Anda di halaman 1dari 86

1

HUBUNGAN KONSUMSI KOPI DENGAN TEKANAN DARAH


PADA PASIEN RAWAT JALAN PUSKESMAS
BOGOR TENGAH

TRI WAHYUNI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
2

ABSTRAK

TRI WAHYUNI. Hubungan Konsumsi Kopi dengan Tekanan Darah pada Pasien
Rawat Jalan Puskesmas Bogor Tengah. Dibimbing oleh YEKTI HARTATI
EFFENDI dan DODIK BRIAWAN.

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari hubungan pola konsumsi kopi


dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan Puskesmas Bogor Tengah.
Penelitian ini menggunakan desain Case Control dengan perbandingan kasus
dan kontrol adalah 1:1 dengan jumlah keseluruhan 160 contoh. Contoh kontrol
yang memiliki tekanan darah <120/<80 mmHg, sedangkan contoh kasus yang
memiliki tekanan darah >140/>90 mmHg berdasarkan diagnosa dokter minimal 1
bulan terakhir. Data pola konsumsi kopi diperoleh melalui wawancara
menggunakan kuesioner berisi 15 pertanyaan. Kebiasaan minum kopi contoh
kasus berkurang setelah didiagnosa hipertensi dan secara statistik menunjukkan
adanya perbedaan bermakna (p<0,05). Konsumsi kopi lebih dari 7
cangkir/minggu secara statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan
hipertensi (OR=0,677; 95% CI: 0,3331,378) (p>0,05).

Kata kunci : hipertensi, kasus kontrol, kopi

ABSTRACT

TRI WAHYUNI. The Relationship between Coffee Consumption and Blood


Pressure in the Outpatient at Bogor Tengah Community Health Center.
Supervised by YEKTI HARTATI EFFENDI and DODIK BRIAWAN.

The objective of this research was to study the relationship pattern of coffee
consumption with the incidence of hypertension in outpatient Bogor Tengah
Community Health Center. The design of this study was Case Control in the ratio
of cases and controls were 1:1 with a total of 160 subjects. The control subjects
were defined who had blood pressure 120/80 mmHg, while the cases subjects
had blood pressure 140/90 mmHg based on the doctor's diagnosis at least 1
month previously. Pattern coffee consumption data was collected through
interviews using a questionnaire containing 15 questions. The habit of drinking
coffee in the case group decreased after being diagnosed hypertension and
showed a statistically significant difference (p<0,05). Coffee consumption more
than 7 cups per week there is not statistically significant with the hypertension
(OR=0,677; 95% CI: 0,3331,378) (p>0,05).

Key words: hypertension, case control study, coffee


3

RINGKASAN

TRI WAHYUNI. Hubungan Konsumsi Kopi dengan Tekanan Darah Pada Pasien
Rawat Jalan Puskesmas Bogor Tengah. Dibimbing oleh YEKTI HARTATI
EFFENDI dan DODIK BRIAWAN.

Konsumsi kopi sering dikaitkan dengan sejumlah faktor risiko penyakit


jantung koroner, termasuk meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol
darah (Mattioli 2007). Adanya hubungan antara konsumsi kopi dan tekanan
darah pertama kali dilaporkan 75 tahun yang lalu, namun hingga kini masih
menjadi kontroversial (Zhang et al. 2011).
Tujuan umum penelitian adalah untuk mempelajari hubungan pola
konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan Puskesmas
Bogor Tengah. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi 1)
karakteristik contoh yang meliputi umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi,
berat badan, tinggi badan, dan status gizi secara antropomeri; 2) tekanan darah
contoh serta riwayat penyakit keluarga dan contoh yang terkait dengan tekanan
darah; 3) pola konsumsi kopi contoh yang meliputi jenis, frekuensi, jumlah, serta
waktu mengkonsumsi kopi. (2) Menganalisis hubungan frekuensi konsumsi kopi
dengan kejadian hipertensi.
Desain penelitian yang digunakan adalah non eksperimen dengan
rancangan Case Control Study (perbandingan kasus dan kontrol 1:1). Lokasi
penelitian di Puskesmas Bogor Tengah. Pengumpulan data dilaksanakan pada
bulan MeiJuni 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien rawat
jalan Puskesmas Bogor Tengah berjumlah 5743 orang. Contoh adalah pasien
rawat jalan Puskesmas Bogor Tengah dengan kriteria usia 2560 tahun, berjenis
kelamin laki-laki dan/atau perempuan, tidak sedang hamil bagi calon contoh
perempuan, memiliki tekanan darah <120/<80 mmHg untuk contoh kelompok
kontrol, sedangkan contoh kelompok kasus memiliki tekanan darah >140/>90
mmHg berdasarkan diagnosa dokter minimal satu bulan terakhir. Penarikan
contoh dilakukan selama 2 bulan dan didapatkan calon contoh kontrol yang
mememenuhi kriteria sebanyak 100 orang namun yang bersedia menjadi contoh
adalah 90 orang. Sedangkan calon contoh kelompok kasus yang memenuhi
kriteria sebanyak 85 orang namun yang bersedia menjadi contoh adalah 80
orang. Maka ditetapkan 80 contoh kasus dan 80 contoh kontrol, sehingga total
contoh dalam penelitian ini adalah 160 orang. Calon contoh yang bersedia ikut
dalam penelitian harus menandatangani formulir informed consent setelah
mendapat penjelasan tentang penelitian.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer meliputi karakteristik contoh (umur, jenis kelamin, tingkat
pendidikan dan jumlah pendapatan), status gizi dengan menggunakan data berat
badan dan tinggi badan, pola konsumsi kopi (jenis, frekuensi, waktu dan jumlah),
riwayat penyakit dan tekanan darah. Data karakteristik contoh, riwayat penyakit
contoh dan keluarga diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner.
Data berat badan dan tinggi badan dilakukan dengan cara penimbangan dan
pengukuran. Data tekanan darah diperoleh melalui pengukuran oleh tenaga
kesehatan. Data pola konsumsi kopi diperoleh melalui wawancara menggunakan
kuesioner yang berisi 15 pertanyaan tentang jenis kopi, jumlah kopi yang
diminum, frekuensi minum kopi dan waktu minum kopi. Data pola konsumsi kopi
pada kelompok kasus dilihat sebelum dan setelah contoh didiagnosa hipertensi.
Data sekunder berupa profil Puskesmas Bogor Tengah yang diperoleh dari
laporan tahunan puskesmas tahun 2011.
4

Data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis secara deskriptif dan
inferensial menggunakan Microsoft Excel 2007 dan SPSS versi 16.0 for Windows.
Perhitungan odds ratio dengan uji Chi Square digunakan untuk mengetahui
hubungan antar variabel, sedangkan uji beda menggunakan Independent sample
T-test dan Mann Whitney.
Wilayah kerja Puskesmas Bogor Tengah meliputi 2 kelurahan, yaitu
Kelurahan Cibogor dan Kelurahan Pabaton. Jumlah penduduk di wilayah kerja
Puskesmas Bogor Tengah pada akhir tahun 2011 sebesar 10.233 jiwa dan
sebanyak 42,53% penduduk bekerja bekerja sebagai buruh. Puskesmas Bogor
Tengah memiliki pelayanan rawat jalan dan rawat inap berupa rumah bersalin 24
jam, serta memiliki fasilitas penunjang yaitu laboratorium klinik, pelayanan
radiologi dan pemeriksaan USG ibu hamil. Total kunjungan pasien pada akhir
bulan Desember 2011 sebanyak 63.127 orang. dengan rata-rata kunjungan
perbulan 5.261 orang. Penyakit hipertensi merupakan peringkat keempat dari
lima kelompok besar penyakit di Puskesmas Bogor Tengah.
Secara keseluruhan, separuh contoh memiliki umur berkisar antara 3049
tahun (50,6%) dan terdapat perbedaan umur contoh pada kelompok kontrol dan
kasus (p<0,05). Jenis kelamin contoh sebagian besar adalah perempuan (78,8%).
Sebanyak 31,2% contoh kasus menamatkan pendidikannya hingga SMA,
sedangkan 43,8% contoh kontrol merupakan tamatan Akademi/Perguruan Tinggi.
Pendapatan contoh sebagian besar masuk dalam kategori sedang (75%) dengan
rata-rata pendapatan contoh sebesar Rp1.862.2201.185.304/bulan. Lebih dari
separuh contoh kelompok kontrol berstatus gizi normal (56,2%), sedangkan 40%
contoh kelompok kasus memiliki status gizi obesitas I, dan terdapat perbedaan
status gizi antar kelompok contoh (p<0,05).
Kriteria tekanan darah contoh mengacu pada JNC 7 (The Seventh of the Joint
National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High
Blood Pressure). Lebih dari separuh contoh kasus memiliki tekanan darah kategori
hipertensi tingkat I sebesar 52,5%. Tekanan darah sistolik pada kelompok kasus
rata-rata sebesar 157,4117,21 mmHg dan kelompok kontrol rata-rata sebesar
109,8110,45 mmHg. Tekanan darah diastolik pada kelompok kasus rata-rata
sebesar 94,968,09 mmHg dan kelompok kontrol rata-rata sebesar 77,635,28
mmHg. Terdapat 8,8% contoh kelompok kasus dan 2,5% contoh kelompok kontrol
memiliki riwayat hiperkolesterolemia. Lebih dari separuh contoh kelompok kasus
memiliki riwayat hipertensi keluarga sebesar 57,5% sedangkan pada kelompok
kontrol sebesar 36,2%. Riwayat penyakit diabetes mellitus keluarga juga dimiliki
contoh kelompok kasus dan kontrol yaitu masing-masing sebesar 15% dan 8,8%.
Kebiasaan mengonsumsi kopi contoh kelompok kasus berkurang setelah
didiagnosa hipertensi dari 40% menjadi 30% dan terdapat perbedaan kebiasaan
mengonsumsi kopi contoh sebelum dan setelah diagnosa hipertensi (p<0,05). Lebih
dari separuh contoh kelompok kontrol memiliki kebisaan mengonsumsi kopi yaitu
sebesar 51,2%. Contoh kelompok kontrol dan kasus memiliki kebiasaan
mengonsumsi kopi saat pagi hari dengan jenis kopi yang banyak digunakan adalah
jenis kopi instan dibandingkan kopi hitam/bubuk. Frekuensi konsumsi kopi 17
cangkir/minggu merupakan persentase terbesar yang ditemukan baik pada contoh
kelompok kontrol dan kasus. Takaran kopi yang banyak digunakan contoh kelompok
kontrol dan kasus dalam satu cangkir kopi yang dikonsumsi adalah 13 sendok teh
kopi untuk jenis hitam/bubuk dan 1 bungkus untuk jenis kopi instan.
Hasil uji statistik menggunakan Chi Square menunjukkan bahwa frekuensi
minum kopi lebih dari 7 cangkir/minggu tidak terdapat hubungan yang bermakna
(p>0,05) dengan OR=0,667. Hal ini berarti bahwa konsumsi kopi lebih dari 7
cangkir/minggu menjadi salah satu faktor protektif terhadap kejadian hipertensi,
meskipun hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik.
5

HUBUNGAN KONSUMSI KOPI DENGAN TEKANAN DARAH


PADA PASIEN RAWAT JALAN PUSKESMAS
BOGOR TENGAH

TRI WAHYUNI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Gizi dari
Program Studi Ilmu Gizi pada
Departemen Gizi Masyarakat

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
6

Judul Skripsi : Hubungan Konsumsi Kopi dengan Tekanan Darah pada


Pasien Rawat Jalan Puskesmas Bogor Tengah
Nama : Tri Wahyuni
NIM : I14096047

Disetujui oleh

dr. Yekti Hartati Effendi S.Ked Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN
Pembimbing I Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr. Ir. Budi Setiawan, MS


Ketua Departemen

Tanggal Lulus :
vii

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang
berjudul Hubungan Konsumsi Kopi dengan Tekanan Darah pada Pasien Rawat
Jalan Puskesmas Bogor Tengah. Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan
dan dukungan banyak pihak. Maka dari itu, pada kesempatan ini, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Ir. Lilik Kustiyah, MS selaku dosen pembimbing akademik yang telah
membimbing penulis selama masa perkuliahan;
2. dr. Yekti Hartati Effendi, S.Ked dan Dr. Ir. Dodik Briawan, MCN selaku dosen
pembimbing skripsi yang telah senantiasa meluangkan waktu, memberikan
arahan, masukan, kritikan, dan dukungan kepada penulis dalam
melaksanakan penelitian dan menyelesaikan skripsi;
3. Prof. Dr. Ir. Siti Madanijah, MS selaku dosen pemandu seminar serta dosen
penguji skripsi;
4. Kepala Puskesmas Bogor Tengah yang telah memberikan ijin kepada
penulis untuk dapat melakukan pengumpulan data penelitian;
5. Ifna Fani, Ade Ayu Rahmawati, dan Yulistia Kartika Sari selaku pembahas
yang telah memberikan kritik dan saran;
6. Kedua orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan berupa doa,
moril, dan materil kepada penulis;
7. Pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas segala bantuan
dan dukungan selama penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk penyempurnaan skripsi selanjutnya. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi banyak pihak yang membutuhkan dan menjadi sumber
informasi serta inspirasi bagi penelitian selanjutnya.

Bogor, Maret 2013

Tri Wahyuni
viii

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal


17 Oktober 1988. Penulis adalah anak ketiga dari empat bersaudara, putri dari
pasangan Bapak Romdhani Abdullah dan Ibu Siti Jumiah. Penulis menyelesaikan
pendidikan dasar di SD Negeri 01 Cilacap pada tahun 2000. Kemudian penulis
melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 04 Cilacap hingga tahun 2003. Pada
tahun yang sama, penulis melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri 03 Cilacap
hingga tahun 2006.
Tahun 2006, penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Diploma 3 di
Politeknik Kesehatan Depkes Bandung pada Program Studi Gizi dan
mendapatkan gelar Ahli Madya Gizi pada tahun 2009. Pada tahun yang sama,
penulis melanjutkan pendidikan di Program Penyelenggaraan Khusus S1 Mayor
Ilmu Gizi, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor. Selama menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor, penulis
mengikuti beberapa kegiatan antara lain memberikan konsultasi gizi di
Puskesmas Harmoni Sempur pada bulan April 2011, berpartisipasi sebagai
panitia Seminar Nasional Gizi Lebih Sehat, Muda, dan Menarik dengan
Minuman Antioksidan dan Susu yang dilaksanakan pada bulan Juni 2011. Bulan
November 2011, penulis menjadi peserta dalam Seminar Nasional Strategi
Swasembada Garam serta di bulan Januari 2012 menjadi peserta Seminar
Nasional Pangan dan Gizi Mewujudkan Generasi Sehat, Cerdas, dan Kuat
Menuju Indonesia Prima.
ix

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ......................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ................................................................................... 1
Tujuan ................................................................................................ 2
Kegunaan ........................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA
Kopi .................................................................................................... 4
Kafein ............................................................................................. 5
Efek Kafein ..................................................................................... 6
Polifenol ......................................................................................... 8
Pengolahan Produk Kopi ................................................................ 9
Pengolahan Biji Kopi Sangrai dan Kopi Bubuk ........................... 9
Pengolahan Kopi Rendah Kafein ............................................... 13
Pengolahan Kopi Instan ............................................................. 14
Tekanan Darah ................................................................................... 15
Hipertensi ....................................................................................... 16
Faktor-faktor Berhubungan dengan Hipertensi ................................ 19
Patofisiologi Hipertensi ................................................................... 25
Tanda dan Gejala Klinis ................................................................. 26
KERANGKA PEMIKIRAN ........................................................................... 28
DEFINISI OPERASIONAL ........................................................................... 30
METODE PENELITIAN
Desain, Waktu, dan Tempat ............................................................... 31
Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh .............................................. 31
Jenis dan Cara Pengumpulan Data .................................................... 32
Pengolahan dan Analisis Data ............................................................ 34
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................................... 36
Karakterisktik Contoh .......................................................................... 37
Tekanan Darah dan Riwayat Penyakit ................................................ 41
Tekanan Darah .............................................................................. 41
Riwayat Penyakit Contoh dan Keluarga ......................................... 43
Pola Konsumsi Kopi ............................................................................ 45
Pola Konsumsi Kopi Kelompok Kontrol .......................................... 45
Pola Konsumsi Kopi Kelompok Kasus ............................................ 46
Hubungan Frekuensi Konsumsi Kopi dengan Kejadian Hipertensi ...... 49
SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................ 54
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 56
x

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Komponen kimia biji kopi arabika dan kopi robusta sebelum dan setelah
disangrai (% bobot kering) .................................................................... 5
2. Kandungan kafein berbagai pangan ...................................................... 7
3. Klasifikasi tekanan darah orang dewasa berdasarkan JNC 7 ................. 17
4. Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT) ................................................... 22
5. Jenis dan cara pengumpulan data ........................................................ 33
6. Lima kelompok besar penyakit di Kota Bogor dan kunjungan puskemas
Bogor Tengah tahun 2011 .................................................................... 37
7. Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh ................................. 38
8. Distribusi hasil pengukuran tekanan darah contoh ................................ 41
9. Sebaran contoh berdasarkan riwayat penyakit ...................................... 43
10. Pola konsumsi kopi pada kelompok kontrol ........................................... 46
11. Pola konsumsi kopi pada kelompok kasus ............................................. 47
12. Hubungan frekuensi minum kopi dengan kejadian hipertensi ................. 49
13. Hubungan frekuensi minum kopi dengan kejadian hipertensi setelah
Penyesuaian dengan karakteristik contoh ............................................. 50
xi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka pemikiran penelitian .............................................................. 28
2. Klasifikasi tekanan darah berdasarkan kriteria JNC 7 (2003) ................ 42
xii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Penjelasan informed consent ................................................................ 63


2. Formulir informed consent .................................................................... 64
3. Kuesioner penelitian ............................................................................. 65
4. Hasil uji statistik .................................................................................... 69
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kopi menjadi salah satu minuman paling popular dan digemari di seluruh
dunia, salah satunya di Indonesia. Satu cangkir kopi menjadi perangkat simbol
yang luar biasa karena tidak hanya berfungsi sebagai penghilang rasa kantuk
atau teman begadang, tetapi sebagai kode simbolik yang digunakan oleh
sebagian kalangan penikmatnya untuk mengaktualisasikan keberadaan mereka
dalam kelompok sosial. Saat ini kopi merupakan komoditas nomor dua yang
paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Berdasarkan Food and
Agriculture Organization (FAO), total 6,7 juta ton kopi diproduksi dalam kurun
waktu 19982000 dan diperkirakan akan meningkat 1,9% pada tahun 2010
menjadi 7 juta ton. Konsumsi kopi juga diproyeksikan meningkat sebesar 0,4%
per tahun dari 6,7 juta ton pada tahun 19982000 menjadi 6,9 juta ton pada
tahun 2010 (FAO 2003). Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar
di dunia, tetapi memiliki nilai konsumsi kopi per kapita yang masih relatif rendah
yaitu sekitar 70.000 ton/tahun atau 0,5 kg/orang/tahun, jika dibandingkan dengan
negara-negara lain seperti Finlandia, Norwegia, Denmark, Austria, Jerman, dan
Belgia yang telah mencapai sekitar 811 kg/orang/tahun (United States
Departement of Agriculture/USDA 2000; diacu dalam Widyotomo & Sri 2007).
Disisi lain kopi sering dikaitkan dengan sejumlah faktor risiko penyakit
jantung koroner, termasuk meningkatkan tekanan darah dan kadar kolesterol
darah. Meskipun dikatakan sebagai penyebab berbagai penyakit khususnya
hipertensi, namun berbagai hasil studi epidemiologi mengenai efek konsumsi
kopi terhadap tekanan darah tidak konsisten, beberapa menunjukkan hubungan
yang positif, ada yang mengatakan tidak ada hubungannya, bahkan beberapa
menunjukkan ada hubungan terbalik (Mattioli 2007). Hal ini dapat diduga karena
kandungan polifenol terutama chlorogenic acid (CGA) pada kopi yang digunakan
sebagai antioksidan yang dapat menurunkan toksik radikal bebas dalam tubuh
(Hardinsyah 2009).
Hipertensi menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling umum dan
penting di seluruh dunia. Telah diperkirakan bahwa 29% dari populasi orang
dewasa di dunia atau sekitar 1,56 miliar orang, akan memiliki hipertensi pada
tahun 2025 (Kearney et al. 2005, diacu dalam Engberink et al. 2009).
Peningkatan tekanan darah merupakan salah satu faktor risiko untuk penyakit
arteri koroner, stroke, penyakit ginjal dan memperpendek harapan hidup. Faktor
2

gaya hidup dan kebiasaan makan menjadi peran yang sangat penting dalam
hipertensi dan kontrol tekanan darah. Faktor risiko hipertensi antara lain
kelebihan asupan garam dan atau alkohol, pola makan, aktivitas fisik dan berat
badan yang berlebihan. Faktor konsumsi lainnya yang cukup menarik adalah
konsumsi kopi.
Adanya hubungan antara konsumsi kopi dan tekanan darah pertama kali
dilaporkan 75 tahun yang lalu, tetapi hingga kini masih menjadi kontroversial
(Zhang et al. 2011). Meta-analisis pada 11 percobaan dengan durasi rata-rata 56
hari dan dosis kopi rata-rata 5 cangkir/hari, menunjukkan adanya peningkatan
tekanan darah sistolik sebesar 2,4 mmHg dan diastolik sebesar 1,2 mmHg
dibandingkan dengan kelompok kontrol (Jee et al. 1999). Hasil serupa juga
ditemukan oleh Noordzij et al. (2005) pada 16 percobaan acak terkontrol selama
durasi rata-rata 42 hari, bahwa terdapat peningkatan yang signifikan tekanan
darah sistolik dan diastolik masing-masing sebesar 2,04 mmHg (95% CI: 1,10
2,99) dan 0,73 mmHg (95% CI: 0,141,31) pada percobaan kopi dengan dosis
rata-rata 725 ml/hari (setara 33,5 cangkir/hari ukuran 200 ml) dan pil kafein
dengan dosis rata-rata 410 mg/hari. Noordzij et al. (2005) juga menemukan
adanya peningkatan tekanan darah lebih besar pada kelompok perlakuan pil
kafein [sistolik 4,16 mmHg (2,136,20 mmHg) dan diastolik 2,41 mmHg (0,98
3,84 mmHg)] dibandingkan kelompok perlakuan kopi [sistolik 1,22 mmHg (0,52
1,92 mmHg) dan diastolik 0,49 mmHg (-0,061,04 mmHg)].
Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) (2011) menyatakan
bahwa meningkatnya taraf hidup dan pergeseran gaya hidup masyarakat
perkotaan di Indonesia telah mendorong terjadinya pergeseran dalam pola
konsumsi kopi baik pada kelompok muda maupun golongan tua (AEKI 2011).
Minuman kopi dan teh menurut hasil penelitian yang dilakukan di Singapura,
merupakan sumber cairan tubuh kedua (32%) setelah air putih (74%)
(Hardinsyah et al. 2010). Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin meneliti lebih
lanjut mengenai hubungan konsumsi kopi terhadap kejadian hipertensi pada
kelompok usia dewasa.

