Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Persiapan prabedah penting sekali untuk mengurangi faktor resiko karena hasil akhir
suatu pembedahan sangat bergantung pada penilaian keadaan penderita. Dalam persiapan
inilah ditentukan adanya kontraindikasi operasi, toleransi penderita terhadap tindakan bedah,
dan ditetapkan waktu yang tepat untuk melaksanakan pembedahan.1,6

Aspek terpenting operasi adalah proses pengambilan keputusan yang diperlukan


untuk mengevaluasi indikasi dan manfaat tindakan operasi. Sama pentingnya dengan usaha
untuk mendapatkan keahlian untuk melakukan tindakan tersebut. Walaupun keahlian itu
sendiri dapat ditemukan pada banyak atlas dan teks bergambar, tetapi diperlukan latihan dan
pengalaman klinik bertahun-tahun dalam program yang terawasi untuk mendapatkannya.
Pengalaman adalah faktor utama dalam membentuk keterampilan pengambilan keputusan
klinik oleh ahli bedah dalam merencanakan tahap prabedah dan perawatan pasien.2

Tindakan umum yang dilakukan setelah diputuskan melakukan pembedahan


dimaksudkan untuk mempersiapkan penderita agar penyuit pasca bedah dapat dicegah
sebanyak mungkin. Sebagian tindakan tersebut dilakukan rutin, seperti pembersihan kulit,
sedangkan yang lain dipilih berdasarkan keterangan yang diperoleh pada anamnesis,
pemeriksaan prabedah dan rencana pengelolaan. Toleransi pasien terhadap pembedahan
mencakup toleransi fisik maupun mental.1

Persiapan Pasien Prabedah Page 1


BAB II

PERSIAPAN PASIEN PRABEDAH

A. Definisi

Persiapan prabedah merupakan persiapan dan pengelolaan pasien sebelum operasi.Hal


ini mencakup baik persiapan fisik maupun psikologis. Perawatan preoperatif melibatkan
banyak komponen, dan dapat dilakukan sehari sebelum operasi di rumah sakit, atau selama
seminggu sebelum operasi secara rawat jalan. Banyak prosedur pembedahan kini dilakukan
dalam pengaturan operasi 1 hari dan pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit. 7

B. Tujuan

Pasien yang secara fisik dan psikologis telah dipersiapkan untuk operasi cenderung
memiliki hasil bedah yang lebih baik. Diskusi preoperative bersama pasien dapat memenuhi
kebutuhan pasien untuk mendapatkan informasi mengenai pengalaman bedah, yang pada
akhirnya nanti dapat mengurangi sebagian besar rasa takut nya. Pasien yang lebih luas
pengetahuaannya tentang harapan setelah operasi, dan yang memiliki kesempatan untuk
mengekspresikan tujuan dan pendapat mereka, biasanya dapat mengatasi lebih baik dalam hal
rasa nyeri pasca operasi dan penurunan mobilitas. Perawatan preoperative sangat penting
sebelum prosedur invasif, terlepas dari apakah prosedur invasif minimal atau bentuk operasi
besar.7

Beberapa orang menginginkan informasi sebanyak mungkin, tapi di sisi lain ada juga
yang lebih memilih hanya informasi yang minimal karena terlalu banyak pengetahuan dapat
meningkatkan kecemasan mereka. Pasien memiliki kemampuan yang berbeda untuk
memahami prosedur medis, beberapa lebih suka informasi tercetak, sementara yang lain
belajar lebih banyak dari presentasi lisan. Hal ini penting bagi pasien untuk mengajukan
pertanyaan selama sesi mengajar preoperative.7

Persiapan Pasien Prabedah Page 2


C .Persiapan prabedah pada pasien dewasa

1. Persiapan Mental

Secara mental, penderita harus dipersiapkan untuk menghadapi pembedahan


karena selalu ada rasa cemas atau takut terhadap penyuntikan, nyeri luka, anesthesia,
bahkan terhadap kemungkinan cacat atau mati. Dalam hal ini, hubungan baik antara
penderita, keluarga dan dokter sangat menentukan. Kecemasan ini adalah reaksi
normal yang dapat dihadapi dengan sikap terbuka dan penerangan dari dokter dan
petugas pelayanan kesehatan lainnya. Atas dasar pengertian, penderita dan
keluarganya dapat memberikan persetujuan dan izin untuk pembedahan.1

.a. Komunikasi pra operasi2

Hubungan dokter-pasien sebaiknya dijalin melalui komunikasi.


Penting menunjukkan usaha yang diperlukan untuk mendapatkan hubungan
prabedah yang memastikan bahwa pasien akan benar-benar yakin akan alasan
operasi serta hasil yang diharapkannya. Selain itu pertimbangan tentang
keluarga pasien dan peranannya merupakan tanggung jawab utama lain bagi
ahli bedah. Tuntutan hukum lebih cenderung terjadi pada keadaan dimana
hubungan ini tidak terjadi. Waktu khusus untuk diskusi prabedah dengan
pasien dan keluarga pasien (bila diperlukan) merupakan unsur penting pada
persiapan prabedah. Diskusi hanya boleh diakhiri bila dokter yakin bahwa
pasien dan keluarganya sudah memahami indikasi operasi, sifat khusus
tindakan dan risiko operasi tersebut. Semua pertanyaan harus dijawab dengan
lengkap untuk member keterangan penting sebanyak mungkin, menghilangkan
kecemasan atau ketakutan pasien yang tidak tahu serta mengurangi kecemasan
yang tidak perlu terhadap masalah yang mungkin tidak akan terjadi.

Persiapan Pasien Prabedah Page 3


Pada diskusi tentang perincian operasi, istilah yang digunakan harus
dibuat agar benar-benar dipahami pasien. Semua aspek operasi yang harus
dibicarakan mencakup daerah insisi, peralatan pemantau yang diperlukan dan
infuse intravena, kemungkinan penggunaan sonde nasogaster, penggunaan
drain dan tindakan perawatan khusus, yang membutuhkan kerjasama pasien
pada saat pascabedah. Harus dijelaskan keperluan dan perkiraan lama tinggal
dalam pemulihan atau perawatan intensif. Tindakan yang banyak merubah
bentuk dan fungsi tubuh, seperti trakeostomi atau kolostomi, harus dibicarakan
dengan memperhatikan efek jangka pendek dan jangka panjangnya.

Komplikasi yang mungkin terjadi dalam hubungannya terhadap tiap


operasi harus diberitahukan, tetapi hanya dibicarakn secara terperinci bila
kemungkinannya besar atau akibatnya parah. Angka kematian operasi juga
harus dibicarakan. Diskusi ini sebaiknya dilakukan oleh seorang ahli bedah
yang akan melakukan operasi tersebut dan bukan asistennya. Dokumentasi
tentang diskusi prabedah tersebut dibuat dalam bentuk bagan dan ijin operasi
tertulis, merupakan tindakan standar yang harus dilakukan.

Komunikasi prabedah juga diperlukan antara ahli bedah dan anggota-


anggota tim bedah lainnya, terutama komunikasi dengan dokter umum yang
merujuknya, tentang indikasi dan rencana operasi. Anggota-anggota tim bedah
juga harus diberitahukan tentang tindakan yang akan dilakukan, sehingga
keahliannya terkordinasi sebaik mungkin.

Anggota-anggota tim operasi juga sebaiknya tidak membicarakan


rencana operasi dengan pasien atau keluarganya. Selain penjabaran keterangan
yang sama, interpretasi dari dua komunikasi yang berbeda dapat menimbulkan
pertentangan dan keadaan ini akan menimbulkan kebingungan yang tidak
perlu.

b Penjabaran risiko operasi2

Faktor-faktor yang dibicarakan dalam penentuan risiko perioperasi


berhubungan dengan keadaan pasien, penyakit, keadaan tubuh secara
keseluruhan dan operasi yang akan dilakukan. Skala keadaan fisik dari the
American Society o Anesthesiology dapat dilihat pada Tabel 1.

Persiapan Pasien Prabedah Page 4


Tabel 1. Klasifikasi Keadaan Fisik 3
1. Pasien normal yang sehat
2. Pasien penyakit sistemik ringan
3. Pasien penyakit sistemik berat yang membatasi aktivitas tetapi tidak
menimbulkan cacat
4. Pasien dengan penyakit sistemik yang menimbulkan cacat, serta
membahayakan kehidupan
5. Pasien gawat yang hanya bertahan 24 jam dengan atau tanpa operasi.
Pada operasi gawat darurat, angka didahului dengan huruf E.

