokor isokor isokor
- Midriasis/miosis tidak ada tidak ada
- Refleks cahaya
- Langsung ada ada
- Konsensuil ada ada
- Akomodasi ada ada
- Argyl Robertson tidak ada tidak ada

5
N.Trigeminus
Kanan Kiri
Motorik
- Menggigit normal normal
- Trismus tidak ada tidak ada
- Refleks kornea ada ada
Sensorik
- Dahi normal normal
- Pipi normal normal
- Dagu normal normal

N.Facialis Kanan Kiri


Motorik
Mengerutkan dahi simetris simetris
Menutup mata lagophtalmus (-) lagophtalmus (-)
Menunjukkan gigi tidak ada kelainan tidak ada kelainan
Lipatan nasolabialis tidak ada kelainan tidak ada kelainan
Bentuk Muka
- Istirahat simetris
- Berbicara/bersiul simetris
Sensorik
2/3 depan lidah tidak ada kelainan
Otonom
- Salivasi tidak ada kelainan
- Lakrimasi tidak ada kelainan
- Chovsteks sign tidak diperiksa

N. Statoacusticus
N. Cochlearis Kanan Kiri

6
Suara bisikan tidak ada kelainan
Detik arloji tidak ada kelainan
Tes Weber tidak ada kelainan
Tes Rinne tidak ada kelainan

N. Vestibularis
Nistagmus tidak ada

N. Glossopharingeus dan N. Vagus


Kanan Kiri
Arcus pharingeus simetris
Uvula di tengah
Gangguan menelan tidak ada
Suara serak/sengau tidak ada
Denyut jantung normal
Refleks
- Muntah tidak diperiksa
- Batuk tidak diperiksa
- Okulokardiak tidak diperiksa
- Sinus karotikus tidak diperiksa
Sensorik
- 1/3 belakang lidah tidak ada kelainan

N. Accessorius Kanan Kiri


Mengangkat bahu simetris
Memutar kepala tidak ada hambatan

N. Hypoglossus Kanan Kiri


Mengulur lidah tidak ada kelainan

7
Fasikulasi tidak ada
Atrofi papil tidak ada
Disartria tidak ada

MOTORIK
LENGAN Kanan Kiri
Gerakan cukup cukup
Kekuatan 5 5
Tonus normal normal
Refleks fisiologis
- Biceps normal normal
- Triceps normal normal
- Radius normal normal
- Ulna normal normal
Refleks patologis
- Hoffman Tromner tidak ada

TUNGKAI Kanan Kiri


Gerakan cukup cukup
Kekuatan 5 5
Tonus normal normal
Klonus
- Paha tidak ada tidak ada
- Kaki tidak ada tidak ada
Refleks fisiologis
- KPR normal normal
- APR normal normal
Refleks patologis
- Babinsky tidak ada tidak ada

8
- Chaddock tidak ada tidak ada
- Oppenheim tidak ada tidak ada
- Gordon tidak ada tidak ada
- Schaeffer tidak ada tidak ada
- Rossolimo tidak ada tidak ada
- Mendel Bechterew tidak ada tidak ada
Refleks kulit perut
- Atas tidak dilakukan
- Tengah tidak dilakukan
- Bawah tidak dilakukan
Refleks cremaster tidak dilakukan

SENSORIK
Tidak ada kelainan

FUNGSI VEGETATIF
Miksi : tidak ada kelainan

9
Defekasi : tidak ada kelainan

KOLUMNA VERTEBRALIS
Kyphosis : tidak ada
Lordosis : tidak ada
Gibbus : tidak ada
Deformitas : tidak ada
Tumor : tidak ada
Meningocele : tidak ada
Hematoma : tidak ada
Nyeri ketok : tidak ada

GEJALA RANGSANG MENINGEAL


Kanan Kiri
Kaku kuduk tidak ada
Kernig tidak ada tidak ada
Lasseque tidak ada tidak ada
Brudzinsky
- Neck tidak ada
- Cheek tidak ada
- Symphisis tidak ada
- Leg I tidak ada tidak ada
- Leg II tidak ada tidak ada

GAIT DAN KESEIMBANGAN


Gait Keseimbangan dan Koordinasi
Ataxia : tidak ada kelainan Romberg : tidak dilakukan
Hemiplegic :tidak ada kelainan Dysmetri :
Scissor :tidak ada kelainan - jari-jari : tidak ada kelainan

