Anda di halaman 1dari 28

Skenario :

Perempuan 21 tahun dibawa ke puskesmas dalam keadaan tidak sadar. Setelah diletakkan di
tempat tidur dan diperiksa, penderita tidak memberi respon dan tetap mendengkur dengan irama
napas 40kali/menit. Muka kelihatan pucat, nadi radial tidak teraba. Ditemukan jejas pada daerah
pelipis kanan, bahu kanan, dan perut kiri bawah. Dari beberapa orang yang mengantar tidak
satupun yang tinggal dan dapat memberi keterangan tentang keadaan dan apa yang terjadi pada
penderita tersebut.

Kata kunci :

Perempuan 21 tahun
Tidak sadar
Tidak memberi respon
Tetap mendengkur
Irama napas 40x/menit
Muka kelihatan pucat, nadi radial, tidak teraba
Jejas pada daerah pelvis kanan, bahu kanan, dan perut kiri bawah
Pengantar tidak ada yang tinggal dan tidak dapat memberi keterangan

Pertanyaan :

1.Tingkat-tingkat kesadaran ?

2.Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan kesadaran ?

3.Mekanisme penurunan kesadaran pada scenario?

4.Hubungan antara gejala dan scenario?

5.Penanganan awal pasien tidak sadar ?

6.Penanganan lanjutan dan penegakkan diagnosis ?

7.Differential diagnosis ?

Jawab :

1. Macam-macam tingkat kesadaran :


Kompos mentis : Keadaan pasien sadar penuh, baik terhadap lingkungan maupun
terhadap dirinya sendiri. Gcs : 15-14
Apatis : Keadaan pasien dimana tampak acuh tak acuh dan segan terhadap
lingkungannya. Gcs :13-12
Delirium : Keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran disertai kekacauan
motoric serta siklus tidur bangun yang terganggu. Gcs :11-10
Somnolen : Keadaan pasien mengantuk yang dalam. Gcs : 6-5
Semi koma : Keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran yang tidak memberikan
respons rangsang terhadap rangsang verbal, serta tidak mampu untuk dibangunkan sama
sekali, tapi respons terhadap nyeri tidak adekuat serta reflek (pupil&kornea) masih baik.
Gcs : 4
Koma : Keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran yang sangat dalam,
tidak terdapat respons pada rangsang nyeri serta tidak ada gerakan spontan. Gcs : 3.

2. Untuk memudahkan mengingat dan menelusuri kemungkinan kemungkinan penyebab


penurunan kesadaran dengan istilah SEMENITE yaitu :
S : Sirkulasi, Meliputi stroke dan penyakit jantung
E : Ensefalitis, Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik / sepsis yang
mungkin melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan.
M : Metabolik, Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma hepatikum
E : Elektrolit, Misalnya diare dan muntah yang berlebihan.
N : Neoplasma, Tumor otak baik primer maupun metastasis
I : Intoksikasi, Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia dapat menyebabkan
penurunan kesadaran
T : Trauma, Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan
subdural, dapat pula trauma abdomen dan dada.
E : Epilepsi, Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat menyebabkan
penurunan kesadaran
3. MEKANISME PENURUNAN KESADARAN

Trauma Abdomen
Trauma kepala Kemungkinan
perdarahan fraktur cervikal

Perdarahan
intrakranial Penekanan pusat
Syok hipovolemi
kesadaran

Penekanan batang
hipoksia otak

Penekanan ARAS
Penimbunan
asam laktat

Supalai O2 ke Kesadaran
otak
menurun

Gangguan
korteks cerebri

4. Hubungan antar gejala

Snoring (mendengkur) berasal dari sumbatan pangkal lidah, cara mengatasi dengan :

chin lift
jaw trust
pemasangan pipa orofaring
ETT (endo trakeal tube)

Muka terlihat pucat dan nadi radial tidak teraba merupakan tanda-tanda syok hipovolemik akibat trauma.

Jejas pada pelipis kanan, bahu kanan dan perut kiri bawah merupakan tanda bahwa korban menglami trauma
tumpul akibat perdarah internal didaerah abdomen, pelipis dan bahu
5. Penanganan Awal Pasien dengan Penurunan Kesadaran

1. Primary Survey

A. Airway
Tujuan : Membebaskan jalan napas dari sumbatan
Pengelolaannya perlu : cepat, tepat, cermat
Untuk menilai jalan napas, lakukan Head tilt-Chin lift. Jika pasien kecelakaan maka
lakukan Jaw thrust
1. Lihat-Look
Gerak dada dan perut, tanda distress napas, warna kulit (pasien harus dibuka bajunya)
2. Dengar-Listen
Suara napas, ada sunbatan atau tidak
3. Rasa-Feel
Rasakan ada napas di bagian pipi pemeriksa

Pastikan pasien sadar atau tidak sadar. bisa lakukan penilaian AVPU jika ingin menilai
kesadaran dengan cepat. Jika ada benda asing dalam mulut lakukan finger swap. Jika
pasien muntah maka miringkan kepala pasien atau disedot supaya tidak aspirasi.

Alat Bantu Jalan Napas


1. Oro-pharingeal airway tube : GCS 8
2. Naso-pharingeal tube : GCS 8
3. Laringeal mask airway
4. Cricothyroidotomy : jalur darurat untuk oksigenasi 10 menit saja
5. Intubasi trachea

B. Breathing
Tujuan : O2 masuk paru-paru CO2 keluar paru-paru
Gerak napas harus ada
1. Evaluasi ulang pernapasan dengan look, listen, and feel dengan memperhatikan
frekuensi napas, gerakan otot napas tambahan, dan sianosis.
2. Pada orang dengan memar di dada maka perlu dicurigai adanya tension pneumothorax
dengan didapatkan klinis selain memar, pemeriksaan pada trakeanya miring ke paru
yang kontralateral karena paru bagian kontralateral terdesak oleh udara. Lakukan
penusukan jarum/spoit ukuran besar (kira-kira 12) di ICS 2 untuk mengeluarkan udara
dan menstabilkan pasien.
3. Jika ada luka dada terbuka atau luka tembus dada tutup luka dengan kasa 3 sisi
kemudian diberi O2.
4. Untuk pasien gawat diberi O2 60%-100%
5. Jika tidak ada napas sama sekali lakukan pijat jantung 30 kali dan diselingi dengan 2
kali napas buatan. Panggil bantuan.

C. Circulation
1. Kenali tanda sirkulasi normal : telapak tangan kaki hangat dan merah. Jika terlihat
pucat, dingin dan basah itu tanda gangguan sirkulasi. Nadi normal 60-100 kali/menit
dan teratur. TD tidak kurang dari 90 mmHg. Urine output > 1 cckg/jam.
2. Kenali tanda shock. Ada gangguan perfusi perifer dengan cek capillary refill time di
kuku jari selama 2 detik.selanjutnya di radialis, di femoralis dan di carotis.
3. Lakukan posisi shock jika pasien shock dengan mengangkat tungkai lebih tinggi
daripada jantung untuk memberi infuse 300-500 cc darah ke jantung dan otak.
4. Pertolongan lebih lanjut : infuse cairan untuk syok hipovolemik, infuse digitalis untuk
syok kardiogenik, dopamine, kalo syok distributive diberi adrenalin dan infuse cairan.
Cardiac arrest dilakukan jika Co > 20%.

