Anda di halaman 1dari 7

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok merupakan kejadian penting yang mendorong percepatan proklamasi


kemerdekaan Indonesia. Kejadian ini juga menunjukkan konflik dan perbedaan pendapat
antarkelompok, terutama golongan tua dan golongan muda dalam menentukan waktu proklamasi.
Namun, konflik tersebut berakhir dengan sikap saling menghargai di antara mereka. Tanpa peran
golongan muda, Indonesia mungkin belum memproklamasikan secepat itu. Hal itu menunjukkan
bahwa para pemuda Indonesia mampu merespon keadaan secara sigap. Para pemuda pun tetap
menghormati golongan tua, dengan tetap memerhatikan para tokoh yang perlu dihormati.

Para pemuda berpendapat bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan oleh
kekuatan bangsa sendiri, bukan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Menurut
mereka, PPKI adalah buatan Jepang setelah mendengar Jepang menyerah kepada sekutu, Sutan
Syahrir yang merupakan tokoh pemuda segera menemui Moh. Hatta di kediamannya. Syahrir
mendesak agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta yang dapat disebut golongan tua belum bersedia.
Mereka yakin bahwa bagaimanapun Indonesia tidak lagi tetap akan merdeka.

Pada Rabu, 15 Agustus 1945 sekitar jam 20.00, para pemuda mengadakan pertemuan di sebuah
ruangan di belakang Laboratorium Biologi Pegangsaan Timur 17 (sekarang FKM UI). Pertemuan
dihadiri oleh Chaerul Saleh, Darwis, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Aidit
Sunyoto, Abubakar, E. Sudewo, Wikana, dan Armansyah.

Pertemuan yang dipimpin Chairul Saleh tersebut memutuskan bahwa "kemerdekaan Indonesia
adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantung-gantungkan pada orang atau
kerajaan lain. Untuk menyatakan bahwa Indonesia sudah sanggup merdeka, dan sudah tiba saat
merdeka, baik menurut keadaan atau kodrat maupun histroris. Dan jalannya hanya satu, yaitu:
dengan proklamasi kemerdekaan oleh bangsa Indonesia sendiri, lepas dari bangsa asing, bangsa
apapun juga". Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan.
Sebaliknya diharapkan diadakannya perundingan dengan Soekarno dan Hatta agar mereka
diikutsertakan menyatakan Proklamasi mengingat usaha Sutan Syahrir belum berhasil.

Untuk menyampaikan hasil putusan Perundingan Pegangsaan ini kepada Soekarno, maka pada
pukul 22.00 Wikana dan Darwis datang ke rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56. Namun
Soekarno tetap pada pendiriannya bahwa Jepang masih berkuasa secara de facto. Soekarno bahkan
mengingatkan bahwa musuh mereka bukan lagi Jepang, tetapi Belanda yang pasti segera datang
setelah Jepang menyerah. Akhirnya pada pukul 24.00 para pemuda meninggalkan kediaman
Soekarno. Akibat perbedaan tersebut, maka terjadilah peristiwa Rengasdengklok.

Mereka langsung mengadakan pertemuan di Jl. Cikini 71 Jakarta (seperti Sukarni, Yusuf Kunto,
Chairul Saleh, dan Shodanco Singgih). Rapat memutuskan, seperti diusulkan Djohar Nur, "Segera
bertindak, Bung Karno dan Bung Hatta harus kita angkat dari rumah masing-masing" . Chaerul Saleh
yang memimpin rapat, menegaskannya sebagai keputusan rapat dengan berkata, "Bung Karno dan
Bung Hatta kita angkat saja. Selamatkan mereka dari tangan Jepang dan laksanakan Proklamasi
tanggal 16 Agustus 1945." Rencana mengamankan Sukarno dan Moh. Hatta pun
disepakati. Shodanco Singgih ditunjuk untuk memimpin pelaksanaan rencana tersebut.

