Anda di halaman 1dari 15

SNI 03-3972-1995

METODE PENGUJIAN MODULUS ELASTISITAS LENTUR KAYU


KONSTRUKSI BERUKURAN STRUKTURAL

BAB I

DESKRIPSI

1.1 Maksud dan Tujuan

1.1.1 Maksud
Metode Pengujian Modulus Elastisitas Lentur Kayu Konstruksi Berukuran Struktural,
dimaksudkan untuk dipakai sebagai acuan dan pegangan dalam pengujian modulus
elastisitas lentur kayu konstruksi berukuran struktural.

1.1.2 Tujuan
Tujuan metode pengujian ini adalah untuk menentukan nilai modulus elastisitas lentur dan
kelas kuat kayu.

1.2 Ruang Lingkup

Metode pengujian ini mencakup persyaratan, ketentuan, cara pengujian dan pelaporan
pengujian kayu, untuk semua jenis kayu berukuran struktural kering udara dan tidak bebas
cacat, balok kayu berlapis majemuk dan balok kayu komposit.

1.2.1 Pengertian
Yang dimaksud dengan :
1) beban batas adalah beban maksimum yang masih dapat ditahan oleh benda uji sebelum
mengalami patah dan atau pecah;
2) beban batas proporsional adalah kondisi pembebanan maksimum yang masih
memberikan hubungan linear antara besarnya beban dengan deformasi yang terjadi;
3) benda uji adalah batang kayu berukuran struktural yang dianggap mewakili mutu dan
atau kelas kuat dari sekelompok kayu yang akan dipakai untuk konstruksi;
4) benda uji tidak bebas cacat adalah benda uji yang mempunyai cacat yang dapat
melemahkan kekuatan kayu, tetapi tidak membahayakan konstruksi, seperti retak, mata
kayu, serat miring dan gubal; cacat yang membahayakan konstruksi seperti lapuk,
keropos, termakan serangga (bubuk) dan bengkok atau melengkung, tidak
diperkenankan;
5) cacat kayu adalah kondisi alami atau buatan yang melemahkan kekuatan dan
mengurangi mutu kayu konstruksi, seperti tersebut dalam butir 4 di atas;
6) kecepatan ujung penekan, adalah kecepatan gerak dari alat pemberi beban yang
dipakai untuk menguji kekuatan atau mutu kayu, dinyatakan dalam mm/detik atau
mm/menit;
7) defleksi atau lendutan adalah deformasi lengkung akibat beban lentur yang diberikan
pada benda uji;
8) deformasi adalah perubahan bentuk benda uji yang sedang dibebani;
9) dimensi benda uji adalah ukuran nyata penampang balok kayu benda uji, dalam
milimeter, dan ukuran panjang dalam meter;

