Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga kami berhasil menyelesaikan
Makalah ini dalam bentuk dan isi yang sangat sederhana.
Salam dan salawat semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah SAW,
dimana beliau adalah sosok yang sangat dimuliakan dan dirindukan oleh seluruh
umatnya, penulis sampaikan terima kasih kepada dosen dan rekan-rekan yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini.
penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
penulis harapkan demi kesempurnaan makalah yang akan penuis buat selanjutnya.

Mataram , September
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Ruang lingkup masalah
1.3 Tujuan penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Omfalokel
2.2 Etiologi Omfalokel
2.3 Fatofisiologis Omfalokel
2.4 Diagnosa Omfalokel
2.5 Klarifikasi Omfalokel
2.6 Komposisi Omfalokel
2.7 Penatalaksanaan Omfalokel

BAB III PENUTUP


1.Kesimpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah-masalah yang terjadi pada bayi baru lahir yang diakibatkan oleh
tindakan-tindakan yang dilakukan pada saat persalinan sangatlah beragam.
Trauma akibat tindakan, cara persalinan atau gangguan kelainan fisiologik
persalinan yang sering kita sebut sebagai cedera atau trauma lahir. Partus yang
lama akan menyebabkan adanya tekanan tulang pelvis. Kebanyakan cedera lahir
ini akan menghilang sendiri dengan perawatan yang baik dan adekuat.
Keberhasilan penatalaksanaan kasus kelainan bayi dan anak tergantung
dari pengetahuan dasar dan penentuan diagnosis dini, persiapan praoperasi,
tindakan anestesi dan pembedahan serta perawatan pasca operasi. Penatalaksanaan
perioperatif yang baik akan meningkatkan keberhasilan penanganan kelainan bayi
dan anak.
B. Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup pembahasan yang akan dibahas yaitu mengenai penonjolan
dari usus pada bayi baru lahir atau biasa disebut omfalokel.
C. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu mempelajari dan melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi
lahir dengan trauma lahir.
2. Untuk mengingatkan kita kembali, untuk semaksimal mungkin melakukan
penatalaksanaan serta menurunkan morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak.
D. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Ruang Lingkup Masalah
C. Tujuan Penulisan
D. Metodologi Penulisan
E. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Uraian materi
BAB III PEMBAHASAN
A. Pengertian Omfalokel
B. Etiologi
C. Tanda dan Gejala Omfalokel
D. Penyebab Terjadinya Ompalokel
E. Penatalaksanaan Omfalokel
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Glosarium
Daftar Pustaka
Lampiran
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Uraian Materi
Omphalokel secara bahasa berasal dari bahasa yunani omphalos yang
berarti umbilicus = tali pusat dan cele yang berarti bentuk hernia. Omphalokel
diartikan sebagai suatu defek sentral dinding abdomen pada daerah cincin
umbilikus (umbilical ring) atau cincin tali pusar sehingga terdapat herniasi organ-
organ abdomen dari cavum abdomen namun masih dilapiasi oleh suatu kantong
atau selaput. Selaput terdiri atas lapisan amnion dan peritoneum. Diantara lapisan
tersebut kadang-kadang terdapat lapisan whartons jelly. Wartons jelly adalah
jaringan mukosa yang merupakan hasil deferensiasi dari jaringan mesenkimal
(mesodermal). Jelly mengandung kaya mukosa dengan sedikit serat dan tidak
mengandung vasa atau nervus.
Menurut Lelin-Okezone pada tahun 2007, omphalocele adalah defek
(kecacatan) pada dinding anterior abdomen pada dasar dari umbilical cord dengan
herniasi dari isi abdomen. Organ-organ yang berherniasi dibungkus oleh
peritoneum parietal. Setelah 10 minggu gestasi, amnion dan Wharton Jelly juga
membungkus massa hernia. Omphalocele adalah kondisi bayi waktu dilahirkan
perut bagian depannya berlubang dan usus hanya dilapisi selaput yang sangat tipis
(dr. Irawan Eko, Spesialis Bedah RSU Kardinah, 2008). Omphalocele berarti
muara tali pusat dan dinding perut tidak menyatu sehingga usus keluar (dr.