10
Propulsion : tidak ada kelainan - jari hidung : tidak dilakukan
Histeric :tidak ada kelainan
Limping :tidak ada kelainan Fukuda : tidak dilakukan
Steppage :tidak ada kelainan Astasia-Abasia:tidak ada kelainan
Dysdiadochokinesis: (-)
Nistagmus : (-)

GERAKAN ABNORMAL
Tremor : tidak ada
Chorea : tidak ada
Athetosis : tidak ada
Ballismus : tidak ada
Dystoni : tidak ada
Myocloni : tidak ada
FUNGSI LUHUR
Afasia motorik : tidak ada
Afasia sensorik : tidak ada
Apraksia : tidak ada
Agrafia : tidak ada
Alexia : tidak ada
Afasia nominal : tidak ada

RESUME
+5 hari yang lalu penderita mengalami sakit kepala yang terasa seperti ditekan
dan diikat, nyeri dirasakan disemua bagian kepala dan terasa berat terutama didaerah
kepala belakang dan tengkuk. Nyeri dirasakan terus menerus kurang lebih selama 4
jam. Nyeri kepala mucul secara tiba tiba ketika pasien sedang tertidur yang membuat
pasien terbangun dari tidurnya, pasien tidak mengonsumsi obat apapun untuk
mengurangi nyerinya. Nyeri berkurang ketika pasien menekan nekan kepala. Nyeri

11
ini kemudian hilang dan dirasakan kembali keesokan harinya. Pasien mengaku dalam
satu minggu ini sudah 4 kali mengalami serangan.
Saat serangan mual ada, fotofobia ada, muntah tidak ada, tidak disertai keringat
dingin, telinga berdenging tidak ada, gangguan pendengaran tidak ada, pandangan
gelap tidak ada, penglihatan ganda tidak ada, kejang tidak ada, kelemahan sesisi
tubuh tidak ada, bicara pelo dan muka mengot tidak ada, gangguan sensibilitas tidak
ada, penderita dapat memahami isi pikiran orang lain dan dapat mengungkapkan isi
pikirannya baik secara lisan, tulisan, maupun isyarat. Pasien sedang tidak menstruasi
dan nyeri kepala tidak tergantung siklus menstruasi. Pasien mengaku akan
menghadapi ujian stase dan mengaku sudah 2 hari ini kurang tidur, dan juga sering
mengonsumsi coklat dan kopi akhir-akhir ini.
Riwayat sakit kepala seperti ini sudah ada sejak 5 tahun yang lalu dan selalu
hilang timbul. Nyeri kepala dapat dirasakan 4 kali dalam seminggu, pasien belom
pernah berobat dan tidak pernah mengonsumsi obat. Riwayat sakit telinga disertai
keluar cairan dari telinga tidak ada, riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat operasi
telinga tidak ada, riwayat demam tidk ada, riwayat hipertensi tidak ada, riwayat
diabetes mellitus tidak ada.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, GCS 15
(E4M6V5), TD 110/70 mmHg, HR 72 x/menit, RR 18 x/menit, T 36,6C, gizi
baik(BB 52 kg, TB 158 cm). Keadaan spesifik kepala terdapat nyeri tekan, leher,
thoraks, abdomen, dan ekstremitas dalam batas normal. Pada pemeriksaan neurologis
dalam batas normal. N.craniales lainnya dalam batas normal. Fungsi motorik,
sensorik, vegetatif, dan fungsi luhur tidak ada kelainan. Tidak terdapat gejala
rangsang meningeal maupun gerakan abnormal. Pemeriksaan gait dan keseimbangan
dalam batas normal.

DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KLINIK : Tension Type Headache
DIAGNOSIS TOPIK : Myofacial

12
DIAGNOSIS ETIOLOGI : Psikis

PENGOBATAN
Paracetamol 300 mg
Na diclofenak 20 mg
Amitriptilin 5 mg
m.fl. in caps s2dd I cap
neurodex 1x1

PROGNOSA
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : bonam

13
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi
Tension Type headache atau nyeri kepala tipe tegang didefinisikan sebagai
rasa berat atau tertekan yang menetap, pada kedua sisi kepala yang timbul episodik
dan berkaitan dengan stres, tetapi dapat berulang hampir setiap hari tanpa adanya
faktor psikologis. Nyeri ini timbul karena kontraksi terus-menerus otot-otot kepala
dan tengkuk yaitu m. splenius kapitis, m. temporalis, m.maseter, m.
sternokleidomastoideus, m. trapezius, m. servikalis posterior, dan m. levator skapula.
Sifat nyerinya biasanya berupa rasa tertekan atau diikat, dari ringan-berat, bilateral,
tidak dipicu oleh aktivitas fisik dan gejala penyertanya tidak menonjol.6,7 Tension
headache ini juga dikenal sebagai stres headache, muscle contraction headache,
psychomiogenic headache, ordinary headache, and psikogenik headache.8

3.2. Epidemiologi
Pada penelitian di Amerika, tension headache merupakan penyakit nyeri
kepala primer. Penyakit ini 88% dijumpai pada wanita dan 66% pada laki-laki dan
sekitar 60% serangan sakit kepala jenis ini terjadi pada usia lebih dari 20 tahun.8

3.3. Etiologi
Etiologi dari tension headache ini belum diketahui secara pasti, namun diduga
disebabkan oleh beberapa faktor pencetus antara lain adalah cahaya yang
menyilaukan, stres psikososial, kecemasan, depresi, stres otot, marah, terkejut, serta
penggunaaan obat untuk tension headache yang berlebihan.6

14
3.4. Klasifikasi
Klasifikasi nyeri kepala tipe tegang/ Tension Headache menurut Ad Hoc
Committee of The International Headache Society adalah sebagai berikut:6,8
1. Nyeri kepala tipe tegang episodik
a. Minimal mengalami 10 kali episode nyeri kepala, dimana jumlah hari
dengan nyeri kepala tersebut < 180 hari/tahun (<15 hari/bulan)
b. Nyeri kepala berlangsung antara 30 menit sampai 7 hari
c. Sekurang-kurangnya memiliki dua gambaran khas nyeri berikut ini :
- Kualitas nyeri seperti diikat atau ditekan
- Intensitas nyeri ringan sampai sedang
- Lokasi bilateral
- Tidak diperberat dengan berjalan menaiki tangga atau aktivitas fisik sejenis
d. Tidak ada mual atau muntah, tidak ada fotofobia dan fonofobia
2. Nyeri kepala tipe tegang kronik
a. Rata-rata frekuensi nyeri kepala > 15 hari/bulan (>180 hari/tahun) selama 6
bulan yang memenuhi kriteria 1b-1d diatas
b. Sekurang-kurangnya memiliki dua gambaran khas nyeri pada nyeri kepala
tipe tegang episodik
c. Tidak ada muntah, dan tidak lebih satu hal berikut : mual, fotofobia atau
fonofobia

3.5. Patofisiologi
Patofisiologi dari TTH sangat kompleks dan banyak faktor yang
mempengaruhinya, baik dari faktor sentral maupun perifer. Pada penderita TTH
didapati gejala yang menonjol yaitu nyeri tekan yang bertambah pada palpasi jaringan
miofascial perikranial. Impuls nosiseptif dari otot perikranial yang menjalar ke kepala
mengakibatkan timbulnya nyeri kepala dan nyeri yang bertambah pada daerah otot
maupun tendon tempat insersinya.9

