Anda di halaman 1dari 64

....PANCASILA....

Tentunya kita tidak asing dengan kata tersebut. Dari SD-SMP-SMA kita sering
mendengar kata-kata tersebut setiap upacara bendera. Tidak jarang pelajaran
PPKN juga sering membahas Pancasila. Kita dianjurkan untuk mengikuti dan
mengamalkannya. Tapi apakah kita benar-benar mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari...?

PERTANYAAN DAN SEBUAH PR BAGI KITA SEMUA...!!!

1. Ketuhanan Yang Maha Esa..cukuplah menggambarkan bahwa bangsa ini


adalah bangsa yang ber-Tuhan. Seluruh aktivitas hidup bernegara
harusnya sesuai dengan nilai-nilai kebenaran bukan kekuasaan dan
kepuasan.
Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta
segala sesuatu dengan sifat-sifat yang sempurna dan suci seperti Maha
Kuasa, Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana dan sebagainya;

Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua


perintah- NYA dan menjauhi larangan-larangannya. Dalam memanfaatkan
semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah manusia
harus menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk yang ada di sekeliling
manusia merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-
baiknya; harus dirawat agar tidak rusak dan harus memperhatikan
kepentingan orang lain dan makhluk-makhluk Tuhan yang lain.

Contoh, merawat lingkungan dengan menjaga kebersihan, tidak


membuang sampah sembarangan, tidak membakar lahan yang membuat
orang lain terganggu, merawat binatang dengan kasih sayang, merawat
hutan dan tidak menebangi sembarang, dll.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradabcukuplah menjadikan kita manusia


yang manusiawi, tidak suka membantai, membunuh, menyakiti fisik
dan/atau psikis saudara kita sebangsa. dengan alasan apapun tidak ada
kesempatan kita untuk tidak berlaku manusiawi. Kita bangsa yang beradab
bukan biadab. cukuplah perseteruan perbedaan agama, partai, calon yang
diusung yang telah melahirkan kerugian materi dan immateri.
-Pengakuan adanya harkat dan martabat manusia dengan sehala hak dan
kewajiban asasinya;
-Perlakuan yang adil terhdap sesama manusia, terhadap diri sendiri, alam
sekitar dan terhadap Tuhan;
-Manusia sebagai makhluk beradab atau berbudaya yang memiliki daya
cipta, rasa, karsa dan keyakinan.
Contoh penerapannya :
- Memberikan hak setiap orang untuk memperoleh informasi, kenyamanan
dalam bertetangga, hak untuk mendapat kesehatan dan hidup yang layak.
- Saling menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Seperti tidak membuat
keributan dan kerusuhan kecil yang mengakibatkan bencana besar.

3.Dalam Sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa,


dalam arti dalam hal-hal yang menyangkut persatuan bangsa patut
diperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :

Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah


Indonesia serta wajib membela dan menjunjung tinggi (patriotisme);

Pengakuan terhadap kebhinekatunggalikaan suku bangsa (etnis) dan


kebudayaan bangsa (berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan
arah dalam pembinaan kesatuan bangsa;

Cinta dan bangga akan bangsa dan Negara Indonesia (nasionalisme).

Penerapannya dalam kehidupan :

Di beberapa daerah tidak sedikit yang mempunyai ajaran turun temurun


mewarisi nilai-nilai leluhur agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang
dilarang oleh ketentuan-ketentuan adat di daerah yang bersangkutan,
misal dilarang menebang pohon tertentu atau larangan
memakan/membunuh binatang tertentu di daerah tersebut.

4.Dalam Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan


Dalam Permusyawaratan Perwakilan, terkandung nilai-nilai kerakyatan.
Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus dicermati, yakni:
-Kedaulatan negara adalah di tangan rakyat;
-Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi akal
sehat;
-Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat
mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama;
-Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat oleh wakil-
wakil rakyat.

Penerapannya dalam kehidupan :


Mewujudkan dan menumbuh kembangkan hak dan tanggung jawab
terhadap pengelolaan lingkungan hidup.

5.Dalam Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia terkandung


nilai keadilan sosial.
Dalam hal ini harus diperhatikan beberapa aspek berikut :
- Perlakuan yang adil di segala bidang kehidupan terutama di bidang
politik, ekonomi dan sosial budaya;
- Perwujudan keadilan sosial itu meliputi seluruh rakyat Indonesia;
- Keseimbangan antara hak dan kewajiban;
- Menghormati hak milik orang lain;
- Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material spiritual
bagi seluruh rakyat Indonesia;
-Cinta akan kemajuan dan pembangunan.

Penerapan dalam kehidupan :


Meningkatkan dan mengelola Sumber Daya Alam yang akan menjadi
warisan generasi selanjutnya
pelaksanaan pancasila dalam kehidupan sehari-hari

KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadiran
Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahman dan
karunia-Nya kepada saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul
Pelaksanaaan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-
hari ini dengan lancar. Penulisan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang
di berikan dosen yang mengajar mata kuliah
Pancasila.
Makalah ini di tulis dari hasil penyusunan
data-data sekunder yang saya peroleh dari buku
panduan yang berkaitan dengan Pendidikan
Pancasila, serta informasi dari internet yang
berhubungan dengan nilai-nilai pancasila,tak lupa
saya ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa
yang telah membantu saya dalam memcari
informasi sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini.
saya mengakui bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dn mash jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran,saya harapkan.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih.
Kupang , Oktober 2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. . LATAR BELAKANG
Di Zaman Globalisasi saat ini yang mana setiap individu sering
melupakan bahkan mempertanyakan nilai-nilai yang ada dalam
pancasila maka dirasakan makin kuat pula desakan untuk terus
menerus mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila yang
merupakan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di negara
Republik Indonesia ini.
Berbicara tentang nilai, nilai-nilai yang terkandung dalam
pancasila memiliki arti yang mendalam baik itu secara historis
maupun pengamalannya dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai
pancasila ini bagi bangsa Indonesia meupakan landasan atau dasar,
cita-cita dalam malakukan sesuatu juga sebagai motivasi dalam
perbuatannya, baik dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat
maupun dalam kehidupan kenegaraan.
Bila saya lihat babak pergantian pemerintahan di Indonesia,
tanpa disadari, pancasila sedikit mengalami perubahan dalam hal
penghayatannya. Setidaknya penghayatan yang berbeda ini telah
berdampak bagi reformasi hukum di Indonesia. Pancasila telah
menjiwai anak-anaknya untuk terus mempertahankan cita-cita yang
ada hingga masa reformsi kini. Akan tetapi perubahan yang terjadi
selalu membawa dampak baik itu yang positif dan negatif. Akan tetapi
kita patut bersyukur semenjak pergerakan G 30 S yang didalangi PKI
usaha untuk menjatuhkan pancasila tidak pernah terjadi lagi.
Dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, nilai-nilai
kepancasilaan yang kita pertahankan tersebut yang ada, seakan
dikesampingkan dan itu menjadi sebuah permasalahan baru dewasa
ini. Pertanyaan yang paling dibicarakan adalah bagaimana bentuk
nyata penerapan yang cocok terhadap nilai-nilai pancasila tersebut di
dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, berbangsa dan bernegara
seiring dengan derasnya arus globalisasi dan juga bagaimana
penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam karya tulis ini adalah :
- Pedoman Pengamalan Pancasila
- Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila sebagai Dasar
Negara ?
- Bagaimana Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
masyarakat ?

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulusan karya tulis ini adalah :
Untuk Mengetahui Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila
sebagai Dasar Negara?
Untuk mengetahui Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari?

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENDAPAT PARA AHLI TENTANG PANCASILA
A. Pengertian Asal Mula Pancasila
Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideology bangsa dan
Negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan
hanya diciptakan oleh seseorang sebagaimana yang terjadi pada
ideology-ideologi lain di dunia, namun terbentuknya Pancasila
melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa
Indonesia .
Secara kausalitas Pancasila sebelum disyahkan menjadi
dasar filsafat Negara nilai-nilainya telah ada dan berasal dari
berbangsa Indonesia sendiri yang berupa nilai-nilai ada-
istiadat,kebudayaan dan nilai religious. Maka secara kausalitas
asal mula Pancasila di bedakan atas dua macam yaitu: asal mula
yang langsung dan asal mula yang tidak langsung. Adapun
pengertian asal mula tersebut adalah sebagai berikut ini:
1. Asal mula yang langsung.
Pengertian asal mula secara ilmiah filsafati di bedakan atas
empat macam yaitu: Karusa Materialis,Kausa Formalis,kausa
Efficient dan kausa Finalis(Bagus :158). Teori kausalitas ini
dikembangkan oleh Arisoteles, adapun berkaitan dengan asal
mula yang berlangsung tentang pancasila adalah asal mula yang
langsung terjadi pancasila sebagai dasar filsafat Negara yaitu asal
mula sesudah dan menjelang proklamasi kemerdekaan yaitu
dirumuskan oleh para pendiri Negara sejak di siding BPUPKI
pertama, Paniti sembilan, sidang BPUPKI kedua serta sidang
PPKI sampai pengesahannya. Adapun rincian asal mula langsung
pancasila,
1. menurut Notonagoro adalah sebagai berikut:
1. Asal mula bahan (kausalitas materialis)
Bangsa indonesia adalah sebagai asal dari nilai-nilai
pancasila,sehingga pancasila itu pada hakikatnya nilai-nilai yang
merupakan unsur-unsur pancasila digali dari bangsa indonesia
yang berupa nila-nilai adat istiadat kemudian serta nilai-nilai
religius yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari bangsa
indonesia.
2. Mula Bentuk ( Kausa Formalis)
Hal ini di maksudkan bagaimana asal mula bentuk bagaimana
bentuk pancasila di rumuskan sebagai mana termuat dalam
pembukaan UUD 1945.
3. Asal mula karya ( kausa effisien)
Kausa effisien atau asal mula karya yaitu asal mula yang
menjadikan pancasila dari calon dasar negara menjadi dasar
negara yang sah.
4. Asal mula tujuan( kausa finalis)
Pancasila dirumuskan dan di bahas dalam sidang-sidang para
pendiri negara ,tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai dasar
negara.
Asal mula yang tidak langsung
Secara kausalitas asal mula tidak langsung pancasila adalah
kepribadian serta dalam pandangan hidup sehari-hari bangsa
indonesia.Maka asal mula tidak langsung pancasila bilamana di
rinci adalah sebagi berikut:
a. Unsur-unsur pancasila tersebut sebelum secara langsung
dirumuskan menjadi dasar filsafat negara, nilai-nilainya yaitu
nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan,nilai
kerakyatan, dan nilai keadilan telah ada dan tercermin dalam
kehidupan sehari-hari bangsa indonesia sebelum membentuk
negara.
b. Nilai-nilai ersebut terkandung dalam pandangan hidup
masyarakat Indonesia sebelum membentuk Negara,yang berupa
nilai-nilai adat-istiadat, nilai kebudayaan serta nilai religiou.
Nilai ini menjadi pedoman dalam memecahkan masalah di
kehidupan sehari-hari kita.
c. Dengan demikian dpa disimpulkan bahwa asal mula idak
langsung pancasila pada hakikanya bangsa Indonesia sendiri atau
dengan orang lain perkataan bangsa Indonesia sebagai kausa
materialis atau asal mula tidak langsung nilai-nilai pancasila

2. Menurut Muhammad Yamin


Pancasila berasal dari kata panca yang berarti lima dan sila yang
berarti sendi, asas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan
baik. dengan demikian pancasila merupakan lima dasar yang berisi
pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.
3. Menurut Soekarno
Pancasila adalah isi jiwa bangsa indonesia yang turun temurun yang
sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan barat. dengan
demikian, pancasila tidak saja falsafah negara. tetapi lebih luas lagi,
yakni falsafah bangsa indonesia

