Anda di halaman 1dari 1

A.

Patogenesis
1. Hygiene Hypothesis
Hubungan antara awal kehidupan dan perkembangan alergi sudah banyak
diteliti. Strachan merupakan orang yang pertama kali mengemukakan teori hygiene
hypothesis. Teori tersebut mengatakan infeksi dan kontak dengan lingkungan yang tak
higienis dapat melindungi diri dari perkembangan alergi (Sohn, 2008) Hipotesis
tersebut berdasarkan pemikiran bahwa sistem imun pada bayi didominasi oleh sitokin
T helper (Th2). Setelah lahir pengaruh lingkungan akan mengaktifkan respons Th1
sehingga akan terjadi keseimbangan Th1/Th2. Beberapa bukti menunjukkan bahwa
insidensi asma menurun akibat infeksi tertentu (M. tuberkulosis, measless atau
hepatitis A) dan penurunan penggunaan antibiotik. Ketiadaan kejadian tersebut
menyebabkan keberadaan Th2 menetap. Sehingga keseimbangan akan bergeser
kearah Th2, merangsang produksi antibodi IgE untuk melawan antigen lingkungan
seperti debu rumah dan bulu kucing (Alfven, 2006).
Sel Th1 dan Th2 menghambat perkembangan satu sama lain. Produksi IgE
pada penderita atopi meningkat sehingga mempengaruhi keseimbangan Th2 dan Th1.
Perkembangan sekresi Th2 memerlukan IL-4. Sitokin ini dihasilkan oleh plasenta
untuk mencegah penolakan imunologis janin. Menetapnya Th2 plasenta berhubungan
dengan perubahan nutrisi sehingga tidak terbentuk Th1, ini merupakan faktor utama
peningkatan prevalensi penyakit alergi dalam 30 40 tahun terahir. Faktor lain adalah
turunnya infeksi berat pada bayi dan interaksi antara alergen dan polusi udara yang
cenderung untuk terjadi sensitisasi. Infeksi akan menyebabkan peningkatan respons
Th1 dan akan menurunkan kecenderungan perkembangan penyakit yang berhubungan
dengan Th 2.12 Sel Th2 akan meningkatkan sintesis IL-4 dan IL-13 yang pada
akhirnya akan menaikkan produksi IgE. Sedangkan sel Th1 yang menghasilkan
interferon gama (IFN) akan menghambat sel B untuk menghasilkan IgE.12-13 Untuk
lebih jelasnya bisa dilihat dalam gambar di bawah (Demoly, 2008).