15
TTH adalah kondisi stres mental, nonfisiologikal motor stres, dan miofasial
lokal yang melepaskan zat iritatif ataupun kombinasi dari ke tiganya yang menstimuli
perifer kemudian berlanjut mengaktivasi struktur persepsi supraspinal pain, kemudian
berlanjut lagi ke sentral modulasi yang masing-masing individu mempunyai sifat self
limiting yang berbeda-beda dalam hal intensitas nyeri kepalanya.8,10
Nyeri miofascial adalah suatu nyeri pada otot bergaris termasuk juga struktur
fascia dan tendonnya. Dalam keadaan normal nyeri miofascial di mediasi oleh serabut
kecil bermyelin (Aoc) dan serabut tak bermyelin (C), sedangkan serabut tebal yang
bermyelin (A dan AB) dalam keadaan normal mengantarkan sensasi yang ringan/
tidak merusak (inocuous). Pada rangsang noxious dan inocuous, seperti misalnya
proses iskemik, stimuli mekanik, maka mediator kimiawi terangsang dan timbul
proses sensitisasi serabut Aoc dan serabut C yang berperan menambah rasa nyeri
tekan pada tension type headache.9
Dulu dianggap bahwa kontraksi dari otot kepala dan leher yang dapat
menimbulkan iskemik otot sangatlah berperan penting dalam tension type headache
sehingga pada masa itu sering juga disebut muscle contraction headache. Akan tetapi
pada akhir-akhir ini pada beberapa penelitian yang menggunakan EMG
(elektromiografi) pada penderita tension type headache ternyata hanya menunjukkan
sedikit sekali terjadi aktifitas otot, yang tidak mengakibatkan iskemik otot, jika
meskipun terjadi kenaikan aktifitas otot maka akan terjadi pula adaptasi protektif
terhadap nyeri. Peninggian aktifitas otot itupun bisa juga terjadi tanpa adanya nyeri
kepala.8,10
Nyeri myofascial dapat di dideteksi dengan EMG jarum pada miofascial
trigger point yang berukuran kecil, hanya beberapa milimeter saja (tidak terdapat
pada semua otot). Mediator kimiawi substansi endogen seperti serotonin( dilepas dari
platelet), bradikinin( dilepas dari belahan precursor plasma molekul kallin) dan
kalium (yang dilepas dari sel otot), substance P dan Calcitonin Gene Related Peptide
dari aferens otot berperan sebagai stimulan sensitisasi terhadap nosiseptor otot skelet.

16
Jadi pada saat ini yang dianggap lebih berperan adalah nyeri miofascial terhadap
timbulnya TTH.8,9
Untuk jenis TTH episodik biasanya terjadi sensitisasi perifer terhadap
nosiseptor, sedang yang jenis kronik berlaku sensitisasi sentral. Proses kontraksi otot
sefalik secara involunter, berkurangnya supraspinal descending pain inhibitory
activity, dan hipersensitivitas supraspinal terhadap stimuli nosiseptif amat berperan
terhadap timbulnya nyeri pada tension headache. Semua nilai ambang pressure pain
detection, thermal & electrical detection stimuli akan menurun di sefalik maupun
ekstrasefalik.

17
3.6. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yang dapat timbul pada tension headache adalah nyeri kepala
yang dirasakan seperti kepala berat, pegal seperti diikat tali yang melingkari kepala,
kencang dan menekan. Kadang-kadang disertai nyeri kepala yang berdenyut. Bila
berlangsung lama, pada palpasi dapat ditemukan daerah-daerah yang membenjol,
keras dan nyeri tekan. Dapat pula disertai gejala mual, kadang-kadang muntah,
vertigo, lesu, sukar tidur, mimpi buruk, sering terbangun menjelang pagi dan sulit
tidur kembali, hiperventilasi, perut kembung, sedih, hilangnya kemauan untuk belajar
atau bekerja, anoreksia dan keluhan depresi lainnya. Bisa juga nyeri dirasakan seperti
perasaan tegang yang menjepit di kepala dan nyeri berlokasi di daerah oksipito
servikal.5,7
Bentuk akut dikaitkan dengan keadaan stres, kegelisahan dan atau kelelahan
temporer yang biasanya berlangsung satu atau 2 hari. Tipe kronis biasanya nyeri
bersifat bilateral, tidak mereda, dapat berlangsung siang maupun malam hari, dan
berlangsung sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, terasa menekan, tidak
berdenyut dan sering dikaitkan dengan perasaan gelisah, depresi dan perasaan
tertekan.4,7
Gejala yang lain dari nyeri kepala ini berupa konsentrasi yang lemah,
perasaan lelah dan iritabel. Kualitas nyeri kepala ini digambar sebagai nyeri yang
tumpul dan menetap. Sering tidak digambarkan sebagai rasa nyeri tetapi sebagai rasa
berat atau rasa tertekan atau juga rasa ketat. Pada 25% penderita serangan nyeri
tumpul dapat kemudian berubah menjadi rasa berat dan kadang-kadang ada kualitas
berdenyut (pulsasi). Nyeri kepala yang tumpul ini bisa berasal dari bangunan yang
terletak dalam di kulit. Pada beberapa keadaan, nyeri dapat dirasakan terlokalisir di
satu tempat misalnya : orang dengan kebiasaan mengerutkan dahi dapat merasakan
nyeri di daerah bitemporal, dan orang dengan kebiasaan leher lurus merasakan nyeri
di oksipital.10