D. Disability
AVPU
A : awake
V : verbal
P : pain
U : un-respond

GCS
Eye : Membuka mata spontan (4)
Membuka mata atas perintah (3)
Membuka mata bila dirangsang nyeri (2)
Tidak membuka mata bila dirangsang nyeri (1)
Verbal : Orientasi waktu, tempat dan perorangan baik (5)
Kalimat dan kata baik, tapi isi tidak jelas (4)
Kata baik, tapi kalimat tidak jelas (3)
Makna kata tidak dapat dimengerti (2)
Tidak keluar kata (1)
Motorik : Gerakan mengikuti perintah (6)
Dapat menunjuk lokas (5)
Menarik lengan/tungkai hanya gerakan aduksi (4)
Gerakan fleksi (3)
Responsi ekstensor (2)
Tidak ada gerakan (1)
Penilaian kesadaran 3-8 : penurunan kesadaran berat. 9-12 penurunan kesadaran yang
sedang dan 13-15 penurunan kesadaran yang ringan.
Tambahan : cek respon pupil.

6. Penanganan lanjutan (secondary survey) dan penegakkan diagnosis

I. Riwayat Penyakit

Anamnesis :
Hampir selalu ditemukan riwayat trauma oleh karena kecelakaan lalu lintas, kecelakaan
kerja atau trauma lainnya. Pada orang tua dengan kecelakaan yang terjadi di rumah
perlu dipikirkan kemungkinan gangguan pembuluh darah otak (stroke) karena keluarga
kadang-kadang tak mengetahui pasti urutan kejadiannya, apakah jatuh kemudian tidak
sadar atau kehilangan kesadaran lebih dahulu sebelum jatuh. Anamnesis yang lebih
terperinci meliputi sifat kecelakaan atau sebab-sebab trauma untuk estimasi berat
ringannya benturan, saat terjadi beberapa jam/hari sebelum dibawa ke rumah sakit, ada
tidaknya benturan kepala langsung dan keadaan penderita saat kecelakaan misalnya
kejang, kelemahan motorik, gangguan bicara dan perubahan kesadaran sampai saat
diperiksa serta adanya nyeri kepala, mual muntah.
Bila si pasien dapat diajak berbicara, tanyakan urutan peristiwa sejak sebelum
terjadinya kecelakaan, sampai saat tiba di rumah sakit untuk mengetahui kemungkinan
adanya amnesia retrograd. Muntah dapat disebabkan oleh tingginya tekanan
intrakranial. Pasien tidak selalu dalam keadaan pingsan (hilang/turun kesadarannya),
tapi dapat kelihatan bingung/disorientasi (kesadaran berubah).
Riwayat Penyakit Sebelumya: perlu dianamnesis lebih jauh tentang riwayat penyakit
sebelum cedera kepala.
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan di instalasi gawat darurat mengunakan pendekatan survei
primer dengan menilai jalan napas, pernapasan dan sirkulasi kemudian segera
melakukan tindakan life saving.

II. Penemuan Klinis


Kesan Umum : Pasien bisa compos mentis atau terdapat penurunan kesadaran sampai
dengan koma (kriteria kesadaran Alert Verbal Pain Unresponsiveness )
Survei primer dilakukan menilai ada tidaknya gangguan jalan napas dan stabilisasi
servikal, pernapasan dan sirkulasi kemudian segera melakukan tindakan resusitasi jika
diperlukan.
Survei sekunder dilakukan pemeriksaan lengkap mulai ujung kepala sampai ujung kaki
melakukan anamnesis lengkap dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik lengkap meliputi:1) tanda vital, 2) tingkat kesadaran
dengan Glasgow Coma Scale atau Pediatric Coma Scale, 3) ada tidaknya cedera luar
yang terlihat: cedera pada kulit kepala, perdarahan hidung ataupun telinga, hematom
periorbital dan retroaurikuler, 4) tanda-tanda neurologis fokal seperti ukuran pupil dan
reaksi cahaya, gerakan mata, pola aktivitas motorik dan fungsi batang otak, 5) reflek
tendon, 6) fungsi sensorik dan serebeler perlu diperiksa jika pasien sadar.
Kriteria Diagnosis
Cedera kepala ringan (CKR dengan GCS 13-15); Cedera kepala sedang (CKS dengan
GCS 9-12); Cedera kepala berat (CKB dengan GCS <= 8). Diagnosis morfologi:
fraktur cranium, perdarahan EDH; SDH; ICH, lesi intrakranial difus komosio ringan;
komosio klasik; diffuse axonal injury.

III. Pemeriksaan Penunjang

Rontgen foto tengkorak 3 posisi: menilai ada tidaknya fraktur


CT Scan kepala: menilai ada tidaknya perdarahan, edema serebri dan kelainan
morfologi lain (bila memungkinkan)
Darah rutin dan pemeriksaan lain sesuai indikasi

IV. Diagnosis

Masalah Aktif
Cedera kepala ringan
Cedera kepala sedang
Cedera kepala berat
Suspek fraktur basis craniii/fraktur.
Diagnosis Kerja
Epidural hematom, subdural hematom, perdarahan subarakhnoid, perdarahan
intracranial atau hematoma jaringan lunak
Diagnosis Banding
Stroke, tumor otak
Diagnosis Keperawatan
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
(penurunan kesadaran)
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi/hiperventilasi/disfungsi
neuromuskuler (penurunan kesadaran)/cedera spinal.
Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral: trauma kepala
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik

V. Standar Pengelolaan

Standar Terapi
Penatalaksanaan cedera kepala secara umum dengan memperbaiki jalan
napas (airway), pernapasan (breathing) dan sirkulasi pasien, mencegah tidak sampai
terjadi hipoventilasi dan hipovolemia yang dapat menyebabkan secondary brain
damage.

PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA RINGAN (GCS 1315)

Observasi atau dirawat di rumah sakit bila CT Scan tidak ada atau hasil CT Scan
abnormal, semua cedera tembus, riwayat hilang kesadaran, sakit kepala sedangberat,
pasien dengan intoksikasi alkohol/obat-obatan, fraktur tengkorak, rinorea-otorea,
cedera penyerta yang bermakna, tidak ada keluarga yang di rumah, tidak mungkin
kembali ke rumah sakit dengan segera, dan adanya amnesia. Bila tidak memenuhi
kriteria rawat maka pasien dipulangkan dengan diberikan pengertian kemungkinan
kembali ke rumah sakit bila dijumpai tanda-tanda perburukan.
Observasi tanda vital serta pemeriksaan neurologis secara periodik setiap - 2 jam.
Pemeriksaan CT Scan kepala sangat ideal pada penderita CKR kecuali memang sama
sekali asimtomatik dan pemeriksaan neurologis normal.

PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA SEDANG (GCS 9-12)

Dirawat di rumah sakit untuk observasi, pemeriksaan neurologis secara periodik.


Bila kondisi membaik, pasien dipulangkan dan kontrol kembali, bila kondisi
memburuk dilakukan CT Scan ulang dan penatalaksanaan sesuai protokol cedera
kepala berat.

PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA BERAT (GCS <= 8)

Pastikan jalan nafas korban clear (pasang ET), berikan oksigenasi 100% dan jangan
banyak memanipulasi gerakan leher sebelum cedera cervical dapat disingkirkan.
Berikan cairan secukupnya (ringer laktat/ringer asetat) untuk resusitasi korban agar
tetap normovolemia, atasi hipotensi yang terjadi dan berikan transfusi darah jika Hb
kurang dari 10 gr/dl.
Periksa tanda vital, adanya cedera sistemik di bagian anggota tubuh lain, GCS dan
pemeriksaan batang otak secara periodik.
Berikan manitol iv dengan dosis 1 gr/kgBB diberikan secepat mungkin pada penderita
dengan ancaman herniasi dan peningkatan TIK yang mencolok.
Berikan anti edema cerebri: kortikosteroid deksametason 0,5 mg 31, furosemide
diuretik 1 mg/kg BB tiap 6-12 jam bila ada edema cerebri, berikan anti perdarahan.
Berikan obat-obatan neurotonik sebagai obat lini kedua, berikan anti kejang jika
penderita kejang, berikan antibiotik dosis tinggi pada cedera kepala terbuka, rhinorea,
otorea.
Berikan antagonis H2 simetidin, ranitidin iv untuk mencegah perdarahan
gastrointestinal.
Koreksi asidodis laktat dengan natrium bikarbonat.
Operasi cito pada perkembangan ke arah indikasi operasi.
Fisioterapi dan rehabilitasi.
Standar Tindakan
Bila perlu dilakukan pembedahan (craniotomy), bila terjadi kegawatan dilakukan
resusitasi sesuai SOP resusitasi jantung paru.
Standar Edukasi dan Rehabilitasi
Edukasi:
Terangkan hubungan keluhan, gejala dengan pengobatan
Dipuasakan dulu bila perlu.
Standar Asuhan Keperawatan
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
(penurunan kesadaran)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai kondisi pasien (maksimal dua jam)
seperti berikut, maka bersihan jalan nafas efektif dengan kriteria hasil suara nafas
bersih atau tidak ada suara tambahan.
NIC : Suction jalan nafas
Pastikan kebutuhan suction mulut/trakea, auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah
suksion, informasikan pada klien dan keluarga tentang suksion, berikan oksigen dengan
menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal, lakukan suction, monitor
status oksigen pasien, hentikan suksion dan berikan oksigen apabila pasien
menunjukkan bradikardi, peningkatan saturasi oksigen.
NIC : Manajemen jalan nafas
Buka jalan nafas gunakan teknik manuver chin lift atau jaw thrust bila perlu, posisikan
pasien untuk memaksimalkan ventilasi, identifikasi pasien perlunya pemasangan alat
jalan nafas buatan, pasang mayo bila perlu, berikan bronkodilator bila perlu, monitor
saturasi oksigen.
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi/hiperventilasi/disfungsi
neuromuskuler (penurunan kesadaran)/cedera spinal.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai kondisi pasien (maksimal 2 jam), pola
nafas efektif dengan kriteria hasil: frekuensi nafas dalam batas normal, kedalaman
inspirasi dan ekspansi paru simetris, tidak tampak adanya penggunaan otot pernafasan
tambahan, tidak tampak adanya retraksi dinding dada, tidak tampak adanya nafas
melalui mulut.
NIC : Terapi Oksigen
Atur peralatan oksigenasi, monitor aliran oksigen, pertahankan posisi pasien, berikan
oksigen sesuai dengan yang diresepkan, observasi adanya. tanda tanda
hipoventilasi/hiperventilasi.
NIC : Monitor Tanda-tanda Vital
Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi nafas, catat adanya fluktuasi tekanan
darah, monitor pola pemapasan abnormal, monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit,
monitor sianosis perifer, monitor adanya cushing triad (tekanan nadi melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik).
Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral: trauma kepala
Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai keadaan pasien maksimal dua jam,
perfusi jaringan serebral efektif dengan kriteria hasil: tingkat kesadaran membaik, tidak
ada tanda-tanda peningkatan TIK (edema papil, muntah proyektil)
NIC : Cerebral Perfussion Promotion
Kolaborasi dengan dokter untuk menentukan parameter hemodinamik yang diperlukan,
pertahankan posisi kepala pasien lebih tinggi 15 derajat, hindari aktivitas secara tiba-
tiba, pertahankan serum glukosa pada rentang normal, monitor tanda-tanda perdarahan,
monitor status neurologi
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik
Setelah dilakukan tindakan keperawatan sesuai dengan kondisi pasien maksimal 2 jam,
nyeri teratasi dengan criteria hasil : mampu mengontrol nyeri, mampu mengenali nyeri
(skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
NIC : Manajemen Nyeri
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan factor presipitasi, observasi reaksi non verbal dari ketidak
nyamanan, kurangi faktor presipitasi nyeri, kolaborasi dengan dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak berhasil.

7. Differential diagnosis

TRAUMA KAPITIS

I. PENGERTIAN

Trauma kapitis adalah ganguan traumatik yang menyebabkan gangguan fungsi otak
disertai atau tanpa disertai perdarahan intestiri dan tidak menganggu jaringan otak. Head injury
(Trauma kepala) termasuk kejadian trauma pada kulit kepala, tengkorak atau otak. Batasan
trauma kepala digunakan terutama untuk mengetahui trauma cranicerebral, termasuk gangguan
kesadaran. Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang
tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada
kepala.

II.Jenis Trauma Otak

1. Trauma Primer

~ Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung (akselerasi/deselerasi utuh).

2. Trauma Sekunder

~ Merupakan akibat dari trauma saraf (melalui akson) yang meluas, hipertensi,
intrakranial, hipoksia, hiperapnea, atau hipotensi sistemik.

Jenis Trauma Kepala

1. Robekan Kulit Kepala

Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Oleh karena kulit
kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi,
sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. Komplikasi utama robekan kepala ini
adalah infeksi.

2.. Fraktur Tulang Tengkorak

Fraktur tulang tengkorak sering terjadi pada trauma kepala. Beberapa cara untuk
menggambarkan fraktur tulang tengkorak :

Garis patahan atau tekanan.

Sederhana, remuk atau compound


Terbuka atau Tertutup

Fraktur yang terbuka atau tertutup bergantung pada keadaan robekan kulit atau sampai
menembus kedalam lapisan otak. Jenis dan kehebatan fraktur tulang tengkorak bergantung pada
kecepatan pukulan, momentum, trauma langsung atau tidak.

II. ANATOMI FISIOLOGI

Tulang kepala terdiri dari 3 lapisan:

Tabula Eksterna
Merupakan lapisan yang keras
Diploe
Merupakan lapisan tulang cancellous dan mengandung banyak cabang cabang
arteri / vena diploika yang berasal baik dati permukaan luar maupun dari durameter.
Tabula Interna
Serupa tabula eksterna tetapi hanya lebih tipis, sehingga pada benturan tidak tertutup
kemungkinan terjadi fraktur menekan pada tabula interna, dengan tabula eksterna tetapi
intak.
Meningen

Membran jaringan ikat yang terdiri dari:

1.Durameter (Pachymeninx)

Lapisan paling luar, merupakan lapisan fibrosa, liat dan kuat.


