Anda di halaman 1dari 13

KARYA ILMIAH TENTANG

PENDIDIKAN MORAL SEBAGAI BINGKAI PEMBENTUK CALON PENDIDIK BERKARAKTER KUAT DAN CERDAS

KARYA ILMIAH TENTANG PENDIDIKAN MORAL SEBAGAI BINGKAI PEMBENTUK CALON PENDIDIK BERKARAKTER KUAT DAN CERDAS Oleh Arifudin

Oleh Arifudin Universitas Muhammadiyah Mataram Jurusan : Ppkn Alamat : Wadukopa, Kec. Soromandi No. Hp : 085-205-323-229

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan karuniaNya, Penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah.

Karya tulis ilmiah ini disusun agar pembaca memeperluas ilmu tentang Pendidikan MoralSebagai Pembentuk Karakter Calon Pendidik (Mahasiswa)karya tulis ini Penulissajikan dari berbagai sumber.Tujuan Penulis menyusun Karya Tulis Ilmiah ini, salah satunya adalah sebagai persyaratan mengikuti Lomba menulis artikel Bima dan Dompu. Semoga karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi para pembaca lainnya, juga dapat memberikan wawasan yang lebihluas kepada pembaca.

Akhir kata, Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusuna karya tulis ilmiah ini dari awal hingga akhir, apabila ada kekurangan dari karya tulis ilmiah ini, Penulis mohon maaf semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala

usaha Penulis. Amin …

Mataram, Maret 2017

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………….i

KATA PENGANTAR……………………………………………… ...ii

DAFTAR ISI………………………………………………………….iii

BAB I PENDAHULUAN

  • A. LatarBelakangMasalah………………………………………… ..1

  • B. RumusanMasalah……………………………………………… 2

..

  • C. TujuanPenulis……………………………………………………3

  • D. ManfaatPenulisan……………………………………………… 4

..

BAB II PEMBAHASAN

BAB III PENUTUP

A.Kesimpulan…………………………………………………………6

B. Saran………………………………………………………………10

  • A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa melalui bimbingan yang optimal terhadap anak-anak (peserta didik) dengan tujuan ke arah pendewasaan. Maksudnya adalah pendidikan itu harus merupakan suatu usaha sadar, memiliki makna bahwa pendidikan diselenggarakan dengan rencana yang matang, mantap, sistemik, menyeluruh, berjenjang berdasarkan pemikiran yang rasional objektif disertai dengan kaidah untuk kepentingan masyarakat dalam arti yang seluas-luasnya. Dan dalam pendidikan itu harus adanya unsur kesengajaan dalam penerapannya. Pendidikan tidak akan bermakna atau berhasil dengan baik kalau dilaksanakan dengan main-main tanpa keseriusan atau kesadaran dalam penyelenggaraannya. Selain itu, pendidikan itu dilakukan oleh orang dewasa. Dewasa di sini bukan hanya dari segi usia, tetapi dewasa dalam artian yang luas, yang meliputi pengetahuan, keahlian, sikap dan tingkah laku. Mustahil pendidikan dapat dilakukan oleh orang yang tidak berilmu, atau tidak mempunyai suatu pengetahuan atau keahlian tertentu. Dan pelaku pendidikan harus mempunyai sikap dan tingkah laku yang dapat dijadikan teladan oleh peserta didiknya. Dalam melaksanakan suatu proses pendidikan haruslah dilakukan dengan bimbingan yang optimal oleh pendidik terhadap peserta didik. Bimbingan yang dimaksud dimaknai sebagai pemberian bantuan, arahan, petunjuk, nasihat, penyuluhan, dan motivasi yang diberikan kepada peserta didik dalam menghadapi masalah-masalah yang mungkin timbul dalam mengembangkan kemampuannya. Cara yang terbaik ditempuh adalah dengan jalan memberikan pengertian dan kasih sayang kepada peserta didik. Dengan bimbingan yang baik makna pendidikan akan lebih dirasakan oleh peserta didik. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bahwa pendidikan harus mempunyai tujuan yang jelas atau tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengembangkan kemampuan atau

potensi individu peserta didik sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya di masa yang akan datang, baik fisik, intelektual, emosional, sosial, moral dan spiritual. Tujuan pendidikan ke arah pendewasaan. Maksudnya di sini adalah ke arah pembentukan kepribadian manusia, yaitu pengembangan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila, dan makhluk religius. Jadi pendidikan itu harus mampu/bercita-cita menjadikan manusia (perserta didik) menjadi manusia yang mempunyai kepribadian yang baik, mampu beriteraksi dengan sesama, bersusila, dan memiliki nilai-nilai keagamaan dalam kehidupannya. Seorang calon pendidik baik guru maupun dosen perlu mempelajari pegagogik (ilmu mendidik atau ilmu pendidikan) karena :

1. Seorang guru mempunyai peranan, tugas, dan tanggungjawab sebagai pendidik(educator) dan sebagai pengajar (teacher). Dalam arti yang lebih luas, guru dikatakan sebagai pendidik mempunyai peran dan tugas sebagai :

  • Konservator (pemelihara) sistim nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan dan inovator (pengembang) sistim nilai ilmu pengetahuan.

  • Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik.

  • Transpormator (penerjemah) sistem-sistem nilai melalui penjelmaan dalam pribadi dan perilakunya melalui proses interaksi dengan peserta didik.

  • Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggung jawabkan secara formal dan moral.

Dalam arti terbatas, guru mempunyai peran, tugas, dan tanggungjawab sebagai :

  • Perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran.

  • Pelaksana (organizer) yang harus menciptaan situasi, memimpin, merangsang menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan pembelajaranasesuai dengan rencana.

  • Penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan dan

akhirnya harus memberikan pertimbangan atas tingkat keberhasilan pembelajaran. Baik dalam kondisi sebagai pendidik maupun pengajar, seorang guru harus memperoleh pemahaman tentang peran, tugas, tanggungjawab, dan sosok pribadi yang seyokyanya dimiliki atau diperankan oleh seorang pendidik sehingga guru menjadi suri tauladan, motivator, dan pengarah terjadinya perkembangan potensi peserta didik secara optimal. Untuk itu diperlukan pedagogik (ilmu mendidik) dari seorang guru/calon guru.

2.

Pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan profesi yang berhubungan dengan

2. Pekerjaan seorang guru adalah pekerjaan profesi yang berhubungan dengan

manusia (peserta didik) yang bertujuan agar anak didik mampu mengembangkan potensi dirinya dan menyelesaikan tugas-tugas hidupnya. Untuk menggali dan mengembangkan potensi dari peserta didik tersebut diperlukan keprofesionalan seorang guru. Hal ini dapat diperoleh dengan mempelajari pedagogik (ilmu mendidik atau ilmu pendidikan).

  • 3. Hakikat pendidikan tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab subjek

pendidikan adalah manusia. Oleh karena itu seorang calon pendidik (guru) harus

mengetahui bagaimana mendidik (membimbing, mengajar, melatih) peserta didik secara profesional untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Implikasinya, bahwa seorang guru/calon guru harus mempelajari ilmu tentang mendidik yakni ilmu pendidikan.

Bagaimana perasaan seorang guru jika setiap murid yang ia pernah didik memanjatkan doa kebaikan untuknya. Tentu sangat membahagiakan bukan. Betapa bersyukurnya ketika mereka masih selalu mengenang dan mengambil inspirasi pelajaran yang ia pernah sampaikan dahulu sehingga pahala selalu mengalir untuknya. Mereka selalu mengenang kebaikan para gurunya dan hampir tidak pernah memperhitungkan kesalahan yang diperbuat. Betapa membanggakannya. Itulah harapan dari semua orang yang pernah merasakan dirinya menjadi seorang pendidik. Berdasarkan kajian teoretis maupun empiris karakteristik siswa ditinjau dari faktor budayanya, di mana budaya diartikan sebagai bentuk-bentuk prestasi psikologis, yaitu sebagai kompleks gagasan yang bersifat abstrak, spesifik, subyektif, dan tidak teramati, maka moralitas penting untuk dikembangkan, demikian juga kepercayaan eksistensial. Informasi ini amat diperlukan oleh para guru, ilmuan pembelajaran, dan teknologi pembelajaran sebagai pejikan pengembangan teori dan prinsip-prinsip atau strategi pembelajaran moral bagi anak dan para pelajar. Merebaknya isu-isu moral dikalangan mahasiswa seperti penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba), tawuran mahasiswa, pornografi, perkosaan, merusak milik orang lain, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, penganiayaan, perjudian, pelacuran, pembunuhan, dan lain-lain, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat teratasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana, karena tindakan-tindakan tersebut sudah menjurus kepada tindakan kriminal. Kondisi ini sangat memprihatinkan masyarakat

khususnya para orang tua dan para guru (pendidik), sebab pelaku-pelaku beserta korbannya adalah kaum remaja, terutama para pelajar dan mahasiswa. Namun demikian, marilah kita lihat fenomena yang terjadi saat ini. Jika kita bertanya pada sekian siswa yang sedang menjalani pendidikan dibangku sekolah antaranya TK, SD,

SMP, SMA/MA atau yang sederajat, maka jangan heran bila kita dapati sebagian besar siswa akan mengatakan bahwa gurunya kampungan, gurunya membosankan, gurunya tidak gaul, dan sebagainya. Intinya mereka mengatakan bahwa guru yang mengajar mereka belum dapat

“ memuaskan “ dalam memahami ilmu dan kehidupan.

Berawal dari fenomena ini, kita dapat menelusuri jejak-jejak para guru yang berasal. Kita batasi saja mereka berasal dari kampus Ilmu Pendidikan. Lebih khusus lagi mereka yang

berasal dari fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan atau yang sepadan dengan dengannya. Saat ini, suasana kehidupan kampus Ilmu Pendidikan di Indonesia umumnya mulai mengalami degradasi dari segi moral. Realita bahwa profesi guru adalah profesi yang menjanjikan kesejahteraan semakin memperburuk wajah kampus yang bertugas menelurkan calon-calon pendidik masa depan di Indonesia ini. Disadari atau tidak, sekarang orang mulai berlomba-lomba untuk meraih profesi “ mulia ” ini meskipun harus mengorbankan kejujuran dan nilai-nilai kemulian itu sendiri. Dan esiensi menjadi seorang pendidik yang “ sebenarnya” seolah tersisihkan oleh lekangan kepribadian mentah. Kesempurnaan penciptaan manusia dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya adalah adanya bekal cipta,rasa, dan karsa. Tiga potensi kejiwaan cipta, rasa, dan karsa manusia perlu ditumbuhkembangkan secara seimbang dan terpadu, agar spirit manusia semakin cerdas. Seorang manusia eksis dalam kecerdasan spiritual, cenderung berwawasan luas dan mendalam. Oleh karena itu, kesempurnaan fisik yang dianugerahkan, kecerdasan otak dan bersemayamnya hati di dalam diri kita, sepatutnya disyukuri. Potensi kejiwaan cipta, rasa, dan karsa mutlak perlu mendapatkan bimbingan berkelanjutan, karena ketiganya adalah potensi kreatif dan dinamis khas manusia. Adanya bekal yang tidak perlu dibeli itu, akan berkembang posotif bila diolah berdasarkan

keinginan dan kemauan unutuk belajar. Memiliki hal tersebut, guru yang “diguguh dan tiru”

harus ingat dengan tugasnya sebagai pendidik profesional. Tidak hanya cerdas dalam penguasaan materi, terampilnya berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi jangan menyisihkan kecerdasan moral yang akan menjadi cermin bagi siswa dalam berperilaku. Karenanya, penulis menyusun karya ilmiah ini dengan judul “Pendidikan Moral sebagai Pembentuk Karakter Calon Pendidik (Mahasiswa) “ sebagai langkah mencerdaskan calon pendidik kita.

  • B. Rumasan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut

:

  • 1. Bagaimana kondisi moral mahasiswa sebagai calon pendidik ?

  • 2. Seberapa pentingkah pendidikan moral dalam upaya pembentukan karakter seorang pendidik?

  • 3. Bagaimana solusi pendidikan moral terkait pembentukan karakter kuat sebagai penyeimbang pendidikan akal (cerdas) ?

    • C. Tujuan Penulisan Tujuan penulis dalam menyusun karya ilmiah ini antara lain :

      • 1. Menjelaskan pendidikan moral sebagai salah satu alternatif pembentukan karakter yang kuat bagi seorang calon pendidik.

      • 2. Mendeskripsikan dan menjelaskan metode pendidikan moral, yang ditawarkan sebagai salah satu upaya pembentukan karakter seorang pendidik.

        • D. ManfaatPenulisan

Manfaat dari penulisan karya ilmiah ini antara lain:

  • 1. Mahasiswa mengetahui pentingnya pendidikan moral dalam upaya pembentukan karakter seorang pendidik.

  • 2. Mahasiswa termotivasi untuk mengikuti pendidikan moral sebagai salah satu bekal untuk menjadi seorang pendidik yang mempunyai karakter.