1
SNI 03-3972-1995

10) kadar air adalah nilai perbandingan berat air yang terkandung dalam kayu terhadap
berat kayu kering oven, dinyatakan dalam persen;
11) kayu gergajian adalah hasil dari pemotongan kayu dengan ukuran yang ditentukan oleh
standar yang berlaku;
12) kayu konstruksi adalah kayu gergajian pemotongan kayu dengan ukuran yang
ditentukan oleh standar yang berlaku;
13) kelas kuat adalah pengelompokkan kayu berdasarkan berat jenis kering udara dan
kekuatannya;
14) kenaikan tambahan beban adalah besarnya tambahan beban pada setiap tahap
pembebanan, dinyatakan dalam Newton;
15) kepadatan atau berat jenis adalah perbandingan antara massa dan volume kayu dalam
keadaan kering udara, dinyatakan dalam gram/cm3;
16) kekuatan batas adalah batas kekuatan kayu mendekati saat patah atau rusak akibat
pembebanan;
17) lekukan adalah kerusakan lokal pada permukaan kayu yang diakibatkan tekanan beban
terpusat atau reaksi tumpuan;
18) lendutan geser adalah deformasi lentur yang terjadi akibat geser, dalam mm;
19) mega pascal adalah satuan tegangan, yang menyatakan besarnya gaya dalan Newton
persatuan luas dalam meter persegi; (1 Pa = 1 N/m3; 1 megapascal = 106 N/m2, atau
106N/106mm2, atau 1 N/mm2);
20) metode bentang sederhana adalah cara pengujian balok lentur yang diletakkan di atas
dua tumpuan, sendi dan rool bebas tanpa jepitan;
21) modulus elastisitas adalah nilai perbandingan antara besarnya beban dan lendutan
yang terjadi, setelah nilai tersebut dikalikan dengan faktor pada tahap pembebanan
belum mencapai beban batas proporsional Pp; nilai = L3 / (48xI) untuk beban terpusat
di tengah bentang, atau = a (L-2a)2 / 16xI) untuk balok dengan dua beban titik atau third
point loading;
22) modulus elastisitas arah radial adalah nilai modulus elastisitas balok kayu yang
diperoleh dari hasil pengujian arah radial atau terhadap sumbu kuat;
23) modulus elastisitas arah tangensial adalah modulus elastisitas yang dihitung
berdasarkan hasil pengukuran lendutan yang terjadi, termasuk lendutan akibat geser;
24) modulus elastisitas semua adalah modulus elastisitas yang dihitung berdasarkan hasil
pengukuran lendutan yang terjadi, termasuk lendutan akibat geser;
25) momen inersia adalah nilai sifat mekanik penampang kayu yang didapat dari
persamaan I = bh2/12, dimana b dan h masing-masing sama dengan lebar dan tinggi
penampang benda uji, dalam mm;
26) pemilihan masinal adalah metode pemilihan mutu kayu tanpa merusak dengan
menggunakan mesin, berdasarkan sifat mekanik kayu;
27) radial, serat arah radial adalah kayu gergajian yang gelang tahunnya membentuk sudut
45 atau lebih terhadap muka potongan;
28) regangan serat adalah rasio besarnya nilai pertambahan panjang serat kayu terluar
terhadap panjang semula, pada pembebanan elastis;
29) ruang penyesuaian adalah suatu ruangan yang berfungsi untuk mengubah kondisi sifat
fisis kayu uji atau kadar air sehingga sesuai dengan persyaratan uji;
30) tahan gesek adalah gesekan antara alat penahan tekuk-lateral dan balok kayu, yang
dapat menghambat deformasi lentur balok kayu, yang perbandingan sisi tegak terhadap
sisi datar penampangnya melebihi nilai empat;

2
SNI 03-3972-1995

31) tangensial, serat arah tangensial adalah kayu gergajian yang gelang-tahunnya
membentuk sudut kurang dari 45 terhadap muka potongan;
32) tekuk adalah perubahan bentuk terhadap sumbu lemah, akibat ketidak stabilan batang
kayu uji yang sedang diberi beban (tekan aksial atau lentur);
33) third point loading adalah metode pengujian lentur pada balok dengan tiga beban-titik
pada bentangnya yang berjarak kira-kira sepertiga bentang, dan berjarak simetris dari
tumpuan terdekatnya;
34) ukuran struktural adalah ukuran benda uji yang sama dengan ukuran kayu-kontruksi
yang dipakai sebagai komponen struktur bangunan dan mempunyai sisi penampang
tidak kurang dari 50 mm.

3
SNI 03-3972-1995

BAB II

PERSYARATAN PENGUJIAN

2.1 Penanggung Jawab

Hasil pengujian harus disyahkan oleh pejabat yang berwenang yang ditunjuk sebagai
penanggung jawab pengujian, dengan disertai nama, tanda tangan, dan cap perusahaan.

2.2 Laporan Pengujian

Laporan pengujian yang disyahkan oleh pejabat yang berwenang, seperti tersebut dalam
ayat 2.1, harus diberi nomor kode dan tanggal penerbitan.

2.3 Benda Uji

2.3.1 Dimensi Benda Uji


Lebar dan tinggi penampang benda uji harus diukur dalam milimeter, di tiga posisi
pengukuran. Panjang benda uji harus diukur dalam meter di tiga posisi pengukuran.

2.3.2 Cacat Kayu dan Penampang Kritis


Benda uji tidak perlu bebas cacat. Untuk pengujian kuat karakteristik, benda uji boleh
mempunyai penampang lemah atau penampang kritisi pada arah panjangnya, sedangkan
pada uji lentur terdapat penampang kritis ditengah bentangnya. Penampang kritis tersebut
boleh diuji tidak rusak atau dengan cara pemilahan masinal.