Membagi ruang antara kranium dan otak menjadi:

*Ruang Epidural : antara tulang dan durameter

*Ruang Subdural : antara durameter dan otak

Terdiri dari 2 lapisan:

*Lapisan luar : dikenal sebagai periosteum interna dan berhubungan dengan


periosteum eksterna melalui foramen magnum.
*Lapisan dalam : berjalan terus ke distal sebagai durameter spinal. Dengan adanya
struktur ini tidak terjadi komunikasi antara ruang epidural kepala dengan ruang
epidural spinal.
Mempunyai 4 bangunan lipatan durameter, yaitu:
*Falx Cerebri
*Tentorium Cerebri
*Difragma Sella
*Falx Serebeli

2. Arakhnoid

Membran jaringan ikat, tipis, tansparan, avaskuler terpisah dari durameter diatasnya
hanya oleh sedikit cairan yang fungsinya sebagai pembasah.
Di permukaan basal otak dan sekitar batang otak, piameter dan arakhnoid terpisah agak
jauh sehingga terbentuk ruang sisterna subarakhnoid.
Dibagian ventral baatang otak
- Sisterna kiasmatik : terletak di daerah kiasma optika
- Sisterna interpendukularis : terletak pada fossa interpedunkularis mesensefalon
- Sisterna pontin : terletak di persimpangan pontomedularis
Dibagian dorsal batang otak
- Sisterna magna (sisterna cerebellomedullaris)
- Sisterna ambiens (sisterna superior)

3. Piameter

Lapisan meningen paling dalam, terdiri dari 2 lapis;


Fungsi : sebagai pelindung masuknya bahan toksis atau mikroorganisme.
Melekat pada parenkim otak / spinal, sehingga mengikuti bentuk sulkus-sulkus.
Mengandung pembuluh darah kecil yang memebri makan pada struktur otak
dibawahnya.
Bersama dengan lapisan arakhnoid disebut Leptomeningen.
Pembagian otak ada 3 yaitu:
-Serebrum (otak besar)
Terdiri dari 2 hemisfer dan 4 lobus
- Hemisfer kanan dan hemisfer kiri
- Lobus terdiri dari:
lobus frontal
lobus terbesar, pada tosa anterior
fungsi : mengontrol perilaku individu,kepribadian, membuat keputusan dan menahan
diri
lobus temporal (samping)
fungsi menginterpretasikan sensori mengecap, bau dan pendengaran
lobusparietal
fungsi menginterpretasikan sensori
lobus oksipital (posterior)
fungsi menginterpretasikan penglihatan
-Serebelum (otak kecil)
Terletak di bagian posterior dan terpisah dari hemister serebral
Serebelum mempunyai fungsi merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang
luas terhadap koordinasi dan gerakan halus.
-Batang Otak
Terdiri dari bagian-bagian otak tengah, pons dan medula oblongata:
*otak tengah
menghubungkan pons dan serebelum dengan hemister serebrum
*pons
terletak di depan serebelum antara otak tengah dan medula
*medula oblongata
fungsi meneruskan serabut-serabut motorik dari otak medula spinalis ke otak
Sistem Syaraf Perifer
- sistem syaraf somatik
- sistem syaraf otonom : * susunan syaraf simpatis
* susunan syaraf parasimpatis
~ Sistem syaraf Somatik
Susunan syaraf yang mempunyai peranan spesifik untuk mengetur aktivitas otot sadar /
serat lintang.
~ Sistem syaraf Otonom
Susunan syaraf yang mempunyai peranan penting, mempengaruhi pekerjaan otot tak
sadar (otot polos).
Seperti: otot jantung, hati, pancreas, saluran pencernaan, kelenjar, dll.
Fungsi Sistem Persyarafan
Menerima informasi (stimulus) internal maupun eksternal, melalui syarat sensori.
Mengkomunikasikan antara syarat pusat sampai syarat tepi
Mengolah informasi yang diterima di medula spinalis dan atau di otak, yaitu
menentukan respon.
Mengatur jawaban (respon) secara cepat melalui syaraf motorik (efferent motorik
palway), ke organ-organ tubuh sebagai kontrol / modifikasi tindakan.
Sirkulasi darah pada Serebral
Otak menerima sekitar 20% dari curah jantung. Kurangnya suplai darah ke otak dapat
menyebabkan jaringan rusak ireversibel.
2 arteri yaitu arteri carotis interdan dan arteri vertebral adalah arteri yang menyuplai
darah ke otak. Pada dasar otak disekitar kelenjar hipofisis, terdapat sebuah lingkaran
arteri terbentuk diantara rangkaian arteri karotis interna dan vertebral, disebut sirkulus
wilisi yang dibentuk dari cabang-cabang arteri carotis internal. Sedangkan vena-vena
pada serebri bersifat unik, karena tidak seperti vena-vena lain. Vena-vena serebri tidak
mempunyai katup untuk mencegah aliran darah balik.

III. ETIOLOGI

Cidera kepala dapat disebabkan oleh dua hal antara lain :

Benda tajam
Trauma benda tajam dapat menyebabkan cidera setempat.
Benda tumpul
Dapat menyebabkan cidera seluruh kerusakan terjadi ketika energi/kekuatan diteruskan
kepada otak.
Penyebab lain:
kecelakaan lalulintas
jatuh
pukulan
kejatuhan benda
kecelakaan kerja / industri
cidera lahir
luka tembak

Mekanisme cidera kepala

Ekselerasi
Ketika benda yang sedang bergerak membentur kepala yang diam.
Contoh : akibat pukulan lemparan.
Deselerasi
Akibat kepala membentur benda yang tidak bergerak.
Contoh : kepala membentur aspal.
Deforinitas
Dihubungkan dengan perubahan bentuk atau gangguan integritas bagian tubuh yang
dipengaruhi oleh kekuatan pada tengkorak.
Berdasarkan berat ringannya :
1) Cidera kepala ringan G C S : 13 15
2) Cidera kepala sedang G C S : 9 12
3) Cidera kepala berat GCS:38
Penyebab terbesar cedera kepala adalah kecelakaan kendaraan bermotor.jatuh dan
terpeleset.Biomekanika cedera kepala ringan yang utama adalah akibat efek
ekselarasi/deselerasi atau rotasi dan putaran. Efek ekselerasi/deselerasi akan
menyebabkan kontusi jaringan otak akibat benturan dengan tulang tengkorak, terutama
di bagian frontal dan frontal temperol. Gaya benturan yag menyebar dapat
menyebabkan cedera aksonal difus (diffuse axonal injury) atau cedera coup-
contra.coup.