Angka kematian pascabedah dan yang berhubungan dengan anestesi,


terbukti berhubungan baik dengan klasifikasi ini.(3) Skala angka kematian
terentang dari 0,01% (kategori 1) 18% (kategori 4). Penambahan klasifikasi
darurat menghasilkan angka kematian operasi dan anestesi kategori 1,2 dan 3
menjadi dua kali lipat. Pasien kategori 4 dan 5 tidak mengalami peningkatan
risiko untuk keadaan darurat.

Tindakan operasi sendiri memang selalu mempunyai risiko yang perlu


dibicarakan pada saat pembicaraan tentang risiko perioperasi.Misal pada
operasi jantung terbuka, kraniotomi, operasi abdomen yang besar dan operasi
untuk trauma berat, masing-masing berhubungan dengan tindkan beresiko
sangat tinggi. Angka kematian untuk tindakan tertentu bervariasi dari rumah
sakit satu yang lain, berdasar pada volume dan keahlian.

Pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit akan sangat bermanfaat.


Waktu operasi juga sangat berpengaruh penting pada hasil operasinya. Sebagai
contoh penggantian katup jantung lebih baik dilakukan sebelum ventrikel
terlalu rusak oleh penyakit katup. Perdarahan hebat dan trauma tentu
membutuhkan intervensi darurat, tetapi bahkan pada keadaan ini, keberhasilan
hanya diperoleh bila dilakukan juga pemberian dukungan moral.

Persiapan Pasien Prabedah Page 5


2. Persiapan Fisik

Persiapan fisik mungkin terdiri dari riwayat medis yang lengkap dan
pemeriksaan fisik, termasuk latar belakang pasien bedah dan anestesi. Pasien harus
memberitahu dokter dan staf rumah sakit jika dia pernah memiliki reaksi negatif
terhadap anestesi (seperti shock anafilaksis), atau jika ada riwayat keluarga
hipertermia ganas. Uji laboratorium terdiri dari hitung darah lengkap, elektrolit, waktu
prothrombin, waktu tromboplastin diaktifkan parsial, dan urine.Pasien kemungkinan
besar akan dilakukan rekam jantung dengan elektrokardiogram (EKG) jika ia
memiliki sejarah penyakit jantung, atau lebih dari 50 tahun. X-ray thorax biasanya
dilakukan jika pasien memiliki riwayat penyakit pernapasan. Bagian dari persiapan
yaitu meliputi penilaian terhadap faktor risiko yang dapat mengganggu penyembuhan,
seperti kekurangan gizi, penggunaan steroid, radiasi atau kemoterapi, penyalahgunaan
obat atau alkohol, atau penyakit metabolik seperti diabetes. Pasien juga harus
menyediakan daftar semua obat, vitamin, dan suplemen herbal atau makanan yang ia
gunakan. Suplemen sering diabaikan, namun dapat menyebabkan efek buruk bila
digunakan dengan anestesi umum (misalnya, St John's Wort, akar valerian). Beberapa
suplemen bisa memperpanjang waktu perdarahan (misalnya, bawang putih, gingko
biloba).7

Persiapan Pasien Prabedah Page 6


2.1 Pertimbangan prabedah menurut system

a. Secara Umum1

Kulit tubuh, khususnya di daerah lapangan operasi, harus bersih.


Penderita harus mandi atau dimandikan dengan sabun atau larutan antiseptic,
seperti klorheksidin atau larutan yang mengandung yodium. Selain itu, kulit
harus bebas infeksi sehingga operasi elektif harus ditunda selama ada infeksi
kulit.

Suhu badan sebaiknya dipertahankan kurang lebih normal. Penderita


yang demam, metabolismenya meningkat dan memerlukan banyak zat asam
sehingga iritabilitas miokard meningkat dan keadaan syok tidak dapat
dikompensasi seperti biasa. Suhu harus diturunkan dahulu, umpamanya
dengan sediaan salisilat. Bila demam disertai menggigil, pasien dapat
diberikan klorpromazin. Hipotermia di bawah 34,50C juga membawa risiko
karena metabolism berlangsung terlalu lambat sehingga misalnya, pembekuan
darah melambat. Iritabilitas miokard pun meningkat, terutama bila penderita
syok sehingga penderita terancam mengalami fibrilasi ventrikel. Penderita
seperti harus dihangatkan dahulu perlahan-lahan dengan selimut hangat atau
dimandikan dengan air hangat 400C. Suhuh air harus dipantau karena suhu air
42,20C sudah mengakibatkan luka bakar.

Syok umumnya disertai dengan peredaran darah yang buruk dan


ganggun perfusi organ vital, seperti jantung dan otak. Oleh Karena itu, sedapat
mungkin keadaan syok harus diatasi sebelum pembedahan. Pada keadaan
tertentu, seperti perdarahan massif, tekanan darah tidak dapat dinaikkan. Oleh
Karena itu, terpaksa dilakukan pembedahan darurat dalam keadaan syok untuk
menghentikan perdarahannya. Sebaliknya, hipertensi pun harus dikoreksi
sebelum pembedahan, dalam artian tekanan diastolic diusahakan di bawah 100
mmHg, jika mungkin, dibawah 90 mmHg.

Kateter buli-buli juga selalu harus dipasang.

Persiapan Pasien Prabedah Page 7


b. Kardiovaskular

Faktor terpenting dalam memperkirakan risiko jantung dan komplikasi


tindakan non jantung prabedah adalah dari riwayat pasien, pemeriksaan fisik
dan EKG. Faktor tunggal terpenting pada anamnesis adalah serangan infark
myocardium yang terjadi 6 bulan terakhir. Infark myocardium berulang timbul
pada 30% pasien dengan operasi yang dilakukan 3 bulan setelah infark
myocardium dan 15% pada pasien dengan operasi yang dilakukan -6 bulan
setelah timbulnya infark.(2)

Penyulit jantung pascabedah selalu mengancam jiwa penderita.


Aritmia, angina pectoris yang tidak stabil, gangguan faal jantung, atau
hipertensi berat harus ditanggulangi dan dikoreksi pada masa prabedah.
Penyakit katup jantung, khususnya stenosis katup aorta, menghalangi
kemampuan jantung untuk memberikan daya cadangan yang dibutuhkan pada
masa pascabedah.

Faktor nonkardial, seperti usia lanjut atau penyakit paru kronik, jelas
jelas terkait pada penyulit jantng pascabedah. Anemia dan malnutrisi harus
ditanggulangi karena meningkatkan risiko terjadinya penyulit jantung. Kadar
hematokrit yang memenuhi syarat adalah antara 30-35%.

Penyulit nonkardial dapat mencetuskan penyulit kardial. Sepsis


pascabedah atau gangguan paru mengakibatkan hipoksemia yang langsung
dpat memengaruhi jantung karena miokard sangat peka akan kekurangan zat
asam. Juga pemberian cairan yang berlebihan dapat menjadi beban terlalu
berat bagi jantung yang fungsi cadangannya terbatas.

Anestesia umum menyebabkan depresi miokard dan beberapa anestetik


mencetuskan terjadinya disritmia. Lama pembedahan, kedaruratannya dan
perdarahan saat operasi yang menyebabkan hipotensi memperbesar
kemungkinan terjadinya penyulit jantung berat pasca bedah.