Christoffel SpOG (K) RSUPM, 2008). Omphalocele terjadi saat bayi masih dalam
kandungan karena gangguan fisiologis pada sang ibu, dinding dan otot-otot perut
janin tak terbentuk dengan sempurna akibatnya organ pencernaan seperti usus,
hati, tali pusar, serta lainnya tumbuh di luar tubuh. Jenis gastroschisis terjadi
seperti omphalocele. Bedanya posisi tali pusar tetap pada tempatnya (,2008 ,dr
Redmal Sitorus).
Omphalokel dideskripsikan pertama kali oleh seorang ahli bedah Prancis
bernama Ambroise Pare pada tahun 1634. Dia mendeskripsikan omphalokel
secara akurat dan melakukan penatalaksanaan secara konservatif berupa
pemberian agen-agen eskarotik pada permukaan selaput omphalokel uintuk
merangsang epitelisasi. Pendekatan penatalaksanaan tersebut kemudian
menimbulkan beberapa masalah diantaranya memerlukan waktu yang lama,
sehingga membutukan pula nutrisi dan metabolik yang toll. Selaput dapat pula
pecah yang berakibat terjadinya infeksi.
Baru kemudian pada tahun 1948, Robet Gross di Boston memperkenalkan
suatu metode penutupan omphalokel yang besar dan sukses. Dia mendeskripsikan
penutupan omphalokele melalui 2 tahap. Tahap pertama ialah membuat skin flap
untuk melindungi organ-organ abdomen yang mengalami herniasi. Tahap kedua
ialah merepair hernia ventralis.
Schuster pada tahun 1967 kemudian memperkenalkan penggunaan
material prostetik untuk memproteksi organ-organ abdomen selama tahapan
pertama tersebut. Akhirnya pada tahun 1969, Allen dan Wrenn memeperkenalkan
pada suatu teknik Silo, dimana organ-organ abdomen yang mengalami
herniasi ditutup dengan satu lapis silastic yang dilekatkan ke fascia dinding
abdomen. Organorgan abdomen tersebut kemudian dimasukkan secara bartahap
kedalam kavum abdomen melalui progesiv tightening/tekanan manual dalam
beberapa hari. Semenjak penenemuan itulah penutupan defek omphalokel secara
primer dimungkinkan pada masa-masa awal bayi. Sampai saat ini berbagai usaha
dilakukan untuk mendapatkan hasil klinik yang memuaskan. Usaha tersebut
meliputi manajemen prenatal dan postnatal.
Omphalocele suatu keadaan dimana viseral abdominal terdapat di luar
cavum abdomen tetapi masih didalam kantong amnion. Omphalocele dapat
diartikan sebagai kantong bening tidak berpembuluh darah yang terdiri dari
lapisan peritoneum dan lapisan amnion pada pangkal tali pusat. Omfalokel adalah
herniasi sebagian isi intra abdomen melalui cincin umbilikus yang terbuka ke
dalam dasar tali pusat. Ukurannya bervariasi dalam sentimeter, di dalamnya
berisi seluruh midgut, gaster dan hepar. Sekitar 70% kasus, omfalokel
berhubungan dengan kelainan yang lain. Kelainan terbanyak adalah kelainan
kromosom.
