Anda di halaman 1dari 3

LEMBAR JAWABAN SOAL 1-3

1. Completeness in typically the management assertion of most concern to auditors when


investigating the material accuracy of a clientss account payable. Generally, clients have a much
stronger incentive to violate the completeness assertion for liability and expense accounts than the
other management assertion relevant to those accounts. Unfortunately for auditors, a clients
financial controls for accounts payable are typically not as comprehensive or as sophisticated as the
control established in accounting for the analogous asset account, account receivable. Clients have
a strong economic incentive to maintain a reliable tracking system for amounts owed to them by
their customers. This same incentive does not exist for payables since the onus of keeping track of
these amounts and ensuring that they are ultimately paid rests with a companys creditors. Granted,
a company needs sufficient records to ensure that their vendors are not overcharging them.
Nevertheless, the relatively weak accounting and control procedures for payable often complicate
auditors efforts to corroborate the completeness assertion for this account.
"Kelengkapan" merupakan asersi manajemen yang menjadi perhatian utama auditor ketika
menyelidiki keakuratan materi dari akun hutang klien. Umumnya, klien memiliki insentif yang lebih
kuat untuk melanggar asersi kelengkapan untuk akun kewajiban dan beban dibandingkan dengan
asersi manajemen lainnya yang berkaitan dengan akun tersebut. Namun disayangkan, kontrol
keuangan klien pada akun hutang secara khusus tidak komprehensif atau mutakhir seperti kontrol
yang dilakukan pada akuntansi untuk akun aset, akun piutang. Klien mempunyai insentif ekonomi
yang kuat untuk mempertahankan sistem penelusuran yang handal pada sejumlah uang yang
diberikan oleh pelanggannya. Insentif yang sama tidak timbul pada hutang sejak ada kewajiban
penelusuran sejumlah uang tersebut dan meyakinkan bahwa mereka telah dibayar lunas oleh para
kreditur perusahaan. Tercatat, perusahaan memerlukan pencatatan yang memadai untuk meyakinkan
bahwa vendor mereka tidak membebankan biaya yang lebih. Namun, kelemahan prosedur akuntansi
dan kontrol untuk hutang sering menyulitkan usaha auditor untuk membenarkan asersi akun ini.

In my view, the two primary audit procedures that Ernst & Young applied to CBIs accounts payable
would like have yielded sufficient appropriate evidence to corroborate the completeness assertion
if those procedures had been properly applied. The research for unrecorded liabilities is almost
universally applied to account payable. This research procedure provides strong evidence supporting
the completeness assertion because audit clients in most cases have to pay year-end liabilities during
the first few weeks of the new fiscal year. (of course, one feature of the search procedure is
examining the unpaid voucher file to uncover any year-end liabilities that remain unpaid late in the
audit). The reconciliation procedure included in Ernst & Youngs audit programs for accounts
payable provides additional evidence pertinent to the completeness assertion. In partticular, that
audit test helps auditors nail down the timing issue for payables that arose near a clients year-end.
Vendor statement should identify the shipping terms and shipment dates for spesific invoice items
and thus allow auditors to determine whether those items should have been recorded as liabilities at
the clients year-end.
Menurut pandangan saya, dua prosedur audit utama yang diterapkan Ernst & Young pada akun
hutang CBI akan menghasilkan bukti sesuai yang memadai untuk membenarkan asersi kelengkapan,
dengan syarat prosedur tersebut telah diterapkan dengan benar. Penyelidikan untuk kewajiban yang
tidak tercatat hampir secara umum diterapkan pada akun hutang. Prosedur penyelidikan ini
memberikan bukti yang kuat yang mendukung asersi kelengkapan karena klien audit pada kasus
yang umum harus membayar kewajiban akhir tahun selama beberapa minggu awal pada tahun baru
fiskal. Prosedur rekonsiliasi yang ada pada program audit Ernst & Young untuk akun hutang
memberikan bukti tambahan berkaitan dengan asersi kelengkapan. Khususnya, bahwa uji audit
membantu auditor memastikan isu waktu untuk hutang yang timbul berdekatan dengan akhir
tahun klien.

2. DDD

3. AU Section 561 discusses auditors responsibilities regarding the subsequent discovery of facts
existing at the date of an audit report. That section of the professional standards suggests that, as a
general rule, when an auditor discovers information that would have affected a previously issued
audit report, the auditor has a responsibility to take appropirate measures to ensure that the
information is relayed to parties wha are still relying on that report. In this particular case, AU
Section 561 almost certainly required Ernst & Young to inform CBIs management, TCW officials,
and other parties of the advances ruse orchestrated by Castello that was not unrecovered by Ernst &
Young during the 1992 and 1993 audits. In my view, the obligation to inform CBI management
(including the TCW representatives sitting on CBIs Board) of the oversights in the prior audit was
compounded by the fact that Ernst & Young was actively seeking to obtain the reaudit angagement.
Seksi AU 561 mendiskusikan tanggung jawab auditor terkait dengan penemuan fakta berikutnya
yang timbul pada tanggal laporan audit. Seksi standar profesional tersebut menyarankan bahwa
ketika seorang auditor menemukan informasi yang akan berpengaruh terhadap laporan audit yang
diterbitkan sebelumnya, auditor mempunyai kewajiban untuk mengambil pengukuran yang tepat
untuk meyakinkan bahwa informasi tersebut disampaikan ke pihak yang bergantung pada laporan
tersebut. Pada kasus tertentu, Seksi AU 561 hampir pasti membutuhkan Ernst & Young untuk
menginformasikan manajemen CBI, pejabat TCW, dan pihak lain dari kemajuan Rusia yang
didalangi oleh Castello yang tidak diketemukan oleh Ernst & Young selama audit tahun 1992 dan
1993. Menurut pandangan saya, kewajiban untuk menginformasikan manajemen CBI (termasuk
perwakilan TCW yang duduk di Lembaga CBI) dari kelalaian pada audit terdahulu diperparah
dengan fakta bahwa Ernst & Young secara aktif melakukan pencarian untuk memperoleh perjanjian
audit kembali.

Generally, auditors do not have responsibility to inform client management of mistake made on
earlier audits. On practically every audit engagement, simple mistakes or oversights are likely to be
made. However, if such mistakes rise to the level of AU 561, for example, involve gaffes by
auditors that resulted in an improper audit opinion being issued, certainly the given audit firm has a
responsibility to comply with AU 561 and ensure that the appropriate disclosures are made to the
relevant parties.
Secara umum, auditor tidak mempunyai tanggung jawab untuk menginformasikan kesalahan
manajemen klien yang dibuat oleh audit-audit sebelumnya. Dalam praktek setiap perjanjian audit,
kesalahan sederhana atau kekeliruan dimungkinkan dibuat. Bagaimanapun, bila kesalahan semacam
itu muncul pada tingkat AU 561, sebagai contoh, terjadinya kejanggalan auditor sebagai hasil dari
opini audit yang tidak benar yang diterbitkan, tentunya perusahaan audit tertentu mempunyai
kewajiban untuk memenuhi dengan AU 561 dan memastikan bahwa pengungkapan yang tepat telah
dibuat untuk para pihak yang relevan.

Anda mungkin juga menyukai