BAB II

PEMBAHASAN

Diberbagai kampus dulu hingga sekarang mengalami prahara., kalangan sivita akademika terutama di berbagai Fakultas di kejutkan dengan peristiwa tawuran antar mahasiswa. tugas akhir mahasiswa baik dalam bentuk paper atau dalam bentuk penelitian skripsi bukan menjadi sebuah maha karya bagi sang mahasisiwa melainkan menjadi mega proyek bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Mahasiswa juga berperilaku tidak jauh dari siswa. Sepertinya kebiasaan mencontek telah terdidik saat mereka masih sebagai siswa. Seks bebas sudah menjadi suatu bentuk pergaulan yang lumrah bagi sebagian mahasiswa Bima. Mereka menganggap seks bukan lagi sesuatu yang tabu untuk dilakukan, meskipun tanpa ikatan pernikahan yang sah. Beberapa hal yang menarik, seks bebas nampak juga tidak berkorelasi positif dengan konsumsi narkoba. Hal ini juga menunjukkan terjadinya ketidak seimbangan antara pengembangan pendidikan hati (moral) dan akal (kecerdasan) yang secara nyata melekat pada manusia.Penurunan kualitas moral mahasiswa sebagai calon pendidik ini terjadi karena kurangnya kesadaran mahasiswa sebagai calon pendidik untuk menaati nilai dan moral yang ada di lingkungan sekitar, keadaan ini diperparah oleh kurangnya upaya penanaman nilai dan moral oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Dalam perkembangan pendidikan, peran dari orang dewasa sebagai tempat berinteraksi sangat berpengaruh. Perkembangan moral tidak tergantung terutamapada upaya-upaya pendidikan karakter yang eksplisit tetapi pada kematangan dan kapasitas etis orang-orang dewasa yang menjadikan mereka berinteraksi khususnya orangtua, tetapi juga guru, pendamping dan orang-orang dewasa dalam masyarakat lainnya.(Robert E.Slavin, 2008; 78) Mahasiswa yang dipersiapkan sebagai calon pendidik dirasa perlu mendapatkan penenkanan khusus mengenai pendidikan moral sebagai bekal untuk menjadi “orang-orang dewasa” yang nantinya akan berinteraksi dengan peserta didik.

Pemahaman seorang akan pentingnya moral sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter orang tersebut. Dengan asumsi yang sama, ketika calon pendidik memiliki karakter yang kuat maka akan terbentuk anak didik yang berkarakter kuat pula.

Upaya untuk mengurangi degradasi moral dikalangan Calon Guru dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

  • 1. Secara implisit, yakni dengan menyisipkan nilai-nilai moral disetiap perkuliahan. Misalnya dalam mata kuliah IPA. Pada pembahasan materi hukum Newton I yakni tentang kekonsistenan gerak pada benda, nilai moral yang dapat disisipkan. Contoh : ketika kita berboncengan, saat motor menikungke kiri, maka tubuh kita akan lebih cendong ke mana? Kiri atau kanan? Berdasarkan hukum Newton I , tubuh akan cendong ke kanan, untuk menyeimbangkan gaya tarik ke kiri agar kita tidak jatuh. Namun biasanya, yang membonceng akan lebih cendong ke depan, entah motor akan menikung ke kanan atau ke kiri. Hal ini tentu menyalahi hukum, baik itu hukum Newton I maupun kaidah agama.

  • 2. Dibentuknya kelas motivasi (motivation class), yang dalam hal ini lebih menekankan pada penggugahan motivasi internal pesrta didik. Mengingat bahwa motivasi internal dari seseorang itu akan berimbas sangat dashyat pada sistem keyakinan akan turut menentukan budaya kerja orang tersebut. Yang pada akhirnya akan bermuara pada pembentukan karakter.

  • 3. Menambah mata kuliah tentang pendidikan moral, meski tidak diberi beban SKS namun mahasisiwa dipersyaratkan lulus mata kuliah tersebut.

  • 4. Mata kuliah yang substansinya sudah mengandung nilai-nilai moral hendaknya lebih aplikatif, tidak hanya text book semata.

  • 5. Menyeimbangkan porsi antara materi kuliah akal (cerdas) dan hati (moral). Sehingga akan menghasilkan pendidik-pendidik yang tidak hanya unggul secara intelektual tetapi juga unggul secara moral.

A. Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Kondisi moral mahasiswa sebagai calon pendidik perlu mendapat perhatian, sebab akan menentukan nasib dan masa depan mereka serta kelangsungan hidup bangsa Indonesia pada umumnya. Dapat dikatakan bahwa penanggulangan terhadap masalah-masalah moral mahasiswa merupakan salah satu penentu masa depan mereka dan bangsanya. Hal ini juga menunjukkan terjadinya ketidakseimbangan antara pengembangan pendidikan hati (moral) dan akal (kecerdasan) yang secara nyata melekat pada manusia. Anak dan remaja mengembangkan norma-norma baru karena adanya interaksi dengan orang lain. Pentingnya interaksi sosial ini bagi perkembangan moral terletak pada kontinuitas, organisasi, kompleksitas stimulasi sosial yang dihadapkan kepadanya. Bagi mahasiswa yang di rumah dan lingkungannya tiak ada stimulasi intelektualnya perlu adanya suatu lingkungan yang dapat memberikan stimulasi kognitif. Lebih-lebih bagi mereka yang ada di tengah- tengah kelompok, di mana salah satu agama, suku, atau salah satu keadaan sosial ekonomi sangat dominan, hendaknya diusahakan adanya kompleksitas sosial bagi mereka. Mahasiswa yang dipersiapkan sebagai calon pendidik dirasa perlu mendapatkan penenkanan khusus mengenai pendidikan moral sebagai bekal untuk menjadi “orang-orang dewasa” yang nantinya akan berinteraksi dengan peserta didik. Pemahaman seorang akan pentingnya moral sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter orang tersebut. Dengan asumsi yang sama, ketika calon pendidik memiliki karakter yang kuat maka akan terbentuk anak didik yang berkarakter kuat pula. Pertama, calon pendidik atau guru diberi tambahan mata kuliah pada saat belajar di perguruan tinggi. Tambahan mata kuliah yaitu pendidikan karakter, pendidikan budaya, dan pendidikan moral. Mengapa sebaiknya diberikan kepada mahasiswa calon guru? Beberapa alasannya adalah banyak sekali mahasiswa calon guru meskipun umurnya sudah diatas 18 tahun tetapi tetap saja sikapnya masih seperti orang yang tidak mengenyam pendidikan. Misalnya menyeberang jalan dengan seenaknya padahal diatas jalan tersebut ada jembatan penyeberangan. Banyak calon guru yang tidak mengerti pendidikan karakter itu apa, pendidikan moral itu apa, dan juga pendidikan budaya itu apa. Sehingga yang terjadi adalah setelah lulus menjadi guru akan menjadi guru yang suka memukul peserta didiknya, menjadi guru yang memperkosa peserta didiknya sendiri, dan yang terparah adalah membunuh

peserta didiknya sendiri. Inilah yang disebut kehancuran pendidikan secara menyeluruh, baik secara akademis dan secara sikap. Solusi kedua, belajar dari negara tetangga, yaitu Singapura. Di negara ini dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah diajarkan pendidikan nilai (values education). Pendidikan nilai ini wajib bagi sekolah negeri atau swasta. Pendidikan ini didasarkan pada enam hal yang disesuaikan dengan usia peserta didik. Keenam hal tersebut adalah kasih sayang, saling menghormati, bertanggung jawab, integritas, keseimbangan, daya tahan atau tangguh. Meskipun di negara ini pelajaran agama ditiadakan tetapi diajarkan di keluarga masing masing, tetapi terlihat hasinya bahwa keenam hal yang diatas sangat mempengaruhi kehidupan di setiap aspek kehidupan. Solusi ketiga, pendidikan karakter, budaya, dan moral disampaikan secara terpadu dengan seluruh pelajaran yang diajarkan di sekolah. Semua guru mata pelajaran diberikan tugas tambahan untuk menganalisa semua aspek yang diajarkan dan dihubungkan dengan pendidikan karakter, budaya, dan moral. Sebagai contoh adalah guru biologi mengajarkan tentang berbagai jenis tumbuhan. Materi ini akan ditambah dengan bagaimana siswa menghargai tumbuhan, bagaimana menjaga lingkungan dan sebagainya. Demikian juga guru bahasa. Selain mengajar materi bahasa, guru tersebut juga mengajarkan tentang pendidikan karakter, budaya, dan moral.

B.

Saran

Pendidikan moral sangatlah penting sebagai pembentuk karakter calon peserta didik. Jika kita memiliki banyak ilmu, karakter yang baik namun tidak disertakan dengan moral yang baik pula maka semuanya itu sia-sia belaka. Semoga dengan hasil karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua sebagaimana mestinya sebagai dasar dan mendorong kita dalam menerapkan kecerdasan yang diikuti dengan moral yang baik pula. “Jangan cemas karena emas tapi cemas karena cerdas akan ide-ide emas” (Jhemi R. Markus)

DAFTAR PUSTAKA

Asmani M. Jamal. 2011. 7 Tips Aplikasi PAKEM. Jakarta: DIVA Fres. Budiningsih Asri.C. 2004. Pembelajaran Moral. Jakarta: PT. Bumi Aksara Suhartono,Suparlan.2009. Filsafat Pendidikan.Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.