Pada perawatan konservatif kendala yang ada adalah perawatan yang
lama, hasil yang meragukan dengan peningkatan risiko infeksi. Sedang pada
pendekatan operatif kendala perlunya reintervensi. Pada omphalocele besar
reparasi dinding abdomen sebaiknya dilakukan pada umur 3-6 bulan. Penderita
omphalocele besar dengan kelainan ganda mempunyai prognosis yang
buruk. Penatalaksanaan secara konservatif menjadi suatu pilihan yang layak
dikemukakan. Adam memberikan rekomendasi penatalaksanaan omphalocele
mayor secara konservatif sebagai pilihan utama
Sudah lama dikenal bahwa omfalokel sering berhubungan dengan kelainan
penyerta lain, hal ini menunjukkan keikutsertaan perkembangan embriologi secara
umum. Kelainan penyerta terjadi antara 30% sampai dengan 70% termasuk
kelainan kromosom, frekwensinya cenderung menurun, kelainan jantung
kongenital, sindrom Beckwith-Wiedemann (bayi dengan besar masa kehamilan,
hiperinsulinisme, viseromegali dari ginjal, glandula suprarenalis dan pancreas,
makroglosia, tumor hepatorenal, ekstrofia kloaka), Pentalogi Cantrell dan
sindrom Prune Belly (tidak tumbuhnya otot dinding abdomen, kelainan
genitourinaria, kriptorcismus). Atresia usus mungkin pula dijumpai dan
diperkirakan sebagai suatu akibat dari iskemia yang ditimbulkan oleh tekanan dari
tepi defek dinding abdomen.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Omfalokel
Omfalokel adalah penonjolan dari usus atau isi perut lainnya melalui akar
pusar yang hanya dilapisi oleh peritoneum (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh
kulit. Omfalokel terjadi pada 1 dari 5.000 kelahiran. Usus terlihat dari luar melalui
selaput peritoneum yang tipis dan transparan (tembus pandang).
Omfalokel (eksomfotos) merupakan suatu cacat umbilicus, tempat usus
besar dan organ abdomen lain dapat menonjol keluar. Ia bisa disertai dengan
kelainan kromosom, yang harus disingkirkan. Cacat dapat bervariasi dan diameter
beberapa centimeter sampai keterlibatan dinding abdomen yang luas. Organ yang
menonjol keluar ditutupi oleh lapisan tipis peritoneum yang mudah terinfeksi.
Rongga abdomen sendiri sangat kecil, sehingga perbaikan bedah bisa sangat sulit
atau tidak mungkin, kecuali bila dinding abdomen yang tersisa cukup dapat
direntang untuk memungkinkan penempatan kembali isi abdomen. Penggantinya,
cacat ini dapat ditutupi dengan bahan sintetis seperti silastic, yang dapat digulung
ke atas, sehingga usus dapat didorong masuk secara bertahap ke dalam rongga
abdomen dalam masa beberapa minggu. (Pincus Eatzel dan Len Roberts. 1995.
Kapita Selekta Pediatri. EGC : Jakarta).
B. Etiologi
Penyebab pasti terjadinya omphalokel belum jelas sampai sekarang.
Beberapa faktor resiko atau faktor-faktor yang berperan menimbulkan terjadinya
omphalokel diantaranya adalah infeksi, penggunaan obat dan rokok pada ibu
hamil, defisiensi asam folat, hipoksia, penggunaan salisilat, kelainan genetik
serta polihidramnion.
Menurut Glasser (2003) ada beberapa penyebab omfalokel, yaitu:
1. Faktor kehamilan dengan resiko tinggi, seperti ibu hamil sakit dan terinfeksi,
penggunaan obat-obatan, merokok dan kelainan genetik. Faktor-faktor tersebut
berperan pada timbulnya insufisiensi plasenta dan lahir pada umur kehamilan
kurang atau bayi prematur, diantaranya bayi dengan gastroschizis dan omfalokel
paling sering dijumpai.
2. Defisiensi asam folat, hipoksia dan salisilat menimbulkan defek dinding
abdomen pada percobaan dengan tikus tetapi kemaknaannya secara klinis masih
sebatas perkiraan. Secara jelas peningkatan MSAFP (Maternal Serum Alfa Feto
Protein) pada pelacakan dengan ultrasonografi memberikan suatu kepastian telah
terjadi kelainan struktural pada fetus. Bila suatu kelainan didapati bersamaan
dengan adanya omfalokel, layak untuk dilakukan amniosintesis guna melacak
kelainan genetik.