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan
konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada pasien rawat jalan Puskesmas
Bogor Tengah.
3

Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasi karakteristik contoh yang meliputi umur, jenis kelamin,
status sosial ekonomi, berat badan, tinggi badan, dan status gizi secara
antropomeri;
2. Mengidentifikasi tekanan darah contoh serta riwayat penyakit keluarga dan
contoh yang terkait dengan tekanan darah;
3. Mengidentifikasi pola konsumsi kopi contoh yang meliputi jenis, frekuensi,
waktu serta lamanya mengkonsumsi kopi.
4. Menganalisis hubungan konsumsi kopi (frekuensi minum kopi) dengan
kejadian hipertensi.
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah informasi
kepada masyarakat mengenai hubungan antara konsumsi kopi dengan kejadian
hipertensi,sertadapat dijadikan rujukan oleh peneliti selanjutnya khususnya untuk
penelitian-penelitian yang relevan.
4

TINJAUAN PUSTAKA

Kopi (Coffea sp.)


Kopi merupakan biji-bijian dari pohon jenis coffea. Kopi termasuk ke dalam
famili Rubiaceae, subfamili Ixoroideae, dan suku Coffeae (Panggabean 2011).
Satu pohon kopi dapat menghasilkan sekitar satu kilogram kopi per tahun.
Sebanyak lebih dari 25 jenis kopi dengan 4 jenis kopi yang cukup terkenal yaitu
kopi arabika (Coffea arabica), kopi liberika (Coffea liberica), kopi robusta (Coffea
canephora) dan kopi excelsa (Coffea dewevrei) yang mewakili 70% dari total
produksi kopi. Kopi arabika mengusai 70% pasar di dunia dan robusta sebanyak
30%. Kopi arabika memiliki kualitas tinggi dan beraroma harum, sedangkan kopi
robusta cenderung berasa asam dan pahit serta kandungan kafein yang lebih
tinggi 23 kali dari kopi arabika (Muchtadi 2009).
Kopi arabika merupakan kopi tradisional dengan cita rasa terbaik. Kopi ini
tumbuh di negara beriklim tropis atau subtropis pada ketinggian 10002100
meter diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 1622C Semakin tinggi
lokasi perkebunan kopi, maka cita rasa yang dihasilkan oleh biji kopi akan
semakin baik. Kopi robusta dapat tumbuh pada ketinggian 4001.200 meter
diatas permukaan laut dengan suhu 2028C. Jenis kopi yang merupakan
turunan dari kopi arabika dan robusta adalah kopi luwak asli Indonesia. Kopi
luwak merupakan kopi dengan harga jual tertinggi karena proses terbentuknya
dan rasanya yang unik (Panggabean 2011).
Kopi terkenal akan kandungan kafeinnya yang tinggi. Satu cangkir kopi
setara dengan 120480 ml dapat mengandung kafein 75 mg400 mg atau
lebih, bergantung pada jenis biji kopi, cara pengolahan kopi dan mempersiapkan
minuman kopi (Weinberg & Bonnie 2010). Kafein merupakan senyawa hasil
metabolisme sekunder golongan alkaloid dari tanaman kopi dan memiliki rasa
yang pahit. Berbagai efek kesehatan dari kopi pada umunya terkait dengan
aktivitas kafein didalam tubuh. Cara baik minum kopi adalah dengan
meminimalkan deterpen dengan cara minum kopi yang disaring atau kopi instan
serta mengkonsumsinya dalam jangka waktu 46 jam. Rekomendasi yang
aman minum kopi bagi orang sehat adalah 23 cangkir (Muchtadi 2009;
Purwantyastuti 2009).
Komponen kimia biji kopi berbeda-beda, tergantung tipe kopi, tanah tempat
tumbuh dan pengolahan kopi. Struktur kimia yang terpenting terdapat di dalam
5

kopi adalah kafein dan caffeol. Komponen biji kopi arabika dan robusta sebelum
dan sesudah disangrai dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1 Komponen kimia biji kopi arabika dan robusta sebelum dan setelah
disangrai (% bobot kering)
Arabika Robusta
Komponen Biji kopi Kopi sangrai Biji kopi Kopi sangrai
(%)* (%)** (%)* (%)**
Kafein 0,91,2 1,21,5 1,62,4 2,22,4
Air 05 05
Trigonelline 1,01,2 0,51,0 0,60,75 0,30,7
Protein dan Asam Amino
- Protein 1113 7,5 1113 7,5
- Asam Amino 2 0 2 0
Gula 68 0,3 67 0,3
Polisakarida 5055 38 3747 42
Oligosakarida 6,08,0 0-3,5 5,07,0 03,5
Asam
- Asam Alifatik 1,52,0 1,6 1,52,0 1,6
- Asam Quinat 0,8 1,0
- Asam Klorogenat 5,58,0 2,5 7,010 3,8
Lemak 12,018,0 14,520,0 9,013,0 11,016,0
Mineral (sebagai oksida) 3,04,2 3,54,5 4,04,5 4,65,0
Sumber : *Clarke & Macrae (1987), diacu dalam Ridwansyah (2003)
**Yusianto (1999), diacu dalam Panggabean (2011)

Kafein (1,3,7-Trimetilxantin)
Komponen utama di dalam biji kopi adalah kafein dan caffeol. Kafein
merupakan zat perangsang syaraf yang sangat penting, sementara caffeol
adalah salah satu zat pembentuk cita rasa dan aroma. Kafein merupakan salah
satu jenis alkaloid yang dapat dijumpai secara alami dalam daun, biji, atau buah
berbagai tanaman seperti kopi, daun teh, biji coklat yang digunakan untuk produk
cokelat dan buah kola yang digunakan untuk produk minuman ringan (soft drink).
Selain itu, kafein juga ada pada tanaman guarana yang disebut guaranina dan
pada tanaman mate yang disebut mateina (Panggabean 2011).
Kandungan kafein setiap jenis kopi berbeda-beda. Kadar kafein rata-rata
pada jenis kopi arabika adalah 1,2%1,5 % dan pada jenis kopi robusta 2,2%
2,4%. Kafein mempunyai rasa yang pahit, namun kafein sendiri hanya
menyumbang cita rasa pahit sebanyak kurang dari 10%. Kafein bekerja sebagai
perangsang saraf pusat, jantung dan pernafasan serta bersifat diuretik ringan.
Kafein berbentuk serbuk putih yang mengandung gugus metil dengan rumus
kimia C8H10N4O2 (Panggabean 2011).
6

Selama proses pembutan kopi, banyak kafein yang hilang karena rusak
ataupun larut dalam air perebusan. Kandungan kafein dalam kopi memiliki efek
yang beragam pada setiap manusia. Beberapa orang akan mengalami efeknya
secara langsung, sedangkan orang lain tidak merasakannya sama sekali. Hal ini
terkait dengan sifat genetika yang dimiliki masing-masing individu terkait dengan
kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna kafein (Weinberg & Bonnie
2010). Menurut Food and Drug Administration (FDA) (2007), overdosis karena
kafein jarang terjadi, namun tanda keracunan kafein telah terlihat pada anak-
anak seperti tremor (gemetar diluar kesadaran), mual, muntah, denyut jantung
yang tidak teratur, panik, dan kebingungan.
International Food Information Council Foundation (IFIC) menyatakan
bahwa batas aman konsumsi kafein yang masuk ke dalam tubuh perharinya
adalah 100150 mg atau 1,73 mg/kgBB, sedangkan untuk anak-anak dibawah
1422 mg. Dengan jumlah ini, tubuh sudah mengalami peningkatan aktivitas
yang cukup untuk membuatnya tetap terjaga (IFIC 2007). Sebuah studi
menunjukkan bahwa 100200 mg kafein (12,5 cangkir kopi) setiap hari adalah
batas aman yang dianjurkan oleh beberapa dokter, namun jumlah tersebut
berbeda setiap individu dan para ahli sepakat bahwa 600 mg kafein (47
cangkir kopi) atau lebih setiap harinya adalah jumlah yang terlalu banyak karena
overdosis kafein berbahaya dan dapat membunuh (FDA 2007).

Efek Kafein
Menurut Austalian Drug Foundation (ADF) (2011), pengaruh setiap obat
termasuk kafein bervariasi setiap individu. Kafein mempengaruhi seseorang
ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya ukuran tubuh, berat badan, status
kesehatan, faktor genetik dan jumlah yang dikonsumsi. Efek yang dirasakan
seseorang yang mengkonsumsi kafein secara teratur akan berbeda dengan
orang yang hanya sesekali mengkonsumsi.
Pengaruh dari konsumsi kafein dapat dirasakan dalam waktu 530 menit
dan bertahan hingga 12 jam. Kafein membutuhkan waktu 530 menit untuk
beredar dalam tubuh setelah di konsumsi. Efeknya akan berlanjut dalam darah
selama sekitar 12 jam. Konsumsi satu atau dua cangkir kopi dalam sehari dapat
membuat seseorang merasa lebih terjaga dan waspada untuk sementara waktu
(ADF 2011). Konsentrasi kafein dalam darah mencapai puncaknya pada 30120
menit setelah dikonsumsi dan meningkat hingga 75% dari nilai maksimal dalam
waktu 15 menit (Nurminen et al. 1999; Weinberg & Bonnie 2010).
7

Tabel 2 Kandungan kafein berbagai pangan sumber kafein


Kandungan Kafein
Jenis Pangan Produk Pangan Ukuran
(mg)
a
Kopi Kopi murni 250 ml 150240
Kopi instana 250 ml 80120
Kopi dekafeinasia 250 ml 26
Kopi espressoa 250 ml 105110
c
Es krim kopi Starbucks 30 g 4060
c
Teh Teh 150 ml 4080
Teh hijaub 240 ml 2540
Teh hitamb 240 ml 4070
d
Es teh 240 ml 950
c
Minuman ringan Coca cola 355 ml 64
Coca cola classicb 355 ml 35
c
Coca cola diet 355 ml 45
b
Pepsi cola 355 ml 38
Pepsi dietb 355 ml 36
Cokelat Cokelata 250 ml 3060
d
Minuman cokelat 240 ml 332
a
Susu cokelat 250 ml 27
Cokelat susu bara 55 g 320
Cokelat bara 55 g 4050
Brownies cokelatc 35 g 8
Es krim cokelatc 50 g 25
Cookies cokelatc 30 g 35
Minuman berenergi Red Bullb 250 ml 80
a
Minuman berenergi lain 250 ml 5080
Sumber: a. ADF (2011)
b. Kovacs B (2011)
c. FDA (2007)
d. IFIC (2008)

Food and Drug Administration (FDA) dan American Medical Association


(AMA) menyatakan bahwa asupan moderat kafein diakui sebagai asupan yang
aman. Berikut klasifikasi asupan kafein (Kovacs B 2011):
1. Asupan rendah sampai moderat: 130 mg300 mg perhari
2. Asupan moderat: 200 mg300 mg per hari
3. Dosis tinggi: > 400 mg per hari
4. Konsumsi kafein yang berbahaya: 6000 mg per hari
Penggunaan obat apapun termasuk kafein membawa beberapa risiko
bahkan dapat menghasilkan efek samping yang tidak diinginkan. Konsumsi
kafein yang berlebihan tidak hanya berdampak jangka pendek tapi juga jangka
panjang yang dapat mengganggu kesehatan. Efek jangka pendek konsumsi
kafein antara lain: merasa lebih waspada dan aktif, buang air kecil lebih sering,
peningkatan denyut jantung, dan stimulasi sistem saraf dan otak. Konsumsi
kafein yang moderat (contoh: 4 cangkir kopi sehari) tidak akan menyebabkan
kerusakan jangka panjang. Namun penggunaan secara berlebihan dapat
memiliki beberapa efek serius seperti: osteoporosis, tekanan darah tinggi,
8

penyakit jantung, insomnia parah, infertilitas, depresi, gelisah, tremor otot, dan
dapat menyebabkan kematian (ADF 2011).

Polifenol (Chlorogenic Acid/CGA)


Polifenol adalah senyawa kimia yang ditemukan dalam makanan yang
membantu untuk mencegah kerusakan radikal bebas dalam tubuh yang dapat
menyebabkan berbagai masalah kesehatan karena merupakan molekul yang
tidak stabil dan dapat merusak dinding arteri. Polifenol dapat ditemukan pada
buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, dan beberapa
makanan dan minuman. Efek dari polifenol dalam makanan saat ini menjadi
perhatian besar karena aktivitas antioksidan dan antikanker (Manach et al. 2004;
Yang et al. 2001).
Ada banyak jenis polifenol yang terkandung dalam makanan dan
merupakan antioksidan in vitro yang kuat. Konsumsi kakao, teh atau kopi dapat
menambah asupan polifenol menjadi 5001000 mg. Asupan total polifenol yang
diharapkan sebesar 828 mg per hari bagi setiap orang. Jumlah total polifenol dari
minum kopi adalah yang tertinggi diantara minuman lainnya 200mg/100ml, teh
hijau (115mg/100ml), teh hitam (96mg/100ml) (Purwantyastuti 2009).
Polifenol dalam kopi mengandung chlorogenic acid (CGA), caffeic acid,
ferrulic acid dan p-coumaric acid, yang merupakan komponen antioksidan. Asam
klorogenat (CGA) merupakan komponen utama polifenol dalam kopi karena itu
kopi mengandung asam klorogenat paling tinggi dibandingkan dalam minuman
lainnya seperti coklat dan teh. Kadar asam klorogenat akan meningkat seiring
dengan tingkat kematangan dan tingkat kadar kafein. Kandungan asam
klorogenat pada biji kopi robusta dan arabika masing-masing 7%10% dan
5%7%. Satu cangkir kopi mengandung asam klorogenat sebesar 15325 mg
tergantung varietas, komposisi, pengolahan dan penyajian (Pergizi Pangan
2009). Penyangraian biji kopi yang lebih cepat memiliki kandungan asam
klorogenat dan caffeic acid lebih banyak dan semakin gelap biji kopi, kandungan
asam klorogenat akan semakin sedikit. Suhu penyangraian yang terlalu tinggi
akan menurunkan kadar asam klorogenat, sehingga kandungan yang tersisa
dalam biji kopi berkisar 0,5%7% (Frost-Meyer & John 2012).
Berbagai penelitian tentang asam klorogenat menunjukan bahwa 1)
peningkatan asupan asam klorogenat dapat melindungi eritrosit dari stress
oksidasi, 2) memelihara oksidan alami dalam tubuh termasuk vitamin E, 3)
melindungi membran dan plasma sel dari oksidasi, 4) menurunkan toksik radikal
9

bebas dalam tubuh. Peran proteksi ini akan berimplikasi pada berbagai penyakit
yang berkaitan dengan disfungsi endothelial seperti penyakit kronik dan akut
karena merokok, penyakit hipertensi, hiperkolesterol, hiperglikemia,
atherosclerosis, serta gagal jantung. Hasil kajian epidemiologi mutakhir
membuktikan bahwa minum secangkir kopi atau sekedarnya dapat meningkatkan
kemampuan tubuh memerangi oksidan, bahkan asupan polifenol seperti asam
klorogenat dapat menurunkan risiko penyakit jantung (Pergizi Pangan 2009).

Pengolahan Produk Kopi


Secara umum, kopi dibedakan menjadi enam jenis olahan, yaitu biji kopi
(bean), bubuk kopi (powder), kopi rendah kafein (decaffeinated), kopi instan
(granular), kopi mix, dan kopi siap minum. Beberapa contoh produk kopi bubuk
yang mudah ditemui di masyarakat antara lain Kapal Api, Torabika, Kopi Cap
Piala, Kopi Cap Liong Bulan, Kopi Cap Singa, Kopi Cap Ayam Merak. Salah satu
produk kopi instan yang sering ditemui antara lain Nescafe Classic dan Torabika
3in1. Produk kopi yang sudah cukup terkenal dengan kopi mix antara lain
Nescafe Mocha, Nescafe Coffeemix, Nescafe Creme, Kapal Api Susu, Kapal Api
Grande, Kapal Api Mocha ABC Susu, ABC Mocca, Indocoffeemix, Luwak White
Koffie, Good Day, Torabika Cappuccino, Torabika Duo Kopi Susu, Torabika Kopi
Jahe, Torabika Kopi Mocha, Indocafe Coffemix, Indocafe Cappucino, Good Day
Cappucino, Good Day Carrebian Nut, Good Day Chococinno, Good Day
Coffeemix, Good Day Coolin Coffee, Good Day Mocacinno, Good Day Vanilla
Latte.
a. Pengolahan Biji Kopi Sangrai dan Kopi Bubuk
Proses pengolahan bubuk kopi terdiri dari beberapa tahapan proses yaitu
sebagai berikut:
1. Penyiapan Bahan Baku
Kualitas kopi yang baik hanya dapat diperoleh dari biji yang telah masak
dan melalui pengolahan yang tepat. Biji kopi yang baru panen harus segera
diolah. Pasalnya, biji kopi mudah rusak dan menyebabkan perubahan
citarasa pada seduhan kopi (Panggabean 2011).

2. Penyangraian
10

Menurut Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI)


(2007) kunci dari proses produksi kopi bubuk adalah penyangraian. Proses
ini merupakan tahapan pembentukan aroma dan citarasa khas kopi dari
dalam biji kopi dengan perlakuan panas. Biji kopi secara alami mengandung
cukup banyak senyawa organik calon pembentuk citarasa dan aroma khas
kopi. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan selama menyangrai,
diantaranya sistem mesin penyangrai, bahan plat tabung penyangrai,
stabilitas sumber api tabung penyangrai, dan jenis bahan baku kopi serta
karakteristiknya. Selain faktor alat, aspek lainnya yang juga penting yaitu
suhu, waktu, keahlian, dan teknik penyangraian (Panggabean 2011).
Berdasarkan suhu penyangraian yang digunakan, kopi sangrai dibedakan
atas 3 golongan yaitu light roast (193199C), medium roast (204C) dan
dark roast (213221C). Light roast menghilangkan 35% kadar air,
medium roast, 58% dan dark roast 814% (Varnam & Sutherland 1994;
diacu dalam Ridwansyah 2003). Waktu yang diperlukan saat menyangrai
berkisar antara 530 menit tergantung pada jenis alat dan mutu kopi bubuk.
Waktu sangrai ditentukan atas dasar warna biji kopi sangrai atau sering
disebut derajad sangrai. Makin lama waktu sangrai, warna biji kopi sangrai
mendekati cokelat tua kehitaman. Penyangraian diakhiri saat aroma dan
citarasa kopi yang diinginkan telah tercapai yang ditandai dengan perubahan
warna biji kopi yang semula berwarna kehijauan menjadi cokelat tua (light),
cokelat-kehitaman (medium), dan hitam (dark) (ICCRI 2007).
Proses sangrai diawali dengan penguapan air yang ada di dalam biji
kopi dengan memanfaatkan panas yang tersedia dengan suhu 100C dan
kemudian diikuti dengan reaksi pirolisis. Pirolisis merupakan reaksi
dekomposisi senyawa hidrokarbon menjadi unsur karbon antara lain
karbohidrat, hemiselulosa dan selulosa yang ada di dalam biji kopi sebagai
akibat dari pemanasan. Reaksi ini terjadi setelah suhu sangrai di atas 180C.
Secara kimiawi, proses ini ditandai dengan evolusi gas CO 2 dalam jumlah
banyak dari ruang sangrai berwarna putih. Secara fisik, pirolisis ditandai
dengan perubahan warna biji kopi yang semula kehijauan menjadi
kecoklatan. Saat proses penguapan air, beberapa senyawa volatil yang
terkandung yang terkandung di dalam biji kopi seperti aldehid, furfural, keton,
alkohol, dan ester ikut teruapkan. Proses ini ditandai dengan penurunan
kerapatan curah sebagai akibat dari perubahan fisik biji kopi seperti
11

penyembangan volume (swelling) dan pembentukan pori-pori di dalam


jaringan sel sehingga berat biji kopi per satuan volume menjadi lebih kecil.
Swelling selama penyangraian disebabkan karena terbentuknya gas-gas
yang sebagian besar terdiri dari CO 2, kemudian gas-gas ini mengisi ruang
dalam sel atau pori-pori kopi. Biji kopi beras dengan kadar air 12% memiliki
kerapatan curah 615 kg/m3, setelah disangrai selama 8 menit, kerapatan
curahnya berkurang menjadi 506 kg/m3. Pada penyangraian menit ke dua
puluh dua, kerapatan curah biji kopi menurun tajam menjadi 317 kg/m 3
(ICCRI 2007).
Perubahan sifat fisik dan kimia terjadi selama proses penyangraian,
menurut Ukers & Prescott, diacu dalam Ciptadi & Nasution (1985) terjadi
seperti swelling, penguapan air, tebentuknya senyawa volatile, karamelisasi
karbohidrat, pengurangan serat kasar, denaturasi protein, terbentuknya gas
CO2 sebagai hasil oksidasi dan terbentuknya aroma yang karakteristik pada
kopi. Senyawa yang membentuk aroma di dalam kopi menurut Mabrouk &
Deatherage, diacu dalam Ciptadi & Nasution (1985) adalah :
1. Golongan fenol dan asam tidak mudah menguap yaitu asam kofeat,
asam klorogenat, asam ginat dan riboflavin.
2. Golongan senyawa karbonil yaitu asetaldehid, propanon, alkohol, vanilin
aldehid.
3. Golongan senyawa karbonil asam yaitu oksasuksinat, aseto asetat,
hidroksi pirufat, keton kaproat, oksalasetat, mekoksalat, merkaptopiruvat.
4. Golongan asam amino yaitu leusin, iso leusin, variline, hidroksiproline,
alanin, threonin, glisin dan asam aspartat.
5. Golongan asam mudah menguap yaitu asam asetat, propionat, butirat
dan volerat.
Di dalam proses penyangraian sebagian kecil dari kafein akan menguap
dan terbentuk komponen-komponen lain yaitu aseton, furfural, amonia,
trimethilamin, asam formiat dan asam asetat. Kafein di dalam kopi terdapat
baik sebagai senyawa bebas maupun dalam bentuk kombinasi dengan
klorogenat sebagai senyawa kalium kafein klorogenat (Ciptadi & Nasution
1985).