18
Gambaran intensitas nyeri pada nyeri kepala ini sebagai seakan-akan kepala
akan pecah, yang menunjukkan karakteristik histerik. Sedangkan durasi dari nyeri
kepala ini dapat kontinyu menetap sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Penderita dapat melaporkan tak pernah sembuh dari nyeri kepalanya. Namun selama
perjalanan yang panjang itu intensitas nyerinya dapat menyusut dan mengembang
dari jam ke jam. Frekuensi nyeri akan dilaporkan setiap hari, ters menerus dan tak
pernah bebas nyeri kepala, pola temporalnya disebut pola undulasi (bergelombang),
dimana nyeri menetap kontinyu, periodisitasnya tak jelas dan awitannya tidak
paroksismal.11
Selain itu juga ada gelaja lain pada nyeri kepala tegang otot ini yaitu:11
- Fotofobia ringan namun konstan, mendorong penderita memakai kacamata hitam
walaupun hari mendung.
- Gejala-gejala GI : nausea pada pagi hari, Vomitus (jarang), sendawa belebihan dan
mengeluarkan flatus.
- Hiperventilitas, gangguan konsentrasi, kurang minat dalam bekerja dan melakukan
hobi, Gejala-gejala ini dapat ditafsirkan sebagai sindrom cemas (anxietas).
- Rasa nyeri di dada kiri, di punggung dan region koksigeus. Rasa nyeri ini
bersamaan gejala GI dan Gejala psikosomatik lainnya dapat ditafsirkan sebagai
sindrom depresi.
Banyak penderita yang mengalami nyeri kepala tegang otot walaupun tak ada
stress emosional yang berat. Pada nyeri kepala yang sudah berlangsung lama, faktor
pencetus bisa juga berlaku sebagai faktor yang memperberat sehingga akan
menambah intensitas nyerinya. Gerakan-gerakan pada jurusan tertentu dapat
memperberat nyerinya.11
Pada tension headache biasanya tidak ditemukan kelainan organik, anemia
sedang dan tekanan darah sistemik yang sedikit tinggi atau rendah tidak relevan bagi
tension headache, yang menonjol adalah unsur fobia berupa sakit kepala kalau
melihat orang banyak, sakit kepala kalau berada ditempat yang tinggi atau sakit
kepala kalau naik lift, jenis fobia yang diproyeksikan dalam keluhan adalah agorafia

19
(fobia terhadap tempat yang luas dan ramai), akrofobia (fobia terhadap kecuraman),
klustrofobia (fobia terhadap ruang yang sempit). Tension headache yang diwarnai
dengan unsur histerik adalah klavus histerik yaitu sakit kepala yang terpusat pada
kalvarium. Sakit kepala semacam ini hampir selalu disertai gejala globus histerikus
yaitu perasaan seolah-olah tenggorokan dicekik atau kerongkongan tersumbat.11
Nyeri kepala tension headache bisa berupa suatu aktivitas yang dapat
menyebabkan kepala berada pada 1 posisi dalam jangka waktu lama tanpa bergerak,
sehingga menyebabkan sakit kepala, aktivitas tersebut meliputi pengetikan atau
penggunaan computer, pekerjaan halus dengan tangan dan penggunaan mikroskop.
Tidur di dalam suatu ruangan yang dingin atau tidur dengan posisi leher yang salah
dapat mencetuskan sakit kepala jenis ini.8

3.7. Diagnosis
Tidak ada tes khusus untuk menegakkan diagnosis TTH. Penderita yang
mempunyai riwayat pengobatan dan melakukan pemeriksaan fisik termasuk evaluasi
neurological yang cermat dapat membantu menegakkan diagnosis. Diagnosis pasti
dapat ditentukan dari anamnesa, riwayat medis dan pemeriksaan fisik.