2.3.3 Kadar Air


Kadar air benda uji harus diukur dan dihitung dari potongan batang benda uji, yang bebas
dari mata kayu, dan kantong getah.

2.3.4 Berat Jenis


Berat jenis benda uji harus dihitung dari potongan batang benda uji, bebas dari mata kayu
dan kantong getah.

2.3.5 Penyesuaian Benda Uji


Sebelum diuji beban, benda uji harus dipersiapkan dan disesuaikan terhadap kondisi berikut
benda uji :
1) benda uji harus disesuaikan terhadap persyaratan persiapan benda uji, yaitu :
mempunyai berat yang konstan1), pada kelembaban relatif udara 60 5%dan suhu 25
C2);
2) bila ketentuan dalam butir 1 tidak dapat dipenuhi, maka pengujian dapat dilaksanakan
dalam keadaan kadar air seperti adanya, dengan syarat nilai kadar air sebenarnya dalam
kayu dilaporkan dlaam hasil uji;

2.3.6 Nomor Kode Uji


Setiap benda uji harus diberi kode-uji dan nomor urut, dengan huruf dan angka, yang dapat
mencerminkan sifat uji, jenis kayu dan urutan benda uji.

4
SNI 03-3972-1995

2.3.7 Jumlah Benda uji


Jumlah benda uji tidak kurang dari tiga untuk setiap jenis kayu.

2.4 Peralatan

Peralatan yang dipakai untuk pengujian, harus memenuhi keetentuan beriktu :


1) peralatan uji yang dipakai harus telah dikalibrasi dan masih berlaku;
2) untuk pengujian modulus elastis lentur diperlukan peralatan sebagai berikut :
(1) mesin pemberi beban lentur;
(2) alat pengukur waktu; ketelitian dalam detik;
(3) alat ukur panjang;
a) rol meter
b) penggaris skala mm atau jangka sorong;
(4) alat pengukur deformasi atau lendutan; dengan ketelitian tidak kurang dari 1% atau
0,01 mm;
(5) alat ukur kadar air dan atau timbangan;
(6) batang gauga, dengan bentang 900 mm.

Keterangan :
1) Berat benda uji dianggap sudah konstan bila perbedaan berat hasil timbangan benda uji dalam
jangka waktu 6 jam, tidak melebihi 0,1 % berat benda uji tersebut;
2) Supaya diusahakan agar kondisi (suhu dan kelembaban) ruang pengujain sama seperti kamar
pengkondisian, Tetapi bila hal ini tidak mungkin, pengujian harus dilakukan secepatnya, segara
setelah benda uji dikeluarkan dari kamar pengkondisian tersebut.

5
SNI 03-3972-1995

BAB III

KETENTUAN-KETENTUAN

3.1 Modulus Elastisitas-Lentur Arah Radian

3.1.1 Benda Uji


Benda uji harus memenuhi ketentuan berikut :
1) benda uji harus mempunyai panjang tidak kurang dari delapan kali tingginya ditambah
satu meter, Gambar 1;
2) tinggi dan lebar penampang diukur dalam milimeter dan panjang diukur dalam meter;

Gambar 1 Bentuk dan dimensi benda uji

3.1.2 Prosedur Pengujian dan Peralatan


Uji beban harus dilaksanakan dengan mengikuti ketentuan berikut :
1) benda uji harus ditumpu di atas tumpuan sendi dan tumpuan-rol, yang terbuat dari baja,
atau dengan cara lain yang dapat mendekati tercapainya kondisi tumpuan sendi dan rol;
2) penampang benda uji harus pada posisi sumbu kuat arah radial, dan dibebani di tengah
bentangnya dengan dua beban terpusat pada bentangnya seperti gambar 2;
3) jarak antara dua beban titik harus 1 meter, dan jarak anata satu beban titik terhadap
tumpuan terdekatnya tidak kurang dari 3 kali tinggi nominal penampang benda uji;

Gambar 2 Cara pengujian modulus elastisitas lentur, letak benda uji, beban,
alat ukur lendutan dan jarak tumpuan