3. Pendinginan Biji Sangrai


12

Setelah proses sangrai selesai, biji kopi harus segera didinginkan di


dalam bak pendingin. Pendinginan yang kurang cepat dapat menyebabkan
proses penyangraian berlanjut dan biji kopi menjadi gosong (over roasted).
Selama pendinginan, biji kopi diaduk secara manual agar proses
pendinginan lebih cepat dan merata. Selain itu, proses ini juga berfungsi
untuk memisahkan sisa kulit ari yang terlepas dari biji kopi saat proses
sangrai (Mulato 2002, diacu dalam Israyanti 2012).
4. Pencampuran
Pencampuran biji kopi sangrai bertujuan untuk mendapatkan citarasa
dan aroma yang khas dengan mencampur beberapa jenis bahan baku atas
dasar jenis biji kopi berasnya (contoh: arabika, robusta, dan excelsa), jenis
proses yang digunakan (proses kering, semi-basah, dan basah), dan asal
bahan baku (ketinggian, tana, dan agroklimat). Beberapa jenis bahan baku
tersebut disangrai secara terpisah, ditimbang dalam proporsi tertentu (atas
dasar uji citarasa), dan kemudian dicampur dengan alat pencampur putar
tipe hexagonal (ICCRI 2007).
5. Penghalusan Biji Kopi Sangrai
Biji kopi sangrai dihaluskan dengan alat penghalus (grinder) sampai
diperoleh butiran kopi bubuk dengan kehalusan tertentu. Butiran kopi bubuk
mempunyai luas permukaan yang sangat besar sehingga senyawa
pembentuk citarasa dan penyegar mudah larut ke dalam air panas. Semakin
kecil butiran kopi akan semakin baik rasa dan aroma yang dihasilkan karena
sebagian besar bahan yang terdapat dalam kopi dapat larut ke dalam air
ketika diseduh (ICCRI 2007).
6. Pengemasan
Pengemasan bertujuan untuk mempertahankan aroma dan citarasa kopi
bubuk selama transportasi, pendistribusian ke konsumen, dan selama
dijajakan di took/warung, pasar tradisional, dan pasar swalayan. Kesegaran,
aroma, dan citarasa kopi bubuk akan berkurang secara signifikan setelah
satu atau dua minggu jika tidak dikemas secara baik. Beberapa faktor yang
berpengaruh terhadap keawetan kopi bubuk selama dikemas adalah kondisi
penyimpanan (suhu lingkungan), tingkat sangrai, kadar air kopi bubuk,
kehalusan bubuk, dan kandungan oksigen di dalam kemasan. Kandungan
air dalam kemasan akan menghidrolisa senyawa kimia yang terdapat di
dalam kopi bubuk dan menyebabkan bau apek (stale), sedangkan oksigen
13

akan mengurangi aroma dan citarasa kopi melalui proses oksidasi (ICCRI
2007).

b. Pengolahan Kopi Decaffeinated (Kopi Rendah Kafein)


Kandungan kafein dalam biji kopi berkisar antara 1,2%2,4%. Kandungan
kafein dalam biji kopi perlu diturunkan sampai batas aman karena terdapat
beberapa individu yang sensitif terhadap kafein (ICCRI 2007). Dekafeinasi
biasanya dilakukan sebelum proses penyangraian. Prosesnya meliputi
pembasahan biji kopi dengan air dan diikuti oleh ekstraksi dengan pelarut
organik yaitu metilen klorida (CH2Cl2) dalam ekstraktor dengan perbandingan biji
kopi dengan metilen klorida adalah 1:5 pada suhu 80 selama 57 jam
bergantung pada kadar kafein yang akan diekstrak (Ridwansyah 2003; ICCRI
2007).
Tahap awal proses dekafeinasi adalah pemanasan awal biji kopi dengan
uap air panas pada suhu 230F (110C) selama 30 menit yang akan
menghasilkan kadar air 1618%. Tujuan pemanasan awal adalah untuk
membantu proses hidrolisis dari kafein selama ekstraksi. Tahap selanjutnya
dilakukan penambahan air/pre-wetting hingga kadar air mencapai 40%, setelah
itu ditambahkan pelarut metilen klorida. Proses ekstraksi kafein selanjutnya
dilakukan pada suhu 50120C dimana kafein sebagian besar akan dihilangkan
yaitu sebanyak 95%98%. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut kemudian
dialirkan keluar dari ekstraktor. Untuk menghilangkan sisa pelarut yang terdapat
pada biji kopi, maka dilakukan penguapan pelarut dengan uap air panas
(destilasi uap). Setelah proses dekafeinasi, bjji kopi biasanya masih
mengandung kafein dan zat pelarut. Beberapa negara yang tergabung didalam
European Economic Community (EEC) menetapkan batas kandungan kaffein
didalam biji kopi bebas kafein (decaffeinated) dan kopi instan bebas kaffein tidak
melebihi 0,1% dan 0,3%. Sedangkan zat pelarut yang tersisa dari biji kopi bebas
kaffein tidak melebihi 10 mg/kg pelarut (Ridwansyah 2003).
Biji kopi rendah kafein akan disangrai dengan suhu dan waktu yang sama
saat menyangrai biji kopi biasa. Biji kopi rendah kafein yang telah disangrai akan
dihaluskan dengan alat yang sama dengan penghalusan biji kopi biasa. Citarasa
dan aroma kopi bubuk rendah kafein tidak sebaik dan setajam biji kopi biasa.
Hal ini disebabkan beberapa senyawa pembentuk citarasa dan aroma ikut larut
bersama kafein saat proses ekstraksi berlangsung (ICCRI 2007).
c. Kopi Instan (Granular)
14

Bubuk kopi sangrai merupakan bahan baku kopi instan. Bubuk kopi
diperoleh dari proses penghalusan biji kopi sangrai dengan ukuran partikel pada
tingkat medium (hasil ayakan 60 mesh) (ICCRI 2007).
1. Ekstraksi
Proses ekstraksi kopi instan menggunakan percolater (penyaring kopi)
dan sentrifuge untuk mengepres sisa ampas. Tujuannya untuk memperoleh
ekstraksi optimum dari padatan terlarut tanpa merusak kualitas. Ekstraksi
bubuk kopi yang optimum tergantung pada suhu air dan laju air melalui
ampas bubuk kopi. Air panas dimasukkan dengan tekanan dan suhu
mencapai 80C selama 45 menit. Sisa bubuk hasil pelarutan akan dikempa
secara manual untuk mengekstrak komponen kopi yang masih tertinggal.
Penggunaan suhu air tertinggi memungkinkan hasil konsentrasi ekstrak
tertinggi. Rendemen ekstraksi berkisar antara 3032% berat bubuk kopi.
Sisa ampas bubuk kopi selanjutnya akan dibuang karena masih
mengandung 70% kadar air untuk diolah menjadi biogas (Ridwansyah 2003;
ICCRI 2007).
2. Kristalisasi, Penghalusan, dan Pencampuran
Ekstrak kopi dimasukkan ke dalam alat kristalisator dan ditambah gula
dengan perbandingan 1:1. Selama 30 menit pertama, larutan ekstrak kopi
dan gula dipanaskan pada suhu 100C, setelah larutan mendekati jenuh,
suhunya diturunkan menjadi 70C selam 20 menit berikutnya. Pada 10 menit
terakhir, sumber panas dimatikan, larutan jenuh kemudian didinginkan
dengan suhu ruang hingga terbentuk kristal gula-kopi (ICCRI 2007). Setelah
kristal gula-kopi terbentuk, akan digiling secara mekanik menjadi bubuk
halus. Kopi instan selain disajikan dalam bentuk murni juga dapat dicampur
dengan bubuk krimmer instan atau bahan tambahan lainnya pada proporsi
tertentu dengan alat pencampur putar tipe hexagonal.
3. Aromatisasi
Produk akhir kristalisasi akan berdampak pada kehilangan aroma kopi,
sehingga biasanya dilakukan proses aromatisasi untuk memberikan aroma
kopi bagi konsumen saat mereka membuka kemasan kopi. Hal ini dilakukan
dengan cara me-recovery aroma volatil yaitu menyemprotkan aroma volatil
tersebut kedalam kopi instan dengan menggunakan minyak kopi sebagai
bahan pembawa aroma volatile, selain itu hal ini diperlukan untuk
15

mengurangi resiko oksidasi dan mengisi gas karbondioksida (Ridwansyah


2003).
4. Pengemasan
Kopi instan harus dilindungi dengan cara menerapkan pengemasan
yang baik sebelum didistribusikan ke toko/warung, pasar tradisonal atau
pasar swalayan. Kemasan yang digunakan harus mampu melindungi produk
dari absorbs kelembaban udara yng tidak hanya menyebabkan produk
menggumpal (mengeras/memadat) tetapi juga dapat mempercepat
penurunan aroma (Ridwansyah 2003).

Tekanan Darah
Peredaran darah dalam tubuh terjadi karena adanya organ jantung yang
memompa darah melalui kontraksi dan relaksasi. Ketika jantung berkontraksi,
dihasilkanlah gelombang tekanan pembuluh darah yang dapat dirasakan dengan
mudah pada tangan bagian atas dengan menggunakan alat pengukur tekanan
darah. Tekanan darah merupakan desakan darah terhadap dinding-dinding
pembuluh darah arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantung ke seluruh
tubuh. Ada dua macam tekanan darah, yaitu tekanan darah sistolik dan tekanan
darah diastolik (Hull 1996; Soeharto 2004). Tekanan darah sitolik dihasilkan pada
puncak kontraksi yaitu dimana darah menekan dinding arteri saat jantung
berkontraksi memompa darah, sedangkan tekanan darah diastolik dihasilkan
ketika jantung berelaksasi yaitu saat jantung relaks dan darah mengalir ke dalam
jantung. Oleh karena itu, tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio dari
tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik (Soeharto 2004).
Mengukur tekanan darah secara benar sangatlah penting untuk
mendiagnosis adanya hipertensi dan mengevaluasi respon pengobatan anti
hipertensi. Alat pengukur tekanan darah atau spigmomanometer ada 3 jenis : (1)
menggunakan air raksa, (2) jenis aneroid dan (3) jenis digital. Pengukur yang
paling ideal adalah yang menggunakan air raksa, namun penggunaannya harus
benar. Pengukur tekanan darah jenis aneroid dan digital dapat digunakan apabila
kurang terampil dalam menggunakan spigmomanometer air raksa, namun harus
sering dikalibrasi (Department of Health, Social Services and Public Safety 2012).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengukur tekanan darah adalah
ruang pemeriksaan nyaman, pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali dan
dihitung rata-ratanya. Pastikan kandung kemih dalam keadaan kosong dan
hindari konsumsi kopi, alkohol dan rokok 30 menit sebelum dilakukan
16

pengukuran tekanan darah, karena semua hal tersebut akan meningkatkan


tekanan darah dari nilai sebenarnya. Duduk dengan tenang selama 5 menit
sebelum pemeriksaan dan jangan berbicara saat pemeriksaan serta tenangkan
pikiran, karena pikiran yang tegang dan stress akan dapat meningkatkan tekanan
darah. Pemeriksaan tekanan darah sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk
dengan siku lengan menekuk setinggi jantung di atas meja dengan posisi telapak
tangan menghadap ke atas. Dianjurkan tidak merokok 30 menit sebelum
pengukuran tekanan darah. Seseorang dikatakan memiliki tekanan darah
tinggi/hipertensi jika tekanan darahnya melebihi 140/90 mmHg melalui 3 kali
pengukuran tekanan darah dengan jarak pengukuran tekanan darah pertama ke
pengukuran tekanan darah selanjutnya masing-masing 1 minggu (Kaplan 1999,
diacu dalam Yuniati 2007; Depkes 2007).
Tekanan darah normal biasanya tidak melebihi 140 mmHg untuk tekanan
sistolik dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg serta kurang dari 120/80 mmHg.
Tekanan darah sistolik (TDS) meningkat sesuai dengan peningkatan usia, akan
tetapi tekanan darah diastolik (TDD) meningkat seiring dengan TDS sampai usia
55 tahun, yang kemudian menurun oleh terjadinya proses kekakuan arteri akibat
aterosklerosis. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko
untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial dan
merupakan penyebab utama gagal jantung kronis (Susilo & Ari 2011).

Hipertensi
Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan penyakit darah tinggi adalah
suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang > 140 mmHg untuk tekanan
darah sistoliknya dan atau > 90 mmHg untuk tekanan darah diastolik (Depkes
2006). Hipertensi yang tidak ditanggulangi merupakan faktor risiko untuk penyakit
jantung koroner, stroke, dan gagal jantung. WHO melaporkan sekitar 16,2 juta
kematian di dunia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Faktor risiko yang
bertanggung jawab terhadap kondisi tersebut adalah hipertensi, kadar kolesterol
tinggi, tembakau, konsumsi buah dan sayuran yang rendah serta kurang aktivitas
fisik (Kusmana 2009).
Hipertensi umumnya mulai pada usia muda, sekitar 510% ditemukan
kasus hipertensi pada usia 2030 tahun. Bagi pasien yang berusia 4070
tahun, setiap peningkatan tekanan darah sistolik 20 mmHg dan atau tekanan
darah diastolik 10 mmHg dapat meningkatkan risiko kardiovaskular 2 kali lipat
(Kusmana 2009).
17

Klasifikasi hipertensi dapat dilihat berdasarkan tekanan darah sistolik dan


diastolik dalam satuan millimeter merkuri (mmHg). The Seventh of the Joint
National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High
Blood Pressure (JNC 7) mengategorikan tekanan darah orang dewasa menjadi
empat yaitu kelompok normal, pre-hipertensi, hipertensi tingkat I dan hipertensi
tingkat II.
Tabel 3 Klasifikasi pengukuran tekanan darah orang dewasa dengan usia diatas
18 tahun berdasarkan JNC 7 Tahun 2003
Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Klasifikasi Tekanan Darah
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 <80
Pre Hipertensi 120-139 80 89
Hipertensi Tingkat I 140 159 90 99
Hipertensi Tingkat II >160 >100
(U.S Department of Health and Human Services 2003)

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibedakan menjadi dua bagian, yaitu


hipertensi essensial/primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi essensial/primer
merupakan jenis hipertensi yang penyebabnya masih belum dapat diketahui.
Sekitar 9095 % penderita hipertensi menderita jenis hipertensi ini. Oleh karena
itu, penelitian dan pengobatan lebih banyak ditujukan bagi penderita hipertensi
essensial ini (Depkes 2006). Faktor yang dapat menjadi penyebab hipertensi
primer antara lain (Askes 2011):
1. Tekanan darah tidak terdeteksi (diastolik < 90 mmHg, sistolik >105 mmHg);
2. Peningkatan kolesterol darah;
3. Kebiasaan merokok dan atau alkohol;
4. Kelebihan berat badan/kegemukan/obesitas;
5. Kurang aktivitas fisik/olah raga;
6. Gagal ginjal
7. Faktor genetik/keturunan
8. Usia
Hipertensi sekunder adalah jenis hipertensi yang penyebabnya dapat
diketahui, dan ada sekitar 510% dari seluruh penderita hipertensi masuk
kedalam kategori ini. Penyebab hipertensi sekunder antara lain (Kertohoesodo
1987):
1. Sebab sebab hormonal
2. Kelainan pada ginjal, endokrin, kekakuan dari aorta
3. Adanya perubahan pada organ jantung dan pembuluh darah yang
menyebabkan meningkatnya terkanan darah
18

4. Feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan


hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (naradrenalin).
Hipertensi atau peningkatan tekanan darah merupakan salah satu faktor
risiko sindrom metabolik selain diabetes mellitus, dislipidemia, obesitas sentral,
dan mikroalbuminuria. Sindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko
metabolik yang berkaitan secara langsung terhadap terjadinya peningkatan risiko
penyakit kardiovaskuler dan diabetes melitus (Semiardji 2004). The World Health
Organization (WHO) (1999) menyampaikan definisi seseorang mengalami
sindrom metabolik dengan kriteria antara lain:
1. Gangguan pengaturan glukosa atau diabetes melitus;
2. Resistensi insulin;
3. Hipertensi dengan terapi anti-hipertensi (>140/90 mmHg);
4. Dislipidemia dengan trigliserida plasma > 150 mg/dL dan/atau cholesterol
high density lipoprotein (HDL-C) < 35 mg/dL untuk pria; <40 mg/dL untuk
wanita;
5. Obesitas sentral (pria: rasio lingkar pingang-pinggul > 0,90; wanita >0,85)
dan/atau indeks massa tubuh (IMT) > 30 kg/m2;
6. Mikroalbuminuria (Urea Albumin Excretion Rate >20 mg/min atau rasio
albumin/kreatinin > 30 mg/g).
Sindrom metabolik ditegakkan apabila seseorang memiliki salah satu dari 2
kriteria pertama dan 2 dari empat kriteria terakhir yaitu memiliki diabetes melitus
dan/atau resistensi insulin yang disertai sedikitnya 2 kriteria lain yaitu hipertensi,
dislipedemia, obesitas sentral, dan mikroalbuminuria (Adriansjah & Adam 2006).
Kriteria lain yang sering digunakan untuk menilai seseorang mengalami sindrom
metabolik adalah NCEP-ATP III (National Cholesterol Education Program Expert
Panel on Detection, Evaluation, dan Treatment of High Blood Cholesterol in
Adults Treatment Panel III) (2002), yaitu apabila seseorang memenuhi 3 dari 5
kriteria antara lain:
1. Lingkar perut pria >102 cm; wanita >88 cm;
2. Trigliserida > 150 mg/dL
3. HDL-C pria < 40 mg/dL; wanita <50 mg/dL;
4. Tekanan darah > 130/85 mmHg;
5. Kadar glukosa darah puasa > 110 mg/dL.
19

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi


Hipertensi merupakan penyakit yang tidak disebabkan oleh satu faktor saja,
bahkan pada hipertensi primer/essensial tidak diketahui penyebab pastinya,
hanya diketahui hal-hal yang berperan dalam meningkatkan tekanan darah.
Faktor-faktor yang diduga dapat meningkatkan tekanan darah dibagi menjadi dua,
yaitu faktor yang tidak dapat dikontrol dan faktor yang dapat dikontrol.

a. Faktor yang tidak dapat dikontrol


1. Usia
Terdapat hubungan yang positif antara usia dan frekuensi hipertensi,
dimana prevalensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia (Bullock
1996). Risiko terkena hipertensi tinggi pada saat memasuki masa pra lansia
dan dengan bertambahnya usia, risiko menjadi lebih besar sehingga
prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%
dengan kematian lebih banyak terjadi pada usia diatas 65 tahun. Tingginya
hipertensi sejalan dengan bertambahnya usia disebabkan oleh perubahan
struktur pada pembuluh darah besar, yang menyebabkan penyempitan
lumen dan kekakuan dinding pembuluh darah dan mengakibatkan terjadinya
peningkatan tekanan darah sistolik (Kamso 2000; Depkes 2007).
2. Jenis kelamin
Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria
diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan tekanan
darah dibandingkan dengan wanita (WHO 2001). Setelah menopause,
prevalensi hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang
diakibatkan oleh faktor hormonal (Bullock 1996).
Wanita yang belum menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang
sistem imun dan berperan dalam meningkatkan kadar High Density
Lipoproptein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang dtinggi merupakan faktor
pelindung dalam mencegah terjadinya aterosklerosis. Ketika memasuki
masa pemenopause, wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon
estrogen dan seiring dengan bertambahnya usia, hormon estrogen berubah
kuantitasnya secara alami. Proses ini akan terus berlanjut sehingga kadar
HDL menurun dan menyebabkan kemungkinan terjadinya aterosklerosis
semakin besar. Hal ini umumnya terjadi pada wanita usia 4555 tahun
(Kumar et al. 2005, diacu dalam Ananda 2011).
20

3. Ras
Kajian populasi menunjukan bahwa orang kulit hitam memiliki risiko
hipertensi dua kali lebih besar dibandingkan dengan orang kulit putih.
Tingkat keparahan dan kematian yang disebabkan oleh hipertensi juga lebih
tinggi pada orang kulit hitam. Hal tersebut terjadi diduga karena akses
terhadap pelayanan kesehatan yang lebih rendah, perbedaan genetik
dengan kulit putih, aspek psikososial dan atau karena faktor nutrisi (Bullock
1996).
4. Keturunan (genetik)
Genetik berperan dalam perkembangan hipertensi, yang tentunya juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan lainnya. Diduga peran genetik
dalam terjadinya hipertensi berkaitan dengan sensitivitas terhadap garam
yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal, sistem saraf simpatik, and lain-lain
(Luft & Weinberger 1997).
Jika kedua orang tua memiliki hipertensi primer, kecenderungan
hipertensi pada anaknya adalah satu dari dua anak. Jika salah satu dari
orang tua hipertensi, maka kecenderungannya satu dari tiga anak.
Sedangkan orang tua yang normotensi, kecenderungan hipertensi pada
anaknya adalah satu dari 20 anak (Bullock 1996). Hal ini sejalan dengan
dengan pernyataan Depkes RI (2006), bahwa meskipun tidak setiap
penderita hipertensi didapat dari garis keturunan, namun seseorang akan
memiliki potensi untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah
penderita hipertensi, terutama hipertensi primer (esensial). Bila kedua orang
tuanya menderita hipertensi maka sekitar 45% akan turun ke anak-anaknya
dan bila salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka sekitar
30% akan turun ke anak-anaknya.