3.8. Penatalaksanaan
Pada nyeri kepala tension headache penatalaksanaan yang dilakukan adalah
sebagai berikut:6,7

1. Terapi psikofisiologis

Terapi ini dapat berupa terapi relaksasi, program untuk mengatasi stres, serta
tehnik ayap balik hayati (biofeedback). Dengan modalitas terapi tersebut, frekuensi
tension headache serta beratnya penyakit dapat berkurang. Strategi pengelolaan stress
mungkin sangat menolong pada tension headache. Perubahan cara hidup mungkin
diperlukan untuk nyeri kepala tension headache kronik. Cara tersebut meliputi

20
istirahat yang cukup dan latihan, perubahan dalam pekerjaan atau kebiasaan relaksasi
ataupun perubahan yang lain
2. Fisioterapi

Terapi ini berupa latihan pengendoran otot-otot, misalnya latihan relaksasi,


yoga, semedi, diatermi, kompres hangat, TENS (Transcutaneus electrical nerve
stimulation) ataupun terapi akupuntur. Terapi fisik dan teknik relaksasi ini dapat
memberikan keuntungan pada kasus-kasus khusus.
3. Farmakoterapi

Terdiri atas terapi abortif yang bertujuan untuk menghentikan atau


mengurangi serangan penyakit pada tension headache tipe episodik, serta terapi
pencegahan/preventif untuk terapi jangka panjang yang bermanfaat pada tension
headache kronik, namun dapat juga digunakan pada tension headache tipe episodik.
Obata-obatan yang dapat digunakan pada pengobatan tension headache yaitu :

a. Analgetikum /Non Streoid Anti Infalammatory Drugs (NSAIDs), dapat


menghilangkan rasa nyeri kepala ringan dan sedang, bila sebelumnya diberi obat
yang memacu gastrointestinal. Obat-obat yang dapat digunakan yaitu :

Asam Asetilsalisilat 500 mg tablet dengan dosis 1500 mg/hr


Metampiron 500 mg tablet dengan dosis 1500 mg/hr
Glafein 200 mg tablet dengan dosis 600-1200 mg/hr
Asam Mefenamat 250-500 mg tablet dengan dosis 750-1500 mg/hr
Ibuprofen 400-800 mg tablet dengan dosis < 2400 mg/hr
b. Hipnotik-sedatif/antiansietas. Kerjanya terutama merupakan potensiasi inhibisi
neuron dengan asam gamma-aminobutirat (GABA) sebagai mediator. Efek
sampingnya berupa inkoordinasi motorik, ataksia, gangguan fungsi mental dan
psikomotor, gangguan koordinator berpikir, bingung, disartria, mulut kering dan rasa
pahit. Obat-obat yang dapat digunakan yaitu :
Klordiazepoksid 5 mg tablet dengan dosis 15-30 mg/hr

21
Klobazam 10 mg tablet dengan dosis 20-30 mg/hr
Lorazepam 1-2 mg tablet dengan dosis 3-6 mg/hr
Diazepam 2-5 mg tablet dengan dosis 2-10 mg/hr
c. Antidepresan. Cara kerjanya dengan memblokade pengambilan kembali
noradrenalin dan memblokade aktivitas kolinergik, adrenergik, dan reseptor histamin.
Efek sampingnya adalah mengantuk, mulut kering, mata kabur dan sukar berak.
Obat-obatan yang dapat digunakan misalnya :
Amitriptilin 10/25 mg tablet dengan dosis 150-300mg/hr
Maprotiline 25/50/75 mg tablet dengan dosis 25-75 mg/hr
Amineptine 100 mg tablet dengan dosis 200 mg/hr
d. Antagonis serotonin, sebaiknya diberikan dalam bentuk sediaan injeksi atau spray
nasal, jika pemberian oral tidak memungkinan saat ada gejala mual atau muntah.
Golongan obat ini bekerja dengan cara meningkatkan kadar neurotransmitter
serotonin di otak. Obat yang digunakan yaitu :
Metysergid 2 mg tablet dengan dosis 4-6 mg/hr
Sumatriptan 100 mg tablet dengan dosis 300 mg/hr
Fluoksetin 10 mg tablet dengan dosis maksimal 60 mg/hr
e. Agonis selektif reseptor 2, obat yang digunakan yaitu tizanidin. Cara kerjanya
adalah dengan mencegah mengecilnya dan melebarnya pembuluh darah secara
abnormal. Bekerja pada rangsangan sentral neuron-neuron penghambat. Efek
sampingnya adalah mengantuk, mulut kering dan depresi. Beberapa penelitian
menyatakan bahwa tizanidin ternyata efikasius, aman dan dapat ditoleransi pada
terapi profilaksis nyeri kepala harian.
Serangan akut berespon terhadap aspirin dan obat AINS lainnya seperti asam
asetilsalisilat, metampiron maupun asam mefenamat. Untuk tindakan profilaksis
diberikan pengobatan amitriptilin, atau pemberian kembali inhibitor selektif serotonin
dan tizanidin sangat berguna dalam beberapa kasus. Meski banyak pasien berespon