Aritmia
Aritmia dapat terjadi sewaktu pembedahan maupun dalam tiga hari
pascabedah,khususnya pada bedah toraks. Aritmia saat pembedahan biasa
dicetuskan oleh anestetik (halotan, siklopropan), simpatomimetik, dan oleh

Persiapan Pasien Prabedah Page 8


keadaan hiperkapnia. Aritmia pascabedah biasanya berhubungan erat dengan
hipokalemia, hipokalsemia, alkalosis, atau keracunan digoksin. Jika terjadi
aritmia, pertama kali harus ditentukan penyebab atau pencetusnya supaya
dapat dikoreksi.
Infark jantung

Kejadian infark jantung pascabedah pada orang yang penah mengalami


infark jantung mencapai 6%. Kejadian ini lebih tinggi lagi pada usia lanjut.
Pada orang yang belum pernah mengalaminya mencapai 0,1%. Bila
pembedahan dilakukan dalam waktu tiga bulan setelah serangan infark, risiko
infark pascabedah mencapai 25%, sedangkan mortalitasnya mendekati 100%.
Pembedahan pada masa 3-6 bulan setelah infark jantung, disertai risiko infark
ulang pascabedah sebesar 20%. Angka risiko berngsur turun sampa 6% yang
berlaku seumur hidup. Umumny infark jantung pascabedah terjadi cepat dalam
waktu beberapa hari setelah pembedahan. Infark pascabedah biasanya tidak
disertai keluhan dan gejala sehingga menylitkan diagnosis. Risiko dan
mortalitasnya tinggi sekali

c. Respirasi

Penyulit pascabedah paling banyak terjadi di paru. Merokok jelas


berhubungan dengan perkembangan berbagai penyakit paru-paru serta (pada
prabedah) dengan bertambahnya volume penutupan ( CV = closing volume).
Merokok sangat mempengaruhi kerja mukosiliar saluran pernapasan serta
membentuk sekresi yang lebih kental dan lengket

. Kebiasaan merokok dianjurkan untuk dihentikan sebelum operasi,


untuk mengurangi kemungkinan timbulnya komplikasi pernapasan. Periode
berhenti merokok prabedah harus dimulai sekurang-kurangnya 4 minggu
sebelum operasi untuk benar-benar mengurangi tingkat komplikasi

Persiapan Pasien Prabedah Page 9


pascabedah.2 Risiko penyulit menurun secara bermakna jika penderita berhenti
merokok.1

Usia lanjut berhubungan dengan pengurangan volume paru-paru,


volume ekspirasi paksa (FEV) dan kecepatn aliran, serta elasitas paru-paru.
Namun usia itu sendiri bukan merupakan faktor resiko, asalkan hasil
pemeriksaan fungsi paru-paru terbukti normal.

Penentuan gas darah arteri prabedah merupkan tes prognosis yang


tepat untuk gangguan paru-paru pada periode peribedah.. Gas darah arteri
diindikasikan sebelum semua operasi reseksi paru dan mungkin diindikasikan
relative bagi sebagian besar operasi thorax.

d. Endokrin

Masalah disfungsi endokrin spesifik tertentu cukup lazin atau cukup


berbahaya, untuk membenarkan perhatian khusus. Pada umumnya untuk
insufisiensi endokrin kurang lazim seperti hipitiroidisme, maka persiapan
prabedah meliputi tes diagnosis sederhana untuk memastikan bahwa
kecurigaan klinik tentang insufisiensi endokrin dapat diikuti dengan terapi
penggantian yang tepat. Juga bila gambaran klinik sesuai dengan keadaan
kelebihan sekresi hormone dan keadaan ini dibuktikan secara biokimia, maka
harus diambil tindakan prabedah untuk menghilangkan atau membuang
kelebihan homon tersebut.2

e. Gastrointestinal2

Sebelum pembedahan (dengan anesthesia umum) dimulai, lambung


harus kosong. Refluks esophagus mudah terjadi, terutama pada permulaan
anesthesia, sehingga dapat terjadi aspirasi isi lambung yang merupakan suatu
penyulit berbahaya karena menimbulkan pneumonia yang tidak mudah diatasi.
Oleh karena itu, pasien dipuasakan enam jam sebelum pembedahan.1

Kekuatiran utama dalam pasien prabedah dengan memperhatikan


sistem gastrointestinal adalah kemampuan fungsional saluran pencernaan dan
organ-oragan pencernaan penyerta untuk mempertahankan kebutuhan gizi
pasien. Perincian kekuatiran ini telah dibicarakan. Pemeriksaan fungsi hati,

Persiapan Pasien Prabedah Page 10


pancreas dan usus juga penting pada prabedah bila ada indikasi patologi atau
insufisiensi fungsional.

Gangguan faal hati sering ditemukan dan akibatnya, seperti


hipoalbuminemia, anemia dan gangguan pembekuan darah, sedapat mungkin
dikoreksi.

Pada obstruksi saluran cerna harus dilakukan dekompresi dengan


memasang pipa lambung. Kadang diperlukan dekompresi kolon dengan
sekostomi. Dekompresi saluran empedu kadang diperlukan untuk menurunkan
kadar bilirubin.

f. Serebrovaskular

Penyakit penyumbatan serebrovaskular ekstrakranial tersering terlihat


pada orang lanjut usia. Pada pasien ini, hipotensi intraoperasi, anoksia atau
peningkatan viskositas darah dapat memperberat perfusi cerebrum yang sudah
terganggu sejak semula dan menimbulkan stroke intraoperasi. Karena itu
evaluasi penyakit serebrovaskular prabedah perlu dilakukan untuk
menentukan risiko stroke peribedah.

g. Renalis

Pasien insufisiensi atau gagal ginjal memiliki beberapa kesulitan


khusus pada masa prabedah. Tes diagnosis yang menggunakan zat warna
kontras memiliki risiko khusus pada pasien dengan fungsi ginjal perbatasan.
Hidrasi penting pada pasien ini untuk mencegah atau mengurangi kelalaian
lebih lanjut dalam fungsi ginjal akibat pemaparan ke zat warna hipertonik.

Diuresis menjadi pegangan penting dalam menentukan keseimbangan


cairan. Jika diuresis mencapai 30 ml/jam, lidah lembab, mukosa lain tampak
basah dan turgor kulit memadai, hidrasi penderita dapat dianggap normal. Bila
hidrasi berlebihan seperti pada keadaan gagal jantung kiri, tindakan koreksi
dilakukan dengan memberikan diuretik.

Gangguan keseimbangan elektrolit dan asam-basa juga harus


dikoreksi. Pada penderita diabetes mellitus, bila perlu, dilakukan koreksi kadar
gula darah dan ketonuria.

Persiapan Pasien Prabedah Page 11


h. Kelainan darah dan pembekuannya

Gangguan perdarahan dan transfusi2

Tindakan penyaring terbaik untuk gangguan pembekuan darah, adalah


anamnesis cermat. Pasien dengan riwayat pembekuan darah yang lama,
hematoma atau perdarahan intraartikular setelah trauma atau mudah memar,
membuktikan evaluasi laboratorium tentang adanya kelainan perdarahan.
Sebelum tindakan vascular yang besar seperti pada operasi yang mungkin
akan banyak mengeluarkan darah atau tindakan pungsi struktur vascular
perkutis seperti arteriogram, maka normalnya dilakukan pemeriksaan
koagulasi.

Waktu protrombin (PT) merupakan suatu evaluasi rangkaian koagulasi


ekstrinsik dan waktu tromboplastin aktif parsial (PTT) merupakan evaluasi
rangkaian koagulasi intrinsic. Hitung trombosit dan waktu pembekuan darah
menunjukkan jumlah trombosit yang tersedia dan mengukur fungsinya.
Keempat tes penyaring ini cukup sensitive untuk menunjukkan adanya
gangguan perdarahan operasi pada lebih dari 95% penderita abnormalitas
perdarahan.

Pasien yang membutuhkan antikoagulan, baik heparin atau Koumadin,


membutuhkan persiapan prabedah khusus. Karena antikoagulan mungkin
diperlukan kembali dalam masa pascabedah untuk menghindari bahaya
tromboemboli, maka sebaiknya tidak menghilangkan antikoagulan secara
lengkapa untuk waktu yang lama. Operasi susunan saraf pusat (SSP), hati dan
mata membutuhkan penghilangan antikoagulan yang lengkap pada saat
operasi. 50. Pemberian vitamin K secara parenteral atau infus plasma beku
segar dianjurkan untuk menghilangkan antikoagulansi akibat koumadin atau
heparin prabedah,

Pasien yang didasari kelainan darah2

Pasien kelainan darah yang mendasari seperti anemia, trombositopeni,


leukemia dan polisitemia membutuhkan persiapan prabedah khusus. Anemia
meningkatkan risiko operasi dan anestesi pada pasien dengan kadar
hemoglobin kurang dari 10g per 100 ml, melalui gangguan kemampuan
Persiapan Pasien Prabedah Page 12
jaringan untuk membawa oksigen semaksimum ungkin selama periode stree
operasi. Karena itu, transfuse prabedah diperlukan pada beberapa penderita
anemia.