6
SNI 03-3972-1995

4) panjang bentang bersih, yaitu jarak antara dua tumpuan, tidak boleh kurang dari 18 kali
tinggi penampang benda uji;
5) sepotong pelat baja dengan panjang tidak melebihi setengah tinggi penampang dan
lebar tidak kurang dari lebar penampang benda uji dapat disisipkan di antara permukaan
benda uji dan ujung penekan dari mesin-uji, demikian juga pada sisi bawah balok di titik
tumpuan, untuk mengurangi terjadinya lekukan pada sisi yang tertekan;
6) tebal pelat baja tersebut pada butir 5, tidak kurang dari 4 mm untuk balok yang
mempunyai tinggi penampang 120 mm, dan tidak kurang dari 13 mm untuk balok yang
mempunyai tinggi penampang 300 mm atau lebih; untuk balok yang mempunyai tinggi di
antara nilai tersebut, tebal pelat dapat ditetapkan dengan interpolasi linear;
7) bila rasio tinggi terhadap lebar penampang balok uji melebihi empat, atau h/b > 4,0 maka
penahan lateral harus dipasang untuk mencegah terjadinya tekuk-lateral; alat penahan
lateral tersebut harus memungkinkan benda uji bebas melendut tanpa menimbulkan
tahan gesek yang berarti;
8) alat pemberi beban yang dipakai harus mempunyai ketelitian tidak melebihi 1%;
9) lendutan harus diukur di tengah tinggi balok uji, pada tengah-tengah alat ukur gauge-900
mm dengan alat pengukur lendutan, yang mempunyai tingkat ketelitian tidak kurang dari
1/1000 mm, seperti dijelaskan pada gambar 2;
10) beban harus diberikan secara kontinu dan hubungan antara beban-defleksi harus dicatat,
sehingga lendutan akibat penambahan beban dapat ditentukan; pengujian harus
dilakukan dengan hati-hati, agar beban yang dipakai tidak melebihi batas beban
proporsional PP atau menyebabkan rusaknya benda uji;
11) kecepatan ujung penekan head tidak boleh melampaui nilai yang dihitung dengan
persamaan 1 berikut :

5a(2a + 3000)
R= (persamaan 1)
3hx105

dimana :
R = kecepatan cross head, mm/detik
a = jarak antara beban titik terhadap titik tumpu terdekat, mm
h = adalah tinggi nominal penampang benda uji, mm

Persamaan tersebut berdasarkan pada nilai regangan serat terluar sebesar 0,003 per
menit.

3.1.3 Hasil Uji


Modulus Elastisitas arah radial, atau terhadap sumbu kuat, harus dihitung dengan
persamaan 2 berikut :
pa(lg )2
m = (persamaan 2)
16y
dimana :
m = Modulus elastisitas lentur, bebas dari lendutan geser, dalam N/mm2
a = jarak antara beban titik dan tumpuan terdekat, 3h, dalam mm.
lg = panjang gauge, mm
I = momen inersia, bh3/12, dalam mm4
p = tambahan kenaikan beban, dalam N
p = lendutan akibat pertambahan beban p, dalam mm

Nilai modulus elastisitas dihitung dan dicatat tidak kurang dari tiga hasil pengukuran.

7
SNI 03-3972-1995

3.2 Modulus Elastisitas Lentur Arah Tangensial

3.2.1 Benda Uji


Benda Uji harus memenuhi ketentuan berikut :
1) benda uji harus mempunyai panjang total tidak kurang dari 900 mm ditambah 2 kali tinggi
penampangnya, Gambar-3;
2) tinggi dan lebar penampang diukur dalam milimeter dan panjang diukur dalam meter.