22
terhadap benzodiazepin seperti diazepam, obat-obat ini harus dibatasi penggunaannya
karena memiliki potensi adiktif.
Selain ketiga jenis terapi diatas adapula cara-cara lain yang bisa digunakan
untuk meredakan nyeri pada tension headache, diantaranya yaitu:
1. Botulinum toksin A (BTX A), adalah obat yang poten untuk beberapa penyakit
berat yang berhubungan dengan kenaikan tonus otot. Meskipun mekanismenya belum
diketahui secara pasti, diduga BTX A mempunyai target menurunkan Substance P,
dan sebagai relaksan otot.
2. Injeksi dengan anastesi lokal, misalnya injeksi prokain, prokain-kofein kompleks,
lidokain dan lain-lain, atau yang lebih dikenal dengan istilah injeksi trigger point,
yang juga membantu mempercepat penyembuhan.

3.9. Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan pada nyeri kepala Tension Headache ini dapat
berupa teknik relaksasi pencegahan dan penghindaran situasi stress. Pada beberapa
orang, suatu pengobatan sehari dapat membantu, secara khas dapat digunakan
Trisiklik antidepresan, bahkan untuk orang-orang tanpa depresi.5
Pencegahan lain meliputi penggunaan bantal yang berbeda atau mengubah
posisi tidur, posisi saat membaca harus benar, saat bekerja atau melakukan aktivitas
lain yang dapat menyebabkan sakit kepala. Latihan leher dan bahu harus sering
terutama saat mengetik, menggunakan computer atau pekerjaan lain. Selain itu juga
harus cukup tidur dan istirahat atau pemijitan otot dapat mengurangi sakit kepala.
Mandi atau berendam air panas/dingin dapat membebaskan sakit kepala untuk
sebagian orang.10
Nyeri kepala Tegang Tension Headache dapat berkurang atau membaik
dengan beberapa cara antara lain:11
- Obat vasodilator
- Obat analgetik
- Kombinasi Kafein-analgetik

23
- Relaksasi dan masage tengkuk
- Relaksasi volunter pada otot kering dan mandibula

3.10. Prognosis
Prognosis dari Tension Headache umumnya memberikan respon yang baik
terhadap pengobatan tanpa pengaruh efek sisa.11

24
BAB IV
ANALISIS KASUS
Seorang wanita berusia 22 tahun datang ke poliklinik neurologi dengan keluhan
sejak 5 hari yang lalu penderita mengalami sakit kepala yang terasa seperti ditekan
dan diikat, nyeri dirasakan disemua bagian kepala dan terasa berat terutama didaerah
kepala belakang dan tengkuk. Nyeri dirasakan terus menerus kurang lebih selama 4
jam. Nyeri kepala mucul secara tiba tiba ketika pasien sedang tertidur yang membuat
pasien terbangun dari tidurnya, pasien tidak mengonsumsi obat apapun untuk
mengurangi nyerinya. Nyeri berkurang ketika pasien menekan nekan kepala. Nyeri
ini kemudian hilang dan dirasakan kembali keesokan harinya. Pasien mengaku dalam
satu minggu ini sudah 4 kali mengalami serangan.
Saat serangan mual ada, fotofobia ada, muntah tidak ada, tidak disertai keringat
dingin, telinga berdenging tidak ada, gangguan pendengaran tidak ada, pandangan
gelap tidak ada, penglihatan ganda tidak ada, kejang tidak ada, kelemahan sesisi
tubuh tidak ada, bicara pelo dan muka mengot tidak ada, gangguan sensibilitas tidak
ada, penderita dapat memahami isi pikiran orang lain dan dapat mengungkapkan isi
pikirannya baik secara lisan, tulisan, maupun isyarat. Pasien sedang tidak menstruasi
dan nyeri kepala tidak tergantung siklus menstruasi. Pasien mengaku akan
menghadapi ujian stase dan mengaku sudah 2 hari ini kurang tidur, dan juga sering
mengonsumsi coklat dan kopi akhir-akhir ini.
Riwayat sakit kepala seperti ini sudah ada sejak 5 tahun yang lalu dan selalu
hilang timbul. Nyeri kepala dapat dirasakan 4 kali dalam seminggu, pasien belom
pernah berobat dan tidak pernah mengonsumsi obat. Riwayat sakit telinga disertai
keluar cairan dari telinga tidak ada, riwayat trauma kepala tidak ada, riwayat operasi
telinga tidak ada, riwayat demam tidk ada, riwayat hipertensi tidak ada, riwayat
diabetes mellitus tidak ada.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, GCS 15
(E4M6V5), TD 110/70 mmHg, HR 72 x/menit, RR 18 x/menit, T 36,6C, gizi