3. Polihidramnion, dapat diduga adanya atresia intestinal fetus dan kemungkinan
tersebut harus dilacak dengan USG.
C. Tanda dan Gejala Omfalokel
Omfalokel yaitu hernia umbilikalis inkomplet terdapat waktu lahir ditutup
oleh peritonium, selai Warton dan selaput amnion. Hernia umbilikalis biasanya
tanpa gejala, jarang yang mengeluh nyeri. Banyaknya usus dan organ perut
lainnya yang menonjol pada omfalokel bervariasi, tergantung kepada besarnya
lubang di pusar. Jika lubangnya kecil, mungkin hanya usus yang menonjol, tetapi
jika lubangnya besar, hati juga bisa menonjol melalui lubang tersebut.
D. Penyebab Terjadinya Omfalokel
Omfalokel disebabkan oleh kegagalan alat dalam untuk kembali ke rongga
abdomen pada waktu janin berumur 10 minggu sehingga menyebabkan timbulnya
omfalokel. Kelainan ini dapat terlihat dengan adanya prostrusi (sembilan) dari
kantong yang berisi usus dan visera abdomen melalui defek dinding abdomen
pada umbilicus (umbilicus terlihat menonjol keluar).
Angka kematian tinggi bila omfalokel besar karena kantong dapat pecah
dan terjadi infeksi. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. Editor: Setiawan. Jakarta:
EGC, 1997).
Pada 25-40% bayi yang menderita omfalokel, kelainan ini disertai oleh
kelainan bawaan lainnya, seperti kelainan kromosom, hernia diafragmatika dan
kelainan jantung.
E. Penatalaksanaan Omfalokel
Pengobatan
Omfalokel (eksomfalokel) adalah suatu hernia pada pusat, sehingga isi
perut keluar dan dibungkus suatu kantong peritoneum. Penanganannya adalah
secara operatif dengan menutup lubang pada pusat. Kalau keadaan umum bayi
tidak mengizinkan, isi perut yang keluar dibungkus steril dulu setelah itu baru
dioperasi.
Agar tidak terjadi cedera pada usus dan infeksi perut, segera dilakukan
pembedahan untuk menutup omfalokel. Sebelum dilakukan operasi, bila kantong
belum pecah, harus diberi merkurokrom dan diharapkan akan terjadi penebalan
selaput yang menutupi kantong tersebut sehingga operasi dapat ditunda sampai
beberapa bulan. Sebaiknya operasi dilakukan segera sesudah lahir, tetapi harus
diingat bahwa dengan memasukkan semua isi usus dan otot visera sekaligus ke
rongga abdomen akan menimbulkan tekanan yang mendadak pada paru sehingga
timbul gejala gangguan pernapasan.
Penatalaksanaan prenatal pada ompalokel
Apabila terdiagnosa omphalokel pada masa prenatal maka sebaiknya
dilakukan informed consent pada orang tua tentang keadaan janin, resiko terhadap
ibu, dan prognosis. Informed consent sebaiknya melibatkan ahli kandungan, ahli
anak dan ahli bedah anak. Keputusan akhir dibutuhkan guna perencanaan dan
penatalaksanaan berikutnya berupa melanjutkan kehamilan atau mengakhiri
kehamilan. Bila melanjutkan kehamilan sebaiknya dilakukan observasi melalui
pemeriksaan USG berkala juga ditentukan tempat dan cara melahirkan. Selama
kehamilan omphalokel mungkin berkurang ukurannya atau bahkan ruptur
sehingga mempengaruhi pronosis.
