Anda di halaman 1dari 5

Pertanyaan

1. Dalam dunia ini kususnya dunia pendidikan kita tahu bahwa cara setiap
individu belajar dan memahami bahkan mengerti tentang materi pelajaran itu
berbeda sehigga informasi yang dapat diserap dan di ambil oleh setiap orang
pun berbeda, yang ingin saya tanyakan seberapa penting system
pemperolehan informasi dalam dunia pendidikan.

Jawab: Perkembangan anak yang optimal merupakan tujuan para psikolog


perkembangan, maka sangat relevan jika individu-individu yang
berkecimpung dibidang ini melakukan penelitian yang tujuanya bermuara
pada meningkatkan kemampuan pemrosesan informasi.

Salah satu teori kognitif yang menjelaskan proses belajar pada diri seseorang
yang berkenaan dengan tahap-tahap proses pengolahan informasi adalah teori
pemrosesan informasi. Menurut teori ini proses belajar tidak berbeda halya
dengan proses menerima,menyimpan dan mengungkapken kembali dengan
informasi-informasi yang telah diterima sebelumnya. Genjala-gejala tentang
belajar dapat dijelaskan jika proses belajar itu dianggap sebagai proses
transformasi masukan menjadi keluaran. Jadi, proses belajar tersebut mirip
dengan apa yang terjadi pada sebuah komputer.

Sehingga sangatpenting bagi seorang guru untuk mempelajari cara seorang


anak untuk memperoleh informasi dalam pelajaran,dengan demikian
informasi yang diberikan oleh seorang gutu tidak lewat begitu saja.

Teori pemrosesan informasi ini didasari oleh asumsi bahwa pembelajaran


merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan
merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi
proses informasi, untuk diolah sehingga menghasilkan bentuk hasil belajar.
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi
internal dan kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam
diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif
yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan
dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses
pembelajaran.Tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase:1) Motifasi,
2) Pemahaman, 3) Pemerolehan, 4) Penyimpanan, 5) Ingatan kembali, 6)
Generalisasi, 7) Perlakuan, 8) Umpan Teori Pemrosesan Informasi

Informasi adalah pengetahuan yang didapat dari pembelajaran, pengalaman


atau instruksi. Dalam beberapa hal pengetahuan tentang situasi yang telah
dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulan intelejan
dan didapatkan dari berita, juga disebut informasi. Informasi yang berupa
koleksi data dan fakta dinamakan informasi statistik. Dalam bidang ilmu
komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses atau ditransmisikan.
Penelitian ini memokuskan pada definisi informasi sebagai pengetahuan yang
didapatkan dari pembelejaran, pengalaman, dan instruksi.

2. Dalam kegiatan belajar kita tahu bahwa seorang guru akan menggunakan peta
konsep yang telah dibuat untuk memberikan informasi kepada siswanya,tetapi
terkadang tetap ada siswa yang gagal dalam materi tersebut, apa tujuan peta
konsep dalam ?dan bagaimana ciri ciri peta konsep yang baik?

Jawab: Peta konsep adalah suatu ilustrasi grafis yang konkrit yang dapat
menunjukkan bagaimana suatu konsep berhubungan atau terkait dengan
konsep-konsep lain yang termasuk kategori yang sama. Peta konsep dapat
merupakan suatu skema atau ringkasan dari hasil belajar. Selanjutnya Sumaji,
dkk (1997) menyatakan bahwa peta konsep dapat digunakan untuk membantu
siswa menyusun konsep dan menghindari miskonsepsi.

Belajar bermakna akan berlangsung bila konsep atau pengertian konsep-


konsep diurutkan dari yang paling inklusif secara hierarki ke yang kurang
inklusif sampai kepada bagian-bagian atau hal-hal yang khusus. Sesuai
dengan tujuan diajarkannya konsep-konsep yang tercakup dalam materi
pembelajaran, maka dapat disusun dan dikelompokkan berdasarkan sifat-sifat
inklusif, kurang inklusif sampai kepada yang sifatnya paling khusus.

Dalam pendidikan, peta konsep dapat diterapkan untuk berbagai tujuan.


Menurut Dahar (1989:129) menyatakan bahwa berdasarkan tujuannya, fungsi
peta konsep ada empat.