Bila sudah diputuskan untuk melakukan transfusi, sebaiknya darah


diberikan sekurang-kurangnya 24 jam sebelum operasi dengan batas
maksimum 2 unit darah per hari. Tindakan ini memungkinkan waktu yang
adekuat bagi tubuh untuk mengumpulkan kembali 2,3 difofogliserat (DPG)
serta menghindari beban volume yang berlebihan.

Transfusi2

Adanya penyediaan adekuat darah yang telah di cocok silang


merupakan prasyarat bagi tindakan bedah terencana apa pun. Pada keadaan
yang sangat gawat, transfuse dapat dilakukan dengan darah spesifik golongan
atau bahkan darah O negative, tergantung atas sifat mendesak keadaan
tersebut. Transfusi darurat tersebut biasanya diberikan di ruang gawat darurat
pusat trauma yang besar atau rumah sakit tentara, dan memiliki peningkatan
risiko reaksi ketidakcocokan tertunda yang parah pada transfuse berikutnya.
Jumlah darah yang diperlukan untuk transfuse intra-operasi tergantung pada
lama tindakan operasi. Pengalaman merupaka guru terbaik untuk menentukan
jumlah transfuse tersebut. Namun harus disebutkan bahwa jumlah unit darah
yang diberikan sebelum banyak tindakan elektif, sering melebihi jumlah yang
sebenarnya.

Persiapan Pasien Prabedah Page 13


2.2 Keadaan gizi1,2

Keadaan gizi pasien merupakan faktor pertimbangan penting prabedah.


Karena malnutrisi memiliki banyak pengaruh buruk terhadap kemampuan tubuh
untuk melawan stress dari periode peribedah. Pengurangan tenaga karena penyerapan
klori yang buruk dapat memperbesar ketidakaktifan pascabedah dan merupakan
pemicu komplikasi seperti thrombosis vena dan ulkuas dekubitalis. Pengurangan
protein serum menahun dapat menimbulkan retensi natirum dan air pascabedah, yang
menimbulkan edema, penyembuhan luka yang buruk dan bertambah parahnya payah
jantung kongestif. Malnutrisi juga mengurangi kemampuan imun tubuh,
menyebabkan penderita malnutrisi lebih mudah terkena komplikasi infeksi
pascabedah.2

Tambahan gizi prabedah selama sekurang-kurangnya 5 hari pada pasien


dengan gangguan gizi tertentu terbukti dapat mengurangi komplikasi pascabedah.

Kebanyakan penderita yang akan dibedah tidak membutuhkan perhatian


khusus untuk masalah gizi. Pada umumnya, mereka dapat berpuasa untuk waktu
tertentu sesuai dengan penyakit dan pembedahannya. Akan tetapi, tidak jarang juga
penderita datang dalam keadaan gizi yang kurang baik, misalnya yang terjadi pada
penderita penykit saluran cerna, keganasan, infeksi kronik, dan trauma berat.

Malnutrisi berat mempengaruhi morbiditas karena terganggunya


penyembuhan luka dan menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Namun,
malnutrisi protein-kalori yang ringan tidak banyak mempengaruhi hasil operasi.
Berbeda dengan malnutrisi akibat kelaparan, pada penderita bedah terdapat beberapa
factor lain yang menyebabkan malnutrisi. Dua factor utama adalah kurangnya asupan
makanan dan proses radang yang mengakibatkan katabolisme meningkat dan
anabolisme menurun. Keadaan ini dapat langsung tampak pada penurunan kadar
serum albumin dan hipotrofi otot

Penentuan status gizi1,5

Puasa selama 3-4 hari yang pada umumnya dijalankan oleh pasien bedah,
termasuk yang menderita malnutrisi protein-kalori ringan, tidak banyak memengaruhi
status gizinya. Walaupun demikian, keadaan itu sebaiknya diperhatikan sejak dini
untuk mencegah katabolisme lebih lanjut. Ada beberapa pertanda yang dapt dijadikan

Persiapan Pasien Prabedah Page 14


patokan, yaitu perbandingan tinggi/ berat badan, lingkaran lengan atas, dan kadar
serum albumin. Akan tetapi, perlu diingat bahwa lingkaran lengan atas sangat
dipengaruhi oleh factor ras.

Gangguan nutrisi umumnya terjadi bila kekurangan asupan makanan


berlangsung lebih dari sepuluh hari. Tanda keadaan gizi yang kurang memuaskan
adalah bila berat badan turun lebih dari 10% dalam waktu singkat, berat badan
terakhir kurang dari 80% berat badan ideal, dan kadar serum albumin kurang dari 3gr
%.

Kebutuhan nutrisi1

Untuk menentukan kebutuhan kalori harus diketahui metabolisme basal,


sedangkan untuk menetukan basal energy expenditure (BEE) ini digunakan suatu
rumus Harris-Benedict.

Perempuan : 65,5 + (96 x BB) + (1,7 x tinggi badan) (4,7 x umur)

Laki-laki : 66,0 + (1,7 x BB) + (5,0 x tinggi badan) (6,8 x umur)

Untuk mengoreksi katabolisme yang tinggi seperti yang terjadi pasca trauma,
pasca bedah, pada infeksi atau sepsis, harus ditambahkan 50% atau lebih dari BEE,
tetapi jangan melebihi 150% BEE.

Kebutuhan kalori harus dirinci. Karbohidrat sebagai sumber kalori diberikan


tidak lebih dari 6g/kgBB/hari, bila berlebihan, terjadi hipermetabolisme. Oleh karena

Persiapan Pasien Prabedah Page 15


pembatasanpenggunaan karbohidrt seperti di atas, lemak digunakan juga sebagai
sumber kalori, sekaligus sebagai sumber asam lemak esensial.

Penderita dengan katabolisme berat, seperti trauma ganda dan luka bakar,
memerlukan nutrisi tinggi protein dan asam amino untuk mengatasi keseimbangan
nitrogen yang negative. Umumnya diperlukan 1,2-1,5 g protein/kgBB/hari.

Elektrolit dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan elektrolit dan asam basaa,


juga untuk metabolism sel. Unsur Na+, K+, Mg+, Ca+, P+, Cl- sama pentingnya
seperti protein dan kalori dalam proses penggantian sel yang rusak. Vitamin dan
unsure runut (trace element) juga esensial untuk proses metabolisme.

Kebutuhan nutrisi diperkirakan atas dasar kondisi klinis pasien. Penentuan


status metabolik yang lebih tepat dapat didasarkan pada keseimbangan nitrogen.

Gizi kurang1

Asupan nutrisi yang faali adalah melalui makanan dan minuman, Ini dapat
berupa diet yang dapat diberikan secara oral, melalui sonde hidung atau secara intra
vena.

Diet juga dibedakan tas diet biasa dan diet khusus, misalnya pada penderita
diabetes. Penderita kolelitiasis juga memerlukan diet khusus yang kurang
mengandung lemak. Contoh lain adalah diet tinggi serat untuk penderita obstipasi dan
diet rendah kalori untuk penderita obesitas. Diet khusus kaori dan protein telur tunggi
dibuthkan oleh penderita malnutrisi kronik yang mampu makan secara normal.

Makanan biasa yang dicairkan diberikan kepada penderita obstruksi esophagus


atau pada orang yang tidak dapat mengunyah, seperti pada patah tulang rahang.

Kadang penderita begitu lemah dan mengalami anoreksia atau terdapat


gangguan mekanik dan obstruksi saluran cerna yang mengakibatkan proses faali itu
tak dapat berlangsung. Fungsi saluran cerna bisa sangat terganggu sehingga proses
pencernaan dan penyerapan sedemikian terganggu dan kebutuhan nutrisinya tidak
terpenuhi. Keadaan ini disebut kegagalan intestinal. Keadaan ini terdapat pada
sindrom usus oendek akibat reseksi sebagian besar ileum dan yeyunum, fistel usus,
gangguan motilitas usus misalnya pada paralisis usus dan pada peradangan usus yang

Persiapan Pasien Prabedah Page 16


luas seperti pada penyakit Crohn dan colitis ulserosa. Pada kasus khusus dan sulit ini
diperlukan tambahan nutsi secara enteral dan parenteral.