Oak Sanjai (2002) meyebutkan bahwa komplikasi dari partus pervaginam
pada bayi dengan defek dinding abdomen kongenital dapat berupa distokia
dengan kesulitan persalinan dan kerusakan organ abdomen janin termasuk liver.
Walaupun demikian, sampai saat ini persalinan melalui sectio caesar belum
ditentukan sebagai metode terpilih pada janin dengan defek dinding abdomen.
Ascraft (1993) menyatakan bahwa beberapa ahli menganjurkan pengakhiran
kehamilan jika terdiagnosa omphalokel yang besar atau janin memiliki kelainan
konggenital multipel.
Penatalaksanan postnatal (setelah kelahiran)
Penatalaksannan postnatal meliputi penatalaksanaan segera setelah
lahir (immediate postnatal), kelanjutan penatalakasanaan awal apakah berupa
operasi atau nonoperasi (konservatif) dan penatalaksanaan postoperasi. Secara
umum penatalaksanaan bayi dengan omphalokele dan gastroskisis adalah hampir
sama. Bayi sebaiknya dilahirkan atau segera dirujuk ke suatu pusat yang memiliki
fasilitas perawatan intensif neonatus dan bedah anak. Bayi-bayi dengan
omphalokel biasanya mengalami lebih sedikit kehilangan panas tubuh sehingga
lebih sedikit membutuhkan resusitasi awal cairan dibanding bayi dengan
gastroskisis.

1. Konservatif
Dilakukan bila penutupan secara primer tidak memungkinkan, misalnya
pada omfalokel dengan diameter > 5 cm. Perawatan dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
a. Bayi dijaga agar tetap hangat
b. Kantong ditutup kasa steril dan ditetesi NaCl 0,9%
c. Posisi penderita miring
d. NGT diisap tiap 30 menit

Penatalaksanaan nonnoperasi (konservatif)


Penatalaksanaan omfalokel secara konservatif dilakukan pada kasus
omfalokel besar atau terdapat perbedaan yang besar antara volume organ-organ
intraabdomen yang mengalami herniasi atau eviserasi dengan rongga abdomen
seperti pada giant omphalocele atau terdapat status klinis bayi yang buruk
sehingga ada kontra indikasi terhadap operasi atau pembiusan seperti pada bayi-
bayi prematur yang memiliki hyaline embran disease atau bayi yang memiliki
kelainan kongenital berat yang lain seperti gagal jantung. Pada giant omphalocele
bisa terjadi herniasi dari seluruh organ-organ intraabdomen dan dinding abdomen
berkembang sangat buruk, sehingga sulit dilakukan penutupan (operasi/repair)
secara primer dan dapat membahayakan bayi. Beberapa ahli, walaupun demikian,
pernah mencoba melakukan operasi pada giant omphalocele secara primer dengan
modifikasi dan berhasil. Tindakan nonoperatif secara sederhana dilakukan dengan
dasar merangsang epitelisasi dari kantong atau selaput. Suatu saat setelah
granulasi terbentuk maka dapat dilakukan skin graft yang nantinya akan terbentuk
hernia ventralis yang akan direpair pada waktu kemudian dan setelah
status kardiorespirasi membaik.
Beberapa obat yang biasa digunakan untuk merangsang epitelisasi adalah
0,25 % merbromin (mercurochrome), 0,25% silver nitrat, silver sulvadiazine dan
povidone iodine (betadine). Obat-obat tersebut merupakan agen antiseptik yang
pada awalnya memacu pembentukan eskar bakteriostatik dan perlahan-lahan akan
merangsang epitelisasi. Obat tersebut berupa krim dan dioleskan pada permukaan
selaput atau kantong dengan elastik dressing yang sekaligus secara perlahan dapat
menekan dan menguragi isi kantong.
