Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN

Luka (pulnus) adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan dimana secara spesifik terdapat
substansi yang rusak atau hilang. Efek yang dapat ditimbulkan oleh luka adalah hilangnya seluruh atau
sebagian fungsi organ, respon stress simpatis, perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri
dan kematian sel (Kozier 1995).

Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier,
1995).

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam
atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan (R. Sjamsu Hidayat,
1997).

Luka adalah terganggunya (disruption) integritas normal dari kulit dan jaringan di bawahnya yang terjadi
secara tiba-tiba atau disengaja, tertutup atau terbuka, bersih atau terkontaminasi, superficial atau
dalam.(Menurut Koiner dan Taylan).

Luka merupakan suatu kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar suhu atau pH,
zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh terhadap berbagai cedera dengan proses
pemulihan yang kompleks dan dinamis yang menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi secara terus
menerus disebut dengan penyembuhan luka (Joyce M. Black, 2001).

Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau pembedahan. Luka
ini bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan dan lama
penyembuhan. Adapun berdasarkan sifat yaitu : abrasi, kontusio, insisi, laserasi, terbuka, penetrasi,
puncture, sepsis.

Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit (Taylor, 1997).

Sedangkan perawatan luka adalah suatu tindakan untuk membunuh mikroorganisme (Mansjoer, 2000).

Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :

1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ

2. Respon stres simpatis

3. Perdarahan dan pembekuan darah

4. Kontaminasi bakteri

5. Kematian sel
2. ETIOLOGI

1. Trauma tajam yang menimbulkan luka terbuka

2. Trauma tumpul yang menyebabkan luka tertutup (vulnus occlusum) & luka terbuka (vulnus
avertum)

3. Zat-zat kimia

4. Radiasi

5. Sengatan listrik

6. Ledakan perubahan suhu

Secara alamiah penyebab kerusakan harus diidentifikasi dan dihentikan sebelum memulai perawatan
luka, serta mengidentifikasi, mengontrol penyebab dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan
sebelum mulai proses penyembuhan. Berikut ini akan dijelaskan penyebab dan faktor-faktor yang
mempengaruhi penyembuhan luka :

1. Trauma

2. Panas dan terbakar baik fisik maupun kimia

3. Gigitan binatang atau serangga

4. Tekanan

5. Gangguan vaskular, arterial, vena atau gabungan arterial dan vena

6. Immunodefisiensi

7. Malignansi

8. Kerusakan jaringan ikat

9. Penyakit metabolik, seperti diabetes

10. Defisiensi nutrisi

11. Kerusakan psikososial

12. Efek obat-obatan

3. KLASIFIKASI

Berdasarkan sifatnya :

a. Luka akut
adalah luka yang sembuh sesuai dengan periode waktu yang diharapkan atau dengan kata lain sesuai
dengan konsep penyembuhan luka akut dengan dikatagorikan sebgai :

a) Luka akut pembedahan , contoh insisi, eksisi dan skin graf

b) Luka bukan pembedahan, contoh luka bakar

c) Luka akut factor lain , contoh abrasi, laserasi, atau imnjuri pada lapisan kulit superficial

b. Luka kronis

adalah luka yang proses penyembuhannya mengalami keterlambatan atau bahkan kegagalan. Contoh
luka dekubitus, luka diabetes dan leg ulcer.

Berdasarkan kehilangan jaringan.

a. Superficial : luka hanya terbatas pada lapisan epodermis

b. Parsial (partial thickness) luka meliputi epidermi dan dermis

c. Penuh(full thickness) luka meliputi epidermis, dermis dan jaringan sub kutan bahan dengan juga
melibatkn otot, tendon, dan tulang

Berdasarakan stadium

a. Stage 1

Lapisan epidermis utuh, namun terdengan eritema atau perubahan warna

b. Stage 2

Kehlangan kulit superficial dengan kerusakan lapisan epidermis dan dermis, eritema di jaringan yang
nyeri panas, dan edema.

c. Stage 3

Kehilangan jaringan sampai dengan jaringan sub kutan, dengan terbentuknya rongga (cavity), eksudat
sedang samapi banyak

d. Stage 4

Hilangnya jaringan sub kutan dengan terbentuknya rongga yang melibatkan otot, tendon, dan atau
tulang. Eksudat sedang sampai banyak.