Kronologis Peristiwa Rengasdengklok

Pada dinihari sekitar pukul 03.00 itu terjadilah sepeti yang mereka rencanakan. Peristiwa ini
kemudian terkenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok. Segera kelompok yang diberi tugas
mengamankan Soekarno melaksanakan tugasnya. Singgih meminta Bung Karno ikut kelompok
Pemuda malam itu juga. Bung Karno tidak menolak keingingan para pemuda dan minta agar
Fatmawati, Guntur (waktu itu berusia sekitar delapan bulan) serta Moh. Hatta ikut serta. Menjelang
subuh (sekitar 04.00) tanggal 16 Agustus 1945 mereka segera menuju Rengasdengklok. Perjalanan
ke Rengasdengklok dengan pengawalan tentara Peta dilakukan sesudah makan sahur, sebab waktu
itu memang bulan Puasa.
Para pemuda memilih Rengasdengklok sebagai tempat membawa Soekarno dan Moh. Hatta dengan
pertimbangan bahwa daerah itu relatif aman. Hal itu karena ada Daidan Peta di Rengasdengklok
yang hubungannya sangat baik dengan Daidan Jakarta. Para pemuda menyadari Soekarno dan Moh.
Hatta adalah tokoh penting sehingga keselamatannya harus dijaga. Jarak Rengasdengklok, sekitar
15 km dari Kedunggede, Kerawang. Sesampainya di Rengasdengklok, Sukarno dan Rombongan
ditempatkan di rumah seorang keturunan Tionghoa Djiaw Kie Siong. Beliau adalah seorang petani
kecil keturunan Tionghoa yang merelakan rumahnya ditempati oleh para tokoh pergerakan tersebut.
Rumah Djiaw Kie Siong berlokasi di RT 001/09 Nomor 41 Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan
Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Para pemuda berharap tanggal 16 Agustus 1945 itu Bung Karno dan Bung Hatta bersedia
menyatakan Proklamasi Kemerdekaan. Ternyata Sukarno tetap pada pendiriannya. Soekarno tidak
memenuhi ultimatum para pemuda yang menginginkan proklamasi kemerdekaan tanggal 16 Agustus.
Namun, para pemuda inipun tidak memaksakan kehendak. Mereka mengamankan kedua tokoh itu
agar bisa berdiskusi secara lebih bebas, dan sedikit memberikan tekanan tanpa bermaksud menyakiti
kedua tokoh.

Pada 16 Agustus 1945 semestinya diadakan pertemuan PPKI di Jakarta, tetapi Soekarno dan Moh.
Hatta tidak ada di tempat. Ahmad Subarjo segera mencari kedua tokoh tersebut. Setelah
bertemu Yusuf Kunto dan kemudian Wekana terjadilah kesepakatan, Ahmad Subarjo diantara ke
Rengasdengklok oleh Yusuf Kunto. Mereka tiba di Rengasdengklok pukul 17.30 WIB. Kemudian
Ahmad Subarjo berbicara kepada para pemuda dan memberikan jaminan, bahwa proklamasi akan
dilaksanakan tanggal 17 Agustus sebelum pukul 12.00. Akhirnya Shodanco Subeno mewakili para
pemuda melepas Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan rombongan kembali ke Jakarta,
maka berakhirlah Peristiwa Rengasdengklok.
PERUMUSAN TEKS PROKLAMASI KEMERDEKAAN
INDONESIA
Rombongan tiba kembali di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa. Setelah Sukarno dan Hatta singgah di
rumah masing-masing rombongan kemudian menuju ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol
No. 1, Jakarta (sekarang Perpustakaan Nasional). Hal itu juga disebabkan Laksamana Tadashi Maeda
telah menyampaikan kepada Ahmad Subardjo (sebagai salah satu pekerja di kantor Laksamana Maeda)
bahwa ia menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya.