Gambar 3 Bentuk dan dimensi benda uji

3.2.2 Prosedur Pengujian dan Peralatan


Prosedur dan peralatan uji harus memenuhi ketentuan berikut :
1) benda uji harus ditumpu di atas tumpuan rol bebas dan tumpuan sendi yang terbuat dari
baja, atau dengan cara lain yang dapat mendekati tercapainya kondisi tumpuan sendi
bebas;
2) penampang benda uji harus pada posisi sumbu lemah atau arah tangensial, dan
dibebani di tengah bentangnya seperti gambar 4;
3) benda uji dibebani dengan satu beban tidak di tengah bentangnya; bentang uji atau jarak
tumpuan adalah 900 mm;
4) sepotong pelat baja dengan panjang tidak melebihi setengah tinggi benda uji dapat
disisipkan antara permukaan benda uji dan ujung penekan dari mesin uji, juga antara sisi
bawah benda uji dan tumpuan untuk mengurangi terjadinya lekukan pada sisi yang
tertekan;

Gambar 4 Letak beban dan tumpuan

8
SNI 03-3972-1995

5) alat pemberi beban yang dipakai harus mempunyai ketelitian tidak melebihi 1%;
6) lendutan harus diukur ditengah-tengah bentang, dengan alat ukur lendut yang
mempunyai tingkat ketelitian tidak kurang dari 1/1000 mm, dipasang di tengah tinggi
balok seperti dijelaskan pada gambar 4;
7) beban harus diberikan secara kontinu dan hubungan antara beban defleksi harus
dicatat, sehingga lendutan akibat penambahan beban dapat ditentukan, pengujian harus
dilakukan dengan hati-hati, agar beban yang tidak dipakai tidak melebihi batas beban-
proporsional Pp atau menyebabkan rusaknya specimen;
8) kecepatan ujung alat penekan tidak boleh melebihi nilai yang dihitung dengan
persamaan 4 berikut :

27
R= (persamaan 3)
4d

dimana :
R = adalah kecepatan ujung alat penekan, mm/detik.
d = adalah tinggi penampang, dalam mm.
Persamaan tersebut di atas adalah berdasarkan kecepatan regangan di serat terluar
sebesar 0,003 per menit.

3.2.3 Hasil Uji


Nilai modulus elastisitas harus dihitung dengan persamaan berikut :

3
p L
Ea pp = (persamaan 4)
48y

dimana :
Ea pp = modulus elastisitas lentur semu, termasuk lendutan geser, dalam N/mm2
I = momen inersia, bd3/12, dalam mm4.
p = kenaikan tambahan beban dalam N
p = tambahan lendutan pada kenaikan beban F, dalam mm
L = bentang bersih 900 mm

Nilai modulus elastisitas dihitung dan dicatat tidak kurang dari tiga hasil pengukuran.

9
SNI 03-3972-1995

BAB IV

CARA UJI

Dalam pelaksanaan pengujian, langkah-langkah berikut harus dilaksanakan :


1) tentukan jenis kayu yang akan diuji;
2) tentukan dimensi penampang dan panjang benda uji sesuai dengan ayat 3.1.1 butir 1,
dan ayat 3.2.1 butir 1;
3) ukur suhu dan kelembaban relatif udara di dalam ruangan uji, sesuai dengan ayat 2.3.5
butir 1 dan 2;
4) letakkan benda uji di atas tumpuan rol dan sendi, sesuai dengan ayat 3.1.2 butir 3 dan
ayat 3.2.2 butir 3, dan berjarak bentang L sebesar;
a) nilai terbesar di antara :
L = 1 meter + 6 kali tinggi penampang, h, dan
L = 18 x h
untuk uji Modulus Elastisitas arah radial, atau terhadap sumbu kuat;
b) L = 900 mm untuk Elastisitas arah radial, atau terhadap sumbu lemah;
5) sisipkan sepotong pelat baja tebal 4 mm atau lebih, di antara permukaan benda uji dan
ujung penekan, sesuai ayat 3.1.2 butir 5 dan 6, ayat 3.2.2 butir 4;
6) pasang penahan tekuk lateral di dua sisi kiri dan kanan balok uji pada pertengahan
bentangnya, bila rasio h/b 4,0 sesuai dengan ayat 3.1.2 butir 6;
7) periksa ketelitian alat pemberi beban, sesuai dengan ayat 3.1.2 butir 8 dan ayat 3.2.2
butir 5;
8) atur kecepatan ujung alat penekan, sesuai dengan persamaan 1 atau 3, sesuai dengan
jenis bena uji;
9) ukur lendutan pada setiap penambahan beban, sesuai dengan ayat 3.1.2 butir 9 dan ayat
3.2.2 butir 6;
10) hitung hasil pengukuran dengan persamaan 2 atau 4;
11) buat laporan hasil pengujian sesuai dengan Bab V.