Berdasarkan mekanisme terjadinya

a. Luka Insisi (incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrument yang tajam. Misalny ayang
terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptic), biasanya tertutup oleh sutura atau setelahseluruh
pembuluh darah yang luka di ikat (ligasi).
b. Luka memar (contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikan
oleh cedar pada jaringan lunak, perdarahan dan bengaak

c. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya
dengan benda yang tidak tajam.

d. Luka tusuk (punctured wound), terjadi akibat adanya benda seperti peluru atau pisau yang masuk
kedalam kulit dengan diameter yang kecil.

e. Luka gores (lacerated wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca / kawat.

f. Luka tembus (penetrating wound), luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal
luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.

g. Luka bakar (Combutsio), luka yang disebabkan oleh trauma panas, listrik, kimiawi, radiasi atau suhu
dingin yang ekstrim

Berdasarkan penampilan

a. Nekrotik, (hitam), Eschar yang mengeras dan nekrotik, mungkin kering atau lembab

b. Sloughy (kuning), jaringan mati yang fibrous

c. Terinfeksi (kehijauan), terdengan tanda-tanda klinis adanya infeksi seperti nyeri, panas, bengkak,
kemerahan dan peningkatan eksudat.

d. Granulasi (merah), jaringan granulasi yang sehat

e. Epitalisasi (pink), terjadi epitelisasi.

Berdasarkan kedalaman jaringan yang di kenai, luka dapat di bagi menjadi dua yaitu:

a. Simpleks, bila hanya melibatkan kulit

b. Komplikatum, bila melibatkan kulit dan jaringan di bawahnya (Karakata dan Bachsinar, 1995)

Berdasarkan keadaanya luka di bagi menjadi dua bagian, yaitu:

a. Luka tertutup. Dalam hal ini kulit masih utuh, contohnya:

a) Vulnus contussum atau luka memar. Disini kulit tidak rusak, tetapi dalam pembuluh darah sub
kutan, sehingga dapat terjadi hematom.

b) Vulnus tramaticum. Terjadi didalam tubuh, tetapi tidak tampak dari luar.

b. Luka terbuka.dalam keadaan ini kulit sudah robek, contohnya:

a) Ekskoriasi atau luka lecet adalah cedera pada permukaan epidermis akibat bersentuhan dengan
benda berpermukaan kasar atau rata.
b) Vulnus scisum atau luka sayat adalah luka sayat atau luka iris yang di tandai dengan tepi luka
berupa garis lurus atau beraturan.

c) Vulnus laceratum atau luka robek adalah luka dengan tepi tidak beraturan atau compang-camping
biasanya karena tarikan atu goresan benda tumpul.

d) Vulnus punctum atau luka tusuk adalah luka akibat tusukan benda runcing yang biasanya
kedalaman luka lebih dari lebarnya.

e) Vulnus caesum atau luka potong adalah luka yang di sebabkan oleh benda tajam yang besar,
dengan tepi yang tajam dan rata.

f) Vulnus sclopetorum atau luka tembak yang terjadi karena tembakan, granat, dan sebagainya,
dengan tepi luka yang tidak teratur.

g) Vulnus morsum atau luka gigit yang di sebabkan oleh gigitan binatang atau manusia, bentuk luka
tergatung bentuk gigi penggigit (Karakata dan Bachsinar, 1995).

h) Vulnus combotio atau luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang di
sebabakan oleh kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.

Berdasarkan ada/tidaknya kehilangan jaringan

a. Ekskoriasi

b. Skin avulsion

c. Skin loss

Berdasarkan derajat kontaminasi

a. Luka bersih

Luka sayat elektif

Steril, potensial terinfeksi. Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius, traktus elimentarius,
traktus genitourinarius.

b. Luka bersih tercemar

Luka sayat elektif

Potensi terinfeksi : spillage minimal, flora normal. Kontak dengan orofaring, respiratorius, elimentarius
dan genitourinarius. Proses penyembuhan lebih lama.

c. Luka tercemar

Potensi terinfeksi: spillage dari traktus elimentarius, kandung empedu, traktus genito urinarius, urine
d. Luka trauma baru : laserasi, fraktur terbuka, luka penetrasi.

e. Luka kotor

Akibat proses pembedahan yang sangat terkontaminasi. Perforasi visera, abses, trauma lama.

4. PATOFISIOLOGI

Vulnus terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tubuh yang bisa disebabkan oleh
traumatis/mekanis, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, dan gigitan hewan atau
binatang. Vulnus yang terjadi dapat menimbulkan beberapa tanda dan gejala seperti bengkak, krepitasi,
shock, nyeri, dan deformitas atau bisa juga menimbulkan kondisi yang lebih serius. Tanda dan gejala yang
timbul tergantung pada penyebab dan tipe vulnus.

Proses yang terjadi secara alamiah bila terjadi luka dibagi menjadi 3 fase :

1. Fase inflamsi atau lagphase berlangsung sampai 5 hari. Akibat luka terjadi pendarahan, ikut
keluar sel-sel trombosit radang. Trombosit mengeluarkan prosig lalim, trombosam, bahan kimia tertentu
dan asam amoini tertentu yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dinding pembuluh
darah dan khemotaksis terhadap leukosit. Terjadi Vasekontriksi dan proses penghentian pendarahan. Sel
radang keluar dari pembuluh darah secara diapedisis dan menuju dareh luka secara khemotaksis. Sel
mast mengeluarkan serotonin dan histamine yang menunggalkan peruseabilitas kapiler, terjadi eksudasi
cairan edema. Dengan demikian timbul tanda-tanda radang leukosit, limfosit dan monosit
menghancurkan dan menahan kotoran dan kuman.

2. Fase proferasi atau fase fibriflasi. berlangsung dari hari ke 6-3 minggu. Tersifat oleh proses preforasi
dan pembentukan fibrosa yang berasal dari sel-sel masenkim. Serat serat baru dibentuk, diatur,
mengkerut yang tidak perlu dihancurkan dengan demikian luka mengkerut/mengecil. Pada fase ini luka
diisi oleh sel radang, fibrolas, serat-serat kolagen, kapiler-kapiler baru : membentuk jaringan kemerahan
dengan permukaan tidak rata, disebut jaringan granulasi. Epitel sel basal ditepi luka lepas dari dasarnya
dan pindah menututpi dasar luka. Proses migrasi epitel hanya berjalan kepermukaan yang rata dan lebih
rendah, tak dapat naik, pembentukan jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan tertutup
epitel dan mulailah proses pendewasaan penyembuhan luka.

3. Fase remodeling fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan. Dikatakan berahir bila tanda-tanda
radang sudah hilang. Parut dan sekitarnya berwarna pucat, tipis, lemas, tidak ada rasa sakit maupun
gatal.

5. MANIFESTASI KLINIS

Apabila seseorang terkena luka maka dapat terjadi gejala setempat (local) dan gejala umum (mengenai
seluruh tubuh):

a. Gejala Local
Nyeri terjadi karena kerusakan ujung-ujung saraf sensoris. Intensitas atau derajat rasa nyeri berbeda-
beda tergantung pada berat / luas kerusakan ujung-ujung saraf dan lokasi luka.

Perdarahan, hebatnya perdarahan tergantung pada Lokasi luka, jenis pembuluh darah yang rusak.

Diastase yaitu luka yang menganga atau tepinya saling melebar

Ganguan fungsi, fungsi anggota badan akan terganggu baik oleh karena rasa nyeri atau kerusakan
tendon.

b. Gejala umum

Gejala/tanda umum pada perlukaan dapat terjadi akibat penyuli/komplikasi yang terjadi seperti syok
akibat nyeri dan atau perdarahan yang hebat.

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Sebelum mengkaji kondisi local pada tempat luka, sangatlah penting untuk mengkaji pasien secara
menyeluruh untuk mengidentifikasi masalah yang lebih luas yang mungkin mempunyai efek merugikan
pada penyembuhan luka.

Pengkajian dapat dilakukan dalam 4 tahap, yaitu pengkajian terhadap:

1. Faktor-faktor umum pasien yang dapat memperlambat penyembuhan

2. Sebab-sebab langsung dari luka dan segala patofisiologi yang mendasarinya

3. Kondisi local pada tempat luka

4. Kemungkinan konsekuensi luka bagi seseorang

A. Pengkajian umum pasien

1. Pengkaajian umum

Penting artinya untuk memulai setiap pengkajian di mulai dengan pengkajian umum terhadap pasien.
Setiap pengkajian pasien harus meliputi pengkajian dan dokumentasi tentang kondisi fisik umum,
kemampuan perawatan, penampilan kulit, mobilitas, status nutrisi, kontinensi, fungsi sensoris, status
kardiovaskuler, fungsi respirasi, ada tidaknya nyeri, status kesadaran dan kewaspadaan mental, status
emosional dan pemahaman kondisi saat ini, medikasi terbaru, alergi dan keadaan sosial.

a. Status nutrisi

Malnutrisi merupakan penyebab yang sangat penting dari kelambatan penyembuhan luka. Pentingnya
pemantauan secara ketat terhadap berat badan dan indicator malnutrisi lainnya pada pasien dengan
cedera berat, setelah operasi besar, dan saat terdapat septicemia sangat ditekankan (Kinney, 1980).
Mintalah nasehat ahli gizi apabila dicurigai adanya malnutrisi.
b. Nyeri

Nyeri merupakan suatu masalah yang umum dan seringkali dipandang rendah pada pasien-pasien yang
menderita luka. Penatalaksanaan nyeri yang tidak adekuat dapat menjadi lingkaran setan yang terdiri
dari ketegangan otot, keletihan, ansietas dan depresi yang dapat memperlambat penyembuhan dengan
cara menekan efektifitas sistem imun (Maier dan Laudenslager, 1985).

c. Faktor-faktor psikososial

1. Faktor positif

Pengetahuan yang baik tentang penyakit/kondisi sakit

Partisipasi aktif dalam pengobatan

Hubungan yanga baik dengan petugas

Metode koping yang fleksibel

Hubungan sosial suportif yang baik

Orientasi positif terhadap pengobatan dan rehabilitasi dari anggota tim perawatan kesehatan

2. Faktor negatif

Tidak bersedia atau tidak mampu mengetahui tentang kondisi / penyakit

Rasa kurang percaya dan ketidakmauan untuk berpartisipasi dalam pengobatan

Hubugan yang buruk dengan petugas

Ketergantungan pasif, penolakan persisten atau disposisi emosi tinggi

Hubungan keluarga yang buruk, hidup sendiri

Perilaku negatif dari petugas terhadap pengobatan dan penyembuhan

3. Mengkaji penyebab luka

Mengkaji penyebab langsung dari luka dan bila memungkinkan segala patofisiologi yang mendasari
merupakan persyaratan dalam merencanakan perawatan yang tepat dan juga untuk mencegah
kekambuhan luka dalam jangka panjang.

4. Pengkajian luka dan identifikasi masalah

Setelah mengkaji pasien secara keseluruhan, penyebab langsung dari luka dan semua patofisiologi yang
mendasarinya, sangatlah penting bagi perawat untuk melakukan pengkajian yang akurat terhadap uka
itu sendiri, dengan maksud untuk mengidentifikasi semua factor-faktor local yang dapat memperlambat
penyembuhan seperti jaringan nekrotik, krusta yang berlebihan, infeksi ataupun eksudat yang
berlebihan. Pengkajian luka yang akurat dan terus meneurs sangatlah penting untuk merencanakan
penatalaksanaan local luka yang adekuat dan untuk mengevaluasi efektivitasnya. Hal tersebut juga
penting untuk dilakukan agar dapat mengenali kapan penyembuhan berkembang baik, dengan mampu
mengenali jaringan granulasi dan epitelialisasi yang sehat.

5. Mengkaji konsekuensi luka

Penyebab luka berpengaruh langsung terhadap perasaan pasien tentang luka itu sendiri dan mungkin
juga tentang konsekuensi fisik, social dan akibat emosional. Konsekuensi dari luka dapat digolongkan ke
dalam:

Konsekuensi fisik: kehilangan fungsi, jaringan parut dan nyeri kronik

Konsekuensi emosional: perubahan citra tubuh, masalah dalam hubungan social, masalah seksual

Konsekuensi social: gagal dalam melaksanakan peran social tertentu seperti pekerjaan atau adanya
pembatasan aktivitas dalam peran tersebut.

7. KOMPLIKASI

1. Penyulit dini seperti : hematoma, seroma, infeksi

2. Penyulit lanjut seperti : keloid dan parut hipertrifik dan kontraktur

Dampak terhadap sistem tubuh

1. Kecepatan metabolisme

Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik
serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal.

2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme, maka
akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke
luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas
menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan
rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH, sehingga terjadi
peningkatan diuresis.

3. Sistem respirasi.

a. Penurunan kapasitas paru

Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang, maka kontraksi otot intercosta relatif kecil,
diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa.

b. Perubahan perfusi setempat


Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi
setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau
infeksi) terjadi hipoksia.

c. Mekanisme batuk tidak efektif

Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus
cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal.

4. Sistem Kardiovaskuler

a. Peningkatan denyut nadi

Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik, endokrin dan mekanisme pada keadaan
yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi.

b. Penurunan cardiac reserve

Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat, hal ini mengakibatkan waktu pengisian
diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup.

c. Orthostatik Hipotensi

Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior dan venula tungkai
berkontraksi tidak adekuat, vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak
berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersirkulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel
saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien
merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan.

5. Sistem Muskuloskeletal

a. Penurunan kekuatan otot

Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat
berkurang pada jaringan, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga
menjadikan kelelahan otot.

b. Atropi otot

Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Hal ini
menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot.

c. Kontraktur sendi

Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak.

d. Osteoporosis
Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik
sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos.

6. Sistem Pencernaan

a. Anoreksia

Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan
mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya
nafsu makan.

b. Konstipasi

Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi
sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon, menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang
air besar.

7. Sistem perkemihan

Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar,
sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat
menyebabkan: Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal dan
tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan
ISK.

8. Sistem integumen

Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga
akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi
ischemia, hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk
meningkatkan suplai darah.

Beberapa masalah yang dapat terjadi dalam proses penyembuhan luka adalah sebagai berikut:

1. Perdarahan, ditandai dengan adanya perdarahan disertai perubahan tanda vital seperti kenaikan
denyut nadi, kenaikan pernapasan, penurunan tekanan darah, melemahnya kondisi tubuh, kehausan,
serta keadaan kulit yang dingin dan lembab.

2. Infeksi, terjadi bila terdapat tanda-tanda seperti kulit kemerahan, demam atau panas, rasa nyeri
dan timbul bengkak, jaringan di sekitar luka mengeras, serta adanya kenaikan leukosit.

3. Dehiscene, merupakan pecahnya luka sebagian atau seluruhnya yang dapat dipengaruhi oleh
berbagai faktor, seperti kegemukan, kekurangan nutrisi, terjadi trauma, dan lain-lain. Sering ditandai
dengan kenaikan suhu tubuh (demam), takikardia, dan rasa nyeri pada daerah luka.

4. Eviceration, yaitu menonjolnya organ tubuh bagian dalam ke arah luar melalui luka. Hal ini dapat
terjadi jika luka tidak segera menyatu dengan baik atau akibat proses penyembuhan yang lambat.
5. Luka kecil yang bernanah, Peradangan kulit dalam bentuk luka-luka (borok) kecil yang bernanah
seringkali terjadi akibat menggaruk gigitan serangga, penyakit kudis atau gangguan lainnya akibat
menggunakan kuku jari tangan yang kotor.

8. PENATALAKSANAAN MEDIS

Pertama dilakukan anstesi setempat atau umum, tergantung berat dan letak luka, serta keadaan
penderita, luka dan sekitar luka dibersihkan dengan antiseptic. Bahan yang dapat dipakai adalah larutan
yodium frovidon 1% dan larutan klorheksin %, larutan yodium 3% atau alcohol 70% hanya digunakan
untuk membersih kulit disekitar luka.

Kemudian daerah disekitar lapangan kerja ditutup dengan kain steril dan secara steril dilakukan kembali
pembersihan luka dari kontaminasi secara mekanis, misalnya pembuangan jaringan mati dengan guntung
atau pisau dan dibersihkan dengan bilasan, guyuran atau semprotan NaCl. Akhirnya dilakukan penjahitan
dengan rapid an luka ditutup dengan bahan yang dapat mencegah lengketnya kasa, misalnya kasa yang
mengandung vaselin ditambah dengan kasa penyerap dan dibalut dengan pembalut elastic.

1. Wound Cleansing

Langkah membersihkan luka secara umum adalah:

a. Lakukan tindakan dan antiseptic

b. Anestesi local (kecuali pada luka bakar kemungkinan memrlukan general anestesi)

c. Mechanical Scrubbing, menggosok luka dengan kassa steril, memakai larutan antiseptik

d. Dilusi dan irrigasi 500-2000 cc atau 50-100 cc/panjang luka, tergantung dari luas dan kotornya luka.

a) Larutan yang digunakan adalah NS

b) Dilanjutkan dengan klorheksidin atau betadin

c) Kembali irigasi dan dilusi sampai benar-banar bersih

2. Debridemen

Pembersihan luka dan debridemen di awali pada lapisan superfisial jaringan sampai ke lapisan terdalam.
Perhatikan tanda-tanda avital/mati, yaitu warna lebih pucat, lebih rapuh dan tidak berdarah. Buang
jaringan avital dengan pisau atau gunting, perhatikan anatomi daerah tersebut, jangan mencederai
vascular atau nervus. Lakukan debridement sampai jaringan yang normal terlihat, biasanya terlihat
adanya perdarahan dari jaringan yang dipotong.

3. Penutupan Luka
Jika luka bersih dan jaringan kulit dapat menutup, maka lakukan jahitan primer. Jika luka bersih namun
diperkirakan produktif, misalnya kemungkinan seroma atau infeksi, maka pansanglah drain. Jika luka
kotor, maka lakukan perawatan luka terbuka untuk selanjutnya dilakukan hekting sekunder.

4. Medikamentosa

Antibiotik

Tujuan pemberian atibiotik adalah untuk profilaksis

a. Topikal /larutan/Salep

b. Mengurangi pembentukan krusta yang dapat menghambat epitaelisasi

c. Mencegah kassa melekat pada luka

d. Mengurangi tingkat infeksi

e. Sistemik berupa sediaan oral ataupun parenteral.

5. Pemberian anti tetanus

Pemberian tetanus toksoid dilakukan jika belum atau lama tidakmendapatkan booster TT. Jika telah
mendapat booster sebelumnya, cukup diberikan anti tetanus serum yang terlebih dahulu dilakukan skin
test.