b. Faktor yang dapat dikontrol


1. Status sosial ekonomi
Level tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi terdapat
pada golongan sosio ekonomi rendah selalu dapat ditunjukkan di negara-
negara yang berada pada tahap pasca peralihan perubahan ekonomi dan
epidemiologi. Akan tetapi, dalam masyarakat yang berada pada masa
peralihan, level tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi
ternyata terdapat pada golongan sosio ekonomi yang lebih tinggi. Hubungan
terbalik itu berkaitan dengan tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan
21

(WHO 2001). Pendapatan yang rendah diketahui menjadi penyebab yang


lebih besar terhadap kejadian hipertensi jika dibandingkan dengan faktor
risiko yang lainnya (Bullock 1996).
Menurut Gaudemaris et al. (2002) pada penduduk Perancis ditemukan
adanya hubungan antara jabatan rendah dalam pekerjaan dengan
prevalensi hipertensi yang tinggi dan rendahnya tingkat pengobatan penyakit
hipertensi. Pada perempuan selain dipengaruhi tingkat pekerjaan juga
dipengaruhi tingkat pendidikan yang rendah, dan pada laki-laki selain
dipengaruhi pekerjaan yang rendah juga dipengaruhi tingkat konsumsi
alkohol.
2. Kegemukan (obesitas)
Tubuh manusia terdiri dari berbagai komponen penyusun yang terdiri
dari tulang, otot, berbagai organ, cairan tubuh, dan lemak yang kesemuanya
akan menghasilkan berat badan. Secara normal beberapa komponen akan
mengalami perubahan seiring pertumbuhan tubuh, perkembangan
reproduksi, akibat latihan fisik, maupun akibat proses penuaan.
Penambahan berat badan bisa diakibatkan dari perubahan faktor-faktor
tersebut tetapi terutama akibat penumpukan lemak yang tersimpan dalam
sel lemak. Obesitas dapat disebabkan akibat sel lemak mengalami hipertrofi,
hiperplasi ataupun keduanya.
Pada semua golongan umur maupun etnis, kelebihan berat badan
adalah faktor utama yang mempengaruhi tekanan darah. Indeks Massa
Tubuh (IMT) 2529 kg/m2 mempunyai risiko 70% lebih besar terkena
hipertensi. Joint National Committee (1977) menunjukkan bahwa Indeks
Massa Tubuh (IMT) diatas 27 berhubungan dengan peningkatan tekanan
darah. Lingkar pinggang > 34 inci (86 cm) pada laki-laki dan 39 inci (99 cm)
pada perempuan diikuti dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit
kardiovaskuler lain (Myers 2004).
Menurut penelitian Wildman et al. (2005) yang dilakukan di Cina,
tekanan darah baik sistolik maupun diastolik meningkat seiring pertambahan
IMT dan lingkar pinggang. Sedangkan penelitian Nowson et al. (2005)
menyebutkan dengan Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH)
yang dimodifikasi disertai olah raga dengan intensitas sedang > 30 menit
setiap hari, dicapai penurunan berat badan 5 kg dalam waktu tiga bulan yang
diikuti dengan penurunan tekanan darah sistolik sebesar 5 mmHg dan
22

diastolik sebesar 4 mmHg bila dibandingkan diet rendah lemak yang biasa
dilakukan.

Tabel 4 Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (IMT)


2
Kriteria Kategori IMT (kg/m )
Underweight < 18,5
Normal 18,524,9
Overweight > 25
WHO Pre Obese 25,029,9
Obese I 30,034,9
Obese II 35,039,9
Obese III > 40,0
Underweight < 18,5
International Normal 18,522,9
Obesity Task Overweight > 23
Force (IOTF, Risiko obesitas 23,024,9
WHO) Obese I 25,029,9
Obese II > 30,0
Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,018,5
Depkes Normal 18,525,0
Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,027,0
Kelebihan berat badan tingkat berat > 27,0
Sumber: WHO (1998), IOTF-WHO (2000), Depkes (1994)

3. Psikososial dan stress


Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah,
dendam, takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal
melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat
serta lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika stress
berlangsung lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian
sehingga timbul perubahan patologis. Gejala yang muncul antara lain berupa
hipertensi atau penyakit maag (Depkes 2006).
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan adanya transaksi antara
individu dengan lingkungan sekitarnya yang mendorong seseorang untuk
mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan sumber
daya (biologis, psikologis, dan sosial) yang ada pada diri seseorang
(Damayanti 2003, diacu dalam Depkes 2006). Peningkatan darah akan lebih
besar pada individu yang mempunyai kecenderungan stress emosional yang
tinggi (Pinzon 1999, diacu dalam Depkes 2006). Hal ini sejalan dengan
pernyataan Simon (2002) bahwa seseorang yang mengalami stress, cemas
dan depresi mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk menderita
23

hipertensi dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami masalah


tersebut.
4. Merokok
Rokok merupakan salah satu penyebab terjadinya hipertensi, selain itu
juga sebagai salah satu faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular
(Bullock 1996). Di dunia, tembakau merupakan penyebab kelima penyakit
kardiovaskular. Merokok meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan
oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung. Oleh karena itu, merokok pada
penderita hipertensi akan semakin meningkatkan risiko kerusakan pada
pembuluh darah arteri (Depkes 2006).
Data Depkes menyebutkan bahwa pada tahun 2002 konsumsi rokok di
Indonesia menempati urutan ke lima diantara sepuluh negara dengan
konsumsi rokok tertinggi dengan trend yang meningkat selama periode
19702000 sebesar 7 kali lipat, yaitu 23 milyar batang pada tahun 1970
menjadi 217 milyar batang pada tahun 2000.
Nikotin dan gas monoksida (CO) adalah dua bahan penting dalam asap
rokok yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskular. Asap rokok
mengandung sekitar 0,5% sampai 3% nikotin, dan jika dihisap maka kadar
nikotin dalam darah akan berkisar antara 40-50 mg/ml. Nikotin di dalam
rokok melepaskan zat cathecolamins yang dapat meningkatkan tekanan
darah dan zat lainnya yang dapat mengganggu jantung, membuat irama
jantung menjadi tidak teratur, mempercepat aliran darah, menimbulkan
kerusakan lapisan dalam pembuluh darah dan menimbulkan penggumpalan
darah. Sedangkan CO memiliki kemampuan yang jauh lebih kuat daripada
sel darah merah dalam hal menarik atau menyerap oksigen, sehingga
menurunkan kapasitas darah merah tersebut untuk membawa oksigen ke
jaringan-jaringan, termasuk jantung (Soeharto 2000).
5. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik memiliki konsep yang lebih luas dari olah raga dan dapat
didefinisikan sebagai pergerakan otot yang menggunakan energi. Aktivitas
fisik berpengaruh secara langsung terhadap tekanan darah karena latihan
fisik dapat mempengaruhi tekanan darah dengan menormalkan proses-
proses tubuh lainnya (Hull 1996). Aktivitas fisik atau olah raga merupakan
bentuk pemberian rangsang berulang pada tubuh. Tubuh akan beradaptasi
24

jika diberi rangsangan secara teratur dengan takaran dan waktu yang tepat
(Depkes 2007).
Latihan aerobik dengan intensitas ringan sampai sedang, seperti jalan
atau berenang secara teratur sekitar 3045 menit selama 34 kali dalam
seminggu dapat menurunkan hipertensi sekitar 48 mmHg dan risiko
kematian akibat penyakit jantung koroner sebesar 30% dibandingkan
dengan individu yang sedentary. Hal ini diduga karena latihan
mengakibatkan penurunan tekanan darah dan meningkatkan HDL kolesterol
(Chalmers et al. 1999).
6. Konsumsi alkohol berlebih
Konsumsi alkohol yang berlebihan akan meningkatkan kejadian penyakit
kardiovaskular dan terjadinya hipertensi. Orang yang mengkonsumsi alkohol
setiap hari akan menyebabkan tekanan darah sistolik naik sekitar 6,6 mmHg
dan tekanan darah diastolik sekitar 4,7 mmHg dibandingkan dengan
peminum sekali seminggu, berapa pun jumlah total yang diminum setiap
minggunya (WHO 2001).
Konsumsi alkohol berlebihan di negara barat seperti Amerika
berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi. Sekitar 10% hipertensi di
Amerika disebabkan oleh asupan alkohol yang berlebihan di kalangan pria
separuh baya. Akibatnya, kebiasaan meminum alkohol ini menyebabkan
terjadinya hipertensi sekunder di kelompok usia ini (Depkes 2006)
7. Konsumsi kopi
Kopi disebut-sebut sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan
hipertensi. Kopi mengandung kafein yang merupakan stimulan ringan yang
dapat mengatasi kelelahan, meningkatkan konsentrasi dan menggembirakan
suasana hati. Kopi merupakan sumber kafein terbesar, konsumsi kafein
yang terlalu banyak akan membuat jantung berdegup lebih cepat dan
tekanna darah meningkat. Kafein dalam 23 cangkir kopi (200250 mg)
terbukti dapat meningkatkan tekanan sistolik sebesar 314 mmHg dan
tekanan diastolik sebesar 413 mmHg. Kafein bukan termasuk zat gizi,
tetapi secara nyata menyebabkan naiknya tekanan darah dalam waktu
singkat untuk kemudian kembali normal (Khomsan 2004). Mengkonsumsi
kopi pada penderita hipertensi akan membahayakan karena meningkatkan
risiko terjadinya stroke dan meningkatkan ekskresi kalsium yang akan
berakibat peningkatan tekanan darah (Simon 2002).
25

8. Konsumsi garam (natrium) berlebih


Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena menarik
cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan
volume dan tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus hipertensi primer
(esensial) terjadi respons penurunan tekanan darah dengan mengurangi
asupan garam. Pada masyarakat yang mengkonsumsi garam 3 gram atau
kurang, ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada
masyarakat asupan garam sekitar 78 gram memiliki tekanan darah yang
lebih tinggi (Depkes 2006).
Pada umumnya manusia mengkonsumsi natrium (Na +) melebihi
kebutuhannya, sehingga mengurangi asupan Na+ dapat menurunkan
tekanan darah pada pasien hipertensi esensial (Garrow 1996, diacu dalam
Yuliarti 2007). Kadar natrium darah diatur oleh ginjal yaitu oleh hormon
aldosteron, yang mengatur keseimbangan air dan garam dalam tubuh.
Recommended Daily Intake (RDI) untuk natrium adalah 9202300 mg per
hari. Menurut Scottish Intercollegiate Guideline Network (SIGN) penurunan
konsumsi garam dari 10 mg menjadi 5 gram dapat menurunkan TDS
sebesar 5 mmHg dan TDD sebesar 3 mmHg pada penderita hipertensi usia
lanjut (SIGN 2001, diacu dalam Yuliarti 2007).
9. Hiperlipidemia/hiperkolesterolemia
Hiperlipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid (lemak) yang
ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol
LDL dan/atau penurunan kadar kolesterol HDL dalam darah. Kolesterol
merupakan faktor penting dalam terjadinya aterosklerosis yang
mengakibatkan peninggian tahanan perifer pembuluh darah sehingga
tekanan darah meningkat (Depkes 2006)

Patofisiologi Hipertensi
Progresifitas hipertensi pada usia 1030 tahun dimulai dari prehipertensi
(meningkatnya curah jantung), kemudian menjadi hipertensi stadium awal pada
usia 2040 tahun (dimana ketahanan perifer meningkat), kemudian menjadi
hipertensi pada usia 3050 tahun dan akhirnya menjadi hipertensi dengan
komplikasi pada usia 4060 tahun (Sharma et al. 2008; diacu dalam Ananda
2011).
Mekanisme terjadinya hipertensi dimulai dengan terbentuknya angiotensin
II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE
26

memegang peranan fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah


mengandung angiotensinogen yang diproduksi di dalam hati. Selanjutnya
angiotensinogen akan diubah menjadi angiotensin I oleh hormon renin yang
diproduksi oleh ginjal. Kemudian angiotensin I diubah menjadi angiotensin II oleh
ACE yang terdapat di paru-paru. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan
kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah dengan meningkatkan rasa haus dan sekresi
antidiuretic hormone (ADH). ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari)
dan bekerja pada ginjal untuk mengatur kekentalan dan volume urin.
Meningkatnya ADH diiukuti dengan jumlah urin yang dieksresikan ke luar tubuh
sangat sedikit (anti diuresis) sehingga osmolalitasnya menjadi pekat dan tinggi.
Untuk mengencerkannya, cairan dari bagian intraseluler ditarik untuk
meningkatkan volume cairan ekstraseluler. Mekanisme ini menyebabkan volume
darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah
(Muhaimin 2008; diacu dalam Ananda 2011).
Aksi kedua adalah dengan menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks
adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting
pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan
mengurangi eksresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorbsinya dari tubulus
ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara
meningkatkan volume cairan ekstraseluler. Inilah yang kemudian akan
meningkatan volume dan tekanan darah (Muhaimin 2008; diacu dalam Ananda
2011).

Tanda dan Gejala Klinis Hipertensi


Pada pemeriksaan fisik mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain
tekanan darah yang tinggi, maka dari itu pada umumnya sebagian besar
penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan khusus dan tidak mengetahui
bahwa dirinya menderita hipertensi. Keluhan-keluhan yang tidak spesifik yang
umum dialami oleh seseorang yang mengalami tekanan darah tinggi/hipertensi
antara lain: sakit kepala yang khas terjadi pada bangun tidur di pagi hari dan
akan berkurang ketika siang hari (Tierney et al. 2002, diacu dalam Sumaerih
2007), gelisah, jantung berdebar, pusing, penglihatan kabur, rasa sakit didada,
sukar tidur/insomnia, telinga berdengung, mudah marah, rasa berat di tengkuk,
mata berkunang-kunang, lesu dan mudah lelah (Mansjoer et al. 2002, diacu
dalam Sumaerih 2007; Depkes 2006). Sedangkan gejala akibat komplikasi
27

hipertensi pada organ target seperti ginjal, mata, otak dan jantung antara lain
ganngguan penglihatan, gangguan saraf, gangguan jantung, gangguan fungsi
ginjal, dan gangguan serebral/otak yang mengakibatkan kejang dan perdarahan
pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran
hingga koma (Depkes 2006).
28

KERANGKA PEMIKIRAN

Trend proporsi penyebab kematian telah bergeser dari penyakit menular ke


penyakit tidak menular yang merupakan penyakit akibat gaya hidup, modernisasi
serta penyakit-penyakit degeneratif. Salah satu yang termasuk penyakit tidak
menular adalah penyakit yang disebabkan oleh peningkatan tekanan darah.
Tekanan darah tinggi/hipertensi adalah faktor risiko ketiga terbesar penyebab
kematian dini. Penyakit ini dipengaruhi oleh cara dan kebiasaan hidup sesorang
dan sering disebut sebagai the killer disease. Seseorang biasanya datang untuk
berobat setelah timbul kelainan organ akibat hipertensi. Maka dari itu perlu
diperhatikan faktor-faktor risiko penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah.
Pada umumnya faktor risiko hipertensi dikelompokan menjadi dua yaitu,
faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat diubah. Usia, jenis kelamin,
genetik/keturunan merupakan faktor yang tidak dapat diubah. Pada usia muda
dan setengah baya, hipertensi lebih banyak menyerang pria daripada wanita,
namun memasuki usia 65 tahun, penderita hipertensi lebih banyak ditemukan
pada kelompok wanita, hal ini diakibatkan oleh faktor hormonal.
Perilaku tidak sehat seperti merokok, diet rendah serat, kurang aktivitas
gerak, kegemukan, konsumsi alkohol, hiperlipidemia/hiperkolesterolemia, stress
dan konsumsi garam berlebih sangat erat berhubungan dengan kejadian
hipertensi yang masih dapat diubah. Satu lagi perilaku tidak sehat yang masih
dapat diubah yaitu konsumsi kopi yang berlebihan. Meskipun beberapa hasil
penelitian menyatakan ketidakkonsistenan mengenai efek kopi dengan tekanan
darah, namun hal tersebut masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan, karena
beberapa efek kafein yang terkandung dalam kopi menyebabkan kerja jantung
dan pembuluh darah menjadi berlebihan yang bersamaan dengan peningkatan
denyut jantung, hal ini secara tidak langsung dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah.
29

Gaya Hidup

Aktivitas Konsumsi Konsumsi


Merokok Stress
fisik/olah raga alkohol garam
(Natrium)

Karakteristik Contoh dan Keluarga:


Usia
Jenis kelamin
Tekanan Darah:
Jumlah pendapatan contoh dan anggota
Normal
keluarga
Tekanan Darah Tinggi / Hipertensi
Jumlah pengeluaran minuman (kopi)
Riwayat penyakit keluarga dan contoh
Status Gizi (IMT) contoh

Efek Minum Kopi:

Pola Konsumsi Kopi: Efek Negatif:


Jenis Sakit kepala
Jumlah Jantung berdetak lebih
Frekuensi cepat
Ketagihan
Waktu/saat minum
Lama minum Sering buang air kecil
Gangguan lambung

Efek Positif:
Rasa kantuk berkurang
Lebih bugar
Rasa lelah berkurang
Keterangan : Mudah konsentrasi
Lebih tenang
= Variabel yang diteliti
= Variabel yang tidak diteliti
= Hubungan variabel yang diteliti
= Hubungan variabel yang tidak diteliti

Gambar 1 Kerangka Pemikiran Penelitian


30

DEFINISI OPERASIONAL

Populasi adalah seluruh pasien laki-laki dan perempuan pengunjung Puskesmas


Bogor Tengah.
Contoh adalah pasien laki-laki dan perempuan pengunjung lama Puskesmas
Bogor Tengah yang berusia 2560 tahun dan bersedia untuk dilibatkan
dalam penelitian.
Karakteristik contoh adalah identitas pribadi contoh yang meliputi nama
lengkap, jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, besar pendapatan,
besarnya pengeluaran minuman (kopi), berat badan, dan tinggi badan.
Berat badan adalah ukuran berat seseorang yang diukur dengan cara
antropometri menggunakan timbangan injak dalam skala kilogram (kg).
Tinggi badan adalah ukuran tinggi seseorang yang diukur dengan cara
antropometri menggunakan microtoise dalam skala sentimeter (cm).
Kopi adalah bahan penyegar yang biasanya disajikan dalam bentuk minuman
yang dipersiapkan dari biji tanaman kopi yang telah dipanggang.
Kopi hitam/bubuk adalah kopi yang tidak mudah larut jika diseduh dengan air
panas dan meninggalkan sisa ampas kopi.
Kopi Instan adalah kopi yang bersifat mudah larut (soluble) jika diseduh dengan
air panas tanpa meninggalkan sisa ampas kopi.
Konsumsi kopi adalah jumlah rata-rata kopi yang dikonsumsi oleh contoh per
hari.
Jenis adalah macam kopi yang biasa dikonsumsi contoh minimal dalam 1 bulan
terakhir.
Frekuensi adalah seberapa sering contoh meminum kopi (hari/minggu dan
kali/hari).
Jumlah kopi adalah banyaknya sendok atau bungkus kopi yang biasa
dikonsumsi contoh pada sekali minum.
Waktu minum adalah situasi/saat contoh mengkonsumsi kopi.
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah
ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia.
Tekanan darah sistolik adalah tekanan yang terjadi saat jantuk berkontraksi
memompa darah.
Tekanan darah diastolik adalah tekanan saat jantung relaks dan darah mengalir
ke dalam jantung
Hipertensi adalah keadaan di mana tekanan darah seseorang 140/90 mmHg.
31

METODE PENELITIAN

Desain, Waktu, dan Tempat


Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen menggunakan desain
Case Control Study dengan perbandingan antara kasus dan kontrol adalah 1:1.
Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan MeiJuni 2012 di
Puskesmas Bogor Tengah. Adapun pemilihan tempat lokasi penelitian dilakukan
secara purposive dengan pertimbangan adanya kemudahan akses untuk
mendapatkan responden.

Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh


Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien rawat jalan pengunjung
Puskesmas Bogor Tengah pada bulan MeiJuni 2012 berjumlah 5743 orang.
Contoh dalam penelitian ini adalah pasien rawat jalan pengunjung lama
Puskesmas Bogor Tengah yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Usia contoh berkisar antara 2560 tahun.
2. Berjenis kelamin laki-laki dan atau perempuan
3. Tidak sedang hamil maupun menyusui bagi wanita
4. Memiliki tekanan darah 120/80 mmHg untuk contoh kelompok kontrol
sedangkan contoh kelompok kasus memiliki tekanan darah >140/>90
mmHg berdasarkan diagnosa dokter minimal satu bulan terakhir.
5. Bersedia menjadi contoh dalam penelitian yang ditunjukkan dengan
penandatanganan informed consent.
Perkiraan jumlah contoh minimal yang akan digunakan dalam penelitian ini
dihitung dengan menggunakan rumus (Sastroasmoro & Sofyan 2010) sebagai
berikut:

Keterangan:
n : besar contoh
Z : tingkat kemaknaan 95% (1,96)
Z : kekuatan uji 80% (0,84)
P0 : estimasi proporsi individu yang tidak terpapar hipertensi (11,1%)
P1 : estimasi proporsi individu yang terpapar hipertensi (29,4%) (Depkes 2007)
R : odds ratio (3,35) (Ngateni 2009)
32

berdasarkan rumus diatas maka perkiraan jumlah contoh diperoleh sebagai


berikut:

Berdasarkan perhitungan dan desain kasus kontrol dengan perbandingan


1:1 maka perkiraan jumlah contoh dalam penelitian ini adalah 75 contoh setiap
kelompok, dimana 75 contoh kelompok kontrol dan 75 contoh kelompok kasus.
Penarikan contoh dilakukan selama 2 bulan dan didapatkan calon contoh kontrol
yang mememenuhi kriteria sebanyak 100 orang namun yang bersedia menjadi
contoh adalah 90 orang. Sedangkan calon contoh kelompok kasus yang
memenuhi kriteria sebanyak 85 orang namun yang bersedia menjadi contoh
adalah 80 orang. Maka ditetapkan 80 contoh kasus dan 80 contoh kontrol,
sehingga total contoh dalam penelitian ini adalah 160 orang.