10
SNI 03-3972-1995

BAB V

LAPORAN PENGUJIAN

Laporan pengujian harus mencakup penjelasan tentang :


1) bahan yang diuji;
2) prosedur pengujian;
3) hasil pengujian.

5.1 Bahan yang Diuji

Penjekasan berikut harus diberikan :


1) jenis kayu;
2) ukuran nominal;
3) daerah asal usul kayu;
4) metode pemilihan benda uji;
5) tingkat/kelas mutu atau keterangan lain yang perlu sebelum pemilihan benda uji;
6) metode pengkondisian/penyesuaian suhu dan kelembaban, untuk memenuhi
persyaratan benda uji sebelum pengujian dilaksanakan;
7) informasi lain yang dapat mempengaruhi hasil pengujian, misalnya riwayat proses
pengeringan, pengawetan, fabrikasi dan proses lain yang dapat mempengaruhi kekuatan
benda uji.

5.2 Prosedur Pengujian

Penjelasan berikut harus diberikan :


1) tipe pengujian, (tekan, tarik, lentur dsb).
2) suhu dan kelembaban udara pada waktu pengujian
3) peralatan uji yang dipakai;
4) nilai kuat dan modul;
5) pola retak dan ragam keruntuhan/rusak/patah;
6) semua informasi yang berguna pada pemakaian hasil uji, misalnya pertumbuhan
karakteristik atau parameter/indikasi pemilihan masinal pada penampang yang
patah/rusak.

5.3 Hasil Pengujian

Perhitungan hasil pengujian dilakukan berdasarkan metoda statistik yang berlaku.

11
SNI 03-3972-1995

LAMPIRAN A - DAFTAR ISTILAH

Arah radial, sumbu kuat : edgewise


Arah tangensial, sumbu lemah : flatwise
Balok berlapis majemuk : glued laminated timber (glulam)
Beban batas : ultimate load
Beban batas proporsional : proportional limit load
Beban terpusat di tengah bentang : center loading
Benda uji : specimen
Bentang sederhana : simple span
Deformasi, perubahan bentuk : deformation
Modulus elastisitas : modulus of elasticity
Modulus elastisitas semu : apparent modulus of elasticity
Modulus elastisitas radial : edgewise modulus elasticity
Modulus elastisitas tangensial : flatwise modulus elasticity
Kadar air : moisture content
Kecepatan ujung penekan : cross head speed
Kelembaban relatif : relative humidity
Kenaikan beban : load increment
Kepala pemberi beban : loading head
Kuat tekan : compressive strength
Nomor kode uji : test code number
Pemilihan masinal : mechanical stress grading
Penampang lemah : critical section
Regangan : strain
Ruang pengatur kekeringan : conditioning chamber
Tekuk : lateral buckling
Ujung penekan : cross head
Ukuran struktural : structural sizes
Tahan gesek : friction
Uji tanpa merusak : non destructive test

12
SNI 03-3972-1995

LAMPIRAN B - LAIN-LAIN

1. Simbol

a = jarak antar beban titik dan tumpuan terdekat, dalam mm


A = luas penampang benda uji, b x h, atau b x d, dalam mm2
b = lebar (sisi terkecil) penampang balok uji edgewise ME, atau sisi penampang
tegak lurus arah beban lentur, dalam mm
d = tebal (sisi terkecil) penampang balok uji flatwise ME, atau sisi penampang sejajar
dengan arah beban lentur, dalam mm
Ea p p = modulus elastisitas semu, dalam N/Mm2
Em = modulus elastisitas murni, tanpa pengaruh geser, dlaam N/mm2
h = tinggi penampang balok uji, atau sisi penampang sejajar arah beban lentur, dalam
mm.
I = momen inersia penampang balok uji, dalam mm4
L = jarak antar dua tumpuan, bentang balok, dalam mm
lg = panjang gauge, dalam mm
Ltot = panjang total balok uji, dalam mm.
P = beban tekan, dalam Newton
R = kecepatan cross head, dalam mm/detik.
p = tambahan kenaikan beban, dalam Newton
y = kenaikan lendutan akibat p, dalam mm.

