Anda di halaman 1dari 3

A.

Penegakkan Diagnosis Pada Kondisi Khusus


1. Pasien hanya dengan gejala batuk
Pada kondisi ini, perlu dipikirkan cough variant asthma, batuk yang diinduksi
terapi ACEI, GERD, chronic upper airway cough syndrome, sinusitis kronik dan
disfungsi pita suara. Pasien dengan cough variant asthma memiliki gejala utama
batuk kronik, jika tidak, mungkin gejala tersebut terkait dengan hiperresponsivitas.
Hal ini paling sering terjadi pada anak-anak dan memberat saat malam hari dengan
fungsi paru normal. Untuk pasien ini, penting untuk dicatat variablitis fungsi paru.
Penyakit cough variant asthma harus dibedakan dengan bronkitis eosinofilik pada
pasien yang batuk, hasil pemeriksaan sputum didapatkan eosinophil akan tetapi fungsi
paru dan responsitivitas jalan nafas normal (GINA, 2016).
2. Asma terkait pekerjaan
Asma jenis ini seringkali terlewat. Asma jenis ini diinduksi dan diperberat oleh
adanya paparan alergen atau agen sensitizer di lingkungan kerja, kadang paparan
bersifat tunggal, kadang masif. Rhinitis okupasional biasanya mendahului asma
beberapa tahun sebelum asma, dan paparan yang berlanjut terkait dengan prognosis
yang lebih buruk (GINA, 2016).
Asma dengan onset pada usia dewasa memerlukan anamnesis yang cermat pada
riwayat pekerjaan, paparan allergen, termasuk hobi. Perlu ditanyakan tentang apakah
keluhan membaik jika pasien saati tidak bekerja. Pertanyaan tersebut penting dan
mengarahkan kepada anjuran agar pasien mengganti tempat kerja atau pekerjaannya,
yang tentunya akan berpengaruh pada aspek sosioekonomis pasien. Pada kondisi ini
perujukan ke dokter spesialis penting, dan monitoring PEF di tempat kerja dan jauh
dari tempat kerja perlu dilakukan (GINA, 2016).
3. Atlet
Diagnosis pada atlet harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan fungsi paru,
biasanya dengan uji provokasi bronkus. Kondisi yang mirip dengan asma, misalnya
rhinitis, penyakit laring (misal: disfungsi pita suara), gangguan pernafasan, gangguan
jantung dan over-training harus disingkirkan (GINA, 2016).
4. Wanita hamil
Wanita hamil atau wanita yang merencanakan hamil harus ditanyai mengenai
riwayat asma dan diberikan edukasi tentang asma. Jika pemeriksaan objektif perlu
dilakukan untuk konfirmasi diagnosis, tidak dianjurkan untuk melakukan uji
provokasi bronkus atau untuk menurunkan terapi controller sampai selesai persalinan
(GINA, 2016).
5. Orang berusia tua
Asma seringkali tidak terdiagnosis pada orang tua, karena persepsi orang tua
tentang keterbatasan jalan nafas yang berkurang, anggapan bahwa sesak nafas adalah
hal yang wajar, jarang olahraga dan kurang nya aktivitas. Keberadaan penyakit
penyerta juga turut mempersulit diagnosis. Keluhan mengi, sesak nafas, dan batuk
yang memberat dengan olahraga atau memberat saat malam juga bisa disebabkan oleh
adanya penyakit jantung atau kegagalan ventrikel kiri. Anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang cermat, ditambah dengna pemeriksaan EKG dan foto thorax dapat
membantu diagnosis. Pemeriksaan brain natriuretic polypeptide (BNP) dan
pemeriksaan fungsi jantung dengan ekokardiografi juga dapat membantu. Pada orang
tua dengan riwayat merokok atau paparan bahan bakar fosil, PPOK dan Asthma
COPD overlap syndrome (ACOS) perlu disingkikan (GINA, 2016).
6. Perokok dan bekas perokok
Asma dan PPOK sangat sulit untuk diberdakan, terutama pada orang berusia tua,
pada perokok atau bekas perokok, dan keduanya dapat saling bertumpang tindih
(AsthmaCOPD overlap syndrome (ACOS)). The Global Strategy for Diagnosis,
Management and Prevention of COPD (GOLD) mendefinisikan PPOK berdasarkan
gejala respiratorik kronik, paparan terhadap faktor risiko seperti merokok, dan
FEV1/FVC paska bronkodilator <0.7. Reversibilitas bronkodilator (>12% dan >200
ml) dapat ditemukan dalam PPOK. Kapasitas difusi yang rendah biasanya ditemukan
pada Asma. Riwayat penyakit dan pola gejala di masa lalu bisa membantu diagnosis.
Ketidakpastian diagnosis membuat pasien dengan kondisi ini perlu dirujuk karena
terkait dengan prognosis yang lebih buruk (GINA, 2016).
7. Pasien yang pernah menjalani terapi controller
Jika diagnosis asma belum ditegakkan, konfirmasi diagnosis perlu dilakukan.
Sekitar 25-35% pasien dengan diagnosis asma di fasilitas kesehatan tingkat 1 tidak
bisa terkonfirmasi diagnosis asma. Konfirmasi diagnosis asma tergantung pada gejala
dan fungsi paru. Pada beberapa pasien, bisa disertakan percobaan untuk menurunkan
atau menaikkan dosis controller. Jika diagnosis tetap tidak bisa ditegakkan, maka
perlu dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi (GINA, 2016).
8. Pasien obesitas
Asma lebih sering ditemukan pada pasien dengan obesitas, gejala respiratorik
yang terkait dengan obesitas dapat menyerupai asma. Pada pasien obes dengan adanya
dispneu saat aktivitas, perlu dikonfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan objektif
untuk menemukan adanay hambatan jalan nafas (GINA, 2016).
9. Kondisi sumber daya kurang
Pada kondisi sumber daya kurang, perlu dipertajam lagi proses penggalian gejala.
Perlu ditanyakan durasi gejala, demam, batuk, menggigil, penurunan berat badan,
nyeri saat bernafas dan adanya batuk darah yang membedakannya dengan infeksi
kronik paru seberti TBC, HIV/AIDS dan infeksi parasite atau jamur. Variabilitas jalan
nafas dapat dikonfirmasi dengan PEF meter dan perlu diperiksa sebelum diberikan
terapi SABA atau ICS, atau bisa dilakukan bersamaan dengan pemberian 1 minggu
kortikosteroid oral (GINA, 2016).