Jenis dan Cara Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini digolongkan menjadi dua yaitu
data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data karakteristik contoh
(umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jumlah pendapatan), status gizi
dengan menggunakan data berat badan dan tinggi badan, pola konsumsi kopi
(jenis, frekuensi, waktu dan jumlah), riwayat penyakit dan tekanan darah (Tabel
5).
Data berat badan diukur dengan menggunakan timbangan injak yang
memiliki ketelitian 0,1 kg, diusahakan contoh dalam keadaan tanpa
menggunakan alas kaki dan pakaian seminimal mungkin. Tinggi badan diukur
dengan menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm, usahakan lantai yang
digunakan dalam keadaan rata dan posisi antara lantai dengan dinding tempat
menempelkan microtoise memiliki kemiringan 90.
Pengumpulan data mengenai pola konsumsi contoh diukur dengan 15
pertanyaan mengenai jenis kopi, frekuensi minum kopi, waktu minum kopi, dan
jumlah kopi yang diminum yang didapat dari hasil wawancara pengisian
kuesioner. Data jenis kopi dikumpulkan dengan menanyakan jenis kopi yang
biasa dikonsumsi contoh. Frekuensi minum kopi contoh dikumpulkan dengan
menanyakan berapa kali contoh mengkonsumsi kopi dalam satu hari. Waktu
minum kopi contoh dikumpulkan dengan menanyakan kapan contoh biasa
33

mengkonsumsi kopi. Data jumlah kopi dikumpulkan dengan menanyakan berapa


sendok/bungkus/kaleng kopi yang contoh konsumsi dalam satu kali minum kopi.
Data pola konsumsi kopi pada kelompok kasus dilihat sebelum dan setelah
contoh didiagnosa hipertensi. Hal tersebut dilakukan untuk melihat perbedaan
konsumsi kopi contoh baik sebelum hipertensi maupun setelah hipertensi.

Tabel 5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data


Cara
Alat Pengumpul
No Variabel Jenis Data Pengumpulan
Data
Data
1. Karakteristik Umur, jenis kelamin, Wawancara Kuesioner
contoh tingkat pendidikan dan langsung
jumlah pendapatan.
Status gizi Berat badan dan tinggi Penimbangan Timbangan injak dan
badan dan pengukuran microtoise
langsung
2. Tekanan darah Tekanan darah sistolik Pengukuran Sphygmomanometer
dan tekanan darah langsung oleh manual
diastolik tenaga kesehatan
3. Riwayat Riwayat penyakit Wawancara Kuesioner
penyakit contoh contoh dan keluarga langsung
dan keluarga yang terkait dengan
tekanan darah
4. Pola konsumsi Jenis kopi, jumlah kopi Wawancara Kuesioner
kopi yang diminum, langsung
frekuensi minum kopi
dan waktu minum kopi
5. Gambaran Data lokasi penelitian, Laporan tahunan Laporan tahunan
lokasi penelitian keadaan lingkungan Puskesmas Puskesmas Bogor
puskesmas, dan data Bogor Tengah Tengah 2011
demografi puskesmas 2011
Pengumpulan data tekanan darah contoh dilakukan oleh tenaga kesehatan
dengan menggunakan alat sphygmomanometer air raksa. Contoh dipersilahkan
duduk bersandar dengan tenang pada kursi tempat duduk, kemudian diberi
waktu istirahat 5 menit dan setelah terlihat tenang, pengukuran tekanan darah
dimulai Pengukuran dilakukan sebanyak minimal 2 kali dengan interval waktu
5 menit, jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding
pengukuran pertama, maka dilakukan pengukuran ke tiga. Dua data pengukuran
dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tekanan darah
(Depkes 2007).
Data riwayat penyakit contoh dan keluarga dekat yang terkait dengan
tekanan darah diperoleh melalui hasil wawancara dengan menggunakan
kuesioner. Data sekunder berupa profil Puskesmas Bogor Tengah akan
diperoleh dari laporan tahunan puskesmas serta hasil pengamatan langsung
terhadap lokasi penelitian.
34

Pengolahan dan Analisis Data


Tahapan pengolahan data dimulai dari pemberian kode, entri data,
pengeditan data, cleaning data, dan selanjutnya dianalisis. Analisis data diolah
dengan menggunakan program computer Microsoft Excel 2007 dan Statistical
Program for Social Sciences (SPSS) versi 16.0 for Windows.
Data karakteristik contoh tentang umur dikelompokkan berdasarkan AKG
(2004) yaitu 1929 tahun, 3049 tahun dan 50 tahun. Jenis kelamin
dikelompokkan menjadi dua yaitu laki-laki dan perempuan. Data sosial ekonomi
yang meliputi tingkat pendidikan formal contoh dikelompokkan menjadi lima yaitu
tidak tamat SD, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, tamat Akademi/Perguruan
Tinggi (PT); data pendapatan dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan nilai rata-
rata pendapatan contoh yaitu Rp1.862.2201.185.304/bulan kemudian
deibandingkan dengan Upah Minimum Kota Bogor (UMK) tahun 2012 yaitu
Rp1.174.200.
Status gizi contoh berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:

Status gizi berdasarkan IMT kemudian dikategorikan menjadi lima menurut


standar International Obesity Task Force (IOTF, WHO) (2000) untuk Asia Pasifik
yaitu status gizi underweight (BB kurang) bila nilai IMT < 18,5 kg/m2, status gizi
normal bila nilai IMT 18,522,9 kg/m2, status gizi lebih berisiko obesitas bila nilai
IMT 23,024,9 kg/m2, status gizi obesitas I bila nilai IMT 25,029,9 kg/m2, dan
status gizi obesitas II bila nilai IMT 30 kg/m2.
Pola konsumsi kopi contoh diukur dengan 15 pertanyaan mengenai jenis
kopi, frekuensi minum kopi, waktu minum kopi dan jumlah kopi yang diminum.
Data mengenai jenis kopi yang diminum contoh dikelompokkan menjadi dua yaitu
kopi hitam/bubuk/tubruk dan kopi instan. Frekuensi minum kopi contoh
dikategorikan menjadi empat yaitu 0 cangkir/minggu, 17 cangkir/minggu, 814
cangkir/minggu, dan 15 cangkir/minggu. Data waktu/situasi minum kopi contoh
dikelompokkan berdasarkan jawaban contoh, yaitu pagi hari, siang hari, dan atau
sore/malam hari. Jumlah kopi bubuk/hitam yang dikonsumsi contoh pada sekali
minum dikategorikan menjadi tiga yaitu 0 sdt, 13 sdt dan > 4 sdt rendah,
sedangkan untuk kopi instan dikelompokkan menjadi 2 yaitu 0 bks dan 1 bks.
35

Data mengenai tekanan darah contoh meliputi tekanan darah sistolik dan
tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik akan dikategorikan menjadi
empat berdasarkan JNC 7 (2003) yaitu, normal jika tekanan darah sistolik < 120
mmHg, pre hipertensi jika tekanan darah sistolik 120139 mmHg, hipertensi I jika
tekanan darah sistolik 140159 mmHg, dan hipertensi II jika tekanan darah
sistolik 160 mmHg. Tekanan darah diastolik akan dikategorikan menjadi empat
berdasarkan JNC 7 (2003) yaitu normal jika tekanan darah diastolik < 80 mmHg,
pre hipertensi jika tekanan darah diastolik 8089 mmHg, hipertensi I jika tekanan
darah diastolik 9099 mmHg, dan hipertensi II jika tekanan darah diastolik 100
mmHg. Riwayat penyakit contoh dan keluarga contoh akan dikelompokkan
berdasarkan jenis penyakitnya yaitu hipertensi, jantung, hiperkolesterolemia,
obesitas, diabetes melitus, ginjal, dan stroke.
Data yang terkumpul akan dianalisa secara deskriptif dan inferensial.
Analisa secara deskriptif dilakukan untuk menghitung sebaran contoh
berdasarkan karakteristik contoh, tekanan darah dan riwayat penyakit, serta pola
konsumsi kopi pada masingmasing kelompok contoh. Perhitungan Odds Ratio
(OR) menggunakan uji Chi Square dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
frekuensi konsumsi kopi terhadap kejadian hipertensi, sedangkan uji beda
menggunakan uji Independent sample T-test dan Mann Whitney. Interpretasi
odds ratio adalah sebagai berikut:
a. OR = 1, estimasi bahwa tidak ada hubungan antara faktor risiko dengan
kejadian penyakit/outcome;
b. OR > 1, estimasi bahwa ada hubungan positif antara faktor risiko dengan
kejadian penyakit/outcome;
c. OR < 1, estimasi bahwa ada hubungan negatif antara faktor risiko dengan
kejadian penyakit/outcome.
36

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Puskesmas Bogor Tengah merupakan salah satu dari 5 (lima) puskesmas
yang ada di Kecamatan Bogor Tengah, terletak di Jalan Telepon no. 1 Kelurahan
Pabaton Kecamatan Bogor Tengah. Secara geografi, dari 11 kelurahan yang ada
di Kecamatan Bogor Tengah, lingkup wilayah kerja Puskesmas Bogor Tengah
meliputi 2 kelurahan, yaitu Kelurahan Cibogor dengan luas 44 ha dan Kelurahan
Pabaton dengan luas 63 ha, sehingga total luas wilayah 107 ha. Namun secara
operasional cakupan pelayanannya tidak terbatas pada wilayah geografi tersebut.
Batas wilayah kerja Puskesmas Bogor Tengah adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kelurahan Tanah Sereal
- Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kelurahan Sempur
- Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Panaragan/Paledang
- Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kelurahan Ciwaringin
Letak Puskesmas Bogor Tengah cukup strategis, berada di tengah Kota
Bogor dan mudah dijangkau. Wilayah kerja Puskesmas Bogor Tengah adalah
berupa tanah daratan di mana sebagian besar lahan tersebut merupakan areal
perkantoran, pemukiman penduduk, sarana pendidikan, perdagangan dan jasa.
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Bogor Tengah pada akhir
tahun 2011 sebesar 10.233 jiwa yang tersebar di dua kelurahan yaitu Kelurahan
Cibogor sebanyak 7414 jiwa dan Kelurahan Pabaton sebanyak 2819 jiwa.
Sebanyak 42,53% penduduk di wilayah kerja Puskesmas Bogor Tengah bekerja
sebagai buruh.
Jumlah SDM yang bertugas di Puskesmas Bogor Tengah dan Balai
Pengobatan Pemda (BP Pemda) sebanyak 31 karyawan yang terdiri dari dokter
umum (4 orang), dokter gigi (3 orang), bidan (4 orang), perawat umum (6 orang),
perawat gigi (1 orang), tenaga analis kesehatan (1 orang), tenaga radiologi (1
orang), tenaga farmasi (1 orang), tenaga gizi (1 orang), tenaga kesehatan
lingkungan (1 orang), tenaga promosi kesehatan (1 orang), pekarya (1 orang),
SMK (2 orang), dan SMA (5 orang).
Puskesmas Bogor Tengah memiliki beberapa fasilitas pelayanan rawat
jalan yang terdiri dari poli umum, poli gigi, pelayanan KIA-KB dan imunisasi,
pelayanan spesialis anak, pelayanan spesialis penyakit dalam, klinik Infeksi
Menular Seksual (IMS), klinik Program Kesehatan Peduli Remaja (PKPR),
pelayanan Voluntary Counseling Test (VCT) HIV/Aids, pelayanan konsultasi gizi,
37

pelayanan konseling kesehatan lingkungan, pelayanan konseling merokok serta


fasilitas pelayanan rawat inap berupa rumah bersalin yang melayani persalinan
24 jam. Selain itu, Puskesmas Bogor Tengah juga memiliki beberapa fasilitas
penunjang yaitu laboratorium klinik, pelayanan radiologi dan pemeriksaan USG
ibu hamil. Total kunjungan pasien pada akhir bulan Desember 2011 sebanyak
63.127 orang, dan yang datang ke BP Umum sendiri sebanyak 35.367 orang
(56,02%).
Sebagian besar pasien yang mengunjungi puskesmas Bogor Tengah
menderita penyakit ISPA, faringitis dan hipertensi. Secara keseluruhan, lima
kelompok besar penyakit di Kota Bogor dan Kunjungan Puskesmas Bogor
Tengah Tahun 2011 tersaji pada Tabel 6.

Tabel 6 Lima kelompok besar penyakit di Kota Bogor dan Puskesmas Bogor
Tengah tahun 2011
Kota Bogor 2011 Puskesmas Bogor Tengah 2011
No. Jenis Penyakit n No. Jenis Penyakit n
1 ISPA Tidak Spesifik 7296 1 ISPA Tidak Spesifik 9829
2 ISPA Lainnya 3402 2 ISPA Lainnya 4467
3 Hipertensi 2457 3 Faringitis 3409
4 Faringitis 2405 4 Hipertensi 3302
5 Gastritis/Tukak Lambung 2040 5 Gastritis/Tukak Lambung 2722

Karakteristik Contoh
Contoh pada penelitian adalah pasien rawat jalan Puskesmas Bogor
Tengah yang berjumlah 160 contoh yang terdiri dari 80 contoh pada kelompok
kontrol dan 80 contoh pada kelompok kasus. Contoh pada kelompok kasus
adalah contoh yang berusia 2560 tahun, memiliki tekanan darah 140/90
mmHg, didiagnosa dokter memiliki hipertensi minimal satu bulan terakhir, dan
tidak sedang hamil ataupun menyusui bagi calon contoh perempuan. Sedangkan
contoh pada kelompok kontrol adalah contoh dengan usia 2560 tahun, memiliki
tekanan darah 120/80 mmHg, dan tidak sedang hamil maupun menyusui bagi
calon contoh perempuan. Karakteristik contoh dari penelitian ini meliputi umur,
jenis kelamin, pendidikan dan besar pendapatan. Secara keseluruhan, variabel
karakteristik dari contoh penelitian tersaji dalam Tabel 7.
38

Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan karakteristik contoh


Karakteristik Kasus Kontrol
Kategori p
Sampel n % n %
Umur (tahun) 19 29 2 2,5 26 32,5
30 49 41 51,2 40 50,0
> 50 37 46,2 14 17,5 0,000*
Total 80 100,0 80 100,0
Rata-rata 48 8,15 38 10,40
Jenis Kelamin Laki-laki 12 15,0 22 27,5
Perempuan 68 85,0 58 72,5 0,054**
Total 80 100,0 80 100,0
Pendidikan Tidak tamat SD 6 7,5 3 3,8
Terakhir SD 20 25,0 7 8,8
SMP 19 23,8 13 16,2
0,000**
SMA 25 31,2 22 27,5
Akademi/PT 10 12,5 35 43,8
Total 80 100,0 80 100,0
Besar Kecil 15 18,8 9 11,2
Pendapatan Sedang 59 73,8 61 76,2
0,113**
Besar 6 7,5 10 12,5
Total 80 100,0 80 100,0
Status Gizi Underweight 2 2,5 10 12,5
Normal 18 22,5 45 56,2
Risiko obesitas 16 20,0 10 12,5
0,000**
Obesitas I 32 40,0 13 16,2
Obesitas II 12 15,0 2 2,5
Total 80 100,0 80 100,0
Keterangan: *uji bedaT-test; ** uji beda Mann Whitney

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar contoh berada pada


kelompok umur 3049 tahun (50,6%) baik pada kelompok kasus maupun
kelompok kontrol dengan rata-rata umur 43 10,50. Berdasarkan hasil uji beda t,
menunjukkan terdapat perbedaan umur antara contoh kelompok kasus dan
kelompok kontrol (p<0.05), dimana rata-rata umur contoh kelompok kasus
(488,15 tahun) lebih tinggi dibandingkan umur contoh kelompok kontrol
(3810,40 tahun). Hasil uji statistik menunjukkan contoh dengan umur 40 tahun
lebih berisiko 4,956 kali (95% CI: 2,40210,227; p<0,05) terhadap hipertensi
dibandingkan contoh dengan umur < 40 tahun. Menurut Depkes (2006), kejadian
hipertensi pada umumnya banyak terjadi saat usia muda yaitu berkisar 2030
tahun, dan akan terus meningkat dengan bertambahnya umur terutama setelah
usia 40 tahun. Risiko meningkatnya hipertensi seiring dengan pertambahan umur
merupakan akibat dari gaya hidup, bukan hanya akibat dari proses penuaan,
sehingga sangat mungkin untuk dilakukan pencegahan (Stamler dalam Krummel
2000).
39

Berdasarkan jenis kelaminnya, sebagian besar contoh pada penelitian ini


adalah perempuan (78,8%) baik pada kelompok kontrol maupun kelompok kasus.
Jumlah contoh perempuan pada kelompok kasus lebih banyak (85%) daripada
kelompok kontrol (72,5%). Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2001
menunjukkan bahwa proporsi hipertensi pada perempuan lebih tinggi, yaitu
sebesar 29% dibandingkan pada laki-laki (27%). Sejalan dengan itu, hasil Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) (2004), menemukan proporsi hipertensi yang
lebih tinggi pada perempuan (15,5%) dibandingkan laki-laki (12,2%). Hasil
Riskesdas tahun 2007, menyebutkan proporsi hipertensi pada perempuan lebih
tinggi (9,0%) daripada laki-laki (6,1%).
Jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya hipertensi. Pada usia muda dan
setengah baya, penderita hipertensi lebih banyak pada laki-laki daripada
perempuan. Hal ini diduga karena laki-laki memiliki gaya hidup yang cenderung
dapat meningkatkan tekanan darah. Namun setelah memasuki masa menopause,
prevalensi hipertensi pada perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki
yang diakibatkan oleh faktor hormonal. Sebelum menopause, perempuan
dilindungi oleh hormon esterogen, dimana efek perlindungannya dianggap
sebagai penjelasan adanya imunitas pada perempuan usia premenopause.
Hormon esterogen tersebut mengalami perubahan jumlah sesuai dengan umur
wanita, yang umumnya mulai terjadi pada wanita usia 4555 tahun (Kumar et al.
2005, diacu dalam Ananda 2011).
Tingkat pendidikan contoh dibedakan menjadi lima jenis, yaitu tidak tamat
SD, SD, SMP, SMA dan Akademi/PT. Berdasarkan Tabel 6, sebagian besar
contoh pada kelompok kontrol merupakan tamatan Akademi/Perguruan Tinggi
(43,8%) dan 3,8% contoh tidak tamat SD. Sebesar 31,2% contoh pada kelompok
kasus menamatkan pendidikannya hingga tingkat SMA, 25% merupakan tamatan
SD dan 7,5% contoh yang tidak tamat SD. Hasil uji beda menunjukkan adanya
perbedaan tingkat pendidikan akhir antara kelompok kasus dan kelompok kontrol
(p<0,05). Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan
perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang rendah akan mempersulit
seseorang atau masyarakat menerima dan mengerti pesan-pesan kesehatan
yang disampaikan sedangkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan
memudahkan seseorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan
mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya
dalam hal kesehatan dan gizi. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka
40

diharapkan akan semakin luas pengetahuan contoh serta semakin mudah dan
cepat untuk menerima berbagai informasi dari berbagai media khususnya
tentang gizi dan kaitannya dengan kesehatan (Notoatmodjo 2003).
Pendapatan dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan nilai ratarata
seluruh contoh, maka didapatkan ratarata pendapatan contoh sebesar
Rp1.862.2201.185.304/bulan. Pendapatan contoh masih lebih tinggi
dibandingkan Upah Minimum Kota Bogor (UMK) yaitu Rp 1.174.200.
Berdasarkan hasil penelitian, pendapatan contoh pada kelompok kontrol lebih
tinggi daripada kelompok kasus. Secara keseluruhan, sebagian besar
pendapatan contoh (75%) termasuk kategori sedang. Pendapatan yang rendah
merupakan salah satu penyebab kejadian hipertensi (Bullock 1996). Hasil uji
beda menunjukkan adanya tidak ada perbedaan jumlah pendapatan antara
kelompok kasus dan kelompok kontrol (p>0,05).
Salah satu pemeriksaan antropometri yang menilai status gizi adalah
Indeks Massa Tubuh (IMT). Melalui IMT, dapat diketahui apakah seseorang
mengalami kegemukan atau tidak. Pada penelitian ini, contoh dikatakan obesitas
jika IMTnya 23,0 kg/m2. Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian
besar contoh pada kelompok kontrol berstatus gizi normal yaitu sebesar 56,2%
sedangkan pada kelompok kasus, contoh yang berstatus gizi normal sebesar
22,5%. Contoh yang memiliki risiko obesitas lebih banyak terdapat pada
kelompok kasus daripada kelompok kontrol yaitu masing-masing sebesar 20%
dan 12,5%. Status gizi obesitas I dan II lebih banyak ditemukan pada contoh
kelompok kasus yaitu masing-masing sebesar 40% dan 15%. Hasil uji beda t
menunjukkan bahwa ada perbedaan status gizi contoh pada kelompok kasus dan
kontrol (p<0,05), serta contoh dengan status gizi obesitas (IMT 25,00 kg/m2)
lebih berisiko 5,296 kali terhadap hipertensi dibandingkan contoh dengan status
gizi normal (IMT 24,99 kg/m2). Berat badan dan IMT berhubungan secara
langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Status gizi
lebih maupun obesitas (kegemukan) merupakan kondisi yang menunjukkan
terjadinya penumpukan lemak tubuh yang melebihi batas normal.
Obesitas bukanlah penyebab hipertensi, namun prevalensi hipertensi pada
obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang
obesitas 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan dengan yang tidak obesitas. Hal
ini diperkuat dengan adanya temuan bahwa penderita hipertensi, sekitar 2033%
memiliki berat badan lebih (overweight) (Depkes 2006). Ada dugaan bahwa
41

peningkatan berat badan 10% dapat mengakibatkan tekanan darah sebesar


7mmHg. Wildman et al. (2005) yang melakukan penelitian di Cina, menemukan
peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik seiring pertambahan
IMT dan lingkar pinggang. Sedangkan penelitian Nowson et al. (2005)
menyatakan bahwa dengan diet DASH yang dimodifikasi disertai olah raga
dengan intensitas sedang > 30 menit setiap hari, mencapai penurunan berat
badan sebanyak 5 kg dalam waktu tiga bulan yang diikuti dengan penurunan
tekanan darah sistolik sebesar 5 mmHg dan diastolik sebesar 4 mmHg bila
dibandingkan diet rendah lemak yang biasa dilakukan.