Sebelum mereka memulai merumuskan naskah proklamasi, terlebih dahulu Sukarno dan Hatta menemui
Somubuco (Kepala Pemerintahan Umum) Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya
mengenai Proklamasi Kemerdekaan. Mereka ditemani oleh Laksamana Maeda, Shigetada Nishijima dan
Tomegoro Yoshizumi serta Miyoshi sebagai penterjemah. Pertemuan itu tidak mencapai kata sepakat.
Nishimura menegaskan bahwa garis kebijakan Panglima Tentara Keenambelas di Jawa adalah dengan
menyerahnya Jepang kepada sekutu berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi
merubah status quo (status politik Indonesia).

Sejak tengah hari sebelumnya tentara Jepang semata-mata sudah merupakan alat Sekutu dan
diharuskan tunduk kepada sekutu. Berdasarkan garis kebijakan itu Nishimura melarang Sukarno-Hatta
untuk mengadakan rapat PPKI dalam rangka proklamasi kemerdekaan.

Sampailah Sukarno-Hatta pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi membicarakan kemerdekaan
Indonesia dengan pihak Jepang. Akhirnya mereka hanya mengharapkan pihak Jepang tidak
menghalang-halangi pelaksanaan proklamasi yang akan dilaksanakan oleh rakyat Indonesia sendiri.

Maka mereka kembali ke rumah Laksamana Maeda. Sebagai tuan rumah Maeda mengundurkan diri ke
lantai dua. Sedangkan di ruang makan, naskah proklamasi dirumuskan oleh tiga tokoh golongan tua,
yaitu : Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta dan Mr. Ahmad Subardjo. Peristiwa ini disaksikan oleh Miyoshi
sebagai orang kepercayaan Nishimura, bersama dengan tiga orang tokoh pemuda lainnya, yaitu :
Sukarni, Mbah Diro dan B.M. Diah. Sementara itu tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan muda maupun
golongan tua menunggu di serambi muka.

Ir. Sukarno yang menuliskan konsep naskah proklamasi, sedangkan Drs. Moh. Hatta dan Mr Ahmad
Subardjo menyumbangkan pikiran secara lisan. Kalimat pertama dari naskah proklamasi merupakan
saran dari Mr. Ahmad Subardjo yang diambil dari rumusan BPUPKI. Sedangkan kalimat terakhir
merupakan sumbangan pikiran dari Drs. Moh. Hatta. Hal itu disebabkan menurut beliau perlu adanya
tambahan pernyataan pengalihan kekuasaan (transfer of sovereignty). Sehingga naskah proklamasi
yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.


Hal-2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselengarakan dengan tjara seksama dan dalam
tempoh jang sesingkat-singkatnja

Djakarta, 17 8 05

Wakil-2 bangsa Indonesia,

Pada pukul 04.30 waktu Jawa konsep naskah proklamasi selesai disusun. Selanjutnya mereka menuju
ke serambi muka menemui para hadirin yang menunggu. Ir. Sukarno memulai membuka pertemuan
dengan membacakan naskah proklamasi yang masih merupakan konsep tersebut. Ir. Sukarno meminta
kepada semua hadirin untuk menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia.
Pendapat itu diperkuat oleh Moh. Hatta dengan mengambil contoh naskah Declaration of
Independence dari Amerika Serikat. Usulan tersebut ditentang oleh tokoh-tokoh pemuda. Karena
mereka beranggapan bahwa sebagian tokoh-tokoh tua yang hadir adalah budak-budak Jepang.
Selanjutnya Sukarni, salah satu tokoh golongan muda, mengusulkan agar yang menandatangani naskah
proklamasi cukup Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Setelah usulan Sukarni itu disetujui, maka Ir. Sukarno meminta kepada Sajuti Melik untuk mengetik
naskah tulisan tangan Sukarno tersebut, dengan disertai perubahan-perubahan yang telah disepakati.
Ada tiga perubahan yang terdapat pada naskah ketikan Sajuti Melik, yaitu : kata tempoh diganti
tempo, sedangkan kata wakil-wakil bangsa Indonesia diganti dengan Atas nama bangsa Indonesia.
Perubahan juga dilakukan dalam cara menuliskan tanggal, yaitu Djakarta, 17-8-05 menjadi Djakarta,
hari 17 boelan 8 tahoen 05. Sehingga naskah proklamasi ketikan Sajuti Melik itu, adalah sebagai
berikut :