Indikasi terapi non bedah adalah:
Bayi dengan ompalokel raksasa (giant omphalocele) dan kelainan penyerta
yang mengancam jiwa dimana penanganannya harus didahulukan daripada
omfalokelnya. Neonatus dengan kelainan yang menimbulkan komplikasi bila
dilakukan pembedahan. Bayi dengan kelainan lain yang berat yang sangat
mempengaruhi daya tahan hidup.
Prinsip kerugian dari metode ini adalah kenyataan bahwa organ visera
yang mengalami kelainan tidak dapat diperiksa, sebab itu bahaya yang terjadi
akibat kelainan yang tidak terdeteksi dapat menyebabkan komplikasi misalnya
obstruksi usus yang juga bisa terjadi akibat adhesi antara usus halus dan kantong.
Jika infeksi dan ruptur kantong dapat dicegah, kulit dari dinding anterior
abdomen secara lambat akan tumbuh menutupi kantong, dengan demikian akan
terbentuk hernia ventralis, karena sikatrik yang terbentuk biasanya tidak sebesar
bila dilakukan operasi. Metode ini terdiri dari pemberian lotion antiseptik secara
berulang pada kantong, yang mana setelah beberapa hari akan terbentuk skar.
Setelah sekitar 3 minggu, akan terjadi pembentukan jaringan granulasi yang
secara bertahap karena terjadi epitelialisasi dari tepi kantong. Penggunaan
antiseptik merkuri sebaiknya dihindari karena bisa menghasilkan blood and
tissue levels of mercury well above minimum toxic levels. Alternatif lain yang
aman adalah alkohol 65% atau 70% atau gentian violet cair 1%. Setelah keropeng
tebal terbentuk,bubuk antiseptik dapat digunakan. Hernia ventralis memerlukan
tindakan kemudian tetapi kadang-kadang menghilang secara komplet.
Penatalaksanaan dengan operasi
Tujuan mengembalikan organ visera abdomen ke dalam rongga abdomen
dan menutup defek. Dengan adanya kantong yang intak, tak diperlukan operasi
emergensi, sehingga seluruh pemeriksaan fisik dan pelacakan kelainan lain yang
mungkin ada dapat dikerjakan. Keberhasilan penutupan primer tergantung pada
ukuran defek serta kelainan lain yang mungkin ada (misalnya kelainan paru)
Tujuan operasi atau pembedahan ialah memperoleh lama ketahanan
hidup yang optimal dan menutup defek dengan cara mengurangi herniasi organ-
organ intra abomen, aproksimasi dari kulit dan fascia serta dengan lama tinggal di
RS yang pendek. Operasi dilakukan setelah tercapai resusitasi dan status
hemodinamik stabil. Operasi dapat bersifat darurat bila terdapat ruptur kantong
dan obstruksi usus.
Operasi dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu primary closure
(penutupan secara primer atau langsung) dan staged closure (penutupan secara
bertahap).

F. Asuhan Kebidanan
Seorang ibu hamil umur 27 tahun dari desa sumber rejo dating ke BPS
dengan pembukaan lengkap dan siap untuk dipimpin melahirkan, setelah anaknya
keluar ternyata bayi tersebut mengalami kelainan bawaan yaitu usus bayi tersebut
berada diluar perut dengan ditutup selaput tipis yang tembus pandang
(ompalokel). Maka yang harus dilakukan bidan sebagai pertolongan pertama pada
bayi tersebut yaitu :
Kantong omfalokel dibungkus kasa yang dibasahi betadin
Lalu bungkus dengan plastic
Masukkan bayi kedalam incubator dan diberi oksigen untuk melakukan rujukan
Pasang NGT dan rectal tube Antibiotika.
Adapun pertolongan lanjutan segera bayi dengan omphalokel yaitu :
1. Tempatkan bayi pada ruangan yang aseptik dan hangat untuk mencegah
kehilangan cairan, hipotermi dan infeksi.
2. Posisikan bayi senyaman mungkin dan lembut untuk menghindari bayi
menangis dan air swallowing. Posisi kepala sebaiknya lebih tinggi untuk
memperlancar drainase.