1. Menyelidiki apa yang telah diketahui siswa.

Sebelumnya telah diketahui bahwa belajar bermakna membutuhkan usaha


yang sungguh-sungguh dari pihak siswa untuk menghubungkan pengetahuan
baru dengan konsep-konsep relevan yang telah mereka miliki.Untuk
memperlancar proses ini, baik dosen dan mahasiswa perlu mengetahui
konsep-konsep apa yang telah dimiliki mahasiswa ketika pelajaran baru akan
dimulai, sedangkan maha-siswa diharapkan dapat menunjukkan di mana
mereka berada, atau konsep-konsep apa yang telah mereka miliki.dalam
menghadapi pelajaran baru itu. Dengan menggunakan peta konsep dosen
dapat melaksankan apa yang telah dikemukakan di atas, dan dengan demikian
mahasiswa diharapkan akan mengalami belajar ber-makna. Salah satu
pendekatan yang dapat digunakan dosen untuk maksud ini ialah dengan
memilih satu konsep utama dari pokok bahasan yang akan dibahas, kemu-dian
menyuruh mahasiswa untuk menyusun peta konsep dengan menghubungkan
konsep-konsep itu. Selanjutnya mahasiswa diminta untuk menambahkan
konsep-konsep dan mengaitkan konsep-konsep itu hingga mambentuk
proposisi yang ber-makna. Dari peta konsep-peta konsep yang dihasilkan oleh
mahasiswa, guru dapat mengetahui sejauh mana pengetahuan mahasiswa
tentang pokok bahasan yang akan diajarkan.

2. Mempelajari Cara Belajar


Bila seseorang dihadapkan pada suatu bab dari buku pelajaran , ia tidak akan
begitu saja memahami apa yang dibacanya.Dengan diminta untuk menyusun
peta konsep dari isi bab itu , ia akan berusaha untuk mengeluarkan konsep-
konsep dari apa yang dibacanya, meletakkan konsep yang paling inklusif pada
puncak pe-ta konsep yang dibuatnya, kemudian mengurutkan konsep-konsep
yang lain yang kurang inklusif pada konsep yang paling inklusif, demikian
seterusnya.

3. Mengungkapkan konsepsi salah

Selain kegunaan-kegunaan yang telah disebutkn di atas, peta konsep dapat


pula mengungkapkan konsepsi salah (misconception) yang terjadi pada
mahasis-wa. Konsep salah biasanya timbul karena terdapat kaitan antara
konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi yang salah.

4. Alat Evaluasi

Penerapan peta konsep dalam pendidikan yang terakhir dibahas adalah peta
konsep sebagai alat evaluasi. Selama ini alat-alat evaluasi yang digunakan
guru adalah tes obyektif atau tes esai. Walaupun cara evaluasi ini akan terus
me-megang peranan dalam dunia pendidikan, teknik-teknik evaluasi baru
perlu dipi-kirkan untuk memecahkan masalah-masalah evaluasi yang kita
hadapi selama ini.

Menurut Susilo dalam Parno (2007:8) fungsi peta konsep dalam pembel-
ajaran adalah (1) merencanakan kuliah, (2) merencanakan dan evaluasi
kurikulum, (3) mengembangkan pembelajaran dengan bertitik tolak pada
identifikasi miskon-sepsi mahasiswa dari peta konsep, (4) mendiskusikan peta
konsep dalam kelas, (5) peta konsep yang menghubungkan teori dasar dan
prosedur eksperimen dalam praktikum mahasiswa, (6) mempelajari buku teks,
(7) meminta mahasiswa mem-buat peta konsep dari soal tes, dan (8)
menganalisis miskonsepsi mahasiswa.
Dalam penelitian ini peta konsep yang dibuat oleh mahasiswa bersumber pada
pengetahuannya tentang materi fisika sekolah yang sudah didapatkannya dari
matakuliah yang ditempuhnya selama empat semester sebelumnya. Peta
konsep yang telah dibuat oleh mahasiswa digunakan untuk menemukan
miskonsepsi ten-tang dasar-dasar fisika sekolah. Selanjutnya sejumlah
miskonsepsi tersebut akan diperbaiki dengan pembelajaran pemecahan
masalah dalam matakuliah KSFS.

Ciri-ciri Peta Konsep


1. Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan
konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang
studi fisika, kimia, biologi, matematika. Dengan menggunakan peta konsep,
siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi
itu lebih bermakna.
2. Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari dua bidang studi, atau
suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan
hubungan-hubungan proporsional antara konsep-konsep.
3. Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep
yang lebih inklusif daripada konsep-konsep yang lain.
4. Bila dua atau lebih konsep digambarkan dibawah suatu konsep yang lebih
inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada konsep tersebut.