B. PENGALAMAN PANCASILA DI KEHIDUPAN


SEHARI-HARI KITA

Pancasila tidak akan memiliki makna tanpa pengamalan. Pancasila


bukan sekedar simbol persatuan dan kebanggaan bangsa. Tetapi,
Pancasila adalah acuan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara. Oleh karena itu, kita wajib mengamalkan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Tingkah laku sehari-hari kita
harus mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila. Untuk mengamalkan
Pancasila kita tidak harus menjadi aparat negara. Kita juga tidak harus
menjadi tentara dan mengangkat senjata. Kita dapat mengamalkan
nilai-nilai Pancasila di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Kita dapat memulai dari hal-hal kecil dalam keluarga. Misalnya
melakukan musyawarah keluarga. Setiap keluarga pasti mempunyai
masalah. Nah, masalah dalam keluarga akan terselesaikan dengan
baik melalui musyawarah. Kalian dapat belajar menyatukan pendapat
dan menghargai perbedaan dalam keluarga. Biasakanlah
melakukannya dalam keluarga.
Dalam lingkungan sekolah pun kita harus membiasakan
bermusyawarah. Hal ini penting karena teman-teman kita berbeda-
beda. Pelbagai perbedaan akan lebih mudah disatukan
bermusyawarah. Permasalahan yang berat pun akan terasa ringan.
Keputusan yang diambil pun menjadi keputusan bersama. Hal itu
akan mempererat semangat kebersamaan di sekolah. Tanpa
musyawarah, perbedaan bukannya saling melengkapi. Tetapi, justru
akan saling bertentangan. Oleh karena itu, kita harus terbiasa
bermusyawarah di sekolah. Kerukunan hidup di lingkungan sekolah
akan terjaga. Dengan demikian, kalian tidak akan kesulitan
menghadapi dalam lingkungan yang lebih luas. Berawal dari keluarga
kemudian meningkat dalam sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara.
1. Pengamalan Pancasila dalam Rangka Menghargai Perbedaan
Pancasila dirumuskan dalam semangat kebersamaan. Salah satunya
terwujud dalam sikap menghargai perbedaan. Perbedaan pendapat
tidak menjadi hambatan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Hal itu merupakan sikap yang harus kita tiru. Pada waktu itu bangsa
Indonesia belum memiliki dasar negara. Tetapi, sikap para tokoh telah
mencerminkan semangat kebersamaan dan jiwa ksatria. Mereka
bersedia menerima perbedaaan apa pun ketika proses perumusan
dasar negara berlangsung. Nah, sekarang kita telah memiliki Pancasila
sebagai dasar negara yang kuat. Kekuatan Pancasila telah terbukti
selama berdirinya negara Indonesia. Pancasila mampu menyatukan
seluruh bangsa Indonesia. Pancasila juga mampu bertahan
menghadapi rongrongan pemberontak. Oleh karena itu, kita harus
bangga memiliki dasar negara yang kuat. Kita harus dapat
mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Salah
satunya adalah menghargai perbedaan. Kita harus memiliki sikap
menghargai perbedaan seperti dalam perumusan Pancasila. Kita harus
menyadari bahwa negara kita terdiri atas beragam suku bangsa. Setiap
suku Bangsa memiliki ragam budaya yang berbeda. Perbedaan suku
bangsa dan budaya bukan menjadi penghalang untuk bersatu. Tetapi,
justru perbedaan itu akan menjadikan persatuan negara kita kuat
seperti Pancasila.

2. Pengamalan Pancasila dalam Wujud Sikap Toleransi


Mengamalkan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (falsafah
hidup bangsa) berarti melaksanakan pancasila dalam kehidupan
sehari-hari , menggunakan pancasila sebagai petunjuk hidup sehari-
hari , agar hidup kita dapat mencapai kesejahteraan dan kebahagian
lahir dan batin.

Pengamalan pancasila dalam kehidupan sehari-hari ini adalah sangat


penting karena dengan demikian diharapkan adanya tata kehidupan
yang serasi (harmonis).

Bahwa pengamalan pancasila secara utuh (5 sila) tersebut adalah


merupakan menjadi syarat penting bagi terwujudnya cita-cita
kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pola Pelaksanaan Pedoman Pelaksanaan Pengamalan Pancasila


Pola pelaksanaan pedoman pelaksanaan pengamalan pancasila
dilakukan agar Pancasila sungguh-sungguh dihayati dan diamalkan
oleh segenap warga negara, baik dalam kehidupan orang seorang
maupun dalam kehidupan kemasyarakatan. Oleh sebab itu,
diharapkan lebih terarah usaha-usaha pembinaan manusia Indonesia
agar menjadi insan Pancasila dan pembangunan bangsa untuk
mewujudkan masyarakat Pancasila.
Jalur-jalur yang digunakan
Jalur pendidikan
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam
pengamalan Pancasila, baik pendidikan formal (sekolah-sekolah)
mapun pendidikan nonformal (di keluarga dan lingkungan
masyarakat), keduanya sangat erat kaitanya dengan kehidupan
manusia.
Dalam pendidikan formal semua tindak-perbuatannya haruslah
mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam pendidikan keluarga
pengamalan Pancasila harus ditanamkan dan dikembangkan sejak
anak-anak masih kecil, sehingga proses pendarah-dagingan nilai-nilai
Pancasila dengan baik dan menuntut suasana keluarga yang
mendukung. Lingkungan masyarakat juga turut menentukansehingga
harus dibina dengan sungguh-sungguh supaya menjadi tempat yang
subur bagi pelaksanaan pengamalan Pancasila.
Melalui pendidikan inilah anak-anak didik menyerap nilai-nilai moral
Pancasila. Penyerapan nilai-nilai moral Pacasila diarahkan berjalan
melalui pemahaman dari pemikiran dan dan pengamalan secara
pribadi. Sasaran pelaksanaan pedomaan pengamalan Pancasila adalah
perorangan, keluarga, masyarakat, baik dilingkungan tempat tinggal
masing-masing, maupun di lingkungan tempat bekerja.
Jalur media massa
Peranan media massa sangat menjanjikan karena pengaruh media
massa dari dahulu sampai sekarang sangat kuat, baik dalam
pembentukan karakter yang positif maupun karakter yang negatif,
sasaran media massa sangat luas mulai dari anak-anak hingga orang
tua. Sosialisasi melalui media massa begitu cepat dan menarik
sehingga semua kalangan bisa menikmati baik melalui pers, radio,
televisi dan internet. Hal itu membuka peluang besar golongan
tertentu menerima sosialisasi yang seharusnya belum saatnya mereka
terima dan juga masuknya sosialisasi yang tidak bersifat membangun.
Media massa adalah jalur pendidikan dalam arti luas dan peranannya
begitu penting sehingga perlu mendapat penonjolan tersendiri sebagai
pola pedoman pengamalan Pancasila. Sehingga dalam menggunakan
media massa tersebut harus dijaga agar tidak merusak mental bangsa
dan harus seoptimal mungkin penggunaannya untuk sosialisasi
pembentukan kepribadian bangsa yang pancasilais. Jadi, untuk
sosialisasi-sosialisasi yang mengancam penanaman pengamalan
Pancasila harus disensor.
Jalur organisasi sosial politik
Pengamalan Pacansila harus diterapkan dalam setiap elemen bangsa
dan negara Indonesia. Organisasi sosial politik adalah wadah
pemimpin-pemimpin bangsa dalam bidangnya masing-masing sesuai
dengan keahliannya, peran dan tanggung jawabnya. Sehingga segala
unsur-unsur dalam organisasi sosial politik seperti para pegawai
Republik Indonesia harus mengikuti pedoman pengmalan Pancasial
agar berkepribadian Pancasila karena mereka selain warga negara
Indonesia, abdi masyarakat juga sebagai abdi masyarakat, dengan
begitu maka segala kendala akan mudah dihadapi dan tujuan serta
cita-cita hidup bangsa Indonesia akan terwujud.
Penciptaan suasana yang menunjang
a. Kebijaksanaan pemerintah dan peraturan perundang-undangan
Penjabaran kebijaksanaan pemerintah dan perundang-undangan
merupakan salah satu jalur yang dapat memperlancar pelaksanaan
pedoman pengamalan pancasila dimana aspek sanksi atau penegakan
hukm mendpat penekanan khusus.
b. Aparatur negara
Rakyat hendaklah berpartisipasi aktif di dalam menciptakan suasana
dan keadaan yang mendorong pelaksanaan pedoman pengamalan
Pancasila. Dan aparatur pemerintah sebagai pelaksana dan pengabdi
kepentingan rakyat harus memahami dan mengatasi permasalahan-
permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Sarana dan prasarana
dalam pelaksanaan pengamalan Pacasila perlu disediakan dan
memfungsikan lembaga-lembaga kenegaraan, khususnya lembaga
penegak hukum dalam menjamin hak-hak warga negaranya dan
melindungi dari perbutan-perbuatan tercela.
A. Kepemimpinan dan pemimpin masyarakat
Peranan kepemimpinan dan pemimpin masyarakat, baik pemimpin
formal maupun informal sangat penting dalam pelaksanaan
pedoman pengamalan. Mereka dapat menyampaikan bagaimana pola
Dengan pelaksanaan pedoman pengamalan Pancasila dan menyuruh
bawahan atau umatnya untuk mengikuti pola pedoman pelaksanaan
Pancasila. begitu Pengamalan pancasila akan tetep les
A. Pedoman Pengamalan Pancasila
Pedoman dalam penghayatan dan pengamalan pancasila
dituangkan dalam ketetapan No.II/MPR/1978. Penjabaran ketetapan
MPR itu adalah (Noor Ms. Bakry: 1994, 183-185):
1. Sila ketuhanan Yang Maha Esa
1) Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan
agamanya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
2) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama
antar pemeluk agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
3) Mengembangkan saling hormat menghormati kemerdekaan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
4) Menghargai setiap bentuk ajaran agama, dan tidak boleh
memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab
1) Mengakui dan memperlakukan manusia dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2) Memandang persamaan derajat, hak dan kewajiban antara sesama
manusia tanpa membedakan suku, turunan dan kedudukan sosial.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, tepa
selira dan tidak semena-mena terhadap orang lain.
4) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gemar melakukan
kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berani membela kebenaran dan
keadilan.
5) Merasa sebagai bagian dari seluruh umat manusia dan karena itu
berkewajiban mengembangkan sikap hormat menghormati dan
bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.
3. Sila persatuan indonesia
1) Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan
bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Cinta tnah air dan bangsa Indonesia, sehingga sanggup dan rela
berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa, apabila diperlukan.
3) Bangga sebagai bangsa Indonesia ber-Tanah air Indonesia dalam
rangka memelihara ketertiban dunia.
4) Mengembangkan rasa persatuan dan kesatuan atas dasar Bhinneka
Tunggal Ika dalam memajukan pergaulan hidup bersama.
4. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga-masyarakat Indonesia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sma dalam.
2) Keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlabih dahulu
diadakan musyawarah, dan keputusan musyawarah diusahakan secara
mufakat, diliputi oleh semangat kekeluargaan.
3) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan
musyawarah dan melaksanakannya dengan itikad baik dan rasa
tanggungjawab.
4) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan hati nurani yang
luhur, dengan mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat,
serta tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
5) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat
dan martabat manusia, serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
5. Sila keadilan bagi seluruh rakyat indonesia
1) Menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan
keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat indonesia.
2) Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur menceminkan
sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
3) Bersikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak
dan kewajiban serta menghormati ha-hak orang lain.
4) Memupuk sikap suka memberi pertolongan kepada orang lain yang
membutuhkan agar dapat berdiri sendiri, tidak menggunakan hak
milik untuk pemerasan, pemborosan, bergaya hidup mewah dan
perbuatan lain yang bertentangan dan merugikan kepentingan umum.
5) Memupuk sikap suka bekerja keras dan menghargai karya orang
lain yang bermanfaat, serta bersama-sama mewujudkan kemajuan
yang merata dan kesejahteraan bersama.
BAB III
PENUTUP
. Kesimpulan

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai


dasar negara sesungguhnya berisi:
1. Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea
keempat Pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam
Memorandum DPR-GR 9 Juni 1966 yang menandaskan Pancasila
sebagai pandangan hidup bangsa yang telah dimurnikan dan
dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar
negara Republik Indonesia.
2. Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh
ialah karena setiap sila dalam Pancasila tidak dapat diantitesiskan satu
sama lain. Secara tepat dalam Seminar Pancasila tahun 1959
3. Setiap sila (dasar/ azas) memiliki hubungan yang saling mengikat
dan menjiwai satu sama lain sedemikian rupa hingga tidak dapat
dipisah-pisahkan. Melanggar satu sila dan mencari pembenarannya
pada sila lainnya adalah tindakan sia-sia.
4. sifat dasar Pancasila yang pertama dan utama, yakni sebagai dasar
negara (philosophische grondslaag) Republik Indonesia. Pancasila
yang terkandung dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945
tersebut ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus
1945 oleh PPKI yang dapat dianggap sebagai penjelmaan kehendak
seluruh rakyat Indonesia yang merdeka.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai
dasar negara sesungguhnya berisi:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Makna sila ini adalah:
- Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan
agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab.
- Hormat dan menghormati serta bekerjasama antara pemeluk agama
dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga
terbina kerukunan hidup.
- Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing.
- Tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang
lain.
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Makna sila ini adalah:
- Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan
kewajiban antara sesama manusia.
- Saling mencintai sesama manusia.
- Mengembangkan sikap tenggang rasa.
- Tidak semena-mena terhadap orang lain.
- Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
- Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
- Berani membela kebenaran dan keadilan.
- Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat
Dunia Internasional dan dengan itu harus mengembangkan sikap
saling hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia
Makna sila ini adalah:
- Menjaga Persatuan dan Kesatuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
- Rela berkorban demi bangsa dan negara.
* Cinta akan Tanah Air.
* Berbangga sebagai bagian dari Indonesia.
* Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang
ber-Bhinneka Tunggal Ika.
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Makna sila ini adalah:
* Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
* Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
* Mengutamakan budaya rembug atau musyawarah dalam mengambil
keputusan bersama.
* Berrembug atau bermusyawarah sampai mencapai konsensus atau
kata mufakat diliputi dengan semangat kekeluargaan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Makna sila ini adalah:
* Bersikap adil terhadap sesama.
* Menghormati hak-hak orang lain.
* Menolong sesama.
* Menghargai orang lain.

Pancasila tidak akan memiliki makna tanpa pengamalan. Pancasila bukan


sekedar simbol persatuan dan kebanggaan bangsa. Tetapi, Pancasila adalah
acuan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu,
kita wajib mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Tingkah laku sehari-hari kita harus mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila.
Untuk mengamalkan Pancasila kita tidak harus menjadi aparat negara. Kita juga
tidak harus menjadi tentara dan mengangkat senjata. Kita dapat mengamalkan
nilai-nilai Pancasila di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kita dapat
memulai dari hal-hal kecil dalam keluarga. Misalnya melakukan musyawarah
keluarga. Setiap keluarga pasti mempunyai masalah. Nah, masalah dalam
keluarga akan terselesaikan dengan baik melalui musyawarah. Kalian dapat
belajar menyatukan pendapat dan menghargai perbedaan dalam keluarga.
Biasakanlah melakukannya dalam keluarga.
Dalam lingkungan sekolah pun kita harus membiasakan bermusyawarah. Hal ini
penting karena teman-teman kita berbeda-beda. Pelbagai perbedaan akan
lebih mudah disatukan bermusyawarah. Permasalahan yang berat pun akan
terasa ringan. Keputusan yang diambil pun menjadi keputusan bersama. Hal itu
akan mempererat semangat kebersamaan di sekolah. Tanpa musyawarah,
perbedaan bukannya saling melengkapi. Tetapi, justru akan saling
bertentangan. Oleh karena itu, kita harus terbiasa bermusyawarah di sekolah.
Kerukunan hidup di lingkungan sekolah akan terjaga. Dengan demikian, kalian
tidak akan kesulitan menghadapi dalam lingkungan yang lebih luas. Berawal
dari keluarga kemudian meningkat dalam sekolah, masyarakat, bangsa, dan
negara.
1. Pengamalan Pancasila dalam Rangka Menghargai Perbedaan
Pancasila dirumuskan dalam semangat kebersamaan. Salah satunya terwujud
dalam sikap menghargai perbedaan. Perbedaan pendapat tidak menjadi
hambatan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Hal itu merupakan
sikap yang harus kita tiru. Pada waktu itu bangsa Indonesia belum memiliki
dasar negara. Tetapi, sikap para tokoh telah mencerminkan semangat
kebersamaan dan jiwa ksatria. Mereka bersedia menerima perbedaaan apa
pun ketika proses perumusan dasar negara berlangsung. Nah, sekarang kita
telah memiliki Pancasila sebagai dasar negara yang kuat. Kekuatan Pancasila
telah terbukti selama berdirinya negara Indonesia. Pancasila mampu
menyatukan seluruh bangsa Indonesia. Pancasila juga mampu bertahan
menghadapi rongrongan pemberontak. Oleh karena itu, kita harus bangga
memiliki dasar negara yang kuat. Kita harus dapat mengamalkan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah menghargai
perbedaan. Kita harus memiliki sikap menghargai perbedaan seperti dalam
perumusan Pancasila. Kita harus menyadari bahwa negara kita terdiri atas
beragam suku bangsa. Setiap suku Bangsa memiliki ragam budaya yang
berbeda. Perbedaan suku bangsa dan budaya bukan menjadi penghalang untuk
bersatu. Tetapi, justru perbedaan itu akan menjadikan persatuan negara kita
kuat seperti Pancasila.

2. Pengamalan Pancasila dalam Wujud Sikap Toleransi


Mengamalkan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (falsafah hidup
bangsa) berarti melaksanakan pancasila dalam kehidupan sehari-hari ,
menggunakan pancasila sebagai petunjuk hidup sehari-hari , agar hidup kita
dapat mencapai kesejahteraan dan kebahagian lahir dan batin.

Pengamalan pancasila dalam kehidupan sehari-hari ini adalah sangat penting


karena dengan demikian diharapkan adanya tata kehidupan yang serasi
(harmonis).

Bahwa pengamalan pancasila secara utuh (5 sila) tersebut adalah merupakan


menjadi syarat penting bagi terwujudnya cita-cita kehidupan berbangsa dan
bernegara.

Pola Pelaksanaan Pedoman Pelaksanaan Pengamalan Pancasila


Pola pelaksanaan pedoman pelaksanaan pengamalan pancasila dilakukan agar
Pancasila sungguh-sungguh dihayati dan diamalkan oleh segenap warga
negara, baik dalam kehidupan orang seorang maupun dalam kehidupan
kemasyarakatan. Oleh sebab itu, diharapkan lebih terarah usaha-usaha
pembinaan manusia Indonesia agar menjadi insan Pancasila dan pembangunan
bangsa untuk mewujudkan masyarakat Pancasila.
1. Jalur-jalur yang digunakan
1) Jalur pendidikan
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pengamalan
Pancasila, baik pendidikan formal (sekolah-sekolah) mapun pendidikan
nonformal (di keluarga dan lingkungan masyarakat), keduanya sangat erat
kaitanya dengan kehidupan manusia.
Dalam pendidikan formal semua tindak-perbuatannya haruslah mencerminkan
nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam pendidikan keluarga pengamalan Pancasila
harus ditanamkan dan dikembangkan sejak anak-anak masih kecil, sehingga
proses pendarah-dagingan nilai-nilai Pancasila dengan baik dan menuntut
suasana keluarga yang mendukung. Lingkungan masyarakat juga turut
menentukansehingga harus dibina dengan sungguh-sungguh supaya menjadi
tempat yang subur bagi pelaksanaan pengamalan Pancasila.
Melalui pendidikan inilah anak-anak didik menyerap nilai-nilai moral Pancasila.
Penyerapan nilai-nilai moral Pacasila diarahkan berjalan melalui pemahaman
dari pemikiran dan dan pengamalan secara pribadi. Sasaran pelaksanaan
pedomaan pengamalan Pancasila adalah perorangan, keluarga, masyarakat,
baik dilingkungan tempat tinggal masing-masing, maupun di lingkungan tempat
bekerja.
2) Jalur media massa
Peranan media massa sangat menjanjikan karena pengaruh media massa dari
dahulu sampai sekarang sangat kuat, baik dalam pembentukan karakter yang
positif maupun karakter yang negatif, sasaran media massa sangat luas mulai
dari anak-anak hingga orang tua. Sosialisasi melalui media massa begitu cepat
dan menarik sehingga semua kalangan bisa menikmati baik melalui pers, radio,
televisi dan internet. Hal itu membuka peluang besar golongan tertentu
menerima sosialisasi yang seharusnya belum saatnya mereka terima dan juga
masuknya sosialisasi yang tidak bersifat membangun. Media massa adalah jalur
pendidikan dalam arti luas dan peranannya begitu penting sehingga perlu
mendapat penonjolan tersendiri sebagai pola pedoman pengamalan Pancasila.
Sehingga dalam menggunakan media massa tersebut harus dijaga agar tidak
merusak mental bangsa dan harus seoptimal mungkin penggunaannya untuk
sosialisasi pembentukan kepribadian bangsa yang pancasilais. Jadi, untuk
sosialisasi-sosialisasi yang mengancam penanaman pengamalan Pancasila
harus disensor.
3) Jalur organisasi sosial politik
Pengamalan Pacansila harus diterapkan dalam setiap elemen bangsa dan
negara Indonesia. Organisasi sosial politik adalah wadah pemimpin-pemimpin
bangsa dalam bidangnya masing-masing sesuai dengan keahliannya, peran dan
tanggung jawabnya. Sehingga segala unsur-unsur dalam organisasi sosial politik
seperti para pegawai Republik Indonesia harus mengikuti pedoman pengmalan
Pancasial agar berkepribadian Pancasila karena mereka selain warga negara
Indonesia, abdi masyarakat juga sebagai abdi masyarakat, dengan begitu maka
segala kendala akan mudah dihadapi dan tujuan serta cita-cita hidup bangsa
Indonesia akan terwujud.
2. Penciptaan suasana yang menunjang
1) Kebijaksanaan pemerintah dan peraturan perundang-undangan
Penjabaran kebijaksanaan pemerintah dan perundang-undangan merupakan
salah satu jalur yang dapat memperlancar pelaksanaan pedoman pengamalan
pancasila dimana aspek sanksi atau penegakan hukm mendpat penekanan
khusus.
2) Aparatur negara
Rakyat hendaklah berpartisipasi aktif di dalam menciptakan suasana dan
keadaan yang mendorong pelaksanaan pedoman pengamalan Pancasila. Dan
aparatur pemerintah sebagai pelaksana dan pengabdi kepentingan rakyat harus
memahami dan mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di dalam
masyarakat. Sarana dan prasarana dalam pelaksanaan pengamalan Pacasila
perlu disediakan dan memfungsikan lembaga-lembaga kenegaraan, khususnya
lembaga penegak hukum dalam menjamin hak-hak warga negaranya dan
melindungi dari perbutan-perbuatan tercela.
3) Kepemimpinan dan pemimpin masyarakat
Peranan kepemimpinan dan pemimpin masyarakat, baik pemimpin
formal maupun informal sangat penting dalam pelaksanaan
pedoman pengamalan. Mereka dapat menyampaikan bagaimana pola Dengan
pelaksanaan pedoman pengamalan Pancasila dan menyuruh bawahan atau
umatnya untuk mengikuti pola pedoman pelaksanaan Pancasila. begitu
Pengamalan pancasila akan tetep les

A. Pedoman Pengamalan Pancasila


Pedoman dalam penghayatan dan pengamalan pancasila dituangkan dalam
ketetapan No.II/MPR/1978. Penjabaran ketetapan MPR itu adalah (Noor Ms.
Bakry: 1994, 183-185):
1. Sila ketuhanan Yang Maha Esa
1) Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agamanya
masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
2) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antar
pemeluk agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
3) Mengembangkan saling hormat menghormati kemerdekaan menjalankan
ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
4) Menghargai setiap bentuk ajaran agama, dan tidak boleh memaksakan suatu
agama dan kepercayaan kepada orang lain.
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab
1) Mengakui dan memperlakukan manusia dengan harkat dan martabatnya
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2) Memandang persamaan derajat, hak dan kewajiban antara sesama manusia
tanpa membedakan suku, turunan dan kedudukan sosial.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, tepa selira dan
tidak semena-mena terhadap orang lain.
4) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan-
kegiatan kemanusiaan dan berani membela kebenaran dan keadilan.
5) Merasa sebagai bagian dari seluruh umat manusia dan karena itu
berkewajiban mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama
dengan bangsa-bangsa lain.
3. Sila persatuan indonesia
1) Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa
dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Cinta tnah air dan bangsa Indonesia, sehingga sanggup dan rela berkorban
untuk kepentingan negara dan bangsa, apabila diperlukan.
3) Bangga sebagai bangsa Indonesia ber-Tanah air Indonesia dalam rangka
memelihara ketertiban dunia.
4) Mengembangkan rasa persatuan dan kesatuan atas dasar Bhinneka Tunggal
Ika dalam memajukan pergaulan hidup bersama.
4. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga-masyarakat Indonesia mempunyai
kedudukan, hak dan kewajiban yang sma dalam.
2) Keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlabih dahulu diadakan
musyawarah, dan keputusan musyawarah diusahakan secara mufakat, diliputi
oleh semangat kekeluargaan.
3) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan musyawarah
dan melaksanakannya dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab.
4) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan hati nurani yang luhur, dengan
mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat, serta tidak memaksakan
kehendak kepada orang lain.
5) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral
kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,
serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
5. Sila keadilan bagi seluruh rakyat indonesia
1) Menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial
dalam kehidupan masyarakat indonesia.
2) Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur menceminkan sikap dan
suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
3) Bersikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan
kewajiban serta menghormati ha-hak orang lain.
4) Memupuk sikap suka memberi pertolongan kepada orang lain yang
membutuhkan agar dapat berdiri sendiri, tidak menggunakan hak milik untuk
pemerasan, pemborosan, bergaya hidup mewah dan perbuatan lain yang
bertentangan dan merugikan kepentingan umum.
5) Memupuk sikap suka bekerja keras dan menghargai karya orang lain yang
bermanfaat, serta bersama-sama mewujudkan kemajuan yang merata dan
kesejahteraan bersama

Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari

Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari

Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan penerapannya dalam


kehidupan sehari-hari

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dari Sila ke I sampai Sila Sila ke V
yang harus diaplikasikan atau dijabarkan dalam setiap kegiatan pengelolaan
lingkungan hidup adalah sebagai berikut ( Soejadi, 1999 : 88- 90) :

1. Dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai religius, antara
lain :

a. Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta


segala sesuatu dengan sifat-sifat yang sempurna dan suci seperti Maha Kuasa,
Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana dan sebagainya;

b. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua


perintah- NYA dan menjauhi larangan-larangannya. Dalam memanfaatkan
semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah manusia harus
menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk yang ada di sekeliling manusia
merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya; harus
dirawat agar tidak rusak dan harus memperhatikan kepentingan orang lain dan
makhluk-makhluk Tuhan yang lain.

Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu:

misalnya menyayangi binatang; menyayangi tumbuhtumbuhan dan


merawatnya; selalu menjaga kebersihan dan sebagainya. Dalam Islam bahkan
ditekankan, bahwa Allah tidak suka pada orang-orang yang membuat
kerusakan di muka bumi, tetapi Allah senang terhadap orang-orang yang selalu
bertakwa dan selalu berbuat baik. Lingkungan hidup Indonesia yang
dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia
merupakan karunia dan rahmat-NYA yang wajib dilestarikan dan dikembangkan
kemampuannya agar tetap dapat menjadi sumber dan penunjang hidup bagi
rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk hidup lainya demi kelangsungan
dan peningkatan kualitas Hidup itu sendiri.

2. Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab terkandung nilai-nilai


perikemanusiaan yang harus diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
hal ini antara lain sebagai berikut :

-Pengakuan adanya harkat dan martabat manusia dengan sehala hak dan
kewajiban asasinya;
-Perlakuan yang adil terhdap sesama manusia, terhadap diri sendiri, alam
sekitar dan terhadap Tuhan;
-Manusia sebagai makhluk beradab atau berbudaya yang memiliki daya
cipta, rasa, karsa dan keyakinan.

Penerapan, pengamalan/ aplikasi sila ini dalam kehidupan sehari hari yaitu:

dapat diwujudkan dalam bentuk kepedulian akan hak setiap orang untuk
memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat; hak setiap orang untuk
mendapatkan informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam
pengelolaan lingkungan hidup; hak setiap orang untuk berperan dalam rangka
pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan ketentuanketentuan hukum
yang berlaku dan sebagainya (Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 558). Dalam
hal ini banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengamalkan Sila ini,
misalnya mengadakan pengendalian tingkat polusi udara agar udara yang
dihirup bisa tetap nyaman; menjaga kelestarian tumbuh-tumbuhan yang ada di
lingkungan sekitar; mengadakan gerakan penghijauan dan sebagainya. Nilai-
nilai Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab ini ternyata mendapat
penjabaran dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 di atas, antara lain
dalam Pasal 5 ayat (1) sampai ayat (3); Pasal 6 ayat (1) sampai ayat (2) dan Pasal
7 ayat (1) sampai ayat (2). Dalam Pasal 5 ayat (1) dinyatakan, bahwa setiap
orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat;
dalam ayat (2) dikatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak atas informasi
lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan
hidup; dalam ayat (3) dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak untuk
berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dalam Pasal 6 ayat (1) dikatakan, bahwa
setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup
serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan
hidup dan dalam ayat (2) ditegaskan, bahwa setiap orang yang melakukan
usaha dan/ atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan
akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Dalam Pasal 7 ayat (1)
ditegaskan, bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-
luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (2)
ditegaskan, bahwa ketentuan pada ayat (1) di atas dilakukan dengan cara :

1. Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan;


2. Menumbuhkembangkan kemampauan dan kepeloporan masyarakat;
3. Menumbuhkan ketanggapsegeraan masya-rakat untuk melakukan
pengwasan sosial;
4. Memberikan saran pendapat;
5. Menyampaikan informasi dan/atau menyam-paikan laporan

3. Dalam Sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa, dalam


arti dalam hal-hal yang menyangkut persatuan bangsa patut diperhatikan
aspek-aspek sebagai berikut :

-Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah


Indonesia serta wajib membela dan menjunjung tinggi (patriotisme);
-Pengakuan terhadap kebhinekatunggalikaan suku bangsa (etnis) dan
kebudayaan bangsa (berbeda-beda namun satu jiwa) yang memberikan arah
dalam pembinaan kesatuan bangsa;
-Cinta dan bangga akan bangsa dan Negara Indonesia (nasionalisme).

Penerapan sila ini dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

dengan melakukan inventarisasi tata nilai tradisional yang harus selalu


diperhitungkan dalam pengambilan kebijaksanaan dan pengendalian
pembangunan lingkungan di daerah dan mengembangkannya melalui
pendidikan dan latihan serta penerangan dan penyuluhan dalam pengenalan
tata nilai tradisional dan tata nilai agama yang mendorong perilaku manusia
untuk melindungi sumber daya dan lingkungan (Salladien dalam Burhan Bungin
dan Laely Widjajati , 1992 : 156-158). Di beberapa daerah tidak sedikit yang
mempunyai ajaran turun temurun mewarisi nilai-nilai leluhur agar tidak
melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh ketentuan-ketentuan adat
di daerah yang bersangkutan, misalnya ada larangan untuk menebang pohon-
pohon tertentu tanpa ijin sesepuh adat; ada juga yang dilarang memakan
binatang-bintang tertentu yang sangat dihormati pada kehidupan masyarakat
yang bersangkutan dan sebagainya. Secara tidak langsung sebenarnya ajaran-
ajaran nenek leluhur ini ikut secara aktif melindungi kelestarian alam dan
kelestarian lingkungan di daerah itu. Bukankah hal ini sudah mengamalkan
Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan sehari-hari.

4. Dalam Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam


Permusyawaratan Perwakilan terkandung nilainilai kerakyatan. Dalam hal ini
ada beberapa hal yang harus dicermati, yakni:

-Kedaulatan negara adalah di tangan rakyat;


-Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi akal
sehat;
-Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat
mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama;
-Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat oleh
wakilwakil rakyat.
Penerapan sila ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain
(Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 560 ) :
Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan
kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan
lingkungan hidup;
Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan
kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan
lingkungan hidup;
Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan
kemitraan
masyarakat, dunia usaha dan pemerintah dalam upaya pelestarian daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

5. Dalam Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia terkandung nilai
keadilan sosial. Dalam hal ini harus diperhatikan beberapa aspek berikut,
antara lain :

a. Perlakuan yang adil di segala bidang kehidupan terutama di bidang


politik, ekonomi dan sosial budaya;
b. Perwujudan keadilan sosial itu meliputi seluruh rakyat Indonesia;
c. Keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak milik orang
lain;

-Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material


spiritual bagi seluruh rakyat Indonesia;
-Cinta akan kemajuan dan pembangunan.

Penerapan sila ini tampak dalam ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur


masalah lingkungan hidup. Sebagai contoh, dalam Ketetapan MPR RI Nomor
IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Bagian H yang
mengatur aspekaspek pengelolaan lingkungan hidup dan pemanfaatan sumber
daya alam. Dalam ketetapan MPR ini hal itu diatur sebagai berikut (Penabur
Ilmu, 1999 : 40) :

Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar


bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi;
Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup
dengan melakukan konservasi, rehabilitasi dan penghematan pengunaan
dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan;
Mendelegasikan secara betahap wewenang pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam secara
selektif dan pemeliharaan ling-kungan hidup, sehingga kualitas ekosistem tetap
terjaga yang diatur dengan undangundang;
Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseim-
bangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan
ekonomi dan budaya masyarakat lokal serta penataan ruang yang
pengaturannya diatur dengan undang-undang;
Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelestarian
kemampuan

Makalah Implementasi Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-


hari di Masyarakat
December 14, 2014 Agustin Dian Kartikasari Leave a comment
MAKALAH

IMPLEMENTASI NILAI NILAI PANCASILA

DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI DI MASYARAKAT

Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas individu dalam Mata Kuliah Umum
(MKU) Pendidikan Pancasila

Disusun Oleh :

AGUSTIN DIAN KARTIKASARI

(4411413022)

Jurusan/Prodi Biologi

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2013

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar,
serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Implementasi Nilai
nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari- hari di Masyarakat.

Makalah ini dibuat dengan metode wawancara tentang implementasi nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat dengan mengambil sampel beberapa warga
yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Makalah ini dapat terselesaikan karena
bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama
mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang kepada
semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu kami berharap kepada pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang
membangun untuk penyempurnaan makalah kedepannya.
Penyusun juga berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan
dapat memberikan contoh tentang implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari di masyarakat.

DAFTAR ISI

Halaman Judul 1

Kata Pengantar 2

Daftar Isi 3

Bab I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang 4

2. Rumusan Masalah . 4

3. Tujuan . 4

4. Manfaat .. 5

Bab II. ISI

1. Pengertian Pancasila 6

2. Sejarah Terbentuknya Pancasila . 7

3. Dasar Hukum Pancasila . 16

4. Pancasila sebagai Ideologi Negara . 17

5. Hasil Wawancara .. 22

6. Pembahasan . 40

Bab III. PENUTUP

1. Simpulan . 49

2. Saran . 49

DAFTAR PUSTAKA 50
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Secara yuridis-konstitusional kedudukan Pancasila sudah jelas, bahwa Pancasila adalah


pandangan hidup bangsa, dasar negara Republik Indonesia, dan sebagai ideologi nasional.
Sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai yang
kebenarannya diakui, dan menimbulkan tekad untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-
hari. Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia,
yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam
mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil
dan makmur.

Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu
diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamalan nilai-nilai luhur
yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara
negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun
di daerah.

1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan pada latar belakang, rumusan masalah dari
makalah ini adalah :

1. Bagaimana sejarah terbentuknya Pancasila?

2. Bagaimana implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat?

3. Tujuan

Makalah ini bertujuan sebagai berikut :

1. Mengetahui sejarah terbentuknya Pancasila.

2. Mengetahui penerapan / implementasi dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari


di masyarakat.

3. Manfaat

Makalah ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :

1. Memberikan informasi tentang sejarah terbentuknya Pancasila.


2. Memberi contoh penerapan / implementasi dari nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari yang telah diterapkan oleh masyarakat di masa sekarang.

BAB II

ISI

1. Pengertian Pancasila

2. Pengertian Pancasila secara Etimologis

Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta dari India. Menurut Muhammad Yamin, dalam
bahasa Sansekerta kata Pancasila memiliki dua macam arti secara leksikal, yaitu : paca
berarti lima dan la berarti prinsip, asas, batu sendi, alas, dasar, peraturan tingkah laku yang
baik/senonoh. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan
bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara etimologis kata Pancasila berasal dari Pancasila yang memiliki arti secara harfiah
dasar yang memiliki lima unsur. Kata Pancasila mula-mula terdapat dalam kepustakaan
Budha di India. Dalam ajaran Budha terdapat ajaran moral untuk mencapai nirwana dengan
melalui Samadhi dan setiap golongan mempunyai kewajiban moral yang berbeda. Ajaran
moral tersebut adalah Dasasyiila, Saptasyiila, Pancasyiila.

Pancasila lahir sebagai produk kebudayaan Indonesia dan bukan penarikan atau sublimasi
dari negara lain. Istilah Pancasila pertama kali dapat ditemukan dalam buku Sutasoma
karya Mpu Tantular yang ditulis pada zaman Majapahit (abad ke-14). Dalam buku itu istilah
Pancasila diartikan sebagai perintah kesusilaan yang jumlahnya lima (Pancasila karma) dan
berisi lima larangan untuk :

1) Melakukan kekerasan;

2) Mencuri;

3) Berjiwa dengki;

4) Berbohong; dan

5) Mabuk akibat minuman keras.

Selanjutnya, istilah sila itu sendiri dapat diartikan sebagai :

1) Aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa;

2) Kelakuan atau perbuatan yang menurut adab (sopan santun);

3) Dasar adab;

4) Akhlak; dan

5) Moral.
2. Pengertian Pancasila secara Historis

Pembahasan historis Pancasila dibatasi pada tinjauan terhadap perkembangan rumusan


Pancasila sejak tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan keluarnya Instruksi Presiden RI No.12
Tahun 1968.

1. Sejarah Terbentuknya Pancasila

Jepang memberikan janji kemerdekaan di kelak kemudian hari. Janji ini diucapkan oleh
Perdana Menteri Kaiso pada tanggal 7 September 1944. Oleh karena terus menerus terdesak,
maka pada tanggal 29 April 1945 Jepang memberikan janji kemerdekaan yang kedua kepada
bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat
Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura).

Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tugas badan ini adalah menyelidiki dan
mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk
dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia.

Keanggotaan badan ini dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan mengadakan sidang pertama
pada tanggal 29 Mei 1945 1 Juni 1945. Dalam sidang pertama ini yang dibicarakan khusus
mengenai calon dasar negara untuk Indonesia merdeka nanti. Pada sidang pertama itu,
banyak anggota yang berbicara, dua di antaranya adalah Muhammad Yamin dan Bung Karno,
yang masing-masing mengusulkan calon dasar negara untuk Indonesia merdeka. Muhammad
Yamin mengajukan usul mengenai dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu:

1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat

Selain itu Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri atas lima
hal, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung
Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu:
1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang Berkebudayaan
Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebih lanjut Bung Karno
mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila, yaitu:
1. Sosio nasionalisme
2. Sosio demokrasi
3. Ketuhanan

Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila yaitu Gotong Royong.

Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI sepakat untuk
membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul yang masuk
dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi
kesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni
1945. Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu:

1. Ir. Soekarno
2. Ki Bagus Hadikusumo
3. K.H. Wachid Hasjim
4. Mr. Muh. Yamin
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo
6. Mr. A.A. Maramis
7. R. Otto Iskandar Dinata
8. Drs. Muh. Hatta

Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia Kecil, dengan para
anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang dicapai antara lain disetujuinya
dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri
atas sembilan orang, yaitu:

1. Ir. Soekarno
2. Drs. Muh. Hatta
3. Mr. A.A. Maramis
4. K.H. Wachid Hasyim
5. Abdul Kahar Muzakkir
6. Abikusno Tjokrosujoso
7. H. Agus Salim
8. Mr. Ahmad Subardjo
9. Mr. Muh. Yamin

Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga melanjutkan
sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih
dikenal dengan sebutan Piagam Jakarta.

Dalam sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah
merumuskan rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus
dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus 1945
Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari
kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin
bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17
Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan
acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambule-nya
(Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum mengesahkan
Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945
sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur
yang menemuinya.

Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di
belakang kata ketuhanan yang berbunyi dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik
memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta
disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam,
antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan.
Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi persatuan dan kesatuan, mengingat
Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya di belakang kata Ketuhanan
dan diganti dengan Yang Maha Esa.

Adapun bunyi Pembukaan UUD1945 selengkapnya sebagai berikut:

UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN
(Preambule)

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan
perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang
berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang
kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan de-ngan didorongkan oleh keinginan luhur,
supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidup-an bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadil-an sosial,
maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang
Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia
yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan
yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Ke-rakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan Pancasila pada saat Konstitusi RIS

Pendudukan wilayah Indonesia oleh NICA menjadikan wilayah Republik Indonesia semakin
kecil dan terdesak. Akhirnya pada akhir 1949 Republik Indonesia yang berpusat di
Yogyakarta (RI Yogyakarta) terpaksa menerima bentuk negara federal yang disodorkan
pemerintah kolonial Belanda dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) dan hanya
menjadi sebuah negara bagian saja.

Walaupun UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 tetap berlaku bagi RI
Yogyakarta, namun RIS sendiri mempunyai sebuah Konstitusi Federal (Konstitusi RIS)
sebagai hasil permufakatan seluruh negara bagian dari RIS. Dalam Konstitusi RIS rumusan
dasar negara terdapat dalam Mukaddimah (pembukaan) paragraf ketiga. Konstitusi RIS
disetujui pada 14 Desember 1949 oleh enam belas negara bagian dan satuan kenegaraan yang
tergabung dalam RIS.

Rumusan kalimat

, berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa, perikemanusiaan, kebangsaan,


kerakyatan dan keadilan sosial.

Rumusan dengan penomoran (utuh):

1. ke-Tuhanan Yang Maha Esa,


2. perikemanusiaan,
3. kebangsaan,
4. kerakyatan
5. dan keadilan sosial

Rumusan VII: UUD Sementara

Segera setelah RIS berdiri, negara itu mulai menempuh jalan kehancuran. Hanya dalam
hitungan bulan negara bagian RIS membubarkan diri dan bergabung dengan negara bagian RI
Yogyakarta.

Pada Mei 1950 hanya ada tiga negara bagian yang tetap eksis yaitu RI Yogyakarta, NIT, dan
NST. Setelah melalui beberapa pertemuan yang intensif RI Yogyakarta dan RIS, sebagai
kuasa dari NIT dan NST, menyetujui pembentukan negara kesatuan dan mengadakan
perubahan Konstitusi RIS menjadi UUD Sementara.

Perubahan tersebut dilakukan dengan menerbitkan UU RIS No 7 Tahun 1950 tentang


Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar
Sementara (LN RIS Tahun 1950 No 56, TLN RIS No 37) yang disahkan tanggal 15 Agustus
1950. Rumusan dasar negara kesatuan ini terdapat dalam paragraf keempat dari Mukaddimah
(pembukaan) UUD Sementara Tahun 1950.

Rumusan kalimat

, berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa, perikemanusiaan, kebangsaan,


kerakyatan dan keadilan sosial,

Rumusan dengan penomoran (utuh) :

1. ke-Tuhanan Yang Maha Esa,


2. perikemanusiaan,
3. kebangsaan,
4. kerakyatan
5. dan keadilan sosial

Rumusan Pancasila dari UUD 1945

Kegagalan Konstituante untuk menyusun sebuah UUD yang akan menggantikan UUD
Sementara yang disahkan 15 Agustus 1950 menimbulkan bahaya bagi keutuhan negara.
Untuk itulah pada 5 Juli 1959 Presiden Indonesia saat itu, Sukarno, mengambil langkah
mengeluarkan Dekrit Kepala Negara yang salah satu isinya menetapkan berlakunya kembali
UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 menjadi UUD Negara Indonesia
menggantikan UUD Sementara.

Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945 maka rumusan Pancasila yang terdapat dalam
Pembukaan UUD kembali menjadi rumusan resmi yang digunakan. Rumusan ini pula yang
diterima oleh MPR, yang pernah menjadi lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan
kedaulatan rakyat antara tahun 1960-2004, dalam berbagai produk ketetapannya, diantaranya:
1. Tap MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai
Dasar Negara, dan

2. Tap MPR No III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-
undangan.
Rumusan kalimat

dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan
beradab, Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan dengan penomoran (utuh) :

1. Ketuhanan Yang Maha Esa,


2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Persatuan Indonesia
4. Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
5. Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan Versi Berbeda

Selain mengutip secara utuh rumusan dalam UUD 1945, MPR pernah membuat rumusan
yang agak sedikit berbeda. Rumusan ini terdapat dalam lampiran Ketetapan MPRS No.
XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik
Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia.

Rumusan :
1.Ketuhanan Yang Maha Esa,
2.Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3.Persatuan Indonesia
4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5.Keadilan sosial.

Rumusan Versi Populer

Rumusan terakhir yang akan dikemukakan adalah rumusan yang beredar dan diterima secara
luas oleh masyarakat. Rumusan Pancasila versi populer inilah yang dikenal secara umum dan
diajarkan secara luas di dunia pendidikan sebagai rumusan dasar negara. Rumusan ini pada
dasarnya sama dengan rumusan dalam UUD 1945, hanya saja menghilangkan kata dan
serta frasa serta dengan mewujudkan suatu pada sub anak kalimat terakhir.

Rumusan ini pula yang terdapat dalam lampiran Tap MPR No II/MPR/1978 tentang Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa)

Rumusan :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan Pancasila menurut Instruksi Presiden RI No.12 Tahun 1968

Rumusan yang beraneka ragam itu selain membuktikan bahwa jiwa Pancasila tetap
terkandung dalam setiap konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia, juga memungkinkan
terjadinya penafsiran individual yang membahayakan kelestariannya sebagai dasar negara,
ideologi, ajaran tentang nilai-nilai budaya dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Menyadari
bahaya tersebut, pada tanggal 13 April 1968, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden RI
No.12 Tahun 1968 yang menyeragamkan tata urutan Pancasila seperti yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945.

1. Dasar Hukum Pancasila

Pancasila mulai dibicarakan sebagai dasar negara mulai tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang
BPUPKI oleh Ir. Soekarno dan pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila resmi dan sah
menurut hukum menjadi dasar negara Republik Indonesia. Kemudian mulai Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 dan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 berhubungan dengan
Ketetapan No. I/MPR/1988 No. I/MPR/1993, Pancasila tetap menjadi dasar falsafah Negara
Indonesia hingga sekarang. Akibat hukum dari disahkannya Pancasila sebagai dasar negara,
maka seluruh kehidupan bernegara dan bermasyarakat haruslah didasari oleh Pancasila.
Landasan hukum Pancasila sebagai dasar negara memberi akibat hukum dan filosofis; yaitu
kehidupan negara dari bangsa ini haruslah berpedoman kepada Pancasila.

Falsafah Pancasila sebagi Dasar Negara merupakan nilai dasar spiritual keagamaan,
kemanusiaan, dan kesatuan bangsa yang menjadi landasan dasar dalam pembangunan bangsa
baik pembangunan sumber daya manusia maupun pembangunan fisik. Pancasila kita jadikan
sebagai sumber dari segala sumber hukum. Nilai-nilai Pancasila harus mewarnai secara
dominan setiap produk hukum, baik pada tataran pembentukan, pelaksanaan maupun
penegakannya. Konsep Negara hukum Pancasila itu harus mampu menjadi sarana dan tempat
yang nyaman bagi kehidupan bangsa Indonesia.

1. Pancasila sebagai Ideologi Negara

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu eidos dan logos. Eidos berarti
gagasan dan logos berarti berbicara. Maka secara etimologis ideologi adalah berbicara
tentang gagasan / ilmu yang mempelajari tentang gagasan. Gagasan yang dimaksud
disini adalah gagasan yang murni ada dan menjadi landasan atau pedoman dalam kehidupan
masyarakat yang ada atau berdomisili dalam wilayah negara di mana mereka berada. Ideologi
adalah kumpulan ide atau gagasan.

Kata ideologi sendiri diciptakan oleh destutt de trascky pada akhir abad ke-18 untuk
mendefinisikan sains tentang ide. Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif,
sebagai cara memandang segala sesuatu, sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan
filosofis, atau sebagai serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang
dominan kepada seluruh anggota masyarakat (definisi ideologi Marxisme). Pancasila
sebagaimana kita yakini merupakan jiwa, kepribadian dan pandangan hidup bangsa
Indonesia. Disamping itu juga telah dibuktikan dengan kenyataan sejarah bahawa Pancasila
merupakan sumber kekuatan bagi perjuangan karena menjadikan bangsa Indonesia bersatu.
Karena Pancasila merupakan ideologi dari negeri kita. Dengan adanya persatuan dan
kesatuan tersebut jelas mendorong usaha dalam menegakkan dan memperjuangkan
kemerdekaan. Ini membuktikan dan meyakinkan tentang Pancasila sebagai suatu yang harus
kita yakini karena cocok bagi bangsa Indonesia.

Dalam beberapa kamus atau referensi, dapat terlihat bahwa definisi idelogi ada beberapa
macam. Keanekaragaman definisi ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang keahlian dan
fungsi lembaga yang memberi definisi tersebut. Keanekaragaman dimaksud antara lain
terlihat pada definisi yang berikut :

1. Definisi idelogi menurut BP-7 Pusat (kini telah dilikuidasi) adalah ajaran, doktrin, teori yang
diyakini kebenarannya yang disusun secara sistematis dan diberi petunjuk pelaksanaan
dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam masyarakat, berbangsa,
dan bernegara.
2. Definisi yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Maswadi Rauf, ahli ilmu Politik Universitas Indonesia
:

Ideologi adalah rangkaian (kumpulan) nilai yang disepakati bersama untuk menjadi landasan
atau pedoman dalam mencapai tujuan atau kesejahteraan bersama.

Berdasarkan definisi Ideologi Pancasila di atas, dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah
kumpulan nilai/norma yang meliputi sila-sila Pancasila sebagaimana yang tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945, alinea IV yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA :

1) Pengertian Ideologi :

Berbicara tentang ilmu yang mempelajari tentang gagasan.

2) Ideologi adalah rangkaian nilai yang disepakati bersama untuk menjadi landasan atau
pedoman dalam mencapai tujuan atau kesejahteraan bersama.

3) Pancasila sebagai Ideologi terbuka diartikan sebagai ideologi yang dapat mengikuti
perkembangan ideologi negara lain yang berbeda.

4) Nilai Pancasila :

Nilai dasar (representasi norma masyarakat),

Nilai Instrumental (mengikuti perkembangan jaman),

Nilai Praktis.

Pengertian sifat dasar Pancasila sebagai ideologi negara diperoleh dari sifat dasarnya yang
pertama dan utama (pokok), yakni dasar negara yang dioperasionalkan secara individual
maupun sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai
cita-cita kemerdekaan Indonesia yaitu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan
Pancasila. Untuk mencapai cita-cita itulah Pancasila berperanan sebagai ideologi negara.
Sedemikian pentingnya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara dijelaskan
melalui Ketetapan MPR No.XX/MPRS/1966 (dan berbagai penegasannya hingga kini)
sebagai berikut: Pembukaan UUD 1945 sebagai Pernyataan Kemerdekaan yang terperinci
yang mengandung cita-cita luhur dari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan yang
memuat Pancasila sebagai Dasar Negara merupakan satu rangkaian dengan Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan oleh sebab itu tidak dapat diubah oleh siapa pun juga,
termasuk MPR hasil pemilihan umum, yang berdasarkan pasal 3 UUD berwenang
menetapkan dan mengubah UUD, karena mengubah isi Pembukaan berarti pembubaran
negara.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pancasila hanya berperanan sebagai ideologi
negara jika segala tindakan individual maupun sosial dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, yang mencakup aspek-aspek politik, sosial, ekonomi, kebudayaan
dan lain-lain, dilaksanakan secara rasional berdasarkan Pancasila.
Ideologi juga diartikan sebagai kesatuan gagasan-gagasan dasar yang disusun secara
sistematis dan dianggap menyeluruh tentang manusia dan kehidupannya, baik sebagai
individu, social, maupun dalam kehidupan bernegara. Eksistensi Pancasila sebagai dasar
negara, simbol pemersatu dan identitas nasional yang bisa diterima berbagai kalangan, harus
terus dijaga kesinambungannya. Tidak ada pilihan lain, Pancasila dan pilar-pilar kehidupan
bernegara lainnya harus terus dimasyarakatkan. terjadinya berbagai konflik kekerasan dan
gerakan separatis di sejumlah daerah di Indonesia adalah cermin belum meresapnya
kesadaran nasional di kalangan masyarakat.

Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka :

Pancasila jika dilihat dari nilai-nilai dasarnya, dapat dikatakan sebagai ideologi terbuka.
Dalam ideologi terbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang mendasar, bersifat tetap dan
tidak berubah. Pancasila sebagai Ideologi memberi kedudukan yang seimbang kepada
manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Ideologi terbuka adalah
ideologi yang dapat berinteraksi dengan ideologi yang lain. Artinya, ideologi Pancasila
dapat mengikuti perkembangan yang terjadi pada negara lain yang memiliki ideologi yang
berbeda dengan Pancasila dalam beberapa aspek kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan
karena ideologi Pancasila memiliki nilai-nilai yang meliputi:

1) Nilai Dasar :

Nilai dasar adalah nilai yang ada dalam ideologi Pancasila yang merupakan representasi dari
nilai atau norma dalam masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Nilai dasar merupakan
nilai yang tidak bisa berubah-ubah sepanjangbangsa Indonesia berpedoman pada nilai
tersebut. Contoh nilai dasar adalah sila-sila Pancasila yang ada dalam alinea IV, UUD 1945
yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

2) Nilai Instrumental :

Nilai instrumental adalah nilai yang merupakan pendukung utama dari nilai dasar (Pancasila).
Nilai ini dapat mengikuti setiap perkembangan zaman, baik dalam negeri maupun dari luar
negeri. Nilai ini ini dapat berupa TAP MPR, UU, PP dan peraturan perundangan yang ada
untuk menjadi tatanan dalam pelaksanaan ideologi Pancasila sebagai pegangan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai dapat berubah sesuai perkembangan zaman.

3) Nilai Praktis :

Nilai ini adalah nilai yang harus ada dalam bentuk praktik penyelenggaraan negara. Sifat ini
adalah abstrak. Artinya berupa semangat para penyelenggara negara dari pusat hingga
ke tingkat yang terbawah dalam struktur sistem pemerintahan negara Indonesia.
Semangat yang dimaksud adalah semangat para penyelenggara negara untuk membangun
sila-sila dalam Pancasila secara konsekuen dan istiqomah. Contoh, memberi teladan untuk
tidak KKN, dan lain-lain.

Ciri khas ideologi terbuka ialah bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan dari luar,
melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral dan budaya masyarakatnya sendiri.
Dasarnya dari konsensus masyarakat, tidak diciptakan oleh negara, melainkan ditemukan
dalam masyarakatnya sendiri. Oleh sebab itu, ideologi terbuka adalah milik dari semua rakyat
dan masyarakat dapat menemukan dirinya di dalamnya. Ideologi terbuka bukan hanya dapat
dibenarkan melainkan dibutuhkan. Nilai-nilai dasar menurut pandangan negara modern
bahwa negara modern hidup dari nilai-nilai dan sikap-sikap dasarnya.

Ideologi terbuka adalah ideologi yang dapat berinteraksi dengan perkembangan zaman dan
adanya dinamika secara internal. Sumber semangat ideologi terbuka itu sebenarnya terdapat
dalam Penjelasan Umum UUD 1945. Pancasila berakar pada pandangan hidup bangsa dan
falsafah bangsa, sehingga memenuhi prasyarat sebagai suatu ideologi terbuka. Sekalipun
suatu ideologi itu bersifat terbuka, tidak berarti bahwa keterbukaannya adalah sebegitu rupa
sehingga dapat memusnahkan atau meniadakan ideologi itu sendiri, yang merupakan suatu
yang tidak logis.

Fungsi dan Peranan Pancasila :

Fungsi dan Peranan Pancasila meliputi :

1) Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia;

2) Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia

3) Pancasila sebagai dasar negara RI;

4) Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum Indonesia;

5) Pancasila sebagai perjanjian luhur Indonesia;

6) Pancasila sebagai pandangan hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia;

7) Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia;

8) Pancasila sebagai moral pembangunan;

9) Pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.

1. Hasil Wawancara

Tabel Hasil Wawancara

Pendidikan
No Nama Usia Pekerjaan Pendapat
Terakhir

1. Muhammad 20 SMA Mahasiswa Masyarakat Indonesia terdiri dari


Edi Prasetyo tahun berbagai subjek sebagai pelaku
implementasi nilai-nilai Pancasila.
Jika subyeknya adalah anak
muda, nilai-nilai yang melekat di
hati mereka sudah hampir luntur
karena ada beberapa faktor yang
menyebabkan hal itu terjadi.
Globalisasi adalah salah satu
faktor penyebabnya. Informasi
yang dapat diakses dengan
begitu mudahnya tanpa
diimbangi dengan filter dapat
ditelan mentah oleh pemuda
Indonesia tanpa diolah terlebih
dahulu, akhirnya pemetaan
antara mana yang boleh
dilakukan dan yang tidak boleh
dilakukan menjadi kacau
sehingga banyak anak muda
sekarang terlibat tawuran, seks
bebas, minum minuman keras,
dan lain-lain. Maka dari itu
penting adanya Pendidikan atau
Kuliah Pancasila sebagai trigger
atau pemicu agar para generasi
muda di Indonesia dapat
mengamalkan nilai-nilai Pancasila
yang luhur, dapat mengingat
bahwa merekalah harapan dan
masa depan bangsa yang
seharusnya selalu menjaga dan
mengamalkan nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan sehari-hari.

2. Erdi Risnandar 19 SMA Mahasiswa Nilai-nilai Pancasila sekarang ini


tahun sudah mulai melemah. Sekarang
ini banyak masyarakat yang
belum bisa menerapkan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari, masih saja banyak
yang melanggar nilai-nilai
Pancasila, baik masyarakat umum
maupun oknum-oknum pejabat
negara. Contohnya ada saja
oknum sebuah partai yang saat
sedang dilaksanakan sidang
paripurna malah tidur dengan
lelapnya. Hal ini adalah salah satu
hal yang dapat menyebabkan
lemahnya nilai-nilai Pancasila di
negara kita ini dan tidak
mencerminkan nilai-nilai
Pancasila yang seharusnya
diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari berkaitan dengan
etika. Selain itu juga ada koruptor
yang hanya diberi hukuman
ringan, sedangkan nenek yang
mencuri singkong kasusnya
dibawa ke pengadilan dan dijerat
sanksi hukum yang berat. Hal ini
tidak mencerminkan penerapan
atau menunjukkan adanya
penyimpangan dari sila ke-5 yaitu
Keadilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia. Pada
mahasiswa , sekarang ini pun
nilai nilai pancasila pada
mahasiswa mulai menurun ,
contohnya setiap ada hari hari
besar kurang respect mahasiswa
terhadap hari2 besar tersebut,
mahasiswa sekarang lebih apatis
dan lebih memntingkan dirinya
,fashion ataupun yg bersifat
senang-senang.

3. Masyani 19 SMA Mahasiswa Penerapan nilai-nilai Pancasila


tahun dapat dilihat dari sifat Pancasila
itu sendiri. Pancasila bersifat
universal, yaitu bisa deterapkan
dimana saja secara menyeluruh
dan juga bersifat fleksibel yang
artinya tidak kaku, dapat
menyesuaikan dengan lingkungan
masyarakat dimana nilai-nilai
Pancasila itu diterapkan.
Implementasi nilai-nilai Pancasila
dapat dijabarkan melalui sila-
silanya. Contohnya adalah
penerapan sila pertama
Ketuhanan Yang Maha Esa
yaitu dengan shalat berjamaah,
toleransi antar umat beragama,
dan membina kerukunan antar
umat beragama. Contoh
penerapan sila kedua
Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab yaitu tolong menolong
dalam masyarakat. Contoh
penerapan sila ketiga Persatuan
Indonesia yaitu tidak membuat
kerusuhan atau perang antar
suku. Contoh sila keempat
Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
adalah ikut serta dalam Pemilu.
Contoh penerapan sila kelima
Keadilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia adalah berlaku
adil dalam semua aspek dalam
kehidupan.

Akan tetapi tidak menutup


kemungkinan bahwa satu
kegiatan dapat mencerminkan
implementasi dari semua sila
Pancasila. Seperti contoh
membantu sesama itu dapat
mencerminkan penerapan sila
1,2,3,4, dan 5 dari Pancasila,
karena antar sila-sila dalam
Pancasila itu terdapat suatu
keterkaitan yang kuat yang tak
terpisahkan dimana apabila
salah satu nilai dari sila
tersebut diamalkan, maka
nilai-nilai sila yang lainpun
akan teramalkan pula.

Jika dilihat dari konteks


masyarakat umum, Pancasila
sudah tidak terlalu dianggap
19 sebagai dasar dalam kehidupan
4. Afifudin SMA Mahasiswa
tahun berbangsa dan bernegara. Tetapi
masyarakat berpedoman pada
trend yang sedang updae di masa
sekarang.

5. Suwarto, S.Pd. 43 S1 PNS (Guru) Implementasi nilai-nilai Pancasila


tahun di masa sekarang ini di
masyarakat adalah sangat
kurangakan pemahaman nilai-
nilai Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari. Hal itu disebabkan
karena masyarakat asyik dengan
kemajuan IPTEK yang seolah
tanpa batas dan masyarakat asyik
menikmatinya seolah-olah tanpa
kendali dan ini merupakan salah
satu hal yang dapat melunturkan
nilai-nilai Pancasila. Tetapi masih
banyak faktor lain yang dapat
melunturkan nilai-nilai Pancasila
diantaranya adalah kurangnya
persatuan, dekadensi moral, rasa
cinta tanah air yang mulai luntur,
dan sebagainya. Maka
masyarakat perlu dipahamkan
nilai Pancasila sejak pendidikan
dini supaya masyarakat paham.

6. Rubi Widiyani, 40 S1 PNS (Guru) Penerapan nilai-nilai Pancasila di


S.Pd. tahun masa sekarang ini sudah baik
karena butir-butir dari 5 sila
Pancasila seperti yang telah kita
ketahui membawa kita ke jalan
yang benar dimana penerapan
nilai-nilai Pancasila itu akan
membawa pengaruh yang baik
dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Nilai-
nilai Pancasila itu akan tetap ada
di hati masyarakat Indonesia
karena Pancasila telah mengakar
pada kepribadian bangsa
Indonesia, yang mana Pancasila
dijadikan sebagai ideologi
nasional. Toleransi antar umat
beragama, mengasihi dan tolong
menolong satu sama lain, cinta
tanah air, musyawarah mufakat,
dan adil terhadap semua
makhluk hidup adalah contoh
penerapan nilai-nilai Pancasila.
Sebagian masyarakat searang
terutama generasi muda sering
menjadi sasaran dalam mengikuti
arus globalisasi. Pengaruh paham
yang bertentangan dengan nilai
Pancasila cukup mendominasi
seperti kapitalisme, liberalisme,
dan theokrasi ekstrim.

Nilai-nilai Pancasila sebetulnya


dari dulu tidak berubah, masih
sangat bagus dan mewakili
kepribadian bangsa Indonesia,
akan tetapi penerapannya di
masyarakat dewasa ini sungguh
Hamamah, 37
7. S1 PNS (Guru) sangat memprihatikan, karena
S.Pd. tahun
masyarakat sudah mulai keluar
dari jalur Pancasila. Masyarakat
sudah enggan berfikir cerdas
untuk kembali ke nilai-nilai
bangsa Indonesia yang luhur
yaitu Pancasila.

Implementasi nilai-nilai Pancasila


pada masa sekarang sudah
sangat berkurang, terutama
terlihat pada kalangan muda.
Pada nilai moral dan sopan
santun terjadi semacam
Sri Supadmi, 38
8. S1 PNS (Guru) degradasi bahkan telah
S.Pd. tahun
terabaikan, tertutupi oleh
kemajuan teknologi yang tidak
diimbangi oleh nilai-nilai religi.
Bahkan penanaman nilai moral
dan religi dalam lingkup keluarga
mengalami kemunduran.

9. Adiyanto, 45 S1 PNS (Guru) Pada masa sekarang, nilai-nialai


S.Pd. tahun Pancasila sudah mengalami
penurunan atau pelunturan,
buktinya adalah :

Kegotongroyongan sudah
mulai menipis, rasa
kemanusiaan sudah mulai
berkurang, banyak terjadi
demonstrasi yang
mengatasnamakan
ketidakpuasan rakyat terhadap
hasil kerja para petinggi negara
yang duduk di kursi
pemerintahan, kebiasaan
musyawarah mufakat sudah
mulai ditinggalkan ditandai
dengan adanya demonstrasi
disana-sini dengan disrtai
dengan tindak anarkis, dan
juga semakin merajalelanya
korupsi di negara kita tercinta
ini menunjukkan
penyimpangan terhadap nilai-
nilai Pancasila, dan lain-lain.

10. Rahmanto, 44 S1 PNS (Guru) Pancasila adalah dasar negara


S.Pd. tahun yang dimiliki oleh Negara
Kesatuan Republik Indonesia
yang termaktub dalam alinea
keempat dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945.
Pada era globalisasi ini,
implementasi terhadap nilai-nilai
Pancasila sudah banyak
mengalami kemunduran
walaupun masih ada yang tetap
mempertahankan implementasi
atau penerapan yang sesuai
dengan butir-butir sila Pancasila.
Akan tetapi apabila kita
mengkritisi tentang apa yang
terjadi di masyarakat umum
terlebih di ranah politik, akan
terlihat banyak penyimpangan
terhadap nilai Pancasila, seperti
adanya politik uang (money
politics), banyak politisi yang
menjadi kutu loncat dari satu
partai ke partai yang lain, selain
itu juga terjadi dekadensi moral
dimana-mana, kurang adanya
penerapan etika dalam berbagai
aspek kehidupan, dan juga
diperparah dengan semakin
mudahnya akses informasi
sebagai akibat dari globalisasi
dan juga krisis budaya yang
melanda bangsa Indonesia
seperti contoh yaitu adanya
kebudayaan kita yang di-klaim
oleh negara lain karena
kurangnya tanggungjawab dan
kesadaran kita dalam menjaga
milik bangsa. Perlu adanya
penanaman moral dan etika serta
nilai-nilai pancasila sejak dini baik
melalui pendidikan formal di
bangku sekolah dan perkuliahan
maupun non formal di
masyarakat.

Implementasi Pancasila dapat


ditunjukkan dengan ikut serta
dalam Pemilihan Umum yang
merupakan pengamalan dari sila
keempat Pancasila. Dapat juga
dicerminkan dengan penanaman
Ratih Mawar 36 Ibu Rumah nilai-nilai keagamaan pada anak
11. S1
Sari tahun Tangga sejak usia dini, juga penanaman
jwa suka tolong-menolong, tidak
membeda-bedakan teman,
berlaku adil dengan teman, dan
juga tidak bertengkar apabila ada
masalah melainkan mengalah
untuk kebaikan.

12. Rizky 17 SMP Pelajar Nilai Pancasila sudah mulai


Mandera tahun memudar. Terutama di kalangan
Saputra muda. Akhir-akhir ini banyak
sekali hal-hal yang dilakukan
warga Indonesia yang tidak
sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila. Kita juga tahu di
kalangan pejabat, ada begitu
baynyak yang terlibat kasus
korupsi. Selain itu jika kita
menengok ke kalangan DPR,
dengan jelas kita dapat
menyaksikan anggota DPR yang
emosi dalam menyampaikan
pendapatnya yang kemudian
ditunjukkan dengan tindakan
kekerasan dan tindak anarkis lain
yang tidak sesuai dengan etika
Pancasila. Di kalangan
masyarakat sendiri, tindakan
main hakim sendiri sudah
merupakan hal yang dianggap
wajar. Sebenarnya seperti halnya
karakter seseorang yang
ditentukan oleh 2 faktor yaitu
internal dan eksternal, karakter
suatu bangsa juga demikian
halnya. Untuk mengubah
karakter bangsa itu, maka bangsa
itu yang harus berupaya
mengubahnya. Dengan
memberikan pelajaran
kewarganegaraan de sekolah
ataupun kuliah Pendidikan
Pancasila di tingkat perguruan
tinggi. Selain itu Indonesia harus
bangga dengan budaya
bangsanya sendiri. Kita harus
menyeleksi budaya luar yang
masuk ke Indonesia dengan
Pancasila sebagai filternya.

13. Uri 19 SMK Mahasiswa Pada faktanya, seiring dengan


Pradanasari tahun perkembangan zaman, perilaku
masyarakat semakin menjauh
dari implementasi nilai-nilai
Pancasila. Yang paling terlihat
adalah pada sila keempat dan
kelima dari Pancasila, dimana
para calon pemegang kekuasaan
baik eksekutif maupun legislatif
saling beradu gagasan, gembar-
gembor tentang kebijakan yang
akan dijalankan kelak jika terpilih
menjadi wakil rakyat, tetapi
malah faktanya ketika terpilih
menduduki kursi jabatan yang
diinginkan malah lupa dengan
apa yang dijanjikan dulu, lalu
mengambil keputusan secara
sepihak tanpa bermusyawarah
dengan rakyat dibawahnya, yang
tidak mencerminkan pengamalan
sila keempat dan juga tidak
menjalankan keadilan untuk
rakyat miskin yang tidak sesuai
dengan sila kelima. Contoh lain
adalah kasus korupsi dan tindak
pencurian kecil yang
hukumannya sangat tidak sesuai
dengan kerugian yang
ditimbulkan. Bukannya
memojokkan, akan tetapi jika
dilihat, para penegak hukum di
jalan-jalan seperti polisi juga
sering yang meminta pungutan
liar dan tilang yang kemudian
dimintai denda yang akhirnya
malah masuk ke kantungnya
sendiri, dan masih banyak contoh
lainnya. Lunturnya nilai-nilai
Pancasila juga dapat ditandai
engan lunturnya nilai-nilai
budaya di Indonesia seperti tidak
menghargai budaya sendiri,
tetapi ketika budaya itu di-klaim
sebagai budaya negara atau
bangsa lain bertindak seperti
negara lain yang mencurinya,
padahal itu karena tindakan
bangsa Indonesia sendiri yang
kuramg menghargai budayanya
sehingga ada bangsa lain yang
ingin lebih memiliki dan
mengembangkan budaya
tersebut, dimana seharusnya kita
yang lebih harus dapat
menjaganya salah satunya
dengan memberikan hak paten
atas budaya tersebut. Yang lebih
miris lagi adalah anak muda yang
kebanyakan style dan
kebiasaannya berkiblat ke
kebudayaan barat yang mereka
terima bagitu saja tanpa disaring
dan dipilah baik buruknya
terlebih dahulu. Salah satu faktor
dari penyimpangan implementasi
nilai-nilai Pancasila tersebut
adalah globalisasi. Akan tetapi,
yang mana adalah sebuah nilai,
seharusnya tidak boleh luntur,
seharusnya malah menjadi
benteng bagi hal-hal yang kurang
baik. Solusi yang dapat dilakukan
adalah seperti contoh ikut
organisasi seperti pramuka, ikut
bela negara, penguatan budaya
bangsa seperti melalui kesenian,
dan juga penanaman budaya
lokal. Seperti kita ketahui budaya
nasional ada karena budaya lokal
tercipta terlebih dahulu.
Sebaiknya penanaman nilai akan
pentingnya implementasi
Pancasila dimulai sejak dini, sejak
anak-anak, dimulai dari keluarga,
lingkungan, lalu masyarakat.
Apabila ditanya tentang sudah
sesuai tidaknya Pancasila dalam
kehidupan masyarakat sekarang
ini, maka jawabannya adalah
sudah sesuai. Tetapi kesesuaian
ini tercemari akan adanya
penyimpangan terhadap
implementasi nilai-nilai Pancasila.
Kita bisa menanamkan
implementasi Pancasila melalui
pendidikan formal seperti dengan
pelajaran kewarganegaraan dan
kuliah Pancasila.

Dewasa ini, ada sebagian dari


masyarakat yang menganggap
Pancasila sebagai dasar negara
saja, hanya untuk diketahui tanpa
Betha Handini 18
14. SMA Mahasiswa harus diamalkan dalam
Pradana tahun
kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
maupun dalam kehidupan sehari-
hari.
Implementasi Pancasila di masa
sekarang ini mulai kacau. Setiap
orang mementingkan
kepentingan masing-masing dan
toleransi antar umat beragama
mulai memudar (Sila pertama),
contohnya banyak konflik antar
agama sekarang ini. Untuk
penyimpangan penerapan sila
kedua contohnya adalah banyak
19 rumah sakit yang menolak orang
15. Sugeng SMA Mahasiswa
tahun miskin. Untuk sila ketiga,
contohnya di Aceh banyak
pergolakan yang ingin membuat
negara sendiri. Untuk sila
keempat, banyak pejabat negara
yang melakukan tindak korupsi.
Untuk sila kelima, contohnya
masyarakat di pedalaman
terpencil kurang mendapat
perhatian dan fasilitas yang
memadai dari pemerintah.

Sebagian nilai-nilai Pancasila


belum dapat diimplementasikan
seluruhnya dalam masyarakat
karena terjadi penurunan sikap
moral dan kesadaran etika dalam
diri masyarakat. Untuk sila ketiga,
contohnya, sekarang banyak
18 warga yang jarang bergotong-
16. Wahyuningsih SMA Mahasiswa
tahun royong karena memilih bekerja
sendiri. Solusi yang dapat
dilakukan adalah memberikan
pengertian kepada orang
tersebut tentag pentingnya
penerapan sikap peduli sesama,
dengan cara ditegur dan
diberikan contoh yang baik.

Dwi Ari
17. S1
Priyantono, ST

18. Soetopo 69 S1 Swasta Untuk dapat


tahun mengimplementasikan nilai-nilad
dari sila-sila Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari, kita harus
mengerti dulu bahwa hubungan
antara sila satu dengan sila yang
lain dalam Pencasila itu supel.
Sifat supel itu yang nantinya akan
dihubungkan dengan kehidupan
masyarakat modern Indonesia
sekarang dengan beragam
norma-norma yang berlaku di
masyarakat Indonesia. Hubungan
antar sila yang satu dengan sila
yang lain dari sila pertama
sampai sila kelima dalam
Pancasila merupakan suatu
kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan, yang mana
menunjukkan bahwa Pancasila
itu bersifat supel.

Penerapan nilai-nilai dari sila-sila


Pancasila dalam masyarakat
contohnya adalah beribadah
sesuai dengan keyakinan masing-
Ahmad 20 masing, saling menghargai dan
19. SMP Karyawan
Ardianto tahun menghormati antar sesama,
walaupun berbeda-beda tapi
tetap bersatu, menjadi pemimpin
harus bijaksana dan
mementingkan rakyat.

20.

1. Pembahasan

Implementasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari di Masyarakat :

Pada zaman reformasi saat ini pengimplementasian pancasila sangat dibutuhkan oleh
masyarakat, karena di dalam pancasila terkandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang
sesuai dengan kepribadian bangsa. Selain itu, kini zaman globalisasi begitu cepat menjangkiti
negara-negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Gelombang demokratisasi, hak asasi
manusia, neo-liberalisme, serta neo-konservatisme dan globalisme bahkan telah memasuki
cara pandang dan cara berfikir masyarakat Indonesia. Hal demikian bisa meminggirkan
pancasila dan dapat menghadirkan sistem nilai dan idealisme baru yang bertentangan dengan
kepribadian bangsa.

Implementasi pancasila dalam kehidupam bermasyarakat pada hakikatmya merupakan suatu


realisasi praksis untuk mencapai tujuan bangsa. Adapun pengimplementasian tersebut di rinci
dalam berbagai macam bidang antara lain POLEKSOSBUDHANKAM.

1. Implementasi Pancasila dalam bidang Politik

Pembangunan dan pengembangan bidang politik harus mendasarkan pada dasar ontologis
manusia. Hal ini di dasarkan pada kenyataan objektif bahwa manusia adalah sebagai subjek
Negara, oleh karena itu kehidupan politik harus benar-benar merealisasikan tujuan demi
harkat dan martabat manusia. Pengembangan politik Negara terutama dalam proses reformasi
dewasa ini harus mendasarkan pada moralitas sebagaimana tertuang dalam sila-sila pancasila
dam esensinya, sehingga praktek-praktek politik yang menghalalkan segala cara harus segera
diakhiri.

2. Implementasi Pancasila dalam bidang Ekonomi

Di dalam dunia ilmu ekonomi terdapat istilah yang kuat yang menang, sehingga lazimnya
pengembangan ekonomi mengarah pada persaingan bebas dan jarang mementingkan
moralitas kemanusiaan. Hal ini tidak sesuai dengan Pancasila yang lebih tertuju kepada
ekonomi kerakyatan, yaitu ekonomi yang humanistic yang mendasarkan pada tujuan demi
kesejahteraan rakyat secara luas. Pengembangan ekonomi bukan hanya mengejar
pertumbuhan saja melainkan demi kemanusiaan, demi kesejahteraan seluruh masyarakat.
Maka sistem ekonomi Indonesia mendasarkan atas kekeluargaan seluruh bangsa.

3. Implementasi Pancasila dalam bidang Sosial dan Budaya

Dalam pembangunan dan pengembangan aspek sosial budaya hendaknya didasarkan atas
sistem nilai yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.
Terutama dalam rangka bangsa Indonesia melakukan reformasi di segala bidang dewasa ini.
Sebagai anti-klimaks proses reformasi dewasa ini sering kita saksikan adanya stagnasi nilai
social budaya dalam masyarakat sehingga tidak mengherankan jikalau di berbagai wilayah
Indonesia saat ini terjadi berbagai gejolak yang sangat memprihatinkan antara lain amuk
massa yang cenderung anarkis, bentrok antara kelompok masyarakat satu dengan yang
lainnya yang muaranya adalah masalah politik.

Oleh karena itu dalam pengembangan social budaya pada masa reformasi dewasa ini kita
harus mengangkat nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai dasar nilai yaitu nilai-
nilai pancasila itu sendiri. Dalam prinsip etika pancasila pada hakikatnya bersifat humanistik,
artinya nilai-nilai pancasila mendasarkan pada nilai yang bersumber pada harkat dan martabat
manusia sebagai makhluk yang berbudaya.