3. Lakukan penilaian ada/tidaknya distress respirasi yang mungkin membutuhkan
alat bantu ventilasi seperti intubasi endotrakeal. Beberapa macam alat bantu
ventilasi seperti mask tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan masuknya
udara kedalam traktus gastrointestinal.
4. Pasang pipa nasogastrik atau pipa orogastrik untuk mengeluarkan udara dan
cairan dari sistem usus sehingga dapat mencegah muntah, mencegah aspirasi,
mengurangi distensi dan tekanan (dekompresi) dalam sistem usus sekaligus
mengurangi tekanan intra abdomen, demikian pula perlu dipasang rectal tube
untuk irigasi dan untuk dekompresi sistem usus.
5. Pasang kateter uretra untuk mengurangi distensi kandung kencing dan
mengurangi tekanan intra abdomen. Pasang jalur intra vena (sebaiknya pada
ektremitas atas) untuk pemberian cairan dan nutrisi parenteral sehingga dapat
menjaga tekanan intravaskuler dan menjaga kehilangan protein yang mungkin
terjadi karena gangguan sistem usus, dan untuk pemberian antibitika broad
spektrum.
6. Lakukan monitoring dan stabilisiasi suhu, status asam basa, cairan dan
elektrolit
7. Pada omphalokel, defek ditutup dengan suatu streril-saline atau povidone-iodine
soaked gauze, lalu ditutup lagi dengan suatu oklusif plastik dressing wrap? atau
plastik bowel bag. Tindakan harus dilakukan ekstra hati hati diamana cara tersebut
dilakukan dengan tujuan melindungi defek dari trauma mekanik, mencegah
kehilangan panas dan mencegah infeksi serta mencegah angulasi sistem usus yang
dapat mengganggu suplai aliran darah.
8. Pemeriksaan darah lain seperti fungsi ginjal, glukosa dan hematokrit perlu
dilakukan guna persiapan operasi bila diperlukan
9. evaluasi adanya kelainan kongenital lain yang ditunjang oleh pemeriksaan
rongent thoraks dan ekhokardiogram.
Bila bayi akan dirujuk sebaiknya bayi ditempatkan dalam suatu inkubator
hangat dan ditambah oksigen.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Omfalokel adalah penonjolan dari usus atau isi perut lainnya melalui akar
pusar yang hanya dilapisi oleh peritoneum (selaput perut) dan tidak dilapisi oleh
kulit. Omfalokel terjadi pada 1 dari 5.000 kelahiran. Usus terlihat dari luar melalui
selaput peritoneum yang tipis dan transparan (tembus pandang).
Pada 25-40% bayi yang menderita omfalokel, kelainan ini disertai oleh
kelainan bawaan lainnya, seperti kelainan kromosom, hernia diafragmatika dan
kelainan jantung. Banyaknya usus dan organ perut lainnya yang menonjol pada
omfalokel bervariasi, tergantung kepada besarnya lubang di pusar. Jika lubangnya
kecil, mungkin hanya usus yang menonjol tetapi jika lubangnya besar, hati juga
bisa menonjol melalui lubang tersebut. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil
pemeriksaan fisik, dimana isi perut terlihat dari luar melalui selaput peritoneum.
Agar tidak terjadi cedera pada usus dan infeksi perut, segera dilakukan
pembedahan untuk menutup omfalokel.
B. Saran
Penyusun memahami bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam
penulisan makalah ini. Oleh sebab itu penulis menerima kritik dan saran yamg
bersifat membangun.
DAFTAR PUSTAKA

Prawihadjo sarwono. 2007. Ilmu kebidanan. Jakarta:yayasan bina pustaka


Rustam Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Editor: Setiawan. Jakarta: EGC.
Pincus Eatzel dan Len Roberts. 1995. Kapita Selekta Pediatri. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai