Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Spektrum cedera traumatik pada otak bervariasi dari cedera ringan dan kadang-

kadang tak disadari sampai cedera berat dengan morbiditas dan mortalitas yang nyata.

Angka kejadian pasti dari cedera kepala sulit ditentukan karena berbagai faktor,

misalnya sebagian kasus-kasus yang fatal tidak pernah sampai ke RS, dilain pihak

banyak kasus yang ringan tidak datang pada dokter kecuali bila kemudian timbul

komplikasi. Dari penelitian di Skotlandia dan Kanada ditemukan bahwa perbandingan

pasen cedera kepala yang tidak dirawat di RS terhadap pasen yang dirawat adalah 4-5

:1.1

Insiden cedera kepala yang nyata yang memerlukan perawatan di RS dapat

diperkirakan 480.000 kasus pertahun (200 kasus/100.000 orang), yang meliputi

concussion, fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial, laserasi otak, hematoma dan

cedera serius lainnya. Dari total ini 75-85% adalah concussion dan sekuele cedera

kepala ringan. Cedera kepala paling banyak terjadi pada laki-laki berumur antara 15-

24 tahun, dan biasanya karena kecelakaan kendaraan bermotor. Menurut Rimer et al

dari 1200 pasen yang dirawat di RS dengan cedera kepala tertutup, 55% diobati untuk

cedera kepala ringan (minor). Banyak pasen-pasen dengan cedera ringan yang datang

ke dokter untuk pertama kalinya karena gejala yang terus berlanjut, dikenal sebagai

1
sindroma post concussion. Berdasarkan informasi statistik yang diketahui, masalah

cedera kepala ringan adalah gangguan sekuele pasca trauma dan dengan akibat

gangguan produktivitas.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Post concussion syndrome atau post concussive syndrome (PCS) dulu dikenal

dengan shell shock, adalah sekelompok gejala yang di alami seseorang, setelah

seminggu, sebulan atau bahkan setahun setelah suatu trauma (gegar) ringan dari trauma

otak (traumatic brain injury/TBI). PCS juga bisa terjadi pada trauma otak sedang dan

berat. Gejala-gejala PCS biasanya didiagnosis pada orang yang menderita TBI, dan 38-

80% biasanya terjadi pada trauma kepala ringan. Diagnosis dibuat berdasarkan gejala

yang ditimbulkan dari riwayat trauma 3 bulan setelah mendapat trauma yang terakhir,

bisa juga didiagnosis dalam hitungan minggu bahkan 10 hari setelah trauma. Pada

trauma yang sudah lama terjadi (late, persistent atau prolonged PCS/PPCS), biasanya

didiagnosis setelah menderita 3-6 bulan setelah terjadi trauma.2,3

Sindroma post concussion adalah kumpulan gejala yang terdiri atas nyeri

kepala, pusing (dizziness), iritabilitas, mudah lelah, ansietas, gangguan memori,

menurutnya konsentrasi dan insomnia, yang merupakan sekuele setelah cedera kepala

ringan tertutup. Istilah lain yang digunakan untuk keadaan ini adalah post traumatic

instability, post traumatic headache, traumatic neurasthenia, traumatic psychasthenia,

post traumatic syndrome. Yang dimaksud dengan cedera kepala ringan adalah suatu

3
trauma yang terjadi dengan gangguan kesadaran sesaat atau gangguan fungsi

neurologik lain (misalnya memori, penglihatan) dengan GCS 13.1,3,4,5

Post concussional syndrome secara umum didefinisikan sebagai kondisi yang

muncul setelah cedera kepala yang berakibat defisit pada tiga area fungsi SSP: 1)

somatik (neurologis-umumnya berupa nyari kepala, kecenderungan merasa cepat

lelah), 2) psikologis (perubahan afek, kurangnya motivasi, ansietas, atau emosi yang

labil), 3) kognitif (kelemahan dalam mengingat, perhatian dan konsentrasi).6-8

Gambar 1. Tabel gejala pasien dengan post concussion syndrome

B. Insidensi

Lebih dari 1 juta kasus cedera kepala ringan terjadi di Amerika Serikat setiap

tahunnya. Tingkat insiden keseluruhan cedera kepala ringan untuk orang-orang yang

tidak dirawat di rumah sakit dengan data yang dikumpulkan survey perawatan medis

ambulatory rumah sakit nasional adalah 503 per 100.000 penduduk atau 1.367.101

4
kunjungan per tahun ke rumah sakit ED di Amerika Serikat. Bergantung pada definisi

yang digunakan dan populasi yang diperiksa, sekitar 50% pasien dengan cedera kepala

ringan memiliki gejala PCS pada 1 bulan dan 15% memiliki gejala pada 1 tahun. Antara