4. Implementasi Pancasila dalam bidang Pertahanan dan Keamanan


Negara pada hakikatnya adalah merupakan suatu masyarakat hukum. Demi tegaknya hak-hak
warga negara maka diperlukan peraturan perundang-undangan negara, baik dalam rangka
mengatur ketertiban warga maupun dalam rangka melindungi hak-hak warganya.

Implementasi / penerapan nilai-nilai dari sila-sila Pancasila adalah sebagai berikut :

Implementasi / penerapan Sila Ke-1 :

1) Beriman, dan bertakwa yaitu secara sadar patuh melaksanakan perintah Tuhan. Setiap
umat harus mempelajari agama dan mengamalkannya;

2) Walaupun berbeda agama, rakyat Indonesia harus dapat bekerjasama dalam bidang
sosial, perekonomian, dan keamanan lingkungan;

3) Setiap pemeluk agama tidak boleh menghalangi ibadah agama lain;

4) Mengembangkan toleransi agama sejak dini;

5) Tidak menyebarkan agama kepada manusia yang sudah ber-Tuhan.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu :

1. Kehidupan bernegara bagi Negara Republik Indonesia berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa;

2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama serta untuk
beribadah menurut agama dan kepercayaannnya;

3. Negara menghendaki adanya toleransi dari masing-masing pemeluk agama dan aliran
kepercayaan yang ada serta diakui eksistensinya di Indonesia;

4. Negara Indonesia memberikan hak dan kebebasan setiap warga negara terhadap agama dan
kepercayaan yang dianutnya.

Arti dan Makna Sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah :

Manusia sebagai makhluk yang ada di dunia ini seperti halnya makhluk lain diciptakan oleh
penciptanya. Manusia sebagai makhluk yang dicipta wajib melaksanakan perintah Tuhan dan
menjauhi larangan-Nya.

Implementasi / penerapan Sila Ke-2 :

1) Sesama manusia tidak boleh saling melecehkan;

2) Sesama manusia punya rasa memiliki (mau berkorban);

3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban;

4) Tidak semena-mena terhadap orang lain;


5) Mengakui adanya masyarakat majemuk; melakukan musyawarah dan kompromi;
mempertimbangkan moral; berbuat jujur; tidak curang;

6) Gemar kegiatan kemanusiaan: donor darah, menyantuni anak yatim dll ;

7) Mentaati hukum dan tidak diskriminatif.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kemanusiaan yang adil dan beradab,
antara lain :

1. Pengakuan negara terhadap hak bagi setiap bangsa untuk menentukan nasib sendiri;

2. Negara menghendaki agar manusia Indonesia tidak memeperlakukan sesama manusia


dengan cara sewenang-wenang sebagai manifestasi sifat bangsa yang berbudaya tinggi;

3. Pengakuan negara terhadap hak perlakuan sama dan sederajat bagi setiap manusia;

4. Jaminan kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan serta kewajiban menjunjung
tinggi hukum dan pemerintahan yang ada bagi setiap warga negara.

Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab adalah :

Manusia ditempatkan sesuai dengan harkatnya.

Hal ini berarti bahwa manusia mempunyai derajat yang sama di hadapan hukum.

Implementasi / penerapan Sila Ke-3 :

1) Menempatkan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan ;

2) Berkorban demi negara: bekerja keras, taat membayar pajak, tidak KKN;

3) Cinta tanah air: meningkatkan prestasi di segala bidang ;

4) Bangga sebagai bangsa Indonesia: percaya diri sebagai Orang Indonesia.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Persatuan Indonesia, yaitu :

1. Perlindungan negara terhadap segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia;

2. Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan


ketertiba dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;

3. Negara mengatasi segala paham golongan dan segala paham perseorangan, serta pengakuan
negara terhadap kebhineka-tunggal-ikaan dari bangsa Indonesia dan kehidupannya.

Implementasi / penerapan Sila Ke-4 :

1) Aktif dalam musyawarah, memberikan hak suara, dan mengawasi wakil rakyat ;
2) Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain;

3) Mengutamakan musyawarah dengan menggunakan akal sehat;

4) Menerima hasil musyawarah apapun hasilnya dan melaksanakan dengan tanggungjawab;

5) Mempunyai itikad baik dalam melakukan sesuatu.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawarata perwakilan, yaitu :

1. Penerapan kedaulatan dalam negara Indonesia yang berada di tangan rakyat dan dilakukan
oleh MPR;

2. Penerapan asas musyawarah dan mufakat dalam pengambilan segala keputusan dalam
negara Indonesia, dan baru menggunakan pungutan suara terbanyak bila hal tersebut tidak
dapat dilaksanakan;

3. Jaminan bahwa seluruh warga negara dapat memperoleh keadilan yang sama sebagai
formulasi negara hukum dan bukan berdasarkan kekuasaan belaka, serta penyelenggaraan
kehidupan bernegara yang didasarkan atas konstitusi dan tidak bersifat absolute.

Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan adalah :

Permusyawaratan diusahakan agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang diambil


secara bulat.

Kebijaksaan ini merupakan suatu prinsip bahwa yang diputuskan itu memang bermanfaat
bagi kepentingan rakyat banyak.

Implementasi / penerapan Sila Ke-5 :

1) Mengembangkan perbuatan luhur: saling membantu dan gotong royong;

2) Berbuat adil: tidak pilih kasih ;

3) Menghormati orang lain: tidak menghalangi orang lain hidup lebih baik ;

4) Suka memberi pertolongan: tidak egois dan individualistis;

5) Bekerja keras: tidak pasrah kepada takdir Tuhan;

6) Menghargai karya orang lain: tidak membajak dan membeli produk bajakan;

7) Tidak merusak prasarana umum dan menjaga kebersihan ditempat umum.

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Keadlan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia, antara lain :
1. Negara menghendaki agar perekonomian Indonesia berdasarkan atas asas kekeluargaan;

2. Penguasaan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara serta menguasai hajat hidup
orang banyak oleh negara, negara menghendaki agar kekayaan alam yang terdapat di atas
dan di dalam bumi dan air Indonesia dipergunakan untuk kemakmuran rakyat banyak;

3. Negara menghendaki agar setiap warga negara Indonesia mendapat perlakuan yang adil di
segala bidang kehidupan, baik material maupun spiritual;

4. Negara menghendaki agar setiap warga negara Indonesia memperoleh pengajaran secara
maksimal;

5. Negara Republik Iindonesia mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran


nasional yang pelaksanaannya diatur berdasarkan Undang-Undang;

6. Pencanangan bahwa pemerataan pendidikan agar dapat dinikmati seluruh warga negara
Indonesia menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga;

7. Negara berusaha membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah :

Keadilan berarti adanya persamaan dan saling menghargai karya orang lain.

Jadi seseorang bertindak adil apabila dia memberikan sesuatu kepada orang lain sesuai
dengan haknya.

Implementasi atau penerapan nilai-nilai dari sila-sila Pancasila menurut hasil dari
wawancara terhadap beberapa warga negara Indonesia sebagai sampel :

Nilai-nilai dari sila-sila Pancasila dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Nilai tersebut
mengantarkan kita untuk melakukan segala sesuatunya dalam rangka menjalankan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa
Indonesia. Nilai tersebut akan bermanfaat apabila nilai itu diterapkan atau diimplementasikan
secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi tersebut dapat diwujudkan dengan
perilaku kita sebagai masyarakat selaku subyek pelaku implementasi.

Implementasi nilai-nilai Pancasila dapat dijabarkan melalui sila-silanya. Contohnya adalah


penerapan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu dengan shalat berjamaah, toleransi
antar umat beragama, dan membina kerukunan antar umat beragama. Contoh penerapan sila
kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yaitu tolong menolong dalam masyarakat.
Contoh penerapan sila ketiga Persatuan Indonesia yaitu tidak membuat kerusuhan atau
perang antar suku. Contoh sila keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan adalah ikut serta dalam Pemilu. Contoh
penerapan sila kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah berlaku adil
dalam semua aspek dalam kehidupan.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa satu kegiatan dapat mencerminkan
implementasi dari semua sila Pancasila. Seperti contoh membantu sesama itu dapat
mencerminkan penerapan sila 1,2,3,4, dan 5 dari Pancasila, karena antar sila-sila dalam
Pancasila itu terdapat suatu keterkaitan yang kuat yang tak terpisahkan dimana apabila salah
satu nilai dari sila tersebut diamalkan, maka nilai-nilai sila yang lainpun akan teramalkan
pula.

Indonesia kini berada di era globalisasi yang memungkinkan segala sesuatunya dapat diakses
dengan begitu mudahnya, dimanapun, kapanpun, oleh siapapun. Hal tersebut menyebabkan
banyak informasi dam budaya dari luar Imdonesia dapat masuk dengan mudah. Tentu
masuknya hal tersebut memiliki dampak positif dan dampak negatif sebagai konsekuensi
yang harus diterima oleh semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
komunikasi. Apabila produk globalisasi tersebut membawa dampak yang baik dalam artian
positif, kita bisa menerima dan menyambut baik serta menyesuaikan hal tersebut untuk dapat
diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Akan tetapi apabila itu membawa dampak
yang tidak baik dalam artian dapat menimbulkan pengaruh negatif, kita sebagai warga negara
Indonesia tidak boleh langsung menerimanya begitu saja. Kita harus melakukan penyaringan
secara selektif agar dampak negatifnya tidak masuk ke dalam masyarakat Indonesia. Filter
yang dapat kita gunakan adalah Pancasila. Apabila hal tersebut sudah sesuai dengan nilai-
nilai Pancasila maka hal tersebut boleh diterapkan.

Walaupun sudah ada Pancasila yang berfungsi sebagai filter, tetapi kenyataan bahwa nilai-
nilai dari sila-sila Pancasila yang sudah mulai tidak diterapkan atau dalam artian sudah
banyak terjadi penyimpangan terhadap implementasi nilai-nilai Pancasila tidak dapat
dipungkiri lagi. Hal ini terjadi kebanyakan pada kalangan muda. Banyak generasi muda yang
terkena dampak negatif dari globalisasi yang akhirnya melakukan tindakan negatif seperti
minum-minuman keras, mengonsumsi narkoba, seks bebas, kurang santun dalam bertindak,
dan lain sebagainya. Di kalangan masyarakat umum juga tejadi banyaktindak kriminal,
korupsi, dekadensi moral, dan hal negatif lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Implementasi dari nilai-nilai Pancasila akan dapat terlaksana dengan baik dengan adanya
kemauan kita untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut untuk perbaikan kehidupan di
masyarakat dan menjadikan Pancasila sebagai pedoman hidup. Penanaman akan pentingnya
implementasi nilai-nilai Pancasila yang baik harus ditanamkan sejak dini. Penanaman itu
dapat dimulai dengan pemberian contoh perilaku yang sesuai dengan nilai Pancasila di
lingkungan keluarga, lalu diterapkan di masyarakat. Penanaman akan pentingnya Pancasila
juga dapat dilakukan baik melalui pendidikan formal maupun non formal, contohnya adalah
dengan adanya pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) di tingkat sekolah dan mata
kuliah Pendidikan Pancasila di tingkat perguruan tinggi.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Nilai-nilai luhur dari sila-sila Pancasila dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah, yang
mewakili kepribadian bangsa Indonesia. Akan tetapi dewasa ini penerapan atau implementasi
nilai-nilai Pancasila sudah mulai luntur, yang diakibatkan semakin pesatnya arus globalisasi,
dekadensi moral, dan sebagainya. Sebenarnya akan dapa tercipta kehidupan masyarakat
Indonesia yang baik apabila nilai-nilai Pancasila tersebut diamalkan sebgan baik pula.
Apabila salah satu sila Pancasila diterapkan, maka nilai dari sila yang lain akan terlaksana
juga karena antar sila yang satu dengan sila yang lain dalam Pancasila memiliki keterkaitan
yang kuat. Pancasila dapat berfungsi sebagai filter untuk menyaring pengaruh buruk dari luar
agar tidak masuk kedalam masyaraka Indonesia. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah
penanaman nilai-nilai Pancasila sejak dini, bisa melalui keluarga dan masyarakat, ataupun
melalui pelajaran PKn dan kuliah Pendidikan Pancasila.

1. Saran

Hendaknya kemauan untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila secara baik


ditumbuhkan dalam diri pribadi manusia Indonesia, ditanamkan dalam jiwa pemuda
Indonesia, lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi insan yang
pancasilais.

DAFTAR PUSTAKA

http://jeffany-jefanny.blogspot.com/2012/04/pancasila-implementasinya.html diakses tanggal


8 Desember 2013.

https://www.google.com/search?
newwindow=1&site=&source=hp&q=implementasi+pancasila&oq=implementasi+pancasila
&gs_l=hp.32387.10390.0.10774.22.18.0.0.0.0.0.0..0.0.0
1c.1.32.hp..22.0.0.NvCsEIN4i08, diakses tanggal 8 Desember 2013.