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselengarakan dengan tjara seksama dan dalam
tempoh jang sesingkat-singkatnja

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia,

Soekarno/Hatta

(tandatangan Sukarno)

(tandatangan Hatta)

Selanjutnya timbul persoalan dimanakah proklamasi akan diselenggarakan. Sukarni mengusulkan bahwa
Lapangan Ikada (sekarang bagian tenggara lapangan Monumen Nasional) telah dipersiapkan bagi
berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengar pembacaan naskah Proklamasi. Namun Ir. Sukarno
menganggap lapangan Ikada adalah salah satu lapangan umum yang dapat menimbulkan bentrokan
antara rakyat dengan pihak militer Jepang. Oleh karena itu Bung Karno mengusulkan agar upacara
proklamasi dilaksanakan di rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 dan disetujui oleh para hadirin.
Pembacaan Proklamasi pukul 10.00 pagi - Hari Jumat pada bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi,
fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi tetap menggelantung di tepian daun.
Para pemimpin bangsa serta para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan
diliputi kebanggaan seusai merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk
memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan
Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta pernah beramanat terhadap para pemuda
yang bekerja pada pers serta kantor-kantor kabar, untuk mempertidak sedikit naskah proklamasi
serta menyebarkannya ke seluruh dunia. Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana
di Jalan Pegangsaan Timur 56 lumayan sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan terhadap
Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan semacam mikrofon serta berbagai
pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan terhadap S. Suhud untuk mempersiapkan satu
tiang bendera. Sebab situasi yang tegang, Suhud tak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, tetap
ada dua tiang bendera dari logam yang tak dipakai. Malahan ia mencari sebatang bambu yang
berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan serta diberi tali. Lalu ditanam berbagai langkah
saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno
telah disiapkan. Bentuk serta ukuran bendera itu tak standar, sebab kainnya berkapasitas tak
sempurna. Terbukti, kain itu awalnya tak disiapkan untuk bendera.

Sementara itu, rakyat yang telah mengenal bakal dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah
berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda serta rakyat yang berbaris
teratur. Berbagai orang tampak gelisah, khawatir bakal adanya pengacauan dari pihak Jepang.
Matahari terus tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya
panas dingin terus menerus serta baru tidur seusai berakhir merumuskan teks Proklamasi. Para
undangan telah tak sedikit berdatangan, rakyat yang telah menantikan sejak pagi, mulai tak sabar
lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang bercita-cita keras supaya Proklamasi segera diperbuat.
Para pemuda yang tak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks
Proklamasi. Tetapi, Bung Karno tak mau membacakan teks Proklamasi tanpa keberadaan
Mohammad Hatta. Lima menit sebelum agenda dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian
putih-putih serta langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad
Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-
putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.
Upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berjalan sederhana saja. Tanpa protokol. Latief
Hendraningrat, salah seorang anak buah PETA, segera memberi instruksi terhadap seluruh barisan
pemuda yang telah menantikan sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap
sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno serta Mohammad Hatta maju berbagai
langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap serta jelas, Soekarno mengucapkan pidato
pendahuluan pendek sebelum membacakan teks proklamasi.

"Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan sebuahmomen maha
penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kami bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan
tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kami untuk mencapai kemerdekaan kami
itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kami tetap menuju ke arah impian. Juga di dalam jaman Jepang,
usaha kami untuk mencapai kemerdekaan nasional tak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja
kami menyandarkan diri terhadap mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kami menyusun tenaga kami sendiri.
Tetap kami percaya pada kekuatan sendiri. Kini tibalah saatnya kami sangatlah mengambil hidup bangsa serta
hidup tanah air kami di dalam tangan kami sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil hidup dalam
tangan sendiri, bakal bisa berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah
dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata
berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyebutkan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyebutkan kebulatan aspirasi itu. Dengarkanlah Proklamasi kami:
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyebutkan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal yang tentang pemindahan
kekuasaan serta lain-lain, diselenggarakan dengan tutorial akurat serta dalam tempo yang sesingkat-
singkatnya.
Jakarta , 17 Agustus 1945.
Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kami kini telah merdeka. Tak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air
kami serta bangsa kita! Mulai saat ini kami menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik
Indonesia merdeka, kekal, serta abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kami itu".
Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno serta Hatta maju berbagai
langkah menuruni anak tangga terbaru dari serambi muka, lebih tak lebih dua meter di depan tiang.
Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dirinya menolak: " lebih baik seorang
prajurit ," katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA
berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang
telah disediakan serta mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.
Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan
menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan lambat sekali, untuk menyesuaikan
dengan irama lagu Indonesia Raya yang lumayan panjang. Seusai pengibaran bendera, dilanjutkan
dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo serta dr. Muwardi.
Seusai upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, Sepasukan barisan pelopor yang berjumlah
tak lebih lebih 100 orang di bawah ceo S. Brata, memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka
datang telat. Dengan suara lantang penuh sedih S. Brata meminta supaya Bung Karno
membacakan Proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu Bung Karno tak hingga hati, ia
keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia membahas bahwa Proklamasi hanya diucapkan
satu kali serta berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar keterangan itu Brata belum merasa puas,
ia meminta supaya Bung Karno memberi amanat singkat. Hari ini permintaannya dipenuhi. Berakhir
upacara itu rakyat tetap belum mau beranjak, berbagai anak buah Barisan Pelopor tetap duduk-
duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.
Tidak lama seusai Bung Hatta pulang, datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan
menantikan di ruang belakang, tanpa diberi kursi. Sudiro telah bisa menerka, untuk apa mereka
datang. Para anak buah Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno telah menggunakan
piyama ketika Sudiro masuk, jadi terpaksa berpakaian lagi. Kemudian terjadi obrolan antara utusan
Jepang dengan Bung Karno: " Kami diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang
Soekarno mengucapkan Proklamasi ." " Proklamasi telah saya ucapkan," jawab Bung Karno dengan
tenang. " Telahkah ?" tanya utusan Jepang itu keheranan. " Ya, telah !" jawab Bung Karno. Di
sekeliling utusan Jepang itu, mata para pemuda melotot serta tangan mereka telah diletakkan di
atas golok masing-masing. Menonton kondisi semacam itu, orang-orang Jepang itu pun segera
pamit. Sementara itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Sebab dicekam
suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan momen itu. Untung
ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film).
Jadi dari seluruh momen bersejarah itu, dokumentasinya hanya ada tiga; yakni sewaktu Bung Karno
membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran bendera, serta sebagian gambar hadirin
yang menyaksikan momen itu.[gs]
Adapun Makna Proklamasi Kemerdekaan Bagi
Bangsa Indonesia Yaitu :
1. Jika kita lihat dari sudut pandang hukum, proklamasi merupakan sebuah pernyataan yang berisi tentang
keputusan Negara Indonesia untuk membuat atau menetapkan aturan hukum nasional Indonesia dan
menghapus arturan hukum kolonial.
2. Jika dilihat dari sudut pandang politik ideologis, proklamasi merupakan sebuah pernyataan negara Indonesia
yang melepaskan diri dari penjajahan dan membuat atau membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang merdeka,bebas, dan berdaulat.
3. Proklamasi juga merupakan puncak dari perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai dan memperjuangkan
kemerdekaan.
4. Proklamasi juga menjadi sebuah alat hukum internasional untuk menyatakan kepada seluruh rakyat
indonesia dan seluruh dunia, bahwa Indonesia dapat mengambil nasibnya ke dalam tangannya sendiri untuk
memegang seluruh hak kemerdekaan.
5. Proklamasi merupakan sebuah lampu mercusuar yang selalu menunjukkan jalannya sebuah sejarah,
memberikan inspirasi, dan banyak motivasi motivasi dari perjalanan bangsa Indonesia di segala keadaan.