Tekanan Darah dan Riwayat Penyakit


Tekanan Darah
Pada penelitian ini, pengukuran tekanan darah contoh dilakukan oleh
tenaga kesehatan dengan menggunakan sphygmomanometer air raksa.
Pengukuran dilakukan sebanyak minimal 2 kali dengan interval waktu 5 menit,
jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran
pertama, maka dilakukan pengukuran ke tiga. Dua data pengukuran dengan
selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tekanan darah (Depkes
2007).
Tabel 8 Distribusi hasil pengukuran tekanan darah contoh
Kasus Kontrol
Jenis Data Kategori p
n % n %
Tekanan Darah Normal 0 0,0 80 100,0
Sistolik Pre-Hipertensi 1 1,2 0 0,0
Hipertensi I 41 51,2 0 0,0
0,000**
Hipertensi II 38 47,5 0 0,0
Total 80 100 80 100
Rata-rata (mmHg) 157,4117,21 109,8110,45
Tekanan Darah Normal 4 5,0 80 100,0
Diastolik Pre-Hipertensi 1 1,2 0 0,0
0,000**
Hipertensi I 38 47,2 0 0,0
Hipertensi II 37 46,2 0 0,0
Total 80 100,0 80 100,0
Rata-rata (mmHg) 94,968,09 77,635,28
Keterangan: ** uji Mann Whitney

Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tekanan


darah sistolik dan diastolik antara contoh kelompok kasus dan kontrol (p<0,05),
dimana keseluruhan contoh kelompok kontrol memiliki tekanan darah sistolik dan
diastolik kategori normal, sedangkan contoh kelompok kasus pada umumnya
memiliki tekanan darah sistolik dan diastolik kategori hipertensi tingkat I yaitu
42

masing-masing sebesar 51,2% dan 47,2%. Tekanan darah sistolik kelompok


kasus rata-rata sebesar 157,4117,21 mmHg dan kelompok kontrol rata-rata
sebesar 109,8110,45 mmHg. Tekanan darah diastolik pada kelompok kasus
rata-rata sebesar 94,968,09 mmHg dan kelompok kontrol rata-rata sebesar
77,635,28 mmHg.
Tekanan darah sistolik berhubungan dengan tekanan dalam pembuluh
darah ketika jantung berkontraksi dan memompa darah. Tekanan darah diastolik
berhubungan dengan tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung dalam
kondisi istirahat setelah kontraksi. Peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau
diastolik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, penyakit ginjal, pengerasan
atau penggumpalan pembuluh darah (atherosclerosis), kerusakan mata dan
stroke (Susilo & Ari 2011). Setiap peningkatan tekanan darah sistolik 20 mmHg
dan/atau diastolik 10 mmHg meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular dua kali
lipat (Kusmana 2009).
Tekanan darah sistolik (TDS) akan meningkat sesuai dengan peningkatan
usia, akan tetapi tekanan darah diastolik (TDD) meningkat seiring dengan TDS
sampai usia 55 tahun, yang kemudian menurun oleh terjadinya proses kekakuan
arteri akibat aterosklerosis (Dhuha 2011). Pada waktu tidur malam hari tekanan
darah berada dalam kondisi rendah, sebaliknya tekanan darah dipengaruhi oleh
kegiatan harian sehingga bila semakin aktif seseorang maka semakin naik
tekanan darahnya.

Gambar 2 Klasifikasi tekanan darah berdasarkan kriteria JNC 7 (2003)


43

Tekanan darah sistolik contoh pada kelompok kontrol berkisar dari 80120
mmHg, sedangkan pada kelompok kasus berkisar antara 130210 mmHg.
Tekanan darah diastolik contoh pada kelompok kontrol berkisar dari 6080
mmHg, sedangkan pada kelompok kasus berkisar dari 70120 mmHg. Klasifikasi
tekanan darah contoh mengacu pada The Seventh Report of the Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure (JNC 7) (2003), berdasarkan klasifikasi tersebut, lebih dari separuh
contoh kelompok kasus memiliki tekanan darah kategori hipertensi tingkat I yaitu
sebesar 52,5% (Gambar 2). Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu
faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial
dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis (Susilo & Ari 2011).

Riwayat Penyakit Contoh dan Keluarga


Riwayat keluarga dekat yang menunjukkan adanya tekanan darah yang
tinggi merupakan faktor risiko paling kuat bagi seseorang untuk mengidap
hipertensi di masa datang, tentunya pada hipertensi primer (esensial). Faktor
keturunan dalam perkembangan hipertensi diduga berkaitan dengan sensitivitas
terhadap pengaturan garam dan rennin membran sel yang dapat mempengaruhi
fungsi ginjal dan sistem saraf simpatik (Luft & Weinberger 1997; Depkes 2006).
Secara keseluruhan sebaran riwayat penyakit contoh dan keluarga dapat dilihat
pada Tabel 9.
Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan riwayat penyakit contoh dan keluarga
Riwayat Kasus Kontrol
Kategori p
Penyakit n % n %
Riwayat Penyakit Jantung 4 5,0 1 1,2
Contoh Hiperkolesterolemia 7 8,8 2 2,5
Diabetes Melitus 3 3,8 1 1,2
Stroke 4 5,0 0 0,0 0,002**
Ginjal 0 0,0 0 0,0
Tidak ada 62 77,5 76 95,0
Total 80 100,0 80 100,0
Riwayat Ya 46 57,5 29 36,2
Hipertensi Tidak 34 42,5 51 63,8 0,007**
Keluarga Total 80 100,0 80 100,0
Riwayat Penyakit Jantung 6 7,5 3 3,8
Keluarga Hiperkolesterolemia 0 0,0 0 0,0
Diabetes Melitus 12 15,0 7 8,8
Stroke 4 5,0 4 5,0
0,172**
Ginjal 0 0,0 1 1,2
Jantung+DM 1 1,2 0 0,0
Tidak ada 57 71,2 65 81,2
Total 80 100,0 80 100,0
44

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan contoh kelompok


kontrol dan kasus tidak memiliki riwayat penyakit yang terkait dengan tekanan
darah (86,2%), namun terdapat 8,8% contoh kelompok kasus dan 2,5% contoh
kelompok kontrol memiliki riwayat hiperkolesterolemia. Hiperkolesterolemia
merupakan salah satu penyebab terjadinya hipertensi yang ditandai dengan
peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan/atau
penurunan kadar kolesterol HDL dalam darah. Kolesterol merupakan faktor
penting dalam terjadinya aterosklerosis yang mengakibatkan peningkatan
tahanan perifer pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat (Depkes
2006). Secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan antara riwayat
penyakit contoh pada kelompok kasus dan kontrol (p<0,05)
Berdasarkan Tabel 9 lebih dari separuh contoh kelompok kasus memiliki
riwayat hipertensi keluarga sebanyak 46 orang (57,5%) sedangkan pada
kelompok kontrol sebanyak 29 orang (36,2%) dan secara statistik terdapat
perbedaan riwayat hipertensi pada kelompok kasus dan kontrol (p<0,05).
Riwayat hipertensi keluarga sebagian besar berasal dari ibu yaitu sebesar 23,8%
dan 8,1% berasal dari kedua orang tua. Bullock (1996) menyatakan jika kedua
orang tua memiliki hipertensi primer, satu dari dua anaknya akan memiliki
kecenderungan menderita hipertensi. Jika salah satu dari orang tua menderita
hipertensi, maka kecenderungannya satu dari tiga anak, sedangkan orang tua
yang normotensi, kecenderungan hipertensi pada anaknya adalah satu dari 20
anak. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Depkes RI (2006) juga menjelaskan
bila kedua orang tua menderita hipertensi, maka sekitar 45% akan turun ke anak-
anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka
sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya.
Riwayat penyakit pada keluarga seperti penyakit kardiovaskular, diabetes
mellitus, hiperkolesterolemia, stroke dan penyakit ginjal menjadi salah satu faktor
risiko terjadinya hipertensi pada seseorang. Tabel 8 menunjukkan bahwa selain
riwayat hipertensi keluarga, baik contoh kelompok kasus maupun kelompok
kontrol memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus keluarga yaitu masing-masing
sebesar 15% dan 8,8%, dan secara statistik tidak terdapat perbedaan yang
signifikan antara riwayat penyakit keluarga pada contoh kelompok kasus dan
kontrol (p>0,05).
45

Pola Konsumsi Kopi


Kopi merupakan salah satu minuman yang paling populer dan dikonsumsi
oleh jutaan orang setiap hari. Hampir di seluruh dunia, banyak orang yang
mengonsumsi kopi. Finlandia, Jerman, Italia, dan Amerika adalah urutan negara
yang mengonsumsi kopi terbanyak. Jepang adalah negara di Asia yang paling
tinggi konsumsi kopinya, mencapai 3,80 kg/orang/tahun. Pola konsumsi kopi
masyarakat Indonesia berada di peringkat kedua sebesar 15% setelah teh (22%).
Minuman kopi mengandung banyak zat yang berbeda-beda, salah satu zat
yang menarik untuk diteliti adalah kafein. Efek kafein ini berkaitan dengan sistem
kardiovaskular karena mempengaruhi sistem saraf otonom dan pembuluh darah
(Mattioli 2007). Ada beberapa bukti risiko kesehatan dari konsumsi kafein, namun
banyak juga ditemukan bukti manfaat kesehatan pada orang dewasa jika
mengonsumsi dosis sedang kafein, seperti mengurangi risiko beberapa penyakit
kronis termasuk diabetes, parkinson, penyakit hati, kanker kolorektal, serta
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh (IFIC 2008). Peran tersebut menjadikan
kopi sebagai salah satu minuman fungsional (Esquivel & Victor 2012).

Pola Konsumsi Kopi Kelompok Kontrol


Tabel 10 menunjukkan bahwa lebih dari separuh jumlah contoh pada
kelompok kontrol mengonsumsi kopi yaitu 41 contoh (51,2%) dan 39 contoh
(48,8%) tidak mengonsumsi kopi. Sebanyak 14 contoh (17,5%) minum kopi saat
pagi hari dengan jenis kopi yang banyak dikonsumsi adalah kopi instan yaitu
33,8% dan 17% contoh mengonsumi kopi jenis hitam/bubuk. Merek kopi instan
yang banyak dikonsumsi contoh antara lain Good Day, Indocoffeemix, Luwak
White Koffie, ABC Mocca, Torabika Mocca, dan Torabika Cappuccino,
sedangkan untuk merek kopi hitam/bubuk yang banyak dikonsumsi contoh
antara lain Kapal Api, Liong Bulan, dan Cap Teko.
Sebanyak 37,5% contoh kontrol mengonsumsi kopi 17 cangkir/minggu
dan terdapat 1,2% contoh yang mengonsumsi kopi 15 cangkir/minggu. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa contoh yang mengonsumsi kopi hitam/bubuk
menggunakan takaran 13 sendok teh (sdt) kopi dalam satu cangkir sebanyak
13,8% dan 3,8% contoh menggunakan takaran 4 sdt, sedangkan untuk jenis
kopi instan, secara keseluruhan 22,8% contoh memilih 1 bungkus kopi dalam
satu cangkir kopi yang diminum.
46

Tabel 10 Pola konsumsi kopi pada kelompok kontrol


Pola Konsumsi Kopi n %
Kebiasaan Minum Kopi Ya 41 51,2
Tidak 39 48,8
Total 80 100,0
Waktu Minum Tidak Minum 37 46,2
Pagi 15 18,8
Siang 5 6,2
Sore/malam 9 11,2
Pagi+siang 3 3,8
Pagi+sore/malam 8 10,0
Siang+sore/malam 1 1,2
Pagi+siang+sore/malam 2 2,5
Total 80 100,0
Jenis Kopi Kopi Hitam 14 17,5
Kopi Instan 27 33,8
Tidak Minum 39 48,8
Total 80 100,0
Frekuensi Minum Kopi 0 39 48,8
(cangkir/minggu) 17 30 37,5
814 10 12,5
15 1 1,2
Total 80 100,0
Jumlah Kopi Hitam/Cangkir 0 sdt 66 82,5
1-3 sdt 11 13,8
> 4 sdt 3 3,8
Total 80 100,0
Jumlah Kopi Instan/Cangkir 0 bks 53 66,2
1 bks 27 22,8
Total 80 100,0

Pola Konsumsi Kopi Kelompok Kasus


Data pola konsumsi kopi pada kelompok kasus didapat berdasarkan
konsumsi kopi contoh sebelum dan setelah didiagnosa hipertensi. Hal tersebut
dilakukan untuk melihat perbedaan konsumsi kopi contoh baik sebelum
hipertensi maupun setelah hipertensi.
Tabel 11 menunjukkan bahwa jumlah contoh peminum kopi pada kelompok
kasus ada sebanyak 32 contoh (40%) dan berkurang 10% menjadi 24 contoh
(30%) setelah contoh didiagnosa hipertensi. Secara statistik menunjukkan
terdapat perbedaan kebiasaan minum kopi contoh sebelum dan setelah
didiagnosa hipertensi (p<0,05). Berkurangnya jumlah contoh yang minum kopi
setelah didiagnosa hipertensi diduga karena contoh mengikuti saran yang
diberikan oleh dokter untuk berhenti ataupun mengurangi konsumsi kopi. Secara
keseluruhan, sebagian besar contoh minum kopi saat pagi hari baik sebelum
47

contoh didiagnosa dan setelah didiagnosa hipertensi yaitu masing-masing 18,8%


dan 13,8%, serta sebanyak 1,2% contoh mengonsumsi kopi saat siang dan sore
hari. Jenis kopi yang banyak dikonsumsi contoh adalah kopi instan (17,5%)
dibandingkan dengan kopi hitam/bubuk (12,5%). Sebanyak 3,75% contoh
berpindah mengonsumsi kopi instan dari kopi hitam/bubuk setelah didiagnosa
memiliki hipertensi, secara statistik menunjukkan adanya perbedaan jenis kopi
yang dikonsumsi contoh sebelum dan setelah didiagnosa hipertensi (p<0,05).
Merek kopi instan yang sering dikonsumsi kontoh antara lain Indocoffeemix,
Luwak White Koffie, Good Day, Torabika Cappuccino, dan ABC Mocca,
sedangkan untuk merek jenis kopi hitam/bubuk yang banyak dikonsumsi contoh
antara lain Kapal Api, Liong Bulan, Keong Mas, dan Kopi AA.

Tabel 11 Pola konsumsi kopi pada kelompok kasus


Sebelum Setelah
Pola Konsumsi Kopi Hipertensi Hipetensi
n % n %
Kebiasaan Minum Kopi Ya 32 40,0 24 30,0
Tidak 48 60,0 56 70,0
Total 80 100,0 80 100,0
Waktu Minum Tidak Minum 48 60,0 56 70,0
Pagi 15 18,8 11 13,8
Siang 2 2,5 3 3,8
Sore/malam 2 2,5 2 2,5
Pagi+siang 3 3,8 2 2,5
Pagi+sore/malam 6 7,5 3 3,8
Siang+sore/malam 1 1,2 1 1,2
Pagi+siang+sore/malam 3 3,8 2 2,5
Total 80 100,0 80 100,0
Jenis Kopi Kopi Hitam 16 20,0 10 12,5
Kopi Instan 16 20,0 14 17,5
Tidak Minum 48 60,0 56 70,0
Total 80 100,0 80 100,0
Frekuensi Minum Kopi 0 48 60,0 56 70,0
(cangkir/minggu) 17 18 22,5 16 20,0
814 10 12,5 5 6,2
15 4 5,0 3 3,8
Total 80 100,0 80 100,0
Jumlah Kopi Hitam Yang 0 sdt 64 80,0 70 87,5
Diminum 1-3 sdt 15 18,8 10 12,5
> 4 sdt 1 1,2 0 0,0
Total 80 100,0 80 100,0
Jumlah Kopi Instan Yang 0 bks 64 80,0 66 82,5
Diminum 1 bks 16 20,0 14 17,5
Total 80 100,0 80 100,0
48

Berdasarkan hasil penelitian, persentase terbesar kebiasaan mengonsumsi


kopi contoh kelompok kasus adalah 17 cangkir/minggu kebiasaan ini menurun
dari 22,5% contoh sebelum didiagnosa hipertensi menjadi 20,0% contoh setelah
didiagnosa hipertensi. Takaran 13 sendok teh (sdt) kopi hitam/bubuk dalam satu
cangkir secara keseluruhan dipilih contoh baik sebelum didiagnosa hipertensi
maupun setelah didiagnosa hipertensi, yaitu masing-masing sebesar 18,8% dan
12,5%. Sebanyak 1,2% contoh yang menggunakan takaran > 4 sdt kopi
hitam/bubuk dalam satu cangkir kopi yang diminum. Sedangkan untuk jenis kopi
instan, baik sebelum maupun setelah contoh didiagnosa memiliki hipertensi
secara keseluruhan memilih satu bungkus kopi dalam satu cangkir kopi yang
diminum, yaitu masing-masing sebanyak 20% dan 17.5%.
Kopi merupakan salah satu sumber kafein terbesar yang menjadi salah
satu faktor penyebab hipertensi. Efek kafein dapat melebarkan pembuluh darah,
sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan membuat detak nadi semakin
cepat. Kafein dapat meningkatkan kadar plasma beberapa hormon stress seperti
epinefrin, norepinefrin, dan kortisol yang dapat menyebabkan peningkatan
tekanan darah yang bergantung pada kepekatan kopi dan sensitivitas individu
(Winkelmayer et al. 2005). Hal ini diduga karena jumlah kandungan kafein pada
kopi instan lebih rendah dibandingkan kopi hitam yang disebabkan oleh proses
pengolahan yang berbeda. Kopi hitam merupakan ekstraksi langsung dari
perebusan biji kopi yang disaring tanpa penambahan apa pun. Kopi instan
berasal dari biji kopi yang dikeringkan dan digranulasi. Kopi instan diperoleh
dengan mencampurkan biji kopi yang digiling dan merebusnya dengan air panas.
Air rebusan tersebut kemudian diuapkan lalu disemprotkan dengan tekanan
tinggi yang akhirnya akan meninggalkan bubuk kopi halus (ICCRI 2012).
Kafein memberikan dua manfaat yang berbeda dalam mempengaruhi
kemampuan dan kinerja seseorang, yaitu pada saat kondisi bugar (cukup
istirahat), kafein akan meningkatkan fungsi kognitif, mengendalikan emosi, dan
meningkatkan kontraksi otot. Sedangkan pada kondisi letih, kafein akan
membangkitkan stamina, meningkatkan kewaspadaan dan mengembalikan
performa mental ke tingkat normal (Weinberg & Bonnie 2010). Sebagian besar
contoh mengonsumsi kopi saat sedang santai sebelum memulai aktifitas atau
setelah melakukan aktifitas sehari-hari, karena kafein dosis rendah hingga
sedang dapat mengurangi depresi, membuat lebih santai dan lebih bersemangat
dengan cara meningkatkan kadar serotonin dalam tubuh (Graham 2001).
49

Takaran kopi mempengaruhi tingkat kekentalan kopi sekaligus kandungan


kafein yang dikonsumsi. Semakin banyak jumlah kopi yang dikosumsi semakin
tinggi pula kandungan kafeinnya. Satu cangkir kopi instan ukuran 6 oz (1oz = 30
ml) atau setara dengan 180 ml mengandung 100 mg kafein, sedangkan untuk
satu cangkir kopi hitam/bubuk mengandung 150 mg kafein dalam ukuran cangkir
yang sama (Weinberg & Bonnie 2010). Berdasarkan ADF (2011), dalam satu
cangkir kopi hitam/bubuk ukuran 250 ml mengandung 150240 mg kafein dan
untuk satu cangkir kopi instan mengandung 80120 mg kafein.
Uiterwaal et al. (2007) dalam penelitiannya menggambarkan hubungan
antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi dalam bentuk grafik U terbalik.
Konsumsi lebih dari 6 cangkir per hari mempunyai risiko hipertensi yang lebih
rendah daripada yang mengonsumsi 03 cangkir per hari. Pada umumnya, grafik
aktifitas kafein saat menstimulasi saraf pusat berbentuk U terbalik. Artinya,
konsumsi kafein dalam jumlah kecil memberikan efek minimal, sementara
konsumsi kafein dalam jumlah lebih besar akan memberikan efek lebih besar
pula. Namun, konsumsi kafein yang lebih besar lagi justru hanya akan
menurunkan efek tersebut. Hal ini bergantung pada kepekaan setiap orang
terhadap kafein (Weinberg & Bonnie 2010).

Hubungan Antara Frekuensi Konsumsi Kopi dengan Kejadian Hipertensi


Konsumsi kopi telah lama menjadi dugaan penyebab hipertensi, namun
bukti yang tersedia dari berbagai desain studi tidak konsisten. Hubungan antara
minum kopi dan tekanan darah pertama kali dilaporkan 75 tahun yang lalu, tetapi
apakah asupan kopi dikaitkan dengan tekanan darah atau risiko hipertensi masih
menjadi kontroversial. Berdasarkan hasil meta-analisis dari 16 kali percobaan
yang dilakukan, menunjukkan bahwa untuk uji coba kopi dengan asupan rata-
rata 725 ml/hari (setara 33,5 cangkir/hari ukuran 200 ml) menunjukkan adanya
kenaikan tekanan darah sistolik sebesar 1,2 mmHg dan tekanan darah diastolik
sebesar 0.5 mmHg (Uiterwaal et al. 2007; Zhang et al. 2011).
Tabel 12 Hubungan frekuensi minum kopi dengan kejadian hipertensi
Kasus Kontrol OR
Frekuensi Minum Kopi p
n % n % 95% CI
> 7 cangkir/minggu 18 22,5 24 30,0
0,677
< 7 cangkir/minggu 62 77,5 56 70,0 0,369
(0,3331,378)
Total 80 100,0 80 100,0

Tabel 12 menunjukkan bahwa contoh yang minum 7 cangkir/minggu lebih


banyak ditemukan pada kelompok kontrol yaitu sebesar 30% dibandingkan
50

contoh pada kelompok kasus yaitu 22,5%. Berdasarkan uji Chi Square
menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi
minum kopi 7 cangkir/minggu dengan kejadian hipertensi dengan OR=0,677
(95% CI: 0,3331,378; p>0,05). Hal ini berarti bahwa konsumsi kopi lebih dari 7
cangkir/minggu menjadi salah satu faktor protektif terhadap kejadian hipertensi,
namun hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik.

Tabel 13 Hubungan frekuensi minum kopi dengan kejadian hipertensi setelah


penyesuaian dengan karakteristik contoh
Karakteristik Frekuensi Kasus Kontrol OR
p
Contoh Minum Kopi n % n % 95% CI
Umur: > 7 ckr/minggu 2 14,3 13 31,7
0,359
<40 tahun < 7 ckr/minggu 12 85,7 28 68,3 0,36
(0,0701,842)
Total 14 100,0 41 100,0
40 tahun > 7 ckr/minggu 16 24,2 11 28,2
0,815
< 7 ckr/minggu 50 75,8 28 71,8 0,83
(0,3321,996)
Total 66 100,0 39 100,0
Status Gizi (IMT): > 7 ckr/minggu 11 30,6 20 30,8
0,990
Normal < 7 ckr/minggu 25 69,4 45 69,2 1,00
(0,4092,395)
Total 36 100,0 65 100,0
Gemuk > 7 ckr/minggu 7 15,9 4 26,7
0,520
< 7 ckr/minggu 37 84,1 11 73,3 0,59
(0,1282,111)
Total 44 100,0 15 100,0
Riwayat PTM: > 7 ckr/minggu 4 22,2 1 25,0
0,857
Ada < 7 ckr/minggu 14 77,8 3 75,0 1,00
(0,06910,666)
Total 18 100,0 4 100,0
Tidak ada > 7 ckr/minggu 14 22,6 24 31,6
0,632
< 7 ckr/minggu 48 77,4 52 68,4 0,32
(0,2931,361)
Total 62 100,0 76 100,0
Riwayat Hipertensi
> 7 ckr/minggu 6 13,0 5 17,2
Keluarga: 0,720
< 7 ckr/minggu 40 87,0 24 82,8 0,87
Ada (0,1982,616)
Total 46 100,0 29 100,0
Tidak ada > 7 ckr/minggu 12 35,3 19 37,3
0,919
< 7 ckr/minggu 22 21,6 32 62,7 1,00
(0,3722,268)
Total 34 100,0 51 100,0

Setelah dilakukan uji stratifikasi pada beberapa variabel independen,


menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi
dengan kejadian hipertensi baik pada variabel umur, status gizi (IMT), dan
riwayat penyakit (p>0,05) (Tabel 13). Nilai OR yang kurang dari satu
menunjukkan bahwa mengonsumsi kopi lebih dari 7 cangkir/minggu atau dapat
diasumsikan 1 cangkir/hari merupakan salah satu faktor protektif terhadap
kejadian hipertensi, namun secara statistik hubungan tersebut tidak bermakna.
Konsumsi kopi lebih dari 7 cangkir/minggu lebih protektif terhadap kejadian
51

hipertensi pada contoh kelompok umur 40 tahun dengan status gizi normal,
dan memiliki riwayat penyakit terkait tekanan darah serta tidak memiliki riwayat
hipertensi keluarga. Hal ini diduga karena kandungan antioksidan yang cukup
tinggi pada kopi yaitu asam klorogenat.
Minuman kopi selain mengandung kafein, juga merupakan sumber yang
kaya akan senyawa bioaktif yang dapat mengontrol dan/atau menurukan tekanan
darah antara lain asam klorogenat, magnesium dan kalium yang dapat
mengimbangi efek kafein pada tingkat konsumsi tertentu (Esquivel & Victor 2012).
Konsumsi kopi kurang lebih 5 cangkir/hari, dapat memberikan kontribusi pada
asupan harian kalium sebesar 26%, 12% asupan harian magnesium, 10%
asupan harian mangan, dan 15% asupan harian niasin (vitamin B 3) (Geleijnse
2008). Kopi merupakan salah satu sumber antioksidan yang cukup tinggi.
Kandungan antioksidan dalam kopi (asam klorogenat) merupakan yang paling
tinggi dibandingkan minuman lainnya seperti coklat dan teh. Seorang ahli kimia
Amerika, Joe Vinson mengatakan bahwa kopi yang mengandung kafein maupun
yang tidak memiliki kadar antioksidan yang sama. Hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 100 jenis makanan mengandung
antioksidan, termasuk, sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, rempah-
rempah, minyak, dan minuman. Hasil temuan tersebut dibandingkan dengan data
U.S Departement of Agriculture. Kopi menduduki urutan pertama, baik dalam
kombinasi dua antioksidan per ukuran saji maupun frekuensi konsumsi (Winarsi
2007).
Diaz-Rubio & Saura-Calixto (2007) menemukan kandungan serat larut air
dan polifenol dalam jumlah tinggi pada minuman kopi (espresso, kopi saring, dan
kopi instan). Diduga bahwa kandungan mineral dan polifenol dalam kopi dapat
menurunkan tekanan darah lebih banyak daripada dampak negatif kafein.
Hipotesis tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Winkelmayer et al. (2005) yang
menemukan bahwa minuman kola berkafein yang rendah polifenol dapat
meningkatkan risiko hipertensi daripada kopi. Penelitian Wakabayashi et al.
(1998) yang melibatkan 3336 laki-laki sehat umur 4856 tahun selama 6 tahun,
memperlihatkan bahwa terdapat hubungan terbalik antara kebiasaan minum kopi
dengan tekanan darah. Studi tersebut menunjukkan bahwa dengan
mengonsumsi satu cangkir per hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik
sebesar 0,6 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 0,4 mmHg. Selain itu,
tekanan darah contoh peminum kopi setiap hari memiliki tekanan darah lebih
52

rendah secara konsisten dibandingkan bukan peminum kopi (Wakabayashi et al.


1998).
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Zhang et al. (2011),
yang menemukan adanya grafik "J" terbalik pada dosis-respon meta-analisis kopi
dengan risiko hipertensi. Grafik tersebut menggambarkan bahwa risiko hipertensi
meningkat sampai konsumsi kopi 3 cangkir/hari (1 cangkir = 237 ml) dan
kemudian akan sedikit menurun pada jumlah konsumsi yang lebih tinggi. Hal ini
dikarenakan pada penelitian ini konsumsi kopi tertinggi contoh sebanyak 3
cangkir/hari, sehingga tidak dapat dilakukan uji pada konsumsi kopi lebih dari 3
cangkir per hari.
Pada penelitian lain yaitu The Nurses Health Studies (NHSs) I dan II
selama masing-masing 12 tahun dengan total 140.544 contoh perempuan sehat,
yang menemukan bahwa contoh mengonsumsi kopi satu cangkir kopi per hari
mempunyai risiko hipertensi sebesar 1,06 (95% CI: 1,011,10), untuk contoh
yang minum 23 cangkir per hari OR=1,00 (95% CI: 0,971,04), contoh yang
minum 45 cangkir per hari OR=0,93 (95% CI: 0,880,99) dan odd ratio 0,88
(95% CI: 0,800,98) bagi contoh yang minum 6 cangkir atau lebih per hari.
NHSs I juga menemukan adanya hubungan terbalik antara asupan kopi dan
risiko hipertensi (p<0,05) dan hal yang sama juga terjadi pada NHSs II (p<0,05)
(Winkelmayer et al. 2005).
Hasil penelitian lain juga ditemukan oleh Klag et al. (2002) selama 33 tahun
pada 1017 laki-laki kulit putih dengan usia rata-rata 26 tahun. Penelitian tersebut
menemukan bahwa mengonsumsi kopi 1 cangkir/hari dapat meningkatkan
tekanan darah sistolik sebesar 0,19 mmHg (95% CI: 0,020,35) dan diastolik
sebesar 0,27 mmHg (95% CI: 0,150,39). Selain itu risiko terkena hipertensi
lebih besar pada konsumsi kopi 34 cangkir/hari (OR=1,49; 95% CI: 1,012,20;
p>0,05) dibandingkan konsumsi 5 cangkir/hari (OR=1,07; 95% CI: 0,671,69;
p>0,05) pada konsumsi awal. Namun, selama periode tindak lanjut yang panjang,
jumlah kopi yang dikonsumsi memiliki dampak terhadap risiko hipertensi. Ketika
konsumsi kopi terbaru dibandingkan pada konsumsi awal, risiko hipertensi lebih
besar pada konsumsi kopi 5 cangkir/hari (OR=1,43; 95% CI: 0,942,18;
p>0,05) dibandingkan konsumsi kopi 34 cangkir/hari (OR=1,40; 95% CI: 0.94
2,09; p>0,05) dan konsumsi kopi 12 cangkir/hari (OR=1,34; 95% CI: 0,901,99;
p>0,05) (Klag et al. 2002).
53

Nurminen et al. (1999) menyatakan dosis tunggal kafein 200250 mg atau


setara dengan dua atau tiga cangkir kopi dapat meningkatkan tekanan darah
sistolik 314 mmHg dan tekanan darah diastolik 413 mmHg pada contoh non-
hipertensi. Corti et al. (2002) menemukan bahwa tekanan darah sistolik contoh
bukan peminum kopi meningkat tajam setelah mengonsumsi kopi (+12,6 mmHg),
sedangkan pada peminum kopi peningkatan tekanan darah sistolik tidak
signifikan (+2,3 mmHg). Peningkatan tekanan darah diastolik juga lebih jelas
pada contoh bukan peminum kopi (+7,1 mmHg) dibandingkan dengan peminum
kopi (+0,7 mmHg) (Mattioli 2007).
Konsumsi kopi pada umumnya dapat meningkatkan tekanan darah.
Tekanan darah biasanya meningkat dalam waktu 30 menit dan semakin
meningkat maksimal selama 60 sampai 120 menit setelah mengkonsumsi kafein.
Efek terbesar dari asupan kafein lebih kuat pada orang yang tidak biasa
mengonsumsi kafein daripada orang yang biasa mengonsumsi kafein. Tingkat
respon tekanan darah dengan dosis kafein (200250 mg) berbanding terbalik
dengan konsentrasi plasma kafein, yaitu respon tekanan darah terbesar terjadi
pada contoh dengan konsentrasi kafein terendah (Nurminen et al. 1999).
Adanya temuan beberapa studi yang menunjukkan bahwa konsumsi kopi
dan kafein dapat meningkatkan bahkan menurunkan tekanan darah diduga
karena adanya toleransi tubuh terhadap konsumsi kopi atau kafein secara
berulang. Respon peningkatan tekanan darah akan berkurang dalam bebeapa
hari dari konsumsi awal rutin kopi atau kafein. Namun, hal tersebut bersifat
sebagian, karena dalam beberapa studi, konsumsi kopi atau kafein masih dapat
meningkatkan tekanan darah dan menjadi risiko hipertensi (Nurminen et al 1999).
Selain itu, periode tindak lanjut yang panjang, menunjukkan adanya peran
konsumsi kopi dalam perkembangan hipertensi (Klag et al. 2002).
54

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Karakteristik umur contoh penelitian kelompok kasus dan kontrol berada
pada rentang umur 3049 tahun dan secara statistik terdapat perbedaan umur
pada kelompok contoh penelitian (p<0,05). Jenis kelamin contoh sebagian besar
adalah perempuan (78,8%). Sebanyak 31,2% contoh kelompok kasus
menamatkan pendidikannya hingga SMA, sedangkan 43,8% contoh kelompok
kontrol merupakan tamatan Akademi/Perguruan Tinggi. Pendapatan contoh
sebagian besar masuk dalam kategori sedang (75%) dengan rata-rata
pendapatan sebesar Rp1.862.2201.185.304/bulan. Lebih dari separuh contoh
kelompok kontrol berstatus gizi normal (56,2%), sedangkan 40% contoh memiliki
status gizi obesitas I, dan terdapat perbedaan status gizi antar kelompok contoh
(p<0,05).
Tekanan darah contoh kasus memiliki kategori hipertensi tingkat I. Tekanan
darah sistolik pada kelompok kasus rata-rata sebesar 157,4117,21 mmHg dan
kelompok kontrol rata-rata sebesar 109,8110,45 mmHg. Tekanan darah
diastolik pada kelompok kasus rata-rata sebesar 94,968,09 mmHg dan
kelompok kontrol rata-rata sebesar 77,635,28 mmHg. Jenis penyakit yang
ditemukan pada contoh antara lain jantung, hiperkolesterolemia, stroke, dan
diabetes mellitus. Riwayat penyakit hiperkolesterolemia lebih banyak ditemukan
baik pada contoh kelompok kontrol maupun kasus. Jenis penyakit yang
ditemukan pada keluraga contoh antara lain hipertensi, jantung, ginjal, stroke,
dan diabetes mellitus. Riwayat hipertensi keluarga lebih banyak ditemukan pada
contoh kelompok kasus. Riwayat diabetes mellitus keluarga lebih banyak
ditemukan pada contoh kelompok kasus dan kontrol dibandingkan jenis penyakit
yang lain.
Kebiasaan konsumsi kopi contoh kelompok kasus berkurang setelah
didiagnosa hipertensi dari 40% menjadi 30% dan terdapat perbedaan kebiasaan
konsumsi kopi contoh sebelum dan setelah diagnosa hipertensi (p<0,05). Lebih
dari separuh contoh kelompok kontrol memiliki kebisaan konsumsi kopi yaitu
sebesar 51,2%. Contoh kelompok kontrol dan kasus secara keseluruhan memiliki
kebiasaan konsumsi kopi saat pagi hari dengan jenis kopi yang banyak
digunakan adalah jenis kopi instan dibandingkan kopi hitam/bubuk. Frekuensi
konsumsi kopi 17 cangkir/minggu merupakan persentase terbesar yang
ditemukan baik pada contoh kelompok kontrol dan kasus. Takaran kopi yang
55

banyak digunakan contoh kelompok kontrol dan kasus dalam satu cangkir kopi
yang dikonsumsi adalah 13 sendok teh kopi untuk jenis hitam/bubuk dan 1
bungkus untuk jenis kopi instan.
Hasil uji statistik menggunakan Chi Square menunjukkan bahwa frekuensi
minum kopi lebih dari 7 cangkir/minggu secara statistik tidak terdapat hubungan
yang bermakna (p>0,05) dengan OR=0,667. Hal ini berarti bahwa konsumsi kopi
lebih dari 7 cangkir/minggu atau dapat diasumsikan 1 cangkir/hari menjadi salah
satu faktor protektif terhadap kejadian hipertensi, meskipun hubungan tersebut
tidak signifikan secara statistik.

Saran
Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai konsumsi kopi terhadap
kesehatan khususnya yang berhubungan dengan tekanan darah/hipertensi pada
kelompok peminum kopi dengan jumlah contoh yang lebih besar, agar dapat
terlihat efek kandungan kafein dalam kopi terhadap tekanan darah. Selain itu
perlu diadakan penyuluhan mengenai manfaat dan efek konsumsi kopi pada
masyarakat khususnya pasien rawat jalan Puskesmas Bogor Tengah.
56

DAFTAR PUSTAKA

Adriansjah H, Adam J. 2006. Sindroma Metabolik: Pengertian, Epidemiologi, dan


Criteria Diagnosis. Informasi laboratorium prodia No.4/2006.

[ADF] Australian Drug Foundation. 2011. Caffeine facts.


http://www.druginfo.adf.org.au [19 Desember 2011].

[AEKI] Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia. 2011. Industri kopi
Indonesia. http://www.aeki-aice.org [17 Maret 2013].

Ananda S. 2011. Hipertensi pada kelompok pra lansia dan lansia (4575 tahun)
gakin di Kelurahan Utan Panjang Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat
Tahun 2011 [Skripsi]. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonsesia.

Askes. 2011. Sehat bersama hipertensi. http://www.ptaskes.com [30 April 2011].

Bullock BL. 1996. Pathophysiology: Adaptions and Alterations in Function (4 th ed).


Philadelphia: Lippincott.

Cammerer B, Kroh LW. 2006. Antioxidant activity of coffee brews. European


Food Research and Technology 223: 469474.

Chalmers J et al. 1999. 1999 World Health Organization-International society of


hypertension guidelines for the management of hypertension. Journal of
Hypertension 17: 151185.

Ciptadi W, Nasution MZ 1985. Pengolahan Kopi. Bogor: Fakultas Teknologi


Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Department of Health, Social Services and Public Safety. 2012. Blood pressure
measurement device. Device Bulletin. Northern Ireland.
http://www.dhsspsni.gov.uk/db 2006_03_v2.pdf. [18 Maret 2013].

[Depkes] Departemen Kesehatan. 2006. Pedoman Teknis Penemuan dan


Tatalaksana Penyakit Hipertensi. Jakarta: Direktorat Pengendalian
Penyakit Tidak Menular, Departemen Kesehatan RI.

___________________________ . 2007. Pedoman Pengendalian Penyakit


Jantung dan Pembuluh Darah. Jakarta: Direktorat Pengendalian Penyakit
Tidak Menular, Departemen Kesehatan RI.

___________________________ . 2007. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar


(RISKESDAS) Nasional. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Departemen Kesehatan RI.

_____________________________. 2007. Pedoman Pengukuran dan


Pemeriksaan Riset Kesehatan Dasar 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI.
57

Dewi FI. 2008. Pola konsumsi pangan sumber kafein dan analisis dampaknya
berdasarkan persepsi mahasiswa TPB-IPB tahun ajaran 2007/2008
[Skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Diaz-Rubio ME, Saura-Calixto F. 2007. Dietary Fiber in Brewed Coffee. Journal


of Agricultural and Food Cemistry 55: 19992003.

Engberink MF et al. 2009. Dairy intake, blood pressure, and incident


hypertension in a general Dutch population 13. The Journal of Nutrition 139:
582587.

Esquivel P, Victor MJ. 2012. Functional Properties of Coffee and Coffee By-
Products. Food Research International 46: 488495.

[FAO] Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2003. Medium-
term prospects for agricultural commodities: projections to the year 2010.
Roma. ftp://ftp.fao.org/ docrep/fao/006/ y5143e/y5143e00.pdf. [17 Maret
2013].

[FDA] Food and Drug Administration. 2007. Medicines in my home: caffeine and
your body. http://www.fda.gov. [19 Desember 2011].

Frost-Meyer NJ & John VL. 2012. Impact of Coffee Components on Inflammatory


Markers: A Review. Journal of Functional Foods 4: 819830.

Garrow JS et al. 1996. Human Nutrition and Dietetics. Churchill Livingstone.

Gaudemaris R et al. 2002. Socioeconomic Inequalities in Hypertension


Prevalence and Care: The IHPAF Study. Hypertension 39: 11101125.

Geleijnse JM. 2008. Habitual coffee consumption and blood pressure: an


epidemiological perspective: a review. Vascular Health and Risk
Management 4(5): 963970.

Graham TE. 2001. Caffeine and exercise: metabolism, endurance and


performance. Sports Medicine 31: 785807.

Hardinsyah. 2009. Polifenol dan Kopi Serta Manfaatnya Bagi Kesehatan.


Sambutan Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia Pada Pembukaan
Diskusi Ilmiah Polifenol Dan Kopi Serta Manfaatnya Bagi Kesehatan.
Jakarta: Four Seasons Hotel, 4 April 2009.

Hardinsyah et al. 2010. Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan
Dewasa di Beberapa Daerah di Indonesia (THIRST). Bogor (ID):
Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan Indonesia, Departemen Gizi
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Hull A. 1996. Penyakit Jantung, Hipertensi, dan Nutrisi. Ali W, penerjemah.


Jakarta: Pernerbit Bumi Aksara.

[ICCRI] Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute. 2012. Pengolahan kopi.
http://www.iccri.net. [2 Desember 2012].
58

[IFIC] International Food Information Council Foundation. 2007. Caffeine and


heatlh: caffeine. http://www.ific.org. [19 Desember 2011].

_______________________________________________. 2008. Caffeine &


health: clarifying the controversies. http://www.ific.org. [19 Desember 2011].

Israyanti. 2012. Perbandingan karakteristik kimia kopi luwak dan kopi biasa dari
jenis kopi arabika (Cafeea arabica. L) dan robusta (Cafeea canephora. L)
[Skripsi]. Makasar: Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin.

Jee SH, Jiang H, Paul KW, Il S, Michael JK. 1999. The effect of chronic coffee
drinking on blood pressure: a meta-analysis of controlled clinical trials.
Hypertension 33: 647s652.

Kamso S. 2000. Nutritional aspects of hypertension in the Indonesian elderly: a


community study in 6 big cities [Disertasi]. Depok (ID): Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Indonesia.

Kaplan MN. 1999. Hypertention in the Elderly. London: Martin Dunitz.

Kearney PM et al. 2005. Global burden of hypertension: analysis of worldwide


data. Lancet. 365: 217223.

Kertohoesodo S. 1987. Pengantar Kardiologi. Jakarta: UI-Press.

Khomsan A. 2004. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan (Cetakan ke-2). Jakarta:
Raja Grafindo Persada.

Klag MJ et al. 2002. Coffee intake and risk hypertension: the John Hopkins
precursors study. Archives of Internal Medicine 162: 657662.

Kovacs B. 2011. Caffeine. http://www.medicinenet.com. [17 Desember 2011].

Kusmana D. 2009. Hipertensi: definisi, prevalensi, farmakoterapi dan latihan fisik.


Cermin Dunia Kedoteran 36(3): 161-167.

Luft FC, Weinberger MH. 1997. Heterogeneous responses to changes in dietary


salt intake: the salt-sensitivity paradigm. The American Journal of Clinical
Nutrition 65 (supplement): 612S-617S.

Manach C, Augustin S, Christine M, Christian R, Liliana J. 2004. Polyphenols:


food sources and bioavailability1,2. The American Journal of Clinical
Nutrition 79: 727747.

Mansjoer A, Triyani K, Savitri R, Whardani WI, Setio W. 2002. Kapita Selekta


Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.

Mattioli AV. 2007. Coffee and caffeine effects on hypertension. Current


Hypertension Reviews 3(4): 250-254.
Muchtadi D. 2009. Komponen Fitokimia dalam Kopi. Laporan Kegiatan Diskusi
Ilmiah Polifenol dan Kopi Serta Manfaatnya Bagi Kesehatan. Jakarta: Four
Seasons Hotel, 4 April 2009.
59

Mulato S. 2002. Simposium Kopi 2002 dengan tema Mewujudkan perkopian


Nasional Yang Tangguh melalui Diversifikasi Usaha Berwawasan
Lingkungan dalam Pengembangan Industri Kopi Bubuk Skala Kecil Untuk
Meningkatkan Nilai Tambah Usaha Tani Kopi Rakyat. Denpasar : 16 17
Oktober 2002. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.

Myers. 2004. Complication of obesity. California: Wheight.com.

Ngateni. 2009. Hubungan kebiasaan minum kopi, merokok, olahraga dan stress
dengan kejadian hipertensi pada sopir bemo di Terminal Joyoboyo
Surabaya [abstrak]. Surabaya (ID): Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Universitas Airlangga Surabaya.

Nurminen M-L, L Niittynen, R Korpela, H Vapaatalo. 1999. Coffee, caffeine and


blood pressure: a critical review. European Journal of Clinical Nutrition 53:
831-839.

Noordzij M et al. 2005. Blood pressure response to chronic intake of coffee and
caffeine: a meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of
Hypertension 23:921928.

Notoatmodjo S. 2003. Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Masyarakat Cetakan ke-2.


Jakarta: Rineka Cipta

Nowson et al. 2005. Blood pressure change with weight loss is affected by diet
type in men. The American Journal of Clinical Nutrition 81: 983.

Panggabean E. 2011. Buku Pintar Kopi. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

[PERGIZI PANGAN] Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan Indonesia. 2009.


Laporan Kegiatan Diskusi Ilmiah Polifenol dan Kopi Serta Manfaatnya Bagi
Kesehatan. Jakarta: Four Seasons Hotel, 4 April 2009.

Purwantyastuti. 2009. Kajian Khasiat dan Keamanan Kopi. Laporan Kegiatan


Diskusi Ilmiah Polifenol dan Kopi Serta Manfaatnya Bagi Kesehatan.
Jakarta: Four Seasons Hotel, 4 April 2009.

Redaksi Health Secret. 2012. Khasiat Bombastis Kopi. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.

Ridwansyah. 2003. Pengolahan Kopi. Medan (ID): Fakultas Pertanian,


Universitas Sumatera Utara.

Sastroasmoro S, Sofyan I. 2010. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.


Jakarta: Sagung Seto.

[SIGN] Scottish Intercollegiate Guideline Network. 2001. Hypertension in older


people. http://www.sign.ac.uk. Edinburgh. [10 Januari 2013].
Semiardji. 2004. The Significant of Visceral Fat in Metabolic Syndrome. Jakarta:
Diabetes Meeting 910 Oktober.
60

Simon. 2002. What is Blood Pressure? Harvard Medical School. Physician


Massachusetts General Hospital.

Soeharto I. 2000. Pencegahan dan Penyembuhan Penyakit Jantung Koroner.


Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumaerih. 2007. Hubungan asupan makro mineral (natrium, kalium, magnesium


dan kalsium) dengan hipertensi pada pasien rawat jalan di Puskesmas
Juntinyuat Kabupaten Indramayu Jawa Barat [Skripsi]. Yogyakarta (ID):
Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada.

Susilo Y, Ari W. 2011. Cara Jitu Mengatasi Hipertensi. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Tierney LM, Phee SJMc, Papadakis MA. 2002. Diagnosis dan Terapi Kedokteran
Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Salemba Medika.

Tjekyan RMS. 2007. Risiko penyakit diabetes melitus tipe 2 di kalangan peminum
kopi di Kotamadya Palembang tahun 2006-2007. Makara Kesehatan 11(2):
54-60.

Uiterwaal et al. 2007. Coffee intake and incidence of hypertension. The American
Journal of Clinical Nutrition 85: 71823.

United States Department of Health and Human Services. 2003. JNC 7 Express:
The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure. National
Institute of Health Publication: 035233.

Varnam HA, Sutherland JP. 1994. Beverages (Technology, Chemistry and


Microbiology). London: Chapman and Hall.

Wakabayashi K et al. 1998. Habitual coffee consumption and blood pressure: a


study of self-defense officials in Japan. European Journal of Epidemiology
14: 669673.

Winarsi H. 2007. Antioksidan Alami & Radikal Bebas. Yogyakarta: Penerbit


Kanisius.

Winkelmayer WC, Meir JS, Walter CW, Gary CC. 2005. Habitual caffeine intake
and the risk of hypertension in women. The Journal of the American
Medical Association (JAMA) 294 (18): 23302335.

Weinberg BA, Bonnie KB. 2010. The Miracle of Caffeine: Manfaat Tak Terduga
Kafein Berdasarkan Penelitian Paling Mutakhir. Bandung: Penerbit Qanita.

[WHO] World Health Organization. 2001. Pengendalian Hipertensi: Laporan


Komisi Pakar WHO. Padmawinata K, penerjemah. Bandung: Penerbit ITB.

Widyotomo S, Sri M. 2007. Kafein: senyawa penting pada biji kopi. Warta Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia 23(1): 44 50.
61

Wildman et al. 2005. Are waist circumference and body mass index
independently associated with cardiovascular risk in Chinese adults? The
American Journal of Clinical Nutrition 82: 1195202.

Yang et al. 2001. Inhibition of carcinogenesis by dietary polyphenolic compounds.


Annual Reviews Nutrition 21: 381406.

Yuliarti D. 2007. Faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi pada usia


lanjut di posbindu Kota Bogor tahun 2007 [Tesis]. Depok (ID): Program
Pascasarjana, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Yuniati EE. 2007. Perbedaan asupan zat gizi dan status gizi pada usia lanjut
hipertensi terkendali dan tidak terkendali di panti sosial Tresna Werdha Unit
Abiyoso Yogyakarta [Skripsi]. Yogyakarta (ID): Fakultas Kedokteran,
Universitas Gadjah Mada.

Zhang Z, Gang Hu, Benjamin C, Lawrence A, Liwel Chen. 2011. Habitual coffee
consumption and risk of hypertension: a systematic review and meta-
analysis of prospective observational studies13. The American Journal of
Clinical Nutrition 93: 12121219.
62
63

Lampiran 1 Penjelasan inform consent

PENJELASAN INFORM CONSENT

TEKANAN DARAH DAN POLA KUNSUMSI KOPI PASIEN RAWAT JALAN


PENGUNJUNG PUSKESMAS BOGOR TENGAH

Berdasarkan hasil pemilihan secara acak, Bapak/Ibu terpilih sebagai salah


satu contoh penelitian berjudul Tekanan Darah dan Pola Konsumsi Kopi. Saya
ucapakan terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu berpartisipasi dalam kegiatan
penelitian yang dilakukan oleh saya sendiri, Tri Wahyuni, mahasiswi jurusan Gizi
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat ini
saya sedang menysusun skripsi saya sebagai persyaratan lulus menjadi Sarjana
Gizi. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari hubungan konsumsi kopi dengan
tekanan darah dan hubungan faktor risiko lainnya yang diperkirakan berpengaruh.
Informasi dari kegiatan ini sepenuhnya untuk tugas penyelesaian Skripsi
Program Sarjana. Bagi Bapak/Ibu kegiatan ini bermanfaat untuk mengetahui ada
tidaknya penyakit hipertensi dan faktor risiko hipertensi. Dengan demikian
Bapak/Ibu dapat melakukan tindak lanjut secara lebih dini.
Saya sangat mengaharap kesedian Bapak/Ibu menjawab beberapa
pertanyaan yang saya ajukan. Materi pertanyaan adalah mengenai data
indentitas Bapak/Ibu dan keluarga, riwayat sakit Bapak/Ibu dan keluarga, pola
konsumsi kopi, kebiasan olah raga, kebiasaan merokok, dan konsumsi minuman
beralkohol. Selain itu, saya juga akan melakukan pengukuran tinggi badan,
penimbangan berat badan serta pengukuran tekanan darah yang dibantu oleh
tenaga kesehatan. Maka dari itu, saya sangat menghargai kejujuran Bapak/Ibu
dalam menjawab pertanyaan pada kuesioner ini.
Apabila Bapak/Ibu berkenan untuk mengikuti kegiatan ini, Bapak/Ibu dapat
mengisi lembar persetujuan yang telah saya sediakan.
Terima kasih.
64

Lampiran 2 Formulir informed consent

INFORMED CONSENT
PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI CONTOH PENELITIAN

PENELITIAN TENTANG: Tekanan Darah dan Pola Konsumsi Kopi Pasien


Rawat Jalan Pengunjung Puskesmas Bogor Tengah.
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : ..................................................................................
Jenis kelamin : 1. Laki-laki
2. Perempuan
Umur : ......................................................................... tahun
Alamat : ..................................................................................
..................................................................................
Telepon rumah/HP : ..................................................................................
Bersedia dan mau berpartisipasi menjadi contoh dalam penelitian yang
akan dilakukan oleh Tri Wahyuni, mahasiswi Jurusan Gizi Masyarakat, Fakultas
Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB).
Adapun bentuk kesediaan saya adalah bersedia diwawancarai, dilakukan
pengukuran tinggi badan dan berat badan serta tekanan darah.
Demikian pernyataan dibuat tanpa ada unsur keterpaksaan dan dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Bogor, 2012
Mengetahui:
Peneliti Contoh

(Tri Wahyuni) (....)


65

Lampiran 3 Kuesioner penelitian


KUESIONER PENELITIAN
Nomor Kuesioner : .................................
Tanggal Wawancara : .................................

TEKANAN DARAH DAN POLA KONSUMSI KOPI PASIEN RAWAT JALAN


PENGUNJUNG PUSKESMAS BOGOR TENGAH

A. IDENTITAS CONTOH
a. Data Umum
1. Nama
2. Tanggal lahir Umur : thn
3. Jenis kelamin 1. Laki-laki 2. Perempuan
4. Agama
5. Alamat

6. No. telpon/HP
b. Sosial Ekonomi
7. Status perkawinan 1. Belum menikah 3. Cerai hidup
2. Menikah 4. Cerai mati
8. Pendidikan formal 1. Tidak tamat SD 4. Tamat SMA
2. Tamat SD 5. Tamat
3. Tamat SMP Akademi/PT
9. Jumlah penghasilan sebulan Rp
10. Jumlah pengeluaran minuman (kopi) Rp
c. Riwayat Penyakit Contoh Dan Keluarga
11. Apakah Anda memiliki riwayat
penyakit hipertensi?
12. Apakah Anda sedang
mengkonsumsi obat anti-hipertensi?
13. Sejak kapan Anda didiagnosa
.. Tahun/bulan/minggu
memiliki penyakit hipertensi?
14. Apakah Anda memliki riwayat
penyakit tidak menular lain selain
hipertensi?
15. Bila ada, sebutkan

16. Apakah di dalam keluarga Anda ada


yang menderita hipertensi?
17. Bila ada, siapa yang menderita
hipertensi?
18. Apakah di dalam keluarga Anda ada
yang memliki riwayat penyakit tidak
menular lain selain hipertensi?
19. Bila ada, sebutkan
66

B. PERIKSAAN FISIK (diisi oleh petugas)


No. Jenis Ukuran Hasil
1. Berat badan .. kg
2. Tinggi badan .. cm
3. Status gizi berdasarkan Indeks
Massa Tubuh (IMT)
4. Tekanan Darah TDS (mmHg) TDD (mmHg)
a. Pengukuran 1
b. Pengukuran 2
c. Catatan Rekam Medik

C. POLA KONSUMSI KOPI


Diagnosa Hipertensi
No. Pertanyaan
Sebelum Setelah
1. Apakah Anda mempunyai
kebiasaan minum kopi?
a. Waktu/situasi Minum Kopi
2. Kondisi apa yang mendorong
Anda untuk minum kopi?
(jawaban boleh lebih dari 1)
3. Dalam situasi seperti apa
Anda biasa minum kopi?
(jawaban boleh lebih dari 1)
4. Kapan biasanya Anda minum
kopi? (jawaban boleh lebih
dari 1)
b. Frekuensi Minum Kopi
5. Dalam seminggu berapa hari
. hari .. hari
Anda minum kopi?
6. Dalam sehari berapa kali
. kali .. kali
Anda minum kopi?
7. URT yang biasa dipakai
(gelas/cangkir/lainnya)
c. Jumlah Kopi
8. Berapa banyak
sdt/kaleng/bks kopi yang . .
Anda konsumsi dalam satu sdt/bks/kaleng sdt/bks/kaleng
kali minum?
a. Lama Minum Kopi
9. Sejak umur berapa Anda a. .. tahun a. .. tahun
mulai minum kopi? b. Tidak ingat b. Tidak ingat
10. Sudah berapa lama Anda
.bln/thn .bln/thn
minum kopi?
11. Jika Anda sudah tidak minum
kopi, Sudah berapa lama .bln/thn . bln/thn
Anda berhenti minum kopi?
67

Diagnosa Hipertensi
No. Pertanyaan
Sebelum Setelah
e. Jenis Kopi
12. Sebutkan merek kopi yang
biasa anda minum
13. Jenis kopi yang biasa Anda a. Kopi hitam/tubruk a. Kopi hitam/tubruk
minum selama ini b. Kopi instan b. Kopi instan
c. Kopi mix c. Kopi mix
d. Kopi siap minum d. Kopi siap minum
e. Lainnya.. e. Lainnya..
14. Apakah Anda biasa
menggunakan bahan
tambahan lainnya saat
minum kopi?
15. Jika ya, bahan tambahan
apa yang Anda gunakan?
(boleh lebih dari 1)

D. GAYA HIDUP
a. Aktivitas Fisik
1. Apakah Anda berolahraga secara rutin?
..
2. Jenis olah raga apa yang Anda lakukan? (jawaban boleh lebih dari 1)
..
..
3. Berapa lama Anda melakukan olah raga dalam satu hari?
menit/jam
4. Berapa hari dalam seminggu Anda melakukan olah raga?
hari
b. Merokok
5. Apakah Anda merokok?

6. Bila dulu pernah, sudah berapa lama berhenti?
bulan/tahun

7. Bila ya, sudah berapa lama Anda merokok?


bulan/tahun
8. Sejak umur berapa Anda mulai merokok?
a. .. tahun
b. Tidak ingat
9. Berapa banyak rokok yang Anda hisap dalam satu hari?
.. batang
10. Kapan waktu atau situasi Anda merokok?
...
c. Konsumsi Alkohol
11. Apakah Anda pernah mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol seperti
beer, wine, anggur, whiskey, fermentasi sari buah, dll?

68

12. Apakah Anda pernah mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol dalam
12 bulan terakhir?

13. Dalam 12 bulan terakhir, berapa jumlah terbanyak minuman beralkohol yang
Anda minum pada satu kesempatan?
.. sloki/gelas/botol/kaleng
69

Lampiran 4. Hasil uji statistik (chi square)

1. Faktor Umur Terhadap Hipertensi

Value df p
a
Pearson Chi-Square 20.197 1 0.000
b
Continuity Correction 18.729 1 0.000
Likelihood Ratio 20.868 1 0.000
Fisher's Exact Test

Linear-by-Linear Association 20.071 1 0.000


b
N of Valid Cases 160

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for kategori umur
4.956 2.402 10.227
40 th (>= 40 th / < 40 th)
For cohort Kelompok
2.469 1.535 3.973
Hipertensi
For cohort Kelompok Kontrol 0.498 0.372 0.668
N of Valid Cases 160

2. Faktor Status Gizi Terhadap Hipertensi

Value df p
a
Pearson Chi-Square 22.581 1 0.000
b
Continuity Correction 21.051 1 0.000
Likelihood Ratio 23.337 1 0.000
Fisher's Exact Test

Linear-by-Linear Association 22.440 1 0.000


b
N of Valid Cases 160

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for kategori status
5.296 2.595 10.811
gizi (gemuk / tidak gemuk)
For cohort Kelompok
2.092 1.548 2.828
Hipertensi
For cohort Kelompok Kontrol .395 .249 .626
Total contoh 160
70

3. Frekuensi Minum Kopi (cangkir/minggu) Hitung OR

Value df p
a
Pearson Chi-Square 1.162 1 0.281
b
Continuity Correction 0.807 1 0.369
Likelihood Ratio 1.165 1 0.280
Fisher's Exact Test

Linear-by-Linear Association 1.155 1 0.283


b
N of Valid Cases 160

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.677 0.333 1.378
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.816 0.553 1.204
For cohort Kelompok Kontrol 1.204 0.871 1.664
Total contoh 160

4. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian umur < 40 tahun

Value df p
Pearson Chi-Square 1.597a 1 0.206
b
Continuity Correction 0.839 1 0.360
Likelihood Ratio 1.751 1 0.186
Fisher's Exact Test

Linear-by-Linear Association 1.568 1 0.211


N of Valid Casesb 55

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.359 0.070 1.842
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.444 0.112 1.757
For cohort Kelompok Kontrol 1.238 0.932 1.644
Total Contoh 55
71

5. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian umur 40 tahun

Value df p
a
Pearson Chi-Square 0.202 1 0.653
Continuity Correctionb 0.047 1 0.828
Likelihood Ratio 0.200 1 0.655
Fisher's Exact Test

Linear-by-Linear Association 0.200 1 0.655


N of Valid Casesb 105

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.815 0.332 1.996
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.924 0.649 1.317
For cohort Kelompok Kontrol 1.135 0.659 1.953
Total Contoh 105

6. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian status gizi IMT gemuk

Value df p
a
Pearson Chi-Square 0.853 1 0.356
b
Continuity Correction 0.292 1 0.589
Likelihood Ratio 0.805 1 0.370
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association 0.839 1 0.360
b
N of Valid Cases 59

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.520 0.128 2.111
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.826 0.515 1.324
For cohort Kelompok Kontrol 1.587 0.621 4.055
Total Contoh 59
72

7. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian status gizi IMT normal

Value df p
a
Pearson Chi-Square 0.000 1 0.982
Continuity Correctionb 0.000 1 1.000
Likelihood Ratio 0.000 1 0.982
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association 0.000 1 0.982
b
N of Valid Cases 101

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.990 0.409 2.395
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.994 0.562 1.756
For cohort Kelompok cKontrol 1.004 0.733 1.374
Total Contoh 101

8. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian terdapat riwayat penyakit contoh

Value df p
a
Pearson Chi-Square 0.014 1 0.905
b
Continuity Correction 0.000 1 1.000
Likelihood Ratio 0.014 1 0.905
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association 0.014 1 0.907
b
N of Valid Cases 22

Odds Ratio

95% Confidence Interval

Value Lower Upper


Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.857 0.069 10.666
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.971 0.595 1.586
For cohort Kelompok Kontrol 1.133 0.149 8.644
Total Contoh 22
73

9. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian tidak terdapat riwayat penyakit contoh

Value df p
a
Pearson Chi-Square 1.386 1 0.239
Continuity Correctionb 0.971 1 0.324
Likelihood Ratio 1.400 1 0.237
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association 1.376 1 0.241
b
N of Valid Cases 138

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.632 0.293 1.361
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.768 0.483 1.220
For cohort Kelompok Kontrol 1.215 0.893 1.652
Total Contoh 138

10. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian terdapat riwayat hipertensi keluarga
Asymp. Sig. (2-
Value df sided)
Pearson Chi-Square 0.250a 1 0.617
b
Continuity Correction 0.027 1 0.869
Likelihood Ratio 0.247 1 0.619
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association 0.247 1 0.619
b
N of Valid Cases 75

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.720 0.198 2.616
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.873 0.493 1.546
For cohort Kelompok Kontrol 1.212 0.590 2.491
Total Contoh 75
74

11. Hubungan frekuensi minum kopi dengan hipertensi dengan


penyesuaian tidak terdapat riwayat hipertensi keluarga

Value df p
a
Pearson Chi-Square 0.034 1 0.854
Continuity Correctionb 0.000 1 1.000
Likelihood Ratio 0.034 1 0.854
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear Association 0.033 1 0.855
b
N of Valid Cases 85

Odds Ratio

95% Confidence Interval

OR Lower Upper
Odds Ratio for Frekuensi minum kopi (>= 7
0.919 0.372 2.268
cangkir/minggu / 0-6 cangkir/minggu)
For cohort Kelompok Hipertensi 0.950 0.550 1.643
For cohort Kelompok Kontrol 1.034 0.724 1.477
Total Contoh 85