Nutrisi enteral dan parenteral1

Nutrisi enteral memberi hasil yang lebih baik Karena prosesnya berlangsung
faali. Nutrisi parenteral hanya diberikan bila nutrisi enteral tak dapat dilakukan,
misalnya karena kelainan gastrointestinal sedemikian berat sehingga fungsi digesti
dan dan absorbs terganggu. Jadi, pertama-tama harus diusahakan agar pasien bisa
makan melalui mulut dalam bentuk makanan lunak atau makanan cair. Bila ini tidak
berhasil, nutrisi enteral dapat diberikan melalui pipa lambung melalui hidung
(nasogastric tube), atau bila perlu, sonde dapat dimasukkan lebih dalam lagi sampai
ke duodenum, bahkan bagian proksimal yeyunum. Kadang-kadang makanan ini perlu
diberikan melalui sonde gastrostomi atau yeyunostomi. Nutrisi parenteral dapat
diberikan sebagai tambahan bila nutrisi enteral tidak memenuhi kebutuhan nutrisi
pasien.

Diet lengkap berbentuk cairan yang menghasilkan ampas terbatas, biasanya


diberikan melalui pipa lambung, duodenum, atau yeyunum. Makanan dan minuman
yang sudah separuh dicerna ini digunakan untuk orang yang keadaanya payah karena
malnutrisi berat, koma lama, penderita yang sedang menggunakan respirator, dan
penderita sakit berat di ruang rawat intensif.

Diet dasar (elemental diet) mulai dipakai di penerbangan ruang angkasa


karena hampir tidak menghasilkan ampas. Diet ini terdiri atas campuran asam amino,
glukosa, dan trigliserida yang hamper tidak usah dicerna dan langsung diserap. Diet
itu juga dapat diberikan melalui pipa lambung halus pada penderita sindrom usus
pendek, fistel usus, atau penderita radang usus yang parah seperti colitis ulserosa atau
penyakit Crohn.

Nutrisi parenteral total terdiri atas nutrisi intravena yang mengandung semua
nutrient yang diperlukan. Nutrisi ini dipakai pada penderita dengan ileus lama atau
fistel usus. Nutrisi parenteral total ini melalui vena sentral, sebaiknya ujung kateter
berada di v.kava superior.

Persiapan Pasien Prabedah Page 17


Pada ketiga cara khusus di atas, yaitu diet lengkap cair, diet dasar, dan diet
parenteral total, diperlukan formula nutrisi khusus sehingga pencernaan dapat
berlangsung sempurna.

Dalam memberikan nutrisi enteral maupun parenteral, perhitungan kebutuhan


protein dan kalori sama seperti yang telah dibahas di atas.

Komplikasi nutrisi enteral, antara lain aspirasi, muntah, diare, salah letak pipa,
sedangkan komplikasi nutrisi parenteral serupa denga masalah kateter vena, seperti
salah letak, menembus vena, atau tersumbat. Penyulit lain ialah tromboflebitis, infeksi
dan sepsis umum, serta gangguan metabolic yang bisa terjadi karena pemberian cairan
terlalu cepat.

Cairan dan elektrolit2

Optimisasi volume intravascular untuk memperoleh pefusi jaringan yang baik


serta memperbaiki setiap gangguan asam-basa dan elektrolit, selalu meupakan factor
yang perlu diperhatikan bahkan pada keadaan operasi yang paling gawat. Hanya
usaha untuk mempertahankan ventilasi dan sirkulasi yang memiliki prioritas lebih
tinggi dalam mempersiapkan pasien untuk operasi.

Yang paling sering ditemui pada gangguan keseimbangan cairan prabedah


adalah karena kurangnya volume intravascular. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh
penyakit tertentu seperi, perdarahan, muntah atau diare. Takikardi, hipotensi, oliguria,
bertambahnya osmolalitas urin, berkurangnya konsentrasi natrium urin dan tidak
adanya edema, dapat mempertegas diagnosis. Hidrasi dengan cairan yang tepat untuk
mengganti cairan yang hilang, merupakan indikasi. Umumnya transfusi produk darah
diperlukan untuk menggantikan darah yang hilang bersamaan dengan larutan saline
isotonic yang diberikan untuk hipotensi yang tidak terlalu parah dan kekurangan
volume.

Pada resusitasi darurat akibat syok hipovolemik, direkomendasikan infuse


larutan Ringer Laktat 2 liter segera sebagai tindakan resusitasi juga untuk menentukan
kehilangan darah intravascular secara kasar. Komposisi elektrolit Ringer Laktat mirip
dengan plasma. Isotonisnya sama dengan saline normal (NaCl 0,9%), tetai
komposisi klorida saline yang tinggi dapat menimbulkan asidosis metabolic
hiperkloremik bila diberikan dalam jumlah besar. Penggantian cairan akibat sumber

Persiapan Pasien Prabedah Page 18


kehilangan tertentu, seperti muntah atau fistula, dilakukan dengan pemberian cairan
berkomposisi sama dengan yang hilang.

D. Premedikasi

1. Pemberian Antibiotik

Penggunaan antibiotik pada masa prabedah berguna untuk menanggulangi


adanya infeksi agar resiko pembedahn ditekan serendah mungkin. Jika terdapat
adanya infeki maka operasi harus ditunda dahulu. Tetapi infeksi pascabedah dapat
terjadi juga akibat tempat pembedahan yang tidak steril atau kuman masuk melalui
luka bedah. Sehingga diberikan antibiotik profilaksis agar menjadi pelengkap
tindakan antisepsis dan asepsis.

a.Antibiotik Profilalaksis1

Antibiotik profilaksis yang diberikan harus diperhatikan dalam hal


indikasi, saat pemberian dan lama pemberian, serta pilihan antibiotiknya. Karena
fungsinya agar mencegah infeksi pascabedah maka antibiotik profilaksis
diberikan dalam jangka waktu pendek yaitu saat dilakukan tindakan bedah dan
sesaat setelah pembedahan yaitu saat daya tahan tubuh pasien masih
rendah.Sangat disarankan untuk digunakan jika pembedahan dilakukan di tempat
atau luka yang sangat terkontaminasi dengan kuman. Antibiotik profilaksis
diperlukan juga pada orang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh seperti
pada pasien HIV atau terapi steroid jangka panjang. Juga diberikan pada operasi
yang berlangsung sangat lama yang biasa menyebabkan depresi faal tubuh yang
besar. Antibiotika profilaksis diindikasikan jika resiko morbiditas infeksi pada
saat operasi sangat tinggi dan jika infeksi luka mengancam nyawa pasien.
Pemilihan antibiotika yang akan digunakan tergantung atas tipe organisme
kontaminasi yang paling mungkin pada tindakan tertentu. Obat yang diberikan
harus efektif membunuh sebagian besar bakteri yang ada , sehingga jumlah
bakteri dan kemungkinan infeksi dapat diperkecil.

Pemberian antibiotik profilaksis diutamakan pada pasien dengan

Infeksi atau kontaminasi berat


Penurunan imunitas
Usia lanjut

Persiapan Pasien Prabedah Page 19


Kedaan atau penyakit tertentu , seperti : DM,anemia,malnutrisi,obesitas.
Pemasangan protesis
Bedah ortopedi
Bedah pada trauma multiple
Bedah vaskular
Bedah jantung

Berbagai antibiotik membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk mencapai


kadar dalam darah yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan kuman.
Antibiotik profilaksis biasa diberikan secara parenteral. Untuk menceapai kadar
antibiotik di jaringan yang cukup tinggi pada waktu dilakukan pembedahan
dianjurkan untuk diberikan 1-2 jam prabedah dilanjutkan dengan 1-2 kali pascabedah.

Resiko infeksi pasca bedah meningkat pada pasien dengan usia lanjut ,
penderita penyakit krnis, seperti DM,anemia,malnutrissi dan obesitas. Pada
kontaminasi berat seperti patah tulang terbuka atau cedera tembus di saluran cerna
sebaiknya pemberian dilakukan pada saat di rumah sakit.
Pada pemberian antibiotik juga diperhatikan kuman yang dierkirakan akan
menyebabkan infeki sehingga dapat dipilih antibiotik yang sesuai untuk
menghentikan infeksi dari kuman tersebut. Misalnya,pada infeksi bedah vaskular
biasanya disebabka oleh kokus gram positif sehingga penisilin dan sefalosporin dapat
digunakan. Sedangkan pembedahan pada usus biasanya banyak terdapat kuman
anaerob .