25
baik(BB 52 kg, TB 158 cm). Keadaan spesifik kepala terdapat nyeri tekan, leher,
thoraks, abdomen, dan ekstremitas dalam batas normal. Pada pemeriksaan neurologis
dalam batas normal. N.craniales lainnya dalam batas normal. Fungsi motorik,
sensorik, vegetatif, dan fungsi luhur tidak ada kelainan. Tidak terdapat gejala
rangsang meningeal maupun gerakan abnormal. Pemeriksaan gait dan keseimbangan
dalam batas normal.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan adanya nyeri kepala seperti
ditekan dan diikat yang dirasakan secara tiba-tiba diseluruh kepala dan tanpa adanya
pencetus, nyeri dirasakan kurang lebih selama 4 jam, saat serangan pasien merasakan
mual dan terdapat fotofobia tanpa adanya gejala deficit neurologis lainnya. Keluhan
ini dirasakan kurang lebih 4 kali dalam seminggu dan telah berlangsung selama 5
tahun. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat ditegakan diagnose bahwa
penderita menderita sefalgia primer tipe tension headache. Tension headache harus
dapat dibedakan dengan sefalgia primer lainnya.
Tatalaksana pada tension headache diberikan analgetik untuk mengurangi
nyerinya dan penenang untuk memberikan efek relaksasi karena pada tension
headache penyebab paling sering adalah stress. Pada pasien ini diberikan paracetamol
dan natrium diklofenak sebagai analgetik dan dikombinasi dengan amitriptilin
sebagai penenangnya dan ditambahkan dengan neurodex sebagai vitamin. Selain itu
untuk pencegahannya dibutuhkan adanya relaksasi dan psikoterapi.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Harsono. Buku ajar Neurologi Klinis. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf


Indonesia. Jakarta: Gajah Mada University Press; 2005: pp. 285-8
2. World Health Organization. Headache Disorder. (Online) 2004. Available
from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs277/en/
3. Wibowo, Samekto dan Abdul Gofir. Farmakoterapi dalam Neurologi.
Salemba Medika, Jakarta; 2001.h.108-111

4. A.A.Bgs.Ngr.Nuartha, Harsono et al. Kapita Selekta Neurologi Edisi Kedua.


Gajah Mada University Press, Yogyakarta; 1996.h.243-244

5. Singh, Manish K. Muscle Contraction Tension Headache.


http://emedicine.com// Diakses pada tanggal 1 September 2017

6. Bendtsen L. Central Sensitization in Tension type Headache-Possible


Pathophysiological Mechanisms. Cephalalgia 2000;20:486-508

7. Bolay H, Moskowitz MA. Mechanism of Pain Modulation in Chronic


Syndromes. Neurology 2002;59:52-57

8. Hadinoto S. Simposium Nyeri Kepala dan Sindrom Nyeri Lain yang


Berhubungan. Edisi Pertama. Penerbit : Panitia Simposium Nyeri Kepala
IDASI Cabang Semarang. Semarang. 1987

9. Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Dian Rakyat,


Jakarta; 1999.h.17-21

10. Sinta, Meta, Tony Handoko, Sardjono, Freddy W, FD Suyatna, Udin S et al.
Farmakologi dan Terapi Edisi 4. FKUI. Jakarta; 2001.h.109-270

11. Dodick, David W. Chronic Daily Headache. NEJM 2006:354:2:158-165

27