IV. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala cidera kepala dapat dikelompokkan dalam 3 kategori utama:
Tanda dan gejala fisik/sumatik
Nyeri kepala, dizziness, nausea, vomitus.
Tanda dan gejala kognitif
Gangguan memori, gangguan perhatian dan berpikir kompleks.
Tanda dan gejala emosional/kepribadian
Kecemasan, iritabilitas.
Gejala sbb:
jika klien sadar akan mengeluh sakit kepala berat
muntah projektil
8. papil edema
kesadaran makin menurun
perubahan tipe pernapasan
anisokor
tekanan darah turun, bradikardia
suhu tubuh yang sulit dikendalikan
( Cholik dan Saiful, 2007, hal. 31 )

VI. KOMPLIKASI

Komplikasi pada Trauma Kapitis :


Kebocoran cairan Serebrospinal
Akibat fraktor pada Fossa anterior dekat sinus frontal atau dari fraktor tengkorak
bagian petrous dari tulang temporol.
Kejang
Kejang pasca trauma dapat terjadi secara (dalam 24 jam pertama) dini (minggu
pertama) atau lanjut (setelah satu minggu).
Diabetes Insipidus
Disebabkan oleh kerusakan traumatik pada rangkai hipofisis menyebabkan penghentian
sekresi hormon antideuretik.

VII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Scan CT
Mengidentifikasi adanya SOL.Hemorogi, menentukan Ukuran ventrikel, pergeseraan
cairan otak.
MRI
Sama dengan Scan CT dengan atau tanpa kontras.
Angiografi Serebral
Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan otak akibat
edema, perdarahan dan trauma.
EEG
Memperlihatkan keberadaan atau perkembangan gelombang
Sinar X
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (Fraktor) pergeseran struktur dari garis
tengah (karena perdarahan) edema dan adanya frakmen tulang.
BAER (Brain Auditory Evoked)
Menentukan fungsi dari kortel dan batang otak .
PET (Positron Emission Tomografi)
Menunjukkan aktiitas metabolisme pada otak.
Pungsi Lombal CSS
Dapat menduga adanya perdarahan subarachnoi.
GDA (Gas Darah Arteri)
Mengetahui adanya masalah ventilasi oksigenasi yang dapat menimbulkan
9. Kimia/Elektrolit Darah
Mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam peningkatan TIK/perubahan
Pemeriksaan Toksikolog
Mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran.
Kaular Anti Konvulsan Darah
Dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat yang cukup efektif untuk

VII. PENATALAKSANAAN MEDIK dan NON-MEDIK

Pasien dengan trauma kepala berat sering mengalami gangguan pernapasan, syock
hipovolemik, gangguan kesimbangan cairan dan elektrolit, tekanan intrakranial yang
tinggi, kejang-kejang, gangguan kardiovaskuler. Perlu mendapat penanganan yang
tepat.
Medik
1. Manitol IV
Dosis awal 1 g / kg BB
Evaluasi 15 20 menit (bila belum ada perbaikan tambahan dosis 0,25 g / kg BB)
Hati-hati terhadap kerusakan ginjal
Steroid
Digunakan untuk mengurangi edema otak
Bikarbonas Natrikus
Untuk mencegah terjadinya asidosis
Antikonvulsan
Masih bersifat kontroversial
Tujuan : untuk profilaksis kejang
Terapi Koma
Merupakan langkah terakhir untuk mengendalikan TIK secara konservatif.
Terapi ini menurunkan metabolisme otak,mengurangi edema & menurunkan TIK
Biasanya dilakukan 24 48 jam.
Antipiretik
Demam akan memperburuk keadaan karena akan meningkatkan metabolisme dan dapat
terjadi dehidrasi, kerusakan otak. Jika penyebab infeksi tambahkan antibiotik.
Sedasi
Gaduh, gelisah merupakan gejala yang sering ditemukan pada penderita cidera otak
dan dapat meningkatkan TIK.
Lorazepam (ativan) 1 2 mg IV/IM dapat diberikan dan dapat diulang pemberiannya
dalam 2 4 jam.
Kerugian : tidak dapat memantau kesadaran penderita.
Antasida AH2
Untuk mencegah perdarahan GIT : simetidin, ranitidin, famotidin.
Furosemid adakalanya diberikan bersama dengan obat anti edema lain.
Dosis : 1 mg/kg BB IV, dapat diulang tiap 6 12 jam.
Non-Medik
1. Pengelolaan Pernapasan:
10. - pasien ditempatkan dalam posisi miring atau seperti posisi koma.
- periksa mulut, keluarkan gigi palsu bila ada.
- jika banyak ludah atau lendir atau sisa muntahan lakukan penghisapan.
- hindari flexi leher yang berlebihan karena bias menyebabkan terganggunya jalan
napas/peningkatan TIK.
- trakeostomi dilakukan bila lesi di daerah mulut atau faring parah.
- Perawat mengkaji frekuensi dan upaya pernapasan pasien, warna kulit, bunyi
pernapasan dan ekspansi dada.
- berikan penenang diazepam.
- posisi pasien selalu diubah setiap 3 jam dan lakukan fisioterapi dada 2x/sehari.
2. Gangguan Mobilitas Fisik
- posisikan tubuh pasien dengan posisi opistotonus; perawatan harus dilakukan dengan
tujuan untuk menghentikan pola refleksif dan penurunan tonus otot abnormal.
- perawat menghindarkan terjadinya kontraktur dengan melakukan ROM pasif dengan
merenggangkan otot dan mempertahankan mobilitas fisik.
3. Kerusakan Kulit
- menghilangkan penekanan dan lakukan intervensi mobilitas.
4. Masalah Hidrasi
- pada cidera kepala terjadi kontriksi arteri-arteri renalis sehingga pembentukan urine
berkurang dan garam ditahan didalam tubuh akibat peningkatan tonus ortosimpatik.
5. Nutrisi pada Trauma otak berat
- memerlukan jumlah kalori 2 kali lipat dengan meningkatnya aktivitas system saraf
ortosimpatik yang tampak pada hipertensi dan takikardi.
- kegelisahan dan tonus otot yang meningkat menambah kebutuhan kalori.
- bila kebutuhan kalori tidak terpenuhi maka jaringan tubuh dan lemak akan diurai,
penyembuhan luka akan lebih lama, timbul dekubitus, daya tahan menurun.

IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah:


Resiko tidak efektifnya bersihan jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas
berhubungan dengan gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakan, dan
meningkatnya tekanan intrakranial.
Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral dan
peningkatan tekanan intrakranial.
Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan menurunnya
kesadaran.
Resiko kurangnya volume cairan berhubungan mual dan muntah.
Resiko injuri berhubungan dengan menurunnya kesadaran atau meningkatnya tekanan
intrakranial.
Nyeri berhubungan dengan trauma kepala.
Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma kepala.
Kecemasan orang tua-anak berhubungan dengan kondisi penyakit akibat trauma
kepala.
Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.

FRAKTUR CERVICAL

A.PENGERTIAN
Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitastulang,
sedangkan menurut Doengoes (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang
B. KLASIFIKASI TRAUMA SERVIKAL
1. Klasifikasi berdasarkan mekanisme trauma
a. Trauma hiperfleksi
1)Subluksasi anterior Terjadi robekan pada sebagian ligament di posterior tulang
leher; ligament longitudinal anterior utuh. Termasuk lesi stabil. Tanda penting
pada subluksasi anterior adalah adanya angulasu ke posterios (kifosis) local pada
tempat kerusakan ligament. Tandatanda lainnya: jarak yang melebar antara
prosesus spinosus, dan subluksasi sendi apofiseal.
2) Bilateral interfacetal dislocation Terjadi robekan pada ligament longitudinal
anterios dan kumpulan ligament di posterior tulang leher. Lesi tidak stabil.
Tampak dislokasi anterior korpus vertebrae. Dislokasi total sendi apofiseal.
3) Flexion tear drop fracture dislocation Tenaga fleksi murni ditambah komponen
kkompresi menyebabkan robekan pada ligament longitudinal anterior dan
kumoulan ligament posterior disertai fraktur avulse pada bagian anteroinferior
konspur vertebra. Lesi tidak stabil. Tampak tulang servikal dalam fleksi: fragmen
tulang berbentuk segitiga pada bagian antero-inferior korpus vertebrae,
pembengkakan jaringan lunak pravertebral.
4) Wedge fracture Vertebra terjept sehingga berbentuk baji. Ligament
longitudinal anterior dan kumoulan ligament posterior utuh sehingga lesi ini
bersifat stabil.
5) Clay shovelers fracture Fleksi tulang leher dimana terdapat kontraksi ligament
posterior tulang leher mengakibatkan terjadinya fraktur oblik pada prosesus
spinosus; biasanya pada C4-C7 atau Th1.
b. Trauma fleksi rotasi
Terjadi dislokasi interfacetal pada satu sisi. Lesi stabil walaupun terjadinya kerusakan
pada ligament posterior termasuk kapsul sendi apofiseal yang bersangkutan dan vertebra
proksimalnya dalam posisi oblik, sedangkan distalnya tetap dalam posisi lateral.
c. Trauma hiperkstensi
1) Fraktur dislokasi hiperekstensi Dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus
artikularis, lamina dan prosesu spinosus. Fraktur avulse korpus vertebra bagian
posteroinferior. Lesi tidak stabil karena terdapat kerusakan pada elemen posterior tulang
leher dan ligament yang bersangkutan.
2) Hangmans fracture Terjadi fraktur arkus bilateral dan silokasi anterior C2
terhadap C3.
d. Ekstensi rotasi
Terjadinya fraktur pada prosesus artikularis satu sisi.
e. Kompresi vertical
Terjadinya fraktur ini akibat diteruskannya tenaga trauma melalui kepala, kondilus
oksipitalis, ke tulang leher.
2. Klasifikasi berdasar derajat kestabilan
a. Stabil
b. Tidak stabil
C. JENIS FRAKTUR SERVIKAL
Jenis fraktur daerah servikal, sebagai berikut:
1. Fraktur atlas C1
Fraktur ini terjadi pada kecelakaan jatuh dari ketinggian dan posisi kepala menopang badan
dan daerah servical mendapat tekanan hebat. Condylus occipitalis pada basis crani dapat
menghancurlan cincin tulang atlas. Jika tidak ada cedera angulasi dan rotasi maka pergeseran
tidak berat dan medulla spinalis tidak ikut cedera. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan
adalah posisi anteroposterior dengan mulut pasien dalam keadaan terbuka.
Terapi untuk fraktur tipe stabil seperti fraktur atlas ini adalah immobilisasi servical dengan
collar plaster selama 3 bulan.
2. Pergeseran C1 C2 (Sendi Atlantoaxial)
Atlas dan axis dihubungkan dengan ligamentum tranversalis dari atlas yang menyilang di
belakang prosesus odontoid pada axis. Dislokasi sendi atlantoaxial dapat mengakibatkan
arthritis rheumatoid karena adanya perlunakan kemudian aka nada penekanan ligamentum
tranversalis.
Fraktur dislokasi termasuk fraktur basis prosesus odontoid. Umunya ligamentum
tranversalis masih utuh dan prosesus odontoid pindah dengan atlas dan dapat menekan
medulla spinalis. Terapi utnuk fraktur tidak bergeser yaitu imobilisasi vertebra cervical.
Terapi utnuk fraktur geser atlantoaxial adalah reduksi dengan traksi continues.
3. Fraktur kompresi corpus vertebral Tipe kompresu lebih sering tanpa kerusakan
ligamentum spinal namun dapt mengakibatkan kompresi corpus vertebralis. Sifat rafktur ini
adalah tipe tidak stabil. Terapi untuk fraktur tipe ini adalah reduksi dengan plastic collar
selama 3 minggu (masa penyembuhan tulang).
4. Flexi subluksasi vertebral cervical Fraktur ini terjadi saat pergerakan kepala kearah depan
yang tiba-tiba sehingga terjadi deselerasi kepala karena tubrukan atau dorongan pada kepala
bagian belakang, terjadi vertebra yang miring ke depan diatas vertebra yang ada
dibawahnya, ligament posterior dapat rusak dan fraktur ini singkat disebut subluksasi,
medulla spinalis mengalami kontusio dalam waktu singkat. Tindakan yang diberikan untuk
fraktur tipe ini adalah ekstensi cervical dilanjutkan dengan imobilisasi leher terkekstensi
dengan collar selama 2 bulan.
5. Flexi dislokasi dan fraktur dislokasi cervical
Cedera ini lebih berat disbanding fleksi subluksasi. Mekanisme terjadinya fraktur hamper
sama dengan fleksi subluksasi, posterior ligament robek dan posterior facet pada satu atau
kedua sisi kehilangan kestabilannya dengan bangunan sekitar. Jikla dislokasi atau fraktur
dislokasi pada C7 Th1 maka posisi ini sulit dilihat dari posisi foto lateral maka posisi yang
terbaik untuk radiografi adalah swimmer projection
Tindakan yang dilakukan adalah reduksi fleksi dislokasi ataupun fraktur dislokasi dari
fraktur cervical termasuk sulit namun traksi skull continu dapat dipakai sementara.
6. Ekstensi sprain (kesleo) cervical (Whiplash injury)
Mekanisme cedera pada jaringan lunak yang terjadu bila leher tiba-tiba tersentakl ke dalam
hiperekstensi. Biasanya cedera ini terjadi setelah tertabrak dari belakang; badan terlempar ke
depan dan kepala tersebtak ke belakang. Terdapat ketidaksesuaian mengenai patologi yang
tepat tetapi kemungkinan ligament longitudinal anterior meregang atau robek dan diskus
mungkin juga rusak.
Pasien mengelih nyeri dan kekakuan pada leher, yang refrakter dan bertahan selam asetahun
atau lebih lama. Keadaan ini sering disertai dengan gejala lain yang lebih tidak jelas,
misalnya nyeri kepala, pusing, depresi, penglihatan kabur dan rasa baal atau parestesia pada
lengan. Biasanya tidak terdapat tanda-tanda fisik, dan pemeriksaan dengan sinar-X hanya
memperlihatkan perubahan kecil pada postur. Tidak ada bentuk terapi yang telah terbukti
bermanfaat, pasien diberikan analgetik dan fisioterapi.
7. Fraktur pada cervical ke-7 (Processus Spinosus)
Prosesus spinosus C7 lebih panjang dan prosesus ini melekat pada otot. Adanya kontraksi
otot akibat kekerasan yang sifatnya tiba-tiba akan menyebabkan avulse prosesus spinosus
yang disebut clay shovelers fracture. Fraktur ini nyeri tapi tak berbahaya.

D. ANATOMI FISIOLOGI
Columna Vertebralis adalah pilar utama tubuh yang berfungsi melindungi medula spinalis dan
menunjang berat kepala serta batang tubuh, yang diteruskannya ke lubang-lubang paha dan
tungkai bawah. Masing-masing tulang dipisahkan oleh disitus intervertebralis.
Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut:
1. Vertebrata servikalis
Vertebrata cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens, yang mirip dengan pasak. Veterbrata
cervitalis ketujuh disebut prominan karena mempunyai prosesus spinasus paling panjang.
Berjumlah 7 buah.
2. Vetebrata Thoracalis (atlas)
Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak memiliki corpus tetapi hanya berupa cincin
tulang. Ukurannya semakin besar mulai dari atas kebawah. Corpus berbentuk jantung, berjumlah
12 buah yang membentuk bagian belakang thorax.
3. Vertebrata Lumbalis
Corpus setiap vertebra lumbalis bersifat masif dan berbentuk ginjal, berjumlah 5 buah yang
membentuk daerah pinggang, memiliki corpus vertebra yang besar ukurannya sehingga
pergerakannya lebih luas kearah fleksi.
4. Os. Sacrum
Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum atau tulang kengkang dimana ke 5 vertebral ini
rudimenter yang bergabung yang membentuk tulang bayi.
5. Os. Coccygis
Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor pada manusia, mengalami rudimenter. Lengkung
koluma vertebralis.kalau dilihat dari samping maka kolumna vertebralis memperlihatkan empat
kurva atau lengkung anteropesterior : lengkung vertikal pada daerah leher melengkung kedepan
daerah torakal melengkung kebelakang, daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung
kebelakang. Kedua lengkung yang menghadap pasterior, yaitu torakal dan pelvis, disebut promer
karena mereka mempertahankan lengkung aslinya kebelakang dari hidung tulang belakang, yaitu
bentuk (sewaktu janin dengna kepala membengkak ke bawah sampai batas dada dan gelang
panggul dimiringkan keatas kearah depan badan. Kedua lengkung yang menghadap ke anterior
adalah sekunder lengkung servikal berkembang ketika kanak-kanak mengangkat kepalanya
untuk melihat sekelilingnya sambil menyelidiki, dan lengkung lumbal di bentuk ketika ia
merangkak, berdiri dan berjalan serta mempertahankan tegak.
Fungsi dari kolumna vertebralis. Sebagai pendukung badan yang kokoh dan sekaligus bekerja
sebagai penyangga kedengan prantaraan tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungnya
memberikan fleksibilitas dan memungkinkan membonkok tanpa patah. Cakramnya juga berguna
untuk menyerap goncangan yang terjadi bila menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan
meloncat, dan dengan demikian otak dan sumsum belkang terlindung terhadap goncangan.
Disamping itu juga untuk memikul berat badan, menyediakan permukaan untuk kartan otot dan
membentuk tapal batas pasterior yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi kaitan
pada iga (Evelyn. C. Pearch, 1997).
Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medula oblongata, menjulur kearah
kaudal melalu foramen magnum dan berakhir diantara vertebra-lumbalis pertama dan kedua.
Disini medula spinalis meruncing sebagai konus medularis, dna kemudian sebuah sambungan
tipis dasri pia meter yang disebut filum terminale, yang menembus kantong durameter, bergerak
menuju koksigis. Sumsum tulang belakang yang berukuran panjang sekitar 45 cm ini, pada
bagian depannya dibelah oleh figura anterior yang dalam, sementara bagian belakang dibelah
oleh sebuah figura sempit.
Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan, servikal dan lumbal. Dari penebalan ini,
plexus-plexus saraf bergerak guna melayani anggota badan atas dan bawah : dan plexus dari
daerah thorax membentuk saraf-saraf interkostalis. Fungsi sumsum tulang belakang mengadakan
komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh dan bergerak refleks.
Untuk terjadinya geraka refleks, dibutuhkan struktur sebagai berikut :
1. Organ sensorik : menerima impuls, misalnya kulit
2. Serabut saraf sensorik ; mengantarkan impuls-impuls tersebut menuju selsel dalam ganglion
radix pasterior dan selanjutnya menuju substansi kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis.
3. Sumsum tulang belakang, dimana serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impuls-
impuls menuju karnu anterior medula spinalis.
4. Sel saraf motorik ; dalam karnu anterior medula spinalis yang menerima dan mengalihkan
impuls tersebut melalui serabut sarag motorik.
5. Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang oleh impuls saraf motorik.
6. Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila terputus pada daerah torakal dan
lumbal mengakibatkan (pada daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal, paralisis pada
otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta paralisis sfinker pada uretra
dan rektum.

E. EPIDEMIOLOGI
Kecelakaan merupakan penyebab kematian ke empat, setelah penyakit jantung, kanker dan
stroke, tercatat 50 meningkat per 100.000 populasi tiap tahun, 3 % penyebab kematian ini karena
trauma langsung medula spinalis, 2% karena multiple trauma. Insidensi trauma pada laki-laki 5
kali lebih besar dari perempuan. Ducker dan Perrot melaporkan 40% spinal cord injury
disebabkan kecelakaan lalu lintas, 20% jatuh, 40% luka tembak, sport, kecelakaan kerja. Lokasi
fraktur atau fraktur dislokasi cervical paling sering pada C2 diikuti dengan C5 dan C6 terutama
pada usia dekade 3.
F. ETIOLOGI
Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas (44%), kecelakaan olah raga
(22%), terjatuh dari ketinggian (24%), dan kecelakaan kerja.
G. TANDA DAN GEJALA
1. Nyeri pada leher atau tulang belakang .
2. Nyeri tekan ketika dilakukan palpasi disepanjang tulang belakang.
3. Paralisis atau hasil pemeriksaan fungsi motorik abnormal.
4. Parestesia.
5. Priapisme.
6. Pernafasan diafragma.
7. Renjatan neurogenic
H.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar X spinal Menentukan lokasi dan jenis cedera tulan (fraktur, dislokasi), untuk
kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
2. CT SCAN Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun struktural
3. MRI Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
4. Mielografi. Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor putologisnya
tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid medulla spinalis (biasanya
tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi).
5. Foto rontgen torak, memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma,
atelektasis)
6. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur volume inspirasi maksimal
khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan
gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).
7. GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi
I. PROGNOSIS
Dari riwayatnya, banyak diantara korban trauma medula spinalis meninggal akibat komplikasi
respirasi. Perbaikan pada sistem penanganan trauma, telah menurunkan angka komplikasi dan
meningkatkan angka keberhasilan. Keberhasilan dan kualitas hidup pasien bergantung pada
perawatan kedaruratan yang didapatkan. Pengenalan dan perawatan awal akan mempertahankan
rehabilitasi yang optimal.
J. . KOMPLIKASI
Pasien dengan trauma medula spinalis sering mengalami cedera multipel. Perlu untuk
mempertahankan volume intravaskular dengan aliran darah yang optimal yang ditunjukkan oleh
nilai hematokrit antara 30-34%. Hiperpireksia perlu dikontrol secara agresif untuk mencegah
cedera spinal lebih lanjut. Terjadinya demam berdasarkan studi berhubungan dengan saluran
kencing atau infeksi jaringan ikat

Trauma Abdomen
A. Pengertian
Trauma tumpul adalah : kerusakan terhadap struktur yg terletak diantara diafragma
dan pelvis,yg diakibatkan oleh luka tumpul atau menusuk. Trauma abdomen pada garis
besarnya dibagi menjadi trauma tumpul dan trauma tajam. Keduanya mempunyai biomekanika,
dan klinis yang berbeda sehingga algoritma penanganannya berbeda. Trauma abdomen dapat
menyebabkan laserasi organ tubuh sehingga memerlukan tindakan pertolongan dan perbaikan
pada organ yang mengalami kerusakan.

Trauma pada abdomen dapat di bagi menjadi dua jenis:


Trauma penetrasi : Trauma tembak, trauma tusuk
Trauma non-penetrasi atau trauma tumpul: diklasifikasikan ke dalam 3 mekanisme
utama, yaitu tenaga kompresi (hantaman), tenaga deselerasi dan akselerasi. Tenaga
kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa hantaman langsung atau
kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi. Misalnya hancur akibat kecelakaan,
atau sabuk pengaman yang salah (seat belt injury). Hal yang sering terjadi adalah
hantaman, efeknya dapat menyebabkan sobek dan hematom subkapsular pada organ
padat visera. Hantaman juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada
organ berongga dan menyebabkan ruptur. Pengeluaran darah yang banyak dapat
berlangsung di dalam kavum abdomen tanpa atau dengan adanya tanda-tanda yang dapat
diamati oleh pemeriksa, dan akhir-akhir ini kegagalan dalam mengenali perdarahan
intraabdominal adalah penyebab utama kematian dini pascatrauma. Selain itu, sebagian
besar cedera pada kavum abdomen bersifat operatif dan perlu tindakan segera dalam
menegakan diagnosis dan mengirim pasien ke ruang operasi.

1. Trauma tajam
Trauma tajam abdomen adalahsuatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada
permukaan tubuhdengan penetrasi ke dalam rongga peritoneum yangdisebabkan oleh
tusukan benda tajam. Trauma akibat benda tajam dikenal dalam tiga bentuk
lukayaitu:luka iris atau luka sayat (vulnus scissum), luka tusuk (vulnus punctum) atau
luka bacok (vulnus caesum). Luka tusuk maupunluka tembak akan mengakibatkan
kerusakan jaringan karena laserasi ataupun terpotong. Luka tembak dengankecepatan
tinggi akan menyebabkan transfer energi kinetik yang lebih besarterhadap organ viscera,
dengan adanya efek tambahan berupa temporary cavitation, dan bisa pecah menjadi
fragmen yang mengakibatkan kerusakan lainnya. Kerusakan dapat berupa perdarahan bila
mengenai pembuluh darah atau organyang padat. Bila mengenai organ yang berongga,
isinya akan keluar ke dalam rongga perut dan menimbulkan iritasi pada peritoneum.

2. Trauma tumpul
Trauma tumpul kadang tidak menimbulkan kelainan yang jelas pada permukaan tubuh,
tetapi dapat mengakibatkan cedera berupa kerusakan daerah organ sekitar, patah tulang
iga, cedera perlambatan (deselerasi), cedera kompresi, peningkatan mendadak tekanan
darah, pecahnya viskus berongga, kontusi atau laserasi jaringan maupun organ
dibawahnya. Mekanisme terjadinya trauma pada trauma tumpul disebabkan adanya
deselerasi cepat dan adanya organ-organ yang tidak mempunyai kelenturan (non
complient organ) seperti hati, lien, pankreas, dan ginjal. Secara umum mekanisme
terjadinya trauma tumpul abdomen yaitu:
Saat pengurangan kecepatan menyebabkan perbedaan gerak di antara struktur.
Akibatnya, terjadi tenaga potong dan menyebabkan robeknya organ berongga,
organ padat, organ visceral dan pembuluh darah, khususnya pada bagian distal
organ yang terkena. Contoh pada aorta distal yang mengenai tulang torakal
mengakibatkan gaya potong pada aorta dapat menyebabkan ruptur. Situasi yang
sama dapat terjadi pada pembuluh darah ginjal dan pada cervicothoracic junction.
Isi intra abdominal hancur diantara dinding abdomen anterior dan columna
vertebra atau tulang toraks posterior. Hal ini dapat menyebabkan ruptur,biasanya
terjadi pada organ-organpadat seperti lien, hati, dan ginjal.
Gaya kompresi eksternal yang menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen
yang tiba-tiba dan mencapai puncaknya biasanya menyebabkan ruptur organ
berongga. Berat ringannya perforasi tergantung dari gaya dan luas permukaan
organ yang terkena cedera.
Kerusakan organ lunak karena trauma tumpul biasanya terjadi sesuai dengan tulang yang
terkena seperti terlihat pada tabel 2 sebagai berikut:

B. Patofisiologi
Trauma tumpul pada abdomen disebabkan oleh pengguntingan, penghancuran atau kuatnya
tekanan yang menyebabkan rupture pada usus atau struktur abdomen yang lain.

C. Tanda dan gejala


1. Pecahnya organ solid (tidak berongga)
Hepar atau lien yang pecah maka terjadi perdarahan. Penderita akan tampak pucat.
Nyeri abdomen.
Auskultasi: bising usus menurun
Nyeri tekan, nyeri lepas dan defans muscular (kekakuan otot).

2. Pecahnya organ berongga


Pecahnya gaster, colon dan usus halus menyebabkan peritonitis.
Keluhan nyeri seluruh abdomen.
Bising usus menurun.
Palpasi ada nyeri tekan, nyeri lepas dan defans muscular. Perkusi didapati ada nyeri
ketok.

D. Penatalaksanaan
1. Inspeksi
Ekimosis umbilikalis : perdarahan peritonial
Ekomosis flank : perdarahan organ retroperitoneal.
Ekimosis perineum, skrotum, labia : fraktur pelvis.
Luka tembus disertai keluarnya isi abdomen (usus).
Simetris atau tidak pelvis, ada jejas atau tidak pada pelvis.

2. Auskultasi
Dengarkan bisisng usus di semua kuadran.
Dengarkan bisisng usus selama 2 menit.
Apabila bising usus menurun atau hilang -> kemungkinan perdarahan ->
perforasi pada organ abdomen.

3. Perkusi
Dullnes di kuadran kiri atas : hematoma pada limpa.

4. Palpasi
Nyeri pada kuadran kiri atas dan menyebar ke bahu -> trauma limpa atau diafragma.
Distensi abdomen.
Nyeri tekan abdomen.

E. Alat bantu diagnostik
Riw .trauma (mekanisme trauma,pada kecelakaan lalu lintas kecepatan dan arah)
Pemfis (lokasi trauma,palpasi,perkusi,auskultasi,pemeriksaan rektal)
Laboratorium
Diagnostik Peritoneal Lavage(DPL),(bila gejala klinik meragukan)
CT-Scan
USG
Laparaskop

F. Penanganan
Abdominal paracentesis : menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritonium,
merupakan indikasi untuk laparotomi.
Pemeriksaan laparoskopi : mengetahui secara langsung peneyebab akut abdomen.
Pemasangan NGT : memeriksa cairan yang keluar dari lambung pada trauma abdomen.
Pemberian antibiotik : mencegah infeksi.
Laparotomi.
Sebelum operasi : pemasangan NGT, pemasangan dauer-katheter, pemberian antibiotik,
pemasangan