Klasifiksi resiko infeksi tindak bedah(1)

Klasifikasi Contoh Operasi Resiko%


Bersih Jantung,Tulang <5
Bersih+Tercemar Usus halus, saluran biler 10
Tercemar Usus besar elektif 20
Kotor Daerah Infeksi , abses 30-70

Pemilihan antibiotik
Pilihan antibiotic yang akan diberikan ditentukan oleh jenis kuman
penyebab infeksi dan kepekaanya terhadap antibiotic. Pada kuman harus
diperkirakan berdasarkan kumn yang lazim ada pada daerah infeksi tersebut,
misalnya kuman gram negative dan anaerob di koon., E.coli di kandung kemih

Persiapan Pasien Prabedah Page 20


. Selain itu harus dipertimbangkan keaan penderita , terutama fungsi hepar dan
ginjal , status imunitas bahkan juga harga antibiotic. Pemberian antibiotik
tanpa dasar bakteriologi menimbulkan resistensi.

Penyebab Infeksi1

Golongan Nama Antibiotik


Kokus Gram Staphylococcus aureus Penisilin
Stepcoccus viridians
positif
Neisseria Gonorrhoea Penisilin
Neisseria meningitides
Kokus gram
Clostridium welchius Penisilin
negative Clostridium tetani
Bachillus antrachis
Kuman gram Enterobakteri Gentamisin dan tobramisin
Eschericia coli
positif
Klebsiella pneumonis
Proteus vulgaris
Pseudomonas aeruginosa Karbenisilin dan ampisilin
Kuman gram
Proteus mirabilis Gentamisin
negative Serattia sp Sulfametoksasol
Shigella sp Kloramfenikol
Staphylococcus tiphi Amfoerisin B
Aspergilus Flusitosin
Hemophilus capsulatum
Candida sp

Jamur

Antibiotik1

Golongan Jenis Kuman


Penisilin Penisilin G Gram positif
Penisilin V
Ampisilin
Karbenisilin
Sefalosporin Seradin Gram positif dan negative

Aminoglikosid Streptomisin Gram Negatif


Kanamisin
a
Gentamisin
Pefloksasin Gram positif dan negative
Kuinolon
Klindamisin Gram positif
Linkomisin Gram negative dan anaerob

Persiapan Pasien Prabedah Page 21


Metronidazol Anaerob
Vankomisin
Eritromisin

Pemberian kombinasi antibiotic

- Pacabedah perut yang tercemar berat


- Pengobatan awal sepsis atau meningitis purulenta
- Jika dipelukan efek sinergi
- Pengobatan tuberkulosa

b.Antibiotik Kombinasi1

Pemberin anibiotik sebaiknya tidak dicampur dengn antibioik lain


karena cara ini memudahkan terjadinya superinfeksi dan resistensi kuman,
Tetapi dapat dilaukan pada kedaan tertentu yaitu pada infeksi campuran
misalnya pasda pembedahan reseksi usus yang selalu tercemar banyak kuman
yang kepekaannya berbeda. Kombinasi pengobatan antibiotic juga diberkan
pada pengobatan awal infeksi berat yang penyebabnya belum jelas , misalnya
septicemia atau meningitis urulenta. Kadang diperlukan antibitok kombinasi
untuk mendapatkan efek sinergi , misalnya golongan penisilin dikombinasikan
dengan gologan aminiglikosida Sementara itu ,a ntituberkulosis justru
menghambat terjadinya resistensi kuman tuberculosis.

2 .Profilaksis trombosis vena pasca bedah2

Trombosis vena pascabedah dan tromboembolisme dapat menimbulkan


komplikasi pascabedah yang fatal karena timbulnya embolus pulomonalis. Perkiraan
2,5 juta kasus thrombosis vena terjadi per tahun dengan lebih dari 600.000 kasus
emboli pulmonalis dan 200.000 kematian. Sekitar 15 % dari semua kematian pada
rumah sakit besar akibat emboli pulmonalis. Emboli merupakan kejadian paling fatal
setelah tindakan operasi.

Profilaksis rutin untuk thrombosis vena profunda tidak diperlukan pada pasien
dengan risiko rendah. Kelompok lainnya terdiri dari pasien berumur kurang dari 40
tahun dengn berat badan normal dan tidak memiliki penyakit vena. Faktor risiko
tromboembolisme pascabedah terdiri dari penyakit jantung (terutama fibrilasi atrium

Persiapan Pasien Prabedah Page 22


dan payah jantung kongestif), karsinoma paru, traktus gastrointestinal atau
genitourinarius, paraplegi, trauma.

Dekstran secara tidak langsung megurangi sifat lekat thrombosis dan merubah
kemampuan plasminogen untuk mendegradasi polimer fibrin. Beberapa percobaan
klinik dengan dekstran menunjukkan hasil yang kurang mengesankan dalam
mencegah ttombosis vena profunda pascabedah dibandingkan dengan heparin. Aspirin
terbukti hanya memiliki hasil meragukan dan umumnya tidak diberikan. Teknik
kombinasi kemoterapi atau mekanis sudah sering dicoba dan umumnya gagal
menunjukkan efek tambahan yng diinginkan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk
menentukan cara terapi terbaik, yang mengkombinasikan efisiensi profilaksis
terhadap thrombosis vena profunda dan keamanan insiden komplikasi perdarahan
yang rendah. Mungkin beberapa kombinasi teknik mekanis dan heparin atas
kemoterapi dekstran dapat memberi jalan keluar.

E. Persiapan Pada Anak1

1. Prinsip umum1

Bedah anak berbeda dengan bedah dewasa. Yang pertama adalah suatu usaha
agar anak dapat terbentuk serta tumbuh dan berkembang normal, sedangkan yang
kedua adalah usaha mengembalikan anatomi dan/ atau fungsi organ agar kembali
normal.

Masalah bedah pada bayi dan anak juga bukan suatu masalah bedah makhluk
dewasa yang kecil karena pada bayi dan anak, ada factor permukaan tubuh yang
relative lebih luas dari permukaan tubuh dewasa dengan cadangan kalori, air, dan
elektrolit yang lebih kecil. Berdasakan itu, apa yang perlu diperhatikan pada
penanganan bayi dan anak berbeda dengan yang harus diperhatikan pada orang
dewasa.

2. Persiapan prabedah1

Persiapan Pasien Prabedah Page 23


Sama seperti pada orang dewasa, persiapan prabedah dimulai dari memeriksa
bayi dan anak sebelum ditentukan apakah pasien ini perlu diopeasi atau tidak,
dioperasi segera, atau masih harus menunggu. Faktor kelainan yang membahayakan
jiwa samapi factor orang tua yang dapat menerima kenyataan bahwa anaknya harus
dioperasi, perlu dipertimbangkan masak-masak.

Bahaya kedinginan harus kita ingat selalu, terlebih jika tidak tersedia
incubator yang hangat. Bayi dapat dibungkus dengan kertas aluminium, terutama
waktu transportasi. Letak bayi harus tepat agar tidak terjadi bahay pneumonia
aspirasi, dislokasi sendi, atau kesulitan napas.

Persiapan prabedah yang penting harus diperhatikan pada bayi dan anak ialah
jalan napas yang baik dan tidak adanya gangguan sirkulasi, keseimbangan cairan dan
elektrolit, dan tidak ada factor gangguan pembekuan darah.

Pada neonates, pengawasan kadar gula darah penting dilakukan karena gula
darah pada neonates sangat labil dan kadar yang rendah akan membahayakan jiwa.

3. Premedikasi1

Pada bayi mungkin factor takut belum disadari, tetapi rasa takut yang dialami
oleh orang tua sangat besar sehingga pada pasien bayi, factor menenangkan orang tua
dengan cara member pengertian merupakan keharusan.

Pada anak yang lebih besar sudah ada masalah takut, dan rasa takut ini
bermacam-macam. Takut ditinggalkan oleh orang tua atau pengasuh, takut karena
dikelilingi oleh orang yang asing baginya, dan takut karena akan disakiti. Tambahan
lagi, anak justru takut kepada dokter. Pemberian obat penenang, misalnya fenobarbital
atau diazepam rectal perlu pada hal terakhir ini. Orang tua sedapat mungkin harus
mendampingi bayi atau anaknya sampai ke kamar persiapan.