2. Tebal Konversi

DAFTAR 1
Kilo = 1000
Mega = 1000000
1 Pa (Pascal) = 1 N/M2
1 MPa (Megapascal) = 106 Pascal = 106 N/m2
1 m2 = 106 mm2
1 MPa = 106 N/106 mm2 = 1 N/m2
Dibulatkan :
1 kg = 10 Newton
1 kg/cm2 = 10 N/100m2 = 0,1 N/mm2
1 N/mm2 = 10 kg/cm2

13
SNI 03-3972-1995

DAFTAR 2
Pa MPa atau N/mm2 Kgf/mm2 Kgf/cm2
1,0 1 x 10-6 1,0197 x 10-7 1,0197 x 10-5
1 x 106 1,0 1,0197 x 10-1 1,0197 x 10
9,80665 x 106 9,80665 1,0 1,0 x 102
9,80665 x 104 9,80665 x 10-2 1 x 10-2 1,0

3. Panjang dan bentang minimum benda uji modulus elastisitas terhadap sumbu kuat
atau arah radial balok kayu berukuran struktural.

TINGGI h BENTANG Lmin (meter) PANJANG TOTAL


(mm) 6h+1,0 meter 18 h ltotal (meter)
50 1,300 0,900 1,400
80 1,500 1,500 1,660
100 1,600 1,800 2,000
120 1,720 2,160 2,400
140 1,840 2,520 2,800
150 1,900 2,700 3,000
180 2,080 2,440 3,600
200 2,200 3,600 4,000
220 2,320 3,960 4,400
240 2,440 4,320 4,800
250 2,500 4,500 5,000
280 2,680 5,040 5,600
300 2,800 5,400 6,000
catatan : cetak tebal adalah ukuran yang dipakai
h = tinggi penampang balok

14
SNI 03-3972-1995

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...............................................................................................................................i


BAB I DESKRIPSI .............................................................................................................. 1
1.1 Maksud dan Tujuan ................................................................................................. 1
1.1.1 Maksud............................................................................................................. 1
1.1.2 Tujuan .............................................................................................................. 1
1.2 Ruang Lingkup......................................................................................................... 1
1.2.1 Pengertian........................................................................................................ 1
BAB II PERSYARATAN PENGUJIAN ................................................................................. 4
2.1 Penanggung Jawab ................................................................................................. 4
2.2 Laporan Pengujian ................................................................................................... 4
2.3 Benda Uji ................................................................................................................. 4
2.3.1 Dimensi Benda Uji............................................................................................ 4
2.3.2 Cacat Kayu dan Penampang Kritis .................................................................. 4
2.3.3 Kadar Air .......................................................................................................... 4
2.3.4 Berat Jenis ....................................................................................................... 4
2.3.5 Penyesuaian Benda Uji.................................................................................... 4
2.3.6 Nomor Kode Uji................................................................................................ 4
2.3.7 Jumlah Benda uji.............................................................................................. 5
2.4 Peralatan.................................................................................................................. 5
BAB III KETENTUAN-KETENTUAN ..................................................................................... 6
3.1 Modulus Elastisitas-Lentur Arah Radian .................................................................. 6
3.1.1 Benda Uji.......................................................................................................... 6
3.1.2 Prosedur Pengujian dan Peralatan .................................................................. 6
3.1.3 Hasil Uji ............................................................................................................ 7
3.2 Modulus Elastisitas Lentur Arah Tangensial ............................................................ 8
3.2.1 Benda Uji.......................................................................................................... 8
3.2.2 Prosedur Pengujian dan Peralatan .................................................................. 8
3.2.3 Hasil Uji ............................................................................................................ 9
BAB IV CARA UJI................................................................................................................ 10
BAB V LAPORAN PENGUJIAN ......................................................................................... 11
5.1 Bahan yang Diuji.................................................................................................... 11
5.2 Prosedur Pengujian ............................................................................................... 11
5.3 Hasil Pengujian ...................................................................................................... 11
LAMPIRAN A - DAFTAR ISTILAH......................................................................................... 12
LAMPIRAN B - LAIN-LAIN.................................................................................................... 13