Anda di halaman 1dari 12

TUGAS DOGMATIKA III

TENTANG PERTOBATAN

DISUSUN OLEH

NAMA : IWIN S ITAAR


NIM : 214698
PRODY : THEOLOGY

SEKOLAH TINGGI THEOLOGI BAPTIS PAPUA

JULI 2015

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena atas

berkat dan kelimpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah makalah

dengan tepat waktu.

Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "

Pertobatan ,
yang menurut penulis dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk

mempelajarinya Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon

permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat

kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.

Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan

semoga Tuhan Yesus memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Iwin S Itaar, 17 Juli 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
2
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang ................................................................................................................
2. Tujuan Penulisan..............................................................................................................
3. Metode Penulisan..............................................................................................................
4. Sistematika Penulisan........................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ISI...................................................................................................

BAB III PENUTUP .................................................................................................................


1. Kesimpulan
2. Saran dan usul

DAFTAR PUSTAKA.....................

3
BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Pada waktu seseorang menjawab panggilan Allah, saat itu dikenang sebagai pengalaman

pertobatan. Hal tersebut ditandai dengan perubahan cara hidup. Dalam PB pertobatan diikuti

dengan baptisan, seperti yang terjadi pada kepala penjara Filipi dan keluarganya (Kis 16).

Perubahan Paulus dari seorang Yahudi penganiaya menjadi seorang Kristen pemberita Injil,

secara tradisional disebut pertobatannya. Namun, hal itu tentu saja bukanlah perpindahan dari

keadaan tidak beriman menjadi beriman atau dari kehidupan yang ceroboh menjadi

kehidupan yang teratur, bahkan kemungkinan ia tidak melihatnya sebagai pergantian

menganut agama, tetapi pergantian dari warisan Yudaismenya ke Yudaisme yang benar. Kini

Paulus yakin bahwa ia dipanggil untuk pergi kepada orang-orang bukan Yahudi untuk

membawa mereka pada iman kepada Yesus, yang adalah Mesias yang semuladiberitakan oleh

sekte orang-orang Kristen, yang sebelumnya dipandang rendah, namun dengan mereka kini

Paulus bergabung (Kis 24:5). Orang-orang yang menanggapi pemberitaan Paulus tertarik

oleh identitas kelompok persekutuan Kristen di rumah-rumah yang begitu kuat. Mereka yang

bertobat karena Paulus sering adalah anggota masyarakat pinggiran (1Kor 1:26). Para wanita

tertarik karena dihargai sebagai pribadi yang setara (Gal 3:28).

Suatu perubahan batin atau sikap. Perubahan seperti ini dalam PL bahkan dapat berlaku

pada Allah (1Sam 15:11). Pertobatan dituntut dari umat Allah yang pertobatan lazimnya

sering dituangkan dalam bentuk-bentuk kultis belaka, dan oleh karena itu dikutuk oleh para

nabi sebagai tidak cukup dan kosong (Am 4:6; Hos 6:4; Yes 1:10-17) tanpa perubahan

mendasar yang dituntut oleh Taurat. Pengharapannya terletak pada kemungkinan

bahwabentuk-bentuk kultis belaka, dan oleh karena itu dikutuk oleh para nabi sebagai tidak

4
cukup dan kosong (Am 4:6; Hos 6:4; Yes 1:10-17) tanpa perubahan mendasar yang dituntut

oleh Taurat. Pengharapannya terletak pada kemungkinan bahwa kelak Tuhan akan

memberikan umat-Nya suatu hati yang baru (Yeh 36:26-31), dan bahwa akan ada

pengampunan kepada semua yang bertobat (Yes 1:18-19). Dalam PB pertobatan itu

diberitakan oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:9-10) dan harus disahkan oleh baptisan. Seruan

itu diulangi Yesus (Luk 5:32) dan sesekali juga oleh Paulus (mis. Rom 2:4), dan lagi dalam

Wahyu 2:5.

2. TUJUAN PENULISAN
Sesuai dengan yang dirumuskan dalam penulisan ini bertujuan secara umum untuk

mengetahui arti dari Pertobatan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, supaya umat

Tuhan paham dan mengerti tentang Pertobatan dan mengaplikasikannya.


3. METODE PENULISAN

Setiap penulisan sutu makalah memerlukan bermacam-macam metode. Metode yang penulis

gunakan dalam pembahasan makalah ini adalah penelitian kepustakaan (Library Research).

4. SISTEMATIKA PENULISAN

Penulisan Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini penulis menjelaskan tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, metode

penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II PEMBAHASAN ISI

Pada bab ini penulis menjelaskan tentang definisi pertobatan menurut PL dan PB

BAB III PENUTUP

Pada bab ini penulis membahas tentang kesimpulan ,saran ,usul serta daftar pustaka.

5
BAB II

ISI PEM BAHASAN

A. DEFINISI PERTOBATAN

Menurut Diktat Pengantar Sistematika Teologi;

a. Mula-mula pengertian perkataan bertobat dalam bahasa Ibrani NOCHAM yang

tertera dalam Perjanjian Lama, berarti terengah-engah, mengeluh dan

berdukacitaBahasa Gerika ( Yunani ) METANOIA dalam Perjanjian Baru

berarti,merubah cara berpikir ( hidup ) seseorang.


b. Standar Dictionary mendefinisikan perkataan bertobat sebagai berikut : suatu

kejujuran dan kesempatan,pertobatan berpikir dan ketetapan dalam pandangan hal

dosa, membalikan suatu pikiran dari kejahatan pribadi dan tak berdaya, pengertian

tentang kemurahan Allah, suatu kesukaan yang kuat untuk melarikan diri atau

diselamatkan dari dosa dan meninggalkan dosa secara sukarela.


c. Perhatikan : Ada tiga aspek pertobatan
1. mempengaruhi pikiran. Suatu pertobatan pandangan terhadap dosa, diri sendiri

dan Allah pengetahuan / kesadaran akan dosa Maz 51:5; Ayub 42: 5-6;

Roma 3 :20.
2. Mempengaruhi perasaan. Suatu perobahan perasaan.
a. penyesalan akan dosaa. II Kor 7 : 9 -10
b. keinsyafan dan pengakuan akan dosa. Maz 40 : 1-3, 32: 5; 38:19; Yer 3 : 13-

14; I Yoh 1 : 9.
3. Mempengaruhi Kehendak. Suatu pertobatan tindakan. Menghindarkan diri atau

meninggalkan dosa. Ams 20 : 13; Yes 55 : 7; yehez 18: 30-32; Luk 15 : 18-20.

B. Dalam PL

Kata Ibrani syuv berarti berputar, berbalik kembali. Mengacu kepada tindakan

berbalik dari dosa kepada Allah. Dalam Yer 3:14 diterjemahkan kembalilah, dalam Maz

78:34 berbalik, dalam Yer 18:8 bertobat. PL beberapa kali bicara tentang suatu bangsa

6
kembali kepada Allah, satu kali tentang bangsa kafir di Niniwe (Yun 3:7-10), dan selebihnya

berkaitan dengan Israel. PL jarang sekali mencatat pertobatan perseorangan (Mazm 51:12,

peristiwa Naaman, Yosia dan Manasye), tapi menubuatkan pertobatan segala ujung bumi

kepada Allah (Mazm 22:27). Bagi orang Israel, yaitu umat perjanjian Allah, pertobatan

berarti kembali kepada Allah sesudah tersesat dan sesudahmendurhakai-Nya. Dengan

perkataan lain, bukan berubah agama tapi meneguhkan kembali kepercayaan dan ketaatan

pribadi kepada Allah.

PL menekankan bahwa cakupan pertobatan melebihi duka cita penyesalan dan perubahan

tingkah laku lahiriah. Dalam keadaan apa pun pertobatan yg sungguh kepada Allah mencakup

merendahkan diri batiniah, perubahan hati yg sungguh, dan benar-benar merindukan Yahweh

(Ul 4:29 dab; Ul 30:2,10; Yes 6:9 dab; Yer 24:7), disertai pengenalan yg jelas dan baru akan

diriNya dan jalan-Nya (Yer 24:7; bnd 2Raj 5:15; 2Taw 33:13).

C. Dalam PB

a. metanoia dan metanoeo muncul dalam PB sebanyak 58 kali dan selalu diterjemahkan

bertobat, kecuali dalam Luk 17:3 ( menyesal) dan Ibr 12:17 ( memperbaiki kesalahan,

yg lebih merupakan tafsiran daripada terjemahan). Arti asasi kedua kata di atas ialah

perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yg sama

sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepada-Nya. Inilah yg

terungkap dalam perangai atau perilaku seseorang sebagai dampak dari karya Roh Kudus yg

melahirkan kembali orang itu.

Tapi adalah salah bila meremehkan duka cita penyesalan dan kebencian terhadap dosa,

berpaling dari dosa itu dan menghadap Allah. Memang benar, ada dukacita ygTapi adalah

salah bila meremehkan duka cita penyesalan dan kebencian terhadap dosa, berpaling dari

dosa itu dan menghadap Allah. Memang benar, ada dukacita yg abnormal yg bukan

7
pertobatan (lih 2Kor 7:10); dukacita demikian jelas dalam peristiwa Yudas (Mat 27:3-5) dan

Esau (Ibr 12:17). Tapi ada duka cita penyesalan yg sesuai dengan kehendak Allah, yg

melahirkan pertobatan dan mendatangkan keselamatan (2Kor 7:9-10) dan hal ini, mutlak

sebagai unsur pertobatan (lih Ayub 42:5-6; Mazm 51:1-15; Luk 22:61).

Pertobatan adalah syarat mutlak untuk beroleh keselamatan. Yesus memulai pelayanan-Nya

di muka umum dengan seruan bertobatlah, dan salah satu ucapan-Nya sebelum Ia naik ke

sorga ialah, pertobatan dan pengampunan dosa harus diberitakan kepada segala bangsa (Luk

24:47, bnd Luk 13:3-5). Baik Petrus (Kis 2:38) maupun Paulus (Kis 17:30) memberitakan

mutlak perlunya pertobatan, dan dalam Kis 20:21 Paulus meringkaskan injilnya dengan,

Bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Tuntutan supaya

bertobat, dan kenyataan bahwa pertobatan adalah mutlak perlu untuk pengampunan dosa dan

beroleh hidup yg kekal, menyatakan bahwa keselamatan mustahil tanpa pertobatan. Iman

tanpa pertobatan bukanlah iman yg membawa kepada keselamatan.

Adalah sia-sia mempertanyakan yg mana lebih dahulu: pertobatan atau iman? Keduanya

terjadi serentak. Iman terarah kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan dari dosa,

kekudusan, kehidupan dan mencakup perihal membenci dosa dan meninggalkannya yg

disebut pertobatan, yakni berbalik dari dosa kepada Allah termasuk menerima anugerah Allah

dalam Kristus dengan iman.

Adalah sia-sia mempertanyakan yg mana lebih dahulu: pertobatan atau iman? Keduanya

terjadi serentak. Iman terarah kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan dari dosa,

kekudusan, kehidupan dan mencakup perihal membenci dosa dan meninggalkannya yg

disebut pertobatan, yakni berbalik dari dosa kepada Allah termasuk menerima anugerah Allah

dalam Kristus dengan iman.

8
b. epistrefo muncul sebanyak 30 kali. Dalam arti harfiah kata ini diterjemahkan kembali

atau berpaling (Mat 10:13; 24:18; Kis 16:18; Wahy 1:12). Satu kali diterjemahkan insaf

berkaitan dengan pemulihan Petrus sesudah kejatuhannya ke dalam dosa (Luk 22:32). Jika

kata itu mengandung makna keagamaan, maka biasanya diterjemahkan berbalik (Mat 13:15

dan ay-ay sejajarnya, dialaskan pada kata Ibrani syuv), dan dua kali diterjemahkan bertobat

(Kis 3:19; 15:3). Kata kerja biasa strefo juga diterjemahkan bertobat dalam Mat 18:3.

Jadi epistrefo menunjuk kepada tindakan putar balik atau pertobatan kepada Allah, unsur

yg sangat menentukan dan dengan itu orang berdosa Yahudi atau non-Yahudi masuk

ke dalam eskatologis Kerajaan Allah melalui iman dalam Yesus Kristus dan menerima

pengampunan dosa. Tindakan ini menjamin perolehan keselamatan yg dibawa oleh Kristus,

dan sifatnya adalah sekali untuk selamanya, tidak dapat diulangi seperti teracu dalam

pemakaian biasa waktu aoristus dari kata kerja Yunani bersangkutan.

bersangkutan.

BAB III

PENUTUP

9
1. Kesimpulan

Jelaslah bahwa jika seseorang berbalik kepada Allah, tindak perbuatan itu

mengungkapkan terjadinya perubahan hati yg begitu mutlak penting dan menentukan

(biasanya disertai hati yg remuk). Dalam tulisan penulis-penulis Kristen dan dalam

pengertian umum gereja di Indonesia, kata pertobatan umumnya digunakan untuk

mengartikan gagasan-gagasan yg dalam bh Yunani diungkapkan baik dengan epistrefo

maupun metanoia (berbalik dan berubah hati), padahal oleh beberapa bahasa lain keduanya

dianggap memaksudkan dua kebenaran yg terpisah, ump conversion dan repentance dalam bh

Inggris.

Pertobatan ditilik dari nalar ilmu jiwa adalah tindakan manusia sendiri. Tapi nalar Alkitab

menjelaskan bahwa dalam arti asasi dan yg sesungguhnya, Allah turut berperan dalam

pertobatan. Rat 5:21 menyatakan bahwa orang berdosa bertobat kepada Allah jika Allah

membawa orang itu kepada pertobatan (bnd Yer 31:18 dab). PB menyatakan bahwa jika

seseorang berkemauan dan bekerja sesuai kehendak Allah berkaitan dengan keselamatannya,

maka Allah sendirilah yg bekerja dalam diri orang itu, yg memampukan dan memotivasi dia

melakukan itu (Filipi 2:12 ).

Pertobatan adalah karya ilahi. Allah menyembuhkan ketidakmampuan rohani manusia,

membangkitkannya dari kematian (Ef 2:1 dab), melahirkan dia kembali (Yoh 3:1 dab),

membuka hatinya (Kis 16:14), membuka dan mencelikkan matanya yg buta (2Kor 4:4-6),

memberinya pengertian (1Yoh 5:20). Dalam peristiwa-peristiwa itu manusia tidak

mempunyai andil apa pun. Manusia menanggapi Injil hanyalah karena Allah telah lebih

dahulu bekerja dalam diri manusia menuju pertobatan itu. Berita pertobatan Paulus dan

beberapa yg mengacu pada kuasa dan keyakinan yg diberikan Roh Kudus kepada Firman

Allah (Yoh 16:8; 1Kor 2:4 dab; 1Tes 1:5) menunjukkan bahwa Allah menarik manusia

10
kepada-Nya dengan daya ilahi yg mustahil ditolak, yg kadang-kadang dirasakan sebagai tak

dapat dilawan oleh manusia.

2. Saran dan Usul

1. Saran
Dalam penyelesaian pembuatan makalah ini penulis berharap biarlah para pembaca :
a. Mempertahankan apa yang telah didapat atau diperoleh dari Makalah tentang
PERTOBATAN.
b. Pembaca dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan pelayanan yang harus
dilakukan berkaitan dengan pertobatan.
2. Usul
Penulis berharap agar materi pokok bahasan dalam makalah ini dan dikembang dan
di lakukan oleh setiap pembaca guna memenuhi kebutuhan pelayanan.

Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan
dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena
terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan
judul makalah ini.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah
di kesempatan kesempatan berikutnya.

Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman
pada umumnya.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

11
KEPUSTAKAAN. J Calvin, Institutes of the Christian Relegion 3, 3-5; J Taylor, The

Doctrine and Practice of Repentance Works 9, 1822; W. D Chamberlain, The Meaning of

Repentance, 1943. JM/JBT/HAO

Pengantar Sistematika Teologi

12