4. Pengawasan saat pembedahan1

Hipotermia (kurang dari 360C) atau demam (lebih dari 380C) akan
mengakibatkan pengeluaran energi yang berlebih oleh bayi, sedangkan energi

Persiapan Pasien Prabedah Page 24


cadangan tubuh tidak banyak. Oleh karena itu, pada operasi bayi, pemantuan suhu
badan sangat penting, terutama jika di atas meja operasi tidak dipakai matras pemanas
yang dapat diatur suhunya. Penilaian kehilangan daraah saat operasi harus dikerjakan
seteliti mungkin sehingga bila diperkirakan kehilangan darah lebih dari 10% volume
darah, pasien sebaiknya diberi transfusi darah.

5. Pengawasan pascabedah1

Pengawasan pasien bayi dan anak harus dikerjakan dengan teliti karena
cadangan fungsi berbagai system tubuh terbatas. Perhatian terutama pada jalan napas,
sirkulasi, kesemibangan cairan dan elektrolit, serta suhu badan.

Pada jenis operasi tertentu, seperti operasi hernia, hidrokel, sirkumsisi, operasi
testis yang tidak turun, reposisi tulang, dan prosedur endoskopi, penderita cukup
dirawat sehari karena persiapan prabedah dapat dikerjakan di rumah dan anak dating
sudah dalam keadaan puasa dan bersih. Operasi dikerjaka pagi hari dan setelah sadar
dan bebas dari pengaruh obat bius, anak dapat dipulangkan. Cara ini akan
menghindarkan anak dari trauma psikis, infeksi nosokomial dan juga secara ekonomi
menguntungkan bagi orang tua dan rumah sakit.

6. Keseimbangan cairan dan elektrolit1

Umumnya bayi tidak boleh minum sebelum operasi. Pemberian cairan


intravena diperlukan untuk keperluan rumatan dan mencegah dehidrasi. Kebutuhan
cairan ini harus meliputi kebutuhan elektrolit, keseimbangan asam basa, dan
kebutuhan kalori.

Pemeriksaan darah sedapat mungkin dilakuakan dengan metode mikro yang


hanya memerlukan contoh darah kapiler dari ujung jari dan dapat dilakukan berulang-
ulang tanpa risiko flebitis.

7. Menjaga Jalan Napas

Pada setiap pasien harus diperhatikan kemudahan untuk bernapas dengan cara
menyesuaikan letak kepalanya dan badan, disesuikan dengan operasi yang akan
dilakukan. Lendir yang keluar dari rongga hidung dan mulut juga harus dibersihkan

Persiapan Pasien Prabedah Page 25


atau dihisap berulang-ulang. Sedangkan pemberian oksigen pada pasien juga harus
dilihat kebutuhan yang diperlukan dilihat dari hasil analisis gas darah untuk mencegah
terjadinya fibroplasia retrolental (pembentukan jaringan ikat fibrosa di belakang lensa
mata akibat kelebihan oksigen ) contohnya pada bayi terutama yang prematur.1

F. Latihan Pra Operasi8


Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangatpenting
sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti :nyeri daerah
operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan.Latihan yang diberikan pada pasien
sebelum operasi antara lain:
1. Latihan Nafas Dalam
Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi
nyerisetelah operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien
lebihmampu beradaptasi dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur.
Selainitu teknik ini juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah
setelah anastesi umum. Dengan melakukan latihan tarik nafas dalam secaraefektif dan
benar maka pasien dapat segera mempraktekkan hal ini segera setelahoperasi sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut::
a. Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler)dengan
lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang.
b. Letakkan tangan diatas perut
c. Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam
kondisi mulut tertutup rapat.
d. Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik)kemudian secara perlahan lahan,udara
dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut.
e.Lakukan hal ini berulang kali (15 kali)
f. Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif

2. Latihan Batuk Efektif


Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien
yangmengalami operasi dengan anstesi general. Karena pasien akan
mengalamipemasangan alat bantu nafas selama dalam kondisi teranstesi. Sehingga

Persiapan Pasien Prabedah Page 26


ketikasadar pasien akan mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan.
Denganterasa banyak lendir kental di tenggorokan. Latihan batuk efektif
sangatbermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk mengeluarkan lendir atau sekret
tersebut.
Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara:
a.Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan
letakkan melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk.
b.Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali)
c.Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak
hanya batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi
luka pada tenggorokan.
d.Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap
incisi.
e.Ulangi lagi sesuai kebutuhan.
f.Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkandengan
menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untukmenahan
daerah operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangiguncangan tubuh saat
batuk

3. Latihan Penguatan Otot


Latihan penguatan otot merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga
setelah operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan
untuk mempercepat proses penyembuhan pasien
Keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang
pergerakan pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan
tubuh karena takut jahitan operasi sobek atau takut lukaoperasinya lama sembuh.
Pandangan seperti ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera
bergerak maka pasien akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus)sehingga
pasien akan lebih cepat kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan
penumpukan lendir pada saluran pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan
terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah
stasis vena dan menunjang fungsi pernafasan optimal.Intervensi ditujukan pada
perubahan posisi tubuh dan juga Range of Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi
Persiapan Pasien Prabedah Page 27
dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara pasif namun kemudian seiring dengan
bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien diminta melakukan secara mandiri.
Status kesehatan fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan
mengalami pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukung dan
mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologisdapat
mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor usia penuaan dapat
mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan.Oleh karena itu
sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan
operasi

BAB III

KESIMPULAN

Persiapan prabedah merupakan persiapan dan pengelolaan pasien sebelum operasi.Hal


ini mencakup baik persiapan fisik maupun psikologis. Perawatan preoperatif melibatkan
banyak komponen, dan dapat dilakukan sehari sebelum operasi di rumah sakit, atau selama
minggu sebelum operasi secara rawat jalan.Persiapan prabedah penting sekali untuk
mengurangi faktor resiko karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada
penilaian keadaan penderita. Dalam persiapan inilah ditentukan adanya kontraindikasi
operasi, toleransi penderita terhadap tindakan bedah, dan ditetapkan waktu yang tepat untuk
melaksanakan pembedahan

Persiapan Pasien Prabedah Page 28


Tindakan umum yang dilakukan setelah diputuskan melakukan pembedahan
dimaksudkan untuk mempersiapkan penderita agar penyuit pasca bedah dapat dicegah
sebanyak mungkin. Sebagian tindakan tersebut dilakukan rutin, seperti pembersihan kulit,
sedangkan yang lain dipilih berdasarkan keterangan yang diperoleh pada anamnesis,
pemeriksaan prabedah dan rencana pengelolaan. Toleransi pasien terhadap pembedahan
mencakup toleransi fisik maupun mental.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Persiapan Prabedah. Edisi 2.
Jakarta. EGC. 1997. Hal 231-238

2. Sabiston,DC. Alih bahasa: Andrianto, Editor: Ronardy DH. Buku Ajar Bedah. EGC,
Jakarta. 1994. Hal 77 97

3. American Society of Anesthesiologists : Classification of Physical status. Anesthesiology.


24:111. 1963

4. Lewin, L, Lemer, A.G, S.H.,et al : Physical class and physiologic status in the prediction of
operative mortality in the aged ick. Ann. Surg, 174:217.1971

Persiapan Pasien Prabedah Page 29


5. Preparation for Surgery. Tersedia pada : http://www.lakelandhealth.org/body.cfm?
id=91&fr=true. Akses 26 Oktober 2010

6. Health communities physician developed and monitored.


http://www.surgerychannel.com/general-surgery/preoperative-procedures-surgery.html .
Akses 26 Oktober 2010.