14% dan 19% anak-anak dengan dengan cedera otak ringan traumatis akan terus

memiliki gejala PCS pada 3 bulan.9

Onset PCS bervariasi, pada beberapa kasus gejala dapat timbul pada hari hari

pertama cedera dan menetap selama beberapa waktu sampai beberapa bulan bahkan

tahun. Pada kasus lainnya gejala-gejalanya timbul kemudian, kadang-kadang sampai

beberapa minggu setelah cedera. Nyeri kepala yang merupakan gejala utama PCS

biasanya timbul dalam 24 jam dari cedera, dan sekitar 6% terjadi beberapa hari atau

minggu kemudian. Menurut Guttman nyeri kepala terdapat lebih banyak pada minggu-

minggu pertama sesudah cedera kepala ringan. Tes psikologik yang meliputi

pemeriksaan pemrosesan informasi menunjukkan abnormalitas dengan insidens yang

sangat tinggi pada hari-hari pertama cedera.1,9

Gejala-gejala ini menetap pada separuh dari kasus setelah 2 bulan atau lebih

dan ditemukan bersama keluhan lain seperti ansietas, mudah lelah, iritabilitas dan sulit

berkonsentrasi. Penelitian Jones (1974) secara retrospektif terhadap 3500 pasen cedera

kepala ringan menemukan insidensi nyeri kepala, dizziness atau keduanya sebanyak

57%. Gejala-gejala ini tetap ada paling sedikit selam 2 bulan tetapi kemudian sebagian

besar menghilang, hanya tinggal 1 % pasen dengan gejala setelah 1 tahun. Penelitian

yang dilakukan Rimel dkk. (1981) terhadap 500 pasen trauma kepala ringan

5
menemukan 79% terdapat paling sedikit satu keluhan dalam suatu wawancara 3 bulan

setelah cedera, 78 % mengeluh nyeri kepala dan 59% terdapat gangguan memori. Suatu

penelitian multisenter tahun 1987 yang dilakukan oleh Levin dkk. Terhadap 155 pasen

dengan cedera kepala ringan, ditemukan keluhan pertama yang paling sering adalah

nyeri kepala (82%). Kemudian diikuti dengan keluhan penurunan energi pada 60% dan

dizziness pada 53% kasus.1

Keluhan ini kemudian berkurang pada 1 bulan dan 3 bulan setelah cedera, dan

pada kesimpulan dari penelitian tersebut didapatkan keluhan nyeri kepala pada 47%

kasus, penurunan energi 22%, dan dizziness 22%. Kay dkk (1971) menduga bahwa

gejala-gejala PCS berhubungan dengan lamanya amnesia pasca trauma, dimana

frekwensi dan lamanya berlangsung gejala meningkat dengan makin lamanya periode

amnesia. Penelitian-penelitian berikutnya oleh Ruther Ford dkk. (1977-1979) gagal

untuk mengkonfirmasikan penemuan tersebut. PCS jarang terjadi pada pasien-pasien

dengan cedera berat yang berhubungan dengan penurunan kesadaran berat (koma)

selama beberapa waktu. Hal ini mungkin disebabkan pada saat kesadaran pasien pulih

kembali nyeri kepala, concussion telah berlalu, terlebih lagi pada pasen dengan cedera

berat lebih mendapat perhatian, simpati dan pengertian selama masa pemulihannya.1

Penelitian-penelitian lain menduga kejadian lebih sering terjadi pada wanita,

pasien dengan umur lebih dari 40 tahun, pasien dengan gangguan neuropsikiatrik

sebelumnya, alkoholisme, penyalahgunaan obat atau dengan cedera kepala

6
sebelumnya. Tetapi juga hal ini tidak dapat dikonfirmasikan dengan penelitian-

penelitian berikutnya.1,9

C. Etiologi dan Patologi

Cedera patologis yang primer pada trauma kepala adalah penipisan axon dan

kerusakan ketegangan strain, yang umumnya disebabkan oleh kekuatan akselerasi

rotasi. Tingkat cedera axon berhubungan dengan durasi amnesia post trauma dan

kehilangan kesadaran. Bila neuron mengalami kerusakan, neurotransmiter inhibitor

seperti -amino asam butirat, juga pada neurotransmiter eksitator, seperti asetikolin,

glutamat, dan aspartat, akan terlepas. Neurotransmiter tersebut akan mengakibatkan

kerusakan neuron lebih lanjut (misalnya runtutan cedera). Perubahan setelah cedera

dapat mengarah kepada cedera difus neurologis berupa influks kalsium yang berebihan

pada neuron yang rusak, pelepasan sitokin, kerusakan oleh radikal bebas, kerusakan

pada reseptor dinding sel, inflamasi dan perubahan pada asetilkolin, katekolamin, dan

sistem neurotransmiter serotonergik. Penelitian post mortem pada manusia dengan

nyeri kepala kronik post trauma menunjukkan kerusakan axon difus, pengelompokan

mikroglia, dan adanya bukti berupa perdarahan petekie yang kecil yang tidak

mengakibatkan defisit neurologis fokal. Penelitian berupa trauma cedera kepala buatan

pada hewan menunjukkan bahwa baik neuron dan axon akan pulih dalam waktu

beberapa bulan setelah cedera.2,8

Pada PCS tidak jelas adanya perubahan-perubahan struktural secara gross pada

SSP, meskipun pada concussion dikatakan terdapat perubahan mikroskopik pada sel-

7
sel saraf dan vaskuler. Kondisi ini mulanya diduga samata-mata atas dasar psikologis,

tapi sekarang diketahui bahwa pada suatu cedera sedemikian sehingga menyebabkan

gangguan kesadaran atau adanya suatu periode amnesia pascatrauma, terjadi kerusakan

neuronal. Cedera yang ringan bila berulang akan mempunyai efek kumulatif. Para ahli

patologi belakangan ini dapat menunjukkan adanya lesi di otak pada pasien yang

meninggal yang sebelumnya telah mengalami pemulihan setelah cedera kepala ringan.

Saat ini telah diakui bahwa meskipun pada concussion singkat, terjadi kerusakan

struktural otak.1,9

Mekanisme utama pada cedera kepala ringan nampaknya adalah shear strain.

Kekuatan rotasional dapat ditimbulkan sekalipun pada kecelakaan yang dianggap tidak

berarti dan tidak perlu adanya cedera coup dan contrecoup yang jelas. Hal ini pertama

bisa menyebabkan regangan pada akson-akson dengan akibat gangguan konduksi dan

hilangnya fungsi. Selanjutnya kekuatan ini dapat sedemikian rupa sehingga

menyebabkan disrupsi mielin dan neurilemma. Akhirnya dapat terjadi perdarahan

kapiler. Hal-hal ini dapat terlihat secara mikroskopik dengan terbentuknya axonal

retraction bulba dan parut mikrogilial. Perubahan ini terjadi secara difus, terutama pada

corpus callosum dan kuadran dorsolateral batang otak.1,9

Perubahan-perubahan tersebut diatas dikenal sebagai diffuse axonal injury.

Perubahan fisiologik terjadi pada cedera kepala ringan. Pada percobaan binatang

didapatkan adanya depresi amplutudo aktivitas listrik.1,9

8
D. Gejala-Gejala PCS

1. Defisit Somatik

Nyeri kepala merupakan keluhan pasien tersering yang mengalami

cedera kepala ringan. Peningkatan nyeri kepala dilaporkan terdapat pada 30-

90% pasien dengan postconcussional syndrome; 8 sampai 32% dilaporkan

masih mengalami nyeri kepala 1 tahun setelah trauma kepala. Umumnya, tipe

nyeri kepala (misalnya tension, migrain) yang dirasakan oleh individu dengan

postconcussional syndrome, serupa dengan nyeri kepala yang mereka rasakan

sebelum trauma. Pasien dengan postconcussional syndrome umumnya

mengatakan bahwa nyeri kepala terasa lebih lama dan muncul lebih sering bila

dibandingkan dengan sebelum mengalami trauma. The international headache

society kriteria diagnostik untuk nyeri kepala post trauma membagi menjadi

dua kategori yaitu akut dan kronis. Nyeri kepala akut muncul dalam 2 minggu

setelah trauma dan sembuh dalam 2 bulan. Nyeri kepala post trauma kronik

muncul dalam 2 minggu setelah trauma dan berlangsung selama lebih dari 8

minggu. 85 % dari nyeri kepala berhubungan dengan postconcussional

syndrome digambarkan sebagai terus menerus, nyeri, dan tension type

headache. Nyeri kepala tersebut diyakini diakibatkan oleh cedera pada jaringan

lunak dan keras, seperti cedera miofasial, cedera sendi temporomandibular,

cedera diskus intervertebralis, dan spasme otot trapezius. Walaupun lebih

jarang, migrain, dengan atau tanpa aura, dilaporkan dapat muncul dalam

beberapa jam atau hari setelah gegar otak. Migrain sering ditemukan pada

9
dewasa muda yang berpartisipasi dalam oleh raga yang menyebabkan cedera

kepala minor multipel, seperti sepakbola, tinju dan hoki. Jenis nyeri kepala ini

sering disebut footballers migraine. Cluster headache jarang berkembang

setelah cedera kepala sedang.3,6,8

Keluhan kedua yang sering ditemukan pada postconcussional syndrome

adalah pusing, yang dilaporkan sekitar 50% pada kasus, dalam 1 tahun

prevalensi sekitar 19-25%. Umur diketahui sebagai faktor resiko. Semakin tua

individu tersebut, semakin besar kemungkinan mengalami pusing, baik

bersumber dari sentral atau perifer (misalnya gegar labirin, benigna positional

vertigo, cedera batang otak).6,8,9

Postconcussional syndrome sering menimbulkan gangguan pada panca

indera. Pandangan kabur muncul pada 14% dari pasien dan umumnya

disebabkan gangguan fokus penglihatan. 10% dari pasien dengan

postconcussional syndrome dilaporkan mengalami lebih sensitif pada cahaya

dan bunyi; 5% mengalami kerusakan pada nervi kranialis I dan menyebabkan

sensitifitas pada indera pembauan dan perasa.6,8

2. Gejala Psikiatri

Setengah dari pasien yang mengalami gegar otak dilaporkan mengalami

gejala psikologis non spesifik, seperti perubahan kepribadian, ansietas, dan

depresi. Sering perubahan ini terjadi dalam 3 bulan pertama setelah cedera dan

mempunyai CT scan yang normal.6,8,10

10
Gangguan ansietas berkaitan dengan gangguan ansietas secara umum,

diantaranya gangguan panik, gangguan obsesif kompulsif dan gangguan stress

post trauma, telah dilaporkan muncul pada 11% sampai 70% dari penderita

cedera kepala. Yang sering dilaporkan berupa gejala adalah free-floating

ansietas, kecemasan yang berlebihan, menarik diri dari sosial, sensitif yang

berlebihan dan bermimpi tentang kecemasan. Gangguan ansietas dilaporkan

terjadi pada cedera trauma pada kedua hemisfer otak.6,8,11

Apatis umum didapatkan pada postconcussional syndrome. Apatis

dapat berupa sindrom isolasi primer atau akibat sekunder dari depresi. Apatis

primer dapat didefinisikan sebagai kurangnya motivasi dengan berkurangnya

emosi, kognitif, dan perilaku yang tidak mengarah kepada gangguan

kecerdasan, distress emosional, dan berkurangnya tingkat kesadaran. Apatis

primer sering ditemui didapatkan pada 10% penderita cedera kepala tertutup,

sedangkan apatis sekunder muncul hanya sementara, terjadi pada 60% pasien

dengan cedera kepala tertutup. Kerusakan neurologis pada regio subcortical-

frontal, ganglia basalis, dan talamus telah dihubungkan dengan patogenesis dari

apatis primer.6,8,

Walaupun jarang ditemukan pada postconcussional syndrome, namun

psikosis juga didapatkan pada cedera kepala berat. Psikosis mirip-skizofrenia

didapatkan pada 0,7 sampai 9,8% pada penderita cedera kepala berat. Faktor

resiko dapat berkembang menjadi psikosis adalah benturan hebat pada trauma

awal, riwayat epilepsi pada lobus temporal, adanya kelainan neurologis

11
sebelum trauma, dan ada trauma kepala pada usia remaja. Pengobatan kondisi

ini masih sulit, karena obat antipsikotik atipikal seperti haloperidol kurang

efektif bila dibandingkan pada penggunaan kondisi psikosis lainnya. Obat

tersebut dapat berpengaruh pada pemulihan neuron setelah trauma. Ada

beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa obat risperidon dan clozapin

mempunyai efek yang bagus terhadap psikosis post trauma.6,8

3. Defisit Kognitif

Kognitif dapat didefinisikan sebagai proses yang melibatkan fungsi otak

dalam menerima, menganalisis data dan mengatur informasi. Fungsi kognitif

yang klasik adalah perhatian, memori, bahasa, penjabaran, fungsi penilaian, dan

tingkat persepsi. Defisit pada kognitif didefinisikan sebagai ketidakmampuan

untuk berkonsentrasi, memproses informasi, kesulitan menentukan kata yang

tepat, dan ketidakmampuan proses menyatukan pendapat. Pasien dengan

postconcussional syndrome terbukti mengalami penurunan dalam kecepatan

memproses informasi, perhatian dan waktu reaksi yang dapat ditemukan

melalui tes neuropsikologis. Indeks menunjukkan bahwa tes Stroop color test

dan 2&7 Processing speed test memiliki spesifitas tinggi dan nilai prediksi yang

positif untuk menilai defisit kognitif dari postconcussional syndrome, kedua tes

tersebut menilai proses kecepatan mental. The Continous Performance Test of

Attention merupakan tes lain yang mempunyai sensitifitas tinggi untuk

memprediksi hasil negatif dari defisit kognitif setelah gegar otak. Di IGD,

pemeriksaan Digin Span Forward dan Hopkins Verbal Learning menunjukkan

12
mampu memprediksi perkembangan dari postconcussional syndrome, dan

dalam populasi tertentu juga memprediksi durasi dari gejala tersebut.6,8

Defisit kognitif yang paling umum ditemukan setelah cedera kepala

adalah gangguan memori verbal dan nonverbal. Tergantung pada tingkat

keparahan cedera kepala tertutup, persentase orang yang menderita gangguan

memori berkisar 20-79%. Telah dapat diperkirakan bahwa 4-25% penderita

postconcussional syndrome akan mengalami defisit memori setelah 1 tahun.

Satu penjelasan bahwa penurunan dalam membentuk memori baru akan

mengurangi efektifitas pengumpulan memori. Defisit pada memori jangka

pendek (sebagai contoh lupa menempatkan barang, kesulitan mengingat

pembicaraan) adalah hal sering ditemui pada postconcussional syndrome. Bila

individu dengan defisit memori dihubungkan dengan cedera kepala berat

menjalani tes neuropsikologis, episodik memori atau deklaratif memori

mengalami gangguan, sedangkan prosedural memori tidak terganggu.6,8,

Pasien dengan cedera otak juga mengalami gangguan dalam perhatian

menerus dan terbagi, sedangkan perhatian selektif jarang terganggu. Hal ini

terlihat jelas berupa pasien yang kesulitan berkonsentrasi, masalah dalam

memfokuskan pada satu tugas, dan mudah dialihkan atau terganggu. Disfungsi

kolinergik yang mengarah kepada gangguan mengatur sensoris dan

ketidakmampuan untuk menghentikan stimulus diduga sebagai penyebab

defisit perhatian.6,8

13
Defisit kognitif dianggap sebagai akibat dari kerusakan kortikal,

terutama gangguan yang melibatkan lobus anterotemporal dan orbitofrontal,

yang sering muncul karena dekatnya lobus tersebut pada protuberantia pada

tulang tengkorak. Lamanya muncul defisit ini bervariasi mengikuti jenis

trauma, yang akan pulih sempurna dalam 6 bulan. Gangguan dalam memori,

perhatian, berbahasa, dan fungsi keputusan yang muncul lebih menetap, dan

akan pulih dalam waktu setelah 1 tahun setelah mengalami trauma kepala.6,8

E. Hal yang Berpengaruh terhadap Gejala PCS

1. Jenis Kelamin

Jenis kelamin wanita mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami

postconcussional syndrome, dan umumnya wanita mempunyai gejala lebih

berat dan waktu penyembuhan lebih lama. Penelitian meta analisis oleh Farance

dan Alves menunjukkan bahwa wanita memiliki hasil yang lebih buruk

dibandingkan pria pada postconcussional syndrome. Wanita menunjukkan

tingkat keparahan 58% lebih tinggi dibandingkan pria. Berbagai teori

dikemukakan mengenai hal ini, salah satunya adalah karena ukuran tubuh dan

berat yang lebih kecil, akan mengalami kekuatan cedera rotasi lebih besar

daripada pria. Teori lain mengatakan bahwa otak pria dan wanita diperngaruhi

oleh hormon seks yang mengakibatkan berbeda dalam kemampuan pemulihan

setelah cedera kepala. Corrigan et al. mengatakan bahwa wanita lebih berat

gejala postconcussional syndrome karena lebih rentan dalam mengalami cedera

14
pada penganiayaan atau penyerangan fisik dan cedera tersebut mengakibatkan

kekuatan cedera rotasi yang lebih besar, dan mengakibatkan cedera lebih besar

pula.6,9

2. Pengaruh Sosial

Postconcussional syndrome diduga memiliki komponen sosial. Banyak

peneliti menemukan bahwa tingkat dan durasi cedera di US, dimana ganti rugi

diperoleh, adalah lebih besar bila dibandingkan dengan negara seperti

Lithuania, diaman masalah ganti rugi sulit diperoleh. Di Lithuania,

Mickeviciene et al, membagikan kuisioner kepada 200 orang penderita gegar

otak dengan keluhan kehilangan kesadaran dan populasi pembanding yang

sehat. Penelitian menunjukkan bahwa 96% responden mengeluh nyeri kepala

dan pulih total dalam waktu 1 tahun setelah mengalami gegar otak, dan tidak

ada perbedaan dalam keluhan nyeri kepala, pusing dan disfungsi kognitif bila

antara dua kelompok tersebut. Kelompok ini juga menunjukkan peningkatan

yang signifikan pada depresi, penggunaan alkohol dan kepedulian terhadap

kerusakan otak.6,9

3. Kepura-puraan (Malingering)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien yang terlibat dalam

perkara menunjukkan pemanjangan dan keluhan yang lebih berat pada

postconcussional syndrome bila dibandingkan dengan dengan pasien yang

tidak memiliki perkara. Penjelasan yang mungkin untuk keadaan tersebut

adalah 1) pasien yang mengalami perkara telah mengerti tentang kondisi

15
mereka dan terpengaruh oleh symptom knowledge, 2) pasien tersebut dilatih

oleh pengacara mereka untuk melebih-lebihkan gejala tersebut. 3) Gejala yang

dialami diperburuk oleh stress karena perkara, 4) mereka secara sadar atau tidak

sadar dipengaruhi oleh pengaruh sekunder, 5) mereka berpura-pura untuk

memperoleh uang (dengan berbohong).6,9

Usaha untuk membedakan bahwa pasien tersebut berpura-pura atau

tidak, sangat sulit karena keluhan postconcussional syndrome adalah keluhan

yang bersifat subjektif. Mittenber et al. mencoba untuk menentukan frekuensi

dari berpura-pura dengan menganalisa 33.31 kasus pengadilan. Mereka

mendapatkan bahwa 30% kasus kecacatan, 29% kasus kecelakan pribadi, 19%

kasus kriminal, dan 8% kasus malpraktek medis yang kemungkinan melibatkan

sikap berpura-pura atau keluhan yang dilebih-lebihkan. Ketika menganalisa

kasus yang melibatkan cedera kepala sedang, peneliti merasa bahwa 35%

terdapat sikap berpura-pura atau keluhan yang dilebih-lebihkan.6

Beberapa tes psikiatri dan neurologis telah tersedia untuk mendeteksi

adanya individu yang berpura-pura. Roget et al melakukan meta-analisis tes

tersebut dan mengatakan bahwa tes yang paling sensitif dengan MMPI-2 adalah

tes F scale, F-K indeks, dan O-S inerval. Halstead-Reitan battery dilaporkan

keakuratan sebesar 93,8% untuk mengetahui adanya gejala keluhan palsu pada

cedera kepala. Tes ukur lain yang dapat digunakan untuk menentukan sikap

berpura-pura adalah Dissimulation scale, Ego Streght scale, dan Fake Bed

scale.6

16
F. Diagnosis

The International Statistical Classification of Disease and Related Health

Problems (ICD-10) memiliki kriteria untuk PCS.1,5,9

Gambar 2. Tabel Diagnosis Post Concussion Syndrome berdasarkan ICD 10

Tes neuropsikologis dapat digunakan untuk mengukur defisit fungsi kognitif

yang dapat diakibatkan oleh PCS. The Stroop Colot Test dan The 2&7 Processing

Speed Test (dimana keduanya dapat mendeteksi defisit dalam proses kecepatan mental)

dapat memprediksi perkembangan kognitif akibat PCS. Sebuah tes yang disebut

Rivermead Postconcussion Symptomps Questionnaire, suatu rancangan pertanyaan-

pertanyaan yang mengukur keparahan dari 16 gejala post-concussion yang berbeda,

dapat digunakan dalam interview. Tes lain yang dapat memprediksi perkembangan

PCS termasuk Hopkins Verbal Learning A Test (HVLA) dan The Digit Span Forward

Examination. Tes HVLA verbal learning dan memori dihasilkan dari seri-seri kata dan

tanda-tanda berdasarkan nomor yang di recall, dan rentang digit mengukur efisiensi

atensi dengan diuji untuk mengulang kembali digit angka yang telah disebutkan. Tes

neuropsikologikal juga dapat mendeteksi adanya gejala yang pura-pura atau berlebihan

dari penderita.9

17
G. Terapi

Biasanya PCS tidak diterapi, terapinya hanya ditujukan pada gejala-gejala yang

muncul, misalnya penderita diberi penghilang nyeri untuk keluhan nyeri kepala dan

obat-obat untuk mengurangi depresi, dizziness atau muntah. Penderita disarankan

istirahat yang cukup, karena hal ini cukup efektif. Terapi fisik dan tingkah laku juga

dilakukan untuk masalah kehilangan keseimbangan atensi dan respon.6,9,12

1. Obat-obatan

Pengobatan dari postconcussional syndrome tergantung pada gejala

yang muncul pada tiap-tiap pasien. Salah satu pengobatan yang paling efektif

adalah melakukan edukasi kepada pasien dan keluarganya tentang

postconcussional syndrome, menjelaskan bahwa gejala tersebut akan pulih

sempurna dalam waktu 6 bulan. Penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan

mendiagnosa dan kurangnya edukasi kepada pasien mengarah kepada

perburukan gejala psikogenik penyakit dan memperpanjang waktu pemulihan.

Untuk keluhan nyeri kepala yang terus menerus, terapi standar nyeri kepala

dapat dimulai dari NSAID sampai terapi profilaksis migrain, seperti fluoxetine

dan verapamil, dikatakan dapat membantu. Bila perlu, terapi fisik dan

Transcutaneus Electrical Nerve Stimulators (TENS) dapat digunakan pada

pasien dengan tension headache yang berhubungan dengan kekakuan otot.

Pasien dengan gejala psikologis dapat diberi terapi psikoterapi suportif,

edukasi, dan farmakoterapi, seperti obat antidepresi atau antiansietas diberikan

18
dalam waktu yang terbatas. Selective serotonin inhibitor merupakan

antidepresan pilihan pada sebagian besar kasus dan dapat mengatasi gejala

nyeri kepala, ansietas, tekanan dan depresi. Agonis dopamin, psikostimulan,

amantadine dan cholinestrase inhibitor telah digunakan dalam mengobati

penurunan kemampuan fokus atau memori, dan deficit dalam fungsi kognitif,

tapi hanya memberikan keuntungan setengah dari pasien yang mengalami

cedera kepala. Dokter harus berhati-hati dalam meresepkan obat yang

mempengaruhi SSP seperti phenitoin, haloperidol, barbiturat, dan

benzodiazepin. Obat ini dapat memberikan efek samping, seperti terhambatnya

penyembuhan neuron, dan gangguan pemulihan memori, yang dapat

memperburuk gejala postconcussional syndrome atau memperpanjang waktu

pemulihan.6,9,12

2. Psikoterapi

Psikoterapi pada sekitar 40% penderita PCS dapat mengurangi gejala-

gejala. Terapi ini membantu penderita agar dapat melakukan aktivitas kerjanya.

Protokol terapi PCS dibuat berdasarkan prinsif yang terdapat dalam Cognitif

Behavioral Therapy (CBT), suatu metode psikoterapi yang berpengaruh untuk

gangguan emosional yang muncul atas dasar pikiran dan tingkah laku. CBT

membantu mencegah timbulnya gejala iatrogenik persisten.6,12

Dalam situasi seperti kecelakaan kendaraan bermotor, gejala PCS bias

menyebabkan penyakit stress pasca trauma (PTSD) yang sangat penting untuk

19
diterapi dengan benar. Penderita dengan PTSD, depresi dan cemas dapat

diterapi dengan obat-obatan dan psikoterapi.6,12

3. Edukasi

Salah satu pengobatan yang paling efektif adalah melakukan edukasi

kepada pasien dan keluarganya tentang postconcussional syndrome,

menjelaskan bahwa gejala tersebut akan pulih sempurna dalam waktu 6 bulan.

Edukasi mengenai gejala sangat efektif dilakukan segera setelah cedera. Sejak

stress mulai muncul sebagai gejala PCS, edukasi diperlukan untuk mengatasi

kerusakan tersebut. Edukasi dini dapat mengurangi gejala pada anak dengan

baik.6,9,12

H. Prognosis

Pada umumnya prognosis PCS adalah baik, berdasarkan total resolusi dari

gejala pada kebanyakan kasus-kasus mayor. Pada kebanyakan penderita, gejala PCS

akan menghilang dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah cedera. Pada

sebagian penderita yang lain, gejala PCS dapat menghilang dalam waktu 3-6 bulan.1,6,9

Gejala-gejala pada umumnya menghilang pada sekitar separuh penderita PCS

1 bulan setelah trauma dan sekitar 2/3 penderita dengan trauma kepala minor, gejala-

gejalanya menghilang dalam 3 bulan. Jika gejala tidak hilang dalam 1 tahun, gejala

tersebut menjadi permanen, maka kemajuannya akan dapat terlihat dalam waktu 2-3

tahun, bahkan kadang-kadang setelah lama sekali tanpa ada kemajuan. Pada penderita

20
yang berusia tua dan orang yang mengalami trauma kepala berulang akan sulit

sembuhnya.1,6,9

Jika ada pukulan pada kepala setelah terjadi concussion dan gejala sebelumnya

sudah menghilang, maka hal ini bisa mengakibatkan second-impact syndrome (SIS).

Pada SIS, otak menjadi edema dan terjadi peningkatan tekanan intracranial. Penderita

dengan cedera kepala berulang setelah beberapa lama, misalnya seperti pada petinju,

mempunyai resiko menderita demensia serta dapat berkembang menjadi gangguan

fisik dan mental yang berat.6,9

21
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Sindroma postconcussion adalah suatu keadaan yang merupakan akibat dari

cedera kepala ringan tertutup. Gejala-gejalanya bervariasi namun mempunyai suatu

pola yang tertentu. Terdapat banyak faktor yang terkait dalam sindroma ini, yang dapat

memberikan prognosa yang berbeda-beda dari yang baik sampai yang menimbulkan

gangguan yang berkepanjangan sehingga menyebabkan gangguan psikososial.

Upaya penanggulangannya dilakukan secara menyeluruh baik terhadap

gejalanya maupun terhadap faktor-faktor yang menjadi latar belakang yang

memperberat keadaan penyakit.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Japardi, Iskandar. Sindroma Post Concussion. Fakultas Kedokteran Bagian

Bedah Universitas Sumatra Utara. USU, 2002.

2. Ropper AH, Gorson KC. Concussion. The New England Journal of Medicine.

N Engl J Med 256: 2. 2007. http://www.nejm.org.

3. King NS. Post-concussion Syndrome: Clarity and the Controversy. British

Journal of Psychiatry (2003), 183, 276-278.

4. Stone, Jon. Post Concussion Syndrome. University of Edinburgh. UK; 2014.

Available from www.neurosymptoms.org

5. Guidelines for Mild Traumatic Brain Injury and Persistent Symptoms. Ontario

Neurotrauma Foundation.

6. Snell DL, Macleod ADS, Anderson Tim. Post-Concussion Syndrome after a

Mild Traumatic Brain Injury: A Minefield for Clinical Practice. Journal of

Behavioral and Brain Science, 2016, 6, 227-232.

7. Harsono. Buku ajar neurologis klinis. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf

Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2008.

8. Ryan CW, Richard CW, Chapman MJ. Definition, Diagnosis and Forensic

Implication of Postconcussion Syndrome Review Article. Psychosomatic

46:3;2005. http://psy.psychiatryonline.org.

23
9. Lubit RH. Post Concussive Syndrome. Medscape. Available from:

http://emedicine.medscape.com.

10. Datta SGS, et al. Post-concussion syndrome: Correlation of neuropsychological

deficits, structural lesions on magnetic resonance imaging and symptoms.

Departments of Neurosurgery, Clinical Psychology, Neuroimaging and

Interventional Radiology, National Institute of Mental Health and

Neurosciences, Bangalore, India. 2009.

11. Pradhan, Priyanka. Post Concussion Syndrome (PCS The Debate.

Re:Cognition Health provides a comprehensive and innovative clinical

approach to the diagnosis and treatment of all types of cognitive impairment.

2015. Available from: www.braininjurygroup.co.uk

12. Willer B, Leddy JJ. Management of Concussion and Post-Concussion

Syndrome. Current Treatment Options in Neurology 2006, 8:415426.

24