7. Encyclopedia of surgery . Tersedia pada : http://www.surgeryencyclopedia.com/Pa-


St/Preoperative-Care.html. Akses 26 Oktober 2010

8. Keperawatan pre operatif. Tersedia pada :


http://www.aspekkeperawatan.com/doc/25160378/Pra-Bedah- . Akses 31 Oktober 2010

LAMPIRAN : Ceklist Prosedur Prabedah

Prosedur Persiapan Pasien Prabedah


Sebelum masuk ruangan
1. Surat persetujuan operasi
2. Cek laboratorium :
- Darah rutin (Hb, Ht, Trombosit, Leukosit)
- Waktu pendarahan
- Waktu pembekuan
- Darah kimia (Ureum, Kreatinin, Gula darah)
3. Foto X-ray
4. EKG (utk 40 tahun keatas. Jika abnormal konsul ke bagian kardiologi)
Persiapan di ruangan
5. Pasang infuse
6. Pasang kateter
7. Puasa 6 jam sebelum operasi

Persiapan Pasien Prabedah Page 30


8. Pembersihan/ pencukuran daerah operasi
9. Mandi dengan antiseptik
Persiapan di ruang OK
10. Ganti baju operasi yang disediakan

LAMPIRAN : Ceklist Prosedur Prabedah

1. Pasien Dewasa

Prosedur Persiapan Pasien Prabedah(1) (2) (Dewasa)


1. Diskusi pra operasi oleh dokter bedah dan pasien (dan keluarga)
Penjelasan indikasi, tujuan, dan proses tindakan operasi
Penjabaran resiko operasi
Persetujuan tindakan operasi (informed consent)
Penentuan timing operasi
2. Persiapan mental
Menciptakan hubungan baik antara dokter, pasien dan
keluarganya sehingga tercipta kepercayaan diri pasien
untuk berani melakukan operasi.
Sesi tanya jawab antara dokter dan pasien
3. Persiapan fisik
Melakukan tes penyaring
- Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik lengkap
- Riwayat pemakaian obat, riwayat alergi obat
- Perbaikan kebiasaan hidup yang buruk (merokok, alkohol)
- Laboratorium (Darah lengkap, elektrolit, waktu protrombin, waktu
tromboplastin diaktifkan parsial, dan urine)
- X-Ray
Mengatasi penyulit berbagai organ dan system
- Secara umum : Pembersihan kulit tubuh khususnya di daerah
lapangan operasi, suhu badan sebaiknya dipertahankan kurang

Persiapan Pasien Prabedah Page 31


lebih normal, keadaan syok harus diatasi, kateter buli-buli juga
selalu harus dipasang.
- Kardiovaskuler: riwayat penyakit jantung, pemeriksaan fisik dan
EKG. Gangguan faal jantung, atau hipertensi berat harus
ditanggulangi dan dikoreksi
- Respirasi : Jika pasien merokok, harus berhenti merokok dimulai
sekurang-kurangnya 4 minggu sebelum operasi, penentuan gas
darah arteri jika ada riwayat ganggun paru-paru
- Gastrointestinal : Pasien dipuasakan enam jam sebelum
pembedahan. Pemeriksaan fungsi hati, pancreas dan usus juga
penting pada prabedah bila ada indikasi patologi atau insufisiensi
fungsional.
- Endokrin : Meliputi tes diagnosis sederhana untuk memastikan
bahwa kecurigaan klinik tentang insufisiensi endokrin dapat diikuti
dengan terapi penggantian yang tepat.
- Serebrovaskular : Analisa riwayat penyakit serebrovaskular
- Renalis :Gangguan keseimbangan elektrolit dan asam-basa harus
dikoreksi.
- Kelainan darah dan pembekuannya : Analisa riwayat pembekuan
darah yang lama, hematoma atau perdarahan intraartikular setelah
trauma atau mudah memar.
- Persiapan untuk transfusi : Adanya penyediaan adekuat darah yang
telah di cocok silang merupakan prasyarat bagi tindakan bedah
terencana apa pun.
Keadaan gizi
- Penilaian status gizi : perbandingan tinggi/ berat badan, lingkaran
lengan atas, dan kadar serum albumin. (Perlu diingat bahwa
lingkaran lengan atas sangat dipengaruhi oleh factor ras)
- Pemberian nutrisi (enteral/ parenteral) dan pencukupan kebutuhan
nutrisi : Untuk menentukan kebutuhan kalori harus diketahui
metabolisme basal,
- Pengawasaan homeostasis (Keseimbangan cairan dan elektrolit ,
Keseimbangan asam basa serta )
Premedikasi
Pemberian antibiotik profilaksis dan profilaksis thrombosis vena
pasca bedah
4. Latihan Pra operasi
- Latihan nafas dalam
- Latihan batuk efektif
- Latihan gerak sendi

Persiapan Pasien Prabedah Page 32


2. Pasien anak

Prosedur Persiapan Pasien Prabedah(1) (Anak)


1. Diskusi pra operasi oleh dokter bedah dan pasien (orang tua/wali pasien)
Penjelasan indikasi, tujuan, dan proses tindakan operasi
Penjabaran resiko operasi
Persetujuan tindakan operasi (informed consent)
Penentuan timing operasi
2. Persiapan mental (pasien dan orang tua/wali)
Menciptakan hubungan baik antara dokter, pasien dan
keluarganya sehingga tercipta keyakinan orang tua/ wali
pasien untuk mengijinkan anaknya operasi
Sesi tanya jawab antara dokter dan pasien (dan orang
tua/wali)
3 Premedikasi:
Pemberian obat penenang, misalnya fenobarbital atau diazepam rectal dan
antibiotic profilaksis.(Orang tua sedapat mungkin harus mendampingi bayi
atau anaknya sampai ke kamar
4. Persiapan fisik
Melakukan tes penyaring
- Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik lengkap
- Riwayat pemakaian obat, riwayat alergi obat
- Laboratorium (Darah lengkap, elektrolit, waktu protrombin, waktu
tromboplastin diaktifkan parsial, dan urine)
- X-Ray
Pembersihan kulit tubuh khususnya di daerah lapangan
operasi, suhu badan sebaiknya dipertahankan kurang lebih
normal, keadaan syok harus diatasi, kateter buli-buli juga
selalu harus dipasang.
Keadaan gizi
- Penilaian status gizi : perbandingan tinggi/ berat badan, lingkaran
lengan atas, dan kadar serum albumin. (Perlu diingat bahwa
lingkaran lengan atas sangat dipengaruhi oleh factor ras)
- Pemberian nutrisi (enteral/ parenteral) dan pencukupan kebutuhan

Persiapan Pasien Prabedah Page 33


nutrisi : Untuk menentukan kebutuhan kalori harus diketahui
metabolisme basal,
Pengawasaan homeostasis (Keseimbangan cairan dan
elektrolit , Keseimbangan asam basa serta )
- Umumnya bayi tidak boleh minum sebelum operasi. Pemberian
cairan intravena diperlukan untuk keperluan rumatan dan
mencegah dehidrasi. Kebutuhan cairan ini harus meliputi
kebutuhan elektrolit, keseimbangan asam basa, dan kebutuhan
kalori.
Atasi jika ada factor gangguan pembekuan darah.
- Pemeriksaan darah sedapat mungkin dilakuakan dengan metode
mikro yang hanya memerlukan contoh darah kapiler dari ujung jari
dan dapat dilakukan berulang-ulang tanpa risiko flebitis.
Pengawasan kadar gula darah ( gula darah pada neonates
sangat labil dan kadar yang rendah akan membahayakan
jiwa)
5. Pengawasan saat pembedahan:
Pemantuan suhu badan ( terutama jika di atas meja operasi
tidak dipakai matras pemanas yang dapat diatur suhunya)
Penilaian kehilangan daraah saat operasi (bila diperkirakan
kehilangan darah lebih dari 10% volume darah, pasien
sebaiknya diberi transfusi darah)
6. Menjaga jalan napas dan menghindari gangguan sirkulasi
Menyesuaikan letak kepalanya dan badan, disesuikan dengan
operasi yang akan dilakukan. Lendir yang keluar dari rongga
hidung dan mulut juga harus dibersihkan atau dihisap berulang-
ulang. Sedangkan pemberian oksigen pada pasien juga harus
dilihat kebutuhan yang diperlukan dilihat dari hasil analisis gas
darah.
7. Pengawasan pasca bedah
Pengawasan pasien bayi dan anak harus dikerjakan dengan
teliti karena cadangan fungsi berbagai system tubuh
terbatas. Perhatian terutama pada jalan napas, sirkulasi,
kesemibangan cairan dan elektrolit, serta suhu badan.
Pada jenis operasi tertentu, seperti operasi hernia, hidrokel,
sirkumsisi, operasi testis yang tidak turun, reposisi tulang,
dan prosedur endoskopi, penderita cukup dirawat sehari
(menghindarkan anak dari trauma psikis)

Persiapan Pasien Prabedah Page 34


Persiapan Pasien Prabedah Page 35